My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 14)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Chapter ini agak sedikit lebih panjang dari sebelumnya, jadi jangan merasa bosan untuk membacanya, yaaaa^^

±9000 words

TS (Today’s Song) : Luhan – Our Tomorrow

~~~

Taeyeon membuka pintu mobil Luhan dan langsung keluar sembari membawa turun kedua tasnya. Tas sekolah dan satu lagi tas yang berisi pakaian-pakaian yang selama ini ia gunakan di rumah Luhan. Luhan membuka kaca mobilnya dan melambai riang pada Taeyeon, sebelum akhirnya laki-laki itu membawa mobilnya pergi menjauhi rumah Taeyeon.

Taeyeon balas melambai dan ia menghela nafas panjang begitu mobil Luhan sudah tidak terlihat lagi. Ia hendak masuk ke dalam rumah saat dilihatnya kakak laki-laki satu-satunya, Ji Woong, sedang melangkah menuju rumah. Sepertinya ia juga baru pulang. Ji Woong menatap Taeyeon dan tersenyum.

“Sudah pulang ternyata?” sapa Ji Woong. Ia berhenti tepat di hadapan Taeyeon. Kedua matanya menatap tas Taeyeon.

“Eung, temanku sudah sembuh,” jawab Taeyeon sedikit kikuk.

“Baguslah kalau begitu,” ujar Ji Woong. Ia berhenti sejenak, berfikir sebelum mengeluarkan kata-kata yang ingin disampaikannya pada Taeyeon. “Kalau begitu, kau tidak akan kerepotan lagi mengurus semua kegiatan Ketua Murid, eoh? Partner-mu sudah kembali pulih,”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya, terkejut bukan main mendengar ucapan sang kakak. “Apa maksud oppa?”

“Ya, kau mengerti maksudku apa, nae dongsaeng,” jawab Ji Woong. Ia tersenyum lebar sambil mengacak-acak poni Taeyeon dengan gemas. “Kau mungkin bisa membohongi kedua orang tuamu, tapi kau tidak bisa bohong pada kakakmu ini. Karena aku tahu, suatu saat hal seperti ini akan terjadi. Kau bertemu dengan Luhan, kalian saling mengenal, dan akhirnya saling mencintai. Aku tahu ini akan terjadi ketika aku tahu kau dan Luhan satu sekolah, dan semakin meyakinkan lagi kalian menjadi Ketua Murid. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi orang yang sok-tahu begini, tapi sepertinya memang inilah jalan cinta kalian berdua. Dipertemukan dan dipisahkan. Kuharap, kalian sama-sama kuat menjalaninya, karena ini takkan mudah,”

Taeyeon menatap Ji Woong dengan tatapan takut dan merasa bersalah. Ia menundukkan wajahnya dengan jantung berdebar kencang.

“Tidak perlu takut atau merasa cemas. Karena aku tahu ini akan terjadi, aku tidak terkejut lagi. Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena mencintai seseorang. Dan bagiku, Luhan adalah sosok laki-laki yang hebat, yang bisa memecahkan hati adikku yang sekeras dan sedingin batu es ini. Besok, kau harus memberitahunya untuk melakukan hal yang sama pada ayah dan ibu,” sambung Ji Woong dengan senyuman manisnya.

Ji Woong mengambil tas ransel Taeyeon dan hendak melangkah masuk ke dalam rumah. Sedetik kemudian, Taeyeon memanggilnya.

“Appa sedang tidak sehat, ‘kan? Jantungnya kembali sakit dan aku punya perasaan sakitnya semakin bertambah parah,” ungkap Taeyeon. Matanya mulai berkaca-kaca sembari memandangi kakaknya. “Oppa, apa kau yakin mereka akan luluh juga? Apa yang aku lakukan hanya akan membuat appa semakin sakit, benarkan?”

Ji Woong terdiam mendengar penuturan Taeyeon yang mungkin ada benarnya juga. Mereka saling menatap dan sama-sama tahu jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan Taeyeon. Ji Woong melangkah mendekati Taeyeon dan merangkulnya dengan erat.

“Kajja, eomma dan appa sudah menunggu,” ajak Ji Woong.

~~~

“Apa tidak bisa dirawat secara intensif saja di rumah sakit?” tanya Taeyeon pada Mrs. Kim, yang sedang menyelimuti Mr. Kim di tempat tidur. Mr. Kim terlelap dalam tidurnya dengan dadanya yang bergerak naik turun secara teratur. Namun, Taeyeon dapat mendengar nafas yang dikeluarkan oleh Mr. Kim terdengar berat dan sulit.

“Untuk apa?” Mrs. Kim balik bertanya seraya tersenyum manis.

Taeyeon menatap ayahnya dengan tatapan sendu. “Sudah lama appa merasakan sakit di dadanya, eomma. Aku tidak tahu bagaimana sakitnya. Tapi pasti sakit sekali, ‘kan? Aku ingin appa melakukan operasi, eomma. Penyakit jantung rematik bukan hal yang bisa kita anggap enteng. Seharusnya appa melakukan operasi sejak lama,”

Mrs. Kim membalikkan tubuhnya dan hendak keluar dari kamar, tidak begitu mengindahkan pernyataan dari putri semata wayangnya. Namun, tak berapa lama kemudian, ia berhenti sebelum benar-benar mencapai gagang pintu.

“Taeng, ini urusan kami berdua. Tidak perlu mencemaskan ayahmu. Dia bisa mengurusi dirinya sendiri,” ujar Mrs. Kim. Ia menolehkan wajahnya pada Taeyeon dan tersenyum lembut. Setelah itu, ia keluar dari kamar.

Taeyeon terduduk di atas tempat tidur Mr. Kim dan memandangi wajah damai ayahnya selama lebih dari sepuluh menit. Perlahan, tangan kanan Taeyeon menggenggam tangan kanan Mr. Kim dengan sangat erat, seakan-akan ingin menyalurkan kekuatan dan kehangatan untuk ayahnya yang sedang terbaring lemah itu. Air mata yang menggenang di pelupuk mata Taeyeon, mengalir dengan indah dan jatuh di atas punggung tangan Mr. Kim tanpa dikehendaki oleh Taeyeon.

