[FREELANCE] Our First Love (Chapter 3)


Title : Our First Love
Author/twitter
 : HannaByun_ss (twitter :
@HannTaeng74)

Main cast : Kim TaeYeon SNSD Byun BaekHyun EXO Jung Jessica SNSD

Support cast : Yoon BoMi Apink Park ChanYeol EXO Kim JiWoong Kim JongIn(Kai) EXO Hwang Tiffany SNSD
Length
 : chapter
Rating
 : PG-16
Genre
 : School life, romance,

Note : haaiiii… mian sebelumnya para readers, aku ingin minta maaf karena dari awal prolog aku nggak bilang kalo eomma taeyeon udah meninggal, tapi di part ini aku akan menjelaskannya. Mian juga karena nggak menjelaskan Kai dan tiffany di awal introduction cast, karena menurutku, mereka cuma suport di antara suport nya cast. Dia nggak selamanya ada di setiap part FF. Yaudah, aku Cuma mau bilang itu aja, mian sekali lagi..

Oke Happy Reading… ^^

Preview: Intro, Chapter 1, Chapter 2

Introduction tambahan :


Kai

Teman sekelas TaeYeon yang super hiperaktif. Suka menjahili teman yeoja di kelasnya, tidak terkecuali TaeYeon. Teman satu les TaeYeon dan ChanYeol, tapi ChanYeol tidak begitu mengenalnya. Memiliki sepupu yang bersekolah di SOPA.


Hwang Tiffany

Teman sekelas sekaligus teman sebangku TaeYeon. Yeoja manis berambut pendek yang berimpian ingin memiliki pacar seperti BaekHyun. Berpenampilan feminim dan selalu ingin mengetahui urusan orang lain, especially TaeYeon.

Part 3

TaeYeon berjalan sambil tertunduk, malu karena sedari tadi murid lain terus menatap ke arahnya sambil berbisik. Ia tahu apa yang mereka bicarakan, ya tentu saja kejadian tadi antara dirinya dan BaekHyun. Perlahan TaeYeon membuka pintu kelasnya. Baru satu langkah ia memasuki ruangan itu, tiba-tiba saja seorang yeoja berhambur memeluknya. Sontak membuat dirinya merasa kekurangan oksigen atas perlakuan yeoja itu yang ternyata adalah Tiffany, teman sebangkunya.

“Wooaahh daebak kau, Kim TaeYeon! Semua orang kini tengah membicarakan dirimu!”

“Aaissh… lepaskan aku!!” ronta TaeYeon.

“Kau tahu, kudengar katanya kau mesra sekali tadi.” kata Tiffany yang kini sudah melepas pelukannya.

“Mesra apanya?” tanya TaeYeon sambil merapihkan pakaiannya yang agak kusut akibat perlakuan Tiffany tadi.

“Aaishh.., kau ini jangan pura-pura bodoh! Aku memang tidak melihat, tapi katanya namja itu sangat keren ya?!” tanya yeoja itu lebih antusias.

“Ck! Kau ini bicara apa?” jawab TaeYeon lalu pergi kebangkunya membiarkan pertanyaan Tiffany terus menggantung.

“Ya Kim TaeYeon! Kau belum menjawab pertanyaanku!” protesnya yang kemudian mengekori TaeYeon dari belakang. Lalu duduk di depan meja TaeYeon dengan wajah kesal.

“Ya! Kenapa kau tidak menjawab? Aku sungguh sangat penasaran!”

Sedangkan yang ditanya malah pura-pura membuka buku, malas menjawab pertanyaan yeoja ini. Sebenarnya TaeYeon sungguh mengerti maksud pembicataan Tiffany, tapi apa perlu ia menjawab pertanyaan itu padanya? ‘Apa urusannya dengan yang lain? Kenapa mereka ingin sekali tahu tentang BaekHyun?!’ pikirnya sedikit kesal.

“Oh ya, katanya namja itu yang waktu itu menjemputmu, kan? Apa kalian berpacaran?”

Tap! Dengan cepat TaeYeon menutup bukunya cukup kasar, lalu menatap Tiffany dengan tajam. Kesebarannya sudah habis kali ini, ia kesal dengan semua pertanyaan-pertanyaan Tiffany.

“Ya nona Hwang! Apa harus aku menjawabnya? Kenapa kau ingin sekali tahu tentang namja itu, eoh?!” geram TaeYeon akhirnya.

“Tentu saja aku penasaran! Habis murid lain bilang namja itu sangat tampan dan keren. Aku juga ingin melihatnya!” rengek Tiffany yang dibalas putaran bola mata oleh TaeYeon.

“Aiishh.. Shiro! Kau tidak boleh melihatnya!”

“Wae?! Kenapa kau melarangku? Apa namja itu benar pacarmu?” protes Tiffany.

“Ck! Pokoknya tidak boleh!” jawab TaeYeon sedikit teriak.

Karena merasa terganggu, murid lain yang berada di dalam kelas itu juga menjadi menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam. TaeYeon yang menyadarinya langsung membungkuk meminta maaf kepada mereka.

“Ya! Makanya tidak perlu berlebihan seperti itu.” kata seseorang tiba-tiba dengan santainya.

Sontak keduanya menatap ke sumber suara, yang ternyata adalah Kai. TaeYeon yang menyadari apa yang akan dilakukan namja itu selanjutnya hanya berdecak sebal.

“Bukan urusanmu!” jawab TaeYeon dingin.

“Dia itu terlalu agresif di depan umum.” lanjut Kai, yang membuat TaeYeon melebarkan matanya karena tidak terima dengan ucapan namja itu barusan.

“Apa maksudmu?! Dia tidak agresif!”

“Tentu saja dia agresif. Dia terlalu berani mengumbar kemesraannya bersamamu.” jawabnya santai.

“Haaaiissh.. Jangan bicara omong kosong! Aku yakin dia tidak bermaksud seperti itu!” bela TaeYeon tidak mau kalah.

“Ya! Kenapa kau bicara seperti itu? Kau cemburu pada namja itu, eoh?” tanya Tiffany kepada Kai yang membuat TaeYeon menatap tajam ke arahnya.Yang ditatap akhirnya hanya dapat tertunduk pasrah.

“Haaiisshh!!! Kalian berdua sama saja! Pagi-pagi sudah membuat moodku tidak enak!” kesal TaeYeon lalu pergi meninggalkan mereka yang kini menatap kepergiannya dengan heran.

“Ada apa dengannya? Bukankah harusnya ia senang pagi ini karena sudah diantar pacarnya ke sekolah?”

“Jadi orang itu pacarnya?” tanya Kai tanpa melepas pandangannya dimana TaeYeon pergi tadi.

“Kurasa begitu. Habis tadi dia tidak mau memberitahuku tentang namja itu. Apalagi alasannya kalau bukan karena namja itu adalah namjachingunya.” jelas yeoja itu yang dibalas anggukan oleh Kai.

* * *

SOPA, cafetaria..

Jessica POV

“Kau tidak takut pada appanya?” tanyaku pada BaekHyun yang tengah duduk di hadapanku sambil menyeruput minumannya.

“Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja.”

Ya, namja itu baru saja menjelaskan padaku alasan mengapa dirinya terlambat pagi ini. Ia berangkat bersama dengan yeoja yang ia sukai, Kim TaeYeon. Ia bilang kalau dirinya rela terlambat hanya karena yeoja itu.

Aku yang mendengarnya hanya bisa mengulum senyum terbaikku, menahan rasa aneh yang tiba-tiba muncul di dadaku, rasanya seperti mendesir. Akupun tidak tahu sejak kapan ini terjadi, tapi jika pikiran bodoh itu muncul yang mengatakan kalau aku menyukainya, aku selalu menampiknya. Tapi semakin aku menampiknya, aku semakin yakin kalau aku benar mempunyai rasa terhadapnya.

Aneh! Aku malah baru mengetahui kalau aku menyukainya setelah sekian lama kita berteman. Tapi aku merasa perasaan seperti itu tidak cukup pantas untukku, mengingat TaeYeon juga menyukainya. Tidak mungkin aku menuruti egoku untuk terus memikirkan perasaan ini. Aku sudah menganggap TaeYeon seperti saudaraku sendiri, aku tidak ingin mengecewakan TaeYeon yang selama ini masih memendam rasanya pada BaekHyun. Bahkan TaeYeon tidak bisa seperti diriku saat ini, berbincang dengannya setiap hari. Maka dari itu aku menganggap ini semua sudah cukup untukku bisa memiliki BaekHyun tanpa ingin memunculkan perasaan itu, dan akan selalu mendukung hubungan mereka. Ya, aku sudah bertekad untuk menyatukan mereka kembali!

“Arraseo! Kalau itu sudah menjadi tekatmu, aku akan selalu mendukungmu.”

BaekHyun membalasnya dengan senyuman khasnya, lalu mengusap puncak kepalaku dengam lembut.

“Aigoo.., kau selalu terlihat lucu dan manis kalau sudah seperti ini.”

Kembali kuukir senyum manisku. ‘Tapi jika kau selalu berkata seperti itu, kau malah akan membuat perasaan itu muncul lagi.’ pikirku.

“Baekkie-ah!” panggil seseorang tiba-tiba dari arah belakangku. Dengan cepat kami menengok ke arah panggilan itu.

