[Freelance] Our First Love (Chapter 2)


Title : Our First Love

Author/twitter : HannaByun_ss

Main cast : Kim TaeYeon SNSD, Byun Baekhyun EXO, Jung Jessica

Support cast : Yoon BoMi Apink, Park Chanyeol EXO, Kim Jiwoong, Kai EXO

Length : Chapter
Rating
 : PG-16
Genre
 : School life, romance, sad (maybe)

Disclaimer : Ini asli FF buatan aku kok ^^ tapi dibagian akhir part 2 ini, sedikit terinspirasi dari komik Between Two Heart.

Note : haaiiii… oh ya, Cuma mau kasih tau dikit tentang prolog kemarin, soalnya prolog itu aku buat berdasarkan pengalaman cintaku sendiri. Mian kalo biasa aja..

Oke Happy Reading… ^^

Preview: Intro, Chapter 1

Part 2

Pukul 08:45, Seoul Performing Art High School.

Sampai juga akhirnya di depan pintu gerbang yang sangat ramai ini setelah berjalan sebentar dari halte. Tidak butuh waktu lama, haltenya berada di samping kiri gerbang sekolah ini, karena notabanenya halte itu adalah milik SOPA. Sebenarnya halte itu jarang digunakan, mengingat murid-murid yang bersekolah di sini pasti sedikit sekali berangkat menggunakan bus. Mereka pasti lebih memilih menaiki kendaraan pribadi mereka yang jauh lebih nyaman.

Kulangkahkan kaki kecilku menuju jalan setapak yang kanan kirinya sudah dipenuhi dengan jajanan-jajanan khas korea. Banyak stan-stan yang terlihat sangat sesak dipenuhi pengunjung, tapi ada pula yang masih bersemangat memanggil-manggil pengunjung untuk datang ke stannya yang terlihat masih sepi.

Sebenarnya aku juga heran dengan murid di sini, rata-rata mereka pasti dari kalangan orang kaya, tapi mau repot-repot melakukan hal ini. Oh ya, apa harga makanan yang mereka jual mahal-mahal? Bagaimana kalau sampai BaekHyun akan mengajakku kesana kemari? Aku tidak membawa uang banyak. Karena yang aku tahu, festival budaya yang biasa diadakan sekolahku mematok harga jual sangat rendah, mengingat yang datang juga kalangan biasa. Tidak seperti di sini. Aku juga yakin pengunjung yang datang ke sini pasti kebanyakan murid-murid dari sekolah terkenal yang kaya raya.

“Sica-ah! Apa makanan disini mahal-mahal?” tanyaku tiba-tiba yang membuat orang yang kupanggil menoleh dengan wajah herannya.

“Tentu saja tidak! Kau bertanya seperti belum pernah ke festival budaya saja.”

“A-ani.., bukan begitu. Masalahnya pengunjung yang datang ke sini pasti kebanyakan murid kalangan kaya, jadi kukira harganya akan mahal juga” jelasku malu.

“Kau pasti sempat berpikir kenapa murid SOPA yang kebanyakan orang kaya, tapi mau melakukan hal-hal seperti ini, kan?” tebaknya.

“A-aniyaaa.. Aku tidak berpikir begitu.” jawabku bohong. Padahal tadi aku sempat memikirkannya.

“Tampik pikiran seperti itu, ne. Sebenarnya kami melakukan ini untuk menghilangkan rumor tentang sekolahku yang mengatakan kalau murid disini sukar untuk menerima murid dari sekolah biasa. Karena sebenarnya kami sangat senang bergaul dengan murid lain. Tidak peduli mereka siapa dan darimana.” jelas Jessica dengan begitu menyentuh. Ternyata rumor memang rumor, tidak tahu kebenarannya bagaimana.

“Dimana kalian janji bertemu?” tanya Jessica tiba-tiba. Kini giliran dia yang bertanya seperti itu.

“M.., Dia belum membalas pesanku lagi.”

“Yasudah, kita langsung ke kelas saja. Mungkin dia masih sibuk melayani pengunjung.”

“Memangnya di kelas kalian membuka apa?”

“Hanya cafe. Seperti tahun sebelumnya.”

“Wwaahh.. pasti sangat hebat!”

“Tidak juga. Daripada kau penasaran, kajja ke kelasku.”

Lalu Jessica dengan paksa menarik lenganku dan mulai masuk ke sebuah gedung paling kiri di sekolah ini. Pasti kelas mereka ada di sana. Tiba-tiba Hpku bergetar. Ada pesan masuk dari BaekHyun.

‘Neo oddiga? Apa kalian sudah sampai? Mian baru membalas, pengunjung di kelasku lumayan banyak. Tunggu sebentar, ne. Aku akan menjemputmu secepatnya.’

Cepat-cepat aku membalas pesan darinya.

‘Tidak perlu. Aku dan Jessica akan ke kelasmu.’

Drrtt.. Drrtt..

‘Oh ya? Kalau begitu suruh Jessica cepat ke sini, kami sangat butuh bantuannya. Dan aku akan membuatkan kopi special untukmu.’

Apa yang baru ia katakan? Spesial? Untukku? BaekHyun-ah.., jebal! Jangan membuatku terus melayang-layang.

‘Ne! Tunggu kami, ne~’

TaeYeon POV end.

* * *

“TaeYeon-ah! Kau tunggu di sini sebentar, ne? Aku ingin mengganti seragamku dulu.” suruh Jessica tiba-tiba ketika mereka berada tepat di depan toilet. TaeYeon hanya membalasnya dengan anggukan, dan menunggunya di depan toilet wanita.

Setelah hampir 10 menit menunggu di depan toilet, tapi Jessica tidak kunjung keluar, membuat TaeYeon hampir merasa bosan. Ia juga jadi hawatir pada Jessica. ‘Ada apa dengannya? Kenapa ia lama sekali?’ pikirnya. Masih setia berdiri tanpa bergeming, tiba-tiba ada tangan besar yang menyentuh pundaknya. Sontak membuatnya membalikan tubuhnya untuk melihat orang itu.

“Oh! TaeYeon?!”

“ChanYeol?!”

“K-kau sedang apa di sini?!” tanya namja itu bodoh.

“Ck! Kau ini bicara apa? Tentu saja aku ini pengunjung.”

“Mwo?! Pengunjung?”

‘Aaaisshh.., dia itu pura-pura bodoh atau apa sih? Aku malas menjawab pertanyaannya.’ pikir TaeYeon.

“M-maksudku kau pasti bukan pengunjung biasa, kan?”

“Ne?” tanya yeoja itu heran.

“Alasan kau datang ke sini pasti ingin bertemu BaekHyun, kan?” tebaknya yang sukses membuatnya tersipu malu.

“Ck! Itu bukan urusanmu!” balasnya sambil membuang muka. Ia tidak ingin ChanYeol melihat pipinya yang tengah memerah sekarang.

“Ya TaeYeon! Tidak perlu malu begitu. Omong-omong, kenapa malah berada di sini? Kenapa tidak menemuinya di kelas saja? Apa kalian sudah janjian bertemu di sini? Atau kau sedang bingung mencari kelas BaekHyun? Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kelasnya. Kajja!” katanya panjang lebar dan langsung menarik tangan TaeYeon tanpa seizin empunya.

Dengan cepat TaeYeon menarik kembali tangannya, “Apa yang kau lakukan? Seenaknya menarik tanganku!” omelnya. “Lagi pula siapa yang sedang mencari kelasnya? Aku sedang menunggu Jessica! Dia bilang ingin ke toilet dulu.” jelasnya kesal.

‘Apa?! Jessica ada di dalam? Ini kesempatanku untuk bertemu dengannya tanpa harus diganggu BaekHyun.’ pikir ChanYeol jahil.

“Jessica?!” tanyanya pura-pura heran.

“Ne! Wae?!”

“Tadi aku melihatnya di kelas sebelum aku pergi ke sini. Bahkan aku sempat menyapanya.” jelas ChanYeol bohong.

“A-apa?! Jangan bercanda! Jelas-jelas aku belum melihatnya keluar dari toilet!”

“Yasudah kalau tidak percaya! Kau bisa ke kelasnya sekarang. Kau tinggal menyusuri koridor ini, dan berbelok ke kanan, di sebelah kanan bertuliskan kelas 11-4, itu kelas Jessica dan BaekHyun.” jelasnya panjang lebar.

‘Apa aku harus mempercayainya? Tapi dia kelihatan sedang tidak berbohong.’

“Kau sedang tidak berbohong, kan?”

“Terserah kau saja! Sudah ya, aku sedang sibuk di kelasku. Sebenarnya aku hanya diizinkan pergi ke toilet sebentar saja. Bye!” balas ChanYeol yang lalu masuk ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet wanita.

Melihat tingkah ChanYeol yang sepertinya sedang tidak berbohong, TaeYeon memutuskan untuk pergi meninggalkan toilet dan berjalan menuju arah yang dimaksud ChanYeol.

Dibalik tembok penyekat kamar mandi, ChanYeol mendengar desisan TaeYeon yang kesal dan tak lama pergi meninggalkan toilet itu. Dengan hati-hati ChanYeol keluar dari toilet dan mengintip, takut-takut TaeYeon masih berada di situ.

