Love, That One Word (Chapter 10)


NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Sad

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Bae Irene

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8, Chapter 9

Preview of chapter 9

“Bagaimana kalau lusa? Kebetulan aku dan Yeri lusa tidak ada jadwal kuliah?.”

Taeyeon terlihat sedang berpikir, menimbang-nimbang haruskah dia menyetujuinya atau tidak. “Araseo. Sepertinya noona harus siap-siap menjadi nyamuk diantara kalian nantinya.”

Hanbin tertawa keras menimpali ucapan noona-nya.

Mereka adalah teman. Hanbin lebih muda tiga tahun dari Taeyeon. Pertama kali mereka saling kenal, yaitu saat Taeyeon pertama kali menginjakkan kakinya di Palgong. Saat itu, dia yang belum mengenal jalanan dengan baik keluar dari rumah sendiri karena penasaran.

Namun di tengah jalan, dia sadar jika dia tersesat. Dia lupa arah jalan pulang dan yang bisa dia lakukan hanya menangis. Sampai akhirnya tangisan itu berhenti ketika Kim Hanbin datang, penyelamatnya. Taeyeon tidak bisa membayangkan jika saat itu dia tidak bertemu dengan Hanbin, mungkin selamanya dia tidak akan pulang. Mungkin.

Pertemanan mereka tidak terlalu lama, masa liburan Taeyeon telah berakhir dan dengan terpaksa dia meninggalkan Hanbin, pria yang sudah Taeyeon anggap sebagai adik kandungnya sendiri, begitupun dengan Hanbin yang telah menganggap Taeyeon sebagai kakaknya. Bukankah luar biasa, bahkan hanya delapan hari terhitung sejak pertemuan pertama mereka, namun mereka sudah akrab.

Chapter 10

Always be by my side, only you be by my side
Those words are still inside of me
All alone, I repeat these words as I cry
Do you know?

“Hyung?.” Baekhyun mengerutkan kening ketika matanya mendapati Lay berdiri di depan pintu apartemen. Baekhyun melihat jam tangan, kerutannya semakin terlihat ketika mengetahui bahwa sekarang hampir pukul 11 malam.

“Hyung, kau sedang apa di sana?.”

Lay menoleh mendengar suara Baekhyun. Dia memperhatikan penampilan Baekhyun dari mulai kepala sampai ujung kaki. Dia menggelengkan kepala. “Kau dari kantor ‘kan?.” Alih-alih menjawab pertanyaan Baekhyun, dia malah balik bertanya.

“Hmm, wae?.”

“Dengan penampilan seperti itu? Rambut berantakan, kemeja tidak di setrika dan jas yang tidak masuk dengan warna kemeja? Dan lihat dasi-mu, kenapa seperti itu terpasangnya?.” Lay terkejut bukan main melihat penampilan Baekhyun yang terlihat jauh dari kata rapi. Astaga, jangan-jangan yang dikatakan Chanyeol kemarin benar, Baekhyun gila?.

Baekhyun melihat penampilannya sendiri, dia memang sadar dan dia seharusnya malu memasuki kantor dengan penampilan seperti ini. Tapi masa bodo, biarlah mereka menilai dirinya karena dia tidak akan menghiraukan mereka. Dia berjalan melewati Lay, lalu membuka password key pintu. Setelah terbuka, pria itu memasuki apartemen diikuti Lay.

“Tidak ada istriku yang biasa merapikan baju-bajuku, hyung. Aku tidak bisa melakukannya sendiri.”

Jawaban santai yang keluar dari mulut Baekhyun membuat Lay menganga. “Jangan bilang selama beberapa hari kau di kantor berpenampilan seperti ini?.”

Baekhyun kembali mengangguk, ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

“Aku merindukannya hyung” gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Lay. Lay menghela napas, dia ikut duduk di sofa samping Baekhyun.

“Kau kira hanya kau yang merindukan Taeyeon? Aku juga merindukannya, bodoh. Kita semua merindukannya.”

“Aku mencintainya, hyung.”

“Aku sudah tahu, ani semuanya sudah tahu.”

Baekhyun yang terkejut dengan jawaban Lay menatapnya penuh tanya. “Bagaimana kalian tahu? Aku tidak pernah memberitahu hal ini kepada siapapun keculi noona?.”

Tawa keras keluar dari bibir Lay, tangannya terangkat dan meninju lengat Baekhyun cukup kuat. “Meski sampai kapanpun kau tidak bilang, kami tidak bodoh seperti dirimu. Bahkan hanya dengan melihat ekspresi wajahmu ketika bersama Taeyeon, kami sudah tahu kalau kau mencintainya.”

“Apakah Yeonie juga menyadarinya? Menyadari jika aku mencintainya?.”

Lay menghela napas dan menggeleng pelan, dia menyimpan kedua tangannya ke belakang sebagai sandaran kepala. “Molla. Kau tahu kan di dalam sebuah hubungan. Ketika satu wanita dan satu pria dekat, mereka saling merasakan kasih sayang yang diberikan satu sama lain, tapi mereka tidak sadar jika di dalam hati mereka tumbuh benih-benih cinta. Bisa dikatakan mereka tidak peka, dan justru yang lebih peka itu adalah orang yang berada dekat di sekitar pria dan wanita itu.”

Baekhyun diam, bagaimana kalau Taeyeon tidak peka? Dia masih ingat, ketika mereka bulan madu di Koh Samui, istrinya pernah bilang jika dia mencintai Baekhyun. Sedangkan Baekhyun? Dia hanya diam, enggan menjawab ucapan istrinya itu. Dia mungkin terlalu menikmati pelukan mereka saat itu atau Baekhyun yang memang belum siap menjawab ucapan itu.

Ya, Baekhyun benar-benar bodoh. Dia sudah terlalu banyak menyakiti hati Taeyeon. Dia sadar, bahkan ketika dia membawa nama Seulgi sebagai alasan dia menikahi Taeyeon, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sakit hati Taeyeon.

Baekhyun mengacak rambutnya frustasi, kenapa dia baru sadar sekarang? Kenapa dia baru sadar ketika istrinya sudah tidak bersamanya? Tuhan, kenapa kau mengujiku dengan cobaan yang berat seperti ini? Tunggu dulu, Tuhan lebih menguji Taeyeon dengan cobaan yang lebih berat dari pada Baekhyun. Yeon-ah, maafkan aku, cepatlah kembali.

“Kau lebih baik mengakuinya, sebelum terlambat.”

Baekhyun terbangun dari lamunannya, ia menatap Lay. “Mengakui apa?.”

“Mengakui kalau kau mencintainya, bodoh.” Lay yang kelewat geram kembali memukul pria itu.

“Bagaimana aku mengakuinya sedangkan Yeonie sendiri tidak ada di sini, hyung?.”

“Aku yakin kau tahu dimana Taeyeon berada. Kekuatan cinta kalian terlihat sangat besar olehku.” Ujar Lay. “Apa Taeyeon pernah berbicara padamu tentang masa lalunya?.”

Baekhyun mencoba untuk mengingat-ingat, tentu saja pernah. Sebelum mereka tidur, biasanya mereka lebih dulu mengobrol, tentang apapun itu. “Sering hyung.”

“Nah, coba kau ingat-ingat, apa Taeyeon pernah secara tidak sengaja memberikan memorinya padamu tentang liburan masa kecil? Atau hal-hal yang membuatnya bahagia?.”

“Aku tidak tahu, hyung. Pikiranku terlalu penuh dengan usaha-usahaku mencari Yeonie, aku tidak ingat tentang cerita-ceritanya sekarang.”

“Sungguh sulit.” Lay bergumam kecil. Bukannya Lay terlalu percaya dengan drama korea, namu kebanyakan jika seseorang pergi dari kehidupan pasangannya, si pasangan pasti akan menemukannya karena mengingat masa-masa mereka berbagi cerita. Tapi untuk kasus Baekhyun sepertinya akan sulit. Lay harusnya bisa menebak dari awal, apalagi dengan keadaan Baekhyun seperti ini.

Love, That One Word

Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi, namun mata Baekhyun sejak semalam belum sekalipun terpejam. Sesuatu mengganggu pikirannya, tapi dia tidak tahu apa itu. Ucapan Lay beberapa hari lalu terasa tidak hentinya berputar di kepala Baekhyun. Dia ingin mengingat sesuatu, namun otaknya sendiri seakan melarang ingatan itu untuk dia ingat.

Baekhyun mengerang frustasi, lama-lama dia bisa gila. Matanya yang berat karena semalam tidak tidur tidak bisa dia tahan, terbukti beberapa detik berikutnya mata itu terpejam membawanya untuk larut ke alam bawah sadar.

On Dream

“Proyek hotel baru? Bukankah beberapa waktu lalu oppa disibukkan dengan Proyek hotel yang berada di Incheon?.”

“Proyek di Incheon terlalu kecil. Di kawasan sana terlalu banyak saingan, Yeon-ah, jadi aku ingin membuat yang baru. Di tempat yang strategis dimana tidak terlalu banyak saingan.” Tutur Baekhyun.

“Cih, mana seru jika tidak ada saingan, itu berarti oppa kalah sebelum berperang.”

Mendengar ucapan sang istri yang berada di pelukannya, Baekhyun merasa gemas dan menggelitikinya. “Bukan kalah, tapi mencari keuntungan yang lebih besar.”

“Bukankah itu sama saja?.” ledek Taeyeon, dia mendongakkan kepala dan menjulurkan lidahnya ke arah Baekhyun.

“Aish kau ini. Bukannya membantu malah terus bercanda.”

“Mianhae minhae.” Taeyeon semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang Baekhyun. “Bagaimana kalau di Daegu?.”

“Daegu tidak jauh berbeda dengan Seoul, terlalu padat.” Baekhyun mengecup beberapa kali rambut Taeyeon. Aroma shampoo-nya terlalu memabukkan atau justru gadisnya yang terlalu memabukkan?.

