The Day I Meet Him (Part 3) / End

the day

Author : RYN

Length : threeshoot

Rate : PG 17

Cast :

@ Taeyeon

@ Luhan

Other cast :

@ Jessica

@ Yoona

Genre : Fantasy, Romance, Fluff

 

Don’t plagiat, don’t copy paste without my permission!!

Aku tidak pernah memberikan izin pada siapapun untuk membuat cerita berdasarkan fanfic ini!!!

 *Pernah di post di Exoshidae wp

***

Sejak malam itu, hubungan Taeyeon dan Luhan semakin membaik. Mengingat insiden yang terjadi beberapa hari lalu saat Luhan menyelamatkannya, hati Taeyeon mulai dipenuhi kebimbangan. Melewati hari-hari hampir setiap saat bersama Luhan lambat laun membuatnya membuka diri. Taeyeon masih berusaha karena ia sudah tidak yakin lagi kapan bisa kembali. Taeyeon tidak lagi menolak atau menghindari Luhan tetapi membiarkan pria siluman rubah itu berada di sisinya. Tidak hanya itu, hubungannya dengan Nyonya Hwang dan putrinya, Sunny juga terjalin dengan baik.

*Kau bisa keluar dari hutan ini jika seseorang dari tempat ini membawamu keluar. Tetapi tidak mudah mewujudkan peraturan itu sebab, baik aku dan Sunny serta para pelayan tidak di izinkan meninggalkan hutan. Kami memiliki batas yang tidak dapat kami lampaui* Begitulah kalimat Nyonya Hwang padanya beberapa minggu yang lalu.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Keinginannya untuk pulang ke dunianya sangat kuat tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain tetap tinggal di puri. Kepalanya menengadah ke atas, sebaris senyuman tipis mengukir di bibirnya. Pemandangan matahari terbenam sungguh tampilan yang sangat indah. Taeyeon teringat kedua sahabatnya, Jessica dan Yoona. Mereka bertiga sering memandangi matahari terbenam. Senyumnya perlahan-lahan terhapus dari wajahnya. Sudah berapa lama ia tinggal di puri? Segelintir pertanyaan-pertanyaan pun muncul mengacaukan pikirannya. Apakah mereka menyadari ketidakberadaannya? Apakah mereka disana merindukannya? Apakah mereka mencarinya? Bagaimana dengan keadaan ayahnya? Ayahnya pasti sangat mengkhawatirkannya. Teringat ayahnya, airmata Taeyeon jatuh membasahi pipinya. Lebih dari apapun, Taeyeon sangat merindukan ayahnya. Ia sungguh tak ingin berada di tempat ini selamanya.

“Unni lihat!”

Taeyeon buru-buru menghapus air matanya mendengar seruan Sunny. Sesaat tadi Taeyeon lupa bahwa Sunny dan Luhan berada di sekitarnya. Semoga saja mereka tidak memperhatikannya, terutama Luhan. Taeyeon menepuk-nepuk pipinya dan melebarkan senyum sebelum kemudian menoleh. Pandangan matanya langsung beralih ke arah yang ditunjuk Sunny. Gadis kecil itu tengah memperhatikan gerombolan burung putih yang terbang di langit. Taeyeon merasa yakin tidak ada yang tahu kesedihannya, tetapi Luhan mengetahuinya berkat kemampuannya. Rubah itu berlari menghampirinya.

Taeyeon tidak tahu apa yang ingin dilakukan Luhan di sampingnya, tetapi rubah itu tiba-tiba saja menyentuh pipinya dengan moncongnya yang lembab. Taeyeon agak terkejut, tindakan Luhan membuatnya terenyuh. Taeyeon memang tidak mengerti bahasa binatang tapi setelah melihat tingkah laku Luhan ia mungkin bisa sedikit memahami apa yang ingin disampaikannya. Tidak dengan wujud manusia ataupun wujud rubah, Luhan tetap perhatian, mengutamakan perasaannya di atas segala-galanya. Luhan beranjak lalu meninggalkannya masuk ke dalam hutan. Taeyeon memandangnya heran, namun tidak berapa lama kemudian rubah itu muncul kembali dengan beberapa tangkai bunga dalam moncongnya.

“Wah, Luhan membawa bunga untuk unni!” Sunny bersorak girang membuat Taeyeon bersemu merah.

Luhan menjatuhkan bunga-bunga itu di atas pangkuan Taeyeon. Taeyeon seketika luluh. Pandangannya berubah teduh. Perlakuan manis dari siluman rubah, wah, ia tidak pernah memikirkannya. Mungkin Luhan hanya ingin menghiburnya. Usai mendengar Taeyeon menggumamkan terima kasih, Luhan segera merebahkan kepalanya di pangkuan gadis itu. Taeyeon hanya tersenyum, sesekali terkikih geli bila mendengar Luhan merengek karena ia tidak membelainya. Benar-benar siluman rubah yang manja.

 

***

*Bau ini…aku…dimana?* Taeyeon bertanya di dalam benaknya. Keningnya lantas berkerut semakin dalam, bau tidak mengenakkan segera menyeruak menusuk hidung. Suasananya terasa asing, tidak sebagaimana biasa. *Apa sudah pagi? Luhan?*

Tidak ada jawaban. Hening sekali. Terdengar bunyi berisik seperti bunyi mesin di sampingnya. Taeyeon tidak dapat memperkirakan seperti apa bentuknya, yang jelas ia pernah mendengarnya di suatu tempat. Lalu samar-samar terdengar suara familiar memanggilnya. Taeyeon mulai panik, ia takut untuk membuka mata.

Suara yang terdengar jauh itu lambat laun semakin nyata. Taeyeon mencoba menajamkan pendengarannya.

*Ayah?!*

“Taeyeon! Taeyeon baby, apa kau mendengar ayah?”

*Ayah? Benarkah itu suara ayah?*

“Taeyeon, jebal…buka matamu baby.” Suara itu memelas, terdengar memilukan.

Taeyeon ingin bangun. Ia harus bangun. Ayahnya memanggilnya. Tetapi bagaimana? Matanya terasa berat sekali.

“Dokter, tolong lakukan sesuatu. Aku melihat putriku menggerakkan tangannya.”

Taeyeon sangat yakin, suara itu benar-benar adalah suara ayahnya. Tetapi kenapa ayahnya bisa berada disini? Kenapa ia sedikitpun tidak mendengar suara Luhan? Pikiran Taeyeon kalut. Seseorang kemudian menyentuh tangannya. Hangat dan akrab. Tidak berapa lama setelah itu, suara gaduh di sekitarnya mulai membuatnya terganggu.

Taeyeon memantapkan hati. Ia harus melihat pemilik suara ini juga tempat yang terasa asing ini. Kelopak matanya bergerak perlahan. Taeyeon memaksa tapi ia kembali menutupnya karena belum terbiasa dengan sinar yang terlalu menyilaukan.

“Taeyeon baby, apa kau bisa mendengar ayah?”

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya dan bergumam. Kepalanya terasa pening tapi ia masih berusaha. Pertama kali membuka mata, sekelilingnya nampak kabur. Ada beberapa di dalam ruangan. Semuanya memakai pakaian putih kecuali satu orang. Taeyeon mengerjap-ngerjapkan matanya lagi. Matanya berkaca-kaca. Ia memang tidak bermimpi, pria yang berada di sampingnya dan menggenggamnya sejak tadi tidak lain adalah ayahnya sendiri.

“Ayah.” Panggilnya pelan.

Pria itu memeluknya erat. “Syukurlah, akhirnya putriku sadar juga.” Ucapnya dengan suara yang bergetar. “Kukira aku akan kehilanganmu. Kau putri yang jahat karena sudah membuat ayahmu sangat mengkhawatirkanmu.”

Taeyeon bisa melihat bagaimana pria itu berusaha menahan tangisnya. Taeyeon merasa sangat bersalah. Wajah itu tidak sesegar terakhir kali ia melihatnya, nampak tua oleh gurat-gurat lelah. Kemungkinan ayahnya kurang tidur karena menjaganya.

Taeyeon mencoba tersenyum mendengar candaan ayahnya. “Aku baik-baik saja, ayah. Maaf sudah membuatmu khawatir.” Akunya lemah.

Taeyeon mengalihkan perhatiannya memandang sekelilingnya. Bunyi yang sempat di dengarnya rupanya berasal dari monitor kecil untuk mendeteksi detak jantungnya. Orang-orang yang berpakaian putih satu persatu meninggalkan ruangan setelah salah satu dari mereka yang Taeyeon duga sebagai dokter, mengatakan kalau kondisinya telah baik-baik saja.

“Ayah, aku ada dimana? Dimana Luhan dan Sunny?” Tanya Taeyeon setelah memastikan ruangan ini bukan salah satu kamar dalam puri. Taeyeon semakin heran melihat ekspresi ayahnya yang kebingungan.

“Luhan? Sunny? Siapa mereka?”

Taeyeon tertegun. Mulutnya membuka tetapi menutup kembali. Ada sesuatu yang tidak beres. Kenapa ia berada disini? Bukankah seharusnya ia berada di puri sekarang? Tiba-tiba, Taeyeon merasakan sekitarnya seolah-olah berputar. Kepalanya sakit.

“Baby, kau baik-baik saja?”

Taeyeon mengangguk pelan dan memaksakan senyumnya. Taeyeon tidak ingin menambah kecemasan ayahnya. Taeyeon memejamkan mata. Semuanya terasa membingungkan. Dimana Luhan? Apakah semua yang ia alami hanyalah mimpi?

 

***

Banyak hal yang berubah selama dua minggu ini. Taeyeon dan kedua sahabatnya, Jessica dan Yoona kini telah terdaftar sebagai mahasiswi di salah satu universitas. Taeyeon masih tidak percaya kalau semua yang terjadi padanya di dalam hutan dan puri itu hanya mimpi. Mimpi itu terlalu nyata. Jessica dan Yoona sudah menceritakan semuanya, bagaimana mereka menemukan tubuhnya tergeletak di tepi jalan tidak jauh dari samping penginapan. Keduanya juga tak lupa memberitahunya bahwa karena kejadian itu dirinya koma selama seminggu.

Taeyeon merasa semuanya serba tidak masuk akal. Bukankah ia berada di puri dalam hutan? Lalu kenapa cerita mereka tidak bisa tercerna oleh pikirannya?

Selama dua pekan lepas dari rumah sakit, Taeyeon mulai menjalani kehidupannya dengan normal. Rutinitas sebagai mahasiswi semester pertama membuatnya lebih sibuk. Taeyeon juga berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Taeyeon banyak menghabiskan waktu bersama Jessica dan Yoona, berbelanja, bersenang-senang ke pantai, makan di luar dan sesekali nonton bersama. Meski semua itu terasa menyenangkan dan seharusnya memang seperti itu, Taeyeon tidak bisa memungkiri perasaannya bahwa ia masih memikirkan hutan larangan, puri, Nyonya Hwang, Sunny, terutama Luhan. Bila ia menceritakannya pada kedua sahabatnya itu tentang apa yang terjadi di dalam hutan larangan, mereka pasti tidak akan percaya. Bagaimana mungkin? Mereka bahkan tidak percaya waktu ia menceritakan tentang hutan itu.

“Yaa, mau sampai kapan kau duduk melamun disitu?”

Taeyeon tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dan mengulas senyum tipis. Yoona menatapnya seraya berkacak pinggang, sementara Jessica di sampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sungguh Taeyeon, sampai kapan kau terus-terusan seperti ini? Sejak pulih dari rumah sakit kau menjadi lebih sering melamun.” Komentar Jessica, duduk di depannya.

