Love, That One Word (Chapter 8)


NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Sad

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Bae Irene

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6, Chapter 7

Preview of chapter 7

Taeyeon kembali melenguh tertahan ketika ciuman Baekhyun mulai turun menuju lehernya. Sampai bibir hangat Baekhyun berhenti di satu titik, dan Taeyeon merasakan sensasi yang sangat aneh ketika dia merasakan gigi Baekhyun menggigit lembut kulit lehernya.

Desahan tidak tertahankan keluar dari bibir gadis itu ketika Baekhyun meremas payudara miliknya. Meremasnya dengan lembut sehingga lagi-lagi membuat Taeyeon gila karena merasakan sensasi yang aneh. Dan desahannya semakin menjadi ketika sesuatu yang berada dalam celana boxer milik Baekhyun berdiri. ‘Junior’nya berdiri dan menyentuh langsung milik Taeyeon karena posisinya yang duduk di atas pria itu.

Malam itu, mereka menghabiskan waktunya dengan sangat indah. Seperti ucapan Baekhyun sebelumnya, dia tidak akan membiarkan malam ini terlewat begitu. Dan mereka bersumpah kepada diri mereka sendiri, kalau malam ini adalah malam terindah yang pernah terjadi dalam hidup mereka.

Chapter 8

The one word that you draw inside of me
The one word that is always hidden inside of me
I’m looking at you, I’m always by your side
But I can’t say the words I love you

Kicauan burung merdu terdengar sangat nyaring, bagaikan sebuah melodi kicauan itu bukannya membuat sepasang suami istri yang berada di dalam selimut itu terbangun tapi malah membuat mereka justru merapatkan tubuhnya satu sama lain. Byun Baekhyun, bahkan sampai menenggelamkan kepalanya ke pundak sang gadis, Kim Taeyeon, membuat gadis itu sedikit kegelian.

Suara alarm dari handphone sang pria berhasil membuat waktu tidur mereka terganggu. Baekhyun bahkan sempat bergumam tak jelas sambil mematikan handphone-nya itu dengan mencabut baterainya. Berbeda dengan Baekhyun yang kembali melanjutkan tidurnya dengan memeluk Taeyeon, seakan-akan gadis itu adalah boneka yang sangat berharga, Taeyeon menggeliat, mencoba melepaskan pelukan erat Baekhyun.

Sebenarnya, sejak beberapa menit yang lalu gadis itu sudah terbangun. Pelukan Baekhyun penyebabnya. Pria itu terlalu erat memeluknya sehingga membuat dia sedikit kesulitan dalam bernafas. Meskipun begitu, dia tetap diam dalam posisinya, tidak peduli jika pelukan itu bisa membuatnya mati di tempat, namun Taeyeon tidak bisa memungkiri jika pelukan erat yang membuat nafasnya sampai sesak itu sukses membuatnya juga nyaman di waktu bersamaan. Aneh bukan?

“Jangan bergerak.” Ujar Baekhyun ketika lagi-lagi Taeyeon berusaha untuk melepaskan pelukannya.

“Sebentar lagi aku akan mati, oppa.”

“Bicara apa kau ini?.” Baekhyun tertawa kecil, matanya masih terpejam. Entahlah tapi ucapan istrinya itu barusan terdengar seperti sebuah candaan. Baekhyun berfikir Taeyeon mungkin sedang bermimpi.

“Pelukanmu terlalu erat, lepaskan atau aku benar-benar akan mati, oppa.” Baekhyun membuka matanya, wajahnya sangat dekat dengan Taeyeon. Bahkan nafas gadis itu-pun mampu menyapu wajahnya. Pria itu baru sadar, bahwa dia memang memeluk Taeyeon terlalu erat, maka diapun melonggarkan pelukannya.

“Sudah bisa bernafas dengan baik?.” Tanyanya. Taeyeon menggeleng, membuat pria itu mengerutkan alis, bingung. Padahal dia sudah melonggarkan pelukannya, namun Taeyeon tetap tidak bisa bernafas dengan baik?

“Jika berada dekat dengan oppa, aku tidak akan pernah bisa bernafas dengan baik.” Sadar atau tidak Taeyeon mengucapkannya, semburat merah muncul di wajah cantiknya membuat Baekhyun tersenyum setan. “Aigoo, kata-kata apa itu? Apa kau sedang menggombal?.”

Taeyeon menunduk malu, menghindari tatapan suaminya yang terlihat seperti sedang mengejek. Apa-apaan kau ini, Taeyeon? Kau terlihat seperti wanita yang tidak tahu malu. astaga.

“Aku tidak menggombal!.” Malu sekaligus kesal, Taeyeon dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan Baekhyun lalu mendudukkan diri. Tidak sadar bahwa tubuhnya sedikitpun tidak tertutupi benang kain, bahkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya, karena dia mengubah posisinya menjadi duduk, selimut itu turun sampai ke pinggangnya.

Baekhyun memperhatikannya, mulai ketika gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk, sampai gadis itu tersentak kaget dengan keadaan tubuhnya yang telanjang. Bahkan dia sempat mendengar gadis itu berucap ‘ige mwoya?’ dengan suara nan panik. Dengan gerakan cepat gadis itu menarik selimutnya kembali untuk menutupi tubuh telanjangnya membuat Baekhyun tertawa gemas.

“Tidak usah ditutupi, aku sudah melihat semuanya, yeon. Kau tidak perlu malu.”

Jantung Taeyeon berdebar dengan sangat cepat, dia sempat merutuk dalam hati. Kenapa Baekhyun bisa berbicara dengan tenang seperti itu setelah apa yang telah terjadi semalam? Apakah dia tidak tahu kalau Taeyeon sangat malu sekarang?

Baekhyun ikut mengubah posisinya, duduk di samping gadis itu. “Aku mandi sekarang, kau tunggulah dulu sebentar, tidak akan lama kok. Kecuali kalau kau ingin cepat, kita mandi bersama saja, bagaimana?.”

Taeyeon tahu jika Baekhyun saat ini sedang menggodanya, terlihat karena pria itu juga menunjukkan senyum evil terhadapnya.

“Tidak mau! Apa-apaan kau ini oppa, cepat mandi sana.”

Baekhyun tertawa kecil, detik berikutnya dia menghapus jarak antara dirinya dengan Taeyeon. Bibirnya berhasil bertemu dengan bibir lembut milik Taeyeon, melumatnya sebentar sebelum akhirnya kembali di lepaskan. “Itu morning kiss, mulai sekarang tiap pagi kau harus memberikan morning kiss padaku, araseo?.”

Dengan wajah merona, Taeyeon menganggukan kepalanya malu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar ketika setelah Baekhyun tersenyum melihat respon Taeyeon, pria itu dengan santai turun dari ranjang. Tanpa sedikitpun malu tubuh telanjang itu berjalan menjauhi tempat tidur mereka menuju kamar mandi. Baekhyun melakukannya tanpa rasa malu sedikitpun, seolah-olah di sana hanya ada dirinya sendiri.

“Kau jangan dulu terlalu banyak bergerak, biar nanti aku yang mengantarmu ke kamar mandi. Diamlah di atas ranjang, atau kau akan kesakitan.” Samar-samar Taeyeon mendengar ucapan pria itu sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Taeyeon mengernyit. Kesakitan? Maksudnya?.

Benar-benar tidak menangkap arah ucapan suaminya, Taeyeon mengangkat bahu tidak peduli dan hendak turun dari ranjang untuk mengambil beberapa pakaian. Namun baru saja dia mengangkat sebelah kaki untuk turun, dia meringis merasakan sakit di daerah kewanitaannya. “Appo-yo.”

Kenapa sakit sekali? Baru pertama kali dia merasakan sakit di daerah kewanitaannya sampai seperti ini. Apa ini ‘kesakitan’ yang Baekhyun maksud? Taeyeon merutuk, ini pasti gara-gara tadi malam Baekhyun terlalu liar ‘bermain’ dengannya. tapi, apakah harus sesakit ini?.

Love, That One Word


Untuk yang kesekian kalinya, Taeyeon kembali merapikan rambutnya yang lagi-lagi terjatuh menutupi wajahnya karena diterpa angin yang masuk lewat jendela kaca yang terbuka. Saat ini dia sedang duduk di teras kamar hotelnya, menunggu Baekhyun yang sedang keluar menemui salah satu pelayan hotel untuk memintanya memesan taxi untuk mengantarkan mereka ke bandara. Sudah cukup lama pria itu keluar, membuat Taeyeon sedikit bosan karena sendirian.

Tak lama kemudian, telinganya mendengar suara pintu terbuka, dia menoleh dan melihat Baekhyun datang menghampirinya.

“Hey.”

“Hey.” Taeyeon menyahut seruannya. Dia berdiri dan dengan pelan dia berjalan juga mendekati Baekhyun. Rasa sakit di daerah kewanitaannya sampai saat ini masih terasa, tapi tidak seperti tadi, sekarang rasa sakit itu perlahan berkurang. “Kau tidak apa-apa? Apakah masih sakit?.”