“Sedang apa kau disini?” tanya seorang yeoja yang tiba-tiba keluar dari toilet wanita.

Sontak ChanYeol membenarkan sikapnya yang terlihat mencurigakan. “S-sica-ah! D-dari toilet juga?” tanyanya gugup.

“Kenapa kau terlihat mencurigakan? Apa yang sedang kau rencanakan?” tembak Jessica.

“Ne?! Ah! Aku takut ketahuan ketua! Dia tidak memberiku waktu untuk istirahat sejak pagi. Sebenarnya aku ingin membolos.” jelas namja itu berbohong. “Omong-omong, kau menjadi maid lagi? Kau selalu terlihat seksi kalau seperti ini. Aku suka melihatnya.” godanya.

“Ck!” Jessica menanggapi dengan tatapan jijik, malas menanggapi omongan namja pervert ini. “Oh ya, apa kau melihat TaeYeon di sekitar sini? Tadi aku menyuruhnya menunggu, tapi dia malah tidak ada sekarang.”

“Ne aku melihatnya. Sejak tadi aku menemaninya di sini. Katanya kau lama sekali, jadi dia memutuskan untuk pergi ke kelasmu duluan. Dia ingin bertemu dengan BaekHyun ya? Dia terlihat semangat sekali!” jawab ChanYeol berbohong.

“Oh begitu. Pasti dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.” katanya agak kecewa lalu tertunduk sebentar.

“Kau tidak cemburu, kan BaekHyunmu akan bertemu dengan yeoja lain?” goda ChanYeol.

“Aaiisshh.., apa yang kau bicarakan?! Tentu saja tidak! Aku bahkan sangat mendukung mereka!” jawabnya kesal.

“Oh ya? Tapi wajahmu mengatakan hal lain.”

“Ck! Sudahlah, aku ingin ke kelas dulu. Pasti yang lain sedang mencariku sekarang.” balas Jessica lalu pergi meninggalkan ChanYeol yang dengan cepat mengekorinya dari belakang.

“Kenapa malah mengikutiku? Katanya ingin membolos?” tanya yeoja itu setelah menyadari ChanYeol yang mengikutinya dari belakang.

“Memang! Aku ingin membolos ke kelasmu!” balas namja itu santai. Jessica malah malas menanggapinya dan memutuskan berjalan terus ke arah kelasnya.

* * *

Sebelumnya, TaeYeon masih sibuk mencari kelas Jessica. Ia ingin sekali mengomeli Jessica ketika ia sudah menemukannya nanti. Kenapa yeoja itu malah meninggalkannya sendiri seperti itu. Tak lama setelah berbelok ke arah kanan, ia menemukan kelas bertuliskan 11-4, seperti yang dibilang ChanYeol. Ia semakin yakin kalau tadi sepertinya ChanYeol memang sedang tidak berbohong. Dengan langkah ragu, ia memasuki kelas itu.

“Silahkan, ingin pesan berapa bangku?” tanya seorang murid mengenakan pakaian maid, sontak TaeYeon langsung menoleh ke arah orang itu.

“Oh! Mianhae. Sebenarnya aku tidak ingin pesan, tapi ingin mencari seorang murid bernama Jessica, apa benar dia murid kelas ini?” tanya TaeYeon ragu.

“Ouhh..,” kata orang itu yang ternyata seorang namja. “Apa kau ini temannya?” dengan cepat TaeYeon mengangguk. “Kita sama kalau begitu. Aku juga sedang mencarinya. Sepertinya dia belum datang.” jawab namja itu.

‘Mwo?! belum datang?! Apa dia berkata jujur atau ChanYeol yang sebenarnya sedang ingin mengerjaiku?! Dasar napeun namja!! Akan kubunuh dia kalau aku bertemu dengannya lagi.’ rutuk TaeYeon dalam hati.

“Jeogiyo.., jadi bagaimana? Apa ingin menunggunya di dalam?” tanya namja itu yang menyadarkan TaeYeon dari lamunan kesalnya.

Belum sempat TaeYeon menjawab namja itu, tiba-tiba ada seseorang memanggilnya dari dalam kelas yang telah sempurna berubah menjadi seperti layaknya cafe.

“Oh! TaeYeon-ah?!”

Dengan cepat TaeYeon menoleh pada namja yang memanggilnya. Sontak ia kaget setelah mengetahui siapa namja yang memanggilnya, Byun BaekHyun, ya namja itu. Belum juga reda dengan kekagetannya, ia dibuat kaget lagi oleh namja itu yang tengah menggandeng yeoja yang sepertinya teman sekelasnya, melihat yeoja itu mengenakan seragam bartender yang sama dengannya.

Entah alasan apa yang membuat TaeYeon sekarang merasa cemburu. Ini adalah kesan pertama pertemuan mereka, tapi namja itu malah membuatnya seperti ini.

“M-maaf, aku ke toilet sebentar.” kata yeoja itu akhirnya, kemudian berbalik dan berlari menjauh dari kelas itu. Ia takut air matanya akan keluar kalau terus ia biarkan dirinya berdiri di sana.

“TaeYeon-ah?!” panggil BaekHyun akhirnya yang sepertinya baru menyadari kenapa TaeYeon tiba-tiba berlari seperti itu. Ya, karena ia tengah menggandeng yeoja yang ternyata adalah BoMi, partnernya untuk festival tahun ini. “BoMi-ah, maaf ne. Aku harus mengejarnya dulu. Kau bisa mengambil air itu dengannya.” tunjuk BaekHyun pada namja -yang melayani TaeYeon tadi- yang sedari tadi hanya melihat adegan mereka dengan bingung.

“K-keundae!” teriak BoMi gagal, karena namja yang ia tahan itu sudah berlari keluar dari kelasnya.

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya namja maid itu.

“Arrkhh!! Akupun tidak tahu! Tapi yeoja itu sudah mengambil kesempatanku untuk berdekatan dengan BaekHyun!” katanya kesal lalu pandangannya beralih pada namja maid di depannya. “Seperti yang BaekHyun bilang, kau yang harus membantuku mengambil air di lobby.” suruhnya kemudian. Namja maid itu masih bingung dan hanya menuruti perkataan BoMi dan mengikutinya dari belakang.

* * *

“Aaiisshh.., kenapa air mataku malah turun? Kenapa aku malah berlari seperti ini. Itu terlihat jelas sekali kalau aku sedang cemburu. TaeYeon babo! Kenapa kau mempermalukan dirimu di depannya lagi?!” rutuk yeoja itu.

TaeYeon masih berlari menyusuri koridor panjang yang tadi sempat ia lewati, sebelum sebuah tangan menariknya untuk berhenti. Ya, TaeYeon baru menyadari kalau tangan itu milik Jessica. Jessica terlihat kaget bukan main melihat temannya yang kini malah berlari sambil menangis, bukannya menemui BaekHyun seperti yang ia pikirkan tadi.

“TaeYeon-ah?! Kenapa kau menangis?!” tanya Jessica panik. ChanYeol yang melihatnya juga jadi dibuat khawatir.

Menyadari kalau Jessica terlihat khawatir, segera ia menyeka air matanya sebelum melihat ke arah temannya.

“Ya! Siapa yang menangis?! Ini adalah keringatku! Aku berlari untuk mencarimu. Kenapa kau malah meninggalkanku?” jawabnya berbohong. Padahal ia sudah tahu kebenarannya, yang membohonginnya tadi adalah ChanYeol. Tapi ia enggan untuk berkata jujur tentang apa yang dilihatnya barusan.

“Kau mencariku? Bukannya kau yang pergi ke kelas duluan?” tanya Jessica bingung.

Menyadari apa yang selanjutnya kedua yeoja di depannya perbuat, ChanYeol dengan cepat memendamkan wajahnya ke bawah. Takut kalau mereka akan menerkamnya setelah ini. Benar saja, kedua yeoja itu langsung menatapnya dengan tatapan tajam.

“Ya! Kau berbohong rupanya?!” teriak TaeYeon masih memainkan sandiwaranya.

“Mianhae.. aku melakukannya karena ingin berduaan denganmu. Habis BaekHyun tidak pernah memberi kesempatan padaku untuk mendekatimu.” jawab namja itu masih tertunduk.

“Yasudahlah, kita hanya akan membuang-buang waktu saja. Lebih baik kita ke kelas dan bertemu dengan BaekHyun. Kajja!”

Deg! TaeYeon kembali teringat dengan kejadian tadi. Ia tidak ingin kembali ke tempat itu dan melihat BaekHyun dengan yeoja itu. Hatinya tidak cukup kuat untuk itu. Belum sempat TaeYeon menggerakan kakinya mengikuti Jessica, sebuah suara memanggil namanya.

“TaeYeon!”

Sontak Jessica dan ChanYeol melihat ke arah namja yang memanggil nama TaeYeon. Dia adalah BaekHyun. Berbeda dengan lainnya, nama yang dipanggil malah tidak bergeming dari tempatnya dan tertunduk takut, ia bingung harus merespon apa. Terdengar langkah BaekHyun mendekat ke arah TaeYeon dan dengan cepat meraih tangan kecilnnya.

