The Leader’s Secret (Chapter 4)

wpid-wp-1440532290100

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

 

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 4 ini hehehee.

Loveyousomuch~

Preview :

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

~~~

AgeHa (AGH) Club, Shin-Kiba, Tokyo.

Kwon Ji Yong dapat mendengar dentuman suara musik rock yang diputar oleh sang disc jockey di dalam club itu. Suara musiknya memekkan kedua telinganya, serta ikut mendentumkan jantung serta pembuluh darahnya. Namun, hal yang seperti ini tidak membuat Jiyong terganggu atau mengeluh sekalipun. Suasana apapun di dalam club, club apapun itu di setiap negeri yang ia jajaki, sudah pernah ia rasakan. Ia terlalu biasa dengan keadaan di dalam setiap club. Rasanya leader Big Bang ini layak mendapat gelar king of party, selain gelarnya sebagai seorang fashionista.

Dan begitu kedua kakinya melangkah masuk menuju dance floor, ratusan pengunjung ternyata sudah memenuhi tempat itu. Mereka bersorak riang, melompat-lompat kecil, dan bertepuk tangan dengan meriahnya begitu DJ mereka malam ini mulai meluncurkan keahliannya, menghipnotis semua pengunjung dengan remix musik dan hip hop style-nya yang begitu keren.

ageha-studio-coast

Seandainya Jiyong-lah orang yang bertanggung jawab atas DJ itu, ia akan menyuruhnya untuk memutar dan membiusnya para pengunjung itu dengan lagu andalannya, Bang Bang Bang.

Tapi sekarang waktunya tidak tepat. Seseorang tengah menunggunya. His dear life.

Jiyong kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ke bar. Bartender itu tersenyum penuh ceria begitu melihat kedatangan Jiyong. Jiyong membungkukkan tubuhnya dan tersenyum manis untuk memberi sapaan pada sang bartender.

ctigxf6xaaej7g1

“Jiyong-kun,” sapa si bartender, yang umurnya kira-kira tiga-empat tahun di atas Jiyong. “Wine yang biasa?”

“Tidak, onii-san. Aku ingin tahu apa kau melihat Kiko?” Jiyong balik bertanya. Ia sedikit meninggikan suaranya, mengingat volume dari musik DJ itu benar-benar memekakkan telinga.

“Oh, dia sedang menunggumu di Blue Room, Jiyong-kun. Apa kau tidak ingin aku mengantarkan sebotol wine untuk menemani kalian mengobrol?” tawar si bartender.

“Tidak usah repot-repot, onii-san,” tolak Jiyong dengan sopan. “Aku pergi dulu, ya? Arigato gozaimasu, onii-san,”

Setelah pergi dari meja bar, dengan cepat Jiyong pergi menuju Blue Room yang terletak di lantai dua AGH club. Privacy room, dengan tingkat kenyamanan yang maksimal.

photo1

Sesampainya di Blue Room, tidak butuh waktu lama bagi Jiyong untuk menemukan sosok wanita yang dicintainya. Gadis berambut pendek itu sudah duduk di salah satu sofa di Blue Room, mengenakan kemeja berwarna putih dipadukan dengan rok mini warna hitam. Gadis yang bernama lengkap Mizuhara Kiko itu sedang menikmati segelas cocktail Singapore’s sling kesukaannya.

kikomizuhara

Jiyong mendekati gadis itu dan langsung duduk di hadapannya sambil tersenyum manis. Melihat kedatangan Jiyong, Kiko menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Namun, senyumannya tidak selebar biasanya. Reaksinya tidak seceria seperti biasa mereka bertemu. Jiyong tahu kenapa gadis ini bertingkah sedikit dingin. Dan mau tak mau harus siap mendengar penuturan gadis itu.

“Onii-chan,” sapa Kiko. Suaranya yang lembut menggetarkan relung hati Jiyong.

“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Jiyong.

“Tidak begitu,” jawab Kiko pendek. “Kau tidak memesan apa-apa?”

“Tidak, karena…”

“Ah, aku lupa. Besok live tour-mu. Aku tahu aku salah mengajakmu bertemu malam ini. Dan aku tahu sebenarnya kau tidak diperbolehkan keluar, apalagi untuk bertemu denganku. Gomen, onii-chan. Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah lagi, tapi kali ini aku perlu bertemu denganmu,” potong Kiko. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Senyuman yang menyiratkan kesedihan, kepedihan.

Mendengar Kiko mengungkapkan hal semacam itu membuat Jiyong tak enak hati. Perasaan bersalahnya semakin membesar. “Kiko, bukankah kita sepakat untuk tidak membahas masalah ini lagi? Masalah ini sudah selesai kita rundingkan dan, please, Kiko… Kita bisa membicarakan hal lain. Bicara apa saja, tentang semua aktifitasmu selama ini. Semua hal di saat kita tidak meluangkan waktu bersama-sama,”

“Kita memang sepakat untuk tidak membahas masalah itu lagi, tapi tetap saja. Aku ini perempuan, onii-chan. Aku tidak bisa terus membendung rasa sakit ini selama lima tahun. Tidak bisa. Rasanya aku ingin menyerah saja,” ungkap Kiko dengan air mata yang membendung di kedua pelupuk matanya.

Jiyong menggenggam telapak tangan kanan Kiko erat-erat dan menatap kedua mata gadis itu dalam-dalam. “Ada apa lagi, Ki? Ceritakan semua padaku. Dan tolong jangan katakan ‘menyerah’ untuk yang kesekian kalinya. Apa kau tidak lelah?”

“Kau lelah, ‘kan onii-chan? Aku tahu kau lelah karena sifatku ini,” ujar Kiko, yang semakin membuat Jiyong serba salah. “Tapi aku juga merasa sangat terbebani. Aku merasa sakit, terpuruk, bahagia, dan merasa terbang tinggi di saat yang sama ketika aku berada di dekatmu ataupun ketika aku memikirkanmu. Aku mencintaimu, tapi tidak ada satu orang pun yang ingin mendukung perasaanku. Orang-orang yang kau cintai dengan sepenuh hati membenciku. Yang Hyun-suk dan VIPs. Mereka adalah orang yang paling berarti buatmu, dan merekalah yang tidak menyetujui hubungan kita. Rasanya, semakin besar aku mencintaimu, semakin besar juga rasa bersalahku, onii-chan,”

“Apa ada yang menyakitimu lagi? Apa mereka mengatakan hal yang tidak-tidak padamu, bae? Kau orang yang kuat, aku tahu itu. Gomen, ini semua salahku. Mereka menghujatmu karena aku. Kau berjanji untuk tetap bertahan, ‘kan? Please, dear. Jangan hanya karena itu kau ingin menyerah lagi,” mohon Jiyong. Ia semakin mengeratkan genggamannya. “Aku mencintaimu,”

“Kalau hanya alasannya itu, aku bisa bertahan sampai kapanpun kau mau, onii-chan. Aku hanya tinggal menutup kedua telingaku dan mencintaimu dengan tenang. Tapi apa kau tahu ini tidak semudah yang kau ucapkan? Kita jarang berkomunikasi karena kau sibuk bekerja. Kau bahkan tidak bisa bebas bertemu denganku meskipun aku ada di negara yang sama denganmu. Bloody hell, Ji. Aku ingin marah pada Yang Hyun-suk. Aku ingin marah pada orang-orang yang menghalangi kita untuk bertemu! Tapi aku tidak bisa. Kau mencintai mereka. Kau mencintai pekerjaanmu lebih dari apapun.

“Aku tidak sanggup lagi, onii-chan. Rasanya menyesakkan bila aku harus memilih untuk tetap bertahan lagi. Rasanya sudah cukup aku harus memendam semua ini selama lima tahun. Lagipula, untuk kedepannya aku akan sibuk dengan photoshoot-ku dan akan sibuk dengan world tour-mu. Tidak akan ada waktu untuk kita bertemu. Dan aku tidak yakin kalau kau membuang waktu sibukmu dengan berkencan denganku,” jelas Kiko, yang kini wajahnya sudah memerah karena amarah dan air matanya yang jatuh berlinangan.

“Dan apa sekarang kau mulai menyalahkan pekerjaanku lagi, Ki? Apa kau mulai kembali menyalahkan sesuatu yang kucintai?” tanya Jiyong marah.

“Aku menyalahkan perasaan kita masing-masing. Kenapa aku harus bertemu dan mencintaimu, onii-chan? Meskipun begitu, aku bahagia sekali memiliki perasaan hangat ini setiap aku memandang wajahmu, onii-chan. Dan selain itu, alasan kenapa aku memantapkan hati untuk benar-benar berpisah denganmu malam ini adalah karena aku sudah tidak bisa mentolerir kedekatanmu dengan banyak wanita. Aku tahu kau suka berpesta sana-sini, tapi aku tidak suka kalau para gadis itu datang dan mengunjungi apartemenmu. Keluar masuk ke dalam apartemenmu seakan-akan itu juga apartemen mereka. Satu lagi, sepertinya Yang Hyun-suk benar-benar ingin membuat kita berpisah, ya? Sampai-sampai asisten Big Bang sekarang adalah seorang perempuan cantik yang masih muda dan fresh,”

“Kau benar, Ki. Dia juga cantik dan tubuhnya begitu memanjakan mataku,” sambung Jiyong. Matanya berkilat marah.

Kiko bangkit berdiri. Ia menatap Jiyong dengan pandangan yang begitu menyakiti perasaan Jiyong. “Aku pergi, onii-chan. Sampai nanti. Semoga kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku. Seseorang yang lebih mengerti dirimu, seseorang yang sabar. Dan… Onii-chan. Aku bahagia sekali sempat bersamamu,”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Kiko berbalik dan pergi dari Blue Room, meninggalkan Jiyong yang masih shock dengan keputusan Kiko yang sepihak. Dan sepeninggalnya Kiko, Jiyong mengusap seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sangat frustrasi. Kiko tidak tahu, ia tidak tahu betapa Jiyong mencintainya. Betapa dia sangat ingin mempertahankan gadis itu sampai akhir. Betapa dia tidak ingin melepaskan tangan gadis itu untuk yang kesekian kalinya.

