Love, That One Word (Chapter 9)

030315_1628_LoveThatOne1.jpg

NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Sad

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Bae Irene

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7, Chapter 8

Preview of chapter 8

“Eonni, apa yang harus aku lakukan?.” Gadis itu, berucap pelan. Tangannya kembali memegang dadanya yang bergemuruh hebat. “Eonni, bantu aku, aku tidak ingin menghadapi semua ini sendiri.” Air mata yang tadi sudah tidak turun kembali turun membasahi pipinya. Sepertinya lebih baik dia diam, karena dengan diam rasa sakitnya berkurang. Tapi bibirnya sangat gatal ingin terus berbicara.

“Eonni kenapa aku bisa mencintai Baekhyun oppa? Kau tahu, aku ingin sekali memutar waktu, aku tidak ingin masuk ke dalam kehidupan eonni. Bukan karena aku tidak menyukai hidup bersama eonni, tapi gara-gara aku masuk ke dalam kehidupan eonni, eonni pergi untuk selama-lamanya. Aku tidak ingin mengenal Eomma dan Appa Park, aku tidak ingin mengenal Irene eonni, aku tidak ingin mengenal Lay dan Chanyeol oppa, dan aku juga tidak ingin mengenal Baekhyun oppa. Aku ingin kembali ke kehidupanku dulu, tidak apa-apa meskipun ayah dan ibuku sudah meninggal, tapi jika aku bisa tenang tinggal bersama bibi Lee, aku sangat ingin melakukan itu. Eonni aku mencintaimu, maafkan aku karena kau melindungiku, justru kau yang pergi dari dunia ini.”

Taeyeon mengusap matanya yang berlinang air mata, lalu menunduk dalam. Kembali merenung, kembali menyesali hidupnya sendiri. Dia fikir setelah bulan madu dengan Baekhyun hubungan mereka akan semakin erat, tapi nyatanya tidak. Taeyeon terlalu berharap.

Chapter 9

Love has come without you knowing
Without any reason, you’re in my heart
All alone, I repeat these words as I cry
Do you know?

Berhari-hari telah berlalu, hari ini, tepat memasuki hari ke-enam istrinya pergi tanpa memberi kabar. Dia benar-benar tidak tahu Taeyeon pergi kemana, dan sialnya gadis itu pergi tanpa handphone atau alat elektronik lain sehingga lebih menyulitkan dia untuk menemukannya. Baekhyun telah berusaha bertanya kepada Jongin, Yuri maupun Luhan, bahkan dia juga bertanya kepada Lay dan Chanyeol, namun mereka semua tidak tahu.

Mereka malah memarahi Baekhyun, terutama Luhan dan Jongin. Mereka berdua bahkan sampai sekarang tidak pernah mau lagi mengangkat telepon dari Baekhyun. Chanyeol dan Lay, mereka kecewa kepada sikap Baekhyun yang ceroboh, dan tidak berpikir sebelum bertindak.

Begitupun juga dengan Yuri, dia awalnya memang marah, dia bahkan beberapa kali mengatai Baekhyun dengan kata-kata kasar karena kehilangan kontrol, tapi beberapa saat kemudian Yuri-pun meminta maaf, dan dia berjanji kepada Baekhyun bahwa dia akan membantunya membujuk Jongin dan Luhan agar mau bersama-sama mencari Taeyeon.

“Adik iparku belum kembali?.” Sebuah suara menghentikan lamunan Baekhyun. Dia menoleh ke asal suara dan mendapati Boa dengan tangan kanan memegang air soda dingin berjalan mendekat ke arahnya. “Omo, lihatlah adikku ini, wajahnya tidak jauh berbeda dengan orang yang baru saja mati. Wajah pucat, bibir kering, dan mata panda. Kasihan sekali kau.”

Baekhyun tidak menghiraukan sindiran yang diberikan kakaknya, dia malah kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela apartemen. Dimana di sana dia dapat melihat pemandangan luar kota Seoul. Jalanan yang cukup padat, dan gedung-gedung tinggi menjulang yang sedikit menyusahkan matahari untuk menyinari jalanan Seoul.

Boa menghela napas. Dia memang marah, kesal, dan emosi ketika dia tahu Taeyeon pergi meninggalkan apartemen Baekhyun. Apalagi setelah dirinya tahu, jika penyebab Taeyeon meninggalkan apartemen adiknya itu karena Baekhyun sendiri. Ya, awalnya dia memang marah, namun setelah beberapa hari ini memperhatikan betapa giatnya Baekhyun berusaha untuk mencari Taeyeon, dia mulai merasa kasihan.

Apalagi ketika dia tahu bahwa selama lelaki itu mencari Taeyeon, Baekhyun selalu meninggalkan waktu makannya. Dia juga meninggalkan begitu saja pekerjaannya di kantor, membuat Tn. Byun, ayahnya harus turun tangan karena terjadi masalah kecil di perusahaan.

“Ayah sudah mengetahuinya, dan dia sangat marah. Siap-siap saja nanti kau menghadapi amukan ayah.” Ujar Boa. Awalnya, di keluarga Byun, hanya dia dan Ny. Byun yang tahu masalah ini. Ny. Byun dan Boa sengaja merahasiakan ini dari Tn. Byun, karena mereka tahu Tn. Byun akan marah jika mengetahuinya. Yang Tn. Byun tahu, alasan kenapa Baekhyun tidak masuk kantor, karena anaknya itu sakit. Namun, salahkan Boa dan Ny. Byun yang sedang membicarakan tentang masalah ini di ruang tengah rumah, sehingga ketika Tn. Byun pulang dari kantor sempat mendengar pembicaraan mereka.

“Noona sudah dapat kabar dari Suho hyung?.” Alih-alih menyahuti ucapan Boa, Baekhyun malah bertanya. Suho, dia adalah teman Boa. Lelaki itu adalah seorang detektif, ketika hari pertama Baekhyun tahu istrinya pergi meninggalkan rumah tanpa kabar, dia langsung menghubungi Boa untuk menyuruh Suho mencari Taeyeon.

“Belum. Suho bahkan sampai meminta data-data dari berbagai agen perjalanan, takut-takut jika Taeyeon pergi ke tempat yang jauh. Namun tidak ada satupun data dimana nama Taeyeon tertera.” Jawab Boa. Dia meneguk soda dinginnya lalu kembali berujar. “Taeyeon ada di Seoul, dan Suho akan melakukan yang terbaik untuk menemukan Taeyeon.”

Baekhyun kembali terdiam, ingin rasanya dia menangis. Dia menyesal, amat sangat menyesal. Kenapa dia begitu mudahnya percaya dengan Irene saat itu. Mungkin karena wanita itu dulu teman dekat Seulgi, sehingga dengan mudahnya dia percaya. Tapi untuk apa Irene melakukannya? Hubungan apa yang dimiliki Irene dan Taeyeon sehingga membuat Irene sangat ingin menjelekkan Taeyeon dihadapannya?.