Di lain pihak, Mrs. Kim ternyata masih berdiri memunggungi pintu kamarnya sambil menahan tangisnya yang sesenggukan. Tangan kanannya yang bergetar ia letakkan di atas dada kirinya, menahan beratnya beban yang sudah lama ia pendam sendiri. Beban yang tak boleh ia lepas begitu saja, yang sangat menyakiti hatinya.

~~~

Taeyeon menutup pintu loker sekolahnya setelah mengambil buku-buku pelajaran sambil menghela nafas panjang. Ia sudah mengunci pintu lokernya. Namun, genggamannya di kunci belum ia tarik. Gadis itu masih mematung di depan lokernya sendiri, tampak sedang berfikir.

Sebuah tangan menepuk bahu kanan Taeyeon. Taeyeon tersentak dan ia menoleh ke arah kanan. Sontak, Luhan menyodorkan wajahnya ke hadapan wajah Taeyeon dan tersenyum ceria.

“Annyeong,” sapa Luhan.

Taeyeon mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, berusaha sadar dari lamunannya. Setelah cukup sadar, wajah gadis itu langsung bersemu merah. Wajahnya dan wajah Luhan hanya beberapa senti saja, dan ia langsung mundur selangkah dengan senyuman canggungnya yang masih saja menawan.

“Annyeong,” balas Taeyeon. “Kau mengagetkanku,”

“Ada apa dengan kedua matamu?” tanya Luhan, yang kembali mendekatkan dirinya pada Taeyeon. Ia berusaha meneliti kedua mata gadisnya itu, membuat wajah Taeyeon semakin memerah. Dan ia harus mundur ke belakang agar para siswa yang lain tidak berfikiran macam-macam. Siswi-siswi yang menggemari Luhan juga tengah berdiri tak jauh dari mereka berdua, berbisik-bisik ke arah Luhan dan Taeyeon.

“Mwoya? Mereka semua melihat tingkahmu,” bisik Taeyeon. “Tidak ada apa-apa dengan kedua mataku,”

Luhan berdiri tegak sambil melipat kedua lengannya di depan dadanya. Ia memberengut lucu. “Kenapa kalau mereka melihatku? Kau, ‘kan kekasihku,”

“Aku malas meladeni fans-mu. Untuk sementara jangan sampai ada yang tahu. Setidaknya kita harus tampak seperti sudah berteman. Kalau kesannya mendadak, aku tidak yakin mereka akan baik kepadaku. Aku hanya akan semakin di bully dan disama-samakan dengan perempuan-perempuan murahanmu yang dulu itu,” jelas Taeyeon dan ia melengos pergi dari hadapan Luhan.

“Ya, apa yang kau bicarakan?” tanya Luhan. Ia menghentikan langkah Taeyeon dan merangkul erat gadis itu. “Mereka semua harus tahu. Setidaknya, chemistry di antara kita sebagai Ketua Murid lebih oke dibandingkan dengan Ketua Murid yang dulu. Dan lagi, apa kau tidak cemburu kalau siswi-siswi itu terus mendekatiku?”

“Bukankah itu hal yang paling kau sukai? Dikagumi dan dikerumuni oleh gadis-gadis itu,” cibir Taeyeon.

“Kau cemburu, dan aku tidak akan melakukannya lagi. Masih ingatkan janjiku?” tanya Luhan. Ia tersenyum sangat lembut dan mencium hidung Taeyeon sekilas. Kedua mata Taeyeon membelalak lebar.

“Aku tidak cemburu,” sergah Taeyeon. Ia berusaha melepaskan rangkulan Luhan. Namun, tenaga Luhan lebih kuat dibandingkan dirinya.

“Lu ge,” panggil salah seorang gadis yang berada di kerumunan fans Luhan.

Luhan dan Taeyeon menoleh bersamaan menatap gadis itu. Ia tersenyum sangat manis pada Luhan dan langsung menggandeng lengan kanannya, menarik Luhan agar ia melepas rangkulannya pada Taeyeon. Taeyeon sedikit terkejut dan ia berusaha menyembunyikan senyumannya saat dilihatnya wajah Luhan yang terheran-heran.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Luhan.

“Kenapa Lu ge berada dekat-dekat dengannya? Bergabung dengan kami saja, ge,” ajak gadis itu seraya melemparkan tatapan benci pada Taeyeon. “Kau tidak seharusnya dekat dengan seseorang yang tidak selevel denganmu,”

Luhan melepaskan genggaman tangan gadis itu dan kembali merangkul Taeyeon. Para siswi itu tersentak melihat aksi Luhan. Taeyeon hanya diam dan lebih memilih untuk menunduk menatap lantai gedung sekolah.

“Mungkin kalian belum tahu. Tapi, mulai hari ini, ani. Dari seminggu yang lalu, Kim Taeyeon resmi menjadi kekasihku. Tidak perlu tahu bagaimana ceritanya. Terlalu panjang untuk dijelaskan. Intinya, aku sangat mencintainya dan terus mengejarnya sampai akhirnya ia berpaling kepadaku. Aku berjanji untuk selalu melindunginya. Jadi, kalau kalian berani menyentuh Kim Taeyeon-ku, kalian akan langsung berhadapan denganku, arra?” jelas Luhan panjang lebar. Ia melemparkan senyuman manisnya pada mereka semua, yang ternganga mendengar penuturan Luhan. “Dan satu lagi, berita ini boleh kalian sebarluaskan. Aku akan sangat berterima kasih sekali kalau satu sekolah hari ini sudah tahu semua. Kalau begitu, kami pergi dulu, eoh?”

Selesai berkata seperti itu, Luhan melambaikan tangannya dan kembali menarik Taeyeon ikut bersamanya, meninggalkan fans Luhan yang terdiam membeku. Mereka saling pandang, sulit percaya.

“Aniya! Lu ge!!”

Taeyeon menatap Luhan, yang masih tersenyum dengan gembiranya. Perlahan, ia melepas rangkulan lelaki itu dan memandangnya.

“Apa yang kau sampaikan itu, akan jadi perbincangan hangat sampai kita selesai jadi Ketua Murid,” ujar Taeyeon.

“Lalu?” tanya Luhan.

“Kurasa aku akan menghadapi masa-masa sulit lagi. Masih ingat, ‘kan saat fotoku dan Suho menyebar? Aku sampai dikurung di dalam gudang, diancam, dan masih banyak lagi. Sekarang berpacaran denganmu? Kurasa aku akan dibunuh secara perlahan oleh mereka semua,” ungkap Taeyeon.

Luhan menghela nafas pendek. Ia memeluk Taeyeon dan mengecup ubun-ubun kepalanya dengan sayang. “Wae? Mana Kim Taeyeon-ku yang tangguh? Bukankah sebelumnya kau mati-matian melawanku dan yang lainnya? Sekarang, ada aku di sisimu. Ada teman-temanmu, teman-temanku. Apa lagi yang harus kau cemaskan? Lagipula, aku tidak akan membiarkanmu didekati oleh mereka sejengkal saja. Aku adalah Ketua Murid. Kau juga. Jika mereka berani menyakitimu, aku akan menambah peraturan baru untuk mereka,”

Taeyeon tersenyum lembut di dalam pelukan Luhan. Sebenarnya ia tidak terlalu peduli dengan peristiwa apa yang akan menimpanya setelah semuanya tahu ia dan Luhan pacaran. Ia tidak peduli dan sama sekali tidak khawatir. Yang ingin ia tahu adalah reaksi Luhan saat ia mengatakan hal seperti itu. Jawaban dan perlakuan Luhan cukup membuktikan bahwa Luhan benar-benar ingin melindunginya. Taeyeon merasa bahagia merasakan cinta Luhan.

“Ketua Murid, apa yang kalian lakukan?” tanya Mrs. Oh dengan suaranya yang lantang, sontak membuat Taeyeon mendorong lepas pelukan Luhan.

“Annyeonghaseyo, saem,” sapa Taeyeon hangat. Ia membungkukkan tubuhnya pada Mrs. Oh dan Mr. Kim, yang beberapa detik kemudian sudah berdiri di samping Mrs. Oh dengan senyumannya yang merekah.

Luhan menghembuskan nafas kasar. Ia hanya mengangguk sedikit pada Mrs. Oh dan Mr. Kim. Ya, ia sedikit kesal karena momen indahnya bersama Taeyeon terganggu akibat kedatangan mereka berdua.

“Sepertinya berita pagi hari ini yang baru kudengar itu benar adanya,” kata Mr. Kim. Ia melempar pandang menggoda pada Luhan dan Taeyeon. “Dengan begini aku sangat yakin sekali kalau festival olahraga akan berjalan dengan sangat lancar,”

“Ne, kami berdua menemui kalian hanya ingin membicarakan masalah itu. Festival olahraga akan diselenggarakan seminggu lagi. Acaranya sangat besar dan kuharap hari ini semuanya sudah beres. Kami sudah memilih dan mendekorasikan tempat yang nantinya akan digunakan oleh para peserta untuk mengadakan lomba. Kami mohon agar kalian lebih fokus dan mengerahkan tenaga selama seminggu ini. Mohon kerjasamanya,” jelas Mrs. Oh.

“Mianhae kalau selama seminggu kalian tidak bisa berkencan seperti pasangan baru lainnya. Hanya seminggu. Tidak apa-apa, ‘kan?” goda Mr. Kim lagi. Ia tertawa dan mengedipkan sebelah matanya pada Luhan dan Taeyeon. kemudian, Mrs. Oh dan Mr. Kim berbalik dan menuju kantor mereka masing-masing.

“Sebelum ada peringatan Ketua Murid dilarang pacaran, sebaiknya kau berhenti melakukan hal-hal aneh, Luhan-ah,” gumam Taeyeon sedikit kesal.

Luhan hanya mengangkat kedua bahunya. “Wae? Selama program kerja kita tidak terganggu, tidak apa-apa, ‘kan?”

“Ck, sudahlah. Aku mau masuk. Setelah bunyi bel istirahat, kuharap kau sudah ada di dalam kantor Ketua Murid. Semua tugasmu sudah diselesaikan oleh Suho. Dan sekarang kita hanya tinggal membagi-bagi timnya, waktu, dan serta penanggung jawab lomba. Hari ini harus selesai dan aku tidak mau mendengar ucapan rewel atau pervert-mu itu, Lu,” ucap Taeyeon tegas.

“Arraseo,” jawab Luhan enteng. “Aku akan menghubungimu, Taeyeon-ah. Sampai nanti,”

Taeyeon mengangguk. Luhan membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju kelasnya. Taeyeon juga ikut berbalik dan hendak pergi ke kelas. Namun, beberapa detik kemudian, belum sampai kakinya melangkah sebanyak lima langkah, seseorang menarik pergelangan tangan kanannya, membuat gadis itu terkejut bukan main.

Yang lebih membuatnya terkejut adalah saat dirinya melihat seseorang itu adalah Luhan. Luhan tersenyum manis. Lalu, ia mengecup cepat bibir Taeyeon.

Bye,” bisik Luhan di telinga kiri Taeyeon. Luhan mengedipkan sebelah matanya pada Taeyeon dan cepat-cepat pergi menuju kelasnya. Sedangkan Taeyeon, gadis itu masih berdiri mematung. Ia begitu terkejut mendapati aksi Luhan yang selalu tiba-tiba. Luhan memang tidak pernah gagal membuat jantung gadisnya itu berhenti berdetak, tidak pernah gagal membuat kedua pipi Taeyeon merona. Ia tidak pernah gagal membuat warna indah di dalam hidup Taeyeon.

Taeyeon tersenyum kecil melihat kelakuan Luhan. Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Ia hanya takut tidak bisa melepaskan laki-laki itu kalau suatu saat ia diharuskan melepas Luhan. Mau tidak mau.

