Not Destined (Chapter 4 )

no-destined_selvi_melurmutia

Not Destined

Main Cast: Taeyeon ­– Kai || Genre: Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: PG-13 || Author : Selvy

Poster FF by Melurmutia@Cafeposter

^^^Chapter 1 & 2 pernah di upload di EXOSHIDAEFANFIC

Ps: Disini banyak penambahan adegan dan pengeditan. Tapi tidak ada perubahan cerita.

 

-____________-

 

“Ya! Kenapa kau disini hah? kau tidak pantas berbaur dengan kami” Mata namja kecil yang duduk meringkuk di sudut ruangan lusuh tak terurus itu berair. Anak- anak lain mengililinginya dengan tatapan intimidasi. Seragam sekolah yang ia gunakan sudah koyak dimana- mana. Ia ketakutan.

“Dasar anak tanpa orang tua” Yang lain menimpali. Lutut anak tadi semakin bergetar. Ia tak suka kata- kata itu. Ia berdiri dan segera mendorong anak lelaki yang menghinanya.

“Ahhhh” Ia segera berlari menjauh. Beberapa kali ia tersungkur namun bangkit kembali. Lututnya yang penuh luka tak membuat mimik kesakitan terlihat di wajahnya. Ia terus berlari sampai akhirnya terjatuh karena menabrak sesuatu.

“Ya! Kau tidak mempunyai mata hah?” Seorang ahjumma memunguti buah dan sayur yang terjatuh karena namja kecil itu. Tatapan tajam ia berikan kepada anak tak berdosa yang hanya bisa menunduk takut. “Ennyahlah kau, kau hanya membuat semuanya semakin sulit”

Ahjumma itu pergi dengan terus mengumpat. Ia memperlakukan anak tadi layaknya orang dewasa yang sanggup menyaring perkataan kasarnya. Tapi sayang sang anak tidak lebih dari seorang namja kecil yang tak mengerti apa- apa. Ia hanya bisa memusuhi dirinya sendiri atas segala perlakuan yang diterimanya.

Ia melanjutkankan pelariannya. Tangis dan peluh sudah bercampur jadi satu tanpa bisa membedakan keduanya. Telapak kakinya yang terluka tak terasa lagi, ia terus berlari sampai berhenti di sebuah bangunan sederhana berwarna putih. Sebuah papan bertuliskan sesuatu di atasnya ‘Panti Asuhan’

Seorang ahjumma sedang menyapu halaman. Namja kecil itu menatap ke sembarang arah. Ekspresi ketakutan muncul di wajahnya. “Eommonim “ Ujarnya sangat pelan. Namun untungnya ahjumma itu menoleh tanda bahwa telinganya dapat menangkap suara sang namja kecil.

Bukan raut khawatir atau kasih yang terpancar dari wajahnya. Malah dengan wajah garang ia mendatangi dan meraih lengan namja kecil itu kasar. “Lagi? Kau merusak seragammu lagi? Memang kau siapa hah? Tak ada yang menginginkanmu di dunia ini”

Bertubi- tubi pukalan mendarat di betisnya membuat dia meraung kesakitan. Anak- anak berlari keluar melihat kejadian itu. Sebagain dari mereka ikut menangis, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan. Sementara penjaga yang lain hanya menatap tanpa ekspresi, seolah apa yang dilakukan ahjumma itu adalah hal yang paling wajar di dunia.

 

-____________-

 

Namja itu tak tenang dalam tidurnya. Kepalanya terus bergerak dengan keringat dingin membanjiri tubuh dan wajahnya. Matanya perlahan terbuka lebar, nafasnya berburu. “Bermimpi lagi Tuan Kim?” Lay bertanya santai.

Kai menggosok punggung tangan ke jidatnya. Ia duduk menetralkan nafas, ditatapnya jarum infus yang menancap di tangannya. Ia tertawa sebentar, “Apa perlu sampai seperti ini?” Tanyanya seraya mencabut benda itu. Lay hanya membiarkan, toh melarangpun tak ada gunanya.

“Kau pingsan di pinggir jalan, untung saja aku bisa melacak ponselmu. Kalau tidak appamu akan tahu kalau kau sakit” Lay menjelaskan. Kai menghembus kasar, terlalu lelah sampai tak berniat membahas tentang appanya itu. “Chanyeol mana?” Kai menatap sekitar, tidak biasanya Lay terpisah dari seorang Pak Chanyeol.

Lay mengangkat bahu lebih memilih melanjutkan aktivitasnya bersama laptop. “Entah. Dia mengatakan akan membeli makanan tadi.” Kai mengangguk mengerti. Ia mencari ponselnya yang ternyata berada di meja kecil di sampingnya.