“Kita harus bicara.” katanya lembut lalu menariknya menjauh dari sana. Sang empunya tangan hanya menurut mengikuti langkah BaekHyun sambil masih tertunduk.

Jessica dan ChanYeol yang melihat adegan ini, hanya dapat melotot menatap kepergian mereka. Setelah keduanya tidak terlihat lagi, mereka tersadar.

“Apa-apaan barusan? Kenapa sikap BaekHyun seperti itu?” tanya ChanYeol bingung.

“Akupun tidak mengerti. Kenapa respon keduanya seperti itu. Mereka seperti sudah saling bertemu sebelumnya.” tanya yeoja itu juga.

* * *

“Kenapa kau malah berlari?” tanya namja di depannya yang melihat ke arahnya lekat-lekat.

Yeoja yang ditanya masih bungkam. Menyadari hal itu, sang namja menarik sang yeoja ke dalam dekapannya. Sontak yeoja itu kaget bukan main. Wajahnya memanas. Ia juga tidak membalas pelukan namja itu.

“Dia hanya partnerku. Tadi ia tidak sengaja menarik tanganku untuk meminta bantuanku. Itu saja.” jelas namja itu lembut seperti tahu apa yang dipikirkan sang yeoja saat ini yang masih memeluk si yeoja dengan erat.

‘Oh jadi begitu. Jadi bukan kau yang memulai? C-changkaman! Kenapa dia berkata begitu? Apa dia menyadari kalau aku tengah cemburu padanya.’ pikir yeoja itu.

Dengan cepat yeoja itu, TaeYeon langsung melepaskan dekapan tangan BaekHyun.

“W-wae? K-kenapa memelukku? Nanti orang lain salah menilai kita!” tanyanya begitu tersadar kalau sejak tadi ia berada dalam pelukan BaekHyun.

Namja itu malah tertawa kecil, “Biar saja! Lagipula kau yang terlalu berlebihan. Harusnya kau mendengar penjelasanku dulu sebelum berlari seperti tadi. Terlihat sekali kalau kau sedang cemburu.”

“A-apa?! Siapa yang cemburu? Aku benar ingin pergi ke toilet tadi.” jawabnya gugup.

“Lalu kenapa malah mengobrol dengan Jessica, kenapa tidak cepat ke kamar mandi?”

“M.., itu.., sekarang aku sudah tidak ingin lagi. A-aku juga tidak tahu mengapa.”

BaekHyun membalasnya dengan senyuman. “Ya sudah, yang penting sekarang kita akhirnya bertemu juga kan? Apa kau tidak merindukanku?” goda namja itu lagi.

“Ck! Apa yang kau bicarakan? Alasan apa yang membawaku untuk merindukanmu?” jawab yeoja itu berbohong. Sebenarnya ia sangat merindukan sosok Byun BaekHyun yang selama 6 tahun ini tidak pernah ia temui.

“Tentu saja karena kau masih menyukaiku.”

Pipi TaeYeon bersemu merah, “Ya! Menyukai apa? Jangan bicara omong kosong. Kau itu terlalu percaya diri sekali!”

Bukannya membalas perkataan TaeYeon, BaekHyun malah meraih tangan yeoja itu dan menatapnya lekat-lekat. “Kau tidak perlu berbohong seperti itu. Akupun juga sangat merindukanmu. Sudah lama aku memikirkan rencana untuk bertemu denganmu, tapi ternyata begitu sulit. Kau susah sekali diajak bertemu.”

TaeYeon kembali tersipu malu. Ia tidak menyangka kalau BaekHyun ternyata masih merindukannya juga, sama seperti dirinya.

“Mianhae. Ini memang salahku karena sulit diajak bertemu.”

BaekHyun tersenyum hangat, “Tidak masalah, yang penting sekarang aku sudah bisa melihatmu lagi.” kembali namja itu memeluk TaeYeon lagi, kali ini pelukan yang lebih hangat. Dengan ragu TaeYeon kini membalas pelukan itu. Namja itupun menyadari kalau si yeoja membalas pelukannya. Ia cukup senang.

“Ayo kita mulai hubungan yang sempat tertunda dulu.” kata BaekHyun yang membuat mata yeoja yang dipeluknya membelalak kaget. “Aku tahu orangtuamu tidak akan setuju, tapi biarlah kita menjalin hubungan secara diam-diam seperti dulu. Tapi aku berjanji akan sesering mungkin untuk menemuimu. Jadi jangan hawatir, otte?”

Perlahan TaeYeon melepas pelukan itu. BaekHyun heran dan menatap yeoja itu bingung.

“Aku…”

“Apa lagi yang kau khawatirkan? Kalau begitu nanti aku akan mengantarmu ke sekolah setiap hari, supaya kita bisa bertemu sesering mungkin.”

“B-bukan begitu. Aku senang akhirnya mengetahui kalau kau juga masih menyukaiku, begitupun denganku.” katanya. “Tapi.., aku masih terlalu takut pada appa. Dia selalu melarangku berhubungan dengan seorang namja.” jelasnya lesu.

“Tenang saja, kalau begitu secara perlahan aku akan membuktikan pada appamu kalau aku serius mencintaimu.”

God!!! TaeYeon kini kembali dibuat melayang oleh seorang Byun BaekHyun. Bagaimana bisa namja itu dengan mudah mengatakan kalau dia mencintai seorang Kim TaeYeon.

Perlahan tapi pasti, namja itu meraih pipi TaeYeon dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah TaeYeon dan menutup matanya. Seperti tahu apa yang terjadi selanjutnya, TaeYeon segera menjauhkan wajahnya dan berpaling ke arah lain.

“M-mianhae..”

Sentak namja itu membuka matanya kembali dan membuang napas kesal karena yeoja itu baru saja menolak ciumannya.

“Mianhae!” ucap yeoja itu lirih. Hanya kata itu yang dapat TaeYeon ungkapkan sejak tadi. “A-aku sungguh tidak bisa melakukannya. Aku terlalu takut. Aku hanya ingin kita berteman saja seperti selama ini. Aku ingin membuat appa percaya dulu padaku, karena kukira hubungan kita tidak akan berjalan lancar kalau terus bersembunyi dari appa seperti dulu. Aku takut hubungan kita akan sia-sia dan berakhir sama. Kumohon mengertilah.” jelas TaeYeon lalu tertunduk takut untuk melihat wajah namja di depannya sekarang, takut namja itu akan semakin kesal padanya.

Bukannya semakin kesal, namja itu menampilkan sederet senyum khasnya, mengerti dengan perasaan yeoja yang dicintainya tanpa TaeYeon sadari.

“Mianhae!” sontak TaeYeon berpaling menatap BaekHyun tidak percaya, dia kira namja itu akan kecewa padanya, ternyata dugaannya salah. “Maaf aku telah memaksamu. Kalau itu yang kau mau, aku akan sangat mengerti. Tapi aku tidak akan menyerah untuk membuktikan pada appamu kalau aku benar mencintaimu!” jawabnya percaya diri.

“Mwo?! Bagaimana kalau nanti appa akan memarahimu?”

“Itu tidak masalah, yang penting pada akhirnya aku akan mendapatkan restu darinya.”

“Ya! Kau itu percaya diri sekali!” ucap TaeYeon lalu memukul lengan BaekHyun pelan.

“Tapi sebelumnya, boleh aku melanjutkan yang tadi?”

“Ne?”

“Igeo!” tunjuk BaekHyun ke arah bibir TaeYeon.

Masih tidak mengerti arah pembicaraan BaekHyun, TaeYeon hanya memegang bibirnya sendiri heran.

“Apa maksudmu? Bicara yang benar, aku tidak……”

Chu! Belum sempat TaeYeon menyelesaikan ucapannya, BaekHyun dengan cepat mencium bibir soft pink miliknya itu. Walau terhitung 2 detik saja bibir mereka bertemu, tapi itu sudah membuat jantung TaeYeon tak dapat terkontrol. Pipinya kembali menampakan semburat merah, ia sangat malu bercampur senang. Ternyata BaekHyun benar masih sangat mencintainya.

Menyadari apa yang barusan terjadi, TaeYeon mengerjap-ngerjap matanya tersadar, “Ya!”

“Kenapa kau masih marah? Harusnya aku yang marah padamu! Beraninya kau menolak ciumanku tadi!”

“Aaiisshh…, aku kan sudah jelas menolakmu, kenapa masih berani menciumku?!” ucapnya dengan malu.

“Ck! Yang penting appamu tidak melihatnya, kan? Kau tidak akan dimarahi olehnya, tenang saja. Lagi pula itu hanya sekedar ciuman kilat!”