“Aniya, aku tahu satu tempat di Daegu yang strategis namun cukup banyak dikunjungi oleh para wisatawan.”

“Dimana?.”

“Palgong. Bukan hanya tempatnya yang strategis, pemandangan di sana juga sangat indah. Di sana ada tempat wisata, tetapi para wisatawan sedikit kecewa karena kurangnya tempat penginapan di sana.” Ujar Taeyeon. “Mungkin dengan oppa membangun hotel di sana, mereka akan senang.” Lanjutnya.

“Araseo, sepertinya aku harus mencoba survei ke sana.”

“Aku ikut!!.” Suara Taeyeon yang memekakan telinga membuat Baekhyun tertawa kecil dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Taeyeon. Dia memandang istrinya lembut.

“Kau kelihatan senang sekali setelah membicarakan tentang Palgong. Ada apa? Apa kau sering ke sana?.”

“Sudah lama aku tidak ke sana, tapi dulu, aku, Ibu, Ayah dan Bibi Lee sering ke sana jika mempunyai waktu luang. Aku yakin ketika pertama kali oppa menginjakkan kaki di palgong, oppa tidak ingin pulang.” Ujar Taeyeon semangat. Dapat Baekhyun lihat dengan jelas, mata istrinya itu berbinar-binar. Tidak tahan melihat wajah polos itu, Baekhyun menunduk dan mencium bibir Taeyeon. Dengan sedikit lumatan yang Baekhyun berikan, namun mampu membuat taeyeon mendesah.

“Ok, karena kau mengetahui banyak tentang Palgong, bersediakah kau menjadi partner kerjaku untuk sementara waktu, Yeon-ah?.”

“Tentu saja, dengan senang hati oppa.” Taeyeon tersenyum menjawab permintaan Baekhyun. Sepertinya mimpi untuk pergi ke Palgong dengan orang yang dicintainya akan tercapai. Sempat meragukan satu mimpi ini, tapi melihat respon Baekhyun, dia yakin kalau di waktu dekat mereka akan sama-sama pergi ke sana. Oh, betapa Taeyeon merindukan Palgong, dan tentu saja si bocah Kim Hanbin.

“Waktunya tidur.” Baekhyun mematikan lampu kamar sehingga menjadi gelap. Taeyeon yang takut akan kegelapan sudah terbiasa sekarang. Selama ada Baekhyun yang memeluknya ketika tidur, kenapa dia harus khawatir?.

“Selamat tidur, Yeon-ah.”

“Selamat tidur, oppa.”

Selesai mengecup dahi sang istri, Baekhyun kembali mendekap Taeyeon erat namun masih bisa menyisakan ruang udara untuk gadisnya menghirup oksigen. Oh, betapa Baekhyun menyukai posisi mereka seperti ini. Bangun dengan istri yang tertidur di pelukannya, serta ciuman pagi yang selalu menjadi awal pagi mereka. Baekhyun mencintai Taeyeon, sungguh.

Off Dream

Baekhyun terbangun dari tidurnya dengat keringat basah memenuhi seluruh wajah. Napasnya terengah-engah, percis seperti seseorang yang baru saja lari. Dia bermimpi barusan.

Mimpi itu, bukan itu bukan sepenuhnya mimpi, tapi itu adalah ingatannya beberapa waktu lalu ketika dia memberitahu Taeyeon tentang proyek perusahaan. Mimpi itu seperti petunjuk. Daegu. Palgong. Kenapa dia tidak berpikir sejauh itu? Taeyeon sangat antusias ketika berbicara mengenai Palgong, dan istrinya pun begitu semangat ketika diajak olehnya untuk mengunjungi Palgong. Ditambah, dulu, Taeyeon dan keluarganya sering berkunjung ke Palgong jika ada waktu luang.

Mungkinkah istrinya ada di sana?

Baekhyun menoleh ke arah jam, pukul lima pagi. Dia hanya tertidur satu jam. Matanya sangat berat, ingin rasanya dia kembali tidur untuk istirahat, apalagi ditambah dengan kondisinya yang tidak baik. Namun dia harus secepatnya memastikan jika Taeyeon benar-benar berada di Palgong. Dia tidak peduli dengan keadaannya sekarang, yang pasti dia harus menemukan Taeyeon secepatnya.

Love, That One Word

Drttttt Drttttt

Untuk yang kesekian kalinya, handphone samsung milik Baekhyun berdering. Dia tidak bisa menghitung berapa panggilan dan pesan yang masuk ke dalam handphone-nya. Dia terlalu fokus mengemudi sehingga enggan untuk sekedar melihat siapa yang melakukan itu.

Namun dia yakin, salah satu panggilan dan pesan yang masuk itu salah satunya dari Tn. Byun, ayahnya. Mengingat pagi ini seharusnya dia dan Tn. Byun pergi ke pertemuan dengan seorang Direktur dari perusahaan Canada. Pertemuan ini sangat penting, karena berpengaruh ke masa depan Perusahaan Byun. Namun apakah pertemuan itu lebih penting daripada Taeyeon? Tidak, Taeyeon baginya jauh lebih penting dari apapun. Dia tidak peduli jika nantinya akan membuat ‘masalah’ dengan tidak mengikuti pertemuan itu, setidaknya Tn. Byun ada di sana.

Baekhyun beberapa kali mengerjapkan matanya yang terasa sangat berat. Perjalanan menuju Daegu tidak jauh, bahkan dalam waktu dua jam biasanya sudah bisa dicapai. Namun, mungkin karena Baekhyun yang menjalankan mobil terlalu pelan sehingga perjalanan menuju Daegu terasa sangat jauh.

Baekhyun tidak tahu pasti dimana Taeyeon berada. Namun seingatnya, istrinya itu pernah menawarkan sebuah lahan yang cukup luas untuk proyeknya nanti. Taeyeon bilang lahan itu milik Tn. Kim yang diwariskan kepada Taeyeon, dan Baekhyun boleh menggunakan lahan itu semaunya. Mungkin Taeyeon sekarang di sana.

Love, That One Word

Taeyeon menatap Hanbin dan Yeri yang tengah mengobrol asyik di depannya. Mereka berdua membicarakan tentang bagaimana awal pertemuan mereka kepada Taeyeon. Ya, meskipun sebenarnya Taeyeon sudah tahu, karena Hanbin pernah menceritakannya, tapi Taeyeon tetap mendengarkan dengan seksama.

Sesekali tawa kecil keluar dari bibirnya ketika Hanbin mengejek Yeri, itu terlihat lucu dimatanya.

“Eonni, apakah eonni sudah mempunyai kekasih?.” Pertanyaan Yeri seketika membuat senyum Taeyeon hilang. Dia menatap Hanbin sekilas, lalu kembali menatap Yeri seraya menggeleng.

“Aniyo, wae?.”

“Wahh, kebetulan aku mempunyai kakak laki-laki. Kalau mau, aku bisa mendekatkan eonni dan oppa-ku. Hehe.”

“Andwae! Yeri-ah, Taeyeon noona sudah menikah.”

Taeyeon menatap Hanbin dengan alis berkerut, bukankah Hanbin telah berjanji padanya untuk tidak membawa-bawa soal pernikahannya?.

“Jinjja-yo? Aku tidak tahu, mianhae eonni.” Yeri menundukkan kepalanya tidak enak, kenapa dia bersikap kurang ajar begini?.

“Gwaenchana, sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu. Eonni memakluminya, kita ‘kan baru saling kenal.” Taeyeon tersenyum menatap Yeri, tangannya mencoba mengangkat kepala Yeri yang menunduk dengan meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu Yeri.

“Terima kasih eonni.” Ujar Yeri tersenyum. “Lalu, kenapa eonni tidak mengajak suami eonni ke sini? Kita kan bisa double date.” Lanjutnya.

Taeyeon kembali terdiam. Jangankan mengajak Baekhyun, dia di sini-pun suaminya itu tidak tahu.

“Suami noona bekerja di Seoul, Yeri-ah. Sudahlah jangan membicarakan tentang itu, makanannya mulai dingin. Ayo makan.” Hanbin yang mengerti perubahan raut muka Taeyeon mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

Taeyeon menatap Hanbin dan tersenyum kecil padanya. berterima kasih karena laki-laki itu berhasil mengubah suasana.

Love, That One Word

Ting Tong

Bibi Lee yang yang sedang mencuci piring di dapur menghentikan sejenak pekerjaannya. Ia mengerutkan kening setelah suara bel berbunyi. Mungkinkah itu Taeyeon? Belum juga siang namun gadis itu telah kembali?.

Ah Bibi Lee ingat, Taeyeon pergi bersama Hanbin dan Yeri. Semalam Taeyeon sedikit khawatir karena besok dia akan pergi keluar bersama Hanbin dan kekasihnya. Dia bingung, apa yang akan dilakukannya nanti? Tidak lucu jika hanya memperhatikan orang pacaran ‘kan? Kecuali jika Hanbin masih punya hati dengan tidak mengabaikannya.

Bibi Lee tertawa kecil, mungkinkah Taeyeon diabaikan sehingga jam segini sudah kembali? Tapi anehnya, kenapa Taeyeon memencet bel? Biasanya langsung masuk, apalagi pintu rumah tidak dikunci.

Bibi Lee mengangkat bahu, ia mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang menggantung di dekat lemari. Setelahnya dia berjalan menjauhi dapur untuk membuka pintu utama rumah.

Bibi Lee membulatkan kedua bola matanya terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Itu bukan Taeyeon. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah keadaan orang itu.

“Tuan Baekhyun, anda tidak apa-apa?.” Bibi Lee bantu memapah Baekhyun yang terlihat berantakan. Ditambah dengan dahinya yang sedikit terluka. “Apa yang terjadi? Dan, kenapa anda bisa di sini?.” Tanya Bibi Lee. Dia terkejut, bingung dan kasihan di saat yang bersamaan. Terkejut karena kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba, bingung kerana ‘dimana Baekhyun tahu tentang tempat ini?’ dan kasihan karena penampilannya. Baekhyun sakit, ya, bisa dipastikan jika pria itu sakit.

