[FREELANCE] Your Lips (Chapter 3)


Your Lips (Chapter 3)

Author: Han Sung Young

Rating: 17+

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Family, Friendship, Fluff, Mature

Main Cast: Lu Han, Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongin

Other Cast: Find it by yourself

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Poster by: Jungleelovely @ Poster Channel

Happy reading^^

Preview: Prolog, Chapter 1, Chapter 2

Taeyeon tak tahu bagaimana caranya hingga kini tubuhnya sudah berada dalam pangkuan Chanyeol. Jujur saja, Taeyeon sedikit gugup untuk hal ini. Walaupun Chanyeol itu masih anak sekolahan, tapi Chanyeol memliki tubuh yang begitu bagus, bahkan lebih bagus dari Sehun dan Kai. Dan berada dipangkuan Chanyeol adalah sesuatu yang menyenangkan, Taeyeon merasa seperti dilindungi dalam pelukan posesif Chanyeol.

“Noona~~”

“Ada apa.?”

“Noona saja yang memulainya.”

Taeyeon sedikit bingung untuk ini. Biasanya Chanyeol yang lebih dulu memulai dengan ciuman amatirnya, tapi entah kenapa sekarang Chanyeol meminta untuk Taeyeon terlebih dahulu yang memulai.

“Kenapa harus aku dulu.?”

“Aku ingin merasakan ciuman noona yang sebenarnya, karena biasanya aku yang mencium noona, bukan noona yang menciumku.” Jelas Chanyeol.

“Bukankah sama saja.? Jujur saja Chanyeol, kau ini ada masalah apa.?” Tanya Taeyeon menuntut.

“Tak ada apapun noona.”

“Jangan berbohong padaku. Kau bertengkar lagi.? Tapi mengapa sama sekali tak ada luka ditubuhmu.?”

“Noona~~” Rengek Chanyeol dengan tidak gentle-nya.

“Jawab atau aku tak akan menemanimu.”  Ancam Taeyeon.

“Noona~ kau jahat sekali.” Chanyeol kembali merengek.

Taeyeon menghela nafas, berusaha sabar menghadapi sikap Chanyeol yang kekanakan. “Ceritakan saja, jangan merahasiakan apapun dariku.” Pinta Taeyeon sambil mengelus rambut Chanyeol.

“Appa memarahiku.” Ungkap Chanyeol dan menundukkan kepalanya.

“Tn. Park.? Kenapa.?” Tanya Taeyeon penasaran.

“Karena aku boros.”

Taeyeon kembali menghela nafas, ini pasti karena Chanyeol yang selalu datang padanya dan menghabiskan uang puluhan juta, ingatlah bahwa Chanyeol masih seorang pelajar, berbeda dengan Sehun yang sudah bekerja dan mengelola sendiri perusahaan pemberian ayahnya.

“Appamu tak salah Chan, kau masih pelajar, dan kau sudah menghabiskan uang sebanyak itu karena diriku, seharusnya yang kau lakukan adalah belajar, dan seharusnya kau juga tak perduli jika temanmu menghina dirimu pengecut atau apapun itu. Kau mengerti.?”

Chanyeol diam, pria dengan bibir penuh itu masih setia menundukkan kepalanya, secara tidak langsung meng’iya’kan apa yang dikatakan oleh Taeyeon, noona kesayangannya.

“Hey, apa kau mengeti.?” Tanya Taeyeon saat tak ada tanda bahwa Chanyeol akan menjawab.

“Aku mengerti noona. Aku mungkin bisa saja berhenti bertengkar dengan teman-temanku, tapi aku tak bisa berhenti membutuhkanmu noona, aku akan selalu membutuhkanmu.”

“Tapi kau bisa dimarahi ayahmu setiap hari Chanyeol, kau harus mulai bisa mengelola uang yang diberikan ayahmu, berapapun itu harus cukup.” Ingat Taeyeon dengan tegas.

Chanyeol menggelengkan kepalanya kemudian bersandar pada bahu Taeyeon. “Aku tak bisa noona, aku sudah terlanjur bergantung padamu, dan sepertinya aku tak bisa lepas darimu.”

“Kau pasti bisa Chan, kau hanya perlu mencobanya. Kau harus paham bagaimana susahnya appamu mencari uang, seharusnya kau tak membuang-buang uang appamu seperti ini.”

