Skellington [Part 13]

SKELLINGTON Part 13 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11| Part 12

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing

.

.

.

.

.

Aku tak percaya diperlakukan dengan kasar oleh para maniak sains ini. Begitu aku menyatakan kesetujuanku untuk serius menjadi pendamping Baekhyun yang sudah mengingat masa lalunya, 3 orang yang memakai jas laboratorium menghampiriku. Salah satunya memborgol tanganku dan 2 orang lagi menjaga depan dan belakangku.

“Bawa dia ke lantai 9.” Ujar Sandara Park dari belakangku. “Aku akan menunggunya di sana.”

Orang yang tadinya memborgol tanganku mendorongku agar maju dan mengikutinya keluar dari ruang pertemuan. Wajah yang terakhir aku lihat adalah wajah adikku, Solar, yang seperti memberi semangat padaku. Sebenarnya bukan seperti memberi semangat, tapi lebih seperti hajar mereka semua, eonni.

Aku juga sempat melihat wajah Jessica saat teman-temannya memborgol tanganku. Dia benar-benar pasrah dan pusing melihat akibat dari sikapku yang suka tidak menurut pada apa yang dia katakan. Mungkin aku melakukannya karena aku tidak percaya padanya. Aku tidak percaya pada siapapun yang bekerja untuk proyek ini.

Aku dibawa masuk ke dalam lift dan salah satu petugas berjas laboratorium menekan tombol 9 dan aku bisa merasakan sesuatu yang sangat berat menarikku ke atas. Saat lift berhenti lantai 9, speaker di pojok lift berbunyi, “Lantai 9. Tes Memori dilaksanakan di sini.”

Tes Memori. Mendengar nama tesnya saja aku langsung membeku. Aku mungkin tidak akan bisa bergerak jika petugas di belakangku tidak mendorongku. Jika diperhatikan dari nama tes ini, mungkin mereka akan melihat semua memori yang tersimpan di otakku. Aku bersumpah akan menghajar petugas yang akan mendampingiku saat tes nanti sampai aku melihat Sandara Park menungguku di ruang tes.

Aku heran bagaimana dia bisa sampai di tempat ini sebelum aku. Apa sebagai pemimpin dari proyek Skellington, dia punya lift khusus untuk dirinya? Sebenarnya itu sama sekali tidak penting. Sepanjang rapat di ruang pertemuan tadi aku benar-benar merasa bahwa Sandara Park tidak semata-mata menjadi pemimpin proyek Skellington dengan maksud tertentu. Dia menjadi pemimpin proyek ini karena dia jenius.

“Kerja bagus kalian semua.” Ujar Sandara Park tanpa melihatku sama sekali. “Tinggalkan Kim Taeyeon di sini dan segera pasang pengaman ketat di lantai ini agar tidak seorangpun bisa mengganggu tes ini.”

3 petugas yang membawaku memberi hormat bersamaan kemudian setelah salah satu dari mereka melepas borgolku, mereka pergi secepat kilat. Langsung saja aku bisa mendengar pemberitahuan seperti, “Perhatian. Lantai 9 dilarang dikunjungi. Sensor inframerah diaktifkan. Diulangi. Sensor inframerah diaktifkan. Sensor berat diaktifkan. Diulangi. Sensor berat diaktifkan. Sensor panas diaktifkan. Diulangi. Sensor panas diaktifkan.”

Aku hanya bisa memutar bola mataku begitu mendengar pemberitahuan itu. Sekarang aku benar-benar merasa seperti permata dengan harga yang mahal dan dilindungi dengan begitu ketat. Jujur saja, memangnya apa yang istimewa dariku? Atau memangnya apa yang istimewa dari tes ini?

Di ruangan ini hanya ada aku dan Sandara Park. Ada kasur di tengah-tengah ruangan serta monitor dan kursi di dekatnya. Mungkin aku akan ditidurkan di ranjang itu sementara Sandara Park akan mengawasiku. Lalu apa fungsi monitor itu?

“Hmm… Kau benar-benar gugup, ya?” tanya Sandara Park tiba-tiba, membuatku mundur beberapa langkah. Tapi dia malah tertawa. “Ya ampun, jangan takut seperti itu. Tadi di ruang pertemuan kau terlihat berani. Rupanya hanya berlaku untu sementara, ya?”

