[FREELANCE] Moonlight (Chapter 3)


[Freelance] Moonlight Chapter 3

Author: Alicya V Haiyeon

Rating: PG-16

Lenght: Multichapter

Genre: School Life, Romance, Family

Main Cast: Kim Taeyeon

Xi Luhan

Support Cast: Temukan sendiri.

Disclaimer:

This is just a FanFiction. All the cast it’s belong to God, them selves and the parents.

Please, don’t be a Plagiator.

Author Note:

Jika ada kesalahan, mohon komentarnya. Karna komentar anda semua yang bisa menentukan

FF ini dilanjut atau berhenti di tengah jalan. Typo dimana-mana. Thankyou.

Preview: Chapter 1, Chapter 2

***

Ramai. Satu kata yang bisa mendeskripsikan tempat yang dinamakan kantin itu. Baru beberapa menit yang lalu bel berbunyi nyaring, namun kantin benar benar sudah penuh dengan siswa yang hendak mengisi perutnya. Dentingan sendok tak henti hetinya berdenting di piring yang tengah dipakai taeyeon, yeojja itu melahap makanannya dalam diam. Taeyeon berusaha diam dan tak memperdulikan sebuah mata yang dari tadi tengah menatapnya, dan jangan lupakan senyum yang selalu menghiasi bibir namja itu.

“kau ini kenapa?”

Luhan menggeleng lemah “kita pulang bersama nanti, arraseo?”

Taeyeon meletakkan sumpitnya “berhenti memerintahku”

“wae? bukankah kita teman? tak ada salahnya aku mengajakmu pulang” Luhan menompang kepalanya di atas tangannya menghadap Taeyeon

“kau membuatku benar benar menyesal dengan kalimatku itu” Taeyeon menggerutu dan mempoutkan bibirnya.

Tanpa diduga, tangan Luhan menyentuh puncak kepala taeyeon “kau ini lucu sekali, aku tidak mau tau pokoknya kita harus pulang bersama seperti seorang teman”

dengan segera yeojja itu menepis tangan luhan “aku ada jadwal tambahan, tidak bisa”

“aku akan menunggumu”

“shireo!”

Taeyeon bangkit dari duduknya “aku akan pulang sore ani malam hari ini jadi kau pulanglah” taeyeon berbalik dan menghilang dibalik pintu masuk kantin

“apa pelajaran tambahan mu selama itu? arraseo kau akan menyesal karna telah mengucapkan kalimat itu, uri taeyeon-ah” Luhan tersenyum evil dan melahap makanannya yang dari tadi di abaikannya.

“Luhan-ah!”

Mendengar namanya dipanggil, luhan berhenti melahap makannya dan dengan malas menganggkat wajahnya, melihat siapa yang mengganggu jadwal makan siangnya.

“kalian?”

ke 5 namja yang berada dihadapan Luhan hanya tersenyum tanpa dosa lalu segera mengambil tempat duduk dsekitar Luhan.

“wae? kenapa mencariku?” tanyanya malas, jujur saja ia sudah tau apa yang akan mereka minta dari Luhan jika mereka semua menemui Luhan, ayolah Luhan ini peramal (?)

Namja yang duduk dikanan Luhan bernama Sehun dan disebelah kirinya kalian pasti sudah tau nama si tiang listrik yang satu kelas dengannya ini.

Tepat dihadapannya duduk Tao, Xiumin dan Kai sambil menatap Luhan penuh harap. Sebagai informasi Xiumin berada di tingkat yang sama dengan Luhan dan Chanyeol, sementara Tao, Sehun dan kai berada di kelas 11 dengan nama lain “hoobae mereka”

“hyung, bantulah kami!” Sehun yang notabenya duduk disebelah Luhan mengapit bahu namja itu.

“bergabung dengan Club itu lagi agar terkenal dan tak bisa kemana mana karna diikuti sesaeng fans kalian? andwe!” Luhan menggeleng kepalanya secepat yang ia bisa. Bayangkan saja, baru beberapa menit yang lalu kelima namja ini sudah duduk dihadapannya saja sudah membuat udara disekitanya sesak, karna para fans mereka yang mulai mendekat dan berkelompok mengelilingi tempat ini.

“yah! apa yang kalian lakukan disini? pergi aishh aku benci suasana ini!” Luhan hendak berdiri menerobos kerumunan itu sebelum tangan Chanyeol membuatnya kembali terduduk. “ayolah park chanyeol, kau tau aku!”

Chanyeol menatap Luhan dalam, Ia sedikit ragu dengan permintaan teman satu Clubnya ini untuk memintanya menemani mereka menemui Luhan, dan selalu akan berakhir begini, Luhan akan marah padanya. “Luhan-ah, jeball! kali ini tak seperti biasanya, kita akan melawan club basket sekolah itu, setelah itu kau boleh pergi dari Club, kumohon!”

“ne hyung, sisa lombanya akan diadakan bulan depan” namja berkulit tan yang sering disebut Chanyeol mulai melirik kearah Luhan penuh harap, namja itu kai

Tao mendengus kesal “ayolah hyung, mana mungkin kami mendapatkan satu anggota yang benar benar jago bermain sepertimu dalam waktu satu bulan”

Lagi Luhan hanya menatap jengah 5 sekawan ini, Ia akui jika ia memang pintar bermain basket, sepak bola dan juga rubik. Namun jika ia masuk ke Club itu ia akan dikelilingin yeojja yeojja yang hendak menyuarakan namanya dan bilang bahwa ia fansnya. Luhan tak suka jika banyak orang yang mengelilinginya. Bukan tidak suka, ia sedikit trauma sejak kejadian beberapa tahun yang lalu.

“akan ku fikirkan lagi” Luhan berdiri begitu saja lalu mulai menerobos kumpulan orang orang itu. Namun tak ada satupun dari yeojja yeojja itu yang menyingkir membuat mood Luhan benar benar rusak hari ini.

“minggir!” nada suara yang dingin mengalir begitu saja dari namja yang biasanya bersifat bersahabat itu membuat yeojja yeojja itu memberi jalan buat Luhan.

