You Are In Love (Chapter 1)

Texture-1

You Are In Love

Main Cast: Taeyeon ­– Luhan || Genre: Romance || Length: Threeshoot || Rating: PG-13 ||

Author : Selvy

Schedule : Part 2 => Sabtu, 19 September 2015

                   Part 3 => Rabu, 23 September 2015

-____________-

Saat itu hujan sedang mengguyur Seoul disertai kilatan- kilatan cahaya putih di langit. Para orang tua menampakkan wajah khawatir menatap langit karena takut anak- anak mereka akan terganggu akan suara menakutkan bagi sebagian orang tersebut. Cuaca di pusat kota memang tak menentu belakangan ini, terkadang matahari dengan terik bersinar namun kemudian berubah mendung. Sungguh mengganggu aktivitas.

Namun gadis yang sedang membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu berfikiran berbeda. Menurutnya hujan adalah penyelamatnya dan petir berperan sebagai pembawa keberuntungan. Bagaimana tidak, jika hujan tengah mengguyur ia bisa bermalas- malasan di rumah tanpa harus ke sekolah. ‘Lagi pula appa dan eomma tidak di rumah’ fikirnya riang.

“Taeyeon-ah . . . kau tidak ke sekolah ?” ia tersenyum saat telinganya mendengar suara- suara yang dia kira hanyalah sebatas de javu yang mengganggu. “YA! Kau tidak mau keluar? Taeyeon-ah . . .. “ Taeyeon mengerjapkan mata berkali- kali. Suara itu bukan de javu, suara familiar itu membuatnya bangkit dengan malas. Dengan muka masam tertunduk ia membuka pintu.

“Sooyoung-ah wae?” Tanyanya malas dengan pipi menempel pada ujung pintu.

“Wae? Ya! Kim Taeyeon ini bukan hari minggu. Cepat mandi dan bersiap aku akan menunggumu. Cepat atau kau akan mati” hardik Sooyoung. Taeyeon menghela nafas malas, ia lupa akan sesuatu. Sooyoung sepupunya takkan membiarkannya hidup tenang, jika tak ada Tuan dan Nyonya Kim pasti Sooyoung akan over protektif padanya.

Dengan bibir mengkerut ia berjalan ke kamar mandi. Sooyoung sesekali berteriak tak kala bosan menunggu gadis mungil itu. Bahkan ketika berangkat Taeyeon hanya mengikat rambutnya tanpa menyisirnya, namun detik berikutnya Sooyoung yang memang tak suka orang sembrono menjitak kepalanya sehingga ia harus masuk ke kamar menyisir rambutnya kembali. Hmmm .

“Sooyoung-ah apa kau tak bisa bolos sehari saja. Hari ini cuaca sangat tak baik, jalananpun macet. Kenapa kita harus repot- repot?” Hanya dengan Sooyoung yang memelototinya membuat Taeyeon menghembus kasar. Bertanya hal seperti itu pada ketua OSIS sekolah sangat tidak pantas. Sial betul hidupnya mempunyai sepupu seperti Sooyoung.

“Taeyeon-ah bagaimana hubunganmu dengan Kai?” Gadis jangkung yang berbicara dengan sedikit pelan itu membuat Taeyeon sedikit tersentak. Bukan karena apa, tapi ini pertama kalinya Sooyoung mengajaknya berbicara tentang masalah pribadi. Biasanya wanita itu hanya menceramahinya sepanjang hari.

“Hmmm bagaimana yah, hubunganku dengannya sudah hampir dua bulan. Seperti biasa kutukanku masih berlaku. Sekarang kami sudah jarang bertemu dan mulai bosan mungkin.” Jawab Taeyeon apa adanya. ia sesekali melirik Sooyoung yang menampakkan ekspresi penasarannya. Sumpah demi apa, ini pertama kalinya dia melihat Sooyoung tertarik pada masalah seperti ini.

“Kutukan? Kutukan apa?”

Taeyeon mengerucut, “Bukan kutukan semacam apapun yang kau fikirkan. Ini hanya istilah yang diberikan Yoona dan Seohyun karena hubunganku tak pernah bertahan sampai tiga bulan”

“Mengapa?”

