Not Destined (Chapter 5 )

no-destined_selvi_melurmutia

Not Destined

Main Cast: Taeyeon ­– Kai || Genre: Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: PG-13 || Author : Selvy

Poster FF by Melurmutia@Cafeposter

^^^Chapter 1 & 2 pernah di upload di EXOSHIDAEFANFIC

Review : Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 –  Chapter 4

Ps: Disini banyak penambahan adegan dan pengeditan. Tapi tidak ada perubahan cerita.

-____________-

 

Pecahan piring dan gelas kaca menusuk telinga. Suara saling tantang terdengar antara dua orang dewasa yang menjadi penyebab kerusakan barang- barang tersebut. Bahkan sesekali yeoja itu memukul namja yang berada dihadapannya.

“Kau melakukan ini setelah semua yang kulakukan untukmu?” Air mata tak terhindari lagi di wajahnya. Dada pria yang berstatus sebagai suaminya menjadi sasaran empuk kedua kepalan tangannya.

Tak ada balasan berarti dari Tuan Kim, “Aku tidak pernah memintanya darimu Nyonya besar, kau sendiri yang datang padaku” Ucapnya sarkastik.

Pergerakan Nyonya Kim terhenti seketika, ia tak percaya akan apa yang didengarnya. Kakinya terasa lemah hingga betis mulusnya harus bertubrukan dengan lantai. “Setelah aku meninggalkan keluargaku demi dirimu, kau berani mengucapkan itu Kim Jaehyun?”

Sebuah gelas terlempar menubruk dinding, namja itu pergi dengan kesal. Tak ada rasa perduli yang tersimpan dihatinya untuk wanita yang telah diperistrinya dua tahun yang lalu itu. Tak ada yang bisa dilakukan Kim Gyura, ia hanya memegangi perutnya dan menangis sejadi- jadinya.

Ia pergi meninggalkan rumah setelah eommanya menjodohkan dirinya dengan orang lain. Semua itu karena cintanya telah dimiliki Kim Jaehyun yang ternyata tak se-baik yang ada difikirannya. Selama menikah, tak ada kebahagian. Namja itu hanya bisa mabuk dan bermain wanita tanpa memikirkan dirinya sedikitpun.

“Hiks . . . harusnya aku mendengar perkataan eomma. Harusnya aku menikah dengan Oh Young Jun. Harusnya aku tak mempercayai lelaki itu”

 

-____________-

 

Seorang wanita terbaring lemah di atas kasur King Size itu. Jarum infus sudah menembus kulit mulusnya. “Nyonya, tidakkah sebaiknya kita mengabari Nona muda?” Tanya ahjumma yang baru saja memberikan obat padanya.

Nyonya Kim menggeleng pelan, “Tidak ahjumma. Sampai gadis itu sudah sadar akan perbuatannya jangan pernah menghubunginya” ucapnya mantap. Walau surau matanya mengatakan hal berbeda dari yang mulutnya katakan.

Ahjumma itu hanya menghela pelan, sifat keras kepala yeoja parubaya itu tak ada bedanya dengan Taeyeon. “Baiklah Nyonya”

Ditinggal ahjumma itu, Nyonya Kim menatap langit- langit kamar menerawang. Walaupun Taeyeon tak pernah bersikap sopan padanya, tapi ia tetap merasakan kehilangan luar biasa. Bagaimanapun ia sadar betul karena dirinyalah Taeyeon menjadi seperti itu. Dididik sejak kecil dengan sifat kerasnya menjadikan gadis itu sangat mirip dengannya.

Apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia tak ingin anaknya melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang telah ia putuskan di masa lalu. Nyonya Kim ingin memastikan pendamping Taeyeon tak akan menyia- nyiakannya kelak.

Sakit hati dimasa lalu selalu membekas di hatinya. Walaupun Tuan Kim sudah meminta maaf, dan mengatakan telah berubah. Tapi ia tak pernah bisa menerimanya. Sebenarnya masih ada cinta disana, tapi penyebab Nyonya Kim tak bisa menemani eommanya di saat terakhir adalah namja itu. Dan hal itu tak bisa ditolerir.

Namun, karena perasaan itu jugalah mengapa ia membiarkan Taeyeon tinggal sementara dengan appanya. Setidaknya yeoja itu akan lebih nyaman disana, daripada berada di sisi Nyonya Kim yang selalu berperilaku kasar. Tapi yang ia lakukan semata- mata agar Taeyeon menuruti kata- katanya, sehingga kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi.

 

-____________-

 

“Wah Taeyeon-ah kau benar- benar berubah total” Seulgi tersenyum riang ke arah Yeoja yang membawa tiga botol aqua itu.

“Karena itu jangan pernah membuatku kesal” Ucapan sarkastik Taeyeon membungkam mulut yeoja tembem di hadapannya.

Irene menatap Taeyeon intens, “Taeyeon-ah apa yang terjadi?” Tanya gadis cantik itu.

Taeyeon menatap kedua temannya bergantian, “Entahlah. Hal ini terlalu sulit bagiku. Dan sepertinya semua yang kulakukan tidak akan berhasil, jadi aku memutuskan tidak akan berubah” Ucapnya mantap. Irene tersenyum senang berbeda dengan Seulgi yang membulat kaget.

“Berarti aku tak bisa mengganggumu lagi” Ucapnya pelan setengah menunduk.

“Tenanglah, setidaknya aku tidak akan terlibat perkelahian lagi” Taeyeon membentengi dirinya dengan prinsip itu. Walaupun berubah menjadi anggun dan bersikap layaknya seorang wanita tak bisa ia jalankan. Setidaknya ia tidak akan membebani appa dengan masalah- masalah yang ia perbuat.