Flashback

Baekhyun memasuki ruangan kantornya pagi itu, 30 menit lagi rapat dengan perusahaan dari Jeju akan dimulai. Setelah dia duduk di kursi yang mengahadap meja penuh dengan berkas dokumen, dia menemukan sesuatu yang kurang. Biasanya, tiap dia masuk keruangannya dia akan menemukan secangkir kopi, minuman pagi yang biasa dia konsumsi di kantor. Namun sekarang tidak ada. Dia juga baru ingat, sebelum dia memasuki ruangannya, Irene, sekretarisnya juga tidak ada di meja yang biasa dia gunakan untuk bekerja. Kemana Irene? Apa dia tidak masuk?

Suara ketukan pintu terdengar olehnya, setelahnya pintu ruangannya terbuka. Seorang office boy masuk, dengan tangan membawa gelas berisi kopi hitam.

“Baekhyun-nim, ini kopi anda. Maaf karena saya membuatnya tidak tepat waktu.” Ujar office boy dengan name tag ‘Lee Soohyuk’ itu. Soohyuk meletakkan kopi itu di atas meja tepat di hadapan Baekhyun.

“Gwaenchana. Terima kasih.”

Soohyuk mengangguk hormat. Dia berbalik hendak keluar ruangan, namun pertanyaan Baekhyun menghentikannya.

“Sekretarisku tidak masuk?.”

Baekhyun dapat lihat raut muka ragu tergambar di wajah Soohyuk, sebelum akhirnya lelaki itu menjawab. “Dia masuk, Baekhyun-nim.”

“Lalu, dimana dia? Apa dia lupa bahwa sebentar lagi rapat akan dimulai?.”

Lagi, dia dapat melihat raut muka ragu tergambar dari wajah Soohyuk. Namun Baekhyun coba untuk tidak menghiraukannya, karena dia pikir sikap itu memang selalu didapatkannya jika dia berbicara dengan seorang bawahan.

“Irene-ssi sedang mengurus tangannya yang terluka tadi karena terkena air panas di belakang.” Ujar Soohyuk.

Lelaki itu, Soohyuk lalu permisi untuk keluar dari ruangan Baekhyun. Setelahnya Baekhyun juga ikut berdiri, dan berjalan ke luar ruangan untuk menuju ke tempat Irene berada sekarang. Dia ingin memastikan keadaan Irene baik-baik saja, hanya terkena air panas ‘kan? Pasti tidak apa-apa. Meskipun sikap Baekhyun dingin terhadap Irene, tetapi dia ‘pun masih punya perasaan. Apalagi Irene termasuk teman Seulgi dulu.

Pikirinnya yakin mengatakan jika Irene tidak apa-apa, namun ketika dia sampai di tempat dimana Irene berada, dia cukup terkejut. Kedua tangan Irene dibalut oleh kassa perban putih. Jika tangannya hanya terkena air panas, tidak mungkin sampai dia perban ‘kan?

“Tanganmu kenapa? kenapa diperban begitu?.” Tanya Baekhyun.

Irene yang terkejut *atau pura-pura terkejut* dengan kedatangan Baekhyun, memperlihatkan wajah gugupnya. “Ti-tidak apa-apa, Baekhyun-nim.”

“Tidak apa-apa kenapa memakai perban?.” Tanya Baekhyun lagi, lelaki itu mulai memicingkan kedua mata.

Diam beberapa saat, sebelum akhirnya Irene dengan gugup berujar. “Sebenarnya tanganku terluka Baekhyun-nim, dan tadi tanganku ini terkena air panas saat ingin membuat kopi untukmu.”

“Kenapa bisa terluka? Apakah kemarin kau melakukan aktifitas yang berbahaya?.” Sebenarnya tidak ingin Baekhyun berbasa-basi, dia tidak pandai untuk hal berbasa-basi. Namun dia cukup tahu diri, lagipula memang dia penasaran kenapa sekretarisnya itu bisa terluka?

“Irene kau kenapa? Kau bisa menceritakan tentang apa yang terjadi padamu kepadaku.”

Irene bersorak dalam hati, akhirnya Baekhyun melunak juga. Sangat susah jika mereka berdua di dalam kantor bisa bicara seperti mereka teman. Biasanya Baekhyun hanya akan berbicara kepadanya seperti teman jika mereka berada di luar jam kantor, contohnya seperti hari pernikahan Baekhyun dulu.

“Kalau aku menceritakannya padamu, aku yakin kau tidak akan percaya, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun mengangkat alis bingung. “Kau tidak akan tahu apakah aku akan percaya dengan semua yang kau jelaskan atau tidak sebelum kau menceritakannya. Jadi, sebelum berspekulasi, alangkah baiknya jika kau menceritakannya dulu.”

Irene kembali terdiam untuk beberapa saat, sampai akhirnya dia ‘membuat’ cerita tentang apa yang terjadi sehingga kedua telapak tangannya bisa terluka. Irene bicara jika penyebab semua ini adalah Taeyeon, istri Baekhyun. Irene tidak mengerti apa yang memasuki tubuh Taeyeon sehingga bisa membuat gadis itu melakukan hal yang tidak disangka ini kepadanya. Yang jelas, Taeyeon melakukannya setelah Irene membicarakan hal tentang Seulgi.

Bahkan Irene dengan mudahnya bilang, jika pikiran Taeyeon sedikit terganggu karena kehilangan Seulgi. “Bahkan aku hanya membicarakan tentang kebaikan Seulgi, tapi dia tiba-tiba saja mengamuk. Aneh ‘kan?.”

Awalnya Baekhyun tidak percaya, bukankah mustahil hanya karena itu istrinya bisa hilang kendali? Apalagi dia mengenal Taeyeon itu sebagai gadis yang baik-baik. Jika pikirannya terganggu karena dia kehilangan Seulgi, bukankah dia dulu baik-baik saja ketika kedua orang tua kandungnya meninggalkannya untuk selamanya?

Baekhyun tidak percaya, namun semua ucapan Irene berhasil mempengaruhi otak Baekhyun. Dia seakan tersihir apalagi ketika Irene mulai mengeluarkan air matanya. Terlihat Baekhyun menggepalkan kedua tangannya, entah kenapa. Dia tidak terlalu percaya, tapi dia merasa marah terhadap Taeyeon.

Flashbak End

Sampai saat ini, Baekhyun terlalu sibuk dengan kegiatannya mencari Taeyeon. Sampai-sampai tidak sempat dirinya bertanya kepada Irene tentang maksud semua ini. Dia seakan lupa akan Irene karena semua pikirannya hanya dipenuhi oleh Taeyeon.

Baekhyun masih ingat dengan jelas bagaimana dia memarahi istrinya, bagaimana ekspresi istrinya ketika Baekhyun memarahinya. Ekspresi bingung karena memang Taeyeon tidak tahu apa-apa. Dan bodohnya Baekhyun karena tidak peka terhadap ekspresi polos Taeyeon yang tidak tahu apa-apa itu. Taeyeon tidak salah, Baekhyun yang salah. Dia yang salah karena terlalu mempercayai orang lain. Dia yang salah karena telah memarahi istrinya sendiri. Dia yang salah karena saat itu dia tidak ingin mendengarkan penjelasan Taeyeon. Dia yang salah, karena dia sendiri, saat itu Taeyeon mengeluarkan air matanya.