~~~

“Otte? Keinginanmu terkabul, Soo Man-ah. Mereka berdua terikat hubungan yang sangat romantis. Saling mencintai dan tidak ingin saling melepaskan. Setelah ini, apa ada hal lain yang ingin kau lakukan?” tanya Mr. Kim. Ia menenggak habis minuman yang ada di hadapannya.

Mr. Lee melepas kacamatanya dan menarik nafas dalam-dalam. Daritadi ia terus memerhatikan ponselnya, membuat kedua matanya begitu kelelahan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan tersenyum menatap Mr. Kim. Senyuman aneh. Senyuman senang dan sedih yang bercampur menjadi satu.

“Wae?” tanya Mr. Kim, yang merasa aneh dengan tingkah atasannya itu.

“Aku sudah tahu hal itu akan terjadi, dan tidak terlalu terkejut. Tapi, aku senang sekali mendengarnya,” jawab Mr. Lee. Ia bangkit dari kursi kebesarannya dan memandang jauh ke luar jendela kantor. “Pagi ini aku dapat berita baik dan buruk secara bersamaan. Dan kau tahu apa berita buruknya? Ayah dari Ms. Kim… Kondisinya semakin terpuruk. Penyakitnya kian lama kian memburuk. Seharusnya setiap hari ia melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Dan hari ini, aku mendapat kabar dari pihak rumah sakit kalau ia harus menjalani operasi, kalau tidak mau katup jantungnya itu semakin menyempit dan mengakibatkan resiko meninggal dunia,”

“Mwo?” sentak Mr. Kim.

“Aku sudah berulang kali mengingatkannya agar kontrol setiap hari di rumah sakit. Tapi begitulah sifat Taeyeon appa. Dia tidak ingin membebaniku, membebani dirinya sendiri karena ia sudah banyak menanggung beban. Padahal aku tidak apa-apa. Merogoh seluruh tabunganku juga aku tak masalah demi kesembuhan dirinya. Aku hanya ingin membalas semua kebaikannya selama ini, Young Min-ah. Paboya,” ungkap Mr. Lee. Ia berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Namun, kedua matanya tampak berkaca-kaca.

“Apakah itu sudah positif? Maksudku, pihak rumah sakit hanya menyarankan, ‘kan? Mereka…”

“Mereka tidak lagi menyarankan. Tapi mengharuskan,” potong Mr. Lee. “Aku sudah menghubungi Jae Won dan dia bilang dia tidak butuh operasi. Aku tahu biayanya sangat mahal, itu sebabnya dia tidak mau dan melarang keras diriku untuk membiayainya. Apakah dia tidak menganggapku teman selama ini? Aku sangat frustrasi, Young Min-ah,”

“Bagaimana dengan William? Dia harus diberitahu, ‘kan?” tanya Mr. Kim.

“Dia bilang akan datang ke Korea besok. Aku tidak tahu tapi dia memintaku untuk menunjukkan di mana tempat tinggal Jae Won. Aku tidak tahu rencana apa yang sedang ia usung. Dia tidak bilang apa-apa lagi saat meneleponku kemarin malam,” jawab Mr. Lee.