Betapa terkejutnya aku setelah tahu siapa orang yang memanggil BaekHyun dengan panggilan aneh seperti itu.

“B-BoMi? Kenapa dia memanggilmu seperti itu? Sejak kapan ia memanggilmu dengan panggilan aneh begitu?” bisikku pada BaekHyun dengan tatapan tidak percaya.

BaekHyun meresponnya dengan cekikikan geli, mungkin aneh melihat ekspresiku yang langsung berubah saat tahu yang memanggilnya adalah BoMi.

“Aku juga kurang yakin, mungkin saat kami menjadi partner di festival budaya kemarin.” bisiknya. “Dia selalu terlihat senang saat memanggilku seperti itu, jadi biarkan saja.” lanjutnya sambil menahan tawanya.

‘Jelas saja kalau BoMi senang, terlihat sekali kalau dia menyukaimu.’ pikirku agak kesal karena tingkah BaekHyun yang kurang peka.

Tanpa kita sadari, ternyata yeoja itu sudah berada di samping kami, menyapa BaekHyun lagi kemudian tersenyum dan menyapaku. Dia sudah terlihat akrab dengan BaekHyun. Mungkin BaekHyun benar, ia seperti ini pasti karena festival budaya kemarin. Cepat sekali yeoja ini akrab dengan BaekHyun. Ya, aku memang mengetahui kalau sebenarnya ia adalah sosok yang periang. Pasti mudah untuknya dekat dengan namja yang ia sukai. BaekHyun juga tidak mempermasalahkan panggilan itu, yang menurutku cukup aneh.

“Boleh aku bergabung dengan kalian?” tanyanya kemudian yang dibalas dengan anggukanku dan BaekHyun.

Lalu ia menarik kursi di samping kami dan duduk tanpa berhenti melepas senyumnya.

“Ada apa tiba-tiba ingin bergabung?” tanya BaekHyun setelah dirinya sudah benar-benar duduk.

“Oh ya! Sebenarnya aku ke sini ingin menawarkan kalian sesuatu!” jawabnya antusias.

Aku dan BaekHyun saling berpandangan karena bingung, lalu dengan cepat menatapnya kembali. “Ne?” tanya kami bersamaan.

Ia tersenyum lagi. “Tadinya aku hanya ingin mengajakmu saja BaekHyun, tapi sepertinya akan menyenangkan jika Jessica juga ikut.”

“Mwo? Apa yang sedang kau bicarakan? Kau ingin mengajak kami kemana?” tanya BaekHyun semakin bingung.

“Begini, sepupuku mempunyai voucher gratis untuk menginap dua malam di pantai saat musim panas nanti. Jadi aku bermaksud untuk mengajak kalian juga untuk ikut bersama kami.” jelasnya.

“Tapi kenapa kau malah mengajak aku dan Jessica? Kenapa tidak mengajak teman dekatmu saja untuk berlibur di musim panas?”

“Ani! Aku juga mengajak mereka. Tapi entah mengapa setelah mengetahuinya, tiba-tiba saja aku juga langsung teringat kalian.” jawabnya sambil tersenyum.

‘Jangan berbohong! Aku tahu sebenarnya kau hanya teringat BaekHyun saja.’

Belum sempat BaekHyun menjawab tawaran BoMi, tiba-tiba saja seorang namja muncul mengagetkan kami. Sontak kami langsung menatap ke arah orang itu.

“Wooahh.. tumben sekali uri BoMi bergabung dengan kami?” tanyanya yang ternyata adalah ChanYeol. Mengetahuinya, aku langsung malas melihat ke arahnya.

“Bukankah kau yang selalu bergabung dengan kami tanpa diundang?” balasku dengan tatapan dingin.

“Aaiisshh.. Kenapa kau selalu seperti itu padaku? Apa ini semua karena kau terlalu lama dekat dengan orang ini?” katanya sambil menunjuk ke arah BaekHyun dengan dagunya.

BaekHyun yang menyadarinya langsung memukul lengan ChanYeol dengan keras.

“Ya! Appo!” rintihnya sambil mengusap lengannya yang dipukul tadi.

“Kau juga boleh ikut!” teriak BoMi tiba-tiba yang sukses membuat kami bertiga langsung menengok ke arahnya.

“Mwo?!” ucap kami bertiga bersamaan, ChanYeol dengan tatapan bingungnya, sedang kan aku dan BaekHyun dengan tatapan tidak percaya.

“Ne! Kau juga boleh ikut menginap bersama kami!”

“Menginap?! Kita akan menginap bersama?!” tanyanya dengan wajah pervertnya.

Seperti sudah tahu pikiran kotor ChanYeol saat ini, BaekHyun kembali memukul lengannya.

“Ya! Jangan berpikiran dangkal begitu! BoMi bilang punya voucher gratis pergi ke pantai dan akan mengajakku bersama Jessica untuk ikut dengannya saat musim panas nanti.”

“Oh ya?! Wooahh daebak! Lalu bagaimana dengan kalian? Apa kalian akan ikut?” tanyanya lalu menatap aku dan BaekHyun.

Aku memilih diam dan menunggu jawaban BaekHyun. Karena jujur saja, sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan ajakannya. Sepertinya BaekHyun juga berpikiran sama denganku, terlihat kini ia sedang berpikir, berpikir cara menolak ajakan BoMi dengan halus tanpa menyakiti yeoja itu. BoMi juga terlihat cemas menunggu jawaban BaekHyun.

Seperti tahu kalau BaekHyun akan menolaknya, ia cepat-cepat membuka mulutnya lagi. “Ah! Kau juga boleh mengajak yeoja yang waktu itu! Emm.., siapa namanya? Kim.. TaeYeon?”

Mwo?! Apa baru saja ia menyebut nama TaeYeon? Dari mana ia tahu TaeYeon? Apa BaekHyun yang memberitahunya?

Dengan cepat kami menengok ke arah BoMi lagi. Ia selalu membuat kami terkejut dengan ucapannya.

“Kau mengenal TaeYeon?!” tanya ChanYeol.

“Ne, tentu saja. Sewaktu BaekHyun membawa yeoja itu ke sekolah, kami sempat berkenalan.” jelasnya bangga. Aku dan ChanYeol mengangguk mengerti.

Kalau seperti ini, mungkin bisa menjadi jalanku untuk membantu BaekHyun pergi bersama TaeYeon di musim panas ini. Dengan cepat kubuka mulutku untuk menerima ajakan BoMi.

“Apa boleh TaeYeon ikut?” tanyaku memastikan, lalu dengan cepat BoMi menganggukan kepalanya. “Kalau begitu, kami akan ikut!” jawabku yang dibalas tatapan tak percaya dari BaekHyun dan anggukan semangat dari ChanYeol.

Sontak wajahnya kini terlihat sangat senang. “Benarkah?! Kalau begitu aku akan memberitahu kalian lagi nanti! Gomawo sudah menerima ajakanku!” jawabnya bersemangat, lalu dengan cepat berlalu kembali ke kerumunan teman-temannya. Sepertinya ingin memberitahu mereka kalau kami menerima ajakannya.

“Kau yakin akan ikut dengannya?” tanya BaekHyun masih tidak percaya setelah kepergian BoMi.

“Geureomm!” jawabku mengangguk pasti. “Lagipula dia bilang kalau TaeYeon boleh ikut. Ini akan menjadi kesempatanmu untuk pergi dengan TaeYeon musim panas ini.” jelasku.

“Wooaahh daebak!! Ternyata kau pintar juga Sica-ah!” puji ChanYeol padaku. Aku membalasnya dengan senyum banggaku.

“Benar juga!” jawabnya tersenyum, tapi tak lama senyum itu memudar setelah ia seperti menginhat sesuatu. “Keundae, kalau TaeYeon menolaknya karena terpikirkan appanya bagaimana?” tanyanya cemas.

“Tenang saja! Kau tidak perlu khawatir, aku yang akan menanganinya.”

“Jinja? Gomawo Sica-ah! Kau selalu saja membantuku. Balasan apa yang harus aku berikan padamu?”

‘Hahahah.. dia lucu sekali. Aku senang kalau kau juga senang. Kalau aku egois, mungkin aku akan memintamu untuk membalas perasaanku juga.’ pikirku.

Aku berusaha pura-pura berpikir yang membuatnya makin antusias menunggu jawaban dariku.

“Traktir aku setelah pulang les nanti.”

Jessica POV end

* * *

TaeYeon POV

Malam ini adalah jadwalku untuk belajar tambahan. Pelajaran akan dimulai pukul 19:00, yang artinya aku masih punya waktu 10 menit untuk merenggangkan tubuhku karena lelah. Murid yang lain juga masih menunggu dan memilih memainkan ponsel masing-masing.

Kembali kurenggangkan lenganku kebelakang cukup lama, lalu menariknya kembali ke posisi semula sebelum sebuah lengan menariknya ke belakang yang membuatku merintih kesakitan. Kuputar tubuhku kebelakang untuk melihat orang itu dengan kesal. Sudah kuduga, ternyata memang dia pelakunya. Dia selalu menjahiliku, di sekolah maupun di tempat les. Kai si manusia hiperaktif itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?!” teriakku yang sukses membuat murid lain menatap ke arahku dengan tajam. Seolah memperingati untuk tidak membuat keributan.