Baekhyun sangat menyesal, bahkan kemarahan Ibunya tidak bisa membuat dirinya sedikitpun mengurangi rasa salahnya ketika dia marah pada Taeyeon. Bagaimana Ibu-nya marah kepadanya, tidak sebanding dengan ketika dirinya marah kepada Taeyeon.

Flashback

Baekhyun memasuki apartemen keesokan harinya, tepat pada sore hari setelah pekerjaannya di kantor selesai. Tadi malam dia sengaja tidur di kantor, perasaan marah terhadap Taeyeon kemarin membuatnya tidak ingin cepat kembali ke apartemen mereka. Dia juga butuh waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian kemarin.

Dia memang marah, namun hatinya entah kenapa sebaliknya. Dia juga cukup khawatir karena semalam meninggalkan istrinya sendirian. Ia tidak berbohong, bahkan semalaman rasa khawatir itu tidak hilang sedikitpun.

Telinganya mendengar suara bising dari arah dapur, sedang hidungnya mencium bau masakan yang enak. Kening Baekhyun mengerut, apakah istrinya memasak? Tapi, Taeyeon tidak bisa memasak. Taeyeon memang beberapa kali bicara pada Baekhyun, bahwa dia sesekali belajar memasak bersama Yuri jika dirinya sedang bekerja. Tapi, apakah secepat itu?

“Oh, Baekhyun-ah, kau sudah pulang, nak?.” Lamunan Baekhyun terhenti, ketika dia mendapati Ibunya keluar dari arah dapur. Oh, jadi Ibunya yang memasak?

“Iya, bu. Sejak kapan Ibu di sini?.” Baekhyun bertanya kepada Ny. Byun, dia melepas jas kantor yang dia pakai lalu menyimpannya di kursi.

“Ibu datang tadi siang, mandilah dulu, Ibu sudah masak makanan untukmu dan Taeyeon.” Ujar Ny. Byun. Dia menepuk-nepuk pundak anaknya sambil tersenyum. Baekhyun mengecup singkat dahi Ny. Byun lalu bersiap-siap untuk pergi menuju kamarnya.

“Baiklah, bu.” Saat hendak Baekhyun pergi, suara Ibu memanggil namanya kembali terdengar.

Baekhyun berhenti, lalu dia kembali menoleh menatap Ny. Byun. “Iya, bu?.”

“Baekhyun-ah dimana Taeyeon? Sejak tadi ibu menunggunya tapi dia tidak datang-datang. Apa kau sudah mengganti perban lukanya, nak?.”

Baekhyun menatap Ny. Byun heran. “Perban apa maksud ibu?.”

Kali ini giliran Ny. Byun yang menatap Baekhyun heran, bahkan kedua alis wanita tua itu sedikit naik ke atas. “Taeyeon tidak memberitahumu? Tangannya terkena pecahan beling kemarin, untung saja ibu datang tepat waktu, kalau tidak mungkin tangannya sudah infeksi.”

Tunggu dulu, Baekhyun sungguh tidak mengerti. Tangan Taeyeon terluka? Kemarin? Dan bahkan yang mengobati luka istrinya itu adalah Ny. Byun, Ibunya?

Ada apa ini? Bukankah yang terluka adalah Irene? Tapi, Taeyeon juga terluka?

“Baekhyun-ah? Kau benar-benar tid-.”

“Jam berapa Ibu kemarin ke sini?.” Baekhyun memotong ucapan Ny. Byun. Tidak sopan memang, namun dia tidak bisa menahan untuk tidak segera bertanya kepada Ny. Byun.

“Oh, sebenarnya bukan kemarin, tapi dua hari yang lalu. Waktu itu Taeyeon bilang jika kau sedang di Gangnam, makanya Ibu sengaja mengunjungi Taeyeon malam harinya.”

Dua hari yang lalu, tepat ketika Irene disuruh olehnya untuk mengantarkan berkas makalah ke apartemennya.

“Taeyeon terluka, dan kau tidak mengetahuinya?.” Tanya Ny. Byun. “Ada apa sebenarnya, Baekhyun-ah? Apa kalian bertengkar?.” Lanjut Ny. Byun.

Baekhyun terdiam, tidak menjawab pertanyaan Ibu-nya. Pikirannya kembali berputar. Ada yang aneh ketika dia memarahi Taeyeon kemarin. Ekspresi muka itu, kebingungan. Bahkan Taeyeon juga menyangkal kemarin, dia menyangkal jika Irene terluka karenanya.

Baekhyun dengan cepat kembali menyambar jasnya. Dia mengambil handphone yang tersimpan di dalam kantong jas itu. Setelah mendapatkannya, dia menekan nomor handphone Taeyeon yang sudah dihapalnya di luar kepala dan memanggilnya.

Sedetik setelah telepon itu tersambung, telinga Baekhyun dapat mendengar samar-samar suara nada dering dari handphone Taeyeon yang berada di kamar mereka.

“Handphone-nya ada di kamar, tadi juga Ibu mencoba untuk menghubunginya.”

Baekhyun menatap Ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan, entah kenapa seketika perasaannya tidak enak. “Kemarin aku bertengkar dengan Taeyeon, bu.” Ujarnya pelan.

Wajahnya berubah panik, pikirannya berubah negatif. Dari kemarin Baekhyun meninggalkan Taeyeon sendiri di dalam apartemen dalam keadaan gadis itu yang mungkin sedang kacau karena dirinya. Baekhyun sangat menyesal, dan dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu buruk terjadi kepada Taeyeon.

“Siapa yang kau hubungi?.” Tanya Ny. Byun ketika dia melihat Baekhyun dengan panik kembali menempelkan handphone-nya ke telinga.

“Aku menelpon Yuri, bu.” Jawab Baekhyun. “Mungkin saja Taeyeon sedang bersama Yuri, Bu.” Lanjutnya.

Tidak perlu waktu lama, karena beberapa detik setelah telpon itu tersambung suara Yuri menyambutnya.

“Apa Taeyeon sedang bersamamu?.” Tanpa menyapa seseorang yang berada di sebrang sana, Baekhyun langsung bertanya. Dia tidak bisa berlama-lama lagi, dia ingin segera bertemu Taeyeon.

“Taeyeon?.” Terdengar Yuri kembali bertanya dengan nada suara bingung. “Tidak ada, kenapa? Apa ada masalah?.”

“Kau serius, Yuri-ah? Taeyeon benar-benar tidak bersamamu?.” Baekhyun kembali bertanya dengan kening bekerut.

“Tidak ada Baekhyun-ah. Sekarang jawab aku, apa ada masalah? Kenapa suaramu terdengar panik? Apa terjadi sesuatu dengan Taeyeon?.”

