Skateboy [ Chapter 7 ]

skateboy

SKATEBOY [ Chapter 7 ]

Author :

Kimiceu

Genre :

Romance, schoolife

Rating :

M

Cast :

Kim Taeyeon

Xi Luhan

Other Cast :

Find

Credit Poster :

Thanks a lot to Haruru89 unnie^^

Disclaimer :

FF asli dari pemikiran iceubaby sayang :p kalau ada typo diberbagai tempat tolong maklumi ya 😦 ide itu gabisa dihentikan jadi kalo dah ngetik gabisa berhenti. Dikira-kira aja ya typonya itu kalo kalimat benernya gimana :p 

Teaser | Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 | Chap 5 | Chap 6

 1986, New York City

“aaggrhh sial bagaimana hidupku bisa sekacau ini.” Rutuk Jang Miyeon yang setengah sadar akibat pengaruh alkohol yang ia minum. Ia terus menuangkan gelas slokinya dengan minuman kesukaannya, vodka.Dia tidak sadar sementara dia minum, seseorang tengah menatapnya intens sedarari tadi seperti tertarik terhdapnya. Entah apa yang dipikirkannya, yang jelas ia sedang mendekat kearah Miyeon sekarang. “hey nona manis.” Miyeon yang masih sadar sedang digoda menoleh kearah suara pria yang memanggilnya dengan ‘nona manis’. Sungguh kurang ajar pria itu memanggilnya dengan sebutan menjijijkan seperti itu, dia sedikit menggeram untuk memberi sinyal kepada pria itu bahwa ia tidak menyukainya.

 

“Hey bodoh, kau tidak tau saja aku sudah menikah dan melahirkan seorang anak perempuan.” Pria itu tampak tertarik dengan ucapan Miyeon. “Kalau begitu, kau punya anak yang cantik juga sepertimu?” Miyeon tersenyum sinis “anakku cacat!” Miyeon sedikit berbsik dan terlihat murung setelah mengucapkannya, namun pria itu tidak peduli bahkan ia hanya ingin berbasa-basi. “lebih baik kau minum ini saja dulu.” Pria itu menyerahkan segelas minuman. Tanpa berpikir panjang Miyeon menenggak minuman tersebut sampai habis. ‘sial ini absint’ dalam hitungan menit pun Miyeon sudah tak sadarkan diri ditempatnya akibat terlalu mabuk. Pria sedari tadi tersenyum senang melihat tubuh perempuan yang sudah terkapar lemah didepannya langsung membawa Miyeon ke sebuah ruangan seperti kamar milik pup tersebut. Tapi memang itu sebuah kamar, lebih tepatnya kamar ‘inap’

 

***

 

Julian berlari kencang dilorong rumah sakit. Setelah mendarat dengan selamat di bandara internasional John F.Kennedy, Julian mendapat panggilan dari NYU Medical Centre bahwa sang istri berada diruang icu dan berada dalam masa kritis. Ini adalah kepulangan terburuknya setelah setahun lamanya ia tidak pulang menemui anak dan istrinya. Ia sebenarnya tidak pernah memutus komunikasi terhadap istrinya tersebut, namun akhir-akhir ini memang hubungan Julian dan istrinya memang sedang tidak baik dengan alasan anak pertama mereka. Julian paham bahwa istrinya sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada putri sulung mereka yang berbeda dari anak lain, dan ia sangat mengerti bahwa istrinya sangat mencintai putr mereka. Namun ia bingung dengan nasib anaknya nanti dimasa depan. Ia takut jika anaknya nanti akan diolok-olok oleh teman dsekolahnya dan membuat putri mereka tak nyaman. Istri Julian menyalahkan dirinya sendiri akibat kebiasaan mabuknya diwaktu hamil setahun lalu. Seharusnya dia bisa menahan hasrat meminum minuman bejat tersebut, namun tidak bisa karena pada dasarnya ia adalah pecandu alkohol. Julian pun sudah sangat melarang istrinya untuk minum, tapi wanita itu sangat cerdik. Julian yang memang bekerja tidak 100% dirumah dan hampir setiap tahun keluar negri itu menarik istrinya untuk diam-diam meminum benda itu, sampai akhirnya ia harus melahirkan prematur dan dinyatakan anaknya mengalami cacat pada kaki.

 

“Dok!” teriak Julian sekitar 50 meter dari ruang icu setelah meihat seorang dokter berjalan keluar dari ruangan itu. “Mr.Kim? Mrs.Jang Miyeon husband?” tanya dokter itu. “I’m Julian Kim, her husband.” Jawab Julian sambil terengah-engah. “Slow down Mr.Kim, istri anda baik-baik saja sekarang. Karena berkat Tuhan ia sudah melewati masa kritisnya dan akan dipindahkan ke ruang rawat vvip.” Ujar dokter tersebut membuat Julian bernafas lega. “Oh, saya lupa memberitahukan anda. Putri anda juga baik-baik saja dan sedang dimandikan diruang bayi, apakah anda ingin melihatnya?”

 

“Bayi?” ulang Julian mengulang.”yes your second daughter. Yang ini sempurna dan tanpa cacat. Aku rasa kau menjaga dengan baik istrimu.” Dokter tersebut langsung melenggang pergi kehadapan Julian dengan meninggalkan seribu pertanyaan bagi pria tersebut. Ia tidak mengetahui sama sekali bahwa istrinya sedang mengandung selama ini dan melahirkan seorang anak sekarang. Julian semakin tidak mengerti ketika mengingat kenyataan bahwa dirinya dan Miyeon sudah tidak pernah berhubungan layaknya suami istri selama satu tahun ini. ‘Apakah dia melakuannya?’

 

 

Setelah 2 minggu dirawat intensif dirumah sakit, Miyeon pulang kerumah beserta Julian yang menggendong anak ‘istrinya’ itu. Selama dirumah, Miyeon sama sekali tidak mau menyusui bahkan menggendong anak hasil dari rahimnya itu. “Apa-apaan kau! Ini anakmu dan kau tidak mau merawatnya?” tanya Julian geram. “Dia bukan anakku, buang saja dia!” ujar Miyeon dingin yang masih terduduk dikursi roda. Julian mendengus sambil menatap istrinya itu sinis. “Bahkan ini hasil hubungan gelapmu dibelakangku dan kau masih tak mau mengakuinya juga?” sarat akan sindiran yang ditujukkan kepada Miyeon, akhrnya wanita itu menoleh dan balas menatap Julian. “Tolong percaya padaku, aku tidak pernah sekalipun menghianatimu Julian, itu hanya kec….”