Taeyeon hanya diam. Inilah salah satu kebiasaan barunya setelah keluar dari rumah sakit. Melamun. Entah sudah yang ke berapa kalinya kedua sahabatnya itu memergokinya selalu tidak fokus. Taeyeon tidak pernah jera.

“Hello Taeyeon~kembali ke bumi, Taeyeon~”

Taeyeon mengerjapkan matanya saat Jessica melambaikan tangan di depan wajahnya. Taeyeon tersenyum kecut mendapati keduanya kembali memandanginya heran.

“Apa? Aku hanya sedang…euhm…memikirkan sesuatu?” Taeyeon kesulitan mencari kata yang tepat.

Kedua gadis di depannya serentak memutar bola mata mereka. Tentu saja tidak percaya.

“Sebaiknya kita pulang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti jika kau terus-terusan melamun di tempat ini.” Saran Jessica yang langsung di tanggapi Yoona dengan anggukan keras tanda setuju.

“Apa kelas kalian sudah selesai?” Taeyeon menatap keduanya.

“Kami sudah mengirimkan pesan padamu ‘kan?”

“Benarkah?” Taeyeon segera memeriksa ponselnya yang di taruh di dalam tas. Benar saja. 2 pesan baru ditambah panggilan tak terjawab beberapa kali. Semuanya dari mereka. Taeyeon memberikan cengiran lebar dan tanda peace jari.

“Lain kali beritahu kami kalau kau ingin melamun supaya kami tidak perlu repot-repot menghubungimu.” Kata Yoona dengan mimik kesal.

“Maaf. Maaf. Aku tidak sengaja.” Taeyeon menyatukan telapak tangannya sambil memasang muka memelas.

“Kajja.”

Ketiganya pun bergerak keluar dari taman menuju gerbang kampus. Sepanjang jalan mereka sibuk membicarakan banyak hal. Mulai dari seputar mata kuliah hingga menyebar ke pembicaraan mengenai mahasiswa-mahasiswa senior mereka yang tampan. Jessica dan Yoona yang paling heboh bila menyangkut masalah ini. Di sela-sela mendengarkan pembicaraan mereka berdua, Taeyeon sesekali tersenyum geli. Taeyeon merasa beruntung karena memiliki keduanya. Ia merindukan masa-masa seperti ini, bisa berkumpul dan bercanda bersama mereka seperti dulu.

Apa yang dimilikinya sekarang membuat Taeyeon sadar bahwa kehidupan akan terus berlanjut. Hal yang harus ia lakukan adalah meluruskan pikirannya dengan melupakan semua yang pernah terjadi. Mungkin Luhan benar hanyalah sebuah mimpi. Makhluk fantasi seperti Luhan hanya ada dalam buku dongeng, tidak akan pernah menjadi nyata.

“Perlukah kita menjitak kepalanya?”

Mendengar suara Yoona, Taeyeon kembali dari lamunannya dan langsung memelototi gadis itu.

“Kau terlalu banyak melamun.” Yoona meledeknya.

“Dan kau terlalu sering memperhatikanku.” Balas Taeyeon.

Melihat kedua sahabatnya, Jessica terkikih geli. Tawanya berubah hambar begitu menerima tatapan tajam dari keduanya. “Ups. Hehehe. Uhm, sampai dimana kita tadi?” Tanyanya mengalihkan sambil memasang wajah innocent lengkap dengan puppy eyes yang berkedip-kedip genit.

“Berhenti melakukan itu. Kau membuatku merinding.” Yoona berlagak ngeri.

Air muka Jessica seketika berubah drastis. Detik selanjutnya Yoona sudah meringis sambil mengusap-usap lengannya.

“Yaa berhenti menyakitiku! Apa kau tidak punya tempat lain?!” Seru gadis berambut hitam itu kesal. “Cap tanganmu tercetak jelas di kulitku. Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menutupinya?” Gumamnya dengan tampang cemberut.

“Ya tuhan, berhenti bersikap dramatis Yoong.” Jessica memutar bola matanya.

Yoona kian mengerutkan muka. Taeyeon yakin sahabatnya itu pasti sedang mengomeli Jessica dalam kepalanya. Taeyeon menggeleng-geleng, keduanya memang tidak pernah berubah. Bahkan setelah mereka bertiga kini menjadi mahasiswi, sifat kekanakan itu belum hilang sepenuhnya.

“Taeyeon!” Panggil sebuah suara di belakang mereka.

Taeyeon dan kedua sahabatnya serentak melihat ke belakang. Senyum Jessica dan Yoona mengembang sebelum melirik Taeyeon yang sudah terpaku di tempatnya.

“Sst,” Bisik Jessica sembari mencondongkan badannya ke arah mereka berdua, telapak tangan bersandar di samping bibirnya, “Berbicara tentang sunbae kita yang tampan, Jonghyun sunbae menurutku lumayan.”

Yoona mengangguk setuju. Entah bagaimana kekesalannya tadi lenyap. “Bagaimana menurut pendapatmu, Taeyeon?”

Taeyeon mengangkat bahu. “Molla. Bisakah kalian berhenti memujinya? Ia mungkin bisa mendengar percakapan kalian.” Desisnya.

“Tsk, memangnya kenapa kalau ia mendengar? Bukankah itu bagus?”

Taeyeon menatap kesal Jessica. “Bisakah kau tidak sepolos itu?” Tanyanya sarkastik.

Jessica kembali melayangkan telapak tangannya. Taeyeon meringis menahan perih.

“Sekarang kau tahu bagaimana rasanya.” Yoona mencibir.

Taeyeon ingin membalas tetapi pria itu—Jonghyun telah mendekat dan akhirnya berdiri di depannya. Taeyeon memperbaiki sikapnya dan mengulas senyum simpul.

“Ada apa sunbae?” Tanyanya, mendadak gugup. Dari sudut matanya, ia bisa melihat bagaimana Yoona dan Jessica sibuk menahan tawa.

*Awas kalian* Taeyeon melayangkan tatapan peringatan tapi tidak dipedulikan oleh keduanya.

“Maaf sudah menganggumu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu.” Jonghyun tersenyum, entah bagaimana kelihatan tersipu.

“Sunbae ingin menanyakan apa padaku?” Taeyeon memandangnya heran.

“Aku…uhm…aku…itu…” Jonghyun menggosok-gosok tengkuknya, merasa gugup tiba-tiba. “Aku ingin mengajakmu membeli buku bersama. Sekiranya kau punya waktu luang?”

Taeyeon bersumpah, kedua sahabatnya pasti hendak bersorak kegirangan karena mendengarnya. Jujur saja, Taeyeon mengakui kalau ajakan Jonghyun membuatnya berdebar. Muka pria itu yang merah padam saat berbicara dengannya terlihat menggemaskan dan entah bagaimana mengejutkan. Selama ini ia berpikir Jonghyun adalah pria yang serius dan cukup berpengalaman tetapi setelah mendengarnya berbicara dengan gugup, ia tidak tahu lagi harus berkata apa.

“Jonghyun sunbae, kau ingin mengajak Taeyeon kami membeli buku atau mengajaknya jalan-jalan?” Tanya Jessica dengan senyuman jahil.

“Kenapa sunbae tidak katakan langsung saja? Aku yakin Taeyeon kami pasti akan menyetujuinya.” Kata Yoona ikut-ikutan menggoda Jonghyun.

*Apa sebenarnya yang ingin kalian katakan?* Taeyeon memelototi keduanya, memastikan mereka mendapat pesannya. Sama seperti sebelumnya saat ia melakukannya, kedua sahabatnya tidak mengindahkan. Jessica dan Yoona merasa wajib membantu mendekatkan Taeyeon dan Jonghyun.

Jonghyun tidak punya pilihan lain selain mengakuinya. “Aku memang ingin mengajakmu jalan-jalan. Bagaimana menurutmu?” Tatapnya pada Taeyeon. Terselip harapan gadis itu akan menyetujuinya.

Taeyeon akhirnya mengangguk pelan. “Kurasa itu ide yang bagus, sunbae.” Ia tersipu hingga pipinya bersemu merah.

“Benarkah?” Jonghyun setengah percaya Taeyeon akan menerima ajakannya. Gadis itu mengangguk sekali lagi. “Kalau begitu hari minggu. Aku tidak sibuk di hari itu. Bagaimana kalau kita membeli buku setelah itu nonton?”

“Setuju.”

“Aku akan menjemputmu jam 8.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya. Jonghyun pun pamit karena masih banyak urusan penting yang harus pria itu kerjakan.

“Hei, bagaimana perasaanmu?” Jessica menoleh ke sampingnya. Taeyeon masih memandangi Jonghyun yang semakin jauh dan menghilang di pembelokan.

“Aku…baik?”

Jessica memutar bola matanya. “Kau tahu bukan itu maksudku.”

Taeyeon memutar tubuhnya hingga menghadap Jessica. “Kalau begitu…menyenangkan?” Senyuman palsu mengukir di bibirnya.

“Yaa! Seriuslah sedikit!” Jessica bersungut kesal. Taeyeon menoleh pada Yoona, mereka berdua terkikik. Ketika melihat tatapan tajam Jessica, keduanya menutup mulut. Taeyeon menghembuskan napas pelan.

“Tidak ada yang istimewa, Jessie.” Akunya kemudian.

Kerut-kerut bingung mulai nampak di wajah Jessica. “Bukankah kau sudah lama menyukai Jonghyun sunbae? Jadi setelah pria itu mengajakmu, kau tidak merasakan apa-apa? Heol!”

“Menurutmu aku harus bagaimana?” Taeyeon menaikkan sebelah alisnya.

“Yah, kau seharusnya senang atau melompat-lompat karena bahagia.”

“Menurutku agak berlebihan kalau Taeyeon harus melompat-lompat.” Yoona berkomentar.

Taeyeon mendengus pelan. “Apa aku terlihat seperti fangirlnya?” Tanyanya sinis.

“Bukankah kau salah satunya?” Balas Jessica tak kalah sinis.

Taeyeon menghujamkan tatapan menusuk ke arah gadis blonde itu.

“Aku hanya bercanda.” Jessica seketika meralat ucapannya sambil memperlihatkan senyuman polosnya. “Tapi sungguh, aku ingin tahu seharusnya kau senang pria yang kau taksir akhirnya mengajakmu berkencan—”

“Ya ampun, Jessie. Itu bukan kencan. Kami hanya pergi bersama-sama.” Sanggah Taeyeon.

“Aku setuju dengannya. Itu ajakan berkencan, asal kau tahu saja.” Ujar Yoona, mengibaskan tangannya acuh.

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat.

“Bukan itu yang terpenting sekarang.” Jessica mulai gemas. Ia memandang Taeyeon serius. “Apa kau tidak bahagia?”

“Aku bahagia.” Gumam Taeyeon. Pandangannya menerawang jauh. Ia bahagia. Setelah dua tahun menyukai Jonghyun, pria itu akhirnya mengajaknya keluar. Bagaimana mungkin ia tidak bahagia? Pada mulanya, ia tidak mengira akan bertemu lagi dengan Jonghyun di universitas ini. Cinta pertamanya yang dulu sulit ia lupakan. Ia bahkan belum sempat menyatakan cinta pada hari kelulusan pria itu. Akan tetapi, entah mengapa kebahagiaan yang ia rasakan dulu sudah tidak sama dengan sekarang. Ada yang berbeda. Daripada merasa bahagia karena Jonghyun mengajaknya, ia lebih bahagia karena pria itu akhirnya menyadari keberadaannya setelah sekian lama. Tidak lebih dari itu.