“Dimana istriku, bi?.” Tanya Baekhyun dengan suara lemahnya. Dia mengusap pelan peluh yang berada di dahinya. Namun beberapa detik kemudian dia meringis merasakan sakit.

“Anda kenapa tuan? Apa terjadi sesuatu?.” Bukannya menjawab Bibi Lee malah dengan perhatian menanyakan keadaan pria itu. Ia bahkan berlari kecil ke dapur untuk mengambil kotak p3k.

“Yeonie dimana,bi?.” Tanya Baekhyun lagi.

Bibi Lee meletakkan kotak p3k di samping sofa yang Baekhyun duduki. Ia lalu mengambil handuk kecil lalu membasahinya dengan air yang berada di dalam baskom. Setelah meremasnya, ia meletakkan handuk itu di atas luka Baekhyun. Kembali terdengar ringisan kesakitan, namun Bibi Lee tidak menggubrisnya dan malah terus mengobati luka itu.

“Taeyeon sedang berada di luar, Tuan. Dia akan kembali sore nanti.”

“Sendirian?.”

Bibi Lee terdiam, lalu menggeleng. “Tidak, dia bersama temannya.”

“Suruh Yeonie untuk pulang sekarang, bi. Aku ingin bertemu dengannya.” Pinta Baekhyun, dia menatap Bibi Lee berharap wanita tua itu kasihan kepadanya.

“Taeyeon tidak membawa handphone-nya, Tuan. Sudahlah, tuan lebih baik istirahat dahulu sebelum bertemu dengan Taeyeon nanti. Keadaan anda sungguh buruk.” Ujar Bibi Lee. Setelah selesai mengobati luka Baekhyun, ia kembali menyimpan korak p3k dan baskom tadi ke dapur.

“Bagaimana Tuan tahu tentang tempat ini? Apa seseorang memberitahu tuan?.”

“Bisakah Bibi berbicara formal padaku? Panggil saja aku Baekhyun, bi, dipanggil Tuan oleh Bibi berasa kita orang jauh.”

Bibi Lee tersenyum mendengar ucapan Baekhyun. Sebenarnya dia masih merasa sungkan jika harus berbicara formal terhadap Baekhyun. Namun jika pria itu sudah meminta, kenapa tidak mencobanya?.

“Yeonie memberitahuku tempat ini, bi.”

Bibi Lee mengerutkan kening bingung. Taeyeon memberitahu Baekhyun tempat ini? Tidak masuk akal, bahkan ketika Bibi Lee menyuruh Taeyeon untuk pulang-pun gadis itu tidak mau karena tidak ingin bertemu dengan Baekhyun. Tapi sekarang, justru Taeyeon yang memberitahunya?.

“Bagaimana mungkin Taeyeon memberitahumu? Bahkan-.”

“Sebenarnya Yeonie tidak memberitahu dia berada di sini, hanya saja aku kepikiran jika dia berada di sini. Dan ternyata dugaanku benar.” Baekhyun tertawa kecil. Dia meminum air teh hangat yang tadi di siapkan oleh Bibi Lee setelah menyimpan kembali kotak p3k. “Dulu dia pernah membicarakan tempat ini padaku.” Lanjutnya.

Bibi Lee mengangguk mengerti. Dia tersenyum menatap Baekhyun, Taeyeon benar-benar telah jatuh cinta padanya. terbukti, Baekhyun adalah orang luar kedua –setelah dirinya- yang mengetahui tentang tempat ini.

“Kenapa tidak dari dulu aku mengingatnya ya? Andai saja, pasti dari tiga minggu kemarin aku sudah meminta maaf padanya.” baekhyun tersenyum kecil. Ya, sudaah tiga minggu lebih dia tidak bertemu Taeyeon. Betapa tersiksanya hidupnya ketika tidak ada Taeyeon di sisinya. Gadis itu memberikan efek kehidupan yang sangat besar bagi Baekhyun, terbukati selama tiga minggu lebih itu pula Baekhyun berasa hidup dalam kekosongan.

“Maafkan Bibi, Baekhyun. Bibi sudah beberapa kali mengajaknya pulang, namun dia tidak mau.”

“Aku mengerti, bi. Aku pantas dihukum, aku pantas diperlakukan seperti ini oleh istriku. Karena ini semua memang salahku.” Baekhyun mendongakkan kepalanya ke atas, tidak ingin cairan bening yang bernama air mata itu kembali jatuh di hadapan orang lain. Dia tidak ingin dianggap lemah.

“Semoga nanti Tuan bisa membujuk Taeyeon agar mau memaafkan Tuan. Jelaskanlah semua padanya, Bibi yakin Taeyeon mau memaafkan Tuan.”

“Aku akan melakukannya Bi, terima kasih.” Ujar Baekhyun, ia menatap Bibi Lee lembut. “Terima kasih selalu berada di sisi Taeyeon selama ini, terima kasih sudah menjaganya, Bi.”

“Tidak perlu berterima kasih, karena menjaga Taeyeon, sudah menjadi tugasku dari dulu.” Tutur Bibi Lee. “Oh ya, ada berita bahagia tuan.” Bibi Lee menyunggingkan senyum lebarnya kepada Baekhyun membuat pria itu mengerutkan keningnya penasaran.

“Berita apa, bi?.”

“Taeyeon se-.” Bibi Lee terdiam. Dia untung saja ingat sehingga tidak keceplosan memberitahu tentang Taeyeon yang sedang mengandung anaknya.

“Taeyeon?.” Baekhyun menuntut untuk Bibi Lee melanjutkan ucapannya. “Yeonie kenapa?.”

“An-aniya, Bibi juga tidak tahu ingin bicara apa tadi. Sepertinya Bibi lupa, ma’lum sudah tua.” Bibi Lee tertawa kecil. Ia berencana untuk tidak memberitahu Baekhyun soal itu. Bukankah lebih baik jika Taeyeon sendiri yang memberitahunya?

Love, That One Word

Baekhyun memicingkan penglihatannya ketika matanya menangkap siluet seorang perempuan baru saja memasuki halaman rumah. Ia tersenyum, siluet itu adalah Byun Taeyeon. Tapi seketika senyumnya hilang digantikan dengan kerutan kening yang sangat jelas.

Bukan hanya Taeyeon, tapi seorang pria juga terlihat oleh matanya. Tangannya menggepal tat kala melihat istrinya itu tertawa bersama pria yang tidak diketahui oleh Baekhyun siapa. Ingin sekali ia berlari keluar dan menghajar pria itu, tatapan yang diberikan pria itu kepada Taeyeon sangat tidak Baekhyun sukai.

Baekhyun menghela napas kasar, sesuatu dalam dadanya terasa sakit bahkan dengan hanya melihat istrinya tertawa dengan pria lain. Baekhyun cemburu, tentu saja. Memangnya ada seorang suami yang baik-baik saja ketika istrinya bertukar tawa dengan laki-laki lain? Sebenarnya banyak, hanya saja Baekhyun terlalu melebih-lebihkan, tingkat cemburunya kali ini sudah di akhir batas.

Baekhyun mendekati pintu ketika dia lihat Taeyeon juga berjalan mendekati pintu masuk. Sampai di sana, Baekhyun hanya diam, menunggu Taeyeon untuk membuka pintu itu. Jantungnya berdetak cepat, akhirnya, setelah hampir satu bulan dirinya tidak bertemu dengan Taeyeon, hari yang dinanti-nanti itu pun datang.

Bayangkan selama satu bulan betapa kacaunya hidup seorang Byun Baekhyun? Satu bulan menurutnya berjalan sangat cepat, namun juga sangat lama. Dia yang sudah terbiasa dengan keberadaan Taeyeon, maka saat gadis itu tidak ada dalam hidupnya, dia merasa sangat kesepian. Seolah hanya dirinya yang hidup di dunia ini.

Tak lama kemudian pintu terbuka, saat itulah ia merasakan dunia seperti berhenti berputar. Baekhyun dapat melihat raut muka tidak percaya sekaligus terkejut tergambar jelas di wajah gadis yang sangat dia cintai. Oh, ingin rasanya dia memeluk gadis itu detik ini juga.

“Oppa.” Bisik gadis itu, Taeyeon. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah ini benar Baekhyun?. “Tidak, ini hanya halusinasi.” Lanjutnya berbisik.

Jujur saja, selama beberapa hari terakhir ini ia selalu berhalusinasi tentang Baekhyun. Ia memang membencinya setelah kejadian waktu itu yang sangat menyakiti hatinya, namun dia tidak bisa berbohong jika dia juga amat sangat merindukannya.

“Yeon-ah. Mianhae.”

Tapi, suara itu nyata terdengar oleh telinganya. Seseorang di depannya yang dia anggap hanya ‘halusinasi’ berbicara padanya. Ini benar-benar nyata? Yang berdiri di depannya adalah Baekhyun.

Detik berikutnya dia dapat merasakan sepasang tangan besar melingkar dipinggangnya, Baekhyun memeluknya. Sangat erat, seakan tidak mau jika gadis itu kembali pergi dalam hidupnya.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf, Yeon-ah.” Baekhyun berbisik tepat di telinganya.

“Oppa.”

Taeyeon hanya mampu berkata ‘oppa’, niatnya ingin mendorong tubuh pria itu hilang begitu saja. Sudah dikatakan, meskipun Taeyeon membencinya, namun hatinya juga merindukannya. Pelukan ini, pelukan yang sering diberikan pria itu jika sedang berdua, dia sangat merindukannya.

Pelukan itu terlepas, kedua telapak tangan Baekhyun sekarang menangkup wajah Taeyeon yang memerah. Wajah itu dingin, mungkin karena cuaca di luar yang sebentar lagi akan hujan. Baekhyun mengecup singkat dahi Taeyeon. “Kau mau kan memaafkanku? Memaafkan laki-laki bodoh yang amat sangat mencintaimu ini?.”

