[FREELANCE] Our First Love (Chapter 1)


Title : Our First Love
Author : HannaByun_ss

Main cast : Kim TaeYeon SNSD – Byun BaekHyun EXO – Jung Jessica SNSD

Support cast : Yoon BoMi Apink – Park ChanYeol EXO – Kim JiWoong
Length : chapter
Rating : PG-16
Genre : School life, rommance, family

Note : haaiiii… ini FF chapter pertamaku. mohon tinggalkan komentar agar aku semangat untuk meneruskan FF nya.. gomawoyo yeorobeun…

Oke Happy Reading… ^^

Preview: Intro

Part 1

Kuhamburkan tubuhku di atas kasur. Pikiranku masih melayang pada kejadian barusan. Jessica yang mengatakan itu padaku. Aku tahu mereka satu kelas, tapi kenapa harus Jessica yang bilang kalau BaekHyun masih mengharapkanku. Apa mereka benar-benar sedekat itu?

“Hhhaaahhh… Molla!” aku mengerang dan mengguling-gulingkan badan di atas kasur pasrah.

Masa harus aku yang mulai memberi pesan padanya? Aiiisshh.., bukannya selama ini memang dirimu yang selalu membuka percakapan terlebih dahulu? Ingat itu Kim TaeYeon! Kalau kau masih menjunjung tinggi harga dirimu, itu sudah sangat terlambat. Dia sudah tahu selama ini pasti kau masih mengharapkan cinta kasihnya.

“Benar juga. Selama ini selalu aku.” aku menghela napas panjang kecewa. “Tapi kan aku tidak pernah mengajaknya bertemu sebelumnya. Masa tiba-tiba aku memberi pesan untuk saling bertemu? Makin turun saja harga dirimu ini Kim TaeYeon! Aaiisshh.., dasar yeoja babo!” kataku merutuki diri sendiri sambil terus memukuli kepalaku.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak memikirkan ini lagi dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

Taeyeon POV end

Taeyeon mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi yang berada dalam kamarnya sendiri.

Selang beberapa menit ia telah masuk, dari dalam tas, handphonenya bergetar yang menandakan ada seseorang yang menelponnya. Benda itu terus bergetar selama lebih kurang 2 menit. Dan yang kedua kalinya, benda itu kembali bergetar, 1 menit kemudian berhenti dan disusul dengan matinya handphone itu.

15 menit berlalu, yeoja dengan tubuh yang masih berbalut handuk itu keluar dari kamar mandi sambil terus mengusap rambutnya yang basah. Ia berjalan menghampiri tasnya dan mulai mencari benda persegi panjang yang kini keadaannya telah mati total.

“Mwo?!” kagetnya karena mendapati handphonenya yang tidak bisa menyala. “Handphoneku kembali lowbatt. Seingatku tadi masih ada beberapa persen.”

Lalu ia mencolokan handphonenya pada kabel panjang yang berada di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia nyalakan kembali benda itu dan pendapati 2 panggilan masuk yang tak terjawab. Matanya melotot ketika mendapati nama yang tertera pada layar itu. 뷴백현.

“Omo! Apa benar dia yang menelpon? Dia tidak pernah menelponku sebelumnya. Apa ada hal penting yang akan ia sampaikan? 18:43? Berarti dia menelpon saat aku mandi.” beribu pertanyaan yang melintas di otaknya saat ini. Ia masih tidak percaya kalau namja itu menelponnya.

Sedetik kemudian handphonenya kembali bergetar, ada 1 pesan masuk dari orang yang sama. Dengan cepat yeoja itu membuka pesan itu.

‘Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku, kenapa malah kau matikan handphonemu? Kalau pesan ini terkirim sempurna, aku pastikan akan menghubungimu kembali.’

Yeoja itu terbelalak membaca pesan itu. Masih tidak percaya dengan apa yang ia baca saat ini. Apa benar namja itu yang mengirimkan pesan padanya? Ini bukan hal yang wajar, namja itu tidak biasa seperti ini.

Drrtt.. drrttt.. drrtt..

Sontak yeoja itu kembali membelalakan matanya, Byun BaekHyun, namja itu kembali menghubunginya. Apa ia harus mengangkatnya?

Masih dengan berbalut handuk dan rambut hitam kecoklatan yang lepek, ia beranikan untuk menggeser benda hijau di layar handphonenya dengan ragu. Ia tempelkan benda itu di dekat telinganya, sedetik kemudian terdengarlah suara namja yang masih terus ia kagumi sampai sekarang.