 

“Kau mau bilang kecelakaan lagi? Aku tanya siapa yang menghamilimu?” tanya Julian tegas dengan raut muka yang sudah memerah menahan marah. “A..aku tidak tau.” Jawab Miyeon sambil menunduk. Dengan cepat julian berjalan kearah istrinya dan mencengkram kedua pundak istrinya itu dengan keras. “Kau masih ingin melindungi bajingan itu dariku, bagaimana aku bisa percaya padamu lagi!” teriak Julian keras didepan wajah Miyeon. Miyeon meneteskan air matanya. Baru kali ini Julian suaminya memarahinya seperti ini. Selama 3 tahun menikah belum pernah suaminya itu seperti ini dan ini adalah pertama kalinya. Julian melepaskan cengkramannya dari pundak Miyeon. Ia menghela napas lelah menghadapi semua masalah ini yang tak kunjung jelas arahnya. “Aku menghargaimu telah melahirkan anak ini, dan aku mencintai bayi ini walaupun dia bukanlah anakku.” Miyeon terkejut dengan ucapan suaminya. Ia menatap penuh harap suaminya itu agar bisa memaafkannya. “Tapi aku tidak yakin masih mencintaimu dengan apa yang telah kau lakukan padaku.” Hati Miyeon tersa tertohok mendengar perkataan suaminya tersebut. Air matanya menetes kembali dengan perasaan hancur. Rumah tangga yang selama ini ia jalani kan berkahir kandas ditengah jalan akibat sikap bodohnya. Ia tak bisa membayangkan dirinya akan menjadi janda scepat ini.

 

“Aku tak akan menceraikanmu mengingat Taeyeon dan Hana masih membutuhkanmu.” Miyeon menunjukkan wajah bingungnya. “Aku memberi nama anak itu Taeyeon..Kim Taeyeon. Dia anakku dan Jang Hana adalah anakmu.” Ini bukanlah sebuah rumah tangga yang utuh bila ada sebuah pembatas bagi dua orang yang menyatu. Kehidupan rumah tangga yang Miyeon inginkan bukanlah yang seperti ini. “Ini tidak adil bagi Hana! Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada Hana!” tolak miyeon.

 

“Kau saja bisa melakukan ini kepada Taeyeon.” Julian membalas dengan dingin. Miyeon diam, ia tidak bisa membalas perkataan suaminya yang kenyataannya memang benar. Tapi ia tidak mau seperti ini juga. Miyeon sangat mencintai Julian dan dia tdak ingin kehilangan Julian, bahkan perhatian Julian dengan cara seperti ini. “Aku hanya memintamu menganggap seperti itu. Kasih sayangku kepada mereka tak akan aku bedakan.” Ucap Julian sebelum berbalik dan menuju ke kamar Taeyeon. Namun langkahnya terhenti dan sedikit menoleh kebelakang menatap Miyeon, istrinya. “Begitu juga dengan kau. Jangan bedakan mereka.” Ucap Julian lagi sebelum tubuhnya menghilang dbalik pintu kamar baru milik Taeyeon. Miyeon menghela napas sambil menatap taman belakang rumah mereka yang luas. Tangannya yang berada diatas kursi roda terkepal kuat. Sorot matanya seperti ingin membunuh seseorang yang ditatapnya saat ini. Sedikit air mata keluar dari pelupuk matanya. ‘Tidak akan pernah untuk anak pembawa sial itu.’

 

****

 

“sssh..Taeyeon!” panggil Hana dengan sedikit mengguncangkan tubuh adiknya yang terbaring dikasur. “hnngg.” Erang Taeyeon yang masih saja enggan untuk membuka matanya atau sekedar menjawab panggilan kakaknya dengan sebuah kalimat. Hana mendengus melihat reaksi adiknya yang tak sesuai harapan. Dengan segera ia naik ke kasur kingsize berwarna peach Taeyeon dan langsung berbaring disebelah adiknya. Tak lupa ia memeluk adiknya yang sedang nyaman tertidur pulas. Tepat pukul 12 siang adalah waktu tidur Taeyeon dan Hana yang diperintahkan oleh Ayah mereka, Julian sebagai aturan.  Namun Hana yang memang memiliki sifat lebih hyperaktif dan manja daripada Taeyeon tidak bisa menaati aturan yang dibuat ayahnya begitu saja. Seringkali dirinya mengganggu Taeyeon yang sedang tertidur dengan cara mengagetkannya dengan balon, atau menarik Taeyeon hingga jatuh ke lantai. Brutal memang, tapi itu bentuk rasa sayang Hana untuk Taeyeon.

 

“Taeyeon, ayo main!” bisik Hana tepat ditelinga Taeyeon tapi tak digubris oleh sang adik. Bukan Hana bila ia langsung menyerah begitu saja. Dengan cepat ia duduk diatas perut adiknya dan mengarahkan tangannya ke dahi Taeyeon. Satu… dua… tiga.. ‘ctakkk’ “Aww eonni!” rengek Taeyeon sambil mengelus dahinya yang disentil oleh Hana. Hana tertawa terbahak-bahak sampai menangis. Taeyeon duduk di atas kasurnya menatap Hana kesal. Kakaknya ini titpikal perempuan yang hyperactive sepertinya. Kenyataan kakinya yang memang cacat sebelah tidak merubah sikapnya itu yang selalu ingin bergerak kesana kemari kalau bisa sampai orang lain merasa terganggu dan jengkel terhadapnya. Tapi Taeyeon tidak pernah benar-benar kesal atau marah kepada Hana. Taeyeon tak tahu juga kenapa, yang pasti ia sangat menyayangi Hana begitu pula sebaliknya. Sebagai adik yang lebih beruntung, Taeyeon ingin menjaga kakaknya yang memiliki sebuah kekurangan. Ia tidak mau kakaknya dihina oleh anak lain diluar. Ia ingin Hana merasakan hidup normal dan bahagia seperti dirinya.

