Skellington [Part 12]

SKELLINGTON Part 12 by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06 | Part 07 | Part 08 | Part 09 | Part 10 | Part 11

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik aku melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing

.

.

.

.

.

“Kau sudah sadar?”

Begitulah kata-kata yang aku dengar setelah aku sadar dari tidur panjangku. Aku berusaha duduk tegak dari ranjangku dan mencari tahu aku ada di mana. Yang ada di depanku hanya Kai. Sedangkan pemandangan yang ada di depanku sama sekali tidak familiar. Aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku dengan baik. Punggungku benar-benar sakit. Tapi tanganku hangat karena genggaman tangan Kai.“Ini… Di mana?”

Beberapa saat setelah aku bertanya seperti itu, Kai menceritakan semuanya. Kemarin malam setelah Baekhyun menyerangku, Kai memukulnya dari belakang hingga dia pingsan. Solar langsung menceritakan apa saja yang dirinya lakukan selama di Festival Kembang Api.

Solar mengaku bahwa setelah menarik Baekhyun, dia yang dalam keadaan tidak enak badan malah menganggap Baekhyun diriku dan minta maaf padanya. Baekhyun yang merasa bingung dan pusing menyebabkan Solar tanpa pikir panjang langsung menyuntikkan serum ingatan pada Baekhyun yang otomatis membuat semua memorinya kembali.

Solar sudah mengaku pada Jessica bahwa dirinya menggunakan serum ingatan dan Jessica yang panik meminta agar Baekhyun segera dipulangkan ke Seoul untuk menjalani pemeriksaan. Karena serum itu masih berupa barang sampel dan fungsinya belum sempurna, dikhawatirkan Baekhyun mengalami gangguan serius.

Yang menemani Baekhyun kembali ke Seoul pagi-pagi sekali adalah Solar, Tiffany, Chanyeol, Gikwang, dan Wheein. “Wheein?” tanyaku begitu Kai menjelaskan padaku bahwa Wheein ikut serta dalam rombongan itu.

Kai hanya mengangkat bahu. “Dia bersikeras meminta untuk ikut padahal Gongchan sendiri sebenarnya masih ingin liburan di sini. Kita akan segera mengetahui kabar mereka begitu mereka sampai di pelabuhan.”

Saat ini aku, Kai, Gongchan, Bora, Seungyeon, dan Taemin sedang menaiki kapal pesiar yang menyusul kapal yang memberangkatkan rombongan pertama. Rupanya aku tertidur cukup lama hingga aku tidak bersama teman-temanku saat mereka pergi ke Parade Bunga. Bahkan aku menyebabkan Kai tidak bisa melihat parade itu juga karena dia harus menjagaku.

“Kita hanya selisih sekitar 6 jam dari kapal yang dinaiki Solar.” Lanjut Kai. Dia melirik jam tangannya. “Sekarang sudah jam 2 siang. Kau mau makan sesuatu? Mungkin restoran kapal masih menyisakan makan siang.”

Aku mengangguk dan Kai membantuku berdiri. Kedua kakiku tidak kuat untuk menopangku berdiri jadi Kai menggengdongku di punggungnya. Aku pasti bertambah ringan karena Kai lebih tegak dari biasanya. Mungkin segala stress dan lelah ini telah membuat berat badanku berkurang.

Begitu sampai di restoran kapal, semua koki sedang memberes-bereskan peralatan makan yang sebelumnya dipakai oleh pengunjung lain. Tapi ada satu meja bertuliskan namaku dan Kai dengan tanda ‘reserved’ yang masih dibiarkan begitu saja. Aku mengangkat sebelah alisku begitu turun dari punggung Kai dan membaca tulisan itu. “Kau juga… Belum makan siang?”

Kai mengangguk dan menarik kursi untukku duduk. “Aku yakin kau tidak akan tidur lebih dari 15 jam, jadi aku menunggumu.” Ungkapnya lalu tersenyum.

Gomawo…” ucapku sambil menundukkan kepala. Aku telah merepotkan Kai dalam banyak hal dan apa yang bisa kulakukan untuknya? Aku benar-benar pacar yang aneh. Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun bersamanya aku berpikir seperti ini.