“Apa kau punya pemikiran yang sama denganku, Soo?” tanya Mr. Kim pelan, setelah beberapa menit lamanya mereka terdiam. Mr. Lee dan Mr. Kim saling berpandangan, seakan-akan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri sudah terjawab meskipun tidak di katakana secara gamblang.

~~~

Suho mengetuk pintu kantor Ketua Murid sebanyak tiga kali dan membukanya. Ia melihat Taeyeon, yang tengah duduk di atas sofa sambil membaca sesuatu di dalam ponselnya. Suho tersenyum dan ia menutup pintu kantor sebelum melangkah mendekati Taeyeon. Ia berdiri di belakang sofa dan berusaha mencari tahu apa yang sedang dibacanya sehingga kedatangan Suho sama sekali tidak disadari oleh Taeyeon.

“Apa yang sedang kau baca?” tanya Suho, mengagetkan Taeyeon.

Taeyeon menoleh ke arah Suho dan ia langsung menutup apa yang sedang di bacanya tadi dengan mengunci ponselnya. Suho mengernyit memandang Taeyeon, sedikit curiga. Sedangkan Taeyeon berdiri dan menghadap Suho.

“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Taeyeon.

“Baru saja,” jawab Suho singkat. “Kau tidak sadar karena terlalu serius membaca artikel yang ada di ponselmu itu. Boleh aku tahu kenapa kau membaca artikel tentang penyakit jantung dan pengoperasiannya?”

“Aku hanya ingin tahu,” jawab Taeyeon asal. Ia buru-buru melangkah menuju meja kantornya dan membereskan semua yang ada di atas meja itu kemudian meletakkannya di dalam laci. “Aku menunggu Luhan dari tadi. Dia sangat lama, sampai-sampai pekerjaan kami sudah selesai. Berkat bantuan Tiffany dan yang lainnya juga,”

“Ah. Dia dipanggil Mr. Lee saat bel berbunyi. Dia juga yang menyuruhku untuk datang ke sini membantumu. Tapi sepertinya aku terlambat. Mianhae,” sesal Suho.

“Gwaenchanna. Luhan tidak ada di sini kau juga selalu membantuku,” ucap Taeyeon. “Sshh, apa yang dia lakukan sampai-sampai di panggil oleh Mr. Lee?”

“Orang tuanya akan datang ke Korea besok,” jawab Suho.

Taeyeon sedikit terkejut hingga ia menjatuhkan sebuah map dari tangannya. Map itu berserakan. Sejumlah uang kertas juga jatuh dari map itu. Taeyeon buru-buru membungkuk mengambil file-file map itu dan menyimpannya langsung dalam tas. Ia juga mengutip uang kertas itu. Uang kertas itu terlihat kusut karena lipatannya yang asal-asalan dan tidak rapi. Lalu, dengan telaten Taeyeon merapikan uang itu, membuatnya agar tidak terlalu kusut.

“Jinjja?” tanya Taeyeon pada Suho, sembari ia menggosok-gosok permukaan uang kertas itu dengan menggunakan kedua telapak tangannya. “Luhannie… Pasti senang sekali karena orang tuanya datang,”

“Bukan hal yang menyenangkan untuk Luhan saat tahu orang tuanya akan datang. Apalagi saat sekolah tidak ada acara yang resmi, yang mengharuskan para donatur untuk datang. Kemungkinan orang tuanya datang untuk masalah pribadi keluarga mereka. Luhan pernah cerita. Ayahnya pulang untuk memaksa Luhan agar mau menjadi penerus perusahaannya kelak. Dan Luhan, seperti yang kita tahu, dia sama sekali tidak berminat pada perusahaan. Pada sesuatu yang membuat kedua orang tuanya menghilang dari hidupnya,” jelas Suho, wajahnya berubah menjadi ekspresi yang prihatin.

Taeyeon sedikit mengerling ke arah Suho dan ia menganggukkan kepalanya. “Ayah Luhan melakukan itu agar anaknya tidak memiliki suatu kekurangan apapun. Ayah dan ibunya terlalu menyayanginya. Mereka tidak ingin melihat Luhan susah,”

“Luhan akan memilih hidup dalam kesusahan dari pada ia harus kehilangan kehangatan sebuah keluarga,” gumam Suho.

“Kita tidak akan pernah mengerti pemikiran sosok orang tua. Kadang pemikiran seorang anak dan orang tua berbeda. Tidak ada yang mengerti. Hanya mereka yang tahu karena mereka tahu apa yang membuat anak-anaknya bisa hidup bahagia, tidak seperti mereka,” ungkap Taeyeon pelan. Ia kembali teringat dengan Mr. Kim dan Mrs. Kim. Ya, Taeyeon tahu ada sesuatu yang membuat mereka berdua tidak mau menjalani operasi. Dan itu semua demi dirinya dan Ji Woong.

Suho terdiam menatap Taeyeon. Ia memandangi gadis itu lekat-lekat, yang masih sibuk menata ulang uang-uang kertas itu. Suho dapat melihat ada genangan air di kedua pelupuk mata Taeyeon.

“Apa yang sedang kau lakukan dengan uang-uang itu?” tanya Suho heran.

“Merapikan uang ini,” jawab Taeyeon santai.

“Ne, tapi untuk apa?”

“Uang itu menakutkan,” jawab Taeyeon. Kedua matanya masih fokus pada uang-uang kertas itu. “Aku hanya ingin menghargai keberadaan mereka. Meskipun nominalnya kecil, tapi bukan berarti mereka tidak berharga sampai-sampai dilipat asal-asalan seperti ini. Dari nominal yang kecil, perlahan-lahan akan menjadi besar juga. Dulu, aku tidak peduli berapa banyak uang yang kuhabiskan secara percuma hanya untuk kepentingan pribadiku karena aku tidak peduli betapa sulitnya mendapatkan uang sepeserpun. Dan sekarang aku belajar dari pengalamanku kalau mendapatkan seribu won saja, membutuhkan perjuangan yang begitu keras,”

Taeyeon tersenyum di sela-sela kegiatannya. Suho memandangi Taeyeon dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia berusaha mencerna semua ucapan Taeyeon dan tampak berfikir keras.

“Apakah mungkin… terjadi sesuatu pada keluargamu sehingga ada yang mengalami sakit jantung?” tanya Suho dengan intonasi suaranya dan pengucapan yang hati-hati.

Taeyeon menatap Suho dan tersenyum manis. “Tidak juga. Ayahku memang mengalami penyakit jantung dari dulu. Dan terjadi insiden besar beberapa waktu yang lalu, membuat sakitnya semakin parah. Percuma saja kalau kututupi hal ini padamu. Kau sudah tahu sewaktu aku membaca artikel itu, ‘kan?”

“Appa?” tanya Suho tidak percaya sekaligus terkejut. “Lalu bagaimana? Apa tidak sebaiknya langsung dioperasi? Bukannya harus dikontrol setiap hari?”

“Seperti yang kukatakan padamu tadi. Orang tua dan anak punya pemikiran yang berbeda. Dan hanya orang tualah yang tahu mana yang baik mana yang tidak. Walaupun itu sama sekali tidak menguntungkan dirinya. Mereka hanya memikirkan anak-anak mereka,” jelas Taeyeon sambil tersenyum lembut. Ia menyimpan uang-uang kertas itu di dalam laci mejanya dan berdiri memunggungi meja sambil melipat kedua lengannya di dada. “Suho-ah. Kuharap kau tidak bilang kepada siapapun mengenai masalah ini, eoh?”

“Bagaimana dengan Luhan?” tanya Suho.

“Luhan tahu ayahku sakit jantung dan sekarang sedang kambuh. Tapi, jebal. Jangan katakan apapun mengenai operasi dan hal-hal yang berbau rumah sakit. Kau dan aku tahu apa yang akan dilakukannya jika sampai ia mendengar ini,” jawab Taeyeon.

Suho menarik nafas pendek dan menghembuskannya dengan lambat. Ia melirik ke arah Taeyeon, yang wajahnya sudah berubah menjadi kelabu. Tersirat dari wajah dan kedua matanya kalau ia sedang memikirkan sesuatu yang berat dan menyedihkan. Suho adalah orang yang peka sekali. Ia langsung tahu apa yang sedang difikirkan Taeyeon, apa yang menyebabkan wajahnya menjadi murung seperti ini.

“Ah, benar!” seru Taeyeon tiba-tiba. Ia berbalik menghadap Suho. “Aku harus menemui Luhan sebentar. Ada sesuatu yang harus kuberikan padanya,”

Suho mengangguk. “Aku juga akan pergi ke kelas. Kajja,”

Suho dan Taeyeon keluar dari kantor Ketua Murid secara bersamaan dan berpisah di tengah jalan. Ketika langkah Taeyeon hendak berbelok menuju kantor Mr. Lee, pintu kantor itu terbuka dan ia melihat sosok Luhan yang baru saja keluar dengan raut wajah yang kusut. Taeyeon ingin menghampiri laki-laki itu. Namun, Luhan sudah melihat kedatangan Taeyeon terlebih dulu. Senyum menghiasi wajah tampan Luhan.

“Apa Suho sudah membantumu? Mianhae, aku dipanggil Mr. Lee mendadak dan tidak dapat membantu kekasihku sendiri,” ungkap Luhan penuh penyesalan.

“Gwaenchanna,” jawab Taeyeon. Ia tersenyum pada Luhan. “Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu. Tapi tidak di sini,”

“Jinjja?” tanya Luhan dengan kedua matanya yang berbinar-binar. “Mwonde? Sebuah pelukan romantis yang hangat? Atau sebuah ciuman yang lugu dan manis?”

“Ya! Tidak kedua-duanya,” jawab Taeyeon kesal. “Tidak bisa kuberikan di sini. Kau mau pergi ke atap sekolah?”

Luhan mengangguk dengan wajahnya yang diselimuti beragam pertanyaan. Tangan Taeyeon dengan segera meraih tangan kanan Luhan. Luhan tersenyum kecil dan ia menggenggam erat tangan mungil Taeyeon itu, sembari mereka pergi kea tap sekolah.

Sesampainya di atap, Taeyeon langsung merogoh isi tasnya dan mengeluarkan sebuah kalung berlian dengan nama insial ‘PL’ yang tertera di kalung itu. Taeyeon menyerahkan kalung berlian itu pada Luhan dan Luhan segera menerimanya tanpa banyak berkata-kata. Ia tahu itu kalung siapa.

“Aku menemukan kalung ibumu di lantai pesta dansa kemarin. Aku lupa memberikannya padamu dan aku sangat menyesal karena terlambat memberikannya. Dia tampak sangat sedih telah kehilangan kalung itu,” ujar Taeyeon.

“Ne,” jawab Luhan pelan. Ia masih memandangi kalung itu lekat-lekat. “Ini adalah kalung kesayangannya. Dia sangat menjaga dan melindungi kalung ini dengan sepenuh hatinya,”

Mata Luhan langsung mengarah dan menghujam kedua mata Taeyeon, yang juga sedang menatap matanya. Mereka berdua saling berpandangan. Taeyeon memberikan pandangan kesedihan yang sangat dalam serta ketidakpercayaan yang sangat kentara di dalam matanya. Sedangkan tatapan Luhan sangat datar, tapi menyiratkan seribu pesan yang tak kasat mata. Taeyeon tidak tahu apa makna dari tatapan lelaki itu.

“Jinjja? Dia pasti sangat senang menerima kalung itu kembali,” jawab Taeyeon dengan suara yang sedikit bergetar.

Luhan diam. Ia menyimpan kalung itu dengan perlahan di dalam blazer sekolahnya. Matanya masih memerhatikan Taeyeon, yang sudah menundukkan wajahnya, berpura-pura sibuk mengancingi tas ranselnya kembali.

Luhan maju selangkah mendekati Taeyeon dan ia meletakkan dahinya di atas pundak kiri Taeyeon. Taeyeon tersentak dan ia hanya diam, menunggu Luhan mengucapkan sesuatu.

“Mianhae,” bisik Luhan.

“Waeyo?” tanya Taeyeon.

Luhan diam tak menjawab. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam harum tubuh Taeyeon yang mampu membuatnya melayang. Ingin rasanya ia memeluk erat tubuh gadis itu. Namun, ia takut. Ia takut tidak bisa melepaskan gadis itu meskipun untuk sementara waktu.

“Ada banyak sekali kesalahanku, dan aku hanya bisa mengatakan ‘maaf’ padamu. Aku sungguh seorang pecundang, ‘kan?” tanya Luhan.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” paksa Taeyeon. Mendengar Luhan mengucapkan maaf dengan penuh perasaan seperti itu membuat hati Taeyeon pedih. Andai saja ucapan maaf Luhan dapat mengubur semua masa lalu yang terjadi antara keluarganya dengan keluarga Luhan.

“Mianhae, tapi sepertinya tugas Ketua Murid selama seminggu ke depan sampai acara festival olahraga dimulai akan kuserahkan pada Suho lagi. Tidak hanya Suho, aku akan menyuruh yang lain untuk membantumu. Aku tidak ingin membiarkanmu bekerja sendiri di saat aku tak ada,” ungkap Luhan.

“Kau mau ke mana?” tanya Taeyeon.

Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Taeyeon, yang berada tepat di hadapannya. Luhan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Taeyeon. “Kau tahu, ‘kan kalau orang tuaku besok datang ke Korea? Mereka ingin membicarakan sesuatu dan aku tidak bisa datang ke sekolah. Tapi aku akan berusaha ada di tempat ketika festival olahraga berlangsung. Kau baik-baik saja dengan itu, ‘kan?”

“Aku tidak akan melarangmu, tsk,” jawab Taeyeon sambil tersenyum manis. “Kalau begitu, kau juga tidak bisa menghubungiku?”

“Ne, aku tidak bisa menghubungimu. Selama seminggu penuh,” jawab Luhan cepat.

Taeyeon sedikit kecewa. Namun, cepat-cepat ia menutupinya dengan tetap tersenyum. Walaupun Taeyeon tidak yakin apakah senyumannya itu terlihat baik-baik saja atau tidak.

“Wae? Kau kecewa?” tanya Luhan.

“Gwaenchanna, jinjja,” jawab Taeyeon pasti. “Jangan terlalu emosi ketika kau berhadapan dengan ayahmu, eoh? Ingatlah, walau bagaimanapun, dia juga yang membesarkanmu,”

Luhan tersenyum lebar dan mengangguk. Mereka berdua diam dan hanya saling memandang satu sama lain. Tatapan Luhan melembut dan perlahan ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Taeyeon. Taeyeon tidak mundur dan ia menunggu apa yang akan Luhan lakukan.

“Saranghae,”

Luhan mendaratkan bibirnya di dahi Taeyeon. Ia menciumnya dengan penuh sayang dan untuk waktu yang cukup lama. Taeyeon tersenyum kecil dan ia menutup kedua matanya, merasakan pancaran cinta dan sayang Luhan untuknya.