Baekhyun bertanya dengan nada khawatir, tangan besarnya meraih wajah gadis itu, mengusapnya lembut.

“Tidak terlalu.” Jawabnya dengan wajah memerah. Meski bagaimanapun, Taeyeon tidak akan pernah tenang jika berbicara tentang hal yang berkaitan dengan tadi malam.

“Syukurlah.” Bisik Baekhyun. Dia lalu melepaskan tangannya dari wajah Taeyeon lalu merogoh sakunya berusaha untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapatkannya, dia menyodorkannya kepada Taeyeon, sebuah kotak berwarna merah muda kecil. Taeyeon mengernyit.

“Apa ini?.”

“Untukmu.” Ujar Baekhyun lalu mengambil kedua tangan Taeyeon dan menyimpan kotak itu di telapak tangannya.

Setelah itu, Baekhyun mengulurkan tangannya ke arah belakang kepala Taeyeon. Gadis itu bingung dengan apa yang akan dilakukan Baekhyun selanjutnya, sebelum akhirnya pria itu kembali menarik tangannya dengan melepaskan kalung yang sejak kecil Taeyeon selalu pakai.

“Perasaanku saja atau kalung ini memang sama dengan kalung yang Luhan pakai?.” Baekhyun bertanya, dengan nada sedikit tidak suka. “Atau lebih tepatnya, apakah kalung ini pemberian dari Luhan?.”

Taeyeon menunduk, mencoba menghindari tatapan yang Baekhyun berikan. Pria itu menghela nafas pelan. Sebenarnya, dia sudah menyadari kalung yang dipakai Luhan dan Taeyeon sama sejak Taeyeon kembali menginjakkan kakinya di rumah Seulgi. Saat itu, bahkan Baekhyun bertanya-tanya tentang siapa itu Luhan? Kenapa dia bisa berada di rumah Seulgi saat Seulgi meninggal? Hari itu adalah hari pertama dia melihatnya, bahkan dia tidak yakin jika Luhan adalah salah satu teman Seulgi karena sekalipun Seulgi tidak pernah bercerita mempunyai teman selain Lay, Chanyeol dan Irene.

“Apa kau menyukai Luhan sampai-sampai kau tidak melepaskan kalung ini? Apa kabar dengan kalung yang aku berikan waktu kau berangkat ke Jepang? Kalung yang waktu itu aku titipkan kepada paman Jung, kau menerimanya ‘kan? Tapi, kenapa kau tidak memakainya? Kau tidak menyukainya? Tidak mungkin, bahkan aku sengaja memilih kalung itu karena ada gambar minion di dalamnya, dan Seulgi bilang kalau kau sangat menyukai minion. Kalung itu, dimana sekarang, yeon?.”

Baekhyun tidak marah, dia hanya kecewa, tapi Taeyeon salah menangkap nada bicara pria itu yang terlihat seperti sedang marah.

“Tidak apa-apa jika aku melepaskannya?.” Baekhyun bertanya, kali ini dengan suara lembut. Dia menyadari perubahan raut muka Taeyeon yang seperti tengah ketakutan karenanya tadi.

Taeyeon menangguk, dia kembali mengangkat kepalanya setelah mendengar nada suara Baekhyun yang lebih lembut barusan. “Kalung pemberian oppa ada di Sooyoung, aku lupa waktu itu tidak membawanya ke Seoul. Dia akan mengembalikannya nanti jika dia sudah lulus. Maaf.”

“Tidak apa-apa, yang penting kau tidak membuangnya dan kalung itu masih ada.”

“Aku tidak akan membuangnya!.”

Baekhyun tertawa kecil melihat reaksi Taeyeon barusan. “Araseo, aku percaya kau tidak akan membuangnya, yeon.” Dia mengusap puncak rambut Taeyeon lembut.

“Oh, ya, bukalah kotak itu.” Titah Baekhyun. Taeyeon menurut, gadis itu membuka kotak yang berada di tangannya, dia sedikit tertegun melihat apa isi dari kotak itu. Lagi-lagi, Baekhyun memberinya sebuah kalung yang sangat cantik. Beda seperti kalung yang diberikan pria itu dulu, terdapat gambar minion seperti anak-anak, kali ini kalung yang dia dapat dari Baekhyun bentuknya sangat jauh dari kata kekanakkan. Kalung itu, dilihat dari bahannya yang sangat simpel namun elegan, dan terdapat berlian di tengahnya. Kalung ini pasti sangat mahal.

“Ini buatku, oppa?.”

“Menurutmu? Sini, biar aku yang pakaikan.”

Taeyeon mengangguk semangat, dia memberikan isi kotak itu kepada Baekhyun dimana pria itu menerimanya dengan sangat senang hati dan dengan perlahan tangannya kembali terulur menuju belakang leher Taeyeon, setelah sebelumnya pria itu menyampingkan rambut panjang milik Taeyeon.

“Yeppeuda. Bagaimana, kau menyukainya?.” Tanya Baekhyun, matanya tidak teralihkan dari leher gadis itu yang kini terdapat kalung indah pemberian darinya.

“Sangat menyukainya.” Taeyeon mengalungkan lengannya di leher Baekhyun dan memeluk pria itu erat. Baekhyun sempat terkejut atas perlakuan Taeyeon ini, namun sedetik berikutnya pria itu tersenyum dan membalas pelukan Taeyeon dengan memeluk pinggangnya.

“Kau ingin tahu kenapa waktu itu aku berbohong padamu dengan berkata kalau aku sedang ada urusan mendadak di kantor sehingga tidak bisa menjemputmu tepat waktu di rumah ahjumma Lee?.”

Taeyeon mengangguk dan mengangkat kepalanya menatap Baekhyun, tangannya masih setia bertengger di leher pria itu. “Beritahu aku kenapa kau berbohong.”

Baekhyun tersenyum dan mencuri satu ciuman di bibir Taeyeon, mambuat gadis itu merengut lucu.

“Teman bisnisku bilang, bahwa di Busan sedang diadakan lelang kalung peninggalan salah satu putri Inggris. Kalung itu adalah kalung yang saat ini sedang kau pakai. Dia bilang bahwa kalung ini adalah kalung pembawa keberuntungan. Dia menyarankanku untuk membelikannya untukmu, dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung membelinya, bahkan dengan harga yang sangat mahal. Kau harus tahu, di acara lelang itu bahkan ada pengusaha yang berasal dari luar negeri yang mengincar kalung ini.” Jelasnya.

Taeyeon tertegun. Di Busan? Jarak antara Seoul dan Busan lumayan jauh, apa Baekhyun pergi kesana?. “Oppa pergi ke Busan waktu itu?.”

Baekhyun mengangguk menjawabnya. “Bahkan aku sampai membatalkan meeting dengan perusahaan dari China, karena aku berangkat ke Busan pukul 9 pagi.”

Membatalkan meeting, bahkan membeli kalung dengan harga yang sangat mahal, dan semua ini Baekhyun lakukan hanya untuknya. Taeyeon rasanya ingin menangis karena terharu diperlakukan seperti ini oleh Baekhyun. “Oppa, terima kasih. Terima kasih.” Taeyeon menangis haru saat itu juga, dengan membenamkan kepalanya di dada bidang Baekhyun.

“Aku mencintaimu, oppa.”

Baekhyun tidak menjawab, dia mengangkat tangannya dan mengelus puncak rambut istrinya lembut. Sesekali dia mengecup puncak rambut itu sayang. “Kau harus menjaganya dengan baik, araseo? Aku bukan menyayangkan harganya yang sangat mahal, aku hanya benar-benar bekerja keras berangkat ke Busan waktu itu demi untuk mendapatkan kalung ini. Jadi, kau harus benar-benar menjaganya.”

Taeyeon mengangguk dalam tangisan harunya. Beberapa kali mulutnya mengeluarkan ucapan ‘terima kasih’ pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Dia berharap ingin seperti ini seterusnya, bersama Baekhyun dengan dikelilingi oleh kebahagiaan. Dia berdo’a, dan berdo’a agar Tuhan mau mengabulkan permintaannya.

Love, That One Word

“Pastikan kau tidak pergi kemana-mana sampai aku menjemputmu nanti sore, araseo?.”

Baekhyun mencium dahi Taeyeon lembut, membuat gadis itu sedikit salah tingkah karena Baekhyun melakukannya tepat di depan pintu masuk Coffee Shop milik Jongin. Memang tidak terlalu banyak orang di sekitarnya, namun tetap saja dia malu. Apalagi ketika matanya tidak sengaja menangkap sepasang suami istri yang usianya sudah berumur, tersenyum kearah mereka.

