Skellington [Part 14]

SKELLINGTON Part 14 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12 | Part 13

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing

.

.

.

.

.

Taeyeon kecil terisak dalam tangisannya. “Untuk apa? Untuk apa kau melakukan semua ini?”

“Karena aku tahu kau sebenarnya lebih baik dari ini. Kau punya keberanian, kau punya kemauan, mungkin motivasimu memang kurang tapi setidaknya kau bisa mencoba.” Ungkap Baekhyun kemudian dia membuka pintu laboratorium.

Taeyeon kecil sedang menundukkan kepalanya di meja laboratorium dan rangka tengkorak yang ada di belakangnya hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Baekhyun mendekati Taeyeon kecil perlahan agar dia tidak berteriak seperti sebelumnya. Tidak ada perlawanan dari Taeyeon.

“Katakan padaku, Taeyeon. Apa kau… Menyukaiku?”

Jantungku seakan berhenti begitu mendengar suara teguh Baekhyun serta kalimatnya yang di luar dugaan. Mungkin aku gila tapi siapapun akan langsung jatuh hati pada Baekhyun hanya dari kalimat itu. Dia jelas tahu bagaimana cara agar orang menyukainya. Sudah banyak perempuan menyatakan perasaan pada Baekhyun tapi Baekhyun tidak pernah menganggapnya serius. Lalu ini apa? Apa ini serius? Atau tidak.

“Aku… Tidak akan menjawab itu.” Jawab Taeyeon kecil masih dengan kepala tertunduk.

“Aku ingin tahu jawabanmu.”

“Kalau begitu maaf, kau tidak mendapat jawabanmu.” Sahut Taeyeon kecil cepat. “Aku akan menjadi Cinderella. Sebagai gantinya jangan membuatku menjawab pertanyaan itu.”

Wajah Baekhyun menjadi masam karena kesal lalu dengan tangan kanannya dia memukul meja dengan keras, membuat Taeyeon kecil langsung mengangkat kepalanya. “Aku butuh jawabanmu, bagaimanapun juga! Jangan membuatku menyesal sudah memohon hal itu saat tahun baru!”

“Apa?” kataku dan Taeyeon kecil bersamaan tapi jelas hanya suara Taeyeon kecil yang terdengar oleh Baekhyun. Karena aku adalah makhluk yang seenaknya saja datang dari masa depan dengan wujud tak terlihat, suara tak terdengar, dan tubuh tak tersentuh.

Baekhyun menatap Taeyeon kecil sangat lama kemudian menghela napas. “Kau mau tahu… Apa permohonanku saat kita doa di kuil pada tahun baru?” tanya Baekhyun dengan wajah merah padam sementara Taeyeon kecil hanya menatapnya saja. “Kau mau tahu atau tidak?”

Taeyeon kecil mengusap pipinya yang basah karena air mata lalu menjawab, “Kalau kau mau, aku tidak keberatan.” Baekhyun membalikkan badannya, membelakangi Taeyeon kecil tapi otomatis aku bisa melihat sosoknya yang malu-malu dan mengumpulkan banyak keberanian untuk menyampaikan sesuatu pada Taeyeon kecil.

“Katakan padaku.”

“Aku tidak bisa mengatakannya.” Sahut Baekhyun lalu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Aku bukannya tidak ingin memberitahumu, tapi hanya saja aku tidak tahu harus memulai dari mana.”

Taeyeon kecil mengerutkan keningnya. “Apa ini tentang—“

“Ini bukan tentangmu, ini tentang impianku.” Sahut Baekhyun cepat membuat Taeyeon kecil menggigit bagian bawah bibirnya. Aku heran mengapa diriku saat kecil kecewa mendengar jawaban Baekhyun yang seperti itu. “Jadi, begini… Um…”

“Ya, katakanlah.”

Baekhyun menggeleng. “Aku tidak bisa.”

