Not Destined (Chapter 3 )

no-destined_selvi_melurmutia

Not Destined

Main Cast: Taeyeon ­– Kai || Genre: Romance, Sad || Length: Chapter || Rating: PG-13 || Author : Selvy

Poster FF by Melurmutia@Cafeposter

^^^Chapter 1 & 2 pernah di upload di EXOSHIDAEFANFIC

Ps: Disini banyak penambahan adegan dan pengeditan. Tapi tidak ada perubahan cerita.

-____________-

 

Gadis itu meniup rambutnya yang berada di jidat kesal, diparkirnya sepeda miliknya dengan malas. Ia memandangi jejeran sepeda yang berbaris rapi. Berbeda dari Seoul, siswa Busan lebih banyak menggunakan sepeda. Mungkin karena itu juga, daerah sekitar masih terlihat asri.

Ia berjalan dengan santai, sekolah yang akan menjadi tempatnya belajar cukup besar. Dua gedung utama tingkat tiga yang saling berhadapan seperti bangunan kembar identik. Memang tidak sebesar sekolahnya, tapi ia merasa lebih tenang disini karena suasana yang tidak terlalu bising.

Pelan ia menaiki tangga. Ia menatap kanan kiri sampai matanya tertarik pada dua orang yang berpapasan dengannya. Satu berbadan tinggi jauh darinya, dan satunya lagi tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek. Kalau gadis normal mungkin sudah terpesona dengan kegantengan mereka. Tapi bergubung Taeyeon agak tittt jadi yah sudahlah.

“Permisi, dimana ruang kepala sekolah?” Taeyeon bertanya. Kedua namja itu saling tatap. Sejenak mereka memandangi Taeyeon dari atas sampai bawah dengan pandangan aneh. Gadis itu ikut melihar tubuhnya. “Ada yang salah?” Tanyanya tidak peka.

Sebenarnya kedua orang itu agak bingung melihat penampilan Taeyeon. Rata- rata gadis Busan sangat bersih dan lembut. Sedangkan gadis di depan mereka berdandan aneh, kedua lengan pendek bajunya dilipat, sepatu dan rambut yang sama tak diurusnya. Dan satu lagi yang paling mengganjal penglihatan, celana Training yang melekat di kaki pendeknya membuat gadis itu terlihat berantakan. Ditambah cara bertanya terkesan tidak sopan dengan bahasa nonformal.

Namja berpostur sedang tersenyum menampakkan dimplenya. “Ah kau naik saja ke lantai tiga dan diujung dekat lobi Itulah ruangannya”

Taeyeon mengangguk mengerti, tanpa mengucapkan terima kasih ia melangkah naik. Chanyeol masih memandanginya dengan wajah polos. “Wah siapa gadis itu? Kenapa dia berdandan seperti itu?” Tanya Chanyeol seraya berjalan mengikuti Lay dibelakang.

Namja itu menaikkan bahu, “Sepertinya dia bukan gadis Busan. Tapi kita tidak ada urusan dengannya Chanyeol-ah. Lebih baik kita pergi ke kantin sekarang” Jawab Lay tidak terlalu perduli.

Chanyeol mengembus kasar, ia seperti tidak iklas berjalan di belakang Lay. “Kenapa harus kita yang membeli makanan? Kenapa bukan Kai sendiri saja yang mengurus dirinya?”

“Ya! Anak itu tak akan mau pergi sendiri. Daripada dia mengomel sepanjang waktu lebih baik kita mengalah Chanyeol-ah. Kau seperti tidak menyenalnya saja”

Chanyeol menunduk lesuh, berteman dengan Kai memang sangat menyusahkan. Namja itu tak pernah mau berbuat banyak, ia tidak mau mengerjakan tugas sehingga Lay si genius yang harus mengerjakannya. Ia selalu membuat masalah sehingga Chanyeol si ramah terpaksa mengurus semuanya. Tapi entah kenapa mereka terus lengket bersama namja bermarga Kim itu.

 

-____________-

 

Seorang gadis menangis tersedu- sedu di hadapan ketiga temannya yang ikut menenangkan. Dari raut wajah cantik mereka terlihat ekspresi kasihan.

“Dia mempermainkanku. Namja brengsek itu sudah mempermalukanku di depan semua orang” yeoja berambut pendek mengungkapkan isi hatinya. Punggungnya bergetar karena terus mengeluarkan air mata. Yeoja bertuliskan Jessica Jung di baju seragamnya menyodorkan tisu kepada temannya.