“Araseo, oppa. Hati-hati di jalan.” Gadis itu melambaikan tangan ke arah Baekhyun yang juga membalas lambaian tangannya. Dia memperhatikan suaminya yang berjalan menjauh menuju mobilnya. Setelah memastikan mobil Baekhyun pergi, dia berbalik, berniat untuk masuk ke dalam coffee shop. Namun belum sepenuhnya tubuh kecil itu berbalik, sepasang tangan terlebih dahulu menghentikannya. Sepasang tangan perempuan yang bahkan dengan satu kali lihatpun Taeyeon sudah mengetahui milik siapa itu. Kwon Yuri.

“Taeng-ah, i miss you.” Yuri berucap layaknya seorang kekasih kepada pasangannya, tubuhnya dia goyang ke kanan dan ke kiri membuat gadis dengan tubuh lebih kecil darinya itu sedikit hilang keseimbangan.

“Yakk, Kwon, lepaskan pelukanmu. Kau membuatku malu.” Ujar Taeyeon sambil berusaha melepaskan pelukan Yuri yang sangat erat mendekap tubuhnya.

“Hanya dengan pelukan kau malu, tapi dengan ini.”

Chu.

Yuri dengan mengejutkan mengecup dahi Taeyeon membuat gadis itu hampir saja meneriakinya. Oh ayolah, mungkin jika orang melihat mereka, orang itu akan berpikir kalau Yuri dan Taeyeon itu adalah sepasang lesbi.

“Kau dicium Baekhyun di depan orang tidak malu.”

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya lucu. “Kau melihatnya, Yul?.”

“Menurutmu?.” Gadis dengan marga Kwon itu menaik-naikkan alisnya, menggoda.

“Aishh, sungguh memalukan.”

“Ya, sangat memalukan, nona Byun.” Ujar Yuri dengan menekankan marga baru yang di sandang teman kecilnya itu. Dia melepaskan pelukannya, dan berjalan mundur dua langkah dengan mata memicing. “Kau berhutang padaku Byun.”

“Berhutang? Berhutang apa?.” Tanya Taeyeon kebingungan. Namun sedetik kemudian ekspresi bingung itu berubah menjadi terkejut. “Omo!! Hadiahmu tertinggal di apartemenku, Yul. Mianhae aku tidak sempat membawanya. Bahkan hadiah milik Jongin oppa dan Luhan oppa juga tidak kubawa. Aishh.” Hadiah, atau mungkin lebih tepatnya oleh-oleh yang Taeyeon beli di Koh Samui untuk diberikan kepada para sahabat kecilnya.

“Bukan itu.” Geram Yuri, matanya semakin memicing, dan tangannya dia letakan di depan dada.

“Lalu apa?.”

“Kau tidak bilang kalau kau sudah pulang dari bulan madumu satu minggu yang lalu.” Ujar Yuri. “Aku tahu dari Boa Eonni, astaga Byun Taeyeon, apa kau sudah melupakanku sampai-sampai ketika kau di sana tidak mengabariku dan ketika kau pulang juga tidak memberitahuku.” Sungutnya.

Taeyeon nyengir malu dan merasa sedikit bersalah. “Mianhae, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku tidak melupakanmu, mana mungkin aku bisa melupakan teman terbaik, sahabat terbaik Kwon Yuri ini. Di sana tidak ada sinyal, dan aku tidak membeli kartu lokal.” Jelasnya. Dia sedikit merajuk karena dia yakin Yuri kesal padanya.

“Lupakan soal itu. Aku tidak tahu apa kau jujur atau berbohong menjelaskannya, tapi aku merasa alasan kau tidak mengabariku di sana karena kau terlalu sibuk berduaan dengan Baekhyun, iya ‘kan?.”

Seketika kedua pipi Taeyeon merona mendengar ucapan Yuri. Dia tidak berbohong mengenai tidak membeli kartu lokal, namun ucapan Yuri ada benarnya juga. Dia terlalu sibuk berdua dengan Baekhyun, menghabiskan waktu bersama suaminya itu sehingga dia sedikit melupakan keberadaan sahabatnya yang berada di Seoul. Namun dia tidak sepenuhnya lupa, buktinya dia membeli oleh-oleh untuk mereka. Ya, meskipun oleh-oleh itu tertinggal dia apartemennya. Tunggu, apartemennya? Maksudnya apartemen Baekhyun.

“Aku sakit hati.” Yuri mengubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut, hanya bercanada namun berhasil membuat gadis didepannya semakin merasa bersalah.

“Mianhae.”

Yuri tertawa kecil dan merangkul tubuh yang lebih pendek darinya itu gemas. “Aku hanya bercanda. Hehe. ayo ke dalam, aku tidak sabar mendengar ceritamu.” Ajak Yuri. Tubuhnya dengan paksa menyeret tubuh Taeyeon yang sedang kebingungan.

“Cerita apa yul? Bukankah aku datang ke sini untuk mendengarmu bercerita? Kenapa malah kau yang memintaku untuk bercerita?.”

“Cerita tentang bulan madumu. Aku ingin tahu apa saja yang terjadi di sana.” Serunya. Dia mendudukkan Taeyeon di salah satu kursi dekat jendela, lalu dirinya duduk dihadapan Taeyeon. Kedua tangannya ia gunakan untuk menopang dagunya. “Malhaebwa.”

Taeyeon menghela napas, dia terlalu mengetahui bagaimana sifat Yuri. Teman kecilnya itu tidak akan berhenti meminta jika apa yang diinginkannya tidak terkabul, dan saat ini yang dia inginkan adalah cerita tentang bulan madu Taeyeon dengan Baekhyun. Heol. Apakah harus diceritakan?

Love, That One Word

“Baekhyun-nim.”

Saat hendak Baekhyun memasuki mobilnya, seorang perempuan cantik dengan setelan jas kantoran dan rambut digelung menyerukan namanya. Mau tak mau membuat pria yang wajahnya sangat menunjukkan rasa capek itu menghentikan niatnya memasuki mobil.

“Nde, Irene-ssi, ada apa? Apakah yang aku katakan di ruangan tadi masih kurang kau fahami?.” Tanya Baekhyun to the point saat membalikkan tubuhnya menghadap Irene yang tengah mengatur nafas. “Bagian mana yang belum kau fahami?.”

Selalu seperti ini. Jika sang Direktur muda tengah dilanda capek karena banyaknya pekerjaan yang harus dia tangani, sifat dingin dan ketusnya semakin menjadi. Namun, Irene seakan biasa saja menghadapinya, mungkin sudah terbiasa dengan sifat Baekhyun itu. Bagaimana tidak, dia sudah menjadi asisten seorang Baekhyun selama kurang lebih tiga tahun. Lagipula dia hanya seperti ini ketika sedang bekerja saja, di luar itu, hubungan Irene dan Baekhyun cukup dekat.

“Aniyo, Baekhyun-nim, maaf jika aku kurang sopan berteriak tadi. Aku hanya ingin bertanya, soal makalah yang harus kubuat itu, makalah itu untuk persentasi besok, ‘kan?.”

“Kau sudah tahu jawabannya, kenapa kembali bertanya? Apa kau tidak bisa menyelesaikan makalahnya hari ini?.”

Irene menggeleng cepat, menyangkal ucapan Baekhyun. Astaga, pria ini kenapa tempramen sekali?.

“Aku bahkan dalam satu jam bisa mengerjakannya, Baekhyun-nim.”

“Lalu?.”

“Makalah itu untuk persentasimu besok, dan rapatnya dimulai pagi sekali. Bukankah sebelum persentasi Baekhyun-nim juga perlu mempelajari makalahnya dulu?.”

Baekhyun berfikir sebentar setelah mendengarkan ucapan Irene. Benar juga, percuma jika Irene berhasil membereskan makalahnya hari ini jika dia tidak mempelajarinya untuk persiapan besok. Hari ini Baekhyun terlalu disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang sempat tertinggal selama hampir dua minggu. Beberapa dokumen yang harus dia tanda tangani, dan beberapa rapat dengan perusahaan lain yang juga dia pending karena bulan madunya dengan Taeyeon.

Bahkan sekarang-pun, dia harus segera pergi ke kawasan Gangnam, seorang rekan kerjanya yang berasal dari Jepang memintanya bertemu untuk membicarakan proyek kerjasama perusahaan Byun dan Huan Corp.

“Jika kau beres membuat makalahnya hari ini, kau bisa langsung mengantarkannya ke apartemenku. Aku tidak akan pulang sampai malam, tapi di sana ada istriku. Kau bisa memberikan makalah itu padanya.”

Irene berdesis dalam hati. Mendengar Baekhyun menyebut ‘istri’ yang dia yakin ditujukan pada Taeyeon membuatnya sedikit risih. Secepat itukah perkembangan hubungan antara Baekhyun dan Taeyeon, huh?. Atau itu hanya akting saja?

“Araseo, Baekhyun-nim. Secepatnya aku akan membereskan makalah yang kau minta dan mengantarnya langsung ke apartemenmu. Saat ini dia pasti sedang berada di sana ‘kan?.”