“Yerin-ah aku ingin bertemu” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Kai kemudian menutup ponselnya. Jaket ia ambil dan memasangnya. Lay tak banyak bertanya, ia bersikap acuh pada kelakuan Kai. Sudah terlalu mainstream baginya.

“Lay-ah terima kasih sudah membawaku kesini” Lay mengangguk mendengar Kai yang setelahnya menghilang dari pandangannya. Sepeninggal Kai, Lay menutup laptopnya. Nafas kasar ia hembuskan.

“Apa yang harus kami lakukan pada anak itu?”

 

-____________-

 

Kayu berbentuk tabung menjadi tempat duduk Taeyeon saat ini. tak ada yang bisa dipandang dari rumah ini. hanya jejeran rumah sederhana yang saling berdempetan, gang- gang yang ada dimana- mana. Tak ada yang spesial.

Malam ini begitu sepi membuat Taeyeon merasa seperti ada sebagian dirinya pergi entah kenapa. Padahal ia tipe orang yang menyukai keadaan tenang. Maka dari itu setiap kali si berisik Sehun datang, ia tidak segan untuk memarahi sampai memukul namja itu. Oh Sehun, apa yang dilakukan namja itu sekarang?

Ponsel ia keluarkan dari saku celana jeans selututnya. Sejak tadi ia tak pernah mengaktifkan benda itu. Dan suara berisik mengisi telinga setelahnya. Seperti dugaan, nama Oh Sehun mengisi seluruh daftar message yang masuk. Beraharap- harap cemas Taeyeon mencari nama eomma di daftar itu, tapi sayang tak ada seorangpun selain Sehun. Ia menghembus kecewa. Nyonya Kim benar- benar tidak memperdulikannya.

Malas sebenarnya untuk membuka pesan segudang dari Sehun. Tapi untuk beberapa alasan yang yeoja itu belum ketahui jari lentiknya menekan satu- per satu pesan itu.

‘Changi-ya kau sudah sampai?’

‘Kau sudah makan?’

‘Kau sudah tidur?’

‘Tidurmu nyenyak?’

‘Changi-ya balas jeball?’

‘CHANGI-YA’

‘YA! KIM TAEYEON’

Bibir Taeyeon tertarik ke samping. Ia bisa membayangkan Sehun yang merengut saat itu. Namja itu tidak suka diabaikan, walaupun biasanya ia tak pernah bisa komplen pada Taeyeon. Terkadang Taeyeon berfikir darimana Sehun bisa menyukainya? Ia bukanlah gadis manis dan cantik, bahkan ia selalu marah kepada namja itu. Tapi mengapa Sehun menyukainya?

Pernah sekali gadis itu bertanya, tapi Sehun hanya menjawab bahwa ia tidak tahu. Namja itu mengatakan dengan mendengar nama Taeyeon saja hatinya sudah berdebar- debar. Saat itu Taeyeon menjitak Sehun yang menurutnya menjijikkan karena mengatakan itu. Tapi sekarang ia tersenyum mengingat moment itu. Diluar kesadarannya ada sesuatu. Seperti . . . .

“Taeyeon-ah wae?” Taeyeon tersentak kaget, appanya yang sudah duduk di sampingnya entah sejak kapan membuat dirinya menggerutu kesal.

‘Apa yang merasukiku? Bisa- bisanya aku memikirkan namja itu’ Ia menggeleng pelan. Appa yang memperhatikan pergerakan Taeyeon hanya terkekeh mengerti. Tapi ia tak mengungkitnya lagi. Pembicaraan mereka beralih pada masalah yang baru saja diperbuat putrinya.

“Shin songsaenim menelfon appa, katanya kau bertengkar di sekolah” Appa menatap Taeyeon yang hanya membalas datar. Gadis itu tahu ini akan terjadi, entah apa yang terjadi padanya setelah ini. apakah appanya akan marah atau tidak?

“Hmmm gadis itu menipuku, dan aku tidak menyukai itu” Jawab gadis itu jujur. Appanya mengangguk mengerti. Pandangan lelaki parubaya itu menatap langit, hembusan pelan keluar dari hidungnya.

“Kau seperti eommamu” Berasa disambar petir Taeyeon terkejut bukan main. Eomma? Dia tidak pernah ingin seperti eommanya. Tuan Kim beralih, ditatap putrinya penuh kasih. “Taeyeon-ah mungkin appa tidak berhak mengatakan ini setelah semua yang appa perbuat. Tapi appa ingin meminta satu darimu.”