 

“Taeyeon.” Ucap Hana yang memperhatikan kediaman Taeyeon. Hana tampak berpikir sejenak dan melebarkan matanya seperti mendapat sebuah ilham dari Tuhan. “Bagaimana kalau kita main diluar?” tawar Hana. Taeyeon cemberut dan menatap kesal kakak perempuannya “eonni, eomma kan sudah bilang eonni tidak boleh main diluar. Nanti Taeyeon dimarhin eomma.” Ucap Taeyeon.”Jangan pikirkan itu, kau tidak ingin eonnimu bahagia eoh?” tanya hana dengan raut muka dibuat sesedih mungkin. Taeyeon terkejut melihat perubahan muka Hana dan menjadi tidak enak hati. Tentu saja Taeyeon ingin membuat Hana bahagia, tapi apakah harus dengan cara ini?

 

“Taeyeon, ayo!” tanpa pikir panjang Hana menarik Taeyeon keluar dengan sebelumnya ia duduk dikursi rodanya dan Taeyeon mendorongnya. Sebenarnya Taeyeon masih ragu dan agak takut bila ibunya nanti pulang. Tapi semoga saja ibunya pulang malam hari ini. “Taeyeon lemah sekali kau mendorong mobilku ini!” Taeyeon terkejut dan memandang Hana sejenak. Tanpa aba-aba Taeyeon mendorong kursi roda Hana dengan cepat sampai keliling komplek rumah mereka Baverly hills. “Wooaaa Taeyeon kau hebatt! Ayo lagii!” Hana berteriak kesenangan. Angin yang mengibrkan rambutnya seolah-olah membuat mereka berdua seperti terbang diangkasa. Entahlah, saat ini mereka hanya merasakan kebahagiaan sebagai saudara perempuan yang akrab. Tapi semua itu tak berlangsung lama. Jang miyeon pulang lebih cepat dari biasanya. Ia memakirkan mobilnya didepan rumah sejenak karena melihat sesuatu yang familiar didepan matanya. Setelah sadar dengan apa yang dia lihat, dengan tergesa Miyeon membuka pintu mobilnya kasar dan langsung berjalan kearah seorang gadis yang ingin mencelakai anaknya.

 

“TAEYEON!” seketika kegiatan mereka berdua terhenti setelah mendengar teriakan keras. Taeyeon tidak menoleh. Dia sangat tahu suara siapa itu dan ia sangat ketakutan. ‘Appa’ batinnya merengek dalam hati. Miyeon langsung melepaskan paksa tangan Taeyeon dari gagang kursi roda Hana dengan sekali hentakan keras membuat tubuh mungil Taeyeon terhempas kebawah. Miyeon sama sekali tak peduli dengan dengan Taeyeon yang jatuh dihadapannya, baginya dia hanyalah pengganggu dalam hidup keluarganya. “Kau berniat membunuh anakku hah?!!??” teriak Miyeon. Taeyeon hanya bisa terus menunduk tidak tahu apa yang harus diperbuat. Hana yang sedari tadi menyaksikan adegan miris didepannya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan kesalahan Taeyeon melainkan kesalahannya karena ia sendiri yang memaksa Taeyeon. Ibunya terlalu berlebihan. “Eomma sudahlah, jangan bentak Taeyeon. Aku yang menginginkan ini sendiri dan Taeyeon…”

 

“Berhenti membela pembawa sial ini Hana!” potong Miyeon. Hana terkejut dengan apa yang ibunya katakan. Menurutnya kesalahan Taeyeon ini tidak seberapa, tapi mengapa ibunya bisa semarah ini dengan Taeyeon? “Kau gadis kecil tak tahu malu, jangan pernah berani-berani kau bermain dengan anakku, mengerti! Dan jangan berani berani melapr pada Appamu.” ujar miyeon sambil menjambak rambut Taeyeon. Hana memandang kearah Taeyeon dengan iba. Adiknyaitu sama sekali tidak mengaduh kesakitan atau berkata apa-apa. Dia hanya mengeluarkan air mata dan sesekali menganggukkan kepala. Ia tak mengerti dengan Taeyeon, terbuat dari apakah hatinya itu hingga disakiti berkali-kali oleh ibunya ia sama sekali tak menggubris.

 

Setelah melepaskan jambakannya dirambut Taeyeon, Miyeon langsung pergi bersama dengan Hana. Wanita itu sama sekali tak peduli dengan Taeyeon yang sampai sekarang masih terduduk dipinggir jalan dengan kepala menunduk. Hana sedikit mengintip kearah belakang dan melihat adiknya masih berada ditempatnya.’Taeyeon pulanglah’ batinnya seakan memberikan telepati kepada Taeyeon. Namun seperinya pesan telepati itu tak tersampaikan kepada Taeyeon karena gadis itu tetap saja duduk dipinggir jalan layaknya pengemis yang sedang kelaparan. “berhenti menatapnya atau kau juga ingin eomma tinggalkan?” ucap Miyeon sinis kepada Hana. Hana langsung menuruti kata ibunya dan duduk tegak melihat kearah depan kembali. Pikirannya campu aduk antara memikirkan keadaan Taeyeon dan merasa bersalah.

 

*****

 

Seteah kejadian itu Hana terus berdiam diri dikamarnya atas suruhan Miyeon ibunya. Ditemani sang nanny baru yang menemaninya yang sedang duduk merapikan pakaian Hana yang baru saja disetrika. “Imo, apakah Taeyeon sudah pulang?” tanya Hana. Sebenarnya Hana ragu bertanya kepada nannynya tersebut karena ia terbilang baru dan tugasnya adalah khusus menjaga Hana dan ia berfikir ia tidak akan mengenal Taeyeon karena nanny mereka berbeda. “Oh gadis kecil yang memakai dress pink itu?” tanya sang nany memastikan. “Ah iya! Dimana dia?” tanya Hana semakin penasaran. “Tadi aku melihatnya masuk kedalam kamar tuan Julian petang ini.” Ucap nany itu. Hana mengerutkan keningnya berfikir sejenak. Apa yang dilakukan adiknnya itu sehingga baru pulang saat gelap. Apakah ia masih takut bertemu dengan ibunya? ‘Taeyeon maafkan eonni.’

