Skellington [Part 6]

SKELLINGTON -Part 6- by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar with EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04 | Part 05

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

.

            “Hai, tampan.” Ujarku begitu menemukan sosok yang aku cari sedang berdiri di depan pot tanaman yang ada di lobby. Aku memeluknya erat karena aku benar-benar merindukannya. “Apa kau sudah menunggu lama?”

Aniyo.” Jawab Kai cepat lalu tersenyum. “Aku menunggu sambil berharap.”

Lagi-lagi lelucon yang sebenarnya tidak lucu dari Kai tapi aku tetap tertawa. Setelah hari yang panjang ini, aku benar-benar lega dia ada untukku. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok Kai saat aku lelah dan ingin bercerita dengan seseorang.

Dan tempat favoritku? Duduk di samping Kai yang sedang menyetir Mercedes Benz merahnya. Aku bisa menjadi diriku sendiri di sana. “Kau sudah makan malam?” tanya Kai lalu aku menggeleng. “Arasseo, ayo kita makan dulu.”

Kami memutuskan untuk makan di restoran China sederhana yang ramai dikunjungi orang. Sebenarnya tidak masalah makan di mana saja, yang penting aku bisa cerita dengan Kai secara leluasa.

“Syukurlah Baekhyun sudah bisa makan.” Ujar Kai begitu aku selesai menceritakan apa saja yang aku alami hari ini. “Suatu hari aku ingin dibuatkan pudding oreo olehmu.”

Aku tersenyum. “Yah, tapi sayangnya kau tidak suka makanan manis, kan? Maaf selama ini aku jarang membuatkanmu makanan.”

Kai mengangguk lalu meminum air mineralnya. Tiba-tiba matanya membulat seakan-akan mendapatkan suatu ide bagus. “Bagaimana kalau besok kau kunjungi aku ke tempat latihanku?”

“Tempat latihan?” tanyaku lalu Kai mengangguk.

“Aku ditawari untuk menjadi stuntman di film berjudul Run Away dan ada adegan di mana sang aktor pemeran utama harus melakukan adegan pelarian dengan motor.” Jelas Kai. “Aku menerimanya tapi aku harus menjalani latihan dulu.”

Jamkanman.” Sahutku cepat. “Apa adegan itu berbahaya?”

Kai menggeleng ringan. “Selama aku menjalani latihan dengan serius serta mengenakan helm, pelindung lutut, pelindung sikut, dan pakaian yang cukup keras… Aman.” Aku langsung bernapas lega setelah Kai menjelaskannya. “Kau benar-benar khawatir padaku?”

“Tentu saja!” seruku. “Sebenarnya selama ini aku tidak ada masalah dengan pekerjaanmu tapi jika sudah naik motor…”

Kai tertawa cukup keras hingga seisi restoran melirik ke arah kami. “Aku akan baik-baik saja. Apalagi jika kau besok datang dan membawakanku makanan. Tidak harus pudding oreo sih, tapi asalkan aku bisa memakan masakan buatanmu—“

Jinjjayo? Kau benar-benar akan baik-baik saja jika aku datang?” tanyaku serius lalu Kai mengangguk mantap. “Ya ampun, baiklah kalau begitu. Aku akan membuatkanmu pudding oreo. Aku janji.”

Kai mengulurkan jari kelingkingnya padaku lalu aku melingkarkan jari kelingkingku sambil tersenyum. Saat itu aku merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia. Saat itu aku merasa cemas pada Kai tapi tiba-tiba tenang lagi karena senyuman yang Kai berikan padaku. Saat itu aku benar-benar lupa bahwa besok aku harus mengunjungi Baekhyun.

.

.

.

.

            Kai menjemputku pagi-pagi sekali dari apartmen Solar lalu kami bersama-sama menuju tempat latihannya. Begitu memasuki tempat latihan Kai, seluruh pandangan tertuju padaku. Kai mengerti aku tdiak suka menjadi pusat perhatian jadi dia menutupi tubuhku.

“Hey, Kai!” seru seseorang dari belakang kami. Seorang laki-laki bule berkulit hitam dan berambut pirang menghampiri kami. Dan di luar dugaanku dia sangat fasih berbicara Bahasa Korea. “Pacarmu?”