Taeyeon tak mau egois. Walaupun pendapatannya akan berkurang jika Chanyeol sudah tak menemuinya lagi, tapi Taeyeon masih memikirkan Chanyeol. Kasihan jika anak itu harus dimarahi terus oleh ayahnya. Dan lagi, Chanyeol memang seharusnya tak melakukan sesuatu yang dilakukan orang dewasa, Chanyeol masih dibawah umur.

“Cukup noona. Apapun yang kau katakan aku akan selalu membutuhkanmu. Kau sangat penting untukku. Dan kau juga harus mengutamakanku daripada Kai hyung atau Sehun hyung.” Ujar Chanyeol posesif.

“Tapi Chan-”

“Cium aku noona.” Chanyeol memotong perkataan Taeyeon.

Taeyeon akhirnya menurut. Tentu saja, Chanyeol adalah pelanggannya disini, dan Taeyeon harus menuruti apapun yang Chanyeol katakan.

Bibir keduanya kini telah menyatu sempurna. Taeyeon menekan sedikit lebih dalam agar bibir mereka semakin menempel, terlebih setelah Chanyeol menarik tengkuknya. Gadis itu memainkan bibirnya. Membuat gerakan menari diatas bibir penuh Chanyeol, melumatnya dengan begitu hati-hati. Menggoda bibir Chanyeol menggunakan lidahnya yang hangat dan basah hingga membuat Chnayeol serasa terbakar. Membuat seluruh syaraf pria itu serasa tak berfungsi sebagaimana seharusnya. Dan semua itu tidak lebih baik saat Taeyeon menjilat belahan bibirnya, membuat Chanyeol meremas pinggang Taeyeon secara reflek. Chanyeol membuka mulutnya dengan senang hati, menyambut lidah Taeyeon dengan suka cita. Dalam sekejap, Chanyeol yang kini mulai menguasai semuanya, melakukannya dengan ciuman amatir yang sedikit kasar. Menyesap lidah Taeyeon dengan kuat dan melumatnya tanpa ritme. Taeyeon bahkan hampir berteriak saat Chanyeol tanpa sengaja menggigit lidahnya. Mungkin sudah mengelurkan darah. Tapi Chanyeol tak perduli itu, pria dengan tinggi 185 cm itu masih saja menyesapi lidah basah Taeyeon. Menarik keluar lidah Taeyeon agar berpindah ke mulutunya. Dan memulai kembali perang lidah itu, namun kali ini dalam bibir Chanyeol. Saliva sudah membanjiri sudut bibir Taeyeon. Dan kini bibir Chanyeol berpindah ke sudut bibir Taeyeon. Menghisap saliva yang mengalir dengan begitu nikmat, dan secara tidak langsung sudah meninggalkan tanda merah yang samar disudut bibir Taeyeon.

Chanyeol melepaskan ciuman mereka, sudah sangat lama tautan mereka berlangsung. Dan Chanyeol merasa kasihan jika Taeyeon kehabisan nafas hanya karena berciuman dengan dirinya.

Chanyeol menatap Taeyeon yang kini tengah menatapnya dengan begitu sayu. Mungkin efek kelelahan akibat ciuman panjangnya dengan Chanyeol.

“Makasih noona.” Ujar Chanyeol dan mengecup bibir Taeyeon sekali lagi.

Taeyeon melangkah dengan begitu terburu-buru saat ini. Sungguh, dirinya sudah tertinggal kelas dosen Choi selama hampir 15 menit. Dan itu bukanlah hal baik karena dosen Choi tergolong dosen killer dikampusnya. Gadis itu melangkahkan kaki pendeknya secepat yang ia bisa. Sesekali membenarkan letak buku dipelukannya yang hampir terjatuh akibat dari langkahnya yang tidak teratur. Dalam hati Taeyeon berdo’a, semoga saja dosen Choi sedang dalam mood baik untuk hari ini. Setidaknya dengan hal itu Taeyeon tak mendapatkan hukuman yang terlalu berat. Setidaknya bukanlah tidak di ijinkan mengikuti kelasnya.

Dan Taeyeon harus mengerang saat ada seseorang yang menabraknya hingga buku-buku yang dibawanya jatuh berantakan.

