All My Love is for U ( Chapter 7 )

almifu 

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : PG 17

Main cast :

Baekhyun EXO

Taeyeon SNSD

Other cast : silahkan temukan sendiri

Genre : Drama, Romance, Fluff, Friendship

*Pernah di publish di ExoShidae wp

Chapter 7

Taeyeon sejenak terpaku, lidahnya mendadak kelu. Dia menatap Baekhyun seolah tak percaya. “K-Kau pasti bercanda.” Ucapnya setelah berhasil menghimpun kekuatannya kembali.

Baekhyun menggeleng. Raut wajahnya masih serius sejak kalimat itu terucap dari bibirnya dan tidak ada jaminan bahwa ia akan merubahnya dalam waktu dekat.

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu. Aku menyukaimu dan aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.”

“Tetapi aku tidak mengenalmu!” Taeyeon tidak sengaja meninggikan suaranya.

Baekhyun mengerutkan kening.

“M-Maksudku bukan mengenal seperti itu. Aku tidak tahu apapun tentangmu dan kau pun tidak mengetahui apapun tentangku. Bagaimana mungkin dua orang yang belum begitu saling mengenal bisa menjalin hubungan? Kau tidak bisa langsung memutuskan kalau aku ini adalah kekasihmu.” Entah bagaimana, Taeyeon merasa sedikit kesal. Baekhyun mengatakan semuanya secara tiba-tiba dan tanpa bertanya padanya.

“Tidak masalah bagiku.”

Taeyeon tercengang. Pandangan matanya berubah heran. Baekhyun nampaknya serius dengan ucapannya.

“Aku memang tidak tahu apapun tentangmu dan kau pun demikian. Menurutku, justru ini adalah alasan yang tepat bagi kita berdua untuk menjalin sebuah hubungan.” Taeyeon membuka mulut, hendak memprotes tapi Baekhyun mendahuluinya. “Kita akan mulai belajar mengenal satu sama lain setelah hubungan kita di mulai, yakni mulai sekarang.”

Taeyeon mengerjapkan mata karena sangat terkejut. Dia kehabisan kata-kata. Tadinya dia mengira telah bermimpi tetapi melihat wajah tampan Baekhyun dan teduhnya tatapannya membuatnya tersadar. Taeyeon mendesah pelan, menarik napas dalam-dalam, semacam penenangan diri. Kemudian menghadap lurus pada Baekhyun.

“Baiklah. Aku mengerti maksudmu. Tetapi, bukankah kau seharusnya bertanya lebih dulu padaku? Seperti…umm…biasanya pria akan meminta wanita untuk menjadi kekasihnya.”

“Aku tidak akan bertanya jadi kau tidak perlu memikirkan jawabannya.” Ujar Baekhyun tenang.

“Bagaimana bisa aku menjadi kekasihmu kalau kau tidak pernah memintaku?!” Sungguh. Pembicaraan ini membuat Taeyeon sulit mengendalikan diri. Tanpa sadar dia kembali meninggikan suaranya di depan Baekhyun.

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat, wajahnya menghangat. Malu sekali rasanya. Terlebih lagi raut Baekhyun berubah datar saat menatapnya. Taeyeon bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah melewati batas? Apakah Baekhyun marah padanya? Oh tuhan. Taeyeon tidak berani menatap matanya sekarang.

“Kau cukup memikirkan aku sebagai kekasihmu, begitupun denganku, aku akan memikirkanmu sebagai kekasihku.” Baekhyun berbicara lagi. Kali ini dengan senyuman. Senyuman yang membuat hati Taeyeon bergetar hanya dengan melihatnya.

*Bagaimana kau bisa mengatakannya semudah itu?* Taeyeon tersenyum kecut. Ini hubungan pertamanya. Tentu dia harus memikirkannya matang-matang.

Suasana di antara mereka menjadi hening dan canggung. Mungkin hanya Taeyeon yang merasakannya sementara Baekhyun terlihat sangat tenang. Baekhyun menunggu Taeyeon mengatakan sesuatu. Taeyeon iseng-iseng memainkan jari tangannya sebelum tatapannya kemudian jatuh pada cincin yang tersemat di jari manisnya. Taeyeon diam sebentar. Tak lama setelahnya, dia mulai bersuara.

“Kau mengatakan semua ini karena aku menghindarimu ‘kan? Jika memang karena alasan itu, aku meminta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu. Kau tidak perlu bersikap begini.” Taeyeon hendak membuka cincin di jarinya tapi Baekhyun menggenggam tangannya untuk menghentikannya.

Terkejut, Taeyeon mengangkat wajahnya dan mendapati Baekhyun tersenyum hangat padanya.

“Aku tidak pernah menganggap masalah seserius ini sebagai permainan, Taeyeon.” Tatap Baekhyun dalam-dalam. Hati Taeyeon perlahan melunak. Baekhyun kemudian menambahkan dengan tegas, “Kau kekasihku dan aku kekasihmu, hubungan ini sudah berlaku mulai hari ini.”

Taeyeon sadar dan menggeleng cepat. “Aku bukan kekasihmu!” Tolaknya keras.

Bibir Baekhyun tertarik ke atas. “Kalau begitu, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan. Apa kau bisa menjawabnya?”

Taeyeon menimbang-nimbang. Terus terang saja, dia agak sedikit kebingungan. Tapi akhirnya mengangguk mantap. Seringaian Baekhyun semakin lebar.

“Kau punya kekasih?”

Taeyeon menelan dengan terpaksa. Dia menggeleng. Kerutan keningnya kian dalam.

“Kapan kau akan memilikinya?”

Taeyeon diam mengumpulkan pikiran. “Aku tidak tahu. Mungkin suatu hari aku akan menemukannya.” Jawabnya yakin. Ada kebanggaan tersendiri setelah mengatakan isi pikirannya. Bertemu dengan pria yang dicintainya suatu hari nanti. Hari itu pasti akan menjadi hari yang paling menyenangkan.

“Sudah jelas. Aku adalah kekasihmu. Kau tidak perlu menunggu ‘suatu hari’ untuk menemukannya karena aku yang sekarang berada di depanmu akan menjadi pria itu.”

Senyuman di wajah Taeyeon seketika menghilang. Dia tertegun dalam prosesnya. Sejak kapan Baekhyun menjadi begitu percaya diri?

Baekhyun melanjutkan dengan santai, “Kita bisa menjalin hubungan selama sebulan jika kau menginginkannya. Aku akan menganggap dan memperlakukanmu sebagai kekasihku satu-satunya, begitupun dirimu harus menganggapku dan memperlakukanku sebagai kekasihmu satu-satunya.”

“Baekhyun—”

“Kau mungkin belum memiliki perasaan terhadapku dan belum merasa nyaman bersamaku, oleh karena itu, sebagai kekasihmu, aku akan berusaha. Tetapi jika selama sebulan takdir tidak berpihak pada hubungan kita, aku akan melepaskanmu dan menghormati semua keputusanmu.” Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan suara pelan. Diam-diam tersenyum miris, kalimat terakhir yang dia ucapkan terasa seperti pukulan berat yang menyerang hatinya. Begitu menyakitkan sampai dia tidak kuasa berteriak dalam hati, berharap agar keadaan itu tidak akan pernah terjadi.

Taeyeon membungkam setelah mendengar semuanya. Kata-kata Baekhyun bernada pemaksaan. Sejujurnya, Taeyeon agak terganggu dengan pernyataan Baekhyun beberapa saat yang lalu. Taeyeon sempat berpikir Baekhyun mungkin hanya mempermainkannya karena tidak memintanya secara resmi. Taeyeon ingin seperti pengakuan cinta yang lain. Pria meminta wanita menjadi kekasihnya dan wanita akan menjawab ya bila menerimanya. Itu adalah hal yang menurutnya romantis. Baekhyun justru memutuskan tanpa peduli jawaban ya atau tidak. Yah, walaupun di akui Taeyeon membelikan cincin pasangan adalah salah satu hal yang romantis.

Taeyeon sudah jelas tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Baekhyun, namun setelah melihat ekspresinya yang tampak terluka entah karena apa dan kesungguhan yang pria itu tampakkan, Taeyeon mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

“Bukankah kau akan terluka nantinya?” Taeyeon bertanya dengan nada yang lebih lembut.

“Mungkin. Bila itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan menerimanya.” Jawab Baekhyun, tersenyum pahit.

“Jadi batasnya sebulan.” Gumam Taeyeon seraya mengangguk-angguk. Sebaris senyum tipis mengulas di bibirnya.

“Bagiku tidak terbatas dan selamanya. Tapi sesuai janjiku padamu, hubungan kita hanya 1 bulan dan setelahnya…kau bebas menentukan keputusanmu.”