 

Sedangkan Miyeon yang sedari tadi duduk disofa dan membaca sebuah majalah fashion. Ya, membaca benda seperti itulah dapat menunjang karirnya sebagai makeup artist. Walaupun gaji sebagai makeup artist tak seberapa, namun ia sangat mencintai pekerjaan itu. Pikirannya sedari tadi hanya tertuju pada majalah tersebut sehingga tak menyadari bahwa Taeyeon sudah pulang dan melewatinya. Sampai Taeyeon menutup pintu kamar Julian, Miyeon barulah sadar. “Seharusnya dia tak usah pulang saja sekalian.” Ucap Miyeon sinis.

 

*****

 

Tepat pukul 10 malam Julian pulang dari kantornya. Pekerjaannya tadi sungguh banyak ditambah lagi meeting dengan perusahaan asing dengan tender besar. Beruntung otaknya yang cerdas dan anugrah dirinya yang pintar berbicara membuat boss perusahaan asing itu bersedia bekerjasama dengan perusahaan Julian, sehingga dengan cepat mereka menandatangin kontrak dan Julian bisa pulang tak terlalu larut. Sampai dirumah ia tak menemukan Taeyeon menyambutnya. Biasanya gadis kecilnya itu akan memeluk dan loncat digendongannya. “Sudah pulang sayang?” terdengar pertanyaan dari mulut istrinya Miyeon tapi sama sekali tak ditanggapi oleh Julian. “dimana Taeyeon?” tanya Julian to the point. Miyeon memutar bola matanya malas dan melipat kedua tangannya didepan dada. “Dikamarnya.” Sinis Miyeon. Julian tak peduli. Ia langsung berjalan kearah kamarnya yang dulu juga menjadi kamar Miyeon. Tapi sekarang tidak lagi. Kamar itu menjadi miliknya dan Taeyeon, dan Miyeon menempati kamar tamu.

 

“Apakah kau akan bersikap seperti ini terus padaku Julian?” tanya miyeon dengan nada terluka yang membuat Julin juga terluka mendengarnya. Ia tak bisa berbohong bahwa ia masih mencintai wanita itu. Tapi dengan segala sikapnya dulu dan sikapnya kepada Taeyeon saat bayi, ia tak bisa lagi menerimanya. Tak menjawab pertanyaan Miyeon, Julian langsung pergi kekamar dan menutup pintu rapat-rapat, tak lupa menguncinya juga. “shit!” rutuk Miyeon.

 

Julian yang sudah sampai dikamarnya terkejut melihat keadaan kamarnya yang gelap. Dengan segera ia mencari saklar yang berada disebelah kanannya dan seketika lampu menyala. Kamar Julian dan Taeyeon adalah yang paling besar dengan fasilitas yang lumayan. Ada tv serta sofa yang berada didepan ranjang, serta ruang kerja Julian yang kini tak hanya berisikan buku dan berkas penting tapi juga mainan Taeyeon dan boneka beruangnya. Julian menatap ranjangnya dan melihat gundukan kecil pada selimutnya. Ia tersenyum lembut melihat gadis kecilnya disana. Perlahan ia mendekat agar tidak menimbulkan suara, siapa tau saja Taeyeon sedang tidur? Ketika dirinya sudah duduk dipinggir ranjang, Julian membuka selimutnya. “DOOORRRR!” teriak Taeyeon sambil mengacungkan kedua tangannya layaknya monster. Julian tersenyum melihatnya “Hey gadis apa yang satu ini mengagetkan saja.” Ucap Julian sambil memegang kedua tangan Taeyeon. Segeralah Taeyeon meloncat kepelukan Julian dan memeluk ayahnya itu erat. “Appa kenapa lama sekali pulangnya? Taeyeon merindukan appaa, jeongmaalll.” Rengek Taeyeon kepada ayahnya. Julian memeluk Taeyeon  sambil mengelus sayang kepala gadis kecilnya itu. “Maafkan appa sayang, tadi appa bertemu dengan ahjussi dari canada dan kami sedang bermain.” Ucap Julian. Taeyeon melepaskan pelukannya dan menatap Ayahnya berbinar. “Permainan apa yang kalian lakukan?” tanya Taeyeon antusias. Julian yang masih melingkarkan tangannya ditubuh mungil Taeyeon menjawab dengan nada lucu “Eumm ya seperti biasa, bermain mencari keuntungan bersama.” Ucap Julian. Taeyeon duduk didepan ayahnya sambil mengerucutkan bibirnya “Appa dan ahjussi memangnya tidak bosan bermain itu terus? Itu tidak menyenangkan appa.” Sungut Taeyeon. Julian mencubit kedua pipi tembam Taeyeon yang menggemaskan. “Yah mau bagaimana lagi, appa dan ahjussi tidak pintar bermain.” Jawab Julian yang kini sudah terlentang disamping Taeyeon. “Ahh kapan-kapan appa ajak Taeyeon saja lalu kita bermain permainan Taeyeon dengan ahjussi itu, yaa yaa??” bujuk Taeyeon yang ikut terlentang disebelah ayahnya.

