ZUIVER / Chapter 7A

zuiver

Tittle : ZUIVER (Long Part)
Cast : Kim Taeyeon , Oh Sehun , Xi Luhan
Other Cast : Lay , Tiffany , Jessica
Genre : Romance , Marriage Life
Rate : PG 17
Lenght : Chapter , [ 30+ Page , 9+ K ]
Author : DorkySong

Preview → (Chapter 1) (Chapter 2)  (Chapter 3)  (Chapter 4)  (Chapter 5)
(Chapter 6)

⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓⇓

Hi.. Annyeong *Lambai
Lama tidak berjumpa. Ada yang rindu? Wkwkwkwk…… 😛
Sebelumnya saya mau mohon maaf karena SANGAT TELAT mempost kelanjutan FF absurd yang satu ini *Sungkem
yah.. dikarenakan saya yang mulai mendapat TUGAS SEAMBREK dari dosen2 geje yang kagak kenal hari libur -.-” , bahkan hari minggu pun masuk -_______-” , capeknya saoloh pen nyemplung aja ke laut trus berenang ke pulau tak berpenghuni *Plakk
.
.
Sorry kalo jadinya curhat -.- Hayati terlalu lelah *eaaakk XD
.
.
Udah dari pada cuap2 silahkan dibaca Part 7 (Seri pertama) ini ya.. Eh sorry nikahannya ditunda dulu, bapak penghulunya masih sibuk buat acara Qurbanan.  XD XD XD

.

.

.

.

WARNING..!! TYPO BERTEBARAN ALUR CERITA RUMIT

DON’T BASH DON’T PLAGIARISME
ff ini asli lahir dari otak saya , kritik dan saran sangat saya nantikan
^_^

.

.

∞∞∞∞∞∞ Ηα℘℘ϒ   ℜεαdιηg ∞∞∞∞∞∞

.

.

.

 

Sehun tertawa sebisa mungkin, menyembunyikan perasaan terluka sekaligus kecewanya dari sosok gadis manis dihadapannya yang kini bercerita tentang hubungannya dengan Luhan yang telah membaik.

 
Mengulas senyum sealami mungkin ketika Taeyeon mempraktekan segala macam kejahilan Luhan, memberikan nasihat – nasihat seperti yang sering dirinya lakukan dulu, namun semua itu hanyalah topeng saja.

 
Keceriaan yang diperlihatkan hanyalah kebohongan dari rasa terluka yang teramat sangat menyakitkan batin, menyembunyikan rasa terluka itu jauh lebih menyakitkan kalian tahu? Berpura – pura tersenyum seolah semua baik – baik saja kalian tahu bagaimana rasanya?

 
Yah… Sehun hanya berharap semoga hingga nanti dirinya bisa bertahan dengan semua rasa sakit itu,
Jika ditanya apakah rasa ingin merebut itu ada atau tidak maka sudah pasti jawabannya ‘ada’ , Sehun tidak memungkiri jika dirinya sangat ingin berada di posisi Luhan, menjadi sosok yang dicintai sekaligus di inginkan, jika saja ada sebuah keajaiban maka Sehun hanya ingin bertukar posisi dengan Luhan.

 

 
“well.. aku sudah menceritakan semuanya sesuai permintaanmu, sekarang coba katakan kemana saja kau selama 2 minggu ini?” tanyanya sembari menopang dagunya dengan tangan kiri.

 

 
“Aku hanya melakukan perjalanan bisnis” Jawabnya kemudian meminum bubble teanya.

 

 
Taeyeon mendengus lantas menyodorkan ponselnya “Coba lihat, berapa kali aku menghubungimu?”

 

 
Sehun melihat kearah ponsel Taeyeon yang disodorkan padanya, terpampang jelas di layar berukuran 5 inchi itu, 150 panggilan dan 85 pesan.

 
Sehun sempat terkejut namun masih bisa ia sembunyikan, lelaki itu lantas mengembalikan ponsel Taeyeon “Maafkan aku, ponselku rusak dan aku sepertinya lupa menghubungimu” Sehun tidak berbohong soal ponselnya yang rusak, namun tentang perjalanan bisnis itu semuanya jelas bohong.

 

 
“Ckckck… aku kira terjadi sesuatu, aku benar – benar khawatir” ucapnya kesal

 

 
Sehun tersenyum hambar, khawatir? Entah kenapa kalimat itu terasa menyakitkan di telinganya, sepertinya rasa terluka itu terlalu dalam ia rasakan sehingga setiap kata yang muncul dari mulut Taeyeon rasanya seakan merusak sarafnya secara perlahan.

 
“Hubunganmu dengan Luhan sudah membaik, kurasa aku bisa pergi”

 

 
Taeyeon mendelik mendengar kalimat Sehun, gadis itu menaikkan sebelah alisnya pertanda dirinya tidak paham “Apa maksudmu?”

 

 
Sehun menghela nafas panjang, rasanya sulit sekali mengatakan kata ‘selamat tinggal’ , ayolah Oh Sehun katakan saja. “Begini, aku akan pergi ke Luar negeri , kakakku harus dirawat disana”

 

 
“Ke luar negeri? Kapan? Kakakmu? Jadi kau punya kakak Oh Sehun?”
Sehun hanya mengangguk mendengar rentetan pertanyaan dari Taeyeon, “Aku akan berangkat besok” ucapnya berat.

 

 

 
“APA”

 

 
Sehun hampir saja terjungkal mendengar teriakan nyaring dari Taeyeon, lelaki itu sedikit mengusap telinganya yang sedikit berdengung.

 
“YAAKK OH SEHUN KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA PADAKU” Taeyeon benar – benar marah kali ini, kenapa tiba – tiba jadi begini, Sehun akan pergi ke luar negeri dan baru mengatakannya satu hari sebelum jadwal keberangkatan.

 

 
Jadi ini alasan Sehun tadi pagi mengajaknya bertemu, pantas saja Sehun tampak berbeda sekali sejak tadi, sesungguhnya Taeyeon tahu dengan perubahan sikap Sehun, walau lelaki tampan itu tersenyum bahkan tertawa lepas.

 

 
“aku tidak bermaksud begitu, ini kan masalah keluargaku jadi kufikir cukup aku saja yang tahu”

 

 
“Lalu kau anggap aku ini apa? Aku kan juga keluargamu Sehun” Ucapnya tak terima

 

 
Sehun mendesah “Kau tahu aku tidak pernah menganggapmu sebagai keluargaku”
Iris mata Taeyeonmembola, “Kau—“

 

 

Rasanya kenapa sakit? Perkataan Sehun kenapa terasa begitu kejam untuk ia terima “Tidak menganggapku sebagai keluarga?” Sambungnya parau

 

 
“Benar, aku tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai keluargaku, tidak pernah!”

 

 
Taeyeon menggenggam erat kedua tangannya, menahan tetesan liquid bening menerobos keluar dari matanya, kenapa tiba – tiba Sehun seperti ini? Kenapa bisa Sehun berubah dalam hitungan menit? Apa yang terjadi? Apakah dirinya melakukan kesalahan yang tidak ia sadari? Jika iya seharusnya Sehun cukup menegur bukan? Kenapa malah mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu.

 

 
Apakah Sehun sedang bercanda padanya? Ah.. sepertinya begitu..! bukankah Sehun selalu mengerjai Taeyeon setiap waktu!

 

 
“Sehun, ha ha ha… apa kau lapar? Kurasa aku akan memesankan makanan.. kau suka pizza bukan? Akan aku pesan—-“

 

 
“Aku tidak lapar” potongnya tajam

 

 
Sehun bangkit, mengambil ponselnya yang ia letakkan diatas meja, menatap manik mata Taeyeon sejenak sebelum melenggang keluar tanpa mengucapkan sepatah kata.

 

 
“Tu—nggu, Sehun apa yang terjadi padamu?”

 

 
Taeyeon menatap punggung Sehun sayu, entah kenapa dirinya begitu tidak rela Sehun menghilang dari pandangan matanya, ada rasa kosong didalam hatinya dan itu terjadi hanya disaat Sehun tidak ada.

 

 
“Apa aku melakukan kesalahan yang fatal? Apa aku menyebalkan dimatamu? Apa kau mungkin bosan dengan sikapku? Kalau begitu aku janji akan berubah asal jangan tinggalkan aku, aku—aku—mmph“

 

 
Praaangg…….

 

 
Suara pecahan gelas itu terdengar nyaring, menyebabkan beberapa pasang mata didalam café itu terpacu pada suara bising yang dibuat oleh pelayan café, sedang pelayan itu sendiri kini malah terpaku pada dua sosok yang berciuman tanpa malu dihadapannya.

 
Sehun sebenarnya mendengar suara pecahan gelas itu, namun dirinya tidak perduli yang saat ini ia inginkan hanya bersama Taeyeon, Kim Taeyeon gadis kecilnya.

 
dadanya terasa sakit menerima pukulan yang dilayangkan Taeyeon kepadanya namun Sehun tak kalah kuat, dirinya mencengkeram kedua tangan Taeyeon erat, sedang bibirnya semakin kuat menyesap bibir pink milik Taeyeon.