Kai yang melihatnya malah menertawaiku tanpa suara itu. Aku kembali menatapnya dengan tatapan date glareku, siap untuk menerkanya saat itu juga. Tapi namja itu seperti tidak kehabisan akal untuk membuatku gagal membalas perlakuannya dengan ucapannya.

“Ya! Apa pacarmu tidak mengantarmu pulang seperti tadi pagi?” tanyanya santai yang membuat pipiku memerah karena ucapannya.

“Ck! Kau ini bicara apa?!” balasku kesal, kali ini lebih memelankan suaruku agar tidak mengganggu yang lain lagi.

“Habis wajahmu terlihat lelah dan tidak bersemangat. Ini pasti karena dia tidak menjemputmu sepulang sekolah tadi, ya kan?” godanya lagi.

“Ini bukan urusanmu! Urus saja dirimu dulu yang masih belum memiliki pasangan ini, sebelum kau ingin mengurusi hubungan orang lain.” jawabku ketus sambil menepuk pundaknya.

Sebenarnya aku dan BaekHyun juga tidak bisa dibilang pasangan, kami belum resmi berpacaran. Tapi tidak masalah kalau aku berbohong padanya, agar mulutnya bisa diam dan tidak bisa membalas ucapanku. Benar saja, ekspresinya langsung berubah sedih setelah ucapan pedasku barusan. Aku hanya tersenyum puas melihatnya tidak dapat berkutik seperti itu. Rasakan itu!

Tak lama Park songsaenim datang, membuat seisi kelas membenarkan sikap untuk menyapa Park songsaenim. Begitupun denganku, aku memutar tubuhku kembali menatap ke depan tanpa ingin mempedulikan wajah sedih Kai lagi.

Selang beberapa detik, ChanYeol datang dengan tergesa-gesa. Lalu wajahnya terlihat panik setelah melihat Park songsaenim sudah berada di kelas. Mungkin ia takut terkena omelannya.

“Hosh.. hosh.. Jeosonghamnida songsaenim! Aku terlambat.” ucapnya sambil membungkuk dalam memberi salam pada Park songsaenim.

“Gwaenchana! Kau belum terlambat. Aku baru ingin memulai pelajarannya. Kau boleh duduk!” jawab Park songsaenim yang membuat ChanYeol kembali membungkukkan badannya berterima kasih.

“Kamsahamnida!” balasnya lalu meraih kursi yang kosong, yaitu di sebelahku.

“Tumben terlambat?” bisikku pada ChanYeol, yang membuatnya menoleh ke arahku.

“Ne! Ini karena aku ikut makan bersama BaekHyun dan Jessica sehabis mereka pulang les. Aku lupa kalau aku juga ada jadwal hari ini.” jawabnya sedikit kesal sambil mengeluarkan bukunya.

Aku membalasnya dengan anggukanku dan kembali memfokuskan diri pada Park songsaenim. Tapi sepertinya tidak bisa. Aku terlalu memikirkan BaekHyun dan Jessica. Apa mereka selalu pergi makan bersama setelah pulang les? Aku sangat iri sekali dengan Jessica. Ia bisa setiap hari bertemu dengan BaekHyun. Bahkan separuh harinya ia habiskan bersama BaekHyun. Sungguh aku sangat cemburu pada Jessica.

.

.

.

“Haiishh.. kenapa harus hari ini Park songsaenim menambah jam pelajaran! Padahal aku ingin cepat-cepat tidur malam ini.” keluh ChanYeol.

Sedangkan aku hanya memerhatikan tingkahnya sambil terus menuruni tangga bersamanya. Malam ini Park songsaenim menambah satu jam pelajaran dari biasanya, itulah yang membuat ChanYeol kini terlihat kesal. Jujur saja, sebenarnya aku juga kesal, tapi aku enggan untuk mengumbar kekesalanku seperti dirinya.

“Ini sudah malam, kau pulang sendiri?” tanyanya kemudian setelah kami melewati pintu keluar. Aku mengangguk membalasnya. “Mau aku antar sampai rumahmu?” tawarnya.

“Ah gwaenchana! Biasanya oppaku juga akan menjemput.” jawabku berbohong.

“Oh ya? Tapi aku tidak pernah melihat oppamu menjemputmu. Kau juga selalu pergi ke halte untuk naik bus.”

“Ani! Kami biasa bertemu di halte.”

“Oh.. yasudah. Aku duluan, ne!”

Aku membalasnya dengan anggukan lalu melambai ke arahnya. Aku bohong kalau oppa selalu menjemputku di tempat les, dia saja tidak pernah mengantarku ke sekolah, apalagi menjemput di tempat les. JiWoong oppa memang bukan oppa yang baik untukku. Mungkin saja dia akan rela jika aku sampai diculik orang lain malam-malam begini. Padahal ini sudah lewat dari jam 10.

Aku berjalan menuju halte di depan jalan perempatan dekat tempat lesku. Aku jadi teringat tawaran ChanYeol yang akan mengantarku pulang, tumben sekali namja itu. Hari ini dia benar-benar aneh, tidak biasanya ia datang terlambat, lalu dia sangat ingin cepat pulang untuk tidur, padahal biasanya ia selalu mengobrol sebentar di depan tempat les dengan murid lain sebelum ia pulang. Dan yang terakhir dia malah mengajakku pulang bersama, dia juga tidak meledekku selama pelajaran tadi. Biasanya mulutnya tidak berhenti mengucapkan nama BaekHyun agar aku terlihat bodoh di depan murid lain karena tingkah maluku. Mungkin ia memiliki masalah di sekolahnya hari ini dan membuatnya lelah. Aku juga sempat melihatnya menguap selama pelajaran tadi. Tanpa kusadari ternyata bus sudah di depan mataku. Segera aku menaikinya.

.

.

.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan dengan bus yang mengantarku. Kulangkahkan kaki menuruni tangga bus dan membungkuk berterima kasih pada ajhusi yang mengantarku. Ya, aku cukup kenal dengannya. Ia memiliki jadwal menyetir bus bersamaan dengan kepulangan lesku, aku selalu hampir pulang bersama ajhusi itu. Lalu ia membalas dengan senyumannya kemudian menjalankan busnya kembali meninggalkanku yang masih memperhatikan kepergian busnya.

Setelah aku berbalik untuk melanjutkan berjalan sampai ke rumah, mataku melihat sosok yeoja dengan bungkusan tas karton di tangannya. Itu Jessica. Aku langsung tersenyum setelah ia juga menangkap sosokku. Lalu aku berlari menghampirinya.

“Kau baru pulang? Malam sekali.” tanya yeoja itu membuka percakapan kami.

“Ne. Guruku menambah satu jam pelajaran hari ini, jadi aku pulang terlambat.” jelasku yang membuatnya mengangguk paham.

“Kau sendiri, sedang apa malam-malam begini?” tanyaku sambil menunjuk kantung bawaan yang ia pegang.

“Oh.. aku hanya habis membeli peralatan untuk praktek di sekolah besok.” jawabnya, lalu aku mengangguk. “Kajja pulang bersama!”

Aku membalas dengan senyumku, “Ne!”

“Oh ya, kudengar tadi dari ChanYeol, katanya kau dan BaekHyun makan bersama dengannya sore ini?” tanyaku memecah keheningan setelah kami melewati halte.

“Dia cerita padamu?”

“Ne! Katanya karena ikut makan bersama kalian, dia jadi lupa kalau hari ini ia ada jadwal les, dan hampir membuatnya terlambat.” jelasku.

“Oh ya? Hahhahhah..” tawa Jessica dengan manisnya.

Sampai tawamu saja terlihat manis. Bagaimana bisa BaekHyun melepas yeoja sepertimu. Aku sangat iri padamu Sica-ah, kau bisa pergi kapanpun kau mau dengan BaekHyun. Sedangkan aku harus mencari waktu yang pas agar bisa bertemu dengannya. Mungkin kalau bukan BaekHyun yang selalu memaksa, aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.

“M.. a-apa kalian selalu pergi bersama setelah les?” tanyaku akhirnya dengan gugup.

“Oh?” Jessica menghentikan tawanya, dan melihat ke arahku heran. “Aniya.. saat istirahat jam pertama, BaekHyun janji padaku akan mentraktir setelah les, jadi kami pergi makan. Dan tanpa diundang, namja pervert itu mengikuti kami.” jelasnya.

“Aahh..” aku mengangguk dengan senyum yang aku paksakan.

Seperti tahu dari perubahan air mukaku, tiba-tiba Jessica merangkulku dengan lembut.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir dengan hubunganku dan BaekHyun. Kami hanya teman. Itu hanya acara makan biasa, tidak ada artinya sama sekali. Aku bahkan mendukung hubungan kalian!”

Sontak aku melihat ke arahnya, tak percaya dengan apa yang baru ia katakan. Yeoja itu begitu memahami perasaanku, padahal aku sudah berusaha tersenyum agar dia tidak mengetahui kalau aku sedang cemburu padanya. Kau benar wanita cantik sekaligus baik hati. Bahkan sekarang aku malu menampakan wajahku ini, seharusnya aku tidak boleh cemburu padamu, kau sudah begitu baik padaku.

“TaeYeon-ah!” panggilnya tiba-tiba, seakan seperti teringat sesuatu. Aku menoleh ke arahnya.

“Ada yang ingin aku bicarakan juga padamu.”

“Ne?”