Aku dan Taeyeon kecil sama frustasinya terhadap Baekhyun. Dengan cepat Taeyeon kecil bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan menuju pintu keluar laboratorium sampai Baekhyun menarik tangannya, membuatnya jatuh ke pelukan Baekhyun yang hangat. “Baekhyun, apa yang kau lakukan—“

“Aku ingin mengalami petualangan yang seru denganmu di mana aku akan melindungimu dan menjadi pahlawanmu.” Jelas Baekhyun panjang lebar tapi cepat.

Taeyeon kecil mendorong Baekhyun dengan tatapan heran. Wajah mereka berdua sama merahnya tapi mereka tidak saling memandang. Baekhyun menatap meja laboratorium sedangkan Taeyeon kecil memandang rangka tengkorak yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. “Kau ingin melindungiku?”

“Oke, aku sudah mengatakannya. Sekarang kau boleh tertawa kalau kau mau.” Jawab Baekhyun jelas keluar dari topik yang ditanyakan Taeyeon. “Tidak kah kau menyukai sesuatu yang menegangkan? Seperti situasi di mana kau terjebak sesuatu dan kau dipaksa memikirkan jalan keluar dalam waktu singkat? Aku ingin mengalami hal seperti itu. Tapi aku butuh kau.”

Baik aku dan Taeyeon kecil sama herannya dengan jawaban Baekhyun. “Mengapa harus ada aku?” tanya Taeyeon kecil masih sambil menatap rangka tengkorak yang sebenarnya tidak sedap dipandang.

Dan Baekhyun juga masih menatap meja laboratorium menjawab, “Karena saat aku bersamamu… Entah mengapa jantungku serasa akan keluar dari dadaku.”

Seketika aku yang berdiri di depan Baekhyun sadar bahwa air mataku sebentar lagi akan menetes. Aku berusaha menahannya dengan mengayunkan tangan di depan mataku sehingga air mataku kering. Aku tahu bahwa jika aku menangispun aku tidak akan terlihat oleh siapapun tapi tetap saja rasanya memalukan. Aku akan sama cengengnya dengan Taeyeon kecil.

Byun Baekhyun memang penjahat terlicik di dunia. Tidak hanya tahu cara membuat orang-orang menyukainya, dia juga tahu cara membuat perempuan menjadi tidak berdaya karenanya. Kalimat apa yang barusan keluar dari mulutnya? Itu jelas bukan kata-kata yang keluar dari mulut anak laki-laki berusia 10 tahun tapi dia jelas lebih dewasa dari umurnya. Tampangnya saja yang seperti bocah.

Lihat saja keadaan Taeyeon kecil saat ini. Wajahnya semerah tomat sedangkan otaknya seperti berusaha memikirkan jawaban atau sahutan yang tepat untuk membalas Baekhyun. Aku ingin meneriaki Taeyeon kecil seperti ayo, balas mulut manisnya dengan lidah pahit tapi apa daya aku tidak terdengar olehnya.

Suasana menjadi hening hingga Tiffany datang bersama teman-temannya dan langsung berteriak, “Hei! Mereka berdua di sini!”

Rupanya anak-anak sekelas mencari Taeyeon kecil dan juga Baekhyun yang tak kunjung kembali. Tiffany terlihat sangat senang menemukan Taeyeon kecil dan langsung menghampirinya dan berhasil membuat pandangan Taeyeon kecil teralih dari rangka tengkorak menjadi Tiffany.

“Ya Tuhan, Taeyeon, kau membuat kami khawatir. Kau membuatku khawatir.” Kata Tiffany lalu membelai rambut Taeyeon kecil dengan lembut. “Aku sudah diberi izin oleh Dohoon Seosangnim untuk menampar semua anak yang tadi tertawa di kelas.”

Baekhyun menatap Tiffany dengan tatapan jengkel. “Yah, berarti aku tidak termasuk—“

“Termasuk semua anak yang tidak membela Taeyeon.”

“Hei, aku membela Taeyeon!” balas Baekhyun cepat. “Taeyeon sudah setuju untuk menjadi Cinderella. Berterima kasihlah padaku.”