 

***

Kantin kampus nampak lenggang saat tengah hari. Hanya ada beberapa kumpulan kecil mahasiswa duduk disana. Sebagian di antaranya sibuk berbincang-bincang satu sama lain, sementara yang lainnya serius mengerjakan tugas kelompok. Satu atau dua orang sedang membaca buku sambil menikmati waktu istrahat siang. Taeyeon dan Jonghyun adalah salah satu di antaranya. Mereka berdua tengah asyik dalam pembicaraan ketika Jessica datang bersama Yoona.

Taeyeon agak heran melihat raut wajah Yoona tampak tidak bersemangat. “Ada apa denganmu hari ini? Apa kau sudah kehilangan kalimat-kalimat sinismu?” Tanyanya.

Yoona menatap kosong. Gadis itu mengambil tempat di depannya. Taeyeon semakin heran. Pertanyaannya tadi hanya untuk menggodanya tetapi sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik sampai tidak menggubrisnya. Apapun permasalahannya kali ini, Taeyeon yakin ini yang paling parah. Taeyeon lalu melirik Jessica untuk meminta jawaban.

“Ia patah hati.” Kata Jessica singkat.

“Patah hati?! Kau?!” Sepasang mata Taeyeon membelalak.

Yoona mendelik tajam. Taeyeon langsung mengulas senyum meminta maaf.

“Aku tidak tahu kalau kau sedang jatuh cinta pada seseorang.” Ujarnya.

“Pria itu bukan seseorang! Ia pangeran!” Sanggah Yoona cepat. Ketiga orang di hadapannya sampai tersentak kaget dan menggeleng-geleng karena penggunaan katanya terlalu berlebihan. Yoona merebahkan kepalanya dengan malas di atas meja lalu mulai menceritakan semuanya. “Aku baru mengenalnya hari ini dan jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Tetapi, sebelum aku sempat melancarkan serangan, ia sudah menolakku mentah-mentah dengan mengatakan tidak berminat padaku.” Tuturnya lirih.

Taeyeon menatap takjub. *Wah!* Kata pertama yang terlintas di pikirannya. Seorang Yoona yang tidak begitu peduli dengan pria, kini tak tanggung-tanggung menyatakan perasaannya dengan berani, bahkan berinisiatif mendekati pria yang baru dikenalnya? Itu kemajuan pesat, kalau boleh ia mengatakannya.

“Dan yang membuat hatiku semakin hancur berkeping-keping,” Taeyeon dan Jessica berpandangan. *Lagi-lagi terlalu di dramatis* “Pria itu ternyata telah memiliki calon istri.” Tambah Yoona tampak kecewa.

Taeyeon jadi iba melihatnya. Ia hanya tidak menyangka saja Yoona akan sesedih ini ketika jatuh cinta. Lebih parah lagi cintanya malah bertepuk sebelah tangan.

“Nasibmu buruk sekali.” Ucap Jessica pelan.

“Ini bukan saat yang tepat mengatakan hal itu padaku!” Yoona menatapnya kesal.

“Jessie, kau sungguh membantu.” Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jessica langsung menyeruput minumannya. Pura-pura tidak mendengar. Taeyeon mendadak penasaran siapa sesungguhnya pria yang dimaksud Yoona dan membuat sahabatnya itu patah hati.

“Memangnya siapa pria yang berani menolakmu itu?” Tanyanya dengan kesan iritasi.

Yoona menegakkan tubuhnya kembali. “Dia mahasiswa baru dari Cina.”

*Jadi Yoona tertarik pada pria Cina.* Taeyeon manggut-manggut. Tetapi, setelah mendengar kalimat selanjutnya dari Yoona, tubuhnya seketika membeku.

“Namanya Luhan. Dia bahkan masuk ke kampus kita karena ingin mencari calon istrinya. Menyebalkan!”

*L-Luhan?* Taeyeon menahan nafas saking terkejut. Mendadak tenggorokannya mengering, lambat laun wajahnya memucat mendengar nama itu disebut. Ia menoleh pelan-pelan ke arah Yoona. *Ti-tidak mungkin* Taeyeon merasakan tubuhnya menguar. Hampa. Pikirannya kosong dan perasaannya mulai berkecamuk. Bahagia, cemas, panik bercampur menjadi satu.

“Eh, apa kalian mengetahui seseorang yang bernama Mine di kampus ini? Mahasiswa baru atau senior kita?” Tanya Yoona tiba-tiba. Raut wajahnya berubah serius.

Tidak satupun dari mereka menyadari perubahan Taeyeon. Gadis itu terus terdiam sementara jantungnya berdegup dengan kencang setelah mendengar nama yang sangat akrab di telinganya. Andai saja mereka tahu bahwa Mine adalah panggilan khusus yang Luhan berikan hanya untuknya. Entah apa yang akan mereka katakan. Taeyeon berpikir cepat, jika Yoona mengetahui nama itu berarti besar kemungkinannya Luhan berada di kampus ini. Tepatnya di kampus yang sama dengannya. Tapi bagaimana caranya?

“Mine?” Jonghyun mengulang. Agak bingung. Ia tidak masalah sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan para wanita, tetapi nama Mine membuatnya agak tertarik karena unik.

“Kau mengenalnya, sunbae?” Yoona bertanya antusias.

Jonghyun mengernyitkan kening. Tampak berpikir sejenak. Jessica pun demikian.

“Kurasa tidak.” Jonghyun menggeleng pelan, “Tidak ada satu gadis pun yang bernama Mine di kampus ini. Kalau boleh jujur, nama itu sedikit berlebihan untuk seorang gadis.” Tuturnya menambahkan.

Bahu Yoona merosot. “Aku juga berpikir begitu, tapi Luhan bilang calon istrinya itu sangat cantik dan ia sangat mencintainya.” Gadis itu tersenyum pahit.

“Aw so sweet~ aku jadi semakin iri pada gadis itu.” Sekali lagi Jessica berkomentar tanpa mempertimbangkan situasi.

Yoona mengerutkan muka. Kalimat Jessica hanya membuatnya semakin jengkel. Di sisi lain, Taeyeon berusaha sebaik mungkin tidak menampakkan rona merah di pipinya walaupun ia tahu itu hal yang mustahil. Entah bagaimana, dalam hatinya ia merasa bangga karena Luhan tidak menyembunyikan statusnya yang sudah memiliki calon istri.

*Tunggu. Ini tidak benar. Kenapa aku jadi berpikir seperti ini? Bukankah aku seharusnya melupakannya?* Taeyeon buru-buru menggeleng, menepis apa yang sempat terlintas dalam benaknya. Tetapi Taeyeon tidak sadar kalau Jonghyun sedang memperhatikannya dan pria itu nampak curiga melihat tingkahnya.

“Aku tidak punya kesempatan lagi.” Ucap Yoona pasrah.

Taeyeon diam-diam setuju dengannya. Ia tiba-tiba tidak suka dengan fakta Yoona yang menyukai Luhan. Seharusnya ia tidak boleh berpikir seperti itu tetapi ia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Seolah-olah saraf pusat dalam otaknya membuatnya secara alami mengikuti naluri.

“Jangan seperti itu. Pasangan yang menikah saja bisa bercerai apalagi hanya sebatas bertunangan.” Ujar Jessica memberi Yoona semangat.

Taeyeon ingin sekali meneriaki sahabatnya itu agar berhenti memberi harapan pada Yoona. Namun ia kembali tersadar bahwa apa yang sempat terpikirkan olehnya tidak benar.

“Bagaimana Taeyeon, kau setuju ‘kan?”

“Eh?” Taeyeon tersentak kaget. Tiga pasang mata kini memandanginya. “Oh, aku setuju.” Sahutnya gugup.

Jessica dan Jonghyun memberikan pandangan heran mendengar jawabannya.

“Ada apa denganmu? Wajahmu kelihatan pucat. Apa kau sakit?” Tanya Jessica.

Taeyeon menggeleng cepat. “Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Ia berusaha memperlihatkan senyuman lebar.

Cara itu tidaklah berhasil. Ketiganya malah semakin heran dan menatapnya seolah dirinya aneh.

“Kelihatannya kau lebih dari sekedar baik-baik saja.” Sindir Yoona.

Taeyeon makin panik. Ia tidak pandai menyembunyikan ekspresinya.

“Kau yakin baik-baik saja? Aku bisa mengantarmu ke klinik.” Jonghyun mencoba menawarkan tetapi Taeyeon menggeleng.

Gadis itu menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya pelan seperti yang dilihatnya di yoga. “Aku baik-baik saja, sunbae. Tidak perlu khawatir.” Ucapnya menyakinkan.

“Itu Luhan!” Seru Yoona tiba-tiba. Semuanya berpaling, terkecuali Taeyeon yang mengerjapkan mata saking terkejut. “Luhan! Kemari!” Yoona sibuk melambaikan tangannya dengan riang.

Jessica mendengus kasar sambil meliriknya. “Kau ini. Tadi kau seperti ingin mati dan terpuruk sekali tetapi setelah melihat pria itu kau langsung bersemangat. Dasar aneh.”

Yoona hanya mengerutkan hidungnya, lalu tersenyum sumringah.

*Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?* Taeyeon mendadak tidak bisa berpikir jernih. Ia bahkan terlalu takut walau sekedar menolehkan pandangan. Suara langkah kaki yang semakin mendekati mejanya membuatnya semakin panik. Bagaimana kalau Luhan tiba-tiba mengatakan pada kedua sahabatnya termasuk Jonghyun kalau ia adalah calon istrinya? Setelah mendengar curahan hati Yoona, tidak mungkin ia membiarkan Luhan mengatakan terus terang.

Di dekatnya, Taeyeon sempat mendengar Jessica mengomentari betapa tampan dan menggemaskannya wajah Luhan, juga mendengar bagaimana Yoona mulai memperkenalkan mereka. Tidak salah lagi, suara itu memang milik Luhan.

Taeyeon masih membatu di kursinya. Ia sengaja menundukkan pandangannya atau lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya di depan buku yang dipegangnya tinggi-tinggi. Ia tidak ingin Luhan mengenalinya, juga berharap Yoona melewatinya saat perkenalan.

*Ya tuhan, kumohon jangan* Taeyeon membatin.

Luhan berhenti tiba-tiba. Pandangannya sontak beralih. Dadanya bergemuruh. Entah bagaimana, pikiran gadis di depannya ini…suaranya—

“Ah, itu sahabat kami.” Ujar Yoona setelah menyadari kemana arah pandangan Luhan. “Taeyeon, kau tidak ingin memperkenalkan dirimu?”

Taeyeon terlonjak. Jantungnya berhenti sejenak lalu mulai berpacu. Tanpa sadar tangannya ikut bergetar. Hampir saja buku itu terjatuh dari pegangannya.

*Taeyeon?* Mendengar nama Taeyeon, jantung Luhan seketika berdegup gembira. Usahanya telah terbayar. Setelah melakukan pencarian yang panjang, akhirnya ia menemukan gadisnya. Tak terbayang betapa bahagianya dirinya karena dapat melihat gadis itu lagi. Hampir tiga minggu tanpa melihat wajahnya membuat dirinya sangat merindukannya. Bila mereka bukan di tempat umum dan tidak bersama ketiga orang itu, Luhan ingin segera menciumnya dan menariknya ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak pergi lagi darinya.

Taeyeon beranjak perlahan dari kursinya. Luhan tidak pernah melepaskan tatapannya.

“H-Hai, aku Taeyeon.” Taeyeon dengan gugup memperkenalkan diri. Saat Taeyeon mengangkat kepalanya, akhirnya memandangi wajah Luhan, dadanya terasa sesak. Sudah lama sekali rasanya tidak melihat senyuman itu. Luhan belum berubah. Caranya menatapnya masih sama seperti terakhir kali. Kerinduan yang tidak bisa ia jelaskan, membuncah dalam dadanya. Ada dorongan yang kuat dalam dirinya agar memeluknya.