“Yup.” Jawab Kai cepat. “Kau sedang latihan juga?”

Si bule laki-laki mengangguk. “Meski belum pasti, aku mungkin akan menjadi stuntman di film Fast & Furious 8.” Jelasnya lalu Kai bertepuk tangan. Kemudian si bule laki-laki mendekatiku –dan dia sangat tinggi jadi dia sedikit membungkuk—lalu berkata, “Sebenarnya sedikit kasar jika aku katakan ini, tapi jangan memecah konsentrasi pacarmu saat sedang latihan. Dia bisa saja celaka meski hanya latihan.”

“Hah?” gumamku lalu dia tertawa terbahak-bahak kemudian meninggalkan kami. Mungkin benar juga katanya karena aku tidak melihat banyak perempuan di tempat ini. “Ya ampun, aku merasa salah tempat.”

“Jangan begitu.” Sahut Kai. “Ngomong-ngomong kau bawa, kan? Pudding oreo?”

Aku mengangguk lalu menepuk tas besar yang aku bawa. Aku membuat puddingnya lebih dari satu dan pada awalnya aku ingin membagikannya pada para staf tapi sepertinya hanya akan mengganggu waktu mereka.

Kai mengajakku ke tempat pelatihnya sudah menunggunya. Di depan kami ada sebuah track yang sudah disiapkan berupa truck, papan kayu, dan beberapa matras untuk mendaratkan diri. “Annyeonghaseyo” sapa Kai lalu membungkukkan badan dan aku melakukan hal yang sama.

Sang pelatih memberikan senyum pada kami lalu menggerakkan tangannya sebagai isyarat agar Kai mendekat. Sebelum pergi ke tempat sang pelatih, Kai memberikanku sebuah kursi trailer dan menyuruhku untuk duduk.

“Dia pacar Kai? Bukan adiknya, kan?”

“Kecil banget… Mungil!”

“Kira-kira perbedaan usia mereka berapa, ya?”

Apa tidak ada hal lain yang bisa mendeskripsikanku selain berbadan pendek dan berwajah seperti anak-anak? Begini-begini aku mendapatkan penghargaan sebagai dekorator terbaik tahun ini. Bicara soal dekorator, ada pekerjaan yang belum aku selesaikan yaitu menata ulang restoran milik Minhyuk alias tunangan Krystal.

Segera aku mencari nomor telepon Krystal di ponselku lalu menghubunginya. “Annyeonghaseyo, Krystal-ssi, apa kau sibuk?”

Taeyeon-ssi! Aku sedang di rumah sekarang, tadinya aku mewarnai kuku tapi sekarang sudah selesai dan tinggal menunggu kering. Ada apa?

“Aku hanya cemas tentang pekerjaanku mendekorasi restoran milik Minhyuk. Kapan kita bisa bertemu lagi?”

Ah, Taeyeon-ssi kalau tidak salah bilang akan membuat desain restoran tahun 60-an atau 70-an, ya? Aku tak tahu kapan kita bisa bertemu lagi tapi kau bisa mengirim e-mail rancangannya padaku.

Jinjjayo? Baiklah, apa alamat e-mailmu?” aku segera mengeluarkan kertas dan pulpen untuk mencatat apa yang dikatakan Krystal. “Terima kasih banyak Krystal, aku akan segera mengirim e-mail.”

Begitu aku menutup telepon, Kai sudah memakai kostum lengkap di mana dia menggunakan helm berwarna hitam, pakaian elastis berwarna hitam yang melekat pada kulitnya lengkap dengan pelingdung dada, siku, dan lutut. Dia terlihat sangat keren.

Sang pelatih mengeluarkan megaphonenya lalu berkata, “Baiklah, Kai. Yang harus kau lakukan adalah melompat ke motormu, mengendarainya menuju papan kayu lalu kau melesat ke atas truck. Nantinya akan ada tembakan yang mengarah padamu jadi kau langsung turun dari motormu lalu melompat dari atas truck menuju matras. Siap?”

Ne!” seru Kai dan detik-detik berikutnya sangat menegangkan. Aku tidak bisa untuk tidak menutup mataku karena aku takut melihat setiap gerakan yang dilakukannya. Sampai akhirnya karena aku bosan menutup mata, aku memutuskan untuk mengirim e-mail pada Krystal.