Jinjjayo?” tanya Tiffany pada Taeyeon kecil lalu Taeyeon kecil mengangguk cepat. Tiffany berkali-kali mengalihkan pandangannya dari Baekhyun kemudian Taeyeon kecil. “Kau tahu, kau tak perlu memaksakan diri.”

Taeyeon kecil menggeleng dan tersenyum. “Tidak apa-apa, kok. Aku mau jadi Cinderella.”

Setelah itu mereka kembali ke kelas dan membahas banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk pementasan drama Cinderella. Sebagai hukuman, Chanyeol diberi tugas sebagai sutradara yang menetukan bagus atau tidaknya drama yang akan dipentaskan nantinya. Dohoon Seosangnim mengharapkan drama yang bagus dan spektakuler.

Latihan berlangsung sampai awal Maret, satu hari sebelum pementasan. Dan setiap hari Taeyeon kecil pulang saat matahari hampir terbenam dan selalu ditemani Baekhyun. Tak peduli mereka menaiki mobil papa Taeyeon kecil atau berjalan kaki menuju apartmen, mereka selalu bersama setiap hari.

Saat papa mengenal Baekhyun, untuk pertama kalinya Baekhyun menjadi kaku di depan orang lain. Mungkin karena papa mengira anak kecil tidak akan mengenal apa itu cinta, jadi papa membiarkan Baekhyun selalu menemani Taeyeon kecil.

Pementasan drama adalah hal terakhir yang Baekhyun dan Taeyeon kecil lakukan saat kelas 4 SD sebelum mereka menginjak bangku kelas 5. Memang masih ada ujian kenaikan atau perpisahan dengan kakak kelas yang akan lulus tapi itu adalah hal terakhir yang mereka lakukan bersama. Mengapa? Karena saat kelas 5 SD, Baekhyun dan Taeyeon kecil pisah kelas.

 .

.

.

.

.

Seakan bisa membaca pikiranku, saat ini aku berada di taman bermain yang terletak di Gyunggi-do. Aku jelas mengingat bahwa ini adalah darmawisata yang diadakan sekolah setiap tahunnya. Tujuan setiap angkatan berbeda-beda dan murid kelas 5 mendapat kesempatan untuk mengunjungi Gwangcheon.

Tidak butuh waktu lama sampai aku menemukan Taeyeon kecil yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Tapi dari semua temannya, hanya Chanyeol yang aku kenal. Sedangkan Tiffany dan Baekhyun berkumpul di dekat bus kelas mereka. Saat aku kecil aku berpikir bahwa pembagian kelas ini tidak adil.

“Taeyeon, kau mau naik apa?” tanya Chanyeol yang sedang memegang map taman bermain di tangannya.

Anehnya Taeyeon kecil tidak menjawab pertanyaan Chanyeol. Taeyeon kecil fokus melihat ke arah Baekhyun di mana Baekhyun sedang bercanda dengan teman-temannya. Baekhyun saat kelas 5 SD menjadi jauh lebih populer. Semua orang kini ingin menjadi teman Baekhyun.

Ya! Kau melihat ke mana? Jawab pertanyaanku!” seru Chanyeol tapi Taeyeon kecil masih tidak mengalihkan pandangannya. Chanyeolpun ikut-ikutan melihat ke arah yang sama dengan Taeyeon kecil. “Aaah, kelas 5-C ya? Apa mereka punya masalah denganmu?”

Berbeda dengan sebelumnya, Taeyeon kecil menggeleng sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Chanyeol. Dengan suara pelan dia berkata, “Seharusnya aku yang berada di sampingnya…”

“Hah?” gumam Chanyeol lalu dengan cepat dia menyadari apa maksud Taeyeon kecil. “Jadi yang dari tadi kau perhatikan itu Baekhyun? Mantan teman sebangkumu?”

Kali ini Taeyeon kecil mengangguk. “Aku ingin berkeliling bersamanya… Apa boleh ya?”

