[FREELANCE] The Truth (Oneshoot)

[Freelance] – THE TRUTH


(Amazing edited photo by @baexotae (instagram). I have got the permission to use it as a poster image for this fanfic.)

***
|| Tittle : THE TRUTH || Author : nurmasari_soshiexo || Main Cast : Girls’ Generation
Kim Taeyeon & EXO- K Byun Baekhyun || Genre : Romance, Life Story || Lenght : Oneshoot
|| Rating : PG17 || Pairing : BaekYeon/BaekTae || Disclaimer : The story is mine. The entire cast belong to God and they parents. Please, don’t be a plagiarism or publish this fanfic without my permission. || Summary : ‘Dan mungkin kau tak akan lupa jika sebagian besar lagi dari mereka sangat menentang hubungan kami’ -Ini sudah hampir empat jam setelah artikel bodoh itu keluar, dan perusahaan sama sekali belum memberi konfirmasi apapun.’ ||

Garis miring – FLASHBACK

***

Sinar matahari cerah kini tengah menyinari sebagian besar kota indah itu. Meskipun belum sepenuhnya menginjak waktu tengah hari, namun sinar matahari itu cukup menyilaukan bagi beberapa orang yang tengah berada dibawahnya. Jauh dari perlindungan. Enggan hanya untuk mencari tempat yang teduh.

Sama halnya pada sebuah bangunan tinggi itu, yang tampak menerima sebagian sinar matahari yang memaksa menerobos masuk lewat celah jendela sebuah kamar.

Ruangan dengan ukuran yang cukup megah dengan ranjang besar, dua buah lemari, meja-meja kecil yang berjajar -berisi alat-alat makeup dengan cermin didepannya. Sebuah meja lagi dengan beberapa peralatan gambar, buku gambar, sketsa gambar, termasuk pensil gambar disampingnya.

Pemilik kamar itu sangat menyukai art. Apapun itu asal berhubungan dengan seni gambar, dia akan menyukainya. Sangat.

Bergeser pada satu meja disamping ranjangnya, terdapat sebuah lampu dengan hiasan boneka jack skellington. Aneh. Pemilik kamar ini sangat menyukai hal-hal yang berbau mistis padalah dirinya adalah seorang perempuan. Baik lupakan sejenak mengenai boneka yang sedikit menyeramkan itu. Bergeser kesamping lainnya, ia menyimpan beberapa figura kecil. Dimana beberapa foto terpajang -bersama orang tua, teman-teman, dan paling ujung sebuah foto lagi yang merupakan ia dengan kekasih tercintanya.

Sebuah getaran yang lumayan mengganggu tidur nyenyaknya membuat ia rela membuka mata. Telapak tangannya bekerja mencari sebuah benda yang memberikan getaran tadi. Dihadapkannya benda itu, tepat diwajahnya. Melihat siapa diseberang sana yang menghubunginya. Sepagi ini. Oh, salah. Ia harus meralatnya. Ini hampir memasuki waktu siang.

Helaan nafas terdengar saat ia mendapati sebuah nama yang tak asing baginya. Selama ini. Menghela nafas sekilas sebelum ia menggeser layar tipis itu ke arah kanan.

Hallo.”

Suara yang pertama kali ia dengar saat ia menjawab panggilannya. Suara seorang pria.

Koong.” Balasnya dengan suara khas bangun tidur.

Kekehan pelan terdengar diseberang sana. “Bagaimana kau bisa tidur dengan nyenyak sementara aku disini tidak bisa tidur sama sekali?” Sebuah pertanyaan yang terselip sebuah gurauan.

Taeyeon, gadis itu memejamkan mata. “Maaf.”

“Tidak perlu meminta maaf.” Baekhyun nama asli panggilan Koong dari Taeyeon, menyelanya dengan cepat.

Gadis itu mulai bangkit dari posisi berbaringnya. Melangkah menuju jendela besar didepan sana. Tanpa menunggu lagi ia menggeser gorden lembut dengan warna putih tulang itu. Masih dengan ponsel menempel ditelinganya.

Matanya dengan cepat disuguhi beberapa gedung menjulang tinggi yang tak pernah bosan setiap hari ia lihat, jauh disana. Kemudian beralih pada kepadatan lalu lintas mobil di jalanan bawah. “Apa yang sedang kau lakukan, Koong?” ia bertanya setelah terjadi keheningan beberapa detik.

Baekhyun, masih terdiam. Ia yang memang tengah berbaring di ranjangnya sendiri hanya bisa tersenyum kecil saat mendengar suara Taeyeon bertanya padanya. “Berbaring di ranjangku, dan..” ia menghentikannya. “Memikirkanmu.” Tambahnya dalam jeda yang singkat.

Pandangan Taeyeon berubah menjadi kosong. “Maafkan aku.”

Gadis itu tentu sangat tidak tahu jika Baekhyun tengah menggelengkan kepala dengan tegas ditempatnya. “Sudah aku katakan, tidak perlu meminta maaf.” Suaranya berubah terdengar meninggi.

Taeyeon membungkam selama beberapa saat sebelum ia kembali bersuara. “Kurasa ini adalah tindakan paling bodoh yang aku lakukan.” Ia tersenyum miris. Tidak peduli jika pria itu akan kembali berkata berlawanan dengannya. Menyela atau menyahut, seolah semua yang terjadi antara ia dan dirinya bukanlah hal yang besar.

“Tidak, semuanya akan baik-baik saja. Kau percaya padaku kan?” Sekali lagi suara itu penuh dengan penekanan. Berusaha meyakinkan agar gadis yang kini tengah berbicara lewat sambungan telepon itu tenang.

Taeyeon belum menyahutinya. Pikiran kosongnya kini beralih pada sesuatu hal yang mengganggu saat ini. Beberapa jam lalu. Ia hanya merutuki hal bodoh yang dirinya pasti ketahui akan sulit untuk dijalaninya. Tidak mudah.

Taeyeon hanya tak bisa membayangkan jika pada akhirnya akan seperti ini.

*


“Yak berhenti melakukan lovey-dovey didepan kami semua.” suara Heechul membuat perhatian tiga orang disana beralih pada dua orang berbeda jenis kelamin yang dengan sengaja duduk di paling sudut.

“Hyung…” teriak Baekhyun tak terima saat Heechul mengatakan kalimat ceplas-ceplosnya. “Aku hanya membantu mengikat rambutnya.” Ia mengangkat kedua tangan setelah sesaat ia menyentuh rambut berwarna blonde milik gadis disisinya.

Heechul mengambil segenggam snack lalu ia melemparkannya pada Baekhyun. “Itu sama saja. Kau akan mengikat rambutnya setelah itu memberi kecupan ringan di leher Taeyeon, lalu setelah itu…” Heechul mendapat tatapan tajam dari Taeyeon. Tapi ia tak peduli dan lebih memlilih membalas tatapan Yoona, Yesung dan Kangin dengan tatapan penasaran untuk lanjutan kalimatnya.

“Yah, kalian pasti akan tahu apa saja yang mereka lakukan saat mereka tengah bersama.” Lanjutnya tanpa mempedulikan tatapan tajam dari kedua orang yang kini terlihat menahan malu.

Dengan santai Heechul menambahkan. “Jangan malam ini, aku tidak akan mengizinkan kalian berdua menginap lagi di apartemen ini.”

“Yak, oppa…” kini Taeyeon yang ikut berteriak.

“Aww hyung, sepertinya mereka telah melakukan lebih.” Yesung memberi komentar pertama membuat Taeyeon mengalihkan pandangannya. Sementara Baekhyun berubah cepat dengan moodnya. Malah ia sekarang terlihat tengah tersenyum geli.

*

Taeyeon ingat, semalam mereka masih baik-baik saja. Bertemu satu hari penuh dan berakhir berkumpul bersama di apartement milik Heechul. Pria itu tak keberatan, malah sering menggoda keduanya. Tentu menggoda dengan kata-kata yang berakhir dengan wajah Taeyeon yang memerah dan Baekhyun sengaja tersenyum dengan polos tak berdosa. Seperti anak kecil.

Tak ada yang bersuara, kejadian tengah malam lalu masih terlintas dalam benak mereka. Entah ini keputusan yang benar atau salah. Tak ada yang tahu tentang jawabannya.

“Kau masih disana, sayang?”

Taeyeon hanya tersenyum saat Baekhyun memanggilnya dengan panggilan yang sering ia lakukan. “Pergi mandi dan aku akan menghubungimu nanti.” Ia memerintah pada pria lebih muda tiga tahun darinya itu.

“Kita pergi mandi bersama lagi.”

Gadis itu memutar bola mata. Meskipun ia sendiri tahu jika pria itu hanya ingin menggodanya saja. “Terserah padamu.” Ia melangkah menuju kamar mandi di kamarnya. Berusaha mengabaikan candaan pria itu.

“Tapi sepertinya untuk saat ini aku tidak bisa menemuimu.” ucapan Baekhyun berhasil menghentikan langkah Taeyeon saat mencapai kenop pintu hendak ia akan membuka.