Mereka melanjutkan makan kemudian, sesekali Seulgi berbicara tentang pria manis yang ditaksirnya. Irene dengan penuh perhatian memberikan respon, sementara Taeyeon sibuk dengan makanannya sampai seseorang mendekati mereka.

“Kursi ini kosong? Boleh aku duduk disini sunbae?” bulatan koin sudah setara dengan kedua mata yeoja itu. Taeyeon yang sadar akan perubahan ekspresi mereka segera mengikuti arah pandang kedua temannya.

Dan dooor, ia-pun ikut tersentak. Bukan karena senyuman namja yang membuat seisi kantin meleleh tapi karena lagi- lagi pria menjengkelkan dengan kulit eksotis itu lagi. Tanpa rasa bersalah Kai duduk di salah satu kursi kosong di samping Taeyeon.

Ingin rasanya yeoja itu menendang benda tersebut menjauh, tapi niat baiknya itu ia urung kemudian. “Masih banyak kursi disini, pergilah” Ucapnya datar sambil melahap makan siangnya.

Kai mengangkat bahu tidak perduli, ia malah berbicara dengan Seulgi yang memang sangat excited dengan kehadirannya. Taeyeon dibuat kesal karena itu. Sehun saja yang sudah kenal lama dengannya selalu terkena amarah jika bertingkah terlalu dekat dengan Taeyeon. Apalagi Kai yang pada dasarnya orang yang tidak dikenalnya.

Taeyeon beranjak, ia tak mengatakan apapun ketika berjalan menjauh dari tempat itu. “Hei kau!” Taeyeon bergeming, ia sama sekali tak mendengar panggilan Kai. Namun amarahnya memuncak saat namja itu menarik lengannya. Dengan cepat ia menghempasnya.

“Sudah berapa kali aku katakan hah? JANGAN MENGGANGGUKU!” Hening. Semua orang berhenti dari aktivitas mereka. Bahkan Kai hanya bisa menatap dalam diam. Langkah kaki Taeyeon yang kasar terdengar kemudian.

“Wah daebak gadis itu lagi” Seohyun berbisik ke arah temannya. Mereka tersenyum mengejek melihat Kai yang nampak menaham malu.

“Aku sudah bilang kan? Gadis itu akan berguna bagi kita untuk membalas dendam” Timpal gadis putih bersih itu.

Jessica dengan wajah dingin menatap kedua sahabatnya, “Terserah kalian, yang pasti aku sudah phobia dengan gadis itu”

Yoona dan Seohyun hanya terkekeh melihat muka kesal Jessica. Kejadian hari itu memang sangat memalukan untuknya. Walaupun tidak suka, tapi Jessica pernah berada di posisi yang sama dengan Kai sekarang.

 

-____________-

 

Buku pelajaran ia buka, sebenarnya Taeyeon tak terlalu suka membaca apapun itu. Tapi tak ada yang dapat ia lakukan di sekolah bahkan di kota itu. Ia hanya bisa duduk di kursi taman sekarang. Tak sedikit siswa yang memandangnya aneh. Mungkin karena kejadian di kantin tadi. Tapi bukan Taeyeon namanya kalau perduli pada hal seperti itu.

“Kau hebat juga” Taeyeon tak mengalihkan pandangannya. Suara orang yang sudah duduk di sampingnya masih dia ingat dengan hangat. Gadis berwajah innocent yang mengganggunya tempo hari.

Merasa diabaikan Yoona merengut kesal, Seohyun yang berada di sampingnya hanya bisa membantu dengan tatapan kesal yang ia lemparkan ke Taeyeon. “Kau membenci Kai kan? Kita punya tujuan yang sama. Kenapa kita tidak bekerja sama? itu akan menguntungkan kita”

Taeyeon berfikir dalam diamnya, Kai? Apakah namja mengesalkan itu?

“Kau Kim Taeyeon kan? Anak baru di kelas 2, ayolah namja itu sangat brengsek dan suka mempermainkan gadis. Kami mengetahui banyak tentangnya, kau bisa menghancurkan dia dengan menggunakan informasi dari kami”

Taeyeon menutup bukunya keras, ditatapanya dua gadis disampingnya bergantian. “Jika kalian tahu banyak tentangnya, kenapa kalian tidak membalas dendam sendiri? Aku bukan tipe gadis yang ingin bekerja sama dengan gadis menjijikkan seperti kalian. Lagipula aku tidak punya urusan dengan namja itu”

Seohyun dan Yoona mengerang frustasi. Tangan mereka mengepal dengan bibir bawah digigit. Kepergian Taeyeon membuat semuanya jelas sekarang. Rencana mereka tidak akan berhasil pada gadis itu.

Dalam langkahnya Taeyeon menunduk lesu. Ditatapanya tiap anak tangga yang ia injak. Terlalu kesal, Taeyeon rasanya ingin segera pulang ke Seoul. Suasana di busan dan sekolah ini tak menyenangkan baginya.

“Bertingkah sok kasar untuk mendekatiku hah?” Taeyeon mengangkat kepala saat mendengar suara lelaki di depannya. Lelaki yang bersender di pintu kelasnya dengan tangan di silangkan di depan dada. Kai.

Tak banyak berfikir ia mengacuhkannya. Ia hendak berjalan memasuki kelas tapi namja itu mencekal lengannya. Ia menatap frustasi, kesabarannya lagi- lagi diuji. “Aku tak ingin menyakitimu, tapi kenapa kau terus memaksa hah?” Tanyanya datar dengan muka memelas.