Taeyeon semakin yakin akan fikirannya bahwa Sooyoung sangat aneh hari ini. Tapi ia tetap menahan diri untuk bertanya. “Mungkin semua hubungan seperti itu Sooyoung-ah, manis diawal kemudian akan hambar jika sudah lama. Semacam bosan sepertinya.”

Sooyoung mengangguk, “ Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Bahu Taeyeon terangkat, “Entahlah, tapi sepertinya aku akan mengakhiri hubungan ini. Tapi jangan salah paham, aku tidak mempermainkan Kai, sebenarnya beberapa hari yang lalu kami sudah membicarakan tentang hubungan yang sudah renggang ini. Dan akhirnya kami memutuskan untuk meyakinkan hati apakah harus lanjut atau putus”

“Lalu bagaimana keputusan kalian?” Sooyoung semakin antusias, bahkan saking antusiasnya sesekali gadis itu terpaksa harus menginjak rem karena hampir menabrak mobil di depannya.

Taeyeon yang semenjak tadi memang curiga akhirnya memberanikan diri. “Memangnya kenapa? Sooyoung-ah kau sedikit berbeda hari ini” Taeyeon menyadari perubahan air muka Sooyoung, apalagi gadis itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya namun ia mengontrol diri dan tidak bertanya jauh karena takut sepupunya tidak nyaman.

 

 -____________-

Taeyeon menyandarkan kepalanya pada tembok, bibirnya yang cemberut menambah kesan bad mood pada wajah cantiknya. Sesekali teman – temannya bertanya karena tidak biasanya gadis berumur 17 tahun itu nampak murung seharian. Bahkan istirahat pun dia tak tertarik menuju kantin. Bukan apa percakapan dengan Kai tadi pagi membuatnya semakin tak bertenaga.

“Sudah kuputuskan Taeyeon, kita akhiri saja hubungan ini. bukan karena aku tak mencintaimu, sungguh sampai saat ini cintaku masih sama. Tapi sikapmu aku tak bisa menerimanya lagi. Aku berharap di masa depan kau akan berubah”

Kata- kata pria bernama lengkap Kim Jongin itu membuatnya banyak berfikir. Memang benar adanya, ia paham betul apa maksud dari pria itu. Taeyeon adalah tipe gadis yang mudah bosan, ia tak pernah bisa bersikap tetap sama pada pacarnya mungkin itulah alasan mengapa hubungannya tak penah lebih dari 3 bulan. Ia sadar, namun entah karena apa ia tak dapat mengubahnya.

“Taeyeon-ah sudahlah. Masih banyak laki- lagi di luar sana. Jangan memikirkannya terus, lihatlah wajahmu itu sebentar lagi akan keriput gara- gara terus berekspresi seperti itu.” Yoona yang berada disampingnya menegur. Seohyun yang duduk di depan mereka pun menengok.

“Tidak biasanya kau begini Taeyeon. Biasanya kau biasa saja” timpalnya.

Taeyeon lagi- lagi berhembus paksa, “Yoona-ya, Seohyun-ah apakah aku salah? Aku telah banyak mempermainkan hati seseorang. Apa yang harus kulakukan?” curhatnya sedih.

Yoona mengusap punggungnya, sementara Seohyun beranjak menutup pintu kelas. Para siswa saat ini sedang pergi ke kantin itulah alasan mengapa kelas sedang sepi hanya ada mereka bertiga. Dan dia tidak mau orang- orang di luar akan melihat Taeyeon menangis, karena itu bisa membuat gosip tak benar tersebar kemana- mana.

“Itu bukan salahmu Taeyeon-ah. Memang salah jika merasa bosan? Itu bukan karenamu, tapi karena hatimu. Dan tak ada yang bisa melawan hati.” Yoona berusaha menghibur.

“Betul. Tapi Taeyeon-ah menurut saranku kau harus lebih selektif. Karena dari apa yang kuamati kau berpacaran hanya karena suka dan rasa nyaman. Kau belum pernah benar- benar mencintai seseorang mungkin itu alasan kebosananmu” Omongannya dari Seohyun menarik minat Taeyeon dan Yoona. Seohyun yang belum pernah berpacaran dapat mengatakan hal seperti itu?

“Apa?” merasa dipandangi Seohyun bertanya dengan polos.