“wahh apa ini efek berteman dengan Kim Taeyeon yeojja jalang itu? luhan sunbae benar benar dingin”

Luhan yang mendengar bisikan yeojja yeojja yang baru saja dilewatinya mendadak berbalik dan menatap tajam yeojja yang baru saja berbicara itu.

“berhenti menyebutnya yeojja jalang atau mulut kalian ku sobek!” kata yang penuh penekanan itu berhasil membuat yeojja yeojja itu tegang hingga Luhan keluar dari kantin itu.

Berbeda dengan Chanyeol yang kembali menghela nafas berat “arhkkk dia pasti marah padaku!”

“wae? kau tidak melakukan apapun!!” Xiumin yang juga tercengang dengan tingkah Luhan menatap Chanyeol, menuntut penjelasan darinya

“ada apa dengannya, hyung?” Sehun bertanya dengan nada tak percaya pada Chanyeol.

“dia tidak suka dikerumi seperti ini! jika sudah bigini, dia memang akan dingin dan marah pada orang orang” sambung Chanyeol.

“apa hyung punya semacam trauma?” tanya Tao yang mulai tertarik dengan tema yang mereka bicarakan.

“ya, trauma karna kejadian yang menimpanya beberapa tahun yang lalu”

***

“unnie!” taeyeon yang hendak masuk kekelasnya mengurungkan niat saat suara yang meskipun ia benci tapi tetap ia ingat.

Taeyeon hanya diam menatap Nana berharap yeojja itu segera menjelaskan alasannya kemari. “oeh? jangan menatapku begitu, aku tak akan takut padamu”

“apa yang kau cari?”

Nana tersenyum sinis saat taeyeon mengetahui maksudnya mencari taeyeon “kau tak lupa perbincangan kita tadi malam kan oenni?” Nana mendekat dan hendak berbisik ke telinga taeyeon “jangan dekati Luhan!”

“dia yang mendekatiku!”

“jinjja? orang tak akan percaya padamu bahwa namja seperti Luhan yang mendekatimu, bahkan kudengar kalau ia akan menyobek mulut siapapun yang bilang kalau kau yeojja jalang! kurasa kau telah merasuki otaknya. akan kuperingatkan sekali lagi padamu, jangan dekati dia”

Taeyeon terdiam, benarkah luhan bilang begitu? ia sedikit merasa senang saat Luhan membelanya. Percayalah bahwa sampai sekarang belum ada yang membelanya seumur hidupnya.

Taeyeon tersenyum menang ke arah Nana “bukankah itu bagus? kurasa aku harus berterimakasih padanya” Taeyeon hendak berbalik meninggalkan Nana yang memberenguk tak puas dengan jawaban Taeyeon.

“kau akan menyesal,unnie”

“aku tidak takut padamu!” jawab taeyeon garang dan setelahnya ia benar benar masuk ke kelasnya.

***

Birunya langit di musim gugur diiringi deruang angin yang membuat rerumputan menari membuat suasana disekitar ini tenang dan damai. Namja yang tengah menapaki kakinya di sekitar bukit yang jauh dari keramaian kota Seoul ini menatap nanar gundukan tanah padat disertai monumen berfoto. Ia, namja bernama Kim Kibum ini tengah berada di makam.

Namja itu berusaha sekuat tenaganya agar tak menangis melihat foto orang orang yang ada dihadapannya ini. 3 foto orang orang yang mungkin jika masih hidup berusia setengah abad itu.

foto disebelah kanan terdapat seorang yeojja yang kalau dilihat saat foto ini diambil berusia 39 tahun dengan rambut pendek sebahu, ditengah ada seorang namja dengan perawakan keras dan berwibawa dengan postur tegap dengan usia 43 tahun dan diposisi kiri namja ini terdapat yeojja dengan rambut panjang legam dengan senyum menghiasi wajah mereka.

“apa kalian bahagia disana?” kibum bergumam pelan sambil tersenyum pilu menatap foto itu. “kalian bertiga jahat pada kami, bagaimana bisa kami hidup dengan aman sekarang?” beningan air mata jatuh setetes dipipi kibum yang langsung diusap kasarnya.

“orang itu, sudah tidak mencari taeyeon lagi kan? benarkan?” Ia kembali bergumam, sungguh jika dilihat dari raut wajahnya kibum terlihat sangat lelah, kusut dan menyedihkan. berbeda dengan kibum yang selama ini berada di kantor dengan sikap arogannya.

“oemma, aku benar benar lelah!”

seakan tak kuat menahan berat badannya lagi, namja itu terduduk ke bawah tanpa memperdulikan bajunya yang kotor. “Taeyeon, aku tak bisa menjaganya lagi! dia sudah sampai disini. maafkan aku oemma!” kibum mengangkat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata menatap yeojja dengan rambut sebahu itu.

“oemma, mianhae! aku selalu menjelekkanmu didepan taeyeon, jeong…hh…mal… mianhaeyeo… oemma!” matanya berdalih menatap yeojja dengan rambut panjang itu, yeojja itu benar benar mirip dengan taeyeon.

Kim Kibum tengah berada dimakan ayah, ibunya dan ibu kim taeyeon. Yeojja berambut pendek bernama Park Min Jung adalah ibunya dan berambut panjang adalah Shin Min Jii, ibunya taeyeon.

*Flasback*

Namja dengan seragam sekolah menengah pertamanya berlari memasuki rumahnya.

“oemma, ada apa?”dengan cepat ia menghampiri oemmanya yang tengah terduduk dikursi roda dan dibalas oleh senyum hangat oleh yeojja paruh baya itu.

“anak oemma sudah pulang? apa karna oemma menelponmu tadi?” Min Jung nama yeojja itu mengusap pelan wajah anaknya dengan sayang. “baiklah kita akan kedatangan keluarga baru, mari keruang keluarga”

dengan tenang, Kibum yang berusia 10 tahun itu berpikir keras sambil mendorong kursi roda oemmanya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang yeojja tengah mengendong anaknya yang berusia kira kira 2 tahun itu.

“nuguseyeo?” tanya Kibum hati hati, ini pertama kalinya dia melihat yeojja itu, jadi tidak masalahkan jika ia bertanya.

