You Are In Love (Chapter 3/END)

Texture-1

You Are In Love

Main Cast: Taeyeon ­– Luhan || Genre: Romance || Length: Threeshoot || Rating: PG-13 ||

Author : Selvy

**Penjelasan karena nge-post tidak sesuai schedule ada di bagian akhir

-____________-

“Luhan-ssi haruskah seperti ini?” Taeyeon bertanya takut- takut. Ia seperti seorang pencuri yang bersembunyi di belakang Luhan sekarang. Sementara tangan mungilnya digenggam oleh jemari namja itu. Taeyeon blank, dia menghujat dirinya berkali- kali. Ini salahnya, salahnya karena telah merespon pelukan namja itu. Dan berujung pada mereka berdua yang berjalan bergandengan menuju kelas. OH NO MENJADI PUSAT PERHATIAN.

‘Apa ini? sekarang kami sudah pacaran? Tapi dia tak mengatakan apa- apa? Ottoke?’ Batinnya. Antara yakin atau tidak, sebenarnya apa yang mereka lakukan saat ini? berjalan bergandengan meneriakkan hubungan mereka? Dan hubungan? Mereka tak pernah mengikat apa- apa? Apa jenis hubungan mereka? Ahh Taeyeon sudah habis akal memikirkan itu semua.

Ia kesal pada sikap seenaknya yang dilakukan oleh orang itu. Tapi disisi lain, ada perasaan aneh hinggap di hatinya. Entah fikiran dari mana yang ia dapatkan tapi ia menikmati setiap detakan jantungnya yang berburu karena namja itu.

Sesampai di kelas Taeyeon serasa ingin melempar Yoona dan Seohyun yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut mereka. Bibir bawah kedua sahabatnya itu seolah akan jatuh saking kagetnya. Dan Luhan? Sepertinya kehidupan orang itu tak ada beban sama sekali. Poker face seperti biasa.

“Yoona-sshi boleh aku duduk disini?” Yoona mengangguk tergagap, yeoja cantik itu membereskan buku- bukunya agak panik. Luhan segera mendorong pelan Taeyeon agar duduk di dekat jendela, dipindahkannya tas miliknya ke samping Taeyeon. Dia duduk.

Wajah Taeyeon memerah, semerah tomat kah? Atau yang lebih parah wajahnya sudah senada dengan warna mobil Sooyoung yang merah terang? Gadis itu tak mengatakan apa- apa. Sebagai tempat persembunyian wajahnya, ia menarik buku sembarangan dari dalam tas. Membuka buku itu dan pura- pura membacanya.

Luhan melirik ke samping, perubahaan raut muka terlihat jelas saat melihat gadis itu tak memperdulikan kehadirannya. Tanpa berfikir lama Luhan mengambil barang yang dipegang Taeyeon itu dan melemparnya keluar jendela.

Taeyeon menganga lebar, “Wah daebak. Ya! Xi Luhan kau tahu itu buku apa? Aku harus mengembalikannya ke perpustakaan akhir semester ini” Ucapnya dengan nada suara agak tinggi. Siapa yang tidak kesal diperlakukan seperti itu.

“Kau pernah melempar bukuku, jadi sekarang impas” Ucapnya santai, sesantai saat appa Taeyeon sedang membaca koran di halaman rumah. Cuma itu? Setelah membuang buku seorang gadis dia hanya mengatakan hal itu? Heol.

Taeyeon membuka mulutnya lalu tersenyum mengejek “Wah aku hanya membuang bukumu ke lantai dan kau melenyapkan bukuku. Kau namja hah?” Dengan emosi yang meluap Taeyeon bertanya menantang.

Luhan menutup matanya sebentar, ia beralih memandang Taeyeon. Saat itu juga Taeyeon merasa sesuatu yang panas mengalir dalam aliran darahnya, ia tak pernah bisa membalas tatapan Luhan jika seperti ini.

“O – oke aku akan mengambilnya sendiri” Ucapnya pelan setengah menunduk. Tak pernah sedikitpun ia mau mengalah pada seorang namja, tapi daripada mengundang malu dengan menampilkan wajah merah memalukan seperti sekarang. Yah sudahlah. Kakinya ia tegakkan hendak keluar namun kursi Luhan yang menghalangi jalannya membuat nafas kasar terbuang dari mulutnya.

“Omo!” Pekik Taeyeon saat ia dipaksa harus kembali duduk di kursinya. Ia ingin melayangkan tatapan paling benci kepada Luhan tapi namja itu seperti mempunyai kekuatan supranatural yang membuatnya hanya bisa menunduk. Memalukan.

Luhan mendorong punggung Taeyeon dengan lengan kirinya yang entah kapan sudah berada di punggung Taeyeon. “Kau ingin melihat ‘kelaki-lakianku’ Taeyeon-ah?” Ucapnya nakal. Sumpah demi apa Taeyeon sempat melihat smirk di wajah namja itu.

Seribu, tidak ratusan juta do’a Taeyeon panjatkan saat itu. Dalam hati ia berteriak sekeras- kerasnya agar ada yang menolongnya. Matanya hanya bisa tertutup seraya terus memundurkan kepala sebisa mungkin. Nafas Luhan yang semakin deras menimpa wajahnya hampir membuat jantungnya ikut lompat keluar jendela.

‘Apa dia mengunyah permen mint sebelumnya’ apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk memiliki pemikiran seperti itu Kim Taeyeon?

“OMO! PARK SONGSAENIM” Seseorang berteriak.

-____________-

Udara dengan rakus dihirup oleh gadis yang sedang duduk di samping kursi kemudi. Untuk sementara waktu ia bisa bebas dari tatapan paling dibencinya sekaligus paling disukainya. Tatapan seorang Xi Luhan.

Otaknya tak berhenti berfikir, tadi Luhan menyuruhnya menunggu saat namja itu mengambil motor di parkiran. Tapi belajar dari pengalaman, Taeyeon tak ingin dekat- dekat namja dingin perfert itu. Langsung saja ia masuk ke mobil Sooyoung saat melihat sepupunya itu.

“Mianhae” Setelah lama terdiam di dalam mobil, akhirnya Sooyoung memulai pembicaraan. Taeyeon mengerti maksud dari wanita tinggi semampai itu.

“Kenapa harus meminta maaf? Aku sudah tidak ada hubungannya dengan Kai” Jawab Taeyeon.

