Skellington [Part 5]

SKELLINGTON -Part 4- by Scarlettkid

skellington-

 Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar – EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03 | Part 04

Poster by Gitahwa @ Home Design

Desclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

            Aku berlari menuju lift dan menekan tombol buka dan angka 3. Aku bisa merasakan ruangan kecil ini menurun ke dasar bumi. Pintu lift terbuka dan banyak orang berlalu lalang. Aku tidak perlu bertanya pada siapapun karena sudah ada penunjuk jalan di setiap koridor. Dan betapa senangnya aku saat menemukan tempat yang aku cari. Dapur.

“Permisi!” seruku lalu membuka pintu. Tidak ada orang. Aku memperhatikan jam tanganku. Jam makan siang sudah lewat jadi wajar saja tidak ada siapapun yang sedang memasak. “Aku… Pinjam semua alat-alat kalian!”

Segera setelah aku membaca resep yang ada di tanganku, aku mengambil celemek dan alat serta bahan yang aku butuhkan. Aku tidak percaya aku memasak lagi karena selama ini aku selalu makan di café milik Solar. Jika keadaan terpaksa, aku akan membeli masakan instan dan memanaskannya di oven saat tiba di rumah. Atau menelpon delivery.

Mengapa aku bisa lupa bahwa dulu aku pernah membuatkan Baekhyun pudding oreo? Aku benar-benar bodoh. Padahal aku sering membuatkannya setelah dia tertidur di apartmenku. Dia tak pernah bisa membuatnya sendiri tapi dia masih menyimpan resepnya. Bahkan resep yang dia berikan padaku sudah terlipat berkali-kali. Dan itu artinya dia pernah mencoba membuat pudding oreo dengan resepku. Ya ampun, Byun Baekhyun.

Membuat pudding oreo membuatku teringat akan masa kecilku. Saat itu usiaku baru 9 tahun dan aku menjadi murid pindahan di sekolah Baekhyun karena papa memasukkanku ke sekolah swasta begitu bercerai dengan mama…

.

.

.

            Aku menatap satu per satu wajah yang ada di depanku. Saat itu aku benar-benar ingin menangis karena aku paling tidak suka menjadi pusat perhatian. Dohoon Seosangnim, wali kelasku, membawaku ke kelas baru dan menyuruhku untuk memperkenalkan diri. Dan aku benar-benar tidak bisa. Aku benar-benar takut.

Sudah 5 menit berlalu setelah aku masuk ke dalam kelas dan bersembunyi di punggung Dohoon Seosangnim. “Ayo, perkenalkan dirimu ke teman-teman barumu.” Ujar Dohoon Seosangnim sambil menepuk pundakku. Ya Tuhan, aku ingin pulang. Aku benci hal seperti ini. Tapi… bukankah ini pertama kalinya aku masuk kelas? Kalau aku menyebutkan namaku saja, tidak apa-apa bukan?

Aku ‘memunculkan diri’ dari balik punggung Dohoon Seosangnim lalu dengan gugup aku berkata, “Kim Taeyeon… ibnida.” Ujarku lalu seketika anak-anak di kelasku langsung berteriak.

“Kecilnyaaa!” seru salah satu dari anak kelas baruku.

“Imut banget! Beneran kelas 4? Bukan anak kelas 1?” seru yang lain lagi dan aku sedikit tersinggung. Aku langsung memperhatikan pantulan diriku di jendela kelas. Pendek. Wajah kekanak-kanakan. Apa aku terlihat seperti anak berumur 6 tahun?

Ya! Jaga sopan santun kalian!” seru Dohoon Seosangnim. Beliau memperhatikanku lalu menggeleng seakan-akan tahu bahwa aku tidak akan bisa bicara lagi setelah diperlakukan seperti itu. “Taeyeon adalah murid pindahan dari Seoul International Global School.”

“Wow, dia pindahan dari sekolah internasional terkenal itu?”

“Kenapa kamu pindah ke SMPS?”