“dia, sahabat oemma dan appa waktu masih di sekolah menengah, namanya Shin Min Jae panggil dia oemma dan yang digendongnya bernama Kim Taeyeon, mulai sekarang dia adikmu” terang Min jung sambil menatap Kibum yang masih diam tak mengerti.

“mwoya? kenapa aku harus memanggilnya oemma? shireo!”

“Kibum-ah, dia istri kedua appamu jadi panggil dia oemma”

Seakan baru saja tersambar petir, matanya membesar tak percaya “m..mwo? j..a..di appa berselingkuh?”

“ani, tidak seperti itu, oemma yang memintanya menikah dengan appa, jadi oemma mohon terima mereka, ini tidak seperti yang ada difikiranmu! tidak! appamu orang yang baik, dia yang menuruti permintaan oemma!”

“keundae oemma…”

“kau akan paham nanti”

Kesal, tentu saja! kibum benar benar kesal sekarang hingga ia memutuskan untuk berlari memasuki kamarnya dan membanting pintu itu sekuat tenaganya.

Tubuhnya dibanting begitu saja diatas tempat tidur hingga ia tertidur. Selang 1 jam ia tertidur. Ia merakan ada sesuatu yang memegang wajahnya.

Kibum membuka matanya dan melihat yeojja mungil tengah menyentuh hidungnya dengan senyum manisnya “o..op…pa pa..pa…” ujar yeojja itu sambil sesekali memukul pelan wajah itu dengan tangan mungilnya.

Kim Taeyeon, yeojja mungil berusia 2 tahun itu terduduk dihadapannya sambil menatapnya dengan polos, tatapan itu benar benar tanpa dosa.

Tiba tiba yeojja mungil itu menjatuhkan wajahnya tepat diwajah Kibum dengan bibir mungilnya mendarat di pipi kibum. membuat kibum benar benar kaget dan segera berdiri menjauh dari yeojja itu.

“YAK! APA YANG KAU LAKUKAN!” taeyeon yang dibentak itu hanya diam dan menatap Kibum seolah tak ada apapun yang terjadi.

“op..pa..pa..pa..pa..” taeyeon kembali berusara den berdiri dari ranjang Kibum, Ia hendak turun dan berjalan mendekati Kibum sebelum kakinya tersandung dan yeojja itu terjatuh.

Tangisan taeyeon seketika memenuhi kamar kibum membuat namja itu panik seketika dan langsung menggendong taeyeon “yakk! uljimaa uljimma!”

Dengan penuh kasih sayang, namja itu mengelap sisa air mata taeyeon dan mengecup pipi taeyeon sayang, sepertinya ia mulai menyayangi yeojja ini.

“baiklah,aku akan menerima mu sebagai adikku, tapi dengan satu syarat! jangan menangis, arraseo!”

taeyeon hanya mengangguk sesegukan.

“kajja, kita lihat apa yang dilakukan orang dewasa”

Secepat kilat Kibum yang tengah menggendong taeyeon turun ke lantai dasar rumahnya dan hendak membuka pintu ruang keluarganya menemui orang orang yang bisa menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

“rumah tangga kalian akan hancur karna ku, taeyeon bukan anakmu, oppa” sebuah suara yang diyakini kibum suara Shin Min jii ibunya taeyeon. Membuat kibum mengurungkan niatnya membuka pintu dan lebih memilih menguping.

“sekalipun bukan anakku,tapi mulai sekarang ia akan menjadi anakku! aku harus melindunginya dari Park Myung Sul”

“biarkan dia disini, atau kau lebih memilih dia mati dibunuh ayahnya sendiri, Park Myung Sul?” itu suara oemmanya, oemma Kibum

“tapi ini akan benar benar merusak citramu jae myung oppa, Min Jung unnie kau akan terluka karna ini”

“aku tak akan membiarkan Myung Sul membunuh Kim taeyeon dan aku akan melindungi kalian, karna kalian keluargaku, dan kau Shin Min ji, kau sahabat ku dari kecil, kumohon biarkan aku bertindak sebagai kepala keluarga”

Tak Kuat mendengar perdebatan itu lagi, Kibum segera berlari menjauh ke taman belakang rumahnya, tentunya masih dengan taeyeon.

“jadi appa tidak berselingkuh? ia ingin melindungin taeyeon dan juga oemmanya karna ia sahabatnya? lalu siapa Park Myung Sul? kalau ia ayah taeyeon bukankah harusnya ia yang menjaga taeyeon? membunuh? lalu kenapa ia ingin membunuh” Kibum menerawang jauh dari tempatnya berdiri, ini persoalan yang rumit yang bahkan ia sendiri yang berusia 10 tahun sama sekali tak mengerti. apalagi dengan yeojja mungil yang tersenyum manis dihadapannya ini.

*flasback off*

“Park Myung Sul, Fakta yang beredar namja itu ternyata seorang psycopath dengan tingkat tinggi. penyakitnya semakin berkembang saat ia sering kalah judi jadi ia memutuskan untuk menjadi seorang pembunuh dengan bayaran yang mahal dan ia selalu berhasil membunuh kolega bisnis yang diminta lawan bisnisnya untuk membunuh. aku tau dia seorang pembunuh yang akan dibayar oleh siapapun untuk membunuh orang lain dalam kata lain ia pembunuh bayaran. Ia meninggalkan istrinya yang tengah hamil lalu menusuk perutnya berharap yeojja dan anak yang dikandungnya mati namun saat itu appa dan oemma segera menolongnya dan melindungi mereka lalu akhirnya untuk menghilangkan jejak tentang Taeyeon dan ibunya, appa mengaku pada orang luar bahwa ia kekasih appa lalu taeyeon anak appa. appa menyuruhku bersikap jahat padanya agar orang percaya bahwa ia adik tiriku. taeyeon dan Min jii oemma tidak mati saat itu lalu Myung Sul berusaha mencari mereka untuk dibunuh. Hingga suatu hari saat aku pulang kerumah aku melihat oemma dan oemmanya taeyeon bersimbah darah ditangan Myung Sul. Saat itu taeyeon dan appa tengah pergi keluar ditengah malam karna mencariku hingga akhirnya appa kecelakaan menabrak sebuah mobil lalu meninggal di tempat dan hanya taeyeon yang selamat” Kibum menghela nafas seusai menyampaikan simpulan yang ia dapat beberapa tahun ini mengenai kasus yang di alami keluarganya sambil tersenyum nanar menatap gundukan dengan 3 orang yang sudah meninggal itu.