Mendengar jawaban dari gadis di sampingnya Sooyoung malah semakin resah. “Aku pasti sudah menjadi sepupu paling jahat sedunia. Aku seperti menikammu Taeyeon-ah mianhae” Katanya penuh rasa bersalah.

Taeyeon tersenyum, “Kau tahu? Aku malah lega saat mendengar kalian berpacaran” Sooyoung tentu menatap tak percaya. Dia kira reaksi Taeyeon akan marah atau paling tidak kesal. Tapi yang terjadi malah diluar bayangannya.

“Kau memang susah di tebak Taeyeon”

“Kau tahu? Kai adalah pria terbaik di dunia. Bisa dicintainya adalah impian semua wanita. Seandainya aku bisa mencintai namja itu pasti aku akan menjadi wanita paling beruntung di dunia” Jawab Taeyeon seraya menundukkan kepala tersenyum.

Sooyoung menatap sepupunya itu lalu ikut tersenyum. “Lucu sekali. Cinta memang tidak bisa diatur. Terkadang ingin mencintai seseorang tapi tidak bisa, atau lebih parah tidak ingin mencintainya tapi malah . . . “ Mereka terkekeh pelan.

Taeyeon memandang keluar jendela, “ Sooyoung-ah”

“Wae?”

“Boleh aku meminta sesuatu?”

“Tentu”

Taeyeon terdiam membuat Sooyoung menoleh sedikit. Gadis itu tertawa kemudian bersuara kembali. “Jaga namja itu dengan baik, jangan menyia- nyiakan dia seperti kesalahan yang sudah kulakukan”

Sooyoung terenyuh akan kata- kata Taeyeon. Gadis itu tersenyum dan menjawab dengan pasti. “Tidak akan. Lelaki sempurna itu tak akan kusia- siakan walaupun ingin”

-____________-

Taeyeon melambaikan tangan kepada mobil Sooyoung yang sudah melaju di jalan raya. Senyum terukir di wajah mungilnya. Gerbang ia dorong, dan dengan riang ia berjalan dengan lompatan- lompatan kecil melewati halaman rumahnya.

“Kau senang menghindariku?” Lutut Taeyeon terasa seperti karet yang di panaskan. Mulutnya yang tak bisa lagi tertutup disertai leher kaku yang tak bisa menoleh lagi. Suara Luhan di belakangnya membuat waktu seakan berhenti.

‘Taeyeon lawan, dia bukan siapa- siapamu. Kenapa kau harus takut?’ Taeyeon meyakinkan diri dalam fikirannya. Tapi sayang itu hanya fikiran semata. Nyatanya saat Luhan menarik lengannya, kakinya dengan kokoh berjalan mengikuti. Nyatanya saat namja itu memakaikan helm dan mengikat jaket dipinggangnya ia hanya diam memperhatikan. Kenyataan macam apa itu? Taeyeon merasa saat ini tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu.

“Naik!” Taeyeon tak bergerak. Sekuat tenaga ia melawan dirinya sendiri. Tak bisa seperti ini.

Ia menarik nafas dalam kemudian mengeluarkan suara, “Luhan-sshi kau tak berhak memperlakukanku seperti ini” Ucapnya. Tangan mungil yang ia miliki bergerak membuka helm namun terhenti karena tangan Luhan yang memasang pelindung kepala itu kembali.

Mata bening itu memiliki butiran- butiran seperti air di dalamnya, entah sejak kapan mata gadis itu beralih pada mata Luhan dan menyebabkannya tak bisa berkutik. Kelemahan utamanya adalah berhadapan dengan orang tampan. Dan pria di depannya lebih dari sekedar itu.

“Kau yang datang padaku Taeyeon-sshi” Ucap Luhan. Taeyeon tak langsung menjawab, tanpa sadar ia terus menatap mata namja itu tanpa berkedip. Untuk sementara waktu ia terhipnotis sampai akhirnya ia menggeleng- gelengkan kepalanya sendiri.

“Omo! Apa yang terjadi padaku?” Tanya Taeyeon tanpa memikirkan Luhan yang pasti mendengar perkataanya. Diperbaiki nafas yang sudah memburu sehingga rasa sesak yang membuncah di hatinya sedikit berkurang. “Luhan-sshi sepertinya aku salah mengira. Kukira kau lelaki yang dingin dan tidak banyak bicara. Bahkan kemarin kau terus mengabaikanku, tapi kenapa sekarang kau seperti ini?”

Taeyeon menelan ludah setelah mengeluarkan pertanyaannya. Luhan turun dari motornya hingga ia harus mendongak memandang namja itu. “Kau tahu kenapa? Karena aku memberimu kesempatan untuk menjauhiku. Tapi kau malah mendatangiku, jadi sekarang kau tak akan lepas dariku” Ucapnya. Penuh hasrat ia memegang pipi Taeyeon yang mulai menampakkan ekspresi gugup. Mulut Luhan yang terbuka kala menatapnya membuat Taeyeon merasakan sesuatu yang janggal.

Taeyeon mendorong tubuh Luhan saat lagi- lagi namja itu mendekatkan wajahnya. “Lalu kenapa kau duduk di sampingku jika kau ingin menjauh dariku?” Taeyeon melanjutkan pembahasannya. Terlihat ekspresi malas di wajah Luhan, disaat seperti ini tak ada pentingnya membahas persoalan itu.

“Aku hanya ingin mengetahui apa kau menyukaiku atau tidak” Kedua mata Taeyeon tertutup mendengar jawaban itu. Ia menenangkan diri sebaik mungkin untuk tidak mendaratkan tamparan di wajah Luhan. Perkataan namja itu membuat darahnya semakin panas oleh amarah.

“Kau mempermain . . . “

Belum saja selesai Taeyeon mengucapkan kalimatnya rasa nyeri di kedua pundaknya terasa. Luhan dengan tatapan horror itu lagi. Mututnya terkunci rapat, dari mata rusa namja dihadapanya ia dapat merasakan amarah. “Aku tidak suka perkataan itu Taeyeon-sshi. Kau tahu itu, aku tidak mempermainkanmu”

“Saat kau menjauhiku aku sudah bersikap biasa saja, aku sudah mempersiapkan segalanya untuk melepaskanmu. Tapi kau datang padaku Kim Taeyeon” Lanjut Luhan.