Bicara soal menegangkan dan e-mail, setelah uji nyali saat kelas 4 SD, aku dan Baekhyun menjadi semakin akrab. Kami melewati uji nyali dengan lancar dan tidak ada sedetikpun di mana dia melepas genggaman tanganku. Dan aku benar-benar malu memikirkan betapa senangnya diriku saat e-mail pertamaku dibalas dengan cepat…

.

.

.

.

            Aku memutar tubuhku di ranjang sambil memperhatikan ponselku. Apa sebaiknya aku kirim malam ini? Ah tidak, mungkin saja dia kecapekan setelah uji nyali. Tapi aku ingin sekali mengatakan sesuatu padanya.

“Guk!” lamunanku dibuyarkan oleh Ginger, anjingku. Dia seakan-akan menyuruhku cepat tidur karena sudah hampir jam 11 malam dan besok aku ada sekolah.

Akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberanian, aku mengirim e-mail pertamaku pada Baekhyun. Isinya adalah, “Selamat malam Baekhyun, ini Taeyeon. Hari ini menyenangkan sekali, terima kasih. Maaf tadi aku pulang cepat karena papa sudah menungguku. Besok sekolah, ya? Duh jadi malas. Aku ingin cepat-cepat liburan karena cuaca yang sudah panas ini semakin membuatku malas untuk datang ke sekolah. Lagipula aku bisa meminjam catatanmu kalau aku tidak masuk, kan? Hehehe.”

Dan begitu aku meletakkan ponsel di meja dan bersiap-siap untuk tidur, balasan dari Baekhyun datang, “Tidak apa-apa. Hah? Jangan malas dong.”

Jawaban Baekhyun yang sangat singkat membuatku malu karena sudah mengirim e-mail yang sangat panjang. Akhirnya kali ini dengan santai aku membalas, “Um, Baekhyun… Apa isi e-mailmu tidak terlalu singkat? Kita kan sudah bertukar alamat e-mail jadi kita bisa bercerita apa saja dengan panjang…”

Lagi-lagi balasan Baekhyun datang dengan cepat. Isinya juga benar-benar singkat, “Kalau punya waktu untuk mengirim e-mail, sebaiknya kau tidur dan bertemu denganku besok di sekolah.” Aku yang merasa sedikit tersinggung langsung meletakkan ponsel, mematikan lampu dan tertidur lelap. Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi Baekhyun besok di sekolah.

Tanpa kusadari hingga esok paginya bahwa e-mail Baekhyun belum berakhir sampai di situ. Ada kelanjutan manis yang membuatku semangat untuk datang ke sekolah. “Lagipula jika kau tidak masuk, bangku sebelahku akan kosong dan aku bisa mati hanya karena merindukanmu.”

Esok harinya karena papa harus berangkat ke kantor lebih cepat, terpaksa aku datang 40 menit sebelum pelajaran di mulai. Yang membuatku terkejut adalah saat melintasi parkiran sepeda, aku mendapati sepeda Baekhyun sudah ada. Yang artinya Baekhyun sudah datang.

Saat aku tiba di depan kelas, aku bisa mendengar banyak suara anak laki-laki. Aku membuka pintu kelas sedikit dan melihat Baekhyun yang sedang duduk di bangkunya berbicara dengan Chanyeol dan 2 orang yang sepertinya berasal dari kelas lain.

“Kau pasti tidak bisa tidur kemarin malam!” ujar salah satu dari anak laki-laki yang tidak aku kenal.

“Bagaimana bisa tidur, dia kepikiran tentang uji nyali terus!”

“Aku juga tidak percaya saat Baekhyun mendatangiku kemudian memintaku untuk bertukar nomor undian denganku!” jelas Chanyeol dan seketika tubuhku langsung mematung, wajahku bersemu. Apa aku tidak salah dengar? “Aku tidak percaya selera Baekhyun benar-benar aneh!”

Dan saat itu aku langsung tersinggung mendengar apa yang dikatakan Chanyeol. Memang aku anak perempuan yang tidak menarik dengan wajah seperti anak berumur 6 tahun dan tubuh mungil.