“kenapa kalian tak langsung memberitahunya padaku? AKU HAMPIR GILA KARNA INI!” emosi yang ia tahan dari tadi meluap begitu saja dari dirinya.

“apa kalian tau? taeyeon membenciku sekarang! aku tau dia membenciku karna sikapku. Aku oppanya yang jahat”

air mata mulai mengenang dipelupuk matanya, Kibum guyah. Perlahan, cairan bening merembes turun dari matanya. Ia menangis “aku sudah menjadi oppa yang jahat karna harus memusuhi taeyeon dan selalu menganggapnya anak haram appa! wae?! kenapa appa menyuruhku berlaku seperti itu dihadapan taeyeon? WAE?!”

Helaan nafas berat penuh sesal keluar dari mulutnya, dengan cepat ia berdiri dan membersihkan bajunya. Menatap tajam makam dihadapannya. “demi kebaikan taeyeon?” Kibum tertawa sinis “ini yang appa mau? ya appa berhasil, semua orang percaya bahwa taeyeon anak haram appa. Semuanya percaya, tapi tidak dengan Park Myung Sul, dia sudah tau taeyeon bukan anak appa”

Kibum berbalik hendak melangkah meninggalkan makam, tepat sebelumnya, ia berujar dengan sangat pasti.

“Park Myung Sul, aku akan membunuhnya untuk kalian, tak peduli sekalipun ia ayah kandung taeyeon atau bukan! dan Taeyeon…. aku akan melindunginya, bukan sebagai oppa jahat yang appa suruh padaku, tapi sebagai adik yang sangat aku sayang. kalian tenang saja”

***

Chanyeol menatap Luhan diam,sejak kejadian tadi dikantin ia dan Luhan tak tegur sapa. Chanyeol terlalu takut bahkan untuk menatap Luhan saat ini, hingga ia mendiami Luhan. Luhan yang tau kenapa Chanyeol diam hanya mendiaminya. Bunyi bel pertanda jam pulang pun menyadarkan Chanyeol dan segera membersihkan bukunya.

“LuHan, kau mau pulang bersamaku?” Luntur sudah pertahanan Chanyeol, ia tak sanggup lagi jika terus diaman dengan Luhan, baiklah ini memang salahnya karna sudah membuat Luhan marah. Chanyeol tak kuat harus makan siang tanpa Luhan, dan chanyeol tak kuat tanpa harus bicara pada Luhan.

“aniya, kau pulanglah duluan” Luhan menepuk bahu Chanyeol singkat

“kau masih marah padaku? mian”

Tawa keluar dari bibir Luhan “kenapa aku yang marah? harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu, mian”

“lalu kenapa kau tak mau pulang dengaku? aku tak akan memaksamu untuk masuk Club lagi”

Luhan mengedipkan matanya genit ” aku ada jadwal tambahan, tidak bisa, arra, aku akan mempertimbangkan Club mu itu, aku hanya tidak dalam mood yang baik tadi”

“aku akan menunggumu!” Chanyeol tetap memaksa Luhan agar membiarkannya menunggu

” aku akan pulang sore ani malam hari ini jadi kau pulanglah” sambung Luhan dengan mata penuh binar dan pergi dari kelas, menuju tempat ia akan les tambahan

Baru saja Luhan memasuki ruangan itu, yah ruangan kecil persis seperti tempat konsul ruangan bimbing konseling yang ada diruang bknya sudah membuat namja itu sedikit terkejut.

Didalam hanya ada meja panjang sepanjang ruangan ditambah kursi panjang dimana seorang yeojja tengah duduk.

menyadari kehadirannya, yeojja itu membalikkan badannya dan langsung membungkuk tanpa manatap wajah Luhan

“annyeonghaseo seongsamnim, mianhamida membuat anda harus meluangkan waktu anda mengajari saya, karna pelajaran yang saya pelajari saat diChina berbeda dengan yang disini”

Luhan bertepuk tangan ria”Selain banyak bicara dengan anjing ternyata temanku kim taeyeon juga banyak berbicara dengan.guru” Taeyeon segera mengangkat wajahnya dan menatap Luhan tajam

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Taeyeon sarkatis.

“nan? aku mengejar tambahan sampai sore karna kim taeyeon yang memintanya tadi padaku”

“aku tak memimtamu menjadi guruku” elak taeyeon “memang tidak, tapi aku mendapatkan perintah dari song seongsamnim guru yang telah mewarnai kesuramanku untuk mengajari mu matematika, taeng”

Taeyeon megerutkan keningnya tak mengerti “taeng?”

Luhan mengangguk dan berjalan mendekati taeyeon “panggilan akrabku untukmu, yeopposeo?” Luhan segera menduduki pantatnya dikursi sebelah taeyeon “berhenti terkagum padaku taeng, sekarang bukak bukumu hal 37 dan dengarkan aku menjelaskannya padamu”

Taeyeon menatap Luhan yang jaraknya tak terlalu jauh darinya, namja itu menatap buku taeyeon dan siap membuka suaranya untuk menjelaskan rumus matematika yang ada pada bab tersebut. Selama satu jam penuh, suara Luhan masuk ketelinga taeyeon. Taeyeon hanya mengangguk paham dan sesekali menguap.

“sekarang, kau kerjakan soal 5 buah ini setelah itu kita akan pulang, ini sudah jam…” Luhan melirik jam tangannya singkat “empat sore” Luhan berdiri dan meninggalkan Taeyeon sendiri disana yang menatap pintu diam “dia meninggalkanku?” batinnya dan mulai menulis di buku tulisnya

Luhan terus berjalan ketoilet, mencuci mukanya. Jujur saja ia merasa sedikit kepanasan berdekatan dengan taeyeon sekalipun diruangan itu ada acnya. Dan oeh rasanya dari tadi jantungnya ini berdebar tak karuan.

Luhan menatap bayangan di wastafel “wae? apa aku sakit jantung?” Sekali lagi ia membersihkan wajahnya dengan air lalu berjalan keluar toilet.