Ia menarik sebelah tangan kemudian menyampirkan rambut panjangnya ke belakang telinga. Menjauhkan ponsel dari telinga, menatap layarnya sekilas kemudian mendekatkan kembali pada telinganya. Ia bernafas dengan berat sebelum bertanya. “Apakah sudah keluar?”

Baekhyun menjawab cepat dengan suara tenang. “Baru saja. Suho hyung datang ke kamarku dan memberi tahu tentang artikel itu.”

Taeyeon membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar mandi, ia memutuskan untuk kembali duduk di pinggiran ranjang. Gadis itu harus berbicara banyak atau bahkan jika bisa ia harus bertanya. Meminta maaf lagi atas kebodohan yang ia lakukan. Tapi sepertinya mulut dan hatinya tak bisa diajak untuk kerja sama. Hatinya mengatakan untuk berbicara lebih pada Baekhyun, tapi mulutnya malah mengatakan sebuah kalimat yang ia sendiri tahupun Baekhyun sama sekali tak menyukainya. “Maaf jika ini membebanimu.”

“Berhenti mengatakan maaf.”

Taeyeon hanya terdiam. Terbukti jika sahutan Baekhyun barusan sudah cukup membuat ia yakin jika pria itu tengah menahan geram padanya. Pria itu lebih baik marah dari pada harus diam. Membela dirinya, itu sudah sering Baekhyun lakukan. ‘Kau memberi beban untuknya lagi, Kim Taeyeon.’

“Aku akan pergi mandi. Aku akan menghubungimu nanti.”

Baekhyun belum menjawab ucapan gadisnya. Sepertinya pria itu belum setuju jika pembicaraan mereka harus berakhir sekarang. Setidaknya untuk saat ini.

“Hanya pergi mandi, Koong-ah. Aku mencintaimu.”

Baekhyun hanya bisa menghela nafas. Suara penuh keyakinan yang dikeluarkan oleh gadisnya cukup membuat ia mengalah. Lihat, pria itu mengalah untuk gadisnya. “Baiklah. Aku juga mencintaimu, Kim Taeyeon. Sangat mencintaimu.”

Pria itu tak tahu jika saat ini Taeyeon tengah tersenyum mendengar sebuah kalimat yang tak akan pernah bosan ia dengar. Sebuah kalimat sederhana yang memiliki makna paling besar dibaliknya.

Setelah mendengar ucapan Baekhyun, dengan cepat Taeyeon memutuskan panggilan teleponnya. Dirinya kini merasa menjadi gadis paling jahat di dunia ini. ‘Maafkan aku, Baekhyun-ah.’ Ia melempar ponsel ke ranjang lalu telinganya mendengar seseorang tengah mengetuk pintu.

“Masuklah Hwang, aku tidak menguncinya.” Hanya ada Tiffany yang berada di tempat yang sama dengannya, dan ia yakin jika gadis itulah yang tengah mengetuk pintu.

Teriakan Taeyeon membuat seseorang diluar sana dengan cepat menarik kenop pintu dan pandangannya langsung bertemu dengan Taeyeon yang tengah duduk di ranjang. Tebakan Taeyeon sangat benar. Dan ia sudah siap menerima segala sesuatu yang keluar dari mulut gadis itu.

“Tidak ada yang berubah?” Tiffany bertanya lalu melangkah menuju teman gadisnya. Bertanya dengan sebuah pertanyaan yang terdengar dengan maksud tertentu.

Taeyeon mengangkat bahu lalu beranjak hendak melangkah menuju kamar mandi. Melanjutkan pergi kesana karena tadi sempat terganggu. “Kau tahu ini akan terjadi.” Ia menjawab sesuai maksud pertanyaan itu. Tanpa menjawab dengan sebuah jawaban yang logis.

Gadis dengan balutan kemeja rapi dan celana jeans itu melipat tangan di dada. Ia sepertinya akan pergi keluar. “Mengorbankan hubungan kalian demi mendapatkan keuntungan.”

Taeyeon berbalik dan menghadap pada teman dekatnya itu. Mengangkat sebelah alis untuk membalas atas ujaran yang ia dengar dari gadis bermarga Hwang tersebut. “Bukankah itu terjadi padamu juga?”

Tiffany mengangkat kedua telapak tangannya. Ia menyerah. “Serius Taeng, mengapa kau menyetujui hal ini?” oke mungkin saat ini Taeyeon harus menutup telinganya saat mendengar suara Tiffany yang kelewat tinggi.

Gadis itu memandang Tiffany dengan pandangan sulit diartikan. Diam sebelum menjawabnya. Berpikir sebelum mencari jawaban yang tepat. Tapi usaha kerasnya itu tak membuahkan hasil. Mencari jawaban karena ia sendiripun masih kebingungan untuk mendapatkan jawaban yang tepat untuk dirinya. “Lalu bagaimana denganmu? Sepertinya jawaban yang akan aku katakan, akan sama dengan apa yang kau katakan dulu.”

Tiffany mengangkat bahu. Terlihat sekali jika ia adalah orang yang paling tidak setuju dengan hal ini. “Aku hanya tidak mengerti. Mengapa mereka mengeluarkan artikel bodoh itu. Kau tahu seberapa banyak orang yang mulai mendukung kalian di luar sana–”

“Dan mungkin kau tak akan lupa jika sebagian besar lagi dari mereka sangat menentang hubungan kami.” Taeyeon memotongnya yang mana membuat Tiffany sama sekali tak bisa menyahut.

Taeyeon sangat benar dengan apa yang ia katakan. Baiklah, Tiffany sepertinya harus ikut mendukung teman keras kepalanya itu. Apapun yang terjadi. “Maafkan aku.” Tiffany menunduk kemudian meraih bahu Taeyeon sebelum memeluknya. Menghentikan perdebatan kecil mereka.

Gadis mungil di pelukan Tiffany hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia kemudian terkekeh saat mendengar suara isakan kecil yang keluar dari gadis keturunan Amerika itu. “Kami baik-baik saja, Hwang.” ucap Taeyeon sebelum melepas pelukannya. Tiffany benar-benar cengeng sekali.

“Janjilah padaku.”

Kening Taeyeon mengerut. “Janji untuk apa?”

“Kalian harus tetap bersama. Kami akan mendukung kalian, dan tentang orang tua kalian..” Tiffany menghentikannya. Tatapannya berubah teduh. Orang tua Taeyeon sudah menganggap ia seperti anak kandung mereka sendiri, begitupun Tiffany. Ia merasa beruntung memiliki kedua orang tua lengkap dimana ia tinggal di negara yang sama. Berbeda dengan ayah kandungnya, berada di Amerika sana.

Tiffany sudah menganggap Taeyeon sebagai seorang saudara kandung. Dan sebaliknya.

“Kau sudah berpikir terlalu jauh. Aku bahkan sama sekali memberitahukan apa yang terjadi pada orang tuaku.”

Tiffany menggeleng. “Tidak, mereka adalah orang pertama yang harus tahu akan hal ini. Tapi sepertinya sudah terlambat. Artikel bodoh itu keluar dengan sangat cepat, ternyata. Jauh dari perkiraanku.” Ia memberikan suara protesnya.

Gadis didepannya mengangguk mengiyakan atas ucapan temannya. Taeyeon sangat setuju untuk ucapan Tiffany barusan. “Terima kasih telah mengingatkan. Aku akan pergi ke Jeonju hari ini.”

“APA?”

Taeyeon memutar bola mata. “Ugh, bisakah suaramu tak sekeras itu Hwang?”

“Bagaimana dengan Baekhyun? Ah maksudku, ibu dan ayah Baekhyun? Keluarga kalian bahkan sudah bertemu beberapa kali sebelumnya.”

Taeyeon menarik kenop pintu kamar mandi. “Kurasa Baekhyun akan mengatakan dan menjelaskan hal ini pada orang tuanya tentang kami.”

“Baekhyun sudah menghubungimu?”

Taeyeon mengangguk seraya membelakangi Tiffany. “Aku baik-baik saja dengan hal ini Hwang. Tidak apa-apa. Selama kami masih bersama, kurasa akan baik-baik saja.” Ia lalu berbalik menghadap Tiffany yang masih setia berdiri di dekat ranjang.

“Aku tahu seberapa besar beban yang akan menimpamu.” Tiffany sesenggukkan saat mengatakan kalimat itu.

Hey Hwang jangan menangis lagi. Selama ada kalian yang mendukung keputusan kami, tentu itu akan baik. Aku akan belajar darimu dan tentu saja dari Yoong.”

Taeyeon kembali berbalik dan hendak melangkah menuju kamar mandi. “Jangan beri tahu Baekhyun jika aku setelah ini akan mengambil perjalanan ke Jeonju.”

“Mengapa?”

“Aku tidak mau melihat dia dengan wajah merah dan menangis seperti waktu itu lagi.” Taeyeon terkekeh saat mengingat Baekhyun menangis didepannya. Ia berpura-pura meminta mengakhiri hubungan mereka, dan berakhir dengan tangisan Baekhyun yang tak ingin berpisah dengannya. Kekanakan sekali. Padahal ia saat itu hanya ingin mengujinya saja.