“Yeoboseyo..??” suara itu sedikit berat, dan terdengar sedikit ragu.

Yeoja itu masih tidak bergeming sama sekali. Ia sungguh tidak percaya dengan semua ini. Namja itu benar-benar menghubunginya sekarang. Sampai terdengar suara berat itu lagi yang sukses membuatnya tersadar dari lamunannya.

“Apa kau ada diseberang sana?” tanya namja itu.

“Ah! N-ne..”

“Hahaha.. M.., ohya! Kenapa tadi tidak mengangkat telponku?”

“B-bukan begitu! Tadi aku sedang mandi, jadi tidak tahu kalau ada yang menelpon. W-wae?” jawabnya gugup.

“Maaf?”

“M-maksudku, kenapa menelpon? A-apa ada hal penting?”

“Hahahaha.. tidak perlu segugup itu.”

‘Aaiisshh.. jangan gugup begitu Kim TaeYeon! Dia jadi menyadarinya, kan? Berhentilah membuat dirimu malu di depannya.’ rutuknya dalam hati.

“Ah.., ne.” jawabnya tersipu malu.

“Aku menelpon karena kurasa lebih baik bicara langsung dari pada harus memberi pesan seperti biasanya. Aku ingin bertemu denganmu.”

JEDARRR!!!

Demi tuhan, apapun yang terjadi saat ini, yeoja itu kaget bukan main. Ia menutup mulutnya tidak percaya. Namja itu mengatakan hal yang tidak terduga sama sekali. Baru saja ia memikirkan perkataan Jessica tadi dan akan mengajaknya bertemu duluan, tapi rupanya namja itu juga sedang memikirkan hal yang sama seperti dirinya, yaitu saling bertemu. Walaupun hanya bilang ingin bertemu, bukan mengajak berkencan, tapi pipi yeoja itu sudah tersipu malu. Hhaaahhh.. dasar yeoja babo!

“A-apa? bertemu?”

“Ne! Aku tahu kau pasti takut dimarahi oleh orangtuamu kalau sampai bertemu dengan seorang namja, tapi aku sudah memikirkannya. Sebentar lagi akan ada festival budaya di sekolahku, dan itu dibuka untuk umum. Kau bisa beralasan ingin mengunjungi festival itu. Pergilah bersama temanmu, lalu kita bisa saling bertemu. Bagaimana?”

‘Bertemu? Aaahhh…, aku tidak siap untuk bertemu denganmu.’

“Kapan festival itu diadakan?”

“Minggu depan. Tepat hari sabtu minggu depan. Kalau kau menerimanya, nanti kita bisa berjalan-jalan di sekitar area sekolahku. Dengan begitu kita bisa saling mengobrol.”

Taeyeon tampak berpikir keras, apa harus dia menerima tawaran dari BaekHyun? Kenapa saat namja itu bicara, seakan terasa begitu mudah. Padahal kenyataannya belum tentu seperti itu. Belum dia minta izin dengan memohon untuk pergi ke festival pada orangtuanya, lalu mengajak temannya yang belum tentu mau menemaninya, belum lagi pasti disana ia akan bertemu dengan teman-teman BaekHyun yang rumornya adalah orang-orang yang tidak mudah menerima orang biasa seperti Kim TaeYeon ini.

“Kenapa malah diam? Kau…, sudah ada janji pada hari itu ya?”

“Aniya!” jawab yeoja itu cepat. “Aku tidak ada janji sama sekali. Kalau begitu akan kupikirkan dulu tawaranmu, seandainya aku diizinkan pergi oleh orangtuaku, aku akan cepat-cepat menghubungimu.”

“Ya baiklah. Kalau begitu cepat beri kabar, ne!”

“Ah, geurae!”

Seperti saling tidak mau menyudahi hubungan telpon, mereka saling diam tidak bicara. Sampai terdengar suara teriakan dari balik pintu kamar TaeYeon.

“Ya TaeYeon! Apa yang kau lakukan di dalam kamar, eoh?! Kau ingin kita terus menunggumu dan membiarkan makan malamnya jadi dingin?! Cepat keluar dan makan malam bersama. Appa sudah selesai mandi sejak tadi!” omel JiWoong kakak laki-laki TaeYeon.

