The Leader’s Secret (Chapter 3)

wpid-wp-1440532290100

Poster by : KIM.J @ POSTER DESIGN ART

Bina Ferina Storyline

Kwon Jiyong (GD BigBang), Kim Taeyeon (GG) || Romance, Fantasy || PG 18

“The Leader’s Secret”

A/N     : Dear, ATSIT’s readers. Thank you so much karena udah support FF ini, yaaaa^^ baca comment  kalian semua jadi semangat buat lanjutin chap 3 ini hehehee.

Loveyousomuch~

-Preview :

a. Prolog b. Chapter 1 c. Chapter 2

~~~

Vampires. Tidak bisa makan bawang putih, terkena sinar matahari, dan berada di sekeliling manusia biasa. Lebih parah lagi, kalau darah dari salah satu manusia itu termasuk darah yang sangat manis, baik saat mereka menciumnya maupun merasakannya. Darah yang sangat manis termasuk langka ditemukan dari para manusia. Sekali ditemukan, para vampire ini tidak akan sanggup untuk mengontrolnya kecuali mereka ingat untuk menutup hidung sebelum kedua mata mereka berubah warna. Darah manis ini hanya vampires itu yang tahu seperti apa. Hidung mereka sangat sensitive terhadap darah manis.

“Warna mata mereka akan berubah secara alami dan tanpa bisa mereka cegah. Berubah karena mereka merasa kelaparan dan atau saat mereka mencium darah seseorang yang sangat manis. Vampires hanya minum darah, apapun yang terjadi. Darah manusia. Mereka tidak akan bisa hidup tanpa darah itu. Terkadang, mereka juga akan ikut makan makanan manusia pada umumnya, hanya untuk formalitas atau menyembunyikan identitasnya. Setelah itu, mereka akan memuntahkannya selama beberapa jam kemudian. Makanan manusia tidak cocok untuk vampires.

“Pantas saja laki-laki itu selalu mengernyit setiap kali aku membuatkannya makanan,” gumam Taeyeon.

Gadis itu tengah sibuk membaca sebuah buku yang berjudul “Vampire Academy”. Buku itu Taeyeon pinjam di Perpustakaan Nasional Korea saat perjalanan pulang menuju apartemennya dari apartemen Big Bang. Begitu ia tahu Jiyong adalah seorang vampire, Taeyeon langsung mengarahkan mobilnya ke perpustakaan. Beruntung, perpustakaan itu masih buka.

“Pada zaman modern sekarang ini, para vampire itu akan sulit ditemukan keberadaannya di kota-kota besar. Mereka lebih suka berkumpul dengan sesamanya di sebuah kastil yang tidak pernah dikunjungi manusia sama sekali di negara Rumania. Jika ada seorang manusia yang menginjakkan kaki dalam kastil itu, dipastikan ia tidak akan pernah pulang lagi. Dan kejadian ini sudah pernah terjadi beberapa belas tahun yang lalu. Vampires yang masih berkeliaran di kota-kota besar hanya sedikit, tidak sampai 5%. Dan 4%-nya adalah vampire yang bisa beradaptasi secara bebas dengan manusia.

Vampires yang bisa beradaptasi secara bebas dengan manusia adalah vampire yang benar-benar terkontrol. Ia tidak akan gegabah ketika lapar ataupun mencium darah manusia yang manis. Meskipun begitu, tak dapat dipungkiri mereka tetap akan bernafsu saat melihat darah manusia di hadapan mereka. Para vampire yang terkontrol ini sehari-harinya akan minum darah hewan. Mereka mampu meminum darah hewan karena sudah menjalani pengobatan dan rehabilitasi selama bertahun-tahun, minimal lima tahun di sebuah rumah sakit yang tidak diketahui keberadaannya. Setelah selesai menjalani rangkaian pengobatan dan rehabilitasi, mereka akan bisa menjadi vampires yang bisa bergaul dengan bebas bersama manusia. Dan mereka juga bisa mengontrol perubahan warna mata mereka sendiri.

“Apakah G-Dragon termasuk vampire yang bebas? Setiap hari dia selalu berada di sekeliling manusia. Itu artinya dia bisa minum darah hewan, ‘kan? Kenapa dia masih memilih minum darah para perempuan itu?”

Taeyeon mengangkat kedua bahunya, bingung memikirkan masalah vampires ini. Dia tidak begitu mengerti. Meskipun begitu, Taeyeon ingin sekali membaca buku itu sampai habis. Ia ingin tahu apa-apa saja yang menjadi kelemahan dan ketidaksukaan seorang vampire. Ia adalah asisten dari seorang vampire. Pekerjaannya tentu semakin berat setelah ia mengetahui kenyataan pahit itu. Ia harus menjaga Jiyong baik-baik agar orang-orang tidak mengetahui identitas laki-laki itu yang sebenarnya. Taeyeon merasa sangat bertanggung jawab sekali untuk melindungi Jiyong.

Karena sahabatnya telah memercayai dirinya. Apapun yang terjadi, walaupun ia takut pada vampire atau pada jenis monster lainnya, ia akan mengutamakan janjinya pada Kwon Yuri, dan tentu saja pada sunbae yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, Kwon Dami.

Bagi Taeyeon, vampires adalah salah satu makhluk yang berspesies sama dengan monsters. Dan dirinya adalah seorang gadis yang sangat anti terhadap monsters, devils, badboys, dan playboys.

Gadis cantik yang secara bersamaan juga imut itu menguap ketika ia membalikkan halaman buku vampire-nya. Sudah pukul satu dini hari. Sial, besok pagi Big Bang akan menjalani beragam aktifitas yang melelahkan dan ia lupa untuk tidur lebih awal malam ini. Ia terlalu asyik membaca. Rasa penasarannya semakin meningkat di setiap halamannya.

Taeyeon menutup bukunya dan mengecek ponselnya. Ia ingin melihat agenda pertama Big Bang besok pagi. Live stage di M! Countdown. Dan Big Bang, terutama Jiyong, pasti membutuhkan kehadirannya.

Taeyeon menghela nafas pendek dan ia bangkit dari sofa empuknya yang berada di ruang tengah apartemen. Begitu kedua kakinya hendak melangkah menuju kamar tidurnya, ponsel Taeyeon berdering, menandakan ada telepon masuk. Taeyeon melihat layar ponselnya. Joo Hyun.

“Yeoboseo, Hyunnie,” sapa Taeyeon. “Apa kau tidak lihat ini sudah pukul berapa?”

“Omo, syukurlah kau belum tidur, eonni!” seru Joo Hyun. “Eonni, ada yang ingin kukatakan padamu. Apa minggu ini kita semua bisa berkumpul lagi? Di suatu tempat? Seperti biasanya,”

“Sepertinya tidak bisa, Hyun~,” jawab Taeyeon. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur. Sesampainya di dalam kamar, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. “Yuri sedang sibuk syuting iklan dan photoshoot di Thailand, ingat? Dan aku juga tidak bisa. Sampai beberapa minggu ke depan. Aku asisten Big Bang dan sekarang mereka berencana untuk membuat World Tour MADE Diary. Kita akan kembali berkumpul bersama di saat semuanya sedang free,”

“Aigoo, eonni. Kalau begitu, apa kukatakan saja sekarang?” tanya Joo Hyun dengan suaranya yang pelan, sedikit cemas.

“Apa yang ingin kau katakan? Sepertinya mendesak sekali,”

“Begini, eonni. Jae oppa…”

Joo Hyun menggantungkan kalimatnya. Ia tahu seperti apa reaksi yang terukir di wajah Taeyeon saat nama itu kembali disebut. Mereka bertujuh sudah terbiasa dengan reaksi gadis itu. Perkiraan Joo Hyun benar. Begitu mendengar nama ‘Jae’, Taeyeon mendadak bangkit duduk tegak di atas tempat tidurnya. Tubuhnya seperti tersengat listrik. Dan jantungnya berdebar tak karuan. Hatinya antara siap dan tak siap mendengar apa yang akan disampaikan oleh Joo Hyun.

Kim Taeyeon, Joo Hyun hanya menyebut namanya. Tapi kenapa kau bersikap seperti ini? Such an idiot.

“Tidak penting, eonni. Jadi, jangan terlalu dipikirkan, eoh? Apapun yang kuucapkan, kumohon jangan membuat dirimu semakin tersiksa. Apapun yang sekarang ini akan kuberitahu padamu, kumohon jangan depresi untuk kesekian kalinya. Aku tidak ingin memberitahumu sebenarnya, eonni. Aku benci mengatakannya, apa kau tahu? Tapi aku harus melakukannya. Karena kufikir, kau sudah menunggu terlalu lama…”

“Hyunnie~,” lirih Taeyeon, membuat Joo Hyun berhenti bicara.

“Arraseo,” ujar Joo Hyun. “Aku sedang menjalani pemotretan tadi siang. Dan aku bertemu dengannya. Kami berada di lokasi yang sama untuk pemotretan yang berbeda, tentu saja. Aku sudah tahu sejak seminggu yang lalu, saat mendapat kabar kau menjadi asisten Big Bang. Tapi aku baru bertemu dengannya hari ini. Dan dia tersenyum padaku, menyapaku seperti biasa, seperti tidak ada kejadian apa-apa di antara kami. Memang tidak ada kejadian apa-apa. Tapi aku merasa canggung karena dialah orang yang selama ini menyebabkan luka di hatimu.

“Dia tersenyum dan datang mendekatiku. Dia bilang sudah lama tidak bertemu dan senang akhirnya bisa bertemu denganku. Sedikit berbasa-basi, tapi aku tahu apa yang ingin ia katakan. Ne, dia bertanya bagaimana keadaanmu selama ini, eonni. Dia tanya kabarmu, di mana dirimu sekarang, sedang sibuk apa, apakah masih bergelut dengan webtoon-mu, dan masih banyak lagi,”

Joo Hyun menghela nafas dan ia diam, ingin mendengar interupsi apa yang akan dilayangkan Taeyeon. Namun, gadis itu hanya diam. Dadanya bergemuruh kencang. Sakit. Ia ingin tahu kelanjutan cerita Joo Hyun. Tapi apakah ia sanggup? Setetes air mata jatuh membasahi pipi kiri Taeyeon.

Ia sangat merindukan laki-laki itu. Apakah laki-laki itu juga merindukannya? Selama enam tahun berpisah, tak saling jumpa, tak saling sapa, lost contact, apakah laki-laki itu juga merasakan apa yang Taeyeon rasakan?

“Dia juga bilang kalau dia sangat merindukanmu, dan ingin bertemu denganmu. Eonni, katakan padaku. Apa aku salah? Aku memberikannya nomormu. Dia tidak memintanya. Tapi aku menawarkan nomormu. Dia bilang dia akan segera menghubungimu. Tidak dalam waktu dekat. Karena dia sangat sibuk untuk bulan ini. Dan kau pun juga tidak akan punya waktu banyak jika dia memintamu untuk bertemu dengannya sekarang,” jelas Joo Hyun. “Eonni, gwaenchanna?”

Taeyeon menggelengkan kepalanya, memberikan jawaban atas pertanyaan Joo Hyun secara non-verbal. Tentu saja Joo Hyun tidak akan mengetahuinya. Taeyeon tidak bisa mengeluarkan suaranya di saat air matanya mulai mengalir turun bagaikan anak sungai. Dia takut Joo Hyun akan semakin mengkhawatirkannya. Dia takut Joo Hyun akan merasa bersalah.

“Kau menangis lagi, ‘kan eonni?” tanya Joo Hyun. Suaranya pelan dan terlihat ada rasa penyesalan di sana. Ia membuat kakak tersayangnya menangis. “Uljimayo, eonni. Sudah hampir enam tahun lamanya kau menangisi hal yang sama. Apa kau tidak lelah? Kau tertawa pada lelucon yang sama untuk ketiga dan keempat kalinya akan merasa bosan, ‘kan? Lalu kenapa kau tidak bosan menangisi hal yang sama ratusan kali?”

“Mianhae, Hyunnie. Mianhaeyo,” lirih Taeyeon. Apa yang dikatakan Joo Hyun seratus persen benar. Tapi otak dan perasaan Taeyeon sedang tidak berjalan sinkron. Perasaannya selalu menang.

“Aku tidak bisa bilang apa-apa, eonni. Dan aku juga tahu, ini saatnya untuk sendiri, bukan?” tanya Joo Hyun. Perlahan rasa kesalnya hilang. “Aku tutup, eoh? Jaljayo, eonni,”

Begitu Joo Hyun memutuskan sambungan telepon mereka, Taeyeon kembali membaringkan tubuhnya dan meletakkan ponselnya di sisi kiri kepalanya. Percakapan singkat antara dirinya dan Joo Hyun masih terngiang-ngiang di benaknya.

“Dia bertanya bagaimana keadaanmu selama ini, eonni. Dia tanya kabarmu, di mana dirimu sekarang, sedang sibuk apa, apakah masih bergelut dengan webtoon-mu, dan masih banyak lagi. Dia juga bilang kalau dia sangat merindukanmu, dan ingin bertemu denganmu,”

“Enam tahun, oppa. Kenapa kau baru datang sekarang? Enam tahun seperti orang bodoh hanya karena menunggumu,”

Selama tiga puluh menit lebih Taeyeon membuang kembali air matanya, dengan masalah yang sama. Hingga gadis mungil itu memejamkan kedua matanya dan tertidur pulas.