 
Mengurung gadis manisnya itu kedalam rengkuhan kuat dirinya, Seolah tak rela untuk sekedar melepasnya pergi, pada dasarnya memang Sehun tidak akan pernah bisa melepas sosok manis ini dari hidupnya, melepas satu dari sekian banyak hal penting dari sisinya yang memang dirinya anggap adalah separuh nafasnya.

 
Sehun tidak rela walau harus ditukar dengan kekayaan, Karena baginya Kim Taeyeon adalah segalanya.

 
Persetan dengan balas dendamnya, Sehun sudah tidak menginginkan hal itu, Dirinya hanya ingin memperjuangkan cintanya pada Taeyeon.

 
Sehun diam sesaat ketika Taeyeon tak memberontak lagi, melepas tautannya lantas mengusap tetesan air mata dari sudut pipinya, Isakan Taeyeon jelas terdengar membuat sesuatu jauh didalam lubuk hatinya kembali merasakan nyeri.

 
“Jangan menangis, aku tidak suka melihatnya” Sehun kembali mengusap air mata Taeyeon, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangan miliknya, memaksa kedua manik mata hitam Taeyeon untuk menatap dirinya.

 
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukaimu” Ucapnya menyesal, Sehun tersenyum kecil ketika Taeyeon mengangguk pelan “Aku memang tidak menganggapmu sebagai keluargaku,karena aku memang tidak mau menganggapmu sebagai adik atau saudaraku, bagiku kau adalah milikku hanya milikku bukan milik orang lain bukan pula milik Luhan”

 

 
Mata Taeyeon membola, gadis itu ingin bertanya namun semua itu urung ia lakukan, saat Sehun kembali menciumnya.

 
Ingin sekali rasanya Taeyeon memberontak dan menampar Sehun, meneriaki lelaki yang kini masih menciumnya ini dengan kata – kata kasar, namun apa daya tubuh Taeyeon tidak bertindak sesuai dengan keinginannya, nyatanya malah ia menikmati pagutan bibir Sehun pada bibirnya.

 
Apa sebenarnya yang terjadi padamu Taeyeon? Kenapa begitu sulit untukmu menolak Sehun? Bukankah menolak pria itu sangat mudah bagimu? Ingatkah bahwa kini Luhan telah memilikimu? Lelaki yang kau cintai telah kau dapatkan! Tapi mengapa sulit buatmu meninggalkan Sehun yang jelas – jelas telah melebihi batas?

 
Entahlah…!

 
Semua sangat sulit sekali hingga Taeyeon ingin mati saja rasanya, Sehun dan Luhan kenapa dua pria ini seakan meracuni fikirannya setiap saat? Mengapa pula Taeyeon bisa menjadi sangat labil ketika dihadapkan oleh kedua pria itu?

 
Taeyeon bukanlah seorang playgirl bukan pula seorang pecinta lelaki, gadis baik – baik selalu disandangnya sejak dulu walau beberapa kali dirinya pernah berkencan, selama menjalin hubunganpun tak lebih dari sekedar berpegangan tangan, berciumanpun baru pertama ia rasakan ketika Sehun menciumnya beberapa waktu lalu.
Tetapi kenapa sekarang Taeyeon bisa terlihat seperti perempuan murahan? Mencintai dua pria sekaligus, tak tahu pilihan mana yang akan ia tentukan, jika saja Taeyeon berkelamin laki – laki maka sebutan Om – Om pedofil sangat cocok untuknya.

 
Ouh.. seburuk itukah bagi seorang wanita yang mencintai dua pria?

 
Bisakah dewa neptunus membantu dirinya untuk menjawab saat ini!

 
Luhan atau Sehun?

 
Entahlah….

 
Keduanya sangat sulit untuk ditolak!
Tidak bisakah Taeyeon memiliki keduanya?

 

 
“Bisakah kau memilihku?”

 

 
Taeyeon tersadar begitu suara berat Sehun menyapa telinganya, dirinya mengerjab beberapa kali Taeyeon baru sadar ternyata Sehun telah berhenti menciumnya, Euh.. Apa yang kau fikirkan?

 
“Sehun”

 
Terdengar Sehun menghela nafas berat, lelaki itu menggeleng lantas mengulas senyum tipis “Aku tidak bisa mendengar jawabanmu sekarang, aku belum bisa menerimanya” Ucapnya lantas memeluk tubuh Taeyeon, mengusap punggung gadis di pelukannya dengan perlahan.

 
“Aku pergi” Ucapnya kemudian melepas pelukannya, mengusak pelan kepala Taeyeon kemudian melesat pergi.
Kedua mata Taeyeon hanya mengikuti tubuh Sehun yang bergerak cepat meninggalkan cafe, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya bahkan hingga tubuh Sehun telah menghilang tertelan keramaian kota Seoul.

 
Samar dirinya dapat mendengar beberapa orang berbisik – bisik, Taeyeon menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan dirinya sempat terkejut namun masih dapat ia kendalikan, kenapa bisa dirinya baru sadar bahwa di dalam cafe ada banyak orang, pasti adegan demi adegan yang dirinya serta Sehun lakukan tadi menjadi tontonan gratis untuk mereka.

 
Menghela nafas dirinya segera mengambil tas beserta ponselnya, lantas beranjak pergi berpamitan sejenak kepada seorang pelayan yang menatap dirinya dengan mata yang hampir keluar, sepertinya pelayan itu masih terkejut dengan kejadian barusan!

 

 

 

.
.
.

 
Luhan baru saja tiba dari kantor, lelaki cantik itu sedikit melongok ketika seluit seseorang tampak berdiri di balkon apartemen, Luhan sudah tahu siapa itu jadi dia memutuskan untuk langsung kesana.

 
Dan benar saja, sosok gadis yang dia cintai terlihat merenung menghadap milyaran bintang dilangit, angin malam nampak menari – nari disekitarnya menerbangkan beberapa helai rambut kecoklatan yang halus bagai sutra, Luhan tanpa sadar tersenyum Taeyeon terlihat sangat cantik sekali rasa penat setelah bekerja seolah lenyap begitu saja.

 
Luhan mendekat perlahan lelaki itu semakin tersenyum begitu Taeyeon menyadari kehadirannya, gadis bertubuh mungil itu menoleh membalas Luhan dengan tersenyum lebar, menghampiri Luhan kemudian memeluk tubuh pria itu erat.

 
“Kau sudah pulang”

 

 
“Kau merindukanku ya?” godanya yang langsung mendapat tinjuan pelan dari Taeyeon. Luhan terkekeh mendapat respon malu – malu dari calon istrinya, lelaki itu lantas membalas pelukan Taeyeon tak kalah erat.

 
“Kau sudah makan?” Tanyanya lembut, Luhan kembali tersenyum saat Taeyeon menggeleng di pelukannya.

 
“Aku menunggumu” Jawabnya

 
Luhan mengangguk, lagi – lagi lelaki itu tak bisa menyembunyikan senyuman kebahagiaannya, Luhan mengangkat wajahnya melirik jam tangannya, lelaki itu sedikit meringis begitu jarum jam menunjuk angka 11 malam, rasa bersalah menghinggapi perasaannya Taeyeon rela tidak makan hingga larut malam hanya untuk menunggu kedatangannya. Eoh.. jika tahu seperti ini Luhan pasti akan membatalkan rapat tidak penting tadi.

 

 
Memang biasanya Taeyeon akan menunggunya pulang hanya untuk makan malam bersama, menunggu Luhan mandi kemudian duduk didepan televisi untuk menonton film atau bermain game bersama sampai larut malam bahkan tak jarang dirinya serta Taeyeon tertidur di depan televisi, yah.. itu adalah sepenggal kegiatan dirinya serta Taeyeon selama beberapa minggu ini.

 

 
“Kenapa kau tidak makan saja? Ini sudah terlalu larut untuk dikategorikan sebagai makan malam” Luhan benar – benar merasa bersalah telah membuat Taeyeon kelaparan, memang dirinya bersalah sebab tidak memberi tahu jika ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya.

 
“Lalu apa kau sudah makan?”

 
Luhan mengangguk ragu yang dibalas gerutuan kesal dari Taeyeon, lelaki itu melepas pelukannya sedikit tertawa ketika wajah kesal Taeyeon terlihat lucu dimatanya.

 
“Jangan menggodaku, kau ingin ku makan eoh?”
Luhan tidak bercanda, wajah kesal Taeyeon terlihat sangat menggemaskan sekali, Luhan mati – matian untuk tidak mencubit kedua pipi Taeyeon yang menggembung.

 
“Dasar cabul” cibirnya kemudian berlalu dari hadapan Luhan.