Mendengar itu TaeYeon jadi salah tingkah, masalahnya pasti di seberang sana BaekHyun mendengar teriakan oppanya barusan. Namja itu memang selalu saja membuat ia malu di depan teman-temannya, masalahnya sekarang bukan teman biasa, tapi namja spesial yang selalu ia kagumi sejak dulu.

“M.., BaekHyun-ah! Tunggu sebentar, ne?”

“Ah, ne!” jawab namja itu bingung, tapi tetap saja mengiyakannya.

Ingin rasanya TaeYeon marah pada oppanya sekarang juga. Dengan cepat ia membuka pintu kamarnya dan menghujani JiWoong oppa dengan segala kemarahannya.

“Oppa!! Kau tidak perlu berteriak seperti itu, eoh! Aku sedang menerima telpon dari temanku!” omelnya sambil menutup handphonenya dengan telapak tangannya, alih-alih supaya tidak terdengar oleh BaekHyun dari seberang sana.

“Mwo?! Bahkan kau masih menggunakan handuk dan belum berpakaian, tapi malah asik-asikan menelpon teman. Apa teman itu jauh lebih penting bagimu?!”

‘Aaiisshh…!!!! apa-apaan oppa ini! Kalau oppa berteriak seperti itu, BaekHyun akan mendengarnya!! Dasar babo namja!!’ rutuk TaeYeon dalam hati.

Karena semakin kesal, TaeYeon cepat-cepat menutup pintu kamarnya dan mulai berbicara lagi dengan BaekHyun.

“Ya Kim TaeYeon!!!!! Cepat pakai bajumu dan makan malam. Awas kalau sampai makan malam kita jadi dingin hanya karena kami menunggumu!!” bentak JiWoong dengan nada yang lebih tinggi lagi, lalu pergi dari kamar adiknya itu.

TaeYeon kembali memasang handphonenya di telinganya setelah ia pastikan oppanya sudah berlalu dari kamarnya.

“M-mianhae! Tadi oppaku memanggil.”

“Ahh… tidak masalah. Tapi kedengarannya ia marah padamu. Apa itu benar?”

“T-tidak juga! Dia hanya menyuruhku untuk bergegas makan malam, karena yang lain sudah menunggu.” jawabnya sedikit berbohong.

“Ah, benar begitu?! Mian sudah mengganggumu.” jawab namja itu jadi merasa bersalah.

“Jangan terlalu dipikirkan, dia memang seperti itu kalau bicara. M.., tapi apa kau mendengar semua ucapannya?” tanyanya takut. Masalahnya tadi oppanya berteriak kalau dia belum mengenakan baju sekarang, hanya dengan berbalut handuk. Kalau BaekHyun sampai mendengarnya, ia bersumpah akan menghajar oppanya nanti di ruang makan.

“Sebenarnya tidak terlalu. Keundae, mian sebelumnya. Kalau tidak salah dengar, tadi oppamu bilang kau masih menggunakan handuk? A-apa kau belum berpakaian sehabis mandi tadi?” tanya namja itu dengan malu.

JEDAARRR!!!

Ternyata BaekHyun mendengarnya. TaeYeon masih tidak berkutik, ia malu, bingung, takut, semua rasa itu kini bercampur aduk. Pipinya kini bersemu merah, tidak tahu harus menjawab apa sekarang.

Mqenyadari kalau pertanyaannya tadi pasti sudah membuat yeoja itu mau, kemudian berucap, “M-mianhae! Aku tidak berniat untuk menanyakan itu sebetulnya.” Merasa yang ditanya masih tidak menjawab, ia jadi tidak enak. “Apa kau masih di seberang sana? K-kalau begitu sudah dulu, ne. N-nanti akan kutelepon lagi. Annyeong~” tutupnya kemudian.

TaeYeon masih tidak bergeming. Ia masih kaget rupanya. Setelah benar-benar tersadar kalau namja itu sudah sedari tadi menutup teleponnya, ia menghembuskan napas panjangnnya lega. Ia menatap handphonenya, menatap nama Byun BaekHyun di layar itu. Ia masih malu. Akhirnya ia putuskan untuk menaruh hp nya dan segera berpakaian. Ia berani jamin, sesampainya ia di ruang makan, pasti oppanya akan memarahinya lagi.

* * *

Senin, Seoul Performing Art High School

BaekHyun POV

Kuparkir motorku seperti biasa dekat pohon ketiga dari pintu gerbang. Aku selalu memarkirnya di sana, menurutku itu tempat parkir strategis. Mengingat tidak terlalu jauh dengan pintu gerbang dan gedung kelasku. Dengan cepat aku bisa masuk ke kelas maupun keluar dari sekolah saat pulang nanti.