~~~

“Sebelum ayahmu besok pergi ke rumah Jae Won, ada baiknya kau lihat dulu riwayat hidupnya, Lu. Sebelum ia membayar semua kesalahan-kesalahannya, kau harus tahu apa yang selama ini ia lakukan di Canada dan meninggalkanmu di sini serta terus mengekangmu dengan segala peraturan-peraturannya,” ujar Mrs. Pu Li pada Luhan saat mereka berdua berada di dalam kantor pribadi Mr. William.

Mrs. Pu Li menyerahkan sebuah dokumen rumah sakit pada putra sulungnya dan Luhan menerima itu dengan dahi yang berkerut bingung.

“Untuk apa?” tanya Luhan.

Mrs. Pu Li tidak menjawab pertanyaan Luhan. Ia hanya menunggu Luhan yang sedang membuka dokumen itu dan membacanya dengan teliti. Dapat dilihat raut wajah Luhan yang langsung berubah drastis saat membacanya. Antara ekspresi tidak percaya, sangat terkejut, dan sedih. Kedua mata rusa Luhan sedikit berair. Dan Mrs. Pu Li berusaha sekuat tenaga untuk tidak menitikkan air matanya. Ia sudah terlalu sering menangis selama sisa hidupnya ini.

“Ige mwoya? Kanker Otak? Stadium 4?” tanya Luhan. Suara dan bibirnya bergetar menahan tangis. Ya, Luhan ingin menangis. “Eomma ingin mengerjaiku, ‘kan? Ini tidak benar-benar terjadi, ‘kan? Katakan padaku ini hanya lelucon kalian,”

Air mata Mrs. Pu Li terjatuh tanpa bisa ditahannya. Ia menggeleng pelan dan menatap Luhan dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya yang tirus.

“Buat apa ibu membuat lelucon yang sama sekali tidak lucu seperti itu, Lu? Ini menyangkut nyawa ayahmu, menyangkut hidupnya! Bagaimana bisa ibu sampai hati membuat lelucon itu?” isak Mrs. Pu Li. “Ibu terus menahan diri untuk tidak memberitahu kondisi ayahmu yang semakin hari semakin memburuk. Ayahmu memaksa ibu untuk tidak memberitahumu lebih awal. Dia sudah memikirkan hal ini dari dulu. Dia sudah memikirkan semuanya. Dan apa yang ia rencanakan selama ini sebentar lagi akan berhasil.

“Di Canada, dia tidak hanya memikirkan perusahaannya. Ayahmu terus melakukan pengobatan hingga akhirnya ia didiagnosa hanya memiliki hidup tidak sampai 3 tahun. Itu sebabnya, ia merencanakan membuatmu menjadi seseorang yang mandiri, yang bertanggung jawab, dan bijaksana untuk memimpin Han Corp. dengan baik. Lu, dia sangat mencintaimu. Ayahmu itu. Dia begitu peduli padamu. Dia tidak ingin kau jatuh seperti dia, dia tidak ingin kau kekurangan satu barangpun dalam hidupmu seperti dia kehilangan perusahaannya dulu. Dia sangat tegas, sangat kejam karena tidak ingin terlihat lemah di depanmu.

“Ayahmu sangat merasa bersalah ketika dia harus melampiaskan kasih sayangmu secara tidak biasa dan berpura-pura untuk lebih peduli pada perusahannya, agar suatu saat jika dia sudah tidak ada, kau telah terbiasa dengan ketidakadaannya di dunia. Di dalam hatinya yang paling dalam, ibu tahu, ayahmu jauh lebih tersiksa dari yang bisa kau bayangkan sekarang. Ia harus menahan sakitnya, menahan dirinya untuk tidak lagi memanjakanmu seperti dulu. Ia juga harus merelakan sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri pergi dan membencinya saat ia harus dengan terpaksa membuat perusahaan Jae Won bangkrut.

“Lu, ini yang harus kau tahu. Detik-detik di mana ayahmu akan kehilangan nyawanya akan segera tiba. Ia ingin kau menangani dan melanjutkan perusahaannya, serta mengembalikan Kim Corp. kepada Jae Won, ayah Taeyeon. Ayahmu, membangun kembali perusahaan itu setelah ia sukses menjatuhkan Baozhai Corp. dengan tangannya sendiri. Ayahmu merencanakan semuanya. Ia merasa harus mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya kepada sahabatnya dan memperbaiki hubungan keluarga kita,”

Luhan diam cukup lama setelah mendengar penuturan panjang ibunya. Penuturan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Penuturan yang tidak mau dipercayainya walaupun itu benar. Penuturan yang menyakitkan hatinya, yang membuatnya menyesal. Ayahnya sungguh-sungguh menyayanginya dan ia tidak pernah merasakannya.