Berbagai pertanyaan memasuki telingaku. Mungkin kalian belum tahu, SMPS adalah singkatan dari nama sekolah baruku. Seoul Memorial Private School. Dan aku pindah dari sekolah internasional karena letaknya dekat dengan rumah lamaku. Papa memindahkanku ke sini karena sekolah ini dekat dengan kantornya.

“Sudah, sudah!” seru Dohoon Seonsangnim. “Siapa yang akan duduk bersama Taeyeon? Yang membawa buku lengkap karena Taeyeon belum mendapat buku pelajaran lengkap!”

Tiba-tiba salah satu anak laki-laki mengangkat tangannya. “Taeyeon duduk saja sama Baekhyun! Mereka kan sama-sama pendek!”

Seisi kelas tertawa kecuali aku, Dohoon Seosangnim, dan anak laki-laki berambut hitam yang aku yakin bernama Baekhyun karena dia langsung mengelak dan marah begitu disebut pendek. Dohoon Seosangnim berdeham lalu berkata, “Baekhyun?”

“Ya, pak?” tanyanya lalu kembali duduk tegak di kursinya.

“Apa kau membawa buku lengkap?” tanya Dohoon Seosangnim lalu Baekhyun mengangguk. “Kalau begitu tidak masalah. Chanyeol, untuk sementara kau pindah ke bangku paling belakang. Dan Taeyeon, silakan duduk di samping Baekhyun.”

Aku mengangguk dan segera berjalan menuju bangku yang sudah dikosongkan oleh anak laki-laki bernama Chanyeol. Aku duduk perlahan dan Dohoon Seosangnim segera memulai pelajaran matematika. Tanpa aku minta, Baekhyun segera meletakkan buku matematika di tengah-tengah meja kami. Setelah itu kami tidak berbicara hingga sekolah usai. Dan itulah pertemuan pertamaku dengan Byun Baekhyun.

.

.

.

Seminggu berlalu dan pertama kalinya Baekhyun mengajakku berbicara.

“Piket?” tanyaku lalu Baekhyun mengangguk.

“Kita hanya perlu mengisi jurnal dan menghapus papan tulis saat pelajaran berakhir.” Jelas Baekhyun lalu memberikan jurnal padaku. “Aku saja yang menghapus papan tulis jadi kau cukup mengisi jurnal.”

Arasseo.” Jawabku cepat.

“Wah, pasangan pendek hari ini piket!” seru Chanyeol dari belakangku saat aku aru aja membuka jurnal.

“Kami bukan pasangan.” Jawabku. Akhir-akhir ini aku sudah terbiasa jika ada yang menyebut kami pasangan pendek. Dan aku tahu aku harus menjawab apa.

Chanyeol merangkul Baekhyun kemudian tertawa. “Ya ampun, aku tahu kau kok kalian bukan pasangan tapi tetap saja kalian terlihat ideal jika berdua saja.” Baekhyun melepas rangkulan Chanyeol. “Ngomong-ngomong Baekhyun, ada anak kelas sebelah mencarimu.”

Baekhyun menghela napas lalu menuju pintu. “Haaah…. Apalagi siih…”

Baekhyun memang populer di antara anak-anak perempuan. Banyak yang mendeskripsikannya sebagai contoh dari pepatah ‘tidak ada manusia yang sempurna’. Mengapa? Karena Baekhyun pintar, bisa bermain gitar dan piano, bisa bernyanyi dengan sangat baik, berasal dari keluarga terpandang, serta memiliki wajah yang tampan. Dan kekurangannya adalah dia pendek. Itu saja.

“Padahal tahu dirinya populer tapi dia tetap saja bersikap seperti itu.” Gumam Chanyeol. “Bagaimana denganmu, gadis pendek?”

“Hah?” tanyaku heran.

Chanyeol tertawa. “Kau tahu, banyak teman-temanku yang ingin berkenalan denganmu. Kau terkenal karena kau pendek dan imut tapi duduk di bangku kelas 4 SD.”