“Kau mengenal BoMi, kan? Teman sekelas BaekHyun.”

Mwo?! Dia tahu dari mana aku mengenal yeoja itu? Apa BaekHyun yang memberi tahunya?

“Ne. Wae?”

“Begini.., tadi saat istirahat dia bilang ingin mengajak aku, BaekHyun dan ChanYeol pergi bersamanya saat liburan musim panas.”

“Oh ya? Lalu apa hubungannya denganku?”

“Dia juga bilang kalau aku dan BaekHyun boleh mengajakmu. Apa kau mau ikut bersama kami?”

“Mwo?!”

Sontak aku membelalakan mata terkejut. Kenapa yeoja itu ingin mengajakku segala? Padahal kami baru saja berkenalan. Apa maksud dia mengajakku?

“Hm.. sebenarnya BaekHyun akan menolak ajakan itu, tapi saat BoMi bilang kalau ia boleh mengajakmu, BaekHyun langsung menerimanya. Ini juga akan membantu kau dan dia bisa pergi bersama bukan? Apa kau akan melewatkan kesempatan ini? Jadi kumohon kau ikut bersama kami, ne?” mohon Jessica.

Aku masih tidak bergeming menatapnya dengan penuh keheranan. Kenapa semua ingin aku ikut bersama mereka?

“K-keudae….”

“Ah! Kalau kau masih hawatir dengan appamu, aku yang akan menjelaskkannya, otte?” katanya tiba-tiba. Dia selalu tahu apa yang akan aku hawatirkan.

“M.., bagaimana ya?” pikirku lagi.

“Ayolah.. jebal! Aku juga yakin BaekHyun menerimanya karena ingin pergi bersamamu.” mohonnya lagi, kali ini lebih serius.

“M.., baiklah akan aku pikirkan lagi. Lagipula liburan musim panas masih dua minggu lagi, bukan?”

“Geurae.., tapi kau harus berjanji untuk ikut bersama kami, ne?”

“N-ne!” jawabku kurang yakin.

“Yasudah, hubungi BaekHyun kalau kau mau ikut!” suruhnya tiba-tiba.

“Mwo?! Kenapa harus bilang padanya, kan kau yang mengajakku.”

“Aiisshh.. kau ini polos sekali. Kau hanya tinggal memberitahunya dan bilang kalau kau akan ikut juga.”

“A-aku…”

“Tidak ada penolakan! Yasudah, aku masuk duluan, ne! Annyeong~” katanya lalu berlari masuk kerumahnya, seperti tidak ingin mendengar alasanku lagi.

Bahkan sekarang aku baru menyadari kalau ternyata sudah berada di depan rumah Jessica. Mungkin karena aku terlalu memikirkan tawaran itu. Sebenarnya aku ingin sekali ikut, tapi masalahnya sekarang, kenapa yeoja itu yang malah memaksaku untuk menghubungi BaekHyun? Apa BaekHyun yang memintanya untuk mengatakan ajakan ini padaku?

TaeYeon POV end

* * *

Malamnya TaeYeon tidak bisa tertidur, yang membuatnya berniat untuk pergi ke ruang TV, barangkali saja ia bisa mengantuk jika sedang menonton. Tapi setelah kakinya baru menginjak keluar kamar, aura ruangan tv terlihat berbeda dari sini. Terlihat remang-remang dengan lampu meja saja yang menyala, membuat ruangan itu terkesan menyeramkan. Entah mengapa bulu kuduknya jadi merinding. Ia tahu kalau sekarang hanya dirinyalah yang masih terjaga, pasti appa dan oppanya sudah tertidur saat ini. Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung mengurungkan niatnya untuk menonton dan segera kembali berbalik ke kamar sampai sebelumnya tiba-tiba ia mendengar suara isakan tangis seseorang. Ia kembali tidak dapat bergeming, bulu kuduknya semakin merinding, dan detakan jantungnya malah memperparah keadaan. Tangisan itu semakin terdengar yang sepertinya dari arah kamar oppanya. Sebenarnya ia sangat takut sekali, tapi rasa penasarannya malah mengalahkan takutnya. Dengan seluruh keberaniannya, ia berjinjit melangkah menuju kamar JiWoong dan membuka pintu kamar itu perlahan. Ia semakin yakin kalau tangisan itu terdengar dari kamar ini. Tapi tiba-tiba saja jantungnya kembali berdetak kencang setelah melihat siluet hitam yang terduduk di pinggir ranjang sambil menelungkup wajahnya menangis.

“O-oppa? A-apa itu kau?” tanya yeoja itu memberanikan diri.

“TaeYeon?!” tanya sosok itu terkejut.

Dengan cepat ia meraih saklar lampu, seketika ruangan itu menyala dengan terang, memperlihatkan seisi ruangan itu yang nampak berantakan dan sosok yang sedari tadi membuatnya ketakutan. Air mukanya langsung berubah setelah mengetahui siapa sosok itu. Dia oppanya, dengan mata sembab dan hidung memerah. Ia tahu oppanya pasti sedang menangis, tapi apa yang membuatnya menangis?

Mengetahui keberadaan TaeYeon dikamarnya, segera ia hapus air mata yang sedari tadi memenuhi pipinya, sekaligus memperbaiki penampilannya yang sedikit berantakan.

“Oppa? K-kau menangis?” tanya yeoja itu yang sekarang terlihat sangat panik.

JiWoong membuang napasnya dan berusaha tersenyum. “Ani.” jawabnya singkat.

TaeYeon tahu ada yang tidak beres dengan oppanya, segera ia menghampiri oppanya tanpa melepas wajah hawatirnya.

“Gwaenchana?”

“Gwaenchanayo.. Aku sudah bilang, aku tidak apa-apa.”

“Ani! Jelas-jelas kau menangis! Pasti telah terjadi sesuatu, kan? Apa kau sakit?!” tanya yeoja itu lagi sambil menaruh punggung tanggannya ke dahi JiWoong.

“Hahahahahah.. Kau tidak perlu sepanik itu.” jawabnya lalu melepaskan tangan adiknya dari wajahnya. “Aku tidak sakit, aku baik-baik saja.”

“Ya! Katakan saja padaku! Aku sungguh khawatir!” bentak TaeYeon tiba-tiba yang membuat JiWoong terkejut.

“Aku sudah bilang tidak apa-apa, kenapa malah membentakku?” protes JiWoong menggoda TaeYeon.

Bukannya balas mengomel, yeoja itu malah mulai menitikan air matanya juga. “Hiks.. Aku sungguh sangat menghawatirkanmu, oppa.. hiks..”

JiWoong yang melihatnya langsung terkejut dan mulai meraih yeoja itu ke dalam dekapannya, memeluk TaeYeon dengan lembut.

“Aku bingung mau menjelaskannya bagaimana, ini sangat memalukan.”

Dengan cepat TaeYeon melepas pelukan itu dan menatap kearah oppanya dengan tajam, “Kau ini bicara apa? Bahkan sekarang kau sedang berbicara dengan adikmu sendiri, apa yang harus kau cemaskan? Cerita saja padaku, apa yang membuatmu menangis, oppa?!”

Terlihat JiWoong sempat berpikir, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menjawabnya.

“Sebenarnya.. aku… tiba-tiba saja aku teringat eomma saat sedang mengerjakan skripsi.” jawab namja itu akhirnya yang sukses membuat TaeYeon membelalakan matanya.

Ia sangat terkejut sekali saat tahu oppanya menangis, karena ini jarang ia lihat, bahkan tidak pernah lagi sejak hari kematian eommanya dulu. Tapi kini TaeYeon kembali terkejut mengetahui alasan namja itu menangis, yaitu karena teringat sosok eomma.

“Aku merindukan eomma.” lanjut JiWoong lirih menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.

Kalau ditanya apakah TaeYeon juga merindukan sang eomma, jawabannya pasti ‘ya’. Ia sangat merindukan eomma. Tak jarang ia merindukannya, terlebih jika ia sedang sendiri, menunggu oppa dan appanya yang biasa pulang larut. Dulu jika ia sedang menunggu appanya pulang kerja, eommanya akan menyuruhnya pergi tidur lebih dulu dan membacakan cerita untuknya. Yang paling mengingatkan TaeYeon pada sosok eomma adalah pelukannya. Eomma selalu melakukan itu jika sedang membelanya karena pertengkaran kecil antara dirinya dan JiWoong.

flashback

“Eomma!! Oppa memakan es krimku lagi!” rengek TaeYeon kecil.

“Woongie-ah! Kenapa kau suka sekali menjahili adikmu? Jangan lakukan itu lagi, ne?”

“Ne, eomma.” jawab JiWoong kecil tertunduk menyesal.

“Yeonie-ah, illuwa..! Sebagai gantinya eomma akan memelukmu.”

Dengan cepat TaeYeon kecil berhambur memeluk eommanya. Ia sangat menyukai pelukan eomma lebih dari apapun. Bahkan kalau disuruh memilih antara permen kapas dengan pelukan eomma, ia akan menjawab pelukan eommanya.

“Tapi ingat, kau tidak boleh bertengkar dengan oppamu lagi, ne?” kata eommanya lembut.