Taeyeon mendapati dirinya sekali lagi mengangguk. Pandangannya lurus ke depan, pikirannya melayang. Akan seperti apa hubungan mereka nanti? Terlepas dari semua itu, Baekhyun yang akan menjadi kekasihnya dan dirinya yang menyandang status sebagai kekasih Baekhyun. Bagaimana reaksi Miyoung dan Seohyun bila mengetahui hal ini? Ah tidak, yang harus Taeyeon pikirkan sekarang adalah bagaimana seharusnya sikapnya di depan Baekhyun? Taeyeon mendadak gelisah, dia sama sekali tidak punya pengalaman. Memikirkan semua ini membuatnya panik. Taeyeon bisa merasakan wajahnya menghangat. Barangkali kedua pipinya telah memerah sekarang. Ya ampun, memalukan sekali.

Tepat saat itu, bus berhenti di depan mereka. Taeyeon sontak beranjak dari tempat duduknya.

“S-Sudah waktunya kita pergi.” Katanya sedikit gugup. Tanpa membuang waktu, Taeyeon berjalan menuju pintu bus tanpa memandang Baekhyun.

Secara tiba-tiba, Baekhyun menangkap lengannya. Taeyeon terkejut dan menoleh. Rona merah langsung menyebar di kedua pipinya karena kontak mereka.

“Aku tipe pria yang pencemburu, kuharap kau tidak melukaiku.” Baekhyun berucap.

Taeyeon agak tersentak mendengar pengakuannya. Sementara Taeyeon menduga-duga mengapa Baekhyun mendadak mengatakan semua ini padanya, Baekhyun melanjutkan ucapannya, “Aku berpikir kau harus mengetahuinya karena sekarang aku adalah kekasihmu. Kau bisa memulai mengenalku dari hal itu.”

Taeyeon tidak bisa lagi menyembunyikan senyum malu-malunya. Baekhyun tersenyum lembut melihat reaksinya. Lagi-lagi Baekhyun menemukan sisi menggemaskan dari Taeyeon tanpa gadis itu perlu berakting menggemaskan.

Supir bus mengingatkan mereka bahwa dia akan menutup pintunya. Keduanya pun segera melangkah naik. Di dalam bus mereka duduk berdampingan, Taeyeon duduk di dekat jendela sementara Baekhyun duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan yang mereka lakukan hanya diam. Taeyeon bahkan tidak berani menoleh ke samping karena Baekhyun berada tepat disana. Jujur saja, Taeyeon masih merasakan kecanggungan bila bersamanya, tapi sebagian dari dirinya yang lain merasa nyaman.

*Seharusnya dia tidak perlu mengikutiku* Taeyeon mendesah pelan.

Jantung Taeyeon nyaris melompat saat Baekhyun tiba-tiba mengenggam tangannya. Taeyeon tidak ingin melihat ke samping dan hanya menundukkan pandangannya. Perasaannya berkecamuk. Taeyeon tidak menyadari kalau Baekhyun terus memandanginya dengan senyuman di wajahnya. Yang lebih mengejutkan, setelah menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskannya, Baekhyun mengecup punggung tangan Taeyeon setelah itu menaruh sebelah tangannya yang lain di atasnya. Taeyeon menggigit bibir bawahnya agar menahannya dari senyuman lebar.

– – –

Malam itu Taeyeon tidak bisa tidur. Dia hanya berbaring di ranjangnya seraya memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang. Ingatan mengenai apa yang terjadi hari ini, tepatnya beberapa waktu lalu, membekas dalam benaknya sulit untuk disingkirkan. Perlahan kelopak matanya membuka. Taeyeon mengangkat tangannya hanya untuk memandang lekat-lekat cincin di jari manisnya. Cincinnya berkilau sangat indah saat terkena bias cahaya bulan dari jendela di atas kepalanya. Taeyeon menurunkan kembali tangannya. Taeyeon memikirkan waktu 1 bulan hubungannya dengan Baekhyun sambil bertanya-tanya pada dirinya, apakah dia sudah membuat kesalahan? Mengapa dia menyetujuinya?

Taeyeon tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya sendiri. Malah semakin membuatnya bingung. Taeyeon tidak memungkiri kalau Baekhyun adalah pria yang sangat tampan, selain itu Baekhyun memiliki senyuman yang indah. Baekhyun juga sangat perhatian padanya. Taeyeon langsung menggeleng keras, mencoba menepis semua bayangan wajah Baekhyun dari benaknya. Mengapa tiba-tiba dia memikirkan Baekhyun? Taeyeon yakin belum memiliki perasaan terhadap Baekhyun, lalu mengapa saat dia meletakkan tangan di atas dadanya, jantungnya tengah berdegup kencang di dalam sana? Taeyeon sungguh tidak mengerti. Hanya dengan membayangkan Baekhyun pipinya terasa panas. Taeyeon belum pernah sekalipun merasakan perasaan aneh seperti ini dengan orang lain. Ini sangat baru dan terasa ganjil.

Taeyeon kembali menutup mata dan bayangan Baekhyun saat menggenggam tangannya melintas dalam pikirannya. Baekhyun memiliki jari-jari tangan yang panjang dan terasa hangat. Setiap Baekhyun menggenggamnya, perasaan Taeyeon seperti akan meledak.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Taeyeon membuka mata dan melirik benda mini yang ia letakkan di atas meja kecil. Matanya perlahan-lahan membundar semakin besar kala menatap layarnya. Bagaimana bisa kebetulan?

“Ha-halo.” Jawab Taeyeon gugup.

Dari seberang, Taeyeon bisa mendengar suara lembut Baekhyun menanyakannya. “Kau belum tidur?”

Taeyeon mengangguk tapi segera sadar bahwa Baekhyun tak bisa melihatnya. “Aku tidak bisa tidur. Ka-kau sudah sampai di rumah?” Dia balas bertanya.

Taeyeon tidak tahu mengapa dia sampai segugup ini hanya karena berbicara dengan Baekhyun. Mungkin karena ini pertama kalinya menerima telpon dari ‘kekasihnya’.

Baekhyun terkekeh pelan mendengar suara Taeyeon. Baekhyun sudah bisa membayangkan betapa menggemaskannya Taeyeon saat bersemu merah. “Aku sudah sampai dan sekarang sedang berbaring. Kenapa kau tidak bisa tidur?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?”

Taeyeon tersipu. Dia tidak mungkin mengatakannya.

“Aku sedang memikirkanmu.” Ucapan Baekhyun menyentakkan Taeyeon. Baekhyun seolah berhasil menebak dan menyuarakan isi pikirannya.

Taeyeon tersenyum seperti orang bodoh. Dia sendiri tidak tahu mengapa dia melakukannya. Semacam otomatis dari hatinya. Entah mengapa, mendengar ucapannya menimbulkan perasaan senang yang sulit dia lukiskan.

“Uhm…” Taeyeon hanya mengangguk-angguk, tidak tahu harus berkata apa.

Baekhyun tersenyum simpul lalu berujar dengan lembut, “Aku ingin mendengarmu mengatakan kau juga memikirkanku.”

Taeyeon mulai panik. Dia dalam masalah besar sekarang. Bagaimana cara mengatakannya disaat jantungnya hampir meledak? Taeyeon merasa, dia tidak bisa melakukannya tanpa mempermalukan dirinya.

“I-Itu…itu…” Taeyeon tidak sadar menggigit bibir bawahnya.

Tawa kecil Baekhyun mendadak terdengar. Baekhyun sepenuhnya mengerti, dia tidak bisa terlalu menekan perasaannya pada Taeyeon. Mereka masih menjalani proses paling awal, Taeyeon masih belum terbiasa dengannya.

“Tidak apa-apa. Aku akan menganggap itu sebagai jawaban.”

Taeyeon diam-diam menghela napas lega.

Bunyi detik jam dinding terdengar nyaring seiring malam yang kian larut. Puluhan menit telah berlalu, baik Taeyeon maupun Baekhyun tidak mengutarakan sepatah kata lagi. Keduanya hanya berbaring sambil meletakkan ponsel di telinga. Kesunyian yang entah bagaimana tenang, saling mendengarkan suara napas masing-masing.

“Umm…ini sudah larut, sebaiknya kita berdua tidur atau kita akan terlambat besok.” Kata Taeyeon setelah melihat jam dinding kamarnya. “A-Aku akan menutup telponnya sekarang.”

Namun Taeyeon tidak jadi melakukannya karena mendengar perkataan Baekhyun.

“Aku akan menjemputmu.”

“Jangan!” Seru Taeyeon tertahan. “Maksudku, kau tidak perlu menjemputku, aku bisa pergi bersama Miyoung dan Seohyun.” Tolaknya halus.

“Aku kekasihmu, sudah menjadi tugasku untuk menjemputmu. Dan lagi, aku sangat ingin berangkat bersamamu layaknya pasangan kekasih yang lain.”