Pintu tertutup. Meninggalkan Tiffany seorang diri disana. Masih dengan tatapan lurus menuju pintu kamar mandi. “Jangan salahkan aku, jika aku akan bertindak. Kau sepertinya masih perlu berbicara dengannya.” Ia bergumam.

Gadis ber-eye smile itu meninggalkan kamar temannya kemudian menuju kamar disebelahnya dimana itu adalah kamarnya sendiri. Ia mencari benda tipis, sebuah benda yang bisa menghubungkan dirinya dengan seseorang.

*

“Kalian tahu, disini aku yang paling bahagia melihat hubungan kalian.” Mantan pimpinan perusahaan itu terlihat tersenyum dengan senyuman tulus pada keduanya.

Baik Baekhyun maupun Taeyeon sama sekali tak mengerti dengan panggilan keduanya bersamaan malam ini. Seingat mereka, tadi mereka berdua tengah berada di apartement Heechul. Berkumpul dan berbagi oboralan hangat dengan orang-orang terdekat mereka. Sampai seorang manager Taeyeon menghubunginya untuk segera bergegas menuju perusahaan yang selama ini menaunginya. Baekhyun sama seperti gadisnya. Ia mendapat panggilan dari manager hyungnya. Hanya menyetujui untuk datang bersama dan sama sekali tak mengerti dengan maksud panggilannya.

‘Tidak mungkin akan secepat ini.’ Baekhyun mulai membatin dengan gelisah. Ia sudah memirikan hal ini sejak lama. Begitu mengingat tentang kedua teman gadisnya yang pernah mengalami kejadian buruk dan jahat ini. Pria bermarga Byun tersebut hanya tak bisa menerimanya saja. ‘Akankah besok hari itu akan tiba?’

Pandangan Baekhyun teralih saat merasakan genggaman tangan seseorang disampingnya. Ia menatap pada tangannya yang kini tengah bertautan sebelum berakhir menatap gadis yang sangat dicintainya. Baekhyun tersenyum dan ia membalas menggenggam tangan mungil gadisnya tak kalah erat.

“Kuharap, kalian akan cepat menikah dan mempunyai beberapa anak.” Lee Sooman, pria tua itu terkekeh. “Kau akan menjadi gadis pertama yang akan memberikanku cucu, Taeyeon-ah.”

Meskipun keduanya tengah berusaha menahan semburat merah yang hinggap di pipinya, tapi mereka tak berhasil menghilangkan sebuah pemikiran negatif yang akhir-akhir ini sangat mengganggu. Mereka tahu, akan sebuah tradisi. Tradisi dimana sebuah berita besar akan keluar dengan mengorbankan suatu hal penting demi keuntungan orang lain.

“Sebelum kau datang Baekhyun, tadinya aku ingin menjodohkan anakku dengan Taeyeon. Kau tahu, gadis yang kau cintai adalah seorang gadis yang sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Tapi kau datang dan merebut perhatiannya.”

“Ahbeoji-nim.” Taeyeon tahu mungkin ini adalah hal yang sangat tidak sopan untuk memotong pembicaraan orang yang lebih tua darinya. Tapi ia hanya tidak bisa membiarkan.

Genggaman tangan Baekhyun semakin erat. “Tidak apa-apa, sayang.” Ia lalu mengecup punggung tangan gadisnya tanpa ragu dihadapan pria tua tersebut.

Lee Sooman tertawa saat mendengar ucapan Baekhyun. Bukan untuk tertawa mengejek, hanya saja ia terlihat seperti orang tua kandung yang ikut bahagia atas kebahagiaan putranya. “Kalian benar-benar membuatku iri.”

Pintu terbuka saat pria tua itu mengucapkan kalimat akhir. Pandangan ketiganya beralih saat mendapati seorang pria tua lagi dengan langkah agak tergesa menuju kursi samping Sooman yang kosong.

Segera setelah itu, Taeyeon menarik tangannya. Melepas dengan sengaja genggaman tangan mereka. Baekhyun sama sekali tak protes. Ia hanya mengikuti keinginan gadisnya. Sepertinya Taeyeon terlihat canggung jika berhadapan dengan pria yang kini tengah duduk didepannya tersebut.

“Oh, kau begitu kejam Youngmin-ah. Akan memisahkan mereka dengan berita bohong itu.” Sooman bersuara. Terdengar sama sekali tak setuju saat teman akrab yang kini memegang penuh perusahaan itu duduk disampingnya.

Baekhyun menatap Sooman dengan pandangan mengerti. Dan tebakan ia memang benar. Sementara Taeyeon hanya bisa menundukkan kepalanya. Gadis itu juga akan tahu, hal ini akan terjadi pada dirinya.

“Ini demi bisnis, hyung. Taeyeon akan memiliki comeback untuk album solonya dalam waktu dekat, dan juga Baekhyun telah terpilih menjadi seorang MC. Ia akan kembali sibuk dengan perilisan lagu baru di Jepang tak akan lama.” Penjelasan singkat yang diujarkan oleh Youngmin memang benar.

“Dipikiranmu hanya bisnis saja.”

“Jadi, kapan hari itu akan tiba?” suara Taeyeon tiba-tiba bertanya. Membuat ketiga orang pria disana menatapnya dengan bingung.

Gadis itu hanya tersenyum tipis sebelum membalas tatapan dua pria tua didepannya dan berakhir pada tatapan Baekhyun. “Yang terjadi pada Tiffany dan Yoona, aku tahu segalanya. Mereka tak menyembunyikan fakta ini pada kami. Dan aku berpikir, mungkin aku akan mengalami hal ini juga.”

“Aku tak perlu minta maaf, karena ini demi kebaikan kalian juga.” Youngmin menyahuti meskipun ia sendiri memiliki perasaan tidak tega atas tindakannya.

Sooman beralih menatap Baekhyun. Pria muda itu sedari tadi terlihat diam. “Bagaimana denganmu, Baekhyun?”

Suara helaan nafas terdengar berat. “Jika itu adalah pilihan, aku akan mendukungnya.” Tak terduga Baekhyun mengucapkan kalimat itu. “Selama itu memang yang terbaik untuk kami, aku tidak apa-apa.”

“Koong-ah.” Taeyeon memanggilnya dengan suara penyesalan.

Baekhyun menatap Taeyeon dengan pandangan teduh. “Kau akan baik-baik saja setelah ini. Maaf tidak bisa melindungimu dengan apa yang kau harapkan.” Lalu mulai beralih menatap kedua atasan yang berpengaruh memiliki perusahaan besar itu. “Kalian bisa mengatakan pada publik jika hubungan kami telah berakhir.” Ia beralih menatap Taeyeon sekilas, lalu kembali beralih menatap Sooman dan Youngmin. “Ada satu hal yang ingin aku lakukan untuk tetap bersama gadis ini.” Lagi ia menatap Taeyeon dengan pandangan dalam. “Aku yakin dengan tindakan apa yang akan ku lakukan suatu saat nanti dan tak akan terduga. Kalian bisa mengerti maksudku. Aku hanya tidak bisa membiarkan kedua orang tua kami akan kecewa dengan hal ini.”

Youngmin kurang mengerti dengan ucapan pria muda itu. Sementara Sooman hanya tersenyum tipis. Ia sedikit mengerti dengan ucapan, atau mungkin lebih tepat sebuah ancaman Baekhyun. Pria berkaca mata itu cukup tahu bagaimana hubungan orang tua Baekhyun dan Taeyeon selama ini.

Sementara Taeyeon hanya bisa menatap heran. Ia menangkap makna ucapan Baekhyun. Tapi tak sepenuhnya yakin. ‘Akankah…? Menikah…?’ Gadis itu menggeleng tak percaya. ‘Oh ayolah, Kim Taeyeon. Pikiranmu terlalu jauh, astaga.’ Entah mengapa ia merasa sedikit kepanasan memikirkan itu.

“Kalian masih bisa berpacaran di belakang publik, aku tak menyuruh sepenuhnya untuk kali-”

Baekhyun menyela cepat. “Aku tahu.” Baekhyun meraih tangan Taeyeon kemudian menggenggamnya dengan erat. “Jangan ganggu hubungan kami, lagi. Aku akan berusaha lebih baik melindunginya dengan cara ini. Tak ada tanggung jawab dari kami jika suatu saat nanti akan terjadi sesuatu lebih besar dari ini. Ini adalah tanggung jawab anda, Mr. Youngmin.”

“Baiklah, jika sudah seperti itu.” Youngmin cukup menyahuti dengan kalimat pendeknya. Aura Byun Baekhyun disana terlihat berbeda. Ia seperti sudah memikirkan hal itu dengan matang dari jauh hari. Terbukti jika pria tua itu tak berani memberikan penekanan lagi mengenai hubungan yang terjalin antara Taeyeon dan Baekhyun. Kedua artis yang memiliki pengaruh besar terhadap group masing-masing dari keduanya.