“Luhan oppa!” Sapa seorang yeojja

Luhan berbalik dan bergindik ngeri saat seseorang memegang bahunya “soojungie, aku kira kau hantu penjanga sekolah, aigooo”

Soojung mendekat dan mendesis sebal “ishh semengerikan itukah aku? oppa kenapa belum pulang, aku menanyakan oppa pada Chanyeol oppa dan dia menjawab kau sedang ada pelajaran tambahan”

Luhan mengangguk “iya, aku sedang ada pelajaran tambahan, kau pulanglah”

“tak bisakah aku menemanimu? setelah itu kita pergi jalan bersama, aku baru pulang dari California, bahkan kau tak mengajakku jalan, apa apaan ini?”

“kau kan bisa jalan jalan dengan Chanyeol, dia sedang banyak waktu kosong”

“shireo! Chanyeol oppa sering marah marah padaku akhir akhir ini, bushoweo”

Luhan mendelik kesal “bagaimana dia tak marah padamu, kau hanya mencarinya untuk menanyaiku kan? sekali saja coba peduli pada orang yang selalu ada disampingmu”

Luhan meninggalkan soojung dan berjalan ke ruangan pelajaran tambahannya bersama taeyeon.

pintu ruangan terbuka dan luhan hanya bisa diam mendekat melihat Taeyeon tengah tertidur dengan tangan kanannya sebagai alas. Wajah yeojja itu menghadap kearah Luhan yang entah sejak kapan sudah terduduk disebelah taeyeon dan memperhatikan yeojja itu tengah terlelap dalam tidurnya.

“kau benar benar cantik jika sedang tidur begini” Luhan mendekatkan wajahnya ke arah Taeyeon, memperhatikan setiap lekukan wajah makhluk ciptaan Tuhan ini. Tangan Luhan bergerak menyibak poni rambut taeyeon yang sedikit menanggu pandangannya.

“jantungku berdebar lagi, aish jinjja!” luhan menggerutu kesal memegang dadanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah taeyeon.

matanya tiba tiba teralihkan pada mulut taeyeon, tepatnya bibir berwarna soft pink itu. Luhan yakin yeojja ini benar benar tak menggunakan sedikit pun make up diwajahnya. dan untuk bibirnya Luhan rasa itu alami tanpa ada nya liploss. Fantasi liar luhan tiba tiba bangkit. Luhan kembali merapatkan wajahnya. Bahkan hembusan nafas taeyeon sudah menyentuh lembut wajahnya. Hingga Luhan menyadari bahwa bulu mata taeyeon mulai bergerak, Luhan langsung memundurkan wajahnya dan berdalih mengambil buku catatan taeyeon.

“jangan melakukan hal hal aneh didalam drama Luhannie!” Luhan menghela nafas grogi dan bergumam untuk dirinya sediri sekaligus mencoba fokus pada catatan taeyeon.

Taeyeon bangun dan mengusap matanya pelan “kau sudah kembali?”

Luhan mengangguk mengiyakan “igo mwoya? kenapa cuman 2 soal? aku menyuruhmu mengerjakan 5 soal, dan satu jawabanmu ini salah, yang betul hanya satu” decakan keluar dari mulut Luhan, sebenarnya Luhan sedang menutupi kegugupannya saat hampir saja namja itu mengikuti fantasinya.

“apanya yang salah? apa kau sudah memerikasanya?” Taeyeon mendekatkan wajahnya ke dekat buku yang dipegang Luhan. Secara tak langsung, Luhan menghela nafas panjang “jangan terlalu dekat padaku”

Taeyeon segera menggeser badannya menjauh “maksudku bukan begitu.. mm.. taeng kau tau ruangan ini sangat…”Luhan menghela nafas grogi “panas”

Luhan menghela nafasnya berat. Oh ayolah hampir saja ia melakukan hal yang aneh pada taeyeon. ‘mencium taeyeon?’ Luhan kembali menggeleng geleng menyalahkan pikirannya yang memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan.

“Luhan-ssi, kau terlihat aneh”

Luhan kembali dari pikirannya dan menatap taeyeon canggung “ahh aniya… hahahaha” Namja itu tertawa hambar dan kembali menatap buku taeyeon.

“dasar aneh” desis taeyeon kesal.

***

Kibum memasuki ruang kantornya dengan wajah yang benar benar kusut. Langkahnya sangat pelan dan terkesan lunglai itu mulai menemui kursinya dan beristirahat diatasnya seraya memijit pelipisnya. Kepalanya benar benar sakit sekarang. Hingga akhirnya degumam pintu membuatnya menghentikan aktifitasnya dan menatap namja dengan rambut gondrong itu perlahan mulai berjalan mendekatinya.

“jika kau ingin mengangguku, aku mohon jangan sekarang, Heechul-ah! jebal!” iya mulai memijit pelipisnya lagi.

Heechul hanya diam tak berniat berucap apapun dan segera meletakkan amplop coklat diatas mejanya kibum. Lagi, namja itu menatap Heechul dengan tatapan meminta penjelasan.

“igo mwoya?” dengan cepat ia segera membuka amplop itu, baru melihat setengahnya saja, mata Kibum sudah terbelalak kaget.

“jelaskan kepadaku dari mana kau dapatkan ini?”

Heechul mengangkat bahunya “hanya sedikit permainan dalam, aku berhasil mendapatkan data data Park Myung Sul”

Kibum hanya diam dan membolak balik kertas itu dengan seksama “ia akan kekorea bulan ini?”

“aku tidak tau, aku hanya mencurinya ketika aku bermain dengan yeojja pegawai di sumber data dan informasi itu, lalu cha~ dia memberiku segalanya” terang heechul.

“aniya, taeyeon… uri taeyeon… andwee aku harus segera membawanya kembali ke China!”

“bukankah kau akan melawan park myung sul? siapa tau ia sudah tak mengingat taeyeon lagi!”

Kibum menggeleng gelisah “tidak, saat aku melihatnya… saat ibuku dibunuh olehnya waktu itu… ia berjanji akan menemukan taeyeon dan membunuhnya juga!”