*Benar. Aku hampir melupakannya* Taeyeon terdiam. Tidak ada gunanya bila dia menguji seberapa keras kepalanya Baekhyun sekarang.

“Baiklah.”

Sebelum Taeyeon benar-benar menutup sambungannya, Baekhyun berucap lagi, “Terima kasih karena telah memberiku kesempatan.”

Taeyeon hanya tersenyum. “Selamat malam, Baekhyun.” Ucapnya halus.

“Selamat malam, Taeyeon.”

Sambungan akhirnya terputus. Taeyeon meletakkan ponselnya begitu saja di atas ranjang. Sejak berakhirnya perbincangan mereka, senyum belum menghilang dari wajah Taeyeon. Dia kemudian menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya yang telah memerah seperti tomat. Suara berdebar di dalam sana terdengar sangat jelas.

 

***

“Pagi unni.” Seohyun tersenyum menyapa Taeyeon yang sudah sejak tadi menunggu mereka di depan meja makan untuk sarapan.

Di belakangnya, Miyoung hanya melambaikan tangan dengan isyarat selamat pagi. Miyoung meminum susunya dan segera duduk di depan Taeyeon. Seohyun di sebelahnya.

“Pagi.” Taeyeon balas menyapa mereka dengan senyuman tipis sebelum menggigit rotinya.

Miyoung dan Seohyun saling pandang, heran, lalu serentak melihat gadis di depan mereka. Tidak biasanya Taeyeon tidak bersemangat.

“Kau baik-baik saja?” Miyoung bertanya sambil menelitinya. Ada sesuatu yang berbeda dengan Taeyeon pagi ini.

Taeyeon agak terkejut, lantas menggeleng pelan.

“Unni, apa kau sakit? Tidak perlu ke rumah sakit?” Seohyun tampak mencemaskannya.

“Aku baik-baik saja.” Taeyeon tersenyum meyakinkannya. “Lagipula, biaya rumah sakit mahal, Seo. Kita tidak akan membuang uang hanya karena masalah kecil.”

“Apa kau kurang tidur semalam? Lingkaran matamu mirip Tao.” Tunjuk Miyoung.

“Astaga! Apa terlalu kentara? Apa yang harus kulakukan? Dia pasti akan melihatnya. Bagaimana ini? Bagaimana?” Taeyeon panik sambil meraba-raba bagian matanya.

“Unni, tenanglah. Miyoung unni hanya bercanda. Lingkaran matamu baik-baik saja.” Seohyun terkikik geli.

“Benarkah?” Taeyeon masih tidak yakin sampai Seohyun mengangguk lagi. Taeyeon langsung memelototi Miyoung yang tengah menikmati rotinya dengan santai. “Dasar kau ini.” Gerutunya.

“Berarti benar kau kurang tidur. Aku hanya ingin memastikan. Itu saja.” Miyoung mengedikkan bahu. Tetapi kemudian kegiatannya berhenti, dia memandang Taeyeon serius.

“K-Kenapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Taeyeon gugup.

Miyoung tidak gagal menyadari Taeyeon sengaja mengabaikan tatapannya.

“Kau pikir aku tidak akan menyadarinya?”

“Menyadari apa?” Taeyeon pura-pura menikmati rotinya meskipun dalam hati dia merasa gelisah.

Miyoung mendengus. Seohyun yang tidak tahu apa-apa memandang keduanya dengan bingung.

“Unni ada apa? Kenapa kau berkata seperti itu pada Taeyeon unni?”

“Kau tidak berbakat berbohong, Taeyeon.” Miyoung menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatapan matanya tidak berubah.

Taeyeon sebenarnya tidak ingin menyembunyikannya. Dia hanya tidak tahu bagaimana cara memberitahu mereka tanpa membuat mereka terkejut. Tapi rasanya mustahil jika mereka tidak terkejut. Akhirnya helaan napas pelan terdengar dari mulutnya. Taeyeon mengangkat wajah menatap keduanya bergantian.

“Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahu kalian. Maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya.” Taeyeon mendadak gugup. Sulit sekali bila harus memulai membicarakannya. Miyoung dan Seohyun memiliki ekspresi serius di wajah mereka. Kini perhatian sepenuhnya kepadanya. “Kalian tahu, kita sudah berjanji untuk tidak merahasiakan apapun. Aku berpikir untuk memberitahu semuanya pada kalian tentang ini.”

“Unni, jangan buat kami semakin penasaran. Katakan saja apa yang ingin kau katakan.” Kata Seohyun tak sabar.

Miyoung tidak sengaja melihat benda berkilauan di jari manis Taeyeon. Matanya mengerjap karena terkejut. “I-Itu…” Kalimatnya menggantung.

Taeyeon mengikuti pandangan Miyoung dan tersenyum kaku. Seohyun juga melakukan hal yang sama. Gadis itu menahan napas saking terkejut dengan telapak tangan menyentuh bibir. Setengah percaya dengan apa yang dilihatnya.

Miyoung memicingkan mata ke arah Taeyeon, “Aku tidak pernah melihatmu memakai cincin sebelumnya.” Tangannya terlipat di depan dada layaknya seseorang yang sedang menginterogasi.

“Cincinnya sangat indah.” Gumam Seohyun kagum. Kedua matanya sejak tadi tidak berpaling dari cincin itu.

“Yaa!” Bentak Miyoung, “Ini bukan saatnya memuji cincin itu! Yah, cincin itu memang indah tapi setidaknya beri kami penjelasan dulu Taeyeon! Apa kau bertunangan dengan seseorang? Atau kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang kami tidak tahu?”

Taeyeon diam mengumpulkan pikiran. Dia harus mulai menjelaskan awal, tengah, akhir kepada mereka berdua.

“Siapa pria yang beruntung itu, unni?” Tanya Seohyun dengan mata binar antusias “Ayolah, katakan pada kami. Sejak kapan kalian menjalin hubungan? Kenapa unni tidak pernah memberitahukannya pada kami? Aku kecewa.” Wajahnya berubah cemberut.

“Seo, bisakah kau diam sebentar?” Miyoung berbicara ketus. “Tenanglah. Kau masih punya banyak waktu untuk bertanya padanya.”

Seohyun hanya menjulurkan lidahnya. Miyoung merotasikan bola matanya melihat tingkah kekanak-kanakannya. Taeyeon mendesah pelan, menarik napas dalam-dalam.

“Ini Baekhyun.” Akunya.

Miyoung dan Seohyun seketika melongo kaget. Keduanya mengerjap-ngerjapkan mata berulang kali, seperti tidak percaya.

“Aku tahu kalian terkejut, tapi inilah kenyataannya. Kami sekarang menjalin hubungan.” Taeyeon mengakhirinya sambil tersenyum kecut. Sekarang dia siap menerima apapun kalimat yang akan dilontarkan Miyoung dan Seohyun. Akan tetapi, kedua gadis di depannya sepertinya masih belum kembali dari alam bawah sadar. Persis seperti dugaannya.

Butuh beberapa menit lagi sampai keduanya tersadar dan berteriak secara bersama.

“APA?!”

Taeyeon terpaksa melindungi kupingnya jika tidak ingin kehilangan pendengarannya. Dia tahu mereka sangat terkejut, tapi tidakkah mereka terlalu berlebihan?

“Unni…” Seohyun bahkan kehilangan kata untuk mengekspresikannya.

“Kau dan Baekhyun? Lee Baekhyun yang itu?” Tanya Miyoung memastikan. Dia masih sulit mempercayainya.

“Aku tahu. Aku tahu. Aku tidak seharusnya menerimanya sementara kami baru saling mengenal, tap—”

“Woah, Daebak!”

Taeyeon terlonjak. “Huh?” Dia merasa sudah salah dengar.

“Unniiii! Yay!” Seohyun kian bersorak riang. “Akhirnya semua ucapanku terbukti. Aku senang! Aku ikut bahagia untukmu unni!”

Taeyeon makin melongo heran melihat Seohyun yang begitu kegirangan di depannya, tapi Taeyeon juga tidak menampik kalau mendengar kata-katanya membuat kupingnya panas. Mereka berdua pasti sudah menyadarinya, terbukti dari senyuman jahil yang diberikan Seohyun padanya.

“Kau…benar menjalin hubungan dengan Baekhyun?”

Taeyeon berpaling pada Miyoung yang bertanya padanya, lalu mengangguk pelan. Sepertinya untuk beberapa jam ke depan, Miyoung tidak akan membiarkannya lolos begitu saja tanpa menyuruhnya menjelaskan sedetail-detailnya.

“Bagaimana bisa terjadi?” Pertanyaan Miyoung membuat Seohyun kembali duduk di kursinya. Dia juga penasaran. “Aku pikir kau menyukai Kiseop, dan Kiseop, bukankah dia menyukaimu?” Tanyanya tidak mengerti.