Julian tampak berpikir dengan dahi yang sengaja dikerutkan dan jari yang bertengger didagunya. Sudah lima menit tapi Julian tak menjawab juga membuat Taeyeon kesal. “Appa menyeblkan!” marah Taeyeon dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Julian tertawa kecil melihat tingkah anaknya ini. Ia membuka paksa selimut Taeyeon dan menampakkan wajah Taeyeon yang masih cemberut imut. “Baiklah, appa akan mengajakmu.” Mata Taeyeon langsung berbinar. Dengan segera Taeyeon loncat kepelukan ayahnya dan bersorak gembira. “Horee terimakasih appa. Appa memang terbaikk!” peluk Taeyeon diatas tubuh Julian. Julian balas memeluk Taeyeon erat dan sesekali mencium kening anaknya. Ia sangat mencintai Taeyeon seperti anaknya sendiri. Sifatnya yang pendiam, lucu dan manja membuatnya ingin terus berada bersama Taeyeon dan menjaganya. Ia tidak ingin Taeyeon meraa kekurangn kasih sayang dari ibunya. Julian berusaha sabik mungkin menjadi sosok Ayah dan Ibu sekaligus bagi Taeyeon. Ia tak ingin Taeyeon disakiti terus menerus oleh Miyeon yang jelas-jelas ibu kandungnya. Namun ia tak peduli lagi. Dengan adanya Taeyeon dipelukannya, tak ada seorangpun yang boleh menyakiti Taeyeon. Itu janjinya.

 

****

 

Sudah sekitar dua minggu lamanya Hana dan Taeyeon tidak bersama. Tidak bersama disini diartikan sebagai tidak pernah bermain, menyapa atau mengobrol walaupun mereka berada dalam satu atap dan beberapa kali mereka saling bertatap. Entahlah siapa yang memulai duluan, tapi Hana merasakan ada aura ketakutan daam diri Taeyeon bila bertemu dengannya. Tidak tahu antara dia takut bertemu dengan Hana atau takut bertemu dengan ibunya dan membuat wanita tua itu marah. Tapi lama kelamaan Hana tak bisa seperti ini terus. Adiknya adalah sebagian dari hatinya dan dialah yang selalu membuat Hana senang selain ibu dan ayahnya. Otak cemerlang Hana memiliki sebuah ide yang nekat. Tapi Hana bertekat akan melakukan ini untuk memperbaiki hubungannya dengan Taeyeon.

 

Hana mengendap-endap keluar dari kamarnya takut nany barunya itu tau. Pasalnya Miyeon ibu Hana menyuruh nany nya itu untuk menjaga Hana 24 jam bila wanita itu tak ada dirumah dan juga melarang Hana untuk keluar kamar, kecuali ditemani dengan nanynya. Untungnya si nanynya itu sedang tertidur disofa kamar Hana, jadi dirinya harus berhati hati keluar dari kamar. Setelah berhasil keluar dan menutup pintu tanpa suara yang mengganggu, Hana langsung menodorng kursi rodanya menuju kamar Taeyeon yang ia yakini adiknya itu sedang berada disana. Tidak membutuhkan waktu lama Hana sudah sampai didepan kamar Taeyeon dan langsung mengetuk pintunya. Ketika pintu terbuka dan menampakkan gadis mungil dengan balutan dress pink, Hana tersenyum senang. Berbanding terbalik denga Taeyeon, gadis itu terkejut setengah mati dan hampir saja menutup kembali pintu kamarnya kalau saja Hana tak menahannya. “Kumohon Taeyeon, aku tidak ingin hubungan kita menjadi kaku seperti ini.” Mohon Hana dengan sangat. Ia tidak bisa menyembunyikan matanya yang mulai berkaca kaca layaknya cermin. Taeyeon yang melihatnya pun tak bisa berkata apa-apa. Dia juga sedih akan nasib mereka berdua yang miris ini. “Tidak mungkin eonni, tidak ada cara yang dapat memban…”

 

“Ikut aku!” geret Hana memotong kalimat Taeyeon. Hana terus mendorong kursi rodanya sendiri sedangkan Taeyeon berjalan mengendap sambil sesekali menengok kebelakang seperti maling takut ketauan. “Eonni kita mau kemana?” Tanya taeyeon berbisik. Hana tak menjawab. Ia terus berkonstrasi mendorong kursi rodanya hingga sampailah mereka disebuah pintu kayu coklat yang sepertinya Taeyeon tak pernah melihatnya. Hana mulai membuka pintu lebar lebar dan menarik Taeyeon untuk masuk secepat mungkin. Taeyeon melihat sekelilingnya dengan heran. Belum pernah saklipun dirinya memasuki tempat ini, melihatnya saja tidak pernah. Begitu banyak botol-botol dengan segala label yang bertengger didinding-dindingnya dan beberapa tong besar yang terbuat dari kayu. “Eonni ini tempat apa?” tanya Taeyeon dengan polosnya. Ia senang dengan keberadaan Taeyeon didekatnya tanpa terhalang apapun. Ia menyukainya disaaat Taeyeon terlihat begitu menggemaskan dan tidak tahu apa-apa seperti sekarang. Ia menyukai moment dimana dirinya bisa menatap Taeyeon begitu menikmati waktunya tanpa menghiraukan hal lain. “Eonniiiii~” panggil Taeyeon kesal karena pertanyaannya tidak digubris sama sekali oleh Hana. Hana tersenyum dan mendekat kearah Taeyeon “Ini gudang penyimpanan wine.”

 

****

 

Jang Miyeon akhirnya sampai dirumah dengan selamat setelah tadi mendapat panggilan dadakan dari seorang penyanyi terkenal yang memintanya untuk merias wajahnya. Sebenarnya Miyeon ingin menolak karena itu adalah jam pulangnya, tapi penyanyi itu menawarkan bayaran dua kali lipat yang tidak bisa ditolak lagi oleh Miyeon. “Penyanyi sialan, bisa bisanya menyogok seseorang dengan uangnya.” Kesal Miyeon. Tidak biasanya ia pulang jam 9 malam seperti ini dan rasanya sangat aneh sekali. Ketika masuk kedalam rumah, ia melihat nanynya yang mondar mandir tak jelas diruang tamu. “Hey!” panggil Miyeon yang membuat nany itu terkejut. “Sedang apa kau disitu?” Tanya miyeon. Gelagat dari nany itu sangat mencurigakan. Keringat bercucuran dan matanya mulai tak fokus pada Miyeon. Sepertinya ada sesuatu yang buruk. “Dimana Hana?” tanya Miyeon lagi yang langsung membuat nany itu terkejut dan menatap mata nyonyanya yang tajam. Sudah Miyeon duga ini mengenai Hana. Tanpa menunggu jawaban nany itu, Miyeon langsung berjalan kearah kamar Hana. Betapa terkejutnya ia tak menemukan sosok Hana didalamnya. “dimana dia? Kenapa kau tidak bisa menjaga anakku dengan baik hah?!!??” teriak Miyeon kepada nanynya. “Saya tadi siang tertidur nyonya, saya sedang tidak enak badan.” Bela nany itu. “AKU MEMBERIMU GAJI UNTUK BEKERJA, BUKAN SAKIT BODOH!” teriak Miyeon lagi didepan nany itu.