“Apa yang harus ku lakukan, eomma? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Luhan. Suaranya bergetar hebat. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,”

Rasa sakit di hati Luhan ia tunjukkan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya tanpa bisa ia tahan. Ini jauh lebih sakit dari apapun. Ia tak ingin menerima kenyataan ayahnya akan pergi sebelum ia bahkan membuat ayahnya itu tersenyum bangga. Mrs. Pu Li ikut terisak dan ia memeluk Luhan dengan erat. Tangis Luhan semakin pecah. Ibunya dengan sayang mengelus lembut punggung Luhan, memberinya ketenangan yang justru membuat air mata Luhan tidak kunjung berhenti.

“Uljimayo, my deer. Uljima. Bukan ini yang ingin ayahmu lihat. Tolong jangan menangis. Kau hanya akan membuat hatinya semakin terluka. Tunjukkanlah padanya bahwa kau sudah dewasa dan siap menerima apapun yang terjadi. Dengan begitu, ayahmu bisa tersenyum senang dan pergi dengan nyaman. Tolong jangan buat ia menyesal telah melakukan ini semua hanya karena melihat kita berdua menangisinya,” lanjut Mrs. Pu Li. “Menangislah hanya di depanku. Aku tahu rasa sakit yang sekarang ini kau derita, sayang. Gwaenchanna,”

“Ne, eomma. Ne,” jawab Luhan dengan sesenggukan. Ia menenggelamkan seluruh wajahnya di leher Mrs. Pu Li, menangis seperti seorang bayi.

~~~

Hey, Punk! Jangan tunjukkan rengekanmu di depanku, apa kau mengerti?! Kau tidak pantas menjadi anakku jika air matamu terus mengalir seperti itu, jinjja!” seru Mr. William saat Luhan duduk bersimpuh di hadapan ayahnya, menyatakan sebuah permintaan maaf.

Mereka semua berkumpul atas permintaan Mr. William di ruang tengah rumah Luhan. Tidak hanya Luhan dan orang tuanya yang berada di sana, Mr. Kim dan Mr. Lee pun juga ada di sana, menyaksikan adegan pilu di mana Luhan meminta maaf pada ayahnya atas perbuatan yang selama ini lakukan dengan bersimpuh di hadapan Mr. William. Luhan memang sengaja melakukan itu karena kemauannya, sebelum ayahnya melakukan sesuatu seperti yang sudah ia rencanakan. Luhan hanya ingin membuktikan pada ayahnya kalau ia sangat mencintai beliau dan siap merelakannya pergi.

Luhan tidak memberikan komentar apa-apa saat ayahnya memakinya seperti itu. Ia hanya terisak dalam diam dan tetap bersikukuh dengan posisinya sekarang. Wajahnya menunduk dan lantai yang berada di bawah Luhan basah, penuh dengan air matanya.

Selama sepuluh menit penuh mereka semua hanya diam dan Luhan tidak menggerakkan satu sendipun. Ia tetap bertahan. Ia ingin mendengar jawaban dari mulut ayahnya bahwa ia sudah memaafkannya.

“Abeoji, aku hanya ingin mendengar kau memaafkanku. Itu saja. Sebelum kau dan Mr. Lee serta Mr. Kim menyusun rencana untuk bertemu dengan Jae Won ahjussi,” ujar Luhan dengan suaranya yang cukup pelan. Ia berhenti terisak. Namun, air matanya terus mengalir.

Mr. William diam mendengar perkataan anaknya. Ia melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja yang tidak jauh dari dirinya. Setelah itu, ia mengangkat kedua bahu Luhan, membantunya untuk berdiri. Luhan berdiri tegap menghadap sang ayah. Ia sedikit terkejut, karena dilihatnya kedua mata ayahnya berkaca-kaca.

“Hei, nak. Sebelum kau melakukan kesalahan aku sudah memaafkanmu. Ketika kau lahir, bagiku kau adalah suatu anugerah yang luar biasa. Kau tidak pernah salah. Akulah yang salah. Melakukan apa yang tidak seharusnya seorang ayah lakukan. Aku yang salah karena telah membuatmu begitu terkekang dan merasa sangat terbebani, sangat terluka. Sakit yang kau rasakan, aku juga merasakannya. Bahkan aku tidak merasa sakit saat menjalani perawatan di Canada ketika aku memikirkan rasa sakitmu. Aku orang tua yang buruk, benar? Kuharap, setelah ini kau belajar dariku dan bisa menjadi orang yang jauh lebih baik dari seorang William. Aku tidak memberikan arti yang mengesan dalam hidupmu, tapi aku sangat mencintaimu,”

Luhan langsung memeluk ayahnya dan kembali menangis. Dengan terbata-bata Luhan mengucapkan terima kasih begitu banyak di telinga kanan sang ayah. Tak lupa ia juga mengatakan kalau ia sangat mencintai ayahnya lebih dari dirinya sendiri.

Mr. William tersenyum sedih dan sekaligus menangis sambil menepuk-nepuk pelan punggung belakang Luhan. Mrs. Pu Li menghadap ke belakang dan menyembunyikan tangisnya. Mr. Lee dan Mr. Kim ikut tersenyum. Sesekali mereka berdua mengusap kedua matanya yang berkaca-kaca, terenyuh.

“Ya, ayahmu ini sudah lemah. Sebentar lagi aku akan meninggalkan semuanya dan yang bisa kuharapkan hanyalah dirimu, Lu. Jagalah ibumu sebagaimana kau dijaga olehnya saat kecil. Sayangi ia dan terus perhatikanlah kesehatannya, eoh? Kau tidak akan tenang dalam tidurmu kalau kau gagal melakukannya,” ujar Mr. William. Ia melepas pelukannya dan menatap wajah Luhan. Senyumannya yang lembut tersungging di wajahnya yang teduh. “Jangan pernah merasa menyesal karena pernah membenciku. Kuat dan tabahlah, Luhan,”

Luhan mengangguk dan isaknya langsung terhenti. Ia mundur ke belakang saat ayahnya tersenyum dan duduk kembali di atas sofa bersama dengan Mr. Lee dan Mr. Kim. Mrs. Pu Li ikut duduk di samping suaminya dan Luhan hanya berdiri menghadap mereka semua.

“Baiklah,” ujar Mr. William sambil menghela nafas yang panjang. “Setidaknya aku sudah merasa sangat lega setelah menyatakan seluruh isi hatiku untuk anakku tercinta. Dan sekarang, kapan kita bisa bertemu dengan Jae Won? Aku ingin masalah ini selesai sebelum nafas terakhirku berhembus, agar anakku bisa hidup bahagia bersama Kim Taeyeon,”

Mr. William menatap Luhan dengan senyuman bahagia. Sedangkan Luhan hanya tertunduk. Ia ingin menenangkan hatinya dulu.

“Luhan sudah mengusulkan hal yang sangat bagus, Will,” jawab Mr. Lee. “Luhan ingin menjauhkan Taeyeon dari kedua orangtuanya selama bertemu dengan kita, agar Ms. Kim bisa berkonsentrasi di sekolah dan tidak terlalu tertekan dengan keadaan keluarganya. Kita semua tahu dia dan Luhan sudah berhubungan lebih dari seorang partner. Dan menghadirkan Kim Taeyeon hanya akan menyakiti gadis itu. Itu sebabnya, Ms. Kim akan menginap di sekolah bersama dengan teman-temannya dan beberapa guru guna menyelesaikan rapat serta agenda untuk acara festival olahraga tiga hari sebelum acara itu berlangsung. Bisa dikatakan, dua hari lagi kita bisa bertemu dengan Jae Won dan membicarakan masalah operasimu,”

“Operasi?” sela Luhan dengan suara tercekat.

“Jae Won… Dia sudah berada di ambang maut juga, Lu,” jawab Mr. William sambil tersenyum sedih. “Dan ini semua karenaku. Semua salahku. Itu sebabnya, aku akan mendonorkan jantungku ini padanya, sebagai bayaran dariku karena sudah membuatnya hidup susah. Aku selalu menangis dalam diam saat mendengar kabarnya dari Sooman, Lu. Apa kau fikir hatiku tidak semakin sakit mendengarnya? Sebelum aku meninggal, aku ingin cepat-cepat jantung ini berada di tubuh Jae Won,”

Luhan mengangguk kecil dan ia kembali menundukkan wajahnya. Matanya kembali panas. Walaupun begitu, ia sangat mengikhlaskan jantung ayahnya berada di jantung ayah Taeyeon. Ia mencintai gadis itu, ia juga yang melukai perasaannya selama ini. Merampas semua yang dimilikinya, seperti yang pernah ia katakan sebelum mereka berakhir menjadi sepasang kekasih.

“Kalau begitu, aku akan mengatur jadwal pertemuan kita dengan Jae Won malam ini, Will. Kuharap jantungnya siap saat kalian bertemu dua hari mendatang,” ujar Mr. Kim dengan wajah serius.

Mr. William hanya menganggukkan kepalanya dan memandang jauh ke luar jendela rumahnya. Tak sabar rasanya ingin memeluk sahabat lamanya itu.

“Sementara itu Luhan-ah…” ujar Mr. William. Luhan menengadah menatap ayahnya. “Saat aku menjalani operasi, maukah kau langsung pindah ke Canada dan mengurusi semua pengangkatan jabatanmu? Mr. Lee akan menemanimu. Menjadi boss muda. Aku harap aku tidak salah menempatkanmu di sana,”

Luhan diam tidak menjawab. Ia memejamkan kedua matanya, tampak sibuk berfikir. Fikirannya melayang ke Taeyeon. Apa yang akan dikatakannya pada gadis itu? Apa dia sanggup pergi meninggalkannya? Apa Taeyeon bisa memercayainya selama ia jauh dari gadis itu?