“Wah uri seohyunie sudah dewasa” ledek Yoona yang dibalas Seohyun dengan tatapan tidak suka. Taeyeon terkekeh melihat mereka. Gadis itu merasa beruntung, walaupun tak pernah mengungkapkannya tapi Taeyeon merasa berungtung bertemu orang seperti kedua sahabatnya yang sangat pengertian.

 

-____________-

Rumah tingkat dua berwarna putih minimalis menarik perhatian namja yang sedang berdiri di teras lantai dua rumahnya. Entah apa yang menarik dari rumah yang tepat berada di sebelah rumahnya itu. Halaman berukuran sedang dengan rumput hijau, sebatang pohon serta ayunan terikat di rantingnya membuatnya agak iri karena ingin tinggal disana.

“Wae? Kau lebih menyukai rumah itu?” Laki- laki dengan kumis tipis menegurnya. Luhan nama lelaki itu sedikit tersentak. “Kurasa rumah itu tak berbeda jauh dari rumah kita. Hanya saja rumah itu lebih girly, kau menyukainya?” Lelaki parubaya itu menggoda putranya.

Luhan hanya tersenyum, ia tak menjawab apa- apa. Appa dan anak itu hanya diam untuk sementara waktu sampai akhirnya Tuan Xi harus membiarkan Luhan sendiri karena teriakan dari Nyonya Xi.

Sementara itu, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah berwarna putih. Gadis yang beberapa senti lebih pendek dibanding gerbang besi itu keluar dari mobil diikuti dua gadis lainnya.

“Kalian benar- benar tak berniat masuk? Ayolah aku sangat kesepian hari ini, dirumah hanya ada aku, Se gi dan Ahjumma” rengek Taeyeon.

“Aku sangat ingin Taeyeon-ah tapi kau tahu sendirikan hari ini aku ada janji dengan Suho” Yoona dengan ekspresi tidak enak menimpali.

“Aku juga harus belajar untuk ulangan besok” jawaban Seohyun membuat dua sahabatnya merotasi bola mata mereka. Tak ada yang berkomentar karena sudah terlalu biasa akan sifat Seohyun yang hidup ‘terlalu teratur’.

“Baiklah. Aku mencintai kalian. Hati- hati di jalan” Taeyeon segera membuka gerbang sepeninggal kedua sahabatnya. Tak langsung masuk ke dalam rumah, gadis itu lebih memilih duduk di atas ayunan dengan tas yang ia letakkan sembarang tempat.

“Putus? Hmmm bukankah ini sudah biasa Kim Taeyeon?” Ucapnya miris pada dirinya sendiri. Kalau dihitung- hitung mungkin sudah ke- 7 kalinya seperti ini. Walaupun malas Taeyeon bukanlah wanita yang bodoh ia tak pernah terdepak dari rangking 10 besar, wajahnya yang cantik dan cute membuatnya cukup populer di sekolahnya. Tak heran semenjak dulu banyak lelaki yang menyukainya. Namun, karena image ‘kutukan 3 bulan’ membuatnya sedikit terbebani.

Beberapa menit ia duduk dalam diam sebelum beranjak, sepintas ia melirik ke rumah di samping rumah dan melihat seorang pria berdiri di atas teras. Tak begitu jelas Taeyeon melihat karena memang ia tak perduli. Hanya sekedar mengetahui bahwa rumah yang seminggu lalu ditinggal pemiliknya ke London itu ternyata sudah memiliki penghuni baru.

“Annyeong-haseyo” sebelum sempat memasuki rumah seseorang menarik perhatian Taeyeon. Ahjummha berwajah riang telah berdiri di depan gerbang sambil memegang sebuah kotak tersenyum manis ke arahnya.

Taeyeon membalas senyuman itu lalu beranjak membuka gerbang. “Annyeong-haseyo ahjumma” sapanya balik.

“Ah gadis cantik kau tinggal disini?” Tanya wanita itu membuat Taeyeon tersipu. Ini bukan pertama kalinya dia dibilang cantik, namun agak sedikit malu dipuji oleh orang yang baru pertama kali bertemu.

Taeyeon mengangguk. “Ne, Kim Taeyeon Imnida”

“ Hi Taeyeon, saya Nyonya Kim tetangga baru kamu. Ini kua beras dari kami.” Wanita itu memberikan kotak yang dibawanya.