Aku mendengus kesal. “Apa tujuan dari tes ini? Apa tes ini berbahaya?”

“Seperti yang kau dengar tadi dari Jung Jessica. Tes ini bisa saja menewaskanmu.” Ungkapnya jujur. “Tapi Dokter Yonghwa terlihat sangat serius saat berkata bahwa kau mungkin bisa membawa perubahan untuk proyek ini. Karena itu aku akan menolongmu agar kemungkinan kau tewas bisa berkurang.”

Sandara Park tersenyum. “Bagaimana kalau kau mulai dengan menghilangkan kegugupanmu? Duduklah di ranjang itu.”

Tanpa pilihan lain, aku melangkah mendekati ranjang tersebut dan duduk di ujungnya yang membuatku berhadap-hadapan dengan Sandara Park yang duduk di kursi. Dia menatapku dengan puas. “Baiklah. Karena kau bisa tewas saat menjalani tes ini, aku akan bercerita padamu sebuah rahasia penting. Dan kau boleh bicara secara informal padaku.”

Aku mengerutkan kening. “Rahasia?”

“Ya, rahasia.” Ulang Sandara Park. “Aku akan memberitahumu mengapa aku membuat proyek Skellington ini. Di balik sebuah hal yang luar biasa, pasti ada sebuah kisah luar biasa juga yang melatar belakanginya. Apa kau setuju?”

“Oke.” Jawabku cepat. “Jika itu bisa menghilangkan kegugupanku, aku akan mendengarkanmu.”

Sandara Park bertepuk tangan pelan lalu berdeham. “Ide lahirnya proyek Skellington ini berasal dari pengalamanku sendiri. Rasa cintaku yang besar terhadap adik kandungku adalah yang mempengaruhi pikiranku bahwa orang yang sudah meninggal bisa dihidupkan kembali. Dan rasa cintaku tumbuh semakin besar setelah orang tua kami bercerai.”

Aku tersentak saat mendengar bahwa orang tuanya bercerai. Itu sama saja seperti aku dan Solar. Aku juga makin menyayangi Solar setelah orang tua kami bercerai karena dia satu-satunya yang aku punya. Karena aku tidak tahan, aku dengan jujur berkata, “Karena dia satu-satunya yang kau punya.”

Sandara Park mengangguk. “Tidak ada orang di dunia ini yang lebih aku khawatirkan daripada dirinya.”

“Dia senang merakit robot,” lanjut Sandara Park setelah jeda sesaat yang menyelingi ceritanya, “Dia yakin bahwa suatu hari nanti manusia dan robot bisa hidup berdampingan. Robot akan ada untuk meringankan pekerjaan manusia.”

“Kami berjanji untuk bertemu 3 hari sekali di taman dekat sekolahnya. Selama 3 bulan pertama, dia rajin sekali datang. Bahkan dia datang lebih dulu daripada aku.” Sandara Park menatap langit-langit ruangan. “Tapi bulan-bulan berikutnya dia selalu datang terlambat. Pernah aku menunggu hingga 1 jam sampai akhirnya dia datang. Tapi dia tak pernah mengingkari janjinya. Mau musim apapun, dia akan selalu datang.”

“Satu tahun berlalu. Ada 3 hari di awal bulan April dia tidak datang menemuiku. Awalnya aku mengira dia sibuk karena dia baru saja masuk SMP. Sampai dua bulan dia tidak datang, aku benar-benar cemas dan nekat mendatangi rumah ayahku padahal sebenarnya aku dilarang ke sana.”

Aku jadi teringat betapa aku dan Solar takut untuk saling mengunjungi di rumah masing-masing. Jika Solar takut tidak dibolehkan oleh papa, aku takut jika tidak dibolehkan oleh mama. Akibatnya kami selalu bertemu di luar sekolah atau di luar rumah.