~~~

“Dia benar-benar tidak memberi kabar,” gumam Taeyeon seraya mengotak-atik ponselnya. Wajahnya cemberut. Ia tidak tahu harus berekspresi apa. Di satu sisi ia senang Luhan bertemu dengan orang tuanya, walaupun ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Di satu sisi ia juga merindukan sosok laki-laki itu. Sudah tiga hari ia tidak bertemu bahkan berkomunikasi dengannya. Suho dan yang lainnya juga tidak mendapat kabar apa-apa dari Luhan. Ada sedikit rasa cemas menyelubungi hati Taeyeon.

Seseorang mengetuk pintu kantor Ketua Murid dari luar. Taeyeon menyimpan ponselnya dan menyuruh orang itu masuk. Ternyata Tiffany, Jessica, Sunny, Heechul, dan Chanyeol. Mereka mendekati Taeyeon yang sedang duduk di sofa kantor.

“Apa kami benar-benar boleh ikut menginap di sekolah membantu tugas-tugasmu?” tanya Sunny langsung. “Kudengar Minseok dan yang lainnya juga ikut menginap,”

“Ne, kalian dikirim Luhan untuk membantuku,” jawab Taeyeon pelan. “Tapi kalau tidak mau, aku tidak akan memaksa,”

“Ya, tanpa disuruh laki-laki itu aku juga mau membantumu,” ujar Tiffany. “Karena sepertinya kau belum selesai membagi-bagi perlombaan, waktu, serta rundown acaranya,”

“Apa yang Luhan lakukan bersama orang tuanya? Kenapa dia sama sekali tidak menghubungimu?” tanya Heechul heran.

“Mollaseo. Mungkin urusan mereka sangat rumit. Dan kemungkinan Luhan juga tidak menyentuh ponselnya. Suho dan yang lain tidak mendapat kabar dari Luhan juga. Aku sangat khawatir kalau terjadi sesuatu padanya dan ingin mengetahui keadaannya. Tapi aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya dimintanya untuk menunggu,” jelas Taeyeon.

“Hokshi… Luhan dijodohkan orang tuanya?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Apa yang kau katakan?!” seru Tiffany dan Sunny bersamaan seraya memukul kepala Chanyeol, membuat laki-laki itu meringis kesakitan.

“Orang tua Luhan tidak akan seperti itu, ‘kan? Maksudku, aku akan membunuhnya kalau dia mengejar-ngejarmu dan dia sendiri sudah tahu kalau akhirnya ia akan dijodohkan. Buat apa dia melakukan itu? Hanya untuk menyakitimu?!” seru Tiffany penuh emosi.

“Itu tidak akan terjadi,” jawab Jessica pelan. “Kalaupun itu yang akan terjadi, aku yakin Luhan akan berusaha menghentikannya. Luhan sangat mencintai Taeyeon, dan kita semua tahu itu,”

Taeyeon tersenyum mendengar jawaban Jessica. Ia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tetap berfikir positif. Meskipun begitu, jauh di dalam hatinya, ia masih mengharapkan laki-laki itu menghubunginya, hanya sekadar mengiriminya pesan selamat pagi atau selamat tidur juga tidak masalah. Ia hanya ingin mengetahui kondisi Luhan.

~~~

“Kau akan kembali hari minggu malam, ‘kan? Jangan terlalu lelah dan jangan begitu memaksakan diri. Kau juga harus hati-hati saat diperjalanan pulang nanti. Malam-malam begini sangat berbahaya kalau seorang perempuan berkeliaran,” ujar Mrs. Kim seraya membantu Taeyeon membawakan kopernya ke dalam mobil Heechul.

“Taengie akan pulang bersamaku, ahjumma. Kami semua ramai, dan tidak akan membiarkan Taeyeon bekerja sendiri,” ujar Heechul dengan senyuman lebarnya.

Mrs. Kim tersenyum senang. “Kalau begitu hati-hatilah. Night, dear,”

Taeyeon mengangguk. Ia mencium kedua pipi ibunya dan segera masuk ke dalam mobil Heechul. Heechul juga ikut mencium kedua pipi ibu Taeyeon sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Mrs. Kim melambaikan tangannya dan memerhatikan mobil Heechul yang mulai menjauh.

“Omo,” pekik Taeyeon pelan saat dilihatnya Luhan mengiriminya pesan.

“Wae?” tanya Heechul.

“Luhannie,” jawab Taeyeon, yang tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Heechul yang menyadari itu langsung mengacak-acak rambut Taeyeon dengan sayang dan tertawa pelan.

From : Lu Babo

Hati-hati di jalan, eoh? Aku mendukung dan selalu menjagamu dari jauh^^ mianhae karena tidak pernah ada saat kau butuhkan. Aku sangat merindukanmu TT.TT

 

Taeyeon tersipu malu membacanya. Ia langsung membalas pesan tersebut dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya.

To : Lu Babo

Aku senang kau menghubungiku, Lu. Setidaknya aku tahu kau masih berada di dunia ini, kekekeke~ Apa kau baik-baik saja?

 

Selama lima belas menit lamanya Taeyeon menunggu balasan dari Luhan. Namun, hasilnya nihil. Luhan tidak membalasnya lagi. Sampai di sekolahpun, sampai Taeyeon dan yang lainnya sibuk membicarakan masalah rundown acara mereka, Luhan tidak memberikan balasan. Taeyeon hanya menghela nafas pendek dan kembali menyimpan ponselnya di dalam tas.

~~~

“Ada apa kau memanggil kami kemari, Sooman-ah? Apa terjadi sesuatu pada Taeyeon?” tanya Mr. Kim pada Mr. Lee saat Mr. Lee sudah berada di ruang keluarga rumah Taeyeon bersama dengan Mr. dan Mrs. Kim.

Mrs. Kim meletakkan dua gelas berisi teh hijau yang asapnya masih mengepul di atas meja yang berada di hadapan Mr. Lee dan suaminya. Dengan sopan, ia mundur dan duduk di samping Mr. Kim, menghadap Mr. Lee.

“Assa, aku paling suka green tea buatanmu, Taeng eomma,” ujar Mr. Lee. Ia mengambil gelasnya dan menengguk teh itu dengan anggun.

“Tidak perlu selalu memuji seperti itu, Sooman-ah. Aku sudah bosan mendengarnya,” canda Mrs. Kim, membuat Mr. Lee dan Mr. Kim tertawa kecil.