 

****

 

“AKU MEMBERIMU GAJI UNTUK BEKERJA, BUKAN SAKIT BODOH!”

 

Hana dan Taeyeon terdiam dalam kegiatan mereka yang sedang bermain monopoli. Pertama yang ia lihat adalah raut muka Taeyeon yang mulai berubah cemas. Mereka berdua tahu suara siapa itu dan terdengar dari suaranya sedang apa wanita itu. “Eonni aku takut.” Ucap Taeyeon yang hampir menangis lagi. Hana mendekat kearah Taeyeon dan memeluk adiknya dengan sayang. “sudah tenang saja, ada ak…”

 

‘braaakk’ Pintu gudang itu terbuka paksa dan menampakka seorang wanita dengan raut wajah marahnya. “ee..eomma.” panggil Hana tergagap. Miyeon menoleh dan mendapati Hana dikursi rodanya dan Taeyeon yang memluk Hana. “APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU GADIS PEMBAWA SIAL!” teriak Hana yang langsung mencengkram tangan Taeyeon dan menariknya keruang tamu. “Eommma jangann sakiti Taeyeon…eommaa!” Hana mulai menangis ketika adiknya diseret paksa oleh Ibunya sendiri. Tidak ini bukan salah Taeyeon melainkan Hana. Hana harus menjelaskannya kepada ibunya. Dengan susah payah ia mendorong kursi rodanya sambil sesekali menangis sesegukan. Ia tak bisa mengimbangi langkah ibunya yang begitu cepat, dirinya juga sudah kehabisan tenaga karena terkuras untuk menangis. ‘Tuhan tolong selamatkan adikku.’

 

Sedangkan Miyeon dan Taeyeon sudah berada diruang tamu. “Kenapa kau suka sekali mengganggu anakku hah?” Tanya Miyeon yang tetap mencengkram lengan Taeyeon dengan kuat. Kali ini Taeyeon tak bisa diam lagi. Cengkaraman pada tangannya berkali-kali lebih sakit daripada harus menahannya dan diam saja. “Eomma maafkan aku.” Ucap Taeyeon sambil menangis dan menatap lengannya yang mulai memerah. “AKU BUKAN IBUMU, PEMBAWA SIAL!” teriak Miyeon lagi. “Bisakah kau tidak mengganggu hidupku, anakku dan suamiku?” tanya Miyeon dengan segala penekanan disetiap kalimatnya. “Bisakah kau untuk lenyap dari hidup keluargaku hah??!!?” teriaknya sekali lagi tanpa mempedulika Taeyeon yang sedang menahan sakit akibat cengkramannya. Hana dengan segala sisa tenaganya akhirnya sampai diruang tamu dan melihat adegan tak menyenangkan yang dilakukan ibunya kepada Taeyeon. “eomma! Taeyeon tidak salah, aku yang mengajaknya untuk bermain disana.” Teriak Hana sambil menangis melihat nasib adiknya. Ini semua salahnya, jika ia tak memiliki ide konyol ini dan diam saja dikamar, mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Selagi Hana yang masih menyalahkan dirinya, Miyeon seolah tak peduli dengan teriakan Hana. Telinga dan matanya mulai terbakar api kebencian dan emosi terhadap Taeyeon. Ia tidak suka apa yang ia miliki disentuh oleh Taeyeon termasuk Hana. “seharusnya dulu aku menggugurkanmu. SEHARUSNYA AKU MEMBUNUHMU!” dan seketika itu Miyeon mendorong Taeyeon  hingga gadis kecil itu menabrak meja dan kepalanya terbentur ujung meja kayu tersebut.”TAEYEON!” teriak Hana. Begitu pula dengan kedatangan Julian yang menyaksikan anaknya sudah tergeletak tak berdaya dilantai dengan darah yang mengalir deras dikepalanya. Miyeon terkejut melihat kedatangan Julian.”J..Julian a..aku bisa..”

 

“APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ANAKKU MIYEON!” Julian berlari meraih tubuh Taeyeon dan mengangkatnya dala gendongannya. Segeralah ia membawa masuk Taeyeon kedalam kamarnya dan menelpon dokter pribadi keluarga Kim. “Dokter jung? Tolong kerumahku sekarang di Baverly hills. Ini keadaan darurat kumohon cepat!” ucap Julain kepada seseorang yang berada disebrang sana. “Imo, tolong bersihkan darah yang mengalir didahi Taeyeon, dan tutup dengan perban untuk menghentikkan darahnya.” Suruh Julian cepat yang langsung ditanggapi nany itu dengan pergi kekotak obat yang berada dikamar tersebut. Sedangkan Julian diam dan menoleh kearah pintu kamarnya dan menemukan Miyeon berdiri disana. “Jika terjadi sesuatu pada anakku, kau akan menyesal.” Ancam Julian kepada Istrinya tersebut disertai dengan tatapan membunuh yang menandakan dia tak akan main main dengan ucapannya.