“Aku rasa dia masih bersama temannya, dia akan berada di apartemen pukul tiga sore.” Jawab Baekhyun. Ketika dia memberitahu Taeyeon jika dia tidak akan bisa menjemputnya sore nanti, dia meminta istrinya itu untuk di antar Yuri pulang pukul dua siang. Namun, Taeyeon yang mungkin terlalu merindukan temannya meminta waktu lebih lama lagi agar bisa bersama dengan mereka.

Ini jauh dari perkiraan Irene. Dia pikir dia akan diajak oleh Baekhyun ke Gangnam, mengerjakan makalah di dalam mobil tidak apa-apa, asalkan berdua bersama Baekhyun. Namun perkiraannya salah, Baekhyun malah menyuruhnya mengantarkan makalah itu dan memberikannya kepada ‘istri’ Baekhyun.

“Baiklah, Baekhyun-nim, sekali lagi maaf telah mengganggu waktumu.”

“Tidak apa-apa, salahku sendiri karena tidak terlalu jelas memberitahumu tadi.”

Irene membungkukkan tubuhnya hormat, sebelum akhirnya gadis itu berbalik dan kembali memasuki gedung Perusahaan Byun. Dia menggeram, sepertinya dia harus bertindak lebih cepat karena sepertinya hubungan Baekhyun dan Taeyeon baik-baik saja dan jauh dari perkiraannya jika hubungan mereka jauh dari kata baik-baik saja. Dia tidak mengira ini akan terjadi. “Kim Taeyeon siap-siap kau.”

Love, That One Word

Yuri dan Taeyeon baru saja menyelesaikan makan siangnya di salah satu ruangan khusus yang biasa digunakan Jongin untuk bersantai di Shopnya. Tadi tepat setelah Jongin mendapati kedua teman kecilnya itu duduk berdua di salah satu kursi pelanggan, pria itu langsung menyuruh mereka untuk menggunakan ruangannya saja agar mereka lebih leluasa.

Dia sempat marah kepada Taeyeon dan juga Yuri, karena mampir ke Shop-nya tanpa memberitahu terlebih dahulu. Namun seperti biasa, marahnya tidak bertahan lama karena dia memang tidak akan bisa marah terlalu marah kepada mereka. Bahkan ketika Taeyeon dan Yuri asik mengobrol, Jongin pergi meninggalkan mereka untuk mencari makan siang.

“Kalian melakukan ‘itu’ di malam terakhir kalian? Astaga astaga, you’re not kid anymore Tae~.”

Meskipun malu, tapi Taeyeon tetap menceritakan tentang bulan madunya kepada Yuri, bahkan tentang Luhan-pun tidak lupa dia ceritakan. Yuri merasa sedikit kasihan dengan Luhan, dia tahu jika Taeyeon maupun Luhan saling sayang sejak dari kecil, tapi menghilangnya Luhan dan dengan datangnya Baekhyun ke kehidupan Kim Taeyeon mampu membuat rasa sayang yang awalnya hanya Taeyeon rasa untuk Luhan perlahan berpaling.

“Bisakah kau mengecilkan volume suaramu? Bagaimana jika Jongin oppa mendengar.” Taeyeon menatap Yuri kesal yang dimana dibalas dengan cekikikan oleh gadis itu.

“Tenang saja, Jongin oppa tidak akan mendengar, dia ‘kan sedang sibuk di depan karena hari ini pelanggannya sangat banyak.” Ujar Yuri. Dia membereskan bungkus makanan yang telah habis isinya dan menyimpannya ke dalam kantong keresek putih yang tadi digunakan sebagai kantong dari makanan itu.

“Bagaimana dengan Luhan oppa, Tae?.”

“Bagaimana apanya?.” Taeyeon menatap Yuri bingung, tidak mengerti dengan maksud pertanyaan yang di lontarkan oleh Yuri.

“Apa kau sudah menghubunginya?.”

Taeyeon menggeleng pelan, helaan nafas keluar dari mulutnya. “Terakhir kita berkomunikasi waktu aku masih di Koh Samui. Waktu aku membalas email-nya, oppa tidak kunjung membalasnya lagi.”

“Mungkin Luhan oppa sakit hati, Tae.”

Ucapan Yuri itu semakin membuat hati Taeyeon tidak enak. Luhan sakit hati? Karenanya?. “Tapi aku sudah membalas emailnya baik-baik, Yul. Aku berbicara jujur padanya, karena jika aku berbicara tidak jujur bukankah itu malah akan menyakitinya?.”

Yuri mengangguk setuju, apa yang dikatakan Taeyeon benar. Jika Taeyeon berbohong, dia akan seolah memberikan harapan palsu kepada Luhan. “Aku mendengar percakapan Jongin oppa dan Luhan oppa sebelum kau menikah dengan Baekhyun.” Ujar Yuri serius membuat Taeyeon mengerutkan kening penasaran. “Apa yang mereka bicarakan?.”

“Luhan oppa bilang pada Jongin oppa, jika dia sengaja ke Korea hanya untuk mencarimu.”

Benarkah? Pria itu sengaja ke Korea hanya untuk mencarinya?

“Oh ya, apa kalian pernah berjanji waktu kecil jika ketika kalian sudah besar nanti, kalian akan menikah?.”

Taeyeon mengangguk lemah menjawab pertanyaan Yuri. Memorinya kembali berputar ke belakang, bayangan-bayangan saat dia bersama Luhan di depan rumahnya dan mereka membuat janji kembali dia ingat. Taeyeon telah mengingkari janji itu, padahal dulu dia sendiri yang tidak sabar menantikan untuk mereka segera beranjak dewasa. Bukankah ini keterlaluan?.

“Luhan oppa juga mengungkitnya, waktu itu dia mabuk di rumah Jongin oppa dan yang lebih parahnya dia juga menangis, Tae.” Lanjut Yuri. Taeyeon merasakan dadanya sesak, dia menganggap dirinya sendiri kejam. Kejam karena telah mengingkari janji, kejam karena telah membuat seorang pria yang dulu sangat dia sayangi menangis karena dirinya sendiri.

“Kau jangan merasa bersalah begitu, Tae. Aku memang kasihan melihat Luhan oppa waktu itu, tapi setelah tahu kalau kau mempunyai perasaan khusus terhadap Baekhyun, dari pada memaksakan kau dan Luhan untuk bersama dan Luhan akan sakit hati, lebih baik kau bersama Baekhyun. Ya, meskipun Luhan tetap sakit hati, tapi dari pada membohonginya, lebih baik jujur ‘kan.” Yuri mencoba menenangkan Taeyeon, dia bisa melihat kegelisahan yang terpancar dari raut muka sahabatnya itu. “Sekarang aku tanya, dan kau harus menjawab dengan jujur. Kau mencintai Luhan oppa atau Baekhyun?.” Tanya Yuri, tangannya memegang tangan Taeyeon yang entah kapan sudah dingin.

Tidak perlu waktu lama untuk Taeyeon menjawab, karena meskipun dia tidak memikirkan untuk menjawab apa, jawaban itu akan langsung tertulis dalam otaknya. “Baekhyun oppa.”

Ya, dia lebih memilih Baekhyun, pria yang baru saja masuk dalam kehidupannya dibandingkan Luhan, pria yang sudah sejak dari kecil dia kenal. Mereka terlarut dalam perbincangan mereka, sehingga mereka tidak sadar bahwa percakapan mereka berdua itu di dengar oleh orang lain, di balik pintu itu, dimana saat ini orang itu memegang dadanya yang seperti ditusuk oleh pisau yang sangat tajam. Sangat sakit.

Pintu ruangan yang mereka tempati sedikit terbuka, sehingga memungkinkan orang itu mendengar apa saja yang telah dibicarakan oleh Yuri dan Taeyeon.

“Ceritaku selesai. Sekarang giliranmu, apa yang kau ingin ceritakan padaku? Bukankah katamu ada hal penting yang ingin kau bicarakan?.”

“Umm, ini tentang Chanyeol.”

Taeyeon mengerutkan alis, Chanyeol?

“Selama kau pergi bulan madu, aku sudah 3 kali bertemu dan jalan bersama dengannya.”

Jalan bersama? Tunggu, Taeyeon masih ingat, setahunya Chanyeol itu adalah mantan kekasih Yuri. Dan Yuri sangat membenci Chanyeol karena pria itu adalah pria pertama dan terakhir yang mempermainkan cinta tulus Yuri. Bahkan saat Yuri menceritakan tentang hal itu, dia sampai menyumpahi Chanyeol. Tapi, mereka kembali jalan bersama? Sangat tidak dapat dipercaya.

“Kau memakan ucapanmu sendiri Yul, bukankah kau sangat membenci Chanyeol?.” Tanya Taeyeon penuh selidik, dia menatap Yuri dengan penuh rasa penasaran.

