Skellington [Part 7]

SKELLINGTON – Part 7 – by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05 | Part 06

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

            “Taeyeon, apa kau menyukaiku?”

Bibirku tertutup rapat. Aku tidak ingin menjawabnya. Bukan karena aku tidak bisa menjawabnya. Melainkan karena dia tidak pantas bertanya hal seperti itu padaku. Aku masih tidak percaya dia memanggilku di tengah-tengah kesibukanku hanya untuk meredakan emosinya yang disebabkan hal konyol.

“Jawab aku—“

“Aku tidak menyukaimu.” Jawabku pada akhirnya. Ini adalah jawaban yang tepat dan jawaban yang seharusnya aku ungkapkan lebih cepat. Aku sudah punya pacar, aku sudah memiliki orang yang menyukaiku dan aku juga menyukainya.

“Kalau begitu apa kau membenciku?”

Aku mengangguk. “Aku membencimu.”

Kemudian detik-detik berikutnya tidak ada pembicaraan di antara kami. Aku merasa aku perlu menjelaskan apa arti aku membencinya tapi tidak sekarang. Itu hanya akan membuat keadaannya memburuk. Tugasku adalah menjawab semua pertanyaannya dengan jujur dan aku sudah melakukannya.

“Maafkan aku.” Ujar Baekhyun tiba-tiba membuatku terkejut. Lalu yang membuatku lebih terkejut lagi adalah dia menangis. Dia meneteskan air mata. Air mata keluar dari matanya. Apa-apaan ini? Apa Skellington juga bisa menangis? Kumohon berhenti. Hentikan tangisanmu, Byun Baekhyun.

“Kau seharusnya minta maaf sejak pertama kali kau sadarkan diri.” Ucapku pelan. Dia mengangguk tapi aku yakin dia tidak tahu kesalahan apa yang telah dia buat. Aku berharap dia mengingatnya dan memperbaiki kesalahannya tapi mustahil. Kesalahannya tidak mungkin bisa dimaafkan dan diperbaiki.

“Kalau begitu kenapa kau menciumku?” tanya Baekhyun dan kali ini aku tidak punya alasan yang bagus. Aku menciumnya karena aku ingin. Mana mungkin aku menjawab seperti itu. “Kau menciumku padahal kau membenciku?”

“Anggap saja itu ciuman perpisahan dariku.” Jawabku acuh. Aku benci suasana seperti ini. “Karena mulai sekarang kita tidak akan pernah bertemu lagi.”

.

.

.

.

            Seminggu setelah terakhir kali aku bertemu dengan Baekhyun, papa menelponku saat aku sedang berada di Restoran Minhyuk dan mendiskusikan desain mana yang akan kami pakai untuk mengubah tampilan restoran.

“Annyenghaseyo, papa?”

Taeyeon, apa kau sedang sibuk?

“Aku sedang bekerja, tapi tidak apa-apa. Ada apa?”

Apa malam ini kau ada acara? Atau janji dengan Kai?

Aku memeriksa agendaku dan malam ini aku tidak punya acara untuk dihadiri. Aku dan Kai baru saja berkencan ke taman bermain kemarin. “Tidak ada, pa. Malam ini aku kosong.”

Kalau begitu datanglah ke apartmen nanti malam. Kita akan makan malam bersama setelah sekian lama dengan Nona Jung dan anaknya.”

Aku menjauhkan telingaku dari ponsel. “Tunggu. Siapa Nona Jung?”

Teman perempuan papa yang sekarang tinggal bersama ayah di apartmen. Apa kau tidak ingat?

Aku langsung memutar bola mataku. Rupanya hubungan papa dengan asistennya lebih serius daripada yang aku kira. Aku bahkan belum menceritakan pada Solar bahwa kemungkinan besar papa akan menikah lagi. Oh tidak, Solar akan marah besar jika aku tidak memberitahunya segera.

“Aku ingat kok. Hanya saja aku terkejut. Makan malam akan menyenangkan. Aku akan datang, pa.” ucapku berusaha terdengar gembira pada undangan yang diberikan papa.

Baiklah. Jam 7 malam di apartmen. Ah, jangan lupa ajak Kai. Papa tidak ingin menjadi yang satu-satunya laki-laki di dalam ruangan.”