~~~

“Taengie-ah. Bagaimana kalau hubungan kita sampai di sini saja?”

Ia berbalik memunggungi Taeyeon yang masih shock akan ucapan laki-laki itu. Taeyeon tidak bisa mengatakan apa-apa. Suaranya tercekat di tenggorokannya. Hanya air mata yang mengaliri kedua pipinya. Hanya air matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak terima dengan keputusan laki-laki itu.

“Sampai nanti,”

Ia pergi menjauh. Perlahan-lahan meninggalkan Taeyeon berdiri sendirian di hadapan pohon natal besar yang sangat cantik. Pohon natal yang tiga tahun lalu menjadi saksi bisu terjalinnya hubungan mereka yang hampir mendekati sempurna.

Tubuh gadis itu mendadak tidak seimbang, seakan-akan dirinya tidak mampu lagi menahan berat kedua kakinya. Taeyeon duduk di atas sebuah bangku panjang berwarna coklat yang berada tepat di samping kanan pohon natal itu. Ia menundukkan wajahnya, menangisi kesedihannya, menangisi perpisahannya dengan seseorang yang sangat dicintainya.

Taeyeon menangis terus-menerus, dalam waktu yang cukup lama, sampai ia menutup matanya. Tertidur dengan damai dan nyaman. Ia merasa seperti berbaring di atas tempat tidur yang empuk.

“Kenapa kau pergi, oppa? Alasan yang kau berikan begitu tidak masuk akal di telingaku. Apa menurutmu cinta kita berdua tidak tepat?” tanya Taeyeon.

“Aniya. Tidak ada yang salah dengan cinta kita,” jawab laki-laki itu sambil tersenyum simpul. Ia membelai lembut rambut panjang Taeyeon dengan segala kasih sayang yang ia punya. Ya, ia sangat menyayangi gadisnya. “Tapi… Kita berada di waktu yang salah. Kuharap kau bisa mengerti. Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali dalam keadaan terdesak. Aku takkan mampu, karena aku begitu mencintaimu,”

Taeyeon tersenyum lemah. Air matanya jatuh kembali. Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan laki-laki itu. Apakah itu artinya ia akan kembali pada Taeyeon? Taeyeon ingin bertanya lebih lanjut. Namun, laki-laki itu tiba-tiba saja menghilang.

Ia mendadak hilang. Dan kedua mata Taeyeon perlahan-lahan terbuka. Ia berada di sebuah ruangan kosong dan tidak ada apa-apa selain sebuah jendela besar dengan gordennya yang beterbangan akibat tertiup angin. Tubuhnya terbaring dengan nyaman di atas tempat tidur yang bukan miliknya dengan seprainya berwarna putih polos. Ia berada di tempat yang sama sekali asing. Dan tempat itu sedikit gelap, suram. Pencahayaannya kurang, sangat kurang.

Ia ingin membuka mulut dan mengeluarkan suaranya. Segera saja niat itu ia batalkan saat kedua matanya melihat sosok laki-laki berdiri di sudut kiri ruangan. Karena ruangannya yang gelap, Taeyeon tidak bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.

“Nuguseyo?” tanya Taeyeon. Suaranya menggema dalam ruangan itu.

Mendengar pertanyaan Taeyeon, laki-laki yang berada di sudut ruangan itu pun mengangkat wajahnya dan mengarahkan tatapannya pada Taeyeon. Lurus ke arah Taeyeon. Mendadak bulu kuduk Taeyeon sedikit meremang. Ia merasa ganjil dengan kehadiran laki-laki misterius itu.

Laki-laki itu dengan perlahan maju mendekati Taeyeon. Derap kakinya ikut menggema, membuat telinga Taeyeon tidak nyaman. Taeyeon tidak bisa bergerak. Kenapa? Ia begitu takut dengan laki-laki yang sedang menuju ke arahnya. Ia ingin menghindari laki-laki itu. Auranya begitu berbeda. Seperti aura… monster?

Kedua mata Taeyeon terbelalak, terkejut bukan main. Ia tidak asing dengan wajah itu. Ketika laki-laki itu sudah berada di sisi tempat tidur Taeyeon, menatapnya dengan tatapan tajamnya, Taeyeon dapat melihat dengan jelas wajahnya. Ia tahu sekali siapa laki-laki itu.

“Kwon… Ji Yong?”

 

Beep Beep Beep Beep

Taeyeon tersentak kaget hingga ia membuka kedua matanya secara tiba-tiba. Tanpa berfikir panjang, ia bangkit duduk di atas tempat tidurnya dan melihat sekeliling. Ini kamarnya. Ini tempat tidur miliknya. Ia berada di apartemennya sendiri.

Taeyeon memegang sisi kiri kepalanya yang berdenyut sakit. Ia bermimpi aneh kemarin malam. Mimpi yang hampir mirip dengan kenyataan. Bahkan ia mengira itu kenyataan. Bermimpi tentang hari di mana ia putus hubungan dengan mantan kekasihnya, mendengar bahwa ia masih sangat mencintai Taeyeon dan tidak berniat sama sekali untuk meninggalkannya. Mimpi itu sedikit membuat Taeyeon melayang. Apakah artinya ada kemungkinan ia kembali? Mengingat Joo Hyun sudah memberikan nomornya pada mantan kekasihnya itu. Namun, rasa senang Taeyeon seketika terhapus saat ia menyadari bahwa itu semua hanya mimpi. Bisa saja ia ingin bertemu dengan Taeyeon hanya untuk reuni, layaknya ingin bertemu dengan teman lama.

Dan mimpi yang terakhir. Mimpi itu juga begitu nyata bagi Taeyeon. Ia seperti mengalaminya. Masih segar dalam ingatannya. Kwon Ji Yong mendatanginya ketika ia terbangun di sebuah ruangan yang sangat asing. Ia datang dengan aura yang membuat bulu kuduk Taeyeon berdiri. Memutar kembali mimpi itu membuat Taeyeon kembali bergidik.

“Aigoo, ini pasti karena aku kebanyakan baca buku vampire itu. Mimpi yang tidak menyenangkan sekali,” gumam Taeyeon.

Beep Beep Beep Beep

Ponsel Taeyeon kembali berdering. Ada telepon masuk. Taeyeon buru-buru mengambilnya dan menekan tombol “answer” saat melihat nama kontaknya. GD.

“Dalam waktu satu jam kau sudah harus berada di MNET. Mulai detik ini juga dan aku tidak akan memaafkanmu yang terlambat sedetik saja. Kau sudah cukup membuatku menunggu terlalu lama pagi ini,”

Jiyong memutuskan sambungan teleponnya dengan cepat sebelum Taeyeon sempat berkata apa-apa. Ia tercengang. Betapa kagetnya Taeyeon, saat ia melihat sudah pukul delapan pagi. Seharusnya ia sudah berada di apartemen Big Bang sejak pukul enam pagi tadi. Sial, kali pertama ia terlambat di saat Big Bang punya jadwal yang sangat padat.

Satu jam yang dimulai dari sekarang. Taeyeon melompat dari tempat tidurnya dan bergegas menuju kamar mandi. Ia mandi secepat ia bisa. Berpakaian secepat ia bisa dan tentu saja ia tidak lagi sempat memikirkan sarapan.

Sisa 15 menit lagi. Bagaimana ia bisa mengejar waktu yang sangat singkat seperti itu? Apalagi sekarang ini ia sedang tidak bisa berkonsentrasi mencari kunci mobilnya sendiri. Taeyeon mengacak-acak rambutnya, berusaha mengingat di mana ia meletakkan kunci mobilnya. Dan tepat saat itu, ia mendengar bunyi klakson mobil di depan gedung apartemennya.

Merasa terpanggil oleh bunyi klakson itu, Taeyeon membuka jendelanya dan melihat ke bawah, ke sebuah mobil bermerk Bentlley Continental GT berwarna putih. Mobil Jiyong.

“Jiyong? Diakah itu?” gumam Taeyeon.

Tanpa banyak membuang waktu, Taeyeon mengambil tasnya dan buru-buru keluar dari gedung apartemen. Begitu keluar dari gedung, Taeyeon menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya ke arah mobil Jiyong. Ia dapat melihat Choi Seunghyun, sedang tersenyum simpul ke arah Taeyeon. Dagunya yang sedikit runcing ia sandarkan di lengan kanannya yang tengah memegang kemudi. Rambutnya yang keperakan tampak membuatnya semakin memesona.

Taeyeon balas tersenyum pada Seunghyun. Kalau boleh jujur, ia sedikit lega karena bukan Jiyong yang berada dalam mobil itu. Ia sedang malas untuk berdebat dengannya sekarang ini. Dan Taeyeon sebisa mungkin tidak berduaan dengan laki-laki itu dalam satu ruangan yang sempit. Tidak di saat ia sudah mengetahui siapa Jiyong yang sebenarnya.

“Jeoseonghamnida, aku sangat terlambat,” ujar Taeyeon cepat saat ia sudah berada di dalam mobil dan memakai seatbelt-nya.

Seunghyun menegakkan kembali tubuhnya dan menghidupkan mesin mobil seraya melajukannya dengan kecepatan rata-rata.

“Tidak perlu minta maaf padaku. Aku tidak masalah dengan keterlambatanmu untuk yang pertama kalinya ini. Tapi terlambat sampai dua jam lamanya mungkin butuh penjelasan juga. Kau tidak mengangkat ribuan telepon Jiyong, membuat Jiyong berspekulasi kalau kau tengah asyik menyelami mimpi indahmu, sampai-sampai kau tidak berniat untuk bangun,” jelas Seunghyun, yang tetap fokus mengemudi.

“Tch. Awalnya aku memang mimpi indah. Dia benar sekali, aku tidak ingin terbangun dari mimpi indah itu. Lalu, mimpiku berubah menjadi mimpi paling buruk selama aku hidup saat ponselku berdering ribuan kali. Dan apa kau tahu siapa yang muncul dalam mimpiku, Seunghyun-ssi? G-Dragon,” jawab Taeyeon dengan sarkastik. “Kurasa dia mengutukku habis-habisan di apartemen kalian, dan merusak mimpi indahku dalam sekejap,”

Seunghyun tertawa kecil mendengar ocehan kesal dari bibir mungil Taeyeon. Ia menatap Taeyeon sekilas. “Kau gadis yang lucu. Benar apa yang dikatakan Jiyong dan Yuri. Kau sangat benci berada di dekat playboys dan badboys. Tidak kusangka pesona G-Dragon yang perfect itu sanggup kau tolak,”

“Aku tidak benci berada di dekatnya. Hanya… Tidak nyaman,” sahut Taeyeon. Ia memandang Seunghyun yang ada di samping kirinya. “Dan kuharap Choi Seunghyun-yang-canggung-dan-katanya-sulit-untuk-didekati ini bukanlah badboy atau semacamnya,”

“Apakah menurutmu aku ini badboy?” tanya Seunghyun. Ia menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas yang ada di hadapan mereka berubah warna merah. Tubuh Seunghyun sedikit menghadap pada Taeyeon. Ia menatap Taeyeon dengan pandangan bertanya-tanya.

Senyum Taeyeon merekah begitu kedua mata mereka bertemu. “Molla. Aku tidak tahu pasti kau ini seperti apa orangnya. Image-mu yang sulit untuk didekati begitu menempel erat di dirimu. Aku jadi sulit untuk mengetahui tentangmu lebih jauh,”

“Aku tidak begitu suka banyak bicara. Biasanya aku hanya diam dan lebih suka mendengarkan. Tapi aku tidak akan keberatan kalau kau ingin mengenalku lebih jauh, Taeyeon-ssi. Aku tidak mau image good boy-ku hilang hanya karena aku terlalu menutup diri. Dan aku tidak mau seseorang merasa tidak nyaman ketika berada di dekatku,” ujar Seunghyun dengan tulus.