~~~

“Tsk, ke mana perginya namja itu? Sudah hampir dua jam dia pergi kenapa belum kembali? Aku akan benar-benar membunuhnya kalau dia pulang dalam keadaan mabuk,” gumam Taeyeon. Gadis itu tengah duduk di dalam lobby hotel sambil sesekali berdiri untuk sekedar mengintip ke arah jalanan apakah sosok Kwon Ji Yong itu sudah terlihat atau belum.

Saat ini pukul 01.00 KST. Wajah Taeyeon tampak lelah. Matanya mulai memerah karena menahan kantuk yang menyerangnya sejak satu jam yang lalu. Awalnya ia merasa tidak peduli dengan kepergian Jiyong karena Seunghyun yang memintanya untuk memberi Jiyong sedikit kelonggaran sekali saja, malam ini saja. Namun, ketika semua member Big Bang memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya masing-masing, Yang Hyun-suk tiba-tiba saja menghubunginya dan bertanya bagaimana keadaan Jiyong.

 

-Flashback On

“Taeyeon-ah, apa keadaan semuanya di sana aman? Bagaimana kondisi member Big Bang saat ini?” tanya Hyun-suk.

“Y…ye, ahjussi. Semuanya aman terkendali di sini. Mereka baru saja makan malam dan setelah istirahat sebentar, mereka langsung ke kamanya masing-masing,” jawab Taeyeon dengan intonasi suaranya yang kelihatan sekali kalau dia tengah salah tingkah. Taeyeon tahu dirinya merasa sangat bersalah. Ia menyalahgunakan kepercayaan seseorang yang sudah sangat dihormatinya itu.

“Ah, begitu?” tanya Hyun-suk lagi. Taeyeon mengangguk dalam diam dan ia kembali menunggu Hyun-suk bersuara kembali. “Aku baru saja mendapat kabar kalau Jiyong sedang berada di club AgeHa dan bertemu dengan Mizuhara Kiko. Taeyeon-ah, apa kabar itu benar? Aku sangat berharap itu sama sekali tidak benar, Tae. Aku tahu aku bisa mempercayaimu, bukan?”

Taeyeon menahan nafasnya. Kedua matanya membelalak dan ia mengigit ujung jari ibunya, gugup. “Itu… Benar, ahjussi,”

Hyun-suk seketika diam. Taeyeon hanya bisa mendengar suara nafasnya di telepon dan ia tidak berani untuk buka suara terlebih dahulu.

“Kita akan bicara setelah kalian pulang dari tour, Taeyeon-ah,”

Sebelum Taeyeon dapat berkata apa-apa lagi, Hyun-suk langsung memutuskan sambungan telepon mereka.

Flashback Off

 

Taeyeon kembali menghela nafasnya dengan frustrasi. Ia tidak ingin memikirkan hal apa yang akan dikatakan Hyun-suk nanti setelah mereka kembali ke Korea. Tapi tidak bisa. Raut wajah Hyun-suk yang kecewa terngiang di benaknya. Bagaimana kalau Hyun-suk memutuskan untuk menghentikan kontrak kerjanya dan menghubungi Yuri, sedang Yuri tengah sibuk dengan pekerjaannya? Taeyeon hanya akan melukai perasaan sahabatnya yang setengah mati ia jaga dari dulu.

Merasa kesabarannya habis ditambah dengan rasa kantuk yang semakin merajalela, Taeyeon berniat untuk menyusul ke AgeHa club tersebut. Entah apa yang akan ditemuinya dia tidak peduli. Laki-laki itu tidak kunjung mengangkat teleponnya dari tadi.

Baru saja gadis itu hendak melangkah keluar hotel, matanya menangkap sosok laki-laki berjaket hitam, menggunakan masker, dan sedang berjalan menuju hotel dengan langkah terburu-buru. Taeyeon menghembuskan nafas lega dan detik itu juga Taeyeon langsung keluar dari hotel untuk menghampirinya, membuat Jiyong sedikit tersentak kaget.

“Kenapa kau lama sekali?” tanya Taeyeon cepat. “Jiyong-ssi,” tambahnya.

“Aku baru pergi dua jam yang lalu. Kenapa kau bertanya seakan-akan aku sudah pergi semalaman?” Jiyong balik bertanya.

“Kau pergi tanpa bilang terlebih dulu padaku. Kau tahu itu tidak boleh. Hyun-suk ahjussi sudah menyuruhku untuk tidak mengizinkanmu pergi ke mana-mana apapun itu alasannya. Kau tahu itu dan tetap melanggarnya. Kau tahu dan tidak mau memberitahuku karena kau tahu, aku tidak akan mengizinkanmu. Dan sekarang aku dalam posisi yang tidak mengenakkan. Hyun-suk ahjussi tahu kau pergi dan dia sangat kecewa padaku. Apa yang harus kukatakan padanya saat kita kembali ke Korea?” protes Taeyeon kesal. Ia berusaha keras untuk tidak meninggikan suaranya, apalagi saat ini mereka sedang berada di depan hotel.

“Katakan padanya kau tidak tahu apa-apa karena ini murni kesalahanku. Kau hanya cukup menjelaskannya dengan jujur. Ini semua kesalahanku, aku memohon pada Tabi hyung untuk pergi sebentar saja dan tidak bilang apa-apa padamu. Katakan itu dan semuanya akan baik-baik saja, ‘kan?” jelas Jiyong dengan suaranya yang pelan.

Dari raut wajahnya, Taeyeon tahu sekarang ini Jiyong kelihatan sangat kelelahan, sangat tertekan. Wajahnya menyiratkan kesedihan dan tidak ingin diganggu. Tapi Taeyeon tidak peduli.

“Semuanya baik-baik saja? Kenapa fikiranmu bisa sedangkal itu?! Mungkin Hyun-suk tidak akan kecewa padaku lagi. Tapi dia akan jauh lebih kecewa pada Seunghyun oppa. Pasti ada alasannya kenapa kau tidak diperbolehkan pergi. Seunghyun oppa juga pasti tahu dan dia membiarkanmu pergi. Dan semuanya tidak akan baik-baik saja seperti dugaanmu sebelumnya,” bantah Taeyeon.

“Apa kau tahu kalau aku pergi ke sana bukan untuk bersenang-senang? Aku juga tidak akan melanggar janji dengan Hyun-suk hyung kalau tidak ada hal yang sangat penting. Arraseo, aku tidak akan mengungkit nama Tabi hyung. Apa itu sudah cukup?!” tanya Jiyong, yang juga mulai merasa kesal.

“Dengar,” ujar Taeyeon dan ia memelankan kembali suaranya, berusaha tenang. “Aku tidak tahu apakah bertemu dengan Mizuhara Kiko itu merupakan hal yang sangat penting atau tidak. Aku tidak tahu alasan apa yang membuat Hyun-suk ahjussi melarangmu pergi ke mana-mana selama berada di Jepang ini. Aku rasa Hyun-suk ahjussi melakukan itu untuk keselamatanmu, untuk dirimu sendiri. Dia melakukan itu karena mengkhawatirkanmu. Jadi, kumohon jangan abaikan permintaannya,”

Bullshit,” desis Jiyong. “Hentikan omong kosong murahan mengenai kecemasannya atau apapun itu padaku. Kau tidak akan pernah tahu apa alasannya, Kim Taeyeon-ssi. Ne, kau tidak tahu apa-apa. Jangan bicara seperti itu layaknya kau tahu banyak hal. Jadi, cukup katakan kalau aku salah dan jangan berasumsi mengenai apapun tentang Hyun-suk dan aku yang kau tidak tahu,”

Taeyeon diam. Ia sedikit terluka mendengar ucapan Jiyong yang hampir seratus persen benar. Dia memang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu alasan apa yang membuat Hyun-suk melarang keras Jiyong pergi ke manapun selama ia berada di Jepang. Dia tidak tahu seberapa pentingnya dia harus pergi ke AgeHa club itu tengah malam begini, dengan banyaknya paparazzi di luar sana yang haus akan hot news para idol-nya.

“Tapi, tetap saja!” seru Taeyeon, begitu Jiyong sudah melangkahkan kakinya menuju hotel. Mendengar seruan Taeyeon, laki-laki itu berhenti, meskipun dia tidak membalikkan tubuhnya. “Setidaknya kau harus hati-hati. Kau bilang Hyun-suk ahjussi melarangmu pergi bukan karena dia mencemaskanmu. Tapi aku rasa, mencemaskanmu adalah salah satu alasan setelah alasan utamanya. Dia takut kau tertangkap kamera paparazzi sedang mabuk berat. Itu akan merusakkan citramu lagi, ‘kan?”

Jiyong mendengus tertawa dan menghela nafas cukup panjang. “Maksudmu dia tidak ingin marijuana scandal  itu terulang lagi? Apa kau tahu satu hal, Kim Taeyeon? G-Druggie tetaplah G-Druggie di mata orang-orang. Simpan saja khayalanmu, Taeyeon-ssi. Dia tidak akan mencemaskan itu. Kau tidak perlu mengurusi hal semacam itu, Taeyeon-ssi. Antara aku dan Hyun-suk hyung tidak perlu diketahui oleh orang luar sepertimu,”

Bang! Kalimat terakhir Jiyong benar-benar skak-mat bagi Taeyeon. Kalimat itu secara perlahan-lahan menorehkan luka di hati Taeyeon. Hebat, Kwon Ji Yong. Dua kali.