Papa menutup telepon dan aku langsung berpikir. Makan malam dengan Nona Jung dan anaknya. Berarti anak Nona Jung adalah perempuan. Dan Nona Jung yang dimaksud kemungkinan bukan eomma dari Jessica Jung dan Krystal Jung. Solar tidak pernah bercerita padaku bahwa orang tua Krystal bercerai.

Aku langsung mengirim e-mail untuk Kai dan mengajaknya makan malam bersama. Dan Kai membalasnya beberapa menit kemudian. Gawat. Aku harus pakai baju seperti apa? Mungkin aku akan membeli baju baru.

Aku tersenyum dengan pesan yang diberikan Kai. Kemudian aku membalas, pakai saja jersey baseball Tokyo Major agar papaku senang. Kau dan papa akan menjadi yang paling tampan malam ini jadi tak masalah kau memakai baju apa. Oh ya, mungkin yang tampan hanya kau. Hehe.

“Kau terlihat senang sekali.” Ujar sebuah suara di depanku. Pemiliknya adalah Krystal. “Apa ada hal yang menyenangkan?”

Aku menggeleng tapi kemudian aku mengangguk. “Tidak. Hanya saja e-mail dari orang tercinta memang menyenangkan untuk dibaca.”

“Aku setuju.” Sahut Krystal. Dia membalik-balikkan katalog desain yang aku bawa. “Aku dengar dari Solar bahwa sudah seminggu kau tidak mengurus Skellingtonmu. Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku cepat. “Hanya saja akhir-akhir ini aku sibuk jadi aku tidak punya waktu untuk pergi ke sana.”

Sebenarnya selama seminggu ini aku berusaha untuk mendapatkan kesibukan. Saat Solar menghubungiku, aku menggunakan kesibukanku sebagai alasan aku tidak bisa datang. Aku berharap kondisi seperti ini bisa bertahan hingga satu bulan. Sampai kontrakku dengan proyek Skellington berakhir.

“Aku berharap kita sudah mendesain ulang restoran ini sebelum musim dingin tiba.” Ujar Krystal tiba-tiba. “Karena aku dan Minhyuk akan pergi ke Amerika untuk berlibur bersama.”

“Menyenangkan sekali.” Kemudian tiba-tiba saja aku teringat pertemuan pertamaku dengan Kai. Saat itu usiaku baru 14 tahun dan aku duduk di bangku SMP. Aku menjadi murid pindahan di sekolah Kai pada semester ketiga.

.

.

.

.

            Rasanya senang kembali ke sekolah setelah 8 bulan diam di rumah dan menunggu izin dari papa agar aku bisa sekolah kembali. Saat itu Bulan Desember yang sangat dingin karena salju mulai turun. Aku berdiri di depan kelas dan Seunghwi Seosangnim menyuruhku memperkenalkan diri.

Sesi memperkenalkan diri selalu mengingatkanku pada saat aku pindah ke Seoul Memorial Private School, 5 tahun yang lalu. Saat itu aku sangat takut memperkenalkan diri dan akibatnya aku diejek karena postur tubuhku sesuai dengan apa yang anak-anak kelasku pikirkan tentangku. Tapi kali ini aku ingin berubah. Di sekolah yang baru ini, dengan teman-teman yang baru, aku akan menjadi sosok yang benar-benar berbeda.

Annyeonghaseyo, Kim Taeyeon ibnida.” Ujarku lalu aku membungkukkan badan sebesar 90 derajat. “Mulai semester ini aku akan bergabung dengan kelas kalian untuk mengikuti pelajaran. Mohon bantuannya.”

Seisi kelas bertepuk tangan puas setelah aku mengatakan itu. Memang ada yang menyorakiku tapi intinya mereka menyambutku dengan baik. Aku ditempatkan oleh Seunghwi Seosangnim di bangku paling belakang. Tapi duduk di bangku belakang tidak membuat seisi kelas mengalihkan pandangannya dariku.

Mengapa? Karena meski itu hari pertamaku sekolah, aku mengikuti pelajaran dengan baik. Karena di rumah aku sudah mempelajari pelajaran yang diajarkan hari itu, aku bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan para guru dan selalu aktif bertanya dan memberikan pendapat.

“Taeyeon pintar banget sih, kamu pindahan dari luar negri ya?” tanya anak perempuan yang duduk di depanku lalu aku menggeleng.