Sebenarnya bukan itu alasanku terkenal. Alasanku dikenal banyak orang adalah karena aku duduk di sebelah Baekhyun. Sudah kukatakan bukan bahwa Baekhyun sangat populer di antara anak-anak perempuan? Well, sebenarnya dia juga populer di antara para lelaki. Setiap istirahat anak laki-laki baik dari kelas kami atau kelas lain pasti berkumpul di meja Baekhyun. Karena aku duduk di sebelah Baekhyun, mereka sering menanyakan siapa diriku. Dan perlu kuingatkan sekali lagi bahwa aku tidak suka jadi pusat perhatian.

Ya, Taeyeon!” seru Chanyeol menyadarkanku. “Boleh tidak aku minta alamat e-mailmu dan kuberikan pada teman-temanku?”

Aku cukup terkejut dengan permintaan Chanyeol. Bukan karena aku tidak punya e-mail, tapi aku belum siap untuk berhubungan dengan orang lain. Berbicara dengan Baekhyun saja aku harus menunggu saat kami mendapat giliran piket….

“Hei, siapa yang piket? Kok papannya belum dibersihkan?”

Tanpa aku sadari, Dohoon Seosangnim sudah masuk ke kelas untuk mengajar matematika. Semua kembali ke tempat duduk mereka sedangkan aku hanya bingung menatap bangku di mana Baekhyun duduk. Sebelumnya kami sudah sepakat kalau Baekhyun yang akan menghapus papan tulis, tapi…

“Siapa yang piket?” tanya Dohoon Seosangnim lalu aku langsung berdiri. Bagaimana lagi, sudah tak ada pilihan. Aku harus berani maju dan menghapus papan tulis seorang diri. Tapi saat aku baru saja berada di depan papan tulis dan meraih penghapus, seisi kelas menahan tawa mereka.

“Ya ampun, kasihan…”

“Memangnya tangannya sampai untuk menghapus tulisan di atas?”

“Aku pingin lihat perjuangan Taeyeon!”

“Kalau nggak sampai lompat saja, Taeyeon!”

“KALIAN SEMUA!” teriakan Dohoon Seosangnim seketika membuat kelas hening tapi tetap saja beliau terlambat. Aku sudah meneteskan air mata meski aku berusaha untuk menahannya. Andai ada Solar di sini, dia pasti akan membelaku. Dia pasti akan membantai semua orang yang menertawakanku.

Tiba-tiba genggaman hangat meraih tanganku yang memegang penghapus dan mengangkatnya ke papan. Saat aku melihat siapa pemilik tangan ini, dia berkata, “Bukankah sudah kubilang kalau tugas menghapus itu milikku?”

“Baekhyun, ke mana saja kau?” tanya Dohoon Seosangnim.

Baekhyun memberi isyarat berupa menyuruhku duduk lalu berkata, “Maaf, pak. Saya tersesat mencari tempat yang bagus untuk menyembunyikan diri dari angka-angka yang anda bawa.”

“Haaaah?” gumam Dohoon Seosangnim lalu seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Kami semua mengerti bahwa maksud Baekhyun adalah dia sibuk mencari tempat untuk bolos. Dan yang membuat kalimatnya lucu adalah karena Baekhyun tidak mungkin membolos. Dia rajin mengikuti pelajaran dan menjawab berbagai pertanyaan.

Saat Baekhyun menghapus papan tulis di bagian atas, anak-anak mengejeknya pendek tapi Baekhyun melalui semua itu dengan senyuman. Dia tampak senang dan menikmati waktunya di sekolah. Bahkan saat pelajaran berlangsung pun dia masih sempat menggambar binatang-binatang di catatannya yang membuatku tertawa.

“Ssssh!” Baekhyun tampak panik. “Ya ampun Taeyeon, jangan tertawa sekarang. Memangnya gambar bebekku segitu lucunya ya?”