“Kiseop menyukai orang lain.” Jawab Taeyeon setelah melirik Seohyun yang mengangguk pelan. Miyoung kaget mendengarnya. “Dia adalah sahabat terbaikku, aku tidak memiliki perasaan spesial padanya.” Taeyeon mengulas senyum.

Miyoung manggut-manggut, mulai mengerti. “Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Apa kau menyukainya?”

Taeyeon terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab dengan pelan. “Entahlah. Aku bingung.”

Kening Miyoung dan Seohyun mengernyit. “Kau bingung?” Tanya Miyoung heran.

“Aku juga tidak tahu. Setiap bersamanya, aku selalu merasakan perasaan aneh.”

“Perasaan aneh seperti apa, unni?” Seohyun kini yang bertanya.

“Begitu rumit dan sukar kujelaskan.” Taeyeon menggeleng lemah. Dia mulai menggambarkan apa yang dirasakannya terhadap Baekhyun tanpa disadarinya, “Setiap berada di dekatnya, perasaanku tidak karuan. Ketika dia menatapku sambil tersenyum lembut, suaranya, sikapnya, jantungku jadi berdebar-debar hingga kupikir akan meledak. Wajahku tiba-tiba terasa hangat setiap memikirkannya. Aku mungkin sudah gila, tapi itulah yang kurasakan. Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak menolak saat dia menggenggam tangan—”

“APA?!” Teriak Miyoung dan Seohyun bersamaan. Rahang mereka hampir jatuh.

Taeyeon mendelik kesal. “Kalian memotong kalimatku.” Katanya dengan wajah cemberut.

Miyoung dan Seohyun hanya mengabaikannya.

“Sungguh unni, Baekhyun sudah pernah menggenggam tanganmu?”

Taeyeon tersenyum malu tapi mengangguk.

“Wah, cepat sekali.”

Taeyeon langsung melotot ke arah Miyoung yang terkikik bersama Seohyun. “Hubunganku dengannya tidak seperti yang kalian bayangkan!”

“Kenapa tidak? Kalian sepasang kekasih sekarang. Pegangan tangan, berpelukan, berciuman dan sebagainya adalah hal yang wajar bagi mereka yang telah menjalin hubungan.” Komentar Miyoung sambil merotasikan bola matanya. “Lagipula hubungan intim sebelum menikah sedang tren sekarang.”

“Yaa Miyoung-sshi!” Bukan hanya Taeyeon yang pipinya merona karena mendengar Miyoung blak-blakan, Seohyun pun demikian.

“Miyoung unni, disini masih ada anak di bawah umur.” Ujar Seohyun menunjuk dirinya.

Miyoung kembali merotasikan bola matanya. “Kau sudah dewasa, jangan berakting seperti anak kecil.” Ledeknya.

“Aku bukan anak kecil!” Protes Seohyun.

“Gadis-gadis, cukup!”

Seohyun menjulurkan lidahnya pada Miyoung yang juga mendapat balasan yang sama. Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Seohyun itu, kalau sifat kekanakannya muncul, dia pasti akan seperti anak-anak. Berbeda sekali bila sifat kedewasaannya yang muncul.

“Jadi, bagaimana kau dan Baekhyun bisa menjalin hubungan?” Miyoung kembali ke topik.

Sebelum menceritakan semuanya dari awal, Taeyeon terlebih dahulu mengambil napas panjang. Miyoung dan Seohyun mendengarnya dengan serius tanpa memotong kalimatnya.

“Kalau seperti itu…kurasa kau juga menyukainya.” Miyoung yang lebih dulu menanggapinya setelah mendengarkan seluruh ceritanya.

Hanya saja, Taeyeon terkejut karena tidak mengira gadis itu bisa langsung mengambil kesimpulan. Seohyun pun setuju dengannya.

“Baekhyun sungguh-sungguh menyukaimu, unni. Dan berdasarkan apa yang kau rasakan saat bersamanya, aku yakin kau pun menyukainya.”

“Aku memang tidak membencinya, tapi mengatakan kalau aku suka padanya…” Taeyeon menggeleng, merasa tidak yakin pada dirinya. “Mungkin karena dia bersikap baik padaku selama ini sehingga aku jadi sedikit bingung.”

“Bodoh.” Miyoung menjitak kepalanya.

Taeyeon mengusap-usap bekasnya dengan tampang kesal. “Yaa! Untuk apa itu tadi?”

“Kau bilang setiap berada di dekatnya perasaanmu tidak karuan ‘kan? Kau juga merasa aneh saat bersamanya ‘kan?” Miyoung bertanya, sedikit kurang sabar. Taeyeon hanya mengangguk pelan-pelan tanpa mengerti apa-apa maksudnya. “Jantungmu berdebar-debar, wajahmu tiba-tiba terasa hangat karena dia menatapmu atau kau memikirkannya. Kau juga tidak menolak bersentuhan dengan Baekhyun.”

“Miyoung, aku tidak mengerti. Kau hanya mengulang kalimatku.”

Miyoung mendengus sebal. “Sudah jelas ‘kan?” Cemoohnya. “Kau bodoh Taeyeon. Kau tidak sadar kalau kau sebenarnya sudah memiliki perasaan suka terhadap Baekhyun sejak awal. Bersamanya hanya membuat perasaan itu bertambah kuat. Apa kau ingin menyangkalnya?”

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat. Benarkah demikian?

“Sekarang, aku ingin bertanya satu hal padamu, dan kau harus jujur menjawabnya.” Miyoung menatapnya. “Bagaimana perasaanmu saat dia menyatakan perasaannya? Atau begini saja, mengapa kau tidak menolaknya?”

“Miyoung, aku sudah cerita—”

“Itu bukan jawaban.”

Taeyeon mendesah, menyerah. “Karena dia membuatku nyaman. Entah bagaimana, rasanya menyenangkan bila bersamanya. Aku seperti menjadi orang yang berbeda. Aku tidak bisa mengendalikan diriku.”

Miyoung mengangguk paham. “Sadar atau tidak, sikap Baekhyun selalu berbeda bila bersamamu. Tatapannya dan juga caranya berbicara padamu pun sangat berbeda dengan caranya berbicara pada kami. Kau tahu sebabnya? Karena Baekhyun menyukaimu!”

“Woah unni, aku tidak menyangka kalau kau juga menyadarinya. Aku pikir kau acuh dan tidak memperhatikannya.” Seohyun menepukkan kedua tangannya, takjub terhadap pernyataan Miyoung.

“Aish! Aku tak percaya ini, bagaimana bisa kau begitu bodoh.” Kata Miyoung frustasi.

“Yaa! Aku tidak sebodoh itu!” Taeyeon memukul tangannya karena kesal.

“Positif. Stupid Taeyeon.” Miyoung mengangguk mantap.

Taeyeon sangat kesal karenanya tapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin benar apa yang dikatakan Miyoung tentangnya.

“Jadi intinya, Taeyeon unni harus membatalkan kesepakatan 1 bulan hubungan mereka? Begitu?” Seohyun yang kebingungan, memandangi keduanya bergantian.

“Tidak perlu.” Miyoung menggeleng cepat. “Taeyeon mungkin ada benarnya. 1 bulan kurasa cukup bagi mereka untuk saling mengenal. Setelah itu,” Dia mengibaskan kedua tangannya ke atas dengan bangga, “Kau bisa memutuskan untuk tetap bersamanya.” Katanya pada Taeyeon.

Seohyun mengangguk bersemangat. “Ide bagus! Aku setuju denganmu, Miyoung unni.”

Taeyeon memikirkan semua perkataan Miyoung. Saat itu, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Taeyeon segera mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia agak terkejut saat tahu Baekhyun yang menelponnya.

‘Ini dia’ Taeyeon lantas menggerakkan bibirnya pada kedua gadis yang tengah antusias memperhatikannya. Tanpa aba-aba, keduanya langsung menyerbu ke samping kiri dan kanannya.

Taeyeon berdehem sebentar sebelum mulai menjawab.

“Kau sudah siap?” Suara Baekhyun yang lembut segera terdengar setelah Taeyeon usai mengucapkan halo.

“Iya…kau sudah di depan rumahku? Oh…baiklah, aku akan kesana sekarang.”

Taeyeon menutup teleponnya dan menghela nafas lega. Dia agak berdebar-debar setelah mendengar suara Baekhyun lagi. Miyoung dan Seohyun akhirnya menjauhkan telinga mereka dari ponsel Taeyeon.

“Baekhyun menjemputmu?” Tanya Miyoung.

Taeyeon mengangguk. “Kalian tidak keberatan kalau aku berangkat lebih dulu?”