“Kuharap anda memperhatikan jalan anda aghasi.” Omel Taeyeon sambil membereskan bukunya.

Orang tersebut hanya diam, tapi Taeyeon tahu bahwa orang itu masih berdiri didepannya. Dan gadis itu tahu bahwa orang yang menabraknya adalah seorang pria saat tak sengaja melirik sepatu yang dikenakan orang itu. Setelah bukunya kembali dalam pelukannya, Taeyeon hampir menjatuhkan rahangnya saat mendapati Luhan yang saat ini berada dihadapannya, orang yang beberapa detik yang lalu menabraknya.

“Su-sunbae.?” Gagap Taeyeon tak percaya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Tegas Luhan.

“Maaf sunbae, tapi aku harus segera ke kelasku, aku sudah tertinggal lebih dari 15 menit.” Tolak Taeyeon.

Gadis itu kembali melangkah, berusaha melewati tubuh Luhan dengan langkahnya yang cepat, sama seperti tadi. Tapi tak semudah itu, Luhan lebih cepat darinya. Pria itu telah lebih dulu mencekal tangannya dan membuat tubuh Taeyeon mundur beberapa langkah.

“Jangan berusaha menghindariku.” Suara Luhan terdengar mengancam.

Taeyeon akui, nyalinya seketika menciut saat mendengar suara membunuh Luhan lengkap dengan tatapan tajamnya.

“Ma-maaf sunbae, kupikir tak ada yang harus dibicarakan antara kita. Dan aku harus segera ke kelas.” Jawab Taeyeon sedikit tergagap.

“Tak perlu membohongiku, aku tahu bahwa kau ingin menemui pelangganmu. Ada yang membutuhkan bibirmu. Apa aku benar.?”

Taeyeon menggeram dalam hati. Beruntung koridor saat ini sedang sepi, hingga Taeyeon tak perlu takut jika ada yang mendengarnya. Jika saja ada yang mendengar apa yang dikatakan Luhan, Taeyeon tak yakin jika namanya akan tetap baik-baik saja.

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan sunbae, jadi biarakan aku pergi ke kelasku, aku sudah benar-benar terlambat.” Pinta Taeyeon sambil berusaha melepas cekalan tangan Luhan pada lengannya.

“Tak usah berpura-pura polos karena kau tidak. Sekarang kau harus bicara padaku.”

“Tak ada yang harus dibicarakan sunbae. Kumohon, aku harus segera ke kelasku.”

“Tak akan sebelum kita membicarakan ini. Kau seharusnya bisa mengatakan pada pelangganmu itu agar menunggu beberapa saat lagi.” Ujar Luhan.

Taeyeon sangat marah. Luhan sudah sangat keterlaluan. Gadis itu mengumpulkan tenaganya dan menghempaskan tangan Luhan dalam sekali hentak. Berhasil. Tanpa mengucapkan apapun, Taeyeon segera berlalu dari hadapan Luhan, meninggalkan pria itu yang kini tengah menggeram karena rancananya yang gagal.

“Sial.!! Seharusnya aku tak berbicara seperti itu.”

Sehun saat ini terlihat sangat serius dengan pekerjaannya, pria yang menyandang marga Oh itu harus berpikir keras bagaimana menangani masalah tanah yang membingungkannya. Sehun belum sempat mnghubungi orang tuanya untuk meminta bantuan, atau mungkin Sehun belum berani untuk itu. Dan jujur saja, Sehun sudah sangat merindukan Taeyeon sekarang. Gadis kecil itu entah mengapa selalu membuatnya hilang fokus. Sehun berusaha tak memikirkannya lagi, Sehun sadar bahwa dirinya hanya sekedar pelanggan Taeyeon, sumber uang bagi gadis itu untuk bisa membayar biaya rumah sakit ayahnya. Sehun menghela nafas, andai saja semua tak seperti ini, Sehun pasti tak akan merasa begitu terbebani. Jujur saja, Sehun itu menyukai Taeyeon, sangat menyukai Taeyeon, bahkan Sehun sudah mengatakan perasaannya pada gadis itu. Tak hanya itu, Sehun juga menjanjikan akan menanggung semua biaya berobat Tn. Kim asalkan Taeyeon menjadi kekasihnya sekaligus berhenti dari pekerjaan yang sekarang digelutinya. Namun Taeyeon menolaknya. Dengan alasan karena tak ingin merepotkan Sehun, dan lagi karena Taeyeon sudah menganggap Sehun sebagai Oppa-nya sendiri. Jadi Taeyeon dengan keras menolak perasaan Sehun padanya. Sehun seringkali merasa begitu marah jika tahu Kai atau Chanyeol sedang bersama Taeyeon. Sehun juga pernah berpikir untuk meminta Taeyeon menemaninya setiap malam, tapi Sehun tak mungkin seboros itu. Walau jauh dari kedua orang tuanya, tapi Sehun tahu bahwa mereka selalu mengawasi dirinya, lagipula Sehun tak ingin membuat Taeyeon merasa tak nyaman karena sikap posesifnya disaat mereka tak memilik hubungan apapun selain penjual dan pembeli.