Tak lama kemudian makan siang disajikan di depan kami. Ada garlic soup, spicy fried rice, jajjangmyeon, dan ikan-ikan laut yang aku tidak tahu namanya. Saat aku baru saja mau memasukkan sesendok kuah garlic soup ke dalam mulutku, Kai meraih sendokku dan mengarahkannya ke mulutku. “Aaaah….” Ucapnya dengan nada manis.

Aku membuka mulutku setengah dan meneguk kuah itu. Aku baru sadar bahwa garlic soup ini masih panas dan aku buru-buru mengayunkan tangan di depan mulutku sampai tanganku menyentuh sesuatu yang aneh di leherku. “Apa ini?” tanyaku heran.

“Ah, itu perban. Kemarin Baekhyun tidak mau melepaskan lehermu sampai ujung kukunya membekas.” Jelas Kai. “Tidak ada darah yang keluar tapi tetap saja lehermu menjadi sangat merah. Yang memberikan perban itu adalah Gikwang.”

Aku mengangguk mengerti lalu menyentuh perban itu sekali lagi. Menyentuhnya saja sudah membuatku teringat akan sakitnya tangan Baekhyun yang melingkari leherku. Aku juga baru ingat bahwa Gikwang adalah dokter, sama seperti Wheein. Bedanya jika Wheein dokter anak, Gikwang adalah dokter umum.

“Kita akan tiba di Seoul sekitar 2 jam lagi.” Ujar Kai. “Solar memberitahuku bahwa kau harus menemui Jessica begitu tiba di Seoul tapi aku menolaknya karena aku yakin kau butuh istirahat.”

Gomawo…” sahutku cepat. “Kau benar-benar baik.”

Kai menggeleng cepat. “Bukankah aku selalu baik padamu?” ucapnya dengan nada yang penuh percaya diri lalu tersenyum. “Jadi aku sudah memintanya agar pertemuanmu dengan Jessica diundur menjadi besok. Sayangnya aku tak bisa mengantarmu karena jadwal syutingku dimulai besok.”

Setelah Kai mengungkapkan hal itu, jujur aku sedikit merasa kecewa. Sebagai stuntman, memang dia tidak sesibuk aktor lainnya tapi dia harus ada saat adegan yang dia gantikan. Aku tahu bahwa Kai tidak akan mengizinkanku datang saat hari syuting karena dia akan sangat gugup jika aku melihatnya.

“Jadi besok… Solar yang akan mengantarmu.” Lanjut Kai. “Dia tidak menawarkan diri tapi dia memohon padaku. Jadi aku memberinya kunci mobilku.”

“Kau memberi Solar kunci mobilmu?” ulangku lalu Kai mengangguk. Sebenarnya tidak masalah jika Solar menyetir mobil, asalkan jangan motor. Tapi pengalaman Solar menyetir mobil sangat sedikit. Mengingat mobil Kai adalah mobil mewah, aku menjadi semakin cemas.

“Aku baru longgar setelah 5 hari syuting. Mungkin Solar akan sibuk dengan proyek Skellington jadi Wheein menawarkan diri untuk menemanimu.” Jelas Kai lagi membuatku terkejut.

“Wheein?”

Kai mengangguk cepat. “Dia berjanji akan mengajakmu bersenang-senang jadi aku tidak bisa menolaknya.” Ungkap Kai. “Dia bilang dia akan mengambil libur untuk sementara dan dia bisa menggunakan jadwal kosongnya untuk menemanimu.”

Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Wheein tapi sebenarnya kami cocok satu sama lain. Pemikiran kami sama-sama realistis meski perasaan Wheein lebih sulit ditebak. Mungkin aku harus menerima tawarannya untuk menemaniku karena aku sempat melupakan kehadiran Wheein dalam hidupku sebelum aku bertemu kembali dengannya.

“Jika dihitung mulai besok, waktu kontrakmu dengan Baekhyun tersisa 12 hari.” Sahut Kai. “Aku sudah dengar dari Solar bahwa serum ingatan itu membuat Baekhyun mengingat segala hal yang dia alami sampai dia meninggal. Aku bisa membantumu menjelaskan beberapa hal.”