Kemudian saat pelajaran seni dan kebetulan semua murid diharuskan menyanyi di depan, ada kejadian yang tak bisa kulupakan hingga tahun-tahun berikutnya. Saat giliran aku maju ke depan, semuanya terlihat kagum denganku karena aku membawakan lagu Flying, Deep Into the Night dengan sempurna. Tapi yang membuatku terkejut adalah ada seorang anak laki-laki yang saat aku menyanyi malah menari di sebelahku.

Pikirku, apa maunya? Dia tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduknya, berdiri di sebelahku dan detik-detik berikutnya dia sudah menari dengan sangat indah. Anak laki-laki itu berambut hitam, cukup tinggi, dan mempunyai senyum paling menawan yang pernah aku lihat.

“Kai, bukankah waktu untuk unjuk tarian sudah kita lakukan semester lalu?” tanya wali kelas kami, Seunghwi Seosangnim sambil tersenyum.

Kai tertawa dengan ceria lalu membungkukkan badan. “Mianhae, nyanyiannya benar-benar indah dan tiba-tiba saja aku ingin menari!”

Aku memperhatikan seluruh gerak-geriknya dengan seksama. Dia mungkin tidak tampan tapi jelas dia punya karisma. Juga potensi untuk berkembang ke depannya. Dan tiba-tiba dia mengulurkan tangan dan mengajakku bersalaman. Aku benar-benar gugup tapi aku berusaha terlihat tenang.

“Selamat datang di Klein High School!” suaranya rendah, entah kenapa membuatku sangat tenang. Aku mengangguk dan kemudian dia tersenyum. Itulah pertemuan pertamaku dengan Kai yang berbeda dengan pertemuanku dengan Baekhyun.

Kai datang dengan sendirinya di hadapanku dan saat itu aku sadar bahwa aku langsung menyukainya. Tapi saat itu aku masih takut untuk jatuh cinta. Karena semua yang jatuh pasti akan pecah pada akhirnya.

.

.

.

.

Ting, tong….

Bel apartmen berbunyi dan papa langsung menyuruhku yang sedang menata meja makan untuk memeriksa siapa yang datang. Aku benar-benar berharap yang datang bukanlah Nona Jung dengan anaknya. Dan aku benar-benar senang saat melihat melalui lubang pintu, yang datang ternyata Kai.

Hey, sweetheart.” Ujarnya begitu aku membuka pintu dan aku memeluknya. Saat aku merasa heran kenapa tangan kanannya tidak memelukku, ternyata dia sedang membawa buket bunga. “Untuk menghias meja makan, jika perlu.”

Gomawo.” Ucapku lalu menerima buket bunga sweetpea dengan senang hati. “Kau tidak membawakan bunga untukku?”

Kai tersenyum. “Aku menyimpannya di mobil dan ingin memberikanmu nanti saat aku mengantarmu ke apartmen Solar.”

Aku mengangguk. Aku membawa Kai masuk dan kami berdua bersama-sama menghias meja makan. Papa sepertinya mengatur acara makan malam ini dengan baik. Beliau membeli gelas-gelas baru, serta lilin untuk memperindah meja. Tapi selain itu papa meminta tolong bantuanku sebagai dekorator. Akhirnya sebelum kemari aku sempat mampir ke kantorku dan membawa dekorasi-dekorasi yang berkesan klasik.

Tidak seperti yang aku kira, Kai mengenakan baju yang cukup formal. Awalnya aku kira Kai akan benar-benar datang dengan jersey baseball Tokyo Major yang akan membuat papa lega setengah mati karena mungkin saja saat gugup, papa bisa melirik baju Kai dan mengajak Nona Jung berbincang tentang baseball. Saat itu aku akan menertawakan papa dan segera menarik Kai menjauhi meja makan.

“Ngomong-ngomong pa,” ujarku tiba-tiba, “Apa anak Nona Jung… masih muda?”

Papa menggeleng sambil mengatur timer di oven. “Dia dua tahun lebih muda darimu dan tentu saja dia sudah bekerja. Oh ya, dia perempuan juga sama sepertimu.”

Aku memutar bola mataku. Kenapa papa tidak menjelaskannya dengan lebih singkat? Maksudku, kenapa papa tidak berkata, dia seumuran adikmu, Solar? Apa papa sudah benar-benar melupakan mama dan Solar? Mungkin karena papa dan aku sama. Aku bisa melupakan Baekhyun dengan mudah, jelas papa bisa melupakan mama dan Solar dengan mudah.