Taeyeon mengambilnya dengan hati- hati, “Mianhae ahjumma harusnya saya yang memberikan sesuatu tapi ini malah terbalik. Soalnya eomma dan appa sedang tidak di rumah”

“Ah tidak apa- apa” jawabnya ramah. Nyonya Kim menatap Taeyeon yang masih berseragam sekolah. “Kau SMA? Sekolah dimana?” Tanyanya namun dengan ekspresi tidak percaya.

“Di Seoul High School ahjumma”

“Ohhhh anakku juga akan bersekolah disana pindahan dari Beijing. Tapi maaf sebelumnya saya kira kamu masih SMP” jawabnya membuat Taeyeon melongo.

‘Tak bisakah ahjumma tidak terlalu jujur?’ Runtuknya dalam hati namun ia tetap tersenyum.

Cukup lama mereka bercakap- cakap sebelum akhirnya Taeyeon memasuki rumah setelah ahjumma itu pulang. Terbesit rasa nyaman di hati Taeyeon, tetangga barunya sangat ramah padanya. Tak seperti tetangga terdahulu yang cuek ditambah lagi anak gadis yang membuat Taeyeon kurang nyaman karena selalu memandang kesal ke arahnya padahal Taeyeon tak melakukan apa- apa.

“Sudah pulang nona?” sapa seorang ahjumma parubaya disambut dengan senyuman dari Taeyeon. Ia memberikan kotak dari Nyonya Xi kemudian beranjak ke lantai dua menuju kamarnya. Badan mungil ia hempas pelan, nafasnya memburu. Kejadian tadi pagi masih mengganggu fikirannya. Saat seperti ini membuatnya ingin bersama sahabatnya atau paling tidak eomma yang bisa menjadi tempat curhatnya.

Tok . . . tok . . .

“Nona di bawah ada Tuan muda Kim” suara ahjumma dari luar pintu membuat Taeyeon tersentak. Tanpa menunggu Taeyeon langsung melesat ke bawah. Tak di temuinya Kai di ruang tamu hingga ia memutuskan keluar. Dan benar Kai sedang duduk di ayunan di bawah pohon.

“Hai” Sapa Taeyeon basa- basi. Kai menengok dan tersenyum manis. Setelah semua yang terjadi Taeyeon lega lelaki itu masih bersikap sama padanya tak seperti mantannya yang lain.

“Hai” sapanya singkat. Taeyeon memilih duduk di atas rumput yang membuat Kai ikut menyesuaikan. “Kudengar dari Yoona kau terus memikirkanku?” Kai menimpali membuat Taeyeon tersentak kaget. Seperti biasa mulut ember Yoona.

“Yoona? Kau percaya padanya? Ratu gosip itu” jawabnya asal, walaupun terlihat baik- baik saja namun tatapan Kai terlihat kecewa akan jawaban Taeyeon.

“Kukira itu benar”

“Hmmm?”

Kai tersenyum dengan nafas ia lempar kasar. “Siapa lelaki di samping rumahmu itu?” Tanyanya kemudian. Tak langsung mejawab Taeyeon malah berfikir. Lelaki ? di samping rumah?

“Ohhhh mungkin dia tetangga baruku.” Jawabnya. “Kenapa?”

“Tidak, hanya saja aku merasa horror karena dia selalu menatap kesini” Taeyeon berbalik menelusuri rumah itu. Tak ada orang disana. “Maksudku tadi, bukan sekarang” Taeyeon mengangguk mengerti.

Kai berdiri, Taeyeon hanya mendongak menatapnya. “Aku harus pulang”

Taeyeon mengangguk tersenyum, Kai berjalan menjauh. “Kai-ya” panggilang Taeyeon membuat Kai menoleh. “Kuharap kita tetap berteman” Lanjutnya. Kai mengangguk tak puas, ia terlalu berharap banyak pada gadis itu. ‘Kau lelaki yang baik Kai-ya’

 

-____________-

“Ya! Mengapa kau mengatakan yang tidak- tidak pada Kai hah?” Taeyeon sedari sudah mengomel kepada seseorang yang sedang berbicara melalui telepon padanya. Ia sangat kesal, bukan karena apa tapi Taeyeon bukanlah gadis polos yang tak mengerti situasi. Dan ia sadar ekspresi kekecewaan Kai tadi sore padanya.