“Ayah tak mau memberitahuku di mana adikku berada. Sejak SMP dia tidak tinggal di rumah lagi dan itu membuatku semakin susah mencarinya.” Ungkap Sandara Park. “Sampai akhirnya aku mendatangi sekolahnya dan mendapat alamat dia tinggal setelah masuk SMP. Tempatnya tidak jauh dari sekolah, tapi yang membuatku terkejut adalah…”

Sandara Park bangkit dari tempat duduknya lalu membelakangiku. Dia jelas berusaha untuk menahan air matanya. “Dia sudah meninggal karena tubuhnya begitu lemah. Dia terlalu fokus untuk membangun robot yang belum sempurna sampai tidak memperhatikan dirinya sendiri. Aku menemukan tubuhnya yang terbaring, tidak bernafas, tapi di sebelahnya aku menemukan rangkaian tubuh robot yang tidak menyatu.”

Lalu untuk selanjutnya, aku bisa menebaknya. Sandara Park mengambil mayat adiknya sendiri dan menggabungkannya dengan robot yang belum sempurna itu. Dan hasilnya adalah manusia dengan tubuh robot. Berbeda dengan robot, dia dibuat untuk melengkapi kebahagiaan Sandara Park. Bukan untuk meringankan pekerjaan Sandara Park. Dan Sandara Park menamainya Skellington karena tokoh favorit adiknya adalah Jack Skellington.

“Saat itu aku mencuri uang.” Sahutnya. “Karena membuat Skellington adikku butuh biaya yang sangat besar. Aku mencuri uang dari ibuku sendiri dan saat itu aku tidak peduli meski ekonomi kami sedang susah. Tapi aku diam-diam mengembalikannya setelah adikku hidup kembali. Dengan jumlah 100 kali lipat.”

Sulit dipercaya. Mungkin karena itu Sandara Park disebut jenius. Di usianya yang sangat muda, dia sudah bisa membuat manusia dengan tubuh robot. “Kau mungkin tidak percaya tapi adikku baru ingat semua hal setelah 3 tahun hidup sebagai Skellington. Tapi yang penting adalah hasil akhirnya. Dia hidup kembali.”

Aku meneguk ludahku dengan berat. “Lalu di mana… Dia sekarang?” tanyaku gugup.

Sandara Park tersenyum. “Dia bekerja di sini, bersamaku, di proyek Skellington. Mungkin suatu hari kau bisa bertemu dengannya. Itupun kalau kau selamat dari tes ini.”

Aku menundukkan kepalaku. Tatapan Sandara Park yang bangga akan apa yang dilaluinya sebenarnya membuatku sedikit jijik. Jika Wheein ada di sini, mungkin dia akan berkata bahwa apa yang dilakukan Sandara Park benar-benar konyol.

Wheein memang benar. Mengurus hal dari masa lalu membuatmu lupa akan apa yang ada di masa sekarang. Sandara Park terlalu fokus untuk menghidupkan adiknya sendiri sampai mencuri uang dari ibunya sendiri. Dari hal itu saja sebenarnya Sandara Park tidak bisa dipercaya.

“Kau sudah mendengarkan ceritaku. Kini giliranku untuk mendengarkan ceritamu.” Lanjut Sandara Park membuatku sadar dari lamunanku. Seakan sadar bahwa aku menatapnya dengan pandangan jijik, dia menyahut, “Oh tidak. Aku tidak perlu mendengarkan ceritamu. Aku akan melihatnya sendiri. Itulah tujuan dari tes ini.”

Dan secepat kilat Sandara Park mendorongku dan menidurkanku di ranjang dengan paksa. Dia menekan layar di monitor sehingga ada tali keras yang mengikat tangan dan kakiku. Dia mengambil sebuah serum dari kantungnya dan menusukkannya ke leherku yang ditutupi perban.

“Aku akan melihat masa lalumu.” Ungkapnya dengan nada sinis. “Dan mencari tahu jawaban mengapa Skellington Byun Baekhyun memilihmu. Aku akan mencari tahu apa yang membuatmu istimewa.”

Aku memberontak tapi tidak bisa. Seluruh tubuhku terikat. Kakiku tidak bisa digerakkan. “Lepaskan… aku…”

Pandanganku mengabur. Aku bisa melihat Sandara Park di atasku dan wajahnya seakan-akan ada dua. Pendengaranku juga berkurang sampai Sandara Park terpaksa mendekati telingaku untuk berbisik, “Kau bisa tewas jika kau melawan pengaruh serum itu. Kau juga bisa tewas jika kau memaksa bangun dari tidurmu. Jadi tidurlah yang nyenyak, sleeping beauty.”

.

.