“Kami tahu Sooyoung-ah, bukan hanya kau dan Tiffany yang diperlakukan seperti itu. Kemarin Sully juga diputuskan di taman sekolah di depan semua orang. Bahkan aku, Jessica dan Seohyun sudah merasakannya lebih dulu” wanita berwajah bak putri itu menenangkan dengan menepuk pundak Sooyoung.

Seohyun dan Jessica mengangguk setuju pada Yoona, tapi tetap saja Sooyoung melanjutkan tangisnya. Ia terlalu sakit hati pada namja bernama Kim Jongin. Kalau sebelumnya namja itu berada di hatinya atas dasar cinta, maka sekarang karena kebencian.

Seorang gadis bertubuh mungil muncul di balik tangga. Ia berjalan dengan kepala linggak- lingguk mencari sesuatu. Ia memandangi tulisan- tulisan di atas pintu berharap menemukan tulisan yang ia harapkan. Ruang kepala sekolah.

Matanya memicing ke arah tiga yeoja yang mengerumuni satu orang yang terlihat menangis. Taeyeon berinisiatip mendekati mereka. “Permisi, dimana ruang kepala sekolah?” Tanyanya. Keempatnya menoleh, Jessica , Yoona, dan Seohyun tersenyum ramah tapi tidak dengan Sooyoung yang sibuk menghapus air matanya.

‘Cengeng’ batin Taeyeon, ia tak pernah suka pada gadis yang selalu menangis. Apalagi hanya karena masalah lelaki. Dan dia dengan yakin menebak bahwa yeoja berambut sebahu itu sedang menangis karena masalah mainstream tersebut. Heol.

“Lurus saja, ruang paling ujung adalah ruang kepala sekolah” yeoja bersuara kecil seperti bocah menimpali. Taeyeon mengangguk dan segera berlalu. Dua yeoja berwajah mirip menunjukkan ekspresi terkejut dan marah. Pandangan tajam langsung terarah pada Jessica. “Wae?” Tanpa rasa bersalah ia mengangkat bahu”

“Kau gila? Itu adalah tempat mereka berkumpul. Kau sama saja ingin membunuhnya dengan menyuruh dia ke sana.” Dari nada bicaranya, Yoona jelas marah pada ulah Jessica. Seohyun mengangguk setuju dan langsung berdiri hendak menghentikan yeoja yang mereka yakini adalah anak baru itu. Tapi sayang tangannya di tahan oleh Jessica.

Dengan pandangan jahil Jessica menimpali. “Biar saja Seohyun-ah, yeoja itu tidak punya sopan santun. Lihat saja caranya bertanya, dia menggunakan bahasa nonformal pada orang yang baru dia kenal. Lagipula penampilannya tidak menarik, pasti namja sebrengsek Kai tak akan tertarik”

“Tapi tetap saja kau tidak boleh begitu”

“Anggap saja ini ospek untuk anak baru” Seohyun hanya menunduk lesuh mendengar omongannya disanggah oleh Jessica. Yeoja bermarga Jung itu memang tak pernah mau mengalah dalam berdebat.

Untuk beberapa alasan, Seohyun dan Yoona merasa sesuatu akan terjadi. Jessica hanya bermasa bodoh dan meneruskan menghibur Sooyoung dengan meyakinkan gadis itu bahwa Kai orang yang tidak pantas untuknya. Ia belum mengenal Taeyeon, gadis itu mungkin akan membunuhnya setelah ini.

 

 

   -____________-

 

Taeyeon mendengus kesal memandangi ruangan itu. Ia mengumpat dalam hati, bagaimana ia bisa menemukan satu ruangan di antara banyak pintu padahal tidak ada tulisan di atasnya. Seandainya dia tidak sadar bahwa ia hanya anak baru, pasti ia akan mengajukan kritik kepala kepala sekolah itu.

Ia mengetuk dengan pelan, tak ada yang merespon. “Aissh jeongmal jinjja . . . “Diputarnya gagang pintu dan membukanya lebar. Belakang pintu mengeluarkan suara karena bertubrukan dengan dinding. Sepertinya Taeyeon terlalu keras mendorong benda itu. Tetapi wajah kesalnya digantikan ekspresi heran setelahnya, ruangan itu agak aneh.

