[FREELANCE] Our First Love (Chapter 4)


Title : Our First Love
Author/twitter
 : HannaByun_ss (twitter :
@HannTaeng74)

Main cast : Kim TaeYeon SNSD Byun BaekHyun EXO Jung Jessica SNSD

Support cast : Yoon BoMi Apink Park ChanYeol EXO Kim JiWoong Kim JongIn(Kai) EXO EunJi Apink ChoRong Apink
Length
 : chapter
Rating
 : PG-16
Genre
 : School life, romance,

Note : Readers, annyeong…!! aku nggak mau banyak bilang apa-apa.., only, dont be a silent readers, comment juseyo..

Preview: Intro, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3

Oke Happy Reading… ^^

Part 4

TaeYeon POV

“Annyeonghaseyo.. Kai imnida. Senang bisa berlibur dengan kalian.”

Seketika mataku semakin melebar mendengar namja itu menperkenalkan dirinya. Itu semakin meyakinkanku kalau namja itu benar teman sekelasku. Kai si anak hiperaktif itu. Aku sangat tidak menyangka kalau Kai ternyata sepupu BoMi. Itu berarti dia yang mengajak kami semua!

‘Ah jinja! Apa aku sedang bermimpi sekarang?’

Semua membalas sapaan Kai dengan membungkuk, terkecuali aku yang masih menatapnya terkejut. Begitupun dengan dirinya yang sudah beridiri normal setelah lebih dulu membungkuk menyapa mereka. Ia mengedarkan pandangan ke arah kami, mengabsen satu-persatu wajah kami dengan senyumnya. Sampai matanya menangkap bola mataku, senyumnya mengendur, erekspresinya sama seperti ketika aku juga menyadari keberadaannya. Kami saling pandang dalam diam, seolah sepakat untuk tidak memberitahu identitas kami yang notabanenya adalah teman sekelas. Kemudian aktifitas kami terhenti ketika ChanYeol bersuara.

“Oh! Kai, bukankah kau juga satu kelas dengan TaeYeon?”

Dengan cepat namja itu menoleh ke arah ChanYeol, seperti tersadar dari lamunannya, lalu tersenyum kikuk ke arahnya.

“Ah, ne!” hanya itu yang bisa ia jawab.

“Dari mana kau tahu, ChanYeol?” tanya BoMi dengan ekspresi herannya.

“Kebetulan kami bertiga berada di tempat les yang sama. Ya kan, TaeYeon?”

Sentak aku menoleh dan mengangguk ke arah ChanYeol yang sebelumnya masih bungkam karena keterkejutan ini.

“Ah ne!”

“Mwo?! Sepertinya kalian menjawab dengan jawaban dan ekspresi yang sama?” ucap ChanYeol yang membuat aku dan Kai menoleh dan menjawab pertanyaannya serempak. “Ada apa dengan kalian? Kenapa ekspresi kalian sama-sama terkejut?” lanjut namja itu yang sukses membuatku tidak dapat menjawab pertanyaannya.

‘Aiishh! Aku bahkan tidak menyadari kalau aku berekspresi sama seperti Kai!’ rutukku dalam hati.

“M.., mungkin karena aku tidak tahu teman yang BoMi ajak bersamanya, akupun baru tahu kalau BoMi mengenal TaeYeon, dan menyadari TaeYeon berada disini, membuatku sedikit terkejut.” jelas Kai sambil menggosok tengkuknya kikuk, dan dibalas anggukan dari ChanYeol.

“Ne. Aku memang tidak memberitahunya kalau aku mengajak kalian. Tapi aku juga baru tahu kalau ternyata kau satu kelas dengan TaeYeon.” katanya menatap Kai di sebelahnya, lalu beralih menatapku.

Aku mengulum senyum malu membalas tatapan BoMi, dan tanpa kusadari Jessica, ChanYeol, dan kedua teman BoMi juga sempat menatapku.

“Kalau tidak salah kau yang menyapa TaeYeon waktu itu, kan?” kini giliran BaekHyun berucap setelah sekian lama diam. Kalau ia tidak membuka mulutnya saat ini, mungkin aku sudah melupakan keberadaannya.

Kai membalasnya dengan anggukan, “Kalau begitu berarti kau namja yang menggenggam tangan TaeYeon beberapa waktu lalu?” tunjuknya ke arah wajah BaekHyun.

Sontak kami semua terkejut mendengar ucapannya, tak terkecuali BaekHyun yang kini mengernyitkan dahinya. Kemudian ekspresinya berubah, mengeluarkan smirk kebanggaannya, lalu mulai membuka mulutnya kembali membalas pertanyaan Kai.

“Ne. Aku memang namja yang menggenggam TaeYeon waktu itu.” jawabnya tanpa berhenti menatap Kai dengan tajam.

“J-jinja? Sebenarnya apa hubungan kalian? Apa kalian berkencan? Karena yang ku tahu selama ini kau sedang tidak mengencani siapapun, kan?” tanya BoMi sambil menatap BaekHyun dalam, seolah seperti meminta jawaban darinya.

BaekHyun membalas menatapnya dengan lembut, “Sebenarnya aku dan TaeYeon……….”

“Kami hanya berteman!” potongku sebelum BaekHyun menyelesaikan kaliamatnya. Aku tahu pasti namja itu akan menjelaskan kedekatanku dengannya.

Serentak semua menoleh ke arahku. Seketika suasana jadi terasa canggung, melihat BaekHyun menatapku seperti tidak terima akan perkataanku. Air mukanya juga terlihat kecewa. Sebenarnya aku tidak masalah kalau BaekHyun akan menceritakan kedekatanku dengannya, tapi tiba-tiba saja mulutku berkata seperti itu. Mungkin karena takut akan membuat suasana hati BoMi jadi muram ketika mendengar penjelasan BaekHyun nanti. Mengingat BoMilah yang mengajak kami berlibur bersamanya, aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa padaku. Aku sendiripun bingung mengapa merasa demikian. Padahal kenyataannya belum tentu BoMi akan merasa seperti itu. Apa boleh buat, kalimatku sudah terucap.

Menyadari BaekHyun masih menatap seperti itu, aku memilih berpura-pura tidak tahu. Kualihkan pandanganku ke arah BoMi yang ternyata juga sedang menatapku dengan tatapan tajam. Aku jadi dibuat tertunduk olehnya.

“M.., sepertinya kita akan tertinggal kereta kalau tidak segera membeli tiketnya.” ucap ChanYeol tiba-tiba, seolah seperti memecah kecanggungan yang ada.

“Ah, geurae! Apa kalian ingin berdiam disini terus?” lanjut Jessica juga menimpali.

Kemudian BoMi mengiyakan tanpa melepas tatapan tajamnya ke arahku, lalu berjalan berdampingan dengan kedua temannya di depan. Aku menghela napas lega karena berkat ajakan ChanYeol dan Jessica yang membuatku terlepas dari ketidak nyamanan barusan.

Sempat kulirik BaekHyun yang sudah jalan lebih dulu dengan Jessica, dan ChanYeol di depannya. Jessica seperti ingin menjelaskan maksud perkataanku tadi kepada BaekHyun yang sudah terlihat kecewa itu. Terdengar Jessica mengatakan, “Gwaenchana.., aku tahu TaeYeon tidak bermaksud seperti itu.” sambil berbisik. Aku hanya bisa membuang napas pasrah kalau BaekHyun akan benar marah padaku nanti. Lalu kuambil tasku dan berencana menyusul mereka semua, sebelum seseorang dari sampingku berdeham penuh arti.

“Sepertinya waktu itu ada yang menolak ajakanku untuk berlibur bersama. Tapi nyatanya orang itu sekarang juga ikut bersama kami.” ucap Kai memojoki diriku.

“Geez! Tidak perlu memojokiku seperti itu. Kalau aku tahu ternyata kau adalah sepupu BoMi, aku juga tidak akan mau ikut!” jawabku sinis tanpa meliriknya.

“Oh ya?! Dan membiarkan pacarmu berlibur dengan yeoja lain?” tunjuknya ke arah Jessica yang tengah bergelayut di lengan BaekHyun.

“Ck! Sudah kubilang dia bukan pacarku! Kami hanya berteman!” seperti ingin terus menggodaku, Kai memasang smirknya. “Aiishh.., ya sudah kalau tidak percaya!” lalu aku berjalan cepat menjauhinya. Tidak peduli dia akan tertinggal di belakang.

TaeyEon POV end.

“Bagus kalau begitu.” gumam Kai setelah TaeYeon meninggalkannya jauh di depan.

Kemudian Kai menyusul tanpa ingin mengejar dan mensejajarkan langkahnya dengan TaeYeon. Ia cukup senang mengetahui TaeYeon akan berlibur bersamanya. Entah senang karena bisa menjahili dan menggoda yeoja itu atau apa. Tapi yang terpenting, hari ini ia melihat sisi TaeYeon yang terbilang cantik mengenakan setelan tanpa lengan itu. Jika dilihat, seperti inilah pakaian mereka.