Aku langsung bisa membaca isi hati Kai. Sebenarnya dia tidak mengenal Baekhyun tapi entah mengapa sepertinya dia ingin secara pribadi menjelaskan sesuatu pada Baekhyun. “Kau mengkhawatirkanku?”

“Tentu saja.” Jawabnya cepat. “Ingat saat kau bertengkar dengan Tiffany kemarin? Coba saja aku tidak menyela pembicaraan kalian, mungkin kalian akan berakhir dengan saling menjambak rambut.”

Aku tertawa kecil. “Aku mengerti. Aku akan menghubungimu jika aku butuh bantuan.”

“Aku akan menunggu.” Sahutnya lalu kami berdua sama-sama tersenyum. “Oh ya, apa kakimu… Baik-baik saja?”

Aku memperhatikan kedua kakiku yang dibalut oleh piyama. Siapapun yang sudah mengganti bajuku, aku tak peduli karena kakiku amat sangat kesakitan. Tapi aku berbohong agar Kai tidak khawatir. “Iya. Kakiku baik-baik saja.”

“Syukurlah.”

Lalu menit-menit selanjutnya kami hanya diam tanpa kata. Aku dan Kai sama-sama memperhatikan pemandangan laut yang bisa dilihat dari jendela restoran. Langit berwarna biru muda berhiaskan awan putih membuatku tenang. Laut yang berkilau membuatku semakin ingin cepat-cepat kembali ke Seoul. Aku tak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. “Kai… Apa kau mau mengabulkan permintaanku?”

Kai langsung mengenggam kedua tanganku erat. “Apa?”

Aku tersenyum lalu menyandarkan kepalaku di pundaknya. “Malam ini… Aku ingin tidur di tempatmu.”

Tiba-tiba Kai menarik wajahku lalu menciumku dengan sangat cepat tapi sekaligus lembut. Saat aku menunjukkan wajah cemasku, dia malah tertawa dan berkata, “Mana mungkin aku bisa menolak permintaan semanis itu?” lalu kami berdua tertawa.

.

.

.

.

.

            Aku sempat berpikir bahwa pagi ini aku akan bangun paling pertama karena sebelumnya aku menghabiskan waktu sekitar 13 jam untuk tidur tapi ternyata tidak. Saat aku terbangun, aku sendirian di ranjang yang ada di kamar Kai. Setelah menyisir rambutku, aku keluar dari kamar Kai dan mendapati ibu Kai yang sedang memasak di dapur.

Annyeonghaseyo.” Sapaku lalu aku membungkuk sebesar 90 derajat.

Annyeonghaseyo, Taeyeon-ssi. Maaf ya, aku seharusnya membangunkanmu lebih cepat.” Balasnya lalu tersenyum. “Kai baru saja berangkat ke tempat syuting.”

Aku menggeleng cepat dan duduk di kursi dapur untuk memperhatikan ibu Kai memasak. Aku sudah berkali-kali datang kemari dan berbicara dengan ibu Kai. Meski sebenarnya beliau bukan ibu kandung Kai. Beliau kakak perempuan dari ibu kandung Kai.

Ayah kandung Kai meninggal saat dia kecil dan ibunya meninggalkannya saat dia baru berusia 5 tahun. Kai ditemukan dalam keadaan sekarat dan kelaparan dan dengan sukarela beliau menawarkan diri untuk merawat keponakannya tersebut.

Yang menemukan Kai dan merawatnya selama satu bulan adalah ayah Taemin yang bekerja sebagai polisi. Taemin adalah orang selain aku yang mengetahui masa lalu Kai. Dia selalu menganggap bahwa ibu kandung Kai sangat tidak bisa dimaafkan dan rasa kasihannya terhadap Kai membuat dia sangat posesif terhadap Kai. Taemin adalah orang yang menentang habis-habisan hubunganku dengan Kai pada awalnya tapi setelah sekian tahun sepertinya dia sudah merelakan perasaannya.