Aku menggeleng sambil menahan tawa karena sebenarnya gambar Baekhyun sangat jelek. Aku jadi tahu bahwa kelemahan Baekhyun yang lain adalah dia tidak jago menggambar. Aku senang menggambar jadi gambarku benar-benar jauh lebih bagus daripada punya Baekhyun.

Sekolah berlalu dengan cepat hari itu. Sebagai petugas piket kelas, aku mengisi jurnal kelas dengan mata pelajaran yang diujikan serta tugas yang diberikan. Tiba-tiba saja aku mendapati Baekhyun menatapku serius dari depanku.

“Ka, kau belum pulang?” tanyaku gugup.

“Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu piket sendirian?” gumam Baekhyun. “Yang tadi… Maaf ya. Aku tidak datang lebih awal dan terpaksa kau yang menghapus papan tulis. Mianhae.”

Gwechanna…” jawabku cepat.

“Apanya yang gwechanna? Tadi kau menangis bukan?” tanya Baekhyun membuatku terkejut. Saat aku menatap wajahnya, dia malah tersenyum. “Aku tahu kok, rasanya… Diejek seperti itu. Aku anak laki-laki paling pendek di angkatan kita. Aku sering menghindar berdiri sejajar dengan anak perempuan yang lebih tinggi dariku.”

“Tapi kau kan punya banyak teman… Yang mau membelamu?” tanyaku lalu Baekhyun mengangguk. “Enaknya.”

“Kau juga bisa kok, Taeyeon.” Sahut Baekhyun lalu aku menggeleng karena hal seperti itu benar-benar mustahil. “Mau kuberi tips? Kau hanya perlu tersenyum pada semua orang yang kau temui. Dengan begitu, orang-orang akan menyukaimu.”

Bel sekolah berbunyi menandakan semua yang masih berada di gedung sekolah harus segera pulang. Baekhyun meraih jurnal yang sudah selesai aku tulis. “Yuk, pulang?” Aku mengikuti Baekhyun hingga ke ruang guru tempat kami harus meletakkan jurnal. Dia disapa oleh semua orang yang kami temui. Aku benar-benar iri dengannya. Apa aku bisa punya banyak teman hanya dengan tersenyum?

“Taeyeon!” seru anak perempuan dari koridor sebelah. Wajahnya serasa tidak asing, mungkin dia teman sekelasku. Baekhyun yang ada di depanku membisikkan kata ‘senyumlah’. Akhirnya aku hanya tersenyum dan anak perempuan itu melambaikan tangan padaku.

Tanpa kusadari aku mengikuti Baekhyun sampai tempat sepeda diparkir. Aku memperhatikan sekelilingku. Aku jelas tidak datang ke sekolah menggunakan sepeda. “Um? Kau juga naik sepeda?” tanya Baekhyun lalu aku menggeleng cepat. Papa pasti sudah menungguku di depan gerbang. “Arasseo, aku pulang dulu ya.”

“Baekhyun!” seruku begitu Baekhyun hampir sampai di gerbang, aku berlari dan… Brak! Aku malah terjatuh ke tanah.

“Ya ampun, Taeyeon!” Baekhyun segera meletakkan sepedanya dan berlari menuju tempatku terjatuh. “Kau tidak apa-apa?”

Aku menggeleng lalu meraih ponselku yang ada di tasku. Dengan rambut berantakan dan wajah kusam yang dibasahi air mata, aku berkata dengan berani, “Boleh aku… Minta alamat e-mailmu?”

Baekhyun terdiam tapi tangannya mendekat ke rambutku lalu tiba-tiba saja dia seakan-akan menarik sesuatu dari belakang telingaku. Dan begitu aku sadari, tangan Baekhyun sudah menggenggam kertas dengan tulisan berupa alamat e-mailnya. Aku menunjuk telingaku dengan heran lalu bertanya, “Se… Sejak kapan ada di belakang telingaku?”