* * *

Setelah membeli tiket, mereka segera menuruni tangga, masuk ke area stasiun bawah tanah, dimana kereta yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Kai orang yang pertama jalan di depan, memimpin mereka. Tapi baru beberapa langkah sebelum menginjakan kaki ke eskalator, tiba-tiba matanya melebar. Ia cukup terkejut dengan penumpang kereta yang sudah terlihat sangat sesak di bawah sana. Sontak ia memberhentikan langkahnya, membuat semua yang dibelakang hampir saling bertabrakan.

“Ya, Kai-ah! Kenapa berhenti tiba-tiba?!” omel ChanYeol, ia orang yang hampir menabrak Kai dari belakang.

Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan ChanYeol, ia hanya menunjukan namja itu ke arah orang-orang yang tengah berebut menaiki kereta dengan dagunya. ChanYeol dan lainnya mengikuti arah tunjukan Kai. Seketika ekspresi mereka juga terlihat sama seperti Kai saat pertama melihat kerumunan orang-orang itu.

“Woah daebak! Padahal ini baru hari pertama, tapi sudah sesesak ini!” ujar BaekHyun tanpa melepas pandangannya ke arah orang-orang itu.

“Bagaimana caranya kita menerobos mereka?” tanya yeoja manis dengan topi yang bertengger di kepalanya.

“Sepertinya kita harus bergandengan agar tidak saling berpisah.” usul Kai yang dengan cepat disetujui semuanya.

Tanpa berpikir lagi, mereka menuruni tangga dengan Kai menggenggam tangan sepupunya, disusul kedua teman BoMi, ChanYeol, Jessica, TaeYeon, lalu BaekHyun di paling belakang. Mereka terlihat seperti anak TK yang ingin pergi ke taman wisata dengan saling menggenggam seperti itu. Perlahan tapi pasti, Kai mulai menerobos kerumunan orang-orang itu. Tidak jarang mereka tersandung atau tersenggol orang di sampingnya. Sulit bagi mereka untuk menyeimbangkan langkah satu sama lain.

Begitupun dengan TaeYeon, dengan badan yang paling terkecil di antara semuanya. Ia hampir saja terlepas dari tangan Jessica di depannya kalau tidak yeoja itu segera menyadari tangan TaeYeon yang hampir terlepas, ia menarik tangan mungil itu dengan sigap, dan sempat tersenyum ke arahnya. BaekHyun yang menyadarinya di belakang, sempat terlihat hawatir melihat yeoja itu terhimpit kerumunan orang-orang bertubuh lebih besar di sekelilingnya.

“Gwaenchana?”

“Ah, ne! Gwaenchana!” jawabnya dengan senyum paksaan, pasalnya ia sedang menahan sakit ketika bahunya tersenggol namja di sampingnya.

Bukan BaekHyun namanya kalau tidak memperhatikan hal sekecil itu. Ia tahu betul kalau TaeYeon terlihat tidak nyaman dengan posisinya yang sekarang. Dengan cepat BaekHyun melepaskan genggamannya dengan TaeYeon lalu mendekatkan tubuhnya berhimpit dengan punggung yeoja itu. Sontak TaeYeon terkejut dengan aksi BaekHyun yang tiba-tiba. Pasalnya bukan tubuh mereka saja yang saling berhimpit, tapi lengan BaekHyun kini tengah melingkar di pinggangnya. Menahan desakan dari kanan kiri TaeYeon. Wajah TaeYeon terasa panas, bukan karena kerumunan ini, tapi karena desahan bisikan BaekHyun yang terdengar di telinganya.

“Tenang saja, aku akan menjagamu.”

Tanpa membalas perkataan BaekHyun atau sekedar menolehkan wajahnya menatap namja itu, TaeYeon hanya mengangguk pelan, menahan malu. Untung saja mereka yang paling belakang, jadi tidak akan terlihat oleh teman lainnya dengan posisi mereka saat ini.

Sesekali tubuh TaeYeon menegang saat BaekHyun mempererat pelukan di pinggangnya karena tubrukan orang lain di belakang punggung namja itu. BaekHyun menyadari yeoja itu tampak gugup, ia kembali mengendurkan pelukannya.

“Mianhae.., apa kau merasa tidak nyaman?”

“A-ani! Aku hanya terkejut saja.”

“Sebentar lagi. Aku akan melepasmu ketika kita sudah memasuki keretanya.”

“N-ne!”

Demi apapun yang ada di dunia ini, kini TaeYeon tidak dapat berkutik banyak dalam posisi seperti ini. Ia hanya bisa mematuhi perkataan BaekHyun. Dapat ia rasakan pula deru napas BaekHyun di lehernya, jantungnya yang tak hentinya memompa sangat kencang, serta rasa panas yang ia rasakan dipipinya. Sejujurnya perlakuan BaekHyun saat ini malah tidak membantu dirinya dalam melangkah. Ia tidak dapat fokus pada kakinya yang sering tersandung entah oleh benda apa yang ada di bawah sana. Pikirannya terlalu kalut pada pelukan BaekHyun saat ini.

.

.

.

Setelah mereka berhasil menerobos masuk ke kereta, mereka mengambil bangku yang cukup mengisi sepuluh orang di dalamnya.

“Wwooahh jinja! Ternyata sulit sekali naik kereta saat musim liburan seperti ini.” keluh ChanYeol setelah dirinya duduk di sofa kereta di sebelah BaekHyun.

“Ne. Tasku hampir terjatuh tadi saat melewati kerumunan orang-orang itu.” keluh BoMi menimpali.

“Untung saja tidak banyak yang pergi ke arah Yongyudo. Jadi kereta ini tidak terlihat sesak seperti di luar sana!” unjuk ChanYeol yang diikuti tatapan mata semuanya ke arah tunjukannya.

Kai yang menyadari ekspresi lelah dari semua wajah teman-temannya, ia jadi merasa tidak enak. Masalahnya liburan ini adalah usulannya, ia hanya tidak mau merusak liburan mereka hanya karena desakan tadi. Ia ingin memberi kenyamanan pada mereka semua.

“Kalau begitu kupastikan akan ada mobil yang mengantar kita ke villa!” ucap namja itu tiba-tiba. Sontak semua menoleh ke arahnya.

“Mobil? Mobil siapa?” tanya BoMi kurang yakin. Pasalnya ia tidak ingat kalau dirinya dan Kai mempunyai saudara di Yongyudo.

“Sudah tenang saja! Aku hanya ingin memberi kenyamanan pada liburan kita, maaf sudah membuat kalian berdesakan tadi!” jelasnya lalu tertunduk hormat pada mereka.

“Kau tidak perlu seperti itu. Kami tidak masalah harus berdesak-desak.” ucap ChanYeol.

“Ne, benar! Kau menerima kami berlibur bersama saja sudah membuat kami berterima kasih.” jelas Jessica menimpali, lalu di beri anggukan semuanya, terkecuali TaeYeon.

Yeoja itu sempat merasa aneh dengan sikap Kai di depan teman-teman BoMi. Ia merasa namja itu terlihat lebih bertanggung jawab, berbeda sekali saat berada di kelas. ‘Apa dia ingin terlihat sopan di depan teman BoMi?’ pikir TaeYeon.

Beberapa menit kemudian kereta itupun akhirnya jalan. Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan mengobrol, makan, dan ada yang memilih untuk tidur, orang itu adalah Jessica. ChanYeol yang menyadari yeoja manis itu tertidur, ia lekat-lekat manatap wajah cantiknya.

“Jessica yang tertidur itu sangat manis, ne?” pujinya tanpa melepas tatapannya dari wajah Jessica.

“Ne, kau benar. Wajahnya masih sama manisnya saat ia tersenyum.” puji namja yang berada di sampingnya dengan tenang.

Mendengar penuturan BaekHyun, TaeYeon merasa hatinya seperti teriris. BaekHyun dengan mudahnya memuji wajah Jessica. Seketika ia juga menoleh ke arah Jessica yang tertidur di sampingnya untuk memastikan perkataan kedua namja di depannya.

‘Mereka benar. Jessica sangat manis, bahkan saat dia tertidur.’ pikir TaeYeon.

Walaupun dirinya yang tahu BaekHyun masih menyukainya, ia tidak jarang akan merasa cemburu dengan kedekatan Jessica dan BaekHyun. Kadang ia merasa ragu dengan tingkah BaekHyun selama ini padanya. Mengantarnya ke sekolah setiap hari, menggandeng, memeluk, bahkan mereka juga sempat berciuman, tapi semua itu terasa tidak ada artinya saat TaeYeon mendengar namja itu memuji yeoja lain.

Kai yang menyadari TaeYeon yang tertunduk dengan ponsel di bawah wajah yeoja itu, seakan seperti hanya alasan agar yang lain tidak menyadari kecemburuannya saat ini. Tapi tidak dengan Kai. Ia tahu kalau TaeYeon tengah cemburu dengan perkataan BaekHyun barusan. Ia melirik ke arah BaekHyun dengan tajam, tatapannya seperti tidak menyukai namja itu.