Sekilas senyuman usil terukir di wajah Chanyeol. Dengan mata bulat dan mimik ceria, dia mendekati rombongan kelas 5-C dan berteriak, “Yaaaaaa! Taeyeon menyukai Baekhyun! Taeyeon menyukai Baekhyun!”

Taeyeon kecil yang sadar dari lamunannya langsung berlari ke tempat Chanyeol dan berkata, “Apa yang kau lakukan? Aku diperhatikan semua orang!”

Chanyeol tertawa puas. “Bukankah dengan begini kau bisa berkeliling dengan Baekhyun? Kau mau naik wahana bersama Baekhyun, bukan?”

“HAH? Kapan aku berkata seperti itu?”

“Tadi.”

“Apa?” dan langsung saja semua murid memberi jalan antara Taeyeon kecil dan Baekhyun. Taeyeon kecil mencari sosok yang kemungkinan bisa membantunya seperti Tiffany tapi Tiffany yang tadi berada di antara anak-anak kelas 5-C menghilang dari pandangan Taeyeon kecil.

Saat Taeyeon kecil baru saja mundur beberapa langkah untuk melarikan diri, dengan cepat Baekhyun berseru, “Kau mau lari lagi?”

Suasana menjadi hening tetapi serius. Beberapa anak sudah menjauh dan memutuskan untuk segera masuk ke dalam taman bermain. Aku yang sedari tadi melihat dari kejauhan memutuskan untuk ikut ke dalam kerumunan dan melihat apa yang akan Taeyeon kecil lakukan.

“Kau tidak boleh lari, Taeyeon. Sampai kapan kau mau seperti ini?” tanya Baekhyun sambil menatap Taeyeon kecil dalam-dalam.

Taeyeon kecil menggeleng cepat. “Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mengerti…”

Dan secara mengejutkan Baekhyun melangkah mendekati Taeyeon kecil dan menggenggam tangannya. Seakan tidak peduli akan sorakan yang mengelilinginya, dia bertanya sambil tersenyum, “Kau mau naik wahana apa? Aku akan menemanimu.”

Lalu selanjutnya Baekhyun menarik Taeyeon kecil, keluar dari kerumunan yang mengelilingi mereka, masuk ke dalam taman bermain dan mencari tempat yang sepi. Tidak ada yang mengejar mereka berdua selain aku yang tak terlihat oleh mereka. Kalau tidak salah mereka akan berhenti di depan bioskop 3D dan ternyata perkiraanku benar. Mereka memang berhenti di depan bioskop 3D.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, sih?” tanya Baekhyun dengan nada kesal tapi terkesan bercanda. “Aku jadi tidak tahu harus berhenti di mana, kan?”

Dengan mata berkaca-kaca, Taeyeon kecil menjawab, “Mianhae.”

Aku yang menyaksikan sosokku saat kecil hanya bisa memutar bola mataku. Mengapa aku harus minta maaf saat itu? Dan mengapa mataku mudah sekali berkaca-kaca seperti sepatu kaca Cinderella?

“Bioskopnya belum buka.” Sahut Baekhyun lalu mencari sesuatu di sekelilingnya. Kemudian dia menunjuk sebuah bench dan berkata, “Kita duduk dulu di sana.”

Taeyeon kecil menjadi penurut di depan Baekhyun. Mereka berdua duduk di bench yang menghadap bioskop 3D sehingga jika bioskopnya buka, mereka berdua bisa menjadi pasangan pertama yang masuk dan menonton.

“Sudah lama kita tidak berdua saja.” Kata Baekhyun mengawali pembicaraan. “Kau tahu, wali kelasku Dohoon Seosangnim lagi. Sepertinya beliau hobi sekali mengikutiku. Dia bahkan menjadikanku ketua kelas padahal aku sangat sibuk.”

“Kau sibuk?” tanya Taeyeon kecil lalu Baekhyun mengangguk cepat.

“Bagaimana denganmu?” tanya Baekhyun kembali.