Tak ada kata- kata yang bisa Taeyeon keluarkan lagi. Ia menyumpahi dirinya sendiri dengan segala perkataan buruk. Ia yang menyebabkan Luhan seperti ini. Tapi dilain pihak dia sendiri tak pernah tahu kalau Luhan akan semenakutkan ini. apakah ia bisa bertahan dengan sikap seperti itu? Tapi bagaimana ia bisa mengakhirinya?

-____________-

“Shiro, eomma sudah berjanji. Aku tidak mau ke Beijing” Taeyeon mengerutkan bibirnya kesal. “Memang kenapa kalau perusahaan appa berkembang? Eomma aku tidak mau, ayolah eomma dan appa pulang ke Korea dan hidup seperti biasa. Lagipula aku tidak bisa bahasa China”

“ . . . . . “

“Pokoknya Shiro shiro shiro” Taeyeon membanting ponsel yang tadi berada di telinganya ke atas ranjang. Belum selesai ia memikirkan si pria ‘nano-nano’ sekarang ia harus berkutat dengan permintaan eommanya. Pindah ke beijing? Heol tidak akan.

Taeyeon melirik Iphone 6 berwarna biru muda yang baru saja ia banting di tempat tidurnya. Ponsel itu bergetar disertai suara- suara berisik yang menggagu pendengarannya. “Sejak kapan aku mempunyai nada dering seperti itu?” Omelnya pada diri sendiri. Awalnya Taeyeon mengira bahwa nama eomma yang akan bertengger di layar ponselnya. Tapi ternyata tidak.

“Lu . . .Luhan?” Gumamnya gelagapan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, sedangkan kakinya sudah melompat- lompat kecil refleks. Bingung, jika dia mengangkat panggilan itu, Luhan pasti akan meminta sesuatu yang macam- macam. Contohnya saja saat terakhir kali namja itu menelfonnya, dia dengan santai menyuruh Taeyeon datang ke rumahnya. Perempuan mengunjungi seorang namja? Really?

Tapi kalau tidak diangkat, bisa- bisa kejadian beberapa hari yang lalu juga akan terulang lagi. Saat itu Taeyeon mengabaikan panggilan Luhan. Dan tebak apa yang terjadi? Namja itu datang ke rumah Taeyeon dan menarik yeoja itu keluar seperti anjing peliharaan. Mengajaknya berkeliling dengan motor. Tampak sederhana memang, tapi kecepatan motor yang Taeyeon bersumpah dapat menandingi kecepatan Marc Marquez membuatnya schok berat.

Dan akhirnya lagu ‘Bang Bang Bang’ yang dilantunkan oleh BigBang itu berhenti. Taeyeon membulatkan mata, terlalu lama ia berfikir sampai akhirnya ia berada di kejadian kedua. Keringat dingin sudah menetes di dahi mulusnya. “Ottoke? Ottoke?”

Tok . . . tok . . . tok . . .

“Nona Tuan muda Xi menunggu di ruang tengah” Heol. Tidak salah lagi, suara ahjumma membuat jantungnya berpacu sangat cepat. Bibirnya yang sejak tadi menjadi incaran pengurang rasa takut sudah hampir berdarah digigitnya.

Dengan jari yang bergetar ia memencet sesuatu, ponsel ia taruh di telinganya. “Eomma . . . . aku ingin pindah ke Beijing”

-____________-

Taeyeon berjalan dengan wajah paling tidak senang seumur hidupnya. Bibirnya tidak berhenti menyucapkan sumpah serapah kepada namja dingin yang berjalan mendahuluinya. ‘Memang dia fikir dia siapa?’ Batin Taeyeon. Ia seperti gadis pengecut yang hanya berani menyampaikan bahasa kasar dalam benaknya sekarang.

“Omo!” Taeyeon memegangi dahinya saat ia tak sengaja menabrak sesuatu di depannya. Luhan, namja itu berhenti tanpa ba bi bu membuat Taeyeon yang berjalan dengan fikiran berisik menubruknya. “Ya!” Taeyeon berteriak kasar tapi saat Luhan berbalik ia hanya bisa tersenyum dan memelankan suaranya. “Kau harus bilang kalau mau berhenti” Ucapnya canggung.

Luhan menatapi wajahnya tanpa mengatakan sesuatu. Merasa ditatapi Taeyeon mengalihkan pandangannya sembarang arah. “Wah dingin sekali disini” Gumamnya tersenyum menatap Luhan, ia ingin mengalirkan suasana canggung sebenarnya. Hanya saja lelaki di hadapanya tetap menatapnya tanpa berkedip. Apa boleh buat Taeyeon tak bisa menyembunyikan gerak geriknya yang sangat jelas dia sedang salah tingkah.

Di tengah ia merututi Luhan yang terus mantapnya, tak terasa kepalanya terangkat. Jemari lembut sudah menyentuh dagunya memaksa matanya bertemu dengan namja itu.

Deg deg deg . . .

Suara jantung Taeyeon serasa terdengar sampai ke telinganya sendiri. Sebelumnya ketika Luhan menatapnya dia tak pernah berani membalas, mungkin karena takut pada namja dingin itu. Tapi sekarang dia menyadari, ada rasa nyaman saat mata mereka bertemu. Perasaan membuncah yang membuatnya tak ingin melepas matanya dari itu.

Luhan meraih tangan Taeyeon pelan, tanpa disanggahpun Taeyeon tak beralih sekarang. Ia terhipnotis. “Wae? Kau seperti takut padaku” Ucap Luhan sangat pelan. Aroma mint menerpa wajah Taeyeon. Gadis itu mendapati aura kecewa dalam mimik muka Luhan. Entah kenapa, Luhan terlalu sulit untuk di tebak.

Kedua tangan Taeyeon terangkat bersama dengan jemari Luhan yang menggenggam tangannya. Nafas segar itu tertiup di tangannya, sangat hangat. Detik berikutnya senyum terukir di wajah innocent namja itu. Taeyeon sampai tak bisa menarik nafas karenanya. Lebih- lebih saat kepalanya sudah terdorong ke dada bidang Luhan.