‘Dia itu bodoh atau apa? Dengan mudahnya ia memuji yeoja lain di depan yeojachingunya sendiri. Dasar napeun namja!’ rutuk Kai dalam hati.

Menyadari ada yang menatap ke arahnya, BaekHyun menoleh ke arah orang itu dan mendapati Kai tengah menatapnya dengan tajam.

“Mengapa menatapku seperti itu? Apa ada masalah?” tanya BaekHyun dengan senyum di wajahnya.

Menyadari raut mukanya, Kai langsung tersenyum membalas ucapan BaekHyun.

“Ani! Aku hanya berpikir kita akan menjadi teman yang baik.” jawabnya bohong. Padahal ia kini tengah merutuk namja itu tanpa namja itu ketahui.

BaekHyun membalasnya dengan senyum yang lebih lebar. “Geurae! Kita bisa menjadi teman akrab!”

* * *

Tak menghabiskan banyak waktu, sekitar 1 jam mereka sampai di Yongyudo. Dilanjutkan dengan mobil yang mengantar mereka ke villa di pantai Eurwangni. Ternyata mobil itu adalah sewaan Kai saat ia berada di kereta tadi. Untung saja ia sempat menyewa mobil untuk mereka semua.

“Woah! Ini villanya? Lumayan juga untuk kita berlibur.”

Villa dengan bahan dasar bilahan kayu besar dengan jendela kecil di kedua samping pintunya. Villa ini langsung menghadap ke arah pantai. Penyekat besar yang berfungsi sebagai pintu, memisahkan antara ruang utama dengan bibir pantai. Hanya terdapat dua kamar besar, kamar mandi di setiap kamarnya, ruang utama, meja bar besar, dan meja makan melingkar yang berada di tengah villa. Mereka berbagi kamar dengan para yeoja tidur di kamar depan, sedangkan para namja di kamar belakang.

“Ini kamar kalian.” ucap Kai setelah membuka pintu kamar depan yang terlihat cukup luas untuk kelima yeoja yang akan tidur di sini.

“Woahh! Kamarnya luas, ne?” puji TaeYeon yang langsung menduduki ranjang empuk dekat pintu.

“Kau menyukainya, TaeYeon?” tanya BoMi.

“Ne, tentu saja! Suasananya tidak panas, bahkan di cuaca panas seperti ini.”

“Mungkin karena kamar tembok ini terbuat dari kayu, makanya terkesan nyaman.” komentar Jessica.

“Kalau begitu, kajja kita berganti baju. Aku sudah tidak sabar ingin berjemur!” ucap BoMi bersemangat.

“Changkaman! Kalau ingin berganti baju, tunggu sampai kami keluar dulu, ne?” ucap ChanYeol yang langsung diberi jitakan keras oleh BaekHyun.

“Babo! Tentu saja! Mana mungkin mereka melepas baju di depan kita!”

“Aiishh..! Tapi kau tidak perlu menjitakku seperti itu! Aku, kan hanya bercanda!” protes namja itu sambil mengusap kepalanya yang terkena jitakan BaekHyun.

“Bercandamu itu sangat tidak lucu!” balas BaekHyun sinis. “Kalau begitu sementara kalian berganti baju, kami tunggu di luar, ne?”

Setelah para namja keluar, mereka segera berganti baju.

.

.

.

“Aku tidak yakin TaeYeon akan memakai bikini. Apa jadinya jika dia sampai memakainya?” ejek ChanYeol di selangi oleh tawa besarnya ketika mereka sudah berada di luar.

BaekHyun dan Kai yang mendengarnya seketika langsung terkejut. Mereka malu untuk sekedar membalas ucapan ChanYeol.

“Hahaha.. Kau benar! Aku juga tidak yakin yeoja itu akan mengenakan bikini!” balas Kai terdengar ragu ketika tawanya muncul.

“Ya! Jangan membicarakan dirinya!” protes BaekHyun tanpa menatap kedua namja di depannya. Ia mengarahkan pandangannya ke arah pantai -yang sudah ramai oleh pengunjung lain- menahan malunya.

“Wae? Kau cemburu kami membicarakannya?”

“Ani! Aku tidak merasa seperti itu! Aku hanya takut dia akan tersinggung kalau mendengar ucapanmu!” jawabnya malu.

“Tapi sekarang dia tidak akan mendengarnya.”

“Ck! Terserah kau saja!”

“Apa kau dan TaeYeon berkencan?” tanya Kai tiba-tiba sambil menatap ke arah BaekHyun, dan langsung dibalas tatapan oleh kedua namja itu.

“M.., sebenarnya aku dan TaeYeon tidak berkencan.” jawab BaekHyun sambil mengusap tengkuknya.

“Ne! Mereka memang pernah berkencan, tapi tidak lagi karena dia terlalu takut pada appa TaeYeon!” ejek ChanYeol menunjuk BaekHyun, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Ck! Siapa bilang aku takut pada appanya?!” kesal BaekHyun yang sebelumnya memukul lengan besar ChanYeol.

“Aiishh.., lalu kenapa sekarang kau tidak berkencan dengannya kalau bukan karena appanya, eoh?”

“Itu bukan urusanmu!”

Sedangkan Kai hanya bisa tertawa melihat tingkah BaekHyun yang tengah malu karena ejekan ChanYeol. Mungkin sekarang ia sudah bisa menerima kedua namja ini sebagai temannya.

Disisi lain dalam waktu yang sama, kedua teman BoMi sudah lebih dulu keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Mereka memutuskan untuk menunggu BoMi di ruang makan dekat kamar mereka sambil berbincang.

“Kau tahu, aku rasa ChanYeol adalah namja yang cukup keren.” ucap salah satunya, ChoRong.

“Aniyo..! Uri BaekHyun masih tetap yang terkeren!” protes yang lain, EunJi menimpali.

“Keundae, BaekHyun sepertinya menyukai yeoja itu. Apa mereka berkencan?”

“Ani! Kurasa mereka tidak berkencan.”

“Tapi mereka selalu terlihat bersama.”

“Bagaimana dengan Jessica? Mereka juga selalu bersama setiap hari, tapi mereka tidak berkencan.”

“Benar juga!”

“Ehem!” deham seorang yeoja tiba-tiba dari arah belakang. Sontak keduanya terlonjak kaget karenanya.

“Oh! B-BoMi-ah, kau mengagetkan kami saja!” protes yeoja dengan surai hitam berponi.

“Aku mendengar kalian sedang membicarakan BaekHyun, ne?” tebak BoMi.

“Ah, ne. Wae? Kau cemburu kami membicarakannya?”

“Ck! Tentu saja!” kesal BoMi.

“Tapi sepertinya kau tidak akan mudah mendapatkan BaekHyun. Bukan hanya Jessica saja, tapi yeoja yang bernama Kim TaeYeon mungkin akan menjadi saingan terberatmu. Salahmu sendiri kenapa mengajaknya, padahal sudah tahu kalau dia juga menyukai BaekHyun.” jelas ChoRong.

“Aku sengaja mengajaknya! Kalau tidak, pasti BaekHyun tidak mau ikut dengan kita sekarang.”

“Lalu apa rencanamu sekarang?”

“Gwaenchana! Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati BaekHyun.” jawabnya tersenyum puas.

Tak lama, terdengar pintu terbuka dari arah kamar mereka. TaeYeon dan Jessica keluar bersamaan.

“Oh! TaeYeon-ah, kau akan memakai baju ini?” tanya BoMi mengernyitkan dahi setelah melihat TaeYeon hanya memakai kaos tidak berlengan dan hot pant yang pas ditubuhnya.

“Ne! Padahal aku sudah membujuknya, tapi dia bilang tidak percaya diri kalau harus memakai bikini, jadi aku menemaninya untuk tidak memakai bikini.” jelas Jessica sambil menatap TaeYeon sedikit kesal. Yang ditatap hanya menundukan kepalanya menahan malu.

BoMi mengulum senyum, “Gwaenchana! Kau tidak harus memakainya.” katanya sambil menepuk pundak TaeYeon, seolah seperti memberi semangat kembali pada yeoja itu.

Dari luar, ketiga namja dapat melihat para yeoja sudah terlihat mengganti pakaiannya. Perlahan kelima yeoja menghampiri para namja di luar.






“Cha! Sepertinya semua sudah siap!” ucap BoMi bersemangat. Sedangkan yang lain memandangnya heran, mereka tidak mengerti maksud ucapan BoMi. Mengetahui raut wajah yang lain menatapnya penuh tanda tanya, ia melanjutkan ucapannya, “Kajja main voli pantai!”

“Ne!!!” jawab semuanya serempak. Tapi tidak dengan TaeYeon.

Sejujurnya ia tidak bisa bermain voli pantai, itu alasannya mengapa ia terlihat tidak bersemangat ketika BoMi mengajaknya tadi. Semua berjalan menuju pasir dekat bibir pantai dengan bersemangat, tapi yeoja ini malah berjalan perlahan di belakang. Jessica yang menyadari, menolehkan wajahnya menatap TaeYeon hawatir.

“Kau kenapa, TaeYeon-ah?”