“Jinjjayo?” tanya Taeyeon. “Aku sangat senang sekali mendengarnya. Dari perkataanmu itu, kau memang good boy. Tapi, Seunghyun-ssi. Tetap saja, izinkan aku mengenalmu lebih baik lagi,”

Seunghyun tersenyum pada Taeyeon. Ia kembali ke posisi awalnya dan mulai mengemudikan kembali mobil itu. “Sifat Choi Seunghyun yang pertama kali harus kau ketahui, Taeyeon-ssi. Bahwa ia adalah sosok laki-laki yang baik hati dan sweet,”

Seunghyun mengambil sebuah kotak makan berwarna merah yang ada di atas dashboard mobil lalu menyerahkan kotak makan itu pada Taeyeon. Taeyeon sedikit terkejut dan ia menerimanya.

“Sarapan untukmu, Taeyeon-ah. Diburu oleh waktu dan Jiyong sekaligus membuatku yakin kau tidak berfikir untuk sarapan terlebih dulu,” ucap Seunghyun. Ia tersenyum manis, tanpa menoleh ke arah Taeyeon.

Taeyeon ikut tersenyum manis melihat sikap Seunghyun yang jauh dari ekspektasinya selama ini. “Gomawoyo. Kau memang sweet dan sangat baik hati sekali, Seunghyun oppa,”

~~~

“Apa kalian sudah latihan?” tanya Taeyeon pada Seunghyun sesampainya mereka di dalam gedung CJ E&M, M! Countdown. Mereka berdua berjalan beriringan menuju waiting room Big Bang di MNet. Dan Taeyeon begitu cemas dengan kesalahannya sebagai asisten Big Bang untuk pertama kali.

“Tentu saja belum. Bukankah aku pergi menjemputmu?”

“Siapa yang menyuruhmu lakukan itu?” tanya Taeyeon lagi, penasaran.

“Jiyongie,” jawab Seunghyun santai. “Ia tahu kau akan semakin lama sampai di sini jadi dia memintaku untuk menjemputmu,”

Taeyeon hanya mengangguk. Kemudian, ia sibuk memberi salam dan sapa kepada beberapa orang yang lewat di hadapannya. Orang-orang yang tengah sibuk menyiapkan live stage M! Countdown pukul sepuluh pagi nanti. Taeyeon juga bertemu dengan beberapa penyanyi, baik itu solo maupun girlgroup dan boygroup yang ia kenal.

Taeyeon menghentikan sesi sapaannya saat Seunghyun membuka pintu waiting room yang bertuliskan ‘Big Bang’. Lelaki jangkung itu masuk terlebih dulu diikuti oleh Taeyeon. Taeyeon dapat melihat keempat members Big Bang sedang asyik bercengkerama di atas sofa sambil tertawa-tawa.

Dan begitu Taeyeon masuk ke dalam ruangan, obrolan mereka terhenti dan semuanya memandang ke arah Taeyeon dan Seunghyun. Taeyeon tidak tahu pasti apakah pandangan Jiyong menyiratkan kekesalan atau tidak. Ia hanya memandang Taeyeon dengan pandangan datar.

“Noona, kenapa kau terlambat datang? Perutku sudah terbiasa dengan sarapan buatanmu. Dan hari ini, ketika dijejali oleh makanan buatan D-hyung, rasanya cacing di perutku ingin memuntahkannya kembali,” canda Seungri dengan wajahnya yang sangat serius.

“Muntahkan, muntahkan!” seru Daesung sambil memijat belakang leher Seungri dengan kuat. Dan beberapa detik kemudian mereka berdua saling bergulat sambil terkikik geli.

“Ya! Ya! Hajima! Karena TOP hyung sudah datang, kajja kita lakukan rehearsal sebentar,” ajak Jiyong sembari menarik leher Seungri untuk menjauhi Daesung. Mereka berdua keluar dari waiting room, diikuti oleh Daesung.

“Ya, Jiyong-ah! Kau belum makan, ‘kan? Hoi!” panggil Youngbae dengan suaranya yang keras. “Aku baru ingat dia belum ‘sarapan’,”

“Ne?” ulang Taeyeon. Ia sedikit terkejut. Bukan, sangat terkejut. Belum ‘sarapan’ berarti… Ya, Taeyeon lupa menghubungi salah satu gadis yang ada dalam daftar pagi ini.

“Ah, Taeyeon-ah. Bisakah kau menghubungi gadis-gadis itu?” tanya Youngbae. “Salah satu dari mereka pasti akan menyiapkan sarapan untuk Jiyong,”

“Gwaenchanna, aku sudah tahu apa yang kau maksud, Younbae-ah. Eung… Aku sudah tahu kalau dia… Yah, kau tahu,” ujar Taeyeon, yang sibuk merogoh-rogoh isi tasnya.

“Kau tahu? Jinjjayo? Kapan?” tanya Seunghyun dan Youngbae secara bersamaan.

Taeyeon tidak merespon pertanyaan mereka berdua. Ia tidak benar-benar mendengarnya. Karena ada satu masalah besar lagi yang menghampiri dirinya. Daftar nama-nama gadis itu tidak ada. Padahal ia yakin sekali ia selalu meletakkannya di dalam tas kecilnya. Dan tas kecilnya itu selalu ia bawa ke mana-mana.

“Eotteoke? Eotteoke? Eotteoke? Eotteoke?” gumam Taeyeon. Ia mengeluarkan semua isi tasnya, termasuk buku vampire itu, mengecek semua sisi tasnya dan yakin sepenuhnya kalau kertas itu sudah tidak ada.

“Ada apa, Taeyeon-ah?” tanya Seunghyun yang ikut cemas juga.

“Kertas itu. Daftar itu. Sepertinya aku menghilangkannya di suatu tempat,” bisik Taeyeon. Bola matanya membulat lucu, menandakan kalau ia sedang ketakutan, gugup, dan bingung.

“Coba check panggilan keluarmu,” usul Youngbae. “Telepon siapa saja dan suruh secepatnya ke sini. Jiyong tidak akan nafsu lagi sedang sibuk-sibuk seperti ini,”

“A… Arraseo,” jawab Taeyeon.

“Ada apa? Kenapa kalian berdua tidak menyusul?” tanya Jiyong yang muncul secara tiba-tiba, membuat Taeyeon terlonjak kaget.

“Aku hanya ingin pastikan kalau Taeyeon-ah akan baik-baik saja,” jawab Seunghyun asal. Ia mengelus puncak kepala Taeyeon sesaat lalu mengikuti Youngbae keluar dari waiting room.

Taeyeon sedikit tercengang mendapat elusan singkat di kepalanya dari Seunghyun. Karena Seunghyun tidak biasa bersikap seperti itu dan Taeyeon tahu, laki-laki itu berusaha membuat Taeyeon nyaman dengan berada di sisi mereka berlima, apalagi saat dirinya mengatakan kalau ia tidak nyaman dekat dengan Jiyong. Walaupun kaget, tapi Taeyeon cukup merasa tersentuh juga.

Begitu Youngbae dan Seunghyun keluar, Jiyong menolehkan wajahnya pada Taeyeon. Taeyeon pun juga sebaliknya. Hanya beberapa detik tatapan mereka terhubung, Jiyong sudah mengalihkan pandangannya dan hendak pergi menyusul kedua temannya. Ketika Taeyeon melihat gelagat Jiyong, Taeyeon langsung sadar dari lamunannya.

“Ji… G-Dragon-ssi, chakkamannyeo!” seru Taeyeon.

Jiyong kembali menatap Taeyeon dengan tatapan heran. Taeyeon meletakkan tasnya di atas meja dan secara tidak sengaja ia menyenggol meja itu, membuat buku ‘Vampire Academy’ yang awalnya ia letak di atas meja terjatuh. Suaranya cukup keras, mengingat tebalnya buku itu.

“Omo,” gumam Taeyeon. Kedua matanya membelalak lebar saat ia lihat buku itu sudah ada di lantai, dengan judulnya yang jelas-jelas terpampang di depan kedua matanya.

Buru-buru Taeyeon mengambil buku itu dan langsung menyimpannya dalam tas. Ia tidak tahu, dan ia tidak begitu yakin kalau Jiyong tidak melihat judul buku itu. Kalaupun ia tidak melihat judulnya, Taeyeon sangat yakin laki-laki itu melihat dari cover. Cover buku itu adalah wajah close-up dari sosok vampire. Dan Jiyong adalah orang paling bodoh di muka bumi ini kalau ia tidak menyadarinya.

Saat Taeyeon sudah berhasil menyimpan buku itu dalam tasnya, ia berbalik menghadap Jiyong kembali. Lagi-lagi jantungnya harus memompa lebih cepat ketika dilihatnya Jiyong sudah berdiri tepat di hadapannya. Taeyeon langsung mundur dua langkah dan sialnya, pinggangnya menabrak meja cukup kuat. Dan itu sangat sakit.

“Ada apa?” tanya Jiyong. Ekspresinya datar. Sekilas, Taeyeon berani bersumpah kalau Jiyong menunjukkan senyuman mengejek.

“Kau belum sarapan, eoh?” tanya Taeyeon, wajahnya meringis.

“Tidak ada waktu lagi. Saatnya aku harus fokus pada pekerjaan,” jawab Jiyong singkat. Ia balik badan dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan. Tapi Taeyeon langsung mencegahnya. Ia berdiri menghalangi langkah Jiyong.

“Tidak bisa begitu!” sergah Taeyeon. “Kau akan rehearsal, ‘kan? Setelah itu siang nanti akan live stage. Kau tidak takut… eung… kelaparan?”

“Aku sudah minum terlalu banyak kemarin malam. Tidak perlu dipermasalahkan. Yang harus dipermasalahkan adalah keterlambatanmu. Kalau kau tidak terlambat, mungkin aku bisa sarapan,” jawab Jiyong to the point, yang membuat Taeyeon langsung menghentikan perdebatannya.

“Itu… Jeoseonghamnida. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku sedikit sibuk kemarin malam,” ujar Taeyeon pelan. “Ah, aku akan menghubungi gadis-gadis itu tidak lebih dari lima menit. Kau duduk dan tunggu saja di sini. Jangan pergi rehearsal sebelum kau sarapan,”

“Tidak ada waktu lagi dan aku tidak mau membuang-buang waktuku. Menunggu Seunghyun hyung yang menjemputmu ke sini saja sudah menghabiskan waktu lima belas menit. Dan sekarang kau memintaku menunggu lagi? Apa kau tahu makna time is money?” sembur Jiyong. “Menyingkirlah, aku bisa terlambat. Kau panggil saja gadis-gadis itu setelah aku selesai rehearsal. Dan aku tidak ingin terlambat satu menit saja,”

“Kalian akan membawakan lagu apa?” tanya Taeyeon cepat, sebelum Jiyong benar-benar meninggalkan waiting room.

Bang Bang Bang dan We Like 2 Party,” jawab Jiyong dan ia bergegas keluar dari waiting room.

Setelah Jiyong keluar, Taeyeon menghela nafas panjang dan duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari jangkauannya. Fikirannya melayang-layang memikirkan Kwon Ji Yong. Laki-laki itu belum mengonsumsi darah dan akan melakukan banyak aktifitas yang cukup melelahkan. Ditambah lagi, ia akan dikeliling oleh para dancer perempuan. Salah satu dari perempuan itu bisa saja memiliki darah yang manis dan vampires tidak akan tahan dengan darah yang manis. Buku Vampire Academy yang telah ia baca kemarin masih terekam jelas dalam ingatannya.

Meskipun ia adalah seorang G-Dragon yang mampu menaklukkan dan menggoyahkan ribuan hati perempuan, ia tetap seorang vampire. Ia tetap berasal dari kalangan yang haus akan darah.

Bagaimana kalau laki-laki itu mendadak hilang kendali? Tergambar dengan sangat jelas di benak Taeyeon, Jiyong yang tidak sengaja mencium bau darah manis dan seketika itu juga hasratnya tak bisa dibendung lagi, apalagi ia belum minum darah pagi ini. Otomatis, semua orang yang ada di gedung CJ E&M akan mengetahui identitasnya. Semua paparazzi tidak akan melewatkan hot news ini sedetik saja. Dan berita tentang G-Dragon adalah seorang vampire, seorang monster berbahaya yang ada di abad ke-20 langsung menjadi trending topic of the world.

Semua orang akan membenci G-Dragon, membenci Big Bang, membenci Yang Hyun Suk karena telah memilih seorang leader dari kalangan keluarga monster yang sangat berbahaya. Membenci YG Entertainment karena sudah ceroboh memilih salah satu makhluk yang seharusnya tidak berada di sekeliling manusia, salah satu makhluk yang seharusnya terkurung di sebuah kastil di negara Rumania.

Dan keterpurukan Big Bang tentu akan disangkut pautkan dengan dirinya, yang menjabat sebagai asisten Big Bang sekaligus asisten pribadi dari Kwon Ji Yong. Asisten yang tidak disiplin, yang tidak benar-benar menjaga dengan baik sang leader. Asisten yang tidak dipercaya, dan YG Family akan menyerangnya.

Lebih buruk lagi, Yuri, BoA, dan Dami juga akan memusuhinya. Orang-orang yang ia sayangi.

“Andwae, andwae, andwae,” lirih Taeyeon. Ia bangkit dari kursinya dan mulai hilir-mudik di dalam waiting room seraya berfikir. “Geurae, aku akan minta nomor-nomor gadis itu pada Hyun Suk ahjussi,”

~~~

“Eobseo?!” pekik Taeyeon. Rasanya seperti disambar petir tepat di atas kepalanya, meremukkan semua organ-organ dalam tubuhnya.