Yoona berusaha menjelaskan. Gadis itu mengatakan bahwa ia hanya ingin Taeyeon memikirkan lagi akan keputusan mereka untuk putus. Menurut Yoona, Kai terlalu sempurna untuk dilepaskan.

Taeyeon tak menjawab, ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya pada sahabat keras kepalanya itu. Taeyeon memang sangat merasa bersalah pada Kai dan itulah mengapa ia terus memikirkan lelaki itu tidak ada maksud lain.

“Sudahlah Yoona, aku sudah capek membicarakan hal yang itu- itu saja seharian ini” Taeyeon mengakhiri pembicaraan, matanya menjalar ke langit- langit bersama hembusan nafas yang menyatu dengan udara. Gadis itu beranjak, sesak sekali di dalam dadanya. Hari ini ia terlalu banyak berfikir dan biasanya saat seperti ini melihat bintang adalah saat yang tepat.

Di balkon lantai dua gadis itu mendudukkan diri di kursi kayu dengan meja kecil di depannya. Balkon itu berukuran sedang dengan dua kursi dan satu meja kecil. Biasanya dirinya dan eomma sering memandang bintang bersama, maka dari itu balkon rumah di buat senyaman mungkin.

Hening sesaat, Taeyeon tenggelam dalam suasana malam yang senyap. Dingin menusuk ke dalam dagingnya sudah tak terasa lagi. Bintang- bintang di langit terlalu menarik untuk di acuhkan. Beberapa menit berselang Taeyeon merasa kesemutan di kakinya. “Omo! Disini terlalu dingin hmmm “ Gumamnya seraya menggosok lengannya.

Mata Taeyeon menyipit saat tak sengaja matanya menangkap seseorang yang berdiri di rumah sebelah. Ia melempar senyum kecil dengan kepala sedikit ditundukkan. “Annyeong- haseyo” Sapanya agak keras. Pria itu tak mengindahkan ia hanya menatap lurus ke depan tepatnya ke arah Taeyeon membuat gadis itu bingung sendiri.

‘Wae? Dia tak bisa melihat?’ Pikirnya. Namun udara malam yang semakin menusuk kulit membuatnya berlalu tanpa banyak perduli. Namun setiba di kamar ia sadar bahwa pria itu sedikit mengusik fikirannya. Tatapan lurus pria itu agak horror, Taeyeon bahkan tidak bisa memastikan apa pria itu menatapnya atau tidak. Tapi sebelum semakin banyak berfikir dunia mimpi malah mengambil alih dirinya.

 

-____________-

Taeyeon mengerjapkan matanya menyesuaikan diri dengan keadaan yang mulai terik. Ia meregangkan kedua tangan sebelum akhirnya aroma masakan membuat tubuhnya refleks bangun seraya melayang mengikuti arah datangnya aroma tersebut.

“EOMMAA!” Langsung saja Taeyeon menyambar tubuh wanita parubaya yang masih memakai celemek di dapur.

“Hei kau baru ditinggal 3 hari saja sudah seperti ini” Tegur Nyonya Kim, Taeyeon tak mengindahkan senyuman lebar masih terpatri di wajah cantiknya.

“Kau mengabaikan appa honney?” Tuan Kim dengan nada cemburu menegur, Taeyeon beralih dengan kekehan.

“Mianhae appa”

“Lihatlah anakmu itu, bagaimana mungkin dia bisa hidup dengan suaminya kelak jika dia terus seperti itu”

“Eomma” Suara manja Taeyeon menegur eommanya. Tuan Kim hanya tertawa kecil. “Bagaimana perjalanan bisnis appa?”

“Baik” Jawab appa singkat lalu menempatkan diri di meja makan.

“Hanya itu?”

“Sementara ini semuanya baik Taeyeon-ah” Eomma yang berjalan membawa telur dadar kesukaan Taeyeon menjawab. Taeyeon tak terlalu mengindahkan melihat dirinya yang langsung menyambar makanan tersebut.

Tuan Kim dan Nyonya Kim saling menatap dengan tatapan tidak enak. “Taeyeon-ah”

“Hmmm?”