***

“kau benar benar membuat kita pulang larut malam taeng” Luhan dan taeyeon tengah berjalan beriringan melintasi jalan kota seoul, karna Taeyeon sangat lama menyelesaikan soal itu dan harus berdebat dengan Luhan karna merasa jawabannya benar pun salah satu alasan kenapa mereka pulang disaat jam tangan Luhan menunjukkan pukul 9.

Luhan bahagia, temannya itu setidaknya tidak sedingin dulu lagi padanya dan mulai banyak bicara. Ternyata Taeyeon bukanlah yeojja pendiam seperti asumsi orang yang kebanyakan melihatnya. Jika kau mengenalnya ternyata dia orang yang suka berargument, dan jangan lupakan dengan sikapnya yang tak mau kalah.

“boleh aku meminjam ponselmu?” Luhan menghentikan langkahnya dan menatap taeyeon penuh harap.

Taeyeon menghentikan langkahnya dan menatap Luhan penuh selidik. Ia curiga jika luhan tiba tiba saja akan meminta nomer poselnya dengan cara ia menelpon nomer taeyeon dari ponsel bukan? bukankah cara itu sudah basi?

Lagi, yeojja itu menggeleng sekali “shireo! kau akan mencuri nomer ponselku kan?” taeyeon sedikit mengerucutkan bibirnya. Benar benar menggugah iman Luhan ternyata. Luhan segera mengalihkan tatapannya ke segala arah. Hanya pohon pohon ditepi jalan trotoar yang ia lihat. Jika ia bisa memilih ia ingin sekali melihat wajah tayeon. Namun oh ayolah, jantungnya berdegup kencang lagi.

Mencoba mencairkan suasana Luhan tertawa menggelengar, untung saja jalanan sepi, jadi urat malunya tak akan bermasalah “mwoya? aniyo! jinjjayo!” Ia mengelak tuduhan taeyeon dengan perasaan yakin “ponselku mati, dan aku belum menelpon oemmaku”

Taeyeon tersentak kaget “o..oem..ma?”

“ne”

“Oemma? ahh baiklah” Taeyeon sedikit kikuk dan mulai meraba ranselnya, mengeluarkan benda persegi bermerk ternama berwarna putih itu dari dalam sana dan memberikannya pada Luhan.

Jujur, Taeyeon saat ini benar benar iri pada Luhan. Ia masih mempunyai oemmanya. Sedangkan taeyeon? Semua tau bahwa ia tak punya siapapun yang akan ia telpon jika ia pulang terlambat atau sekedar memberikan kabar. Ia bahkan berfikir untuk apa ia diberi ponsel oleh kepala pelayan Zang jika yang ia hubungi dan yang menghubunginya hanya pelayan Zang dan juga Lay.

‘bukankah ia punya oppa?’ pasti akan beredar pertanyaan seperti itu padanya. Kim Kibum bukanlah orang yang peduli pada Taeyeon, setidaknya begitulah menurutnya.

“apa kau masih kepanasan di cuaca sedingin ini?” Tanya Taeyeon pelan dan berusaha mengalihkan topik pembicaraannya. Luhan tengah mengotak ngatik ponsel taeyeon lalu menempelkan ke telinganya.

“iya, sangat. ohh kau sudah mulai perhatian padaku taeng” Luhan menyenggol bahu taeyeon pelan sebelum sambungannya dan ‘oemma’ orang yang ditelponnya tersambung.

“duduklah dihalte sana, aku akan mentraktirmu ice cream”

Dengan patuh, Luhan duduk di halte bus tempat mereka menunggu bus. berbicara berapa menit dengan oemmanya yang bertanya dimana ia dan kenapa belum pulang dijam malam seperti ini. Luhan namja. Benarkan? Tapi tak ada salahnya kan jika oemmanya mengkhawatirkannya? Maklumlah, ia putra satusatunya dan harta berharga bagi ibunya. Ia bukanlah ‘anak mami’ atau apapun itu,tapi ia benar benar menyanyangi ibunya. Percayalah.

Taeyeon yang katanya membeli ice cream, menghilang entah kemana. dan dalam waktu 10 menit berlalu, yeojja itu kembali dengan tangan memengang dua platik ice cream.

“igo” taeyeon menyodorkan satu buah ice cream ke hadapan taeyeon “apa sudah selesai?” Luhan mengangguk sambil tersenyum, memberikan ponselnya kepada taeyeon dan diambil yeojja itu lalu membalasnnya. Senyum Luhan hanya dibalas Taeyeon dengan anggukan singkat tanpa senyum yang membuat Luhan sedikit kecewa. Sampai saat ini ia belum bisa membuat taeyeon tertawa ani tersenyum.

“gomawo” Luhan membuka bungkusan Ice creamnya dan mulai melahapnya “taeng, apa kau pintar pelajaran biologi?”

Taeyeon segera mengambil tempat disebelah Luhan dan membuka ice creamnya. memakannya dengan pelan. seperti Luhan. mereka memakannya seolah olah saat itu tidak sedang musim gugur. “sedikit, wae?”

“jantungku berdebar tak beraturan dari tadi dan aku sedikit merasa panas dan sepertinya otakku sudah agak bergeser dan aku merasa sumpah serapah song seongsamnim waktu aku sering telat telah berlaku sekarang” ya, Luhan sering disumpahi otaknya bergeser oleh song seongsamnim karna selalu telat dan sekarang Luhan mulai merinding mengingat ekspresi gurunya itu.

“mungkin saja kau terkena serangan jantung seperti orang tua”

“m..mwo..ya? apa berarti aku akan meninggal? yak! jangan bercanda”

Taeyeon menatap Luhan dalam. betapa bodohnya namja dihadapannya ini yang begitu saja percaya akan ucapannya “aku hanya becanda, tidak ada hal seperti yang kau sebutkan dibuku biologi” Namja itu hanya manggut manggut mengerti “apa aku harus kerumah sakit?!” taeyeon hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh

Luhan menghabiskan ice creamnya dan membuang sampahnya kemudian menghadap taeyeon “berapa usiamu?”

“18 tahun” Taeyeon membuang plastik ice creamnya dan menatap Luhan “wae?”

“makan ice saja masih belum bisa” sadar kemana arah pembicaraan Luhan, taeyeon mengeluarkan lidahnya membersihkan sudut bibirnya “sudah?”