Mulut Taeyeon terbuka tidak percaya, matanya juga bergerak menahan air mata yang sebentar lagi dipastikan akan turun. Baekhyun mencintainya. Kata-kata ‘cinta’ yang ditujukan untuknya, yang dia kira tidak akan pernah terdengar dari mulut Baekhyun sampai kapanpun. Tapi sekarang, perkiraan itu hilang, nyatanya sekarang Baekhyun, menatapnya tulus seraya berbicara jika dia mencintainya.

“Aku mencintaimu Byun Taeyeon.”

Lagi, kali ini pria itu berbicara dengan sangat jelas, menghilangkan keraguan yang sebelumnya menjalar di kepala Taeyeon. Taeyeon hendak mengeluarkan suara, namun bibir Baekhyun lebih dulu mencegahnya. Pria itu menciumnya dalam, menumpahkan segala rasa kerinduannya dengan sebuah ciuman.

Love, That One Word

Sepasang suami istri yang baru saja kembali bertemu itu duduk terpisah di ruang tengah. Dengan meja bundar yang menghalangi mereka berdua. Sejak tadi, hanya Baekhyun yang berbicara sedangkan Taeyeon hanya mendengarkan dengan mata yang tidak tertuju kepada Baekhyun. Sakit memang ketika pria itu sadar jika Taeyeon tidak sepenuhnya memperhatikan apa yang diucapkannya, namun dia juga tidak memaksakan untuk Taeyeon memperhatikannya. Asalkan dia sudah dimaafkan.

“Yeon-ah, kau tahu, sebenarnya aku tidak menginginkan pernikahan seperti ini. Pernikahan karena keinginan sepihak.” Baekhyun tertawa kecil. “Pernikahan seperti ini benar-benar mempengaruhi hidupku, banyak sekali pegawai kantor yang membicarakan kita, berbicara jika pernikahan kita hanya media play perusahaan. Mereka semua mengetahui latar belakangmu. Kau, Kim Taeyeon, anak dari Kim Jongkook, kau tahu betapa terkenalnya kau di perusahaan? Mereka berbicara jika aku menikahimu hanya untuk menyatukan perusahaan Byun dan Kim, seperti yang mereka tahu, Perusahaan Kim lebih maju dari pada perusahaanku sendiri. Ck, mereka bahkan memandangku negatif karena pernikahan ini.” Lanjutnya.

Sebenarnya Baekhyun hanya bercanda dengan ucapannya, tidak ada sedikitpun maksud dirinya menyinggung perasaan Taeyeon. Namun entah kenapa Taeyeon yang begitu sensitif tidak bisa menahan dirinya dan malah menatap Baekhyun dengan kerutan di dahi, dia terlihat marah.

“Kau pikir aku menginginkan semua ini? Kau pikir semua ini tidak mempengaruhi hidupku? Kau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri!.”

Baekhyun menghela napas pelan, apakah yang diucapkannya tadi salah? Ucapannya tadi justru tentang bagaimana buruk dirinya di mata orang lain bukan Taeyeon. Harusnya Taeyeon senang karena orang-orang hanya memandang buruk Baekhyun, tapi kenapa dia malah marah?.

“Yeon-ah, mak-.”

“Kau tahu gara-gara pernikahan ini aku terpaksa meninggalkan Jepang? Aku harus meninggalkan kuliahku, aku harus meninggalkan gelar sarjana yang akan aku dapatkan beberapa bulan lagi. Tapi, itu semua tidak akan pernah terjadi karena pernikahan ini. Kau bisa bayangkan bahkan pernikahan ini lebih mempengaruhi hidupku daripada hidupmu sendiri. Mudah bagimu untuk membersihkan namamu yang sebagian orang cap buruk, namun sulit bagiku untuk kembali mengejar mimpiku yang aku pikir tidak akan pernah kudapatkan.” Ujar Taeyeon.

“Yeon-ah, bukan itu maksud-.”

“Asal kau tahu, selama ini aku sakit, karenamu!” Taeyeon kembali memotong ucapan Baekhyun, menghentikan pria itu untuk kembali menjelaskan kesalahpahaman dari ucapannya.

“Ketika kau menyebut nama Seulgi eonni sebagai alasan kau menikahiku. Sipatmu yang selalu berubah setiap waktunya. Terkadang kau perhatian, hangat, kadang juga kau bersikap dingin. Kau tahu itu sangat menyakitkan bagiku?.”

Kali ini Baekhyun diam, dia sedikit menyesal. Selain apa yang Taeyeon sebutkan, apalagi ucapan yang secara tidak langsung menyakiti hati gadis itu? Apa masih banyak? Sungguh Baekhyun menyesal, mungkin ketika pria itu berbicara hal menyakitkan bagi Taeyeon, saat pria itu tidak sadar.

Ketika Baekhyun kembali menatap Taeyeon, pria itu kembali merasakan sakit di dadanya. Taeyeon kembali terisak.

Pria itu berdiri dan menghampiri Taeyeon. Dia memeluk gadis itu erat, meski awalnya sempat ditolak, namun kekuatan tangan Baekhyun jauh lebih kuat dari pada Taeyeon, sehingga ketika gadis itu berusaha menolak, usahanya gagal.

“Jangan menangis.” Bisik Baekhyun. Ibu jarinya menghapus air mata yang turun dari mata indah gadisnya.

“Bagaimana aku tidak menangis, kau menyalahkanku karena pernikahan ini. Ak-.”

“Sttt, kau salah paham. Bukan itu maksud ucapanku tadi, Yeon-ah.”

“Terus maksudnya apa? Sudah jelas ucapanmu tadi ditujukan bahwa kau tidak suka dengan pernikahan ini ‘kan?.” Taeyeon kembali meronta, mencoba tangan Baekhyun yang tenagh memeluknya.

“Kalau aku tidak menyukai pernikahan ini, lalu apa maksudku bilang ‘aku mencintaimu’ tadi?.” Tanya Baekhyun, pria itu khawatir karena Taeyeon marah, namun disaat bersamaan dia juga ingin tertawa, entah karena apa.

“Yeon-ah, aku mencintaimu. Tulus, sangat tulus. Aku tidak ingin orang-orang mengira jika aku menikahimu karena alasan perusahaan, ataupun permintaan Seulgi. Aku ingin orang-orang tahu jika aku menikahimu karena aku memang mencintaimu. Bahwa ‘cinta’ yang membuat kita menikah.” Jelas Baekhyun. Pria itu semakin mempererat pelukannya, membenamkan wajah gadis itu di dada bidangnya.

Meskipun dia sudah menjelaskan semuanya, namun isakan masih keluar dari mulut Taeyeon. Baekhyun mengernyit tidak mengerti, apa Taeyeon tidak mempercayai ucapannya?.

“Yeon-ah, kau tidak mempercayaiku? Aku mencintaimu.”

Dapat dia rasakan gadisnya itu menggeleng di dalam pelukannya, dengan suara parau gadis itu menjawab. “A-aku mempercayaimu, oppa. Maafkan aku tadi sempat marah pada oppa. Aku hany-,”

“Sttt, tidak perlu meminta maaf. Nyatanya dari semua permasalahan ini akulah yang salah. Aku lebih mempercayai orang lain dari pada istriku sendiri. Aku juga sering membuat istriku kecewa dengan semua perilaku-ku, baik itu perilaku yang aku sadari mampu menyakitimu ataupun tidak.” Ujar Baekhyun. Dia mengecup kepala Taeyeon lembut.

Baekhyun lalu melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah gadis itu dan mengelusnya sayang. Tidak lupa dia juga menghapus sisa-sia air mata di wajah Taeyeon dengan senyum lembutnya.

“Dari semua kesalahan-kesalahan itu, apa kau mau memaafkanku, Yeon-ah? Aku sadar telah menjadi suami yang tidak baik untukmu, maka dari itu, apa kau mau untuk memulainya kembali dari awal? Memulai hubungan kita, dengan ikatan pernikahan yang dilandasi oleh cinta. Kau mencintaiku ‘kan, Yeon-ah.”

“Menurutmu, oppa?”

Baekhyun mengerutkan kening, senyum kecil kembali muncul di sudut bibir kanannya. Sepertinya Taeyeon sudah tidak marah padanya. terbukti kini gadis itu menjawab pertanyaannya dengan nada bercanda. Ditambah senyum manis kini mengembang di bibir indah gadis itu.

“Ani, menurutku kau tidak mencintaku.” Baekhyun mencuri ciuman di bibir Taeyeon, membuat gadis itu sedikit memekik karena terkejut dengan pergerakan Baekhyun yang menurutnya sangat tiba-tiba itu.

“Tapi kau sangat mencintaiku.”

Taeyeon mengerucutkan bibir setelah Baekhyun melepaskan ciumannya. Dia memukul lengan pria itu pelan.

“Dan aku sangat sangat sangat sangat mencintaimu, Yeon-ah. Dan mungkin saja rasa cintaku padamu justru lebih besar dibandingkan dengan rasa cintamu padaku.”

“Kalau begitu, aku juga akan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah oppa lakukan padaku. Tapi dengan satu syarat.”

Pria itu menaikkan sebelah alisnya penasaran. “Syarat apa?.”

Taeyeon berdehem. “Syaratnya, oppa tidak boleh kembali mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah oppa buat itu.”

“Araseo, oppa tidak akan sekali-kali lagi mengulanginya.”

“Janji?.”

Baekhyun tertawa kecil melihat gadis yang duduk di sebelahnya itu menjulurkan kelingkingnya. “Apa-apaan kau, Yeon-ah? Apa kau anak TK?.”

Gadis itu mengerucutkan bibir kesal mendengar ujaran Baekhyun, namun setelahnya tersenyum karena pria itu juga ikut menjulurkan kelingkingnya sambil berucap, “Janji.”