Yeoja itu tidak percaya pada namja ini, dia kira selama ini BaekHyun adalah namja pintar yang tidak terlalu mempedulikan humor, hiburan, atau bahkan cinta. Karena menurutnya, BaekHyun di dalam pesan dan di kehidupan nyata cukup jauh berbeda. Mungkin ini alasan mengapa BaekHyun populer di kalangan yeoja. ‘Ya, pasti karena sifatnya yang sebentar-sebentar cepat berubah. Kadang lembut, percaya diri, lalu berubah jadi humoris, penuh dengan candaan.’ pikir TaeYeon.

Lalu keduanya tertawa lepas menertawai kebodohan masing-masing.

Di balik tembok, terlihat seorang yeoja yang sedari tadi memperhatikan mereka. Hatinya bergetar saat tahu mereka berdua sudah bercengkrama lagi. Dengan ragu ia sunggingkan senyum manisnya.

“Kau tidak boleh seperti itu Sica-ah! Kau sendiri yang bilang akan menjodohkan mereka. Sekarang keinginanmu sudah terwujud, seharusnya kau senang.” katanya masih dengan senyum yang masih menghiasi wajah sendunya. Lalu ia berbalik dan pergi dari tempat itu.

* * *

“Cha! Kita sudah sampai.”

“Masih ingat rumahku?” tanya yeoja itu ketika dirinya sudah turun dari sepeda motor yang ia tumpangi.

“Tentu saja.”

“M.., bagaimana dengan Jessica? Dia pulang dengan siapa?”

“Aaiisshh masih saja bertanya, apa kau tidak pernah melihatnya ketika dia sampai rumah?”

“Ah! Aku lupa! Pasti dengan pacarnya, ne?”

“Pacar? Aniya! Tentu saja dia dijemput appanya. Dia sedang tidak berpacaran sekarang.”

“Ne?” tanya TaeYeon heran. Bukankah Jessica punya pacar? Itu yang TaeYeon tahu selama ini.

“Ne! Aku melarangnya berpacaran. Aku tidak mau dia salah lagi.”

‘Apa?! salah? Kenapa kau begitu perhatian padanya? Seperti kau ini oppanya saja.’

“Ohhh…..”

“Ehem!” tiba-tiba suara dari dalam rumah TaeYeon mengagetkan mereka berdua. Ya, itu adalah JiWoong oppa.

“Oh! Oppa?”

“E.., sore hyung!” tunduk BaekHyun menyapa JiWoong.

Segera JiWoong menatap BaekHyun tajam, kemudian pandangannya beralih pada TaeYeon adiknya.

“Neo! Kalau sudah selesai, cepat masuk sebelum appa pulang dan melihatmu, aku ingin bicara!” ucapnya datar lalu berlalu pergi ke dalam. “Oh ya! Tadi siapa yang kau panggil ‘hyung’? Aku bukan hyungmu!” katanya lagi sambil menatap tajam ke arah BaekHyun.

Sedangkan yang ditatap hanya bisa mengangguk pasrah. TaeYeon yang menyadari ketidaksukaan oppanya, menjadi tidak enak pada BaekHyun karena harus menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari kakaknya.

“Oppa~!” protes TaeYeon akhirnya. Tapi yang dipanggil malah berlalu pergi ke dalam, seperti mengabaikan panggilan TaeYeon.

“Mian, ne. Karena mengantarku kau jadi diperlakukan begitu oleh oppaku.” jawab TaeYeon merasa bersalah.

BaekHyun hanya membuang napas pendeknya kemudian tersenyum ke arah TaeYeon. “Hmm.. Gwenchana! Kan aku sudah bilang, aku tidak akan menyerah begitu saja. Sepertinya bukan appamu saja yang akan aku luluhkan hatinya, tapi oppamu juga.” balas BaekHyun berusaha santai.

“Yasudah kalau itu maumu! Aku masuk dulu, ne!”

“Apa tidak akan apa-apa setelah ini? Sepertinya oppamu akan memarahimu.”

“Ah, mollaseo! Sepertinya begitu.”

“Apa perlu aku yang menjelaskan padanya supaya kau tidak dimarahi?”

“Ah! Andwae! Tidak perlu! Aku sudah terbiasa, jadi bisa mengatasinya.”

“Yasudah, baik-baik, ne! Sampai nanti, annyeong!”

“Annyeong!” balasnya sambil melambaikan tangan setelah BaekHyun sudah melajukan motornya.

* * *

TaeYeon POV

“Oppa! Kenapa kau dingin sekali padanya?!” protesku pada laki-laki yang kini tengah duduk di ruang TV dengan santainya.

“Siapa? Pada siapa?” tanya namja itu santai.

Haaiisshhh aku tidak habis pikir padanya. Kenapa dia jadi berlagak bodoh, seakan barusan tidak terjadi apa-apa. Dengan kesal, kulempar tubuhku duduk disebelahnya.

“BaekHyun! Kenapa kau bersikap seperti itu?! Aku kan jadi tidak enak padanya!”

“Oh jadi namanya BaekHyun. Bilang pada namjachingumu itu, jangan pernah panggil aku dengan sebutan ‘hyung’! Memang dia siapa? Baru menjadi namjachingumu saja sudah seberani itu, bagaimana kalau sudah menjadi suamimu nanti?”

“Haaisshh, namjachingu apaanya? Kami tidak berpacaran!”

“Kalau tidak berpacaran, kenapa harus mengantar pulang? Bukannya tadi pagi kau pergi bersama Jessica? Kemana dia sekarang? Atau Jessica sebenarnya hanya sebagai kedokmu agar kau bisa berkencan dengannya, eoh?”

“Oppa ini bicara apa? Tentu saja aku benar pergi ke festival bersama Jessica! BaekHyun itu teman Jessica sekaligus temanku sewaktu sekolah dasar. Jadi apa salahnya teman lama mengantar pulang temannya? Lagipula kenapa oppa jadi seperti appa? Selalu melarangku bergaul dengan namja. Padahal aku tidak pernah melarang oppa berhubungan dengan yeoja manapun!” protesku akhirnya.

“Ya Kim TaeYeon! Harusnya kau berterima kasih padaku! Niatku tadi hanya ingin membantumu! Bagaimana kalau tiba-tiba appa pulang dan memergoki kalian sedang berduan, eoh? Appa pasti akan memarahimu habis-habisan!” jelasnya. “Dasar adik tidak tahu diri!”

“Mwo?! Apa kau bilang? Tidak tahu diri? Ne! Mungkin aku memang tidak tahu diri, tapi oppa tidak perlu bersikap dingin begitu padanya. Walau bagaimanapun juga dia sudah mengantarku pulang. Tapi kau malah bersikap dingin padanya!”

“Ya! Kenapa kalian ribut sekali! Ada apa, eoh?!” teriak appa yang sukses mengagetkan kami berdua.

Aku tidak mendengar mobil appa terparkir, tiba-tiba saja dia sudah di belakang kami dan berteriak memarahi kami. Apa yang harus aku jawab, tidak mungkinkan kalau aku bilang padanya kami memperdebatkan seorang Byun BaekHyun. Appa pasti akan berlanjut pertanyakannya, dan akhirnya aku yang kena marah.

“Jawab appa! Kenapa kalian berteriak-teriak dalam rumah?” tanya appa lagi. Kini pertanyaan itu malah membuatku tertunduk takut.

“Ini karena aku yang menyuruhnya pulang cepat, appa. TaeYeon protes padaku karena aku yang mengekangnya pulang sore. Maafkan aku appa.” jawab JiWoong oppa berbohong.

Omona! Apa aku tidak salah dengar, oppa benar-benar ingin melindungiku rupanya. Gomawo oppa.. Kuarahkan pandanganku pada oppaku. Aku jadi merasa tidak enak padanya, karena setelah ia menjelaskannya pada appa, appa malah balik memarahinya. Kasihan oppa. Oppa~ mianhae!

Lalu appa menyuruhku masuk ke kamar dan segera bersih-bersih. Sedangkan JiWoong oppa disuruh membuat makan malam kami. Sungguh aku jadi merasa tidak enak padanya.

* * *

Senin, Sekolah TaeYeon.

Jam pulang telah berbunyi, kira-kira sekitar 5 menit yang lalu, sebelum tadi Shin songsaenim menyuruhku mengantar daftar buku kepada Song seongsaenim di perpustakaan. Kini kulangkahkan kaki keluar ruangan yang penuh dengan buku, tapi tiba-tiba kulihat teman sekelasku berlari menghampiriku.

“TaeYeon-ssi!” panggilnya sedikit berteriak.

“Ada apa? Kenapa tergesa-gesa?” tanyaku mengernyitkan dahi karena bingung.

“Ada yang mencarimu di lobby.”

“Nugu?” tanyaku heran.

“Ah, mianhae. Aku tidak sempat menanyakannya, aku buru-buru ingin mencarimu, aku takut kau sudah pulang. Keundae, dia sepertinya bukan murid sini. Aku tidak pernah melihat wajahnya, tapi dia cukup tampan menurutku.” jelasnya sambil tersenyum.

“Mwo?! Dia seorang namja?”

“Ne! Kalau begitu aku pulang dulu, ne. Annyeong! Sampai jumpa besok!” katanya sambil melambai lalu berlari lagi.