“Jongin, Jongin, apa Taeyeon bersama Jongin? Coba kau hubungi Jongin dan tanya jika dia bersama Taeyeon atau tidak?.” Perasaan Baekhyun, mengetahui jika Taeyeon sedang tidak bersama Yuri mulai tidak enak. Lantas, jika dia tidak bersama Yuri dengan siapa? Jongin?.

“Aku sedang bersama Jongin oppa sekarang, Baekhyun-ah, aku mohon jawab pertanyaanku, ada apa? Perasaanku mulai tidak enak mendengar suaramu seperti ini.” Yuri memohon di sebrang sana.

“Taeyeon tidak ada di apartemen entah sejak kapan, dan kabar buruknya kemarin aku baru saja memarahinya. Aku takut jik-.”

“APA?! Taeyeon tidak ada di sana dan kemarin kau memarahinya? Yak, Byun Baekhyun kena-.”

Belum sempat Yuri menyelesaikan ucapannya, sebuah suara mengintrupsinya. Baekhyun dapat menebak, itu pasti Jongin yang merebut handphone Yuri.

“Byun Baekhyun apa yang telah kau lakukan?! Apa yang terjadi antara kalian?!.” Jongin bertanya dengan suara tinggi, jika orang yang normal mendengar suara Jongin di dalam telepon pasti akan refleks menjauhkan handphone itu dari telinganya, berhubung suara itu sangat memekikan telinga. Namun Baekhyun, yang memang sedang tidak dalam kondisi tidak baiknya tidak melakukan hal itu. Ia malah bertanya kepada Jongin dengan suara khawatir.

“Dimana Taeyeon? Kalian menyembunyikannya dariku ‘kan? Katakan padanya aku minta maaf, dan cepatlah pulang. Aku merindukannya.”

“Byun Baekhyun bicara apa kau? Siapa yang menyembunyikan Taeyeon? Bahkan kami tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di antara kalian..” Ujar Jongin marah. “Aku dan Yuri akan ke apartemenmu, diamlah di sana dan jangan pergi kemana-mana.”

Setelah Jongin selesai berbicara, sambungan telepon terputus. Jongin memutuskannya secara sepihak membuat Baekhyun gusar. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Hampir saja dia melemparkan handphone-nya ke lantai, namun lengan dari sang Ibu menghentikannya.

“Jelaskan pada Ibu apa yang terjadi.”

Nada suara Ny. Byun terdengar tajam. Dapat dilihat dari mukanya, jika wanita tua itu marah kepada anak bungsunya.

Saat itulah, Baekhyun mulai menjelaskan apa yang terjadi kemarin kepada Ny. Byun. Sangat detail tanpa ada yang terlewatkan. Saat itu juga Ny. Byun marah untuk yang pertama kalinya kepada Baekhyun, bahkan dia sampai mengatai Baekhyun sebagai anak yang tidak bertanggung jawab dan keras kepala.

Flashback End

“Kau mau kemana lagi?.” Tanya Boa ketika melihat sang adik menyambar mantel tebalnya di atas kursi. “Makanlah dulu, lalu bristirahat sebentar. Kau akan sakit, oh tidak, kau sudah sakit. Lihatlah mukamu itu, pucat sekali Baekhyun.”

“Aku harus menemukan istiku, noona..”

Baekhyun berjalan melewati Boa untuk menuju pintu, namun lengan Boa dengan cepat menghentikannya. Sekuat tenaga wanita itu menghempaskan tubuh Baekhyun kuat ke atas sofa. “Kau sedang sakit, bagaimana ketika mengendarai mobil kau kecelakaan? Sedang sakit seperti ini kau akan kehilangan konsentrasimu, Baekhyun.”

“Tapi aku harus menemukannya, noona. Aku harus minta maaf padanya, aku salah paham padanya. aku tidak ingin istriku membenciku.” Ujar Baekhyun sambil mengusap wajahnya gusar. Dia bangun dari posisi terjatuhnya dan duduk di atas sofa dengan tangan memangku wajah.

“Kau menyukainya?.” Tanya Boa. “Kau menyukai Taeyeon ‘kan?.”

“Aku tidak menyukainya, aku mencintainya noona.” Ujar Baekhyun pelan, namun bisa dengan jelas terdengar oleh telinga Boa. “Aku mencintainya, aku menyayanginya. Bahkan rasa cintaku pada Seulgi hilang begitu saja karena Taeyeon. Aku memang sakit mendengar kabar Seulgi meninggal, tapi aku lebih sakit melihat Taeyeon yang menangis di bandara karena ditinggalkan Seulgi. Dan sekarang, dia menangis, dia menangis karenaku noona. Bagaimana ini? Bagaimana jika kita tidak menemukan Taeyeon? Bagaimana jika dia tidak memaafkanku sampai kapanpun?.” Baekhyun meracau, dia menangis untuk yang pertama kalinya di hadapan Boa.

Boa ingat, bahkan ketika Baekhyun kecil, ketika mainannya dicuri oleh teman sekelasnya sendiri Baekhyun tidak menangis, dia hanya marah. Bahkan jika orang sedih atau tertekan, biasanya orang itu akan menangis. Tapi Baekhyun tidak, dia pernah bilang pada Boa, laki-laki sangat tidak pantas menangis. Namun sekarang, orang yang bilang jika laki-laki tidak pantas menangis itu sedang menangis tapat di depannya.

Baekhyun berjongkok di hadapan Baekhyun, wanita itu mengangkat tangannya dan mengusap rambut sang adik pelan. “Kita akan menemukannya, pasti.”

Boa ikut menitikkan air mata, kondisi Baekhyun sungguh memprihatinkan. Dia tidak tega melihat adiknya sendiri seperti ini. “Dan noona yakin, Taeyeon pasti akan memaafkanmu, asal kau menjelaskan semuanya dengan benar dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan seperti ini lagi.”

Boa mencium puncak kepala adiknya lalu berdiri. “Noona akan masak makanan untuk kau makan, berbaringlah sebentar, araseo?.”

Baekhyun mengangguk, lalu menuruti apa yang diperintahkan Boa. Tangannya menghapus air mata disekitaran wajahnya.

Setelah Boa berlalu, saat hendak saja Baekhyun ingin memejamkan mata, suara bel apartemen terdengar. Dengan cepat pria itu berdiri dan berlari menuju pintu, dia berharap-harap jika itu adalah Taeyeon, istrinya oh, sungguh jika itu benar, saat itu juga dia akan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Mencium bibirnya lalu mengatakan maaf. Mencium bibirnya lalu mengatakan, jika Baekhyun mencintainya.

Namun harapannya pupus sudah, ketika Baekhyun membuka pintu, wajah Yuri dan Chanyeol lah yang Baekhyun lihat. Ia menghela napas kecewa, itu bukan Taeyeon-nya.

“Hai, kau tidak ingin membiarkan kami masuk?.” Tanya Chanyeol yang menyadari ketika Baekhyun hanya memandangnya dan Yuri dengan tatapan kosong.

“Di luar hujan, lihat kami hujan-hujanan demi datang kesini.” Ujar Yuri.

“Masuklah.”

Yuri dan Chanyeol saling berpandangan. “Baekhyun wajahnya pucat sekali, apa dia sakit?.” Tanya Yuri kepada Chanyeol.