“Aku tidak sibuk. Tapi akhir-akhir ini aku suka mengunjungi tempat kerja papa. Aku melihat banyak sekali keluarga yang datang dan melihat ada anak yang seumuran dengan kita. Dan jika aku berani aku berusaha menyapanya.” Jelas Taeyeon kecil.

Setelah bercerai dengan mama, papa mendirikan perusahaan asuransi yang langsung melonjak dan menjadi besar 2 tahun kemudian. Sebelumnya papa hanya seorang dosen di sebuah universitas swasta di Seoul. Bekerja sebagai presiden direktur tentu menyita banyak waktu papa tapi entah mengapa papa selalu menyempatkan diri untuk menjemputku.

“Kalau bisa, kau jangan berteman dengan anak laki-laki lain.” Ujar Baekhyun malu-malu. “Apalagi kalau anak itu lebih tampan, lebih pintar, lebih keren, atau lebih kaya dariku.”

Taeyeon kecil tersenyum. “Memangnya kau siapaku? Lalu apa yang membuatmu sibuk akhir-akhir ini?”

“Aku sibuk karena…” Baekhyun terlihat gugup kemudian menghela napas. “Aku sering datang ke perpustakaan kota untuk membaca cerita misteri.”

“Cerita misteri?” tanya Taeyeon kecil lalu Baekhyun mengangguk.

Selanjutnya Baekhyun bercerita bahwa akhir-akhir ini karena pengaruh kakaknya, dia suka menonton film misteri yang penuh dengan pembunuhan atau perampokan. Menurutnya yang paling asyik dari menonton film misteri adalah rasa menegangkan yang dia dapat. Dan menurutnya film misteri akan jauh lebih baik jika ditambahkan dengan petualangan yang penuh tantangan.

Lalu karena semua film misteri yang dimiliki kakaknya sudah habis dia tonton, Baekhyun memutuskan untuk membaca semua buku misteri yang ada di perpustakaan kota. Dia berusaha tidak terlihat oleh orang lain karena takut kepopulerannya jatuh. Menurutnya anak-anak di kelasnya pasti akan mengejeknya sebagai kutu buku.

“Mataku akhir-akhir ini merasa capek.” Lanjut Baekhyun. “Mungkin sudah saatnya aku memakai kacamata.”

Taeyeon kecil hanya tersenyum melihat Baekhyun yang mengusap matanya. Lalu setelah beberapa detik keheningan dia bertanya, “Kau semangat sekali membaca buku-buku misteri.”

“Karena aku ingin melakukan petualangan.”

“Petualangan?” tanya Taeyeon kecil lagi lalu Baekhyun mengangguk.

Mungkin yang ada di pikiran kalian begitu mendengar petualangan adalah menjelajahi hutan, bertarung dengan monster, lalu mendapatkan harta atau kekayaan tak terhingga. Petualangan menggunakan peralatan serta kecerdasan otak seperti Indiana Jones. Tapi ternyata petualangan yang dimaksud Baekhyun bukan yang seperti itu.

“Akhir-akhir ini appa mendapat banyak surat misterius.” Kata Baekhyun memulai penjelasannya. “Surat itu tidak beralamat dan tidak tertulis siapa pengirimnya. Isinya adalah betapa sang pengirim mengagumi sulap yang dilakukan appa beserta penjeasan panjang yang berisi bagaimana appa melakukan suatu sulap.”

Taeyeon kecil mengerutkan keningnya. “Bukankah itu hal yang bagus?”

Baekhyun menggeleng berkali-kali. “Tentu saja tidak bagus! Orang itu berhasil membongkar banyak trik sulap appa. Apalagi orang itu tidak mencantumkan nama, bukankah itu misterius? Jangan-jangan dia mempunyai maksud buruk.”

“Apa yang appamu pikirkan tentang ini?” tanya Taeyeon kecil sambil menatap Baekhyun.