“Tangannya kecil banget, tahu.” Ucap Baekhyun sambil tertawa. “Aku takut saat menggenggamnya tiba-tiba tangannya menghilang.”

“Jadi kau serius? Kau suka dengan Taeyeon?” tanya Chanyeol lagi lalu Baekhyun menggeleng. “Waeyo?”

“Aku rasa untuk sekarang aku hanya bisa melindunginya.” Ujar Baekhyun. “Dia benar-benar lemah dan tak berdaya. Saat melihatnya aku ingin membuatnya… Entahlah. Hangat?”

“Memangnya dia kucing atau manusia sih?” lalu tawa meledak dari mulut keempat anak itu. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tapi setelah itu aku berlari ke luar sekolah dan menunggu beberapa saat untuk masuk ke dalam kelas. Apa Baekhyun serius menyukaiku? Tapi kami baru kenal 3 bulan, kami jarang mengobrol. Apa jangan-jangan gadis yang dimaksud Baekhyun bukan aku?

.

.

.

.

            Di suatu sore di Bulan November, aku sedang mengerjakan tugas matematika dari Dohoon Seosangnim dengan serius. Lalu saat aku mengerjakan soal terakhir, bel berbunyi dan aku langsung berlari menuju pintu.

Suatu kesialan saat kau mempunyai tubuh pendek adalah kau tidak tahu siapa yang datang karena tidak bisa melihat melalui lubang pintu. Padahal papa selalu mengingatkanku untuk waspada karena kami tinggal di apartmen dan tidak ada yang namanya tetangga akrab di antara orang-orang apartmen ini.

Aku membukakan pintu dan betapa terkejutnya saat aku menemukan sosok Baekhyun yang berdiri di depan pintu.

“Taeyeon?” ujar Baekhyun tak kalah terkejut.

“Ba, Baekhyun?” tanyaku. “Darimana kau tahu alamat rumahku?”

“Ini rumahmu?” tanya Baekhyun balik lalu aku mengangguk. Dia mengeluarkan sepucuk surat dari balik punggungnya. “Ada surat yang salah kirim ke kotak posku. Jadi aku disuruh eomma untuk mengantarkannya langsung ke alamat yang ada di surat ini.”

Aku menerima surat tersebut dengan gugup. Surat dari kenalan papa. “Gomawo, sudah repot mengantar surat ini kemari.”

Baekhyun tersenyum lalu menggeleng. Dia menunjuk pintu tetangga kami. “Tidak masalah. Itu rumahku.”

“Hah?” tanyaku lalu aku keluar dari balik pintu dan memperhatikan marga yang terukir di pintu bernomor 1402. Dan marganya adalah Byun. Wajahku tiba-tiba memerah. “Lalu mengapa kita saling mengirim e-mail jika kita hanya berjarak beberapa langkah?”

Aku dan Baekhyun sama-sama tertawa karena kami sadar bahwa ini sangat konyol. Selanjutnya aku mengundang Baekhyun ke rumah dan dia bermain dengan Ginger. Aku bergabung dengan mereka setelah menyelesaikan soal terakhir PR matematikaku.

“Jadi saat liburan musim panas kita kirim e-mail juga… Sebenarnya kita ada di lantai yang sama, ya?” gumam Baekhyun lalu aku mengangguk dan kami tertawa lagi. “Ya ampun, aku tidak percaya tempat gadis yang aku sukai tinggal sangat dekat dari rumahku.”

“Hah?” tanyaku. Apa aku tidak salah dengar? “Apa yang barusan kau katakan?”

Baekhyun masih bermain dengan Ginger. “Saat liburan musim panas kita kirim e-mail—“

“Bukan.” Sahutku cepat. Aku tahu bahwa wajahku sangat merah sekarang. “Yang setelah itu…”

“Yang setelah itu?” dengan santai Baekhyun mengangkat Ginger. “Aku tidak percaya gadis yang aku sukai tinggal sangat dekat dari rumahku.”

Nada Baekhyun yang ringan membuatku semakin bingung. “A, apa… Maksudmu?”

Baekhyun tersenyum lalu berkata, “Menurutmu?” Baekhyun menyembunyikan tangan di balik punggungnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan serta korek api. Dia menurunkan Ginger lalu membakar sapu tangan itu. Saat aku terlanjur panik, sapu tangan itu malah berubah menjadi dua buah kertas tiket. “Kim Taeyeon, maukah kau pergi ke pertunjukan sulap bersamaku?”