Love, That One Word

“Jadi selama kau tinggal di sini, kau tidur dengan Bibi Lee? Astaga, apa kau takut tidur sendirian?.” Baekhyun berucap jail kepada Taeyeon yang duduk di sampingnya.

Malam tak terasa sudah tiba. Sepasang suami istri yang baru saja berbaikan itu duduk di atas tempat tidur dengan posisi punggung menyender ke dashboard. Mereka duduk saling berdekatan, dengan tangan kanan Baekhyun yang memeluk leher Taeyeon sehingga membuat kepala gadis itu menyender di dadanya.

“Kata siapa? Aku tidur sendiri di sini.”

“Jangan bohong, Bibi Lee tadi bercerita padaku saat kau sedang mandi.” Pria itu mencubit ujung hidung sang gadis pelan, membuat gadis itu mengembungkan pipinya lucu.

“Aku hanya tidak suka tidur sendirian.” Jawab gadis itu pelan. Dia semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Baekhyun. “Aku sudah terbiasa tidur berdua dengan oppa, makanya ketika sendiri, aku merasa ada sesuatu yang hilang di dekatku.”

“Aku juga.” Ujar Baekhyun, dia menunduk menatap mata gadis itu lembut. “Kau mungkin tidak percaya, namun aku tidak berbohong. Selama kau pergi meninggalkanku, selama itu juga hidupku terasa kosong. Hidupku benar-benar berantakan, pekerjaanku kacau, namun untung masih ada Ayah yang bersedia turun tangan membantu perusahaan untuk kembali berjalan.

Selama kau pergi, aku tidak pernah berhenti mencarimu. Bahkan aku melakukan banyak cara agar aku bisa menemukanmu, Yeon-ah. Aku tidak peduli jika saat aku menemukanmu, kau masih marah atau tidak, yang aku ingin tahu hanya keadaanmu. Apa kau baik-baik saja? dan aku sangat bersyukur, karena kau baik-baik saja.” pria itu menyelesaikan ucapannya dengan diakhiri kecupan yang dia berika di kening gadis itu.

“Tapi oppa tidak baik-baik saja.” Taeyeon menyentuh dahi Baekhyun yang dibalut oleh perban yang tidak terlalu tebal. Tangannya mengusap perban itu hati-hati, takut jika tangannya malah menyakiti luka itu. “Lihatlah, kau terluka dalam perjalananmu ke sini. Harusnya oppa lebih berhati-hati, untung saja oppa hanya terlibat kecelakaan kecil, bagaimana kalau besar? Apa oppa tidak bisa mengemudi dengan baik? Ayolah, semua orang tahu, jika sedang mengantuk seharusnya oppa tidak boleh mengendarai mobil, oppa harus istirahat terlebih dahulu. Kenapa oppa sangat ceroboh? Kalau terjadi sesuatu yang lebi-,”

Ucapan Taeyeon terhenti, Baekhyun memotongnya dengan mencium bibir pink gadis itu, lembut. Hanya sebuah kecupan dalam, tidak lebih, lalu pria itu menarik wajahnya kembali menjauh.

“Kau cerewet sekali.” Satu kecupan lagi dia berikan, membuat kedua pipi Taeyeon memerah menahan malu.

“Luka ini bahkan tidak terasa sakit setelah aku bertemu denganmu, Yeon-ah.”

Taeyeon tersenyum. “Sungguh?.”

“Sungguh.” Jawab pria itu. “Kita pulang besok?.”

Taeyeon menggeleng menjawab pertanyaan pria itu, membuat Baekhyun menaikkan alisnya. “Aku masih ingin di sini, satu minggu lagi. Tidak apa-apa ‘kan?.”

“Kalau itu kemauanmu, apa boleh buat. Aku juga akan menemanimu di sini.”

Mendengar ucapan Baekhyun, gadis itu menegakkan tubuhnya dan menatap Baekhyun tidak percaya. “Tapi bagaimana dengan Ayah? Bagaimana kalau Ayah kembali marah pada oppa?.”

Baekhyun tersenyum, dengan singkat pria itu mengecup bibir Taeyeon dan membaringkan kedua tubuh mereka dengan nyaman di atas tembat tidur. Setelah itu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

“Tidak apa-apa, Ayah pasti mengerti. Lagipula, anaknya ini perlu istirahat juga ‘kan? Aku ‘kan sedang sakit.”

“Cih, alasan.”

Taeyeon tertawa kecil. Dia membenamkan kepalanya di dada bidang Baekhyun, sedangkan lengan pria itu menarik tubuhnya untuk semakin mendekat.

Akhirnya, setelah sekian lama mereka berpisah, mereka kembali bisa tidur satu ranjang dengan saling berpelukan. Posisi tidur seperti ini sangat Baekhyun sukai, karena menurutnya dengan adanya Taeyeon di sisinya, sedikit mengurangi beban pria itu.

Love, That One Word

Pagi harinya, Taeyeon bangun pukul 4. Itu adalah rekor pertamanya bangun sepagi itu, biasanya paling pagi dia bangun pukul setengah enam.

Dia bangun bukan karena tidak nyaman tidur, justru dia sangat nyaman. Apalagi dengan Baekhyun di sisinya. Dia sengaja bangun pukul 4 karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya. Taeyeon bersyukur, bahan masakan di kulkas masih penuh, itu berarti tidak gangguan pagi ini untuk memasak. Bukan begitu?

“Bibi?.” Taeyeon menatap seorang wanita tua duduk di salah satu kursi di ruang meja makan. Wanita itu, Bibi Lee menengok ke arah suara Taeyeon memanggil. “Selamat pagi.”

“Selamat pagi, Bi.” Jawab Taeyeon. Gadis itu mengambil tempat duduk tepat di depan Bibi Lee. “Apa yang Bibi lakukan di sini? Bukankah seharusnya Bibi masih tidur?.” Tanyanya.

“Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga harusnya tidur?.”

Taeyeon tertawa malu mendengar pertanyaan Bibi Lee. Dia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan karena tadi mengikatnya dengan sembarang.

“Kau ingin memasak ‘kan? Bibi akan membantumu.” Ujar Bibi Lee diakhiri dengan senyuman hangatnya.

Taeyeon menggeleng, mencoba menolak bantuan Bibi Lee dengan lembut. “Aniyo, aku ingin memasak sendiri. Bibi lebih baik tidur kembali dan tidak perlu membantuku.”

“Kau yakin?.” Tanya Bibi Lee ragu. Taeyeon mengerucutkan bibirnya lucu.

“Wae? Bibi masih belum mempercayai keahlianku di dapur?.”

“Menurutmu?.”

Taeyeon menghembuskan napasnya kesal. “Bibi, masih ingat beberapa hari lalu ketika Hanbin ulang tahun? Bibi tahu siapa yang membuatkannya kue? Bibi tahu siapa yang membuatkannya makan malam? Itu aku yang melakukannya, Bi. Bahkan Bibi-pun tahu karena saat itu Bibi juga menemaniku.”

Wanita tua itu tertawa kecil mendengar ucapan Taeyeon. Tangannya terulur dan mencubit pipi Taeyeon gemas. “Bibi hanya bercanda. Tentu saja sekarang kau ini sudah ahli dengan urusan dapur, Bibi tidak akan meragukan kemampuanmu. Bibi hanya ingin melihatmu memasak, apalagi, tidak akan lama lagi kita pasti akan kembali berpisah. Kau akan kembali ke apartemen Baekhyun, dan Bibi akan kembali hidup sendiri.”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya sedih. Itu semua benar, setelah kembali bersamanya dia dengan Baekhyun, waktunya bersama dengan Bibi Lee akan kembali singkat. sebelumnya, pernah Taeyeon mengajak Bibi Lee untuk tinggal bersama mereka di apartemen Baekhyun. Namun Bibi Lee menolak, bukan karena wanita tua itu tidak ingin tinggal bersama mereka, hanya saja, Bibi Lee ingin menikmati masa sendirinya di kampung halaman yang tidak terlalu jauh dengan tempat apartemen Baekhyun.

“Bi, bagaimana kalau kita tinggal bersama? Baekhyun oppa pasti akan mengijinkannya.”

Bibi Lee menggeleng, dia memegang tangan Taeyeon dan mengusapnya lembut menggunakan kedua telapak tangannya. “Jangan pernah menawari Bibi tentang hal itu, kerena sampai kapanpun jawaban Bibi akan sama.” Ujar Bibi Lee. “Bibi tinggal sendiri tidak apa-apa, selama kau dan pamanmu sering mengunjungi Bibi. Kau harus kembali berjanji, Taeyeon-ah.”

Taeyeon tersenyum, dia lalu melepaskan tangannya yang berada di dalam genggaman Bibi Lee. Ia berdiri dan berjalan memutari meja dapur lalu menghampiri wanita tua itu. Dengan senyum yang masih mengembang, dia melingakarkan tangannya di tubuh Bibi Lee. Memeluk Bibi Lee erat. “Aku berjanji untuk sering berkunjung, Bibi bisa memegang janjiku.”

Bibi Lee tersenyum dan membalas pelukannya tak kalah erat.

Love, That One Word

Seorang pria menggeliat dalam tidurnya, tangan kanannya ia rentangkan bermaksud untuk menge-check apakah orang yang tidur di sampinganya masih tertidur atau tidak. Setelah memastikan tangannya tidak merasakan hangat tubuh dari sang istri, melainkan tempat tidurnya yang tidak terlalu keras maupun lembut, pria itu dengan segera membuka kedua matanya.

Dia menguap, sedang tangannya dia gunakan untuk mengusap matanya yang sedikit berlinang. Pria itu, Baekhyun, berdiri dari posisi tidurnya, sedikit mengacak-acak rambutnya lalu berlalu keluar dari arah kamar.

Sebelumnya dia sedikit melihat jam dinding yang menggantung, dapat Baekhyun lihat jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi.