Ucapan yeoja itu membuat keenam pasang mata lainnya menoleh ke arahnya. Menyadari semua menatap ke arahnya, TaeYeon hanya menundukan kepalanya.

“M.., sepertinya aku tidak ikut bermain.”

Jessica mengernyitkan dahinya, “Wae?! Padahal jika kau ikut kita akan pas!”

“Aku tidak bisa bermain. Kalau aku ikut, kurasa akan membuat permainan jadi kacau.”

“Kaendae….”

“Aku juga tidak akan bermain!” ucap Kai memotong ucapan Jessica, membuat yang lain termasuk TaeYeon menatapnya. “Dengan begitu jadi pas, kan? Kalian bisa bermain 3-3.”

“Tumben sekali! Biasanya kau selalu bermain voli pantai saat ke sini.” tanya BoMi sepupunya.

Sedangkan yang ditanya hanya diam, tidak berniat memjawab pertanyaan sepupunya.

“Yasudah! Kalau TaeYeon dan Kai tidak bermain, kita saja!” ucap ChanYeol.

Lalu keenamnya membentuk kelompok, dengan ChanYeol bersama BoMi dan ChoRong, sedangkan BaekHyun dengan Jessica dan EunJi. TaeYeon dan Kai memutuskan untuk melihat permainan mereka saja. Keduanya tampak duduk bersebelahan, tapi seperti sepakat untuk tidak saling mengobrol. Sampai TaeYeon yang membuka percakapannya lebih dulu.

“Ada apa denganmu?”

“Hm?” tanya namja itu menoleh ke arahnya bingung. “Maksudmu?”

“Kau tampak berbeda sekali dari biasanya. Dikelas kau selalu jahil pada yang lain, tapi kini kau seperti menunjukan sikap dewasamu.”

Kai membalas dengan tawanya, “Begitukah? Tapi aku merasa biasa saja.”

“Mwo?! Kau tidak menyadari perubahanmu sendiri?”

Kai hanya bergidik tidak peduli.

“Atau kau sebenarnya memiliki dua kepribadian?! Didepan sepupumu kau akan menunjukan sikap dewasamu, tapi jika tidak ada BoMi, kau akan menunjukan sisi kekanak-kanakanmu, begitu?!”

“Aiishh.., kepribadian macam apa itu!”

“Lihat saja sekarang! Kau mangalah untuk tidak bermain voli demi aku! Apa bukti itu tidak cukup, eoh?”

Kai menampakan smirknya, “Jadi kau menganggap aku mengalah demi dirimu?”

TaeYeon yang menyadari ucapan bodohnya tadi, hanya bisa merutuk dalam hati.

“T-tidak juga!”

Kai tersenyum penuh arti setelah menangkap rona merah di pipi TaeYeon. Entah senang karena berhasil membuat yeoja itu terlihat bodoh atau karena apa.

Sedangkan BaekHyun yang tak lepas dari tawanya saat melihat ChanYeol tidak dapat membalas pukulan bola darinya, sempat menatap ke arah Kai dan TaeYeon yang duduk tidak jauh darinya. Tawanya memudar kala ia menangkap rona merah di pipi TaeYeon, sedangkan Kai tersenyum menatap yeoja itu.

‘Apa Kai yang menggodanya sampai ia terlihat malu begitu?’ pikir BaekHyun.

Tanpa BaekHyun sadari, ternyata ChanYeol sudah memukul bola ke arahnya, sontak membuat yang lainnya berteriak karena mendapati namja itu terlihat tidak fokus pada bola yang akan mengarah padanya.

“BaekHyun-ah!! Awas!”

Kai dan TaeYeon yang mendengar teriakan temannya, langsung menoleh dan mendapati BaekHyun sudah tersungkur karena pukulan bola yang menghantam keras kepalanya. Seketika membuat semuanya berlari ke arahnya.

“BaekHyun-ah, gwaenchanayo?!” panik Jessica, orang yang pertama sampai dan segera menolongnya.

BaekHyun POV

“BaekHyun-ah, gwaenchanayo?!” teriak yeoja di hadapan wajahku.

Aku menangkap wajah orang itu, Jessica. Ia yang pertama datang ke arahku, lalu disusul yang lainnya. Aku masih bisa melihat wajah panik mereka walau kepalaku rasanya pusing sekali. Seketika aku merasa kepalaku terangkat dan menyentuh benda halus mengenai leherku. Ternyata Jessica yang memangku kepalaku keatas pahanya. Kuakui kepalaku merasa lebih baik dengan posisi yang lebih tinggi dari tubuhku yang masih terkapar di atas pasir.

“BaekHyun-ah! Ppalli, ireona!” teriak yang lain, sepertinya suara Kai.

“Aku akan mengambil air dan minyak angin untuknya!” teriak BoMi yang lalu berlari dengan EunJi dibelakangnya.

“Ne! Ppalli!” jawab Jessica masih terdengar panik.

Dengan cepat ia menatap ke arahku lagi. Tapi tiba-tiba saja jantungku mendadak berdetak sangat kencang ketika wajah Jessica semakin mendekat kearah wajahku. ‘Apa yang ingin ia lakukan?!’ Sontak aku menutup mata setelah menyadari wajah kami sudah tinggal beberapa senti saja.

BaekHyun POV end.

TaeYeon POV

“Ne! Ppalli!” jawab Jessica ketika BoMi dan EunJi berlari mengarah villa.

Aku melihat mata BaekHyun masih terbuka, tapi terlihat seperti berkunang-kunang. Ia pasti sedang menahan rasa sakitnya. Aku sungguh hawatir pada BaekHyun, tapi apa daya, aku bingung harus berbuat apa.

Sebenarnya aku sempat terkejut ketika Jessica langsung memangku kepala BaekHyun. Sedikit cemburu rasanya, mengingat aku tidak dapat berbuat apa-apa untuknya. Tapi aku langsung menghilangkan rasa itu, aku harus fokus pada BaekHyun. Mendadak jantungku terasa mendesir lagi ketika kepala Jessica tertunduk mendekat wajah BaekHyun. Aku langsung menutup mulut, berusaha menutupi keterkejutanku, melihat posisi Jessica seperti ingin mencium BaekHyun.

Perlahan tangan jenjang Jessica menyentuh wajah BaekHyun, membersihkan pasir-pasir yang menempel di pipinya saat terjatuh tadi. Seketika aku membuang napas lega, mungkin karena mengetahui ternyata yeoja itu bukan ingin mencium BaekHyun.

TaeYeon POV end.

Jessica POV.

Aku menatap pipinya intens, dan mulai membersihkan pasir yang menempel di wajahnya. Kulihat BaekHyun perlahan membuka matanya yang sempat tertutup tadi. Tidak tahu kenapa ia melakukannya saat aku mulai mendekati wajahnya.

“Sica-ah! Kau membuatku terkejut saja! Kukira kau ingin mencium BaekHyun!” teriak ChoRong tiba-tiba yang membuatku terkejut dan dengan cepat menoleh ke arahnya.

“M-mencium?! Aku tidak berniat begitu! Aku hanya ingin membersihkan pasir-pasir dari wajahnya!” protesku malu.

‘Kenapa dia berkata begitu? Aku sama sekali tidak berniat ingin mencium BaekHyun.’ kesalku dalam hati.

“Habis wajahmu tiba-tiba saja mendekat begitu, jadi aku mengira kau akan menciumnya.” jawabnya lagi.

Benar juga, mungki aksiku tadi juga yang membuat BaekHyun menutup matanya dan mengira aku akan menciumnya. Aiishh.., kau bodoh sekali, Sica! Padahal disini ada TaeYeon, bagaimana kalau dia sampai cemburu karenamu?

Benar saja, aku menangkap wajah TaeYeon yang kini sedang tertunduk. Sepertinya ia juga salah mengira aksiku tadi.

‘TaeYeon-ah.., mianhae! Aku menyadari kebodohanku ini.’ sesalku dalam hati.

Tak lama BoMi dan EunJi datang membawa air dan minyak angin di tangannya. Dengan cepat aku mengangkat tubuh BaekHyun untuk duduk dengan bantuan ChanYeol dan Kai.

Jessica POV end

“BaekHyun-ah.., mianhae! Aku tidak bermaksud ingin membalas pukulanmu tadi ke arahku. Aku benar-benar tidak sengaja.” sesal ChanYeol setelah BaekHyun meminum air dari tangan BoMi.

BaekHyun membalasnya dengan anggukan pelan dan tersenyum ke arahnya.

“Nan gwaenchana. Aku sudah merasa baikan.” jawabnya lirih, menahan sakit di kepalanya.

“Kau tahu, aku sangat hawatir ketika melihatmu terkapar begitu. Aku tidak berhenti memikirkanmu saat mengambil air, sampai-sampai tanganku gemetaran saat mengambilnya.” jelas BoMi yang diberi anggukan oleh EunJi.

BaekHyun membalasnya dengan tawa pelannya, “Gomawo sudah menghawatitkanku, BoMi-ah. Tapi aku sekarang sudah tidak apa-apa. Jadi tidak perlu dihawatirkan.”