Dan saat itu aku langsung menerima ajakannya dengan senang hati. Tapi entah kenapa meski kami tidak pernah membicarakannya lagi, aku dan Baekhyun sama-sama sadar bahwa pernyataan Baekhyun tentang aku sebagai gadis yang disukainya sebenarnya tidak mempunyai makna khusus.

Terkadang jika kau jatuh cinta dengan seseorang dan ingin selalu bersamanya, kau hanya perlu percaya pada hatimu untuk menuntunmu. Baekhyun tidak memberikanku kata-kata “Aku mencintaimu” atau “Maukah kau menjadi pacarku?” tapi Baekhyun menghubungkan seluruh sarafnya padaku. Baekhyun menyukaiku tanpa mengatakannya secara langsung padaku. Walau jauh di lubuk hatiku aku menantikan kata-kata itu keluar langsung dari mulutnya.

Dan dia tak pernah mengatakannya.

.

.

.

.

Aku hanya bisa tersenyum senang ketika Kai melahap pudding oreo buatanku dengan cepat. Sepertinya dia benar-benar kelelahan Karena latihan. Rambutnya menjadi berantakan, wajahnya penuh dengan keringat tapi sinar mata serta senyumannya masih tetap sama.

“Terima kasih atas makanannya!” seru Kai lalu memberikanku sendok dan garpu yang dari tadi dia gunakan. “Makan setelah kerja keras itu memang terasa banget!”

Aku tertawa mendengar Kai berbicara seperti itu. Latihan yang berlangsung selama 5 jam itu berhasil membuatku tidak ingin menaiki motor seumur hidupku. Juga berhasil membuatku tidak ingin datang kemari lagi.

“Kapan ada latihan lagi?” tanyaku.

Kai menghitung dengan jarinya. “Satu minggu lagi. Tapi aku boleh datang untuk latihan sendiri 4 hari lagi.”

Aku tersenyum dan menggeleng. “Jangan memaksakan diri.”

“Aku tahu.” Jawab Kai cepat. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Apa?”

“Tadi kau menelpon salah satu klienmu, bukan?” tanyanya sambil tersenyum. “Aku memperhatikanmu, lho.”

Aku mengangguk senang. Aku tidak percaya Kai memperhatikanku di tengah-tengah latihannya. Tiba-tiba ponselku berbunyi menunjukkan nomor Solar. Aku langsung menuju tempat sepi di mana suara mesin motor tidak akan terdengar. “Annyeong?”

EONNI DI MANA SAJA SIH!”

“Solar!” seruku. “Ada apa? Maaf aku lupa memberitahumu saat aku dijemput Kai tadi pagi…”

Jadi eonni sedang berkencan dengan Kai?

“Hah? Aku tidak berkencan, aku menemani Kai bekerja—“

Eonni bagaimana, sih? Bukankah seharusnya eonni datang mengunjungi Baekhyun? Dia menunggu eonni datang!”

“Apa?!” tiba-tiba saja seluruh jiwaku seakan-akan dijatuhkan banyak rasa bersalah. “Maafkan aku. Apa aku harus ke sana sekarang?”

Tentu saja! Cepat! Kami tidak bisa menangani Baekhyun lebih lama lagi!

“Hah? Apa maksudmu—“ dan telepon ditutup oleh Solar. Aku yang dilanda kepanikan langsung berlari menuju Kai dan berkata bahwa aku harus ke gedung Skellington. Karena Kai masih kelelahan, dia benar-benar merasa bersalah tidak bisa mengantarku sehingga aku terpaksa naik taxi tapi aku menggeleng. Karena yang paling salah adalah aku.

Aku langsung mendapatkan taxi begitu keluar dari tempat latihan Kai dan menyuruh supir untuk berkendara dengan kecepatan tinggi. Aku jarang merasa khawatir dan panik di saat yang bersamaan. Ditambah dengan rasa takut dari pikiran negatif yang terus bermunculan, aku tak tahu harus datang dengan sikap seperti apa.