*

Taeyeon terperanjat kaget saat seluruh tubuhnya hampir tenggelam dalam bathup besar didalam kamar mandi. Pikirannya melayang pada kejadian tengah malam tadi. Mungkin bisa dikatakan hampir waktu pagi. Karena pada kenyataannya, ia kembali ke drom -tempat tinggal dirinya selama ini disaat matahari akan muncul menampakkan cahaya indahnya.

Tatapan matanya begitu nanar dan tanpa arah. Dia masih terus memikirkan hal itu. Helaan nafas sesekali terdengar. Berkali-kali ia memikirkan ini tapi sebuah keputusan yang pasti masih belum didapatnya.

‘Ini seperti mimpi. Apakah Tiffany dan Yoona pada saat itu merasakan hal yang sama denganku saat ini? Berpura-pura dengan memberikan sebuah kebohongan. Sebuah kejahatan publik.’

Gadis itu menggeleng untuk menghilangkan pikiran negatifnya. Hanya untuk sekali ini saja. Entah mengapa, beberapa jam kebelakang sampai saat ini ia selalu merasa gelisah.

Ia bangkit dari bathup. Membiarkan berdiri lalu menyalakan shower yang tergantung untuk membasuh seluruh tubuhnya –naked- dari beberapa busa sabun lembut yang masih tertempel di kulit putihnya.

Setelah merasa busa-busa itu sudah menghilang, ia turun dari bathup lalu sedikit melangkah untuk mengambil jubah mandi yang ia sengaja selalu sampirkan dekat cermin panjang tidak jauh didekat pintu.

Ia memakainya. Hanya mengenakan itu. Dan mengikatnya.

Taeyeon sepertinya tak memiliki gairah untuk hidup. Berpura-pura tegar dengan semua yang terjadi. Ia telah melewatinya sejauh ini. Tapi ia merasa beruntung, banyak orang yang masih mendukungnya.

Dengan rambut dibiarkan basah dan tergerai, tangan mungilnya mulai membuka pintu. Melangkah keluar dan hanya perlu satu detik, pandangan matanya dengan cepat mendapati sesosok pria yang kini berdiri didepannya. Tak jauh.

Byun Baekhyun.

Taeyeon cukup tercengang karena kaget melihatnya. Pandangan pria itu sulit ia artikan. Entah dengan pandangan sendu. Menahan kerinduan atau bahkan menahan amarah. Ia tak tahu.

“Mau melarikan diri?” sebuah pertanyaan yang terdengar biasa saja. Tapi gadis itu merasa sebuah benda kecil tengah menusuk ulu hatinya.

Taeyeon melangkah menuju lemari. Berusaha menghindar. Kepalanya menunduk dalam dengan kedua tangan meremas-remas ujung jubah mandinya. “Apa yang kau katakan, Byun Baekhyun?”

Baekhyun mendecakkan lidahnya. Ia masih setia menatap Taeyeon yang sengaja membelakanginya. Pria itu terlihat mengepalkan tangan entah untuk alasan apa. Yang pasti, ia tak menyukai panggilan dari kekasihnya tersebut. “Kau memanggil namaku dengan lengkap.” Itu bukan sebuah jawaban.

Baik. Taeyeon tak memberikan jawaban begitupun Baekhyun.

“Apa ada yang salah dengan itu?” tanpa mempedulikan kilatan tajam Baekhyun –entah kapan sudah berubah-, Taeyeon masih dengan posisi berhadapan dengan lemarinya. Bermaksud mencari pakaian yang akan ia gunakan. Namun ia mendapati dirinya dengan pikiran kosong.

Perubahan sikap Baekhyun yang dingin terdengar dari suaranya. “Kau terlihat tengah menghindariku.”

Mereka tengah berada dalam pertengkaran kecil. Siapa yang patut disalahkan? Siapa yang memulainya diawal? Sudah cukup. Taeyeon tak ingin memperpanjangnya lagi. Ini salahnya. Maka dari itu ia akan menghentikannya.

Taeyeon memejamkan mata sebelum mengambil short dress berwarna dark blue dengan motif bunga dan tali kecil melingkar dibahunya. Lalu meraih jaket berbahan jeans untuk menutupi bagian atas yang pasti akan memperlihatkan bahu kecilnya itu.

“Aku perlu memakai pakaianku, pergi keluar setelah itu kita bicara.” Setidaknya kalimat itu cukup menghentikan ketegangan diantara mereka. Menghilangkan sikap keras kepala dan disini Taeyeon yang berusaha mengalah pada Baekhyun.

Masalah ini malah membuat sebuah pertengkaran yang sama sekali tak penting bagi mereka. Padahal mereka masih baik-baik saja. Karena hal bodoh dan tak masuk akal itu yang memicu keduanya saling keras satu sama lain.

Baekhyun menggeleng. Ia hanya tidak bisa beranjak pergi. Melewatkan kesempatan yang sangat pas untuk berbicara empat mata dengan gadis yang sangat dicintainya. “Tidak, aku akan tetap berada disini.”

Gadis itu melirik Baekhyun sekilas sebelum melangkah meninggalkan Baekhyun menuju kamar mandi. Tak menyahut bahkan pria itu bisa merasakan jika tatapan gadisnya saat ini terlihat berbeda. Taeyeon yakin jika Baekhyun tak akan membiarkannya pergi hanya untuk sejenak saja.

Baekhyun bergegas dengan cepat. Menghalangi langkah gadis itu sebelum lebih jauh lagi darinya. Lalu mengempaskan punggung Taeyeon pada dinding disamping lemari. “Kau marah padaku?” Pandangannya jauh berbeda. Tak bisa dikatakan lembut atau teduh seperti biasa apa yang ia lakukan.

Taeyeon melempar pakaian yang ia bawa tadi ke lantai setelah Baekhyun mengunci pergerakannya. Ia segera memejamkan mata dan menggeleng, berusaha menahan amarah. Jika ia marah, maka yang terjadi adalah perdebatan yang terjadi antara ia dan pria itu semakin buruk. “Bagaimana aku bisa marah padamu?” Taeyeon menatap Baekhyun dimana pria itu tengah membalasnya. “Maafkan aku.” ucap Baekhyun seraya menyentuh lengan atas gadis di depannya. Mungkin kata maaf lebih baik dari pada ia harus berteriak atau mengatakan kata-kata yang membuat hubungan mereka semakin merenggang.

“Kau yang selalu mengatakan padaku untuk tidak meminta maaf.”

Pria itu dengan cepat meraih tubuh Taeyeon ke dalam pelukannya. “Tidak. Aku perlu meminta maaf padamu.” Sahutnya dan dibalas pelukan Taeyeon. Tangannya dengan lembut pengusap punggung kecil Taeyeon dengan lembut.

“Jika kau bertanya bagaimana keadaanku, aku baik-baik saja.” Suara Taeyeon semakin mengecil. Wajahnya semakin terbenam dalam leher putih Baekhyun dimana pria itu merasakan hembusan nafas lembut yang keluar dari hidung gadisnya.

Baekhyun melepas pelukannya kemudian memberikan sebuah kecupan singkat di bibir gadisnya. Ia rindu bibir milik Taeyeon. “Ini sama saja, menyakiti perasaanmu.” Tatapannya berubah. Telihat sebuah penyesalan.

Sebuah genggaman tangan Taeyeon memukul pelan dada kekasihnya. Taeyeon mengambil nafas sebentar. Mencoba menenangkan debar jantungnya. Jika sudah bersama pria itu, maka debaran jantungnya akan memacu dengan cepat. “Kita tidak benar-benar berakhir, Koong-ah.”

Pria itu menatap lekat gadis cantik didepannya, mencari sebuah kebenaran dengan apa yang dikatakan oleh Taeyeon. “Aku tahu ini akan terjadi. Bagaimana perasaanmu, aku tahu itu dan aku bisa merasakannya.”

Kini bergilir Taeyeon menarik leher Baekhyun untuk semakin dekat. Ia akhirnya bisa memeluknya dengan leluasa. Merasakan hangat tubuh Baekhyun yang semakin mengerat di tubuhnya. “Hanya untuk sementara, bukan?”

Baekhyun menggeleng. Tidak setuju dengan ungkapan Taeyeon. Sementara atau selamaya, itu sama saja. “Pikirkan kembali masa depanmu, masa depan kita.” Lingkaran tangan dipinggang gadisnya terlihat kuat.

Gadis itu mendesah. Berusaha menghiraukan tanpa menyahut ucapan Baekhyun. “Kau sudah menghubungi ibumu?” Pertanyaan Taeyeon cukup menjauhi topik pembicaraan awal keduanya. Untuk saat ini saja, ia tak ingin berpikiran terlalu jauh.