“Ah, gomawoyo sudah mau mencariku. Annyeong!!” balasku sedikit berteriak, mengingat dia sudah berlari sebelum aku mengatakan terima kasih padanya.

Seorang namja mencariku? Siapa dia? Oh! Mungkin oppa! Kenapa dia ke sekolahku? Jangan-jangan dia ingin bilang kalau mau pergi bersama teman kampusnya malam ini. Kenapa harus ke sekolah segala? Kenapa tidak lewat telpon saja?

Sesampainya aku di lobby, aku mengedarkan pandanganku mencari sosok JiWoong oppa, tapi nihil. Aku tidak melihat batang hidungnya. Tapi yang kulihat malah keributan dekat pintu keluar lobby. Banyak murid yeoja yang sedang berbisik satu sama lain. Mata mereka memandang sosok namja yang memakai jaket hitam dengan ransel dipunggungnya.

Karena penasaran, kutatap wajah namja itu. Betapa terkejutnya aku setelah mengetahui siapa namja itu. Byun BaekHyun. Sedang apa dia disini? Apa dia punya kenalan yang ingin ia temui di sekolahku? Omo?! Atau jangan-jangan yang mencariku adalah dia. Apa benar namja yang mencariku di lobby adalah dia?

Akhirnya kuputuskan untuk menghampiri BaekHyun.

“BaekHyun?” panggilku setelah aku berada didekatnya. Murid yeoja yang sedari tadi berbisik sambil menatap BaekHyun, kini memasang wajah heran karena aku tiba-tiba menghampiri namja yang mereka bicarakan.

BaekHyun menoleh ke arahku. Kemudian senyumnya mengembang menghiasi wajah putihnya, lalu berjalan mendekatiku.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku penasaran dan sudah tidak terlalu mempedulikan tatapan murid lain yang terus menatap kami.

“TaeYeon-ah! Aku sudah menunggumu cukup lama. Ternyata bel pulang sekolahmu lama juga. Aku sampai bosan.”

“Mwo?! Menunggu? Apa kau tidak pergi ke sekolah hari ini?”

“Ani. Sekolahku sudah selesai sejak jam 3. Ayo kita pulang.” jelasnya lalu mearik tanganku.

Omo?! Apa yang sedang ia lakukan? Apa dia ke sini untuk menjemputku?

“Ch-changkaman!” BaekHyun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku heran.

“Apa kau ke sini ingin menjemputku?”

BaekHyun malah tertawa menanggapinya. “Kau ini bicara apa? Tentu saja aku ke sini ingin menjemputmu. Kenapa bertanya lagi? Memang siapa lagi murid yang kukenal di sekolah ini selain kau?”

“Tapi aku tidak memintamu untuk menjemput.”

“Ck! Apa kau lupa? Kemarin kan aku sudah bilang akan mengantar-jemputmu setiap hari. Tapi maaf, tadi pagi aku tidak bisa mengantarmu, aku ada piket pagi ini.”

“T-tapi.., kalau appa sudah pulang dan melihat bagaimana?”

“Itu bagus! Jadi aku sekalian bisa membuktikan pada appamu kalau aku serius denganmu.”

A-apa? Jadi dia serius ingin melakukannya. Justru aku yang takut kalau begini.

“Ayo kita pulang!” ajaknya kemudian kembali menarik tanganku.

“Ch-changkaman!”

“Sekarang apa lagi? Kau tidak mau aku jemput? Atau kau sudah ada janji dengan temanmu setelah pulang sekolah?”

“A-ani. Tapi tasku masih ada di kelas. Aku harus mengambilnya dulu. Kau duluan saja ke parkiran, nanti aku menyusul.”

“Aiisshh..! Yasudah kalau begitu. Aku menunggu di parkiran, ne!” katanya lalu berlalu ke parkiran, sedangkan aku ke kelasku. Ya, tentu saja murid yeoja lain masih menatap ke arah kami setelah kepergian kami.

* * *

“Kajja! Naiklah!” suruh BaekHyun setelah aku sampai di parkiran menyusulnya.

“Ne.”

“Oh ya, aku ingin bertanya.”

“Apa?” tanyaku menolehkan kepalaku ke wajahnya setelah aku sudah menaiki motornya.

“Sepertinya teman-temanmu suka padaku ya?”

Mwo?! Kukira dia ingin menanyakan apa.

“Mwo?! Kau percaya diri sekali.”

“Habis mereka melihat ke arahku terus.”

“Ya! Jangan berlebihan! Kau itu asing bagi mereka, makanya mereka penasaran padamu.”

“Oh begitu. Kukira mereka seperti itu karena mengagumi ketampananku.”

Hhaaiisshh.. kupukul saja lengannya. Kenapa bisa dia berkata begitu dengan mudahnya.

“Aaiisshh.. appo! Kenapa malah memukul?” protesnya.

“Habis kau mudah sekali bilang kalau kau itu tampan!”

“Memangnya kenapa? Apa kau tidak berpikir kalau aku ini tampan?”

Ck! Dia mulai lagi.

“Ani!” balasku menggodanya.

“Mwo?!” katanya seperti tak percaya. “Ayo katakan kalau aku tampan!” suruhnya manja.

“Shiro!”

“Oh jadi begitu, kalau begitu aku akan buktikan!” balasnya.

‘Mwo?! Apa yang ingin dia buktikan?’ pikirku.

Lalu dengan cepat ia menyetel motornya kemudian manancapkan gas dengan kencang tanpa memberitahuku, yang membuatku terpental ke depan dan tiba-tiba memeluknya dari belakang.

“Ya! Byun BaekHyun!!”

* * *

Setelah berkendara cukup lama, ia memberhentikan motornya. Tapi ini bukan di depan rumahku, melainkan di depan sekolahnya.

“Mian, ne! Sepertinya aku melupakan sesuatu di kelas. Boleh aku mengambilnya sebentar?” jelasnya.

“Oh! Gwaenchana! Aku akan menunggu. Lagipula ini pasti gara-gara kau tadi terburu-buru ingin menjemputku, jadi barangmu pasti tertinggal.”

“Mungkin. Ayo kau tunggu di dalam saja.”

Lalu kami masuk ke gedung yang sama seperti yang aku masuki sewaktu festival budaya sekolahnya. Terlihat masih banyak murid yang bermain di lapangan depan atau bahkan hanya sekedar duduk-duduk santai di koridor.

Aku juga menangkap BaekHyun tersenyum ke arah tiga yeoja yang sedang duduk sambil membahas sesuatu. Ada dari mereka yang menatap ke arahku heran. Melihat aku memakai seragam yang berbeda dengan mereka, pasti itu yang membuat mereka menatap ke arahku. Tapi tatapan itu seperti tatapan tidak suka. Kutundukan saja kepalaku agar mereka tidak melihat wajahku.

“Kau tunggu di sini saja, ne. Aku tidak akan lama.” aku membalasnya dengan anggukan.

Lalu aku duduk di kursi dekat ketiga yeoja tadi. Mereka terlihat masih menatapku, aku jadi risih ditatap seperti itu. Terdengar mereka mulai bicara satu sama lain. Terlihat seperti membicarakan aku.

“Aku tahu seragam itu. Dia bukan murid kota.” kata salah satu yeoja yang sedang memegang sebuah majalah menujuk ke arahku.

“Tetanggaku juga ada yang memakai seragam itu, dan dia bukan murid yang berbakat. Bahkan tampilan sehari-harinya terkesan norak.” jelas yang lainnya dengan wajah meremehkan.

‘Apa mereka membicarakan aku? Ternyata perkataan Jessica waktu itu salah. Terbukti kalau murid di sini sepertinya masih tidak mudah menerima murid kalangan biasa.’ pikirku.

“Ya! Kalian bicara apa? Sepupuku juga ada yang sekolah di tempat itu, tapi dia tidak bodoh dan tampilannya masih terlihat keren!” potes yeoja yang duduk di tengah.

Aku hanya bisa tertunduk malu karena perbincangan mereka. Aku sudah berusaha untuk pura-pura tidak mendengar mereka, tapi samar-samar kulihat mereka seperti sedang berjalan ke arahku.

“Jeogiyo! Apa kau bukan murid sini?” tanya yeoja yang membawa majalah tadi.

Lalu kuangkat wajahku menatap mereka. Jujur saja, aku jadi merasa takut.

“N-ne?” jawabku sekenanya.

“Oh! Kau yeoja yang waktu itu, kan?” tunjuk yeoja yang duduk di tengah tadi ke arahku.

Kenapa dia mengenalku? Kuperhatikan wajahnya. Sepertinya aku juga pernah melihat orang ini, tapi dimana?

“Kau yang waktu itu langsung berlari setelah melihat BaekHyun di featival budaya, kan?”

Omo! Aku baru ingat dengan wajahnya. Ya, dia yeoja yang waktu itu menggandeng tangan BaekHyun di festival budaya. Aaaiisshh.., aku malu sekali bertemu dengannya. Mengingat waktu itu aku bertindak sangat aneh ketika melihat mereka berdua bergandengan. Pasti dia berpikiran aneh terhadapku. Terlihat kedua temannya juga melihat ke arahnya bingung.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekati kami, langsung saja kami menoleh bersamaan ke arah orang itu, yang ternyata adalah BaekHyun.