“Taeyeon seperti biasa, ya?” tanya ibu Kai dengan nada lembut. “Pancake keju?”

“Ah, iya. Maaf merepotkan.” Jawabku cepat lalu beliau menggeleng dan melanjutkan pekerjaannya. Keluarga Kai menerimaku dengan hangat dan mereka sudah menganggapku bagian dari mereka. Seketika aku teringat akan lamaran Kai di Pulau Jeju. Aku belum menjawab apakah aku akan menikahinya atau tidak. Apa Kai sudah bercerita pada keluarganya bahwa dia sudah melamarku?

Setelah kupikir-pikir, alasan Kai tidak segera melamarku bukan karena papa tidak merestui hubungan kami. Karena jika papa tidak merestui hubungan kami, mungkin papa tidak akan mengizinkan Kai mengantar jemputku atau makan malam bersamaku atau menginap di rumahnya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dilakukan Kai sebelum melamarku. Tapi sepertinya saat di Pulau Jeju, dia tidak bisa menahan diri. Memikirkannya saja membuatku berpikir bahwa Kai sebenarnya sangat manis.

Tak lama kemudian, aroma manis tiba di depan wajahku dan aku sadar pancake keju asli buatan ibu Kai sudah ada di depanku. “Selamat menikmati.”

Alasan Kai baik pada semua orang adalah karena dia selalu berlaku baik pada orang-orang di rumahnya. Dia sangat takut jika suatu hari semua orang di rumahnya membencinya lalu dia ditinggal sendirian. Aku langsung berpikir bahwa keluarga ini pasti sangat bahagia memiliki orang seperti Kai tinggal di rumah ini. Senyumnya bahkan lebih terang dari bulan.

Tiba-tiba bunyi klakson mobil terdengar dan ibu Kai berlari ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah orang yang memohon pada Kai agar dia boleh memakai Mercedes Benz merahnya yang tak lain adalah adikku sendiri, Solar.

“Hei, eonni.” Sapa Solar kemudian duduk di depanku. “Sudah merasa baikan?”

Aku mengangguk cepat lalu melahap potongan pancake keju yang terakhir. “Lumayan. Aku sudah cukup istirahat.”

Solar mengambil sesuatu dari tas tangannya lalu tersenyum. “Cepatlah rapikan diri lalu aku akan membantu eonni mengganti perban di lehermu.”

.

.

.

.

.

            Aku tak tahu seberapa penting sebuah serum ingatan yang tidak sempurna tapi begitu aku dan Solar tiba di ruang pertemuan yang dijanjikan, semua orang yang ada di ruangan itu menatapku dengan tatapan dingin. Lengkap dengan jas laboratorium, mereka terlihat sangat menyeramkan di depanku.

Aku dan Solar duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Jessica yang duduk di sebelahku. Jessica sama sekali tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan karena dia terlihat sangat cemas dan khawatir.

Di ruangan itu juga ada Dokter Yonghwa, dokter khusus yang menangani Skellington jika sakit. Ada satu kursi yang belum ditempati siapapun tapi siapapun yang akan menempatinya, mungkin dia adalah orang yang sangat penting. Karena orang yang duduk di kursi itu otomatis bisa melihat semua yang ada di meja ini hanya dengan memandang ke depan.

“Jangan berkata apapun jika kau tidak diminta untuk berbicara.” Ucap Jessica pada Solar lalu Solar mengangguk. “Kau juga, Taeyeon. Kumohon.”

Beberapa menit kemudian, seorang wanita berkulit putih dan berparas sangat cantik memasuki ruangan dan duduk di satu-satunya kursi kosong yang ada di ruangan. Yang membedakannya dari yang lain adalah dia tidak mengenakan jas laboratorium. Tapi dia memakai sebuah dress berwarna peach yang ingin aku curi untuk aku pakai di pesta.

“Selamat siang, semuanya. Sekarang jam 10 waktu Seoul dan dengan hormat aku membuka rapat ini.” Ucapnya lalu tersenyum dan semua yang ada di ruangan bertepuk tangan, membuatku dan Solar mau tidak mau ikut bertepuk tangan.