Kulihat ChanYeol, temanku sejak sekolah dasar yang tidak pernah berada di kelas yang sama denganku. Walaupun begitu, dia tetap menjadi teman dekatku.

“Kelasmu akan membuka apa di festival budaya nanti?” tanyanya begitu memutuskan untuk pergi ke kelas kami masing-masing yang notabanenya masih satu gedung.

“Sama seperti tahun kemarin. Hanya temanya saja yang berbeda. Tahun ini bergaya New Style Gatsby.” jawabku sekenanya.

“Aahhh…, bagus kalau begitu!” katanya bersemangat.

“Kenapa sesemangat itu?” tanyaku heran.

“Kau sudah tahu jawabannya. Aku akan mengunjungi cafemu nanti.” jawabnya mesum.

Hhhaaaahh… seperti yang sudah kuduga, dia ke cafeku pasti karena ingin melihat Jessica memakai pakaian maid yang ia bilang seksi itu seperti tahun lalu. Tahun ini tidak akan aku biarkan Jessica digoda lagi olehnya. Dasar namja pervert.

“Siapa bilang kalau dia akan menjadi maid seperti tahun lalu? Ketua kelas kami belum memutuskan peran-peran kami.” jawabku bohong.

“W-wae?! Apa-apaan itu?! Kenapa belum diputuskan, padahal tinggal seminggu lagi!” jawabnya kesal. “Aahhh….,” gumamnya sambil menyipitkan mata curiganya ke arahku.

“Wae? Kenapa melihatku seperti itu?”

“Aku tahu kau pasti sedang berbohong padaku, kan?” tangkapnya.

“Mwo?! Untuk apa?!” tanyaku kesal karena di bilang begitu olehnya, yang sebenarnya aku memang berbohong.

“Kau bohong agar aku tidak menggoda ‘maid seksi’ itu lagi, kan?”

“Siapa yang kau bilang ‘maid seksi’ itu?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Siapa lagi? Jessicamu itu.” aku hanya balas dengan mendesis. “Ya! Kau itu bukan kekasihnya, jangan larang-larang aku terus begitu. Aku melakukan ini karena benar menyukainya. Mumpung sekarang dia sedang tidak ada namja yang selalu mengekorinya. Kau kan temanku, kenapa kau tidak menjodohkanku saja dengannya?”

“Siapa bilang tidak ada namja yang selalu mengekorinya? Aku selalu mengekorinya.”

“Aaiisshh.., sebenarnya kau ini suka siapa sih? TaeYeon atau Jessica?! Kau ini selalu saja plimplan.”

“Mwo?! Siapa bilang aku menyukainya? Maksudku mengekori itu menjaganya agar tidak mendapat namja pervert dan babo lagi. Aku tidak mau kalau sampai Jessica salah langkah lagi. Apalagi harus menjodohkanmu dengannya? Hah! Jangan pernah bermimpi kau!” tunjukku dan meninggalkannya lari menuju kelasku.

“Haaiisshhh!!! Ya Byun BaekHyun! Kau pikir kau ini siapa?! Awas kau..!!” ancamnya yang masih terdengar di telingaku sebelum aku benar-benar masuk ke kelas dan mendapati Jessica telah duduk dibangkunya, di bangku sebelahku.

Lalu aku menghampirinya dan langsung menyapanya. “Annyeong~”

Dia menoleh ke arahku. “Annyeong~” balasnya dengan senyum manisnya.

“Aku sudah menghubunginya semalam” kataku membuka percakapan.

“Ah jinja?! Lalu?!” tanyanya bersemangat. Dia selalu seperti itu kalau menyangkut urusan TaeYeon.

“Dia bilang akan minta izin pada orangtuanya dulu dan akan memberikan kabar secepatnya.”

“Wwooaahh.. akhirnya kalian akan bertemu juga. Chukhae, ne~” jawabnya antusias.

“Hahahahah… kau terlalu berlebihan Sica-ah. Dia belum benar menerimanya.”

“Aahhhh… tenang saja! kalau orangtuanya tidak mengijinkan, aku yang akan bicara padanya.”

“Hahahahaah… gomawo sica-ah!” balasku tersenyum.