“Lu . .. Luhan-sshi tak bo . . . “

“Sssst” Taeyeon berhenti memberikan penolakan. Kedua tangannya masih menahan dada Luhan agar tidak terlalu rapat padanya. Rambutnya tersapu oleh desahan kasar Luhan. Entah apa yang mengganggu fikiran namja itu. “Jangan takut padaku” Ucap Luhan

Seandainya bisa Taeyeon ingin mengatakan banyak hal. Bagaimana mungkin dia tidak takut pada namja yang sifatnya berubah- ubah, suka seenaknya seperti itu. Tapi fikirannya teralihkan. Ada yang lebih menarik saat ia menyadari sesuatu.

Kedua tangannya merasakan debaran kencang, bukan dari jantungnya tapi dari dada bidang namja itu. Taeyeon sulit berfikir, apakah namja dingin seperti itu juga bisa berdebar- debar? Tidak mungkin. Akhirnya ia memilih menurunkan tangannya, karena tubuh yang jauh lebih pendek Taeyeon dapat meletakkan telinganya tepat di dada namja itu.

Dan betapa terkejutnya dia, jantung yang berburu sangat identik dengan apa yang dia rasakan sekarang. Karena itu ia semakin merasakan kehangatan, apalagi Luhan yang semakin mendorongnya membuat ia semakin merasakan sesuatu yang seolah ingin disampaikan namja itu tanpa berbicara. Taeyeon merasakan ketulusan.

“Saranghae Taeyeon-ah” Taeyeon merasakan sesuatu yang menyenangkan dalam tubuhnya. Dari awal ia sudah sadar pada rasa tertariknya kepada Luhan. Tapi ia tak tahu kalau akan sejauh ini. rasa ingin memiliki dan tak ingin kehilangan sesuatu kembali menerpanya.

Tanpa sadar tangannya terangkat, bibirnya bergerak di luar kontrol. “Nado . . . .Luhan-ah”

-____________-

Senyum Taeyeon mengudara menghiasi dapur keluarga Kim. Hari ini ia sangat bahagia, bunga- bunga beraroma harum seperti mengisi dadanya. Bibirnya tak berhenti tertarik ke samping membuat aura kecantikan seorang Kim Taeyeon benar- benar keluar.

Hari ini dia ingin membuat Omurice makanan kesukaannya. Tapi sudah beberapa kali telur yang harusnya membungkus nasi goreng itu selalu berwarna coklat kehitaman dikarenakan Taeyeon yang selalu merenung. Entah sudah berapa kali hal itu berulang, tapi bukannya kesal ia malah tertawa. Gadis itu seperti orang gila saat ini.

Ting tong . . .

Belum selesai suara bel, Taeyeon dengan celemek masih menempel di tubuhnya berlari keluar. Ia berharap- harap cemas sebelum membuka pintu. Dan raut kecewa tidak terhindar saat yang dinginkan ternyata berbeda dengan kenyataan.

“Annyeong ahjumma” Sapa Taeyeon kepada Nyonya Xi yang membalas dengan sapaan yang sama.

“Wah kau tengah memasak, ah padahal ahjumma datang membawa ini untukmu” Nyonya Xi memberikan kotak makanan kepada Taeyeon. Dengan riang gadis itu menyambutnya.

“Ah ani ahjummah. Sebenarnya aku belum memulainya” Taeyeon dengan sedikit kebohongannya menjawab. Padahal sudah jelas sekali bekas- bekas adonan makanan yang menempel di wajah dan celemeknya sudah membongkar kebohongannya itu.

Ahjumma itu hanya tertawa kecil, ia menatap Taeyeon sebentar kemudian berucap. “Kau cantik sekali. Pantas saja Luhan tertarik padamu” Ucapan wanita parubaya itu membuat pipi Taeyeon bersemu merah. Alasan mengapa ia tidak bisa tidur, dan masakan gagalnya adalah putra dari Nyonya Xi.

“Taeyeon-ah kau tahu? Kau gadis pertama yang ia tanyakan padaku” Tambah Nyonya Kim membuat Taeyeon menghentikan senyum bodohnya.

“Menanyakanku?”

“Yah! Saat ahjumma membawakanmu kue beras hari itu, dia langsung menanyakan namamu padaku” Taeyeon mengangguk pelan. Pantas saja Luhan langsung mengetahui namanya sebelumnya. Tapi selain itu ia tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Berarti dari awal Luhan sudah memperhatikannya.

Nyonya Xi yang tampak mengerti akan ekspresi Taeyeon hanya tersenyum geli. “Kau harus ekstra bersabar dengan Luhan Taeyeon-ah. Selama ini dia tidak pernah awet dalam menjalin hubungan karena sikapnya.” Taeyeon menatap Nyonya Xi dengan tatapan tanya. “Dia pria dengan kepribadian dingin, tapi percayalah dia menyayangimu sangat banyak. Namun sayangnya dia tipe orang yang tidak tahu cara menunjukkan rasa sayang itu”

Taeyeon mangguk- mangguk, fikirannya melayang jauh. Ia sadar betul pada sikap Luhan yang tidak pengertian. Dan alasan mengapa dia seperti itu karena dia tidak tahu bagaimana menunjukkan hatinya kepada Taeyeon?

Nyonya Xi mengusap kepala Taeyeon sayang. “Kau wanita yang baik. Kuharap kalian akan bahagia”

-____________-

Hari itu Luhan menjemput Taeyeon untuk pergi ke sekolah bersama. Senyum manis ia lemparkan kepada namja itu saat keluar gerbang dan melihat Luhan sudah berdiri di depan motornya. Luhan membalasnya dengan senyuman tak kalah manis. Bubur- buru ia memasang helm di kepala Taeyeon dan mengikat jaket miliknya ke pinggang gadis itu.

Taeyeon memperhatikannya, gerakan tangan namja itu saat menyentuhnya sangat lembut seakan tak membiarkan satu rambutpun rontok dari kepalanya. Saat ia mengikatkan jaket, bebarapa kali ia bertanya apakah ikatan itu terlalu keras atau tidak. Taeyeon tersentuh.

Luhan menaiki motornya diikuti oleh Taeyeon di belakang. Tanpa menunggu lengan Taeyeon sudah melingkar di pinggang namja itu. Luhan terlihat kaget terbukti dengan dirinya yang diam tanpa menyalakan mesin motornya. “Wae? Kau tidak mau ke sekolah?”

Pertanyaan Taeyeon yang bermaksud jahil membuat motor Luhan mulai bergerak. Gadis itu benar- benar menikmati tubuh Luhan. Ia tak perduli jika debaran jantungnya terasa oleh namja itu. Yang ia tahu sekarang senyuman tak bisa lepas dari bibirnya.