“Dia pemimpin dari proyek Skellington.” Ungkap Jessica pelan. “Namanya Sandara Park. Meski wajahnya sangat cantik, usianya sudah tidak muda. Tapi dia sangat jenius. Dia yang merancang seluruh proyek Skellington.”

“Wow.” Hanya itu kata yang keluar dari mulutku dan Solar. Kami tahu bahwa kami sangat mencolok di ruangan ini karena tidak memakai jas laboratorium. Berada di satu ruangan bersama orang sepertinya membuat kami gugup.

Sandara Park menjetikkan jarinya dua kali lalu orang yang terlihat seperti pelayannya membawakannya sebuah tab serta alat untuk membawakan presentasi. Ada sebuah bola di tengah-tengah meja dan begitu Sandara Park menekan salah satu tombol di alat tersebut, sebuah hologram berupa gedung Skellington muncul.

“Ini adalah pertemuan kita yang ke-342 setelah 7 tahun proyek ini dilaksanakan.” Ucap Sandara Pak memulai pembicaraan. “Dan kita tidak bisa berada di sini tanpa kerja keras setiap orang yang ada di gedung ini. Aku benar-benar berterima kasih karena kalian mau melangkah bersamaku untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.”

Jessica menepuk bahuku dua kali lalu berkata dengan suara pelan, “Dengarkan setiap hal yang keluar dari mulutnya.” Dan aku hanya bisa mengangguk.

“Seperti yang kalian tahu, bahwa proyek Skellington adalah proyek rahasia milik pemerintah yang bertujuan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Orang yang sudah meninggal bisa dihidupkan kembali jika kita punya DNA-nya dan DNA itu bisa dikembangkan menjadi tubuh baru yang tahan terhadap kondisi apapun dan bisa beraktivitas seperti manusia pada umumnya.”

Sandara Park menekan salah satu tombol dan hologram berganti menjadi peta negara kami, Korea Selatan. “Kita sudah berkeliling ke seluruh negri dan mengumpulkan banyak DNA dari orang-orang yang sudah meninggal. Usia yang kita miliki sangat beragam. Sampai saat ini yang paling muda adalah anak laki-laki berumur 11 tahun dan yang paling tua adalah wanita berumur 48 tahun.”

Sebuah tombol ditekan lagi dan hologram berganti menjadi gambar Skellington seorang wanita serta laki-laki yang terlihat lebih tua darinya. “Seperti yang kita tahu, wanita yang berusia 48 tahun ini adalah salah satu dari sekian banyak Skellington yang menunjukkan perkembangan luar biasa dan menjadi satu-satunya Skellington yang berhasil hidup bahagia.”

Jessica menepuk bahuku sekali lagi. “Yang menjadi pendamping Skellingtonnya adalah suaminya sendiri. Mereka juga awalnya termasuk program sukarelawan dan sekarang mereka sudah tinggal bersama lagi.”

“Mereka telah memberi kita laporan yang bagus untuk diberikan pada pemerintah dan karena itulah kita jadi punya banyak perusahaan yang mengajak bekerja sama. Tentu saja setiap perusahaan aliansi kita telah membantu kita hingga kita sampai ke tahap ini.” Jelas Sandara Park lalu semua yang ada di ruangan bertepuk tangan.

Hologram berganti menjadi gambar serum ingatan. “Baru-baru ini saya menandatangani proyek kerja sama dengan sebuah perusahaan asuransi. Perusahaan itu membantu kita mengembangkan sebuah produk yang bisa membuat proyek ini cepat selesai dan kita bisa mengumumkannya pada masyarakat. Produk ini bernama serum ingatan.”

“Dengan serum ingatan, Skellington yang disuntikkan bisa membangkitkan semua memori mereka tanpa pendampingnya bersusah payah datang kemari setiap hari dan mengajaknya mengingat memori-memori yang terkubur.” Lanjut Sandara Park lalu dia menekan tombol yang membuatku duduk tegak. Hologram itu berganti menjadi gambar Baekhyun. “Sayangnya produk itu masih berupa sampel dan secara tidak sengaja telah digunakan pada Skellington Byun Baekhyun dengan nomor registrasi 2569. Yang bertanggung jawab mohon menjelaskan.”