“Tunggu dulu, apa kau berfikir jika aku dan Chanyeol pacaran?.”

“Memangnya dengan kau bilang ‘aku sudah 3 kali bertemu dan jalan bersamanya’, itu maksudnya apa?.”

“Kita hanya bertemu dan mengobrol, kita tidak pacaran Tae. Grr.” Yuri menyenngol lengan Taeyeon pelan.

“Kukira ‘jalan bersama’ itu pacaran, lagipula kata-katamu itu ambigu, Yul. Haha.” Taeyeon tertawa kecil, membuatnya kembali di senggol kesal oleh Yuri.

“Dia bilang maaf, dan dia bilang kalau dirinya masih mencintaiku.”

“Mwo?! Terus, apa yang kau katakan padanya?.” chanyeol tidak sedang mengerjai Yuri ‘kan?.

“Aku tidak langsung menjawabnya, kau tahu ‘kan aku sangat tidak menyukainya. Aku juga tidak percaya dengan semua omongannya. Bisa jadi dia ingin kembali mempermainkanku ‘kan?.”

Taeyeon mengangguk setuju, di dalam hati dia bersyukur jika Yuri tidak terbuai dengan omongan Chanyeol. Taeyeon tahu, meskipun Yuri sangat tidak menyukai Chanyeol, tapi Yuri pernah bilang padanya kalau dia susah sekali move on dari Chanyeol.

“Kenapa Luhan pergi cepat sekali?.”

Taeyeon dan Yuri menoleh ke sumber suara, seorang laki-laki yang terlihat jelas kelelahan di raut wajahnya mengambil tempat duduk di samping Yuri.

“Luhan oppa?.” Tanya Taeyeon bingung.

“Memangnya tadi dia ke sini?.” Kali ini Yuri yang bertanya, perasaannya mulai sedikit tidak enak. Sudut matanya melirik Taeyeon, seolah mengirim sinyal apakah Taeyeon juga merasakan apa yang sedang dia rasakan sekarang.

“Iya, tadi dia ke sini. Katanya ingin bertemu Taeyeon, tapi baru beberapa menit dia sudah keluar. Ketika oppa bertanya pada Luhan, dia tidak menjawab. Apa terjadi sesuatu?.”

Taeyeon menunduk, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran negatif mengenai Luhan. Apakah Luhan mendengar percakapannya dengan Yuri tadi? Karena itulah dia pergi bahkan Jongin bertanya ‘pun Luhan tidak menjawab. Apakah Luhan marah?.

“Hey, kenapa kalian malah melamun.” Tegur Jongin pada dua gadis yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya itu.

“Emm, oppa, mengkin Luhan oppa sedang ada urusan mendadak?. Tadi juga aku tidak melihatnya masuk ke sini.” Ujar Yuri kaku, namun dia menghela nafas lega ketika melihat Jongin menganggukkan kepalanya, seolah pria itu percaya dengan apa yang di ucapkan Yuri.

“Aishh, dasar pria itu, bukankah dia merindukan uri Taeyeon?.” Gumam Jongin, membuat Taeyeon semakin menundukan kepalanya merasa bersalah. ‘Luhan oppa, mianhae.”

Love, That One Word

Taeyeon mengerutkan kening penasaran, ketika dirinya keluar dari lift apartemen, dia mendapati seorang perempuan berdiri bersender di samping pintu apartemennya dan Baekhyun. Dia tidak bisa mengenali perempuan itu, rambut panjang bergelombang milik perempuan itu menghalangi wajahnya.

Namun seiring berjalan mendekatnya Taeyeon ke arah pintu apartemen, kepala perempuan itu sedikit demi sedikit terangkat. Wajah yang tadinya terhalang oleh rambut panjang mulai terlihat seiring perempuan itu menyampirkannya di belakang telinga. Bae Irene. Apa yang sedang dilakukannya di sini?.

“Darimana saja kau? Pukul lima kau baru pulang? Bukankah Baekhyun menyuruhmu untuk pulang pukul tiga?.” Perempuan itu, Irene bertanya dengan nada suara sarkastik. Dia menegakkan tubuh yang tadi sempat menyender ke dinding dan matanya menatap Taeyeon tidak suka.

Di sisi lain, Taeyeon juga merasa tidak enak. Ditatap seolah dia adalah seorang narapidana oleh perempuan yang berdiri di hadapannya itu.

“Seorang istri, harus menurut dengan apa yang dikatakan suaminya. Kau benar-benar istri yang buruk, Kim Taeyeon.”

Taeyeon menggertakan giginya tidak tahu harus menjawab apa. Irene memang benar, dan dia yang salah. Sudah seharusnya dia pulang pukul tiga, tapi dia terlarut dalam obrolannya tadi bersama Jongin dan Yuri, terlebih tadi dia tidak hentinya memaksa Jongin dan Yuri untuk mengajarinya memasak. Meskipun pada awalnya mereka menolak, tapi untung pada akhirnya mereka mau membantunya juga.

“Irene-ssi, jika aku ada urusan mendadak, apakah aku tidak boleh menanganinya dulu?.” Tantang Taeyeon, dia tidak suka bagaimana cara Irene menatap seolah merendahkannya.

“Apa kau sudah meminta ijin pada Baekhyun?.”

Taeyeon diam, Irene kembali menyerangnya dengan pertanyaan yang sudah pasti membuatnya kalah. Taeyeon tidak meminta ijin pada Baekhyun.

“Aku rasa tanpa kau menjawabpun aku sudah tahu jawabannya. Asal kau tahu, apa yang kau lakukan itu sangat salah, Kim Taeyeon. Apa kau tidak menganggap Baekhyun itu suamimu? Asal kau tahu, apapun yang seorang istri lakukan, dia harus memberitahu suaminya, bahkan hal kecil sekalipun. Kau benar-benar payah.”

Taeyeon membuang muka, sedikit risih dengan tatapan tajam yang di berikan oleh Irene. Bisakah dia tidak menatapnya seperti itu?

“Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini, Irene-ssi? Apa ada sesuatu yang kau inginkan?.” Tanyanya dengan nada suara dibuat setenang mungkin.

Terdengar desahan kasar keluar dari mulut Irene sebelum akhirnya Taeyeon melihat perempuan itu menyilangkan kedua tangan didadanya. “Seperti inikah kau memperlakukan tamu? Alangkah lebih baik jika kau menyuruh tamu untuk masuk dari pada membiarkan tamu-mu ini berdiri di luar.”

Awalnya Taeyeon ragu, namun pada akhirnya diapun menekan password apartemen dan membukanya. Lalu dia mempersilahkan Irene untuk masuk.

Dia menuntun Irene menuju ruang tengah, tempat dimana biasanya tamu berkunjung. Irene duduk tanpa di suruh, lalu dengan arogannya dia memanggil naman Taeyeon.

“Tolong buatkan aku minuman, apa saja asal minuman itu dingin. Aku ingin mendinginkan tenggorokanku yang panas akibat berbicara tadi padamu.”

Irene mengangkat alisnya ketika dia mendapati Taeyeon tetap dalam posisinya, berdiri di depan kursi yang dia duduki. “Apa kau dengar permintaan tamu-mu, Kim Taeyeon?.”

“Araseo, tunggulah di sini.”

Dengan langkah yang sangat berat Taeyeon-pun berjalan menuju dapur. Awal Irene memasuki apartemen, Taeyeon memang sudah berniat akan membuatkannya minum, namun sedikit dia urungkan ketika mendengar nada memerintah dan sindiran yang di berikan oleh Irene tadi padanya. kalau tenggorokannya panas, kenapa dia terus berbicara?. Cih.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, Taeyeon sudah kembali dengan tangan kanan membawa segelas minuman dingin yang terlihat segar di mata Irene. Tanpa sepatah katapun dia meletakannya di atas meja tepat di depan Irene. Irene mengambilnya, dan dalam gerakan cepat dia meminum setengah dari isinya.

“Apa kau perlu sesuatu, Irene-ssi?.” Tanya Taeyeon, perasaannya sedikit tidak enak. Ayolah, apa alasan Irene datang ke apartemennya kalau bukan untuk bertemu dengannya? Tidak mungkin alasannya untuk bertemu Baekhyun karena seharusnya Irene sebagai sekretarisnya tahu jika Baekhyun sedang ada keperluan bisnis.

“Oh, ini.” Irene mengeluarkan satu buah map berwarna merah dan memberikannya kepada Taeyeon. “Berikan ini pada Baekhyun, isinya tentang materi yang akan dia persentasikan besok di rapat perusahaan.”

Taeyeon mengambilnya, dan tanpa membukanya dia menyimpan langsung map itu di samping kursi yang didudukinya. “Baiklah, terima kasih sudah mau mengantarkannya ke sini.”