“Oh ya! Waktu kau mengantarku kemarin, ternyata dia melihat kita! Awalnya kukira dia akan salah paham, tapi aku cepat-cepat menjelaskan padanya kalau kau ingin bertemu dengannya. Dan sepertinya dia baik-baik saja.” jelasnya.

“Oh ya? Untung saja malam itu aku menghubunginya, kalau tidak mungkin dia akan salah paham.”

“Ne bisa jadi.”

Tak lama selang kami membicarakan TaeYeon, aku merasa ada yang menyentuh pundakku dari belakang, yang ternyata adalah BoMi.

“Oh! BoMi-ah? Ada apa, ne?” tanyaku yang langsung menatap ke arahnya.

“Mianhae telah mengganggu percakapan kalian. Keundae Sica-ssi, boleh aku bicara sebentar dengan BaekHyun? Aku ingin membicarakan bahan yang akan kita bawa saat festival nanti. Bolehkah?” izin BoMi.

“Aaiisshh.. kau ini bicara apa? Kau bicara begitu seakan aku adalah pacarnya. Tentu saja boleh.”

“Ah, minahae.. Habis kalian terlihat sedang membicarakan sesuatu.” jawab BoMi.

“Gwaenchana!” balas Jessica.

“Cha! Kalau begitu aku tinggal dulu Sica-ah.” kataku lalu mengusap kepalanya lembut.

“Ne!” balasnya sambil menganggukan kepalanya.

BaekHyun POV end

Jessica POV

“Bahan apalagi yang kau maksud, BoMi-ah?” tanya BaekHyun yang mengikuti kemana arah BoMi pergi, yaitu kursinya.

BoMi lalu membuka tasnya dan mengeluarkan buku resep dan catatannya lalu menaruhnya di atas meja. Aku terus melihat ke arah BaekHyun. Pernah terpikirkan olehku kalau anak itu menyukaiku. Bagaimana tidak, dia selalu memanjakanku saat awal duduk bersama dulu. Ternyata pikiranku salah, dia melakukan itu pada hampir seluruh yeoja yang ia kenal dengan baik, khususnya yang menjadi teman sekelasnya. Ya, dia memang cukup populer dikalangan yeoja. Kurasa kalau TaeYeon bersekolah di tempat yang sama dengannya, ia pasti akan sering merasa cemburu. Aku kenal baik TaeYeon. Dan aku tahu BaekHyun melakukan itu hanya karena peduli pada murid-murid yeoja, tidak ada hal lain. Tapi bagaimana dengan TaeYeon yang memiliki perasaan yang sensitif? Apa dia akan kuat melihat itu setiap harinya. Bukannya aku menjelek-jelekan teman kecilku, sekali lagi aku tekankan, aku kenal TaeYeon dengan baik. Aku hanya tidak ingin TaeYeon terus-terusan dibuat cemburu oleh BaekHyun.

Pernah sekali aku mengomentari sikap BaekHyun itu, dan dia bilang akan merubah sikapnya. Tapi nyatanya, sekarangpun dia berbuat hal yang sama pada BoMi. Sekarang dia menggenggam tangan yeoja itu, walaupun hanya ingin memberi semangat pada yeoja itu, kemudian meninggalkannya dan kembali mendekat ke arahku. Aku sempat melihat senyum BoMi yang keluar dari bibir tipisnya. Kelihatannya dia sangat senang sekali.

“Bagaimana?” tanyaku akhirnya.

“Dia bilang dia yang akan membeli bahan untuk membuat waffle madu. Sedangkan aku yang membeli bahan untuk minuman, sisanya dia serahkan pada SunKyu, ChoRong, SooYoung, KyungSoo, JungKook, dan TaeHyung.” jelasnya dengan lancar.

Aku hanya meresponnya dengan anggukan disusul dengannya yang kembali duduk di sampingku. Tak lama Lee songsaenim dan ketua SuHo yang membawa tumpukan buku ditangannya masuk ke kelas.

Jessica POV end

* * *

Sedangkan di sekolah biasanya, TaeYeon terlihat sedang bernegosiasi dengan temannya.

“Ayolah kumohon temani aku ke festival budaya sekolah SOPA!” mohon gadis itu pada teman semejanya.

“Bagaimana ya? Pacarku juga sudah mengajakku ke festival itu. Masa kau juga ikut bersama dengan kami? Nanti kau hanya akan menjadi obat nyamuk di antara kami.” jawabnya bingung.

“Batalkan saja dengan pacarmu, pergi saja ke festival itu denganku!!” mohon TaeYeon sekali lagi.