Baekhyun tertawa lalu berkata, “Appaku seorang pesulap dan aku belajar darinya meski kadang sering gagal sih. Maaf sudah membuatmu takut.” Dia menyerahkan kartu nama itu padaku dan aku tidak percaya aku mendapat alamat e-mailnya semudah ini. “Oh ya, ini pertama kalinya aku menunjukkan sulap di depan anak perempuan, lho?”

“Eh?” seketika itu Baekhyun berjalan pelan menuju sepedanya. “Gomawo, Baekhyun!”

Baekhyun melambaikan tangannya dan tersenyum. “Jangan berikan pada orang lain, ya?” Aku suka senyumnya. Aku suka saat dia berada di sampingku. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku ingin mengenalnya bukan karena dia populer dan teman sekelasku. Aku ingin mengenalnya karena dia adalah dirinya. Dan sejak hari itu aku mulai memperhatikan Baekhyun.

.

.

.

            3 bulan kemudian, menjelang liburan musim panas, sekolah mengadakan uji nyali untuk seluruh murid. “Kelas 4 mendapat giliran Hari Kamis. Sekolah akan dipulangkan lebih awal dan kalian harus kembali ke sekolah saat jam 7 malam. Dilarang membawa alat komunikasi. Hanya boleh membawa senter.”

Begitu Dohoon Seosangnim mengumumkan tentang acara uji nyali yang rutin dilaksanakan sebelum liburan musim panas untuk anak kelas 1 SD hingga kelas 5 SD, anak-anak di kelasku langsung ramai membicarakannya. Aku yang tidak tahu tentang itu, bertanya pada Tiffany.

“Pokoknya uji nyali ini sangat menegangkan. Kita disuruh menelusuri sekolah secara berkelompok dan menemukan benda-benda yang nantinya akan diberitahu sebelum kita memasuki sekolah.” Jelas Tiffany. “Dan tentu saja akan ada setannya!”

“Setan?” tanyaku lalu Tiffany mengangguk.

Saat aku berpikir betapa menakutkannya nanti saat uji nyali, Baekhyun yang duduk di sebelahku berkata, “Hei. Sebaiknya kalian dengarkan apa yang dikatakan Dohoon Seosangnim.”

“Galak banget, sih.” Ujar Tiffany lalu membalikkan badannya, menghadap papan tulis. “Jangan-jangan kau takut setan?”

“Apaan sih. Selama ini aku tidak pernah absen saat hari uji nyali!” seru Baekhyun tak mau kalah. Tiffany tertawa lalu kembali menghadapkan badannya ke depan.

Dohoon Seosangnim mengeluarkan dua kotak, yang satu berwarna pink dan satu berwarna biru. “Untuk murid kelas 4 SD, kalian tidak akan membentuk kelompok dengan 5 orang seperti dulu. Kalian akan melakukan uji nyali secara berpasangan. Laki-laki dan perempuan.”

Kelas langsung heboh sampai Dohoon Seosangnim menjelaskan lagi, “Diam! Nantinya saat kalian duduk di bangku kelas 5, kalian diwajibkan melakukan uji nyali SENDIRIAN. Mengerti?”

Karena tidak akan selesai jika ditentukan sendiri, Dohoon Seosangnim menyuruh kami mengambil undian untuk menentukan pasangan uji nyali. Anak perempuan akan mengambil dari kotak pink dan anak laki-laki dari kotak biru. Dikatakan berpasangan jika mendapat nomor yang sama.

“Taeyeon dapat nomor berapa?” tanya Tiffany lalu aku menunjukkan kertasku yang bertuliskan angka 8. “Aku nomor 6. Kira-kira siapa yang akan jadi pasanganku, yaa?”

“Kau nomor 6?” tanya Chanyeol dari belakangku. “Baekhyun juga dapat nomor 6.”

Jinjjayo?” seru Tiffany gembira. Entah kenapa dadaku langsung terasa sakit. Aku ingin berpasangan dengan Baekhyun. Aku ingin tahu bagaimana tingkahnya saat uji nyali. “Kau dapat nomor berapa, Chanyeol?”