Kai tersenyum mengejek, “Berpura- pura lagi” Ucapnya sarkastik.

Taeyeon menghempas tangan Kai, berpura- pura apa? Ia bahkan tak berniat memikirkannya. “Ya! Kau Kai kan? Lebih baik kau pergi dan menjauh dariku. Sampai kapan aku harus mengatakan ini padamu?”

“Ck, Ya! Kau bekerja sama dengan mereka kan? Kau tidak lebih dari boneka yang dimanfaakan oleh mereka. Selama ini kau mencoba menarik perhatianku dengan sikapmu ini. jangan fikir aku tak tahu K-I-M T-A-E-Y-E-O-N” Ucap Kai penuh penekanan.

Taeyeon sama sekali tidak mengerti, dan dia tidak mempunyai niat untuk menjelaskan walau ia tahu Kai sedang salah mengerti sesuatu. “Dasar gadis murahan”

Bruk . . .

Badan Kai terjungkal di Lantai. Bunyi keras membuat orang- orang di sekitar mereka kaget bukan kepalang. Taeyeon menatapnya dengan pandangan paling merendahkan. “Kau yang memintanya. Sudah kubilang jangan menggaguku, KAU TAK DENGAR?” Setengah berteriak ia memperingatkan.

Kai mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan cairan merah. Ia tertawa perih, dengan tubuh sekecil itu tapi sanggup membangting tubuhnya setiap kali mereka bertemu. Namja itu kembali berdiri, kali ini ia berjalan maju mendekati Taeyeon yang menatapnya tajam.

Gadis itu mendongak saat tubuh Kai hanya berjarak beberapa senti darinya. Kai menunjukkan smirknya, Taeyeon yang meresa tidak nyaman segera mendorong dada namja itu tapi tangannya ditahan oleh Kai. Gadis itu terbelalak lebar saat jemarinya diremas hebat.

“Selama ini aku mengalah karena kau seorang yeoja. Tapi tidak kali ini Kim Taeyeon” Kata Kai dingin, ia berjalan maju membuat Taeyeon terpaksa mengikutinya dengan langkah mundur. “Kau bekerja sama dengan mereka? Kau ingin berkencan denganku? Katakan saja, aku bahkan sanggup membayarmu” Taeyeon mengepal kedua tangannya, tapi kekerasan tidak pernah berhasil pada namja itu. Ide gila muncul di kepalanya.

Ia tersenyum manis, matanya fokus menatap manik mata Kai. Namja itu terdiam, aliran deras darahnya membuat tubuhnya kaku. Tangannya melemas saat Taeyeon menarik tangannya dan melingkarkannya pada leher Kai. Semua mata terbelalak, tatapan Taeyeon berubah intim dan menggoda. Ia menarik tengkuk namja itu.

“Membayarku? Kau bahkan tidak sanggup untuk itu TUAN KAI” Suasana berubah tenang, Kai tak dapat mengontrol tubuhnya. Bisikan Taeyeon membuat nafas yeoja itu menyapu wajahnya, suaranya membangkitkan gairah dalam tubuhnya sebagai seorang namja.

Kai menarik pinggang Taeyeon, akalnya sudah dikesampingkan. Ia mengecup bibir mungil Taeyeon yang sejak tadi menggodanya. Benda kenyal berwarna pink soft itu dikulum pelan, Taeyeon membuka mulutnya tanpa menunggu Kai memintanya. Dengan rakus mereka saling hisap dan mendominasi. Taeyeon sampai harus berjinjit menyamakan tinggi badan mereka. Tak ada jarak dengan lengan Kai melingkar di pinggang yeoja itu.

Senyuman muncul dibibir Taeyeon dan menghentikan aktivitas Kai dengan dorongan pada dada namja itu. Taeyeon menggigit bibir bawahnya melihat Kai yang menunjukkan raut wajah kecewa akan apa yang ia lakukan.

“Aku tidak tertarik sama sekali padamu, tapi sepertinya kau yang sangat tertarik padaku saat ini” Ucap Taeyeon dingin. Ia mengambil sapu tangan di sakutnya lalu menggosok bibirnya kasar dengan benda itu. “Ini adalah hal yang paling menjijikkan yang pernah kulakukan dalam hidupku” gadis itu melempar benda itu lalu berjalan tanpa memperdulikan tatapan nano- nano Kai.

Sementara itu namja bermarga Kim itu bertarung dengan fikirannya. Jantungnya masih bergetar hebat karena kejadian tadi. Apa yang baru saja ia lakukan? Yeoja itu memancing sisi namjanya keluar dan sangat berhasil. Itu normal bagi seorang laki- laki, tapi baginya hal tersebut tidak normal sekarang.

-____________-

 

Chanyeol dan Lay menatapi Kai yang sedang terbaring dengan Kaki di atas meja. Namja itu terus bermain dengan fikirannya, benda manis itu bak permen yang selalu ingin ia hisap. Otaknya terkontaminasi dengan bayangan- bayangan betapa ia sangat menikmati saat itu.

“Wah dia benar- benar hebat. Kalian kissing disekolah? Wah pemandangan yang sangat jarang terjadi” Chanyeol mencoba berbicara pada Kai tapi tak diindahkan namja itu.

“Jarang? Kai sudah sering seperti itu lalu apa yang harus diherankan Tuan Park?” Ucap Lay sarkastik yang dibalas dengan bibir mengerucut Chanyeol.