Baru saja turun dari motornya setiba di sekolah seseorang dengan keras memanggil yeoja itu. “Taeyeon-ah” Taeyeon menoleh. Kai dengan senyuman lebar mengayunkan tangannya tanda memanggil Taeyeon. Tanpa melihat Luhan gadis itu berlari ke arah Kai. Ia tersenyum lebar, sudah lama ia tidak berbicara dengan Kai.

“Taeyeon-ah aku ingin bertanya sesuatu” Kai nampak girang. Tangannya memegang lengan Taeyeon dengan senyuman lebar. Taeyeon ikut merasakan kebahagiaan namja yang sekarang berstatus sebagai sahabatnya itu.

“Wae?”

Kai tampak malu- malu dengan perkataan Taeyeon. “Hmmm ini tentang . . . Sooyoung” Taeyeon tersenyum geli saat Kai terliat nervous saat mengucapkan nama sepupunya. Di lain sisi ia senang namja itu seperti sudah tidak memiliki perasaan padanya.

Kai banyak bertanya tentang benda- benda ataupun hobby Sooyoung dengan antusias. Taeyeonpun merespon dengan sangat baik. Bahkan saking asyiknya ia sampai lupa bahwa ada Luhan yang sedang menatapnya tak suka.

Lain dengan Kai yang merasakan aura tidak nyaman Taeyeon malah makin tertarik pada percakapan mereka. “Hmmm Taeyeon-ah pacarmu menunggumu. Lebih baik aku pergi dulu, nanti kita lanjutkan oke?” Kai menyudahi. Taeyeon nampak kaget setelahnya, ia benar- benar lupa bahwa Luhan sedang bersamanya tadi.

Taeyeon berbalik setelah Kai pergi menjauh. Ia melihat Luhan berdiri di dekat motor menatapnya dengan horror. Gadis itu hanya bisa tersenyum canggung. Begitu sampai di depan Luhan ia mulai pada kebiasaan pengecutnya, menunduk. “Hmmm Luhan mia . . .”

Perkataan Taeyeon terputus. Luhan meluruskan kepala Taeyeon ke depan. Dengan lembut namja itu membuka helm yang tanpa disadari gadis itu bahwa benda berbentuk setengah lingkaran sejak tadi berada di kepalanya. Kemudian jaket di pinggang Taeyeon ia lepas dan memasangnya di tubuh Taeyeon. Tanpa mengatakan apa- apa Luhan berlalu.

Perasaan bersalah masih memenuhi benak Taeyeon. Luhan yang seperti ini malah membuatnya semakin takut. Lebih baik namja itu bersikap dingin dan mencacinya ketika marah. Daripada bersikap manis tapi tidak mengatakan apa- apa. Dia bingung.

“Luhan-ah mianhae” Ucap Taeyeon pelan setelah sampai di kelas seraya menatap namja yang duduk disampingnya. Luhan tak menjawab, ia hanya diam. “Kau marah padaku?” Taeyeon tak menyerah ia terus mengajak lelaki itu berbicara sampai akhirnya Luhan luluh dan beralih menatapnya.

Bukannya suara yang dikeluarkan, Luhan malah menarik punggung Taeyeon mendekat. Memeluknya pelan tanpa memperdulikan tempat dan situasi. “Aku yang harusnya minta maaf karena tidak menahan diri” Ucapnya. Taeyeon mengagguk dan membalas pelukan Luhan. Sepertinya skinship akan menjadi kebiasaan mereka.

-____________-

Taeyeon melahap habis ramennya tanpa memperdulikan tatapan horror kedua sahabatnya. Bahkan bukan hanya kedua sahabatnya seisi kantin- pun menatapnya dengan tatapan tidak suka.

“Kau masih bisa makan dengan tenang Kim Taeyeon?” Tanya Yoona sarkastik.

Seohyun mengangguk setuju, “Ya! Kalau kalian ingin bermesraan jangan di sekolah. Lihatlah anak- anak sekarang bergosip yang tidak- tidak padamu” Tambah gadis termuda diantara mereka bertiga itu.

Taeyeon tak bergitu peduli, dengan tenang ia menatap kedua sahabatnya. “Terserah mereka. Yang penting sekarang aku bahagia”

Kedua gadis berwajah mirip itu merotasi mata mereka. “Wah Seohyun, gadis ini benar- benar jatuh cinta pada lelaki itu”

“Sangat” Taeyeon menimpali membuat Seohyun yang Yoona menunjukkan ekspresi ingin muntah mereka. Taeyeon terkikik geli melihat keduanya. Entah sejak kapan ia jatuh hati pada Luhan, tapi sekarang ia hanya menyadari bahwa rasa itu semakin besar. Sikap Luhan yang berubah- ubah pada awalnya membuat dia kesal. Tapi sekarang dia sadar, mungkin Tuhan sengaja mempertemukan dia dengan namja seperti itu agar ia tidak mudah bosan.

Seohyun dan Yoona saling menatap dengan ekspresi tidak senang dengan kepala menggeleng. Taeyeon yang tersenyum sendiri membuat keduanya bergidik ngeri.

“Dia sudah gila” gumam mereka. Taeyeon hanya mengangkat bahu kemudian meminum air ramennya dengan lahap.

-____________-

Taeyeon agak kaget saat pulang ke rumah, saat itu ia baru saja sampai setelah mengerjakan tugas di rumah Yoona. Sebuah mobil sedan berwarna putih terparkir di depan rumahnya. Dahinya mengeryit, mobil itu tidak asing lagi. Detik berikutnya senyuman lebar terukir di wajahnya dan berlari dengan riang memasuki halaman rumah.

“EOMMAAA” Teriak Taeyeon saat melihat eommanya yang sedang berusaha mengeluarkan koper dari rumah. Nyonya Kim tersenyum manis, ia menyambut pelukan Taeyeon dengan tangan terbuka lebar. “Kenapa eomma tidak bilang akan pulang?” Taeyeon bertanya dengan nada manja. Dia sangat merindukan eommanya.

Nyonya Kim melepas pelukannya dan mengelus rambut anak satu- satunya itu. “Anggap saja ini kejutan.”

“Appa mana?”