Beberapa pakaian bertebaran di atas sofa coklat yang terletak di ruang tengah. Banyak poster avengers dan tim Real Madrid tertempel di dinding. Detik berikutnya ia tersenyum kesal, “Mati kau gadis brengsek” Ia sekarang menampakkan wajah terkesal yang ia punya. Gadis itu menipunya, dan seorang Kim Taeyeon paling tidak suka dipermainkan. Daripada sebuah ruangan kepsek, tempat itu lebih mirip kamar yang tidak terurus.

“Ahh mmmppp” Suara seseorang terdengar di telinganya. Kakinya melangkah sebagai respon atas pendengarannya. Salah satu sofa menjadi tujuan, selimut yang membungkus sesuatu terlihat bergerak- gerak. Fikiran negatif hinggap di otak yeoja itu tapi segera di tepis.

“Nuguya?” Kepala yeoja itu dipaksa menengok karena suara di belakang. Namja itu lagi.

“Ani. Sepertinya aku salah ruangan” Chanyeol menatap tak percaya saat Taeyeon pergi dengan sedikit menubruk bahunya dan Lay.

“Omo daebak. Gadis macam apa itu?” Tanyanya pada Lay yang hanya mengangkat bahu tak perduli. Chanyeol dibuat kesal karenanya. “Oke apapun yang kukatakan selalu mendapat respon seperti itu. Mulai sekarang aku tak mau berbicara” Chanyeol merengut kesal dan memilih duduk di kursi kayu dekat jendela.

Lay malah tak mendengarkan atau perduli pada namja tadi.

“Ya! Kau melakukan itu lagi Kim Jongin?” Tanya Lay dengan ekspresi geli. Namja dibalik selimut menampakkan wajahnya dan tertawa polos.

“Semua namja melakukannya bukan?”

“Aku tidak” nada ketus Chanyeol membuat keduanya menoleh. Namja itu merajuk lagi karena Lay.

Kai menggeleng pelan dan segera mengambil bungkusan di tangan Lay. “Siapa tadi? Aku mendengar kau berbicara dengan seseorang” di tengah- tengah suapannya Kai bertanya. Memang ia mendengar seseorang masuk ke dalam ruangan mereka, awalnya namja itu mengira bahwa orang itu adalah Chanyeol dan Lay tapi ternyata ia salah karena ada suara yeoja terdengar olehnya kemudian.

Lay memandang ke arah Chanyeol yang menutup mulutnya rapat- rapat dan memandang jengkel sahabatnya itu. Sempat Lay terkekeh oleh tingkah kekanak- kanakan Chanyeol. Sebuah ide muncul di otak cerdiknya. “Gadis itu adalah pujaan hati sahabat kita” Sindir Lay dengan tatapan menggoda.

Kai memandang ke arah Chanyeol memastikan namun namja itu malah membulatkan matanya lebar. “Ya! apa kau gila? Aku tidak menyukai gadis kasar seperti itu.” Timpal Chanyeol menekankan.

“Kasar? Wah sebelumnya aku bertemu dengan gadis kasar di jalan. Ah sepertinya Busan mengalami revolusi sekarang”

-____________-

 

Dari sebuah ruangan Taeyeon keluar berjalan mengikuti songsaenim di depannya. Tak ada kesan ramah di wajahnya, sampai dia memasuki kelas. Orang- orang di kelas itu memandangnya dengan tatapan berbeda, respon yang sudah terlalu biasa untuk seorang Kim Taeyeon. Bahkan siswa dan siswi itu sudah saling berbisik- bisik bersama teman sebangku mereka.

Tapi Taeyeon sedang dalam mood yang buruk sekarang, bahkan terlalu buruk untuk sekedar tersenyum dan membungkuk hormat. Ia juga tak mengindahkan songsaenim yang menyuruhnya memperkenalkan diri, sampai akhirnya wanita parubaya itu terpaksa memperkenalkan Taeyeon sendiri.

Di hari pertama tatapan tidak suka sudah membanjirinya karena sikap kasarnya itu. Tapi sekali lagi itu sudah terlalu biasa. “Taeyeon-sshi silakan duduk di kursi kosong itu” Taeyeon menatap ke arah kursi itu. Ia berjalan tanpa memperdulikan cemooh kecil yang anak- anak bisikkan.

“Annyeong, Irene imnida” ia menoleh. Seorang gadis cantik tersenyum ke arahnya.