Pria jangkung itu mengangkat bahu tidak tahu “Entahlah, tapi sepertinya iya. Kasihan sekali, pasti dia menangis sepanjang hari karena tidak menemukan Taengoo.”

Yuri mengangguk menyetujui. Dia sedikit kasihan melihat bagaimana wajah Baekhyun tadi. “Dia yang lebih giat mencari Taeyeon daripada aku dan Jongin oppa.”

“Itu karena Baekhyun merasa bersalah padanya, atau mungkin dia-.” Chanyeol menggantungkan ucapannya dan kembali menatap Yuri, mencoba mencari kemungkinan yang saat ini sedang ada di pikirannya.

“Jika itu benar, aku akan sangat senang.” Senyuman mengembang di bibir Yuri yang dipolesi oleh lipstick tipis.

“Dan kalau kau senang, aku juga akan senang. Ayo kita berdoa supaya hal itu benar-benar terjadi.” Chanyeol merangkul pundak Yuri dan membawa gadis itu masuk ke dalam apartemen Baekhyun.

Hubungan Chanyeol dan Yuri sekarang semakin dekat, dulu Yuri memang membenci Chanyeol karena ketika mereka pacaran dulu Chanyeol pernah menghianatinya. Namun sepertinya gadis itu memberi kesempatan bagi Chanyeol untuk menunjukkan jika pria itu tidak akan melakukan kesalahan yang pernah dilakukannya dulu. Mereka pacaran? Tidak, mereka berteman namun bertingkah seperti orang pacaran. Lay, bahkan pernah meledek mereka berdua yang bermesraan ketika berada di Restorannya. Dan Jongin, seperti biasa menakut-nakuti Yuri hal buruk tentang Chanyeol.

Bukan tanpa alasan, Jongin hanya mengetes saja. Dia ingin Yuri mendapatkan lelaki yang baik dan tidak bermain-main dengan hubungannya.

Setelah mereka memasuki apartemen, mereka mendapati Baekhyun tengah duduk di sofa. Kepala Baekhyun mendongak ketika sadar mereka mendekat ke arahnya.

“Kalian mendapatkan kabar?.” Tanya Baekhyun. Ia mendesah melihat Yuri dan Chanyeol menggelengkan kepala mereka. Tangannya memijit pelan keningnya yang sakit.

“Tapi, sepertinya kami tahu dengan siapa Taeyeon saat ini.” Ucapan Chanyeol kali ini sukses membuat Baekhyun menajamkan mata dan telinganya.

“Bibi Lee, kau tahu ‘kan bibi Lee?.” Tanya Yuri.

Baekhyun mengangguk, tentu saja dia mengetahuinya. Orang yang dianggap Taeyeon sebagai Ibu keduanya. Dan sialnya kemarin-kemarin dia tidak berpikir untuk mencari istrinya ke rumah bibi Lee, bahkan Baekhyun tidak teringat bibi Lee.

“Taeyeon bersama bibi Lee? Lalu kenapa tidak sekarang kita ke sana untuk membawanya pulang?.” Baekhyun hendak berdiri, namun lengan Chanyeol menahannya.

“Tunggu dulu, kami belum selesai bicara.” Ujar pria jangkung itu.

“Bibi Lee tidak berada di rumahnya seminggu ini. Tetangganya tidak tahu kemana Bibi Lee pergi, namun waktu itu pernah ada seseorang yang memergoki Bibi Lee dan seorang gadis muda pergi dengan membawa koper. Orang itu bertanya, dan Bibi Lee menjawab jika dia akan pindah rumah.” Jelas Yuri. “Dan aku pikir gadis muda yang bersama Bibi Lee itu adalah Taeyeon. Kami sudah memberitahu Jongin dan Luhan oppa, dan sekarang mereka sedang menyelidiki ke mana Bibi Lee pergi.” Lanjutnya.

“Apa kau punya perkiraan kemana mereka pergi?.” Tanya Baekhyun.

“Tidak, aku dan Chanyeol tadi sudah pergi menuju rumah keluarga Kim, karena bisa saja Bibi Lee dan Taeyeon pergi kesana. Namun kami tidak menemukannya, mungkin saja mereka pergi ke tempat lain yang tidak kita tahu.” Ujar Yuri kembali.

“Atau mungkin mereka pergi ke tempat dimana hanya mereka dan mendiang keluarga Kim saja yang tahu? Kau pernah bilang jika Taengoo mempunyai tempat rahasia ‘kan?.” Kali ini Chanyeol menatap Yuri dengan pandangan tanya.

“Tempat rahasia?.” Baekhyun yang tidak tahu apa-apa hanya memandang mereka bingung.

“Mungkin saja, yeol.” Ucap Yuri. Sejak kecil, Taeyeon memang sering bilang jika keluarganya selalu mengajak Bibi Lee berlibur di sebuah tempat, dan tempat itu rahasia. Yuri tidak tahu dimana tempat itu, sekeras apapun dulu Yuri memaksa Taeyeon untuk memberitahunya tentang tempat rahasia itu, namun Taeyeon tidak pernah menjawa dan hanya tersenyum menggoda.

“Tempat rahasia apa yang kalian maksud?.” Baekhyun kembali bertanya dengan tidak sabaran mengingat baru saja Yuri mengacuhkannya dan lebih memilih untuk menjawab pertanyaan Chanyeol.

“Aku tidak tahu dimana tempatnya, Baekhyun. Taeyeon tidak pernah memberitahuku tentang tempat rahasia itu. Dia bilang hanya dirinya, Bibi dan Paman Kim dan Bibi Lee yang tahu.”

“Tempat itu benar-benar rahasia, ya?” Bisik Baekhyun lirih. Dia pikir, jika Yuri mengetahui dimana tempat itu berada, dia akan menemukan Taeyeon secepatnya. Namun ternyata Yuri tidak mengetahuinya. Kenapa tempat itu rahasia?.

“Makanlah.” Boa memberikan sepiring penuh nasi dan lauk pauk di atas meja. Lalu menyimpan tiga teh hangat di atas meja untuk Baekhyun, Yuri dan Chanyeol. “Tadi aku mendengar suara kalian di dapur, dan ternyata tidak salah. Minumlah.”

“Terima kasih noona.”

“Terima kasih eonni.”

Boa tersenyum dan mengangguk menganggapi ucapan terima kasih dari Chanyeol dan Yuri.

“Noona, kau harus menyuruh Suho hyung untuk juga mencari tahu dimana Bibi Lee.”

“Bibi Lee?.” Boa menatap Baekhyun dengan kerutan didahinya.

“Bibi Lee Minjung, noona tahu kan Bibi yang waktu itu datang ke pernikahanku?.”

“Ahh, noona ingat. Tapi memangnya ada apa? Apa jangan-jangan-”

“Ya, menurut Yuri dan Chanyeol, Bibi Lee pergi dari rumahnya dengan Taeyeon. Noona bisa ‘kan memberi tahu Suho hyung?.”