Ketika dia pertama kali menginjakkan kakinya di luar kamar, hidungnya langsung disambut dengan wangi masakan yang menggoda. Baekhyun tersenyum. Taeyeon pasti sedang berada di dapur melihat Bibi Lee memasak. Ya, pasti.

Namun pemikirannya ternyata salah, sangat salah. Ketika dia dengan diam-diam berjalan menuju dapur, yang dia lihat justru Taeyeon-nya lah yang sedang sibuk dengan peralatan dapur, sedangkan Bibi Lee justru sedang duduk manis di meja makan memperhatikan Taeyeon memasak.

Apakah Taeyeon sedang memasak? Ah Baekhyun bodoh, tentu saja. lalu kau pikir Bibi Lee yang memasak? Sedangkan jelas-jelas Bibi Lee sedang dengan santainya duduk?

“Aigoo, apakah kau tidak terlalu banyak memasak? Apa kau yakin kita akan menghabiskan semua makanan ini?.” Dapat Baekhyun dengar Bibi Lee bertanya kepada Taeyeon.

“Tenang saja Bi, bukankah ada Hanbin? Kita juga bisa mengundang Hanbin untuk sarapan pagi di sini. Bocah itu ‘kan sangat suka makan.’ Jawab Taeyeon.

Baekhyun mengernyit, perasaannya sedikit marah mendengar Taeyeon mengucapkan nama laki-laki lain yang tidak dikenalnya. Hanbin? Siapa Hanbin?.

“Ahh, kau benar juga. Apa perlu Bibi telpon Hanbin sekarang?.”

“Tidak usah Bi, percuma Bibi menelponnya sekarang karena Hanbin pasti tidak akan mengangkatnya. saat ini dia pasti masih berada dalam dunia mimpinya. Haha.”

Bibi Lee ikut tertawa bersama Taeyeon, sedangkan Baekhyun yang berdiri di belakang pintu tengah menggepalkan tangannya marah. Benar-benar, siapa sebenarnya Hanbin itu? Sampai istrinya tahu jika saat ini kemungkinan Hanbin masih tertidur?.

Baekhyun hendak keluar dari persembunyiannya dan berjalan menuju dimana tempat Taeyeon berada, namun pertanyaan Bibi Lee seketika menghentikannya. Sehingga membuat pria itu kembali memperhatikan kedua wanita itu tanpa sepengetahuan mereka.

“Kau kelihatan sangat senang, dari tadi kau tersenyum ketika sedang memasak. Apa kau baik-baik saja?.” ujar Bibi Lee bercanda.

Taeyeon tertawa kecil, dia mengambil sebuah sendok dan menyendok sedikit air sup yang masih panas di dalam panci kecil. Setelah dirasa sudah dingin, dia mencicipi hasil masakannya itu. Taeyeon tersenyum bangga dan kembali meletakkan sendoknya di atas piring kecil.

Taeyeon berbalik menatap Bibi Lee dengan senyumnya yang mengembang. “Aku pasti terlihat seperti orang aneh yah? Saat ini aku sangat senang Bi, karena akhirnya aku bisa memasak untuk Baekhyun oppa. Aku benar-benar tidak sabar melihat reaksinya nanti ketika memakan semua masakan ini.” Ujarnya dengan tangan dia lipat di depan dadanya, percis seperti orang yang tengah berdoa.

Baekhyun tersenyum, dia sedikit tersentuh dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Selama ini, Taeyeon-nya pasti berusaha belajar memasak hanya untuknya. Dan selama ini pula dia –tanpa dia sadari- malah selalu menyakiti perasaan Taeyeon-nya. Mulai saat ini, Baekhyun berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan mulai menjaga Taeyeon dan tidak akan menyakiti perasaan gadis itu bahkan untuk hal kecil sekalipun.

Baekhyun, dengan langkah kecil keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan pelan menuju dimana Taeyeon berada. Bibi Lee yang menyadarinya, tersenyum. Dan seolah tahu apa yang seharusnya dia lakukan, Bibi Lee pergi meninggalkan Taeyeon dan Baekhyun berdua di dapur. Tentu saja tanpa sepengetahuan Taeyeon. Sebelum Bibi Lee meninggalkan dapur, Baekhyun lebih dulu memberikan wanita tua itu sebuah senyuman hangat dan ucapan ‘terima kasih’, tentu saja tanpa suara.

“Apakah menurut Bibi oppa akan menyukai masakanku?” Tanya Taeyeon tanpa melihat ke belakang. Dia benar-benar tidak tahu jika Bibi Lee telah pergi.

“Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan menyukainya.”

Taeyeon sedikit berteriak ketika dia merasakan sepasang lengan melingkar dipinggangnya, ditambah deru napas yang tiba-tiba menggelitik lehernya semakin menambah keterkejutannya.

Dia menoleh ke belakang, mendapati Baekhyun yang sedang melemparkan senyuman jahil. “Oppa! Mengagetkanku saja.” Ujarnya.

Baekhyun tertawa, dia mencuri satu ciuman pagi di bibir pink yang sedang cemberut itu. “Mianhae.”

“Ahh, aku tidak sabar mencicipi semua masakanmu, Yeon-ah. Pasti enak.”

“Oppa harus sabar ya, sebentar lagi semuanya selesai.” Ujar Taeyeon yang kembali sibuk dengan masakannya.

Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara air sup yang mendidih ditambah suara Taeyeon yang sedang memotong tomat.

Baekhyun semakin menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Taeyeon, membuat gadis itu menggeliat karena geli.

“Oppa, lebih baik oppa mandi dulu. Lihatlah rambutmu yang sangat berantakan itu. Aigoo.”

“Nanti saja, lagipula ini masih terlalu pagi untuk mandi, Yeon-ah.”

“Huft, terserah oppa saja.”

Baekhyun tersenyum mendengar ucapan Taeyeon. Pria itu berniat ingin kembali menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Taeyeon, namun pergerakan gadis itu yang tiba-tiba membuat Baekhyun menghentikan niatnya.

Taeyeon tiba-tiba melepas paksa lengan Baekhyun yang melingkar di perutnya. Gadis itu kembali merasakan perutnya mual. Setelah selama dua hari ini rasa mual itu hilang, kini rasa mual itu kembali dia rasakan.

Hal ini sebelumnya memang sering terjadi, Bibi Lee bilang ini sudah menjadi hal biasa bagi wanita yang sedang hamil. Meskipun begitu, Taeyeon tidak menyukai jika dia sedang dalam keadaan begini. Memang dia tidak merasakan sakit, tapi dia paling malas jika harus bolak-balik menuju toilet. Padahal ketika dia sedang memuntahkan apa yang ingin dimuntahkan, yang keluar hanyalah cairan salivanya.

“Yeon-ah, kau tidak apa-apa?.”

Terdengar suara panik Baekhyun di belakangnya. Taeyeon menggeleng menjawab pertanyaan pria itu, dia lalu membasuh mukanya dengan air.

“Benarkah? Kau benar tidak apa-apa?.”

“Gwaenchana oppa, hanya sedikit mual.”

“Mual? Apa kau sakit?.”

Baekhyun segera menempelkan telapak tangannya di dahi Taeyeon, merasakan suhu badan istrinya. “Tidak panas. Apa kau ingin pergi ke dokter?.”

“Tidak perlu oppa, aku benar tidak apa-apa.” Ujar Taeyeon menenangkan.

“Ini aneh, kau merasa mual tapi suhu badanmu normal.” Ujar Baekhyun bingung. Dia lalu mengusap puncak rambut Taeyeon lembut. “Ya sudah, duduklah. Biar Bibi Lee yang melanjutkan masakanmu.”

“Aniya. Tidak perlu oppa, lagi pula sebentar lagi supnya diangkat.”

Baekhyun menatap Taeyeon khawatir. “Benar tidak apa-apa?.”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum. “Aigoo, aku benar tidak apa-apa, oppa.”

‘Belum saatnya memberitahu oppa kalau aku sedang hamil’ ujar gadis itu dalam hati.

Love, That One Word

Sudah empat hari setidaknya Baekhyun berada di Daegu bersama Taeyeon. Dia juga sudah memberitahu semua orang yang berada di Seoul jika dia sudah menemukan Taeyeon. Pertama dia menghubungi keluarganya.

Bahkan sang Ayah yang awalnya marah karena Baekhyun lagi-lagi tidak bertanggung jawab dengan perusahaan, setelah diri Tn. Byun diberitahu jika Taeyeon telah ditemukan rasa marahnya hilang. Dia bahkan menyuruh Baekhyun untuk segera membawa Taeyeon ke Seoul karena Tn. byun sangat merindukan menantunya itu. Apalagi Ny. Byun dan Boa.

Namun Baekhyun meminta waktu setidaknya satu minggu untuknya membawa Taeyeon kembali ke Seoul. Awalnya mereka menolak, tapi setelah Baekhyun menjelaskan jika semua itu adalah keinginan Taeyeon, mereka-pun memberikannya ijin.

Setelah keluarganya, dia menghubungi Yuri. Pada awalnya, orang yang ingin Baekhyun hubungi adalah Jongin, namun dia sedikit masih kesal kepada pria itu. Apalagi, ketika dia mengingat saat dimana pria itu merendahkannya. Waktu itu, ketika Baekhyun, Chanyeol, Lay dan yang lainnya sedang berdiskusi tentang rencana mereka mencari Taeyeon, Jongin yang marah pada Baekhyun membandingkan Baekhyun dengan Luhan. Bahkan Jongin bilang jika Luhan lebih cocok dan bertanggung jawab dari pada Baekhyun.

Sama seperti keluarganya, Yuri juga meminta Baekhyun untuk segera membawa Taeyeon ke Seoul. Gadis berkulit coklat eksotis itu sangat merindukan sahabat kecilnya, terlebih dia sangat penasaran dengan keadaan Taeyeon.

Namun Baekhyun meyakinkan, jika istrinya itu baik-baik saja dan Yuri dengan yang lainnya tidak perlu khawatir.