“Ne!” jawab TaeYeon kecil dengan senyum yang terus mengembang sejak eommanya memeluknya dengan erat.

flashback off

Tanpa perintah dari sang empunya, air mata itu kembali turun membasahi pipi mulus TaeYeon. Iya juga merasakan apa yang kini oppanya rasakan, bahkan jauh lebih merasakannya. Tiba-tiba tangan besar oppanya menyeka air matanya yang kini tengah membanjiri pipinya tanpa isakan itu.

“Mianhae jadi membuatmu kembali teringat eomma.” kata namja itu menyesal.

“Ani.” jawab yeoja itu datar tanpa berkedip. “Aku juga merindukan eomma.”

Kembali JiWoong memeluk TaeYeon, kali ini lebih erat lagi. TaeYeon balas memeluk oppanya, terlihat seperti sedang berbagi kesedihan masing-masing karena orang yang mereka rindukan. Sekejap ruangan ini penuh dengan keharuan.

“Kau tahu oppa, bahkan tadi aku sempat ketakutan karena mendengar ada yang menangis dari dalam kamarmu, tapi ternyata itu kau.” ucap TaeYeon setelah hatinya kembali pulih tanpa melepas pelukan oppanya.

“Hahaha.. kau ini ada-ada saja.”

TaeYeon tersenyum di balik punngung JiWoong. Dengan cepat ia semakin mempererat pelukannya. Mungkin untuk pengganti pelukan eommanya yang sangat ia rindukan.

* * *

At Kim’s Family 07:04

Seperti biasa, TaeYeon dan keluarganya sedang menyantap sarapan sebelum mereka berangkat ketujuan mereka masing-masing. Keheningan menyelimuti mereka, sebelum namja paruh baya memecah keheningan itu.

“Yeonie-ah, apa liburan musim panas ini kau akan ke Jeonju lagi?”

“Ne! Aku tidak mau sendirian di rumah.” jawab TaeYeon mantap. ” Oppa!” panggilnya kemudian, lalu yang dipanggil menoleh ke arahnya.

“Eoh?”

“Apa kau akan ikut denganku tahun ini?”

“Ani! Aku sudah ada janji dengan temanku di awal liburan. Mungkin aku akan menyusul untuk beberapa hari saja nanti.” jawab JiWoong.

Mendengar jawaban oppanya, TaeYeon jadi teringat dengan ajakan Jessica semalam. Bodohnya ia malah melupakan itu kalau bukan sempat oppanya menyadarkannya tadi.

‘Aaissh.. yeoja babo! Seharusnya kau minta izin pada appa!’ rutuk yeoja itu dalam hati.

“Kau mau kemana, Woongie-ah?”

“Ahh…! Igeo, aku ingin menginap di rumah orangtua Heechul di Sokcho, Gangwon. Katanya disana banyak pegunungan, aku ingin sekali mendaki bersama mereka. Kami juga sudah merencanakan ini sejak lama, jadi aku akan pergi selama satu minggu pertama.” jelasnya lagi dengan senang.

“Arraseo..! Kau boleh pergi. Keundae, pulanglah bersama neo dongsaeng dari Jeonju, kasihan kalau dia harus berangkat dan pulang sendiri.”

Mendengar jawaban appanya, JiWoong mengernyitkandahinya karena tidak terima harus pulang bersama TaeYeon dari Jeonju.

“Tapi aku sudah bilang ingin menginap beberapa hari saja, kan disana? Jadi aku tidak bisa pulang bersamanya, appa.” elak JiWoong sambil menatap TaeYeon sekilas, lalu kembali menatap appa menunggu jawabannya.

Sedangkan orang yang sedang dibicarakan seperti tidak peduli perdebatan kedua namja itu, ia tetap meminum susunya.

“Kalau kau tidak mau pulang bersama adikmu, appa tidak akan mengizinkanmu!” ancam pria itu yang membuat JiWoong kembali menatap appanya tidak terima.

“Mwo?! Aaiishh.., masa aku harus pulang bersamanya, appa? Bahkan aku memiliki yeojachingu, kami sudah janji akan bertemu di perayaan kembang api saat malam terakhir liburan musim panas!” rengek JiWoong lagi.

“Appa sudah membuat pilihan, kau hanya tinggal memilih!”

JiWoong kembali berdecak sebal, yang membuat TaeYeon menjulurkan lidahnya ke arah JiWoong. Ia cukup senang karena kini appanya seperti sedang ingin membelanya terus. Maka dari itu, situasi seperti inilah ia gunakan untuk meminta izin pada appanya untuk pergi bersama Jessica liburan nanti.

“M.., appa!” panggil TaeYeon tiba-tiba. Appa dan oppanya sontak menoleh ke arahnya. “Sebenarnya aku juga ingin meminta izin padamu untuk pergi bersama Jessica ke pantai, hanya dua hari saja sebelum aku ke Jeonju. Boleh, ne?” tanya yeoja itu sedikit ragu.

Benar saja, tanpa menunggu lama, appa dengan mudah menganggukan kepala tanda menyetujui permintaan TaeYeon.

“Ah jinja, appa?! Aku benar boleh pergi?!” tanya TaeYeon memastikan.

“Ne. Selama ada Jessica, appa percaya padamu.” jawab tuan Kim masih sambil menelan roti terakhirnya.

Mendengarnya membuat TaeYeon tersenyum senang, sedangkan JiWoong menatap sang appa dan TaeYeon secara bergantian karena masih tidak percaya dengan jawaban appanya.

‘Mwo?! Bahkan TaeYeon diperbolehkan tanpa syarat apapun. Ah jinja!’ kesalnya dalam hati.

“Kalau begitu appa pergi duluan, ne! Kalian pergilah bersama setelah appa, arrachi? Jangan lupa mengunci pintu!” lanjutnya yang dibalas anggukan semangat oleh TaeYeon, tidak dengan namja yang duduk di sebelahnya

Setelah appa berlalu keluar rumah, TaeYeon berdeham penuh arti tanpa melepas pandangannya ke arah tempat appanya berlalu tadi. Yang membuat JiWoong menatap adiknya itu dengan malas.

“Kau dengar appa tadi mengatakan apa, kan? Hari ini kau harus mengantarku ke sekolah.”

“Ne?!” balas JiWoong dengan tatapan menantang. “Ya! Jangan harap kau akan aku antar, ne?”

“Mwo?!” jawab TaeYeon sambil melebarkan matanya tidak percaya. “Yasudah, nanti akan aku adukan pada appa!” ancamnya tidak mau kalah.

Sepertinya pertengkaran akan segera dimulai lagi. Padahal baru semalam mereka terlihat akur dengan air mata yang menjadi saksi keakuran mereka. Tapi kenyataannya kini mereka seperti sudah melupakan kejadian semalam.

“Kalau begitu aku juga akan bilang pada appa kalau sekarang kau sedang dekat dengan seorang namja.” balasnya santai mengancam balik TaeYeon.

“Mwo?! N-nugu?” tanya yeoja itu pura-pura bodoh. Padahal kenyataannya ia tahu siapa namja yang oppanya maksud.

“Kau kira aku tidak tahu kalau kemarin kau berangkat bersama namja itu?”

Sontak TaeYeon membulatkan matanya terkejut. Dari mana oppanya bisa tahu kalau ia dan BaekHyun berangkat bersama kemarin?

“A-apa yang kau bicarakan?” tanyanya sedikit gugup.

Menangkap kegugupan TaeYeon, JiWoong semain yakin kalau namja yang kemarin ia lihat di jalan ke arah rumahnya adalah namja yang bernama BaekHyun. Berarti ini bisa menjadi kesempatan dirinya untuk memanfaatkan TaeYeon.

“Kau tahu siapa namja yang aku maksud.” jawab JiWoong dengan santai tanpa menatap TaeYeon.

Kini TaeYeon yang tampak tidak bergeming semakin merasa terpojok oleh ucapan oppanya. JiWoong yang sempat menatap ke arah wajah adiknya yang terlihat sedang panik, malah mengulum senyum kemenangannya, sebelum ia kembali melanjutkan perkatannya.

“Kau tidak perlu sepanik itu. Kau juga tahu, kan kalau kau memiliki oppa yang baik hati? Karena aku tidak akan mengadukannya pada appa,”

Mendengarnya, TaeYeon kembali melebarkan matanya dan langsung menatap ke arah oppanya.

“Ah jinja?! Jeongmal kau memang oppa yang sangat baik, jadi jangan bilang soal ini pada appa, ne?” mohon yeoja itu lalu memeluk oppanya tanda terima kasih.

“Aiishh.., jangan terburu-buru seperti itu! Siapa bilang ini tidak ada syaratnya?”

“Mwo?!” sentak TaeYeon melepas pelukannya. “Yasudah, apa syaratnya?!” tanyanya menyerah.

“Mudah saja. Kau tinggal bilang pada appa kalau kau tidak perlu kujemput dari Jeonju.”

“Haaiisshh.., bahkan kau memakai cara ini untuk memanfatkanku!” rutuk TaeYeon kesal. Sedangkan JiWoong hanya bergidik tidak peduli. “Ne! Aku akan bilang pada appa!” lanjutnya lalu memutar bola matanya jengah setelah melihat oppanya tersenyum puas padanya.

“Kalau begitu ayo kita berangkat!” ajak namja itu yang kini kembali senang.