“Tentu saja, sekarang habiskan dulu makanannya dan beristirahatlah setelah itu.”

Baekhyun menggeleng dan menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. “Aku akan makan, tapi aku tidak akan beristirahat, aku masih harus menemukan Taeyeon dan kalian tidak bisa melarangku karena aku tidak akan mendengarkan kalian.”

Boa hanya menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan Baekhyun yang keras kepala, begitupun dengan Chanyeol.

Sedangkan Yuri, matanya berkaca-kaca. Dia sungguh tersentuh oleh Baekhyun saat ini, kepedulian Baekhyun terhadap Taeyeon benar-benar terlihat jelas olehnya. Bahkan meskipun dalam keadaan sakit, pria itu masih berniat untuk terus mencari Taeyeon. Dalam hati dia berterima kasih kepada Tuhan, karena telah memberikan Taeyeon seorang suami yang Yuri yakin sangat mencintainya.

Love, That One Word

Seorang wanita tua, terlihat memasuki sebuah pekarangan rumah yang kecil. Pekarangan itu terlihat kecil dari luar, tapi kalian tidak akan percaya, ketika kaki kita telah menapak di dalam pekarangan, tidak disangka jika pekarangan itu cukup luas. Tempatnya tidak lebar tapi panjang ke belakang.

Kedua tangan wanita tua itu menenteng keresek yang isinya masing-masing kebutuhan makan dan obat-obatan. Sesampainya di depan pintu rumah, ia mengelap sedikit keringat yang keluar dari dahinya.

Cklek

Ia menghela nafas, bersyukur karena tidak membutuhkan waktu lama untuk berbelanja ke pasar. Mengingat dia meninggalkan sendiri seorang gadis yang sejak dulu sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri di dalam rumah. Jarak dari rumah ke pasar cukup jauh, bahkan bisa dibilang sangat jauh. Apalagi dengan alat transportasi yang masih sangat jarang di tempat mereka tinggal, Daegu.

Daegu memang dikenal sebagai kota metropolitan terbesar ke-4 di Korea, namun, mereka tidak tinggal di pusat kota Daegu. Melainkan di sebelah Utara kota Daegu, di Gunung Palgong.

Di sinilah, keluarga Kim dulu sering menghabiskan waktu liburan. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan gunung Palgong ini, bahkan jika dibandingkan dengan Gunung Biseul yang terletak di sebelah Selatan dari kota Daegu, Gunung Biseul lebih menarik. Dari mulai pemandangan, pemukiman yang cukup ramai dan tidak sedikitnya transportasi yang berlalu lalang.

Namun Kim Taeyeon, anak satu-satunya keluarga Kim, dimana saat itu dia sangat di manja baik oleh Tn dan Ny. Kim, sangat menyukai Gunung Palgong. Bahkan dia sampai menyuruh kedua orang tuanya membuat sebuah rumah di Palgong. Rumah itu menurut Taeyeon, bisa digunakan oleh keluarga ketika mereka libur bekerja.

“Taeyeon-ah.” Panggil Bibi Lee ketika dia sudah selesai meletakkan satu kantong kresek berisi bahan makanan. Wanita tua itu berjalan dengan pelan mendekati Taeyeon yang sedang tersenyum memandangnya sambil mengupas buah mangga. Bibi Lee lalu menyimpan satu lagi kantong keresek berisi obat-obatan di atas meja dekat mereka.

“Bibi pergi lama sekali? Aku bosan menunggu, lihatlah sudah berapa banyak mangga yang kuhabiskan selama menunggu bibi?.” Taeyeon sedikit merengut , dagunya menunjuk piring berisi kupasan-kupasan mangga yang telah habis.

Bibi Lee menatap Taeyeon takjub, tidak menyangka gadis itu bisa memakan banyak buah mangga selama dia pergi. Padahal, baru kemarin Taeyeon menghabiskan lima buah mangga yang di petik langsung oleh seorang pemuda, tetangga mereka di kebun milik pemuda itu sendiri.

“Jangan terlalu banyak makan mangga, Taeyeon, makan terlalu banyak malah akan membuat tubuhmu tidak enak nantinya.”

Taeyeon mengerucutkan bibir ketika tangan Bibi Lee berhasil mengambil pisau dan buah ditangannya. “Tapi bi, mangganya enak sekali. Ayolah, biarkan aku makan satu buah mangga lagi.” Mohonnya.

Bibi Lee menggeleng, lalu menjauhkan mangga-mangga yang masih utuh dari jangkauan Taeyeon. “Tidak, kalau kau sakit bagaimana?.”

“Tidak akan, mangga kan buah yang sehat.”

“Sehat iya, tapi kalau makannya berlebihan?.” Tanya Bibi Lee. “Kau tidak mau calon bayi yang berada di perutmu kenapa-kenapa ‘kan?.”

Astaga, kenapa dia tidak ingat kalau sekarang dia sedang hamil? Kenapa dia tidak ingat kalau di dalam perutnya sekarang tengah tumbuh janin? Taeyeon merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa lupa?.

Tepat tiga hari yang lalu, dia mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Saat itu, tidak biasanya kondisi Taeyeon lemah. Bahkan ketika membantu Bibi Lee menyapu halaman rumah-pun, hampir saja dia pingsan. Apalagi selama beberapa hari ke belakang ini, gadis itu sering pulang pergi ke toilet, terasa ingin muntah namun ketika dikeluarkan hanya cairan saliva yang keluar.

Bibi Lee yang pertama kali menyadari jika kesehatan Taeyeon tidak wajar, sampai akhirnya dia berspekulasi jika gadis itu tengah hamil. Segera setelah itu, Taeyeon dan Bibi Lee di antar oleh Kim Hanbin, tetangga rumah mereka pergi ke sebuah Rumah Sakit kecil untuk memeriksakan keadaan Taeyeon. Dan benar saja, Taeyeon sedang hamil dengan usia kandungan dua minggu.

Saat itu, entahlah Taeyeon harus berekspresi seperti apa. Dia memang senang, namun juga sedih di saat yang bersamaan. Baekhyun tidak ada di sisinya ketika Dokter Im, dokter yang memeriksa Taeyeon memberitahunya jika dia hamil. Andai saja pria itu ada di sana saat itu, bersamanya. Andai saja.

“Bibi mau masak, apa kau mau membantu?.” Tawaran Bibi Lee berhasil membuat lamunan Taeyeon terhenti. Ia melirik Bibi Lee sekilas. Sepertinya Bibi Lee baru saja membereskan bekas-bekas mangga yang tadi dia makan, buktinya meja yang berada di hadapan Taeyeon sekarang bersih.

Memikirkan tawaran Bibi Lee soal memasak, Taeyeon mengangguk semangat, sepertinya hobi-nya sekarang adalah memasak. Entahlah, dia tidak tahu sejak kapan dirinya begitu semangat jika mendengar kata memasak.