Lamunan panjang Sehun harus terhenti saat pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang. Pintu terbuka sebelum Sehun mempersilahkan orang tersebut masuk. Dan disana Sehun langsung mendapati wajah lelah Kai yang begitu kusut. Anak itu pasti ada masalah lagi, pikir Sehun.

“Aku mengganggumu Tn. Oh.?” Tanya Kai sambil duduk dibangku depan meja kerja Sehun.

“Tidak terlalu, aku sedang mengistirahatkan otakku sejenak. Jadi, bisa kau ceritakan kenapa kau datang padaku dengan wajah kumal seperti itu.?” Sehun balas bertanya.

“Seharusnya kau sudah tahu apa yang terjadi padaku Oh.”

“Minah.? Dia memanfaatkanmu lagi.?”

“Menurutmu apa.? Dia bahkan dengan terang-terangan meminta dibelikan jam tangan untuk selingkuhan keparatnya itu.” Sungut Kai.

“Dan kau dengan bodohnya membelikan apa yang diinginkan.?” Tanya Sehun dengan meninggikan suaranya.

“Aku terlalu mencintainya.” Sedih Kai.

“Kau benar-benar sialan. Begitu banyak wanita di dunia ini, kenapa harus si sialan Bang Minah itu.? Apa kau buta.?” Tanya Sehun emosi.

“Cintaku padanya yang membuatku seperti ini. Sungguh, sebenarnya aku sangat ingin berpisah dengannya, aku tak sanggup, bahkan hanya membayangkan aku dan dia yang berpisah sudah mampu membuatku sesak nafas. Aku terlalu mencintainya Sehun, tapi aku juga merasakan sakit dengan apa yang dilakukan.”

“Aku benar-benar ingin memecahkan kepalamu sekarang juga. Kau mempunyai otak Kim Jongin, gunakan otakmu untuk berpikir masalah ini. Minah hanya menyakitimu, gadis sialan itu bahkan tak pernah memberikan sesuatu padamu, bahkan aku yakin bahwa dia juga sama sekali tak menyimpan cinta untukmu. Kau hanya dimanfaatkan olehnya, kau dijadikan bank berjalan oleh gadis itu. Dan kau sama sekali tak keberatan akan hal itu.” Ujar Sehun tajam.

Kai menghela nafas. “Kau salah Sehun. Dulu Minah tak seperti sekarang. Dulu Minah adalah gadis manis dengan hati yang baik, sama seperti Taeyeon. Tapi aku benar-benar tak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah menjadi seperti sekarang. Berubah disaat cintaku padanya sudah begitu membengkak, aku sungguh tak mengerti. Dan kau salah besar Sehun, aku keberatan akan hal ini, sangat keberatan. Tapi akhirnya aku berpikir, jika saja aku menolak keinginannya, bisa saja dia meninggalkaku, dan aku tak ingin itu terjadi.”

“Jangan samakan Taeyeon dengan gadis sialan itu. Mereka jauh berbeda.” Geram Sehun. “Percuma sekolahmu selama ini. Kau benar-benar bodoh. Kau bilang kau sangat mencintainya, tapi kau membiarkan orang yang sangat kau cintai itu selingkuh, didepan matamu sendiri.? Kurasa otakmu memang sudah tak beres.”

“Aku tak tahu Sehun. Kupikir, aku benar-benar membutuhkan Taeyeon saat ini.” Ujar Kai.