Selesai berkata seperti itu, Jiyong memasukkan tangannya ke dalam saku jaket hitamnya di bagian kanan dan mengeluarkan satu kotak rokok bermerk. Ia membuka tutupnya dan mengambil satu. Sebelum laki-laki itu sempat mencari pemantik rokoknya, Taeyeon dengan cepat merebut rokok itu.

“Sudah larut malam. Bukannya kau sebaiknya tidur? Aku akan simpan rokokmu dan jangan pernah memintanya kembali,” ujar Taeyeon. Sebelum gadis itu pergi, ia juga merampas satu kotak rokok itu dari tangan Jiyong, membuat laki-laki itu shock dan terperangah.

“Arraseo, tapi kau tidak perlu mengambil semuanya!” seru Jiyong pada Taeyeon, yang langsung melesat masuk ke dalam hotel tanpa menggubris seruan seorang G-Dragon. “Aish!”

Sambil menggerutu, Jiyong memutuskan untuk masuk ke dalam hotel juga dan menuju kamarnya. Di pertengahan lobby, ia bertemu dengan Seunghyun.

“Eoh? Kau sudah pulang?” tanya Seunghyun.

“Kau sudah lihat aku, ‘kan hyung?” Jiyong balik bertanya dengan nada sarkastiknya.

Relax, man. Ada apa? Kau tampak tidak dalam mood yang baik,” ujar Seunghyun.

Jiyong diam dan ia lebih memilih memusatkan perhatiannya pada sebuah akuarium besar di sudut kiri lobby daripada menjawab pertanyaan sahabat karibnya itu. Menjawabnya justru akan membuat Jiyong lebih frustrasi lagi. Ia akan mengingatnya kembali, saat di mana hubungannya dengan seseorang yang sangat ia cintai sudah benar-benar tidak bisa tertolong lagi.

Dan Seunghyun tahu itu. “Ah, kau putus dengan Kiko lagi? Apakah kali ini real? Tidak sekedar ‘berpisah-sebentar-dan-dinginkan-kepala-sembari-instrospeksi-diri’?”

“Dia sudah tidak bisa mentolerir apa-apa lagi, hyung. Dia bahkan menyalahkan kesibukanku, menyalahkan pekerjaanku. Rasa sakit hatinya karena tidak bisa diterima oleh Hyun-suk hyung dan fans-ku dia lampiaskan pada jadwal Big Bang. Dia marah karena aku terlalu cinta pada pekerjaanku, terlalu mementingkan duniaku. Dia tahu aku sangat mencintai ini semua. Dan dia pernah bilang untuk akan selalu mengerti, sebagaimana aku mengerti bagaimana dia sangat mencintai dunia modeling.

“Aku tahu dia bukan marah karena itu. Aku tahu dia sudah tidak bisa lagi menahan beban dengan menjadi kekasih seorang G-Dragon. Aku tahu dia lelah karena kami terus bersembunyi. Aku tahu dia ingin hubungan kami diberi restu oleh Hyun-suk hyung dan VIPs, seperti Youngbae dan Hyo-rin noona. Aku tahu dia sudah sampai pada puncak kesabarannya. Tapi tidak bisakah, satu menit saja, dia memikirkan perasaanku? Dia terlalu kekanak-kanakkan, hanya memikirkan perasaannya sendiri. Bahkan dia terlalu cemburu dengan kedatangan Taeyeon. Bitch,” jelas Jiyong dengan wajah kelamnya. Jiyong adalah sosok laki-laki yang memiliki perasaan lembut dan sensitive. Kalau saja dia bukan laki-laki, mungkin saat ini air matanya sudah tidak bisa ia bendung lagi.

“Masalah itu lagi? Maksudku, selama ini kalian putus dan kembali lagi juga karena masalah ini, ‘kan? Aku tidak tahu kalau Kiko begitu perasa dan sensitive,” ungkap Seunghyun, sedikit mencela. “Meskipun begitu, ada kemungkinan kalian untuk kembali lagi seperti yang lalu-lalu. Tapi, kali ini Taeyeon masuk dalam daftar permasalahan kalian? Woah, bukankah itu sudah sangat berlebihan? Seharusnya dia tahu seperti apa Kim Taeyeon itu. Satu-satunya perempuan yang menolak seorang G-Dragon se-charming apapun dia. Dan sosok perempuan yang tidak dilirik satu detikpun oleh G-Dragon se-perfect apapun gadis itu. Bagaimana dia bisa cemburu pada hal itu?”

“Nado molla,” jawab Jiyong acuh tak acuh. Dia sudah cukup lelah hari ini dengan hanya memikirkan gadis yang bernama Kiko itu.

“Dan apakah kau bertengkar dengan Taeyeon karena masalah itu?” tanya Seunghyun.

“Mwo? Kenapa kau bisa bilang begitu, hyung?” Jiyong balik bertanya.

“Ani, hanya saja aku melihat kalian sedang mengobrol di depan hotel dari dalam kamarku. Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi dari wajahmu kau sama sekali tidak senang, begitu juga dengan dia,” jawab Seunghyun.

“Ah, itu. Kami tidak bertengkar. Hanya saja dia sedikit menggangguku. Ne, aku tahu aku salah. Aku tidak minta izin padanya untuk keluar malam ini. Aku tahu dia diminta oleh Hyun-suk hyung untuk mengawasiku dan aku tahu dia tidak akan membiarkanku pergi. Aku tahu dia sudah sangat ketakutan karena Hyun-suk hyung tahu aku pergi. Dia marah padaku, tapi aku balik marah padanya,” jelas Jiyong.

Dan laki-laki itu baru saja ingat. Ia ingat satu per satu ucapannya pada Taeyeon. Dan ada beberapa ucapannya yang membuat Taeyeon sakit hati. Ia tahu gadis itu sakit hati karena ia juga baru saja ingat bagaimana reaksi gadis itu.

 

“Ne, kau tidak tahu apa-apa. Jangan bicara seperti itu layaknya kau tahu banyak hal. Jadi, cukup katakan kalau aku salah dan jangan berasumsi mengenai apapun tentang Hyun-suk dan aku yang kau tidak tahu,”

“Kau tidak perlu mengurusi hal semacam itu, Taeyeon-ssi. Antara aku dan Hyun-suk hyung tidak perlu diketahui oleh orang luar sepertimu,”

 

Damnit!” gumam Jiyong.

“Waeyo?” tanya Seunghyun heran.

“Sepertinya aku sudah bicara yang tidak-tidak pada gadis itu. Sepertinya aku sudah sedikit melukai perasaannya,” jawab Jiyong.

“Dia tidak marah padamu, my G,” ujar Seunghyun sembari tersenyum kecil. “Dia memang ketakutan begitu Hyun-suk hyung meneleponnya dan tahu kalau kau melarikan diri. Dia memang tidak tenang memikirkan betapa kecewanya Hyun-suk hyung begitu kita kembali ke Seoul nanti. Tapi di balik itu semua, dia tidak marah padamu. Dia hanya kesal. Ne, sangat kesal. Dia begitu mencemaskanmu sampai-sampai dia kesal padamu,”

“Mwo?” tanya Jiyong, tidak percaya dengan ungkapan terakhir dari Seunghyun.

“Aku sudah dengar semuanya dari Taeyeon tentang keadaanmu sebelum kita berangkat ke Jepang, bro. Kau benar-benar out of control kalau sudah stress dan berhadapan dengan alkohol, eh?”

 

Flashback On

“Wae geuraeyo? Apa yang kau fikirkan? Wajahmu kusut sekali,” tanya Seunghyun pada Taeyeon yang saat itu sedang duduk di lobby hotel sembari mengetik sesuatu di ponselnya.

“Hyun-suk ahjussi baru saja meneleponku. Dia tahu di mana Jiyong dan aku tahu dia sangat kecewa padaku. Aku melanggar janjiku padanya,” jelas Taeyeon. “Oppa, setiap hal yang kukerjakan, aku selalu ingin memberikan yang terbaik, apa kau tahu? Meskipun aku lelah, aku ingin hasil yang kukerjakan itu bisa memuaskan banyak orang. Seperti halnya menjadi seorang author webtoon. Dami eonni tidak pernah lembut padaku kalau soal pekerjaan. Aku tahu dia benci dengan yang namanya ‘malas’ dan ‘tidak pernah tepat waktu’. Dan sebisa mungkin aku akan bekerja semaksimal yang aku bisa agar tidak mengecewakannya. Aku bukanlah tipe orang yang suka membuat orang kecewa. Dami eonni sudah percaya padaku seratus persen. Aku tidak mau mengurangi kadar kepercayaannya satu persenpun. Dan aku ingin melakukan hal yang sama untuk Hyun-suk ahjussi. Tapi sepertinya aku gagal. Aku benci itu,”

“Ya, Taeyeon-ah,” panggil Seunghyun pelan. “Ini semua bukan salahmu, eoh? Aku akan jelaskan semuanya pada hyung kalau si Jiyong brengsek itu melarikan diri. Aku akan katakan padanya kalau akulah yang mengizinkan Jiyong pergi. Tidak perlu khawatir, arra? Aku akan pastikan Hyun-suk hyung tidak mengurangi kadar kepercayaannya padamu,”

“Bagaimana denganmu? Lebih baik Hyun-suk ahjussi marah padaku daripada dia harus marah padamu. Kau tahu alasan dia tidak mengizinkan Jiyong ke mana-mana dan kau membiarkannya pergi, oppa? Bukankah itu sama saja dengan membawa dirimu pada ambang kematian?” tanya Taeyeon sambil tertawa kecil.