Begitu tiba di lantai tempat Baekhyun dirawat, hanya Jessica yang sedang berada di depan pintu. Aku langsung bertanya, “Di mana Solar?”

“Solar… Dia ada di dalam, berusaha menenangkan Baekhyun.” Ujar Jessica dengan pandangan putus asa.

“Apa yang terjadi?” tanyaku masih berusaha mengatur napasku karena aku berlari menuju kemari setelah turun dari taxi.

“Dia menunggumu, Taeyeon. Awalnya dia mengira kau terlambat tapi setelah sesore ini kau tidak datang juga, dia mengamuk dan bersikeras ingin keluar dari tempat ini untuk mencarimu.” Jelas Jessica.

Saat itu aku langsung tahu apa yang harus kulakukan. “Bawa Solar keluar. Biarkan aku masuk.”

Seketika itu Jessica langsung membuka pintu, masuk ke dalam dan begitu keluar, dia sudah menggenggam lengan Solar. Solar tampak kelelahan. Dia seperti pegawai kantoran yang butuh cuti panjang.

“Serahkan padaku.” Aku masuk ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat. Baekhyun sedang duduk tegak sambil melipat kedua tangannya. Aku mendekat padanya dan begitu mata kami bertemu, sorot mata Baekhyun yang sebelumnya tajam menjadi sayu. “Hei. Apa yang terjadi?”

“Kau berjanji akan datang hari ini.”

Aku menggeleng cepat. “Aku hanya tersenyum dan memberikanmu resep itu. Aku tidak mengatakan apapun soal aku akan datang hari ini.”

Dia mengeluarkan diary dari balik tubuhnya. Aku berpikir, apa dia sudah membaca isinya? Sekarang apa yang dia pikirkan tentangku? Baekhyun membuka diary itu perlahan. “Aku sudah membaca seluruh isinya. Ini diary waktu aku duduk di kelas 6 SD. Waktu KITA duduk di kelas 6 SD.”

“Ya, dan itu tugas liburan musim panas.” Jawabku.

“Aku menemukan banyak namamu tertulis di sini. Entah mengapa aku tidak bisa mengingatnya tapi setelah memikirkannya, semakin aneh diriku tanpa kau di sisiku.” Jelas Baekhyun. “Sebenarnya kau siapa? Apa kau ingat siapa aku?”

Aku mengangguk. “Aku ingat siapa kau. Kita teman saat kecil.”

“Tapi sepertinya kata teman perlu diganti karena di dalam diary ini… Kau seperti orang berharga bagiku.” Kata Baekhyun lalu aku menggeleng. “Apa aku salah? Apa semua yang aku tulis di diary ini sebuah kebohongan?”

Aku menunduk. “Tidak. Kita hanya teman. Tidak lebih dari itu.”

“Kau berbohong.”

“Aku tidak berbohong.” Jawabku bohong. Semakin aku berpikir akan menjawab apa, semakin ingat diriku bahwa Baekhyun punya kesalahan besar yang tidak akan bisa dia bayar seumur hidupnya. Oh, dia bahkan tidak hidup saat ini. Dia sebuah mesin sekarang.

“Darimana saja kau?” tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan.

“Itu bukan urusanmu.” Jawabku cepat. “Itu saja? Jadi Solar menelponku kemari hanya untuk pembicaraan konyol seperti ini?”

“Solar? Jadi benar Solar itu adikmu?” tanya Baekhyun lalu membuka satu halaman di diarynya. “Berarti apa yang tertulis di diary ini benar. Kau berbohong.”

Aku berusaha menahan emosiku. Aku sudah berjanji pada Jessica untuk tidak memukul Baekhyun lagi. “Aku berbohong demi kebaikanmu. Ini hal yang baik.”

“Sama saja, kau hanya membuatku semakin buruk.” Sahut Baekhyun.

Apa seperti ini sosok Baekhyun yang mencari jati dirinya? Aku hanya membuat keadaannya memburuk. Padahal tugasku adalah menjawab semua rasa penasarannya sampai dirinya puas.

“Kau tahu, ini tidak akan berhasil. Mungkin aku harus keluar dan menemui eomma.” Sahut Baekhyun dan saat itu aku langsung tahu bahwa ini saat yang tepat untuk meledakkan emosiku.