TaeYeon yang melihatnya hanya mendengus kesal lalu dengan cepat meraih tasnya untuk menyusul JiWoong yang sudah lebih dulu keluar. Tapi tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku blazernya. Dengan cepat ia mengambil ponsel itu dan membaca pesan yang masuk. Matanya melebar seketika setelah membaca isi pesan itu, yang ternyata dari BaekHyun.

‘Pagi! Aku sudah di depan rumahmu. Palli keluarlah!’

Belum sempat ia berlari keluar rumah untuk menemui BaekHyun, tiba-tiba ia mendengar suara oppanya dari luar.

“Mwo?! Kau lagi?!”

Seperti tahu apa yang membuat oppanya berteriak dari luar rumah, segera TaeYeon berlari menghampiri namja itu. Benar saja, saat ini ia melihat BaekHyun tengah membungkuk dalam ke arah oppanya.

“Aiishh.. tidak perlu berlagak sopan seperti itu padaku! Cepat katakan saja apa yang kau inginkan?” sergah JiWoong dengan ekspresi dinginnya.

“Jeosonghamnida! Aku ke sini ingin menjemput TaeYeon.” jawab BaekHyun sopan tanpa ragu.

Sedangkan TaeYeon masih memilih untuk melihat mereka dari dalam dengan tatapan hawatir. Sontak ia terkejut setelah oppanya memanggilnya dari posisi yang sama.

“Mwo?! Kau ternyata sudah di sana sejak tadi, eoh?!” ucap JiWoong setelah mendapati TaeYeon masih tidak bergeming di ambang pintu.

“Ah.., m.., n-ne, oppa!” jawab TaeYeon gugup, lalu sedikit berlari ke arah mereka. “Ne, oppa?” tanyanya lagi setelah ia sudah berada tepat di samping oppanya.

“Pergilah bersamanya!” jawab JiWoong dingin.

Sontak TaeYeon kembali terkejut mendengar oppanya mengijinkannya pergi bersama BaekHyun. Diam-diam BaekHuun mengulum senyum senang. Ia merasa kalau oppa TaeYeon mungkin kini sudah akan luluh padanya.

“Ah jinja?!” tanya TaeYeon yang masih terkejut.

“Ne! Tapi kau jangan lupa bilang pada appa soal tadi, ne? Lagipula memang kau pikir aku memberimu izin karena sudah luluh padanya?” jawab JiWoong yang seperti sudah mengetahui raut wajah keduanya yang terlihat senang.

Jedar!! Ternyata BaekHyun salah. Ternyata oppa TaeYeon mengijinkan TaeYeon karena ada alasannya, bukan sudah luluh padanya. Sekejap air muka TaeYeon kembali masam.

“Ne! Aku tidak akan lupa soal itu! Aku pergi, ne!” jawab TaeYeon masih kesal.

“Ah, kami pergi, hyung!” ucap BaekHyun membungkuk badannya lagi.

Lalu keduanya berangkat bersama dengan motor yang BaekHyun bawa.

“Apa yang akan appa katakan kalau aku mengijinkan mereka pergi?” ucap JiWoong setelah melihat kepergian mereka, lalu menghembuskan napas panjangnya.

* * *

“Kau tahu! Aku tadi sempat berpikir kalau oppamu sudah akan luluh padaku, tapi sepertinya aku salah. Benar, kan?” tanya sang namja dari balik helmnya.

“Ne, kukira juga begitu tadi. Tapi ternyata ia mengijinkanku karena ada alasannya. Dia memang tidak pernah bisa diajak kerja sama!”

“Hahahahahah..” tawa namja itu.

“Oh ya, BaekHyun!” panggil si yeoja tiba-tiba setelah seperti mengingat sesuatu.”Aku sudah dengar ajakan itu dari Jessica.”

BaekHyun sempat mencerna ucapan TaeYeon, yang kemudian teringat ajakan BoMi kemarin, dengan cepat ia mengangguk.

“Aku juga akan ikut.” lanjut yeoja itu sedikit malu dari balik punggung BaekHyun.

BaekHyun yang mendengarnya langsung tersenyum senang.

“Jinja?!”

“Ne.”

“Kau sudah diberi izin appamu?”

“Geurom! Appa bahkan langsung menyetujuinya setelah aku menyebut nama Jessica.”

“Oh ya? Apa kau juga menyebut namaku?”

Sentak TaeYeon ragu menjawabnya. Pasalnya ia hanya menyebutkan nama Jessica saja saat minta izin pada appanya. Ia takut BaekHyun akan tersinggung.

“Sepertinya tidak.” dengan cepat namja itu menyela. Terdengar kecewa dari nada bicaranya.

“M-mianhae..” balas TaeYeon ragu.

“Gwaechana! Tapi kau harus janji nanti akan menyebutkan namaku kalau kita pergi lagi, ne?”

“N-ne.”

Sekitar 15 menit keduanya sampai, setengah dari waktu yang dihabiskan TaeYeon jika dirinya menaiki bus. Segera TaeYeon turun dari motor BaekHyun.

“Gomawo.., aku masuk sekarang, ne.” ucapnya sambil mengulum senyum, lalu segera berbalik untuk meinggalkan BaekHyun.

Tapi dengan cepat langkahnya terhenti ketika sebuah tangan menahannya, yang membuatnya kembali berbalik, disusul dengan namja itu turun dari motornya dan melepas helmnya.

“Oh! Apalagi? Kenapa malah melepas helmmu?” tanya TaeYeon bingung.

“Bahkan aku sudah mengantarmu sampai sekolah, apa aku tidak dapat sesuatu darimu?”

“Ne?” tanya yeoja itu kembali bingung.

BaekHyun yang menangkap keluguan TaeYeon jadi berdecak sebal.

“Poppo?” jawabnya sambil menunjuk ke arah pipinya.

Sontak TaeYeon terkejut, pipinya memerah setelah mendengar kata itu dari mulut BaekHyun. Bahkan ia malu hanya untuk sekedar membalas ucapan itu.

“A-aniyo.” jawabnya gugup lalu menundukan wajahnya.

“Wae? Apa karena kita bukan sepasang kekasih?”

“Jangan seperti itu! Bagaimana kalau murid lain melihat? Kemarin saja seisi sekolah membicarakannya.”

“Jinja?!”

“Ne. Lebih tepatnya membicarakanmu.”

“Wae? Padahal aku hanya menggenggam tanganmu.”

“Mungkin mereka terkejut melihatku bergaul dengan murid SOPA.”

“Ne?” tanya BaekHyun bingung atas jawaban TaeYeon. “Memang kenapa kalau kau bergaul dengan murid SOPA? Apa itu salah?”

“Ani! Mereka hanya bingung kenapa kau mau bergaul denganku, apalagi sampai mengantar sekolah segala. Karena rumornya murid SOPA itu sulit bergaul dengan murid kalangan sekolah biasa.” jelas TaeYeon sambil tertunduk.

“Mwo?! Lalu bagaimana dengan aku, Jessica, ChanYeol, ataupun BoMi yang sudah bisa kau kenal. Apa menurutmu kami juga dalam daftar murid SOPA yang sulit bergaul itu?”

“A-aniyo..! Aku memang sempat berpikir begitu, tapi sekarang sudah tidak. Apalagi setelah aku tahu BoMi juga mengajakku liburan bersamanya.” jawab TaeYeon berbohong, yang kenyataannya ia masih mempercayai rumor itu setelah ia merasakan sendiri saat dirinya mengantar BaekHyun ke sekolahnya waktu itu. Kalau ia tidak salah, teman BoMi yang mengejek murid di sekolahnya.

Mendengar jawaban TaeYeon, BaekHyun tersenyum menatapnya.

“Oh ya, kudengar dari ChanYeol katanya kau terlambat kemarin. Apa itu benar?”

“Ne.” jawab BaekHyun santai.

“Mianhae.. pasti karena kau naik bus, kan?”

“Gwaenchana!”

“Kalau begini terus lebih baik kau tidak perlu menjemputku setiap hari. Aku masih bisa pergi dengan oppa atau naik bus seperti biasanya. Jadi kau tidak perlu terlambat.” jelas TaeYeon sedikit hawatir.

BaekHyun POV

Aku tersenyum melihatnya berkata seperti itu. Kalau seperti ini ia terlihat sekali jika dirinya masih sangat menyukaiku, sama sepertiku.

“Sudah kubilang tidak apa-apa. Lagipula aku senang bisa berangkat bersamamu setiap hari. Kalau tidak seperti ini, kapan lagi kita bisa bertemu?”

“Aiishh.., bahkan masih ada akhir pekan. Kita masih bisa bertemu.”

Kuraih puncak kepalanya lalu mengelusnya lembut, sentak membuatnya tertunduk. Mungkin malu karena perlakuanku. Sekilas aku juga melihat kalau ia melirik ke kanan kirinya, seperti takut ada orang lain yang melihatnya. Padahal sekarang terlihat sangat sepi, hanya ada satu dua orang saja yang sedang berjalan masuk ke pintu gerbang, itupun mereka terlihat tidak mempedulikan keberadaan kami. Jadi apa yang harus kau takutkan, TaeYeon-ah? Kau itu masih sangat polos rupanya.