Appa sama sekali tidak peduli. Dia pikir itu hanya surat penggemar biasa. Tapi menurutku tidak. Orang ini pasti mempunyai maksud tertentu.” Jawab Baekhyun sambil menatap kakinya. “Lalu saat kubaca salah satu suratnya, aku sadar bahwa surat itu bukan surat biasa. Surat itu berisi puisi dan puisi itu berisi petunjuk dengan menyusun kata-kata awal tiap baris yang tertulis. Begitu aku selesai membacanya…”

Baekhyun terdiam sesaat dan terlihat ragu-ragu sampai Taeyeon kecil berseru, “Apa petunjuknya?”

Aku langsung menyadari bahwa wajah Baekhyun terlihat sangat pucat. Dia ketakutan. Untuk pertama kalinya aku melihat sosok Baekhyun yang tidak berdaya tapi batinnya ingin tetap melawan. Baekhyun yang tak kenal takut, Baekhyun yang selalu menghadapi semua hal dengan senyuman, sekarang ketakutan.

“Apa petunjuknya?”

Aku merencanakan sebuah pembunuhan.” Ucap Baekhyun dengan suara pelan seakan takut terdengar oleh orang lain selain Taeyeon kecil. “Itu isi surat ke-8 yang dikirim pada appaku.”

Kali ini wajah Taeyeon kecil tidak kalah pucat dengan Baekhyun. “Merencanakan pembunuhan? Apa maksudnya?”

“Tidak hanya itu, Taeyeon.” Lanjut Baekhyun. “Surat-surat sebelumnya juga memiliki petunjuk. Aku juga sudah membaca semua surat yang dikirimkan pada appaku dan berhasil menemukan petunjuk yang sama berupa kalimat.”

Seakan ikut tertarik dalam hal-hal misterius, Taeyeon kecil dengan cepat bertanya, “Apa petunjuk lainnya?”

Baekhyun menatap Taeyeon kecil dalam-dalam. Bibirnya tertutup dan terbuka berulang kali sambil berusaha mengingat semua petunjuk yang dia dapat. Setelah beberapa detik berlalu dan dengan segenap keberanian yang telah dia kumpulkan, dia merogoh sakunya dan memberikan Taeyeon kecil secarik kertas yang berisi tulisan tangannya, berisi semua petunjuk yang telah dia kumpulkan.

Wahai pesulap yang maha agung. Kau tidak tahu betapa berbahayanya pekerjaanmu. Aku sarankan kau untuk berhenti. Tapi aku tahu kau tidak akan bisa. Nyatanya aku menemukan hal luar biasa. Melalui trik-trik sulapmu, kau menginspirasiku. Berkatmu mungkin aku bisa. Aku merencanakan sebuah pembunuhan. Aku tidak meminta kau menghentikanku. Karena ini adalah masalah pribadiku. Pada akhirnya aku akan menyerahkan diriku. Pada polisi yang nantinya akan mengungkap kasus ini. Tapi aku ingin memberimu memberitahumu sesuatu.

Taeyeon kecil mengembalikan kertas itu pada Baekhyun secara hati-hati. “Apa maksudnya orang ini? Apa dia gila? Darimana kau bisa mendapatkan petunjuk besar seperti ini?”

“Bukankah sudah kubilang, aku hanya menyusun kata-kata awal pada tiap baris puisi yang selalu ada di setiap surat.” Jelas Baekhyun dengan nada yang terdengar tenang. “Satu kalimat setiap surat. Dan sampai saat ini sudah ada 13 surat yang diterima appaku. Dan sepertinya surat ini akan terus berlanjut.”

Lalu Baekhyun memberitahu Taeyeon kecil bahwa mungkin sesuatu yang ingin diberitahu sang pengirim pada appa Baekhyun adalah trik-trik bagaimana dia akan melakukan pembunuhan itu. Semakin rumit triknya, maka hari pembunuhan akan semakin jauh dari saat ini.

“Kau ingat apa permohonan yang aku minta pada saat kita berdoa di kuil?” tanya Baekhyun. “Aku ingin mengalami petualangan yang seru. Dan aku yakin ini adalah petualangan yang ditakdirkan untukku.”