 
“Hey.. mau kema–”

 
“Makan” Potongnya cepat

 
Luhan terkekeh kemudian menyusul tubuh Taeyeon yang sudah lebih dulu duduk di meja makan
“Makan yang banyak agar di malam pertama kita kau mempunyai cukup tenaga untuk melayaniku” bisiknya

 

 
Pluuk

 

 
Luhan tertawa terbahak – bahak ketika Taeyeon melemparinya dengan sendok, lelaki itu kemudian memilih berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Samar – samar Luhan dapat mendengar Taeyeon menyebut dirinya sebagai pria mesum.
Hahaha Lucu sekali!

 

 

.
.
.

 
Taeyeon beberapa kali harus menenangkan jantungnya, malam ini entah mengapa Luhan terus menerus memeluknya, tidak membiarkan Taeyeon lepas sekalipun dari pelukannya. Bahkan tadi saat Taeyeon kekamar mandipun Luhan ikut tentunya menunggu di luar sebab Taeyeon meneriaki Luhan terus menerus dengan sebutan pria mesum.

 
Setelah mandi tadi Luhan langsung menyambar tubuhnya untuk berbaring di atas ranjang, memluk dirinya dengan intens . Taeyeon sempat mengeluh bahwa dia sulit bernafas namun bukannya melepas malah Luhan menghadiahinya ciuman, Luhan beralasan sedang memberi nafas buatan . Heol….

 
“Luhan aku benar – benar sesak” keluhnya

 
Luhan menggeleng lantas mengangkat wajah Taeyeon bersiap menciumnya lagi namun segera di hentikan oleh Taeyeon “Jangan beralasan ingin menyelamatkanku”

 
Luhan tersenyum “Makanya jangan mengeluh terus, bukankah tubuhku tidak bau asam? Jadi jangan mengeluh terus chagiya”

 
Taeyeon membuat wajah seolah – olah ingin muntah, sejak kapan Luhan mengganti namanya dengan chagiya? Eoh… kata itu terasa aneh ditelinganya.

 
“Memang tidak asam tapi jika kau memelukku seperti memeluk panda maka aku akan kehabisan nafas bodoh” Keluhanya

 

 

“Aku bersedia membagi nafasku denganmu” celetuknya

 
Pletak

 
“Sudah diam, kau benar – benar mesum Luhan” Ucapnya kesal
Luhan lagi – lagi hanya tertawa, lelaki itu kembali memeluk Taeyeon erat namun kali ini sedikit memberi jarak walau tidak terlalu lebar sebab sepertinya Luhan sangat teramat enggan jauh – jauh dari Taeyeon.

 
“Aku takut kehilanganmu”

 
Taeyeon mengernyit didalam dekapan Luhan, gadis itu menghela nafas panjang kemudian menarik satu tangan Luhan untuk ia genggam “Kenapa kau berkata seperti itu Luhan?”

 
Luhan mendesah “Aku tidak tahu, hanya saja aku merasa kau akan pergi dariku, memikirkan hal itu aku jadi merasa takut untuk menyambut hari esok”

 
Taeyeon diam, gadis itu hanya mampu menggenggam erat tangan Luhan, tenggorokannya terasa tercekat mendengar penuturan Luhan padanya, perasaan aneh terus menerus menghantui Taeyeon, gundah dan takut tanpa sebab yang pasti.

 

 
“Luhan jangan berfikiran yang aneh – aneh, cepatlah tidur” perintahnya yang langsung di setujui oleh Luhan.

 
Taeyeon merasakan tangan Luhan terlepas dari genggamannya, sedikit mendongak yang langsung berhadapan langsung dengan dagu milik Luhan. Ingin rasanya Taeyeon bertanya kenapa namun segera urung ketika tiba – tiba tangannya digenggam Luhan.

 
“yang benar itu seperti ini” Ucapnya kemudian tersenyum manis.

 
Taeyeon terkekeh kemudian kembali membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Luhan, menghirup aroma segar yang entah kenapa masih saja menguar dari tubuh Luhan.

 
“Selamat malam Xi Taeyeon, aku mencintaimu” Ucapnya kemudian mengecup puncuk kepala Taeyeon lama.

 
“Aku juga mencintaimu Xi Luhan” jawabnya pelan

 
Luhan tersenyum kemudian ikut memejamkan matanya, bersiap menjelajah di alam mimpinya bersama sang pemilik hatinya.

 

 

 

.
.
.

 

 

 

Taeyeon mendorong kursi roda itu pelan, sedang lelaki dengan masker serta topi hitam itu nampak duduk diam di atas kursi tanpa mengeluarkan sepatah katapun, sesekali mata pria itu menatap sekeliling dengan waspada.

 
Pria lain yang berdiri disamping Taeyeon kini hanya memasang ekspresi datar sembari menyeret dua buah koper besar.

 
Penampilannya tidak jauh berbeda dengan pria yang duduk di kursi roda, sama – sama memakai topi serta masker hanya bedanya lelaki disamping Taeyeon memakai kaos putih polos serta celana jeans panjang simple sekaligus santai, berbeda dengan yang duduk di kursi roda pria itu memakai jaket serta celana pendek selutut.

 
“Sehun cepatlah kembali” Pintanya yang hanya dijawab anggukan pelan dari Sehun.

 
Taeyeon menghela nafas panjang dirinya tidak mengatakan apapun lagi, sebab Sehun tidak banyak merespon pertanyaannya hingga sampai di tempat tunggu keberangkatan pun Sehun hanya berkata sekenanya, baru ketika ia ingin pergi ketoilet saja Sehun baru mau berkata panjang itupun karena ia ingin Taeyeon menjaga kakaknya dengan baik.

 
“Oppa kenapa Sehun cuek sekali padaku” Keluhnya pada pria yang hanya menatap kosong kearah lain.

 
“Sehun benar – benar berubah beberapa minggu ini, karena itu hubungan kami jadi jauh” Ucapnya lagi

 
“Oppa harus cepat sembuh agar nanti aku bisa mengenal oppa dengan baik, Sehun benar – benar jahat tidak pernah mengatakan bahwa dia punya kakak yang tampan seperti oppa, kekeke—“

 
“Oh iya oppa, aku lupa memperkenalkan namaku ya? Namaku Kim Taeyeon”

 
Tidak ada respon sama sekali, Taeyeon menghela nafas mencoba memahami mengapa kakak Sehun tidak mau merespon dirinya. Yah Sehun memang mengatakan jika kakaknya menderita Exploding head Syndrome walau Taeyeon bukan seorang Dokter namun dirinya cukup paham dengan penyakit seperti apa itu.

 
“Oppa cepat sembuh ya, aku benar – benar penasaran dengan Oppa , aku harap Oppa tidak mempunyai penyakit muka datar seperti milik Sehun” guraunya

 
“Aku tidak seperti Sehun”

 
Taeyeon mendelik, terkejut dengan jawaban kakak Sehun yang tiba – tiba, tunggu Taeyeon tidak salah dengarkan? Barusan kakak Sehun bicara padanya.

 
“Bisakah kau membawaku untuk bertemu seseorang?”

 
Taeyeon menganga, apa ini? Taeyeon yakin jika telinganya masih berfungsi, untuk meyakinkan lagi gadis itu memilih mendekat lantas duduk dihadapan kakak Sehun “Oppa kau bicara padaku?” tanyanya tidak percaya

 
“Iya aku bicara padamu Taeyeon, Bisakah kau membawaku menemui Luhan?” Pintanya

 
Taeyeon menelan ludahnya, matanya mengerjap beberapa kali “Luhan? A–aku akan menghubunginya Oppa”
Lay mengangguk “Tapi jangan katakan pada Sehun, tolong alihkan adikku terlebih dahulu” mohonnya.

 
“Kena—“

 
“Taeyeon apa yang kau bicarakan?”

 
Taeyeon terlonjak kaget ketika Sehun tiba – tiba berdiri disampingnya, gadis itu menatap Lay namun lelaki itu menunduk , tidak bicara sama sekali sikapnya berubah sama seperti saat Taeyeon baru bertemu tadi.
Taeyeon tersenyum kikuk serta menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal “Emm.. Sehun kau berangkat berapa lama lagi?”

 
“1 Jam lagi, ada penundaan pada jadwal penerbangan”

 
Taeyeon mengangguk “Emm.. bukankah sebaiknya kau membeli makan dulu? Kau bilang tadi tidak sempat sarapan kan? Aku juga tidak sempat membuatkan makanan sebab aku terburu – buru sekali datang setelah mendapat pesan darimu”

 
“tidak apa, aku bisa makan di pesawat nanti”

 
Taeyeon bingung, harus bagaimana mengalihkan Sehun, sejujurnya alasan yang dirinya buat tadi tidaklah masuk akal.

 
“Tap—“

 
“Sehun lapar”

 
Suara lain yang Taeyeon yakini adalah milik Lay terdengar, gadis itu menoleh dan langsung mendapat tatapan seolah mengatakan ‘beractinglah yang bagus’ Taeyeon jadi malu sendiri dengan kakak Sehun.

 

 

“Hyung kau lapar? Apa tidak bisa ditahan?” Tanyanya khawatir

 

 

“Lapar sekali Sehun” Ucapnya sembari mengusap perutnya.