“8.” Jawab Chanyeol membuatku lesu. “Ah, jangan-jangan aku sama gadis pendek ini?”

“Jangan berkata seperti itu.” Sahut Tiffany. Aku tidak bisa membayangkan diriku yang dijelek-jelekkan karena berpasangan dengan Chanyeol. Jujur, perbedaan tinggiku dengan Chanyeol sangat jauh dan aku takut nantinya kami akan diberi julukan pasangan ayah dan anak.

Hari dilaksanakan uji nyali tiba dan sebelumnya aku dan Chanyeol sudah membuat kesepakatan bahwa yang akan membawa senter adalah Chanyeol. Tapi aku diam-diam membawa senter dengan berharap mungkin Baekhyun ingin pinjam dariku.

“Tukar doong?”

Aku memperhatikan anak-anak kelasku yang saling menukar nomor undian mereka. Belum jam 7 malam, jadi uji nyali belum resmi dimulai dan mereka berpikir bahwa sah-sah saja jika menukar nomor undian sebelum acara dilaksanakan. Bahkan ada yang menukar nomor dengan anak dari kelas sebelah. Seketika aku langsung mencari sosok Tiffany di antara kerumunan.

“Tiffany!” seruku lalu menarik Tiffany yang sedang berbicara dengan Chanyeol. Aku membawa Tiffany menjauhi kumpulan anak-anak yang lain lalu berkata, “Kumohon! Tukarlah nomor denganku!”

“Hah? Serius?” tanya Tiffany dengan nada terkejut.

“Aku benar-benar minta maaf, tapi kumohon—“

Tiba-tiba saja Tiffany tertawa terbahak-bahak. Aku tak percaya dia menganggap apa yang aku ucapkan sebagai hal yang lucu. “Ya ampun, Taeyeon. Kau kan selalu bersama Baekhyun. Apa sehari tanpanya saja kau tidak bisa?”

“Bukan begitu, tapi… Aku ingin uji nyali bersamanya. Aku ingin mengenalnya lebih jauh jadi kumohon. Aku tahu ini konyol, tapi—“

Tiffany menggelengkan kepala sambil memperlihatkan kertas undiannya. “Kau pikir yang mau berpasangan dengan Baekhyun hanya kau? Banyak orang yang dari tadi memintaku untuk menukar nomor undian. Taeyeon, kau memang temanku tapi aku tidak ingin memberikan ini padamu karena itu tidak akan adil bagi anak perempuan yang lain. Kau mengerti maksudku, bukan?”

“Tapi—“

“Sudahlah, Taeyeon.” Tiffany tersenyum sambil memegang kedua bahuku. Kemudian dia memperhatikan jam tangannya lalu berkata, “Oops, sudah jam 7. Ayo berkumpul!”

Aku sama sekali tidak bersemangat sepanjang acara berlangsung. Aku tidak memperhatikan teman-temanku yang berhasil dari uji nyali ataupun teman-temanku yang ketakutan saat disuruh Dohoon Seosangnim memasuki sekolah.

“Nomor 8!” seru Dohoon Seosangnim membuatku sadar dari lamunanku dan segera mencari sosok Chanyeol. Aku mencarinya tapi dia tidak ada di sekitarku sama sekali. Sampai Dohoon Seosangnim berteriak, “Siapa nomor 8? Perempuan!”

“Saya!” seruku lalu berlari ke tempat Dohoon Seosangnim. “Tapi saya belum menemukan Chanyeol…”

“Chanyeol?” tanya Dohoon Seosangnim lalu menunjuk orang yang sedang membawa senter dan menunggu di depan pintu masuk sekolah. “Chanyeol sudah berangkat lebih dulu bersama Tiffany.”

“Loh… Tapi—“

Dohoon Seosangnim menggeleng dan berkata, “Bukankah pasanganmu Baekhyun?”