Berbeda dengan keduanya yang mulai sibuk dengan aktivitas masing- masing. Kai masih terbawa oleh fikirannya yang melayang kemana- mana. Dia tak pernah berfikir sekeras ini sebelumnya, tapi Taeyeon sungguh mengganggu fikirannya.

Awalnya ia berniat membalas dendam, ah setidaknya itu yang Kai fikirkan waktu itu. Tapi kenyataan bahwa hatinya perih saat melihat Taeyeon berbincang- bincang dengan Seohyun dan Yoona membuat otaknya dipaksa berfikir lebih.

Saat itu ia benar- benar marah. Bukan karena membenci Taeyeon yang tertangkap basah mempermainkannya, tapi ada rasa kecewa disana. Yeoja itu adalah satu- satunya orang yang berperilaku berbeda padanya. Status seorang anak dari Tuan Kim membuatnya selalu mendapat perlakuan istimewa tapi tidak dengan Taeyeon yang bahkan tidak perduli dengan latar belakangnya.

“Aku merasa berbeda padanya, apa yang harus kulakukan?” Gumam Kai. Chanyeol dan Lay saling tatap dengan ekspresi bingung.

Chanyeol mendekati dengan duduk disampingnya. “Apanya yang berbeda?” Tanyanya dengan tatapan polos.

“Molla. Hanya perasaan berbeda yang tidak bisa dijelaskan”

Namja berbadan jangkung itu menaikkan alis, “Sejak kapan kau begitu puitis?”

Kai tak menjawab pertanyaan Chanyeol yang masih belum memahami makna dari apa yang namja itu ucapkan. Berbeda dengan Lay yang diam- diam menyimak pembicaraan kedua sahabatnya.

Lay menutup bukunya pelan lalu menarik nafas resah. “Kami memang berharap suatu saat kau akan menemukan seseorang yang benar- benar kau sukai Jongin-ah. Tapi kufikir dia tidak tepat. Maaf untuk mengatakannya, terlebih lagi fakta bahwa ia hanya boneka yang diperalat oleh mantan- mantanmu itu. Kau tidak boleh lemah sepeti ini”

Kai menurunkan kakinya, ia menghadap Lay dengan tatapan serius. “Zhang Yixing. Dia mengatakan tidak melakukannya. Lagipula . .. . “

“Dan kau percaya?” Lay menyela. Tak ada jawaban dari mulut Kai. Perasaan percaya pada perkataan Taeyeon tapi logikanya mengarah ke hal yang lain.

Namja itu memberingkan kepalanya dengan mata terpejam. Nafasnya sangat tenang walaupun fikirannya sedang bekerja keras. Apakah terlalu tidak mungkin baginya untuk mendapatkan sesuatu yang ia mau? Sangat banyak gadis yang menyukainya, tetapi kenapa dia harus jatuh pada gadis itu? Apakah hidupnya tidak bisa berjalan sesuai dengan apa yang ia kehendaki?

“Sebenarnya apa sedang kalian bicarakan?” Ditengah keheningan, suara berat Chanyeol membuat Kai dan Lay hanya bisa menggelengkan kepala. Lay kembali membuka bukunya dan Kai menutup mukanya dengan jaket. Tak ada yang menghiraukan namja bermarga Park yang akhirnya kembali kesal dengan sikap kedua sahabatnya. “Oke kalian mengacuhkanku lagi? Apa aku tidak penting bagi kalian hah?”

“Tidak” Kai dan Lay menjawab tanpa ragu sedikitpun.

“ARASSO. Kalian tidak penting juga bagiku. Arra?

“Arra”

“YA!”

-____________-

 

Taeyeon berjalan memasuki gang rumahnya, ia menatapi amplop yang berada di tangan mungilnya. Surat panggilan, hmmm nafasnya hanya bisa ia lempar kasar. Setidaknya ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan kesalahan tapi Tuhan berkata lain.

“Aku bisa memberikan uangku, tapi jangan ambil jam tangan ini” Taeyeon buru- buru mengedarkan pandangannya. Suara itu sangat ia kenal. Oh Sehun.

“Berikan itu juga, kau ingin mati hah?” suara lain mengisi pendengaran. Ia berlari ke sela- sela rumah dan mendapati seseorang tengah di pojokkan disana dengan muka pucat pasih.

Ada tiga orang yang mengililinginya, kerah bajuh namja itu ditarik. Dan yang membuat Taeyeon kehabisan akal Sehun hanya bisa merengek seperti seorang anak yang permennya tengah direbut. “Hentikan” Suara dingin Taeyeon membuat ke-empat namja itu menoleh.

Sehun membulatkan matanya, ia memberi kode dengan mengibaskan tangannya. Pandangnnya seolah mengatakan ‘Pergilah, disini berbahaya Heol, harusnya ia meneriakkan hal itu pada dirinya sendiri.

Air muka ketiganya berubah, Sehun bisa bernafas lega saat keranya terlepas. Ia buru- buru berlari ke arah Taeyeon. Berdiri di depan yeoja itu seperti seorang pahlawan kesorean yang melindungi wonder woman.

Baekhyun menatap kedua rekannya frustasi. Ia tak bisa berurusan lagi dengan gadis itu setelah dihajar habis- habis beberapa waktu yang lalu. Mereka segera pergi tanpa mengatakan apa- apa.

Sehun menghembus lega, ia berbalik dan tersenyum lebar ke arah Taeyeon. “Tenanglah Changi-ya aku akan melindungimu” Ucapnya penuh percaya diri. Taeyeon hanya menatapnya dengan tatapan iba lalu berjalan mendahuluinya. “Ya! Itukah sambutan untuk calon suamimu?” Tanya Sehun merengut.