Nyonya Kim merengut kesal, sangat mirip dengan Taeyeon saat menunjukkan ekspresi seperti itu. “Appamu sibuk jadi eomma saja yang datang menjemputmu”

Perkataan eommanya membuat Taeyeon kaget setengah mati. Kata- kata tidak bisa keluar dari mulutnya, air mukanya berubah. Menjemput untuk apa?

“Eomma . . . . aku ingin pindah ke Beijing”

“Omo!” Taeyeon merasakan lututnya melemas sampai ia harus duduk di lantai depan rumahnya.

“Taeyeon-ah wae?” Nyonya Kim bertanya khawatir. Sementara Taeyeon yang sudah merasakan kekagetan luar biasa. Saat itu ia mengatakan ingin ke Beijing hanya karena kesal pada Luhan. Ia tak berfikir banyak setelah itu, tapi untuk sekarang ia menyadari itu adalah kesalahan besar. Ia tak bisa meninggalkan kotanya, sahabatnya, terutama namjanya.

“Taeyeon-ah . . . Taeyeon-ah . .. “ Eomma sedikit menggoncang badan Taeyeon, gadis itu seperti kehilangan nyawa saat itu. Wajahnya yang pucat pasih membuat eommanya khawatir setengah mati.

Taeyeon menatap Eommanya, air mata penyesalan sudah keluar dari pelupuk mata sipitnya. “Eomma, aku tidak ingin pindah” Ucapnya parau. Ia menunduk menyesal dan memeluk eommanya.

Lama Nyonya Kim diam sampai akhirnya membuka suara. “Taeyeon-ah . . . kamu sendiri yang mengatakan ingin ke Beijing. Jadi sekarang kenapa?” Tanyanya lembut, dihapusnya air mata yeoja itu.

“Aku . . . aku tak bisa menjelaskannya eomma. Tapi aku tak mau pergi”

“Tidak bisa Taeyeon. Ayahmu sudah menyerahkan posisinya sebagai direktur kepada Choi ajhussi disini dan memutuskan untuk tinggal di Beijing. Bahkan surat pindahmu sudah eomma urus dan terakhir barang- barangmu akan segera di kirim ke sana.” Nyonya Kim tampak menyesal setelah melakukan itu semua. Melihat anaknya yang malah makin bersedih membuatnya memeluk gadis mungil itu dengan lembut.

Taeyeon tak tahu lagi harus berbuat apa. Semuanya salahnya, apa yang harus ia katakan pada kedua sahabatnya, dan apa yang harus ia katakan pada Luhan. Apakah lelaki itu akan membencinya setelah ini? ia benar- benar pusing namun ia tak bisa mengeluarkannya. Hanya suara tangis yang menjelaskan semuanya. Betapa sakit yeoja itu, betapa sesak dadanya. Dan betapa terluka hatinya. Semuanya tidak berguna sekarang.

-____________-

Dari sebuah kotak kecil berbentuk kubus namja itu memandangi sebuah cincin berwarna silver manis. Benda berbentuk lingkaran itu memiliki tulisan di dalamnya ‘Kim Taeyeon’. Namun desahan nafas kasar terlempar dari mulut mungil milik sang namja. Sesuatu menggangu fikirannya.

Ingatannya kembali melayang pada kejadian yang beberapa jam lalu baru menimpanya. Saat itu pukul 03.00, Luhan berniat memberikan kejutan kepada yeojanya. Tapi bukan yeoja yang dirapkannya berada di rumah itu, melainkan wanita parubaya yang nampak asing.

“Annyeong haseyo, Taeyeon ada di rumah ahjumma?” Tanya Luhan sopan. Sejenak ia menatapi wanita yang tersenyum manis kepadanya. Ia menemukan kemiripan antara sang wanita dan Taeyeon sehingga detik itu juga ia menyadari siapa dia.

“Ah annyeong haseyo. Ahjumma belum bertemu dengan anak itu tadi. Nuguya?” Tanya ahjumma itu.

“Luhan. Xi Luhan yang tinggal di samping rumah ini”

“Oh jadi tetangga baru itu. Ah kau tampan sekali” Luhan agak kikuk saat nyonya Kim memujinya. Entah kenapa ia merasa sangat senang, mungkin karena ia eomma seorang Kim Taeyeon?

Luhan menatapi barang- barang di rumah itu yang sudah di bungkus dengan kain putih. Bahkan ruangan nampak kosong, hanya terdapat sofa itupun dengan meja polos tanpa vas ataupun toples kue seperti biasanya.

Nyonya Kim mengikuti arah padangan Luhan dan ia mengerti maksud tatapan tanya namja itu. “Ah ahjumma ingin pindah ke Beijing bersama Taeyeon. Apa dia belum bilang kepadamu?”

Raut wajah Luhan bingung bercampur kaget. Dag dig dug ia rasakan di jantungnya. Namja itu tidak bisa berkata apa- apa karena lidah yang sudah kelu. Pindah ? siapa? Taeyeon? Luhan tak mengerti lagi, apa yang terjadi?

-____________-

Mata yeoja itu membengkak, muka dan hidungnya memerah seperti telah diguyur salju di musim dingin. Raut mukanya menahan air yang selalu memaksa keluar dari pelupuk matanya. Ia berdiri di depan pintu sekarang, namun ia tak bisa mengetuk karena matanya tak berhenti mengeluarkan cairan putih bening itu.

Sesekali terdengar dari mulutnya sebuah desah tangis menyayat hati. Ia sangat terluka. Ia tak menyadari seseorang di balik pintu mendengar itu. Namja dengan mata yang juga terlihat menahan tangis, sejak tadi ia berusaha menatap langit- langit agar menahan sesuatu yang sudah membuncah itu. Yah dia melihat gadis itu datang dari atas balkon rumah. Tapi ia terlalu takut untuk membuka pintu ber-cat putih. Ia takut dengan kata selamat tinggal yang mungkin akan diucap gadisnya.

Taeyeon terduduk, ia tak sanggup. Gadis itu tahu Luhan sudah mendengar dari eommanya tentang kepindahannya. Rasa takut semakin menerpanya, bagaimana jika namja itu tidak mau bertemu lagi dengannya? Bagaimana jika dia tidak mau mendengar penjelasan Taeyeon? Ia tak ingin pergi, tapi jika tidak ia akan menyakiti hati kedua orang tuanya.