“Tentu saja tidak, unni. Pergilah, jangan sampai dia menunggumu terlalu lama.” Ujar Seohyun tersenyum.

Taeyeon mengangguk lagi dan berpamitan. Saat membuka pintu rumahnya, Baekhyun sudah berada di depan sana menunggunya. Taeyeon berjalan menghampirinya. Baekhyun menyapa dengan senyuman hangat yang tidak gagal membuat Taeyeon bersemu merah. Di depan Baekhyun, Taeyeon segera merubah sikap dan tersenyum seadanya.

Baekhyun menyodorkan sebuah sweater putih. Taeyeon menerimanya meskipun tidak mengerti maksudnya.

“Pakailah.” Ucap Baekhyun.

Taeyeon menatap benda di tangannya, mencoba memahami maksud Baekhyun memberikannya. Tidak butuh waktu yang lama, Taeyeon mulai mengikatkan kedua lengan sweater putih itu ke pinggangnya. Setelah Taeyeon hampir selesai, Baekhyun memakaikannya helm yang kemudian sukses membuat Taeyeon tersenyum malu karena wajah mereka berhadapan. Mereka tidak tahu kalau dua orang tengah memperhatikan mereka diam-diam dari balik jendela. Miyoung dan Seohyun tampak tercengang. Mereka semakin terkejut kala menyaksikan Baekhyun tiba-tiba memeluk Taeyeon.

Taeyeon seketika membeku. Dia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Mendadak jantungnya memompa melebihi batas normal. Seluruh syarafnya seakan berhenti, pikirannya menjadi kosong.

“Aku merindukanmu.” Bisikan Baekhyun mengirimkan getaran di seluruh tubuh.

Taeyeon baru pertama kali merasakan skinship seperti ini. Seperti tangan Baekhyun yang hangat, hawa tubuhnya pun memberikan kehangatan tersendiri. Taeyeon berakhir dengan membungkam seribu bahasa. Baekhyun kian menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Taeyeon tanpa mendapat penolakan darinya. Baekhyun tersenyum memejamkan mata seraya menyesap aroma tubuhnya. Lambat laun, Taeyeon pun ikut memejamkan matanya. Kedua tangannya bergerak ke atas membalas pelukan Baekhyun. Taeyeon bisa merasakan pelukan Baekhyun semakin mengerat dan…hangat. Taeyeon tidak pernah merasa sesenang ini. Rasanya spesial.

Senyum menghiasi wajah keduanya, dan beberapa saat yang panjang mereka hanya diam sambil menikmati rasa nyaman yang terjalin lewat bahasa tubuh mereka. Baekhyun tersenyum tertahan saat merasakan degup jantungnya seirama seperti halnya Taeyeon. Hanya Taeyeon yang membuatnya merasakan perasaan seperti ini, pelukannya dan kehangatannya nyaris membuatnya kehilangan akal sehat. Baekhyun mungkin terlihat tenang diluar penampilannya, tetapi yang sebenarnya terjadi dia tengah berusaha keras membuat dirinya tidak terburu-buru. Saat mereka bersama seperti ini, Baekhyun selalu kesulitan mengontrol diri. Sudah lama Baekhyun berhasrat untuk segera memeluk Taeyeon setiap kali gadis itu berada di depannya tetapi Baekhyun terus menahan diri. Sekarang harapannya telah terkabul, Baekhyun bisa memeluk Taeyeon sepuasnya.

Kedua gadis di depan jendela masih tidak memalingkan mata mereka. Keduanya tersenyum dengan rona merah yang tersamar di pipi masing-masing. Mereka tidak menyangka Baekhyun yang selalu terlihat dingin dan tidak banyak bicara di sekolah bisa berubah menjadi sangat romantis dan penuh perhatian. Caranya memperlakukan Taeyeon sangat istimewa hingga membuat keduanya iri. Jauh dalam hati, mereka juga ingin merasakan bentuk perhatian seperti itu dari seseorang. Terlepas dari semua itu, mereka ikut bahagia karena Taeyeon akhirnya menemukan orang yang sangat memperhatikannya.

“B-Baekhyun…kurasa…umm…kita harus berangkat sekarang.” Ucap Taeyeon gugup.

Terdengar desahan nafas pelan. Baekhyun masih belum ingin tetapi tidak punya pilihan lain. Baekhyun akhirnya meregangkan pelukannya sebelum memberi kecupan lembut di kening Taeyeon, lalu melepaskannya. Taeyeon kembali tersipu malu, tidak berani menatap matanya. Beberapa menit kemudian terdengar suara motor menjauh dari tempat itu.

 

***

Beberapa hari telah berlalu. Sebagian siswa di sekolah sudah mengetahui tentang hubungan Baekhyun dan Taeyeon, termasuk Chanyeol dan teman-temannya. Reaksi Tim EXO saat mengetahuinya dari Chanyeol tentu saja terkejut. Walaupun mereka sudah menduga mengenai Baekhyun yang menyukai Taeyeon, mereka hanya tidak menyangka kalau keduanya akan resmi menjalin hubungan, dan dalam waktu yang singkat. Meski begitu, semuanya berharap yang terbaik dari hubungan mereka.

Baekhyun memberitahu semuanya pada Chanyeol, tidak terkecuali hubungan percobaan yang mereka lakukan selama satu bulan. Awalnya Chanyeol tidak mengerti mengapa mereka melakukannya, tetapi setelah melihat keadaannya, Chanyeol akhirnya mendukung keputusan sahabat barunya itu. Tim EXO yang lain tidak tahu mengenai hal ini, Chanyeol juga tidak berminat untuk menceritakannya pada orang lain. Lagipula bukan urusannya, Baekhyun dan Taeyeon nuna yang sangat dihargainya patut mendapat privasi. Jadi Chanyeol tidak akan mengatakannya sampai Baekhyun atau Taeyeon yang menyuruhnya.

Sementara itu, Taeyeon sedikit demi sedikit mulai belajar mengenal Baekhyun. Taeyeon sudah mengetahui kalau Baekhyun selalu bersikap manis dan perhatian padanya. Hanya saja, Taeyeon tidak mengira bahwa perkataan Baekhyun beberapa waktu yang lalu di halte adalah sungguh-sungguh. Malah sangat serius. Baekhyun memiliki perasaan cemburu yang seringkali berlebihan. Taeyeon menyadari sikap dan tatapan Baekhyun sering berubah dingin setiap kali melihatnya bersama pria lain, meskipun itu adalah Chanyeol. Chanyeol dan lainnya juga sudah lama menyadarinya dan mereka sepertinya tidak mempunyai masalah dengan hal itu. Chanyeol dan teman-temannya cukup mengerti dengan sikap posesif Baekhyun meskipun tidak jarang kesal juga jika Baekhyun mulai memonopoli Taeyeon.

Baekhyun sudah beberapa kali mencoba mengendalikan kecemburuannya karena dia tidak ingin membuat Taeyeon tertekan dan merasa tidak nyaman, tetapi seringkali usahanya gagal. Baekhyun sendiri tidak tahu mengapa dia menjadi seperti itu, setiap melihat siapapun yang mendekati Taeyeon dan gadis itu tersenyum pada mereka kemudian tidak sengaja mengabaikan keberadaannya, dia akan merasa sangat kesal. Mungkin dia harus lebih belajar lagi bagaimana cara menekan perasaannya.

Pelajaran akhirnya usai. Taeyeon merapikan tasnya dengan tergesa-gesa. Baekhyun sudah menunggunya sejak tadi. Pesan terakhir darinya mengatakan kalau dia akan menemuinya di depan gerbang, tempat biasa pria itu memarkirkan motornya. Seperti hari-hari sebelumnya, mereka berdua selalu menyempatkan waktu untuk pulang bersama.

“Nuna, aku bisa ‘kan menemuimu lagi?” Sehun menghampiri Taeyeon ketika gadis itu baru saja keluar dari ruangan. “Ada beberapa materi yang tidak kumengerti.” Tambahnya sambil mengikutinya.

Taeyeon terkikih, geli mendengar pertanyaannya. “Boleh saja, Sehun. Kenapa kau perlu meminta izin untuk menemuiku?”

“Itu karena Baekhyun hyung selalu bersamamu sepanjang waktu. Kami tidak bisa lagi terlalu dekat denganmu.” Sehun berceloteh panjang lebar dengan mimik cemberut.

Titik merah menyebar di kedua pipi Taeyeon. Terkadang, Taeyeon merasa simpati karena apa yang dikatakan Sehun memang ada benarnya. Karena sifat Baekhyun yang pencemburu, untuk menjaga perasaannya, Taeyeon agak menjaga jarak dengan Chanyeol dan lainnya.

“Tidak apa-apa. Baekhyun pasti akan mengerti.” Taeyeon meyakinkan. “Kau bisa menemuiku di perpustakaan. Kau tahu ‘kan aku lebih senang berada disana. Kau bisa datang kapan saja. Aku akan membantumu.”