“Tuan Kim, ada yang bisa saya bantu?” tanya Kai menghampiri papa.

Papa mengangguk lalu menunjuk sebuah kotak. “Bantu Taeyeon menata garpu dan sendok yang baru saja kubeli.”

Aku tidak percaya ini. Padahal kami punya sendok yang cukup untuk makan malam dengan 5 orang. Sepertinya papa tidak main-main dengan Nona Jung. Saat itu aku sadar bahwa makanan kami mungkin saja kurang. “Pa, apa papa memesan delivery atau semacamnya? Karena jelas ayam panggang yang sekarang di dalam oven tidak cukup untuk porsi 5 orang—“

“Nona Jung akan membawakan masakannya sendiri, Taeyeon.” Jawab papa cepat. “Tentu saja saat dia datang aku harap kau mau membantunya membawakan masakan itu ke meja.”

Dan tepat saat itu bel berbunyi menandakan orang yang sedari tadi ditunggu papa datang. Papa menarik Kai ke kamar mandi, mungkin untuk meminta nasehat tentang penampilan jadi aku yang menuju pintu dan membukakannya. Betapa terkejut diriku saat melihat Nona Jung yang dimaksud papa adalah wali kelasku saat SMP, Jung Seunghwi Seosangnim.

“Annyeonghaseyo.” Sapanya lalu menundukkan kepala.

“Ah, ne, annyeonghaseyo.” Ujarku. Begitu melihat tangannya yang penuh dengan kotak yang berisi masakan, aku langsung menawarkan diri untuk membawakannya ke meja. “Silakan masuk.”

Lalu di belakang Nona Seunghwi –aku memutuskan untuk memanggilnya seperti itu—seorang anak perempuan dengan rambut cokelat tersenyum padaku. Aku langsung terpesona karena saat dia tersenyum, dia punya lesung pipi di pipi kanannya. “Annyeonghaseyo, ini pertama kalinya aku datang ke sini. Di mana aku harus meletakkan sepatuku?”

Pertanyaannya membuyarkan lamunanku. “Ah, tinggalkan saja nanti aku rapikan.” Anak perempuan itu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Saat melihat sosoknya dari belakang, aku berusaha mengingat-ingat di mana kira-kira aku pernah melihatnya. Karena dia tampak tidak asing, apalagi dengan lesung pipitnya itu.

Nona Seunghwi sudah mencuci tangannya dan siap dengan sebuah pisau saat aku membuka kotak yang berisi spaghetti, pizza, sushi serta buah-buahan segar. Nona Seunghwi jelas tahu hidangan yang sesuai untuk makan malam. “Ayahmu… Menyiapkan apa saja?” tanyanya padaku.

“Ayam panggang dan gelato.” Jawabku cepat. Nona Seunghwi mengangguk lalu kembali ke dapur tepat saat oven berbunyi. Aku langsung mengalihkan pandanganku pada anak perempuan yang sedang mengamati lilin dengan mata berbinar-binar. Apa dia mengenalku? Jika iya, kenapa aku bisa lupa di mana aku bertemu dengannya?

“Seunghwi, tidak usah repot-repot.” Suara papa terdengar dari belakangku dan segera menuju dapur. Kai datang dari belakangku lalu menepuk bahuku. Aku tidak mendengar apa yang dia bisikkan karena aku terlalu fokus pada betapa papa dekat dengan Nona Seunghwi. “Ayo semuanya, silakan duduk dan kita nikmati makan malam.”

Hidangan dibuka dengan sushi. Aku mengakui keahliannya dalam memasak. Mungkin karena aku sudah lama tidak memakan sushi, sehingga sushi asli buatan Nona Seunghwi ini terasa enak dan menggiurkan di mulutku.

“Apa anda masih ingat padaku?” tanya Kai memulai pembicaraan. “Aku Kim Jongin. Ah, atau Taeyeon sudah menceritakannya pada anda?”

Aku langsung sadar bahwa kata-kata yang tadinya Kai bisikkan padaku adalah apa itu Seunghwi Seosangnim? Lalu Nona Seunghwi mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja aku ingat pada kalian berdua. Kalian murid-muridku yang manis. Dan suatu kehormatan bisa bertemu dengan kalian lagi.”