“Baeki-ah! Apa dia temanmu? Dia sombong sekali tidak mengenaliku setelah pertemuan kami di festival budaya kemarin. Dia yang tiba-tiba langsung berlari ketika melihatku menggenggam tanganmu, kan?” celetuknya setelah BaekHyun berada di dekat kami.

‘Mwo?! Panggilan macam apa itu? Baeki? Apa mereka saling akrab di kelas?’ pikirku. Agak sedih juga setelah mendengar yeoja itu memanggil BaekHyun dengan panggilan akrabnya.

“Kau ini bicara apa? Bahkan kalian tidak saling menyapa waktu itu. Mungkin saja TaeYeon lupa.”

“Oh jadi namanya TaeYeon?” balasnya lalu menatap ke arahku. “TaeYeon-ssi, salam kenal. Yoon BoMi imnida!” lanjutnya sambil menunduk sopan.

Menyadari tingkah yeoja yang bernama BoMi ini, aku langsung berdiri dan menunduk dalam memperkenalkan diri juga.

“Ah, Kim TaeYeon imnida.”

“BoMi-ah, kau belum pulang?” tanya BaekHyun memecah keheningan yang terjadi setelah perkenalanku dengan BoMi.

“Aku menunggumu, kukira kau akan mengantarku pulang. Ternyata kau malah menuruti yeoja ini untuk pulang bersama.” jawabnya dengan tatapan tidak sukanya ke arahku.

Apa? Apa-apaan dia? Bahkan BaekHyun yang mengajakku pulang bersama. Kenapa dia malah menyalahkanku?

“Hahahahah.. Kau ini selalu saja! Jangan bercanda, dia tidak memintaku untuk menjemputnya,” jelas BaekHyun sambil menatap ke arahku. Jadi BoMi berkata seperti itu hanya bercanda? Kukira dia sungguh menyalahkanku.

“tapi ini kemauanku sendiri.” lanjutnya lalu mengusapkan tangannya ke atas kepala BoMi. BoMi balas tersenyum lembut ke arahnya.

Deg! Hatiku langsung mencelos ketika melihat adegan mereka. Mereka seperti sepasang kekasih saja. Apa BaekHyun selalu memanjakan murid yeoja di kelasnya? Atau bahkan mereka juga dekat, seperti dirinya dan Jessica.

“Kalau begitu aku duluan, ne! Kalian hati-hati di jalan pulang. Annyeong~”

Lalu BaekHyun menyeretku pergi. Dengan cepat aku menunduk hormat pada mereka dan melambaikan tangan.

Kami menuju parkiran motor BaekHyun. Aku tertunduk lemas masih mengingat kejadian tadi. Apa aku cemburu pada BoMi?

“Kau kenapa?” tanya BaekHyun yang sepertinya menyadari tingkah anehku.

“A-ani.” jawabku sambil menggelengkan kepala. BaekHyun balas dengan senyumnya. “BaekHyun-ah, boleh aku bertanya?”

“eoh!”

Dengan ragu kutatap wajahnya yang menghadap ke arah depan.

“Apa kau dan BoMi juga akrab seperti kau dan Jessica?”

“Ani. Aku hanya akrab dengan Jessica di kelas.”

“Bohong! Kenapa kau tadi mengelus kepalanya?”

“Aku selalu seperti itu pada yang lain. Wae?” tanyanya lalu memandangku heran.

Aaiisshh dia bahkan menanggapi ini dengan mudah. Apa dia begitu populer di kalangan yeoja?

“Kau cemburu?” tanyanya kemudian yang sukses membuat mataku melotot.

“A-aniyo! Siapa yang cemburu? Aku hanya ingin bertanya saja!” jawabku dengan tingkah yang berlebihan. Ya, aku menyadari tingkahku ini. Maka dari itu, kumohon percayalah dengan jawabanku.

“Aaiisshh.., bahkan wajahmu memerah saat ini. Apa kau yang sedang berbohong sekarang? Kau benar cemburu, kan?”

“Ck! Sudah kubilang aku tidak cemburu!” jawabku mengerucutkan bibir kesal.

“Kalau kau tidak suka, aku akan berhenti bertindak seperti itu pada yeoja lain.” jawabnya yang membuat pipiku kembali memerah. Apa dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya?

Karena malu, aku hanya bisa menundukan kepalaku. Terdengar cekikikan kecil yang ditimbulkan oleh namja itu. Aaiigoo.., mau ditaruh dimana wajahku ini? Pasti tadi dia menggodaku. Bahkan sekarang aku malu untuk melihat ke arahnya.

TaeYeon POV end

* * *

Keesokan paginya dikamar TaeYeon. Yeoja ini masih setia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal miliknya. Jam di atas mejanya kini sudah berganti angka menunjukkan pukul 05:58, yang artinya dia masih punya waktu beberapa menit untuk bersantai sebelum melakukan aktifitas paginya.

Drt..drt..

Ponselnya terus bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, yang menandakan ada panggilan masuk di sana. Menyadari hal itu, TaeYeon menggerak-gerakan tangannya untuk meraih benda itu tanpa membuka matanya. Dengan cepat ia menggeser tanda hijau di layar itu.

“Yeobseyo?” sapanya dengan suara bergetar menahan kantuk.

“Oh! TaeYeon-ah, apa aku mengganggu tidurmu?” tanya seseorang dari seberang sana.

Sontak TaeYeon langsung membuka matanya lebar-lebar dan segera merubah sikapnya menjadi terduduk. Ia kaget setelah mendengar suara orang itu, suara namja yang ia rasa adalah BaekHyun. Ia lihat ke arah layar ponselnya, dan benar saja, nama Byun BaekHyun tercantum di sana.

“B-BaekHyun?!” jawab TaeYeon dengan ragu.

“Ne! Ini aku. Mian karena sudah membangunkanmu.”

“Oh, gwaenchana! Aku hanya kaget karena tiba-tiba kau menelpon. Apa ada yang ingin kau bicarakan?”

“Sebenarnya aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Aku akan mengantarmu hari ini.”

Mendengar ucapan BaekHyun, Taeyeon kembali terkejut, ia melototkan matanya lagi.

“Ah, gwaechana! Aku sudah terbiasa berangkat naik bus. Kau tidak perlu repot-repot mengantarku.”

“Kalau begitu aku juga akan naik bus bersamamu.”

“Mwo?! Jangan seperti itu, bagaimana kalau nanti kau terlambat?”

“Hahahaha.. tidak masalah! Kupastikan aku akan sampai rumahmu setengah jam lagi. Bersiap-siaplah!”

“Ch-changkaman……” belum sempat TaeYeon membalas ucapan BaekHyun, namja itu sudah memutuskan panggilnya lebih dulu.

“Hhaaiisshh..!” desisnya frustasi melihat layar ponselnya. “Ya! Otteokhe?? Bahkan aku belum mandi! Eoh Jinja!!” celotehnya lalu mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

Segera ia berlari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Tapi belum sempat kakinya menginjakkan lantai dingin itu, ia mendengar appanya berteriak memanggilnya dari luar.

“Ck! Bahkan di situasi genting seperti ini appa masih menggangguku.”

Tiba-tiba ia teringat appanya yang melarangnya dengan keras untuk bertemu dengan namja. Bagaimana kalau nanti appanya melihat BaekHyun?

“Omo!! Bagaimana reaksi appa kalau ia sampai bertemu dengan BaekHyun?! Aaaiissshhh.., jinja micheosoo!!” erangnya lagi, kali ini lebih panik.

Hal yang sangat fatal TaeYeon lupakan adalah mengenai larangan appanya. Dengan bodohnya ia tidak mengingatnya sewaktu menelpon BaekHyun. Tapi ia berani jamin, sekuat apapun ia melarang BaekHyun untuk tidak bertemu dengan appanya, pasti namja itu akan menjawab ‘tidak masalah’ dengan santainya.

“Ne appa?” jawabnya setelah keluar dari kamar menemui appanya.

“Apa ada rapat pagi ini. Oppamu juga akan ada kuliah pagi. Tidak apa-apa, kan kalau kau sarapan sendiri?” jelas appanya.

Sendiri? Ya, benar. TaeYeon kini hanya tinggal bersama appa dan oppanya. Mengingat eommanya sudah pergi meninggalkan mereka lebih dulu akibat kecelakaan yang menimpanya sekitar 7 tahun yang lalu, yang berarti sewaktu TaeYeon masih berumur 9 tahun.

Seperti sudah terbiasa mendengar ucapan appanya, TaeYeon hanya mengangguk mengerti. Entah mengapa kini ia tidak merasa sedih seperti biasanya. Ya, ia malah tersenyum lega. Tentu saja, dengan begini ia tidak perlu khawatir appanya akan bertemu dengan BaekHyun.

“Ah, jinja?!” jawabnya sumringah.

“Mwo?! Apa itu barusan? Kenapa tumben sekali sikapmu seperti ini. Biasanya kau akan menekuk wajahmu kalau harus sarapan sendiri.” kata namja yang TaeYeon panggil appa itu.