Aku kembali mengulum senyum. Entah mengapa mataku kini malah menatap ke arah bibirnya yang sedikit terhalang oleh poninya karena posisi kepalanya yang masih tertunduk malu. Perlahan aku mendekatkan wajahku, menghapus jarak diantara kami. Lalu kuangkat dagunya dengan lembut agar matanya bisa menatap mataku yang mungkin sudah terlihat sangat lapar sekarang. Sedetik kemudian ia terlihat sangat kaku dan sedikit gemetar setelah melihat wajahku yang kini tinggal beberapa senti saja dari wajahnya.

“Gwaenchana..” balasku sambil menatap matanya lembut.

Aku seperti tidak lagi menghiraukan kecemasannya, kututup mataku perlahan dan mulai meraih bibirnya. Jantungku seketika berdegup sangat kencang setelah kurasa bibirku sudah menyentuh benda lembut itu, takut-takut kalau dia akan mengelak ciumanku lagi seperti waktu itu. Tapi sepertinya tidak, ketika aku mulai meraih bibir bawahnya, dia tetap di posisi yang sama, hanya saja ia masih tidak membalas ciumanku.

“Ehem!”

Tiba-tiba terdengar dehaman seseorang dari arah belakang TaeYeon, sontak yang membuatku terpaksa melepas ciuman itu, begitupun dengannya. Ia sangat terlihat panik, apalagi setelah menoleh ke belakang dan mendapati seorang yeoja paruh baya sudah menatap tajam ke arah kami, membuat tubuhnya menegang tiba-tiba.

“S-songsaenim?” tanya TaeYeon pada yeoja yang ia panggil songsaenim itu.

Ternyata yeoja itu adalah gurunya. Aku juga jadi menatapnya kikuk, takut kalau ia akan segera memarahi kami.

“Nona Kim, apa urusanmu sudah selesai?” tanya songsaenim itu dengan dingin.

“N-ne, songsaem.” jawab TaeYeon yang sedetik kemudian tertunduk takut.

“Kalau begitu cepatlah masuk! Apa kau lupa kalau hari ini akan ada pertemuan dengan kepala sekolah di aula?”

“J-jeosonghamnida! A-aku tidak melupakannya, songsaem!”

Kemudian TaeYeon membungkuk ke arah yeoja itu yang sebelumnya ia menatapku seolah seperti mengatakan ‘mianhae.., aku masuk dulu.’. Lalu berlari dengan cepat masuk ke pintu gerbang. Aku masih menatap kepergiannya, sebelum yeoja itu membuka mulutnya lagi dan kali ini menatapku masih dengan tatapan yang sama. Sontak aku membalas tatapannya hawatir.

“Bagaimana denganmu anak muda? Apa kau tidak khawatir akan terlambat ke sekolahmu?”

“N-ne!” balasku membungkuk ke arahnya juga. “Jeosonghamnida..”

Setelahnya ia pergi meninggalkanku masih dalam posisi yang sama, lalu menatap kepergiannya. Aku jadi merasa bersalah pada TaeYeon. Ia harus berhadapan dengan gurunya karena ulahku. Mudah-mudahan saja ia tidak mendapat masalah setelah ini.

“Padahal aku menggunakan kesempatan ini karena sekarang tidak banyak murid lain berlalu lalang. Tapi yeoja itu yang malah mengacaukannya!” umpatku kesal.

Atau jangan-jangan murid lain sudah berada di dalam aula sekolah, dan membuat jalanan ini terlihat sepi? Kalau tidak salah aku tadi mendengar songsaem itu mengatakan akan ada penyambutan kepala sekolah.

‘Mengapa mereka menyambut kepala sekolah sepagi ini?’ pikirku.

Lalu kulihat jam tanganku yang telah menunjuk angka 07:43, yang artinya sekitar 17 menit lagi sekolahku akan segera membunyikan bel masuk.

“Omo! Sudah jam segini?!” tanyaku pada diri sendiri, kaget setelah melihat angka dari jam tangan. “Aiish.., aku bahkan tidak menyadarinya!”

Dengan cepat kembali kunaiki motorku dan menyalakan mesinnya. Segera kutancapkan gas melaju kencang menuju sekolah. Bahkan aku sudah tidak memikirkan keselamatanku lagi. Yang terpenting sekarang aku tidak boleh terlambat lagi!

BaekHyun POV end

* * *

“TaeYeon!!” teriak seorang yeoja tiba-tiba dan merangkul TaeYeon yang sedang berjalan masuk ke lobby sekolah.

“Kau mengagetkanku saja!” kesal TaeYeon.

“Mian..!” jawab yeoja itu yang ternyata adalah Tiffany, sedangkan TaeYeon membalasnya dengan putaran bola matanya. “Kau pasti kaget karena kau pikir yang memanggilmu adalah Jung songsaenim, kan?”

“Oh?!” balas TaeYeon terkejut.

Jelas saja ia terkejut, dari mana Tiffany tahu kalau dirinya sempat terkejut karena takut Jung songsaenim lagi yang memanggilnya seperti di depan gerbang barusan.

“Kau tidak perlu melebarkan matamu seperti itu! Aku melihat kalian di depan gerbang tadi! Wajah kalian lucu sekali karena tertangkap basah oleh Jung songsaem.”

“Mwo?! K-kau melihatnya?!” tanyanya panik yang disusul semburat merah di pipinya.

“Ne! Aku bahkan sangat iri padamu! Namjachingumu itu ternyata selain tampan, ia juga sangat romantis, ne?”

“Aiishh..!! Dia bukan namjachinguku!”

“Mwo?! K-keundae, d-dia……..”

Belum sempat Tiffany melanjutkan ucapannya, TaeYeon dengan cepat meninggalkan yeoja itu. Ia tahu pasti Tiffany sangat terkejut mendengar jawabannya, pasalnya mana ada namja yang tidak berkencan dengan seorang yeoja yang ia cium. Dan walaupun TaeYeon akan menjelaskannya, yeoja itu pasti akan terus menanyainya yang macam-macam. Ia sudah hafal lagat Tiffany.

.

.

.

Bahkan sampai menuju aulapun, Tiffany masih saja menanyai hubungan antara TaeYeon dengan BaekHyun.

“Kalau bukan pacar, lalu apa namanya?”

“Ya! Aku malas menjawabnya! Kau pasti tidak akan mengerti walau aku sudah menjelaskannya!”

“Tapi mana mungkin namja itu menciummu kalau tidak ada rasa suka?!”

“Ck! Jangan terlalu keras membahas ini, tidak ada yang tahu kalau aku berciuman tadi!” kesal TaeYeon yang sedikit memelankan suaranya agar yang lain tidak melihat ke arah mereka.

Tapi terlambat, sepertinya seorang namja diam-diam tengah memerhatikan mereka.

“Ehem! Sepertinya ada yang menyebutkan kata cium barusan?” tanya namja itu yang ternyata adalah Kai.

“Aiishh.., kau selalu saja seperti itu! Ini urusan perempuan! Kau tidak perlu tahu!” bentak TaeYeon kesal setelah melihat wajah Kai yang tersenyum menyeringai ke arahnya.

“Kau juga!” tunjuknya ke arah hidung TaeYeon, yang membuat yeoja itu menghempas tangan Kai dari wajahnya. “Kau selalu terlihat kesal jika ada aku di sampingmu.”

“Mwo?! Kau bahkan tidak menyadari kenapa aku selalu kesal padamu?! Aku juga tidak tahu kenapa, tapi dengan hanya melihat tingkahmu sekarang saja, aku juga merasa kesal! Jadi aku harap kau diam saja, ne?!” jawab TaeYeon sarkastik.

Kai yang mendengarnya hanya berdecak sebal. “Padahal aku mengahampiri kalian ingin mengajak kalian liburan bersamaku saat musim panas nanti.”

“Liburan? Kau sungguh ingin mengajakku, Kai?!” tanya Tiffany tiba-tiba sumringah mendengar tawaran dari namja itu.

“Tentu saja! Masa aku berbohong. Aku punya tiket gratis menginap di villa dekat pantai selama dua hari. Aku juga mengajak sepupuku, dan katanya dia sudah mendapatkan teman kelasnya untuk ikut bersama, tapi tidak denganku. Makanya aku mengajak kalian untuk ikut, otte?” jelas Kai.

“Wooahh.., tentu saja aku akan ikut!!” jawab Tiffany bersemangat. “Bagaimana denganmu TaeYeon? Kau juga akan ikut, kan? Jangan hilangkan kesempatan ini, jebal!” mohon Tiffany bersemangat.

Tapi yeoja yang diharapkan keduanya seperti sangat tidak tertarik ajakan tersebut.

“Mian, tapi aku juga sudah ada janji dengan seseorang liburan nanti.” jawabnya sombong yang sengaja menatap ke arah Kai.

“Yaahh.., kalau TaeYeon tidak ikut, aku juga tidak akan ikut. Kai-ah.., mianhae!” ucap Tiffany menyesal sekaligus sedih karena harus menyianyiakan kesempatan liburannya.

Kai membalasnya dengan anggukan mengerti. Lalu menatap TaeYeon sekilas, dan berkata “Sombong sekali! Awas saja kalau sampai kau berubah pikiran!”

“Tidak akan!” balas yeoja itu tidak mau kalah.

Beberapa menit kemudian mulai terdengar suara kepala sekolah, yang membuat seisi murid di aula seketika diam dan mulai mendengarkan pengumuman darinya.

“Selamat pagi, murid-murid?” tanya kepala sekolah dengan lantang dan bersemangat, yang setelahnya dibalas serempak oleh seluruh siswa.