“Kalian murid—“ bahkan sebelum papa menyelesaikan kalimatnya, aku dan Kai sudah mengangguk. “Taeyeon, kenapa kau tidak segera bilang pada papa?”

Nona Seunghwi tertawa kecil. “Mungkin Taeyeon tidak ingat padaku. Aku saja sangat terkejut melihat Taeyeon sudah sangat cantik dan penampilannya dewasa. Aku juga tidak berharap bisa bertemu dengan Kai malam ini. Kalau boleh tahu, kalian… Sudah berapa lama?”

Kai yang duduk di sebelahku meletakkan peralatan makannya lalu merangkulku. “Kami sudah berpacaran hampir… 10 tahun.” Nona Seunghwi membuka mulutnya tanpa bersuara, sangat terkejut. Nona Seunghwi menjadi salah satu saksi saat Kai menyatakan perasanyaanya padaku. “Dan saya yang membelikan bunga yang ada di tengah itu.”

Seketika semua yang ada di meja makan tertawa. Kai memang tahu kapan harus mengeluarkan leluconnya yang sebenarnya sama sekali tidak lucu itu. Dan aku bisa melihat papa yang sebelumnya tegang kini sudah sedikit santai.

Saat kami semua mulai memakan spaghetti, Nona Seunghwi berkata, “Perkenalkan, anak perempuanku. Jung Wheein.”

Anak perempuan yang bernama Wheein itu tersenyum sekali lagi dan aku benar-benar ingin berteriak bahwa dia sangat manis. “Terima kasih untuk hidangannya. Aku akan berusaha untuk menghabiskannya.” Entah kenapa seletah itu kami semua tertawa. Wheein mirip Kai, dengan lelucon yang sebenarnya tidak lucu itu.

“Apa pekerjaanmu, Wheein?” tanya papa.

“Pekerjaanku dokter anak di Rumah Sakit Utama Seoul. Aku sangat menyukai anak kecil, jadi… sekarang aku benar-benar menikmati pekerjaanku.” Jelas Wheein.

“Bagaimana dengan Taeyeon? Dan Kai?” tanya Nona Seunghwi lalu aku yang saat itu mempunyai mulut yang penuh dengan spaghetti digantikan oleh Kai untuk menjawab.

“Aku bekerja sebagai stuntman. Sedangkan pekerjaan Taeyeon adalah dekorator.” Jelas Kai lalu Nona Seunghwi dan Wheein mengangguk. Kai tahu bahwa pekerjaanku sebagai sukarelawan di proyek Skellington tidak perlu diceritakan.

Untuk selanjutnya, hidangan demi hidangan disajikan sampai makanan penutup, gelato. Bahkan untuk mengakrabkan diri, papa menyuruhku menyanyi dan menyuruh Kai untuk menari. Aku dan Wheein bahkan berduet bersama menyanyikan lagu Way to Sampo yang membuatku benar-benar kaget bisa berharmonisasi dengan Wheein secepat ini.

Pada akhirnya, papa dan Nona Seunghwi berduaan di balkon. Akhirnya aku dan Kai membersihkan seluruh peralatan makan dan piring. “Makan malam yang menyenangkan, ya?” tanya Kai lalu memasukkan piring-piring ke mesin pencuci.

Aku mengangguk. “Saat melihat papa, rasanya aku berpikir bahwa selama ini aku egois. Harusnya jika papa bahagia, aku juga bahagia kan?”

Kai mengangguk dan saat itu suara Wheein memasuki dapur, “Ada yang bisa aku bantu? Rasanya tidak enak saat kalian bekerja dan aku hanya sendirian tidak melakukan apa-apa…”

Aku tersenyum pada Wheein. “Ikut aku dan kita akan melakukan sesuatu dengan lilin-lilin itu.” Aku mencium Kai di pipi dan menuntun Wheein ke meja makan. “Ayo kita pindahkan lilin-lilin ini ke kamar mandi.”

Wheein mengangguk dan mengerti apa yang aku maksud. Lilin-lilin ini wangi dan tentu saja akan sangat berguna jika diletakkan di kamar mandi. Saat kami berdua sudah selesai menata lilin-lilin, tiba-tiba Wheein berkata, “Apa kabar?”

Aku yang saat itu bingung berkata apa malah menjawab, “Kita pernah bertemu ya?”