“Kenapa kau kesini?” Taeyeon bertanya tanpa menatap Sehun yang sudah berada di sampingnya.

“Karena aku merindukanmu sampai hampir mati” Ucapnya menunjukkan jejeran gigi ratanya. Tangan Sehun meraih jemari Taeyeon. “Aku benar- benar merindukanmu” Sehun berkata serius. Taeyeon dipaksa berhenti karena tangannya tertahan.

Mereka bertatapan untuk beberapa waktu. Bibir Taeyeon terasa gatal ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan oleh hal lain yang sulit ia deskripsikan.

Sehun dengan hati- hati menyandarkan kepala Taeyeon ke dadanya. “Kau boleh memukulku, kau boleh memarahi bahkan membunuhku. Tapi biarkan aku memelukmu sebentar Changi-ya. Aku sangat merindukanmu”

Taeyeon mengepal Tangannya kesal. Bukan karena Sehun tapi pada dirinya yang hanya diam saja saat ini. tanpa sadar gadis itu sudah membuka diri untuk namja yang tengah mengeratkan pelukannya itu. Ia benar- benar tidak menyadarinya.

Sehun tersenyum manis, perasaan senang membuncah di dalam dirinya. Hidungnya dengan rakus menghirup aroma shampoo dari gadisnya. Tidak pernah senyaman ini sebelumnya, ia bisa bernafas lega karena Taeyeon tak menolak permintaannya.

Pelan- pelan Sehun memegang pundak Taeyeon menjauh. Ia tersenyum manis kepada Taeyeon yang hanya bisa memberi tatapan polos dan bingung. Sehun sampai terkekeh melihat wajah itu. Menyadari tengah ditertawakan Taeyeon menepis tangan Sehun.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?” Tanyanya kesal.

Sehun berpura- pura berfikir dengan telunjuk ia letakkan di dagunya, “Mungkin karena aku terlalu bahagia. Changi-ya kau tidak merindukanku?”

“Tidak” Taeyeon berjalan pergi. Sehun mengerucut tapi tetap mengikuti langkah gadis itu. Mereka berdua diam, Taeyeon masih bertengkar dengan dirinya sendiri. Sementara Sehun sibuk memandangi daerah sekitar. Hatinya teriris melihat pemdangan sesak itu. Taeyeon yang terbiasa hidup mewah harus tidur dan tinggal di tempat ini?

Suara isakan memaksa masuk ke telinga Taeyeon. Yeoja itu menengok dan mendapati Sehun berusaha menyembunyikan wajahnya dengan berbalik. Taeyeon menghela nafas, namja itu menangis lagi entah karena apa.

“Ya! Kau namja yang sudah dewasa Oh Sehun, bagaimana mungkin kau masih menangis?”

Sehun berbalik, “Siapa bilang aku menangis? Aku hanya . . . hanya . . . oh lalat memasuki mataku” Alasan paling tidak masuk akal keluar dari mulut namja dengan mata sembab dan suara parau itu.

Taeyeon menatapnya datar kemudian melanjutkan langkahnya. Sehun terlalu kekanakan untuk ia urus. Yeoja itu tak pernah bisa mengeri apa yang difikirkan seorang Oh Sehun. Lagipula bukannya ia tidak perduli?

 

-____________-

 

Taeyeon mencuri pandang kepada appanya yang berdiri di sampingnya. Tuan Kim memang tidak marah saat mendapat surat panggilan itu, tapi Taeyeon bisa menangkap raut kecewa di wajah yang mulai mengerut tersebut. Walaupun ia sudah berusaha menjelaskan semuanya, bahkan Sehun ikut membantu untuk menjelakan. Padahal ia tak mengerti apapun.

Sehun? Taeyeon menggelengkan kepalanya. Belakangan ini ia terlalu stress sampai- sampai Sehun selalu muncul di fikirannya. Padahal sebelumnya ia sangat cuek tentang namja itu.

Tuan Kim membuka pintu ruang kepala sekolah. Di dalam sana telah duduk Kai bersama seseorang bekumis tebal dan berbadan tegap. “Permisi” Appa Taeyeon menyapa yang disambut kepala sekolah.

Kai hanya duduk seraya memutar- mutar rubik di tangannya, ia diam tanpa menatap Taeyeon. “Apakah anda bisa datang lebih cepat?” Taeyeon melayangkan tatapan tajam kepada ahjusshi yang berbicara dengan nada kasar kepada appanya.

“Wah Ya! . . . .”

“Taeyeon . . . “ Taeyeon menutup mulutnya, appa menegur dan ia terpaksa harus menurut. “Maaf Tuan. Kami harus menunggu bus” Dengan ramah appa menjelaskan.

Senyuman mengejek diperlihatkan ahjusshi itu membuat Taeyeon mengepal tangannya. Andai bisa ia melempar tinjunya ke wajah mengesalakan itu, pasti ia sudah melakukannya.

“Begini Tuan- Tuan. Anak kalian terlibat hal yang kurang menyenangkan, itulah sebabnya saya memanggil Tuan- Tuan kesini” Kepala sekolah melerai. Songsaenim itu berusaha menetralkan suasana dengan menjelaskan apa yang terjadi. Tentang penjelasan Taeyeon bahwa ia melakukan itu karena merasa direndahkan, dan Kaipun mengakui hal itu dan mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahannya

“Ya! Anda merawat anak gadis anda dilakangan pelacur hah? Bagaimana bisa seorang gadis bersikap seperti itu?” Berkali- kali Taeyeon mendengar appanya meminta maaf sementara ahjusshi itu terus memakinya. Walaupun kepala sekolah berusaha melerai, tapi ahjusshi tersebut malah mengungkit dana yang ia berikan. Taeyeon tak tahan lagi.