Saat ini, Baekhyun, Taeyeon, Bibi Lee dan Hanbin -bocah yang Baekhyun sangat tidak sukai- sedang berkumpul di halaman rumah. Mereka sedang mengadakan makan siang bersama. Beruntung Hanbin hari ini tidak mempunyai jadwal kuliah sehingga pria itu bisa bergabung dengan mereka.

Entah hanya perasaan Baekhyun atau memang kedekatan bocah itu dan istrinya terlalu dekat sehingga membuat Baekhyun merasa tidak senang. Sangat tidak senang.

Meskipun beberapa kali Taeyeon bilang, jika kedekatan mereka hanya sebatas adik kakak, tetap saja Baekhyun tidak senang. Apalagi mereka bukan adik kakak kandung.

Seperti saat ini. Dari tadi Taeyeon kebanyakan berbicara berdua dengan Hanbin dibandingkan dengan dirinya. Ok, Baekhyun sadar jika dirinya tidak bisa seperti Hanbin yang mudah membuat orang tertawa. Baekhyun hanya pria dingin yang bahkan ketika dia bercanda-pun, candaannya sangat garing.

Tapi, bisakah mereka menghargai keberadaannya? Atau, apakah mereka tidak sadar jika sejak dari tadi Baekhyun menatap mereka tidak suka? Byun Taeyeon, apa kau melupakan suamimu?.

“Tuan, kau tidak apa-apa?.”

Bibi Lee tiba-tiba duduk di samping Baekhyun. Wanita tua itu sadar jika Baekhyun sedang bad mood, dan dia tahu karena apa. Dalam hato, Bibi Lee tersenyum.

“Tuan tenang saja, Hanbin sudah dianggap Taeyeon sebagai adik kandungnya sendiri.” Ujar Bibi Lee to the point.

Pipi Baekhyun memerah malu. Bibi Lee menyadarinya tapi kenapa Taeyeon tidak menyadari kalau Baekhyun sedang cemburu saat ini?

“Aku tahu, bi. Lagipula aku tidak cemburu melihat mereka.”

“Bibi harap tuan tidak berbohong.” Ujar Bibi Lee lembut. “Berikanlah ini pada Taeyeon.”

Baekhyun menatap gelas berisi air –yang Baekhyun tebak itu adalah jamu- dengan dahi yang berkerut. Pria itu mengambil gelas di tangan Bibi Lee dan mencium sebentar aromanya. “Taeyeon menyukai jamu?.”

Bibi Lee mengangkat alis bingung. “Sebenarnya Taeyeon tidak menyukainya, tapi, bukankah bagi seorang gadis yang sedang ha-,”

Ucapannya terhenti. Dia menatap Baekhyun lekat-lekat. Apakah pria itu belum mengetahui jika istrinya tengah hamil? Taeyeon belum memberitahunya? Ah sudahlah, mungkin Taeyeon mempunyai rencana lain makanya gadis itu belum memberitahu Baekhyun. Seperti kejutan, mungkin?.

Baekhyun menatap Bibi Lee kembali dengan kening berkerut. Kenapa Bibi Lee tidak melanjutkan ucapannya?

“Ah, tidak-tidak. Berikan saja ini jamu itu pada Taeyeon, Tuan.” Titah Bibi Lee sambil tersenyum. “Jamu itu untuk kesehatan Taeyeon.” Lanjutnya.

“Baiklah, Bi.”

Baekhyun berjalan menuju meja kayu, tempat dimana saat ini istrinya dan Hanbin sedang mengobrol. Matanya menatap lekat mereka berdua, dia marah tentu saja melihat kedekatan mereka. Sabar Baekhyun sabar.

“Yeon-ah.” Panggilnya. Dia duduk di sebelah istrinya yang tersenyum kepadanya.

Taeyeon menatap gelas yang berada di genggaman Baekhyun lalu berucap, “Itu dari Bibi ‘kan?.”

Baekhyun mengangguk. Tangannya mengusap pipi kiri gadis itu yang terdapat sedikit debu.

“Aku baru tahu kau menyukai jamu.” Ujar Baekhyun. “Seingatku, bahkan hanya mencium baunya saja kau hampir mual.” Lanjutnya.

Ya, waktu mereka sedang berbulan madu, mereka tidak sengaja melewati sebuah kedai, dimana kedai itu menjual jamu tradisional daerah setempat. Dan Taeyeon, yang memang tidak menyukai bau ‘aneh’ itu mengeluh.

“Astaga hyung, Taeyeon noona kan sed-AWW.” Hanbin meringis kesakitan ketika dengan tiba-tiba kaki Taeyeon menginjak kakinya di bawah meja. Dia menatap noona-nya itu meminta penjelasan kenapa Taeyeon melakukan itu.

Taeyeon hanya tertawa kecil dan bergumam, “Maaf.”

“Ada apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?.” Baekhyun menatap Hanbin dan Taeyeon bergantian. Perasaannya mulai tidak enak, apakah Taeyeon benar-benar menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi apa?.

“Aniyo oppa.” Jawab Taeyeon. Gadis itu melirik Hanbin sebentar, seolah memberikan pria itu sinyal agar tidak memberitahu jika Taeyeon sedang hamil.

“Aku memang tidak menyukai aroma jamu, tapi setelah aku mencoba, ternyata jamu rasanya enak juga. Sedikit aneh sih, tapi Bibi bilang jika jamu itu mengandung obat yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.” Ujarnya.

Dia mengambil gelas yang berada di genggaman tangan Baekhyun itu, lalu dengan pelan meminumnya. Taeyeon memejamkan matanya erat-erat setelah cairan jamu itu bertemu dengan lidahnya.

Jujur saja, dia berbohong kepada Baekhyun tadi. Taeyeon tidak menyukai aroma maupun rasa dari jamu. Bahkan meskipun sudah beberapa hari ini dia menkonsumsi jamu itu, ida masih belum terbiasa dengan rasanya yang pahit dan aneh. Namun, dia tetap harus meminumnya. Ini demi kesehatan sang calon bayi yang berada di dalam perutnya.

“Sepertinya kau berbohong mengenai ‘menyukai rasa jamu’ itu.” Baekhyun mengambil gelas yang sudah kosong di tangan Taeyeon, lalu menyimpannya di atas meja kayu. “Ekspresi saat kau meminumnya benar-benar bertentangan dengan apa yang kau bicarakan.”

Taeyeon mengerucutkan bibir, lalu Baekhyun tertawa.

“Oppa benar-benar tidak percaya? Aku menyukainya, kok.”

Baekhyun mengangkat bahunya tidak tahu harus menjawab apa. Jelas-jelas istrinya itu berbohong, dan dia sangat yakin akan hal itu.

“Noona.”

Panggil Hanbin yang sejak tadi memperhatikan Baekhyun dan Taeyeon di depannya. Seketika itu juga, dia dapat merasakan jika Baekhyun memberikannya tatapan tajam.

Sebenarnya Hanbin sudah tahu jika suami noona-nya itu sedikit tidak menyukainya. Oh bukan, mungkin sangat tidak menyukainya.

Terlihat, bagaimana tatapan yang selalu Baekhyun berikan kepadanya, sangat tidak bersahabat. Kalau boleh sedikit bercanda, bisa diibaratkan ‘jika tatapan mata bisa membunuh, maka saat itu juga Hanbin akan mati’. Namun bukannya takut, Hanbin malah menganggap perlakuan Baekhyun padanya justru lucu.

Saking tidak takutnya, dia selalu dengan sengaja ‘membangkitkan’ amarah di dalam tubuh Baekhyun. Menurutnya, melihat ekspresi cemburu Baekhyun adalah kesenangan sendiri baginya. Ditambah dengan sifat Taeyeon yang polos, bahkan sampai sekarang noona-nya itu tidak menyadari jika pria yang duduk disebelahnya itu tengah cemburu.

“Bagaimana dengan permintaanku tadi? Apakah noona mau menemaniku besok?.” Tanya Hanbin. Matanya sedikit melirik Baekhyun dengan ‘smirk’ muncul di bibirnya.

“Tent-,”

“Permintaan apa? Kau meminta istriku menemanimu untuk pergi kemana?.”

Sebelum Taeyeon sempat menjawab, Baekhyun terlebih dahulu memotongnya. Taeyeon menoleh menatap suaminya, dia sedikit takut melihat ekspresi wajah pria itu. Rahangnya terlihat mengeras, dan sialnya Taeyeon baru menyadari jika saat ini suaminya itu tengah cemburu.

“Oppa.” Taeyeon menggenggam tangan Baekhyun, mencoba menenangkan.

“Hanbin memintaku untuk menemaninya pergi ke Kota besok, dia ingin membeli sesu,-”

“Dia sudah besar, kenapa meminta bantuanmu?.” Tanya Baekhyun. Matanya kali ini kembali tertuju kepada Hanbin. “Dan kenapa kau tidak meminta ijinku lebih dulu?.”

“Ah, aku lupa jika noona-ku ini sudah mempunyai suami. Maafkan aku hyung.” Ujar Hanbin. Wajahnya dia buat sepolos mungkin, membuat Baekhyun ingin sekali meninju wajah itu.

Taeyeon menatap Baekhyun dan Hanbin bergantian, dia lalu memejamkan matanya sesaat. Sepertinya dia tahu maksud Hanbin berbicara seperti itu. Pria itu ingin membuat suaminya cemburu. Astaga Hanbin, apa kau tidak tahu jika Baekhyun marah sangat menakutkan?

“Jadi bagaimana Hyung, apa kau mengijinkanku untuk pergi bersama noona besok?.”

“Tidak.” Jawab baekhyun singkat.

“Oppa.”

“Wae? Kau tetap mau menemaninya, Yeon? Kau tidak ingin menuruti ucapan suamimu?.”

Taeyeon menggeleng keras, mengelak ucapan Baekhyun. “Bukan begitu, oppa. Tapi Hanbin benar-benar membutuhkan bantuanku. Yeri, pacarnya beberapa hari lagi berulang tahun, dan Hanbin memintaku untuk mencari hadiah yang cocok untuk Yeri.”