Jessica segera bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badan. “Saya Jung Jessica yang bertanggung jawab atas Skellington Byun Baekhyun.”

Dokter Yonghwa juga berdiri lalu membungkukkan badannya. “Saya Jung Yonghwa yang bertugas mengawasi Skellington Byun Baekhyun.” Dokter Yonghwa membaca salah satu dari kertas laporannya. “4 hari yang lalu pendamping Byun Baekhyun, Kim Taeyeon, meminta izin untuk membawa Baekhyun berlibur di Pulau Jeju selama 3 hari 2 malam. Mengingat kondisi Skellington Baekhyun yang masih belum stabil, saya dan Jessica mendiskusikan alat-alat apa saja yang perlu dibawa Baekhyun dalam perjalanannya.”

Jessica mengangguk. “Sebelum berangkat, saya memberikan Taeyeon dan Solar sinar pelindung dan masing-masing dari mereka serbuah serum ingatan. Serum ingatan itu memang dibagikan kepada seluruh pekerja di gedung ini. Serum ingatan yang dibawa oleh Taeyeon dan Solar adalah serum ingatan milik saya dan Dokter Yonghwa.”

Sandara Park memandangku lalu tersenyum. “Kalau begitu Kim Taeyeon, mohon ceritakan pada kami tentang serum ingatan yang ada di tangan anda.”

Jessica memberiku isyarat supaya berdiri lalu aku mengangguk. Aku bangkit dari tempat dudukku dan membungkukkan badan. Semua mata tertuju padaku dan untuk kesekian kalinya aku berkata dalam hati bahwa aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Semua mata yang memandangku membuatku semakin gugup dan kalimat-kalimat yang sebelumnya sudah kusiapkan di dalam otakku menghilang begitu saja.

“Saya Kim Taeyeon. Orang yang terpilih menjadi pendamping Skellington Byun Baekhyun.” Ucapku sambil berkeringat dingin. “Sebelum naik kapal menuju Pulau Jeju, saya dan Solar menerima serum ingatan dari Jessica. Tapi saya membuangnya dari dek kapal begitu kami berangkat.”

Semua yang ada di ruangan terkesiap dan Sandara Park menenangkan mereka. Jessica bahkan terlihat terkejut setelah aku mengungkapkan hal itu. Sandara Park memandangku lagi lalu bertanya, “Apa alasan anda membuang serum itu begitu berangkat?”

Aku meneguk ludahku. “Karena saya punya hubungan yang tidak baik dengan Skellington Byun Baekhyun semasa dia hidup. Saya berpikir jika berbicara dengannya saja membuat emosi saya naik, apalagi jika saya terlibat perdebatan dengannya. Jadi saya membuang serum ingatan itu, menyebabkan serum ingatan hanya dibawa oleh Solar selama kami di Pulau Jeju.” Ungkapku jujur.

“Alasan yang realistis. Terima kasih sudah menjelaskannya pada kami.” Sandara Park mengalihkan pandangannya pada Solar. “Kalau begitu sekarang giliran Kim Yongsun untuk menjelaskan pada kami tentang serum ingatan yang ada di tangan anda.”

Solar berdiri bersamaan dengan saat aku kembali duduk dan Solar membungkukkan badannya dengan anggun. Solar bahkan tak terlihat gugup sama sekali meski sebelum memasuki ruang pertemuan dia berkata padaku bahwa dia sangat gugup. Dia masih sempat tersenyum pada semua yang ada di ruangan.

Annnyeonghaseyo, nama saya Kim Yongsun. Saya asisten kakak kandung saya dalam menangani Skellington Byun Baekhyun. Saya menerima serum ingatan dari Jessica tepat sebelum kami berangkat menuju Pulau Jeju.” Jelas Solar panjang lebar. “Saya memberikan serum itu pada Baekhyun saat dia berusaha membangkitkan memorinya dengan paksa di Festival Kembang Api.”