“belum”

Tangan taeyeon hendak terangkat membersihkan bibirnya, namun ditahan tangan luhan “tanganmu akan kotor” ujar luhan pelan

“aku akan mencucinya nanti” jawab taeyeon tak kalah pelannya

Luhan menatap taeyeon tak percaya “apa kau tak pernah nonton drama korea?” taeyeon menggeleng “selama ini aku tinggal di China”

mata Luhan menatap lurus kemata taeyeon, membuat taeyeon semakin penasaran “memangnya apa yang dilakukan di drama?!”

Luhan tersenyum singkat dan memegang lengan taeyeon agar menghadapnya sepenuhnya. Luhan menatap dalam kedalam manik mata Taeyeon.

Jernih. Matanya benar benar jernih. Dan lagi, lagi, jantungnya berdegup cepat, kali ini sangat cepat. Namun ada yang membuat Luhan tertegun dengan tatapan itu, tatapan itu seperti menyimpan sesuatu yang menyedihkan dan penyesalan. Penyesalan? Luhan terus mengulang kalimatnya berulangkali didalam hatinya.

Berbeda dengan Luhan, Taeyeon menatap Luhan dengan tatapan bingung dan penasaran “apa yang dilakukan didrama?” ulangnya

“aku akan menunjukkannya, tapi kau jangan marah padaku, arraseo?” taeyeon mengangguk pelan tanpa berniat melepas tatapan dari Luhan.

“yang dilakukan di drama secret garden yang aku tonton waktu itu bersama oemmaku, saat yeojja itu mulutnya berlepotan coffe saat di kafe, dan namja itu melakukan ini…”

CUP

tepat setelah menyelesaikan ucapannya tadi, Luhan mendekatkan wajahnya kearah taeyeon dan segera mengecup singkat bibir taeyeon. hanya kecupan ringan yang biasa dilakukan anak sma kelas 1, ohh ayolah luhan sekarang kelas 3, apa masih melalukan hal itu? sekalipun ini hanya kecupan singkat, namun hal ini justru membuat jantung Luhan berdebar debar.sekalipun ini ciuman pertamanya. sekalipun yeojja yang dihadapannya ini hanya membelalakkan matanya kaget. Tapi Luhan benar benar bahagia sekarang, ia sendiri bahkan tak tau kenapa ia benar benar bahagia hanya dengan mengecup bibir taeyeon.

Luhan segera menjauhkan wajahnya dan menatap taeyeon yang masih saja membelakakan matanya kaget “mian, aku hanya membersihkannya saja” jawab Luhan santai sambil menunjuk sudut bibir taeyeon yang tadi masih ada sisa bekas ice creamnya, namun sekarang sudah hilang “dan kau bilang kau tak akan marah tadi, jadi ini bukan sepenuhnya salahku”

Tepat setelah itu, bus terakhir yang akan mengantarkan mereka ke rumah berhenti dan taeyeon segera masuk mendahului luhan. Pipinya benar benar merona sekarang. Makanya ia memilih masuk bus duluan agar wajahnya yang merona ini tak dilihat oleh Luhan. Tak ada percakapan berarti selama didalam bis, mereka hanya sibuk dengan pikiran masing masing hingga mereka sampai di rumah mereka sendiri.

***

Malam sudah sampai pada puncaknya. detak jarum nya menunjukkan angka 12 malam. entah kenapa mata yeojja itu masih enggan untuk menutup rapat, sehingga yeojja itu menatap dalam dinding langit kamarnya. matanya memang mengarah kesana, tapi pikirannya entah kemana.

“ada apa dengan ku?” tangan Taeyeon berdalih memegang dadanya, tepatnya di hadapan jantungnya yang sedari tadi bekerja keras. “kenapa kau masih berdebar? sekarang sudah 3 jam berlalu dari kejadian tadi” Taeyeon menghela nafas dan berusaha mejamkan matanya merapatkan selimutnya ke atas.

“aku rasa aku harus pergi bersamanya kerumah sakit. jantung ku berdebar dari tadi!” dengan kesal ia megacak rambutnya dan mengangkat selimut membungkus seluruh tubuhnya. Tak berselang lama selimut itupun kembali terbuka menampakkan kepalanya “dan sekarang aku kepanasan. aigoo rumah sakit atau aku panggil dokter keluarga saja?” Ia terus bergumam sendiri tanpa ada yang mendengarnya

“sepertinya aku tertular penyakit Luhan!” gumamnya kesal.

“apa aku menyukainya?” namun setelahnya taeyeon menggeleng geleng “apa kau gila kim taeyeon? dia bahkan baru beberapa minggu ini kau kenal!” lagi taeyeon bergindik ngeri “andwee! maldo andwee!!”

Deringan ponsel dimeja kecil samping tempat tidurnya berhasil membuat taeyeon mengalihkan perhatiannya. Meraih ponsel itu, dan.melihat apa yang membuat benda itu bergetar, sebuah pesan.

<01*******>

annyeong taeng, apa kau sudah tidur? kalau begitu selamat malam.

-Luhan- (aku tak mengambilnya saat aku meminjam ponselmu tadi, aku hanya menyalin nomernya dari ponsel oemmaku tadi, aku tidak menggunakan cara basi bukan? jadi jangan marah) ^^v

Taeyeon menghela nafas kesal. Dan segera melempar ponselnya tanpa berniat membalas pesan Luhan. Membanting tubuhnya dan mulai menutup matanya. Ia hanya menutup matanya, sama sekali tak tertidur, hingga…

Malam semakin berjalan, dan sekarang akan meninggalkan tempatnya. digantikan mentari pagi yang akan menyampaikan kehangatan dimusim gugur ini.

Taeyeon menggeliat dibawah selimutnya “AKHHH! AKU TAK BISA TIDUR!’ dengan langkah tertatih yeojja itu melangkah menuju kamar mandi, menggosok gigi, merutuki mata panda yang mulai bermunculan karna tidak bisa tidurnya dan berakhir dengan seragam lengkap yang melekat pas pada tubuhnya.

baru saja taeyeon membuka pintunya, ahjumma hwang sudah berdiri disana dengan wajah kagetnya “nona muda, ada apa dengan wajah anda? apa kamar anda terlalu dingin? apa pemanas ruangan anda rusak? harusnya anda memanggilku nona muda”

Taeyeon hanya menggeleng pelan “kau sama dengan Luhan, cerewet sekali”

“Luhan? apa itu namjachingu anda nona?” taeyeon membelalakkan matanya tak mengerti “aniyo ahjumma, jinjja!”