“Mwo?! Apa-apaan kau ini? Tidak bisa, aku dan dia sudah merencanakan ini sejak lama. Kau tidak bisa seenaknya bicara begitu padaku.” balas temannya dengan kesal.

“Aaiisshh… yasudah! Mianhae! Aku kan hanya berusaha, jangan marah begitu, ne?” jawab TaeYeon menyesal. Tapi temannya itu masih saja kesal padanya.

‘Hhhmmm… bagaimana aku bisa ke festival itu kalau tidak ada yang mau menemaniku? Aku sudah terlanjur bilang pada appa yang sudah memperbolehkanku kalau aku pergi bersama teman sekelasku. Tapi teman-temanku tidak ada yang mau menemani..’

* * *

Sore itu TaeYeon menyusuri jalan yang sama setelah pulang sekolah dengan malas. Ia sudah cukup frustasi dengan alasan teman-temannya yang menolak untuk pergi ke festival bersamanya. Mulai dari sudah punya janji dengan yang lain, terlalu jauh dari tempat tinggalnya, hari minggu adalah hari keluarga, sampai dengan bosan pergi ke festival.

Akhirnya ia putuskan untuk menolak ajakan BaekHyun. Sebenarnya ia ingin langsung menghubungi namja itu di sekolah, mengingat saldo yang ia punya di handphonenya tidak cukup untuk menghubungi BaekHyun. Sesampainya di rumah, ia akan langsung meminjam handphone milik oppanya untuk menghubungi BaekHyun. Dalam keadaan darurat seperti ini, ia sudah cukup sering melakukan hal itu. Bagaimana dengan oppanya? Tentu saja ia akan marah pada TaeYeon kalau sampai tahu saldo di handphonenya dipakai oleh adiknya.

Cukup lama melamun sambil berjalan pulang menuju rumahnya, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Suara yang familiar di telinga TaeYeon.

“TaeYeon-ah!” panggil yeoja itu yang ternyata adalah Jessica.

TaeYeon hanya tersenyum seperti biasa ke arah yeoja itu.

“Bagaimana?”

“Ne?” tanya TaeYeon bingung.

“Pertemuanmu dengan BaekHyun.”

TaeYeon kaget mendengar ucapan Jessica. Dari mana ia tahu kalau mereka akan bertemu?

‘Apa mungkin BaekHyun memberi tahunya kalau kami akan bertemu. Jessica pasti akrab sekali dengan BaekHyun, sampai hal seperti ini saja BaekHyun memberitahunya kepada Jessica.’ pikir TaeYeon.

“Ah.. Sepertinya aku akan menolaknya.” jawab TaeYeon dengan senyum lesunya.

“Oh! Wae?! Apa appamu tidak mengizinkanmu? Kalau begitu biar aku yang bicara pada ajushi!”

Mendengar itu TaeYeon langsung menarik lengan Jessica sebelum yeoja itu melangkah masuk ke rumahnya. Jessica yang menyadarinya langsung berbalik menatap TaeYeon bingung. Masalahnya ini diluar dugaannya. Karena biasanya TaeYeon dengan senang hati mengijinkan Jessica yang menjelaskan pada appanya kalau terjadi hal seperti ini. Tapi kali ini TaeYeon malah menahannya.

“Wae?! Kau takut? Tenang saja! Aku akan bilang kalau kau akan pergi ke festival denganku!” jawab yeoja itu masih berusaha.

“Ani! Bukan appa penyebabnya.” jawab TaeYeon akhirnya.

“Lalu?”

“Appa malah memperbolehkanku untuk pergi, tapi dengan syarat harus pergi dengan teman sekelas.”

“Kalau begitu kenapa kau menolaknya? Ajushi sudah mengijinkanmu pergi. Lalu apa lagi?”

Sebelum menjawab pertanyaan yeoja di depannya, TaeYeon menghela napasnya kasar, “Masalahnya teman sekelasku tidak ada yang mau pergi bersamaku.”

“Jadi karena itu.”

Diluar dugaan, TaeYeon kira Jessica juga ikut pasrah, tapi nyatanya…..

“Kalau begitu pergi denganku saja!”

* * *

Kini TaeYeon menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. Ia sangat lelah. Sejak pertemuannya dengan Jessica, ia masih mencerna ucapan Jessica tadi yang mengajaknya pergi bersama.