Oh, dan apakah kalian tahu jika skill memasak Taeyeon sekarang jauh lebih baik dari pada sebelumnya? Terima kasih kepada Bibi Lee, yang telah mengajarkannya memasak dengan penuh kesabaran sampai sekarang dia benar-benar bisa. Bahkan Taeyeon juga rajin membuat masakan yang sebelumnya belum Bibi Lee buat. Dengan mengandalkan buku ‘Resep Masak’ tentu saja, dan hasilnya? Sungguh tidak dapat dipercaya. Bahkan Bibi Lee pernah bercanda jika masakan Taeyeon lebih enak dibandingkan masakan restoran yang pernah dicobanya. Haha.

Ngomong-ngomong tentang masak, seketika di pikiran Taeyeon melintas nama Yuri. Dia hampir lupa, sebelum Bibi Lee, Seulgi orang pertama yang mengajarinya memasak, dan setelah itu Yuri. Ia masih ingat wajah takut Yuri ketika Taeyeon menyalakan kompor, ia juga masih ingat kepanikan gadis itu ketika tanpa sepengetahuannya ayam yang dimasak gosong.

Dia merindukan Yuri. Tidak, tidak hanya Yuri, dia juga merindukan Jongin oppa-nya. Juga Chanyeol oppa yang sering membuatnya tertawa, Lay oppa yang sering memberikannya nasihat dan Luhan, oppa yang sangat dia sayangi. Tidak lupa, dia juga amat sangat merindukan keluarga Byun, terutama Byun Baekhyun, suaminya.

Setetes air mata turun dari bola mata indahnya. Bibi Lee yang berdiri di sampingnya berhasil menangkap kejadian itu. Pisau yang digunakan Bibi Lee untuk memotong sayuran seketika dia simpan. Dia mengelap kedua tangannya agar bersih menggunakan handuk lalu mengusap pipi Taeyeon lembut.

Taeyeon tersentak, lalu tersenyum kecil mencoba menenangkan Bibi Lee yang menatapnya khawatir. “Tidak apa-apa, aku tidak memikirkan mereka. Aku hanya kelilipan, lihat, irisan bawang ini mengenai mataku.” Ujar Taeyeon. Taeyeon tahu Bibi Lee khawatir kepadanya, hampir setiap hari Bibi Lee tahu jika Taeyeon sering memikirkan mereka yang ada di Seoul. Padahal Taeyeon sering menyangkalnya, tapi Bibi sering bilang ‘Matamu tidak bisa berbohong, nak.’

Tapi dia tidak boleh menunjukan kelemahannya di hadapan Bibi Lee. Bukankah dia sendiri yang menolak untuk pulang dan meminta untuk sementara waktu pergi dari mereka?.

“Sudah Bibi katakan, lebih baik ki-.”

“Aku tidak ingin pulang, bibi. Aku ingin tinggal di sini bersama bibi.” Sebelum Bibi Lee menyelesaikan ucapannya, Taeyeon yang memang sudah tahu dengan apa yang akan Bibi bicarakan memotongnya.

“Mereka mencarimu sejak beberapa hari yang lalu, Taeyeon-ah. Apa kau tidak kasihan pada mereka? Bibi dengar Tuan Baekhyun juga tidak masuk kantor karena mencarimu selama beberapa hari ini.” Ujar Bibi Lee. “Ralat, mereka sudah mencarimu hampir dua minggu ini, dan sampai sekarang mereka tidak menyerah.” Lanjutnya.

Taeyeon menatap Bibi Lee heran. “Bagaimana Bibi tahu?.”

Terdengar suara helaan napas keluar dari bibir wanita tua itu. “Pamanmu memberitahu Bibi. Tuan Byun dan temannya kemarin datang ke kantor menanyakanmu.”

“Paman? Paman Kwangsoo?.” Aishh, tentu saja Paman Kwangoo. Memangnya siapa lagi yang kau anggap Paman di dunia ini Byun Taeyeon?. “Lalu bagaimana? Apakah paman memberitahukan keberadaan kita? Bagaimana bisa Bibi dan Paman berkomunikasi?.”

“Tidak, dia memegang janjinya. Dia sudah berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaan kita, selama kita baik-baik saja.”

“Syukurlah jika Paman tidak memberitahu oppa.” Taeyeon mengelus dadanya tenang, sedangkan Bibi Lee terlihat kecewa dengan ucapannya.

“Tuan Byun, Bibi yakin kalau dia begitu mengkhawatirkanmu. Taeyeon-ah, lebih baik kita pulang saja.”

“Aku tidak peduli, hatiku masih sakit karena perkataanya.” Ujar Taeyeon pelan. Kembali di mengingat hari dimana Baekhyun memarahinya karena salah paham. “Aku tidak mau pulang, kalau Bibi ingin pulang aku tidak apa-apa sendiri di sini, asal jangan memberitahu mereka tentang keberadaanku.”

“Apa kau tidak kasihan pada Tuan Baekhyun? Bahkan saat sakit-pun dia tetap mencarimu.”

Taeyeon menggelengkan kepalanya keras. “Aniya. Aku tidak kasihan. Untuk apa aku kasihan kepada orang yang bahkan tidak mempedulikanku? Untuk apa aku kasihan kepada orang yang telah memarahiku? Lebih buruknya lagi, untuk apa aku marah kepada orang yang bahkan tidak pernah. . .mencintaiku?.”

Taeyeon sekuat tenaga menahan air matanya yang ingin keluar. Tidak, dia tidak boleh menangis. Dia harus bersikap kuat di hadapan Bibi Lee. Dia harus menunjukkan bahwa apa saja yang dia ucapkan kepada Bibi Lee adalah benar.

“Sepertinya hari ini aku tidak akan membantu Bibi memasak.”

“Eodiga, Taeyeon-ah?.” Tanya Bibi Lee yang melihat Taeyeon berjalan keluar dari arah dapur.

“Aku ingin mencari udara segar, Bibi.” Jawab Taeyeon. Ia memakai mantel tebal yang menggantung di sandaran kursi ruang tengah.

“Jangan pulang terlalu sore, dan jangan melakukan hal yang berbahaya.” Saran wanita tua itu.

“Nde.”

Love, That One Word

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, dan tidak ada keinginan sedikitpun untuk Taeyeon beranjak dari tempatnya. Bahkan untuk menggerakkan tubuhnya sedikitpun ia merasa enggan. Ia sedang berada di sisi tebing yang tidak terlalu tinggi. Tempat favoritnya di Palgong, letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya perlu memakan waktu 20 menit untuk sampai di sini.

Di atas sini, dia bisa lebih leluasa menikmati pemandangan gunung yang begitu indah. Di bawah sana, juga terdapat pemukiman. Taeyeon menatap takjub bangunan rumah yang tertata rapi, percis seperti perumahan yang teratur. Biasanya, sebulan sekali warga di bawah sana sering melakukan ritual kembang api, tepatnya setiap akhir bulan menuju awal bulan yang baru.

Taeyeon tidak tahu untuk apa maksudnya ritual itu, menurutnya mungkin ritual itu dilakukan dengan tujuan untuk bersenang-senang. Jika Taeyeon sedang berada di sini dengan keluarganya, dia tidak pernah melewatkan untuk menonton kembang api itu. Apalagi, biasanya keluarga Kim selalu memilih hari libur yang berdekatan dengan akhir bulan.