Semua terlihat lega setelah mendengar BaekHyun yang sepertinya sudah baikan. Apalagi dengan senyumnya yang kini membuat ChanYeol memeluknya karena masih merasa bersalah padanya. BaekHyun berusaha melepas pelukan itu sambil mengedarkan tatapannya ke arah teman-teman yang masih mengerumuninya saat ini. Saat matanya berhenti pada yeoja yang sedari tadi tidak ia dengar suaranya. Ternyata yeoja itu juga tengah menatap kearahnya dengan senyum leganya. Keduanya saling menatap sampai si yeoja menyadari BaekHyun menatapnya intens, ia mempalingkan kepalanya menatap yang lain sambil menahan malunya.

‘Aku senang ternyata kau juga menghawatirkanku, TaeYeon-ah.’ pikir namja itu tanpa berhenti menatap si yeoja yang ia panggil TaeYeon itu.

* * *

Eurwangni Beach,
16:54

Kala itu Jessica keluar dari kamar mandi. Ia menggunakan kamar mandi yang ada di luar kamarnya, mengingat TaeYeon sedang menggunakan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Sambil mengusapkan rambutnya yang basah dengan handuk, matanya menangkap sosok BaekHyun yang tengah duduk sendiri di luar villa. Ia berencana untuk menghampiri BaekHyun ketika namja itu menyadari Jessica tengah menatapnya, lalu menyunggingkan senyum kearahnya dan memanggilnya. Baru ia ingin melangkahkan kakinya, TaeYeon keluar dari arah kamar dan tersenyum ke arahnya setelah yeoja itu melihatnya.

Tiba-tiba pikiran usil Jessica muncul. Ia urungkan niatnya tadi yang ingin menghampiri BaekHyun. Dengan cepat ia menarik TaeYeon sebelum yeoja itu melihat BaekHyun yang ada diluar.

“Oh! Ada apa Sica-ah?! Kau membuatku terkejut saja!”

“Ah.., mian!” jawabnya menyunggingkan senyum kikuk. “Kau sudah selesai mandi?”

“Ne.” jawab TaeYeon mengangguk.

“Kalau begitu sekarang aku yang akan mandi!”

“Mwo?! Bukankah kau habis mandi? BoMi bilang kau mandi di kamar mandi luar.” ucap TaeYeon sambil mengernyitkan dahinya.

“A-ani! Aku tidak jadi mandi di kamar mandi itu.” jawabnya bohong. “Yasudah, aku mandi dulu, ne!”

“Geurae..” jawab TaeYeon mengangguk tanpa berhenti menatap Jessica dengan bingung.

“Oh ya! Diluar ada BaekHyun. Sebaiknya kau temani ia mengobrol.” kata Jessica lagi, lalu dengan cepat masuk ke dalam kamar tanpa peduli komentar yang akan keluar dari mulut TaeYeon.

TaeYeon membulatkan matanya sempurna setelah mencerna ucapan Jessica. Ia berfikir kalau yeoja itu pasti tengah membohonginya dan berencana ingin menggodanya. Tapi ia salah, terbukti dengan tiba-tiba seorang namja memanggil namanya dari belakang.

“TaeYeon?”

Mendadak TaeYeon jadi gugup, ia tahu siapa yang memanggilnya. Ternyata Jessica tidak membohonginya. Dengan cepat ia menoleh ke arah namja itu.

“B-baekHyun?” jawabnya malu.

“Kau sedang apa?”

“A-ani!” jawabnya gugup.

“Tadi aku melihat Jessica disini dari luar, tapi tiba-tiba ia menghilang dan mengarah ke kamarnya. Saat aku menghampirinya, ternyata aku malah melihatmu. Apa penglihatanku salah?” jelas BaekHyun.

“Aniya.., kau tidak salah. Jessica memang ada di sini tadi. Tapi dia bilang ingin cepat mandi.”

“Jinja?! Tapi sepertinya dia terlihat habis mandi tadi.”

“Aku juga merasa begitu. Tapi dia langsung masuk ke kamar.”

BaekHyun membalasnya dengan anggukan. Seketika kecanggungan menyelimuti mereka. Keduanya sama-sama bingung harus membicarakan apa lagi. Menyadarinya, TaeYeon malah memilih melihat kebawah lantai, menutupi kecanggungan yang ia rasakan sekarang. Sampai si namja membuka mulutnya, berusaha memecah kecanggungan itu.

“M.., TaeYeon-ah!” TaeYeon langsung mengangkat kepalanya menatap BaekHyun. “Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar sebelum makan malam?”

Sedangkan yang diajak malah membiarkan rona dipipinya menyebar sempurna, lalu dengan malunya, ia beranikan untuk menyetujui ajakan itu.

.

.

.

Tampak siluet kedua insan berjalan beriringan di atas pasir lembut tanpa alas kaki itu. Mereka belum membuka mulut sejak keduanya memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. TaeYeon memilih melihat pengunjung lain yang masih asik bermain di dalam air, sedangkan BaekHyun melihat ke arah matahari yang hampir tenggelam.

“Wuaah.., lihat itu! Langitnya jadi terlihat indah saat mataharinya berada di depan mata kita!” sahut BaekHyun memecah keheningan di antara mereka.

Sang yeoja mematuhi perintahnya, matanya ia alihkan ke arah langit di samping kanannya. Ia sunggingkan senyumnya ketika melihat pemandangan indah itu.

“Ne, kau benar! Mataharinya jadi terlihat lebih besar kalau berada tepat di atas air laut.” balas TaeYeon menimpali.

“Ayo ucapkan harapan!” ucap BaekHyun tiba-tiba, membuat TaeYeon menoleh kearahnya.

TaeYeon kembali tersenyum menatap namja itu yang masih menatap matahari di depannya, lalu menganggukan kepala menyetujuinya. “Ne.”

Kemudian TaeYeon menatap ke arah matahari yang tidak menyilaukan sama sekali, lalu menaruh tangan didada dan menutup mata, mulai fokus dengan permohonannya. Sedangkan dengan jahilnya, bukannya ikut menutup mata untuk segera membuat permohonan, BaekHyun malah menatap ke arah TaeYeon sambil menahan tawanya. Pasalnya yeoja ini terlihat lucu sekali saat dirinya menyetujui kata-katanya untuk membuat permohonan di bawah matahari yang hampir tenggelam. Padahal ia hanya bercanda mengatakannya tadi.

TaeYeon yang tidak bisa fokus dengan permohonannya karena mendengar suara tawa yang tertahan, perlahan ia membuka mata dan menoleh ke arah suara itu. Ia sangat terkejut ketika tahu ternyata BaekHyunlah yang tengah menahan tawa sambil terus melihat ke arahnya. Seketika tawa BaekHyun pecah setelah yeoja itu menatap kearahnya dengan bingung.

“W-wae? Kenapa malah tertawa?” tanya TaeYeon. “Apa kau sedang menggodaku!?” tanyanya lagi setelah menyadari ternyata namja itu tengah membohonginya.

“Hahahahaha… mianhae.., habis kau lucu sekali! Padahal aku hanya bercanda tadi. Tapi kau menanggapinya serius untuk membuat permohonan!” jelas BaekHyun tanpa menghentikan tawanya.

“Aaiishh.., jahat sekali! Padahal aku sudah membuat permohonan!” kesal TaeYeon mempoutkan bibirnya lucu.

“Jinja?! Memangnya kau memohon apa?”

“Tidak mau! Aku tidak mau memberitahumu!” jawab TaeYeon sambil melipat tangannya di dada dengan kesal.

“Ah.., mianhae..! Jangan marah begitu, aku hanya bercanda. Jeongmal aku tidak berniat menggodamu!”

“Jinja?!” tanyanya meyakinkan ucapan namja itu. Lalu BaekHyun menganggukan kepalanya serius.

“Mau berfoto?” tawar si namja mencoba menghibur TaeYeon.

“Apa ini salah satu trikmu untuk menggodaku lagi?”

“Ani! Sudah kubilang aku tidak menggodamu! Aku hanya bercanda tadi!” jawabnya lalu mengambil ponsel di dalam sakunya.

“Apa kali ini aku harus mempercayaimu?” tanyanya masih ragu dengan aksi BaekHyun saat ini.

“Ck! Aku kan sudah minta maaf, kenapa kau masih tidak percaya padaku?”

“Ne.., baiklah.”

“Kemarilah! Kau tidak akan terlihat kalau berdiri di sana!” BaekHyun menarik tangan TaeYeon mendekat ke arahnya, membuat yang ditarik jadi tersipu malu karena genggaman Baekhyun yang tiba-tiba.

“Tapi wajah kita tidak terlihat.” ucap TaeYeon saat melihat ke layar ponsel Baekhyun yang menampakan siluet dua insan dengan langit indah di belakangnya.

“Biar saja! Makanya kita harus berpose agar siluet kita terlihat bagus!”

“Ne?” tanyanya bingung ketika mendengar jawaban dari mulut si namja.