“Hah?” betapa terkejutnya aku saat melihat sosok Baekhyun lah yang sedang menungguku dengan senter di tangan kanannya dan tangan kirinya yang menjulur ke arahku. “Kok bisa?”

Baekhyun menggenggam tanganku lalu tersenyum. “Kau tidak tahu aturan uji nyali, kan? Makanya dengarkan Dohoon Seosangnim saat beliau berkata bahwa pasangan harus bergandengan tangan…”

Aku menggeleng. “Bukan itu! Maksudku… Kenapa kau bisa menjadi pasanganku? Bukankah pasanganmu Tiffany?”

Baekhyun tersenyum dan berkata, “Menurutmu?” kemudian Baekhyun menghadapkan senternya padaku lalu diam-diam dia melakukan sulap berupa mengubah senter menjadi bunga mawar. Dan di tangkai bunga mawar itu, sebuah kertas dengan angka 8 tertusuk dengan kuat. Baekhyun meraih senter yang aku sembunyikan di tanganku yang tidak menggenggam tangannya. “Aku akan melindungimu.”

Saat itu aku tahu bahwa aku adalah gadis paling beruntung dan bahagia di dunia ini. Genggaman tangan Baekhyun sangat hangat dan detik-detik serta menit-menit berikutnya, uji nyali tidak terasa menakutkan bagiku. Bahkan untuk Baekhyun yang sebenarnya takut setan.

.

.

.

            “Selesai!” seruku lalu memandang dengan puas pudding oreo yang berhasil aku selesaikan. Aku buru-buru meletakkannya di piring, menghiasnya dengan sederhana dan meletakannya di nampan. Tak lupa aku membawa diary dan resep yang aku bawa kemari bersamaku. Kemudian aku berjalan pelan menuju lift, kembali ke lantai di mana Baekhyun dirawat.

Yang sudah menunggu di sana adalah Jessica dan Solar. Mereka menatapku dengan heran. Solar menunjukkan wajah penuh kekhawatiran. “Ya ampun, eonni dari mana saja? Aku cemas!” kemudian mata Solar tertuju pada pudding yang aku bawa. “Ini kan…”

“Aku membuatnya untuk Baekhyun.” Jawabku lalu Solar tersenyum dan mengangguk.

“Sayang sekali, Taeyeon. Baekhyun masih tidur.” Ujar Jessica.

Gwechanna. Aku akan meletakkannya di dekat ranjang.” Ujarku lalu tersenyum. Aku memperhatikan Solar lalu berkata, “Aku ingin Solar ikut denganku.”

Jessica mengangguk lalu membukakanku pintu. Aku menarik tangan Solar dan masuk bersama-sama ke dalam ruang inap Baekhyun. Baekhyun tertidur dengan pulas dan wajah tidurnya benar-benar damai. Sebenarnya aku ingin berkata bahwa dia tidak pantas untuk tidur tenang seperti ini setelah aku bersusah payah membuatkannya pudding.

Eonni, apa itu?” tanya Solar menujuk diary Baekhyun lalu aku menyerahkannya. “Diary Byun Baekhyun, dilarang membuka tanpa izin.”

Aku meletakkan pudding di meja dan tersenyum. “Eomma Baekhyun memintaku untuk menyerahkan diary itu pada Baekhyun.”

Dan sama sepertiku, Solar juga membukanya padahal jelas tertulis bahwa dilarang membuka tanpa izin. Solar membaca isi diary tersebut dengan pelan, “Tanggal 19 Agustus, aku diam-diam mengikuti Taeyeon pergi dari apartmen untuk mengisi tugas karanganku. Ternyata dia menemui adiknya. Aku baru tahu bahwa Taeyeon punya adik. Dan aku baru tahu betapa Taeyeon menyayangi adiknya. Pantas saja dia tidak begitu tertarik padaku. Ternyata adiknya yang paling istimewa baginya.