“Kau tahu perusahan appamu di Beijing meningkat pesat kan? Karena itu eomma dan appa sepertinya akan pergi untuk beberapa bulan kesana”

“Uhuk” Taeyeon tersedak. Buru- buru eomma memberinya segelas air putih. Belum saja pulih dari batuknya Taeyeon sudah melayangkan tatapan tajam kepada kedua orang tuanya. “Maksud eomma? Ayolah eomma disini perusahaan appa juga berhasil kan? Aku sudah bahagia hidup sederhana seperti ini, appa tidak perlu terlalu keras bekerja. Lagipula aku tidak ingin pindah ke Beijing” Rengek Taeyeon.

“Begini Taeyeon-ah, appa tidak bisa membiarkan perusahaan di Beijing terbengkalai, itu sangat di sayangkan. Kalau disini kan ada Choi ahjusshi yang mengurusnya jadi appa bisa tenang. Lagipula kita tak perlu hidup mewah apapun yang terjadi. Eomma dan appa juga suka hidup sederhana seperti ini jadi tenanglah. Hanya beberapa bulan, kau tak perlu pindah sekolah.” Pengertian yang di berikan appa membuat Taeyeon hanya bisa pasrah, ia rasanya ingin menangis.

“Berarti eomma dan appa akan membiarkanku tinggal sendiri disini?” ucapnya sedih.

Eomma memeluk putrinya dengan sayang, tatapan appapun melunak pada Taeyeon. Mereka juga tidak tega meninggalkan putri satu- satunya itu, tapi bagaimanapun juga Tuan Kim bekerja juga untuk masa depan Taeyeon.

“Aniya, disini kan ada ahjumma. Ada Se gi, kau juga bisa mengajak Yoona dan Seohyun kesini. Eomma dan appa juga sudah berbicara pada paman Choi, kau bisa tinggal bersama mereka” Terang eomma.

Taeyeon mengangguk terpaksa. Taeyeon memang tidak sepenuhnya sendiri, ada anjing kecil bernama Se gi, ada ahjumma, Seohyun dan Yoona. Tapi satu yang Taeyeon takkan terima, mana mungkin dia mau tinggal bersama Sooyoung? Bisa- bisa otaknya akan pecah karena dipaksa belajar oleh ketua OSIS itu.

“Sudahlah pergi mandi dan bersiap- siap nanti kau terlambat” Taeyeon menuruti perkataan appa. Ia beranjak dengan malas menuju kamar mandi. Untuk suatu alasan ia merasa sangat sedih. Mungkin karena ini pertama kalinya ia akan berpisah lama dari kedua orang tuanya.

 

-____________-

“Kau masih memikirkan Kai? Lihatlah matamu sudah menjadi mata panda sekarang” Ledek Yoona. Seohyun langsung berbalik mendengar pecakapan sahabatnya.

“Aniya, hanya saja aku merasa terabaikan. Eomma dan appa akan ke Beijing untuk beberapa bulan, dan itu berarti hanya ada bibi dan Se gi di rumah. Itupun Se gi masih ada di dokter hewan sekarang” Cerita Taeyeon malas masih menyandarkan kepalanya ke tembok kelas.

“Se gi ada di dokter hewan? Wae? Kenapa kau tidak cerita?” Seohyun yang kelihatan lebih tertarik kepada binatang di banding Taeyeon membuat gadis itu cemberut lucu.

“Molla” Jawabnya asal.

Yoona terkekeh melihat Seohyun yang kelihatan tak puas mendengar jawaban Taeyeon. “Seohyun-ah kau benar- benar polos atau sengaja? Bisa- bisanya kau menanyakan Se gi padahal sahabatmu sendiri sedang kesusahan” Perkataan Yoona membuat Taeyeon memandang heran. Tumben gadis itu ‘sehat’

Seohyun ingin membuka suara, tapi para siswa yang cepat- cepat mengatur tempat duduk mereka memperlihatkan bahwa Songsaenim Park pasti sudah berjalan ke arah kelas. Dan benar saja detik berikutnya Songsaenim dengan buku- buku di tangannya masuk. Tapi kali ini sedikit berbeda, seorang lelaki terlihat berjalan tepat di belakangnya.