Seunghyun juga ikut tertawa. “Jiyong akan menyelesaikannya. Dia tidak akan membiarkanmu dapat masalah apalagi ini kesalahannya. Meskipun laki-laki itu terkadang tidak memakai otaknya, tapi dia adalah orang yang sangat baik hati,”

Taeyeon menghela nafas panjang dan ia menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. “Bastard,”

“Nugu? Jiyongie?” tanya Seunghyun. “Kau sangat marah padanya, ya? Jiyong pabo. Kau tidak menyukainya dan dia tahu itu. Seharusnya dia memberikan kesan baik padamu, ‘kan?”

“Bagaimana bisa dia pergi ke club dan bersenang-senang di sana?! Kalau saja dia bukan maniac alkohol, aku bisa tenang sedikit,” ujar Taeyeon.

“Apa maksudmu?” tanya Seunghyun. “Jiyong ke sana bukan untuk bersenang-senang. Dia hanya ingin menyelesaikan sedikit masalah,”

“Masalah? Apa dengan begitu dia akan minum banyak?” tanya Taeyeon.

“Biasanya begitu. Kalau masalahnya selesai dengan baik dia tidak akan minum terlalu banyak,” jelas Seunghyun.

“Daebak,” gumam Taeyeon, semakin frustrasi.

“Apa ada masalah dengan itu?” tanya Seunghyun, yang juga ikut khawatir.

“Dia mabuk berat sehabis party sebelum keberangkatan kalian ke Jepang, oppa. Dia bahkan pingsan! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau aku tidak menyimpan satu kotak darah kelinci itu untuk menambah stamina tubuhnya. Dia memuntahkan semua isi alkohol itu kemarin. Seorang vampire yang minum terlalu banyak alkohol, wine, dan sejenis itu, tidak akan bagus untuk tubuhnya. Aku tahu itu karena baca buku tentang vampire. Dia terbiasa minum darah. Apa dia berencana menggantikan darah itu dengan wine?! Dan sekarang, kalau masalahnya semakin besar dan dia memutuskan untuk melampiaskannya dengan bir, apa yang harus aku lakukan, oppa? Ada banyak hal negative yang sekarang terngiang-ngiang di benakku dan tidak berani untuk menyuarakannya,” jelas Taeyeon. Nada dari suaranya menunjukkan bahwa dia sangat frustrasi, panik, bingung, sekaligus takut.

“Dia tidak pernah mabuk berat sampai sebegitunya, Tae. Setiap dia ada masalah atau ada hal yang mengganggunya, kami selalu menyibukkan dia dengan pekerjaannya,” ujar Seunghyun pelan. “Jadi, kau tidak marah padanya, ‘kan Taeng? Kau hanya khawatir dengan keadaannya di sana, ‘kan?”

“Kalau kejadian kemarin terulang lagi, aku akan menemukan sungai paling dalam di Jepang ini dan aku bersumpah akan menenggelamkannya hidup-hidup, oppa. Aku benci jika seseorang membuatku khawatir seperti ini. Dia juga sama sekali tidak mengangkat teleponku!”

Flashback Off

 

“Kesal sekaligus cemas padamu. Lucu, ‘kan?” tanya Seunghyun. Ia tersenyum kecil pada Jiyong. Sedangkan Jiyong sebaliknya. Wajahnya begitu terperangah mendengar penjelasan Seunghyun. “Sepertinya kau sudah salah mengartikan kemarahannya tadi. Dan kau juga salah sudah menyakiti perasaannya yang halus,”

Jiyong hanya diam. Mendengar semua penuturan Seunghyun membuatnya semakin tidak enak hati pada gadis itu.

~~~

Taeyeon merasakan semilir angin dingin menyelimuti tubuhnya, membuat dirinya sedikit bergidik. Dengan malas, ia membuka kedua kelopak matanya perlahan. Ia heran kenapa tubuhnya bisa merasakan hembusan angin dingin, sedangkan tubuhnya sendiri dibalut dengan selimut tebal milik hotel. Dan lagi, sejak awal ia berada di kamar ini, suasana angin dingin ini juga tidak ada.

Taeyeon menolehkan kepalanya ke arah kanan, tepatnya ke arah jendela kamar hotel. Betapa kagetnya gadis itu saat matanya menangkap sosok seorang laki-laki tengah berdiri tidak jauh dari jendela kamarnya. Laki-laki itu… Bukankah itu…

img_20150615_075849

Secepat kilat Taeyeon menekan tombol ‘on’ pada lampu meja yang tidak jauh dari jangkauannya. Begitu lampu itu menyala, sosok itu hilang. Taeyeon terduduk di atas tempat tidurnya dan mulai berusaha untuk berfikir jernih.

Yang ia lihat tadi adalah Kwon Ji Yong.

Taeyeon benar-benar melihat wujudnya, melihat wajahnya, melihat keberadaannya di kamar ini. Dan sekarang ia menghilang. Meskipun lampu kamarnya ia matikan, kamar hotel ini tidak benar-benar gelap. Ada sedikit cahaya dari jendela yang menerangi kamarnya. Dan dia memang melihat laki-laki itu.

Apakah ia sedang bermimpi? Ya, mungkin itu hanyalah mimpi. Tapi ia tahu kalau ia sudah bangun karena angin dingin itu. Apa ia berkhayal? Kemungkinan, dan Taeyeon akan menafsirkan hal itu sebagai khayalannya saja.

Shit! Ia tidak bisa tidur lagi. Matanya tidak mau terpejam kembali meskipun ia sudah merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas tempat tidurnya. Padahal gadis itu sangat mengantuk. Tapi kedua matanya tidak mau berkompromi. Ia akan tertidur kalau lampu kamarnya dimatikan, dan Taeyeon sedikit ketakutan untuk mematikan lampu kamarnya.

~~~

“Gadis itu bernama Aiko dan ia sedang menuju ke sini. Begitu dia sudah sampai, aku akan langsung menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarmu. Kau harus selesai sebelum semuanya bangun, arra? Sekitar satu jam cukup, ‘kan? Karena pukul tujuh nanti waktunya sarapan,” jelas Taeyeon pada Jiyong di depan kamar Jiyong. Gadis itu membaca notes-nya sambil menguap. Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Ada apa denganmu?” tanya Jiyong heran.

“Aku mengantuk,” jawab Taeyeon pelan. Ia menyimpan kembali notes-nya di dalam tas dan gadis itu berulang kali mengedipkan kedua matanya, berusaha mengusir rasa kantuk yang mengganggu. Kyeopta.

“Apa kau tidak tidur?” tanya Jiyong lagi.

“Bagaimana bisa aku tidur kalau kau…” Taeyeon langsung membungkam mulutnya. Ia ingin mengatakan kalau ia tidak bisa tidur karena takut akan melihat sosok Jiyong lagi di dalam kamarnya. Walaupun ia sudah meyakinkan dirinya kalau itu hanyalah khayalannya saja, tapi di dalam hatinya dia merasa Jiyong datang ke kamarnya, dan itu sudah tidak bisa masuk di akal lagi.

“Kalau aku? Apa?” tanya Jiyong penasaran.

“Ani… Bagaimana bisa aku tidur kalau menunggu seseorang yang melarikan diri dari hotel sampai larut malam? Maksudku, aku tidur tentu saja. Tapi aku tetap merasa mengantuk,” kilah Taeyeon.

Jiyong diam sembari menatap Taeyeon ke dalam matanya dan Taeyeon juga balas memandang kedua manik mata milik Jiyong. Tatapan Jiyong yang sedikit tajam perlahan-lahan melembut dan Taeyeon agak terkejut melihat perubahan tatapannya. Laki-laki itu seperti berusaha membaca apa yang ada di dalam mata Taeyeon. Hebatnya, mata Jiyong sama sekali tidak berkedip setelah beberapa detik lamanya ia memandangi kedua mata Taeyeon. Meskipun gadis itu tidak ingin terlalu lama membalas tatapan Jiyong, tapi ia sudah terlanjur hanyut dalam tatapan laki-laki itu, terlanjur terperangkap di dalamnya.

Starring game itu dihentikan oleh Taeyeon, yang buru-buru menundukkan wajahnya. Ia memalingkan wajah dan berdeham pelan.

tumblr_n1riwmb59i1ro01g6o3_250

“Kalau begitu, aku pergi dulu,” pamit Taeyeon. Ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari hadapan Jiyong.

“Chakkamanyeo!” seru Jiyong tiba-tiba.

Taeyeon memutar tubuhnya dan mengangkat sebelah alisnya, bertanya ‘ada apa’ pada laki-laki itu.

Jiyong membuka mulutnya dan kata-kata maaf hampir meluncur keluar. Ia ingin minta maaf karena sudah bicara kasar pada gadis itu. Ia menyesal karena telah salah sangka. Ia ingin mengucapkan kata maaf sekaligus terima kasih.

“Cuci wajah bantalmu itu. Aku tidak mau kau ikut melihat rehearsal kami dengan tampang seperti itu,” tutur Jiyong dan ia segera menutup pintu kamarnya, membuat wajah Taeyeon tercengang.

Di dalam kamarnya, Jiyong berdiri bersandar di belakang pintu sambil menepuk-nepuk dahinya dan bergumam, “Pabo” pada dirinya sendiri.