 

 

Sehun mengangguk “Baiklah Hyung tunggu disini aku akan membeli roti serta susu, Taeyeon tolong jaga kakakku sebentar”

 

 

“Baik” Jawabnya semangat

 

.
.
.

Luhan baru saja menyelesaikan meetingnya, lelaki itu mengecek ponselnya, ada satu pesan masuk dari Taeyeon tanpa sadar Luhan tersenyum.

 

‘Luhan aku pergi untuk mengantar Sehun, dia akan pergi keluar negeri hari ini’.

Luhan menggeram, entah kenapa Luhan jadi kesal sekali membaca pesan dari Taeyeon, dirinya hendak menelfon Taeyeon namun sudah keduluan, tertera nama My Taengu dilayar ponselnya.

 
Lelaki itu segera menerima panggilan dari gadisnya bermaksud ingin mengomelinya namun belum satu kalimat meluncur suara lelaki yang tidak asing ditelinga Luhan terdengar.

 
Luhan mengingat – ingat dimanakah kiranya dia pernah mendengar suara ini, sedikit demi sedikt memori – memori terputar di otak Luhan.

 
Mata Luhan membulat saat secuil kenangan tentang masa lalunya berputar – putar pada fikirannya, jika asumsi Luhan tidak salah suara ini adalah milik …….

 
‘Lay’

 

 

 

Tidak Mungkin!

 

 
“Lay hyung” Panggil Luhan meyakinkan
Mulut pria itu menganga ketika kata ‘iya’ tertangkap olehnya, tanpa sadar Luhan berdiri dari kursinya, menutup panggilan kemudian berlari keluar kantor, tidak memperdulikan panggilan sekertarisnya yang memanggil – manggil namanya.

 

.
.
.

 
Taeyeon beberapa kali melongok kekanan dan kekiri, mengecek apakah sosok Sehun berada disekitarnya atau tidak, gadis itu terus menerus bergerak gelisah sedang pria di sampingnya malah tenang – tenang saja tidak terlihat raut wajah khawatir atau takut dirinya ketahuan oleh Sehun.

 
Taeyeon bahkan tidak henti – hentinya melihat ke ponselnya, takut – takut ada pesan masuk atau panggilan masuk dari Luhan maupun Sehun.

 
“Oppa, kau yakin tidak apa – apa berada di luar?” Tanyanya khawatir

 
Lay hanya menggeleng sesaat, lelaki berdumple itu seolah tak terlalu memperdulikan sosok Taeyeon disampingnya tentu sikap Lay yang seperti itu membuat Taeyeon hanya bisa mendesah maklum.

 
“Sehun pasti akan membunuhku jika kita sampai ketahuan” Keluhnya yang tidak mendapat respon lagi.

 
“Oppa, kau sudah berumur berapa?” Tanyanya tak menyerah

 
“28”

 
“Heol..28? benarkah? Tapi Oppa tidak terlihat sudah berumur” Celetuknya asal

 
“Kau sama saja denganku” Ujarnya tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan

 
“Sama? Apanya?”

 
“Umurmu 21 tapi wajahmu 8 tahun”

 
Oke, Taeyeon ingin menendang Lay saat ini juga, bagaimana bisa Lay mengatakan sesuatu yang teramat sensitive bagi Taeyeon tanpa rasa bersalah sama sekali, Taeyeon fikir Lay jauh berbeda dengan Sehun namun ternyata sama saja bahkan jauh lebih menyebalkan dari pada Sehun malah. Muka datar itu sama saja dengan milik Sehun , semua yang ada pada Lay semua hampir 90% cocok menjadi duplikat Sehun, hanya tinggi badan mereka yang berbeda sangat ‘jauh’ .

 
Jika ada penilaian sikap maka sudah pasti Sehun 10 % sedang Lay tak lebih dari 0,1 %, Kalau sudah begini 10 % milik Sehun masih jauh lebih baik bukan? Yah.. walau presentase dengan nilai minim seperti itu sudah pasti dianggap buruk dan tak layak dikalangan manusia.

 
Taeyeon rasa gen keluarga Sehun sangat cocok dengan vampire.

 
Panas matahari semakin menyengat terasa namun sosok Luhan tidak kunjung tampak, beberapa kali Taeyeon menghubungi Luhan namun tak kunjung ada jawaban, padahal waktu keberangkatakan tinggal 20 menit lagi seharusnya Lay kini sudah bersiap memasuki pesawat. Bahkan Sehun pasti saat ini tengah mencari keberadaan keduanya.

 
Taeyeon terus menerus gelisah mengingat Sehun yang mungkin akan marah padanya, melirik sekilas kearah Lay sekedar memastikan pria itu baik – baik saja, Taeyeon menghela nafas lega ketika raut wajah Lay terlihat cukup sehat dimatanya.

 
Taeyeon mendekati Lay kemudian menepuk pelan pundak lelaki itu “Oppa, sebaiknya kita kembali, Sehun pasti sedang mencari kita” Ucapnya ragu – ragu

 
Lay tampak berfikir sesaat, menengok kekanan kekiri dan menghela nafas berat ketika apa yang ditunggunya tak kunjung menampakkan diri “Kurasa kita memang harus kembali” Ucapnya lesu

 
Sejujurnya Lay tidak rela meninggalkan tempatnya saat ini, takut jika orang yang sedari tadi ditunggunya datang namun malah dirinya tidak ada, pasti Luhan akan kecewa padanya karena tiba – tiba saja menghilang.

 
Jika Lay masih tetap bersikeras untuk tetap tinggal, Sehun pasti akan mencari dirinya bahkan adik manisnya itu pasti akan seperti orang tak waras karena kehilangan dirinya, memang adiknya itu terlalu protective pada Lay yang tekadang membuat Lay kesal, namun ia cukup tahu kenapa Sehun melakukan itu terhadapnya. Itu dilakukan semata – mata karena Sehun menyayangi dirinya.

 
“Mau kemana?”

 
Taeyeon membeku ditempat, iris mata gadis itu melebar seiring tepukan kuat di pundaknya, tubuhnya bergetar takut saat sosok Sehun berada di depan wajahnya, ekspresi Sehun tampak dipenuhi amarah dan itu membuat Taeyeon tak berani sekedar menatap kearahnya.

 
“mau kau bawa kemana kakakku”

 
Taeyeon tak mampu menjawab, lidahnya keluh karena ketakutan, Sehun jelas sangat marah terhadapnya terlihat jelas walau lelaki itu tak langsung membentak.

 
“Bukankah aku sudah mengatakan untuk tetap ditempat”

 
Taeyeon hanya sanggup menganggukkan kepala, aura Sehun saat ini cukup menakutkan terasa “Ma—Maafkan aku.” Suaranya terasa sulit sekali keluar, hanya satu kalimat ragu – ragu itu yang masih bisa dirinya katakan.

 
Lay menatap sosok Taeyeon dari ekor matanya, Lelaki itu mendesah melihat ketakutan yang ditunjukkan Taeyeon, Lay ingin membantu sebenarnya tetapi jika dirinya ikut campur maka kebohongan yang dilakukannya pasti akan terbongkar. Tidak! Lay masih harus tetap berbohong agar bisa menuntaskan tujuannya.

 
Lay memalingkan wajah, membenarkan letak topi serta maskernya sebelum kemudian mencekal lengan Sehun. “Sehun dingin” Ucapnya disertai nada kedinginan sekaligus tubuh gemetaran, Lay harus tampak meyakinkan agar Sehun tidak menaruh curiga.

 
“Hyung, kau kedinginan?” Sehun lantas melupakan kemarahannya pada Taeyeon, lelaki itu berubah khawatir mendengar suara kedinginan sekaligus tubuh gemetaran kakaknya, dengan tergesa – gesanya Sehun mendorong kursi roda kakaknya masuk kedalam bandara.

 
Taeyeon hanya diam saja ketika lengannya di tarik oleh Sehun, lelaki itu terus mendorong kursi roda kakaknya dengan tangan kanan sedang tangan kirinya ia pergunakan untuk menarik Taeyeon, tidak ada perbincangan apapun dari Sehun bahkan setelah ketiganya berada didalam bandara.

 
Hanya suara robekan bungkus roti yang menjadi satu – satunya suara diantara ketiganya, semua bungkam bahkan hingga suara operator membangkitkan mereka dari keheningan, menandakan pesawat akan segera berangkat.

 
Sehun hanya menatap Taeyeon sekilas sebelum mengambil jaket sekaligus tasnya, mengecek arloji keluaran Rolex itu kemudian berlalu pergi tanpa mengucap terimakasih atau sekedar berpamitan.

 
“Sehun” panggilnya pelan, Taeyeon tersenyum masam ketika Sehun masih mau berhenti serta menatapnya, walau Taeyeon tahu sesungguhnya Sehun tidak sudi melakukannya. Semarah itukah Sehun hingga tidak bersedia berpamitan padanya?.