“Taeyeon” jawabnya datar. Ia mengeluarkan buku dan mulai menatap ke depan. Tapi bukan papan tulis yang mengisi fikirannya. Melainkan gadis yang baru saja menipunya. ‘Tunggu saja gadis barbie, aku akan membuat perhitungan denganmu’

Irene menatap gadis disampingnya, aura yang dikeluarkan Taeyeon membuat bulu kuduknya menegang. Ia bukanlah gadis yang banyak bicara, bahkan cenderung pendiam. Tutur kata dan pergerakannya pun lemah lembut, maka dari itu melihat tatapan menakutkan seorang gadis sedikit mengganggunya.

“Taeyeon-sshi kau ingin ke kantin?” Tanya Irene kepada Taeyeon yang sibuk membereskan bukunya setelah kelas Jae hi songsaenim selesai.

“Oke” Jawab Taeyeon singkat. Bersama Irene dan seorang temannya mereka berjalan menuju lantai satu dimana kantin berada. Sebenarnya di sekolah itu mempunyai dua kantin, satu dilantai tiga dan yang lainnya di lantai satu. Tapi menurut penuturan Irene kantin di bawah lebih ramai karena katanya ada seorang adik kelas yang menjadi daya tarik.

Yah maklum saja, karena lantai satu, dua dan tiga diisi berdasarkan tingakatan kelas. “Taeyeon-sshi wae? Kau terlihat tidak senang?” Seulgi teman Irene menimpali. Taeyeon memang tidak bersuara semenjak mereka sampai ke kantin. Bahkan gadis itu tak perduli pada percakapan Irene dan Seulgi.

Taeyeon menghembus kecil, “Saat ini moodku sedang jelek, karena seorang gadis kurang ajar. Bisa- bisanya dia menipuku” Ucapnya. Terlihat sekali bahwa amarah Taeyeon sudah sampai di tingkat yang cukup tinggi. Bahkan nada bicaranya membuat Seulgi dan Irene hanya bisa saling menatap.

“Memang apa yang terjadi Taeyeon-sshi?” Irene bertanya.

Taeyeon mengangkat bahu, ia terlalu malas untuk menjawab. Tapi fikirannya berubah karena tatapan dan cara bertanya gadis di depannya benar- benar lembut. Dan itu membuatnya sedikit tidak tega mengabaikan gadis itu. “Dia menunjukkan ruangan yang salah padaku” Singkat ia menjawab.

Irene maupun Seulgi mengangguk mengerti. Ia tak bertanya lebih banyak karena menyadari teman baru mereka terlihat tidak suka dihujani pertanyaan seperti itu. Mereka hanya makan dalam diam, sesekali Irene dan Seulgi berbicara sebatas pelajaran ataupun urusan pribadi mereka yang terlalu boring ditelinga Taeyeon.

“Wah apa yang akan terjadi selanjutnya? Aku begitu penasaran?” Taeyeon berhenti menghirup Lemon Tea yang baru saja ia pesan. Suara itu tidak asing di telinganya. Ia melirik asal suara dan benar dugaannya itu si gadis barbie. Smirk muncul di wajah mungilnya. ‘Mati kau’

Taeyeon berdiri sambil memukul meja sangat keras. Semua orang menoleh ke arahnya dengan wajah kaget. Bahkan kedua temannya sempat memekik karena itu. Dengan gelas yang terisi setengah ia berbalik mendatangi meja di belakang mereka.

Ketiga gadis yang berada disana melotot tak percaya. Bahkan gadis satunya sudah pucat pasih apalagi tatapan mengintimidasi Taeyeon. Ketiganya tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa mereka sedang salah tingkah saat Taeyeon berjalan mendekat.

Brusssh . . .

“Ya!” Jessica berdiri dari kursinya. Ia menatap Taeyeon tak percaya. Ia mengusap wajahnya yang basah kuyup karena oleh yeoja itu. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya marah.

“Wah daebak. Kau sadar dengan pertanyaanmu? Kau menipuku princess” Ucap Taeyeon sarkastik. Gelas ia letakkan di depan Jessica yang kehabisan kata- kata. Bahkan Yoona dan Seohyun hanya bisa menatap dengan mulut menganga.