.

.

.

Aku mendapati diriku sendiri sedang berdiri di depan sebuah pohon natal. Banyak orang berlalu-lalang membuatku berpikir bahwa aku sedang berada di suatu pusat perbelanjaan. Tapi aku tidak ingat mengapa aku berada di sini.

“Taeyeon!” seru seseorang dari belakangku dan aku sangat terkejut melihat sosoknya yang memakai tuxedo dengan syal yang menutupi lehernya. Dia terlihat seperti orang dewasa dengan tubuh anak-anak.

“Baekhyun!” seru seseorang yang ada di sebelahku dan aku mematung saat melihat sosok diriku yang berumur 10 tahun. Aku ingat sekarang. Hari ini adalah hari di mana aku janjian dengan Baekhyun untuk menonton sebuah pertunjukan sulap. Appa Baekhyun adalah seorang pesulap dan beliau selalu mengadakan pertunjukan sulap di akhir tahun.

“Apa kau lama menunggu?” tanya Baekhyun lalu diriku yang kecil menggeleng. “Kenapa kau tidak memakai syal? Penting tahu, untuk menutupi lehermu!”

“Memangnya penting ya?” tanya Taeyeon kecil –aku memutuskan untuk menamai diriku yang kecil seperti itu—lalu Baekhyun mengangguk cepat. “Tapi aku tidak membawa uang untuk membeli syal…”

Baekhyun tertawa dengan cerah. “Ya ampun, untuk apa kau membeli syal? Kau boleh pakai punyaku.” Jawab Baekhyun lalu dengan cepat dia melepas syal dan melingkarinya di leher Taeyeon kecil.

Gomawo…” jawab Taeyeon kecil dengan nada manis. Lalu selanjutnya Baekhyun dan Taeyeon kecil masuk ke gedung tempat pertunjukan sulap diadakan. Mereka duduk di kursi VIP bersama eomma Baekhyun. Aku yang awalnya bingung harus duduk di mana akhirnya hanya berdiri di dekat pintu keluar darurat.

Selama pertunjukan sulap, aku hanya bisa melihat diriku yang kecil dan Baekhyun benar-benar terlihat bahagia. Aku lupa bahwa kehadiran Baekhyun di sisiku saat itu sangat penting. Mungkin tanpa Baekhyun aku tidak akan bisa datang ke pertunjukan sulap. Masalahnya tidak sesederhana itu. Mungkin tanpa Baekhyun, aku mungkin akan menghabiskan malam natal sendirian di rumah.

Appaku hebat, kan?” tanya Baekhyun sambil menatap Taeyeon kecil dengan wajah berseri-seri.

Seakan sudah kesal dengan pernyataan Baekhyun yang terkesan pamer, Taeyeon kecil mengalihkan pandangannya dari Baekhyun dan membalas, “Yang hebat kan appamu, bukan kamu!”

“Apa katamu?”

“Sudah, kalian berdua…” ujar eomma Baekhyun selembut mungkin agar tidak terdengar penonton lain. Baekhyun dengan cepat mendekati Taeyeon kecil dan melepas syalnya secara paksa. Tentu saja Baekhyun hanya bercanda tapi mungkin di mata appanya tidak seperti itu. Karena appa Baekhyun segera menjentikkan jarinya dan menyebabkan kursi Baekhyun melayang ke udara.

“Whoa…” ujarku pelan. Mungkin di dunia ini aku tidak terlihat dan tidak terdengar jadi setidaknya aku bisa tenang.

Appa Baekhyun mendekati tempat Baekhyun dan Taeyeon kecil duduk dengan penuh kharisma. “Kau tidak boleh mengganggu seorang gadis.”

“Aku tahu… Cepat turunkan aku…” gumam Baekhyun dengan nada bersalah.

Appa Baekhyun menjetikkan jarinya sekali lagi dan otomatis kursi Baekhyun kembali mendarat di karpet berwarna merah. Pertunjukan sulap berlanjut dengan lancar tapi aku hanya memperhatikan diriku yang kecil bersama Baekhyun. Mereka jarang sekali melihat ke panggung karena mereka hanya bercanda berdua.