Taeyeon menyimak dengan serius. Ia tak bisa mengabaikan appanya yang terlihat berkaca- kaca. Hatinya ikut terluka karena itu, apakah kesedihan yang menimpa appanya karena sikapnya? Entahlah ia terlalu takut kalau itu benar- benar terjadi.

“Syarat agar kau boleh tinggal disini bersama appa adalah dengan mengubahmu Taeyeon-ah. Appa tahu appa tidak punya hak setelah semua yang terjadi. Tapi jika kamu tidak ingin berubah karena eomma maupun appa. Maka berubahlah untuk dirimu sendiri”

Taeyeon tak bersuara. Setelah semua yang terjadi? Memang apa yang terjadi? Ia tak tahu apa- apa. Tapi moodnya untuk bertanya lenyap sudah karena mendengar kata ‘berubah’. Eomma dulu sering mengatakan hal yang sama padanya, tapi tidak pernah diindahkan oleh yeoja itu. Bukan karena tidak bisa, tapi dia tidak ingin.

Appa memegang kedua tangan Taeyeon lembut, gadis itu agak bingung sebenarnya. Eomma bersikap kasar padanya, tapi Appa malah sebaliknya. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga ada perceraian di antara orang tuanya? Apakah karena sikap yang berbeda itu?

“Cobalah untuk menjadi perempuan Taeyeon-ah” Sendainya yang mengucapkan padanya adalah orang lain, mungkin Taeyeon sudah menggali tanah untuk kuburan orang tersebut. Sayangnya ia tak bisa banyak berkutik, appanya terlalu lembut untuk menerima amarahnya. Namun disisi lain, ia tak bisa menuruti keinginan namja itu.

Taeyeon mengerutkan kening tanda berfikir, ide gila muncul di otak yang jarang digunakannya itu. “Appa sebenarnya aku tak bisa mengubah diriku. Tapi karena ini adalah permintaan appa, aku akan menurutinya . . . “ Wajah berseri timbul di muka Tuan Kim. Namun semuanya luntur pada kalimat tambahan dari Taeyeon. “Tapi appa harus menceritakan apa yang terjadi antara eomma dan appa”

Taeyeon menatap appanya yang berubah raut muka. Tak ada keramahan di wajah yang mulai mengeriput itu. Tangan kasar miliknya sudah lepas dari jemari Taeyeon. Rasa bersalah timbul sedikit di hatinya, apakah salah mengajukan pertanyaan seperti itu? Entahlah tapi jika berurusan dengan appanya hatinya melembut.

Appa menghirup udara rakus seakan di dalam tubuhnya perlu oksigen berlebih. Taeyeon menunggu dengan harap- harap cemas. “Sebenarnya . . .. “

 

-____________-

 

“Wae? Ada yang menggagumu?” Sepasang tangan melingkar di pinggang pria tanpa busana atas yang menutupi badannya. Matanya masih tertuju pada jendela besar dengan segelas bir di tangannya.

Yeoja yang hanya menggunakan selimut tebal sebagai penutup tubuh itu menunjukkan muka cemberutnya. “Kai-ya . .. . “

“Yerin-ah bisakah kau jangan menggangguku?” mulut yeoja itu terutup rapat. Dekapannya mengendor, Kai yang seperti ini membuat ia tak bisa leluasa melakukan apapun. Yah paling tidak kalau dia tidak ingin ‘dibuang’ setelah ini.

“Oke aku akan pergi sekarang. Tidak apa- apa jika kau sendiri disini?” Kai tak menjawab. Yerin hanya bisa mendengus kesal lalu mencari pakaiannya yang terletak merata- rata di lantai. Dipasangnya gaun pendek berwarna kuning di atas lutut tanpa lengan itu. Ia pergi tanpa pamit lagi pada anak remaja yang baru saja tidur dengannya.

Kai mendengus kasar, ia kemudian tertawa ringan. Menertawai dirinya sendiri, menertawai Kim Jongin yang semakin gila. Ia tak pernah bisa berdiri dengan tegak setelah bayangan masa lalu itu muncul lagi. Perasaan membuncah yang menyesakkan memenuhi dadanya.

Entah sejak kapan ia mulai melakukan ini. lari dari masalah dengan menggunakan perempuan sebagai pelampiasan. Terkadang rasa bersalah muncul juga dalam benaknya, tapi jika dalam situasi seperti tadi ia akan mulai kalap. Fikirannya seakan kosong dari fikiran positif.

Titt . . .