Taeyeon sebenarnya jauh dari kata puas. Tapi akal sehat masih tersisa di fikirannya. Ia menghentikan aksinya dan berbalik menjauh. Bagaimanapun juga ia tak boleh mendatangkan masalah pada appanya. Namun ia mendengar kata- kata intimidasi dari mutut yeoja itu. “Kau tidak punya sopan santun. Kau fikir kau siapa? Datang ke sekolah ini dengan pakaian seperti itu. Dasar miskin”

Taeyeon mengepal tangannya keras. Perkataan barusan mungkin akan menjadi kesalahan terbesar dari gadis itu. Taeyeon berbalik mendekati Jessica.

Plakk

Suara teriakan kecil terdengar dimana- mana. Tamparan keras mendarat di pipi Jessica. Gadis itu ingin membalas tapi tangannya tertahan dan . . .

Plakkk

Untuk pipi kanan Taeyeon melengkapi tamparannya. Kedua sisi di wajah yeoja itu memerah. Mulutnya tak bisa terutup karena schok. Taeyeon menghempas tangannya. “Kau orang kaya hah? Tapi perlu kau tahu kelakuan dan perkataanmu setera dengan berandalan yang berada di jalanan. Perlu kau tahu nona KAYA jangan pernah bermain denganku. Karena aku tidak menyukainya”

Taeyeon berucap dengan penuh penekanan membuat Jessica hanya bisa menahan amarah dengan mengepal kedua tangannya. Taeyeon memiliki tubuh mungil tapi tamparannya sanggup membuat Jessica bahkan tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan perih sudah menjatuhkan air matanya.

Setelah itu Taeyeon berjalan lurus menuju kelasnya. Jessica masih berdiri tak bisa berkata apa- apa. Ia masih merasa kejadian tadi mimpi buruk yang datang tanpa ia inginkan.

“Sica-ya gwenchana?” Yoona bertanya pelan. Ia memegang lengan Jessica tapi gadis itu tak bergerak sedikitpun. Keduanya khawatir.

“Ya! Apakah ini menarik? Berhenti menatap kami” Seohyun berbicara kepada pengunjung kantin. Mereka segera melanjutkan makan mereka, tapi ada beberapa yang sesekali melirik yeoja yang masih drop itu.

 

-____________-

 

“Omo! Betapa bosannya hidup” Chanyeol memandangi jendela, bibirnya mengerut membuat wajahnya yang sudah pada dasarnya cute semakin membuat orang lain ingin mencubitnya. Namja itu menatap kedua temannya. Lay dengan bukunya dan Kai dengan ponselnya.

Ia menghembus kasar, tatapan kesal ia lemparkan. “Kai-ya Lay-ah ayo bermain. Badanku akan sakit kalau terus berdiam diri disini” bujuknya setengah merengek lalu menyeruput minumannya.

“Chanyeol-ah aku terlalu malas menjadi pusat perhatian disana. Lagipula badanku masih lemas untuk mengurus para gadis” dengan kebanggaan tergantung di langit ke tujuh Kai menjawab. Chanyeol yang sedang meminum jusnya menyembur ke luar, sedangkan Lay dengan mata melototnya menjatuhkan buku.

Kai ? malas dengan para yeoja? Impossible. “Ya Kim Jong In kau benar- benar sakit” Chanyeol menimpali.

Dengan malas namja itu menaikkan kakinya ke meja tanpa merasa tersindir. “Sepertinya aku akan bertobat” Kai dan Chanyeol saling menatap tidak bisa menyembunyikan keterkejutan. Kai yang merasa mendapatkan hiburan gratis tertawa keras. “Ya! Kalian percaya? Omo! Betapa polosnya?” Tambah Kai tanpa dosa.

“YA!” Namja itu memandang kedua temannya yang memekik keras dan dengan santai mengangkat bahu, seolah bertanya mengapa. Sangat menjengkelkan.

“Wah aku kehabisan kesabaran sekarang, lebih baik aku mencari udara di luar” Chanyeol menghujani Kai dengan tatapan tajam sebelum benar- benar berlalu. Ingin dia memukul namja itu seandainya tidak mengingat bahwa orang itu adalah sahabatnya.

Sedangkan Lay hanya bisa menghembus kesal, “Wah aku juga ingin menjauh darimu Tuan Kim, tapi berterimakasihlah karena aku masih berbaik hati” Kai menatap tak perduli. Beruntung bagi Kai karena Lay cukup sabar menghadapinya.