Taeyeon memalingkan muka, berjuang keras menekan air mata yang nyaris tumpah.

“Taeyeon kau kenapa? Jangan bilang kau juga mulai tertarik pada Luhan.” Kening Jessica berkerut menyingkapi sikap aneh Taeyeon.

“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit bosan.” Jawab Taeyeon nyaris berbisik.

Yoona juga merasa ada yang aneh dengan Taeyeon meskipun gadis itu mencoba menutupinya. Yoona menatap Luhan dan Taeyeon bergantian. Cara Luhan menatapnya, berbeda dengan caranya menatap Taeyeon. Satu hal lagi yang disadari Yoona, ia tidak pernah melihat Luhan tersenyum seperti itu kepadanya melainkan kepada Taeyeon. Tulus dan nampaknya sangat bahagia. Perasaan Yoona langsung tidak enak.

“Mi—”

“Aku pulang duluan. Kepalaku tiba-tiba pusing.” Potong Taeyeon cepat. Ia sungguh tak bisa membiarkan Luhan menyebutnya Mine di depan mereka, tidak setelah melihat ekspresi Yoona.

“Kau bilang tadi kau baik-baik saja.” Protes Jessica.

Taeyeon mengulas senyum tipis dan menggumamkan kalimat maaf. Melihat tatapan Luhan yang seakan memelas padanya membuat posisinya semakin sulit.

*Jebal Luhan, jangan memberiku tatapan seperti itu* Taeyeon berharap Luhan mendengar pikirannya tetapi ekspresi pria itu masih tetap sama.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Jonghyun menawarkan diri. Taeyeon hanya mengangguk lemah.

Tanpa membuang-buang waktu, Taeyeon pamit pada kedua sahabatnya lalu segera meninggalkan tempat bersama Jonghyun. Luhan menatap kepergian mereka tanpa berkedip. Hatinya terluka. Tentu saja. Namun yang membuatnya sangat marah adalah pria yang bersama Taeyeon. Luhan mengepal telapak tangannya dengan geram, sorot matanya berubah tajam menusuk seperti hendak membunuh siapapun yang berani mendekat. Melihat calon istrinya bersama pria lain membuat emosinya menjadi tidak terkendali, terlebih lagi setelah mendengar apa yang ada dalam pikiran pria itu.

“Luhan…kau baik-baik saja?” Yoona ragu-ragu bertanya. Ia agak terkejut melihat perubahan Luhan. Untuk suatu alasan, pria itu membuatnya takut.

Luhan tidak menjawab, bahkan melirikpun tidak. Yoona dan Jessica saling pandang. Perkiraan mereka salah. Pria setampan dan seimut Luhan ternyata bisa sangat mengerikan. Tatapannya saja sudah bisa membuat orang gemetar.

“Luhan.” Panggil Yoona setengah berbisik. Dalam hati was-was.

Luhan menutup mata, berusaha mengendalikan diri. Tidak lama setelah itu, kedua kepalan tangannya melemas.

“Aku baik-baik saja.” Ucapnya seraya meninggalkan mereka.

Baik Yoona maupun Jessica, keduanya tidak berani memanggil Luhan lagi. Mereka berdua takut jika nanti Luhan memberikan tatapan menakutkan itu pada mereka.

– – –

Taeyeon menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Lelah. Sangat lelah. Kemunculan Luhan di kampusnya sampai saat ini masih mengacaukan pikirannya. Tidak ingin terlalu lama berkutat dengan pikirannya, Taeyeon pun mencoba memejamkan mata. Tak berapa lama kemudian, suara dengkuran halusnya terdengar.

 

“Apa yang kau lakukan di luar sini, hm?”

Taeyeon tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara di belakangnya. Ia terlalu enggan berbalik. Langkah kaki di belakangnya perlahan mendekat, hanya beberapa detik berselang, sepasang lengan sudah melingkar rapat di pinggang kecilnya.

“Kau bisa kedinginan.” Suara Luhan berbisik lembut di telinganya.

Bibir Taeyeon merekah, melukis sebuah senyuman kecil sambil meletakkan tangannya di atas lengan itu. *Kurasa tidak lagi sekarang*

Luhan tertawa tanpa suara, hanya dadanya yang bergetar terasa di punggung Taeyeon.

“Sepertinya kemampuanku membuat komunikasi kita menjadi lebih praktis.” Ucapnya.

“Tapi kau selalu berbuat curang dengan membaca pikiranku tanpa seizinku.” Taeyeon menanggapinya dengan wajah masam.

Sekali lagi Luhan tertawa. Suaranya terdengar halus seperti angin. Luhan kian merengkuhnya, lalu menyandarkan dagunya di atas bahu gadis itu.

“Aku tidak akan membaca pikiranmu lagi sampai kau mengizinkannya.”

Taeyeon memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. “Bisakah seperti itu?” Tanyanya tak percaya.

Senyum Luhan melebar dan ia mengangguk singkat. Luhan menarik Taeyeon pelan, lalu menutup jendela yang menghubungkan kamar dengan serambi atas. Setelah itu menggendong Taeyeon menuju ranjang. Luhan ikut membaringkan tubuhnya di samping Taeyeon kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Taeyeon tidak lagi keberatan, sebaliknya menyandarkan kepalanya di dada Luhan dan memejamkan mata.

“Luhan.” Panggil Taeyeon memecah kesunyian.

“Hm.”

“Apa yang kupikirkan sekarang?” Tanyanya.

Luhan tersenyum seraya membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang, berhenti sejenak untuk memberikan kecupan singkat di keningnya.

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kalau aku tidak akan membaca pikiranmu sampai kau mengizinkannya?”

Taeyeon mengangguk pelan-pelan namun raut wajahnya masih belum berubah. Luhan menyadari hal itu, ia tidak memungkiri kalau dalam hatinya ingin tahu apa yang tengah dipikirkan gadis itu, karena dengan begitu ia bisa lebih memahaminya dan segera menyelesaikan apapun yang menyusahkan pikiran gadis itu.

“Apa kau juga sering membaca pikiran Nyonya Hwang?” Taeyeon bertanya lagi.

Luhan agak kaget. Ia tidak menyangka Taeyeon akan menanyakan pertanyaan semacam itu. Luhan mengangguk sebagai jawaban.

“Kenapa kau membiarkan ia memukulimu waktu itu? Kenapa kau tidak lari saja?”

Luhan menaikkan bahu. “Ia yang menemukanku dan menampungku, tentu aku harus patuh padanya sebagai balas budi. Lagipula, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan tempat ini, dan sampai hari itu tiba aku akan menurutinya.”

Kilau mata Taeyeon meredup. Pandangannya sendu. Ia juga ingin meninggalkan tempat ini tetapi tidak tahu bagaimana caranya. “Aku ingin pergi dari tempat ini…aku merindukan ayahku.” Bibirnya bergetar, matanya nampak berkaca-kaca. Dalam hitungan detik, airmatanya mengalir deras di pipinya.

“Ssh.” Luhan mengusap pipinya sambil menenangkannya. “Aku akan membawamu pergi dari sini.”

Taeyeon mengerjapkan mata karena terkejut. “Benarkah?” Tanyanya penuh kesan antusias. Tadinya ia hampir putus asa.

Anggukan Luhan membuat wajah Taeyeon berseri-seri kembali oleh senyuman. Luhan bahagia melihatnya.

“Tapi kenapa kau baru mengatakannya sekarang?” Taeyeon menatapnya penuh tanya. Kerutan di keningnya tampak jelas.

Luhan terdiam. Ia lalu menatap gadis itu lekat-lekat.

*Karena aku takut kau akan meninggalkanku sebelum aku berhasil mendapatkan hatimu* Jawabnya dalam hati. Mungkin alasan itu adalah alasan yang paling egois, Luhan hanya tidak bisa membiarkan gadis itu pergi begitu saja.

Taeyeon menunggu. Ia merasa ganjil mengapa Luhan belum menjawab pertanyaannya tetapi menatapnya. Ia juga ingin tahu apa yang dipikirkan Luhan sehingga membuat tatapannya memancarkan kesedihan.

“Kau ingin keluar dari tempat ini, bukan?” Luhan tiba-tiba bertanya padanya. Taeyeon mengangguk. “Tetapi aku ingin kau berjanji satu hal padaku.” Katanya lagi.

“Berjanji apa?”

“Tidak peduli apapun yang terjadi, selamanya kau adalah milikku. Jangan pernah melarikan diri dariku atau coba menghindariku. Kau mengerti?”

Taeyeon agak terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan hal tersebut sementara dirinya sendiri belum yakin mengenai perasaannya terhadap Luhan. Ia belum bisa menentukan kebersamaannya dengan Luhan, benarkah karena cinta atau sebatas rasa nyaman saja?

“Aku berjanji.” Demi bisa bertemu kembali dengan ayahnya, Taeyeon akhirnya bersedia memenuhinya.

Kini giliran Luhan yang terkejut. “K-Kau berjanji?” Tanyanya nyaris tak percaya.

Taeyeon mengangguk mantap kali ini.

“Katakan sekali lagi.” Pinta Luhan.

Taeyeon menarik napas dalam-dalam. *Semoga aku tidak menyesal mengucapkan kalimat ini*

“Aku berjanji.”

Sebelum mereka berdua tertidur, Luhan menyempatkan diri mencium bibirnya. Ciuman yang lembut nan panjang. Taeyeon tidak ragu membalasnya. Mereka berciuman seakan-akan hari esok tidak pernah ada. Saling menginginkan, seolah mencandui bibir masing-masing. Ini adalah malam terakhir Taeyeon berada bersamanya juga malam terakhirnya berada di puri ini.

 

Saat Taeyeon terbangun dari istirahat panjangnya, hari sudah menjelang sore. Taeyeon mengingatnya sekarang. Malam terakhirnya bersama Luhan sebelum ia terbangun di ranjang rumah sakit. Kini Taeyeon mengerti mengapa tadi Luhan masih memperlihatkan ekspresi yang sama saat ia memintanya. Kemungkinan karena Luhan tengah berusaha menepati janjinya malam itu. Taeyeon tidak habis pikir, Luhan adalah siluman rubah tetapi bagaimana bisa bergaul dengan manusia sampai ikut kuliah di kampus yang sama dengannya?

Guk! Guk!

Taeyeon mengerutkan kening. Telinganya tidak salah mendengar suara gonggongan itu. Suaranya seperti berasal dari dalam rumahnya.

Guk! Guk! Guk!

Penasaran, Taeyeon keluar dari kamarnya guna mencari tahu dimana sumber suara gonggongan itu. Taeyeon mengikuti pendengarannya. Pada pijakan anak tangga yang terakhir, langkahnya terhenti. Tubuhnya seketika membeku. Pemandangan di depan matanya membuatnya terbelalak kaget.

“Oh, kau sudah bangun, baby.” Sapa ayahnya. “Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?” Tanyanya seraya menoleh ke samping dan tersenyum.

*Tidak mungkin* Taeyeon serasa tercekat. Lidahnya mendadak kelu. Matanya mengerjap berulang-ulang.

Disana, Luhan dalam bentuk rubah, berada di ruang tengah bersama ayahnya. Ayahnya tampak ceria seperti biasanya, dan Luhan, setelah mengetahui sifat congkaknya, Taeyeon yakin Luhan pasti sedang tersenyum penuh kemenangan ke arahnya.

“Ayah, kenapa membawa binatang itu ke rumah kita?” Tanya Taeyeon dengan suara setenang mungkin. Dalam hati ia berharap ayahnya tidak memiliki ide seperti perkiraannya.