“STOP!” Semua terdiam mendengar teriakan Taeyeon. Bahkan Kai-pun beralih menatapnya. “Tuan yang terhormat. Jika anda memang berpendidikan apakah kata- kata seperti itu pantas keluar dari mulut anda?”

“Taeyeon-ah . . . .”

“Appa Tuan ini sudah keterlaluan. Pantas saja anak anda suka merendahkan orang lain. Sekarang saya mengerti mengapa dia seperti itu, semuanya menurun dari anda”

“Ya!”

“Apa? Jangan mentang- mentang anda pejabat negara anda bisa seenaknya. Uang anda? Itu adalah uang negera, apakah anda tidak mempunyai rasa malu mengatakan itu milik anda. Lagipula anda tidak berhak merendahkan kami. Lihatlah anak anda apakah ia sudah bersikap baik? Pernahkah anda menegurnya? Aku yakin tidak. Jadi jangan pernah mengatakan soal mendidik anak disini. Anda tidak berhak”

Taeyeon pergi dengan pintu ia hempaskan keras. Matanya berkaca- kaca, tubuhnya bergetar saking marahnya. Entah Tuan Kim akan memarahinya atau tidak, yang pasti ia sudah tak perduli semuanya. Ia sangat membenci orang itu seperti ia tidak menyukai anaknya.

Kakinya melangkah pergi, ia sudah tidak kuat berada di sekolah itu. Bahkan memutuskan kembali ke Seoul entah eomma akan menyutujuinya atau tidak. “Kim Taeyeon!” Taeyeon tak memperdulikan panggilan di belakangnya. Ia terus berjalan.

“Ya! Kim Taeyeon kau mengatakan jangan menyentuhmu. Tapi kau tidak mau berhenti, bagaimana aku tidak menyentuhmu?” Runtut Kai dibelakangnya. Taeyeon menghentikan langkahnya lalu menatap namja itu tajam.

“Belum menyerah juga? Kau tidak puas Kai-ssi? Semua ini karenamu. Sekarang apa? Kau ingin menghinaku lagi? Kau ingin merendahkanku lagi?” Taeyeon dipenuhi amarah dalam setiap katanya. Batas kesabarannya benar- benar sudah terlewat jauh.

Kai menatap yeoja itu dalam, “Mian, kau benar semua ini salahkan. Maka dari itu aku ingin meminta maaf. Maaf atas perlakuanku dan maaf atas perlakuan appaku.” Ucap Kai tulus. Entah kenapa ia berubah fikiran tentang penilaiannya kepada Taeyeon setelah kejadian tadi.

“Kalau begitu pergilah menjauh.” Ucap Taeyeon pendek.

“Tapi aku ingin bertanya, kau mempunyai hubungan apa dengan Yoona dan Seohyun”

Taeyeon menghentikan langkahnya, ia menatap Kai sekali lagi. “Siapa? Aku bahkan tidak mengenal nama itu. Dan satu lagi Kai-ssi jangan berbicara lagi padaku” Taeyeon berjalan menjauh disertai pandangan penuh arti dari Kai.

Ponsel ia rogoh dari sakutnya kemudian diletakkan di telinga. “Sehun-ah jemput aku sekarang”

 

-____________-

 

Taeyeon menyerup air kelapa dengan sedotan. Sehun terus menatapi gadis yang hanya memperhatikan laut itu. Namja itu meraih tangan Taeyeon walaupun harus kecewa karena gadis itu melepas genggaman tangannya.

“Wae? Terjadi sesuatu?” Tanyanya lembut. Taeyeon tak menjawab, ia hanya menghela nafas dengan kasar.

Ia kemudian memandang Sehun “Sehun-ah kenapa kau ke Busan? Kau tidak sekolah?”

Sehun tersenyum lebar “Sudah kukatakan aku merindukanmu. Tapi tenang saja besok aku pulang dan masuk sekolah”

Tak ada tanggapan setelahnya. Taeyeon kembali sibuk akan fikirannya. Apakah appanya akan marah setelah ini? yang pasti yeoja itu sudah berusaha sekuat yang ia bisa tapi Kai selalu menguji kesabarannya.

“Sehun-ah kenapa kau menerima perjodohan kita?” Tanya Taeyeon tiba- tiba. Sehun hampir tersedak oleh salivanya sendiri mendengar itu. Namun ia hanya bisa menyunggingkan senyum manis seperti biasa.

“Ya! Changi-ya kenapa kau terus mengulang pertanyaan yang sama setiap waktu?” Sehun sedikit mencondongkan bibirnya mengatakan itu. Usaha yang bagus untuk membuat seseorang gemas, walaupun itu tidak berlaku bagi Taeyeon. Terbukti gadis itu sedang mengalihkan pandangan malas.

Tas ia raih, Taeyeon beranjak yang hanya bisa ditatap Sehun dengan pandangan polos. Rambut yeoja itu tersapu angin dari arah laut. Taeyeon berjalan di atas pasir pantai, pandangannya ia edarkan ke ujung langit.

Sehun mengikuti di belakang, ia tak berniat menggangu Taeyeon yang sedang sibuk dengan fikirannya. Ia hanya bisa memandangi yeoja itu dalam walau pada dasarnya Taeyeon tak melihatnya. Tapi bersamanya saja Sehun sudah bahagia, tak ada lagi yang ia perlukan saat ini.