Lay memandang Kai sebentar, ia tahu namja itu bukanlah orang yang buruk seperti perkiraan orang- orang. Hanya saja mungkin ah .. . Lay terlalu malas memikirkannya.

“Wae? Kau memandangkau seperti mengasihani?” nada dingin keluar dari mulut Kai. Ia paling tidak suka ditatap seperti yang sepupunya itu baru saja lakukan. Tatapan kasian.

“Ani. Aku hanya merasa bersalah karena kau jadi seperti ini” Ucap Lay tanpa mengalihkan matanya dari buku yang dibaca.

Kai menurunkan kakinya, ia memandang Lay serius. “Menjadi seperti apa? Lay-ah kau tahu apa yang tidak kusukai kan? Jadi jangan melakukannya jika ingin terus berada di sekitarku”

“Kau yang membutuhkanku Jongin”

“Tidak, aku tidak pernah membutuhkanmu. Aku tidak membutuhkan siapapun termasuk kau dan Chanyeol” Kai melempar selimutnya ke lantai. Ia mengambil seragam dan memakainya acak. Rambut yang berantakan tak ia sisir melainkan hanya menyibaknya ke belakang.

Lay hanya menggeleng pelan, ini selalu terjadi. Dan dia tidak berhak menyalahkan Kai karenanya. Ia hanyalah korban dalam hal ini, dan Lay tahu betul itu.

Sementara itu, Kai berjalan dengan kesal. Diambilnya permen karet dari kantong celananya kemudian ia buka dan memasukkan benda elastis itu ke dalam mulutnya. Beribu bayangan muncul dalam fikirannya, ia berusaha melempar semuanya menjauh. Namun selalu gagal, amarah mengisi dadanya. Sangat sesak.

“Anak tanpa orang tua”

“Memang kau siapa hah? Tak ada yang menginginkanmu di dunia ini”

“Ennyahlah kau. Kau hanya membuat semuanya menjadi semakin sulit”

Namja itu mengatur nafasnya dengan berpegangan pada tembok. Kakinya terasa lemas sampai ia harus terduduk di lantai. Ia benci kata- kata itu, ia ingin melupakan semuanya. Tapi semuanya tidak bisa.

Mengingat itu semua, ia seperti bagian paling kecil dalam kehidupan. Tidak lebih dari sampah yang tidak berguna. Sampah yang harus dijauhkan dari masyarakat. Dan sampah harus di tempatkan pada tempatnya. Tapi ia benci menjadi sampah, sangat membencinya. Ia tak suka dihina dan direndahkan.

“Kai-ya wae?” namja tinggi dengan tatapan khawatir berusaha memberdirikannya. Tapi lengan Kai buru- buru memberikan penolakan dengan menghempas tangan itu. Chanyeol mengerti, ia berdiri dan hanya menatap Kai yang sudah bercucuran keringat dingin. Namja itu menutup matanya menenangkan diri. Jika seperti ini Kai tidak suka diganggu atau dia akan melayangkan pukulan padamu.

Ting Tong . ..

 

-____________-

 

 

Taeyeon berniat mengambil sepedanya di antara banyak benda identik yang berbaris. Beberapa orang terlihat menatapnya dengan bisikan- bisikan membuat ia menghembus kesal. “Selalu seperti ini” Ucapnya pada dirinya sendiri.

Beberapa kali ia menyayangkan apa yang baru saja ia perbuat. Ini bukan Seoul dimana ia bisa seenaknya berbuat sesuatu. Di Seoul ada eommanya yang akan menyelesaikan semua masalah dengan gampang. Tapi disini? Ia hanya mempunyai appa yang hidup serba pas- pasan.

Dengan melakukan hal macam- macam Taeyeon bisa merepotkan pria parubaya itu. Dan gadis itu tak mungkin tega menambah beban hidup appanya. Walaupun ia kasar, tapi dia masih memiliki hati nurani . . . . sedikit.

Sepedanya akhirnya bisa ia keluarkan. baru saja kakinya akan mengayuh, matanya sudah terarah pada dua gadis yang berdiri di hadapannya. Ia memutar otak mengingat keduanya. Dan otaknya berhenti mencari sampai pada kejadian di kantin barusan.

“Annyeong” sapa gadis itu canggung. Taeyeon mengalihkan matanya ke bagian kanan atas baju yeoja itu. ‘Im Yoona’

“Wae? Kalian ingin membela teman kalian tadi? Sudahlah aku terlalu malas berurusan dengan kalian” Taeyeon berucap malas. Seohyun menunjukkan wajah tidak menyenangkan menatap Taeyeon. Tapi tidak dengan Yoona yang masih tersenyum.