“Tentu saja, aku akan melakukan apapun yang Baekhyun katakan, termasuk mengantar makalah itu ke sini sekaligus bertemu dengan orang yang paling tidak ingin aku temui. Kau tahu, cintaku padanya terlalu besar, jadi untuk menolak permintaannya itu sangat sulit. Aku terpaksa meskipun harus bertemu denganmu. Kau tahu, demi Baekhyun.”

“Sebenarnya apa masalahmu denganku Eonni, kenapa kau begitu membenciku?.” Untuk yang pertama kalinya, hari ini Taeyeon kembali memanggil Irene dengan sebutan Eonni. Entahlah, memanggilnya Irene-sii sungguh canggung baginya, apalagi faktanya dulu mereka sempat dekat, meskipun tidak lama karena tiba-tiba sifat Irene padanya berubah.

“Apakah perkataanku waktu itu belum bisa kau mengerti, Taeyeon? Bukankah kau anak pintar, kata-kata seperti itu-pun masih kau tidak mengerti.”

Bukan tidak mengerti, dia sungguh sangat mengerti. Tapi, apakah hanya karena itu mampu membuat Irene membencinya sampai seperti ini?

“Eonni, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Ujar Taeyeon. “Bukankah Eonni marah karena dulu Seulgi Eonni lebih mementingkanku dari pada Eonni? Bukankah itu Eonni cemburu dan bisa disimpulkan kalau Eonni benar-benar menyayangi Seulgi Eonni sebagai sahabat, atau mungkin lebih. Tapi apa maksud Eonni beberapa minggu yang lalu dengan perkataan ‘sangat bahagia mendengar berita bahwa Seulgi meninggal?.” Inilah hal yang membuat Taeyeon bingung, pertanyaan yang tidak pernah bisa dia tebak sendiri jawabannya.

“Karena aku mencintai Baekhyun, sejak saat itulah aku mulai tidak menyukai Seulgi. Aku sempat penasaran, kenapa Baekhyun mencintai Seulgi padahal jelas aku lebih cantik dari pada dia.”

Taeyeon menggeleng tidak percaya, dia pikir Irene itu adalah perempuan dewasa, tapi ternyata pemikiran dia tidak jauh seperti anak kecil.

“Eonni, apa kau telah dibutakan oleh cinta? Cinta itu tulus, bukan karena orang yang kita cintai itu cantik atau tampan.” Entah apa yang merasuki Taeyeon sehingga dia berani berbicara seperti itu pada Irene, yang pasti mendengar Irene menjelekkan kakaknya membuatnya sangat marah.

Irene menaikkan alis sedikit tersinggung oleh ucapan Taeyeon, namun dalam hati sedikit senang karena dia yakin usahanya akan berhasil hari ini.

“Aku tahu, tapi ayolah, Seulgi dan aku jika dibandingkan justru aku lebih unggul. Mungkin Baekhyun terlalu buta, lihatlah bahkan sekarang dia mulai tertarik kepada orang yang salah sepertimu.” Ujar Irene tenang. “Anak kecil, anak manja, kau tahu sifatmu itu sangat kekanak-kanakkan. Mungkin Baekhyun diam saja melihat tingkahmu seperti itu, tapi, siapa yang tahu sebenarnya seperti apa. Dia mungkin tidak tega menegurmu karena kau anak kecil yang jika dia tegur pasti kau menangis.”

Irene kembali mengambil gelas yang berisi air yang tadi di berikan Taeyeon lalu meneguknya sedikit. “Dan yang lebih parah, Baekhyun mulai tertarik pada orang yang justru telah membuat hubungan Seulgi dan kedua orangtua-nya menjauh. Itu kau, kau telah menghancurkan keluarga Seulgi secara tidak sadar Kim Taeyeon. Coba kau fikir, jika kau tidak masuk ke dalam kehidupan Seulgi dan keluarganya, mungkin sekarang mereka hidup bahagia. Seulgi tidak akan mati, orang tua-nya tidak akan dipenjara!.”

Tidak, itu bukan sepenuhnya kesalahan Taeyeon. Irene mungkin tidak tahu keseluruhan apa yang telah terjadi. Irene mungkin tidak tahu jika orangtua kandung Taeyeon meninggal karena dibunuh oleh orang tua Seulgi. Irene tidak tahu, makanya dia berbicara seakan-akan Taeyeon adalah dalang dari semua kesalahan ini. Lagipula bukan keinginannya tinggal bersama keluarga Park, dari awal dia memang sudah menolak dan lebih memilih tinggal bersama ahjumma Lee, namun eomma dan appa Park meyakinkan Taeyeon jika dia tinggal bersama mereka, dia akan bahagia dan merasakan kembali kehangatan keluarga yang sebelumnya sempat hilang.

“Jangan berbicara yang tidak-tidak Irene-ssi, semua yang kau katakan itu tidak benar!.”

“Jangan menyangkalnya Kim Taeyeon, aku sudah tahu semuanya, aku-.”

“KAU TIDAK MENGETAHUI SEMUANYA, IRENE.”

Irene menautkan alis mulai tertarik karena sekarang Taeyeon berteriak seraya berdiri dari duduknya. Kau terperangkap, Kim Taeyeon.

“Kau mulai berani sekarang, ya?.” Irene berdiri dan berjalan mendekati Taeyeon dengan gelas masih ditangannya.”Itu fakta, Taeyeon, tapi aku bersyukur setidaknya lawanku sekarang tidak sekuat Seulgi, terima kasih karena telah menyingkirkan Seulgi, dan sekarang saatnya aku menyingkirkanmu.”

Taeyeon menggepalkan tangannya kuat, ingin rasanya tangan itu menampar mulut Irene yang berbicara seenaknya, namun dia masih bisa menahan diri, tidak baik jika melawan dengan kekerasan.

“Jika kau sudah tidak punya urusan lain, silahkan pergi dari sini Irene-ssi, aku akan membukakan pintunya untukmu.”

“Aku masih ada urusan denganmu, Taeyeon, jangan terlalu terburu-buru mengusirku begitu.”

Taeyeon berhenti, dia kembali berbalik menghadap Irene tanpa ekspresi. “Apa lagi?.”

“Tinggalkan Baekhyun.”

Tinggalkan Baekhyun. Tinggalkan Baekhyun. Apa Taeyeon salah dengar? Dia tertawa kecil. “Irene-ssi, aku menyuruhku untuk meninggalkan suamiku sendiri? Tidak akan. Kau harus sadar Eonni, Baekhyun oppa sudah menikah, dia sudah menjadi miliku, berhentilah berharap karena aku yakin Baekhyun oppa tidak akan pernah melirikmu lebih dari sebatas ‘sekretaris’.”

PRANK!!

Terdengar suara pecahan gelas di ruang tengah yang sepi itu. Mata Taeyeon bergetar ketika dia melihat bagaimana marahnya Irene saat ini, gelas yang sebelumnya berada di dalam genggaman tangan Irene sekarang sudah hancur berkeping-keping di lantai, Irene melemparnya cukup keras.

Apakah perkataan Taeyeon berlebihan? Ayolah, kata-kata Irene lebih kejam dari pada kata-katanya.

“Jangan kau berani berbicara seperti itu, Kim Taeyeon. Hidup itu berputar, lihatlah bagaimana akhirnya nanti.” Gertak Irene, dia maju mendekati Taeyeon dan mendorong tubuh itu cukup keras, sampai akhirnya dia terjatuh dan sikut yang menjadi penahannya terkena pecahan-pecahan beling.

Terdengar sedikit rintihan kecil keluar dari mulut Taeyeon, matanya memanas tidak percaya. Kenapa Irene begitu tega padanya?

“Apa? Sakit? Itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang aku rasakan. Kau ingin menangis? Silahkan, kau ingin mengadu pada Baekhyun? Silahkan, berarti kau benar-benar anak kecil jika melakukan hal-hal itu.” Irene kembali mendekati kursi yang tadi dia duduki, lalu mengambil tas-nya.”

“Aku benar-benar tidak bermain dengan ucapanku, aku akan membuat Baekhyun berpaling padaku, Kim Taeyeon!.” Setelah berucap seperti itu, Irene-pun melenggang pergi keluar dari apartemen Baekhyun, meninggalkan Taeyeon yang tengah merenung dan menahan rasa sakit yang dirasakannya.

Love, That One Word

Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Baekhyun memasuki apartemennya dengan perasaan lelah. Bagaimana tidak, seharian penuh ini dia tidak hentinya bertemu dengan para rekan kerjanya mengurusi pekerjaan yang selama satu minggu ini terabaikan. Dia bahkan berniat bermalam di salah satu hotel di Gangnam karena terlalu capek untuk mengemudi, namun dia ingat di apartemen Taeyeon sendiri jadi dia melawan rasa lelahnya itu demi istrinya.

Baekhyun berjalan menuju dapur berniat mengambil air, namun sesuatu menarik perhatiannya. Dia melewati tong sampah kecil di samping pintu, dan di dalamnya terdapat beberapa pecahan beling yang begitu saja di masukan tanpa terlebih dahulu dibungkus plastik.