Matanya beralih pada ponsel yang sejak tadi bergetar itu. Kai menghembus kasar, disimpannya gelas yang baru saja kosong karenya. ‘Chanyeol’ nama yang terpampang disana. Tak terlalu penting bagi seorang Kai, tapi ia tetap menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

“ . . . . “

“Appa? Oke aku akan segera kesana” Kai menutupnya. Ia mencari pakaian yang terletak di bawah lantai. Ia melengkapi pakainannya lalu berlari kecil meninggalkan kamar hotel. Ia terlihat teruburu- buru.

Jika appa mencarinya pasti ada masalah penting yang harus ia bicarakan pada Kai. Dan namja itu tak pernah bisa membantah Tuan Kim setelah apa yang pria parubaya itu perbuat untuknya. Ialah orang yang membawa Kai keluar dari masa kelam hidupnya.

 

-____________-

 

Namja mungil itu menangis memeluk lututnya di dalam kamar kecil. Goresan- goresan di badannya tak terhitung lagi. Ia terlalu lelah dengan hidupnya. Setiap hari hanya ada sakit, sakit dan sakit.

Pintu terbuka membuat ia menyembunyikan mukanya di kedua lengan yang ia lipat. Tangisan kecil terdengar dari mulutnya, namun sedikit tertahan oleh rasa takut. Seseorang menghampirinya, namun kali ini ia di sentuh dengan lembut.

“Hai kau Hyun Woo?” Namja kecil itu mengangkat kepalanya. Seorang ahjumma berwajah ramah menyapanya. Takut- takut Hyun Woo mengangguk pelan. Ahjumma itu tersenyum kepadanya. Anak itu merasakan ketenangan. Paling tidak ia diperlakukan sebagai manusia kali ini.

Hyun Woo dibantu untuk bangkit dari duduknya. “Ahhh” ia sedikit mengerang tak kala merasakan betis dan bagian belakangnya terasa akan jatuh. Perih.

Ahjumma itu memperhatikan luka- lula yang di derita oleh anak tak berdosa itu. Raut sedih terlihat di wajahnya. “Apa yang terjadi Hyun Woo-ah? Apakah ada yang memukulmu?” Tanyanya berlutut di depan anak itu. Hyun Woo merasakan bibirnya kelu, ia tak tahu harus menjawab apa.

“Dia anak yang aktif Nyonya Kim, biasa anak- anak sering berkelahi dengan temannya” Ahjumma penjaga panti menyahut. Entah kapan wanita itu berdiri di balik pintu. Secara spontan Hyun Woo mundur ketakutan. Membuat raut ahjumma penjaga itu seolah ingin menelan namja kecil itu bulat- bulat.

Nyonya Kim memperhatikan Hyun Woo lekat- lekat. Diraihnya badan mungilnya dan segera mendekapnya pelan. Tubuh Hyun Woo terangkat, ia dibawa keluar oleh ahjumma itu.

Di sofa sudah duduk dua orang namja yang nampak asing di mata Hyun Woo. Satunya terlihat ramah dan satunya lagi sangat serius memperhatikan Hyun Woo. “Kenapa tubuhnya penuh luka?” Tanya namja dengan raut serius itu.

“Dia berkelahi tuan” Jawab ahjumma tadi dengan jawaban yang sama.

Nyonya Kim mendudukkan Hyun Woo di samping namja yang bertanya. Ia memengusap punggung namja kecil itu. “Hai siapa namamu?” Tanyanya melembut.

Namja kecil itu menunduk takut, sampai Nyonya Kim mengusap menenangkannya. “Hyun Woo” Jawabnya lirih.

Tubuh kecil Hyun Woo terangkat oleh tangan kekar namja itu. “Saya Tuan Kim yang sekarang kau bisa panggil appa dan itu Nyonya Kim sekarang dia eommamu. Dan ingat satu hal, mulai hari ini namamu Jongin. Kim Jongin”

 

-____________-

 

Taeyeon menatap dirinya dengan malas di kaca. Bayangan dirinya membuat mulutnya terbuka lebar. Setelah apa yang terjadi semalam ia memutuskan untuk mengikuti perkataan appa. Tapi ia tak tahu kalau penampilan barunya akan semengejutkan ini.

Rambut yang diurai lurus, tidak lupa ikatan kecil yang appa tambahkan di ubun- ubunnya. Bahkan ia sudah tidak bisa menemukan celana trainingnya karena appa mengambil itu. Ia dipaksa memakai pakaian yang wajar tanpa melipat kedua lengan bajunya. Semuanya tertata rapi.

“Apakah harus seperti ini appa?” Tanya Taeyeon tak percaya.