Suara kayu yang bergesekan dengan keramik terdengar oleh telinga Taeyeon, gadis itu mengengok. Luhan dengan wajah pokernya terlihat di balik pintu. Gadis itu bergegas berdiri dan langsung berlari memeluk namja itu. Sangat erat sampai Luhan terbatuk kecil.

“Uhuk. Ya! Kim Taeyeon kau ingin membunuhku?” Ucap Luhan tapi gadis itu tak perduli. Walaupun Luhan akan menatapnya dengan horror ia tidak akan menunduk sekarang. Walaupun namja itu memarahinya dengan dingin ia tak akan merasa takut. Ia hanya menginginkan satu hal. Bersama dengan namja itu. Xi Luhan.

Pungguk Taeyeon bergetar, suara tangis mulai menghiasi pendengaran Luhan. Begitu pula namja yang sedang mengerjapkan matanya, ia tak boleh lemah di depan Taeyeon. Jika tidak, gadis itu akan semakin merasa bersalah dan Luhan paling tidak suka gadisnya menangis karenanya.

“Ya! Aku tak suka gadis cengeng. Uljima” Luhan berusaha melepas pelukan Taeyeon dengan memegang pundah kedua gadis itu agar sedikit menjauh. Tapi Taeyeon dengan kokoh melingkarkan tangannya di pinggang Luhan.

“Kau mau mati?” Ucap Taeyeon tangannya memukul bagian belakang Luhan. “Ya! Namja brengs*k, kenapa kau selalu begini padaku hah? Bersikap dingin, mengacuhkanku. Kau selalu berubah- rubah. Kau fikir kau siapa hah?” Taeyeon mengeluarkan semua isi fikiran yang selama ini dia simpan.

Luhan hanya menerimanya, saat gadis itu memukulnya ia membiarkannya. Apapun yang gadis itu katakan ia mendengar dengan saksama. Bola matanya sudah terlalu letih berotasi menahan sesuatu. “Sampai kapan kau berpura- pura dingin dengan suara paraumu hah? Sampai kapan kau akan berpura- pura tidak tahu segalanya. Xi Luhan aku membencimu” Taeyeon semakin meledak. Tangisnya pecah.

“Aku membiarkanmu memperlakukanku seenaknya. Aku membiarkanmu mengatur hidupku. Tapi kenapa kau diam saja sekarang hah? Kau bahkan tidak menghentikanku? Kau menganggapku apa Xi Luhan? Haaaaa . . . “ Seperti gadis yang sedang mengemis cintanya pada seseorang Taeyeon terus menghujani Luhan dengan kata- katanya. Ia kesal karena namja itu selalu bersikap acuh pada segala sesuatu, bahkan disaat seperti ini.

Luhan menghembus kasar, setetes air jatuh dari matanya. Namja itu dengan sigap menghapusnya. Ditegakkannya tubuh Taeyeon sehingga membuat jarak antara mereka. “Nappeun namja haaaa . . . hiks . . . “ Luhan menatapi Taeyeon yang semakin menangis.

“Ya! Kim Taeyeon bukankah seharusnya aku yang marah padamu?” Luhan berrusaha tenang dengan mencoba menggoda Taeyeon. Tapi perkataan justru membuat gadis itu semakin meledak- ledak tangisnya.

“Haaa . . . ha aku membencimu, sungguh aku . . . “ Jari telunjuk Luhan membungkam mulut mungilnya yang sudah basah karena air mata. Taeyeon masih menangis sendu namun dengan mulut tertutup dan suara tertahan.

Dengan tatapan sayang namja itu mengingkirkan rambut Taeyeon yang lengket di wajahnya karena lembab bekas air matanya. Taeyeon menatap dalam- dalam mata Luhan. Sesuatu yang tak bisa Luhan katakan tersampaikan lewat tatapannya.

“Mian Luhan-ah, aku tidak bermaksud . . . . “

“Ya! Jangan mengatakan apapun” Luhan menghentikan kalimat Taeyeon. Namja itu mengusap pipi yeojanya. “Kau sudah berbicara sangat banyak Nona Kim” Tangan Luhan beralih mengusap benda mungil berwarna pink strowberry yang membuat Taeyeon hanya bisa diam mematung.

“Tapi . . . “

“Aku tahu. Ya! Kau menangis seperti tidak akan bertemu aku lagi. Bukankah sudah kukatakan kau milikku? Jadi tidak usah khawatir, kau harus kembali jika sudah dewasa nanti arra?” Luhan mengucapkan kalimatnya dengan lirih. Ia menyapu wajah Taeyeon dengan nafasnya. Selangkah ia semakin mendekat menghapus jarak di antara mereka.

“Aku tak ingin pergi” Taeyeon berucap dengan suara parau. Hampir saja gerombolan air mata tumpah dari matanya lagi dan lagi.

“Sssttt Ya! Siapa bilang kau akan pergi? Anggap saja ini sebagai percobaan untuk kita. Selama kau tidak disini aku akan berlajar untuk memahamimu, dan disana kau harus menetapkan hatimu padaku. Sekarang kita masih terlalu kecil Taeyeon-ah. Jika dewasa nanti kau akan semakin yakin dan tidak akan bosan lagi padaku. Bagus kan?” Taeyeon tersenyum kecut mendengar perkataan Luhan.

“Lalu bagaimana jika aku bosan? Bagaimana jika aku tidak kembali?”

Luhan menatap wajah Taeyeon yang sudah kembali basah karena kesedihannya. “Kau memiliki utang penjelasan padaku. Aku sangat marah karena kau memutuskan pindah ke Beijing tanpa meminta izin Kim Taeyeon. Maka dari itu kau harus kembali membayar utangmu, kalau tidak aku yang akan datang menagihnya. Arra?”

Taeyeon mengangguk kecil dipaksakan. Mereka saling menatap untuk sementara waktu. Dalam masa yang singkat ini mereka baru merasakan betapa pentingnya keehadiran satu sama lain disaat- saat terakhir. Taeyeon yang memang sudah tak bisa menahan emosinya mulai menangis entah yang keberapa. Besok matanya mungkin tak bisa terbuka karena bengkak.

Luhan menjalarkan lengannya ke pinggang Taeyeon menarik yeoja itu merapat pada tubuhnya. Satu tangannya ia pakai untuk menopang dagu Taeyeon. “Aku sudah bilang. Aku tak suka diabaikan”

Wajah Luhan mendekat, refleks Taeyeon menutup matanya. Sesuatu yang selalu tertunda selama ini entah karena beberapa hal yang selalu menjadi penghalang. Luhan menempelkan bibir kemerahannya ke benda mungil serupa di wajah Taeyeon. Hisapan kecil tercipta sedikit demi sedikit. Merasakan segala kerinduan dan kesedihan.