Taeyeon bisa merasakan Baekhyun menganggukkan kepalanya, ia mendapatkan jawaban dari itu. Sementara Baekhyun hanya tersenyum hambar, meskipun dalam hati ia menggeram kecewa. Taeyeon tak membalas ujarannya tadi, ia merasa kosong dalam hatinya. “Aku sudah menjelaskan semuanya pada ibu. Hanya saja, nenek ingin kita bertemu dan meminta penjelasan yang jelas.”

“Nenekmu pasti tidak bisa menerimanya.” Mata Taeyeon terpejam dan pelukan mereka semakin mengerat.

Baekhyun tersenyum samar. Lalu mengecup puncak kepala Taeyeon. Hidungnya bisa mencium shampo beraroma peach setengah basah dari rambut bloonde gadis dalam dekapannya. “Itu karena nenek sudah menganggapmu sebagai cucu menantunya.”

Gadis itu memukul punggung Baekhyun sekilas. Pipinya berubah merah tanpa sebab. Mungkin karena perkataan Baekhyun membuat ia seperti itu. Ia sudah cukup senang, pria itu kembali bersikap tenang untuk menghadapinya. Baekhyun memberikan pertanyaan lagi. “Bagaimana denganmu?”

Sejenak Taeyeon terdiam untuk mengutarakan sebuah jawaban. Ia hanya perlu waktu dan Baekhyun harus tahu akan hal ini. Dirinya tadi sempat merasa bodoh. Menghilang lebih baik dari pada harus menghadapinya. Tapi ternyata pemikiran itu salah. Ia benar-benar perlu bericara dengan prianya, cahayanya, pangerannya. “Aku akan pergi ke Jeonju. Empat hari disana sepertinya akan cukup bagiku untuk menjelaskan semuanya pada ibu, ayah dan Jiwoong oppa.”

Baekhyun terpaksa melepas pelukan hangatnya hanya sekedar untuk menatap wajah cantik gadis didepannya. Lalu menyimpan sebelah telapak tangannya dibelakang kepala Taeyeon sebelum kembali menarik gadis itu kedalam dekapannya.

“Maaf tidak bisa menemanimu.”

Taeyeon tersenyum saat bagaimana telinganya mendengar suara degupan jantung Baekhyun yang sangat disukainya. “Tidak apa-apa. Aku akan menikmati waktu liburku dengan baik.”

“Aku berjanji akan pergi kesana untuk menyusulmu dan menemui orang tuamu.” Baekhyun menyahuti dan disetujui anggukan kepala gadis yang masih dalam pelukannya. Ia mengatakan dengan penuh keyakinan.

“Aku mempunyai janji untuk menemui nenekmu, juga.” Taeyeon bersuara membuat Baekhyun melepas pelukan mereka lagi. Telapak tangannya beralih menangkupkan pipi mulus Taeyeon sebelum meraih wajah bening itu dan memberikan kecupan dalam di keningnya cukup lama.

“Apa isi artikel yang keluar hari ini, Koong?” pertanyaan Taeyeon terpaksa menghentikan Baekhyun untuk menjauhkan bibirnya dari kening gadis itu. Suara yang terdengar frustasi itu berhasil memecahkan keheningan.

Pria itu menatap wajah Taeyeon dengan pandangan dalam. Sebelum benar-benar yakin ia akan mengatakannya. Sebisa mungkin Baekhyun berpikir untuk mencari kata-kata yang jelas. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi diantara mereka. Berita yang keluar hari ini sudah berhasil membuat keduanya sedikit menjauh. Padahal mereka masih baik-baik saja. Mungkin terbawa emosi yang tak bisa ditahan hingga melakukan hal bodoh yang tak ada gunanya sama sekali. “Tidak berarti apa-apa. Mereka mengatakan jika hubungan kita telah berakhir.”

“Apakah perusahaan sudah memberi konfirmasi?”

Baekhyun menggeleng dengan senyuman tipis, dimana Taeyeon menatapnya dengan pandangan heran. “Ini sudah hampir empat jam setelah artikel bodoh itu keluar, dan perusahaan sama sekali belum memberi konfirmasi apapun.” Pernyataan Baekhyun cukup jelas. Ia mengatakan sesuai dengan fakta.

“Bagaimana bisa begitu?” Taeyeon mengerutkan dahinya tak mengerti dengan maksud prianya. ‘Sudah empat jam dan tak memberi kabar apapun? Aneh sekali.’

Pria itu kembali tersenyum dengan bahu terangkat. Baekhyun juga merasa ada yang tidak biasa dengan perusahaan itu. Mereka menyuruhnya berpura-pura berpisah, lalu disetujui olehnya. Kemudian setelah berita itu keluar, tak ada anggapan sama sekali dari managemen
artist tersebut. “Entahlah. Mungkin mereka takut dengan ancamanku semalam.”

“Kau tidak bermaksud untuk…?”

Pertanyaan Taeyeon dibiarkan tergantung olehnya. Baekhyun segera meletakkan telunjuknya di depan bibir Taeyeon untuk menyuruh gadis itu diam. Taeyeon sendiri pun masih bingung dan tidak mengerti dengan ancaman Baekhyun yang membuatnya penasaran. Ia menggelengkan kepala sejenak. ‘Baekhyun tidak mungkin akan menikahiku kan? Astaga Kim Taeyeon, mengapa pikiranmu selalu mengarah kesana?’

“Kau percaya padaku, bukan?”

Matanya berpandangan dengan sepasang manik hitam pekat milik Baekhyun lalu beralih pada tangannya yang digenggam erat oleh pria tampan nan manis tersebut. Perlahan ia mengangguk dan menggigit ujung bibirnya. “Aku sama sekali tidak mengerti dengan semua apa yang kau katakan, Koong.”

“Tunggu setelah semuanya baik-baik saja.” Pria itu membalasnya dengan sebuah senyuman misterius. Membuat Taeyeon semakin mengerutkan dahinya tanda ia tak mengerti. Tapi apapun itu, asal semuanya bernilai positif maka ia akan mendukungnya.

Suara ketukan jam yang kini hanya terdengar di ruangan itu. Masih menikmati pandangan lembut masing-masing. Baekhyun sungguh tak ingin berjauhan dengan gadis ini. Ia sudah jatuh terlalu dalam padanya, dan ia yakin tak bisa berpaling pada gadis lainnya. Taeyeon sudah cukup membuat hidupnya terasa sempurna, namun terkadang ia merasa kurang memberi balasan yang setimpal untuk gadisnya.

Ia hanya merasa tak pantas jika disandingkan dengan gadis bermarga Kim tersebut. Terlalu berharga hingga ia hampir menyerah. Namun, karena ketekadannya ia telah berhasil membuat seorang Kim Taeyeon jatuh untuknya juga. Baekhyun hanya tidak tahu, jika perasaan yang dimiliki oleh gadis itu sama besar dengannya juga.

“Aku hanya takut jika kau akan ikut menderita dengan semua ini.”

“Jangan menyalahkan dirimu, sayang.” Suara bisikan Baekhyun hanya mampu meluluhkan perasaan gadis itu. Lihatlah, meskipun Baekhyun lebih muda tiga tahun darinya, pria itu selalu bersikap dewasa layaknya ialah yang mempunyai usia diatas Taeyeon.

“Tetap saja, kau akan ikut tertekan. Kau sudah terlalu baik selama ini.” Taeyeon belum bisa menerima semua kebaikan pria itu. Baekhyun tentu sangat tidak menyukai jika Taeyeon belum bisa menerimanya. Maka ia akan gunakan kesabaran dirinya untuk semakin mencintai gadisnya. Mereka telah menjalin hubungan satu tahun lebih, dan sedikit demi sedikit Baekhyun akan memahami apa yang harus ia lakukan jika menghadapi gadis yang berstatus kekasihnya tersebut.

Taeyeon adalah nafasnya. Ia gadis pertama yang membuatnya gila saat pertama kali melihatnya. Baekhyun masih ingat, waktu itu dirinya masih menginjak sekolah menengah pertama ketika Taeyeon debut bersama grup gadis-gadis muda dengan nama Girls’ Generation atau SNSD tersebut. Pertama kali melihatnya di layar televisi dan ia sudah jatuh cinta pada gadis berbadan mungil itu. Ia sudah bertekad jika suatu saat nanti akan menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya. Dan keberuntungan datang padanya. Itu bermula saat ia akan memasuki perguruan tinggi, namun tiba-tiba dirinya malah ditawari oleh seorang staf agensi besar untuk masuk kedalam managemen besar di Korea itu, SM Entertainment.

Tentu Baekhyun tak akan menolaknya. Ia memiliki skill bernyanyi yang sangat bagus. Begitu mudah untuk ia masuk ke dalam agensi itu. Dengan suatu tujuan yang terselip didalamnya. Meraih mimpinya sebagai seorang penyanyi, dan menjadikan gadis incarannya beberapa tahun silam itu untuk menjadi miliknya.

Dan keinginan itu telah terkabul dengan begitu mudahnya. Hanya saja, perlu beberapa rintangan yang harus ia lalui. Lupakan kenangan pahit, dan hiduplah bahagia untuk sekarang dan kedepannya. Ia hanya perlu mengingat kata-kata itu.