“Kau hanya harus berpose dengan menghadap samping kirimu dengan mempoutkan bibirmu!” jelas BaekHyun.

“Kenapa aku harus mempoutkan bibirku?”

“Sudah ikuti saja!”

Lalu TaeYeon menuruti perkataan BaekHyun, “Seperti ini?” tanyanya setelah ia mempoutkan bibirnya menghadap ke arah kirinya.

“Ne! Angkat sedikit kepalamu!” jawab BaekHyun sambil menahan tawanya melihat TaeYeon dengan lucunya mempoutkan bibirnya, persis seperti apa yang ia inginkan.

Dengan cepat, BaekHyun juga berpose sama seperti Taeyeon dengan menghadap ke samping kanannya, mempoutkan bibirnya, lalu mensejajarkan bibirnya agar siluetnya terlihat sejajar dengan siluet bibir Taeyeon. Kemudian ia menekan layar ponselnya. Click! Hasil fotonya menampakan kedua siluet insan yang terlihat seperti sedang berciuman di bawah matahari senja.


“Coba kulihat hasilnya!”

BaekHyun menekan layar ponselnya lagi, lalu menampakan hasil foto mereka tadi. TaeYeon terkejut melihat hasilnya, ia tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Kesal bercampur malu, ia beranikan menatap Baekhyun, meminta penjelasan hasil foto mereka.

“Wae?! Kenapa menatapku begitu? Hasilnya bagus, kan?” jawab BaekHyun pura-pura bodoh.

“Ya! Jadi ini maksudmu menyuruhku berpose seperti itu?!” kesal TaeYeon.

“Tidak apa-apa, kan? Lagipula kita tidak benar sedang berciuman.” jawab BaekHyun santai.

“Aiishh.., kau ini! Berikan ponselmu padaku!” suruh TaeYeon.

“Shiro! Kau pasti ingin menghapusnya, kan?”

“Ck! Sudah berikan saja!”

“Tidak! Aku tidak akan memberikannya padamu!” balas Baekhyun lalu meledek Taeyeon dengan menjulurkan lidahnya ke arah yeoja itu.

Seperti tidak mau kalah, TaeYeon mengejar BaekHyun untuk mendapatkan ponselnya. Sedangkan BaekHyun yang lebih tinggi dari TaeYeon, mengangkat ponselnya agar yeoja itu tidak dapat meraihnya. Keduanya berakhir dengan kejar-kejaran.

* * *

Jessica POV

“Senang rasanya melihat mereka jalan berdua seperti itu.”

Aku tengah memandang TaeYeon dan BaekHyun dari kejauhan tanpa melepas senyumku. Tapi di dalam sana perasaan itu muncul lagi saat melihat mereka saling berbagi senyum. Sejujurnya aku bingung pada diriku sendiri, lidahku bilang kalau aku senang, tapi hatiku tidak. Walaupun tekadku sudah bulat ingin menyatukan mereka lagi, tapi aku hanyalah manusia yang tidak bisa menepis cinta yang selalu seenaknya datang di hati orang.

‘Aku akui sekarang, aku memang menyukaimu. Mianhae..’ pikirku sambil mencoba menarik ujung bibirku ke atas.

Kududukan diriku dipasir, memainkannya dengan menguburkan kakiku kedalamnya, mencoba hilangkan rasa egois itu agar tidak muncul lagi. Sambil mengarahkan pandangan ke air laut di depanku, sekuat tenaga mengalihkan pandangan agar tidak melihat ke arah mereka lagi. Terlihat hanya tinggal dua tiga orang saja yang masih memilih bermain air di sana, termasuk kedua namja diantaranya yang baru kusadari tengah menatapku intens. Aku yang menyadari jadi canggung ditatap seperti itu, lebih tepatnya risih. Kulihat mereka mulai tersenyum ke arahku. Aku tidak berniat membalas senyum mereka, karena kupikir senyuman itu terlihat seperti menyeringai.

Mereka seperti mengatakan sesuatu, yang tentunya tidak dapat aku dengar. Lalu perlahan mereka berjalan ke arahku tanpa melepas senyuman mereka. Jujur saja, aku jadi terlihat gugup, apalagi saat salah satu namja itu mengatakan sesuatu.

“Hai, nona manis! Mengapa hanya sendirian disini?” tanyanya ketika mereka telah sampai di depanku.

Aku tidak berniat membalas pertanyaannya. Kualihkan saja pandanganku menatap yang lain, berusaha menutup ketakutanku.

“Rupanya sedang mengubur kakimu? Sini biar kami bantu menguburnya lebih dalam lagi.” ucap namja satunya.

Aku mulai merasa mereka akan mencelakakanku sebentar lagi, jadi kuputuskan untuk berdiri dan berjalan meninggalkan mereka. Tapi langkahku kurang cepat, karena salah satu dari mereka menarik tanganku, membuatku menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Kurasakan tubuhku mulai gemetaran saat mencoba melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Lepaskan!” bentakku ke arahnya

“Aigoo.., kau gemetaran ya? Lucu sekali.. Tenang saja, kami akan bermain lembut, jadi kau tidak perlu takut pada kami, ne?”

“Lepaskan!” bentakku lagi mencoba melepaskan genggamannya yang semakin kuat di tanganku.

Ingin rasanya aku berteriak minta pertolongan BaekHyun di sana. Saat aku mencoba melihat ke arah BaekHyun, kuurungkan niatku untuk memanggilnya ketika melihat mereka sedang bercanda gurau. Tidak mungkin tiba-tiba aku memanggil BaekHyun, TaeYeon pasti akan merasa terganggu karena teriakanku.

“Kau tidak mencoba berteriak, chagi?” tanya namja yang menggenggam tanganku.

“Untuk apa?! Aku masih bisa melawan kalian!” jawabku dusta, mencoba terlihat kuat di depan mereka.

“Woaahh..! Ternyata kau memang yeoja pemberani. Bagus kalau begitu, ini akan mempermudah permainan kita.”

Lalu dengan cepat namja yang menggenggamku memelukku dari belakang, mengunci kedua lenganku dengan kedua lengan kokohnya. Sementara namja satunya mulai mendekatiku, meraih daguku agar sejajar dengan arah pandangnya yang menatap mataku intens. Wajahnya semakin mendekat ke arahku. Menyadari apa yang akan ia lakukan selanjutnya, aku berusaha menepisnya sekuat tenaga, membuatnya semakin mempererat cengkraman di pipiku. Kututup mata, tidak kuat melihat apa yang akan terjadi padaku. Dalam hati aku hanya bisa berdoa agar seseorang menolongku. Tak terasa air mata sudah jatuh membasahi pipiku. Sebelum seseorang berteriak dari arah belakang.

“Lepaskan yeojaku!”

Jessica POV end.

.

.

.

BaekHyun POV

“Berikan ponselmu padaku! Aku ingin menghapusnya!” teriaknya lagi, masih berusaha meraih ponsel yang kuangkat ke atas agar dirinya tidak mendapatkannya. Tapi wajahnya masih menampakan semburat merah menahan malu.

“Aiishh..! Kau tidak perlu malu begitu! Kalaupun aku akan memberitahunya pada Jessica, dia tidak akan tahu kalau siluet itu adalah milikmu.”

“Mwo?! Kau berencana ingin memberitahukannya?!”

Mendengarnya sepanik itu membuatku kembali menertawakannya. Dia itu polos sekali. Mana mungkin aku akan memberitahukan pada Jessica soal foto ini. Aku juga masih tahu diri untuk menjaga privasiku. Kuarahkan pandangan menatap wajahnya yang sudah mulai lelah dengan tawa yang masih menghiasi wajahku. Sampai aku menangkap sosok yeoja di depanku dengan kedua namja yang seperti terlihat ingin membulinya. Perlahan aku menghentikan aksiku menggoda TaeYeon.

“Berikan ponselmu!” teriaknya sambil berusaha menangkap lenganku ketika dirasa aku mulai melemah, dan berhasil meraih ponselku.

Seolah seperti tidak mempedulikan ponsel itu yang telah diraih TaeYeon, pandanganku masih pada yeoja di sana. Seketika wajahku mulai mengeras setelah tahu siapa yeoja itu. Dengan cepat aku berlari mengarah padanya untuk segera menolongnya, menghiraukan panggilan TaeYeon yang sepertinya menyadari aksiku yang mungkin tidak ia mengerti.

“Lepaskan yeojaku!” teriakku setelah berada di depan mereka.

BaekHyun POV end

.

.

.

Dirasa doanya terkabul dengan cepat setelah mendengar teriakan itu, Jessica membuka matanya, melihat siapa orang yang akan menolongnya. Benar saja, terlihat namja yang ia kenal dan sempat ia harapkan tadi agar menolongnya, kini berada di depannya dengan tatapan tajam yang diarahkannya pada kedua namja yang akan melahapnya tadi.

“BaekHyun?” lirihnya pelan.

Sontak membuat dua namja brengsek itu melepaskan Jessica dengan malas. Dirasa sudah bebas, Jessica segera berlari ke belakang punggung BaekHyun menghindari kedua namja itu.