Berbeda dengan Taeyeon appanya malah terlihat sangat puas akan hasil ciptaanya. Putrinya terlihat sangat cantik dan manis jika seperti ini. “Wah kau sangat cantik sekarang. Jadi apa yang salah?”

Tak ada pilihan lain selain menerima segala yang telah terjadi. Taeyeon dengan muka lusuh mengambil tasnya. “Baiklah. Aku berangkat”

“Eh tunggu dulu. Kau hari ini tidak naik sepeda. Appa akan mengantarmu dengan motor arra?” Taeyeon beberapa kali menggerutu pada dirinya sendiri. Mengapa ia bisa mengikuti apapun yang dikatakan pria parubaya itu? Ia tak pernah seperti ini sebelumnya.

Tapi bagaimanapun juga ia sudah berjanji. Dan apa yang appanya ceritakan tadi malam memang sesuatu yang sangat penting baginya. Jadi tak masalah jika ia harus menderita sekarang ini demi membayar kebenaran itu.

Appa mengantar Taeyeon dengan motor yang suaranya benar- benar merusak gendang telinga. Taeyeon sampai harus menyumbat telinganya dengan headseat karena itu. Sesampai disekolah appa tidak lupa berpesan agar Taeyeon melempar senyum kepada teman- temannya. Dan dia tidak boleh membuat masalah lagi di sekolah.

Apa lagi yang bisa dilakukan anak itu selain mengangguk patuh saat ini. perkataan appannya ia ulang baik- baik di dalam fikirannya. Hari pertama mungkin agak sulit, tapi beberapa hari kedepan ia berharap tak akan sesulit ini. tak lupa ia berdo’a agar tak ada yang mencari masalah padanya. Kalau tidak semua perjuangannya bisa gagal total.

Taeyeon menaiki tangga tanpa memperdulikan tatapan terkejut yang di berikan kepadanya. Tak ada yang mengherankan memang, karena pada kenyataanya Taeyeon saja kaget melihat dirinya yang sekarang apalagi orang lain.

Mengingat pesan appa ia melempar senyum kepada orang- orang yang ditemuinya. Yah walaupun sangat nyata terlihat bahwa itu adalah senyum paksaan.

“Kau Kim Taeyeon?” Irene membulatkan matanya. Ia menatap Taeyeon dari atas dengan pandangan tak percaya. Reaksi serupapun ditunjukkan oleh temannya. Seulgi.

Sebelum menjawab Taeyeon tak lupa menarik bibirnya ke samping. Ingat sekedar tarikan bukan senyuman. “Ne” Jawabnya selembut yang ia bisa. Yah setidaknya ia berusaha keras menuruti janjinya pada appa. Walaupun pada kenyataannya ia ingin muntah karena itu.

“Kau bukan Kim Taeyeon” Gumam Seulgi. Taeyeon hanya bisa menghembus kesal. Berperilaku seperti kemarin salah dimata teman- temannya. Dan sekarang setelah ia memutuskan berubah walaupun dengan sangat terpaksa, mereka juga berekspresi seperti ini.

Selama pelajaran ia berusaha tak meletakkan kepalanya di atas meja, tak mengangkat sebelah kaki ke atas kursi dan sekuat tenaga fokus dalam belajar. Peningkatan pesat dari seorang Kim Taeyeon.

Setidaknya ini yang bisa ia lakukan untuk membalas segala kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Perkataan appanya telah banyak merubah cara berfikirnya. Mengubah apa yang selama ini ia simpulkan tentang eomma.

 

-____________-

 

“Wah daebak sampai kapan aku akan melakukan ini?” Taeyeon menggerutu dengan tumpukan buku di tangannya. Baru saja ia berusaha berbuat baik, songsaenim itu sudah memanfaatkan kesempatan. Dengan santai ia menyuruh Taeyeon membawa buku- buku hasil latihan teman sekelasnya itu ke lantai satu.

Ini semua karena Seulgi yang mengusulkan. Sepertinya yeoja itu masih tidak mempercayai perubahan Taeyeon yang terjadi dalam waktu singkat. Bahkan ia sempat bertanya apakah Taeyeon berkepribadian ganda. Heol menyebalkan.

Bayangan tentang orang baik pudar seketika dalam fikirannya. Tentang disukai banyak orang dan mendapat kepuasaan setelah berbuat baik ternyata salah besar. Karena yang tejadi padanya sekarang adalah hanya dimanfaatkan. Seperti drama korea dimana pemeran protagonis hanya bisa dibodohi dan ditipu. Lemah.