 
“Hati – hati dijalan dan maafkan aku atas kejadian tadi” Ucapnya seraya menunduk, rasanya sulit sekali melepas kepergian Sehun ketika lelaki itu menaruh rasa amarah terhadap dirinya, bahkan jika tidak ada kejadian tadi pun Taeyeon tidak pernah rela melepas Sehun.

 
Kenapa?

 
Semua pasti akan bertanya kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Percuma… seberapa banyakpun pertanyaan itu datang padanya Taeyeon tidak akan mampu menjawab, semua perasaan itu datang tanpa dirinya sadari.

 
Taeyeon sudah cukup merasa seperti wanita murahan saat perasaan itu terlimpahkan pada Sehun serta Luhan, semua terasa menyesakkan hingga terkadang Taeyeon ingin melarikan diri, perasaan keparat yang terus menerus mengganggu setiap malam telah mengantarkan sebagian nyawanya pergi entah kemana.

 
Taeyeon ingin melepas satu namun tidak bisa! Keduanya sangat berharga, karena terlalu berharganya Taeyeon merasa tak pantas sama sekali bersanding dengan mereka.

 
“Tak apa”

 
Taeyeon lagi – lagi tak mampu menyembunyikan perasaannya yang kacau balau, jelas sekali jika Sehun tidak main – main kali ini, amarah Sehun benar – benar dapat dirasakannya walau dari jarak sejauh ini.

 
“Aku—“

 
Taeyeon terdiam menatap layar ponselnya, tertera disana nama Luhan, dia tahu pasti Luhan telah sampai namun lelaki itu tidak menemukan sosok Lay maupun dirinya, Taeyeon ragu apakah harus menerima atau mengabaikan saja.

 
Apalagi saat ini Sehun berada tidak jauh dari dirinya, jika Taeyeon menerima maka sudah pasti Sehun akan bisa menebak alasan kenapa tadi Lay serta dirinya tiba – tiba menghilang , tetapi jika ia abaikan bisa – bisa Luhan akan marah padanya.

 
Jika Luhan ikut marah maka lengkap sudah kesialan Taeyeon hari ini!

 
“Ponselmu berbunyi, angkatlah aku juga harus segera berangkat” Pamitnya lantas mendekat kearah Taeyeon
Taeyeon mengangguk pelan, mengusap layar ponselnya dan menatap Sehun sejenak sebelum menempelkan ponselnya ditelinga kiri “Iya”

 
“Apa—“

 
Sehun menatap aneh Taeyeon, gadis itu kelihatan terkejut dengan kedua iris matanya yang melebar mulutnya bergetar disertai isak tangis, entah siapa yang menelfon hingga gadis itu jatuh terduduk dengan punggung bergetar hebat, ponselnya terlempar kelantai dan itu dapat di lihat jelas oleh Sehun siapa yang tengah bicara dengan Taeyeon.
Tertera disana nama Luhan, ragu namun akhirnya Sehun segera memungut ponsel itu, melihat sambungannya belum terputus lantas Sehun segera menempelkan benda dingin itu ketelinganya.

 
“Luhan ada ap—“

 
“….”

 
Sehun menjauhkan ponsel itu, suara dari ponsel Taeyeon tidak terdengar seperti Luhan “Iya benar ini adalah ponsel Kim Taeyeon, anda siapa?”

 
“……”

 
“Apa yang anda katakan?” Ekspresi Sehun tak jauh berbeda dengan Taeyeon “kirimkan alamat Lokasinya”Lelaki itu segera memutus sambungan telefonnya, menarik tubuh Taeyeon untuk bangkit, lelaki itu mendongak keatas, Sehun menghela nafas lega ketika sosok sahabatnya masih terlihat di sana. Dengan cepat Sehun segera merogoh ponselnya serta menghubungi kai.

 

 
“Kai bisakah kau turun, tolong temani kakakku sebentar, aku ada urusan penting”

 
“…..”

 
“Ini darurat jika kau keberatan, kau bisa mengantarkan kakakku pulang terlebih dahulu, penerbangan akan aku tunda besok”

 
“……”

 
“Baiklah”

 

.
.
.

 

 

 

Tangis Taeyeon semakin pecah begitu puing – puing mobil yang dikendarai Luhan diangkat dari bawah jurang, mobil itu sudah tak karuan bentuk dengan badan mobil yang terbakar habis.

 
Tubuh Taeyeon lemas hingga jatuh ke jalanan aspal, untungnya Sehun sigap menangkap tubuh gemetaran Taeyeon, baru saja Taeyeon dihubungi oleh seorang lelaki yang mengaku sebagai saksi atas kecelakaan yang menimpa Luhan. Dan segera meluncur kelokasi untuk melihat keadan Luhan.

 
Namun malang tak dapat ditolak, Salah satu polisi mengatakan bahwa tubuh Luhan tidak ditemukan mereka mengatakan jika kemungkinan tubuh Luhan jatuh ke sungai didasar jurang, saat ini Tim Sar masih berusaha menyusuri lokasi.

 
Kenyataan telak yang rasanya sulit diterima adalah kemungkinan Luhan tidak selamat, mengingat lokasi jatuhnya mobil adalah berada diatas ketinggian, mobilnya yang terbuat dari besi saja hancur lantas bagaimana nasib Luhan? Apakah masih bisa selamat? Kemungkinannya jelas tidak lebih dari 10 %.

 
Dan Taeyeon sudah tidak yakin akan keselamatan lelaki yang dicintainya, walau tidak sepenuhnya sebab hati kecilnya masih berharap Luhan bisa selamat dari kecelakaan.

 
Semakin lama kepala Taeyeon semakin pusing, gadis itu sedikit meringis lantas bersandar pada bahu Sehun, mengatakan ‘aku baik – baik saja’ saat lelaki bertanya padanya.

 
“Sebaiknya kita pulang” Ucapnya khawatir

 
“Tidak Sehun, aku mau menunggu sampai Luhan ditemukan”

 
Lelaki itu hanya mampu menghela nafas berat, tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali pasrah, menunggu kabar dari Tim Sar adalah satu – satunya jalan. Sebaiknya ia fokus pada Taeyeon, gadis itu pasti sangat terpukul dengan kejadian ini.

 
Sehun menatap Taeyeon yang kini telah berdiri, hatinya terasa sakit saat wajah pucat Taeyeon tertangkap olehnya, khawatir, kasihan sekaligus tak tega membuat Sehun lantas menggendong tubuh mungil itu.

 

 
Tidak ada penolakan dari Taeyeon karena memang tubuh gadis itu sudah lemas, tenaganya habis sedang air matanya tetap mengalir deras.

 
“Luhan pasti selamat” Ucapnya menenangkan. Namun Sehun tahu bahwa saat ini kalimat penenang macam apapun tidak akan bisa menghilangkan perasaan kehilangan.

 

.
.
.

“Bagaimana dengan Taeyeon?”

 
Suara lelaki bertubuh tinggi itu menghancurkan keheningan diantara ketiga pria berbeda usia, keduanya kini teralih menatap seseorang yang duduk diseberang mereka.

 

 
“Dia masih histeris, tadi dia sempat pingsan beberapa kali.”

 

 
Lelaki yang lebih muda diantara mereka menuangkan teh hijau di dalam cangkir masing – masing yang mulai kosong “Sebaiknya anda meminum teh ini dulu.” Ucapnya lantas menyodorkan teh itu kepada masing – masing.

 

 
“Pihak kepolisian masih terus mencari keberadaan Luhan, tapi yah.. sampai saat ini masih belum ada kemajuan sama sekali.”

 

 
“Saya sudah menghubungi teman saya, namanya Byun Baekhyun dia seorang detektif saya rasa jika detektif yang turun tangan akan jauh lebih cepat.”

 

 
Lelaki tua disampingnya mengangguk “Terimakasih Sehun, kuharap hasilnya melegakan”

 

 
Sehun hanya bisa tersenyum kecil menanggapi harapan pamannya, sejujurnya Sehun sendiri tidak tahu persis berapa persen kiranya Luhan dapat ditemukan. Lokasi Luhan kecelakaan termasuk dalam medan yang sulit harapan Luhan ditemukan tentu tidaklah mudah walau sudah menggunakan tenaga ahli macam detektif.

 

 
“Maaf Tuan Kim, bolehkah saya melihat keadaan Taeyeon?” Ijinnya yang langsung mendapat anggukan dari ayah Taeyeon.

 

 
“Silahkan Sehun, dia ada dikamar ibunya”

 

 
Sehun mengangguk lantas berdiri, membungkukkan tubuhnya kemudian beranjak menuju kamar ibu Taeyeon yang jelas sudah ia ketahui letaknya.

 

 
Tangga demi tangga ia lewati dengan langkah yang berat, semakin dekat jarak antara dirinya dengan kamar ibu Taeyeon maka semakin jelas teriakan histeris yang terdengar, Sehun jelas sudah tahu suara siapa itu. Yah.. sekarang siapa yang tidak terluka jika orang yang akan menjadi suamimu malah kecelakaan dan sampai sekarang tubuhnya masih belum ditemukan entah masih hidup atau sudah matipun belum ada yang tahu.