“Mwo? Wajah bantal? Apa wajahku seburuk itu? Ya! Aku sudah mandi, apa kau tahu?! Aigoo, geu namja,” seru Taeyeon kesal dan ia kembali melanjutkan langkahnya menuju lobby hotel.

~~~

Rehearsal -Tokyo Dome-

“Jiyong-ah!” panggil Ji Sung, asisten Hyun-suk, yang sedang berlari menghampiri Jiyong dan naik ke atas panggung. Kelima members Big Bang tengah sibuk mempersiapkan banyak hal untuk konser world tour MADE nanti malam. Kelimanya sudah hafal dengan keseluruhan konsep dan sekarang hanya tinggal mengecek ulang semua kebutuhan yang akan mereka perlukan selama berada di atas panggung.

“Ada apa, hyung?” tanya Jiyong. Ia menghentikan obrolannya dengan Youngbae dan memusatkan perhatian untuk Ji Sung.

Ji Sung menyerahkan sebuah amplop warna merah pada Jiyong, yang langsung diterima Jiyong dan dibukanya. “Undangan makan malam dari Mr. Kawamura Satoru? Siapa ini?”

“Kudengar dia adalah salah satu teman baik Hyun-suk hyung. Dan Mr. Kawamura ini mengagumimu, itu sebabnya dia mengundangmu datang ke tempatnya untuk acara makan malam. Sekaligus merayakan acara ulang tahunnya. Jadi, ini bukan sekedar makan malam biasa, Ji. It’s a party!” jelas Ji Sung dengan senyum lebarnya. “Ah, tapi ini bukan party yang biasanya. Mr. Kawamura ini seorang pendeta terkenal, jadi tidak ada wine, girls, dan semacamnya,”

“Gwaenchanna. Aku hanya harus datang, bersalaman, dan berfoto setelah itu pulang, ‘kan? Okay, aku akan hadir besok malam. Kebetulan, aku juga tidak ada acara apa-apa besok dan rasanya membosankan kalau malam terakhir di Jepang kuhabiskan dengan bersama members Big Bang yang lain,” ujar Jiyong sambil bercanda.

“Ya, Ji! Kami juga akan berpesta, tenang saja,” balas Youngbae.

“Arraseo, arraseo. Masih ada beberapa jam lagi sebelum konser dimulai. Sepertinya aku ingin tidur sebentar,” kata Jiyong. Ia bangkit berdiri dan pergi menjauhi Youngbae, yang sekarang tengah sibuk berdiskusi dengan beberapa staff mengenai solo performance-nya.

Jiyong membuka pintu ruang ganti dan masuk ke dalamnya. Ia bercermin sebentar dan hendak tidur di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut. Betapa terkejutnya ia saat ia mendapati sosok Kim Taeyeon sedang tertidur dengan nyamannya di atas sofa tersebut, dengan satu kakinya terjuntai ke bawah.

Jiyong menghela nafas kecewa dan ia memutuskan untuk keluar saja, mencari tempat lain untuk tidur. Sebelum laki-laki itu keluar, Jiyong menghampiri Taeyeon dan mengangkat satu kakinya yang terjuntai ke atas sofa, setidaknya gadis itu bisa merasa lebih nyaman lagi. Beruntung, Taeyeon hanya menggerutu tidak jelas dalam tidurnya begitu kakinya diangkat oleh Jiyong.

Selesai itu, tanpa mau berlama-lama Jiyong melangkah keluar dari ruang ganti dan menutup pintunya pelan-pelan.

“Eoh? Jiyong-ah?” sapa salah seorang crew yang tidak Jiyong ketahui namanya. “Apa ada seseorang di dalam?”

“Ada, hyung. Asistenku,” jawab Jiyong.

“Ah, Kim Taeyeon-ssi, asistenmu yang cantik itu, ‘kan?” tanya crew itu. Ia mengangguk dan tiba-tiba saja senyumnya melebar dan Jiyong merasa ada sesuatu yang aneh saat melihat senyumnya. “Ada sesuatu yang tertinggal di dalam dan aku mau mengambilnya sebentar,”

Jiyong mengangguk pelan dan ia menggeser tubuhnya agar orang itu bisa masuk. Pintu ruang ganti tertutup di belakang Jiyong, meninggalkan kesan yang kurang mengenakkan saat crew itu masuk. Jiyong menggelengkan kepalanya, menganggap mungkin itu hanya perasaannya saja. Dan ketika ia mengayunkan kakinya beberapa langkah menuju tempat lain, laki-laki itu refleks membalikkan tubuhnya dan membuka pintu ruang ganti dengan penuh kekuatan.

“Hyung!” seru Jiyong. Ia melihat crew tadi sedang mengambil tas ransel besar dan memakainya di punggung.

“Ada apa, Ji?” tanya crew itu dengan pandangan heran sekaligus terkejut. “Apa kau ada perlu denganku?”

“Kau mengambil tas apa itu, hyung?” Jiyong balik bertanya.

“Tasku. Isinya peralatan kamera untuk konser. Aku lupa membawanya keluar,” jawab crew itu. “Ada yang salah, Ji?”

“Ah… Aniya, hyung. Tidak ada yang salah. Joseonghamnida,” jawab Jiyong. Wajahnya sedikit memerah karena malu. Ia telah berfikiran yang tidak-tidak mengenai orang yang ada di hadapannya ini.

“Eung, baiklah kalau begitu,” ujar si crew dan ia hendak keluar. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruang ganti, ia mengucapkan sesuatu pada Jiyong. “Sepertinya Taeyeon-ssi kedinginan, Ji. Ia menggelungi tubuhnya seperti ular. Lucu sekali,”

Dan crew itu pergi sambil menutup pintunya. Jiyong mencerna perkataan orang itu dan ia menghampiri Taeyeon. Benar saja, gadis itu bergelung. Ruangan ini memang sangat dingin, mengingat AC-nya yang besar dan ada dua di setiap sudutnya. Tapi ia masih tidur dengan nyenyaknya. Nafasnya begitu teratur dan mulutnya sedikit terbuka.

“Apa dia tidak membawa jaketnya?” gumam Jiyong sembari memeriksa isi tasnya. Yang ia lihat hanya ponsel, buku, dan tas kecil berisi alat make up-nya. Jiyong mengambil buku itu dan membaca judulnya, Vampires Academy.

Ia tersenyum kecil memandang buku itu. Buku itu pernah dilihatnya dan betapa paniknya waktu itu saat ia membuka buku itu. Awalnya Jiyong merasa sedikit tersinggung karena Taeyeon membaca buku hal-hal yang berbau ‘vampires’ dan berniat mencari kelemahannya. Nyatanya, gadis itu hanya ingin tahu apa-apa yang diperbolehkan dan dilarang untuk vampires, nyatanya gadis itu hanya ingin ‘menjaganya’.

Tiba-tiba saja ingatannya melayang pada kejadian di mana ia mabuk berat dan pingsan di kamarnya sendiri. Ia ingat memuntahkan semua isi alkohol itu di atas jaket milik Taeyeon.

Jaket? Ah, Jiyong pabo. Tentu saja gadis itu tidak membawa jaketnya. Jaket itu baru saja dicuci oleh Taeyeon dan ia meninggalkannya di apartemen Big Bang.

Sambil berdecak Jiyong melepaskan jaket MADE putih miliknya dan ia menyelimuti tubuh gadis itu. Saat ia menyelimuti Taeyeon, tangannya tidak sengaja sedikit menyentuh kulit wajah gadis itu. Nafasnya juga mengenai pori-pori pergelangan tangan Jiyong, membuat buku kuduk laki-laki itu berdiri. Tubuhnya menegang dan seperti ada aliran listrik yang menyengat saat ia menyentuh kulit Taeyeon. Buru-buru Jiyong menjauhi tangannya dan ia memilih duduk di kursi depan cermin.

Jiyong menghela nafas dengan berat. Ia merasa tubuhnya begitu sensitive sekali dengan seorang Kim Taeyeon. Tidak, bukan tubuhnya. Melainkan monster dalam dirinya yang begitu penasaran sekali dengan darah gadis itu. Dan menyentuh kulit gadis itu, menciumi harum tubuhnya membuat monster dalam dirinya terbangun dan menggeram lapar. Kalau saja ia tidak berusaha mati-matian mengontrol dirinya sendiri, mungkin detik itu juga ia akan melumat tubuh Taeyeon habis-habisan.

Jiyong membuka buku itu dan membaca secara acak halamannya. Ia berusaha untuk tidak membayangkan betapa manisnya darah itu jika melewati kerongkongannya. Dan begitu ia membuka salah satu halaman buku itu, sebuah foto jatuh ke lantai.

Jiyong termangu sesaat sebelum ia mengambil foto itu dan mengamati wajah sosok laki-laki yang terdapat dalam foto. Matanya terbelalak lebar, seakan-akan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini…”

~~~

VIPs!!! Big Bang is my everything!!!” seru Seungri pada seluruh VIP yang ada di dalam konser tersebut. Suaranya yang menggema dan menggetarkan konser tersebut sontak membuat para VIP menyambut teriakan Seungri dengan gegap-gempita.

We like 2 party! Yeay… yeay…yeay…yeay! We like 2 party! Everybody sing it now!” seru Youngbae sembari mengayunkanya tangan kanannya ke atas, mengajak semua VIP bernyanyi. Detik berikutnya, teriakan-teriakan semua orang yang ada di konser itu berganti menjadi nyanyian We Like 2 Party.

Di sisi lain bangku penonton, tepatnya di bagian VIP, sosok perempuan cantik bertubuh mungil juga ikut bersenandung sambil menggerakkan tubuhnya sedikit mengikuti alunan musik. Ia tersenyum lebar dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat menikmati konser MADE Tour Big Bang itu. Ya, ia adalah Kim Taeyeon, asisten mereka sendiri, yang entah sejak kapan mulai menikmati musik mereka.

giphy

Taeyeon mengeluarkan ponselnya dan ia segera menyorot G-Dragon dengan kamera ponselnya dan menggunakan aplikasi snapchat. Lalu, beberapa detik kemudian, hasil sorotan tadi ia lihat. Ia berencana mengirimkannya untuk Hyoyeon, fangirl berat G-Dragon. Tidak lupa ia mengetik sesuatu pada snapchat-nya.