 

-____________-

 

“Gadis itu benar- benar membuatku tidak habis fikir. Apakah perlu appa menghubungi sekertaris Lee untuk mengeluarkannya dari sekolah Kai-ya?” Kai menunjukkan ekspresi kaget saat appa mengatakan itu. Kepalanya menggeleng mantap.

“Tidak usah appa. Lagipula aku yang salah, jadi . . . “

“Jangan lemah Kim Jongin. Walaupun kau menghadapi seorang perempuan tapi jangan pernah lengah. Appa bisa menerima perbuatanmu selama ini. bermain dengan perempuanpun appa tidak pernah melarangnya. Tapi ingat jangan pernah berhubungan dengan gadis miskin sepertinya”

Tak ada jawaban dari Kai. Ia memang tidak pernah bisa membantah apapun yang dikatakan namja paruh baya itu. Karena betapa tidak tahu dirinya dia jika berani melawan perkataan orang yang telah mengeluarkannya dari hidup kelam dan penuh pencekaman.

Kai berjalan menuju kamar setelahnya. Fikirannya dipenuhi tentang Taeyeon, Taeyeon dan Taeyeon. Masih terbayang wajah gadis itu saat dia marah. Walaupun agak menakutkan, tapi wajah cute seperti bayi itu selalu terlihat manis. Kai baru menyadari betapa gadis itu sangat menarik di pandangannya.

Dia berbeda, gadis itu tak seperti Yoona yang setiap hari harus ke salon untuk merawat diri, tidak seperti Tiffany yang selalu memakai kosmetik luar negeri. Kai bingung pada dirinya sendiri. Mengapa ia marah- marah pada Taeyeon tempo hari? Mengapa ia sangat suka mengganggu gadis itu? Bahkan ia sempat berniat membalas dendam pada seorang yeoja. Itu seperti bukan dirinya.

“Kim Jongin apa yang kau fikirkan sekarang?” Ucapnya pelan disertai senyuman manis. Entah karena apa ia tersenyum. Tapi tarikan itu memudar setelahnya. Mengingat Taeyeon yang marah besar padanya bahkan pada appanya mengusik fikirannya. Apakah setelah ini yeoja itu benar- benar tak mau melihat wajahnya lagi? Siapa yang tahu sebelum hari itu datang.

 

-____________-

 

“Appa mianhae” Taeyeon berucap pelan. Tuan Kim yang sedang sibuk memasak makanan untuk anaknya dan Sehun hanya bisa menghembus pelan tanpa mengucapkan apapun. Taeyeon menatap Sehun yang duduk tak jauh darinya seolah bertanya apa yang harus ia lakukan. Sehun mengangkat bahu, namja itu terkekeh pelan. Melihat Taeyeon yang terbiasa kasar bersikap seperti itu sangat menghibur baginya.

Appa mengangkat makanan ke meja kecil di depan Sehun tanpa memperdulikan Taeyeon yang merengut kesal. “Appa maafkanlah Taeyeon. Lagipula masalah ini tidak sepenuhnya salahnya” Sehun membantu menjelaskan.

“Ya! Dia bukan appamu” Protes Taeyeon lalu memposisikan diri di depan Sehun. Bibir namja itu merengut jengkel.

“Dia juga akan menjadi appaku suatu saat nanti” Lirih Sehun sangat pelan. Tapi tatapan tajan yang tertuju padanya menjelaskan bahwa Taeyeon dapat mendengar ucapannya SANGAT JELAS. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunjukkan jejeran gigi putihnya.

“Sudahlah. Kalian selalu saja bertengkar” Lerai Tuan Kim. Taeyeon beralih menatap appanya.

“Bagaimana? Appa memaafkanku?” Tanpa sadar Taeyeon menunjukkan permohonan lucu. Sehun hampir saja tersedak melihatnya, perdana.

Tuan Kim tersenyum tulus lalu mengusap puncak kepala Taeyeon. “Kali ini appa memaafkanmu. Tapi kau harus menepati janjimu lain kali”

“Oke bos” Taeyeon melanjutkan makan dengan sigap. Senyuman tersungging di wajah cutenya itu. Karena terlalu cuek ia tak menyadari Sehun masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. Melihat gadis itu tersenyum seperti itu membuat semburat merah timbul di kedua pipinya.

“Kau besok kembali ke Seoul Sehun?” Sehun tersentak kaget. Ia segera memperbaiki ekspresi kemudian tersenyum lembut.

“Ne. Mulai besok aku tak akan membuat appa kesempitan saat tidur” Tuan Kim tertawa renyah. Sehun benar- benar namja yang hangat dan menyenangkan.

Taeyeon tak terlalu perduli, fokusnya hanya dimiliki jejeran makanan di atas meja. Walaupun mereka duduk melantai, tapi yeoja itu melahap seluruh masakan appanya seperti berada di restaurant mahal.

“Appa malam ini boleh aku tidur di kamar Taeyeon?”

Brusss . . .

Wajah Sehun dipenuhi butiran nasi putih yang keluar dari mulut Taeyeon. Bukannya meminta maaf jitakan malah didaratkan yeoja itu ke kepala Sehun. “Ahh Taeyeon-ah appo”

“Ya! Berani kau mengucapkan itu. Kau ingin mati hah?” mata Taeyeon seolah ingin lompat ke arah Sehun yang hanya bisa menunjukkan ekspresi kesakitan berlebihannya.

“Appa dia memukulku” Sehun mengadu manja dengan suara diimutkan. Taeyeon tersenyum mengejek melihatnya. Ia hendak memukul namja itu dengan sendok namun appa menahannya.