“Benarkah?!” Mata Sehun membulat lebar. Detik berikutnya, wajahnya dihiasi senyuman lebar. “Terima kasih, nuna. Kau memang yang terbaik!” Serunya riang.

Taeyeon tidak mengatakan apa-apa lagi selain tertawa. Tingkah Sehun yang kekanakan sangat menggemaskan dan menyegarkan. Mereka berdua bersenda gurau sepanjang jalan menuju gerbang. Sehun tidak berhenti membuatnya tertawa dengan memberitahunya beberapa lelucon. Baik Taeyeon maupun Sehun tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka dari jauh, dan orang tersebut tampak tidak senang.

Begitu melihat Baekhyun berdiri disana, Taeyeon langsung tersenyum. Lain halnya dengan Sehun, pria itu buru-buru bersembunyi di belakang Taeyeon. Taeyeon belum sadar bahwa suasana hati Baekhyun sekarang tidak bagus sampai dia mendekat. Taeyeon menghela napas pelan. Mendadak merasa lelah. Tidak salah lagi karena Baekhyun melihatnya bersama Sehun.

“N-Nuna,” Sehun susah payah menelan salivanya. Siapa yang tidak tertekan kalau Baekhyun terus memandangnya dingin, berharap dia segera pergi dari sini. “Sebaiknya aku pergi sekarang.” Katanya gugup.

“Kau belum pulang?” Taeyeon mencoba bersikap seperti biasa walaupun dia bisa merasakan tajamnya kecemburuan Baekhyun terhadap Sehun. “Chanyeol dan lainnya kemana?” Tanyanya lagi. Taeyeon heran melihat Sehun hendak berbalik kembali ke dalam sekolah.

“Kami masih ada jadwal latihan. Aku pergi, nuna, hyung.” Pamit Sehun, buru-buru pergi.

“Oh.” Taeyeon mengangguk pelan.

Sepeninggal Sehun, Taeyeon baru merasa tidak nyaman. Dia tahu Baekhyun belum menyingkirkan rasa cemburunya. Entah apa yang harus Taeyeon lakukan untuk membuat pria itu kembali seperti biasanya, karena menurut pengalamannya, Baekhyun yang cemburu agak menakutkan. Perlahan dan ragu-ragu, Taeyeon membalikkan badan. Sebelum dia sempat mengutarakan kalimat, Baekhyun tiba-tiba mendekapnya. Taeyeon amat sangat terkejut. Dia tidak menyangka Baekhyun akan melakukannya disini.

“Baekhyun.” Taeyeon berucap sambil mencoba menolak. Disini terlalu beresiko. Bagaimana jika seseorang melihat mereka? Dia pasti akan sangat malu.

Baekhyun tidak peduli. Baginya keberadaan Taeyeon lah yang terpenting. Baekhyun tidak butuh pandangan orang terhadap dirinya. Mungkin dia memang pria yang egois, tetapi bila ini satu-satunya cara untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa Taeyeon adalah kekasihnya dan satu-satunya gadis yang sangat di cintainya, Baekhyun tidak akan memikirkan apapun lagi. Pemandangan Taeyeon tertawa bersama Sehun tadi sudah cukup mengiris hatinya. Baekhyun tidak ingin perhatian Taeyeon teralih darinya.

Taeyeon tidak punya pilihan selain membiarkan Baekhyun melakukan keinginannya. Dia pun akhirnya membalas pelukannya yang membuat Baekhyun tersenyum karena merasa sangat senang. Baekhyun kemudian melepaskan lengannya, masih dengan senyum di wajahnya. Taeyeon ikut tersenyum. Melihat senyuman Baekhyun, hatinya juga ikut merasa senang. Ini artinya semua sudah berjalan dengan baik.

Baekhyun mengulurkan tangannya, Taeyeon tidak ragu-ragu menyambutnya. Dia percaya padanya.

“Kita pulang sekarang?”

Taeyeon mengangguk malu-malu.

 

***

“Baekhyun, berhentilah melihatku seperti itu.” Muka Taeyeon bersemu merah karena sejak tadi Baekhyun tidak mengalihkan pandangannya.

“Kenapa?” Baekhyun memberinya senyuman lembut yang membuatnya berdebar-debar lagi. “Apa aku tidak boleh memandangi kekasihku sendiri?”

Taeyeon menutupi mukanya dengan buku yang dipegangnya. Baekhyun sedang menggodanya. Jika terus seperti ini, Taeyeon yakin mukanya akan seperti kepiting rebus. Baekhyun tersenyum semakin lebar. Dia menyukai setiap kali Taeyeon bersemu merah karenanya. Semua ekspresi gadis itu selalu terekam dalam memorinya dan baginya semua itu terlalu menggemaskan.

Sejak menjalin hubungan, keduanya selalu menghabiskan waktu bersama seperti hari ini. Mereka berada di perpustakaan. Taeyeon sibuk membaca buku sekaligus mencari bahan untuk tugasnya sementara Baekhyun menemaninya. Setelah bel berbunyi, Baekhyun tidak langsung ke cafetaria bersama Chanyeol. Baekhyun mencari Taeyeon segera setelah keluar dari ruang kelasnya.

“Kenapa kau tidak ikut makan siang bersama Chanyeol dan lainnya? Kau tidak lapar?” Tanya Taeyeon.

“Tidak juga. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu.” Jawab Baekhyun santai.

Yang tidak diketahui Baekhyun, Taeyeon merasa hatinya seakan-akan jungkir balik usai mendengarnya. Mendadak diliputi antusias. Sampai saat ini Taeyeon masih belum percaya kalau Baekhyun yang memiliki kepribadian dingin bisa berubah total di depannya. Mungkin karena status mereka yang sebagai pasangan kekasih, atau karena Baekhyun tengah berusaha keras dalam hubungan mereka. Taeyeon akui, sering menghabiskan waktu berdua pelan-pelan membuatnya terbiasa dengan keberadaan Baekhyun di sisinya. Meskipun tak jarang pipinya masih bersemu merah jika Baekhyun melakukan sesuatu yang membuat jantungnya tidak terkendali.

Taeyeon menghela napas dan menutup bukunya. Baekhyun mengerutkan kening saat melihat Taeyeon beranjak dari tempat duduknya.

“Ayo.” Ajak Taeyeon sambil tersenyum padanya.

Baekhyun tampak bingung tapi beranjak dari kursinya mengikuti Taeyeon. Baekhyun tidak tahu kemana Taeyeon membawanya sampai mereka berhenti di depan cafetaria sekolah. Mata Baekhyun masih tetap memperhatikan Taeyeon, agak heran mengapa Taeyeon membawanya kemari padahal seharusnya gadis itu mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Taeyeon berjalan masuk ke dalam cafetaria di iringi pandangan iri siswa-siswi di sekitarnya. Taeyeon mencoba tidak peduli dan menoleh pada Baekhyun.

“Kau ingin makan apa? Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Taeyeon nuna!”

“Baekhyun hyung!”

Panggilan demi panggilan yang terdengar nyaring membuat keduanya sontak melihat ke belakang dan mencari-cari dimana asal suara berisik tersebut. Ketemu. Di sudut sana, Sehun dan Tao melambaikan tangan dengan gembira ke arah mereka berdua. Chanyeol dan lainnya juga berada disana.

“Bagaimana dengan tugasmu? Bukankah kau ingin mengerjakannya hingga selesai?” Tanya Baekhyun serius. Tidak peduli dengan Tim EXO disana yang menunggu mereka.

Taeyeon menggeleng pelan. “Aku bisa meminjam buku itu nanti dan mengerjakannya di rumah.” Ujarnya seraya tertunduk, “Aku tidak mungkin melanjutkan tugasku sementara membiarkanmu kelaparan karena menungguku.”

Taeyeon baru mengangkat wajahnya saat merasakan tangan Baekhyun menggenggamnya hangat. Baekhyun kembali memperlihatkan senyuman itu.

“Aku sudah katakan padamu kalau aku tidak begitu lapar. Aku ingin bersamamu selama mungkin tanpa siapapun yang mengganggu kita.” Ucap Baekhyun lembut. Dia lalu menarik tangan Taeyeon untuk mengambil makanan.

Dari jauh Tim EXO memperhatikan Baekhyun dan Taeyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala dan senyum yang ditahan.

“Mereka melakukannya lagi.” Tao yang pertama berkomentar.

“Aku merasa ingin punya kekasih sekarang.” Sehun mendesah putus asa.

“Pfft.” Tao menahan tawa, “Kau? Punya kekasih? Kau masih belum cukup umur untuk hal-hal seperti itu.”