Flashback

“Kau bisa izin ulang pada appamu dan bilang kalau kau akan pergi bersamaku.”

‘Mwo?! Pergi bersamanya? Apa tidak merepotkan?’ pikir TaeYeon.

Seperti bisa membaca isi pikiran TaeYeon, dengan cepat Jessica menjawab, “Tenang saja, tugasku tidak terlalu banyak di festival. Kita bisa pergi jam 8.”

TaeYeon masih tidak bergeming. Bingung ingin membalas apa.

Kemudian Jessica tersenyum manis kearahnya, “Kalau begitu sampai bertemu hari minggu! Annyeong~”

flashback off

Sebenarnya ia setuju sekali dengan pendapat Jessica untuk pergi bersamanya, bahkan tidak masalah baginya untuk meminta izin ulang pada appanya dan bilang akan pergi bersama Jessica, ia sangat yakin pasti appanya dengan senang hati memperbolehkannya. Tapi masalahnya sekarang adalah, apa tidak apa-apa pergi bersama Jessica dan pacarnya?

“Aku yakin sekali dia pasti akan pergi bersama pacarnya. Jessica tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. Pasti aku akan menjadi obat nyamuk diantara mereka.” katanya frustasi.

“Kenapa satu masalah selesai tetapi datang yang lain! Hidupku selalu saja penuh dengan masalah!” katanya sambil mengacak rambutnya lalu berguling-guling di kasurnya.

Beberapa menit kemudian ia berhenti dari aksinya menggeliat-liat di kasur karena frustasi, akhirnya ia putuskan untuk tidak terlalu mempermasalhkan hal ini. Masalah yang terpenting baginya adalah ia harus sukses bertemu dengan Byun BaekHyun.

Seperti teringat kalau ia harus segera menghubungi BaekHyun untuk menyetujui ajakan namja itu, dengan cepat ia menuju kamar oppanya untuk mencuri handphone JiWoong sebelum oppanya selesai mandi.

* * *

Terlihat kedua kakak beradik ini sedang menonton televisi bersama. TaeYeon dengan sebungkus snack besar di genggamannya, sedangkan JiWoong dengan malas menggonta-ganti acara di televisi.

“Ya! Jangan menggonta-ganti channelnya, aku pusing melihatnya!” protes TaeYeon.

“Ck! Habis tidak ada acara yang seru!”

TaeYeon hanya mendesis kesal membalasnya.

“Kau jadi pergi?” tanya namja itu tiba-tiba.

“Ne?” tanya TaeYeon menoleh ke arah JiWoong bingung.

“Ke festival itu.”

“Ne, tentu saja!” jawabnya bangga.

“Geez! Tumben sekali ingin pergi ke festival, pasti ada orang yang ingin kau temui, kan?” tebaknya yang membuat TaeYeon kaget dan tersedak karenanya.

“Ya! Oppa ini bicara apa? Tentu saja aku senang pergi ke festival!”

“Aaiisshh.., bahkan responmu saja berlebihan seperti ini. Jujur saja, kau ingin pergi menemui pacarmu diam-diam, kan?”

“Ck! Pacar apanya?” balas TaeYeon kesal.

“Ya Kim TaeYeon! Aku ini oppamu yang tidak bisa kau bodohi!”

“Terserah kau saja.” balas yeoja itu malas.

Ia malas menanggapi oppanya yang terus menggodanya. Ya, memang seharusnya ia tidak kesal pada oppanya, mengingat ia sudah memakai saldo JiWoong tanpa sepengetahuannya. Seharusnya ia berterima kasih pada oppanya.

‘Aku janji oppa, kalau pertemuanku sukses dengan BaekHyun, aku akan mentraktirmu ice cream.’ pikir TaeYeon sambil senyam-senyum melihat layar TV.

“Haaaiisshh.., kau ini kenapa? Kenapa malah senyum-senyum sendiri? Neo micheo!” ejek JiWoong.

Tapi TaeYeon malah membalasnya dengan senyumnya lagi, “Gomawoyo oppa~” katanya lalu berhambur memeluk oppanya.

“Ya! Lepaskan aku!”

* * *

Akhirnya minggu itu tiba. TaeYeon kini terus menatap layar handphone dengan khawatir di depan cermin sambil memperbaiki riasannya. Ia takut Jessica akan menghubunginya. Karena rencananya ia yang akan menghampiri Jessica ke rumahnya, tapi sepertinya ia kalah cepat, karena kini terdengar JiWoong oppa meneriaki TaeYeon dari luar kamarnya.