Kepala yeoja itu menengok ke samping kiri memperhatikan setiap tulisan di atas kayu berbentuk segiempat. Andai saja ia tahu dimana ruang guru pasti tugas ini akan lebih ringan. Dan hal yang membuatnya semakin sulit karena Taeyeon sudah terlalu trauma untuk bertanya pada orang- orang.

Walaupun kelakuannya kasar yang sangat jauh dari sifat seorang perempuan, Tapi Taeyeon paling anti dengan benda berbentuk tabung panjang dan kecil. Rokok. Jangankan bendanya, aroma asapnya pun dia tidak suka.

Dan sekarang ia harus dipaksa menutup hidung karena asap yang dia yakin berasal dari benda itu memaksa memasuki indera penciumannya. Lorong kecil di sudut kelas, ‘Wah apakah ada yang merokok di sekolah?’ fikir Taeyeon. Ia berjalan ke dalam lorong itu. Awalnya Taeyeon mengira itu adalah gudang, tapi ternyata ruangan bekas Toilet lama.

Wah Taeyeon dibuat tertegun karena sekolah itu. Setelah ruangan dilantai 3 yang disulap seperti kamar seseorang yang berantakan, sekarang lorong dengan ruang tak terurus? Hmmm, tapi Taeyeon terlalu malas untuk memikirkannya. Yang ia tahu sekarang ia mencari asal sesuatu yang mengganggunya itu.

“Hei apa yang kau lakukan?” Langkah kakinya berhenti. Gadis itu menengok, dua lelaki yang sama. Lelaki yang hari itu juga tiba- tiba datang menghentikannya di ruangan itu. Dan sekarang mereka lagi dan lagi membuat langkah Taeyeon tak bisa ia lanjutkan. Sepertinya mereka spesialis ruang aneh di sekolah ini.

Apapun itu Taeyeon tak ingin berurusan dengan mereka, tapi mengingat misi perubahan yang tengah ia tegakkan membuat senyuman terukir di wajahnya. Ralat, hanya sekedar tarikan bibir. Kedua namja itu saling pandang.

“Kau gadis hari itu kan? Wah kau berbeda sekali hari ini” Muka cengengesan namja jangkung itu membuat Taeyeon ilfeel, ingin rasanya ia membuat senyum itu hilang selamanya dari wajah itu. Andai bisa.

Lay menyiku lengan Chanyeol setelah mengucapkan itu. Namja itu terlihat lebih tenang menghadapi Taeyeon yang tampak jelas dari raut wajahnya merasa tidak nyaman. “Mianhae. Tapi khusus di lantai tiga ruang pojok, dan toilet yang sudah tidak terpakai ini kau tidak boleh memasukinya” dengan tenang Lay menjelaskan, dan dengan tenang juga Taeyeon meninggalkan namja yang hanya bisa membulat tersebut.

“Wah penampilannya berubah, dia sangat cute Lay-ya” Chanyeol dengan girang memandangi kepergian Taeyeon.

“Yup dia berubah. Tapi sifatnya masih sama saat pertama kali kita bertemu dengannya”

“Paling tidak dia tersenyum”

“Kau sebut itu senyuman Yeollie?”

Chanyeol hanya bisa menggerutu kesal, Lay memang selalu bisa membalikkan perkataannya. Mereka berdua berjalan memasuki ruangan di ujung lorong itu. Di pojok sana seorang namja sedang duduk meringkuk. Disana- sini terlihat batang rokok yang sudah hampir habis dilahap api. Seseorang sudah menghisapnya.

“Kai-ya kau merokok lagi? Kau tidak menyayangi tubuhmu hah? Kai-ya sadarlah.” Chanyeol bersaha menyadarkan sahabatnya itu. Ia pelan menyentuh lengan Kai walau dihempaskan dalam sekejap.

Lay melempar nafas kasar, “YA! Kau fikir kami bisa terus berada di sampingmu? Kai-ya kau tidak bisa terus- terusan seperti ini. sampai kapan kau akan terus merusak tubuhmu?”