“Oh itu, aku menemukannya di depan rumah kita baru saja. Keadaannya sangat menyedihkan.” Tutur ayahnya.

Taeyeon ingin memutar bola matanya. *Tentu saja. Ia punya bakat alami dengan membuat orang mengasihaninya*

“Anjing ini tidak punya tempat tinggal dan juga sangat kelaparan, jadi ayah membawanya masuk.” Tambah ayahnya.

“Ayah tahu darimana kalau binatang itu tidak punya tempat tinggal? Siapa tahu saja sekarang pemiliknya sedang mencarinya.” Taeyeon berusaha memberi alasan. Ia tidak peduli kalau Luhan memandang tajam ke arahnya karena ucapannya. Bahkan ia tidak peduli kalau binatang itu tersinggung.

Mengetahui ayah Taeyeon mulai goyah karena mendengar perkataan putrinya, Luhan sengaja mengeluarkan suara seperti rengekan sambil membuat tampangnya semenyedihkan mungkin. Siapapun yang melihat pasti tidak akan tega, termasuk ayah Taeyeon.

“Aw, lihatlah dia baby. Bukankah dia sangat manis? Ayah tidak tega kalau mengusirnya.” Bujuk ayahnya. Taeyeon membuka mulut untuk membantah tetapi ayahnya sudah memotongnya. “Wae? Kau tidak menyukainya? Bukankah kau bilang ingin memiliki anjing sebagai binatang peliharaanmu?”

“Itu bukan anjing ayah! Itu rubah!” Teriak Taeyeon kesal. Ia sendiri tidak mengerti dirinya. Entah apa yang membuatnya tidak bisa mengendalikan amarahnya. Luhan yang akan tinggal bersamanya ataukah perasaannya sendiri yang selalu membuatnya bingung?

“Rubah?” Ayahnya menoleh. Tatapan polos binatang itu langsung membuat hatinya melunak.

Guk! Guk!

Taeyeon ternganga tak percaya. Ia tidak salah dengar. Luhan memang menggonggong. Ayahnya kembali menatapnya.

“Baby, bagaimana suara anjing?” Sebelah alisnya terangkat.

Taeyeon mendadak gugup. Tidak berapa lama kemudian, ia akhirnya meniru gonggongan anjing. “Guk.”

Sekarang tidak ada alasan lagi untuk mengusir Luhan keluar dari rumahnya.

“Ayah rasa anjing ini akan cocok tinggal disini menemanimu. Mengenai namanya, kau saja yang pikirkan. Ayah harus keluar kota hari ini dan kembali 3 hari lagi, jadi kuminta kau tidak mengusir anjing ini dari rumah kita.” Ujarnya.

Taeyeon tidak sempat memprotes karena ayahnya lagi-lagi mendahuluinya.

“Oh ya, mengingat anjing ini bersamamu, aku jadi sedikit lega. Anjing ini sangat jinak.”

“Jadi ayah ingin meninggalkanku bersama rub-maksudku anjing ini sendirian?! Binatang asing yang baru kutemui hari ini?!”

Luhan menggeram, tidak setuju dengannya. Taeyeon mencibir dan kembali menatap ayahnya dengan pandangan memelas. “Ayah, bisakan kita menitipkannya di tempat penitipan hewan saja? Siapa tahu saja pemiliknya akan menemukannya disana.”

Taeyeon tahu tidak akan ada yang mencari Luhan. Ia hanya mengatakannya karena itu adalah saran terakhir yang ia punya.

Ayahnya menggeleng. “Itu bukan ide yang bagus. Lagipula, aku yakin anjing ini tidak akan menyebabkan masalah padamu.” Tegasnya.

Bahu Taeyeon menurun, kepalanya tertunduk pasrah. Jika ayahnya sudah memutuskan, sulit untuk mengubahnya kembali.

“Aku harus pergi sekarang. Ingat, jangan terlalu keras padanya. Jangan terlalu sedih begitu. Ayah janji, setelah ayah pulang kita akan mencari pemiliknya.” Kata ayahnya panjang lebar usai melirik arlojinya. Pria itu lantas membungkuk di depan anjing itu, “Tolong jaga putriku.” Bisiknya seraya tersenyum menepuk-nepuk kepalanya.

Guk!

Taeyeon tidak tahan melihat adegan di depannya. Segera saja ia naik ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tak memahami jalan pikiran putrinya yang kelihatannya membenci anjing ini.

– – –

Malam pun tiba. Taeyeon baru saja selesai mengerjakan tugas. Ia meregangkan lehernya ke samping kiri dan kanan lalu memijat bahunya yang kaku akibat terlalu lama duduk. Jam di atas meja telah menunjukkan pukul 19.00 yang berarti ia harus menyiapkan makan malam untuk dirinya. Setelah menutup buku-bukunya, Taeyeon beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu kamar. Saat pintu terbuka, Taeyeon terlonjak kaget mendapati Luhan berbaring melingkar di lantai depan kamarnya. Binatang itu seketika mengangkat kepala dan menegakkan tubuhnya sambil memandanginya.

Taeyeon mendengus kasar. *Aku hampir lupa kalau dia sekarang tinggal disini* Ia memberikan tatapan tak suka dan melipat tangan.

“Apa yang kau lakukan disini? Di depan kamarku?” Tanyanya jengkel.

Luhan mendekat dan menyodok-nyodokkan hidungnya di kakinya.

“Hentikan itu!” Seru Taeyeon sambil mundur selangkah. “Maaf aku tidak bisa bahasa binatang.” Ujarnya sinis.

Acuh tak acuh, Taeyeon melenggang kembali ke dalam kamar. Sebelum ia sempat menutup pintu, Luhan secepat kilat menerobos masuk.

“Hei!” Pekik Taeyeon tapi Luhan seolah tidak peduli.

*Masih saja keras kepala* Sambil mengerucutkan bibirnya, Taeyeon menutup kembali pintu kamarnya.

“Kyaa! Apa yang kau lakukan?!” Taeyeon memekik kencang, langsung membalikkan badan dengan kedua tangannya menutupi mata dan sebagian wajahnya.

“Kenapa? Bukankah kau sering melihatku dalam keadaan begini?”

Taeyeon menutupi wajahnya yang merah padam karena mendengar perkataannya.

“Jangan seenaknya muncul dalam keadaan…” Ujarnya tertahan, “Keadaan seperti itu!” Taeyeon tidak ingin menyebut kata yang akan membuatnya semakin merah. “Cepat pakai bajumu!” Perintahnya.

“Aku tidak membawa pakaian.”

Taeyeon bisa membayangkan bagaimana kondisi polos wajah Luhan saat mengatakan kalimat itu. Menyebalkan sekali, muncul di hadapannya dalam keadaan telanjang bulat dan bersikap santai seolah-olah itu bukanlah masalah besar.

“Setidaknya kau menutupinya dengan apapun yang ada di dekatmu!” Teriak Taeyeon. Kekesalannya semakin meninggi.

Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban dari Luhan. Ragu-ragu, Taeyeon perlahan-lahan membalikkan tubuhnya. Ia menghembuskan napas lega. Luhan telah kembali ke wujud rubahnya. Berdiri dengan ke empat kakinya sambil menatapnya seperti anak hilang.

Taeyeon mendesah pelan. “Tunggu disini. Aku akan mencarikan sesuatu untukmu.” Ia segera keluar dari kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama, ia pun kembali dengan pakaian di tangannya. “Ini milik ayahku. Pakailah.”

Luhan membawa pakaian itu dengan menggigitnya ke dalam kamar mandi. Ia tidak ingin membuat Taeyeon semakin kesal padanya karena ide berpakaian di depannya, meskipun sebenarnya ia sendiri tidak keberatan akan hal itu.

Sementara Luhan sibuk berpakaian, Taeyeon turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Sekarang Luhan telah kembali ke dalam wujud manusia, tentu ia harus memasak yang melebihi porsinya sendiri. Tanpa sepengetahuan Taeyeon, Luhan yang telah mengganti bajunya mengendap-endap menuju ke arahnya. Luhan mendekap Taeyeon dari belakang yang membuat gadis itu memekik kecil.

“Ini hanya aku, Mine.” Luhan yang berbisik halus di samping telinganya mengirimkan getaran-getaran ke sekujur tubuhnya.

Hati Taeyeon sempat melunak mendengar nama panggilannya terucap kembali di bibir Luhan. Suaranya yang lembut dan menenangkan selalu bisa membuat jantungnya berguncang dengan cara yang menyenangkan.

“Luhan, aku sedang bekerja.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak leluasa jika kau seperti ini.”

“Aku merindukanmu, Mine.”

Taeyeon teringat bahwa ia sepatutnya tidak membiarkan pertahanannya berkurang, namun suara Luhan yang manja dan lengannya yang erat memeluknya seolah tidak ingin membiarkannya lepas akhirnya membuat dirinya mengalah.

*Aku juga merindukanmu* Taeyeon menghentikan kegiatannya. Matanya terpejam. Begitu sulit kalimat itu terucap dari mulutnya. Taeyeon hanya berani mengatakannya dalam hati.

Kediaman yang tenang menyelimuti mereka berdua.

“Katakan padaku, Mine. Apakah kau sudah melupakan janjimu padaku?” Tanya Luhan.

Taeyeon membungkam. Luhan begitu dekat dengannya. Bahkan Taeyeon bisa merasakan napasnya yang hangat menerpa tengkuknya. Kehangatan tubuhnya mampu menggantikan setiap kebekuan yang berusaha ia ciptakan. Taeyeon tahu persis maksud Luhan menanyakan hal itu padanya.

“Tidak peduli apapun yang terjadi, selamanya kau adalah milikku. Jangan pernah melarikan diri dariku atau coba menghindariku. Apakah kau melupakan kalimat itu?” Luhan bertanya lagi. Dadanya semakin menekan punggungnya. Pelukannya tidak sedikitpun renggang. Bibir Luhan perlahan turun kian ke bawah hingga menyentuh permukaan kulitnya tetapi tidak berhenti disana.

Taeyeon terlonjak. Napasnya langsung memburu. Seperti mantra, sentuhan Luhan sanggup membuat tubuhnya kaku dalam sesaat.

“A-Aku…ti-tidak…melupakannya.” Taeyeon menjawabnya gugup dengan napas yang terputus-putus.

“Lalu kenapa kau menghindariku, hm?” Suaranya yang halus, berbisik mesra di telinganya.

Taeyeon tanpa sengaja menggigit bibir bawahnya. Ia sudah cukup malu karena degup jantungnya semakin keras dan ia takut Luhan bisa mendengarnya. Setiap inci yang tersentuh menimbulkan sensasi yang membara.

“A-Aku…aku tidak tahu.” Jawaban ambigu Taeyeon membuat Luhan terkekeh.

Luhan menyandarkan kedua tangannya di bahu Taeyeon dan perlahan memutar tubuh gadis itu agar menghadap padanya. Taeyeon tidak berani membalas tatapannya setelah apa yang terjadi. Luhan tersenyum, ia lalu mengangkat dagu Taeyeon agar ia bisa memandangi wajah gadis yang sangat ia rindukan. Tatapan Luhan yang begitu lekat dan intens membuat Taeyeon tidak bisa berpaling. Matanya yang teduh berwarna coklat, entah sejak kapan terlihat sangat mempesona dan memikat.

“Kau tahu, betapa bahagianya aku saat kau membalas pelukanku, betapa gembiranya aku saat kau membalas ciumanku dan betapa menyenangkannya itu saat aku mengira kau telah memberikan hatimu padaku.” Ujar Luhan pelan.