Dan seketika wajah Wheein dihiasi rasa malu. Dia tampak bersalah bertanya hal seperti itu padaku dan wajahnya membuatku yakin bahwa sebelumnya kami pernah bertemu di suatu tempat. Tapi aku tidak bisa ingat kapan itu. “Mianhae… Apa aku salah ya? Kita pernah bertemu, kira-kira 10 tahun yang lalu…”

Seketika itu aku langsung teringat kapan kami pernah bertemu. Tidak kusangka kali ini anak perempuan bernama Wheein sekarang datang di hadapanku sebagai calon adik tiriku. Suasana makin gugup karena tidak ada satupun dari kami yang melanjutkan pembicaraan. Akhirnya aku berkata, “Benarkah? Apa yang membuatmu yakin kita pernah bertemu?”

Aku langsung tahu bahwa aku bertanya hal yang salah. Karena Wheein menatapku dalam-dalam lalu bertanya, “Bagaimana dengan kondisi—“

Tiba-tiba ponselku berbunyi dan menyelamatkanku dari pertanyaan Wheein yang aku sudah tahu kelanjutannya. Telepon dari Solar. Tidak biasanya Solar menelponku malam-malam. Aku meminta izin pada Wheein untuk meninggalkannya sebentar dan mengangkat telepon setelah berada di tempat yang cukup sepi, “Annyeonghaseyo?”

Eonni! Ya Tuhan, gawat eonni, gawat!”

Saat itu aku baru sadar Solar terdengar sangat panik. Tidak biasanya Solar seperti ini. Apalagi Solar terdengar seperti mau menangis. “Ada apa, Solar? ADA APA!?” dan suaraku yang keras berhasil membuat Kai dan Wheein mendatangiku.

Baekhyun… Dia menghilang! Dia menghilang, eonni, dia tidak ada…!

“APA!?” aku hanya bisa menatap Kai dan Wheein yang bingung melihatku. “Apa yang terjadi? Tenanglah, Solar. Ceritakan padaku.”

Hari ini aku mengantarnya ke rumah orang tuanya di daerah Incheon. Aku menemaninya hingga makan malam dan saat dia bilang dia ingin ke luar mencari udara segar… Dia sudah menghilang!

Mendengar penjelasan Solar, aku langsung ikut panik. Ke mana Baekhyun pergi? Pasti ada petunjuk besar… “Solar, tenanglah dan cari kira-kira barang apa yang menghilang dari rumah orang tuanya. Dan coba ingat-ingat barang apa saja yang dibawa olehnya.”

Dia tidak membawa apapun sih, tapi aku akan coba mencari tahu barang yang menghilang bersama orang tuanya. Jamkanman, eonni.” Aku bisa merasakan ponsel Solar yang diletakkan di suatu tempat kemudian didekatkan ke telinganya lagi setelah kira-kira 10 menit berlalu. “Yang menghilang adalah beberapa lembar uang, kartu untuk naik kereta… Dan kunci. Kunci apartmen.

Langsung saja aku tahu bahwa Baekhyun sedang menuju kemari. Dia pasti kembali ke tempatnya tinggal dulu, tepatnya kamar nomor 2 di lantai 14, apartmen yang sama dengan tempatku berada sekarang ini. “Solar, sisanya serahkan padaku.”

Eh? Apa maksud eonni? Tunggu—

Aku mendekat pada Kai lalu memeluknya. Aku ingin menangis. Aku ingin menangis atas segala perbuatan yang telah aku lakukan. Aku berkata dengan pelan, di telinga Kai, “Aku telah menyakiti Baekhyun dan membuat semua orang kerepotan. Dia… Menuju apartmen ini. Dia menuju ke sini hanya untuk menemuiku!” dan akhirnya air mataku menetes.

“Hei, Taeyeon. Tenang.” Kai mengusap air mataku lalu memandangku yang sedang panik dan bingung harus melakukan apa. “Semua akan baik-baik saja. Kita hanya harus mencarinya. Dia pasti sudah dekat.”

“Baiklah.” Jawabku. Aku menuju pintu dan keluar. Lorong di lantai 14 sepi dan kemungkinan besar Baekhyun belum datang. Kai langsung menghubungi pihak resepsionis di lobby lantai 1 dan meminta mereka untuk segera menghubungi balik nomornya jika melihat sosok Baekhyun memasuki apartmen.

Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk bahuku dan ternyata orang itu adalah Wheein. “Taeyeon, apa kau melihat lift itu? Lampunya baru saja menyala.” Aku memperhatikan lift dan memang lampunya menyala.