Sebuah senyuman teduh terlihat dari raut wajah Baekhyun begitu ia mengingat bagaimana ia berjuang sendirian untuk mendapatkan perhatian Taeyeon dulu. Dengan gerakan lembut, Baekhyun mengusap pipi Taeyeon. Berusaha menenangkannya. Matanya dengan cepat mengunci pada bola mata kecoklatan gadisnya. “Kita sudah menjalaninya.” Dari jarak yang sedekat ini, baik Baekhyun maupun Taeyeon sudah berbagi nafas yang keluar.

“Kita pernah berpisah dan kembali bersama lagi untuk yang kesekian kalinya. Tak terhitung berapa kali kita melakukan hal bodoh itu. Tapi aku berpikir, mungkin ini memang sudah menjadi takdir untuk kita berdua. Mungkin Tuhan hanya ingin menguji hubungan ini. Aku hanya yakin pada satu hal, ujian itu membuat kita belajar untuk semakin kuat.”

Taeyeon terdiam sebelum mencerna kalimat-kalimat Baekhyun. Ia kali ini menyetujui apa yang dikatakan oleh Baekhyun. Tak ada yang salah dengan itu. “Bagaimana dengan penggemarmu?”

Pria itu dengan lembut menarik lengan kekasihnya menuju tempat tidur. Membiarkan Taeyeon terduduk sementara dirinya berjongkok dengan menopang kedua tempurung kaki untuk menahan tubuhnya. Hanya perlu mendongakkan kepala ke atas, dan Taeyeon membalas tatapan teduh Baekhyun.

Ia menyampirkan rambut basah Taeyeon ke telinga kanannya. Tersenyum hangat sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. “Tidak usah memikirkan mereka.”

“Aku takut jika kebenaran itu akan datang.” Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat sangat khawatir dan Baekhyun bisa melihatnya dengan jelas. Ia menggenggam tangan Taeyeon dengan erat, berusaha untuk memberikan sedikit ketenangan.

“Aku tahu suatu saat nanti entah itu kapan semuanya perlahan akan terbuka. Tapi tenanglah sejenak, sayang. Perusahaan tidak akan pernah mengatakan jika kita benar-benar telah berakhir.” Baekhyun hanya perlu mengeluarkan kata-kata yang membuat Taeyeon tenang. Berusaha sabar sebisa mungkin untuk menenangkannya.

Kening Taeyeon mengerut. “Mereka akan semakin membenciku, dan semua karirku akan terhenti.” Bayangan negatif yang selalu ia pikirkan kembali terlintas dalam pikirannya. Ia merasa menjadi gadis yang paling tidak berharga, gadis jahat, gadis pembohong, atau apapun itu asal berhubungan dengan sikap ke-negatif-an.

“Dan aku akan ikut berhenti.”

Ucapan pria itu cukup membuat Taeyeon sedikit melebarkan matanya. Ia menatap wajah Baekhyun dengan seksama. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Ini sepenuhnya adalah salahnya. Pria itu tak perlu lagi kembali mengorbankan sesuatu yang paling berharga. Biar kali ini ia yang akan mengalah. “Baekhyun..”

Baekhyun tentu tak menerimanya. “Aku juga terlibat dalam hal ini, Kim Taeyeon. Jangan merasa kau hanya sendirian dan berpura-pura kuat menjalaninya. Jangan merasa hanya kaulah yang patut disalahkan atas segalanya.”

Kepala Taeyeon menggeleng beberapa kali. “Baekhyun, kau tak tahu bagaimana kerasnya orang diluar sana.”

“Aku tahu. Aku sangat tahu.” Baekhyun mengangguk yakin. “Aku telah banyak belajar dari apa yang kita pernah lalui selama ini. Tidak apa-apa. Maka kita akan berhenti.”

“Tidak, kau tidak boleh berhenti untuk mencapai semua mimpimu. Biar aku saja yang menanggungnya sendirian. Kau hanya perlu untuk melanjutkan apa yang selama ini kau inginkan, aku…”

Baekhyun bergerak memajukan kepalanya. Sedikit membiarkan bibirnya dengan lembut menyentuh bibir gadisnya. Dan itu telah cukup menghentikan ucapan Taeyeon. Baekhyun hanya ingin membuat gadisnya merasa tenang.

Taeyeon bahkan tak melawan ketika bibir pria itu bergerak pelan di bibirnya. Hanya sebuah kecupan biasa, namun keduanya sangat menikmatinya. Jika bukan karena kebutuhan oksigen, pria itu yakin tak akan pernah melepas bibir manis milik kekasihnya itu.

Baekhyun perlahan menjauh. Membiarkan keduanya bernafas dengan rakus. “Dengar, apapun yang terjadi kau tetap milikku, dan aku milikmu. Kita akan tetap terus bersama. Aku tidak peduli dengan semua kebohongan ini. Kita akan berhenti dan menjalani hidup seperti biasa. Bukankah aku pernah berjanji untuk hal itu?”

Gadis itu menatapnya dengan pandangan teduh. Matanya berusaha menahan linangan air yang sebentar lagi akan meluncur bebas di pipinya. “Mengapa kau harus melakukan ini?”

Baekhyun beranjak lalu duduk disamping ranjang dengan Taeyeon disisinya. Saat genggaman tangan mereka terlepas, dengan cekatan ia memeluk tubuh kecil gadis itu dengan erat. Mengelus punggungnya dengan lembut membuat Taeyeon merasa nyaman dalam dekapannya. Tak salah lagi jika ia memiliki perasaan khusus untuk gadis itu. Bagaimana ia berada jauh darinya. Bagaimana ia menahan kerinduan jika mereka harus bepergian jauh, berbeda kota bahkan berbeda negara sekalipun. Ia merasa hampa.

Baekhyun hanya ingin Taeyeon tetap berada disisinya. Menggapai tubuhnya dengan erat seolah-olah hanya ia yang boleh menjaganya. Gadis ini terlalu berharga. Bahkan ia rela menukar nyawa demi gadis yang sangat dicintainya tersebut. Dikepalanya hanya dipenuhi oleh satu nama. Nama indah seorang Kim Taeyeon.

Dengan perasaan tenang, Baekhyun mengucapkan kalimat ini. “Karena aku mencintaimu, aku akan berusaha melindungimu dengan ini.”

Bulu mata Taeyeon bergerak begitu Baekhyun mengatakan kalimat itu. Ia tersenyum malu. Untung saja Baekhyun tak bisa melihatnya jika saat ini pipinya tengah memerah. “Aku bahagia karena kau berada disisiku, Koong.” Taeyeon tak bisa menahannya lagi. Ia telah berhasil membiarkan air mata itu tanpa sadar meluncur di pipinya. “Aku akan merasa tenang. Aku mencintaimu, sangat.”

Baekhyun menepuk-nepuk dengan pelan punggung gadisnya. Pria itu merasa lega. “Kau begitu tahu seberapa besar aku mencintaimu, Kim Taeyeon. Pundakku akan selalu siap sedia jika kau membutuhkannya. Lupakan sejenak tentang masalah ini. Kau tetap bersamaku, dan aku akan selalu bersamamu. Tak peduli orang lain akan mengatakan apa, tapi ini adalah kita. Kau Kim Taeyeon dan aku Byun Baekhyun, akan selalu bersama. Ingat-ingat dengan baik kalimat itu.”

Cukup panjang Baekhyun berujar dan Taeyeon bisa mencernanya dengan baik. Entah mengapa, ia sedikit demi sedikit beban itu mulai hilang dalam dirinya. “Terima kasih, telah kembali padaku lagi dan selalu mencintaiku. Aku menyesal karena dulu sempat pernah menjauhimu.”

Baekhyun terkekeh pelan. “Itu hanya sebuah ujian dan aku telah berhasil melaluinya.” Ia melonggarkan pelukannya, dan mau tidak mau membuat Taeyeon sedikit menjauhi tubuh Baekhyun untuk menatap wajah tampan pria itu. “Tetap disisiku untuk selamanya.”

Kepala Taeyeon mengangguk tanpa ragu. “Jangan pernah berpaling dariku.” Suaranya terdengar imut sekali. Seperti anak kecil yang meminta pada ayah kandungnya untuk selalu tetap bersamanya.

Alis pria itu terangkat. “Tergantung. Jika ada seorang perempuan yang melebihimu aku akan mengejarnya.” Senyuman Baekhyun melebar dengan sendirinya.

Bibir gadis itu mengerucut lucu. Belum sempat ia akan mendorong tubuh Baekhyun di depannya, lengan pria itu dengan cepat meraih pinggang kecilnya dengan erat.

“Pergi keluar.” Taeyeon berucap dingin membuat Baekhyun tertawa. “Bagaimana aku bisa pergi sementara lenganku tak ingin lepas dari pinggangmu?”

Taeyeon memutar bola mata. Ia merasa kesal jika Baekhyun selalu menggodanya. Sikap aslinya kini terlihat. “Baiklah. Lepaskan aku, dan pergi mencari gadis yang melebihiku.” Kata-katanya penuh dengan penekanan.