 

******

 

Pada akhirnya Taeyeon dirawat dirumah sakit dan terpaksa untuk dirawat beberapa minggu disana. Dengan balutan pakaian rumah sakit dan perban yang melingkar dikepalanya membuat gadis kecil itu tampak semakin lemah. Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Taeyeon langsung diserbu oleh Julian yang khawatir. “Bagaimana dokter?” tanya Julian cepat. “Tenanglah, Taeyeon baik baik saja. Beruntung benturan dikepalaya tidak terlalu berat dan mengganggu otaknya. Tapi disarankan untk tidak terlalu memberi beban kepada anak itu. Ia masih terlalu lemah dan shock. Permisi” pamit dokter itu dan pergi bersama suster dibeakangnya. Julian bernapas lega mendengarnya. Tapi emosi dalam dirinya belum juga reda. Ia memutar badannya dan mendapati Miyeon yang duduk tenang dikursi penunggu rumah sakit “Dengarkan aku baik-baik.” Julian mulai berbicara. Miyeon segera mendongak mendengarkan.“Setelah Taeyeon keluar dari sini, aku akan tinggal dengan Sam di San Fransisco. Surat-surat atas rumah itu sudah aku serahkan kepada pengacaraku dan kau bisa memintanya.” Miyeon shock dengan penuturan Julian suamiya. “A..apa yang kau lakukan? T..tidak A..ku tidak mau berpisah denganmu, Julian. Tolong maafkan aku.” Mohon Miyeon sambil menggenggam tangan Julian, namun pria itu menepisnya. “Kau saja bisa menyuruh Taeyeon pergi dan berpisah dengan keluarganya, tapi kenapa dirimu sendiri tak mau?” sindir Julian. Sudah tak ada lagi perasaan simpati terhadap istrinya tersebut.

 

Tanpa menunggu jawaban Miyeon, Julian masuk kekamar ruang rawat Taeyeon dan menatap gadis kecilnya itu yang ternyata sudah terbangun. “sayang?” panggil Julian dari jauh. Taeyeon sedikit menoleh dan tersenyum kearah ayahnya. Julian kaget mendapati Taeyeon yang mencoba untuk duduk dikasurnya. Dengan segera Julian membantu menekan tombol disamping kasur rumah sakit Taeyeon yang membuat kepala ranjangnya naik dan enak untuk Taeyeon bersandar. “Woaahh keren sekali.” Ucap Taeyeon melihat kasurnya yang bisa bergerak keatas. Julian tersenyum menatap gadis kecilnya yang masih bersikap normal setelah apa yang terjadi pada dirinya. “Sayang, coba ceritakan apa saja yang eomma lakukan kepadamu selama appa tidak ada dirumah.” Tanya Julian sambil menggenggam kedua tangan Taeyeon yang salah satunya tertancap infus. “Tidak appa, eomma sangat baik menjagaku. Bahkan dia sering menyuapi aku dan eon…”

 

“Taeyeon..” potong Julian. Taeyeon menatap ayahnya. “Appa tidak pernah mengajarkanmu untuk berkata bohong.” Ujar Julian dengan muka seriusnya. Kali ini Julian benar-benar serius. Apa yang sudah Miyeon lakukan sehingga Taeyeon bisa berkata bohong seperti tadi. Tanpa aba-aba Taeyeon mulai menangis dan menceritakan apa saja yang ibunya lakukan selama ini terhadap dirinya dan mejelaskan mengapa ia berbohong. Mendengar penuturan anak bungsunya yang sambil sesegukan membuat hatinya perih. Begitu menderitanya selama ini Taeyeon tanpa dirinya. Dibalik senyumnya setiap malam ternyata ia menyembunyikan banyak hal yang begitu menyakitkan. Julian tak bisa membayangkan bagaimana rasa hati anaknya tersebut yang selalu dicaci maki dengan perkataan dan perbuatan kasar istrinya itu. Julian benar benar tak bisa memaafkan Miyeon. Sambil memeluk erat Taeyeon, Julian menatap keluar jendela dan mendapati Miyeon disana sedang melihat kearah mereka. Julian menatap istrinya benci dan bersumpah tak akan memaafkannya. Miyeon yang merasa ditatap seperti itu nyalinya langsung hilang dan memilih untuk pergi dari sana.

 

“Gadis pembawa sial, aku tak akan pernah memaafkanmu.”

 

****

 

Skateboy 7

 

“Jika kau ingin menyakiti Hana lebih baik kau pergi saja.”

 

‘dan aku sudah menemukan jawabannya’ Taeyeon menghela napas panjang dan dengan berani menatap Luhan dan juga Hana yang sedang tersenyum meremehkan. Dengan kasar ia menghapus air matanya berusaha untuk terlihat tegar. “Dengarkan aku eonni..” ucap Taeyeon yang disambut penasaran oleh Luhan dan juga Hana. Tangan Taeyeon terarah kedepan dengan menggenggam sebuah tiket pesawat penerbangan tujuan Amerika Serikat. “Aku akan mewujudkan keiinginanmu dan ibumu, aku akan pergi dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi…” ucap Taeyeon tegas membuat Hana tersenyum kemenangan. “Dan kau juga, jangan ganggu hidupku lagi.” Ucap Taeyeon lagi sambil menatap Luhan. Luhan tak bergeming dari tempatnya. Kata-kata Taeyeon begitu menohok hatinya. Bukan sepenuhnya salah Taeyeon. Ini memang karena dirinya dan ia pantas mendapatkan ini. Setelah dirasa semua cukup, Taeyeon berbalik dan meninggalkan dua orang yang sekarang masih diam ditempat mereka masing-masing.

 

“Kalau begitu, bagaimana dengan warisan appa yang telah kau curi, Taeyeon-ssi?” ucap Hana yang membuat Taeyeon terdiam dari tempatnya. Taeyeon tersenyum sinis. “Kau tidak memiliki hak apapun atas warisan appaku, Jang Hana-ssi begitu juga dengan ibumu Jang Miyeon” Rahang Hana mengeras. Ia tidak percaya adik kecilnya itu bisa bersikap seenaknya seperti ini. “Dasar rakus. Sudah berani merebut calon tunangan orang, sekarang juga kau ingin mengaambil semua harta Ayahku? Bagaimana bisa kau se picik itu Taeyeon?” sindir Hana.