“Woaahh!! Siapa ini yang datang? Pahlawan kesiangan?!” ejek salah satu namja itu.

“Mau apa kau menggodanya?!” bentak BaekHyun geram.

“Wae?! Kau tidak terima kami menggodanya, eoh?! Memangnya kau ini siapa? Namjachingunya?”

“Ne! Aku namjachingunya! Jadi jangan pernah lagi mengganggunya, apa lagi mencoba untuk menyentuhnya!” balas BaekHyun tanpa rasa takut sama sekali. Walau nyatanya ia tahu kalau mereka berniat untuk berkelahi dengannya, ia pasti akan kalah telak.

“Begitukah?” jawabnya santai sambil menunjukan smirknya, meremehkan ucapan BaekHuun barusan. “Ambil saja yeojamu kembali, kami sudah tidak selera untuk mengganggunya.”

BaekHyun yang mendengarnya mengepalkan tangannya erat, menahan amarahnya yang mungkin sudah berada pada puncaknya. Sedangkan kedua namja itu memilih untuk pergi meninggalkan BaekHyun dan Jessica, yang sebelumnya sempat mengucapkan kalimatnya lagi.

“Oh ya, nona!” tunjuknya pada Jessica yang masih terlihat gemetaran. “Bilang pada namjamu ini agar selalu menjagamu, agar kami tidak menggodamu lagi!” lanjutnya lalu tertawa saat dirasa wajah BaekHyun semakin memerah.

BaekHyun siap melayangkan tinjunya saat kedua namja itu menatap remehnya, kalau tidak Jessica dengan cepat mencegahnya, dan membiarkan kedua namja itu pergi.

“Kau tidak apa-apa?!” tanya BaekHyun panik lalu dengan cepat meraih Jessica ke dalam dekapannya, berusaha menenangkan yeoja itu.

Jessica membalasnya dengan anggukan lemah, sambil terus mengeluarkan isakan tangisnya. Sedetik kemudian seperti mengingat sesuatu, ia segera melepas pelukan itu. Lalu mulai mencari sosok yeoja yang ternyata sudah berada di belakang punggung BaekHyun. Yeoja itu bungkam, mungkin masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Sedangkan Jessica menatapnya dengan tatapan bersalah.

“Wae?” tanya namja itu setelah dirasa Jessica tiba-tiba melepas pelukannya.

“Seharusnya kau tidak perlu mengatakan kalau aku ini yeojachingumu pada mereka.” jawabnya lirih.

“Biar saja! Bukankah itu cara agar melawan namja-namja brengsek seperti mereka?!”

“Keundae.., bagaimana kalau TaeYeon sampai salah paham?” tanyanya sambil menatap ke arah TaeYeon sekali lagi dengan cemas.

“Kau ini bicara apa?! Aku bahkan lebih menghawatirkanmu dari pada memikirkan perasaannya!” bentak BaekHyun, yang membuat kedua yeoja yang mendengarnya melebarkan matanya.

Sementara itu di dalam hatinya TaeYeon seperti tertusuk pedang tajam setelah mendengar ucapan BaekHyun. Sebenarnya ia tidak masalah namja itu memeluk Jessica dihadapannya, bahkan mengatakan kalau dia adalah namjachingu Jessica sekalipun, toh niatnya karena ingin mengusir namja-namja brengsek tadi. Tapi yang membuat hatinya sakit adalah ketika namja itu berkata tidak memperdulikan perasaannya. Apa benar BaekHyun mengatakan itu dengan sepenuh hatinya? Lalu bagaimana dengan perlakuan namja itu terhadapnya selama ini? Apa tidak adakah perasaan sama sekali ketika ia bersama TaeYeon?

“B-BaekHyun? Apa yang baru saja kau katakan?” ucap Jessica terkejut setelah mendapati perubahan air muka TaeYeon. Tatapannya kosong mengarah ke arah mereka.

Sungguh BaekHyun sangat marah sekali saat ini, ia hawatir pada Jessica. Ia hampir saja melihat yeoja itu akan dibuli oleh namja yang tidak ia kenal sama sekali. Kalau ia tidak cepat menghentikan mereka, ia tidak tahu akan seperti apa ketika melihat kejadian yang tidak ia inginkan terjadi pada sahabatnya. Tapi justru bukannya menghawatirkan dirinya sendiri, Jessica malah sempat menghawatirkan perasaan TaeYeon karena ucapannya tadi kepada namja-namja itu. Itulah alasan lain mengapa BaekHyun membentaknya. Ia tidak habis pikir dengan yeoja ini.

“Wae?! Memangnya kenapa?! Kurasa dia juga akan mengerti!” jawabnya lalu melihat ke arah TaeYeon di belakangnya. “Ya, kan TaeYeon?”

Seketika pertanyaan BaekHyun menyadarkannya dari lamunan menyakitkan itu. Dengan cepat ia membalas dengan anggukan.

“N-ne! Sica-ah, gwaenchanayo?” tanyanya hawatir, berusaha menutupi rasa sakit di hatinya.

* * *

Ketiganya kembali ke villa, dengan BaekHyun masih memapah Jessica dalam dekapannya, sedangkan TaeYeon mengikuti keduanya berjalan di belakang. Melihat Jessica masih terlihat gemetaran, membuat ChanYeol dan lainnya yang tengah duduk di ruang utama menjadi hawatir dan berlari menghampirinya.

“Oh! Sica-ah, gwaenchanayo?!”

“Kalian bertiga habis dari mana? Ada apa dengan Jessica?!”

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan itulah yang ketiganya terima setelah masuk kedalam villa.

“Kalian tahu, hampir saja ia dibuli oleh dua orang namja!”

“Omo! Jinja?!” ChanYeol terkejut mendengarnya, begitupun yang lain.

“Kenapa diantara kalian tidak ada yang menemaninya, dan membiarkannya jalan-jalan sendiri?!” lanjutnya membentak, mungkin masih kesal dengan kejadian tadi.

Sontak mereka terkejut dengan ucapan BaekHyun. Mereka kurang terima disalahkan seperti itu olehnya.

“Lalu bagaimana denganmu? Dari mana saja kau saat Jessica tengah digoda orang-orang itu?” tanya Kai, salah satu orang yang paling tidak terima dengan perkataan BaekHyun barusan.

BaekHyun membalasnya dengan tatapan tajam, lidahnya seperti keluh untuk menjawab pertanyaan Kai yang tidak sepenuhnya salah.

“Wae? Apa urusanmu? Aku sedang berjalan-jalan dengan TaeYeon.” jawabnya santai.

“Mwo?! Bahkan kau juga tidak merasa bersalah karena asik berjalan-jalan tanpa memikirkan Jessica? Lalu apa alasanmu membentak kami seperti tadi, eoh?!”

“Aaiishh.., jadi sekarang kau malah menyalahkanku?!”

Semua terkejut dengan pertengkaran antara BaekHyun dan Kai yang tiba-tiba. ChanYeol berusaha melerai mereka dengan meraih Jessica lebih dulu yang masih dalam dekapan BaekHyun. BoMi dan TaeYeon membantunya mendudukan Jessica dan memberinya air.

“Sudahlah BaekHyun! Aku tahu kau pasti kesal, tapi kau tidak perlu berkata seperti itu.” ChanYeol masih berusaha melerai mereka.

BaekHyun mendengus kesal, “Jadi kau juga menyalahkanku?!”

“Ani.., aku hanya tidak ingin kalian bertengkar.”

“Kukira selama ini kita teman!” balasnya, lalu dengan cepat pergi keluar villa masih dengan umpatan kecil dari mulutnya.

“BaekHyun! Kau mau kemana?!”

Seolah tidak mempedulikan panggilan itu, BaekHyun memilih berjalan cepat menuju luar villa. Semua yang melihat tentu saja terkejut. Mereka tidak menyangka BaekHyun akan semarah itu dan meninggalkan mereka begitu saja. Tidak terkecuali TaeYeon yang hanya dapat melihat pertengkaran para namja itu sejak tadi. Ia berpikir untuk tidak diam saja, lalu dengan cepat berdiri dan mulai berlari mengikuti arah BaekHyun pergi tadi. BoMi yang menyadarinya, langsung memanggilnya sama seperti saat ChanYeol melihat BaekHyun pergi.

.

.

.

TaeYeon POV

Aku mencari sosok BaekHyun diluar villa. Aku ingin sekali mengejarnya dan menanyakan apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang. Jujur saja, aku sangat terkejut dengan responnya yang seperti itu. Aku tidak menyangka dia akan semarah itu. Padahal sebelumnya ia terlihat baik-baik saja.

Kemudian mataku menangkap sosok bayangan BaekHyun yang terduduk tak jauh dari villa yang kami tempati. Terlihat wajahnya masih menampakan aura kemarahan. Aku mencoba untuk mendekatinya perlahan, tidak ingin sampai mengejutkannya.

“B-BaekHyun?” panggilku gugup.