Sepulang dari pertunjukan sulap, mereka berdua menaiki mobil Baekhyun. Eomma Baekhyun mengantar mereka kembali ke apartmen. Dan diam-diam aku masuk ke mobil itu dan kehadiranku rupanya benar-benar tidak disadari siapapun.

“Setelah tahun baru, kita harus masuk sekolah lagi!” seru Baekhyun lalu menatap Taeyeon kecil. “Apa kau sudah tahu bahwa kelas kita akan menampilkan drama Cinderella untuk pertunjukan penyambutan musim semi?”

Jinjjayo?” tanya Taeyeon kecil lalu Baekhyun mengangguk cepat. “Ya ampun, aku jadi semakin tidak sabar untuk masuk sekolah! Semoga liburan ini cepat berakhir!”

Baekhyun menggeleng-geleng membuat Taeyeon kecil maupun diriku kebingungan. “Tapi sebelum itu ada sesuatu yang harus kita lakukan!”

“Apa?” tanya Taeyeon kecil sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Tentu saja berdoa di kuil saat hari pertama tahun baru!” seru Baekhyun lalu eomma Baekhyun yang sedang menyetir tertawa kecil. “Kau tahu, jika kau memohon dengan sungguh-sungguh pada Dewa di kuil saat hari pertama tahun baru, maka permohonanmu pasti akan terkabulkan!”

“Tapi permohonanmu harus mulia…” sahut eomma Baekhyun. “Seperti meminta kesehatan atau rejeki, atau kebahagiaan…”

Taeyeon kecil tertawa kecil. “Memangnya kau mau memohon apa? Baekhyun?”

Wajah Baekhyun memerah dan dia mengalihkan pandangannya dari Taeyeon. Selama beberapa saat dia hanya memperhatikan jalanan yang tertutupi salju dan orang-orang yang sedang senang menyambut malam natal. Baru beberapa menit kemudian Baekhyun menjawab, “Kalau kau ingin tahu, datanglah bersamaku ke kuil. Aku akan menjemputmu.”

Wajah Taeyeon kecil seketika bersemu dan sepertinya eomma Baekhyun bisa melihatnya. Beliau berseru, “Waah, Baekhyun benar-benar seperti gentleman!”

Suasana hening sampai kami tiba di apartmen. Aku benar-benar lupa apa permohonan yang diajukan Baekhyun saat di kuil jadi aku memutuskan untuk melanjutkan mimpi ini. Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau tidak tapi pengaruh serum itu masih terasa di leherku. Dan seakan bisa membaca pikiranku, tiba-tiba aku terlempar ke belakang, menembus ruang waktu.

.

.

.

.

.

Aku melalui beberapa hari hingga aku tiba pada tanggal 1 Januari alias hari pertama di tahun yang baru. Aku mendapati diriku sendiri di sebuah kuil yang berada di pinggir Kota Seoul dan tak butuh waktu sampai satu menit untuk menemukan sosok Baekhyun dan Taeyeon kecil. Aku ingat bahwa ini adalah kunjungan pertamaku ke kuil setelah orang tuaku bercerai. Dan selama 2 tahun berikutnya aku selalu mengunjungi kuil bersama Baekhyun.

Appa dan eomma akan mengunjungi Rumah Raja,” ujar eomma Baekhyun begitu kami tiba. “Kalian berdua berdoalah lebih dahulu.”

Yang dimaksud Rumah Raja adalah sebuah bangunan yang sangat besar dan untuk mencapainya kami harus menaiki sekitar 1000 anak tangga dan tentu saja Baekhyun dan Taeyeon kecil tidak akan kuat. Mungkin aku yang sekarang bisa tapi aku terlalu penasaran dengan kedua anak ini jadi aku memutuskan untuk tidak mengunjungi Rumah Raja, melainkan mengikuti mereka berdoa.

Saat kedua orang tua Baekhyun menghilang di antara kerumunan, Baekhyun mengulurkan tangannya pada Taeyeon kecil. “Ayo, kita juga pergi.” Ujarnya malu-malu. Jalanan menuju kuil dipenuhi banyak orang hingga Baekhyun menggenggam tangan Taeyeon erat.

Aku tak tahu sebenarnya aku dalam wujud apa tapi dengan mudah aku menembus kerumunan karena aku tembus pandang. Rasanya mengerikan saat orang-orang melewati tubuhmu begitu saja. Aku seperti hantu di pagi hari yang tidak mungkin ada.