“TaeYeon-ah! Kau sedang apa, eoh? Jessica sudah menunggumu di luar!”

“Omo! Ne~. Aku sudah selesai!” jawabnya dengan teriakan juga.

Lalu dengan cepat ia memakai sepatu dan mengambil tasnya.

TaeYeon POV

Kukembangkan senyumku padanya setelah menampakan diriku di ruang tamu. Dengan cepat ia berdiri yang berhasil membuatku melihat penampilannya sekarang. Dia terlihat sangat modis sekali. Dengan mini dress putih yang menampakkan kaki jenjangnya yang terbalut sandal bergaya roma klasik ditambah mini bag dan kepangan yang membuatnya terkesan manis. Sedangkan aku? Aku hanya memakai denim, sepatu yang biasa aku pakai pergi bersama teman, dan membiarkan rambutku tergerai. Aku bingung harus mengapakan rambutku kalau sedang pergi, biasanya hanya aku ikat ekor kuda atau sekedar menggulungnya. Tapi Jessica dengan anggunnya mengepang rambutnya.


“Ya! TaeYeon-ah, kau sedang melamun? Kajja kita pergi!” ucap Jessica yang berhasil menyadarkanku dari lamunanku yang terus memujinya.

“Ah! Geurae!” jawabku. Lalu kami keluar rumah dan berjalan untuk sampai halte.

Selama berjalan kami hanya diam, seperti sepakat untuk tidak saling berbicara. Dan kini aku merasa ada yang janggal. Sedari tadi aku tidak melihat pacar Jessica, dimana ia akan bertemu dengan pacarnya? Dengan ragu kumulai memecah keheningan di antara kami.

“Sica-ah! Dari tadi aku tidak melihat pacarmu!”

“P-pacar?” jawabnya gugup.

“Ne! Kau pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk bertemu dengannya, kan? Dimana kalian akan bertemu?”

“Ah, ne! K-kami akan bertemu di sekolah saja.”

Lalu aku mengangguk, dan tanpa kita sadari kita telah sampai di depan halte. Tak membuat kita lama menunggu akhirnya bus menuju sekolah Jessica akhirnya datang. Dengan cepat kami menaikinya.

 .

 .

 .

 .

To Be Continue..

Advertisements

45 comments on “[FREELANCE] Our First Love (Chapter 1)

  1. Thor… Kok tbc ???

    Aq kan blum puas baca.y /reader gak tau diri

    Gak tau ap emang krn ff.y pendek atau aq yg terlalu serius baca.y jdi cmn kyak bentar doang thor…

    Jdi berharap part 2.y langsung bisa dibaca lagi #abaikan

    Kalau gitu fighting ya thor buat next.y

  2. perasaan jessica gak punya pacar deh tapi gatau deng lupa lagi hahahaha gak sabar nunggu pertemuan barkyeon hihi next chap ditunggu 🙂

  3. waah next thor.. keren ceritanya aku suka >…< tapi klo boleh jujur chapter ini terlalu pendek thor :3 klo bs next chapter agak panjangin ya 😉 fighting :3

  4. Sebenarnya gk suka sam ad ny peran jessi disni,y mungkin cast ny bisa diganti thor jgn jessie lagi hahaha jgn mrh y thor
    Suka sm ff ini ap lagi ad moment baekyeon entr ny hoho
    Chap slnjutny lbh panjng y thor☺
    Fighting

  5. Itu tbc nya bisa diilangin(?) ga?
    Nggagu orang baca aja nih-,-
    Anjay lah si BaekYeon mau ketemuan :v
    Daebaklah pokoknya
    Next juseyoo & Fighting^^!

  6. Gak sabar gmna pertemuan mereka di festival
    Tapi pasti ada bomi, kira” dia ganggu gak yah?
    Sica itu beneran gak suka baek kan thor? Kok lom punya pacar?
    Next chapnya ditunggu thor, update soon^^

  7. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 2) | All The Stories Is Taeyeon's

    • iya.., emng udah di post kemarin, tapi ternyata salah, itu versi salahnya. jadi udah di hapus.., maaf sekali lagi ya..

  8. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 4) | All The Stories Is Taeyeon's

  10. Pingback: [FREELANCE] Our First Love (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  11. Kok jdi aku yg cemburu ya si baek deket sama cewe laen ketimbang taeng?wkwkwk btw keep fighting thor~
    Love you ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s