Deg

Ekspresi wajah Sehun mendadak kaku. Mendengar Kai  membutuhkan gadis yang disukainya membuat dirinya kehilangan kata-kata. Sehun cemburu, tentu saja. Tapi tak ada yang bisa pria itu lakukan. Tak ada seorangpun yang tahu tentang perasaannya terhadap Taeyeon selain gadis itu sendiri. Sehun benar-benar bingung.

Kai beranjak dari duduknya. Pria itu membenahi jaketnya yang begitu kusut. Berusaha tidak terlihat begitu mengenaskan.

“Aku pergi dulu Oh. Aku ingin menjemput Taeyeon ke kampusnya. Dan terima kasih sudah mendengar semua keluhanku. Kau memang sehabat terbaikku.” Kai sedikit memajukan tubuhnya untuk menepuk bahu Sehun.

Setelahnya, Kai beranjak meninggalkan ruangan itu, lengkap dengan Sehun yang masih terdiam sambil sesekali menghela nafas kasar.

Taeyeon melangkah cepat menuju ruang administrasi untuk membayar biaya rumah sakit ayahnya. Memang seharusnya 3 hari yang lalu Taeyeon membayarnya, tapi entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga dirinya lupa untuk membayarnya. Dan Taeyeon baru mengingatnya setelah mendapat panggilan dari pihak rumah sakit.

“Chogiyo, saya ingin melunasi biaya pengobatan pasien atas nama Kim Yoojung.” Ujar Taeyeon pada pihak administrasi.

“Maaf aghasi, tapi biaya rumah sakit atas nama Kim Yoojung baru saja dilunasi oleh seseorang.”

“Seseorang.? Siapa.?”

“Saya tidak tahu.”

“Aku yang membayarnya.” Sahut sebuah suara dari belakang Taeyeon.

Gadis itu sontak berbalik dan mendapati sosok… Luhan.?

Tunggu, apa Taeyeon tak salah lihat.? Atau mungkin itu benar-benar Luhan.? Tapi bagaimana bisa.?

“Su-sunbae.?”

“Ya.?” Tanya Luhan dan mengambil langkah mendekati Taeyeon.

“Ba-bagaimana bisa.?”

“Kita bicara sekarang.”  Tegas Luhan sambil mengait tangan Taeyeon dan membawanya pergi.

Pria itu baru berhenti pada sudut koridor yang begitu gelap. Entah apa maksud Luhan membawa Taeyeon kesana. Dan jujur saja, Taeyeon begitu takut sekaligus bingung saat ini. Begitu banyak pertanyaan yang berterbangan dalam kepalanya.

“S-sunbae, apa yang kau lakukan disini.? Untuk apa kau membayari biaya pengobatan ayahku.? Darimana kau tahu ayahku sedang sakit dan dirawat disini.? Juga kenapa kau melakukan ini semua.? Aku butuh menjelasanmu.” Tanya Taeyeon bertubi-tubi.

“Aku disini untuk membayar biaya pengobatan ayahmu yang sudah terlambat selama 3 hari. Aku tahu ayahmu dirawat disini karena hampir setiap hari aku selalu mengikutimu. Dan aku melakukan semua ini karena aku ingin.” Jawab Luhan cepat.

“Ta-tapi bagaimana bisa.?”

“Semua bisa terjadi hobbae.” Ujar Luhan sambil menepuk kepala Taeyeon.

“…”

“Aku harus membicarakan sesuatu padamu.” Ujar Luhan saat tak mendapat jawaban dari Taeyeon. Sementara gadis itu menatap Luhan dengan tatapna bertanya. “Aku tak suka berbasa-basi, jadi aku akan langsung saja. Aku menyukaimu, jadi kau harus menjadi kekasihku.”

Hening.

Masih hening..

Luhan menatap tajam pada mata Taeyeon yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan tak percaya. Luhan salah bicara.? Atau mungkin pria itu sudah benar-benar kurang sehat.?

“Katakan sesuatu.”

Taeyeon menundukkan kepalanya saat suara Luhan kembali terdengar. Berusaha menghindari tatapan Luhan yang mulai sekarang akan ia takuti.

“Apa yang harus kukatakan.” Ujar Taeyeon dengan suara yang tertinggal ditenggorokan.

“Katakan bahwa kau juga mencintaiku.” Pinta Luhan menuntut.