“Kau gila.” Sahut Taeyeon kecil cepat. “Siapa saja yang mengetahui petunjuk ini selain kau?”

“Hanya aku. Dan kau.” Jawab Baekhyun tak kalah cepat. “Karena itu kau harus ikut serta dalam petulangan ini bersamaku. Kau harus ada di dekatku untuk menjagaku agar aku tetap waras selama melakukan petualangan ini.”

Taeyeon kecil menyandarkan punggungnya ke bench. “Jadi kau ingin berkata padaku bahwa kau sudah gila?”

“Aku memang sudah gila dan sudah tidak tahan untuk melindungimu.” Jawab Baekhyun sambil melipat kertas petunjuk yang ada di tangannya. “Kau tak perlu melakukan apa-apa untukku. Biarkan aku melindungimu. Aku ingin melihat jauh ke dalam hatimu, seperti apa sosokku di matamu.”

“Aku bisa menjelaskannya padamu.”

“Tidak. Aku ingin memastikannya sendiri.” kata Baekhyun. “Mungkin ini akan menakutkan. Mungkin ini akan sangat menegangkan. Tapi maukah kau melakukan petualangan ini bersamaku? Maukah kau percaya sepenuhnya padaku?”

Aku yang sedari tadi diam mendengarkan tidak terasa telah meneteskan air mataku. Yang kulihat dalam hatinya adalah bahwa hidupnya pasti akan menuju sebuah surga yang indah. Dia adalah manusia yang baik dan peduli terhadap sesamanya.

Yang kulihat dalam matanya adalah bahwa selain bisa membuat orang-orang menyukainya, dia bisa mengubah dunia dengan kemampuannya. Siapapun akan rela memberikan cinta dan hidup mereka pada Baekhyun. Dan sepertinya diriku saat kecil juga berpikir seperti itu.

“Ya.” Jawab Taeyeon kecil dan untuk pertama kalinya aku melihat mereka berpelukan.

Baekhyun pernah berkata bahwa jika isi permohonan kita saat berdoa diberitahukan pada orang lain, maka doa itu tidak akan pernah terkabul. Saat itu diriku yang kecil memohon agar adikku, Solar, akan sehat sepanjang tahun dan hidup bahagia. Nyatanya tidak karena Solar mengalami demam tepat sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Aku ingin mengalami petualangan yang seru denganmu di mana aku akan melindungimu dan menjadi pahlawanmu.

Hanya aku yang tahu bahwa permohonan Baekhyun kali ini tidak akan terkabul karena dia sudah menceritakannya pada Taeyeon kecil. Terutama di bagian bahwa dia akan melindungi Taeyeon kecil dan menjadi pahlawannya. Yang ada di pikiranku hanya kebalikannya dari itu.

.

.

.

.

.

Ruang waktu membawaku pada apartmenku di mana aku yang berusia 12 tahun sedang merayakan kelulusannya sendirian karena papa pulang telat malam itu. Taeyeon kecil baru saja lulus dari sekolah dasar Seoul Memorial Private School dan juga mendapat kabar bahwa dia berhak melanjutkan pendidikan di sekolah yang sama.

Tentu saja Taeyeon kecil akan bertemu lagi dengan Tiffany, Baekhyun, dan Chanyeol yang juga mendaftar di sekolah yang sama. Tahun ajaran baru akan dimulai beberapa minggu lagi. Taeyeon kecil menunggu kepulangan papanya dan ingin memberi kabar seperti buku apa yang akan digunakan atau kapan harus membeli seragam sekolah yang baru.

Tiba-tiba bel pintunya berbunyi menyebabkan tangan Taeyeon kecil yang hendak memotong kue terhenti dan beralih ke kenop pintu. Karena papa akan menelpon terlebih dahulu sebelum pulang jadi hanya ada satu orang yang pasti mengunjungi Taeyeon kecil malam-malam seperti ini. Orang itu tidak lain adalah Byun Baekhyun.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Taeyeon kecil lalu Baekhyun dengan cepat meletakkan jari telunjunjuknya di depan bibir Taeyeon. “Apa—“

“Sssssh!” Baekhyun menarik tangan Taeyeon masuk ke dalam apartmen Taeyeon. “Papamu belum pulang, kan?”