“Apa maksudmu?” tanyaku sambil mengusap air mataku yang masih menetes.

“Itu artinya pintu lift terbuka. Dan ada seseorang di dalam lift.”

Langsung saja ketika Wheein mengucapkan itu aku beserta Kai dan Wheein berlari menuju lift. Pintu lift terbuka dan kami menemukan sosok Baekhyun yang tidak sadarkan diri sedang berbaring di dalam lift. “Ya Tuhan, Baekhyun.”

Kai langsung mengangkat tubuh Baekhyun dan kami menemukan kunci di tangan kanannya yang tergenggam. Aku yang langsung tahu bahwa itu adalah kunci ruangan apartmennya langsung meraih kunci itu dan membuka pintu tetangga kami. Dan ruangan itu terbuka bersamaan dengan banyaknya kenangan terlintas dalam pikiranku.

“Taeyeon, nyalakan lampu. Cepat.” Ujar Kai lalu aku mengangguk. Aku menyalakan semua lampu yang diperlukan lalu Kai membaringkan Baekhyun di sofa ruang tamu. “Taeyeon, kau harus menghubungi Solar.”

“Oke, um…” aku meraih ponselku dan menyadari bahwa ponselku sudah mati karena baterai habis. Aku menatap Kai dengan tatapan memelas kemudian Kai mengusap kepalaku lembut sambil tersenyum.

Arasseo, aku akan menghubungi Solar.” Ujar Kai lalu dia meraih ponsel di sakunya dan berjalan keluar untuk menelpon Solar. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selama Kai tidak ada di dekatku. Aku benar-benar panik.

Seketika itu otakku langsung tahu apa yang harus kulakukan. Aku menyusul Kai yang sedang berjalan menuju lorong apartmen dan meraih tangannya. “Kai, tunggu.” Aku menatapnya dalam-dalam, meraih wajahnya dan berjinjit agar aku bisa menciumnya. Aku tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa lebih tenang.

Begitu ciuman kami berakhir, Kai mengusap kepalaku kemudian menciumku sekali lagi, lalu menciumku di dahi. “Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu.” Ujar Kai berhasil membuatku terkejut karena dia bisa menebak apa yang aku pikirkan. “Semua akan baik-baik saja.”

Aku mengangguk lalu tersenyum. Aku merasa lebih tenang dan memutuskan untuk menghadapi Baekhyun. Aku benar-benar lupa bahwa Wheein ada di dalam dan begitu aku masuk, Wheein sedang menempelkan telinganya di dada Baekhyun. “Wheein, apa yang kau lakukan?”

“Aku memeriksa detak jantungnya.” Jawab Wheein kemudian menjauhkan telinganya dari dada Baekhyun. “Maaf, aku reflek melakukannya karena aku dokter. Tapi aku sangat bingung karena detak jantungnya terdengar aneh.”

Aku langsung panik karena Wheein tidak tahu bahwa Baekhyun sudah meninggal dan sekarang hidup sebagai Skellington. Mengingat proyek ini masih dirahasiakan oleh pemerintah dari masyarakat, aku semakin takut Wheein bertanya macam-macam hal. “Mungkin… Itu gejala salah satu penyakitnya.”

Wheein menatapku bingung. Seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan, Wheein bertanya, “Bukankah kau sudah mencari Baekhyun selama ini? Kenapa kau tidak terlihat senang? Padahal dulu kau mencari-carinya dan kini dia ada di hadapanmu.”

“Hah?” Wheein terlihat serius tapi aku berusaha untuk mengelak. Rupanya kami pernah bertemu dulu. Tepatnya 10 tahun yang lalu. Tapi aku tidak ingat apa saja yang aku lakukan selama bersama dengan Wheein. “Kenapa kau tahu nama anak laki-laki ini?”

Wheein menghela napas. “Apa kau benar-benar tidak ingat? Tentu saja aku tahu namanya karena kau pernah menceritakannya padaku. Dia Byun Baekhyun, anak laki-laki yang meninggalkanmu dan menghilang, bukan? Kenapa kau tidak ingat hal sepenting itu?”

Mianhae, aku benar-benar lupa.” Jawabku putus asa. Mengapa aku tidak bisa mengingatnya? Aku tahu aku tidak mengalami amnesia. Tapi mengapa aku tidak bisa mengerti satupun dari hal-hal yang dikatakan Wheein? “Apa saja yang aku ceritakan padamu?”