List gadis-gadis itu tidak ada padaku, Taeyeon-ah. List itu dibuat khusus oleh Jiyong sendiri, dan hanya ia yang tahu. Bukankah kau seharusnya memegang list itu?” tanya Hyun Suk pada Taeyeon lewat saluran telepon. Ya, saat ini Taeyeon sedang berada di backstage M! Countdown dan tengah menelepon Hyun Suk. Sesekali kedua matanya memerhatikan anggota Big Bang di atas panggung, melakukan rehearsal. Para dancer perempuan itu belum menunjukkan batang hidungnya.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya ia menjawab, “List itu hilang, ahjussi. Aku tidak tahu di mana. Aku ingat tidak pernah mengeluarkannya dari dalam tas. Aku mengambilnya kalau aku ingin menghubungi mereka saja,”

Hilang?” tanya Hyun Suk lagi. “Apa itu artinya pagi ini salah satu dari mereka tidak datang ke apartemen Big Bang? Eotteokaji? Jiyong tidak akan punya banyak waktu lagi setelah ini,”

“N… Ne,” jawab Taeyeon gugup. Ia merasa sangat bersalah. Apalagi setelah didengarnya nada suara Hyun Suk yang langsung berubah panik. “Ahjussi, aku akan meng-handle ini. Tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa selama masih ada aku di sini. Percayalah padaku, ahjussi. Kalau begitu teleponnya aku tutup, eoh? Sampai nanti, ahjussi,”

Taeyeon memutuskan sambungan teleponnya saat ia mendengar jawaban dari Hyun Suk dan kembali menyimpan ponselnya di dalam tas. Tak lupa juga ia mengeluarkan sebuah masker berwarna hitam polos. Setelah itu, Taeyeon melangkahkan kedua kakinya naik ke atas panggung. Tepat saat itu, para dancer perempuan itu muncul dan bersiap-siap untuk melakukan tugasnya. Dan tentu saja, dengan tubuh proporsional, tinggi semampai, sexy, dan tampang yang bening, siapa yang tidak tergoda dengan gadis-gadis itu? Sosok vampire yang workaholic seperti G-Dragon mungkin tidak akan sanggup menahan hasratnya.

“Noona, sedang apa?” tanya Seungri dengan dahi yang berkerut ketika ia melihat Taeyeon ikut naik ke atas stage.

Mendengar nama Taeyeon disebut, Jiyong mengalihkan wajahnya untuk melihat ke arah yang sedang menjadi pusat perhatian para member, ke arah Taeyeon yang sedang melangkah mendekatinya.

“Aku ada perlu sebentar dengan leader kalian. Chakkamanyeo. Jeoseonghamnida,” jawab Taeyeon sambil tersenyum lebar.

Sebelum Jiyong sempat berkata apa-apa, Taeyeon langsung memakaikan masker hitam itu di wajah Jiyong. Jiyong tersentak kaget dan ia membulatkan kedua matanya. Namun, laki-laki itu tidak melepas atau memberontak. Ia hanya menatap Taeyeon dengan tatapan bingung.

“Pakai ini, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” bisik Taeyeon dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke Jiyong. Refleks, Jiyong mengambil satu langkah ke belakang, menjauhi gadis itu. “Aigoo, aku lupa menyerahkan masker hitam ini padamu, Jiyong-ssi. Jeongmal mianhae. Sekarang, kau bisa rehearsal dengan nyaman, ‘kan? Aku baru ingat kalau Jiyong tidak akan bisa rehearsal tanpa maskernya,”

Mendengar ungkapan Taeyeon, Seunghyun, Youngbae, dan Daesung tertawa kecil. Mereka mengerti sekali dengan maksud dan tujuan Taeyeon. Gadis itu terlalu lugu. Sejak kapan seorang Kwon Ji Yong tidak bisa rehearsal dengan nyaman tanpa menggunakan maskernya?

“Aku permisi. Sekali lagi, maafkan aku. Fighting!” seru Taeyeon dan ia segera turun dari stage.

“Gomawo, noona!” balas Seungri dan ia melambai dengan riang pada Taeyeon.

Begitu turun dari stage, Taeyeon dengan cepat mengecek ponselnya dan tengah mencari sesuatu. Sembari berkonsentrasi dengan layar ponselnya, gadis mungil itu juga berlari-lari kecil keluar dari gedung CJ E&M lalu menghentikan sebuah taxi yang kebetulan sedang lewat di hadapannya.

~~~

“Taeyeon-ah, tolong rapikan eyeliner­-ku. Rapikan sedikit saja di bagian kanan, eoh?” pinta Seunghyun pada Taeyeon yang tengah menata rambut Daesung.

“Arraseo. Tunggu sebentar lagi. Aku akan segera ke sana,” jawab Taeyeon. Jari-jemarinya masih sibuk dengan rambut hitam Daesung. Ia melihat Daesung di cermin dan tersenyum simpul. “Done,”

“Gomawo, Tae,” ujar Daesung.

Taeyeon mengangguk dan secepat kilat ia segera berpindah tempat menuju Seunghyun. Diambilnya eyeliner di atas meja rias dan dengan perlahan-lahan memakaikannya di sekitaran mata kanan Seunghyun.

“Oke, itu cukup Taeyeon-ah,” ujar Seunghyun.

Tepat saat itu, pintu ruang make up terbuka dan menampilkan sosok Jiyong yang sudah selesai dengan penampilannya. Ia melihat sekeliling dan tanpa banyak komentar, ia langsung duduk di atas sofa dan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya. Raut wajahnya tampak masam.

“Hyung, otte? Cute, ‘kan?” tanya Seungri pada Seunghyun sambil memakai topi berbulu yang berbentuk wajah panda.

Taeyeon tersenyum kecil melihat tingkah lucu Seungri. Beberapa detik kemudian, gadis itu menoleh menatap Jiyong dan ia teringat akan satu hal. Buru-buru dia mengambil tasnya dan duduk di samping Jiyong. Jiyong berhenti mengetik dan ia memalingkan wajahnya ke kanan, menatap Taeyeon, yang sedang tersenyum manis padanya.

“Mwoya?” tanya Jiyong. Ia menggeser tubuhnya ke kiri, menciptakan jarak cukup jauh dengan Taeyeon.

Taeyeon mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Jiyong. Sekotak jus tomat.

“Apa ini?” tanya Jiyong, tidak mengerti.

“Aku membelikanmu jus tomat ini. Minumlah,” jawab Taeyeon.

“Sirheo,” tolak Jiyong cepat. Apa-apaan gadis itu? Jus tomat? Sejak kapan ia suka minum minuman seperti itu?

Taeyeon menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Jiyong, wajahnya tidak sabaran dan kesal. Jiyong tidak bisa lagi menjauh. Ia sudah berada di ujung sofa. Laki-laki itu balik menatap Taeyeon dengan pandangan kesal. Jangan sampai hasratnya keluar di detik-detik live stage-nya.

“Ini bukanlah jus tomat biasa,” bisik Taeyeon. “Cepat minumlah. Ini darah. Kau harus minum ini sebelum melakukan performance di atas panggung. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Apalagi kau belum ada sarapan pagi ini,”

“Darah?” tanya Jiyong, tidak percaya. “Dari mana kau mendapatkannya?”

“Kau tidak perlu tahu. Ppali. Sebentar lagi penampilan kalian. Cepat minum,” desis Taeyeon.

“Arraseo,” jawab Jiyong cepat.

Suaranya sedikit parau. Ia sedang menahan nafasnya. Tidak, ia sedang berusaha mati-matian untuk tidak mencium aroma yang menguar dari dalam tubuh Taeyeon. Aroma yang menggiurkan, yang sulit untuk ditolak oleh sosok vampire seperti dirinya ini. Aroma darah yang manis. Sangat manis, sampai-sampai Jiyong tidak berani untuk membayangkannya. Ia tidak mau warna matanya berubah saat itu juga. Ia tidak akan bisa mengontrol dirinya sendiri.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Jiyong. Ia sudah membuka kotak jus itu. “Kau ingin melihatku minum darah? Atau kau ingin aku meminum darahmu?”

Taeyeon memutar kedua bola matanya dan ia segera bangkit dari sofa menuju sofa yang lain. Begitu Taeyeon pergi, Jiyong menyeruput ‘jus’ itu dan menelannya. Dahinya sedikit berkerut dan senyuman kecil menghiasi wajah tampannya.

“Pabo,” gumam Jiyong.

~~~

“Jiyong oppa, selamat atas comeback-mu. Aku sudah menantinya cukup lama dan aku sangat senang sekali menyambut album MADE kalian. Kau sudah bekerja sangat keras dan aku harap kau tetap memerhatikan kesehatanmu. Eung, satu lagi. Aku punya sesuatu untukmu, oppa. Ini adalah Rosario kesayanganku dan aku ingin memberikannya untukmu, sebagai penyemangat,” jelas seorang gadis remaja, yang usianya kira-kira masih tujuh belas tahun.

Dengan wajah yang bersemu merah, gadis itu menyerahkan sebuah gelang Rosario berwarna cokelat pada Jiyong. Bisa dibilang gadis itu adalah gadis yang sangat beruntung. Bisa bertemu dengan idolanya karena ia anak dari seseorang yang bekerja di dalam gedung CJ E&M.

“Gomawo,” ujar Jiyong saat ia menerima Rosario itu dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya.

Gadis berumur tujuh belas tahun itu mengangguk senang dan ia membungkukkan tubuhnya pada Jiyong, pamit untuk pergi. Jiyong balas membungkuk dan ia sedikit melambai ke arah gadis itu.

Begitu gadis itu sudah tidak kelihatan dalam jarak pandangnya, Jiyong segera melangkahkan kakinya menuju waiting room. Sesampainya di sana, member yang lain sudah membuka baju performance mereka dan tengah menyantap makan siang di meja.

“Ji, ayo makan siang bersama. Kau menghilang cukup lama tadi,” ajak Youngbae pada Jiyong.

“Eoh, makan yang banyak, Bae. Sisakan saja aku sedikit,” jawab Jiyong cepat.

“Hyung, kau mau aku suapi?” tanya Seungri. Ia menyendok bawang putih sebanyak mungkin dan menawarkannya pada Jiyong. “Say aah,”

Jiyong tersenyum lebar pada Seungri, lebih tepatnya senyuman yang mengancam. Jiyong berjanji dalam dirinya sendiri, kalau anak panda itu sudah selesai makan, ia akan buat makanan itu menyesal telah mengisi perutnya.

“Jiyong-ssi, bisa ikut aku sebentar ke ruang ganti?” ajak Taeyeon, yang muncul dari balik pintu waiting room.

Apa lagi kali ini? Gumam Jiyong. Meskipun begitu, ia tetap menganggukkan kepalanya dan keluar dari waiting room menuju ruang ganti bersama Taeyeon. Sejujurnya ia tidak mau ikut. Nalurinya bersikeras agar dirinya tetap berada di waiting room. Karena ia tahu, hasrat dalam dirinya untuk meminum darah belum benar-benar terpenuhi, walaupun ia tadi sudah minum satu kotak penuh darah yang–entah–bagaimana–caranya di dapat oleh Taeyeon. Tapi itu bukanlah darah manusia. Itu sebabnya Jiyong kurang puas.