‘Live G-Dragon di depan mata~ Aku harap kau tidak iri, my boo’

Save. Dan Taeyeon seketika itu juga langsung terkikik geli membayangkan seperti apa reaksi salah satu sahabatnya itu. Ia tahu Hyoyeon pasti ingin sekali berada di posisinya saat ini. Namun, mau bagaimana lagi, tuntutan pekerjaan yang sulit ditolak terkadang membuatnya sulit untuk pergi ke mana-mana, termasuk hangout bersama mereka bertujuh.

 

-Live chat with Hyo-

Hyoyeon Kim : Kyaaakkkk!!! TT.TT Kenapa mereka memilih tanggal yang tidak pas untukku!

Taeyeon Kim : Mianhae, Bae. Aku akan melakukan live report untukmu kalau kau mau kekeke~

Hyoyeon Kim : You’re so lucky, Boo. Sepertinya kau senang sekali, eoh? Apa kau senang mengerjaiku atau kau sudah mulai menyukai boyband yang kau anggap sebagai tempat kumpulan bad boy?

Taeyeon Kim : Mereka menakjubkan

Taeyeon Kim : …

Hyoyeon Kim : Omo omo omo omo… Sepertinya aku mencium hal-hal yang mencurigakan selama kau menjadi asisten mereka, Taeng~

Taeyeon Kim : Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa! Perv!

Hyoyeon Kim : Mwoya? Kau berfikiran apa? Aku bahkan tidak mengarah ke sana. Dasar Byuntae! Atau apakah memang sudah terjadi sesuatu?

Taeyeon Kim : Annyeong, Kim Hyoyeon

Hyoyeon Kim : Ya! Kau berutang cerita padaku, Kim Taengoo!

 

Taeyeon tersenyum simpul membaca chat terakhir dari sahabatnya itu sebelum menutupnya. Setelah itu, ia menyimpan ponselnya dan kembali fokus ke stage. Dan kedua matanya tidak sengaja menangkap sosok Jiyong, yang sibuk bergelayut manja dengan Seungri dan boneka pandanya. Tak jarang juga Jiyong menyeka keringat yang mengucur di dahi maknae itu dengan penuh sayang.

Taeyeon lagi-lagi tersenyum, sedikit terpukau dengan yang dilihatnya. Perhatian dan kasih sayang Jiyong pada members yang lain memang bukan hal yang asing lagi. Namun, baru kali inilah Taeyeon merasakan ketulusan dari laki-laki itu.

Gadis itu masih memandangi Jiyong dan Seungri saat kedua tangannya meremas erat jaket putih MADE milik Jiyong. Ia menundukkan wajahnya dan memandangi jaket itu. Jaket itu sudah menyelimuti tubuhnya saat ia terbangun dari tidurnya yang nyenyak sebelum konser dimulai. Ia terbangun dan terkejut saat tubuhnya merasa hangat di ruangan yang dingin itu. Dari harum parfumnya, Taeyeon yakin sekali jaket itu milik Jiyong.

Hal yang sangat kecil sekali. Tapi bagi Taeyeon, hal itu berdampak luar biasa untuknya. Setiap ingat itu, perasaan hangat selalu menyelimuti hatinya. Ia juga merasa tidak pantas untuk menganggap Kwon Ji Yong sebagai sosok bad boy, playboy, apalagi monster.

Taeyeon mengangkat wajahnya dan pandangannya sekali lagi jatuh pada Jiyong, yang saat itu tengah tersenyum lembut menatap fans-nya dari ujung ke ujung. Ketika kedua mata Jiyong tidak sengaja jatuh pada Taeyeon, Taeyeon tersentak kaget dan ia tidak berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Ia balas memandang laki-laki itu.

Senyum lembut Jiyong memudar dan ia juga tidak melepaskan pandangannya dari Taeyeon. Mereka saling berpandangan, staring game, bahkan dalam jarak yang jauh sekalipun. Tatapan Jiyong sangat tajam, membuat bulu kuduk Taeyeon meremang. Ia meremas jaket putih MADE itu dan dengan susah payah menelan ludahnya. Gadis itu punya perasaan kalau Jiyong sedang mencoba membaca fikirannya, dan Taeyeon tahu itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal.

G

Entah sudah berapa lama dirinya terperangkap dalam staring game itu. Dan begitu seluruh lampu di stage mati, Taeyeon langsung menghela nafas panjang.

~~~

High five!” seru Taeyeon gembira saat kelima member Big Bang masuk ke ruang ganti dengan tubuh penuh peluh. Daesung, Seungri, Seunghyun dan Youngbae melakukan high five riang dengan Taeyeon dan langsung duduk di atas sofa sembari meminum air mineral yang sudah Taeyeon sediakan. Jiyong yang masuk belakangan sedikit terkejut melihat Taeyeon berada di depan pintu dan hendak mengangkat kedua tangannya, ingin ber-high five.

Namun, saat tahu kalau sosok yang ada di hadapannya adalah Jiyong, Taeyeon dengan cepat menurunkan lengannya dan memasang wajah datar. Ia sedikit berdeham untuk menyembunyikan rasa canggungnya.

“Chukkae,” ujar Taeyeon pelan dan ia membalikkan tubuhnya, masuk ke dalam ruang ganti dan duduk di salah satu sofa yang berada dalam ruangan itu. Jiyong mengikuti Taeyeon dan ia duduk di samping Seunghyun.

“Hyung, ayo buat party,” ajak Seungri pada keempat member lainnya. Ia memotong daging steak yang berada di hadapannya dan langsung memakannya. Salah seorang YG Staff sedang membersihkan wajahnya dari make up.

After party seperti biasanya?” usul Youngbae, yang juga ikut makan, sambil sesekali mengetik sesuatu dalam ponselnya.

“Eung, besok malam. Otte?” tanya Seungri.

“Di Camelot Club?” tawar Seunghyun sambil mengeluarkan smirk-nya, membuat Seungri, Youngbae dan Daesung tertawa.

“Assa! Ide bagus! Baiklah, Camelot Club, we’re coming soon!” seru Seungri. “Ah, tapi Jiyong hyung tidak bisa bergabung, eoh?”

“Wae?” tanya Daesung langsung.

Semua mata tertuju pada Jiyong, termasuk Taeyeon. Jiyong mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap mereka satu-satu. “Ah, ne. Aku baru dapat undangan makan malam dari teman dekat Hyun-suk hyung, Mr. Kawamura Satoru. Kalian bisa bersenang-senang tanpa aku di sana,”

“Aigoo, tentu saja tidak,” potong Daesung. “Hyung, kau bisa menyusul kami setelah makan malam di sana, walaupun kau tidak makan. Kami akan menunggu kedatanganmu, hyung, okay? Kau sepertinya butuh hiburan,”

“Sangat butuh hiburan dan kami akan membantumu untuk mencari gadis Jepang yang lain,” tambah Seunghyun, yang membuat Jiyong melempar handuk kecilnya ke arah Seunghyun sambil tertawa.

“Taeng eomma juga tidak akan ketinggalan, ‘kan?” tanya Seungri.

“Ne?” Taeyeon balik bertanya. Sebenarnya ia bingung mau ikut atau tidak. Jika mereka terpisah seperti ini, bukankah seharusnya ia ikut Jiyong, karena selain menjadi asisten Big Bang, ia diutamakan Yang Hyun-suk untuk menjadi asisten Jiyong.

“Kau boleh ikut dengan mereka atau stay di hotel. Seperti yang mereka katakan, aku hanya bertemu dengan Mr. Kawamura itu, bersalaman dengannya dan bergabung bersama mereka. Dan aku yakin mereka juga tidak akan mengizinkan aku minum banyak,” jawab Jiyong tanpa menatap ke arah Taeyeon.

“Tidak boleh stay di hotel, ikut saja dengan kami, eomma. Di sana kau akan merasakan surga dunianya Jepang!” seru Seungri sambil terkikik geli dan ia langsung mendapat timpukan bantal dari Youngbae.

~~~

“Ya, Jiyong-sii! Chakkamanyeo!” seru Taeyeon. Ia sedikit berlari menyusuri lorong hotel untuk mendekati Jiyong. Laki-laki itu hendak masuk ke dalam kamar hotelnya dan ia berhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya, lebih tepatnya berteriak.

“Ada apa?” tanya Jiyong dengan suara dinginnya.

“Jeoseonghamnida, aku mengganggumu. Tapi, aku hanya ingin mengembalikan jaket ini,” jawab Taeyeon. Ia mengulurkan jaket putih MADE milik Jiyong yang sudah ia lipat dengan rapi. Jiyong menerima jaket itu. “Gamsahamnida atas pinjaman jaketmu dan selamat beristirahat,”

“Aku ingin tanya sesuatu,” ujar Jiyong cepat, sebelum Taeyeon pergi dari hadapannya.

“Apa?” Taeyeon balik bertanya, bingung.

Selang beberapa detik Jiyong tidak juga mengeluarkan suaranya. Ia memandang Taeyeon dengan pandangan  yang sulit diartikan, dan itu membuat Taeyeon sedikit tidak nyaman. Jujur saja, Jiyong bingung ingin mulai dari mana. Ia begitu penasaran. Sangat.

“Sepertinya tidak jadi,” ujar Jiyong tiba-tiba dan ia membuka pintu kamar hotelnya.