“Berhetilah. Kalian seperti anak kecil saja” Appa menatap keduanya bergantian seperti memarahi dua anak kecil yang bertengkar memperebutkan mainan. Mata itu fokus kepada Sehun kemudian. “Sehun belum boleh. Kalian tak bisa tidur bersama sebelum menikah arra?”

Sehun mengerucut. Ia tak berniat apa- apa sebenarnya. Sekedar ingin menghabiskan malam dengan Taeyeon. Jika pulang ke Seoul ia tak bisa leluasa kembali lagi ke Busan. Bukan karena tidak ingin, tapi ia harus fokus pada sekolahnya.

Mungkin karena rencana pernikahan dengan Taeyeon yang akan digelar secepatnya. Jadi Sehun harus belajar dengan giat tentang bisnis perusahaan. Ia tidak ingin menjadi namja yang terus bergantung pada Taeyeon. Sehun bahkan memasuki kelas taekwondo untuk mengimbangi Taeyeon.

 

-____________-

 

Yeoja mendesah kasar. Ia tak suka tatapan mengintimdasi yang diedarkan orang- orang ke arahnya. Tapi bagaimana lagi? Ia ingin menggertak remaja- remaja menjengkelkan itu, tapi untuk sekarang itu tidak mungkin.

“Taeyeon-ssi” Langkah Taeyeon tertahan. Gadis itu merotasi matanya malas. Kai berlari kearahnya membuat ia melemparkan tatapan tidak suka.

“Ya! Sudah kubilang . . . “

“Ini” Kai memberikan selembar kertas kecil. Taeyeon menatap benda itu dan Kai bergantian. “Ambil. Kau harus bertanggung jawab Kim Taeyeon. Ini adalah biaya dari kerugian mobil milikku yang kau rusak”

Taeyeon menarik kasar kertas itu dari tangan Kai. Ia menatapnya dengan mata membulat lebar. SATU JUGA WON. “Ya! Kau menipuku? Mana mungkin sampai semahal ini?” Ucap Taeyeon tak percaya.

Kai tersenyum penuh kemenangan. “Mobil itu adalah mobil sport keluaran terbaru. Bahkan harga itu sudah sangat murah Kim Taeyeon”

“Aku tidak akan menggantinya. Itu bukan sepernuhnya kesalahanku”

“Itu berarti kau tidak bertanggung jawab.” Taeyeon menutup matanya menahan amarah. Kai benar- benar tidak mempunyai rasa takut ataupun trauma. Dengan hati- hati Taeyeon menatap namja itu.

“Kenapa kau selalu mencari masalah?”

Kai mengangkat bahu dengan senyuman mengesalkan. “Aku tidak mencari masalah. Aku hanya meminta hakku.”

“Kau anak orang kaya. Mana mungkin kau mempermasalahkan uang yang tidak besar untuk kalian”

“Itu besar bagiku. Lagipula itu uang ayahku bukan milikku. Intinya kau harus mengganti kerugianku. Tenang Taeyeon-ssi aku akan memberi keringanan. Kau boleh mencicilnya”

Kai berbalik, ia berjalan dengan senyum kemenangan. Gadis itu tak bisa berkutik lagi, walaupun uang itu tidak penting sama sekali baginya tapi paling tidak ada alasan agar yeoja itu tak memintanya menjauh.

Sementara Taeyeon? Ia meniup rambut yang terurai di jidatnya. Rasa kesal membuncah di dalam dadanya. Kai terlalu mengesalkan, tapi sulit untuk ia jauhi. Sekarang bahkan ia harus terus berurusan dengan namja itu lagi. Dan dimana ia akan mendapatkan uang? Ayahnya tidak mungkin memilikinya.

“Sehun? Ah itu sangat memalukan” Taeyeon bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Meminta dari eomma juga mustahil. Tak ada cara lain. “Aku harus bekerja paruh waktu”

 

*To Be Continued . . .

 

Gomawo buat readers yang sudah meninggalkan komentar di chap sebelumnya. Tenang aja, karena di chap terakhir nanti aku bakalan protect jadi buat yang silent sorry to say tapi password-nya gak bakal aku kasih hehe #ketawaevil

Dan sorry buat typo yang bertebaran =D . . .

 

Advertisements

65 comments on “Not Destined (Chapter 5 )

  1. Taetae cool bingits, huwaaaa.
    marahin aja tuh appa nya si kai yg ngerendahin taetae dan appanya, jd pengen tahu gmna reaksi tmen2 skolah taeng dan appa kai pas tahu klo taeng itu anak konglomerat, hahahhhh

  2. ff nya semakin kesini semakin keren bangett 😀
    Itu sehun imut banget disini wkwkwk
    Akhirnya kaisuka sama tae
    Ditunggu lanjutanyyaaaa

  3. Thehunnnnnn manis bangettt!!
    Aku hampir lupa disini ada Baekhyun jg, si berandalan haha
    Tapi kalau nnti Taeyeon berakhir dgn Kai.. gmna dgn Thehun??
    hhuhuhu *malah nguatirin Sehun*
    Kai pasti cari2 cara biar bisa selalu berhubungan sama Taeyeon hha
    Gasabar nunggu part selanjutnya..
    Please update soon yaa thor. . Semangatt!!

  4. wah wah wah taeyeon dan kai berciuman dikelas………
    kalau sehun tahu itu bagaimana jadinya ya,
    apa sehun akan memarahi kai atau sehun langsung memukuli kai tanpa basa basi karna mencium gadisnya,….
    moga aja author menyertakan bagian ini pasti seru deh….

    cepat diselesaikan ya thor ff ini … fighting!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s