Sehun menjulurkan lidah menanggapi komentar sinisnya. Dia kemudian teringat kejadian beberapa hari yang lalu. “Kalau dipikir-pikir, Baekhyun hyung itu orang yang sangat menakutkan.” Tubuhnya bergidik ngeri membayangkan bagaimana tatapan Baekhyun saat menatapnya waktu itu.

“Sekarang kau baru menyadarinya?” Tanya Tao dengan pandangan mengejek.

Sehun mengerutkan hidungnya. Mukanya masam. Sehun masih mengingat dengan jelas bagaimana reaksi Tao saat dia menceritakannya. Tao dan lainnya menertawainya habis-habisan. Mereka semua pernah mengalami hal yang sama, hanya karena dekat dengan Taeyeon, Baekhyun jadi cemburu dan menghujani mereka dengan tatapan yang tajam berkilat. Sehun tidak mau mengalaminya lagi. Dia merasa tidak cukup mental menghadapi aura gelap Baekhyun.

“Anehnya, Baekhyun tidak pernah menunjukkan kecemburuannya jika kita sedang bersama-sama.” Chanyeol angkat bicara.

Luhan pun mengangguk karena setuju. Begitupun Lay dan Kai yang mendadak memikirkan kata-katanya. Luhan sejenak tampak memikirkan sesuatu, lalu berkata dengan yakin, “Kecuali saat salah satu dari kita sedang bersama Taeyeon.”

“Ah benar!” Tao menepukkan kedua tangannya. “Hyung ingat waktu Lay hyung menanyakan sesuatu tentang buku kepada Taeyeon nuna? Woah, kalau saja kalian lihat bagaimana ekspresi Baekhyun hyung saat menghampiri mereka, kalian pasti tidak akan menyangka Baekhyun hyung yang selalu memandang Taeyeon nuna dengan pandangan penuh cinta memiliki kepribadian yang sedikit menakutkan.”

Lay terkekeh mendengar penuturannya. Tao terkadang terlalu berlebihan bila menjelaskan sesuatu. Tapi apa yang dikatakan Tao tidak sepenuhnya salah. Mereka agak tertekan bila Baekhyun cemburu pada mereka. Sorot matanya yang dingin tidak akan ada yang berani membalasnya.

“Aku tidak percaya mereka berdua akhirnya akan menjadi sepasang kekasih.” Kata Luhan sambil memperhatikan interaksi Baekhyun dan Taeyeon di depan sana, mengabaikan Sehun dan Tao yang sibuk memperdebatkan ini dan itu. Entah apa yang membuat kedua anak itu mendadak heboh oleh sesuatu yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya.

“Siapa yang tahu?” Lay menimpali seraya mengedikkan bahu, tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya. “Menurutku mereka pasangan yang sangat serasi.”

“Bukan itu. Seseorang seperti Baekhyun yang sudah jelas junior kita, dengan mudah menjalin hubungan dengan Taeyeon seniornya.” Luhan menggeleng, keningnya mengernyit semakin dalam. “Tidak pernah terlintas dipikiranku. Bagaimana bisa?”

*Andai saja mereka tahu yang sebenarnya* Chanyeol membatin.

“Jangan terlalu meremehkannya. Baekhyun pasti bisa menjaga Taeyeon dengan baik. Kau bisa melihatnya sendiri bagaimana Baekhyun selama ini memperlakukannya. Aku yakin mereka akan bertahan lama.”

Luhan menatap Lay, agak kesal. “Aku tidak memandang remeh anak itu ataupun hubungan mereka. Aku hanya…tidak menyangka saja. Maksudku…” Dia mencari-cari kata yang tepat untuk menjelaskannya.

“Tidak masuk akal?” Tebak Chanyeol spontan.

Wajah Luhan terangkat, lantas mengangguk cepat. “Ya!”

“Kau cemburu, hyung?” Kai menyeringai mengejek tapi langsung mendapat tamparan di kepalanya.

“Aku tidak cemburu, bodoh!” Dengus Luhan kasar.

Chanyeol di sampingnya tertawa geli. Lebih tepatnya menertawai Kai yang cemberut sambil mengusap kepalanya. “Luhan hyung ada benarnya juga. Terlepas dari semua itu, aku senang akhirnya Baekhyun memiliki sesuatu yang menarik perhatiannya. Yah, meskipun aku tidak begitu suka dengan sifat posesifnya terhadap Taeyeon nuna.”

“Aku setuju.” Celetuk Sehun yang disambut anggukan kepala oleh Tao.

“Aku tidak akan lupa bagaimana Baekhyun hyung menatap kami kemarin karena berbicara dengan Taeyeon nuna. Ugh, tatapannya bisa membuatmu mati membeku.” Kata Tao berlagak merinding.

Meja mereka seketika pecah oleh tawa. Kai hanya memutar bola matanya.

“Tentu saja dia akan bersikap seperti itu pada kekasihnya. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika dua pria terus melengket pada kekasihku.” Cemoohnya.

Tao dan Sehun serentak memelototinya. Tepat saat itu, Baekhyun dan Taeyeon mendekat dengan membawa nampan yang telah berisi makanan.

“Nuna darimana?” Tanya Chanyeol sambil mempersilahkan keduanya duduk.

“Aku di perpustakaan bersamanya.” Jawab Taeyeon seraya melirik sekilas ke arah Baekhyun yang tersenyum padanya. Taeyeon balas tersenyum. Untuk beberapa saat mereka berdua lupa akan sekitarnya hingga Kai harus berdehem membuat keduanya menoleh. Taeyeon tersipu malu.

“Aku tidak tahan melihat aura di sekitar kalian. Terlalu bersinar dan berkelap kelip penuh cinta.” Komentar Kai sinis. Sebenarnya dia tidak benar-benar sinis tentang itu. Kai hanya suka menggoda Taeyeon dan melihat gadis itu malu-malu.

“Iya hyung, nuna, kalian terlalu menampakkannya dengan jelas. Mataku silau dengan lovey dovey kalian.” Sehun ikut-ikutan yang setelahnya mendapat jitakan di kepalanya oleh Tao.

“Aish, kau ini!”

“Ya! Jangan memukul orang seenaknya!” Sehun tidak terima di perlakukan seperti tadi.

“Apa yang kau bicarakan, huh? Mereka tentu berlovey dovey karena mereka pasangan baru yang sedang di mabuk cinta.” Desis Tao.

Wajah Taeyeon sudah bersemu merah, sementara Baekhyun mengulas senyum. Luhan di depan mereka, memperhatikan lebih teliti. Mendadak timbul keinginan untuk menggoda Taeyeon.

“Taeyeon, mukamu merah.” Tunjuknya.

Taeyeon tersedak mendengarnya. Dengan sigap Baekhyun mengambil air minumnya dan memberikannya. Taeyeon langsung meneguknya sekaligus.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Baekhyun tampak khawatir.

Taeyeon hanya mengangguk pelan dan tersenyum seadanya. Semua yang ada di meja memperhatikan mereka. Takjub akan ekspresi Baekhyun. Baekhyun yang tidak pernah sekalipun menunjukkan perasaannya lewat ekspresinya, kini di depan Taeyeon dia seolah menjadi pria yang tidak berdaya. Mereka tercengang dan bertanya-tanya, seberapa besar sebenarnya kekuatan Taeyeon hingga dapat menaklukkan Baekhyun?

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu tersedak.” Sesal Luhan.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak bermaksud membuatku tersedak tapi sengaja menggodaku.” Kata Taeyeon seraya mendelik kesal.

Luhan agak tersentak, lalu menggosok-gosok tengkuknya sambil tersenyum malu.

“Usaha yang bagus, Luhan.” Ucapan Lay langsung disambut gelak tawa dari mereka.

Luhan hanya melayangkan pandangan tajam. “Setidaknya aku mengatakan yang sebenarnya.” Ujarnya membela diri. Luhan kemudian beralih pada Taeyeon dan tersenyum jahil. “Entah karena apa wajahmu itu memang selalu memerah.”

Taeyeon memahami sindirannya dan wajahnya kembali merona merah.

“Kalian lihat? Dia memerah lagi.” Tunjuk Luhan.

“YAA!” Seru Taeyeon spontan.

Baekhyun disampingnya sesaat mengerjapkan mata karena kaget sebelum kemudian terkekeh pelan melihat ekspresi Taeyeon yang kesal karena Luhan. Taeyeon langsung menundukkan wajahnya. Malu sekali. Ingin rasanya melarikan diri dari tempat ini. Bagaimana bisa mereka tega mempermalukannya di depan Baekhyun?

“Ups. Sepertinya Baekhyun menemukan sesuatu yang menarik darimu, nuna. Aku bertaruh yang tadi itu pasti membuatnya sangat terkejut.” Ejek Kai.