“Tidak seperti itu. Kami datang untuk meminta maaf. Kami tahu Jessica telah berbuat kasar dengan menipumu” Ucapnya lembut.

Taeyeon menatap malas. “Aku sudah memaafkannya. Jadi sampai kapan kalian akan menghalangi jalanku? Aku ingin pulang” Taeyeon melembutkan suaranya berusaha tidak berbuat kasar lagi. Setidaknya itu baginya. Karena pada kenyataan Yoona dan Seohyun menunjukkan mimik tersinggung.

“Maaf nona . . . siapapun namamu. Tapi kau harusnya meminta maaf pada Jessica. Bagaimanapun juga kau bersalah karena telah mempermalukan dia” Judes, Seohyun menambankan.

Taeyeon memberikan tatapan seolah meneriakkan kata ‘Siapa yang perduli?membuat kedua yeoja itu menatap tak percaya. “Mian” Hanya itu yang keluar dari mulut yeoja itu. Ia mengayuh sepedanya sampai Yoona dan Seohyun harus buru- buru bergeser kalau tidak mau tertabrak.

“Wah dia yeoja? Kurang ajar sekali” Pipi cubby Seohyun memerah karena kesal. Yoona-pun merasakan hal yang sama. Tapi ia harus tetap mendekati gadis itu kalau ingin mewujudkan tujuan mereka.

“Bersabarlah Seohyun-ah. Kita membutuhkan gadis itu untuk membalaskan dendam kita”

Seohyun menunduk lesu, “Sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi. Yoona-ya lihat saja sifatnya itu, siapa yang akan bisa mengajaknya jika seperti itu? Lagipula penampilannya tidak menarik, mana mungkin Kai akan tertarik”

“Siapa yang tahu? Jika rencana ini berhasil kita akan menghancurkan keduanya bukan? Membalaskan dendam Jessica pada gadis itu, ditambah membalaskan dendam kita bertiga pada Kai” kilatan licik terlihat di mata gadis itu.

“Kau terlalu banyak menonton drama Im Yoona. Ini dunia nyata, aku akan bertaruh bahwa rencana ini tak akan berhasil”

 

-____________-

 

Banyaknya pasir di lautan mungkin sudah kalah banyak dari berapa kali yeoja itu berhembus penuh penyesalan. Berharap- harap cemas bahwa appanya tidak akan marah jika mengetahui perlakuannya barusan. Jika itu eommanya mungkin ia akan lebih tenang, karena walaupun wanita itu galak padanya, tapi Nyonya Kim tidak pernah marah saat Taeyeon berbuat masalah seperti ini.

Tapi appanya? Lelaki penuh kelembutan. Mungkinkah dia akan menerima sifat Taeyeon yang keras? Entahlah yang jelas Taeyeon tidak ingin menyusahkan appanya. Untuk beberapa alasan tinggal bersama eommanya lebih nyaman. Walaupun sedikit. . . .

Fikirannya di ambil alih oleh laut yang terbentang. Tarikan kecil di wajah yang selalu datar itu terlihat. Setiap hari melewati jalan berbukit dengan pantai di sebelah kanan menjadi pemandangan sangat menyenangkan. Jiwa keperempuanannya mucul kalau seperti ini.

“AAHHHH” Taeyeon terperanjat. Suara yang tiba- tiba memecah kesunyiannya itu membuat kepalanya beralih. Seorang namja yang berdiri di depan mobil sport-nya itu terlihat frustasi. Otak Taeyeon berfikir.

‘Kau?’ smirk muncul di wajah yeoja itu. Ia melepaskan sepedanya sehingga jatuh ke sembarang arah. Ia berdiri di samping namja yang tidak menghadiri keberadaannya. “Aku baru menyadari dunia sangat sempit Mr. Sombong”

Ucapan sarkastik Taeyeon memasuki telinga Kai. Sumpah demi apa jantungnya hampir melompat melihat yeoja itu. Belum sempat kakinya lari, tidak bahkan ia belum bergerak kepalanya sudah menghantam kap mobil dengan tangan dilipat ke belakang. Ciri khas seorang Taeyeon.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” Kai mengerang frustasi. Statusnya sebagai seorang pria benar- benar dihapus seketika oleh yeoja yang tak dikenalnya itu.