Dan darahnya sendiri mengalir deras, mengaduk-aduk perutnya saat diciumnya harum tubuh gadis itu, yang otomatis dirinya dapat juga mencium darah manis dari dalam diri Taeyeon.

Sesampainya di dalam ruang ganti, Jiyong bersandar pada pintu ruangan dan menatap Taeyeon dengan pandangan bertanya-tanya.

Rosario itu… Berikan padaku,” ujar Taeyeon. Ia menengadahkan telapak tangan kanannya pada Jiyong.

“Mwo? Otteokhae… Kau mencuri dengar, ya?” tanya Jiyong.

“Aku tidak sengaja,” jawab Taeyeon cepat. “Dan Rosario itu berbahaya kalau kau memegangnya. Apa kau tahu kalau seorang vampire…,”

“Aku bisa memegangnya,” potong Jiyong cepat. Suara maupun wajahnya mendadak dingin. “Vampires sekarang bisa memegang Rosario dan sejenisnya. Kecuali duduk dan mendengar suara nyanyian di gereja,”

“Jeongmal? Keundae…”

“Hari ini kau lebih merepotkanku dari yang biasanya, Taeyeon-ssi. Sikap dan tingkahmu padaku tadi sangat berlebihan, dan orang-orang akan curiga. Aku tahu kau tidak ingin aku ketahuan, tapi semakin kau ingin melindungiku, aku merasa akan semakin ketahuan,” lanjut Jiyong. Perlahan ia mengambil langkah mendekati Taeyeon.

“Wajar kalau aku takut, ‘kan? Hari ini aku bersikap over karena kesalahanku. Kau tidak sarapan dan bisa saja kau berubah… semuanya akan ketakutan dan kacau balau,”

“Perkataanmu seakan-akan aku ini monster yang jahat,” sela Jiyong lagi.

Taeyeon diam. Dalam hati ia membenarkan perkataan Jiyong. Meminum darah orang lain adalah hal yang jahat, bukan?

Sedetik kemudian, tanpa diduga oleh Taeyeon, Jiyong merampas tas dari genggaman tangan gadis itu lalu membukanya. Taeyeon memekik pelan, terkejut. Ia ingin merampas tasnya lagi sebelum Jiyong menemukan sesuatu yang tidak ingin Taeyeon perlihatkan pada siapapun. Buku Vampire Academy itu. Kalau Jiyong melihatnya, ia pasti akan mengira Taeyeon memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadapnya.Terlambat, laki-laki itu sudah mengambil buku Vampire Academy dan membuka-buka halamannya.

“Ya! Kembalikan buku itu, G-Dragon-ssi,”

“Kurasa kau benar-benar membenciku sampai-sampai kau meminjam buku seperti ini hanya untuk mengetahui kelemahanku,” ujar Jiyong, yang masih berkonsentrasi penuh pada setiap halaman di buku itu.

“Ani…”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya, terkejut. Ia ingat. Ia baru saja ingat. Ia meletakkan foto mantan kekasihnya, ‘Jae’, itu di dalam buku. Dia tidak ingin Jiyong, atau siapapun melihat foto itu. Dia tidak ingin ada yang tahu kalau dia sempat menjalin hubungan dengan laki-laki itu. Tidak ada yang tahu kecuali teman-temannya.

“G-Dragon-ssi, kuperingatkan sekali lagi. Kembalikan bukuku,” seru Taeyeon dengan suara yang tertahan agar orang-orang di luar ruangan tidak mendengarnya.

Jiyong pura-pura tidak mendengar. Ia bahkan berbalik badan dan tetap membaca buku itu. Tak kehilangan akal, Taeyeon mendekati laki-laki itu dan berusaha merampasnya kembali. Tapi Jiyong malah mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Ia tertawa dalam hati. Rasanya cukup menyenangkan juga mengerjai gadis itu. Jiyong tahu, ada sesuatu yang sangat ingin disembunyikannya sehingga Taeyeon kelihatan panik sekali. Jiyong penasaran apa itu dan berusaha mencaritahunya.

Geram, Taeyeon berjinjit, sekali-kali melompat-lompat kecil untuk mengambil buku itu. Diraihnya pinggang kanan Jiyong untuk menahan keseimbangan tubuhnya sendiri. Ulah Taeyeon ini membuat tubuh kecilnya membentur tubuh Jiyong. Senyum Jiyong memudar ketika wangi dalam diri Taeyeon kembali menguar dan membekap hidungnya. Aroma gadis itu semakin menyengat saat tubuh mereka berjarak sangat dekat seperti ini, membuat kepala Jiyong sakit bukan kepalang.

Harum sekali. Manis. Jiyong dapat merasakan bagaimana manisnya darah gadis itu. Ia membayangkan jika saja ia bisa mencicipinya.

Buku itu terjatuh begitu saja dari tangan Jiyong. Taeyeon buru-buru mengambilnya dan menyimpannya kembali dalam tas. Ia balik badan untuk melihat Jiyong, yang tiba-tiba saja sudah berada beberapa senti di hadapannya. Kedua mata Jiyong berubah menjadi kuning keemasan, menyala-nyala dengan liar. Shit, hal yang paling tidak ingin Taeyeon alami terjadi lagi. Gadis itu kembali terjebak.

Jiyong menarik lembut sisi kanan leher Taeyeon dan mendekap gadis itu. Taeyeon shock. Mendadak tubuhnya tidak bisa bergerak. Kedua lengan laki-laki itu sudah mengunci tubuhnya. Tidak terlalu erat, karena Taeyeon dapat merasakan wajah laki-laki itu mendekat ke lehernya. Taeyeon juga dapat merasakan tatapan kilat Jiyong menatap tajam pada leher jenjangnya yang mulus.

Hidung Jiyong sudah menempel di lekukan leher Taeyeon. Ia menghirup dalam-dalam leher itu seakan-akan wanginya akan memudar detik itu juga. Apa yang Jiyong lakukan membuat darah mengalir deras dari ujung kepala Taeyeon. Jantungnya berdebar menyakitkan.

Jiyong berhenti menghirup leher Taeyeon dan kini giliran bibirnya yang menempel. Dengan penuh hati-hati Jiyong menciumi seluruh bagian kanan leher Taeyeon. Taeyeon memejamkan kedua matanya, ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat tapi ia tidak bisa menggerakkan satu sendipun, suaranya juga seperti tertahan di tenggorokan. Nafasnya menjadi tertahan saat Jiyong mulai menciumi belakang lehernya juga. Kali ini dengan tidak sabaran.

Laki-laki itu sudah tidak sabar untuk segera meminum dan merasakan darah manis gadis itu, begitulah yang ada di fikiran Taeyeon. Ia sangat berharap, benar-benar sangat berharap seseorang menyelamatkannya dari detik-detik kematiannya ini.

Jiyong mulai mengulum lembut satu titik di leher kanan Taeyeon. Titik ter-sensitive yang dimiliki Taeyeon. Lidahnya juga mulai menari membasahi leher Taeyeon. Taeyeon tercekat.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan? Batin Taeyeon dalam hati. Wajahnya sangat pucat, benar-benar sangat amat pucat. Ketika titik itu dikulum Jiyong, kedua lutut Taeyeon langsung lemas. Ia berharap jatuh, tapi kedua kakinya tetap bertahan.

Kuluman Jiyong tidak hanya satu titik. Ia menciumi dan mengulum kulit leher Taeyeon yang dapat dijangkaunya. Nafas laki-laki itu terdengar menggebu-gebu. Ada sesuatu yang bergejolak hebat dalam perut Taeyeon, sensasi yang menggelikan sekaligus menakutkan. Sensasi yang asing, sampai-sampai ia menggigit ujung bibirnya kuat.

Seseorang, siapapun itu. Tolonglah!

Beep Beep Beep Beep

Taeyeon dapat merasakan ponsel di dalam saku celana Jiyong bergetar. Jiyong menggeram pelan, merasa aktifitasnya terganggu karena seseorang yang meneleponnya. Ia mengambil ponselnya di dalam saku dan berniat untuk melempar ponsel itu. Namun, niatnya segera terhenti ketika LCD ponselnya memperlihatkan nama si pemanggil.

Bukan hanya niatnya yang berhenti, laki-laki itu juga melonggarkan dekapannya pada Taeyeon dan menjauhi gadis itu. Taeyeon dapat merasakan tubuhnya bisa digerakkan lagi dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengambil langkah lebar-lebar ke belakang, jauh sejauh-jauhnya dari Jiyong.

Meskipun sudah lepas dari Jiyong, tubuh Taeyeon tetap gemetar. Ia menatap Jiyong dengan pandangan takut dan tanpa sadar air matanya jatuh. Entah apa yang membuatnya menangis. Rasa takutnya pada Jiyong kini benar-benar meningkat. Kalau bukan karena seseorang meneleponnya, Taeyeon yakin ia sudah menjadi santapan lezat untuk seorang G-Dragon.

Jiyong tidak mengangkat teleponnya karena begitu ia hendak menjawab, getaran ponsel itu hilang. Kata-kata kotor lolos dari mulut Jiyong. Sebagai gantinya, ia menolehkan wajahnya ke arah Taeyeon. Ia terbelalak saat melihat keadaan Taeyeon. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, dan Jiyong dapat melihat setetes air mata membasahi pipi kiri Taeyeon. Ia juga bisa melihat tatapan ketakutan gadis itu mengarah padanya.

Detik itu juga, Jiyong tahu ia baru saja kehilangan kontrol atas dirinya.

“Taeyeon-ssi… Aku tidak…,”

Ponsel Jiyong kembali bergetar. Jiyong melihat nama si pemanggil dalam layar LCD-nya tapi ia tidak langsung mengangkat. Ia kembali menatap Taeyeon.

Taeyeon membungkukkan tubuhnya pada Jiyong dan keluar dari ruangan sebelum laki-laki itu sempat mengeluarkan sepatah-dua patah kata lagi. Di luar, Taeyeon langsung menghapus sisa air matanya dan mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia juga memaksakan tubuhnya agar berhenti gemetar.

Kejadian beberapa detik lalu kembali terulang dalam benaknya. Ia mengelus-elus bagian kanan lehernya dan menggelengkan kepalanya. Ciuman Jiyong masih membakar kulitnya, seperti meninggalkan bekas. Taeyeon masih beruntung laki-laki itu tidak langsung menggigitnya.

Tidak, tidak. Bahkan berada dalam satu ruangan dan hampir menjadi mangsa seorang vampire juga bukan merupakan sebuah keberuntungan. Awalnya dia hanya ingin menyelamatkan laki-laki itu dari sebuah Rosario. Kalau seandainya dia tahu Rosario tidak berbahaya untuknya, Taeyeon tidak akan mengalami kejadian seperti itu.

Taeyeon mempercepat langkahnya ketika pintu waiting room sudah berada beberapa senti di hadapannya. Begitu Taeyeon hendak meraih kenop pintunya, pintu itu sudah terbuka dari dalam dan memperlihatkan sosok Choi Seunghyun. Wajah Taeyeon tidak sengaja membentur dada bidang Seunghyun karena tidak sempat lagi menghentikan laju langkahnya yang cepat.

“Mana Jiyong?” tanya Seunghyun. Tangan kanan lelaki itu memegangi pundak kiri Taeyeon, yang sedang mengusap pelan hidungnya.

“Masih di ruang ganti,” jawab Taeyeon pelan. Jujur saja, ia tidak mau masalah itu diungkit lagi. Dan Seunghyun dapat melihat aura ketakutan di kedua mata Taeyeon.

“Kenapa tidak kembali bersama?” tanya Seunghyun heran.

“Dia sedang menerima telepon dari seseorang yang penting, kurasa,” jawab Taeyeon sekenanya. “Kalau kau begitu penasaran dengan kekasihmu itu, kenapa tidak mengeceknya sendiri?”

“Ya, kenapa kau jadi sensitive sekali?” tanya Seunghyun sambil tertawa kecil. Kemudian ia merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan ponselnya. “Teleponlah ke nomor ini. Pakai nomorku saja juga tidak apa-apa. Nomor ini adalah salah satu langganan perempuan Jiyong. Meskipun aku tidak tahu apakah gadis ini dijadwalkan hari ini atau tidak, itu tidak masalah. Yang menjadi permasalahannya adalah kau menghilangkan daftar itu dan harus membujuk Jiyong untuk membuatnya lagi. Aku tidak heran kalau Jiyong akan marah padamu. Dia tidak punya waktu lagi untuk mengurusi hal itu,”

Taeyeon menerima ponsel Seunghyun dan menatap nomor itu cukup lama. “Aku masih punya dua kotak lagi,”

“Apa?” tanya Seunghyun, yang tidak mendengar gumaman kecil Taeyeon.