“Taeyeon.”

Haus yang dirasakan sebelumnya tiba-tiba menghilang, pikirannya langsung tertuju pada istrinya. Pikiran negatif. Apakah Taeyeon baik-baik saja?.

Sampai di depan pintu kamar mereka, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi Baekhyun membukanya cepat. Meskipun hanya lampu di samping tempat tidur yang menyala, dia masih dengan jelas bisa melihat Taeyeon yang sedang tertidur lelap. Perlahan, dia berjalan mendekati sosok yang sedang tertidur itu dan duduk di ujung tempat tidur.

Tangannya terangkat dan mengusap lembut rambut Taeyeon. Tidak ada respon, diapun menidurkan dirinya tepat di samping Taeyeon dan memeluk istrinya itu erat. Perlahan kelopak mata indah milik istrinya itu terbuka, tidak sepenuhnya karena mungkin gadis itu terlalu mengantuk.

“Oppa sudah pulang.”

Baekhyun mengangguk dan mencium kening Taeyeon. “Eoh, kau tidak apa-apa? Tadi aku melihat pecahan beling di tong sampah. Ada apa? Apa kau terluka?.”

Taeyeon menggeleng lalu tersenyum lembut, membuat kepanikan yang sebelumnya melanda Baekhyun hilang. “Aniyo, aku tadi tidak sengaja menyenggolnya di dapur. Aku tidak apa-apa, oppa.”

“Ganti bajulah dulu jika oppa ingin tidur, bajumu bau sekali.” Taeyeon bercanda dengan menutup hidung dengan tangannya membuat Baekhyun tersenyum gemas.

“Tapi aku sudah terlanjur nyaman seperti ini dan tidak ingin berdiri. Lagipula tidak setiap hari, cha, tidurlah.”

“Andwae! Yak oppa! Aku tidak bisa bernafas.” Taeyeon tertawa ketika merasakan tangan Baekhyun menenggelamkan kepalanya di dada Baekhyun.

“Kau sudah makan malam?.” Tanya Baekhyun.

“Eoh, tadi eomma berkunjung ke sini dan menitip salam untuk oppa.”

“Syukurlah kalau begitu.” Baekhyun mengecup dahi Taeyeon dalam. “Jaljja.” Lalu dia memejamkan mata, diikuti oleh Taeyeon yang berada di pelukannya. Baekhyun benar-benar tidak mengganti bajunya, namun tidak Taeyeon hiraukan, mungkin dia tahu jika Baekhyun sangat kelelahan. Bahkan soal makalah yang berikan Irene tadi padanya-pun, yang seharusnya Baekhyun pelajari sekarang-pun Baekhyun lupakan.

Love, That One Word

“Gomawo untuk hari ini, Yul.”

“Terima kasih juga karena kau kembali hampir membakar dapurku.”

Taeyeon tertawa mendengar ucapan sarkastik Yuri, dan dengan santai dia keluar dari mobil yang langsung diikuti oleh pemiliknya.

“Kau tidak ingin mampir?.”

“Maafkan aku, Tae, aku benar-benar harus bertemu dengan Seohyun untuk membicarakan tugas kuliahku sekarang.” Sesal Yuri.

Taeyeon cemberut. “Ahh, kau sekarang sudah lebih mementingkan teman kuliahmu dari pada aku yang notabene-nya adalah teman masa kecilmu? Baiklah.”

“Kau jelek sekali cemberut seperti itu.”

“Yak, aku sedang marah kenapa kau malah membuat ini sebagai lelucon?.”

“Aku tahu kau hanya bercanda, Tae, makanya aku tidak menganggap serius ketika kau cemberut tadi. Sudahlah, aku pergi dulu, sampai ketemu besok, Babe.”

“Haha, hati-hati di jalan, Yul.”

Taeyeon menghela napas, hari ini begitu panjang, dari pagi sampai siang dia hanya habiskan untuk belajar memasak di rumah Yuri. Tidak sepenuhnya memasak, kebanyakan dia hanya diberi resep makanan saja dari Yuri karena menurutnya jika setiap jenis makanan mereka buat, itu akan mubadzir.

Hari ini yang dia berhasil buat adalah Japchae, makanan kesukaan Baekhyun. Memang cukup sulit membuatnya meskipun ini adalah kali ke-tiga dia belajar membuatnya –pertama dan kedua dia membuatnya bersama Seulgi-, namun dia cukup puas karena Japchae hasil buatannya kali ini lebih enak rasanya dibandingkan dengan Japchae yang sebelumnya pernah dia buat.

Bahkan saking puasnya, dia membawa sebagian Japchae itu ke dalam kotak makanan milik Yuri untuk makan malamnya bersama Baekhyun nanti. Bagaimana pendapat Baekhyun jika dia memakan Japcahe-nya, ya? Taeyeon tidak sabar lagi, ingin cepat malam datang.

“Kau darimana saja?.”

Taeyeon terkejut ketika dia memasuki apartemen mendapati Baekhyun berdiri dengan muka tajam. “Ah, oppa sudah pulang? Tumben sian-.”

“Kau dari mana? Kau pergi kemana? Kenapa pergi tidak memberitahuku?!.” Baekhyun bertanya dengan suara tegas membuat Taeyeon sedikit takut.

Banyak pertanyaan yang tersimpan di kepalanya saat ini, pertama, kenapa Baekhyun pulang siang? Bukankah sebelum berangkat tadi dia bilang akan kembali malam? Kedua, Baekhyun terlihat marah, tapi, kenapa? Apa karena Taeyeon pergi keluar tanpa memberitahunya?.

“Apa yang kau lakukan pada Irene kemarin, Yeon-ah?.”

Taeyeon menaikkan alisnya bingung, Baekhyun kembali berbicara padanya dengan nada suara lembut. Tapi yang membuatnya bingung adalah, apa adari maksud pertanyaan Baekhyun? Apa yang Taeyeon lakukan kemarin pada Irene?

“Ak-aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan, oppa.” Jujurnya. Terdengar helaan napas frustasi keluar dari mulut Baekhyun membuat tangan Taeyeon entah kenapa bergetar dengan sendirinya.

“Kau jangan pura-pura polos seperti itu. Jawab dengan jujur apa yang kau lakukan kemarin terhadap Irene sehingga membuat kedua tangannya terluka?!.”

Apa? Kedua tangan Irene terluka? Ada apa ini, taeyeon bingung sekali apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Irene?.

“Oppa, aku benar-benar tidak mengerti, ap-.”

“Sudah kubilang berhenti bersikap polos dan katakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa kau melukai Irene?.” Nada suara Baekhyun meninggi, dia cukup kehilangan kesabaran sekarang. Di sisi lain, Taeyeon yang memang tidak tahu apa-apa hanya bisa diam dan menundukkan kepala.

“Apa yang kau lakukan yeon? Dia itu tamu, kenapa kau memperlakukan tamu seperti itu?!!.” Taeyeon menatap Baekhyun tidak percaya. Pria itu membentaknya. Dan itu semua dilakukan karena dia membela perempuan itu, sekretarisnya, orang yang mulai saat ini sangat Taeyeon benci. Bukan, bukan sejak saat ini, tapi sejak saat perempuan itu dengan santainya berbicara jika dia senang Seulgi meninggal.

“Oppa, aku mohon, jangan membentakku, bukankah lebih baik kau membicarakannya dengan perasaan yang tenang?.” Taeyeon mencoba untuk berbicara setenang mungkin, namun gagal, bibirnya bergetar, dan matanya hampir berkaca-kaca. Dia paling tidak suka jika seseorang membentaknya, apalagi sekarang Baekhyun membentaknya dengan alasan yang dia sendiri-pun tidak tahu.

“Kau melukai Irene, kau melukai kedua tangannya kemarin. Kenapa kau melakukan itu? Kalau alasanmu karena kau cemburu padanya, itu salah, yeon, dia itu hanya sekretarisku, dia juga temanku, dan jangan kau lupakan fakta bahwa dia juga sahabat Seulgi. Kau cemburu padanya karena dia dekat denganku, ok, tapi melampiaskan rasa cemburumu dengan menyakitinya itu sangat salah, kenapa kau kekanak-kanakkan sekali?!.”

Taeyeon menggertakan giginya menahan air mata yang sejak tadi memaksa turun. Perkataan Baekhyun, sungguh sangat membuatnya sakit. Dia merasa dirinya direndahkan oleh suaminya sendiri. Sekarang dia mengerti kemana arah pembicaraan Baekhyun, Irene telah membuat cerita yang jauh dari fakta kepada Baekhyun. Kemarin dia melukainya? Bukankah Irene yang melukainya? Bukan hanya fisik yang Irene berikan untuk menyakiti Taeyeon kemarin, tapi juga batin.

Yang dia sesalkan saat ini bukan fitnah yang dibuat Irene, melainkan Baekhyun yang begitu saja mempercayai ucapan perempuan itu.