“A-apa.? Tapi aku tidak mencintaimu sunbae. Aku bahkan tak mengenalmu.”

“Aku tak perduli. Yang pasti saat ini kau adalah kekasihku.” Ujar Luhan tak terbantahkan.

“Tidak, aku tidak mau sunbae.” Ungkap Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak tahan dengan tatapan tajam dari Luhan, Taeyeon melangkah meninggalkan senoirnya yang masih terdiam ditempat dengan tatapan tajam. Gadis itu baru berhenti saat sampai dihalaman rumah sakit, dan yang membuatnya berhenti adalah lengannya yang dicengkeram oleh Luhan.

“Jangan mencoba lari dariku.” Ujar Luhan mengintimidasi. “Jelaskan!!”

“A-apa.?”

“Mengapa kau menolakku. Kau itu hanya orang rendah, dan kau sama sekali tak ber-hak menolakku. Kau harusnya bersyukur karena pangeran sepertiku menyukaimu.”

Taeyeon terdiam, ujaran Luhan benar-benar menyakitinya, Luhan sudah benar-benar keterlaluan.

Taeyeon mengambil nafas panjang, “maaf sunbae, aku memang orang rendah, tapi aku masih memiliki harga diri, jangan kau pikir aku akan diam saja kau rendahkan seperti ini. Walau aku miskin, tapi aku masih punya hati, aku juga bisa merasakan sakit saat kau menghinaku.

“Dan masalah aku tak menerimamu, kau itu rusak sunbae. Sejak kecil, aku tak pernah terpikirkan akan mempunyai kekasih yang perokok, peminum, mesum, dan maniak sex. Aku ingin memiliki kekasih, yang baik, perhatian dan taat pada aturan-aturan yang ada. Dan itu semua tak ada dalam dirimu.”

Luhan terdiam. Perasaannya benar-benar campur aduk saat ini. Menyesal, menyesal karena telah mengatakan hal yang menyakitkan pada Taeyeon. Marah, marah karena dirinya tak bisa menjadi sosok kekasih idaman Taeyeon, dirinya jauh berbanding terbalik dengan pria yang diinginkan Taeyeon.

“Maaf.” Lirih Luhan.

“Ya.?” Tanya Taeyeon saat tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Luhan.

“Aku minta maaf.” Ujar Luhan sambil mengangkat wajahnya dan menggenggam kedua tangan Taeyeon.

“Aku..”

“Taeyeon.!”

Gadis itu mengalihkan tatapannya pada sosok yang saat ini berdiri dibelakang Luhan. Kai.

“Kai.?”

“Bisa kita pergi sekarang.?”

Taeyeon mengalihkan tatapannya pada Luhan. Dan dapat gadis itu lihat bahwa Luhan tengah memberikan lirikan tajamnya pada Kai.

“Maaf sunbae, tapi aku harus pergi sekarang.” Ujar Taeyeon sambil melepas genggaman tangan Luhan.

“Tidak Taeyeon, kita belum selesai bicara.

“Tapi aku harus pergi sekarang sunbae, dan, aku akan secepatnya mengganti biaya pengobatan ayahku.” Ujar Taeyeon dan melirihkan akhir kalimatnya. Tak ingin Kai mendengar apa yang ia dan Luhan bicarakan.

“Tapi..”

“Annyeong sunbae.” Sela Taeyeon sambil menundukkan badannya dan meninggalkan Luhan dengan menggunakan motor yang dikendarai oleh Kai.

“Kau tak akan kubiarkan lepas Taeyeon.”

To be continued…

Annyeong readers^^
Gimana? Ancur.? Emang..

Disini emang aku pengen secepatnya nyatuin LuTae ya.. karena konflik mereka itu justru waktu mereka udah jadi sepasang kekasih. Jadi aku harap gak ada yang komplen gara-gara mereka udah jadian aja.

Itu aja sih, ditunggu komennya ya. Dan aku harap gak turun kayak FL kemarin, sumpah itu aku sedih banget. Dan kalo semakin turun aja, aku bakan minta di protect sama Nadia. Jadi harus komen ya..

See you^^

Advertisements

152 comments on “[FREELANCE] Your Lips (Chapter 3)

  1. aihhhh kai km dtg disaat yg kurang tepat nak…huhu
    penasaran bgt ssma next chapnya. sgera di update y thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s