 

 
Sehun sudah cukup tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang di cintai, rasa sakit, terluka, kecewa, sekaligus takut seolah bertumpuk menjadi satu, bahkan karena terlalu sakitnya tidak ada yang bisa menggambarkannya hanya dengan kata – kata.

 

 
Hanya tinggal tangga terakhir hingga dirinya bisa sampai di depan pintu kayu bercat putih dengan ornamen – ornamen emas di beberapa sisi, entah kenapa dirinya jadi ragu untuk menyelesaikan langkahnya, suara itu terdengar semakin pilu nyalinya seketika menciut begitu nama Luhan terdengar dipanggil berulang – ulang.

 

 
Dia hanya bisa Tertawa hambar, sekelibat pertanyaan seakan emngganggu otaknya saat ini, apakah Luhan sebegitu berharganya hingga Taeyeon seakan tak rela melepaskan lelaki yang paling Sehun benci seumur hidupnya.

 

 
Apakah jika Luhan mati dirinya ini cukup mampu menggantikan Luhan suatu saat nanti? Apakah bisa Taeyeon menerima perasaannya disaat sosok Luhan sangat sulit di lupakan? Apakah Sehun cukup pantas menjadi Luhan bagi Taeyeon? Pantaskah?

 

 
‘Dia membutuhkanmu Sehun.’

 

 
Iya Taeyeon membutuhkan dirinya saat ini, gadis itu pasti membutuhkan sandaran untuk mencurahkan segala kesedihannya, Ouh.. tapi masih ada ibunya! Sehun yakin ibunya sudah cukup Taeyeon butuhkan, Kenapa seorang Oh Sehun yang jelas – jelas bukanlah siapa – siapa Taeyeon malah bingung sendiri. Padahal masih banyak yang harus Sehun lakukan, kakaknya masih belum sembuh dan dia sebagai seorang adik harus melakukan apapun agar kakaknya bisa segera sembuh dan menjadi manusia normal seperti yang lain.

 

 
Yah Sehun harus segera bergegas pulang, karena kakaknya pasti bingung mencarinya.

 

 
“Sehun”
Lelaki itu berbalik, matanya melotot begitu sosok Taeyeon muncul dari balik pintu, rambutnya berantakan sedang wajahnya terpenuhi dengan jejak – jejak air mata. Sehun kembali melotot saat ibu Taeyeon ikut muncul dari balik pintu, wanita paru bayah itu nampak putus asa dengan isak tangis yang terdengar.

 
“Sehun kembalikan Luhan, ku mohon Sehun selamatkan Luhan” Taeyeon memohon sembari menggenggam erat tangan Sehun, gadis itu memberontak marah saat ibunya hendak menyeretnya kembali kedalam kamar.

 

 
“Sehun kumohon, Luhan pasti kedinginan disana, dia sudah berjanji padaku dia caln suamiku Luhan kumohon selamatkan dia, dia sepupumukan jadi tolong selamatkan sepupumu Sehun, ku mohon selamatkan dia..Ku mohon Sehun selamatkan Luhan untukku Hikks…”

 

 
Sehun terkejut bukan main saat Taeyeon tiba – tiba duduk dan memeluk kakinya, gadis itu memohon tanpa henti pada Sehun, Nyonya Kim seketika bertindak mencoba melepaskan pelukan Taeyeon dikaki Sehun, namun lagi – lagiTaeyeon memberontak keras hingga mendorong tubuh ibunya.

 

 
Nyonya kim hanya mampu menutupi mulutnya yang mulai kembali terisak, melihat anaknya yang memohon seperti itu membuat hatinya semakin sakit.

 

 
Sehun menatap nanar pada Nyonya Kim, wanita itu juga menatap Sehun seakan meminta pertolongan, segera Sehun melepas pelukan Taeyeon kemudian mensejajarkan tingginya dengan Taeyeon, memeluk tubuh mungil itu yang juga memberontak dipelukannya, namun Sehun bukanlah pria lemah yang akan jatuh hanya dengan pukulan Taeyeon, malahan Sehun semakin mengeratkan pelukannya.

 

 

 
“Aku akan menemukannya, aku janji” Ucapnya kemudian mengusap punggung Taeyeon yang sedikit demi sedikit mulai tenang.

 

.
.
.
.
.

Wanita paruh bayah itu hanya duduk melamun menatap sosok putri manisnya yang tertidur pulas di atas ranjang, mata sembab sehabis menangis jelas masih terlihat namun wanita itu berusaha terlihat tegar walau perasaannya tengah hancur.

 
Sehun hanya berdiri diam di pojok kamar, menatap nanar pada dua sosok wanita berbeda usia yang terlihat cukup menyedihkan di matanya, sosok yang terbaring diatas ranjang sesekali terlihat menggumamkan sesuatu sedang sosok lain yang hanya duduk diam tanpa bicara hanya terlihat sesekali mengusap tangan putrinya untuk menenangkan kala putrinya tiba – tiba menangis.

 

 
menyenangkan sekali jika ada orang yang menemanimu dikala tertimpa masalah, apalagi jika orang itu adalah sosok seorang ibu yang selalu lekat dengan sebutan ‘hati malaikat’ . sayangnya Sehun tidak pernah merasakan seperti apa sebenarnya yang dimaksud dengan ‘hati malaikat’.

 

 
karena sosok malaikat bagi Sehun hanya Lay kakaknya, bukan ibu atau ayahnya karena yang Sehun tahu kedua orang tuanya mengartikan ‘kasih sayang’ sebagai memberi uang sekaligus kemewahan.

 

 
bukan menanyakan kabar putranya atau mungkin memasakkan makanan super lezat seperti keluarga lain. Tanpa sadar air mata Sehun menetes, semua terasa cukup berat untuk dihadapi, jika saja bisa Sehun ingin berhenti.
Kehidupan yang dijalaninya terasa sangat melelahkan. bahkan semua terasa menyakitkan kalian tahu? sehebat – hebat apapun serta sekuat apapun manusia tetap saja hatinya akan tembus oleh peluru.

 

 
dan seperti itulah kiranya hati seorang Oh Sehun, tidak ada yang bisa menduga betapa menyedihkannya hidup lelaki bertubuh jangkung ini, karena dimata orang lain sosok Sehun adalah sosok sempurna yang bila dinilai dari materi ataupun fisik tidak kekurangan satu apapun,memang sekilas jelas tanpa adanya cela.

 

 
yang namanya perasaan tidak pernah bisa berbohong walau seberapa hebatpun orang itu menutupi – nutupi. Termasuk Oh Sehun si pria sempurna.

 

 
“Nyonya Kim saya mohon pamit.” Pamitnya dengan suara pelan, takut jika Taeyeon terganggu dengan suaranya. Ibu Taeyeon merespon dengan anggukan pelan serta tersenyum tipis, hanya senyuman tipis namun cukup berarti untuk Sehun, kiranya sudah cukup lama sekali Dirinya tidak melihat senyuman seperti itu dari mahluk bernama ‘ibu’.

 

 
“Hati – hati dijalan dan terimakasih untuk bantuanmu Sehun.” Ucapnya tulus
Sehun mengangguk lantas membungkukkan badan, menghela nafas sejenak sebelum beranjak pergi.

 

.
.
.

“Bagaimana? Apa sudah ada tanda – tanda Luhan ditemukan?”

 

 
“Belum ada apapun, timku sudah menelusuri disekitar area kecelakaan namun tidak ada sesuatupun yang bisa kami temukan.” Jawabnya lesu, lelaki bermata sipit itu nampak lelah dengan wajah cantiknya yang kusut. sejenak ia berdiri mengambil air minum kemudian duduk kembali pada tempat semula.

 

 
“Ada dua kemungkinan mengapa Luhan tidak dapat ditemukan. kemungkinan pertama Luhan jatuh ke jurang dan dimakan oleh hewan Liar, Kemungkinan Kedua tubuh Luhan jatuh ke sungai tepat disebelah bebatuan dekat jurang dan tubuhnya terseret arus.”

 

 
Sehun terlihat was -was mendengar dua kemungkinan yang disebutkan Byun Baekhyun, Dari kedua kemungkinan itu jelas tidak ada satupun yang terdengar baik. Dimakan Hewan Liar? Terseret Arus? jika sudah begini apa mungki Luhan masih bisa selamat?

 

 
“Terdengar mengerikan, apa Luhan masih ada kemungkinan selamat?”

 

 
Baekhyun mendesah, ia menggeleng pertanda bahwa pertanyaan Sehun cukup sulit ia jawab. “Jika kau tanya kemungkinannya, kurasa hanya 20 % pria itu bisa selamat.”

 

 
Sehun mendelik, hanya 20 % saja kemungkinan untuk selamat? jadi yang 80 % adalah ‘mati’ . Astaga!

 

 
“Hey.. jika kupikir – pikir kenapa sekarang kau sangat perduli pada Luhan? bukankah kau sangat membencinya?” Sindirnya

 

 
“Aku sudah berjanji.” Ucapnya malas “Taeyeon memohon padaku untuk menemukan Luhan.” Sambungnya menjelaskan.