Aku sempat melihatnya terkejut sebelum ia menoleh ke arahku. Wajahnya kembali datar setelah tahu siapa yang memanggilnya, dan langsung membuang mukanya ke arah lain.

“Mau apa kau kesini? Ingin menyalahkanku juga?” tanyanya dingin tanpa melihat ke arahku.

Aku mulai duduk di sebelahnya perlahan, dan mencoba meraih pundaknya. “Ada apa denganmu? Sebelumnya kau baik-baik saja.” tanyaku lagi berusaha setenang mungkin.

Mendengarnya BaekHyun menoleh menatapku tajam. Segera kutarik tanganku dari pundaknya.

“Kau masih bertanya aku kenapa? Bukankah kau bersamaku saat Sica digoda orang-orang itu?!”

Aku tertunduk mendengar jawabannya, lidahku seperti kelu untuk membalasnya. Kata-kata yang telah aku susun, seperti tertelan begitu saja. Tapi sebisa mungkin aku membuka mulutku membalas ucapannya.

“Ne, aku tahu kau pasti kesal. Tapi benar yang dikatakan ChanYeol, kau tidak perlu sampai bertengkar dengan Kai. Walau bagaimanapun dia sudah begitu baik pada kita.”

BaekHyun membalasnya dengan dengusan kesal. “Benar dugaanku! Kau juga ingin menyalahkanku rupanya.”

“Ani! Aku tidak berniat menyalahkanmu. Aku hanya merasa kau tidak sepantasnya membentak Kai seperti itu hanya karena masalah Jessica!”

“Mwo?! Apa katamu?! Kau bilang hanya karena masalah Jessica?! Jadi kau menganggap masalah itu hanya persoalan biasa?! Teman macam apa kau ini?! Apa kau tidak merasa kasihan padanya karena telah mengalami hal buruk seperti itu, eoh?! Bagaimana perasaanmu kalau kau yang berada diposisinya?!” bentaknya ke arahku.

Sepertinya perkataanku salah untuk mencoba menenangkannya. Dia malah semakin marah karenaku. Aku hanya bisa tertunduk lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Sungguh aku tidak pernah merasa persoalan Jessica itu adalah masalah biasa. Aku juga turut iba padanya.

“A-ani.., kau salah paham. M-maksudku……..”

“Sudahlah Kim TaeYeon! Sepertinya kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya. Asal kau tahu saja, Jessica sangat berarti bagiku! Dia bukan hanya sekedar sahabat yang selalu menemaniku kemanapun. Aku sangat menyayanginya!” jawabnya memotong ucapanku.

Sontak aku melebarkan mataku mendengar ucapannya. Hatiku kembali terenyah begitu ia mengatakan sangat menyayangi Jessica. Ternyata benar selama ini, kedekatannya dengan Jessica bukan hanya sekedar pertemanan biasa. Kedekatan itu sudah menimbulkan rasa lebih di hati BaekHyun. Tak terasa air mataku mulai jatuh di pipiku. Aku tidak bisa membendungnya dari mataku. Aku sangat cemburu mendengarnya.

“TaeYeon?”

Panggil seseorang tiba-tiba memecah kecanggungan diantara aku dan BaekHyun. Sontak aku menoleh ke arah orang itu. Aku sedikit terkejut setelah tahu siapa dia, Kai. Seketika wajahnya berubah panik ketika melihat air mata di pipiku.

“Kau kenapa?! Apa yang telah terjadi?!” Dengan cepat Kai memelukku erat.

Aku terkejut dengan aksinya itu, memelukku tiba-tiba di depan BaekHyun. Aku berusaha melepas pelukan itu sebelum BaekHyun salah paham melihatnya.

“Ani! Kami hanya sedang menyelesaikan masalah di dalam.” jelasku sambil menghapus air mata yang sempat jatuh dipipiku.

“Ige mwoya? Apa semua kejadian ini sudah kalian setting sebelumnya untuk membuatku kesal dengan membuat drama menjijikan ini?!”

“Mwo?! Ada apa denganmu?! Sepertinya ucapanmu sudah mulai melantur, Byun BaekHyun! Kau hanya akan mempersulit masalah ini!” jawab Kai.

“Siapa yang mempersulit sekarang, eoh?!” balas BaekHyun semakin meninggikan suaranya, membuatku dan Kai tersentak kaget mendengarnya.

“Cukup, BaekHyun! Kami tahu kau sedang kesal! Tapi benar yang diucapkan Kai, kau hanya akan membuat masalah jadi bertambah panjang dengan ucapanmu!” bentakku akhirnya.

Ia menghela napasnya kasar, “Sepertinya kau membelanya terus, Kim TaeYeon. Apa ini juga bagian rencanamu untuk memojokanku?” katanya menatapku tajam. “Baik kalau kalian berpikir begitu! Aku akan pulang besok pagi agar kalian dapat menyelesaikan masalahnya tanpa aku.” lanjutnya yang kemudian berdiri untuk meninggalkan kami.

Aku hanya dapat mematung mendengarnya. Ia sudah sangat salah paham soal ini. Aku tidak pernah merencanakan untuk memojokannya sebelumnya.

Kakinya terhenti ketika ia berada tepat di samping bahu Kai, “Gomawo sudah mengajakku ke tempat drama menyedihkan ini. Kalian berhasil membuatku cemburu.” lanjutnya, lalu benar-benar pergi meninggalkan kami.

“BaekHyun, tunggu!” teriakku berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Kai dengan cepat menghentikanku dengan meraih tanganku.

“Kau tidak perlu mengejarnya lagi! Itu malah akan membuatnya semakin kesal!”

“Tapi kau dengar sendiri ucapannya tadi! Dia sudah sangat salah paham pada kita!”

“Biar saja! Percuma menjelaskannya saat hatinya sedang keras seperti itu! Tunggu sampai ia mulai tenang, baru kita jelaskan yang sebenarnya!”

Aku menuruti perkataan Kai. Dia ada benarnya juga. Aku tidak habis pikir dengan kejadian ini. Kukira berbicara dengan BaekHyun akan membuatnya menjadi tenang, tapi malah memperburuk keadaan. Dan lagi ditambah sifat Kai yang aneh. Ia malah membuatku pusing dengan sikap dewasanya saat ini.

Sejujurnya aku tidak ingin berakhir BaekHyun pergi meninggalkan kami. Apa benar besok pagi dia akan pulang lebih dulu? Kukira liburan ini akan membawa kami menjadi lebih dekat, tapi sepertinya akan membuat hubungan kami menjadi semakin renggang. Kalau sudah seperti ini, aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Akhirnya aku dan Kai memutuskan untuk kembali ke dalam villa.

TaeYeon POV end.

* * *

To be continue… ^^

Mianhae readers…, aku baru bisa menyelesaikan part 4. Ini semua karena aku terlalu bingung memikirkan bahasa yang cocok untuk menggambarkan suasana yang terjadi dalam part ini. Di part ini aku pengen banget bikin TaeYeon terluka. Entah fans macam apa aku ini malah senang melihat idola sendiri sakit hati. Tapi itu dia, aku senang membaca ff BaekYeon yang bergenre “hurt” or “sad”, pokoknya yang bisa membuat hati aku berdesir membacanya. Seolah kalau aku adalah TaeYeon di ff itu. #lebaybanget! Dan itulah, aku juga ingin membuat hati kalian mendesir saat membaca ff part ini.

Sejujurnya aku juga takut respon kalian seperti apa, aku takut hasil ff ku ini tidak sesuai keinginan kalian. Mianhae sekali lagi! *bow. Maka dari itu, beri aku kritik dan saran kalian lewat kolom komentar, agar aku bisa meninstropeksi diri saat menulis ff agar lebih sesuai keinginan kalian. Gomawo sebelumnya..

Annyeong.. ^^

Advertisements

57 comments on “[FREELANCE] Our First Love (Chapter 4)

  1. Huaaa fix INI BAGUS BANGET :’. Baek mah badmood an. Kasian taeng nya:’. Lebih baik baek sica >< kai taeng aja deh thorr. Lebih cocok gt masa -_- baeknya pms ihhh whaha. Okey ditunggu banget buat next nya yaa hwaiting nee😘😘💕💕💞💞💓💓💓💓💓😘😘😘😘😘

  2. Ngebaca chapter ini lagi:v .. Baekhyun nggk peka-_- Next chapternya kapan thor? T-T .. wa lagi down coba, waktu ngelihat baekhyun dipasang-pasangin sama bomi di youtube T_T Bomi cantik, tapi wa udah jatuh cinta sama Baekyeon :” dan mereka bilang Baekyeon fake, langsung jlebb .. tapi lebih down waktu rumor baekyeon putus .. untung sm nggak konfirmasi 😀 .. kok malah curhat ?-_- maaf wa baperan .. maaf ya thor jadi ngespam — ok abaikan, next chap eonn

  3. Waaaa…..
    Keren banget…
    Harus di lanjutin ya thorrrr
    Dan kalau bisa dipercepatttt
    Hrhehehehehehehh udah kepo duluannn

    Goof luck deh untuk minnnnn🙌

  4. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s