Taeyeon membuka tasnya dan mengeluarkan dua kotak besar jus tomat, yang isinya darah. “Isinya darah. Sebelum kalian naik ke stage, aku menyuruhnya meminum ini. Aku buat tiga kotak besar sesuai dengan kebutuhannya. Tapi sepertinya dia belum puas,”

“Ini darah?” tanya Seunghyun tak percaya, yang sekarang memegang salah satu kotak ‘jus tomat’ itu. “Darah apa?”

“Darah kelinci. Aku mengambilnya di pasar yang khusus menjual daging kelinci saat aku sadar daftar itu telah hilang,” jawab Taeyeon dengan wajah lugunya.

Seunghyun terkekeh geli. Ia tak percaya gadis yang ada di hadapannya ini hanya berbeda beberapa tahun darinya tapi pemikirannya sungguh di luar dugannya. Wajahnya yang pure dan innocent saat menjawab pertanyaannya juga membuatnya gemas. Kalau Taeyeon ini kekasihnya, maka Seunghyun tidak akan ragu-ragu untuk menciumnya.

“Kenapa kau bisa dapat ide seperti itu?” tanya Seunghyun di sela-sela tawanya.

“Aku membaca,” jawab Taeyeon cepat. “Dan katanya darah manusia bisa digantikan dengan darah hewan,”

“Seharusnya kau membacanya lebih teliti lagi, Taeng,” ujar Seunghyun. “Jiyong bukanlah vampire yang bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia masih vampires biasa pada umumnya, yang masih tergila-gila pada darah manusia. Dia tidak akan bertahan cukup lama hanya dengan minum darah hewan. Jiyong belum melakukan pengobatan ataupun rehabilitasi untuk memperkuat kontrol dalam dirinya,”

“Jeongmalyo? Aku sempat menyangka ia adalah vampires yang sudah di rehabilitasi,” ungkap Taeyeon.

Seunghyun menggelengkan kepalanya. “Tidak mudah menjalani rehabilitasi itu. Ia harus mengorbankan segalanya, termasuk hal yang paling dia cintai,”

Sebelum Taeyeon mengeluarkan kata-kata atas pernyataan Seunghyun, Jiyong datang menghampiri mereka berdua. Begitu Jiyong datang, Taeyeon refleks buang muka dan memandang pemandangan lain, lebih tepatnya memandang sebuah lift. Entah apa yang membuatnya tertarik memandang lift itu.

“Apa ada masalah?” tanya Seunghyun, yang melihat ekspresi suram dari wajah Jiyong.

“Biasa,” jawab Jiyong pelan dan ia masuk ke dalam waiting room.

“Yeah, selalu seperti itu,” decak Seunghyun. “Kajja, kita masuk ke dalam,”

“Oppa, masuklah dulu. Aku akan menelepon gadis ini,”

~~~

“Pukul empat dini hari nanti adalah jadwal penerbangan kalian ke Tokyo, Jepang. Masih ada waktu sekitar 5 jam lagi untuk segera bersiap-siap menuju bandara. Dan pastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, eoh? Ingat, Bigbang world tour tahun ini harus perfect. MADE World Tour, kita harus bisa meninggalkan kesan yang mendalam di setiap negara yang kita kunjungi,” ujar Hyun Suk dengan senyuman sumringah mengembang di wajahnya. “Fighting, YG Fams!”

Fighting!” seru Bigbang members, crews, dancers, dan yang lainnya, yang akan ikut berpartisipasi dalam Bigbang MADE World Tour tersebut.

Yang Hyun Suk baru saja memberikan petuah-petuahnya kepada mereka semua di dalam ruang rapatnya, seperti biasanya setiap kali YG Entertainment akan mengadakan event yang sangat besar, seperti ini.

Taeyeon bertepuk tangan dengan wajah ceria, jelas sangat memberi dukungan pada Bigbang. Ia sedang tertawa bersama Seungri dan Daesung ketika kedua mata beningnya tidak sengaja menangkap sosok Jiyong, yang sedari tadi terus memerhatikan layar ponselnya, seakan-akan tengah menunggu sebuah panggilan atau pesan. Taeyeon bahkan tidak yakin apakah laki-laki itu mendengarkan nasihat panjang dari boss-nya sendiri.

“Cha~ kembalilah ke apartemen kalian masing-masing, istirahat sejenak dan berkumpullah di bandara Incheon, arra?” seru Hyun Suk, yang langsung disetujui oleh orang-orang yang ada di dalam ruang rapatnya itu.

Dan begitu satu-persatu dari mereka keluar, Hyun Suk mendatangi Jiyong, yang juga berniat keluar dari ruangan.

“Aku akan pastikan kau tidak akan lari lagi ke tempat yang tidak seharusnya kau kunjungi, Ji. Camkan itu. Aku pastikan kau tidak akan melakukan hal bodoh lagi,” gumam Hyun Suk, yang masih bisa didengar oleh Taeyeon.

“Nado arra,” jawab Jiyong dengan ketus. Dan secepat mungkin ia membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruang Hyun Suk.

Hyun Suk menghela nafas dengan berat. Ia memerhatikan sekelilingnya yang mulai sepi dan hanya tertinggal Bigbang members, beberapa crew, dan Taeyeon. Saat pandangan Hyun Suk jatuh pada Taeyeon, ia segera mendekati gadis itu.

“Jiyong sering pergi tanpa izin kalau Big Bang sedang mengadakan acara di Jepang. Perhatikan dia, Taeyeon-ah. Jangan sampai anak bodoh itu hilang dari pengawasanmu sedetik saja,” ujar Hyun Suk. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya pada Taeyeon.

“Ah… Ye, ahjussi,” jawab Taeyeon, dengan dahi sedikit berkerut.

~~~

“Noona! Jiyong hyung sedang berada di ruang latihan lantai lima! Bisakah kau memanggilnya? Kita harus cepat sampai ke apartemen. Tubuhku sudah menjerit minta direbahkan!” rengek Seungri, yang langsung naik ke dalam van mereka, begitu van itu sudah sampai.

“Mwo? Aish, kenapa laki-laki itu tidak langsung turun saja?” gerutu Taeyeon.

Beberapa detik kemudian, gadis itu kembali melangkahkan kedua kakinya ke dalam gedung YG Entertainment. Ia masuk ke dalam lift dan langsung melesat ke ruang latihan yang berada di lantai lima. Belum sampai langkahnya menuju ruang latihan yang berada di ujung koridor, Taeyeon bisa menangkap sebuah alunan musik ballad yang sama sekali asing di telinganya.

If you…

If you…

Ajik neomu neutji anhatdamyeon uri dasi doragal suneun eopseulkka~
(If it’s not too late, can’t we get back together?)

Taeyeon sudah berada di depan pintu ruang latihan. Namun, tubuhnya tidak bergeming begitu ia mendengar lirik dari lagu tersebut. Gadis mungil itu memutuskan untuk mendengarkannya, entah kenapa.

If you…

If you…

Neodo nawa gachi himdeuldamyeon uri jogeum swipge gal suneun eopseulkka~
(If you’re struggling like I am, can’t we make things a little easier?)

Iseul ttae jalhal geol geuraesseo
(I should’ve treated you better when I had you)

Tanpa disadari Taeyeon, setetes air mata jatuh dengan mudahnya, membasahi pipi kanan gadis itu. Mendengar beberapa bait dari lagu itu sukses membuatnya kembali teringat dengan ‘Jae’ oppa. Wajahnya yang putih bersih, senyumnya yang memesona, kedua tatapan matanya yang lembut, kehangatan yang selalu ia berikan, kasih sayangnya yang selalu terpancarkan, dan harum tubuhnya yang sulit untuk dilupakan kembali hadir dalam benak Taeyeon, tanpa bisa ia cegah.

Oppa, kenapa sulit sekali melupakanmu?

Tidak berapa lama kemudian, pintu ruang latihan itu tersentak terbuka, dan sosok Jiyong muncul di hadapannya, membuyarkan semua lamunan Taeyeon tentang ‘Jae’ oppa-nya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyong. Dahinya berkerut melihat Taeyeon, yang langsung mengalihkan wajahnya ke kanan dan buru-buru mengusap air matanya.

“Seharusnya aku yang tanya. Apa yang kau lakukan di sini? Semuanya sudah menunggumu di bawah. Mereka ingin cepat-cepat kembali ke apartemen sebelum berangkat ke bandara,” jawab Taeyeon cepat. Gadis itu berbalik dan hendak pergi dari hadapan Jiyong.

Namun, Jiyong segera memanggilnya dan berkata, “Pergilah tanpaku. Aku ada janji dengan beberapa temanku yang lain,”

Taeyeon kembali membalikkan tubuhnya untuk melayangkan protes pada Jiyong. Sayang, laki-laki itu sudah menutup kembali pintu ruang latihan dan batang hidungnya tak tampak lagi. Taeyeon mendengus kesal.

“Biarkan saja,”

~~~

“Katakan padanya dia harus kembali sebelum pukul 12 malam atau aku akan mengganti password apartemen kalian dan tidak mengizinkannya masuk sampai pukul 3 nanti,” ancam Taeyeon sambil melipat pakaian-pakaian yang mungkin saja akan dibutuhkan oleh Jiyong selama beberapa hari di Tokyo dan memasukkannya ke dalam koper milik laki-laki itu.

Daesung tertawa, “Kau seperti sosok ibu yang tidak ingin anaknya pulang larut,”

“Apa kau sudah mengirimkan pesan untuknya?” tanya Taeyeon.

“Ne~ dan ia sudah membacanya, eomma. Tenanglah, kau bisa naik darah lama-lama,” jawab Daesung.

Taeyeon bangkit dari sofa dan menyeret koper Jiyong ke sudut ruangan. Ia meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. “Semua sudah selesai, tinggal pakaian dalamnya. Biarkan saja dia yang mengambil dan memasukkannya sendiri. Nah, sekarang kau boleh istirahat di kamar, D. Aku akan membangunkan kalian pukul 2 nanti,”

“Aku tidak yakin Jiyong hyung akan ingat untuk memeriksa kembali isi kopernya dan menyadari bahwa pakaian dalamnya tidak kau masukkan, eomma. Dia sedang berpesta dengan teman-temannya dan akan pulang dalam keadaan lelah… dan sedikit mabuk. Apakah tidak sebaiknya kau saja yang mengambilkannya, eomma?” tanya Daesung.

“Kalau dia tidak ingat untuk membawanya, kalian bisa meminjamkannya,” cetus Taeyeon.

“Mana bisa begitu, eomma!” tolak Daesung.

Taeyeon mengangkat kedua pundaknya dan bergegas masuk ke dalam kamar Jiyong. Di dalam kamar, Taeyeon langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar dan membuka lemari pakaian Jiyong. Hanya butuh waktu beberapa detik saja untuk mengetahui keberadaan pakaian dalam Jiyong di dalam lemari itu. Taeyeon mengambil boxer itu dengan ragu-ragu dan penuh kebimbangan. Berapa boxer yang harus ia bawa?

“Aish, biarkan saja dia yang melakukannya. Aku tidak tahu berapa kali sehari dia mengganti pakaian dalamnya, ‘kan?” gerutu Taeyeon dan ia menutup kembali lemari itu.

Beep Beep Beep Beep

Taeyeon mengambil ponselnya dalam saku dan ia mendapati beberapa pesan dari teman-temannya, yang mengucapkan selamat berjuang untuk MADE World Tour Bigbang. Taeyeon tersenyum membaca kicauan teman-temannya itu, termasuk Yuri. Yang kembali merasa bersalah karena membuat Taeyeon dalam kondisi yang sangat sibuk.

Perlahan, kedua kaki Taeyeon melangkah ke arah tempat tidur Jiyong dan merebahkan tubuhnya yang letih di atas tempat tidur itu. Langsung saja wangi tubuh Jiyong tercium oleh hidung Taeyeon. Gadis itu kembali teringat dengan kejadian hari ini di dalam ruang ganti. Refleks, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan membenamkan wajahnya di salah satu bantal di atas tempat tidur itu, berharap kejadian itu segera hilang dari memori otaknya.

~~~

“Ngghh…,” Taeyeon meringis pelan saat ia merasakan sesuatu yang lumayan berat menimpa perutnya, membuat gadis itu terpaksa harus sadar dari tidur nyenyaknya. Damn! Padahal ia baru saja merasa begitu terlelap. Siapa yang begitu berani mengganggu tidurnya?