 

 
“Benarkah hanya karena itu?” Mata Baekhyun menyipit, lelaki itu menatap Sehun tak percaya.

 

 
“Hmm..” Sehun hanya berdehem menjawab pertanyaan Baekhyun yang selalu saja membuatnya kesal. Eoh Kenapa Baekhyun dan Kai memiliki sikap keingintahuan yang besar, kedua sahabatnya ini benar – benar selalu menyebalkan.

 

 
“Ah ya.. bagaimana dengan penerbanganmu? kudengar kau akan membawa Kakakmu berobat ke Luar Negeri?”
Sehun mendesah “Aku tidak tahu, sebenarnya jadwal penerbangan sudah ku tunda besok, tapi aku tidak bisa meninggalkan janjiku pada Taeyeon.”

 

 
Wajah Sehun nampak murung dengan alis yang bertumpuk menjadi satu, lelaki itu sepertinya pusing bukan main memutuskan apakah tetap tinggal sampai Luhan ditemukan atau tetap pergi demi menyembuhkan kakaknya.

 

 
“Kau sangat menyukai gadis itu ya?”

 

 
Sehun mendongak, menyandarkan tubuh lelahnya kekursi, matanya terpejam “Aku memang sangat menyukainya, karena terlalu sukanya seakan aku rela menyerahkan nyawaku untuknya.”

 

 
Baekhyun terseyum, lelaki itu menatap Sehun dalam “Kau sudah dewasa rupanya.” Pujinya tulus.

 

 
Obrolan keduanya berhenti begitu suara halus terdengar dari Sehun, lelaki itu terlelap begitu cepat walau kini posisi tidurnya tidak cukup baik, Baekhyun sebenarnya ingin membangunkan Sehun agar pria jangkung itu bisa membenarkan posisinya, namun melihat ekspresi wajah Sehun yang terlihat sangat letih membuatnya jadi tak tega.

 

 

 

Besok pagi Baekhyun pasti akan mendengar rentetan keluhan dari Sehun karena membiarkannya tidur di sofa,
Baekhyun bangkit dan mengambil selimut yang ia simpan di almari kantornya, menyelimutkan selimut itu pada tubuh Sehun hingga sebatas leher.

 

 
Tanpa sadar Baekhyun tersenyum, percakapan singkatnya tadi tentang perempuan bernama Kim Taeyeon membuat ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Tak pernah ia sangka jika Sehun mau melakukan hal – hal yang menyangkut tentang Luhan, dulu jangankan membantu sekedar menyebut nama Luhan saja Sehun rasanya tak sudi.

 

 
Namun semenjak mengenal Taeyeon, tanpa sadar Sehun telah banyak berubah, walau lelaki ini masih menyangkal bahwa ia membantu karena Taeyeon yang memintanya, namun Baekhyun yakin jika jauh didalam lubuk hatinya Sehun sangat mengkhawatirkan Luhan, sama seperti orang lain yang mengkhawatirkan saudaranya.
Oh Sehun hanya butuh waktu sedikit lagi untuk bisa menghapus bayang – bayang masa lalunya, sedikit lagi..! maka semua akan berjalan dengan semestinya.

 

 
‘Kau sudah banyak berubah Oh Sehun aku bangga padamu’

 

.
.
.

3 Minggu kemudian……………

 

 
Sejak kejadian dimana Luhan kecelakaan dan menghilang tanpa jejak, Taeyeon tidak pernah lagi terlihat keluar dari dalam kamarnya, Tak ada yang bisa membuat Taeyeon keluar sekedar untuk menghirup udara segar di halaman Rumahnya, Ibunya sudah putus asa dan hanya bisa menangis setiap harinya.

 

 
Ayahnya? pria baru payah ini pun tak tahu harus berbuat apa lagi, faktanya Tuan Kim tidaklah banyak mengetahui tentang putrinya, selama ini ia tak pernah sekalipun memperdulikan keadaan putrinya, yang ada di otaknya hanyalah bisnis dan uang.

 

 
Sejak Taeyeon kecil tuan Kim hanya memberikan uang yang jumlahnya tak main – main, tidak pernah sekalipun menyempatkan waktu untuk sekedar menemani putrinya itu bermain.

 

 
Kejadian itu terulang terus menerus hingga Taeyeon memasuki jenjang SMA, gadis bertubuh mungil itu terlalu dimanjakan dengan uang yang menyebabkannya menjadi orang yang ‘nakal’.

 

 
Awal memasuki Jenjang perguruan tinggi Taeyeon bahkan terjerat dengan obat – obatan terlarang dan sering pergi ke club malam hingga petang menjelang, Reaksi Tuan Kim ketika Taeyeon terjerumus ke hal – hal negatif adalah Marah Besar hingga menyebabkan segala fasilitas yang di berikan di cabut paksa.

 

 
Taeyeon bahkan di berhentikan dari fakultas dengan paksa oleh Ayahnya untuk menutupi kelakuannya, Itulah alasan mengapa Taeyeon sampai saat ini tidak pernah terlihat memasuki Fakultas.

 

 
Taeyeon selalu kemanapun dengan pengawal – pengawal berbadan besar yang tidak pernah melepaskannya 1 detikpun.

 

 
Hingga hari dimana untuk pertama kalinya Taeyeon di pertemukan dengan Luhan di sebuah lestoran untuk perjodohan, Tak disangka Taeyeon telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Luhan, gadis itu bahkan berubah 180 derajat setelah hari itu, setiap pagi Taeyeon selalu belajar memasak dengan seorang juru masak didalam rumahnya, belajar membersihkan rumah serta belajar banyak hal tentang Rumah Tangga.

 

 
Semua Taeyeon lakukan hanya demi menjadi seseorang yang terlihat baik dimata Luhan.

 

 
Dan jika sekarang ini orang yang menjadi tujuan Taeyeon berubah telah pergi lalu apa lagi yang bisa membuatnya bersemangat? sedang satu – satunya penyemangat hidupnya telah hilang.

 

 
Setelah kejadian itu Sehun akan mengunjungi Taeyeon hampir setiap hari, membantu Nyonya Kim untuk merayu Taeyeon agar mau memakan makanannya, atau menemani Taeyeon dengan menceritakan berbagai hal walau nyatanya Taeyeon tak merespon setiap perkataan Sehun.

 

 
Namun kini Nyonya Kim harus melakukannya sendiri, hari ke 5 Luhan menghilang tiba – tiba Sehun berpamitan hendak pergi ke Luar Negeri dengan Kakaknya untuk berobat selama 1 bulan. Lelaki jangkung itu selalu ada setiap kali Taeyeon membutuhkan bantuan, sebenarnya Nyonya Kim agak berat melepaskan Sehun pergi, bagaimanapun Nyonya Kim telah menganggap Sehun sebagai anaknya sendiri, Sehun adalah anak yang baik.

 

 
“Ayo sayang kau harus makan, lihatlah tubuhmu semakin kurus.”

 
Nyonya Kim menyendok makanan dan memberikannya pada Taeyeon yang di balas gelengan malas dari putrinya, Nyonya Kim mendesah sebelum meletakkan satu piring makanan itu keatas meja.

 

 
“Baiklah, Eomma akan meletakkan makanannya di meja, kau bisa memakannya nanti.”

 

 
Nyonya Kim lantas beranjak pergi, sejenak berhenti sebelum membuka pintu. menoleh menatap putrinya itu sedih.

 

 
“Sampai kapan kau akan seperti ini putriku?” keluhnya dalam hati, entah setelah ini ia sebagai seorang ibu harus melakukan apa. Semua telah ia lakukan agar putrinya mau bangkit serta bisa menghadapi kenyataan.

 

 
Bahwa Luhan telah tiada! walau kenyataan mayatnya masih belum ditemukan namun Polisi telah mengatakan jika Luhan tidak akan selamat atas insiden kecelakaan itu.

 

.
.
.

Perempuan berambut pirang dengan paras yang cantik itu tampak berjalan santai memasuki Rumah Kediaman keluarga Kim, sepatu high heelnya terdengar bertarung dengan lantai.

 

 
Beberapa pelayan yang memang sudah tahu dengan perempuan itu membungkuk hormat, salah satu pelayan lantas menghampiri perempuan itu dan mempersilahkannya masuk.

 

 
“Lama sekali Noona Jung tidak berkunjung.” Sapa pelayan itu ramah

 

 
“Iya bibi Lee, dimana Taeyeon?”

 

 
Wanita yang dipanggil bibi Lee itu tersenyum hangat, lantas mengisyaratkan agar perempuan cantik itu untuk ikut bersamanya.

 

 
“Noona Kim masih mengurung diri didalam kamar, saya sangat berharap kehadiran Noona kesini bisa membantu.” Harapnya sebelum mengetuk pintu kamar milik Taeyeon.

 

 
“Tentu, saya akan berusaha membantu.” Jawabnya mantap.