Menyadari tingkah anehnya, TaeYeon langsung berhambur masuk ke kamarnya kembali. Ia takut appanya akan menanyainya yang macam-macam.

“Ah, gwaenchana appa. Aku hanya ingin cepat-cepat mandi!” jawabnya sedikit berteriak dari dalam kamar.

Appanya yang masih tidak bergeming karena tingkah putrinya yang tidak biasanya ini.

“Yasudah! Appa pergi duluan, ne!”

“Ne! Hati-hati appa!”

“Woongie-ah! Appa pergi, ne!” teriak namja paruh baya itu yang mulai terdengar kecil. Tak lama nama yang dipanggilpun menyahut dan mengucapkan kata yang sama seperti TaeYeon.

“Ah, jinja! Benarkah ini terjadi?! Kalau seperti ini aku bisa lega. Kau memang baik, Tuhan! Pagi ini kau berpihak padaku.” ucap yeoja itu senang, lalu langsung berlari masuk ke kamar mandi.

* * *

“Wooaahh.. apa ini?!” tanya namja yang baru saja keluar dari kamarnya kepada adiknya yang kini sudah terduduk menyantap sarapan.

Menyadari kehadiran namja itu, TaeYeon menoleh ke sumber suara dengan mengernyitkan dahinya.

“Tumben sekali kau sudah siap! Kukira kau akan bangun terlambat hari ini.”

TaeYeon hanya mendecak kesal membalasnya. Lalu namja yang notabanenya adalah kakaknya itu duduk di hadapan TaeYeon, ikut sarapan bersamanya.

“Tentu saja! Aku tidak mau sarapan sendiri lagi.” jawabnya lalu meneguk segelas susu di genggamannya.

“Ne geurae! Aku akan segera berangkat! Atau kau ingin berangkat bersamaku?” tawar JiWoong sambil memoleskan roti dengan selai.

“Mwo?! Kau juga aneh pagi ini. Tumben sekali menawarkan tumpangan padaku. Apa kau sudah tidak malu kalau mengantarku ke sekolah?” sindir yeoja itu.

“Ne memang! Lagipula siapa yang serius ingin mengantarmu? Aku hanya berbasa-basi saja tadi.” jawabnya santai lalu memakan rotinya.

Mendengar jawaban oppanya, yeoja itu kembali mendengus kesal. Ia tidak percaya kalau oppanya ternyata memang sejahat itu padanya.

Lalu setelah kurang dari tiga menit mereka sarapan bersama, JiWoong segera pamit pada TaeYeon untuk pergi lebih dulu.

“Cha! Aku pergi duluan, ne! Jangan lupa mengunci pintunya!” katanya yang dibalas anggukan cepat dari TaeYeon. Lalu tak lama terdengar bunyi deru motor yang dipakai JiWoong untuk berangkat ke tempat kuliahnya.

Drrt..drrtt.. Segera TaeYeon meraih ponsel yang berada di sebelahnya, membaca pesan yang masuk.

‘Apa kau sudah siap? Aku baru saja turun dari bus menuju rumahmu.’

“Oh! Di benar-benar tidak menggunakan motornya?”

‘Ne! Kalau begitu kau tunggu saja di halte. Aku akan segera ke sana!’

‘Kau terlambat! Aku sudah melewati haltenya. Lagipula aku ingin cepat bertemu dengan appamu.’

“Mwo?! Aaiisshh..!” katanya setelah membaca pesan yang ternyata dari BaekHyun.

‘Maaf tuan Byun. Tapi sepertinya kau tidak bisa bertemu dengan appaku. Appa dan JiWoong oppa sudah pergi lebih dulu pagi ini. :p’
balasnya.

‘Jinja?! Ah, sayang sekali kalau begitu. Tidak masalah, mungkin lain kali aku akan bertemu dengannya.’

Lalu dengan cepat ia menyelesaikan sarapannya setelah membaca pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya, yang kemudian meraih tas dan sepatunya untuk menyusul BaekHyun. Ia tidak ingin namja itu harus bolak-balik melewati jalan yang sama untuk sekedar menjemputnya saja. Ia yakin kalau ia bergegas sekarang, BaekHyun pasti belum jauh berjalan melewati halte. Tak lupa pesan dari oppanya, ia mengunci pintu rumah kemudian sedikit berlari untuk menemui BaekHyun.

.

.

.

Disaat yang bersamaan, BaekHyun meletakan ponselnya kembali ke saku celananya setelah membalas pesan dari TaeYeon. Sebenarnya ia bohong bilang pada TaeYeon kalau sudah melewati halte. Jelas-jelas ia kini baru saja turun dari bus. Karena sewaktu ia memberi pesan pada TaeYeon, sebenarnya ia masih di dalam bus. Ia melakukan ini karena tidak mau kalau sampai yeoja itu yang menyusulnya ke halte. Tapi sepertinya ia salah, justru pesannya itu malah membuat yeoja itu untuk pergi bergegas menuju halte.

Namja itu terus berjalan menuju rumah TaeYeon dengan melewati jalanan sepi. Jelas saja, belum banyak orang yang berlalu lalang pada jam segini. Ini masih pukul setengah 7, mungkin saja orang-orang masih membuat sarapan untuk anggota keluarganya. Mengingat jam sekolah baru dimulai pukul 8, sedangkan aktifitas kantor biasanya dimulai satu jam setelah jam sekolah masuk.

Tiba-tiba suara mesin motor memecah keheningan di area itu. Sampai motor itu telah tepat dihadapannya, si pengendara motor menatap ke arah BaekHyun lekat-lekat. Seperti sudah mengenali sosok BaekHyun, kemudian ia kembali menatap BaekHyun melalui kaca spion motornya setelah ia melewati namja itu tanpa menghentikan motornya. Sedangkan yang ditatap tidak terlalu menaruh banyak perhatian pada si pengendara motor tadi. Ia memang sempat melihat si pengendara motor tanpa pelindung kepala itu, tapi karena tidak terlalu mengenal orang itu dan berpikir hanya orang yang sekedar melewati jalanan ini, jadi ia terus melanjutkan perjalanannya.

Setelah BaekHyun sampai untuk melewati jalan berdinding, ia menangkap sosok yeoja yang berjalan dengan tergesa-gesa. Sontak yeoja itu kemudian berlari ke arahnya dengan ekspresi kesal. BaekHyun hanya menatap yeoja itu dari tempatnya berdiri sekarang.

“Hosh.. Neo! Kau sudah membuatku panik, seharusnya kau tidak perlu…..” belum sempat yeoja itu meneruskan kata-katanya, BaekHyun dengan cepat menarik tangannya pergi berbalik ke arah jalan menuju halte.

“Omo!” sentak yeoja yang ternyata adalah TaeYeon, kaget dengan perlakuan BaekHyun yang tiba-tiba.

“Kau tidak ingin aku terlambat bukan?” balasnya dingin yang membuat yeoja itu membelalakan matanya mendengar jawaban BaekHyun.

“Ck! Bahkan kau yang memaksa untuk mengantar, kenapa sekarang balasanmu seperti ini.” protes si yeoja. “Lepaskan! Aku bisa berangkat sendiri!” balasnya ketus lalu menarik tangannya yang masih ditarik itu.

BaekHyun menyadari apa yang akan dilakukan TaeYeon, dengan cepat ia semakin mengeratkan genggamannya sebelum tangan TaeYeon terlepas dari genggamannya sambil terus berjalan.

“Aiishh! Kau ini kenapa? Apa kau kesal padaku?” tanya yeoja itu yang semakin bingung oleh tingkah namja di sampingnya.

Tiba-tiba BaekHyun menghentikan langkahnya lalu menatap TaeYeon lekat-lekat.

“Ne, aku kesal padamu! Kenapa kau menyuruh appa dan oppamu pergi duluan, eoh?”

“Mwo?! Jadi kau kesal karena itu?” tanyanya yang dibalas anggukan cepat dari BaekHyun.

“Kau menyuruh mereka lebih dulu pergi agar aku tidak bertemu dengan mereka, kan?”

“Kau ini bicara apa?” tanya yeoja itu memutar bola matanya jengah.

Sebenarnya omongan BaekHyun ada benarnya juga. Ia memang tidak ingin appanya bertemu dengan BaekHyun, tapi tidak mungkin TaeYeon melakukan hal itu. Menyuruh appanya berangkat duluan? Sarapan sendiri saja sudah membuatnya sedih, apa alasan ia harus menyuruh appanya berangkat duluan.

“Kau itu sudah salah paham Byun BaekHyun. Aku tidak menyuruh mereka pergi lebih dulu. Kebetulan saja mereka memang memiliki jadwal pagi secara bersamaan.” jelas TaeYeon.

“Benarkah? Bukan kau yang menghalangi mereka untuk bertemu denganku?”

TaeYeon membalasnya dengan dengusan kesal. Malas menjawab pertanyaan namja satu ini.

“Kajja kita pergi! Ne, aku memang tidak ingin kau terlambat.”