Baekhyun menggelengkan kepala beberapa kali. Pria itu tengah menahan tawa. Senang sekali rasanya jika harus membuat Taeyeon kesal padanya. Salah satu hobi yang sering ia gunakan pada gadisnya. Ia sering menggoda dan sering menjadikan gadis itu sebagai bahan candaan. Entah mengapa, Baekhyun hanya menyukai bagaimana melihat bibir gadis itu mengerucut lucu. Rasanya ia ingin segera melahap habis saking gemasnya. “Tidak akan.” Ujar Baekhyun lembut.

“Mengapa?” nada suara Taeyeon meninggi.

Segera setelah itu Baekhyun menjauhkan tangan dari pinggang Taeyeon. Matanya dengan lembut menelusuri lekuk wajah gadis tanpa balutan makeup tersebut. Taeyeon terlihat natural. Seperti gadis-gadis korea pada umumnya.

Jika tanpa makeup, Taeyeon terlihat sangat imut seperti anak kecil. Berbeda jika ia sudah mengenakan berbagai riasan, wajahnya akan terlihat sangat cantik. Dengan atau tanpa makeup pun, Baekhyun akan selalu menyukainya.

Bagaimana Baekhyun untuk tak bisa mencintai gadis ini? Taeyeon terlalu sempurna di matanya. Ia adalah gadis kedua yang paling berharga setelah wanita setengah baya yang melahirkannya kedunia ini.

Senyuman lembut milik Taeyeon terlihat ketika gadis itu melihat ke arahnya. Tak pernah bosan bagaimana Baekhyun menatap wajah tanpa cacat itu. Taeyeon adalah segalanya untuknya.

“Karena aku yakin, tak akan bisa menemukannya sampai dunia ini berakhir sekalipun.” Baekhyun bersuara seperti berbisik didepannya. Matanya terlihat penuh dengan kejujuran, tanpa ada kebohongan.

Seketika pipi Taeyeon terlihat memerah. Kata-kata Baekhyun begitu membuat dirinya tersanjung. Baekhyun telah berhasil membuat Taeyeon tersipu dengan sendirinya. “Oh hentikan itu Byun Baekhyun, kau telah membuatku malu.”

“Benarkah?” Baekhyun bertanya dengan antusias. Matanya mengerjap lucu seperti anak anjing yang ingin bermanjaan dengan majikannya. Ia kembali berubah begitu cepat. Dari hal yang serius pada hal yang konyol sekalipun.

Namun hanya beberapa detik, pria itu merubah tatapan gemasnya dengan menyeringai aneh. Cukup membuat Taeyeon bergidik ngeri saat melihat tatapannya. ‘Dasar Baekhyun, aneh.’ Taeyeon membatin.

“Kau sungguh tak akan memakai pakaian?”

Pertanyaan Baekhyun sungguh diluar perkiraannya. ‘Kim Taeyeon, kau benar-benar bodoh.’ rutuk Taeyeon dalam hati. Ia bahkan baru sadar jika sedari tadi hanya mengenakan jubah mandi, melekat dalam tubuhnya.

Saat hendak menjawab pertanyaan prianya, Baekhyun menyela gadis itu dengan cepat. “Tidak usah. Aku lebih suka melihatmu dengan jubah mandi ini.” Baekhyun semakin menyeringai. Sebenarnya ia sudah menahan untuk tidak mengatakan pertanyaan tadi. Tapi sepertinya mulutnya begitu gatal begitu melihat Taeyeon hanya mengenakan kain berwarna putih tersebut.

Yak..” tangan Taeyeon menggantung di udara saat ia akan memukul Baekhyun. Namun, secepat kilat Baekhyun meraih tubuhnya. Lalu tanpa membiarkan satu detikpun terlewat ia membaringkannya di tempat tidur.

Baekhyun menahan kedua tangan Taeyeon. Perlahan tapi pasti, pria itu mulai merangkak naik diatas tubuh gadisnya. Tanpa mengatakan apapun, ia mendaratkan sebuah ciuman di kening Taeyeon.

Gadis itu hanya terdiam. Ia hanya bertahan dengan posisinya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Berharap Baekhyun tak mendengar debaran dalam dadanya. Sungguh, sentuhan lembut Baekhyun ditangannya membuat ia tak bisa berkutik sama sekali.

“Tunggu sebentar.” Baekhyun menyuruhnya diam dan Taeyeon menganggukkan kepalanya dengan patuh. Pria itu perlahan bangkit. Meninggalkan Taeyeon yang masih setia dengan posisi berbaringnya.

Dengan langkah pelan, Baekhyun membuka lemari besar di kamar itu. Menoleh sebentar pada pakaian milik Taeyeon yang terkapar dilantai. Lalu beralih pada Taeyeon yang kini tengah menatapnya dengan pandangan bingung. Ia menyinggungkan sebuah senyuman padanya.

Pria itu meraih kemeja transparan berwarna putih yang tergantung di lemari. Cukup bingung untuk memilih pakaian yang akan dikenakan oleh gadisnya. Tak mungkin jika Taeyeon akan menggunakan jubah mandi itu seharian penuh. Baekhyun tentu tak akan membiarkan, apalagi jika ia mempunyai keinginan jika hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama di ruangan itu.

Ia kembali berbalik dan melangkah kearah Taeyeon dimana gadis itu kini perlahan membiarkan tubuhnya duduk di ranjang. Taeyeon akan bertanya setelah Baekhyun duduk disampingnya. “Apa yang kau lakukan?”

“Biarkan aku memakaikannya untukmu.” Permintaan aneh Baekhyun sangat cukup membuat Taeyeon terkejut. Pipinya seketika memanas. Baekhyun benar-benar sudah gila. Ia menggigit bibir bawahnya. “Tidak, Baekhyun. Berikan pakaian itu padaku.” Taeyeon menolak.

Baekhyun menggeleng. “Bukankah kau percaya padaku?”

Taeyeon tentu menganggukkan kepala tanpa dipikirkan lagi olehnya.

“Kau lupa tentang pagi itu?” Baekhyun kembali bertanya dengan seringaian anehnya. Ia menatap dada Taeyeon sejenak sebelum pikirannya menerawang pada pagi indah yang ia lakukan bersama gadis didepannya.

Oh, Baekhyun tak akan pernah bisa melupakan kejadian itu. Terlalu disayangkan jika ia menghapus memori dimana Taeyeon telah sepenuhnya menjadi miliknya. Lebih dari tidur bersama.

Secepat kilat Taeyeon menyilangkan tangan di dada. “Kau yang memaksa.” Taeyeon membela diri. Pipinya semakin memanas. Jangan ingatkan ia tentang kejadian pagi itu. Semuanya terjadi begitu saja. Apartement milik Heechul adalah saksinya.

“Dan kau tak menolak. Aku bahkan tak lupa jika setelah puncak pertama, kau ingin meminta lebih.” Alis Baekhyun terangkat sebelah.

Yak, Byun Baekhyun.” Taeyeon melempar bantal kearahnya. Tapi secepat kilat pria itu menghindar.

“Tak ada penolakan.” Baekhyun tersenyum lembut. “Aku sudah pernah melihat semuanya.” Ia memberikan tatapan penuh keyakinan dimana Taeyeon tak bisa menolaknya.

Senyuman Baekhyun melebar saat Taeyeon setuju dengan menganggukkan kepala. Percuma jika Taeyeon menolak keinginan pria itu. Ia hanya selalu patuh.

Tanpa ragu Baekhyun melepas jubah itu lalu memakaikan pakaian yang ia bawa tadi di tubuh kekasihnya. Matanya tak mengerjap saat menatap sesuatu yang dimiliki oleh gadisnya. Pria itu tidak tahu mengapa, yang pasti Baekhyun sangat menyukainya.

“Kau tidak akan meninggalkan aku kan?” Taeyeon bertanya saat Baekhyun tengah mengancingi kemeja itu.

“Tak ada alasan yang logis jika aku harus meninggalkanmu.” Baekhyun menjawabnya saat ia berhasil mengaitkan kancing ditempat akhir. Ia tersenyum kemudian mengecup bibir Taeyeon sekilas.

Taeyeon hanya memakai kemeja panjang yang menutupi setengah pahanya, kurang lebih seperti itu. Itu lebih baik dibandingkan ia harus mengenakan jubah mandi sepanjang waktu.

“Kita harus pergi untuk tidur siang.” Baekhyun memberikan saran dimana Taeyeon menyetujuinya. “Kau benar-benar lelah, Koong?” ia bertanya.

Baekhyun mengangguk. Lalu membaringkan tubuhnya disamping Taeyeon. Menarik gadis itu dan meringkuk disisinya. Mereka saling berbaring dengan lengan Baekhyun mendekap erat tubuh kecil gadisnya. Pria itu menatap kesempurnaan yang ada dalam diri Taeyeon. Begitu cantik.