 

 
Bibi Lee mengangguk penuh harap, membukakan pintu untuk perempuan itu lantas mohon pamit, tentunya membungkuk hormat sebelum pergi.

 

 
Sepeninggal Bibi Lee perempuan itu masih diam di tempat, sejenak menatap kosong pada daun pintu, entah apa yang menarik disana hingga perempuan itu seperti enggan berpaling.

 

 
lama pada posisi itu hingga suara merdu seseorang terdengar oleh kedua telinganya, perempuan itu lantas membuka pintu serta masuk kedalam tanpa ragu.

 

 
Dilihatnya Taeyeon yang duduk di lantai dengan tatapan kosong penuh luka, perempuan itu mengulas senyum tak kalah kedua mata hitam sayu itu menatapnya.

 

 
“Baby, are you okay?” Tanyanya lembut sembari mendekat pada ranjang besar milik Taeyeon, mendudukkan diri di sisi ranjang dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.

 

 
“Jessica?” Gumamnya tak percaya

 

 
Perempuan yang dipanggil Jessica itu mengangguk lantas menarik tubuh kurus Taeyeon kedalam pelukannya.
“Kau membuatku khawatir baby.” Keluhanya sembari mengusap lembut punggung Taeyeon.

 

 
“Jessica, Luhan dia Luhan aku Luhan…”

 

 
“Sssttt… Aku tahu.” Selanya, Jessica melepas pelukannya

 

 
“Jangan sedih, kau masih punya aku dan Tiffany.” Sambungnya mencoba menghibur.

 

 
“Sehun juga meninggalkanku.” Lapornya sedih, Taeyeon menunduk menahan tetesan air mata yang telah siap membanjiri pipinya lagi, gadis itu menggiit bibirnya seakan tak ingin memperlihatkan betapa hancur perasaannya saat ini.

 

 
Entah sudah berapa kali Taeyeon menangis meratapi kehidupan asmaranya yang seakan tak pernah berjalan mulus, Luhan pergi begitu saja, dan Sehun meninggalkan ia tanpa pamit. Tak ada yang salah memang sebab Sehun hanya mau mengobati kakaknya, tapi kenapa tidak pamit? memang selama beberapa hari Taeyeon enggan sekali menanggapi Sehun. Tapi bagaianapun setidaknya Sehun pamit padanya. jika meangingat itu entah kenapa hati Taeyeon rasanya sakit sekali.

 

 
Jessica tersenyum “Kau tidak sendiri.” Ucapnya lantas menggenggam kedua tangan Taeyeon yang sangat dingin terasa.

 

 
“Aku kacau Jessi, Semua yang ku sayangi telah pergi.” Keluhnya tak tahan. Dadanya terasa semakin sesak hari demi hari, seolah – olah oksigen pergi menjauh dari sisinya secara perlahan.

 

 
Jessica menggeleng, kembali menarik tubuh Taeyeon untuk ia peluk, Perempuan itu tersenyum puas saat tubuh Taeyeon bergetar hebat di dalam dekapannya.

gadis itu menyeringai ‘Kehancuran itu rasanya Luar biasa kan Kim Taeyeon.’

 

 

 

TO BE CONTINUED
NEXT PART 7 B

kenapa ini 7 A dan kenapa nikahannya belum ada? sebenarnya klo mau dilanjut ini part bakal sampek jenuh yang baca -_-” karena terlalu banyak akhirnya saya jadikan dua bagian (?) emang daging? XD
yang suka sama adegan kawin2an, acaranya bakal muncul di part 7 B . undangannya nanti hayati kirim lewat JNE ya reader ^^ XD

Advertisements

141 comments on “ZUIVER / Chapter 7A

  1. Daebak thor! ^^

    Sehun ninggalin?? Lyhan gak bkalan knapa2 kan thor?? :” Kasian bnget sma Taeyeon!:””
    Jessica?? Apa dia sejahat itu?? Atau jessica yg udah ngerencanain biar Luhan kcelakaan??

    Penasaran thor!! Dtnggu chap slanjutnya… Fighting!! 😉

  2. Kyaaaa !!!!!!! Luhan !!!!!!!!! T.T aigooo moga ditemuin secepatnyaa dehh !! Ini pair nya LuTae kannn ??? ._. Jessica jahat ??!! Omo ! Ksian banget Taeng jinjja ! Next ditunggu

  3. Aduhhh Luhann ga meninggal kan??
    Sica mencurigakan nii..
    Kasian Taeyeon..
    Dan ternyata Lay pura2 sakit yaa?
    waa makin seruu aja..
    Please update soon yaa thor..
    Ga sabar sama part kawin2an-an nya.. *eh wkwkwk
    Pokonya semangatt terus thor!!

  4. sorry for my late comment 😥 But i really love your fanfic
    duh maaf banget ya authornya nya aku ngoment ff kamu gk semuanya mungkin ada yg iya ada yg enggak soalnya udah lama gk buka blog ini maklum hiatus 🙂
    aku suka banget loh ff kamu thornim ini bikin nyesek waktu chap dimana luhan mulai suka sama taeyeon tapi taeng nya malah sama sehun duh di chap itu pngen nangis dan di chap ini yg lebih pengen nangis duh taengnya baru aja bls perasaan luhan tapi luhannya hilang duh aku takut luhan gak ketemu tolong temuin luhan ya thor please #nyuruh2ajasihGua
    sehun kasian juga sih tapi aku agak gak suka sama sehun masa dia mau balas dendam sama luhan kan luhan juga korban waktu kecil…
    Chap depan semoga luhan di temuin ! pengen dukung Lutae Tapi keinget sehun duh bingung taeyeon poliandri aja susah amat hehehe 😀
    Di tunggu chap 7b nya see you soon Fighting sorry Kalo aku SKSD

  5. Hi, author. Aku suka sekali baca fanfic kamu tapi aku mau kasih sedikit saran (mungkin) hehehe😂
    Diatas ada kalimat “pria baru payah ini…” aku sempet ga ngerti waktu baca tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin maksud author “pria paruh baya” hehehe.
    Terus ada satu lagi (maaf bawel). Waktu bibi Lee menyambut Jessica, harusnya nona bukan noona. Noona kan sebutan laki-laki ke seorang kakak perempuan. Huahahah udah sih gitu aja, author. Selebihnya aku suka kok. Sempet kaget sih ko Luhan tiba-tiba bisa kecelakaan terus ilang gitu. Kalopun Luhan “dimatikan” aku rela-rela aja kan ada Sehun. (kemudian digampar lutae shipper) (padahal previous chapter dukung lutae) (samaan labilnya sama taeyeon)
    Oke, semangat lanjutinnya ya moga cepet di post next chapter. 🙆💕

    • huahahahahahaha typo gua astaga XD XD XD
      maap yeth.. itu nulisnya emang rada’ ngantuk apalah2 *alasan XD
      kedepannya bakal di perbaiki lagi..
      btw.. terimakasih ya buat sarannya ^^

  6. Jessica menyeringai? Omo omo omo authoorrr. Sukaaaaaa. Lay jadi sakit bohongan? Hubungan luhan sma lay apa? Gara gara ga baca part kmren nih
    Ditunggu next chapnya authoor
    FIGHTAENG!!!

  7. duhh bingung nih mau dukung couple yg mana
    seyeon romantis gitu, lutae sweet banget. tapi entah kenapa lebih milih seyeon sih, soalnya sehun udah berkorban banyak buat taeyeon 😦
    itu jessica jadi jahat ya di sini?
    next thor

  8. Pingback: ZUIVER / Chapter 7 B | All The Stories Is Taeyeon's

  9. “Makan yang banyak agar di malam pertama kita
    kau mempunyai cukup tenaga untuk melayaniku”
    bisiknya, wahahaha otak gua langsung konek…
    ehhhh di chap sebelumnya kan taeyeon dikatain nona byun ama sahabatnya. Apa taeyeon mantan pacar baekhyun disini??? hehehe(emang marga byun hanya baek ajha? #abaikan)
    ehhhh mbak jessica kok kyak jahat gituhhhh??uhhh makin penasaran nih ama ff nya
    Luhan ama Taeyeon ajha endingnya ya thor. :v

  10. curiga ama sica, apa jangan2 yg sica yg menyebabkan luhan kecelakaan??
    atas dasar apa sica melakukan itu, apa sica punya dendam ama taeng

  11. Pingback: Zuiver / Chapter 8 | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Zuiver Chapter 9 | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Zuiver / Chapter 10 | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: ZUIVER / Chapter 11 (Last) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Ya ampunnn hrsnya FF ini msk genre angst jugaa. Baru aja Luhan sm Taeyeon hidup bahagia tp udh hrs berpisah kyk gini T^T Taeyeon Luhan yg sabar yaa. Aku jadi curiga klo penyebab kecelakaannya Luhan itu Sehun. Atau Jessica ya?

  16. Jessica jd karakter jahat pantes bgt. Seringainya itu meragukan.
    Kasian Taeyeon, sptnya lebih cinta luhan drpd sehun..
    Semoga Luhan tdk mati dan cepat di temukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s