Sekarang malah TaeYeon berjalan duluan meninggalkan BaekHyun yang masih menatap punggung TaeYeon dengan decakan kesal.

“Ya Kim TaeYeon! Tunggu aku!”

* * *

Chhiitt.. Bus tepat berhenti di depan halte sekolah TaeYeon, tinggal jalan sekitar 200 meter, gerbang sekolah sudah terlihat. Segera TaeYeon turun dari bus disusul BaekHyun di belakangnya.

“Omo! Kau….” TaeYeon kaget ketika tahu BaekHyun masih mengekorinya sampai turun ke halte. Karena dia pikir namja itu akan terus menaiki bus untuk sampai di depan sekolahnya, tapi nyata nya malah ikut turun bersamanya.

“Kenapa kau malah turun? Kau ingin membolos?” tanya TaeYeon sedikit panik.

“Geez, kau ini bicara apa? Siapa yang ingin membolos. Tentu saja aku turun karena akan mengantarmu sampai sekolah.”

“Aish, kau ini bodoh atau apa? Bagaimana kalau kau sampai terlambat?”

Yang ditanya malah merespon dengan melihat ke arah jam tangannya, “Masih ada waktu 45 menit sebelum bel masuk.” jawabnya lalu bergidik santai.

“Ck! Terserah kau saja.” balas TaeYeon yang kemudian berjalan meninggalkan BaekHyun. Dengan cepat BaekHyun mensejajarkan langkahnya dengan yeoja itu.

“Kau ini kenapa suka sekali meninggalkanku?” protes namja itu tanpa melihat ke arah TaeYeon.

“Kau sendiri, dulu kau meninggalkanku tanpa pamit.”

“Mwo?! Jadi dulu kau kesal aku pindah sekolah?” tanya BaekHyun tidak percaya dengan apa yang dikatakan yeoja itu barusan. Ternyata TaeYeon sejak dulu sudah menyukainya. BaekHyun jadi gemas melihat raut wajah TaeYeon yang kini tengah mengerucutkan bibirnya lucu.

“Molla!” jawabnya malu, lalu membuang wajahnya ke arah lain agar BaekHyun tidak melihat pipinya yang sekarang mulai memerah.

BaekHyun membalasnya dengan cekikikan kecil yang masih dapat terdengar di telinga TaeYeon.

Tanpa mereka sadari, ternyata tampilan BaekHyun yang mengenakan seragam yang berbeda, membuat murid-murid lain yang juga sedang berjalan menuju gerbang sekolah memerhatikan BaekHyun sambil berbisik.

“Oh! Bukankah itu namja yang kemarin?”

“Apa dia pacarnya? Aku tahu yeoja itu.”

“Aahh.. namja itu keren sekali!”

Ya, begitulah umpatan-umpatan kecil yang masih bisa didengar keduanya. TaeYeon yang menyadarinya hanya bisa menunduk malu. Ia tahu mereka pasti sedang membicarakan dirinya dengan BaekHyun. Sedangkan namja yang dibicarakan tiba-tiba dengan sengaja menggenggam tangan TaeYeon dengan erat sambil terus berjalan, yang membuat yeoja yang digenggam menoleh ke arahnya, menatap BaekHyun seperti mempertanyakan apa yang sedang namja ini lakukan?

“Mwo?! Apa itu?”

“Daebak! Berani sekali mereka mengumbar kemesraan.”

“Sepertinya benar mereka pacaran.”

Mendengar komentar-komentar mereka, TaeYeon semakin merasa terpojok. Yeoja itu berusaha menarik lengannya yang digenggam BaekHyun, tapi bukan BaekHyun namanya kalau tidak semakin mempererat genggaman itu, seolah seperti menjawab ‘Biarkan saja mereka melihat!’. TaeYeon kembali menyembunyikan wajahnya semakin dalam, sebelum tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang sambil berlari ke arah mereka.

“Hai.. TaeYeon!” sapa seorang namja.

Keduanya menoleh ke sumber suara. Dan betapa kagetnya TaeYeon ternyata yang menyapanya adalah teman sekelasnya, Kai, namja hiperaktif yang suka mengeluarkan celoteh ejekan kepada setiap yeoja di kelasnya. Tentu saja TaeYeon kini panik, takut namja itu nanti akan terus meledeknya setelah melihat dirinya yang kini berjalan dengan seorang namja yang tengah menggenggam tangannya. Benar saja, Kai sudah melewati mereka sambil terus berlari dengan pura-pura menampakan senyum manisnya lalu melambaikan tangannya. TaeYeon tahu maksud dari senyum itu. Sedangkan BaekHyun yang salah mengartikan, memasang wajah dinginnya ke arah Kai.

‘Apa-apaan orang itu? Apa dia teman sekelas TaeYeon? Kenapa memasang ekspresi seperti itu? Apa dia sengaja menyapa TaeYeon seperti tadi?’ umpat BaekHyun cukup kesal.

Merasa genggaman BaekHyun mulai mengendur, TaeYeon segera melepaskannya. BaekHyun yang menyadarinya langsung menatap TaeYeon dengan heran.

“Ah, kurasa sampai disini saja. Sampai nanti!” ucap TaeYeon yang kemudian langsung berlari memasuki gerbang sekolah. Sempat ia melihat wajah BaekHyun yang kecewa sebelum dirinya berlari, ia terpaksa melakukan ini agar dirinya dan BaekHyun tidak menjadi bisikan-bisikan murid lain lagi.

Sedangkan BaekHyun masih tidak bergeming, hanya menatap kepergian TaeYeon dengan pasrah. Baru saja ia kesal dengan perilaku namja aneh yang tiba-tiba menyapa TaeYeon, kemudian dilanjutkan dengan TaeYeon yang pergi meninggalkannya. Ia cukup kesal, sebenarnya niat BaekHyun menggenggam tangan TaeYeon adalah ingin membuat yeoja itu tenang dan tidak terlalu mempedulikan orang lain yang tengah membicarakan mereka. Tapi sepertinya ia salah, TaeYeon terlihat tidak menyukai perlakuannya, terbukti dengan yeoja itu meninggalkan dirinya sekarang.

* * *

To be continue…

Advertisements

25 comments on “[Freelance] Our First Love (Chapter 2)

  1. ini gak salah publish kan? perasaan chapter 2 ini udah baca deh. ko di publish lagi /? rh gatau deh tapi asli ini udah pernah di publish. tapi gapapa deh tetep suka ko bacanya hahaha next chap ditunggu 🙂

  2. perasaan ini udah di publish deh. aku udah pernah baca soalnya chapter 2. kalo gak salah tanggal 17 kemaren udah di publish deh. tapi gatau juga sih hihi gapapa lah yg penting tetep suka ff nya. next chap ditunggu 🙂

  3. Nah akhirnya chap kedua muncul juga dari adegan hilangnya tiba”/?
    Dikira bakalan hilang gak dipublish wkwkwk
    Untunglah enggak kalo gitu aku tunggu chap selanjutnya yah
    Semangattt!!!!

  4. baekh dewasa bgt dsini suka bgt sma karakter’y tp si sica ko gtu jgan2 dia jg suka baekh andwe’ si bomi nyebeli bgt sh…
    chanyeol jail bgt ish ish taeng msh unyu2 karakter’y aku suka mudah2n next chap cpet ya hehe ff’y bgus semangatt

  5. di post ulang ya ff nya ada apa? yg beda cuma covernya aja selebihnya sama sari isi ceritanya,. next chaptnya ditunggu ya updatesoon

  6. udah coment belum ya thor aku? hehe lupa nih
    yang jelas ff ini lucu banget. itu sbenernya jessica naksir baek kan huhu
    kasian jessica
    next thor 🙂

  7. Ini chap 1 pan? dari awal chap 2 smpe lebih setengah dari chap ini isinya chap 1, kemaren chap 1 kalo ga salah TBCnya smpe ada nyariin tae, dan org itu baekhyun yg mau jemput tae… mungkin dipublish lg atau gimana , yaa diperbaiki untuk next chap thor.. Dan selebihnya ceritanya kerenn thor, sweett 😀 next , fighting!!

  8. Thor inikan dipost ulang kemaren2 aku udh baca and comment thor next chap dong penasaran aku suka bgt sama ffny .Keep writing and Fighting!!!

  9. Sica sebenernya suka baik yaakaann thor? Yaakk bomi nyebelin-,-… Kasian baek ga jadi ketemu bapaknye taeng wkwkwk.. Ditunggu buat next chapternya thorr hwaitinggg😘😘😘😍😍😍😍

  10. Maaf thooor aku baca kebut dr prolog sampe chapter ini soalnya aku lama ha buka blog ff ini ,tugas kuliah numpuk ,, good Thor,, aku jd cengengesan sendiri bacanya,, lah itu baekhyun suka aka Jessica juga gak sih?? ,taeng mah terlalu anak takut papa ,,,kasian baekhyun jd ragu gitu,,
    Agak jengkel sama sikapnya taeng aku wkwkwkwkwk
    ,tpi baek ngeselin juga kalo pas perhatian sama cewek2 di kls Nya hahahah..

  11. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s