Baekhyun memejamkan mata. Seraya berkata “Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Aku bisa mendekapmu dan kau merengkuh hatiku. Aku mencintaimu dan segalanya akan baik-baik saja.”

“Terima kasih banyak, Koong.” Taeyeon memberi kecupan di pipinya.

“Kau tahu aku sangat menyayangimu. Aku akan selalu ada untukmu, aku berjanji akan selalu berada disisimu.” Sekali lagi suara itu penuh dengan ketulusan. Baekhyun tak pernah menganggap Taeyeon sebagai tanggungan beban untuknya.

“Aku tahu, Byun. Kau memang yang selalu terbaik.”

Baekhyun merasa jika hidupnya tak akan bisa seperti ini tanpa gadis itu disisinya. Taeyeon memberi dirinya kekuatan, begitu sebaliknya. Ia paling membenci jika Taeyeon berpura-pura tersenyum indah namun dalam hatinya tersenyum kecut.

Ia benar-benar tak rela membiarkan gadis itu sendirian dalam kesedihannya. “Jangan menangis lagi. Kau tak lupa akan janjiku kan? Jika ada masalah maka selesaikanlah bersamaku.”

Taeyeon mengangguk dalam dekapan Baekhyun. Pria itu benar. Semua akan berakhir dengan sebuah penyelesaian. Ia begitu bodoh, hampir saja ia akan menghiraukan dan lari dari masalah.

“Hanya pegang genggaman tanganku dengan erat, dan kita akan melewatinya secara bersama.” Baekhyun menatap manik Taeyeon. Tangannya dengan lembut membelai wajah mulus gadisnya. Ia bergerak lebih dekat lalu meletakkan telapak tangan di pipi Taeyeon.

Maka Baekhyun mulai menarik wajah Taeyeon menuju arahnya, ia menutup mata sebelum permukaan bibir mereka bertemu. Mata gadis itu ikut terpejam saat Baekhyun memberinya kecupan penuh dengan kelembutan.

Awalnya hanya ciuman-ciuman ringan, namun berubah menjadi penuh gairah ketika Baekhyun menggerakkan lidahnya secara perlahan disekitar mulut gadisnya.

Mereka menyelesaikan ciuman kelewat pendek tersebut, dimana Baekhyun memberinya sebuah senyuman lebar.

Baekhyun tak ingin berhenti. Asalkan Taeyeon selalu mencintainya maka ia tak akan pernah berhenti untuk hidupnya. Pria itu tak akan pernah bisa melepaskan Taeyeon. Apapun yang terjadi asalkan mereka selalu tetap bersama.

Mereka hanya berharap jika seseorang mampu memperlambat lajunya waktu. Menikmati waktu seperti ini bukanlah hal yang mudah untuk mereka dapati. Sejenak melupakan sebuah masalah yang sudah pasti tengah menjadi perbincangan orang banyak di luar sana.

Orang-orang tengah membicarakan mereka. Tak peduli orang-orang itu mengatakan apa. Mereka akan bersikap tidak peduli. Ini adalah hidup mereka, orang lain tentu tak perlu ikut campur dengan urusan keduanya.

Mereka memiliki siang hari itu dengan penuh kebahagiaan. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Taeyeon sangat merasa senang. Dan berharap jika hubungan dengan pria muda itu tidak akan pernah berakhir.

Baekhyun memanfaatkan waktu mereka dengan baik. Setidaknya dengan adanya masalah ini, membuat ia semakin kuat untuk melindungi dan menjaga gadis yang sangat dicintainya.

“Aku mencintaimu, Kim Taeyeon.”

“Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun.”

FIN

NOTE : Abaikan imajinasi saya tentang ff ini. Satu kalimat ‘ I CHOOSE TO BELIEVE THEM’
Bodo amat sama sama berita rumor mereka ini-itu. yang pasti hanya yakin kalo mereka masih pacaran. Udah kelewat seminggu, SM belom kasih komentar apapun.

Okeh sekian

Kasih komentar? Terima kasih banyak/\

Jadi silent readers? Terima kasih jg karena membaca ff ini sampai akhir.

Salam, dariistrisahOHSEHUN. Hardcore BAEKYEON SHIPPER –GARISKERAS-

Advertisements

73 comments on “[FREELANCE] The Truth (Oneshoot)

  1. Keren keren keren keren
    Suka banget sama ceritanya
    Semoga apa yg di dalam cerita setidaknya sedikit mempunyai kesamaan *mereka masih bersama
    Ditunggu karyamu selanjutnya thor….

  2. Daebakk!! Sweett ffnya romantiss.. 😀
    Suka sama jalan ceritanya, keep writing thor!!
    Fighting!!! 😀

  3. baper, gue. ff-nya bikin baper syalalalala. tanggung jawaaabbbb

    baexotae? postingannya bikin baper semuaahh-_- captionnya apalagiii. makin baverrr lagi pas tae like akun baekyeon fanpage, yaa ‘mungkin’ dia ga liat siapa yang posting wuahaha, puas banget, walaupun di unlike yahh hm. /angkat banner tinggi tinggi/ BAEKYEON SHIPPER. bye! salam, fiji-new zealand HAHAHAHA

  4. Dari awaal baca tuh yang terlintas dibenakk COBA AJAAH INI NYATA
    sedihh bacanyaa ampe nangis yaa ampun ga tau rasanya jdi my taeng yaahh mudah2an ajaa hub mreka tteep baik2 ajaah
    dtunggu karua lainnya ff’yaa daebaaakk

  5. So sweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttt
    Ini ff obat penenang bgt thorrrrr makasihhhhㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    Makasih udah dibuatin alur yg logis dan sesuai sm gosip dan berita yg beredar/? Ya walaupun ini hanya fiksi tp ini penenang bgt buat shippersㅠㅠㅠㅠㅠ thankchuu sekalii
    Great laaah
    Walaupun baekhyunnya kaya banyak gombal/?
    Greattt❤❤❤

  6. Cerita ini sesuai juga sama imajinasiku yg baekyeon shipper.
    Aku juga masih percaya mereka masih bersama, aku selalu bawa2 nama mereka tiap berdoa, heee
    agak lebay sih, tapi itu bener lho

    fighting baekyeon..
    Fighting baekyeon shipper

  7. YEAH! BAEKYEON SHIPPER ULALA~ xD SETUJU BANGET NIH, MESKI DITENTANG OLEH KAUM “OPPA-IS-MINE-UNTILL-THE-JUDGEMENT-DAY”, MESKI DIBILANG SETTING-AN, MESKI DICIBIR SANA-SINI, DITENTANG SANA-SITU, GUE TETEP BELIEVE IN BAEKYEON. YANG GUE HERANNYA KEBANYAKAN FANS JUSTRU LEBIH DUKUNG HOMOSEKSUAL DIBANDING HETEROSEKSUAL. EWH. GODD LUCK BYUNTAE! I’M YOUR HARDSHIPPER HERE. LOVE-YA~ kkk xD aduh nikah dong cepet nikah kkk xD malah gue sempet berpikiran aneh, gue rela andai (andai, ya, hanya imajinasi liar gue) taeyeon sama baekhyun off tapi akhirnya mereka nikah xD xD kyaaaaa―oke lupakan -__- author, ff-nya keren dan membangkitkan semangat saya terkait berita putus baekyeon (yang bikin shock banget, sampe gak nafsu makan!) sialan itu -,- bahasanya dewasa banget :’* gak abal-abal, gak cuma sekedar dialog cupu, gak cuma runtutan kejadian tanpa makna. Di sini disampein pelan-pelan (sampe gue rasanya ngantuk bacanya kkk) dan boom! Akhirnya gue ngerti arti tersirat di balik semua (iya, deh, aku memang o’on, lama banget ngerti alur cerita ini apa). Yah, pokoknya good job, lah! Jangan berhenti menulis dan mendukung ByunTae, ya! :’*

  8. omegat cengar cengir gaje baca ini. sumpah keren binggo. dan aku pun pendukung maksimal hubungan mereka berdua. sempat syok denger kabar mereka broken”an. tp aku yakin mereka masi sama” kalok bisa ampe punya anak cucu banyak hha

    NEXT DITUNGGU ^^

  9. authornim~ please update another baekyeon story . im waiting for your comeback.. aku kangen cerita mu dan baekyeon’s life story.
    kmrn kan ada moment tuh di Mama knp ga dibikin cerita aja hehe
    im waiting for you..

  10. Please update cerita baekyeon lagi.. Baca cerita ini seperti ‘real’apa yg dialami baekyeon.
    Berharap mereka tetap bersama (mengingat banyak moment mereka akhir2 ini)..
    Aku suka gaya bahasa kamu, cerita kamu, alurnya, cata penyampaiannya. Bagus banget!!

  11. Halo authornim gw pembaca baru, baru nemu ff ini dan walaupun udah lama sejak berita itu sampe skrg belum ada konfirm dari SM. Gw berharap banget ini real:”)
    Ceritanya keren + bahasa penulisannya sukaaa. Tulis ttg baekyeon lagi dong thor:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s