Jessica mengangguk dengan cepat. “Seperti yang saya laporkan kemarin, Kim Yongsun memberikan serum itu karena kondisi Skellington Baekhyun yang memprinhatinkan. Dan menurut Kim Yongsun, Skellington Baekhyun langsung terdiam begitu disuntikkan serum ingatan.”

“Apa itu artinya Skellington Baekhyun tidak mengalami perubahan apapun setelah disuntikkan serum ingatan?” tanya Sandara Park dengan nada serius.

Langsung saja aku teringat akan perban yang melingkari leherku. Siapa yang akan menjelaskan tentang Baekhyun yang langsung menerjang tubuhku begitu bertemu denganku? Tentang Baekhyun yang menindih tubuhku lalu menekan leherku dengan sangat erat?

“Tidak ada.” Jawab Jessica membuatku terkejut. “Skellington Baekhyun tidak mengalami perubahan apapun setelah memorinya kembali.”

Aku langsung merinding. Mengapa Jessica berbohong? Bukankah sikap Baekhyun setelah disuntikkan serum ingatan adalah hal yang sangat penting untuk dilaporkan? Mengapa dia menutupinya? Apa itu alasannya menyuruhku untuk tidak berkata apapun jika tidak diminta? Untuk menutupi kenyataan ini?

“Bagus.” Ujar Sandara Park lalu semua yang ada di ruangan bertepuk tangan. “Langsung saja saya lanjutkan.”

Sandara Park menekan sebuah tombol sekali lagi dan hologram diganti menjadi berbagai gambar yang aku sadari bahwa itu memori Baekhyun semasa hidupnya. “Skellington Baekhyun telah mengingat semua hal yang dia alami saat dia hidup. Tapi kami menemukan sedikit kejanggalan.”

Dokter Yonghwa mengerutkan keningnya. “Kejanggalan?”

Sandara Park mengangguk cepat. “Entah bagaimana saya mengatakannya, tapi sepertinya ada memori yang tidak bisa diakses oleh Skellington Baekhyun. Memori itu berupa kejadian-kejadian saat dia berusia 12 tahun hingga 13 tahun. Mungkin perlu saya ingatkan bahwa serum ingatan itu belum sempurna.”

“Bagaimana kalau kita mengundang orang-orang yang dekat dengan Baekhyun selama satu tahun itu dan meminta mereka menceritakan pada Baekhyun apa saja yang terjadi saat itu?” usul Jessica dan aku mengira bahwa orang yang dimaksud Jessica adalah Tiffany dan Chanyeol sampai Jessica memandangku dalam-dalam.

“Ide bagus.” Sahut Sandara Park. “Dan tentu saja orang itu adalah pendamping Skellington Byun Baekhyun, bukan?”

Jessica mengangguk. “Kim Taeyeon telah setuju untuk bekerja keras sampai masa kontrak sukarelawan percobaannya berakhir.”

“Bagus. Sangat bagus.” Ucap Sandara Park lalu dengan gembira semua yang ada di ruangan bertepuk tangan. Sedangkan aku duduk di kursiku dan aku bisa merasakan jiwaku menghilang dari tubuhku. Apa-apaan semua ini? Aku tak bisa menahan diriku lagi.

Aku langsung berdiri dengan cepat dan berseru, “Ada… Yang ingin saya katakan!”

Seisi ruangan menatapku lagi tapi kali ini aku sudah tidak peduli apakah aku suka menjadi pusat perhatian atau tidak. Sandara Park tersenyum padaku. “Silakan, bicaralah.”

Aku mengangguk lalu menatap Jessica dengan rasa bersalah. “Tentang sikap Skellington Baekhyun setelah disuntikkan serum ingatan… Sebenarnya tidak seperti yang dikatakan sebelumnya oleh Jessica. Skellington Baekhyun berubah sikap setelah bertemu dengan saya. Dia menyerang saya dengan semua tenaganya dan menyebabkan leher saya menjadi seperti ini.” Ungkapku lalu menunjukkan leherku yang diperban. “Beruntung saya langsung mendapat pertolongan pertama.”