“Kenapa diam? Mengaku bersalah? Apa kau tidak malu padanya, Yeon-ah? Sampai-sampai kau tidak meminta maaf?.”

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Aniyo, aku tidak merasa bersalah karena aku memang tidak bersalah.”

Baekhyun menatap Taeyeon tajam, apakah istrinya itu sedang melakukan pembelaan padahal justru dia memang bersalah?. “Kau tidak ingin mengaku?.”

“Aniyo.”

“Byun Taeyeon!.”

“Aku tidak bersalah.”

“Byun Taeyeon, kau-.”

“Kenapa kau mempercayai dengan apa yang telah dia ucapkan kepadamu? Dia berboh-.”

“Kau yang berbohong dengan terus membela diri sendiri padahal kenyataannya kau bersalah!!!.”

Jangan membentak, jebal, Taeyeon tidak ingin menangis.

“Aku malu dengan perlakuan yang telah kau buat pada Irene, sangat tidak berpendidikan.” Ujar Baekhyun dingin. Pria itu berjalan ke arah Taeyeon membuat gadis itu berharap jika Baekhyun bersikap seperti ini hanya karena mengerjainya. Dia berharap Baekhyun akan membawa tubuhnya ke dalam pelukan hangat sambil berkata ‘maaf, aku hanya bercanda’. Tapi sepertinya Taeyeon hanya bisa berharap, buktinya tubuh jangkung sang suami bukan berjalan tepat ke arahnya, tapi berjalan menuju pintu apartemen yang berada di belakangnya. Pria itu keluar dari apartemen diakhiri dengan suara pintu yang tertutup dengan sangat keras.

Tepat saat itulah air mata yang mati-matian tadi dia tahan keluar dengan sendirinya, tanpa membutuhkan waktu lama kini ruangan itu dipenuhi oleh suara isakan tangis yang keluar dari mulutnya.

“Appo-yo.” Taeyeon menekan-nekan dadanya kuat. Kenapa jantungnya bekerja sangat keras sekarang? Rasanya jantung itu ingin meledak, sangat sakit. Apa yang Baekhyun ucapkan padanya tadi, sangat membuatnya sakit. “Kau jahat.”

Love, That One Word

“Matahari sudah mau tenggelam, ayo kita pulang Taeyeon-ah.” Ahjumma Lee menepuk lembut bahu Taeyeon yang sejak satu jam lalu duduk di samping makam kakaknya. Dengan mata yang sembab dan merah karena menangis, pipi yang merona karena suhu sore ini sungguh dingin mengingat sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Tubuh gadis itu hanya berbalutkan celan jeans panjang dan kaos tipis berlengan panjang, dia tidak memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya.

“Taeyeon-ah.”

“Ahjumma jika ingin pulang, duluan saja. Aku masih ingin berbicara bersama Seulgi Eonni.”

Ahjumma Lee menatap Taeyeon sedih, saat ini dia sedang rapuh, melihatnya seperti ini membua memori Ahjumma Lee kembali ke masa lalu, ke masa dimana Taeyeon kehilangan kedua orangtua-nya. Suasananya sangat sama seperti ini. Musim dingin, dan duduk di samping makam Seulgi tanpa berbicara sepatah katapun selama berjam-jam. Dia hanya duduk, dengan pandangan kosong mengarah ke gundukan tanah di depannya.

“Kita datang sama-sama, dan pulang-pun kita harus sama-sama sayang.” Ahjumma Lee mengusap lembut rambut Taeyeon.

“Ahjumma, aku ingin minum.” Ujar Taeyeon tanpa mengalihkan pandangannya. “Bisakah kau membelikanku minum?.”

Ahjumma Lee mengangguk, lalu berdiri dari duduknya. “Araseo, tunggu di sini dan jangan kemana-mana, ahjumma tidak akan lama.” Setelah mengecup singkat puncak kepala Taeyeon, Ahjumma Lee pun pergi keluar dari pemakaman menuju sebuah kedai warung yang berada tidak jauh dari pemakaman.

“Eonni, apa yang harus aku lakukan?.” Gadis itu, berucap pelan. Tangannya kembali memegang dadanya yang bergemuruh hebat. “Eonni, bantu aku, aku tidak ingin menghadapi semua ini sendiri.” Air mata yang tadi sudah tidak turun kembali turun membasahi pipinya. Sepertinya lebih baik dia diam, karena dengan diam rasa sakitnya berkurang. Tapi bibirnya sangat gatal ingin terus berbicara.

“Eonni kenapa aku bisa mencintai Baekhyun oppa? Kau tahu, aku ingin sekali memutar waktu, aku tidak ingin masuk ke dalam kehidupan eonni. Bukan karena aku tidak menyukai hidup bersama eonni, tapi gara-gara aku masuk ke dalam kehidupan eonni, eonni pergi untuk selama-lamanya. Aku tidak ingin mengenal Eomma dan Appa Park, aku tidak ingin mengenal Irene eonni, aku tidak ingin mengenal Lay dan Chanyeol oppa, dan aku juga tidak ingin mengenal Baekhyun oppa. Aku ingin kembali ke kehidupanku dulu, tidak apa-apa meskipun ayah dan ibuku sudah meninggal, tapi jika aku bisa tenang tinggal bersama bibi Lee, aku sangat ingin melakukan itu. Eonni aku mencintaimu, maafkan aku karena kau melindungiku, justru kau yang pergi dari dunia ini.”

Taeyeon mengusap matanya yang berlinang air mata, lalu menunduk dalam. Kembali merenung, kembali menyesali hidupnya sendiri. Dia fikir setelah bulan madu dengan Baekhyun hubungan mereka akan semakin dekat, tapi nyatanya tidak. Taeyeon terlalu berharap.

To Be Continued

Teaser of 9th Chapter

“Baekhyun-ah dimana Taeyeon? Sejak tadi ibu menunggunya tapi dia tidak datang-datang. Apa kau sudah mengganti perban lukanya, nak?.”

“Perban apa maksud ibu?.”

“Taeyeon tidak memberitahumu? Tangannya terkena pecahan beling kemarin, untung saja ibu datang tepat waktu, kalau tidak mungkin tangannya sudah infeksi.”


“Dimana Taeyeon? Kalian menyembunyikannya dariku ‘kan? Katakan padanya aku minta maaf, dan cepatlah pulang. Aku merindukannya.”


“Aku tidak ingin pulang, bibi. Aku ingin tinggal di sini bersama bibi.”

“Mereka mencarimu sejak beberapa hari yang lalu, Taeyeon-ah. Apa kau tidak kasihan pada mereka? Bibi dengar Tuan Baekhyun juga tidak masuk kantor karena mencarimu selama beberapa hari ini.”

“Aku tidak peduli, hatiku masih sakit karena perkataanya.”

Please, be patiently wait for the next chapter ^^

Sorry i making you wait for so long and here i am, came with the most worst chapter ever >.<

I understand, you must be disappoint with me. I’m sorry okay :*

I’ll try my best for the upcoming chapter XOXO

Ditunggu komentar kritik dan sarannya yah :*

Kiss&Hug from me for all my lovely ATSIT fam, see you ^_^

Advertisements

187 comments on “Love, That One Word (Chapter 8)

  1. Pingback: Love, That One Word (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  2. irene apa2an sih? pengen rasanya nyekek si irene. nyebelin bgt itu orang..
    omona, baekhyun harusnya km lbh percaya sama istri km jgn main telen aja tu omongan si iblis.. deuhh

    konfliknya bikin aku jg terhanyut ke dlm ceritanya. bagus bgt thor..

  3. Pingback: Love, That One Word (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. Eonnniii suka bangettt sama chapter ini 😄😄 beneran deh ini ff buat ketagihan bangett 😂😂 eonnii aku gatauuu kenapa kok semua comment aku di setiap part bisa ilang yaa mungkin karna aku ga sengaja ke log out email wp ku jadinya harus ulang lagii 😭😭 *sedikitcurhat

  5. baekhyun jahat -_- irene benar benar bikin emosi .. Irene, taeyeon itu eonnimu dan sunbaemu, dia lebih tua 2 tahun darimu eonn [(apa ini(?)] .-.

  6. keren bnget thor ff nya,
    maaf baru bisa comment sekarang,
    suka bnget ceritanya thor,,
    pas bagian awalnya mereka so sweet bnget eh bagian akhirnya sedih bnget, duh irene kejam bnget sih. daebbak thor

  7. Pingback: Love, That One Word (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Ish baekhyun ny bikin greget– kenapa gk percaya aja ama taeyeon.-. Kenapa harus sama irene coba.-. Aaahhh campur aduk rasany.-. Next terus thor,FIGHTING!!

  9. Sedih sedih.. Kasihan bgt taeyeon..
    Thor jago bgt sihh.. Apa fmv nya ada juga?? Pasti kereenn deehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s