 

Taeyeon membalikkan tubuhnya kembali mengahdap Hana dan Luhan. Ia menatap Hana dengan pandangan meremehkan, ia muak dengan wanita yang dulu ia sebut sebagai eonni itu. “Kau pikir dirimu adalah murni hasil benih dari Ayahku Julian Kim dan ibumu Jang Miyeon? Kau salah Hana. Kau sama sepertiku, anak yang sama sekali tidak diharapkan kehadirannya oleh siapapun didunia ini. Yang membedakan adalah aku masih dianggap anak oleh Ayahku, tapi bagaimana dengan ayahmu?..” ucapan Taeyeon membuat Hana marah besar. Tangannya mencengkram dengan kuat kursi roda yang sudah lama bersama dirinya. Kemarahannya sudah tak terbendung lagi. “apa yang kau bicarakan pembawa sial?” sindir Hana tak mau kalah, tapi Taeyeon tak terpancing sama sekali. “Aku juga tak yakin jika calon tunanganmu disana menerima perjodohan kalian atas dasar cinta…” ucap Taeyeon sambil mengarahkan dagunya kepada Luhan. Ia tersenyum sejenak kepada Luhan. “atau…. atas dasar kasihan?”

 

 

 

TBC :’*

 

Tolong biasakan untuk komen disetiap Fanfiction yang kalian baca entah di ATSIT atau ditempat lain. Komen kalian itu sebagai pembangun semangat sang author buat ngelanjutin ceritanya. So, jangan lupa komen ya di ff nya iceubaby juga :p nanti iceubaby ngambek nih :;( byee sampe ketemu di skateboy 8 :). Love~ Kimiceu

Advertisements

153 comments on “Skateboy [ Chapter 7 ]

  1. woahhh daebak taeng jd berani gitu hahahha rasain hana..
    heran deh padahal ibu nya taeng yg salah knp malah nyalahin taeng? harusnya dia juga adil, untung appa nya taeng baik dan sayang sekali udah gaada.
    ah dikit banget ini thor cerita nya.. knp cuma sampe taeyeon pergi. taeng hwaiting!!! update soon thorr

  2. IIIIIIIIIIIIHHH AKHIRNYA UPDATEEEEEEEEE
    Ih kirain aku udah lupa sm alurnya ternyata ga sama sekali, biasanya mesti baca ulang chapt sebelumnya kl updatenya lama gini tp ga sm skateboy ini😂😂😂 alurnya gada yg nyama2in❤❤❤❤❤❤
    Chapt ini kok greget, 85% flashback sisanya lanjutan yg kmrn, kirain lanjutannya bakal panjang, gataunya cm smp situ aja😢😢😢😢 ga nyangka taeyeonnya bakal nusuk gt omongannya😂 tp gapapa deh drpd diem mulu kaya pas kecil/? Wekekek
    Great thor❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
    Next ditunggguuuuuuuuu banget
    Updatenya soon ya kl bisa😂

  3. Daebak thor
    Tae eonni mending begitu bicara langsung,,, nggak diam2 trus,, mending langsung aja daripada sakit hati,,, tapi aku penasran deh gimana dengan responnya luge…
    Next chapter ditunggu thornim… 🙂
    Fighting… 😉

  4. kerennn. tapi masih pendek karna flashback ga masuk ke chapter 7 kan? hehe ditunggu nextnya, untung aku masih inget sama cerita ini hehe. fighting!

  5. taeyeon eonni daebak ~~~ #jjang
    crita.y jga mkin seru… wlopun dah dikit lupa…
    flashback.y nyesekin tpi untung aj ad dady julian yg baek.y gak ktulungan…
    next.y cpt di post ya thor
    #hwaiting

  6. author kemana aja? sampek lumutan nungguin lanjutannya tpi seneng akhirnya comeback…nyebelin deh si hana minta dicekek..kasian uri taengoo. next chapter ditunggu thor!! semangat!! mksh udh mau ksih penjelasan dflashback

  7. akhirnya update lagi nih ff, udah lama nunggunya fiuhh

    sumpah jadi muak sama si hana. stay strong lah taeyeon

    ditunggu chapter 8nya thor. fighting!!

  8. aduh emaknya taeng jahat amat ya #lapingus
    biarin taeng pergi, biar tau rasa si luhan kehilangan taeng :-[
    ditunggu next chap nya , cpet update pliss

  9. aku suka sama sikap taeyeon diakhir cerita. sosok yang kuat tegar dan kalau aku jadi taeyeon sudah aku gampar tuh mulut si ha na*kebawa cerita.

    aku tunggu kelanjutannya, fighting eonnie*berasa maknae

  10. Huu si hana kutu kupret..sukurin tuh si luhan nerima perjodohan karna kasian..biar si hana nyadar klo dy emg menyedihkan
    Taeng fighting!!!lanjutnya ya thorrrr

  11. Taeyeon kecil benar benar kasihan, ibunya benar benar jahat bisa siksa taeyeon kaya gitu!
    Hana juga mulutnya kasar banget sama taeyeon tapi akhirnya taeyeon gk tinggal diam lagi dan bisa ngelawan hana
    Trus luhan gimana? Biar aja deh taeyeon pergi biar luhan nyariin taeyeon
    Gk sabar sama next nya! Next ditunggu ^^
    Fighting!

  12. Waaaah akhirnya update jugaa!!
    kerenn..
    Jagat bgt ih Miyeon.. hhu
    Wakopun lama tp msh ingat sedikit2 jalan ceritanya, gasabar baca chapter selanjutny,,kangen bgt sama lutae 😆😆

  13. akhirnya keluar juga ..
    thor aku kangen ff ini ,kenapa lama update nya huhuhu
    jadi seperti itu kejadiaannya? taeyeon semangat ya..
    aku ada di sini untukmu .. udah ah
    thor semangat !semangat! nulisnya dan sampai jumpa

  14. duh thor kemana aja sih..(apa sayanya yg kemna?) nungguin lama keluarnya nih cerita. aku paling suka ini, tapi part tae ama lulu kurang banget. masa lalu bikin nyesek bagaimana pun kan tae unni juga lahir dari rahimnya, jahat bet. next chap di tunggu loh

  15. Thor kapan publish hap ke 8 udah hambir mau 5 bilanga publish-publish
    udah ga sabar mau baca chap selanjutnya thor
    next chap nya jangan lama-lama.ya thor, himnae

  16. Thor disini aku reders baru ,mian baru comment soalnya baca nya juga ngebut d chap 1 Sampe 7
    Dan ceritanya seru bikin baper and penasaran
    Jadi cepetan update nya thorrr chp8 ditunggu ….
    Fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s