“Kau membawa koin?” tanya Taeyeon kecil pada Baekhyun dan Baekhyun mengangguk cepat tanpa memandang Taeyeon yang berjalan di belakangnya. Memang sebelum berdoa, kami harus melempar koin sebagai persembahan. Tidak harus koin emas tapi koin yang tidak digunakan lagi. Jika kami tidak membawanya, kami bisa saja beli sebelum masuk kuil.

Dengan cepat, Baekhyun dan Taeyeon kecil melempar koin mereka dan menyatukan kedua telapak tangan mereka lalu meletakkannya di dahi, memohon sesuatu. Rasanya aneh jika sebuah koin kuno ditukar dengan permintaan yang tidak sebanding. Kepercayaan memang sesuatu yang unik.

Sekitar 2 menit, Baekhyun dan Taeyeon kecil selesai berdoa dan menyingkir dari kerumunan. Mereka membeli cemilan dengan angpao mereka dan menikmatinya sambil duduk dan menunggu kedua orang tua Baekhyun datang.

“Tadi… Kau memohon apa?” tanya Taeyeon kecil dengan wajah berseri-seri.

Baekhyun mendengus. “Kau harus memberitahuku lebih dulu apa permohonanmu. Baru aku akan memberitahu punyaku.”

Saat itu aku langsung merasa bahwa sebenarnya Baekhyun jauh lebih jauh daripada Kai. Baekhyun tidak mengeluarkan lelucon lucu tapi suatu humor yang serius. Tak heran aku tertawa kecil setelah Baekhyun berkata seperti itu meski sebenarnya terkesan sedikit sombong.

“Baiklah. Jangan beritahu siapa-siapa, apalagi papaku.” Ucap Taeyeon kecil lalu Baekhyun menghentikan aktivitasnya memakan cemilan dan memperhatikan wajah Taeyeon dengan serius. “Aku berdoa semoga orang yang kuanggap istimewa selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.”

Aku tak heran mendengar diriku saat kecil memohon seperti itu. Orang istimewa untukku dan satu-satunya waktu itu adalah Solar. Tentu saja aku akan mendoakan kesehatan dan kebahagiaannya.

“Apaan, tuh?” gumam Baekhyun kesal. “Sama sekali tidak seru.”

“Memangnya apa permohonanmu?” sahut Taeyeon kecil tak mau kalah.

Baekhyun tertawa kecil. “Aku tidak akan memberitahumu. Karena ada yang bilang jika kita memberitahu apa isi doa kita pada orang lain, maka apa yang kita inginkan tidak akan terkabul.”

Taeyeon kecil membulatkan matanya. “Mwo?”

Lalu seketika tawa Baekhyun meledak. Tawa yang terdengar puas dan mengejek Taeyeon kecil sekaligus. Aku sebenarnya ingin menghajar Baekhyun karena sudah membuat Taeyeon kecil ingin menangis. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu.

“Apa yang baru saja kau katakan… Memang benar?” tanya Taeyeon kecil dengan mata bekaca-kaca.

“Terserah kau mau percaya atau tidak!” jawab Baekhyun kemudian dia tertawa lagi. “Mengapa hal begini saja bisa membuatmu menangis, sih? Aku tidak mengerti.”

Yang tidak kumengerti adalah dirimu, gumamku dalam hati. Baekhyun orang yang populer, ceria, tapi sekaligus misterius. Dia terkadang terlihat sangat menyukai Taeyeon kecil tapi terkadang terlihat memperlakukan Taeyeon kecil seperti seorang teman saja.

Akhirnya kedua orang tua Baekhyun datang yang membuat Baekhyun tidak mengatakan apa isi doanya pada Taeyeon kecil. Selanjutnya mereka berinteraksi seperti biasa. Aku hanya bisa melihat bahwa betapa sederhananya pertengkaran anak kecil. Mereka baru berusia 10 tahun. Sedangkan aku yang sekarang berusia 24 tahun. Menyedihkan rasanya jika mengingat aku hanya menghabiskan waktu dengan Baekhyun selama 3 tahun.

.

.

.

.

.

“Saya? Cinderella?” gumam Taeyeon kecil saat ditunjuk Dohoon Seosangnim untuk menjadi tokoh utama dalam drama yang akan dipentaskan pada pertunjukan penyambutan musim semi.