“Kai!” Chanyeol menggelengkan kepala. Dia tidak percaya teman-temannya bersekongkol menggoda Taeyeon.

Taeyeon masih menundukkan pandangannya ketika dia merasakan tangan Baekhyun menggenggam tangannya di bawah sana. Taeyeon menolehkan kepalanya. Baekhyun tersenyum.

“Kau tidak perlu malu padaku. Aku menyukaimu apa adanya.” Katanya seolah bisa membaca pikirannya. “Aku akan tetap menyukaimu apapun yang terjadi, bahkan jika kau suka berteriak seperti tadi.” Tambahnya dengan kedipan mata.

Taeyeon tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang terlanjur merah padam mendengar perkataan Baekhyun. Kai dan lainnya memandang mereka dengan mulut menganga kehabisan kata.

“Hyung, nuna, jangan disini please~” Sehun pura-pura menutup mata.

“Sehun, mereka tidak berciuman. Reaksimu terlalu berlebihan.” Kata Chanyeol sambil terkikih.

Mendengar kata berciuman, Taeyeon terkejut dan buru-buru memalingkan muka. Dia tidak tahu lagi bagaimana kondisi wajahnya sekarang. Dia belum siap membahas tentang itu sekarang.

– – –

“Aku tidak ingin kakek juga ikut campur dengan kehidupan pribadiku. Aku akan melakukan semua keinginanmu tetapi tidak untuk yang satu itu.”

“Dengar, Aidan.” Robert menarik nafas panjang sebelum melanjutkan, “Tuan Jung adalah rekan bisnis yang sangat loyal terhadap kita. Aku hanya memintamu untuk membantu putrinya agar bisa menyesuaikan diri selama dia berada disana.”

Baekhyun mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat sementara ponsel masih menempel di telinganya. Baekhyun sudah memperkirakan, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Kakeknya sudah merencanakan semuanya matang-matang tanpa sepengetahuannya.

“Apakah kakek harus bertindak sejauh ini?”

“Aidan, ini demi kebaikanmu. Putri Tuan Jung—”

“Jangan memaksaku.” Baekhyun menggertakkan giginya.

Robert terdiam. Dia sadar kapan harus berhenti bila cucunya sudah berbicara dengan nada seperti itu.

“Aku tahu apa yang ada dalam pikiran kakek dan Tuan Jung. Mendekatkan kami dengan cara menyuruh gadis itu bersekolah di sekolah yang sama denganku, tidak akan mempengaruhiku.” Ujar Baekhyun dingin.

Terdengar desahan pelan. “Aku tidak akan memintamu untuk secepatnya menikahi gadis itu. Kau hanya perlu bersamanya untuk sementara agar dia bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya yang baru. Siapa yang tahu, seiring waktu kalian akan belajar saling mengenal dan akhirnya menjadi dekat. Dia gadis yang cantik dan dari keluarga yang baik. Aku yakin kalian akan co—”

“Itu bukan urusanku.” Potong Baekhyun tajam. Dia langsung membuang ponselnya ke sembarang arah. Yang berakhir jatuh ke tempat tidur.

Sistem perjodohan. Baekhyun tersenyum pahit. Dia tidak pernah membayangkan calon istrinya kelak adalah seseorang yang dipilih untuknya. Dia tidak menginginkannya. Calon istrinya haruslah seseorang yang dia pilih sendiri berdasarkan kata hatinya.

Baekhyun membaringkan tubuhnya di ranjang. Kedua lengannya tersilang menopang kepalanya. Baekhyun menutup mata sembari mencoba mencari ketenangan. Tiba-tiba wajah Taeyeon melintas di dalam kepalanya. Gadis yang selama ini telah mengisi relung hatinya dan terpatri disana. Ingatan tentang pembicaraan dengan kakeknya lenyap seketika bersamaan dengan munculnya bayangan wajah Taeyeon. Baekhyun membuka mata dan meraih ponselnya. Baekhyun menekan tombol 1 sebagai panggilan tercepat untuk nomor Taeyeon. Segera setelah itu, terdengar suara lembut gadis itu menjawab telponnya. Baekhyun tersenyum. Suasana hatinya kembali normal. Baekhyun sendiri kadang kagum dengan betapa mudahnya Taeyeon menenangkannya hanya dengan mendengarkan suaranya atau membayangkan wajahnya. Taeyeon mungkin tidak tahu bagaimana gadis itu sudah mengacaukannya dengan cara yang membuatnya tidak bisa melupakannya.

Mereka pun sibuk berbincang-bincang dan membicarakan banyak hal hingga menjelang tidur.

 

To be continued…

Untuk FF Beautiful Creature chap 8, passnya sama seperti chap sebelumnya.

© RYN

Advertisements

78 comments on “All My Love is for U ( Chapter 7 )

  1. Ya ampun gak kbayabg kalo aq yg jdi tae eonni /abaikan

    Itu jung family pke dtg2 sgala lagi pdhl tae ma baek bru pcaran ato lbih tpt.y percobaan

    Next.y cpt ya thor ma fall in love with you.y jga

    Hehehe
    Fighting

  2. yey,,, akhir nya, baekhyun ngajakin taeng eonnie pacaran. baekhyun romantis banget ama taeyeon. trus sikap nya yang pencemburu itu, benar2 deh, padahalkan taeyeon dekat nya ama rombongan chanyeol juga. ckckck.

    penasaran ama perempuan yg akan dijodohkan ama baekhyun, bermarga jung. jung sooyeon??? jung soojung??? atau para wanita jung yang lain??? entalah…

    siapa pun perempuan itu, asalkan tdk jahat ama taeyeon fine-fine aja.
    next chapter jangan lama2 ya thor.

    oh ya gimana caranya klu mw mnta pw sama author???

  3. omg. aku ga inget tentang bagian baekhyun yang dijodohin T.T terus taeyeon gimana dongg? 😦

    lanjut.. 😥 aku ga sabar, ingetan aku memang ga bagus :’v
    kalau bisa secepatnya, hehe

  4. Akhirnya taeng nerima baek juga ya, wlaupun belum sepenuhnya sih. Adegan BaekYeon sweetttt banget. Knpa harus ada penghalang sih. Jgn smpe karna putri tuan jung BaekYeon hubungannya renggang! Next chap ditunggu

  5. Yeeeeee akhirnya bersma,suka ma baek yg posesif ma taeyeon trus jadbpria yg tak berdaya hahaha jad iri😢,,,trus bakal ada badai donk,baek bakal dijodohin gimana ni,,,,,oke thor beautiful creaturenya ditunggu ya lanjut

  6. Dabak thor!! ^^
    Baekhyunnya romantis bnget!? :’g
    Luhan?? Cemburu?? :v
    Next[[ Dtnggu chap dlanjutnya… Fighting!! ^^

  7. Baekhyun so sweet banget XD
    Suka banget ini full baekyeon moment XD
    Tapi apa ada perjodohan? Padahal mereka baru aja pacaran
    Next chap ditunggu ^^
    Fighting!

  8. cieeeee yg uda jadian 😀
    ksian amat si bebek di jdohin. penasaran ame jodoh nya. tp unni ku lbih ksian lg. sbr ya unni 😦

    next di tunggu hhe

  9. Senyum2 sendiri pas baca part ini..
    Wlopun Baek posesif bgt tp so sweet..
    Kasian tim EXO jd gabisa deket2 Taeng lg.. hhaha
    Pengganggu mulai dtg nii..
    Oiya, aku jg suka momen taetiseo bareng2, klo bisa wlopun Taeng udh jadian sama Baek, momen mereka bertiga ga berkurang.. 😆😆😆
    Seobaby gemes, Miyoung eonnie terlaku dewasa hhahaha
    Oke deh.. lanjut terus yaa author Ryn.. semangatt.. please update soon jg 🙂

  10. Baekhyun sweet banget sih jadi pengen *paansih. sebel banget aku sama kakeknya. semoga gk trjdi apa² sama hubungan mereka. keep writing!

  11. baek itu posesif bangeeeeet nget nget nget ya ampyuuuun
    sampai exo yang lain takut hahaahha
    putri tuan jung? jangan jangan jessica nih yang muncul
    ditunggu aja deh next nyaa 🙂

  12. baek bener2 pecemburu tingkat dewa masa ama teman sendiri jg d cemburuin
    baek mau d jododohkan, bagaimana nanti hubungan baek ama taeng ya

  13. daebbak bnget thor, feel nya dapet bngett..
    disini baekhyunnya sweet bngett.. keren thor chap 8 jangan lama” ya.. mian baru bisa comment sekarang thor..
    fighting!! 🙂

  14. daebbak bnget thor, feel nya dapet bngett,
    disini baekhyunnya sweet bngett, keren thor chap 8 jangan lama” ya, mian baru bisa comment sekarang thor,
    fighting 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s