Taeyeon menegang. Luhan yang berjanji untuk tidak menggunakan kemampuannya kepadanya, pasti masih bisa merasakan bagaimana sebenarnya yang ia rasakan. Yang ia lakukan hanyalah memalingkan muka. Rasa bersalah menggerogotinya tiap kali melihat Luhan menatapnya dengan pandangan penuh harap.

“Awalnya aku berpikir tidak akan sulit membuatmu jatuh cinta padaku, tetapi kenyatannya,” Luhan menahan napas dan menggeleng lemah, “Aku bisa bersabar dan menunggu sampai kau bisa menerimaku dengan tulus, Mine. Menjalin hubungan dengan makhluk sepertiku mungkin membuatmu sangat tertekan, tapi Mine, aku sungguh-sungguh tulus padamu. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Bisakah kau memberiku kesempatan tanpa menilai siapa diriku sebenarnya?” Pintanya memelas.

Taeyeon menatapnya. Gadis manapun pasti akan luluh mendengarnya, termasuk dirinya. Taeyeon tidak ingin terlalu memberi harapan pada Luhan. Taeyeon khawatir dan takut jika ternyata perasaannya terhadap Luhan bersifat sementara hanya karena mereka pernah bersama dalam waktu yang cukup lama di puri.

“Luhan, aku…”

Luhan menggeleng keras. Ia tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut gadis itu. Ia tidak siap jika gadis itu menolaknya lagi kali ini.

“Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, tidak peduli seberapa susahnya itu, aku akan melakukannya. Satu saja yang kuminta darimu, jangan pernah mengacuhkanku. Aku sudah cukup terluka melihatmu bersama pria lain.” Tegasnya pada akhir kalimatnya.

Ingatan Taeyeon kembali ke waktu Jonghyun mengantarnya pulang. Luhan cemburu pada Jonghyun.

“Jonghyun hanya sunbae di kampus, Luhan.”

“Bagiku tidak seperti itu. Aku menepati janjiku untuk tidak membaca pikiranmu, tetapi aku tidak berjanji untuk tidak membaca pikiran pria itu. Aku tahu ia menyukaimu, Mine.”

Taeyeon menghela napas dalam-dalam. Pembicaraan ini tidak berguna bila diteruskan. “Sebaiknya kita makan sekarang.” Ucapnya kemudian.

Luhan tidak berkata apa-apa lagi selain menurut.

Taeyeon mulai sibuk menyiapkan makanan, sementara itu Luhan dengan senang hati membantunya mengatur piring di meja. Luhan nampak berseri-seri, senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya sehingga membuat Taeyeon melongo melihatnya. Kemana perginya pria yang berbicara dengan serius tadi dengannya? Luhan seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru saat Taeyeon menyiapkan makanan di mejanya. Matanya mengerjap-ngerjap dan ia tersenyum lebar seraya memandangi piring di depannya. Waktu mencicipinya pun reaksinya masih sama.

“Aku sangat menyukai masakanmu, Mine. Ini lezat sekali.” Puji Luhan sambil menaikkan kedua jempolnya.

Taeyeon terkikih geli melihatnya. “Terima kasih.” Ucapnya.

“Aku akan menjadi pria yang sangat beruntung karena memilikimu, Mine. Selain cantik, kau juga sangat pandai memasak.”

Wajah Taeyeon seketika memerah. “Kau tidak perlu sesenang itu. Makanan ini biasa saja. Aku sering membuatnya.”

Luhan menggeleng tidak setuju. “Ini pertama kalinya kau memasak untukku. Aku sangat bahagia.” Ujarnya tersipu-sipu.

Taeyeon hampir saja mencubit pipinya saking gemas. Luhan yang tersenyum polos di depannya ini sangat menggemaskan. Kalau dipikir-pikir, ini memang pertama kalinya mereka makan bersama dalam satu meja, juga pertama kalinya ia memasak untuk Luhan. Taeyeon tersenyum lembut menyaksikan Luhan menikmati makanan buatannya. Ia senang Luhan menyukainya.

Tiba-tiba, Taeyeon teringat akan sesuatu.

“Luhan.” Panggilnya. Luhan mengangkat kepalanya, menatapnya. “Kenapa…kau bisa keluar dari hutan itu?” Tanyanya ingin tahu.

“Seperti yang pernah kukatakan padamu. Sudah saatnya aku meninggalkan puri itu dan membawamu ikut bersamaku.” Jawab Luhan ringan. “Maaf Mine, aku harus menyelesaikan tugas penting sebelum datang menemuimu.” Tambahnya dengan penuh penyesalan.

“Pantas saja selama dua minggu aku tidak pernah melihatnya.” Taeyeon bergumam.

Luhan mendadak tersenyum jahil. “Kau tahu Mine, meskipun aku tidak bisa mendengar pikiranmu, aku tetap bisa mendengar suara sekecil apapun, dan aku tahu selama hampir tiga minggu ini kau juga merindukanku.”

Taeyeon memutar bola matanya. “Teruslah bermimpi.”

“Jadi kau tidak merindukanku?” Senyuman Luhan memudar.

Taeyeon beranjak dari kursinya tanpa menjawab. Ia mengumpulkan piring bekas makannya dan piring Luhan kemudian menyimpannya di bak cuci. Dari awal hingga ia selesai mencuci piring, Luhan tidak pernah bosan merengek di sampingnya. Menanyakan tentang apakah ia merindukannya atau tidak.

“Kau harus menjawab pertanyaanku, Mine. Apa kau sungguh tidak merindukanku? Sedikitpun?” Tanya Luhan bertubi-tubi.

Taeyeon menarik napas panjang. Sampai kapan rubah ini berhenti? Ia tidak mungkin menjawabnya. Terlalu memalukan. Taeyeon melengos, sengaja mengabaikannya. Luhan rupanya belum menyerah. Sewaktu Taeyeon menaiki tangga menuju kamarnya, Luhan masih setia mengekorinya tanpa berhenti merajuk.

“Mine~” Pinta Luhan manja.

“Luhan, aku lelah dan ingin tidur.” Taeyeon langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh atasnya. Luhan tersenyum lebar lalu ikut membaringkan tubuhnya di sebelahnya. Taeyeon sengaja memunggunginya tetapi Luhan punya banyak cara untuk mendekatinya. Luhan menggeser tubuhnya dan meringkuk dekat punggung Taeyeon. Taeyeon tidak punya pilihan lain selain membiarkannya. Ia sudah punya cukup banyak pengalaman selama di Puri. Luhan yang keras kepala tidak akan mau di suruh tidur di karpet atau di sofa.

Taeyeon menutup mata, fokus untuk tidur ketika ia merasakan lengan Luhan bergerak dan bersandar di pinggangnya.

“Cepat atau lambat, kau akan mengatakannya, Mine. Aku bisa membuktikan kalau kau juga merindukanku. Suara jantungmu yang berdebar-debar itu sebagai buktinya.” Bisik Luhan.

Taeyeon tidak menjawab, tetapi wajahnya menghangat mendengarnya.

 

***

Sudah 3 hari sejak Luhan tinggal di rumah Taeyeon, selama itu pula Taeyeon selalu mencari-cari alasan agar bisa menghindari Luhan. Taeyeon juga melarang Luhan untuk tidak memanggilnya ‘Mine’ di kampus. Luhan yang keras kepala tentu saja menolak. Barulah setelah Taeyeon mengingatkan Luhan tentang janjinya yang akan melakukan apapun untuknya, Luhan akhirnya terpaksa menurutinya. Tetapi bukan Luhan namanya jika ia menyerah hanya karena masalah kecil seperti itu. Kemanapun Taeyeon pergi, Luhan pasti akan mengikutinya walaupun gadis itu berulang kali mengusirnya.

“Katakan pada kami, Taeyeon. Apa terjadi sesuatu antara kau dan Luhan?” Suatu hari Jessica bertanya padanya. Mereka bertiga tengah menikmati waktu santai di taman belakang kampus.

Akhir-akhir ini Jessica dan Yoona memang selalu memberikan pandangan curiga kepada dirinya. Entah sejak kapan itu terjadi, yang jelas Taeyeon sering merasakan mereka berdua sedang memperhatikan gerak-geriknya. Taeyeon memakluminya, mungkin karena Luhan selalu terlihat menghampirinya, atau kadang-kadang mencarinya dengan menanyakannya kepada mereka berdua.

Pernah beberapa kali Jessica dan Yoona memergoki Taeyeon sedang mengomeli Luhan dan Luhan waktu itu hanya diam mendengarkan sambil mengangguk-angguk seperti anak kecil yang patuh. Ketika mereka berdua menanyakannya, Taeyeon tidak bisa menjawab bahkan cenderung menghindar. Taeyeon belum menceritakan apa-apa pada mereka. Jangankan bercerita, untuk memulainya saja Taeyeon tidak tahu harus darimana. Ia merasa belum siap.

Pertanyaan Jessica membuat Taeyeon terkejut. Kedua sahabatnya tampak serius kali ini. Taeyeon mulai gelisah.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Ujarnya berusaha tenang.

“Kami tahu, Taeyeon. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami.” Tatap Yoona tajam.

“Aku tidak menyembunyikan apapun dari kalian.” Taeyeon masih menyangkal.

“Lalu kenapa Luhan sepertinya sudah sangat mengenalmu?!” Yoona tiba-tiba berteriak membuat Taeyeon terlonjak kaget. Jessica di sampingnya pun ikut terkejut. Raut wajah Yoona berubah muram. Taeyeon tidak sanggup membalas tatapannya.

Melihat sikap Taeyeon, Yoona menjadi semakin kesal. Telapak tangannya menggenggam kuat-kuat. “Jika kau memang menyukai Luhan, kenapa kau tidak pernah bilang padaku?!”

Taeyeon sontak mengangkat wajahnya dan menggeleng cepat. “Y-Yoona, bukan seperti it—”

“Kami tidak buta, Taeyeon.” Putus Yoona. Sorot matanya secara perlahan berubah sendu. Tampaknya ia mulai sedikit tenang, namun senyuman pahit yang tersamar masih bisa dilihat oleh Jessica dan Taeyeon. “Aku bisa melihatnya dengan jelas, Luhan sangat menyukaimu. Caranya menatapmu selalu penuh kasih dan kerinduan yang berlimpah. Tadinya kukira itu hanya imajinasiku tetapi ternyata tidak. Luhan bersungguh-sungguh menunjukkan perasaannya.”

Yoona menatapnya. “Aku ada disana Taeyeon, aku melihatnya terluka ketika kau memutuskan untuk mengacuhkannya dengan bersama Jonghyun sunbae. Apa kau masih ingin menyangkalnya?”

Taeyeon membungkam seraya menunduk lunglai. Selain perasaan bersalah, hatinya juga terluka mendengar semua penuturan Yoona. Mengapa Luhan tidak memilih Yoona saja? Ia gadis yang sangat baik. Diam-diam tebersit kecemburuan dalam hatinya. Yoona sangat cantik dan sangat perhatian, berbanding terbalik dengan dirinya. Taeyeon tersenyum miris, mengapa Luhan harus membuat dirinya tampak buruk di depan mereka sebab ia belum bisa membalas perasaannya sepenuhnya?

Kebersamaan Yoona dan Luhan waktu itu masih terasa segar dalam ingatannya. Taeyeon akui, itu juga karena kesalahannya karena memilih pergi bersama Jonghyun dan melarang Luhan mengikutinya. Saat Taeyeon menyadari kekeliruannya dan kembali, disana sudah ada Yoona sedang menenangkan Luhan. Taeyeon buru-buru bersembunyi di belakang dinding sambil memperhatikan interaksi mereka. Tidak ada yang istimewa memang, mereka hanya duduk disana sambil berbincang. Melihat mereka bersama membuat Taeyeon merasa tidak nyaman. Taeyeon sempat menitikkan airmata karena masalah itu. Mungkin karena kecemburuannya lah yang menjadi pemicu mengapa sampai saat ini Taeyeon masih menghindari Luhan. Ia marah padanya.