Pelan Kai beranjak, air bening memenuhi wajah dan tubuhnya. Rambutnya acak dengan pakaian yang tidak rapih. “Lebih baik kalian menjauh dariku. Aku tidak akan bisa normal Lay-ah. Kau tahu kenapa? Karena aku memang terlahir sebagai pencundang. Dan tidak ada yang bisa merubah itu”

“Kenapa tidak bisa? Kau bisa Kim Jongin. KAU BISA”

“Chanyeol-ah. Aku bilang tidak bisa”

“Kau bisa Kai-ya”

Kai terdiam. Ia tak tahu harus menjelaskan apa lagi kepada kedua sepupunya itu. Ia hanya bisa menunduk dengan desahan pelan. “Aku tidak bisa. Jika aku tidak seperti ini aku mungkin akan gila. Tidak aku pasti akan gila. Kuharap kalian mengerti”

Apalagi yang bisa dikatakan Chanyeol dan Lay setelahnya. Mereka hanya bisa menatap putus asa. Karena bagaimanapun juga itu semua adalah cara dari seorang Kai untuk menghindari bayang- bayang masa lalunya yang kelam. Chanyeol dan Lay tak pernah merasakan kesusahan sedikitpun dalam hidup mereka. Itu membuat mereka tak bisa mengatakan sesuatu yang lebih karena tak mengerti akan apa yang dirasakan sahabatnya itu.

“Sudahlah, jangan membahas ini lagi. Aku harus segera membersihkan diriku dan kembali ke kelas” suara namja itu sudah serak. Mungkin karena terlalu banyak merokok.

Lay menahan lengan Kai, “Kau harus ke kantor sekarang. Shin songsaenim memanggilmu”

 

-____________-

 

Taeyeon memasuki sebuah ruangan yang agak asing. Tapi ia cukup yakin bahwa ia tak membuat kesalahan kali ini. terbukti banyak songsaenim yang berada dalam ruangan itu.

“Annyeong, kau anak baru?” songsaenim berbadan bulat dengan tinggi badan hampir setara menyapa Taeyeon. Gadis itu mengangguk pelan. “Kau sedang mencari apa?”

“Meja Cha songsaenim?” Dengan ramah namja yang kemungkinan berumur hampir setengah abad itu menunjukkan. Taeyeon mengucapkan terima kasih kurang ikhlasnya lalu segera meletakkan buku- buku itu. Sedikit tangannya direnggangkan.

Kaki mungilnya terangkat meninggalkan tempat itu. Ia mulai berfikir, kehidupan di Busan benar- benar membosankan. Semenjak sampai di kota ini, ia jarang sekali berbicara terutama di sekolah. Jika di Seoul ada Boa songsaenim dan Sehun yang selalu menjadi sasaran amarahnya. Tapi disini terasa hambar, ia seperti kehilangan dirinya sendiri. Apalagi dengan perubahan yang sekarang ia lakukan.

Taeyeon melirik ke samping. Seseorang yang baru saja berpapasan dengannya nampak tak asing. Ia segera berbalik. Merasakan hal yang sama namja itu juga berhenti.

Mata mereka saling bertemu, raut shock terlihat jelas di wajah keduanya. “Ya! Kau?” Taeyeon mengangkat jari telunjuknya. Ia berjalan mendekati Kai.

Namja itu dibuat bengong. Ia ingat betul siapa yeoja di hadapannya. Tapi menampilannya agak . . . .

Melihat Kai yang menatapnya dari atas sampai bawah membuat gadis itu hanya bisa mengerucut kesal. Yup ia sadar betul apa yang difikirkan namja itu. Seragam rapih, rambut lurus yang tersisir dan pita pink menjengkelkan yang menempel di kepalanya.

Taeyeon menurunkan tangannya. ‘aku seoran yeoja. Aku seorang yeoja. Aku seorang yeoja’

“Ya! Apa yang terjadi padamu? Setan apa yang telah merasuki yeoja gila sepertimu?” Kai dengan senyuman mengejek melontarkan kalimat itu. Apa yang bisa dilakukan Taeyeon selain mengontrol emosinya. “Tapi kau terlihat lebih baik seperti ini. paling tidak kau sudah mendekati tipeku”

Colekan pelan dirasakan Taeyeon di dagunya membuat yaoja itu hampir mendaratkan kepalan tangannya di wajah orang itu. Kejadian waktu itu sepertinya tak memberi rasa trauma pada namja itu.

“Kuperingatkan jangan pernah mendekatiku apalagi menyentuhku setelah ini. kau tidak ingin kubuat seperti semut kecil yang tak berdaya kan? Jadi menjauhlah”

Taeyeon meninggalkan namja yang terlihat mengerang marah. Harga dirinya seperti diinjak- injak oleh seorang yeoja kecil yang dari luar terlihat tak berdaya. Tapi Kai tahu itu bukan ancaman, bagaimanapun ia sudah dua kali merasakan kekuatan gadis itu.

“Dunia memang sempit, kurasa aku bisa memulai semuanya sekarang. Kesombonganmu itu sungguh menjengkelkan. Tunggu saja Mrs. Arogant”

 

*To Be Continued . . .