Taeyeon kecil menggeleng cepat. “Ada apa? Kau ada perlu dengan papaku?”

Dengan cepat Baekhyun menunjukkan kertas dari belakang tubuhnya dengan wajah tersenyum. “Petunjuknya sudah lengkap.”

Baik aku dan Taeyeon kecil membulatkan mata karena tidak mengerti apa yang diucapan Baekhyun. “Petunjuk apa?”

Baekhyun tersenyum seakan tidak percaya apa yang baru saja dikatakan oleh Taeyeon kecil. “Apa kau lupa? Petunjuk dari surat-surat yang datang dari appaku sejak setahun yang lalu. Dia sudah mengirimkan 30 surat dan petunjuknya sudah lengkap.”

Taeyeon kecil menggeleng bingung. “Kau masih mengumpulkan petunjuk-petunjuk dari surat itu? Mengapa kau bisa tahu bahwa petunjuknya sudah lengkap?”

Baekhyun menunjuk baris terakhir yang bertuliskan: surat ke-30. Terima kasih atas bantuanmu, pesulap agung. Seakan belum cukup, Baekhyun menjelaskan, “Kau harus membaca petunjuk-petunjuk yang lain. Dia memberitahu semua hal tentang pembunuhannya. Di mana tempatnya, kapan, dan bagaimana dia akan melakukannya.”

“Oke.” Sahut Taeyeon kecil kehabisan kata-kata. “Kapan pembunuhan ini akan terjadi? Bukankah kita hanya perlu melapor pada polisi setelah dia melakukannya?”

“Malam ini.”

“Apa!?”

“YA!” seru Baekhyun dengan nada gembira. “Pembunuhannya akan terjadi malam ini. Dan aku akan menghentikannya. Oh tidak, aku salah. KITA akan menghentikannya.”

Taeyeon kecil menarik kertas itu dan menunjuk baris ke-9 yang merupakan petunjuk dari surat ke-9 yang dikirim penggemar appa Baekhyun itu. “Di sini tertulis bahwa dia tidak meminta siapapun untuk menghentikan aksinya. Jadi sebaiknya kita—“

“Tetap saja aku akan menghentikannya. Apapun alasannya, manusia tidak boleh membunuh manusia lain. Dan aku akan menolongnya untuk mengubah pilihannya. Pengirim surat ini menempuh jalan yang salah dalam hidupnya. Aku akan meluruskan kembali jalannya.” Jelas Baekhyun dengan nada serius. Kemudian dia menggenggam tangan Taeyeon kecil dan kali ini dengan nada memohon dia berkata, “Kau akan ikut denganku, bukan?”

BERSAMBUNG

SURPRISE! Skellington part 14 hadir dua hari lebih cepat untuk menemani akhir tahunmu!

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Part 14 penuh dengan flashback dan sepertinya part 15 juga kira-kira seperti ini dan jelas akan lebih menegangkan. Apa kalian menyukainya? Apa kalian sudah siap?

Oh ya, Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2016 untuk kita semua. Let’s make a wish for a better year!

Akhir tahun ini author tetap sibuk menulis cerita karena ingin mengikuti sebuah lomba menulis fanfiction. Karena itu mohon maaf, untuk part selanjutnya aku undur dua hari dari jadwal terbit biasa yaitu dua minggu sekali. I’m so sorry guys.

Seperti biasa aku meminta kritik dan saran dari kalian semua. Itu akan membuatku semakin semangat dalam menulis cerita ini. Tolong nantikan part berikutnya dengan sabar dan terima kasih sudah membaca sampai selesai!

Part 15 will be published 11th January 2016

Advertisements

59 comments on “Skellington [Part 14]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s