“apa oppa sedang sarapan?” tanya taeyeon

“ye, tuan muda tengah sarapan pagi bersama dengan Nana-ssi” jawab ahjumma hwang “sekarang nona muda juga harus sarapan”

Taeyeon tersenyum tipis “aniya, aku tidak akan sarapan jika aku menginginkan pagi yang cerah hari ini, aku pergi, annyeong ahjumma” Taeyeon segera melangkah menuju tangga, yah menatap sekilas kedua orang yang tengah duduk dimeja makan sembari melahap makannya.

“unnie, apa kau tak sarapan?” tanya Nana dengan nada yang membuat taeyeon ingin muntah

Taeyeon segera berlalu tanpa menjawab pertanyaan Nana, bukankah ia sudah bilang ia tak akan merusak paginya dengan berdebat dengan Nana, yeojja menyebalkan yang selalu mendapatkan perhatian dari oppanya, Kim Kibum.

***

“apa tidurmu nyenyak Luhannie?” Oemma Luhan menyodorkan sepiring roti telur kehadapan Luhan berserta susu hangat.

Luhan tersenyum hangat dan melahap makanannya cepat, karna jika ia melahap makanannya selama kemarin, taeyeon pasti sudah meninggalkannya.

“oemma, aku pergi” Luhan berdiri dan menyampirkan tas nya dikedua tangannya

“mana ciuman pagi untuk oemma?” Oemma Luhan cemberut dan menatap anaknya kesal

“oemma, aku mencium ani mengecup yeojja yang aku sukai kemarin, aku tak mau kehilangan bibirnya dibibirku” Luhan menunjuk bibirnya

“kau kan hanya mencium pipi oemma, ohh ayolah kau kan masih bisa menciumnya lagi nanti?” Luhan tersenyum nakal dan mencium pipi oemmanya “arraseo oemma, aku pergi”

“hati-hati, oemma titip salam untuk yeojja yang kau cium”

Tepat setelah Luhan pergi, seorang namja paruh baya memasuki rumah Luhan dan langsung menghampiri oemma Luhan yang berada di dapur.

“noona!” sapa namja itu ringan

Oemma Luhan berbalik dan tersenyum “kau sudah sampai? bukankah aku bilang aku akan ke China nanti malam? kenapa kau kesini? Kebetulah Luhan baru saja berangkat” namja itu mengangkat alisnya “aku tak mencari bocah tengik itu!”

“aku sudah tau siapa orangnya…” namja itu tersenyum miris dan menatap dalam manik mata oemma Luhan

“nugu? orang apa?”

“yang menabrak hyung, maksudku suami noona!”

***To Be Continued***

Maaf atas keterlambatannya dan terimakasih buat yang udah komen di part selanjutnya^^ Ceritanya makin lama makin ancur dan kurang menarik. Kalo gasuka gausah baca aja gapapa. Buat siders, saya tau ff saya ga semanrik ff lainnya. Kalo gamau komentar gausah baca. Gomawo ^^ *HUG* KISSKISS* *BOW*

Advertisements

77 comments on “[FREELANCE] Moonlight (Chapter 3)

  1. Akhirnya muncul chapnya, Luhan modus banget akalnya.. Kasian ama Kibum, jadi dia gitu biar bisa ngelindungi Taeng. Appa nya Taeng kok mau ngebunuh Taeng knp? Next thor

  2. wah luhan nyuri first kissnya tae??
    sepertinya tae ud mulai tmbh benih2 cinta…
    ayahnya taeyeon mw bunuh tae kejam skali…
    ternya kibum emg oppa yg baik ^^
    next dtggu fightaeng!!!

  3. Annyeong aku reader bru disini, salam kenal:) waahh daebakk luhan berani ambil first kiss tae, sosweet:) Next thor chp sljtnya, hwaiting!!

  4. Maaf baru komen ya whehhe. Ceritanya bagus thorrr jinjaaa bagus bangeettt lutaeeeeee huaaa saling suka toh yaa. Nana resek aaahhh elah, kibum sebenernyaa sayang kaann waaa ditunggu buat next chapternya thot hwaitingggggg nee ,😘😘💕💕💕💕

  5. wah…luhan lucu banget sih tingkahnya…
    n taeyeon polos banget mpe gak tau mau di curi ciumannya…
    hehehehe

    suka banget ma ff nie…👍

  6. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. daebak ,
    kren bingits !!
    cie luhan nyium taeng ,,
    hehehe,sweet bgt!
    siapa orang itu yg ngomong “aku sudah tau siapa orangnya” ????
    mkin pnsran ajh !!
    ya udh klo gtu ttp smngat ya thor !!
    fighting!.

  8. seruuu seruuu..
    Woaaa lutae first kiss!! Hehehe
    aduh penasaran bgt sama trauma nya luhan..
    tp beneran dh luhan kocak banget..
    kepanasan, jantung berdebar, harus ke dokter wkwkwkwk
    otaknya bergeser seperti apa yg Song seonsaengnim bilang 😂😂😂
    lanjut terus nulisnya thor!! Semangatt

  9. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Aku baru tau kalo taeyeon sebenarnya bukan anak haram. Aduh kasihannya taeyeon. Ah LuTae momentnya seru. Keep writing thor

  12. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  13. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 8) | All The Stories Is Taeyeon's

  14. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 9) | All The Stories Is Taeyeon's

  15. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 10) | All The Stories Is Taeyeon's

  16. Pingback: [FREELANCE] Moonlight (Chapter 11) | All The Stories Is Taeyeon's

  17. chieee luhan suka nonton drama. ~ sampai cium taeyeon segala lagi.

    jangan jangan kecelakaan appanya luhan ada kaitan ama kecelakaan appa (kim jae myung(?)) taeyeon? aah molla.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s