“Kau membaca di bagian yang tepat.” Sahutku lalu kami berdua tertawa. Tiba-tiba mata Solar membulat lalu dengan pelan dia menunjuk Baekhyun yang mulai sadar dari tidurnya. Solar menyerahkan diary Baekhyun padaku lalu mengambil langkah mundur. “Aku akan pergi.”

Tepat saat Solar menutup pintu, Baekhyun membuka mata. Yang pertama kali dilihat oleh Baekhyun adalah sosokku yang baru saja meletakkan diarynya ke kerdus yang ada di bawah ranjang. “Aku mencium bau yang enak.”

Jinjjayo?” tanyaku lalu Baekhyun mengangguk. “Ada pudding untukmu. Kuharap kau mau memakannya.”

Baekhyun mengangguk lalu aku menyerahkan piring dengan pudding oreo beserta sendok padanya. Dia tersenyum lalu memasukkan potongan pertama ke mulutnya. Dan untuk setersnya, untuk potongan berikutnya, dia memakannya tanpa mengeluh. Baekhyun tersenyum, “Ini… Enak banget—“

“Apa ini yang kau inginkan?” tanyaku berharap. Baekhyun terdiam sesaat sampai dia mengangguk dengan yakin. “Jinjjayo?”

“Ini makanan yang aku cari.” Jawab Baekhyun senang. “Darimana kau mendapatkannya?”

“Kau akan tahu nanti.” Ujarku lalu tiba-tiba ponselku berbunyi. E-mail dari Kai yang sudah menungguku di lobby. Spontan, aku mengambil kerdus di bawah ranjang Baekhyun dan menyerahkannya. “Aku pulang dulu, ya. Syukurlah sekarang kau bisa makan apa saja. Dan ini, barang-barang untuk menemanimu.”

Gomawo.” Ucapnya lembut lalu aku tersenyum. Saat aku baru saja meraih kenop pintu, Baekhyun berseru, “Besok… Kau akan datang lagi, kan?”

Aku tersenyum dan berkata, “Menurutmu?” aku merogoh sakuku, mengambil secarik kertas yang dari tadi aku simpan dan memberikannya pada Baekhyun, tepat di tangan kanannya. Kertas itu bukan kertas biasa karena kertas itu berisi resep makanan yang berhasil menyelesaikan masalah kali ini. Baekhyun memandang kertas itu dan saat dia membacanya, aku langsung keluar dari ruangan tersebut.

Jessica terlihat sangat senang saat aku keluar dari ruang inap Baekhyun. Dia tersenyum kemudian berkata, “Masalah pertama, selesai.”

Aku tidak bisa menahan senyum. Ternyata pekerjaan ini lebih menyenangkan daripada yang aku duga. Solar memandangku penuh harap seakan-akan dia menungguku untuk mengucapkan suatu kalimat yang bisa membuatnya senang. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung saja berkata, “Aku siap untuk masalah-masalah berikutnya.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Tak terasa sudah sampai part 05! Di part ini Taeyeon mengingat masa lalunya bersama Baekhyun. Aku senang menulis cerita flashback tapi aku kasihan pada Kai. Namanya hanya disebut sekali dalam chapter ini!

Mulai part berikutnya aku akan memasukkan flashback di tengah-tengah cerita yang jika cerita ini hampir selesai, akan bisa dihubungkan dan membentuk kisah yang akan mengungkap masa lalu Taeyeon setelah orang tuanya bercerai hingga dirinya bertemu dengan Kai. Juga usahanya diam-diam berjanji bertemu dengan Solar. Aku berharap kalian bisa menebak kisah itu sebelum cerita ini tamat karena aku akan sangat senang jika ada yang berhasil. Karena itu artinya kalian memperhatikan cerita ini dengan baik dan teliti.

Seperti biasa, aku meminta kritik dan saran dari kalian semua agar cerita ini bisa menjadi lebih baik lagi. Terima kasih sudah membaca!

Part 6 will be published September 5th 2015

Advertisements

102 comments on “Skellington [Part 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s