“Ah, chakkaman!” cegah Taeyeon. “Aku tidak tahu, tapi sebaiknya kau harus berjaga-jaga untuk besok malam. Aku dengar Mr. Kawamura Satoru itu adalah pendeta, jadi…,”

“Jadi buat apa aku harus berjaga-jaga?” potong Jiyong cepat. “Tidak akan ada alkohol ataupun para perempuan yang darahnya menggoda di acara makan malam itu. Dan aku fikir, acara itu juga akan dipenuhi dengan tamu undangannya yang berumur sama dengan Mr. Kawamura Satoru ini. Tidak akan ada yang perlu kau cemaskan, Taeyeon-ssi. Terima kasih atas perhatianmu, tapi jujur saja rasa cemasmu ini sedikit menggangguku. Besok malam, percayalah. Aku tidak akan berubah menjadi monster berbahaya dan menjijikkan yang haus akan darah,”

“Aku tidak bermaksud mengatakan itu,” sela Taeyeon.

“Jalja,” ucap Jiyong dan ia masuk ke dalam kamarnya, tanpa menunggu pernyataan Taeyeon lagi.

“Aish, keras kepala, jinjja. Biarkan saja, aku tidak peduli!”

Maka, keesokan malamnya, pada pukul tujuh petang di wilayah Tokyo dan sekitarnya, Jiyong beserta supirnya langsung melesat ke alamat yang tertera di kartu undangan Mr. Kawamura Satoru itu. Tidak butuh waktu lama, mereka langsung sampai di tempat yang dituju. Betapa tercengangnya Jiyong, tempat yang dimaksud adalah sebuah gereja.

“Ahjussi, apa kau tidak salah alamat?” tanya Jiyong. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

Supir mobil Jiyong keluar dan ia langsung membukakan pintu untuk Jiyong. “Animnida, Tuan Kwon. Mr. Kawamura Satoru yang mengundangmu sudah menunggu di depan pintu gereja. Mar, Tuan,”

Jiyong tertegun. Sambil merapikan jasnya, atau lebih tepatnya untuk menyembunyikan rasa gugupnya, Jiyong keluar dari mobil dan ia langsung dihampiri oleh sepasang paruh baya, yang Jiyong yakini sebagai Mr. Kawamura Satoru beserta istrinya.

“Senang akhirnya kau bisa datang memenuhi undanganku, Kwon Ji Yong-ssi,” sapa Mr. Kawamura Satoru dengan bahasa Korea yang kental dengan logat Jepangnya.

Jiyong balas menyapa dengan membungkukkan tubuhnya, memberi hormat dengan sopan. Setelah berkenalan dan berbasa-basi, Mr. Kawamura Satoru mengajak Jiyong masuk ke dalam gereja, yang sudah dihias dengan sangat cantiknya malam itu. Begitu Jiyong melangkahkan kakinya masuk ke dalam gereja, ekspresinya langsung berubah. Antara kagum, gugup, dan… takut.

“Selamat datang di Harajuku Church, Jiyong-ssi,”