Wheein menghela napasnya. “Banyak. Bahkan aku masih mengingat salah satu kalimat yang sering kau ucapkan saat bersamaku.”

Aku mengerutkan kening karena aku benar-benar bingung. “Memangnya… Apa?”

“Kau berkata bahwa seharusnya kau mati saja di hari kecelakaan itu.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Terima kasih sudah mengikuti cerita hingga sejauh ini. Akhirnya ada karakter baru muncul, yaitu Wheein dari Mamamoo. Aku benar-benar suka Mamamoo sejak debut mereka. Aku bahkan tidak bisa memilih yang mana member favoritku. Jika kalian belum pernah mendengarkan lagu-lagu Mamamoo, itu artinya kalian harus mendengarkannya sekarang juga. Kalian pasti akan langsung jatuh cinta!

Seperti biasa, aku meminta kritik dan saran dari kalian. Tolong jangan pernah merasa sungkan untuk menulis komentar agar cerita ini bisa berkembang lebih bagus lagi. Sekali lagi terima kasih sudah membaca!

Part 8 will be published October 3rd 2015

Advertisements

98 comments on “Skellington [Part 7]

  1. Whatttttt Whaatt aku makin bingung knp taeyeon bisa lupa parah gitu ya, apa jangan2 taeyeon juga skellington ,ngaco ya aku hahahahahha,, makin penasaran thooooorr huhuuuuuhuuu

  2. jangan2 pas baek kecelakaan ada tae juga? iya kan thor? aduuuhhh penasaran ihhh. taeyeon ilang ingatan gitu? atay tae skellington juga? hahhaaha
    ahhh can’t wait for the next chapter. hwaiting!!!

  3. baru sempet baca;;
    Omooo makin seruuu
    Kok taeng bener2 kaya org amnesia-_-
    Sweet bgt kaiyeon;AAAA;
    Baekhyun nekat parah-_-
    Aaaah penasaran si wheein siapaaa
    Great ah thoorrrrrr
    Next ditunggu bangettttttt

  4. si Wheein itu siapa yaa?
    dia ngaku2 kenal sma Taeyeon kali..
    trus Baekhyun? Kai? okeh dah lupakan..

    maaf ya sekarang aku jarang komen..
    hehe..
    dtunggu next chapnya, FIGHTING!!!

  5. Baru baca nih -3-
    Besok udah update kan ya? ><

    Penasaran nih sebenarnya Wheein dulu dekat sama Taeyeon?hch
    Terus yang bikin penasaran itu kalimat di akhir cerita :/

    • Hai erikakim96 😊 hehe tenang saja, besok part 8 akan keluar dan isinya adalah masa lalu Taeyeon dengan Wheein. Dan part 8 akan jadi part yang akan membuat part selanjutnya jadi lebih keren. Intinya part 8 adalah pemanasan untuk bagian cerita berikutnya yang lebih keren, so please wait for it. Love you 💜

    • Hai ziualhaq, part 8 sudah aku jadwal jam 6 malam. Sabar ya dan sebenarnya menurutku update 2 minggu sekali itu pas, nggak lama dan nggak cepat. Kamu ada saran sebaiknya berapa minggu sekali? atau berapa hari sekali? yang pasti jangan seminggu sekali ya, waktuku bisa tersisa hanya untuk fanfiction hehe. Makasih masukannya 💜

  6. Pingback: Skellington [Part 8] | All The Stories Is Taeyeon's

  7. Pingback: Skellington [Part 9] | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Skellington [Part 10] | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: Skellington [Part 11] | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: Skellington [Part 12] | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Pingback: Skellington [Part 13] | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Pingback: Skellington [Part 14] | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: Skellington [Part 15] | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: Skellington [Part 16] | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: Skellington [Part 17] | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: Skellington [Part 18] | All The Stories Is Taeyeon's

  17. Pingback: Skellington [Part 19] | All The Stories Is Taeyeon's

  18. Pingback: Skellington [Part 20] | All The Stories Is Taeyeon's

  19. Pingback: Skellington [Part 21] | All The Stories Is Taeyeon's

  20. Pingback: Skellington [Part 22] | All The Stories Is Taeyeon's

  21. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  22. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  23. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  24. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s