“Mungkinkah gadis yang dimaksud Luhan adalah…kau?”

Yoona dan Taeyeon terkejut mendengarnya. Yoona lantas beralih pada Jessica yang tersenyum tipis usai mengemukakan pendapatnya.

“Aku hanya asal menebak.” Kata Jessica santai.

Tangan Taeyeon gemetar. Ia mencoba menutupinya dengan menggenggamnya kuat-kuat. “A-Aku harus pulang. Ada urusan penting yang harus kukerjakan.” Ia berbalik pergi.

Jessica dan Yoona tahu Taeyeon kembali menghindar. Taeyeon sudah jelas menyembunyikan sesuatu.

“Berhentilah melukai perasaan Luhan, Taeyeon.” Perkataan Yoona menghentikan langkah Taeyeon. “Aku tahu, kau juga menyukainya. Malah sangat menyukainya. Yang tidak kumengerti dari sikapmu, mengapa kau selalu menolak sampai mengabaikannya seolah-olah kau tidak menginginkannya?

 

***

“Kau tidak boleh pergi dengannya!”

“Kau tidak berhak melarangku, Luhan! Aku bukan kekasihmu!”

Luhan mengepalkan tangannya seraya menggemeretakkan giginya. “Kau adalah Mate-ku. Milikku.” Ia bersikukuh.

Taeyeon sudah tidak tahan. “Meskipun aku adalah Mate-mu, kau tetap tidak bisa memaksakan perasaanmu padaku!” Balasnya sengit, namun detik berikutnya ia menyesalinya.

Taeyeon terkejut oleh perkataannya sendiri, begitupun Luhan yang sudah mendengarnya. Sudah terlambat untuk meralatnya. Luhan sudah terluka. Wajah Luhan kelam dengan emosi-emosi yang tak terbaca. Taeyeon baru kali ini melihatnya seperti ini. Sorot matanya dingin menusuk membuat Taeyeon khawatir.

“Kau memberiku harapan kemudian kau kembali menolakku. Kau mempermainkanku, Mine. Aku kecewa padamu.”

Taeyeon menundukkan pandangannya. Merasa bersalah.

Kepalan tangan Luhan kian mengerat hingga kedua tangannya memutih sambil menahan pedih dalam hatinya. Pandangan matanya tidak berubah.

“Aku tidak akan marah padamu, Mine. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Kau sudah jelas-jelas tidak menaruh perhatian padaku dan mengabaikanku, tetapi aku malah bersikeras dan terus mendekatimu sehingga membuatmu tidak nyaman. Satu-satunya harapanku setelah mengenalmu adalah hidup bersamamu. Itulah alasannya mengapa aku sengaja berdiri berjam-jam di depan rumahmu waktu itu.”

Taeyeon menatap Luhan bingung.

“Aku berharap kau akan menyambutku dengan senyuman, tetapi kau malah ingin mengusirku.” Lanjut Luhan sambil tersenyum pahit. Tampak matanya memerah pengaruh menahan emosi.

Tidak ada kata yang keluar dari bibir Taeyeon. Gadis itu terpekur mendengar pengakuannya. Ia bisa merasakan emosi Luhan dan bagaimana kata-kata yang pria itu ucapkan meresap ke dalam hatinya. Luhan menatapnya serius. Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, Taeyeon tidak berani membalasnya.

“Hari ini aku menyadari satu hal, aku memang tidak bisa memaksakan perasaanku padamu. Mungkin benar, aku pria yang tidak beruntung karena tidak berhasil meyakinkanmu. Sepertinya aku sudah menyia-nyiakan kesempatanku. Aku tidak pantas untukmu. Pria itu yang lebih pantas.”

Mata Taeyeon mengerjap, terkejut mendengar pernyataannya. Entah bagaimana, jantungnya di dalam sana berdentam-dentam seperti akan meledak kapan saja. Perutnya terasa di bolak balik. Taeyeon menanti dengan cemas apa yang selanjutnya akan di ucapkan Luhan. Taeyeon sama sekali tidak menyukai suasana ini. Hal yang ia takutkan, akhirnya terjadi.

“Maafkan aku, Mine jika selama ini aku sudah membuatmu tertekan. Jangan khawatir, setelah kau kembali nanti aku tidak akan berada disini lagi. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.”

Tubuh Taeyeon seketika membatu. Ribuan pisau serasa menghujam jantungnya. Mukanya berubah pucat pasi. Luhan akhirnya mengucapkan kalimat yang tidak ingin di dengarnya.

*Dia akan pergi. Dia akan pergi. Dia akan pergi* Kalimat itu terus mengulang di dalam kepalanya seiring tubuhnya yang mendadak lunglai.

Luhan berusaha keras tetap tenang meskipun dalam hatinya kalut. Luhan tidak pernah ingin meninggalkan Taeyeon. Bagaimana ia bisa menjalani hidup jika gadis itu tidak bersamanya? Taeyeon adalah hidupnya, napasnya dan detak jantungnya. Luhan terlalu mencintainya tetapi ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan gadis itu bahagia dengan pilihannya sendiri.

“Kumohon, berbahagialah Mine.”

Sebelum air matanya menitik, Taeyeon membalikkan badan. Taeyeon tidak pernah menyangka bahwa akan tiba masanya Luhan meninggalkannya. Taeyeon hendak berlari dan memeluk pria itu, memohon agar tidak pergi darinya. Tetapi Taeyeon sadar itu tidak mungkin lagi karena ia sudah cukup menyakitinya. Taeyeon menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya kembali.

“Kau tidak seharusnya datang kemari, Luhan. Tidak seharusnya kau berada disini.” Usai mengatakannya, Taeyeon keluar dari kamar meninggalkan Luhan yang semakin terpuruk dalam kesedihan.

– – –

Kemanapun Jonghyun membawanya, Taeyeon tidak bisa menikmati waktunya dengan santai. Jonghyun telah beberapa kali berusaha membuatnya tertawa, namun ia tetap tidak bisa melepaskan ingatannya tentang Luhan. Bagaimana jika Luhan benar-benar tidak berada di kamarnya saat ia pulang nanti? Pertanyaan itu terus menganggunya dan seringkali membuatnya tidak fokus.

“Kau memberiku harapan kemudian kau kembali menolakku. Kau mempermainkanku, Mine. Aku kecewa padamu.”

“Taeyeon.”

“Huh?” Taeyeon mengangkat wajahnya. Jonghyun mengerutkan kening melihatnya sejak tadi hanya memandang kosong.

“Apa ada masalah? Hari ini kau kelihatan tidak fokus.”

“Aku tidak akan marah padamu, Mine. Aku hanya marah pada diriku sendiri. Kau sudah jelas-jelas tidak menaruh perhatian padaku dan mengabaikanku, tetapi aku malah bersikeras dan terus mendekatimu sehingga membuatmu tidak nyaman. Satu-satunya harapanku setelah mengenalmu adalah hidup bersamamu. Itulah alasannya mengapa aku sengaja berdiri berjam-jam di depan rumahmu waktu itu.”

“Ah, tidak ada masalah, sunbae. Mungkin hanya stress karena banyak tugas.” Sangkal Taeyeon. Pura-pura tersenyum.

“Aku berharap kau akan menyambutku dengan senyuman, tetapi kau malah ingin mengusirku.”

“Benarkah?” Jonghyun menerima jawabannya dengan mudah. “Kalau kau butuh bantuan, kau bisa mengandalkanku. Aku bersedia membantumu.”

“Terima kasih, sunbae. Aku menghargainya.” Ujar Taeyeon pelan.

“Hari ini aku menyadari satu hal, aku memang tidak bisa memaksakan perasaanku padamu. Mungkin benar, aku pria yang tidak beruntung karena tidak berhasil meyakinkanmu. Sepertinya aku sudah menyia-nyiakan kesempatanku. Aku tidak pantas untukmu. Pria itu yang lebih pantas.”

“Bagaimana kalau setelah ini, kita mampir ke apartemenku?” Tawar Jonghyun.

Taeyeon agak tersentak mendengarnya, tetapi ia memulas senyum. “Mungkin lain kali, sunbae. Aku sedang tidak enak badan.” Katanya.

Jonghyun kecewa tapi berusaha tidak menampakkannya. Pria itu balas tersenyum. “Baiklah.”

“Maafkan aku, Mine jika selama ini aku sudah membuatmu tertekan. Jangan khawatir, setelah kau kembali nanti aku tidak akan berada disini lagi. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi.”

Taeyeon tiba-tiba bangun dari kursinya membuat Jonghyun kaget.

“Maaf, sunbae. Aku harus pergi.” Taeyeon buru-buru menyambar tasnya dan berlari meninggalkan Jonghyun yang tidak sempat menahannya.

*Kau tidak boleh meninggalkanku Luhan. Tidak boleh!* Taeyeon membatin. Ia berlari sekencang mungkin sambil membawa high heel-nya. Taeyeon sudah tidak peduli pada tatapan orang-orang padanya.

Brak! Terdengar bantingan keras. Taeyeon menerobos pintu kamarnya dan berhenti pada pertengahan ruangan. Luhan yang duduk di pingir tempat tidurnya terkejut dan sontak berdiri. Mereka saling menatap.

“M-Mine.” Panggil Luhan setengah berbisik. Ia masih tidak percaya bahwa yang berdiri disana adalah Taeyeon.

Mata Taeyeon berkaca-kaca. Seketika seluruh perasaannya membuncah dalam dadanya bersamaan dengan tangisannya. Dengan segenap kekuatannya, Taeyeon berlari menubruk Luhan hingga keduanya terjatuh ke belakang dan mendarat di atas ranjang.

“Kau sudah berjanji padaku tidak akan pernah meninggalkanku tapi kenapa kau tidak menepati janjimu?” Taeyeon memukul-mukul dada Luhan di bawahnya sementara air mata terus mengalir dari pelupuk matanya. “Kau bilang kau mencintaiku tapi kau malah ingin meninggalkanku. Kau jahat, Luhan. Kau jahat. Aku membencimu.” Ujarnya sambil terisak.

Luhan melunak. Pandangannya teduh seraya membelai rambut Taeyeon dengan sayang. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Mine. Aku tidak pernah membayangkan diriku akan jauh darimu.” Bisiknya lembut.

Taeyeon menaikkan wajahnya, membiarkan Luhan mengusap air mata di pipinya. “Lalu kenapa kau membiarkanku pergi begitu saja? Apa kau tidak bisa merasakan bagaimana perasaanku padamu?”

Luhan memberikan senyuman hangat. “Aku tahu.” Ucapnya menangkup wajahnya.

Taeyeon mengerjapkan matanya. Ia hendak membuka mulut untuk bertanya lagi tetapi Luhan mendahuluinya.

“Aku hanya merasa tidak yakin apa yang kulakukan nanti tidak akan membuatmu semakin marah padaku. Aku takut kau membenciku, Mine. Saking takutnya, tidak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu pergi.”

Ucapannya meluluhkan hati Taeyeon. Seperti biasanya, Luhan selalu mengutamakan perasaannya di atas segala-galanya. “Tapi kau terluka.”

“Selama itu membuatmu bahagia, aku tidak keberatan.” Luhan secepat kilat membalik posisi mereka. Taeyeon kini berada di bawahnya. Dengan lembut tangannya mengelus pipi halus gadis itu. “Aku sangat mencintaimu, Mine. Aku tidak ingin meninggalkanmu karena kau adalah gadis yang kuinginkan berada di sisiku.”