Dengan berat hati, Taeyeon membuka kedua kelopak matanya. Sinar dari lampu kamar Jiyong menyambutnya, sedikit membuat kedua mata gadis itu sakit. Beberapa detik setelah matanya terbiasa dengan sinar lampu itu, Taeyeon menoleh ke sisi kanannya dan mendapati Jiyong, tengah mendengkur pelan, tidur dengan damai tepat di sebelahnya.

Taeyeon membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. Kantuknya hilang sudah. Rasa kesalnya sirna begitu saja, digantikan dengan perasaan kalut, bingung, bimbang, shock setengah mati, dan tidak percaya.

G-Dragon?

Kesadarannya kembali menghampiri dirinya saat lengan kanan Jiyong perlahan-lahan naik dari atas perutnya menuju dadanya. Sontak, Taeyeon menghempaskan lengan itu dan berteriak histeris. Gadis itu bangkit dari atas tempat tidur dan berdiri di sisi tempat tidur, menatap Jiyong dengan pandangan marah.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” seru Taeyeon sambil memeriksa seluruh tubuhnya, memastikan bahwa ia masih berpakaian lengkap dan tidak ada satu helaipun pakaian yang terlepas dari tubuhnya.

Terganggu dengan teriakan Taeyeon, Jiyong dengan malas bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersila di atas tempat tidur. Ia tidak membuka kedua matanya dan tangan kanannya menyentuh dahinya. Tampaknya ia sedang merasa sangat pusing. Helaan nafasnya juga terdengar berat.

“Mwo? Ini kamarku. Aku berhak datang dan bebas melakukan apa saja di sini, ‘kan?” Jiyong balik bertanya dengan suaranya yang sangat pelan. Ia masih tetap memejamkan matanya.

“Setidaknya kau harus tetap jaga jarak denganku. Seharusnya kau tidak tidur di tempat tidur saat tahu aku sedang tidur di… Ada apa denganmu?”

Kekesalan Taeyeon menguar begitu saja ketika ia melihat keringat membasahi dahi dan ubun-ubun kepala Jiyong. Ia juga bisa melihat nafas Jiyong semakin lama semakin berat. Laki-laki itu tampak tidak sedang baik-baik saja.

Jiyong berhasil membuka matanya saat Taeyeon bertanya mengenai keadaannya. Ia sedikit menoleh ke arah Taeyeon dan berkata, “Gwaenchanna. Tidurlah kembali, aku akan tidur di sofa depan,”

Taeyeon tidak menjawab apa-apa. Sebaliknya, ia mendekati Jiyong, yang baru saja turun dari tempat tidur dan hendak melangkah menuju pintu kamar. Langkah Jiyong sedikit gontai dan Taeyeon dapat mencium bau alkohol yang sangat menyengat dari tubuh laki-laki itu.

“Apa benar kau… Ya!!”

Taeyeon refleks meraih lengan kiri Jiyong tepat ketika laki-laki itu hampir jatuh ke lantai kamarnya. Tubuh mungil Taeyeon yang kurang mampu menahan beban tubuh Jiyong yang lebih besar darinya, membuat gadis itu terduduk di lantai kamar dengan Jiyong yang sudah tergeletak lemas di atas pangkuan Taeyeon. Bau alkohol menyengat itu kembali menguar.

“Jiyong-ssi. Ya, Jiyong-ssi! Wae geurae? Apa yang terjadi padamu, eoh? Aigoo, kau bisa merepotkan yang lain, apa kau tahu? Ya, Jiyong-ssi!” panggil Taeyeon sembari menepuk-nepuk pipi kiri Jiyong.

Jiyong terbatuk. Ia sedikit membuka matanya dan menatap Taeyeon dalam-dalam. “Antar aku ke kamar mandi. Perutku mual dan sepertinya aku…,”

“Aah, arra arra. Kau ingin muntah?” tanya Taeyeon panik. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang ini. Leader Big Bang itu tampak tidak berdaya di hadapannya dan ini sangat beresiko besar untuk dirinya. “Aku tidak akan sanggup untuk membopongmu. Kau juga harus sedikit bantu angkat dirimu, okay? Tapi bagaimana kau bisa muntah? Kau bahkan tidak ada makan apa-apa,”

“Aku tidak tahan lagi,” keluh Jiyong. Ia bangkit duduk dan kembali terbatuk-batuk. Taeyeon semakin panik dan dengan cepat ia merampas jaket cokelat tebal satu-satunya yang ia bawa ke apartemen Big Bang. Ia melipat jaket itu dan menyodorkannya ke hadapan Jiyong dengan menggunakan kedua tangannya.

“Cha~ Muntahkanlah semua isi perutmu ke jaket ini. Kajja,” ujar Taeyeon. Ia memijat pelan tengkuk Jiyong, mendorong isi perutnya agar keluar.

Uaaahhhhkkkkkk! Uaaahhhkkkkkk!

Yang keluar dari mulut Jiyong adalah cairan bening yang Taeyeon curigai adalah alkohol. Dari baunya tercium sangat jelas.

“Apakah semuanya sudah keluar?” tanya Taeyeon pelan. Ia kembali memijat pelan tengkuk Jiyong.

Jiyong mengangguk pelan. Tubuhnya sedikit menggigil. Taeyeon beranjak menuju kamar mandi. Jiyong tahu gadis itu sedang membersihkan muntahannya yang ada di jaket cokelat milik Taeyeon. Beberapa detik kemudian, Taeyeon keluar dan ia mengangkat tubuh Jiyong dari atas lantai kamar. Perlahan, Taeyeon membawa tubuh laki-laki itu ke tempat tidur dan membaringkannya, dengan sebagian tubuhnya di tutupi selimut. Jiyong sudah kembali menutup kedua matanya dan Taeyeon yakin laki-laki itu belum bisa tidur sepenuhnya.

“Chakkamanyeo,” bisik Taeyeon.

Ia segera melesat keluar kamar dan tidak lama kemudian gadis itu membawa sebuah gelas ukuran sedang. Gelas itu diletakkannya di atas meja kerja Jiyong. Setelah itu, ia mengambil tasnya dan mengeluarkan satu kotak besar ‘jus tomat’ yang isinya adalah darah kelinci sekaligus satu botol obat ukuran kecil. Taeyeon membuka kotak jus tomat itu dan menuangkan semua isinya ke dalam gelas. Lalu ia mengambil satu tablet kecil obat dari dalam botol dan memasukkannya ke dalam gelas yang sudah berisi darah kelinci. Obat itu segera larut.

Jiyong sedikit membuka matanya dan melihat apa yang tengah dilakukan Taeyeon dan kembali memejamkan matanya.

Selesai dengan pekerjaannya, Taeyeon mengambil gelas itu kemudian membawanya kepada Jiyong.

“Ireona, minumlah obat ini sebentar saja,” panggil Taeyeon dengan suaranya yang lembut.

Mendengar panggilan Taeyeon, Jiyong terbangun dan ia menatap gadis itu dengan pandangan datar. Taeyeon tahu Jiyong tahu apa yang sedang dibawakannya. Itu sebabnya, ia sedikit membantu laki-laki itu untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur.

“Aku baru tahu kau tidak bisa minum darah hewan,” ungkap Taeyeon saat Jiyong menerima gelas berisi darah itu dan sedikit demi sedikit meneguknya. “Aku tidak bisa memanggil gadis-gadis itu sekarang. Aku tidak bisa mengganggu mimpi mereka meskipun seorang G-Dragon yang membutuhkan mereka. Ini yang terakhir kalinya kau minum darah hewan. Energimu hampir sekarat dan aku tidak tahu lagi harus bagaimana,”

Jiyong tidak memberikan respon apa-apa dan hanya menghabiskan darah itu sampai benar-benar tidak bersisa. Selesai itu, ia memberikan gelas kosongnya pada Taeyeon.

“Obat yang kuberikan padamu hanyalah obat penenang. Tidur selama satu jam sudah cukup membuat pusing di kepalamu hilang. Aku harap ini sedikit membantu, sehingga tidak ada yang perlu khawatir,” sambung Taeyeon.

Jiyong mengangguk lemah. Kemudian ia membaringkan tubuhnya kembali seraya memejamkan matanya. Melihat nafas Jiyong yang sudah kembali normal dan tampaknya sudah baik-baik saja, Taeyeon berbalik dan hendak keluar dari dalam kamar. Sebelum ia benar-benar mencapai pintu, Jiyong menghentikan langkahnya dengan bergumam, “Gomapta,”

~~~

“Jadi, kau punya banyak channel juga di Jepang?” tanya Taeyeon, sedikit terperangah dengan list nama-nama gadis yang sekarang berada di tangannya.

Begitu mereka sampai di Tokyo, Jepang, mereka semua langsung digiring menuju hotel bintang lima yang sudah di booked oleh YG Entertainment jauh-jauh hari. Masing-masing member Big Bang menempati satu kamar hotel, dan belum sempat Taeyeon membokar kopernya, Jiyong sudah keburu memanggilnya.

“Sudah beberapa kali kami ke Jepang kenapa aku sama sekali tidak punya link model-model cantik itu?” Jiyong kembali bertanya sambil mengeluarkan smirk-nya. Ia sedang sibuk memilah-milih beberapa pakaiannya di dalam koper. Ia mengambil jaket hitam tebal dan memakainya.

“Kau mau pergi?” tanya Taeyeon langsung, yang melihat Jiyong sudah memakai masker.

“Latihan. Kita memang mengadakan konser besok malam, tapi tidak ada salahnya untuk rehearsal sekarang, ‘kan? Bukankah semuanya harus perfect?”

Taeyeon mengangguk dan ia kembali membaca nama-nama model Jepang yang akan dihubunginya untuk ‘keperluan’ Jiyong sehari-hari.

“Tidak ada nama Mizuhara Kiko? Kufikir dia masuk dalam list-mu,” tanya Taeyeon penasaran.

Jiyong langsung menghentikan kegiatannya begitu ia mendengar ucapan Taeyeon, lebih tepatnya mendengar sebuah nama yang sama sekali tidak asing di telinganya, tidak. Di hidupnya.

“Kenapa kau tiba-tiba tanya seperti itu?” tanya Jiyong pelan. Matanya menatap tajam Taeyeon.

“Aku ingat kau punya foto Kiko-chan di kamarmu. Malam pertama saat aku tahu kau adalah… vampire. Aku melihat fotonya. Kufikir kau juga mengejar dia sebagai mangsamu, seperti gadis-gadis ini. Waktu itu juga aku katakan padamu kalau kau tidak akan bisa mengejarnya, ‘kan? Kiko tipikal gadis yang berhati dingin, dan aku tahu itu karena teman-temanku berteman dekat dengannya,” jelas Taeyeon. “Jadi kurasa mustahil kau bisa memasukkan namanya ke dalam list ini. Ah. Keundae, kau itu G-Dragon. Leader Big Bang,”

“Dia tidak terdaftar di dalam nama-nama itu. Tidak akan pernah,” jawab Jiyong pendek, pelan, dan sedikit dingin. Ia memakai topi jaketnya dan bersiap-siap untuk keluar kamar. “Yang lain sudah menunggu di Tokyo Dome, aku harus ke sana sekarang,”

“Eoh? Ya, chakkaman! Aku ikut!” seru Taeyeon.

“Kemarin…” sela Jiyong. Ia menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu kamar hotelnya. Taeyeon memandang punggung belakang Jiyong sambil menanti kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. “Mianhaeyo,”

“Wae?” tanya Taeyeon, tak mengerti.

“Sepertinya aku sudah minum terlalu banyak, dan itu tidak cocok untuk vampires. Itu sebabnya aku membuatmu kerepotan kemarin malam. Mianhae. Aku yang ceroboh. Dan jika kau tidak ada di sana malam itu, kurasa aku akan mati di tempat. Jadi, jeongmal gomawoyo,”

~~~

“Ne~ aku sudah sampai di Tokyo, Miyong-ah,” ujar Taeyeon pada Tiffany melalui telepon. Gadis itu duduk di salah satu bangku di depan stage sambil mengibas-ngibaskan beberapa lembar kertas ke wajahnya. Hari itu, di Tokyo cuaca sangat panas. Terik matahari menyengat sampai ke ubun-ubun kepala Taeyeon. Ia sampai harus melindungi dirinya dari matahari menggunakan payung.

Jae oppa sudah menghubungimu?” tanya Tiffany, yang membuat Taeyeon menghentikan kibasan kertasnya.

“Kau sudah tahu?”