Tak menunggu lama sebelum reaksi para gadis di kelas itu berubah. Decak kagum dapat terdengar di mana- mana. Pria bermata seperti rusa itu terlihat sangat mencolok dengan wajah baby face beserta rambut hitam kecoklatan. Kulitnya pun putih mulus, kalau diperhatikan wajahnya sedikit ‘cantik’ tapi tatapan dingin dari mata indahnya membuat aura yang ia keluarkan tidak se-sweet wajahnya, malah ia terlihat cool walaupun memiliki tinggi badan yang tidak terlalu tinggi.

“Ini Xi Luhan pindahan dari Beijing High School. Dia baru pindah ke Seoul jadi jangan menggagunya atau kalian akan berurusan dengan saya” Songsaenim mengingatkan seperti biasa dengan nada ketus khas dirinya.

Luhan hanya membungkuk sedikit tanpa bersuara, entah sadar atau tidak tapi matanya langsung dicuri oleh gadis yang duduk di bangku nomor 2 dari depan. Gadis itu menjadi satu- satunya yang acuh akan kehadirannya saat ini. terlihat dari tatapan kosong dirinya.

Yoona yang sadar akan tatapan Luhan menyiku lengan Taeyeon, Taeyeon tak bereaksi banyak. Gadis itu hanya menatapnya. Bagaimanapun Yoona memberi kode dengan mata, Taeyeon tetap tak mengerti. Gadis itu malah terus melempar tatapan polos bertanya membuat Yoona putus asa.

“Dia terus memperhatikanmu” Seohyun menoleh sedikit kebelakang dengan suara berbisik. Taeyeon akhirnya mengerti dan mengalihkan padangannya ke depan. Ia mengangguk kecil ke arah Luhan setelah tatapan mereka bertemu.

“Luhan kau bisa duduk di samping Chanyeol” Titah songsaenim. Namun namja berwajah cute itu tak bergeming. “Luhan kau mendengarku?”

“Songsaenim saya akan duduk di samping Kim Taeyeon”

 

To be continued . . . .

 

Advertisements

87 comments on “You Are In Love (Chapter 1)

  1. Selvyyy tolong dng update Ff kamu yg dlu di wp ini plss, dan lanjutin yang Not Destined itu sy sk bgt alurnya walaupun udah bebrp tahun yang lalu di exoshidae wp tpi sy msh inget jalan ceritanya kumohonnn

    • Maaf chingu, semua FF ku udah nggak ada datanya lagi sama aku . . .
      Soalnya laptop yang dulu rusak, sekarang make yang baru jadi datanya ilang semua . ..
      Makanya FF yang disini juga nggak dilanjut, soalnya kemarin udah nulis eh semuanya ilang. Kalau ngulang dari awal nggak mungkin karna aku orangnya pelupa. bahkan cerita Not Destined aku udah lupa . . .
      Mianhae, tapi nanti aku nyari di emailku deh, mudah- mudahan ada . . .

      • Oke dapat. Sesuai permintaan Aku bakalan ngelanjut ff ini. tapi harus nyelesaiin Chapter tiga dari You Are In Love dulu baru post yang Not Destined. Gomawo udah ingat 🙂 . . .

  2. aaaa good story good storyy
    lutae jjang
    luhan itu modus? aaah jadi hot topic tuh, bonyok bonyokan sama kai wkwkwkw nggak ding
    ditunggu nextnya kalau bisa sekarang wkwkwkwk

  3. Duuhh kasian bgt taeng, kutukan 3 bulan. Btw jangan jangan luhan udh kepincut sama taeng lagi. Hmm next thor.. Ditunggu lanjutannya

  4. FF LUTAE AGAIN~
    YEYEYE~LALALALA~YEYEYYE~LALLALAL
    ㅎㅎㅎㅎㅎㅎㅎㅎ
    WAHH….. TAENG PUNYA KUTUKAN YG ANEH YA? ITU LUHAN JADI MISTERIUS GITU DEH
    HA HA HA HA
    ADUHHH CAPSLOCK JEBOL ㅎㅎㅎㅎㅎ
    GA SABAR NUNGGU NEXT CHAPNYA . KOK LUHAN BISA TAU NAMA LENGKAP KTY? WAHH… MAKIN PENASARAN NIH
    F I G H T A E N G

  5. Luhan tahu nama Taeyeon dari mana? ohh dari Eomma nya ya? berarti Luhan stalker nya Taeyeon dong?? kkee

    si Kai kekx pengen balikan dee,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s