Luhan mengakhiri kalimatnya dengan ciuman. Taeyeon tidak ragu memejamkan mata membalasnya. Kegembiraan manis segera saja mengalir ke seluruh tubuhnya. Ciuman Luhan selalu berhasil mengacaukan pikiran rasional. Selalu penuh kelembutan dan menimbulkan hasrat untuk mencicipinya lagi dan lagi. Tanpa mereka sadari, keduanya mulai larut dalam ciuman yang kemudian menjadi intens. Taeyeon yang sudah melingkarkan kedua lengannya di leher Luhan, menariknya semakin ke arahnya, sementara itu Luhan menekan pinggangnya dengan kuat bersamaan dengan munculnya hasrat yang meletup-letup. Taeyeon tidak sengaja mengeluarkan suara yang membuat Luhan semakin menggila.

Taeyeon merasa berada di awang-awang, pikirannya kosong. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan, serasa ribuan kupu-kupu beterbangan dalam perutnya. Keduanya tersenyum di sela-sela ciuman mereka, dan setelah beberapa saat membutuhkan udara, Luhan melepasnya tapi tetap memberikan kecupan-kecupan singkat. Luhan tidak pernah bosan mencium bibirnya.

“Aku mencintaimu, Luhan.”

Luhan mengerjapkan matanya, nyaris tak percaya. Ia kembali mengklaim bibir Taeyeon. Luhan sangat bahagia mendengarnya.

“L-Luhan, matamu berubah lagi.”

Luhan mendadak gugup. “I-Ini reaksi alami.”

Taeyeon mengerutkan kening. “Reaksi alami?” Tanyanya tak percaya. “Kau memang pernah mengatakannya tetapi kenapa aku tidak bisa mempercayainya? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Ia masih mengingatnya dengan jelas, entah kebetulan atau tidak, mata Luhan berubah menjadi merah setiap mereka berciuman.

Luhan menatap Taeyeon lekat-lekat. Di dalam sana kondisinya sedang kacau, dan dilihat dari ekspresi Taeyeon, gadis itu pasti bisa merasakan kalau ia sedang tidak baik-baik saja.

“Katakan padaku, Luhan.” Pinta Taeyeon.

Luhan menghela napas, menghembuskannya pelan sebelum berbicara, “Ada satu hal lagi tentangku yang harus kau ketahui, Mine.” Ia memulai. “I-Ini tentang bagaimana menjadi Mate siluman rubah sepenuhnya.”

Taeyeon agak terkejut, ia tidak pernah tahu kalau ada hal-hal khusus yang di lakukan untuk menjadi pasangan siluman rubah. Melihat ekspresi Luhan yang kelihatan gelisah membuatnya semakin penasaran.

“Bukankah aku sudah menjadi Mate-mu?” Tanyanya bingung.

“Tidak ada yang semudah itu!” Luhan menggeleng cepat.

“Lalu?”

Luhan menatapnya lagi. Kali ini dengan raut wajah serius yang entah bagaimana membuat Taeyeon gugup.

“Kau…kau harus tidur denganku.” Luhan sengaja mengecilkan suaranya, khawatir Taeyeon akan panik. Akan tetapi caranya tidak berhasil.

“M-Mwo?!” Pekik Taeyeon. Mukanya langsung merah padam. “Ti-tidur denganmu? M-Maksudnya aku…kita…”

Luhan mengangguk singkat dengan senyuman meminta maaf.

“K-Kau pasti bercanda!”

Luhan menggeleng tegas. Taeyeon melongo. Ia tidak tahu lagi dimana harus menyembunyikan wajahnya yang pastinya sudah merah seperti tomat.

“Segera setelah siluman rubah sepertiku menemukan pasangannya, mereka harus mengklaimnya sebagai miliknya sepenuhnya dengan cara tidur bersama.” Luhan menjelaskan.

“Mana ada aturan seperti itu! Tidak masuk akal!” Teriak Taeyeon.

*Aku tidak menyangka reaksinya akan seperti ini* Luhan mendesah. “Mine, tenanglah.”

“Bagaimana aku bisa ten—”

Luhan tidak punya pilihan selain membungkam bibir Taeyeon dengan bibirnya. Tadinya Taeyeon menolak dengan mendorong dadanya pelan, tetapi lambat laun, seiring dengan gerakan bibir Luhan, Taeyeon akhirnya luluh dan mengalah. Ia memang tidak berniat menolak bibir Luhan lebih lama.

“Dengarkan aku Mine, peraturan siluman rubah memang seperti itu. Kami mengklaim pasangan kami agar menjadi milik kami selamanya dengan cara seperti itu. Hanya itu satu-satunya cara supaya kami bisa menyatu dengan pasangan kami.” Tutur Luhan tenang.

Taeyeon kehabisan kata. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa selain membiarkan Luhan melihat wajahnya yang kian merona. Seluruh tubuhnya terasa panas.

“Proses penting ini lumrah terjadi pada seluruh siluman rubah. Bertemu dengan Mate kami adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Kami akan selalu ingin bersamanya dan menyentuhnya karena itu sifat alamiah yang muncul dari dalam diri kami.”

*Siluman rubah mesum!* Taeyeon mendengus kasar. “Terdengar seperti siluman rubah mesum bagiku.”

Luhan terkekeh pelan. “Seperti yang kukatakan, ini naluri alami. Kau sudah melihatnya, mataku yang tiba-tiba berubah warna. Perubahan itu termasuk salah satu bentuk dari cara kami mengekspresikan gairah kami.”

Taeyeon akhirnya mengerti mengapa waktu itu dan sekarang pun mata Luhan berubah warna. Warna merah itu bahkan masih berada disana.

“Tetapi berada di dekat Mate kami membuat kami kesulitan mengendalikan diri. Hasrat itu muncul tanpa dapat di cegah dan rasanya menyakitkan bila tidak segera terpenuhi. Saat pertama kali menciummu, aku juga hampir tidak bisa menahan perasaan itu. Itulah mengapa kau bisa melihat mataku berubah warna.” Sambung Luhan.

Taeyeon jujur sangat shock mendengarnya. *Apa artinya aku harus kehilangan keperawananku segera?!* Pekiknya dalam hati.

“Kalian para siluman rubah sangat mesum!” Taeyeon langsung membalikkan badan membelakangi Luhan sambil mengomeli pria itu dalam kepalanya.

“Apa kau marah padaku?”

“Tidak!” Sahut Taeyeon. Bagaimana ia bisa menatap Luhan dalam kondisi wajah yang merah padam? Hal-hal yang berhubungan dengan proses mate ini sangat menyebalkan. *Ini semua salahnya! Bagaimana bisa ia menjelaskan padanya semuanya dalam satu malam?!* Gerutunya. Taeyeon jadi merasa terbebani.

Ruangan mendadak sepi. Taeyeon yang sibuk dengan pikirannya, baru menyadari keheningan yang terjadi di antara mereka. Ia tidak mendengar suara Luhan tapi ia bisa merasakan Luhan masih ada di belakangnya. Entah apa yang pria itu lakukan.

*Apa dia sudah tidur?*

“Mine~ jangan membelakangiku.” Tiba-tiba terdengar suara Luhan merengek padanya.

Taeyeon merasa terganggu karena Luhan menarik-narik ujung bajunya untuk memintanya berbalik.

“Mine~” Kembali suara Luhan memelas.

*Aku menjalin hubungan dengan siluman rubah atau bayi rubah?*

“Tentu saja siluman rubah.”

Kedua mata Taeyeon membulat lebar. Seketika ia berbalik. “Yaa! Bukannya kau sudah berjanji tidak membaca pikiran—” Kalimatnya terhenti saat Luhan tiba-tiba memeluknya.

“Akhirnya kau berbalik juga.”

“Yaa! Lepaskan aku, Luhan!”

“Shireo!” Luhan semakin menempel padanya.

“Kau tidak menepati janjimu! Kau sudah membaca pikiranku!” Seru Taeyeon kesal sambil mencoba meloloskan diri.

“Diamlah atau aku akan menciummu.” Ancam Luhan. Seringaian mengukir di wajahnya yang tampan. “Asal kau tahu saja, aku tidak berniat menghentikan ciuman kita kali ini.”

Taeyeon tercengang. Sejak kapan Luhan menjadi semakin licik? Setelah mendengarkan penjelasan Luhan tadi, bagaimana mungkin Taeyeon tidak panik.

“Y-Yaa…L-Luhan, jangan b-berani…”

“Bagaimana kalau aku berani?” Tantang Luhan.

Tatapan Taeyeon berubah ngeri saat Luhan mendekatkan wajahnya. Tubuhnya kaku dan keringat muncul dari pori-porinya.

“Mine…kau adalah milikku…selamanya.”

 

End

Untuk sequel, aku gak bisa janji. ada niat sih tapi nantilah. Jujur, aku agak kecewa banyak yg siders.

© RYN

Advertisements

123 comments on “The Day I Meet Him (Part 3) / End

  1. Jujur kangen sama ff ini setelah sekian lama gak baca xD dibaca ulang pun gak bosen,suka banget sama moment lutae disini ;* ditunggu sequelnya~ fighting!!

  2. apa uda end?????
    gk rela bgd sih eonni…
    masih gantung…
    berharap ad sequel…
    plissssss…
    Dtggu krya2 slnjutnya…
    FIGHTAENG!!

  3. huaaa napa harus end…kenapa gk dilanjutin dikit lagi(otak gua kemana2,yadong kumat)butuh sequel nichhhh,ngegantung….ni kan part 3,aku kyaknya belom baca yg part 2….izin baca part 2 nanti
    Luhan polos,mesum,ngakak waktu luhan dikatain rubah mesum…agak sedih2 dikit ngebayangin luhan nunggu berjam2 di depan rumah Taeyeon
    feelnya dapet bgt saat luhan segitunya memperjuangkan cintanya ke taeyeon….
    ff nya Daebak pokoknya butuh sequel nichhhh,I love this ff…..keep writting thor yg semangat buat ff ttg LuTae

  4. wahhaha .. dikira beneran mimpi yang ngegantung ternyata beneran .. hahaha akhirnya luhan sama unnie brsatu juga.. inginnya siih luhan berubah jadi manusia unnie ryn pas squelnya bikin luhan jadi manusia ya unnie hhe mian kalo banyak permintaan tapi cum saran unnie..
    makasiih atas postnya
    ditunggu karyanya yang lain terutama fall in love with you chapter selanjutnya .. fighting unnie 😀

  5. ya ampun eonni, endingnya bgus bgt
    so sweet
    luhan bener2 tipe cowok setia
    huwaaa seneng bgt
    ditunggu sequelnya eonni 😀
    hwaiting 😀

  6. Daebak, ff ini adalah ff yg nggak pernah bosan untukku baca berulang-ulang kali thornim, aku suka banget sama ceritanya… ❤
    Jika ada squelnya aku jadi nggak sabar nunggu thornim… 😀
    Next ff ditunggu thornim… 🙂
    Fighting… 😉

  7. Omg omg omg sweeeeeeeeeeeeeettr bangeeeettt
    Padahal uda pernah baca ttp aja feelnya dpt trus ttp ngerasa kaya pertama kali bacaaaa ah asdfghjkl pokoknyaaa hihii
    Heart heart heart buat author ryn, fav banget pokoknya❤❤❤❤❤❤

  8. Aku ga sider kak😭😭
    Mohon dilanjut (kalo ada) sequel-nya 😦 sebenernya aku udah baca ff ini sih di exoshidaefanfic mehehe tp baca ulang aja abisnya seru plus karya kak ryn faforitku semua apalagi beautiful creature sama all my love is for you. Pokonya semangat kak buat sequel-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s