Advertisements

48 comments on “Not Destined (Chapter 4 )

  1. keren udah 3 kali loh kaiyeon ktemu dgn tdak sengaja jodoh ecie … ga sbr next chap … sneng jg taeng brubah biar pda sdar kalo kmu cute keke smangat next chap

  2. Hhiiii,akhirnya taeyeon berubah juga yaa wlaupun belum sepenuhnya sih. Awas ntr sama2 suka lo taeyeon kai. ,hhehe. Next chap pliiss yg pjg chingu^^

  3. wahh thor updatenya cepet banget wkwk semoga seterusnya begini yaa jangam setengah” 😀
    kai alsama taeyeon belum ada perkembangan nih si taeyeon masih jutek wkwkw
    btw si sehun apa kabar?
    next thorr

  4. update ff nya cepet ya mian baru komen di chapt ini,. awalnya kurang srek sih soalnya couolenya kai taeyeon tapi pas di baca ternyata ff nya seru juga athor,. next chapt ditunggu updatenya ya

  5. Wahhh aku suka ceritanya benar” suka sebenarnya aku blm baca smuany baru ep ini tp aku kasih coment dulu aja yah
    Di lanjut yah trs cepet d lanjutnya yah hahaha 😀 banyak minta ny lah

  6. pnampilan tae udah rubah skarang tinggal sifatnya aja d lembutin dikit biar kai jatuh cinta sma dia
    next chap ditunggu thor

  7. Daebakkkkkk….
    qerennnnnn bangetttt…..
    tapi kurang panjanggg….
    jadi kurang puas bacanya…
    next chap. berharap lebih panjang dan lebih qerenn….
    Fighting

  8. gk nyangka cepet bgd updatenya unni…
    kereeennnnnn…
    tp kasian nasib sehun dtgl taeyeon…
    masa lalu kai sedih bgd…
    dttgu chap brktnya..
    fightaeng!!!

  9. wah daebak
    ceritanya mkn seru aja
    aigoo… kai sm taeng bener2 😉 jeongmal kyeopta
    ff nya bner2 cepet update nya mungkin efek libur sekolah kekeke~~
    oke next chap ditunggu thornim
    hwaiting 😉

  10. Ayah sama anak beda banget, yang anak urakannya nujubile :v, ayahnya lemah lembut :v kalo gini bakal seru, bad girl-playboy. ditunggu kelanjutannya thor ^^

  11. Kkya~~ cepet updatenya~~
    Kurang panjang nih tapi thor
    Next chap harap cepat + harap dipanjangkan
    Ceritanya udah mulai ngedong.. bagus bangett
    Moment KaiYeonnya diperbanyak dong thor.. dikit amat
    Update soon thor
    Hwaitaeng!!

  12. aku baca empat chapter dalam satu waktu jadi langsung komen disini aja ya? hehe
    aku suka karakter tae disini, cewe macho 💪 dan kaiyeon itu salah satu crackship fav ku jadi makin dapet feelnya pas baca 😀
    ditunggu next chapternya yaaaaa

  13. Wkwkwk thor aku comment sekalian aja disini ya dari 1-4
    Daebaaaaak!!! Ceritanya lucuuu taeng sama kai nya lucu
    Ditunggu aja deh next chap 😉

  14. Wahh seneng bgt liat Taeyeon berubah jdi feminim , klo aja Sehun liat pasti dia gk nyangka bgt.Huaa aku kok jdi pengen nih cerita main castny SeYeon *udahabailkan
    Next chap ditunggu keep writing and Fighting!!!

  15. Pingback: Not Destined (Chapter 5 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. bingung mau koment apa hehe
    keasikan baca hehe seru banget ceritanya soalnya karakter taengnya berbeda dari mukanya haha XD
    chap 5 cpet bnget diupdate jadi longkap baca chap 5 baru ke chap 4 hehe

  17. ceritanya makin seru aja nih eonnie…
    jadi makin gak sabar untuk menunggu kelanjutannya. dan cerita ini juga susah banget ditebak, selalu bisa membuat cerita yang kalau kata boboiboy *Terbaik
    fighting eonnie………..

  18. mrs arogant
    kai kai , taeyeon cantik tauk.. liat aja sampai kamu naksir taeyeon bayr ke aku hahahaha(maaf thor jadi cerita sendiri hihi)
    semangat deh ngetiknya
    ditunggu kelanjutannya yaaaa

  19. yeayy berkat appa nya taeyeon mulai berubahh.. hhehe
    Seruu seruu..
    Kai ada apa denganmuu. .
    Kasian sampe frustasi gtu. . Hhuhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s