Musim dingin berakhir pada Bulan Februari akhir dan akan berganti musim semi dengan tanda-tanda berupa sinar matahari yang makin hangat, binatang-binatang yang selesai berhibernasi dan kuncup bunga yang mulai bersemi dari dahannya. Dingin berganti hangat dan menurut orang-orang di negeri ini, kita wajib merayakannya. Begitu juga dengan sekolah Baekhyun dan Taeyeon kecil.

“Tidak bisa… Saya tidak akan bisa menjadi Cinderella! Kenapa anda memilih saya?” gumam Taeyeon kecil sambil menyembunyikan wajahnya. “Isange… Isange….!”

Tiffany yang duduk di depannya segera membalikkan tubuhnya untuk menarik tangan Taeyeon kecil dari wajahnya. “Ayolah, Taeyeon. Kau mendapat peran yang diinginkan semua orang! Jangan disia-siakan!”

“Tapi aku takut… Aku takut, Tiffany….” Ungkap Taeyeon kecil lalu air mata mulai menetes dari matanya. Aku yang sedari tadi berdiri di sebelah Dohoon Seosangnim –tentu saja kehadiranku tidak disadari—hanya bisa menggeleng-geleng. Betapa cengengnya diriku saat kecil.

“Apa perlu kita ganti saja?” gumam Dohoon Seosangnim lalu meraih penghapus untuk menghapus nama Kim Taeyeon dari papan tulis. Sampai Chanyeol berdiri sambil mengangkat tangannya. “Apa yang ingin kau katakan, Park Chanyeol?”

Sambil menahan tawanya, Chanyeol berkata, “Jangan diganti, pak! Pasti akan menarik dan berbeda dari kelas lain karena kita punya Taeyeon sebagai Cinderella. Apa kalian semua ingat bahwa Taeyeon adalah gadis terpendek di angkatan kita? Ah, mungkin di sekolah kita? Baru-baru ini aku melihat murid kelas 1 yang lebih tinggi dari Taeyeon!”

Seisi kelas tertawa terbahak-bahak membuat tangisan Taeyeon kecil meledak. Tiffany dan Dohoon Seosangnim memandang satu per satu anak-anak yang tertawa dengan tatapan mengerikan. Aku sebagai pangamat hanya bisa diam dan pasrah. Sebenarnya tidak ada yang salah menjadi yang terpendek. Sebenarnya itu sebuah pujian sekaligus penghargaan. Tapi sepertinya hatiku saat masih kecil benar-benar sensitif.

Chanyeol kemudian melanjutkan dengan berkata, “Ah, bagaimana kalau Tiffany Hwang menjadi ibu tiri? Pasti cocok sekali!”

Tiffany yang sudah tidak bisa menahan emosinya berteriak, “Tutup mulutmu, Park Chanyeol! Aku akan mengambil peran itu jika Taeyeon bersedia menjadi Cinderella!”

Dan sekali lagi, seluruh pandangan tertuju pada Taeyeon yang berusaha menahan air matanya. Tapi ada satu orang yang tidak memandang Taeyeon seperti yang lain. Dia menatap papan tulis dan membaca tulisannya dengan fokus. Dan orang itu adalah Byun Baekhyun.

“Dohoon Seosangnim?” Baekhyun bangkit berdiri dari tempat duduknya yang ada di sebelah Taeyeon sambil mengangkat tangan kanannya dengan tinggi.

“Apa, Baekhyun?”

Dengan cepat, Baekhyun menunjuk tulisan di papan tulis yang bertuliskan pangeran. “Saya akan berperan menjadi pangeran, jika Taeyeon bersedia menjadi Cinderella. Anggap saja saya sudah memesan peran itu. Tapi jika Taeyeon tetap tidak mau menerimanya, maka saya akan menjadi Cinderella.”

“APA!?” seru Taeyeon kecil dari tempat duduknya. “Kau…”

Baekhyun menatap Taeyeon kecil dalam-dalam. “Apa yang kau pikirkan sekarang, Taeyeon? Apa kau akan membiarkanku menjadi Cinderella? Atau tidak?”