“Tahu tidak? Kau adalah sebuah tubuh tak berdaya yang belum siap untuk melangkah keluar dari tempat ini tapi kau sudah berharap bisa berjalan tanpa bantuan siapapun. Itu artinya kau tidak menghargai kerja keras kami semua. Kau tidak menghargai apa yang sudah orang tuamu lakukan padamu.” Aku menghela napas dan berusaha menahan air mataku. “Baiklah, kalau itu maumu, pergilah keluar cari eommamu dengan begitu aku tidak perlu ke tempat ini lagi dan menemuimu. Aku bahkan sebenarnya tidak ingin berada di dekatmu sejak awal.”

Saat aku membalikkan badanku, Baekhyun menggenggam tanganku erat. “Lalu kenapa kau melakukannya?”

“Apa?”

Aku sudah tidak tahan untuk berada di ruangan ini. Aku ingin cepat-cepat keluar dan mengeluarkan semua air mata yang aku tahan sejak tadi. Tapi genggaman Baekhyun tidak mengizinkanku untuk pergi. Dan tatapannya yang sayu kembali menjadi tajam dan dengan nada yang tegas dia bertanya, “Kenapa kau melakukannya?”

Aku melepas genggaman tangannya dengan sekuat tenaga dan begitu berhasil aku meraih wajahnya yang tertutupi kulit. Aku lupa bahwa dia bukan manusia, dia hanya sebuah mesin tapi entah kenapa semua saraf di tubuhku mendorongku untuk melakukan satu hal yang seumur hidup tak pernah kupikirkan aku akan melaukannya.

Dengan pelan aku menarik wajah Baekhyun dan menciumnya. Seketika semua rasa bersalahku menghilang dan aku berharap waktu berhenti. Aku berharap semua ini hanya mimpi. Aku berharap begitu bangun aku kembali menjadi anak berumur 9 tahun yang bisa kembali mengulang saat-saat menyenangkan yang selama ini tertutupi oleh satu kejadian.

Aku sama sekali tidak merasa bersalah setelah menciumnya. Ini pertama kalinya aku mencium laki-laki selain Kai. Dan Baekhyun tetap diam di tempatnya. Saat hatiku sudah siap, aku menjawab pertanyaan Baekhyun yang sebelumnya dia tanyakan padaku. “Aku melakukannya untukmu.”

Kakiku melangkah mundur perlahan dan begitu kusadari mataku sudah kering, aku berjalan menuju pintu. Jika sebelumnya aku tidak ingin berada di ruangan ini lebih lama karena aku tidak tahan berada di dekatnya, sekarang berbeda. Aku tidak ingin berada di ruangan ini lebih lama lagi karena aku takut aku tak bisa menahan diriku untuk menciumnya lagi.

“Taeyeon?”

Tubuhku mematung setelah Baekhyun memanggil namaku lembut. Apa dia sekarang sudah rusak? Apa sekarang seluruh kenangan yang melibatkan emosinya telah kembali? Apa sekarang dia tahu siapa aku?

“Ya?”

Tapi di luar dugaanku, Baekhyun malah memberiku pertanyaan yang jelas membuatku ingin menciumnya sekali lagi. Dan aku tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Baekhyun sendiri.

“Taeyeon, apa kau menyukaiku?”

Dan tentu saja jawabannya sudah jelas.

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Setelah cerita berkembang sejauh ini, aku hanya punya satu pertanyaan untuk para pembaca: Apa kalian sudah tahu hubungan apa yang Baekhyun dan Taeyeon miliki di masa lalu?

Aku tidak sabar mengetahui jawaban dari kalian karena aku sudah memberikan clue yang cukup jelas di part ini. Mungkin sejauh ini part 06 adalah part favoritku. Adegan Kai dan Baekhyun seimbang di part ini. Mungkin yang kurang adalah kehadiran Solar di dalam cerita. Seperti biasa aku minta kritik serta saran dari kalian semua agar cerita ini berkembang menjadi lebih bagus lagi. Berikan juga komentar kalian tentang cerita ini ya, karena itu membuatku bersemangat. Terima kasih sudah membaca!

Part 7 will be published September 19th 2015

Advertisements

108 comments on “Skellington [Part 6]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s