Semua yang ada di ruangan langsung memajukan tubuh mereka untuk melihat leherku yang diperban. Mereka terlihat sangat terkejut sekaligus bingung. Sandara Park juga tidak kalah bingung. “Jung Jessica, apa maksud anda berkata bahwa tidak ada yang berubah dari sikap Skellington Byun Baekhyun?”

Jessica berdiri dengan cepat. “Saya harus melapor seperti itu karena jika tidak, anda tidak akan membiarkan Kim Taeyeon mendekati Skellington Baekhyun lagi. Mungkin anda lupa, tapi Taeyeon adalah pemegang rekor tercepat dalam tahap seleksi sukarelawan dan dia adalah satu-satunya orang yang mengerti isi hati dari Skellington Baekhyun.”

Sandara Park menggeleng bingung. “Apa kau sudah gila? Kau tidak berpikir akibatnya pada proyek ini—“

Dokter Yonghwa yang sedari tadi diam ikut berdiri dan membela Jessica. “Presiden Sandara Park, dengan adanya Taeyeon maka Skellington Baekhyun akan menunjukkan perkembangan yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Jika anda melarang Taeyeon menjadi pendamping Baekhyun, maka anda juga akan kehilangan bahan percobaan berharga yang sudah susah payah kita dapatkan.”

“Tapi itu jika Kim Taeyeon serius dan bersedia dengan tulus.” Sahut Sandara Park berusaha menahan emosinya. “Lagipula Kim Taeyeon tadi mengungkapkan bahwa dirinya punya hubungan yang tidak baik dengan Skellington Byun Baekhyun semasa hidup. Apa dia sanggup menangani Skellington Byun Baekhyun lebih lama lagi?”

Solar langsung berdiri dan berseru, “Saya percaya kakak saya sanggup.”

“Maaf, Kim Yongsun tapi saya bertanya pada Kim Taeyeon.” Sandara Park memandangku dalam-dalam dan dengan serius berkata, “Apa kau sanggup menangani Skellington Byun Baekhyun? Tentu saja jika kau berkata sanggup, saya akan memberimu sebuah tes lagi. Tes yang jauh lebih berat daripada tes yang diberikan padamu saat tahap seleksi.”

Seisi ruangan langsung ramai setelah pernyataan Sandara Park. Jessica langsung berseru, “Tapi Presiden Sandara Park, jika anda memberikan tes itu pada Taeyeon… Dia bisa tewas—“

“Bagaimana Kim Taeyeon?” tanya Sandara Park sekali lagi dengan nada yang berat.

Pikiranku tidak sanggup mengolah berbagai kalimat yang terdengar. Pertemuan ini jelas tidak membantuku tapi malah membuatku semakin terpojok. Mungkin seharusnya aku menuruti Jessica dengan tidak berkata apapun selama pertemuan ini. Tapi aku tidak ingin lari. Aku akan bertanggung jawab.

“Saya sanggup.” Ujarku dengan gugup tapi dengan nada yang terdengar teguh. “Dan berikan tes itu pada saya hari ini juga. Saya tidak ingin membuang-buang waktu.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Ada satu pertanyaan yang terlintas dalam benakku saat membuat part 12 yaitu : apa kalian merindukan adanya flashback? Karena setelah 3 part menulis tanpa flashback, cerita ini berkembang dengan sangat cepat. Aku ingin mengulurnya sedikit lagi.

Lalu bagi yang sudah menebak-nebak seperti apa masa lalu Taeyeon bersama Baekhyun, aku sudah memberi hint yang cukup jelas di part kali ini. Aku akan sangat senang jika kalian bersemangat untuk memecahkan misteri ini.

Oh ya jika kalian mau, kalian boleh menulis tokoh favorit kalian di kolom komentar agar aku bisa memunculkan tokoh yang kalian sebutkan itu lebih banyak di part-part berikutnya.

Seperti biasa aku minta kritk dan saran dari kalian semua! Terima kasih sudah membaca sampai selesai, aku harap kalian menikmatinya. Sampai jumpa di part berikutnya, aku akan berusaha!

Part 13 will be published December 12th 2015

Advertisements

71 comments on “Skellington [Part 12]

  1. Pingback: Skellington [Part 22] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s