Taeyeon menaikkan lipatan tangan Kai membuat namja itu berteriak kesakitan. “Kau mengataiku gila dan kabur? Heol pengecut” Kai tidak terima dengan perkataan Taeyeon.

“Kau memang gila. Kau tidak sadar hoh?”

“Wah daebak. Kau masih bisa bersuara?” Taeyeon melonggarkan tangannya. Tak membuang kesempatan Kai segera melepaskan diri. Di pegangnya tangan yang masih nyeri akibat perbuatan yeoja di depannya.

Belum saja rasa keram di lengannya hilang, namja itu harus dipaksa bertubrukan dengan tanah. Badannya dengan mulus terpental, ringisan kesakitan terdengar. Gadis itu membuatnya tak bisa mengatakan apapun sekarang.

Taeyeon tak melanjutkan aktivitasnya. Namja itu untungnya masih bisa ditolerir oleh dirinya. “Huffft sangat bosan berurusan denganmu. Sekarang aku akan menganggap semuanya lunas. Jadi aku akan melupakan semua ini dan menganggap tidak pernah bertemu denganmu” Ucap Taeyeon lalu berjalan menjauh.

Bibir bawah namja itu digigit keras, nafasnya naik turun. Udara terlalu sedikit untuknya saat ini. ada rasa sesak di dadanya. Fikirannya dipenuhi oleh sesuatu seperti video bersambung yang tidak bisa dihentikan otakknya.

“Sampah”

“Kau fikir kau siapa?”

 

“AHHHHHH . . . “ Kai mengerang.

To be continued . . . .

 

Advertisements

42 comments on “Not Destined (Chapter 3 )

  1. Tampar aj trus tae.suka banget pass bagian ituu *yes!
    Next slanjutny dibuat gtu aj lg thor biar seru+greget
    Sumpah demi apapun suka bangettt😍😍

  2. Aw aw… 3 bab yang sunggung mengesankan!!! Author-nim, trima kasih ya sudah update. Cepet lagi. Hehe.

    Author, bikin Kai segera jatuh cinta sama Tae dong.. Trus bela Tae di depan Sica dkk. ayoo dong Thor~ 😀

    Trus Thor, teman2 yang bela Tae siapa saja?
    Oia, bikin Tae jadi brubah dong sifatnya. Jadi tipe cewek idaman (pinter, rapi, tenang) tp jago bela diri. Hehe.

    Semangat ya Thor~ aku tunggu bab selanjutnya! :*

  3. waaah tambah keren aja niih taeng unnie haha
    baru banget ada ff yg bisa bikin taeng unnie jadi gadis kuat n brandalan hihihi
    next chapternya ditunggu yaa

  4. Taeyeon keren bhaksss :v Aku kira Jess cs bakal baikan sama Taeyeon terus jadi temenan yang nanti nasehatin dia jangan deket-deket sama Kai :”””
    Chapter ini juga keren … Semangat kak^^ Ditunggu kelanjutannya 🙂

  5. ya!ya!ya!
    tbc ganggu bner
    lama2 ni cerita makin keren
    greget bgt
    kekeke~~~
    next chap update soon thornim~~
    hwaiting 😉

  6. taeyeon lu sangar amat jadi cewe buset dah-_-
    baru kali ini ff yg cast snsd jadi musuh taeng, sedangkan cast rv malah jadi temennya wkwk, keren”

  7. wah kai punya masa lalu yg kurang mengenaklan sampe membuat kai yg seperti sekarang
    ya ampun taeng kelakuannya gx ada manis2nya

  8. aduh taeng kok sifat kamu melenceng sih dari muka mu 0,0 disii taeng bner bner bad girl tapi tetep suka hehe
    kenapa ya pas taeng nampar jesika tuh gua ngerasa seneng haha XD
    seru thor tpi belom bca part1&2 nya-,-

  9. Pingback: Not Destined (Chapter 5 ) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. makin seru nih..
    Taeyeon menyeramkann hhehe
    semoga sifat jelek taeyeon n kai bisa hilang sedikit demi sedikit..
    Lanjutt

  11. thor apa taeyeon unnie dan kai adalah saudara sehingga mereka tak ditakdirkan berjodoh??
    kan dari judul ff ini not destined kalau saya tidak salah destined itu kata dasarnya destiny yang artinya jodoh, begitu thor?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s