Luhan menutup pelupuk matanya. Mukanya mengkerut menggambarkan perih mendalam. Ia tak pernah bisa menunjukkan perasaannya. Tapi air mata yang sudah menetes mewakili segala sesuatu yang mengganjal di hatinya. Terkadang rasa sakit hanya bisa disimpan oleh seseorang, tapi ada waktu dimana semuanya membuncah dan itu adalah saat ketika orang itu tak bisa mentolerirnya lagi.

‘Saranghae Kim Taeyeon. Aku akan menunggumu’

***

Hari itu adalah hari perpisahan mereka. Entah takdir akan mempertemukan mereka kembali atau tidak. Setiap hari Luhan selalu menyempatkan diri berdiri di atas balkon rumah berharap Taeyeon akan muncul di depan gerbang dan duduk di atas ayunan di bawah pohon. Selalu seperti itu, setiap hari sampai hari berganti bulan dan bulan berganti tahun.

Hatinya sedikit gelisah, apakah gadis itu akan bosan mengingatnya? Apakah cinta gadis itu sudah pudar padanya? Tapi mengingat Taeyeon berutang penjelasan padanya membuat namja itu optimis bahwa gadisnya akan datang suatu saat nanti. Saat dimana mereka sudah dewasa. Yakni saat ia sudah dapat mengekspresikan rasa cintanya, saat gadis itu sudah mantap pada hatinya. Itu pasti akan menjadi hari paling membahagiakan.

Di tengah lamunannya, suara kaki dari arah belakang terdengar oleh indera pendengaran miliknya. Ia menengok, nyonya Xi dengan senyum girang berlari kecil ke arahnya.

“Luhan-ah . . . . . . .

Dia datang”

 

*END

Mian telat soalnya WIFI dirumahku lagi bermasalah, jadi dari hari selasa malam udah nggak connect. Dan Terima kasih buat kritik dan saran dari Chapter kemarin. Benar kata readers, Chap 2 dari FF ini emang kependekan dan feelnya nggak dapat. Mungkin karena mood kali yah, soalnya mood itu hal penting dalam nulis.

Dan Chapter ini udah aku rombak setelah baca komen kalian walaupun nggak sempat balas satu- satu. Jadi semoga feelnya dapat dan ceritanya nggak kependekan yah =D . . .

Satu lagi Minal Aidzin Wal Faidzin yah buat semuanya. Mohon maaf lahir dan batin =D.

 

Not Destined => Coming Soon

Advertisements

67 comments on “You Are In Love (Chapter 3/END)

  1. yahhhh.. ko gantung gitu sih akhirnyannya adehhhh tanggung bgt athor itu ff nya,. bisa ga dibuat squelnya gitu 😉

  2. Moment end nya kenapa gantung? Huhu. Karna kurang, aku berharap sequel nya ada. Soalnya gantung banget huhuhu. Pokoknya aku tunggu sequel, dan ff lainnya. Semangat selvy!

  3. gantuuuuung bangeeet
    season 2 season 2 aaaaa sequel harus kudu ada
    suka banget ff nyaaa sukaaaaaa
    plis sequel just sequel :”)

  4. ooh gpp kok thor btw knp endingnya g sesuai dengan pemikiran ku yah wkwk i don’t believe it :(,so keep writing to make this sequel ,please 😦 yaahh??give us this sequel’s ff yaa !??di tunggu yaa + next projectnya ^^ fighting!

  5. akhirnya mreka bisa bersatu..
    tp masih ngantung mreka belum spnuhnya bersatu…
    tp keren bgd…
    dtggu project not destined..
    Fightaeng!!

  6. Daebak bnget thor!! Aku suka ^^
    Smpai nangis bcanya:”

    Tpi critanya msih ngegantung… Butuh sequel thor!!?
    Gmana klanjutannya sma momentnya Lutae…
    Nextnya dtnggu!! ^^

  7. Wuihh keren keren tapi sayang kenapa taeng harus pindah
    Dan apakah itu taeyeon yg datang?
    Kurang thor, sequel yah thor? Hehehehe please….
    Ditunggu karyamu selanjutnya thor^^

  8. Yahh!! Kok crtanya ngantung sihh? bkin squelnya dong. jeongmall! hwaiting. hwaiting go go lutae. saranghe :*

  9. Ceritanya daebak thor, tapi sayang gantung,
    kalau endingnya gantung harus ada squelnya ya thor, biar bikin puas bacanya… 😀
    Next ff ditunggu thornim… 🙂
    Fighting… 😉

  10. Woah..ceritanya bagus tapi kenapa digantung kayak gitu sih…sequel nya harus ada nohh..please thor sequel nya..i really want sequel nya..ditunggu ya ceritanya..

  11. Harus adaa sequeell aighooo kenapa ga luhan aja yang nyamperin taeng kekeke
    sedih bgt moment Lutae lagii baik2 ehh karnaa taeng kebawa emosi jdi piondahann pokoknyaa sequel musti diusahaainn hiks hiks mreka belum bersatuu,,,
    luhan sii cuek biar taeng ga bosen tapi taeng jd kasian jugaa kekekek poko’y sequel ditunggu

  12. Anyyeong, author-nim. Maaf aku hanya comment di last chapter ini… aku terlalu asik membaca.

    Ok, Author-nim. Author hrs tanggung jawab, aku nangis2 loh baca yg chapter ini:’-) chapter 1&2 juga nangis sih, tp sedikit. Gatau kenapa nangis aja huhu soalnya aku baca ff ini sambil dengerin lagunya Taylor Swift ft. Ed Sheeran – Everything Has Changed. Cocok bngt buat didengerin brg ff ini thor ㅋㅋ

    Ff-nya keren bngt. Ff LuTae yg paling bagus yg pernah aku baca sejauh ini.

    Kata2&kalimatnya rapi, ga bikin risih pas bacanya. Dipadukan sm cerita bagus, beuh makin2 deh.

    Tp ending-nya kurang greged nih, thor-nim. Sequel, dong:’-)

    Keep writing, ya, author-nim! I think I fall in love with ur ff~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s