“Hyunnie menceritakan semuanya padaku. Sudah enam tahun kalian berpisah kenapa baru sekarang ia ingin menghubungimu? Maksudku, dia tidak pernah mengabarimu apa-apa selama enam tahun belakangan,” ujar Tiffany.

“Nado molla, Miyong-ah. Joo Hyun bilang dia… dia merindukanku. Dia ingin bertemu denganku, itu sebabnya Hyunni menawarkan nomorku. Dia bilang dia akan menghubungiku dalam waktu dekat,” jawab Taeyeon dengan suaranya yang parau.

Apa kau menunggu telepon darinya? Oh, kenapa aku bodoh sekali? Tentu saja iya, ‘kan? Kau menunggu teleponnya dan menunggu ajakannya untuk bertemu. Kalau kalian sudah bertemu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bertanya padanya ke mana dia pergi selama enam tahun ini? Apa kau akan bertanya kenapa dia tidak memberimu kabar apa-apa? Dan apa kau akan bertanya kenapa dia mengakhiri hubungan kalian dengan alasan yang tidak logis?”

Taeyeon hanya diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Tiffany, yang sedikit melukai perasaannya. Sahabatnya ini memang sangat tahu apa yang ada di dalam hatinya.

Taeng, ada dua kemungkinan dia mengajakmu untuk bertemu. Satu, karena dia merindukanmu dan mengajakmu untuk kembali bersama. Kedua, dia ingin memperkenalkanmu dengan seseorang yang special baginya. Mungkin pilihan kedua persentasenya tidak begitu besar. Mungkin pilihan pertama. Dan jika pilihan pertama menjadi alasannya untuk mengajakmu bertemu bahkan ia sampai bilang sangat merindukanmu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau, dengan bodoh dan lugunya, kembali menerimanya?

“Okay, kita tidak tahu pasti kenapa enam tahun yang lalu dia melepasmu. Tapi aku sangat menyarankan padamu, Taeng, jangan terlalu egois untuk menerima kembali hatinya. Meskipun sampai detik ini kau masih mencintainya, tapi pastikan kenapa dia tiba-tiba ingin bertemu denganmu dan mengajakmu kembali bersama. Pastikan juga alasan yang sebenarnya kenapa dia meninggalkanmu enam tahun yang lalu, arra?”

Taeyeon menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia mampu menjawab rangkaian kata dari Tiffany yang menggebu-gebu. “Aku… akan pastikan semuanya. Aku akan pastikan apa yang baru saja kau sampaikan itu, Miyong-ah,”

Andai saja kita tidak bicara lewat telepon. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, Taeng. Kalau kau sudah kembali ke Seoul, hubungi aku. Aku akan menemuimu sebelum laki-laki itu mengajakmu bertemu. Sudah dulu, eoh? Aku ada syuting MV siang ini. Ppay~,”

Taeyeon tersenyum kecil dan ia memutuskan sambungan teleponnya seraya kembali menyimpan ponselnya dalam saku celananya. Jae oppa-nya memang belum ada menghubunginya. Padahal ia sudah menyimpan nomor Taeyeon. Apa laki-laki itu serius mengatakan kalau ia merindukan dirinya?

“Hari ini benar-benar panas, ya?” ungkap seorang laki-laki yang sudah duduk di samping kanan Taeyeon.

Taeyeon sedikit terkejut dan ia menoleh ke arah kanannya. Choi Seunghyun.

“Kau mau minum, oppa?” tawar Taeyeon. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Seunghyun, yang langsung menerimanya dengan sepenuh hati. “Aku hanya duduk manis melihat kalian latihan dan sudah merasa gerah. Padahal yang jauh lebih banyak bergerak, ‘kan kalian,”

“Dua jam latihan cukup membakar ribuan kalori kami dan aku tidak perlu takut untuk makan siang lebih banyak dari porsi biasanya,” ujar Seunghyun setelah ia selesai menenggak minumannya.

“Kenapa Jiyong tidak turun dan mengambil minumannya?” tanya Taeyeon penasaran. Youngbae, Daesung, dan Seungri sudah turun dari stage dan sedang menyegarkan kembali kerongkongan kering mereka.

“Sepertinya Jiyong tidak bisa turun. Matahari sangat menyengat. Dan ia memakai jaket hitam. Kurasa ia tahu kalau bahaya baginya untuk turun dari panggung,” jawab Seunghyun. Ia memerhatikan Jiyong dengan menyipitkan kedua matanya. “Kalau begitu aku akan…,”

“Kenapa dia tidak sadar dari awal? Tsk, benar-benar bodoh,” ujar Taeyeon.

Gadis itu bangkit dari kursinya dan langsung melesat mendekati Jiyong, dengan membawa payung yang ia pakai.

“Turunlah ke bawah dan pakai payung ini,” ujar Taeyeon. Ia menyerahkan payungnya yang cukup besar itu pada Jiyong.

“Untuk apa?” tanya Jiyong. Ia langsung memakai maskernya begitu Taeyeon mendekat.

“Kau tidak ingin minum?” Taeyeon balik bertanya. Mereka mengobrol di bawah payung yang dipegangi oleh Taeyeon.

“Aku tidak membutuhkannya. Aku sudah cukup minum banyak darah hari ini. Kalau latihan seperti ini tidak akan mudah menguras tenagaku,” jawab Jiyong cepat.

“Arraseo. Selagi menunggu yang lain istirahat, sebaiknya kau duduk menunggu di backstage saja, eoh? Di sana ada AC dan kau bisa mendinginkan tubuhmu,” ajak Taeyeon.

“Itu tidak perlu…,” tolak Jiyong.

“Jangan keras kepala. Panas dari matahari ini bisa perlahan-lahan membunuhmu, apa kau tahu? Kajja,” sela Taeyeon. Ia mendorong pelan sekaligus paksa lengan kiri Jiyong menuju ke ruang ganti Big Bang.

~~~

“Hyung, jebal. Sekali ini saja. Aku harus pergi malam ini untuk menjelaskan semuanya padanya. Aku butuh pertolonganmu kali ini, hyung. Tolong aku kali ini saja, hanya malam ini,” pinta Jiyong dengan suaranya yang memelas.

“Arraseo, arraseo. Tapi hanya malam ini, Ji. Kau ingat? Hanya malam ini saja. Aku tidak ingin kau dalam masalah lagi jika ketahuan oleh Hyun Suk hyung. Pastikan malam ini urusanmu selesai, arra?” tekan Seunghyun dengan desisannya yang membahayakan.

Jiyong menganggukkan kepalanya dengan yakin. Ia kembali memakai masker wajahnya dan pergi masuk ke dalam lift. Setelah Jiyong menghilang, Seunghyun menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sesaat ia agak menyesal membiarkan Jiyong pergi begitu saja. Ia merasa seharusnya ia tidak mengizinkan laki-laki itu pergi.

“Oppa?” panggil Taeyeon dari ujung lorong koridor hotel.

Seunghyun berbalik untuk menoleh ke arah Taeyeon. Ia tersenyum sangat manis. “Eoh, kau di sini?”

“Kenapa kau ada di sini, oppa?” tanya Taeyeon. “Yang lainnya sudah menunggumu di restaurant untuk makan malam. Mana Jiyong?”

“Euhm, Taeyeon-ah. Mianhae. Tapi… Jiyong sedang pergi. Baru saja dia pergi,” jawab Seunghyun.

“Pergi? Pergi ke mana, oppa?” tanya Taeyeon. Nada suaranya mulai panik.

“Temannya mengadakan party dan dia tidak bisa menolaknya, Taeng. Untuk malam ini saja. Dia berjanji padaku hanya malam ini. Dan dia tidak akan lama-lama. Dia akan sampai di hotel pukul sebelas malam, paling telat,” jelas Seunghyun.

“Tapi… Hyun Suk ahjussi minta tolong padaku untuk mengawasinya, oppa. Kenapa oppa membiarkannya pergi tanpa memberitahuku? Aku tidak boleh membiarkannya pergi tanpa izin. Dan lagi, dia pergi untuk berpesta?” tanya Taeyeon dengan wajah horror-nya. Bagaimana kalau dia kebablasan lagi minum alkohol? Taeyeon tidak akan berada di kamar yang sama dengannya dan bagaimana kalau laki-laki itu kembali berulah seperti kemarin malam dengan dia tidak berada di dekatnya? Apa yang akan dikatakan Hyun Suk kalau dia mendengar hal ini?

Seunghyun meletakkan kedua tangannya di atas pundak Taeyeon. “Tenanglah, Taeyeon-ah. Tidak akan terjadi apa-apa jika kau tetap tenang dan memercayai semuanya baik-baik saja. Dia perlu pergi ke party itu untuk menyelesaikan masalahnya. Tidak apa-apa, tidak usah cemas. Kumohon, tolonglah dia untuk sekali ini saja, Taeyeon-ah. Hanya untuk kali ini saja,”

Taeyeon menatap kedua mata Seunghyun dalam-dalam. Kedua mata laki-laki itu memancarkan keyakinan besar sekaligus wajah yang menunjukkan ekspresi minta tolong dengan sangat. Taeyeon hanya menganggukkan wajahnya pelan tanpa berkomentar apa-apa lagi.

Taeyeon sadar, rasa khawatir dan overprotective-nya pada seorang G-Dragon semakin besar setelah ia mengetahui jati diri laki-laki itu. Bagaimanapun juga, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu. Dan ia berada di sini atas permintaan dari sahabatnya. Mau tidak mau, ia lakukan semua itu demi sahabatnya.

 

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

 

 

 

Mohon maaf sebesar-besarnya untuk readers yang udah nunggu FF ini selama berabad-abad >_< ini semua karena tugas sebagai seorang penuntut ilmu yang mendadak numpuk sana-sini TT.TT mian, dan untuk pernyataan maafku, chap ini adalah the longest one dari yang biasanya aku buat. Sampai ±11.300 words.

Okay, enjoy reading dan sekali lagi maaf kalau feel-nya ada yang kurang ‘gol’ di hati kaliaannnn kekeekekeke~ I’m sorry if you got bored after read this long chap TT.TT

siyusun♥

 

-Chap 4-

“Ini aku, Taengie-ah,”

Panggilan itu. Tanpa di sadari, air mata Taeyeon mengalir bagai anak sungai di kedua pipinya.

 

 

“Rasa cemasmu menggangguku. Apa aku tampak begitu berbahaya? Aku merasa seperti sosok monster menjijikkan yang akan menebar virus berbahaya kapan saja dan di mana saja,”

Advertisements

124 comments on “The Leader’s Secret (Chapter 3)

  1. jan2 bang jidi mau ketemu kiko,trus taeng ketemu masa lalu,hambatan
    kapan mereka saling cinta kalo ada hambatan,eh tapi biar greget ding :v

  2. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Jaehyun vampire kan? Dia ninggalin taeyeon buat rehab gak sih?
    Auk ah, pokoknya aku tunggu chap 6 nya
    Fighting chingu!!

  5. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pekerjaan asisten vampir. Memang berat tapi ia harus melakukannya karena Yuri, sahabat baiknya.
    • Setting alurnya cocok & bagus.
    • Gimana jadinya jika daftar nama gadis-gadis hilang & jalan keluarnya terpaksa tidak makan? Aduh, gawat.
    • Kasihan juga Jiyong tidak ‘sarapan’ karena tidak ada waktu.
    • Romantisnya Taeyeon memakaikan masker pada Jiyong saat rehearsal.
    • Untuk menutupi warna mata kuning keemasan pakai softlens aja, kaya Oh Cho-rim jadinya… Hehe….
    • Sifat Jiyong itu lho, cool…. 😀
    • Adakah scene Jiyong tidak bisa tampil karena hasrat vampir di detik-detik live stage?
    • Benarkan, itu tomat darah.
    • Kasihan juga Taeyeon punya darah termanis, hehe….
    • Aah, scene rebutan buku, rasanya jika yang memerankan selain mereka tidak bisa se-cute mereka. Mungkin karena tidak pernah lihat GTAE akting. Gimana mereka jatuh cinta ya jika mereka benar-benar pacaran di kehidupan nyata?
    • Entah kenapa aku suka lihat Jiyong kumat.
    • Tertarik dengan darah Taeyeon? Mungkin ada aura dari Taeyeon yang ‘sesuatu’ jadi Jiyong tidak bisa menahannya.
    • Kiko? Biar lebih bervariasi….
    #gtae #royalistdreamer #leadercouple
    • Next chapter… See you. GTAE. HWAITING Author! 😀

  10. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 12) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 13) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: The Leader’s Secret (Chapter 14) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s