Tiffany hanya bisa menatap kedua temannya itu dengan mulut ternganga, seakan berpikir, sebenarnya ada apa di antara mereka berdua? Mungkin jika aku bisa berbicara dan mereka bisa melihatku, aku akan mengatakan pada diriku saat kecil bahwa sangat memalukan bertingkah seperti orang lemah.

Seketika Taeyeon kecil bangkit dari tempat duduknya dan berlari menju ke luar kelas sambil menangis. Sayangnya Tiffany kalah cepat dengan Baekhyun dan diriku dalam menyusul Taeyeon kecil. Baekhyun bangkit dari tempat duduknya secepat kilat dan menyusul Taeyeon.

“Taeyeon!” seru Baekhyun sambil menyelusuri koridor. Tak lama kemudian anak-anak lain dari kelas mereka menyusul dan berpencar mencari Taeyeon kecil.

Aku mengikuti Baekhyun ke segala tempat mulai dari perpustakaan, aula, ruang olah raga indoor, hingga kamar mandi perempuan. Saat kami melewati koridor di lantai 3, kami mendengar suara tangisan dari dalam ruang laboratorium sains tempat anak kelas 6 yang sebentar lagi lulus biasanya melakukan penelitian.

“Taeyeon—“

“Jangan dibuka!” teriak Taeyeon kecil otomatis membuat tangan Baekhyun yang tadinya sudah menggenggam kenop pintu menurun. “Kau curang! Kau seharusnya tahu bahwa aku tidak suka diperlakukan seperti itu! Aku tidak mau… Seharusnya kau tahu itu, seharusnya kau mengerti—“

“AKU TIDAK MENGERTI!” seru Baekhyun lalu dia menyentuh pintu laboratorium dengan lembut. “Masih banyak hal yang tidak kumengerti tentangmu, Taeyeon. Dan aku ingin tahu. Aku ingin belajar untuk mengerti dirimu.”

Taeyeon kecil terisak dalam tangisannya. “Untuk apa? Untuk apa kau melakukan semua ini?”

“Karena aku tahu kau sebenarnya lebih baik dari ini. Kau punya keberanian, kau punya kemauan, mungkin motivasimu memang kurang tapi setidaknya kau bisa mencoba.” Ungkap Baekhyun kemudian dia membuka pintu laboratorium.

Taeyeon kecil sedang menundukkan kepalanya di meja laboratorium dan rangka tengkorak yang ada di belakangnya hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Baekhyun mendekati Taeyeon kecil perlahan agar dia tidak berteriak seperti sebelumnya. Tidak ada perlawanan dari Taeyeon. “Katakan padaku, Taeyeon. Apa kau… Menyukaiku?”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Mulai part ini kita akan memasuki flashback lagi. Di part berikutnya tidak akan ada kemunculan Solar dan Kai, mungkin nama mereka hanya disebutkan karena itu bagi penggemar mereka berdua, aku mohon bersabar.

Lalu aku juga ingin kalian memberitahuku 2 tokoh namja yang menurut kalian cocok dipasangkan dengan Taeyeon (di luar Baekhyun dan Kai kalau bisa) dan tokoh figuran perempuan di luar SM Entertainment yang kalian suka (di luar Solar Mamamoo). Mohon kerja samanya ya 🙂

Seperti biasa aku meminta saran dan kritik dari kalian semua. Tolong nantikan part berikutnya dan terima kasih sudah membaca sampai selelsai!

Part 14 will be published December 26th 2015

Advertisements

66 comments on “Skellington [Part 13]

  1. Wahh….kisah Baek Tae kecil manis sekali,
    keren yang bikin ceritanya. saya bisa membayangkannya dengan jelas seperti sedang menonton film nya saja……..nice

  2. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Manis banget sih Baekhyun kecilnyaaa
    Taeyeon tuh harusnya berterima kasih sama Baekhyun karena selalu di support sama dia
    Kaya di real life aja, sekalinya orang berbuat salah, orang lain pasti lebih inget jahatnya ketimbang baiknya
    dan itulah yang terjadi antara taeyeon ke baekhyun disini

  4. sandara dia baik ato nggak sih.. kok roman2nya tadi jahat y.. moga aja nggak deh..
    nanti endingnya sama siapa y..
    kok ak lebih dapet feel baek tae deh.. moga aja bener.

  5. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s