“Sebenarnya saya tidak akan berlama-lama untuk menyampaikan pengumuman ini. Apalagi kalian pasti sudah tahu apa itu, bukan?”

“Ne!!!”

“Ya benar! Kalian semua sudah mengetahui kalau liburan musim panas ini akan jatuh pada tanggal 17 Juni mendatang, saya juga yakin kalian sudah menyiapkan liburan masing-masing. Maka dari itu saya disini hanya akan menyampaikan khususnya untuk murid kelas 3 agar bersiap-siap untuk menempuh ujian latihan pada awal agustus.”

Mendengarnya seketika membuat aula itu penuh dengan ocehan murid kelas tiga yang terlihat kesal.

“Dan bagi murid kelas 2, setelah liburan selesai akan diajukan pemilihan minat bagi kalian yang akan menempuh ke jenjang selanjutnya. Jadi saya harap kalian juga harus menyiapkannya matang-matang!”

“Ne!!!”

“Kalau begitu, saya akhiri pertemuan singkat ini, selamat berlibur!!!”

“Yyeeaayyy!!” sorak seluruh murid, bersamaan dengan tepuk tangan yang semakin membuat mereka semangat untuk menghadapi liburan mendatang.

* * *

Seoul station, 17 Juni 2015, 07:15

Terlihat TaeYeon dan Jessica adalah orang pertama yang datang, mereka tengah menunggu kehadiran yang lain di depan stasiun. Ya, mereka memutuskan untuk pergi bersama dari rumah, mengingat rumah mereka juga bersebelahan.

“Sepertinya kita terlalu pagi, TaeYeon-ah.”

“Hahaha.., gwaenchana! Lebih baik dari pada harus datang terlambat.”

“Ne.” jawab yeoja itu tersenyum.

Lalu beberapa menit kemudian disusul BaekHyun dan ChanYeol yang datang dan menyapa kedua yeoja cantik itu.

“Wooahh.., sica-ah! Kau manis sekali dengan pakaian musim panasmu. Apa kau sengaja memakai itu agar aku memujimu?” puji ChanYeol yang langsung mendapatkan tatapan tajam Jessica.

“Jangan bicara omong kosong. Lagipula aku hanya tidak sengaja memilih baju ini.” balasnya dingin.

“Ahh.., tidak masalah! Yang penting sekarang kau terlihat manis. Aku jadi tidak sabar untuk sampai di pantai!” balas ChanYeol tanpa melepas senyum bahagianya.

“Dasar namja pervert!”

Sedangkan TaeYeon hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Ia senang bisa berkumpul dengan teman-temannya, apalagi tahun ini akan ada BaekHyun bersamanya. Lalu pandangannya ia arahkan pada namja itu yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi. Sontak air muka TaeYeon berubah menjadi malu.

“Kau juga terlihat cantik, TaeYeon-ah.” ucap namja itu tiba-tiba yang membuat yeoja yang dipuji menjadi bersemu merah.

“G-gomawo..” jawab TaeYeon jadi gugup.

“Baekie!!!”

Tiba-tiba saja seorang yeoja berteriak. Sontak membuat keempat pasang mata itu menoleh ke arah yeoja itu. Segera yeoja itu yang ternyata adalah BoMi, berlari menghampiri mereka. Disusul dengan kedua temannya dan satu sepupunya.

“Annyeong..!! Mianhae.., apa kalian lama menunggu?” sapa BoMi setelah dirinya sudah berada di samping ChanYeol.

“Ternyata yang terlambat adalah orang yang mengajak kita.” goda ChanYeol.

“Ah.., mianhae..!!” balas yeoja itu memanyunkan bibirnya lucu. “Oh ya, kenalkan! Ini sepupuku yang aku ceritakan waktu itu!”

Semua menyapa sepupu BoMi dengan senyuman, tapi tidak dengan TaeYeon. Ia begitu terkejut setelah tahu siapa orang itu. Ia tidak menyangka kalau namja itu adalah sepupu BoMi.

“Annyeonghaseyo.. Kai imnida. Senang bisa berlibur dengan kalian.”

.

.

.

To be continue

Annyeong readers.. mian kalau aku baru menyelesaikan part 3 ini. Aku lama membuatnya karena terlalu memikirkan cerita yang bagus untuk kalian. Tapi mian sekali lagi kalau hasilnya tidak sesuai keinginan kalian. Aku juga akan segera menindak lanjuti part 4 nya. Apa kalian penasaran dengan part 4? Sama! akupun begitu.

Oh ya, gomawo yang sudah memberi komentar membangun untukku. Terus beri aku konentar itu agar aku bisa membuat cerita yang lebih menarik lagi..

Gomawo… annyeong!!! ^^

Advertisements

41 comments on “[FREELANCE] Our First Love (Chapter 3)

  1. Wwaaaaaaawawwwaaa kayanya bakal seru bgt nih,Ada Jessica sama bomi yg suka baek ,semoga Aja hati baekhyun ttp kekeh cinta sama taeyeon,,, gasabar sama lanjutannya ,buruan di update ya thoooor

  2. baekhyun maen nyosor aja hahaha tapi sweet banget. sebernya si kai suka gak sama taeyeon? perasaan dia jailin taeyeon mulu. itu jessica ma chanyeol ribut mele udah jadiin aja hihihi jadi penasaran gimana liburan musim panas mereka. next chap ditunggu 🙂

  3. Buat jessica jgn ad perasaan sm baekhyun sumpahhh gk suka sm jessica di ff ini *peace*
    Buat konflik antara baek-tae-kai donkkk,buat kai suka sm tae di ff ini lh thor biar greget hahaha
    FIghting thor

  4. Ternyata bomi sama kai sepupu ya
    Itu baekhyun main cium taeyeon aja XD ketahuan kan sama guru
    Next chap ditunggu
    Fighting!

  5. next thorr!! a greget. jessica cem jd pho/g. apa lagi bomi/g. ada kai? keliatannya kai juga suka taeyeon yea:v. apa ini hubungan segi banyak?/g, ditunggu thor pokonnyaaa. fiighting thorr^^!! lov yu thor/g

  6. annyeong sorry for late comnent but i really like your fanfic 😀
    sorry baru bisa coment di chap ini tpi aku usahain akan coment di chap sebelumnyya n selanjutnya
    ff mu daebak thornim ini ngingetin sama ” tears of first love ”
    baekhyunnya klo bisa di buat agak gentle dikit masa’ dia klemar klemer pen nyeret aja #digebukinshinners
    Baekyeonnya cepet jadian yeth entah knapa waktu adegan kisseunya bikin aku ngakak gk bisa byangin klo itu real gimana yak jadinya
    disini agak gimana gitu sama sica friendshipnya kurang lengket #kasihLem
    Bomi itu ngerencanain apa ya kok tiba2 ngajak mereka liburan ? Penasaran
    updatesoon ya thornim Fighting

  7. Hahaha. Bomi saudaraan sama Kai :v sudah kuduga 😀
    Kenapa ya Bomi tiba-tiba baik sama Taeyeon? Pasti ada sesuatu^^
    Next thor^^

  8. noh kan jesi bneran suka baek! mudah2n aja ga jd problem nanti’y bomi centil bgt mencurigakan tba” dia ngajak taeng pdahal kan di chap awal dia ga suka taeng…
    moment Baekyeon lg sweet’y palah keganggu sma guru’y lg aduh baekh inget tmpat dong kekeke
    ga sbar nunggu next chapp” semangat ya dtunggu scepat’y si kai kya ada rasa kah sma taeng kyak’y bkalan ada yg cemburu lirik baekh liburan’y sma taeng dijaili sma kai hehe next nextt

  9. Sepertinya kai punya rahasia nih
    Tingkah lakunya aneh saat bersama dg taeyeon, apa jangan” dia….?
    Gak sabar buat liburannya mereka tpi pasti si bomi bakalan berulah hahh
    Next chapnya ditunggu yah thor, update soon^^

  10. Sepupu bomi kai.. :v ketemu lagi tae sama kai :3 suka sama mereka, kelahi mulu lucuu.. Ceritanya jdi makin menarik kalo ada adegan mereka adu mulut :v next thor fightinggg!!

  11. cerita’a bagus bgt thor 😉 aku suka .. dan panjang juga,puas bgt 🙂 semoga part 4 nya bagus thor .. amiin 😀

  12. Daebak,
    sepupu bomi ternyata kai oppa
    Thor boleh request nggak, bikin dong kai oppanya suka sama tae eonni, sehingga nanti ada konflik antara baektaekai thor..
    Next chapter ditunggu thornim… 🙂
    Fighting… 😉

  13. Nextttt thorrrr huaaaaa kepo sama kelanjutannyaa. Kai sepupu bomi wewwwwww 😂 aaaaa cepetan update buat nexr chapternya ya thorr. Sangat” ditunggu hwaitinhhh hwaitingggg😘😘💕💕💕💕💕😍😍😍

  14. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. wah aku suka part ini eonni daebak!!!!!
    semoga waktu di pantai terlibat cinta segitika
    kai taeng baek
    pasti seru kekeke~~~
    next chap eonni
    hwaiting 😀

  16. baek berani banget ya nyium taeng di depab sekolah, ih kepergok guru lg
    baekyeon cepat jadian aja deh biar ada status

  17. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s