harajuku_church_07

Gereja yang sangat indah, mewah, dan elegan. Gereja yang bisa menyeret Jiyong pada lubang kematian kapan saja.

~~~

“Mwo?! Eomma Taeng, kenapa tidak ikut?” tanya Seungri kesal.

“Ada hal yang ingin kukerjakan, Seungri-ah. Mianhae, jeongmal mianhae,” jawab Taeyeon dengan wajah memelas, yang mampu meluluhlantakkan hati Seungri saat itu juga.

“Arraseo, arraseo. Aku juga tidak bisa memaksamu. Camelot club ini memang sedikit berbahaya untuk gadis yang sangat innocent sepertimu, eomma Taeng. Stay di hotel dan tunggu kami pulang, okay?” pamit Seungri. Ia melambaikan tangannya dengan riang lalu masuk ke dalam mobil. Daesung juga ikut melambaikam tangannya di mobil yang sama dengan Seungri.

“Kami pergi. Hubungi aku jika ada apa-apa, atau lebih tepatnya jika kau kesepian,” canda Seunghyun. Taeyeon tertawa. Ia melambaikan tangannya pada Seunghyun dan Youngbae dan menatap kepergian mobil mereka sampai menghilang dari pandangannya.

Taeyeon menatap langit malam dan ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar hotelnya saat tubuhnya merasakan semilir angin dingin mulai menyerang. Gadis itu awalnya berniat untuk ikut after party, tapi entah kenapa hati nuraninya menolak. Dan akhirnya di sinilah dia, sendirian di dalam kamar sambil mendengarkan musik lewat earphone-nya selama hampir satu jam.

Kedua mata gadis itu hendak terpejam tepat saat ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk. Taeyeon tersentak kaget dan ia langsung bangkit dari tempat tidur. Diambilnya ponselnya dan dilihatnya nomor yang tak dikenal.

“Yeoboseo?” sapa Taeyeon dengan ragu-ragu.

“Taengie-ah,” panggil seseorang yang berada di seberang telepon.

Jantung Taeyeon serasa berhenti berdetak detik itu juga. Tubuhnya membeku, aliran darahnya juga berhenti mengalir. Suara ini, panggilan ini. Mungkinkah…?

“Nugu…,”

“Ini aku, Taengie-ah. Apa kabar selama enam tahun ini? Baik-baik sajakah?”

Dang!

Enam tahun. Ya, selama enam tahun Taeyeon menunggu orang ini menghubunginya. Enam tahun laki-laki itu menghilang dari hidupnya. Enam tahun Taeyeon menunggu bagaikan orang bodoh. Enam tahun lamanya dan ia sama sekali tidak bisa melupakan laki-laki itu. Enam tahun lamanya ia merindukan semua yang ada di diri laki-laki itu.

“Oppa?” panggil Taeyeon. Suaranya berubah serak. Taeyeon tahu laki-laki itu tahu kalau sekarang, saat ini, Taeyeon tidak bisa menahan air matanya.

“Mianhaeyo, Taengie-ah. Aku tidak punya muka untuk meneleponmu, aku tidak tahu diri. Tapi… aku sangat merindukanmu, Taeng. Aku ingin bertemu denganmu, bolehkah? Karena ada begitu banyak hal yang ingin ku jelaskan padamu. Banyak sekali, dan kurasa aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon,”

Taeyeon terdiam untuk beberapa saat. Jantungnya masih berdebar-debar, seperti dulu. Semuanya masih seperti dulu, yang itu artinya kalau perasaannya juga masih sama seperti dulu, seperti pertama kali ia jatuh cinta pada laki-laki itu. Tapi, ia teringat apa yang kemarin Tiffany sarankan padanya.

“Jika pilihan pertama menjadi alasannya untuk mengajakmu bertemu bahkan ia sampai bilang sangat merindukanmu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau, dengan bodoh dan lugunya, kembali menerimanya? Okay, kita tidak tahu pasti kenapa enam tahun yang lalu dia melepasmu. Tapi aku sangat menyarankan padamu, Taeng, jangan terlalu egois untuk menerima kembali hatinya,”

“Oppa, aku… Jeongmal mianhae. Untuk sekarang aku benar-benar sibuk, aku tidak berada di Korea. Aku akan segera mengabarimu, oppa,” jawab Taeyeon pelan. Di dalam hatinya, ia merasa kecewa karena menolak bertemu.

“Gwaenchannayo, Taeng. Aku akan menunggu kabar darimu,”

Taeyeon tersenyum lembut dan sedih. Ia tidak ingin segera menutup teleponnya, ia masih ingin mendengar suara laki-laki itu, ia masih ingin mendengar deru nafasnya walaupun melalui telepon. Taeyeon begitu merindukannya, sampai-sampai ia merasa bisa menghirup aroma tubuhnya di sekitarnya. Apakah laki-laki itu juga merasakan hal yang sama? Walaupun ia mengatakan merindukan Taeyeon, bukan berarti ia masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu, ‘kan? Think again, Tae.

“Oppa,” panggil Taeyeon lagi, setelah beberapa detik lamanya mereka terdiam. “Bagaimana kabarmu?”

“Tidak lebih baik semenjak enam tahun yang lalu, Taeng. Rasa bersalahku padamu begitu besar. Selama ini, aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bisa segera bertemu denganmu. Aku selalu tidak punya kesempatan waktu itu. Mianhae. Dan kurasa sekaranglah saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya,”

Semuanya. Rasa bersalah. Apa dia tahu kalau meninggalkan Taeyeon dan memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang masuk akal merupakan kesalahan? Dan apakah ini artinya ada alasan kenapa dia melakukan itu? Dan jika ia sudah menjelaskannya, akan ada kemungkinan untuk mereka kembali bersama. Membayangkannya saja sudah membuat Taeyeon melayang. Dan ia akan tunjukkan pada teman-temannya, kalau selama ini ia mati-matian menjaga perasaannya itu tidak akan sia-sia.

“Aku juga ingin cepat-cepat bertemu denganmu, oppa. Dan, jebal. Jangan terlalu menyalahkan dirimu…,”

Ucapan Taeyeon terputus karena ia mendapat telepon yang lain. Taeyeon mengecek nomor yang memanggilnya itu. Nomor Jiyong.

“Ada apa, Taeng?” tanya laki-laki yang berada di seberang telepon itu.

“Oppa, aku akan mengabarimu lagi nanti. Mianhaeyo, jinjja. Tapi ada telepon masuk dan sepertinya telepon ini begitu penting,” jelas Taeyeon.

“Arraseo, Taeng. Aku akan menutup teleponku. Aku tunggu kabarmu, eoh? Ppay~,”

Telepon mereka detik itu juga terputus. Taeyeon menghela nafas kecewa. Ia tidak ingin berakhir begitu cepat dan ini karena laki-laki brengsek itu meneleponnya! Ada apa? Kenapa ia menelepon.

“Yeoboseo? Kenapa kau meneleponku, Jiyong-ssi? Apa kau tahu kalau kau…,”

“Agasshi, jeoseonghamnida. Apa kau masih berada di hotel?” tanya seseorang yang suaranya bukanlah suara Jiyong.

“Ne, aku masih di hotel. Nuguseyo? Bukankah ini nomor Kwon Ji Yong?” Taeyeon balik bertanya dengan penuh kehati-hatian.

“Aku adalah Tuan Jang yang membawanya ke tempat Mr. Kawamura Satoru, agasshi. Tuan Kwon jatuh sakit mendadak, dan sepertinya sakitnya lumayan parah. Keringatnya tidak kunjung berhenti dan tubuhnya dingin sekali! Aku tidak tahu apa yang terjadi, agasshi. Nafasnya tidak teratur,”

“Tenanglah, ahjussi!” sela Taeyeon panik. Ia menggigiti kukunya, otaknya berputar hebat dan bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan Jiyong. “Apa kau sedang menuju kembali ke hotel?”

“Ye, agasshi. Tuan Kwon minta untuk kembali ke hotel dan sekarang ia tidak sadarkan diri di bangku belakang. Kami akan sampai di hotel sepuluh menit lagi, agasshi,”

“Arraseo, aku akan tunggu di bawah,” ujar Taeyeon cepat. Buru-buru diambilnya sweater miliknya dan tanpa membuang waktu sedetik saja, Taeyeon melesat turun dan menunggu kedatangan Jiyong di depan hotel.

Selama menunggu, Taeyeon berulang kali menelepon keempat member Big Bang, beberapa staff yang ikut party, dan bahkan ia menelepon hairstyle Big Bang, tapi tidak ada satupun yang mengangkat teleponnya. Gadis itu juga berulang kali untuk menenangkan batin serta dirinya, namun gagal. Ia panik dan tidak punya akal apa-apa atas sakitnya Jiyong yang mendadak ini.

Sepuluh menit kemudian, mobil yang membawa Jiyong tadi akhirnya muncul. Supir yang bernama Tuan Jang itu keluar dan dengan cepat ia membopong tubuh lunglai Jiyong keluar dari mobil. Taeyeon menghampiri mereka dan ternyata Jiyong memang sudah tidak sadarkan diri. Keringat mengucur dari dahinya, tubuhnya dingin sekali, seakan-akan membeku. Wajahnya pucat dan Taeyeon takut kalau-kalau Jiyong bisa saja mati mendadak.

“Ahjussi, tolong bawa dia ke kamarku,” ajak Taeyeon cepat.

Mereka berdua sama-sama membopong tubuh Jiyong menuju kamar Taeyeon. Sesampainya di kamar Taeyeon, Tuan Jang dengan perlahan membaringkan Jiyong di atas tempat tidur.

“Apa yang terjadi padanya, ahjussi?” tanya Taeyeon cemas. Gadis itu terus-menerus memegang dahi dingin Jiyong dan mengusap keringatnya.

“Nado molla, agasshi. Tuan Kwon tidak menunjukkan gejala sakit saat kami berangkat tadi. Tapi, begitu masuk ke dalam gereja tempat undangan makan malam Mr. Kawamura Satoru, ia mulai pucat. Aku tanya ada apa tapi dia jawab tidak apa-apa. Dan di tengah-tengah makan malam, Tuan Kwon permisi pulang dan langsung memintaku untuk kembali ke hotel,”

“Gereja?” tanya Taeyeon.

“Ye, agasshi. Tempat makan malamnya diadakan di Harajuku Church,”

Taeyeon berdecak dan ia mengacak-acak rambutnya. Pabo Jiyong! Jinjja-jinjja pabo! Itulah yang ingin ia katakan kemarin malam sebelum Jiyong masuk ke dalam kamarnya. Tapi laki-laki itu malah keras kepala dan tidak mendengarkan.

Taeyeon memang sudah tahu pasti apa penyakit laki-laki itu. Tapi, ia harus bagaimana? Cara satu-satunya adalah ia harus minum darah. Darah siapa?

“Ahjussi, bisakah aku minta tolong lagi? Tolong pergilah ke Camelot club dan jumpai member Big Bang yang lain atau staff yang kau jumpai di sana. Katakan pada mereka, Jiyong sedang sakit,” pinta Taeyeon frustrasi.

“Ye, agasshi,” jawab Tuan Jang dan ia keluar dari kamar Taeyeon.

Begitu Tuan Jang keluar, Taeyeon mendekati Jiyong dan ia kembali mengusap keringat laki-laki itu dengan sapu tangan miliknya.

“Jiyong-ssi, kau mendengarku? Jiyong-ssi, jebal jawablah,” pinta Taeyeon dengan sedikit menggoyangkan pundak kiri Jiyong.

“Kka…,” jawab Jiyong. Suaranya sangat pelan, seperti berbisik. “Jangan di sini…,”

“Kau menyuruhku pergi dan bagaimana dengan dirimu? Mati perlahan-lahan dan membuat diriku seolah-olah pembunuh?!” tanya Taeyeon kesal.

Jiyong mengangkat sedikit kepalanya. “Kau akan menyesal jika satu menit saja berada di sampingku,” ancamnya. Dengan kasar, Jiyong menyingkirkan tangan Taeyeon dari dahinya.

Taeyeon tahu dengan jelas apa yang membuat Jiyong mengusirnya. Ia takut jika kelepasan, dan Taeyeon jauh lebih takut lagi, apalagi mendengar ancaman Jiyong barusan. Taeyeon tidak ingin meninggalkan Jiyong tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Laki-laki ini bisa mati kapan saja jika ia tidak minum darah untuk mengisi ulang energinya.

Tanpa kurang akal, Taeyeon mengambil ponselnya dan keluar dari kamar. Di depan pintu, Taeyeon buru-buru menghubungi Hyun-suk dan memohon agar ia cepat mengangkat teleponnya. Beruntung, dering kelima, Taeyeon bisa mendengar Hyun-suk menyapanya.

“Ahjussi, jebal,” lirih Taeyeon.

“Ada apa, Taeyeon-ah? Ada apa dengan suaramu?” tanya Hyun-suk yang tak kalah khawatir.

Tanpa banyak basa-basi, Taeyeon menceritakan semuanya pada Hyun-suk. Dari awal sampai akhir. Ia juga tidak mengizinkan Hyun-suk menyela ceritanya, dan Hyun-suk mencermati cerita Taeyeon tanpa banyak menyela. Taeyeon dapat mendengar nafas Hyun-suk yang tertahan akibat shock bukan main karena mendengar cerita Taeyeon.

“Eotteokajyo, ahjussi? Aku sudah menyuruh Tuan Jang untuk mengabarkan pada member yang lain dan mereka akan membawa entah-siapa untuk Jiyong minum darahnya. Sekitar satu jam lagi, dia bisa bertahan untuk satu jam lagi, ‘kan, ahjussi?” tanya Taeyeon.

“Taeyeon-ah,” panggil Hyun-suk. Suaranya terdengar tenang dan berat di saat bersamaan. Taeyeon tahu Hyun-suk juga sedang berfikir cepat. “Kau tahu kalau vampire tidak bisa menunggu lama. Kau tahu betapa sekaratnya Jiyong apalagi ketika ia sudah mendengar nyanyian gereja. Jika sudah seperti ini, bahkan semenit menunggupun tidak bisa! Jika kau memintanya untuk menunggu selama satu jam, kenapa kau tidak menyuruh Jiyong untuk mandi sinar matahari saja? Hal itu lebih baik daripada menahan rasa sakit yang ujung-ujungnya juga akan membuatnya tak bisa bergerak lagi!”

Taeyeon meringis pelan. Ia tahu, ia sungguh-sungguh tahu. Tapi, oh God, tidak bisakah ia pura-pura tidak tahu? Dan hal yang paling ditakuti Taeyeon di dunia ini sudah berada di hadapan matanya, ketika Hyun-suk kembali berujar.

“Taeyeon-ah, tidak bisakah kau menolong uri Jiyong? Kali ini saja, Taeyeon-ah. Hanya kali ini,”

 

 

 

 

 

-To Be Continued-

Mianhae untuk keterlambatan yang entah keberapa kalinya ini TT.TT lagi sibuk ngerjain tugas dan UAS sudah berada di depan mata #poorauthor #saveauthor
harapannya sih bisa update lebih cepet lagi jadi kalian ngga perlu nunggu lamaa dan berharap juga masih ada yang stay buat ff ini hihihi^^

Enjoy reading and comment, chingudeul kekeke

Annyeong~

Advertisements

181 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 4)

  1. Keren.. makin bikin penasaran, lanjut thor. lumayan lama juga ya updatenya:( semoga chapter selanjutnya ga terlalu lama updatenya~ figthing!

  2. salam kenal author. aku reader baru.
    dan untuk pertama kali nya baca ff GTae.
    ff nya bagus bgt. mian lgsung koment di chap ini.
    seneng bisa baca ff Soshibang. ternyata aku bisa masuk kedalam cerita nya. walau baru pertama kali baca ff dgn cast member Bigbang dan Soshi.
    btw cepet dilanjut ya thor. ^^

  3. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Yang hyun suk jahat juga nyuruh taeyeon nolongin jiyong :”
    Tpi demi kebaikan jiyong sih, taeyeon pasti mau. Gak bosen baca cerita ini 😀

  6. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Author… You is the best. Jjang! Hwaiting!
    • Kasihan Jiyong, lalu apa Taeyeon akan jadi korban?
    • Sempat mikir juga Taeyeon akan nolong Jiyong. Taeyeon tidak hilang ingatan mengenai pengambilan darah. Special? Hehe….
    • Kesan jadi vampir pantes banget, Jiyong.
    • Rambut orange Jiyong bagus banget.
    #GTAE #ROYALISTDREAMER #leadercouple
    • Next chapter… See you. HWAITING! 😀

  11. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s