Sudah lama dia tidak ke sini, dan dia penasaran, apakah ritual kembang api itu masih dilakukan oleh warga di bawah sana?. Entahlah, untuk mengetahui jawabannya, dia hanya perlu menunggu satu minggu lagi untuk menuju ke akhir bulan.

“Noona!!.”

Taeyeon menolehkan kepala mendengar suara seorang pria yang sudah tidak asing lagi di telinganya.

“Hanbin-ah?.” Taeyeon mengerutkan kening. Untuk apa dia ke sini?

“Tidak baik berdiam lama di luar bagi wanita hamil, noona.” Hanbin mendudukkan dirinya tepat di samping, pria itu tersenyum lebar. Cih, bocah.

“Tahu dari mana kau? Kau bukan dokter.” Cibir Taeyeon. Ia kembali menolehkan kepalanya ke depan, memandang keindahan alam yang sangat indah.

“Meskipun aku kuliah di jurusan arsitek, tapi aku lumayan menguasai tentang ilmu kedokteran. Kau tahu bukan, aku ini jenius.” Hanbin menepuk dadanya bercanda.

“Aissh, bocah tengik. Dasar sombong.” Tawa kecil keluar mulus dari bibir Taeyeon membuat Hanbin yang duduk di sampingnya ikut tertawa. Tidak ada yang lebih membuatnya senang selain melihat senyum indah yang keluar dari mulut noona-nya.

“Kau ada masalah, noona?.”

“Aniya, hanya ingin melihat pemandangan. Ah indah sekali bukan.” Taeyeon merentangkan kedua tangannya. Dia bahkan dengan jahil menggoyang-goyangkan tangannya mengenai tubuh dan wajah Hanbin, membuat pria itu menggelengkan kepalanya gemas.

“Bagaimana dengan Yeri? Berhasil atau gagal?.” Tanya Taeyeon sambil menatap Hanbin penuh harap. “Jika kau bilang gagal, noona tidak akan segan-segan untuk mendorongmu dari sini.” Lanjutnya.

“Kenapa mendorongku? Kalau aku mati bagaimana?.” Hanbin mengerucutkan bibirnya lucu.

“Tentu saja, semua ucapan noona akan sia-sia jika pada akhirnya kau gagal.”

“Aishh.”

“Jadi bagaimana?.” Taeyeon menaik-naikkan alisnya jail.

Bukannya menjawab, Hanbin malah merentangkan kedua tangannya dan membawa Taeyeon ke dalam pelukan erat. “Yak yak, apa yang kau lakukan bocah?!.”

“Gomawo noona, jeongmal gomawo. Yeri menerimaku! Noona tahu betapa senangnya aku saat ini?.”

Taeyeon tertawa dan mengangguk menjawab pertanyaan Hanbin. Tentu saja, dengan mendengar suara tawa kecil yang menggema di telinganya, sudah membuktikan jika pria itu sangat senang.

“Araseo araseo, berarti semua nasehat noona berhasil?.”

Hanbin mengangguk dan melepaskan pelukannya, sebelum menjauhi tubuh mungil Taeyeon, Hanbin menyempatkan bibirnya menempel di dahi Taeyeon, membuat gadis itu membulatkan kedua bola matanya terkejut. “Aishh, bocah kurang ajar.”

Hanbin menangkap tangan Taeyeon yang hendak memukulnya, dengan senyum masih menghiasi bibirnya dia berkata. “Itu adalah ciuman terima kasihku untuk noona karena telah membantuku.”

“Kau berlebihan.”

Hanbin tertawa kecil. “Oh, dan Yeri memintaku untuk dipertemukan dengan noona. Dia sangat ingin menemui noona.” Ujarnya.

“Kapan?.”

“Bagaimana kalau lusa? Kebetulan aku dan Yeri lusa tidak ada jadwal kuliah?.”

Taeyeon terlihat sedang berpikir, menimbang-nimbang haruskah dia menyetujuinya atau tidak. “Araseo. Sepertinya noona harus siap-siap menjadi nyamuk diantara kalian nantinya.”

Hanbin tertawa keras menimpali ucapan noona-nya.

Mereka adalah teman. Hanbin lebih muda tiga tahun dari Taeyeon. Pertama kali mereka saling kenal, yaitu saat Taeyeon pertama kali menginjakkan kakinya di Palgong. Saat itu, dia yang belum mengenal jalanan dengan baik keluar dari rumah sendiri karena penasaran.

Namun di tengah jalan, dia sadar jika dia tersesat. Dia lupa arah jalan pulang dan yang bisa dia lakukan hanya menangis. Sampai akhirnya tangisan itu berhenti ketika Kim Hanbin datang, penyelamatnya. Taeyeon tidak bisa membayangkan jika saat itu dia tidak bertemu dengan Hanbin, mungkin selamanya dia tidak akan pulang. Mungkin.

Pertemanan mereka tidak terlalu lama, masa liburan Taeyeon telah berakhir dan dengan terpaksa dia meninggalkan Hanbin, pria yang sudah Taeyeon anggap sebagai adik kandungnya sendiri, begitupun dengan Hanbin yang telah menganggap Taeyeon sebagai kakaknya. Bukankah luar biasa, bahkan hanya delapan hari terhitung sejak pertemuan pertama mereka, namun mereka sudah akrab.

To Be Continued

Teaser of 10th Chapter

“Kau lebih baik mengakuinya, sebelum terlambat.”


“Kau pikir aku menginginkan semua ini? Kau pikir semua ini tidak mempengaruhi hidupku? Kau egois, hanya memikirkan dirimu sendiri!.”


“Asal kau tahu, selama ini aku sakit, karenamu!”


“Sudah selesai? Sekarang ijinkan aku untuk bicara, kau mau ‘kan?.”

Please, be patiently wait for the next chapter ^^

Annyeong, pertama-tama ingin minta maaf karena lagi-lagi membuat kalian kecewa. Update-nya lama, pas di update eh pendek :3 haha ditambah gak ada BaekYeon momment-nya lagi *lemparbatu

Mau curhat bentar nih, awal2 semester entah kenapa tugas langsung numpuk -_- satu minggu gak ada berhentinya. Ini beres, ada tugas baru, tugas baru beres, datang lagi yang baru -_- kan kesel. Tapi tapi, entah kenapa kalau masalah belajarnya semangat, makanya FF rada ditinggal :v *author kuliahan pasti ngerti* mianhae yeorobun #bow

Next chap, mudah-mudahan waktu kosongnya tambah banyak, biar bisa ngelanjutin cepet ^^

Ditunggu komentar kritik dan sarannya yah :*

Kiss&Hug from me for all my lovely ATSIT fam, see you ^_^

Advertisements

176 comments on “Love, That One Word (Chapter 9)

  1. Pingback: Love, That One Word (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. “Only know you love her when you let her go” lyrics itu pas banget sama chapter ini.. taeyeon hamil sygnya gaada baekhyun disampingnya /eak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s