“Hanbin tidak tahu apa-apa soal kesukaan wanita, karena ini adalah pertama kalinya Hanbin berpacaran. Maka dari itu aku ingin membantunya. Oppa, kau jangan marah, dan aku mohon, ijinkan aku menemani Hanbin besok, yah?.” Bujuknya.

“Kau sudah mempunyai pacar?.” Baekhyun bertanya kepada Hanbin, dimana pria itu membalas dengan sebuah anggukan disertai dengan ‘smirk’-nya.

Baekhyun merasa seperti orang bodoh sekarang ini. Dia cemburu kepada orang yang justru telah mempunyai pacar –tanpa sepengetahuannya-. Andai saja dia mengetahuinya dari kemarin-kemarin, dia tidak akan repot-repot memberikan Hanbin sikap tidak sukanya.

“Baiklah, kalau begitu aku mengijinkan kau pergi bersama Taeyeon besok.” Ujar Baekhyun pada akhirnya.

Taeyeon dan Hanbin sama-sama tersenyum mendengar jawaban Baekhyun, namun sedetik kemudian senyum mereka hilang digantikan dengan kerutan di kening mereka.

“Tapi ada syaratnya.”

“Syarat apa, oppa?.”

“Aku juga ikut.”

Hanbin menghela nafas kasar. Dia tahu ini akan terjadi. Meskipun jika Baekhyun telah mengetahui dirinya sudah mempunyai pacar, pria itu tetap tidak akan dengan mudah membiarkan Taeyeon pergi berdua bersamanya.

“Terserah kau saja, hyung.”

Love That One Word

Sabtu malam, merupakan malam terakhir Taeyeon dan Baekhyun berada di daegu. Sesuai keinginan Taeyeon, yang meminta waktu satu minggu untuk tinggal lebih lama, dimana keinginannya itu disetujui oleh Baekhyun.

Berhubung besok pagi mereka akan pergi meninggalkan tempat ini, Taeyeon mengajak Baekhyun pergi ke suatu tempat. Tempat favoritnya.

Saat ini, mereka sedang berada di sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari Villa. Awalnya, Baekhyun menolak ajakan Taeyeon, dikarenakan suhu malam ini sangat dingin. Dia tidak ingin Taeyeon kedinginan dan berakhir dengan sakit. Namun Taeyeon memaksa, apalagi gadis itu sempat merayu jika dia mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan. Dan itu sangat penting. Akhirnya, mau tak mau pria itu menyetujui ajakannya.

“Sudah kubilang, cuaca malam ini sangat dingin. Kenapa kau memaksa mengajak keluar ketika cuaca seperti ini? Apa kau ingin sakit?.”

Taeyeon tertawa kecil, dia mengeratkan pelukannya di pinggang Baekhyun. Kepalanya dia sandarkan di bahu pria itu. Rasanya berada berdua di tempat favoritnya itu sangat menyenangkan. Apalagi bersama dengan Baekhyun, pria yang sangat dicintainya.

“Aissh oppa dari tadi mengomel terus.”

“Itu karena oppa tidak ingin kau sakit, Yeon-ah.”

Taeyeon mengangkat kepalanya menatap Baekhyun lalu tersenyum. “Aku tidak akan sakit, selama oppa di sini melindungiku dari dinginnya cuaca malam”

Baekhyun tertawa mendengar ujaran Taeyeon. “Apa kau sedang menggombal? Aigoo, istriku pintar menggombal juga ternyata.” Tangannya mencubit ujung hidung gadis itu gemas, membuat pipi sang gadis memerah karena malu.

“Hentikan, itu tidak lucu.” Gadis itu menyingkirkan tangan Baekhyun dari wajahnya, bibirnya mengerucut.

“Siapa bilang? Lihat, pipimu merah adalah hal paling lucu yang pernah kulihat.” Baekhyun tidak berhenti, pria itu semakin bersemangat menggoda Taeyeon.

“Oppa!.”

Baekhyun tertawa mendengar suara kesal Taeyeon. Dia memberi gadis itu sebuah kecupan di bibirnya. “Araseo, mianhae.”

Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Sama seperti Taeyeon, Baekhyun juga menikmati momen sekarang ini. Berdua dengan Taeyeon, merupakan kesenangan sendiri baginya.

Duduk di bebatuan yang kecil, namun masih mampu menampung mereka berdua. Dengan disuguhi pemandangan langi malam dan pedesaan di bawah bukit sana. Ah, pantas saja Taeyeon bilang jika ini adalah tempat favoritnya di sini, temaptnya benar-benar mampu membuat siapa saja yang diam di sana nyaman.

“Oppa?.” Ujar Taeyeon memecah keheningan. Baekhyun menatap gadis di pelukannya itu, lalu mengusap rambut Taeyeon lembut.

“Hmm?.”

“Aku ingin memberitahu oppa sesuatu. Sesuatu yang aku yakin akan membuat oppa kesal dan senang di saat bersamaan. Mungkin.”

“Kesal dan senang? Apa itu?.” Tanya Baekhyun penasaran.

“Aku hamil.”

“Apa?!.” Baekhyun melepaskan pelukannya tiba-tiba. Matanya membulat menyiratkan ketidak percayaan. Apa dia tidak salah dengar? Byun Taeyeon, istrinya sedang mengandung?.

“Aku hamil oppa.” Taeyeon kembali berucap dengan suara tenang, bibirnya dihiasi dengan senyuman yang sangat menawan.

“Yeon-ah, k-kau tidak sedang bercanda ‘kan? K-kau hamil?.”

Gadis itu mengangguk mantap. Tangannya menyentuh tangan Baekhyun, lalu membawanya untuk dia simpan di atas perutnya. ” Aku pergi ke dokter bersama Bibi Lee minggu lalu untuk memeriksanya, dan dokter mengkonfirmasi jika aku tengah mengandung dengan usia janin 2 minggu. Dan sekarang usia kandungannya sudah 3 minggu.”

Bibir Baekhyun bergetar, saat itu juga entah kenapa dia ingin menangis. Menangis karena bahagia tentu saja. “Kau hamil, itu berarti aku akan menjadi seorang Ayah.”

Taeyeon mengangguk. “Dan aku akan menjadi seorang Ibu.” Ujarnya. “Apakah oppa senang?.”.

“Tentu saja. Apakah ada suami yang tidak senang ketika istrinya memberi tahu jika dirinya sedang hamil?.” Tanya Baekhyun. Tangannya menangkup wajah Taeyeon, lalu menghujani bibir gadis itu dengan sebuah ciuman.

“Oppa, geumanhae.” Gadis itu tertawa kecil, tangannya mencoba menghentikan pergerakan wajah pria itu. Namun dia gagal, kecupan Baekhyun terus berlanjut. Bahkan sekarang bukan hanya kecupan yang pria itu berikan. Melainkan sebuah ciuman dalam, seakan ciuman itu mengekspresikan rasa bahagianya terhadap Taeyeon.

Beberapa menit kemudian ciuman itu berhenti. Baekhyun menjauhkan wajahnya dari Taeyeon, namun kedua tangannya masih setia menangkup wajah itu.

“Yeon-ah, aku sangat mencintaimu.”

Mendengar itu Taeyeon tersenyum lembut. Jika tadi Baekhyun-lah yang mencuri kesempatan untuk mengecup bibirnya, kali ini terbalik dan justru dirinya yang mengecup bibir pria itu cukup lama.

“Aku juga mencintaimu, oppa.”

Dan mereka kembali saling menyatukan bibir mereka. Berciuman di bawah sinar rembulan, ditemani dengan suara kembang api di bawah bukit sana. Sungguh malam yang sangat sempurna.

To Be Continued

Teaser of Chapter 11

“Jika aku tidak bisa mendapatkannya, maka tidak boleh ada satu orangpun juga yang bisa mendapatkannya.”


“Baekhyun-ah, cepatlah ke rumah sakit. Taeyeon mengalami kecelakaan serius!.”


“Kita tidak bisa menyelamatkan keduanya. Seperti yang kalian tahu, usia kandungan Ny. Byun bahkan baru 7 bulan.”


“Yeon-ah, Byun Taeyeon, jangan tutup matamu. Aku mohon, bertahanlah.”

End.

Lagi-lagi aku minta maaf karena telah membuat kalian kecewa L update-nya kelamaan lagi L tapi bagi kalian, yang statusnya sama seperti saya (anak kuliahan) pasti tahu lah, bahkan baru semester satu aja yang namanya tugas kuliah tuh numpuk terus -_- apalagi kemarin baru aja UTS :3

Oh ya, sekedar pemberitahuan, kemungkinan part selanjutnya itu adalah part terakhir. Dan pasti ff-nya bakalan di protect. Syarat untuk mendapatkan passwordnya, yaitu kalian harus sudah komen dari part awal sampai part 10 ini J

Ditunggu komentar kritik dan sarannya yah :*

Kiss&Hug from me for all my lovely ATSIT fam, see you ^_^

Advertisements

177 comments on “Love, That One Word (Chapter 10)

  1. Pingback: Love, That One Word (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. senengnya akhirnya mereka bersatu lagi…

    tapi teaser selanjutnya kok gitu thor? apa taeng akan meninggal?
    please jangan sad ending thor…
    kasih squel kek thor buat balikin taeyeon klo emang di chap terakhir taeng kurang baik kondisinya…

  3. Aduuuhhh bahagiaa bgt liat baekyeon mesra gtu..
    Supeh deehh baper.. Ga tau brapa lama bakal move on nihh..

  4. Blum bca chapter yg ini thor.. Baru smpet 😂😂 tpi daebak thor crita.ny seru.. Feel.ny dpet bnget..

  5. Duh seneng akhirnya kembali bersama :D. Akur-akur yaaaaa. Baekhyun cemburuan banget, artinya sayaaaang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s