“Lalu, ada masalah apa kau datang ke sini? Ada sesuatu? Kau begitu ingin sekali bertemu denganku sepertinya,” ujar Mr. Kim.

Mr. Lee diam untuk beberapa saat sembari melihat-lihat sekeliling rumah keluarga Taeyeon, seakan-akan sedang menunggu sesuatu. Dan beberapa detik kemudian, suara deru mesin mobil terdengar di depan rumah keluarga Kim. Mereka bertiga dapat mendengar suara pintu beberapa orang yang membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.

“Aku membawa tamu lain untuk kalian berdua,” ujar Mr. Lee. Ia menyunggingkan senyum sumringahnya pada Mr. dan Mrs. Kim. “Taeng eomma, pastikan kau menyiapkan tiga gelas green tea lagi, eoh? Aku akan mempersilakan mereka masuk,”

“Ada apa dengan bocah itu? Ckckck, dia selalu saja mengada-ada,” gumam Mr. Kim saat Mr. Lee sudah menghilang dari hadapannya. “Kalau begitu, sebaiknya kau ambil tiga gelas lagi, yeobo,”

Mrs. Kim mengangguk dan ia pergi ke dapur. Tidak berapa lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang bergerak menuju ruang keluarga rumah Taeyeon. Mr. Kim segera bangkit dan ia memperlihatkan senyum manisnya, senyum yang sama yang dimiliki oleh anak-anaknya. Namun, senyum itu mendadak hilang begitu saja saat ia sudah melihat orang-orang yang baru datang ke rumahnya itu. Wajahnya dipenuhi oleh rasa terkejut dan kebencian yang bercampur menjadi satu.

Mr. William, Mrs. Pu Li, serta Luhan. Mereka bertiga berdiri menghadap Mr. Kim. Luhan menatap ayah Taeyeon dengan tatapan antara merasa bersalah dan takut. Takut kalau-kalau ayah Taeyeon akan mengalami sakit jantung setelah melihat mereka. Luhan mundur dan mempersilakan Mr. Lee berdiri di samping ayahnya.

“Annyeonghaseyo, Jae Won-ah,” sapa Mr. William sambil membungkukkan kepalanya. Ia tersenyum lebar. Mrs. Pu Li juga ikut membungkuk dan memandang cemas kepada ayah Taeyeon.

“Apa ini yang kau maksud pertemuan penting, Soo?” tanya Mr. Kim dengan nada dingin yang sangat kentara sekali dalam suaranya. Ia tidak membalas sapaan dari ayah Luhan dan tidak memandang mereka sama sekali.

“Ada hal yang ingin kami bicarakan, Jae Won-ah,” jawab Mr. Lee cepat. Ia maju selangkah mendekati Jae Won. “Sangat penting,”

“Tidak ada yang ingin aku bicarakan. Tamu-tamumu ini adalah orang yang sangat sibuk, tidak pantas bicara dengan orang sepertiku,” tolak Mr. Kim, membuat jantung Luhan terasa tertohok. Mirip sekali dengan Taeyeon. Caranya menunjukkan ekspresi tidak suka, caranya bicara dengan nada ketus, semuanya mirip.

“Jae Won-ah, bukankah kau bilang padaku kalau kau sudah memaafkan mereka? Kau sudah memaafkan tapi tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Jadi, sebagai seseorang yang sudah kau maafkan, tidak bisakah kau biarkan kami mengucapkan beberapa hal?” pinta Mr. Lee.

“Aku memang memaafkan, tapi bukan berarti aku mau bertemu apalagi mengobrol bersama temanmu, Sooman-ah,” jawab Mr. Kim pelan.

“Ada apa?” tanya Mrs. Kim, yang baru saja muncul di hadapan mereka semua.

Mrs. Kim memandang seluruh orang yang ada di situ dan betapa terkejutnya ia saat ia mendapati orang tua Luhan. Ia langsung memegang jantungnya dan tidak tahu harus berkata apa selain menatap Mr. Lee dengan pandangan bertanya-tanya.

“Hwa Young-ah,” panggil Mrs. Pu Li.

“Apa yang… Apa kau yang membawa mereka ke sini, Soo?” tanya Mrs. Kim.

“Pulanglah, kita tidak punya urusan apa-apa lagi,” ujar Mr. Kim.

“Jae Won-ah,” panggil Mr. William dengan nada memelas.

“Ahjussi!” panggil Luhan tiba-tiba, membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut.

“Luhan-ah?” tanya Mr. William dengan raut wajah heran.

Mrs. Kim menoleh menatap Luhan, begitu juga dengan Mr. Kim. Ayah Taeyeon itu tahu betul siapa yang baru saja memanggilnya. Anak tunggal dari William dan Pu Li, Luhan. Dia ingat, sangat ingat, kalau ia sering memanggil Luhan dengan panggilan ‘MiLu’, yang artinya adalah bayi rusa. Luhan dan Ji Woong juga merupakan teman dekat seperti mereka. Bahkan Ji Woong sudah menganggap Luhan itu sebagai adik kecilnya. Mereka saling menyayangi, dan Ji Woong selalu melindungi Luhan layaknya seorang kakak kandung. Saking dekatnya, Luhan sering menangis karena harus berpisah dari Ji Woong usai bermain bersama. Mr. dan Mrs. Kim yang melihat itu, merasa sudah menganggap Luhan sebagai anak mereka sendiri. Sejujurnya, Mr. Kim juga sangat menyayangi Luhan.

Mr. Kim menatap Luhan sangat lama. Ada tebersit rasa rindu dalam kedua matanya. MiLu-nya sudah tumbuh menjadi sosok laki-laki tampan yang berwibawa. Ia menunggu Luhan mengucapkan sesuatu.

“Lama tidak bertemu, ahjussi, ahjumma,” sapa Luhan dengan sopan. Ia mendekati Mr. dan Mrs. Kim dan membungkukkan tubuhnya 90 derajat. Ia tersenyum sangat manis pada mereka berdua, senyuman yang tidak berbeda saat dia masih kecil.

Mrs. Kim membuka sedikit mulutnya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, kata-kata yang hendak diucapkannya seperti tertelan begitu saja dalam kerongkongannya. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya, sedih.

“Mungkin kedengarannya aku terlalu percaya diri sekali, tapi aku yakin kalian pasti masih sangat mengingatku, seperti aku masih ingat sekali dengan ahjussi dan ahjumma. Karena sampai sekarang, pun aku tetap menganggap kalian sebagai orang tua keduaku meski kalian tidak menganggapku seperti itu lagi. Itu sebabnya ahjussi, ahjumma. Tolonglah, sekali ini saja. Kumohon, berikan ayahku satu kesempatan lagi untuk menjelaskan masalah keluarga kita. Aku mohon satu kali ini saja. Setelah itu, aku berjanji, ayahku tidak akan pernah lagi menampakkan wajahnya di hadapan kalian. Aku berjanji ahjussi, ahjumma,” pinta Luhan. Ia membungkukkan tubuhnya di hadapan kedua orang tua Taeyeon. “Jebal,”

Melihat Luhan yang tengah memohon seperti itu membuat hati Mr. Kim tergerak. Ia terenyuh. Seseorang yang sudah dianggapnya anak bertingkah laku seperti ini membuat Mr. Kim tidak sampai hati menolak permintaannya. Sedangkan Mrs. Kim menatap Mr. Kim, memohon dengan tatapannya untuk mengabulkan permintaan Luhan. Tampak air mata menggenang di kedua pelupuk mata Mrs. Kim saat mendengar kata-kata tulus dari bibir Luhan. Begitu juga dengan Mrs. Pu Li.

“Duduklah,” ujar Mr. Kim, akhirnya.

Mr. dan Mrs. Kim duduk kembali. Mr. Lee langsung menuntun Mr. William untuk duduk di hadapan Mr. Kim. Mrs. Pu Li dan Luhan juga ikut duduk. Belum sempat Mr. Kim mengatakan sepatah kata, pintu rumah terbuka, memperlihatkan Kim Ji Woong, yang baru saja pulang dari kampusnya. Senyumnya lenyap saat dilihatnya Mr. Lee, Luhan beserta kedua orang tuanya ada di dalam rumahnya. Ia sangat tercengang.

“Ah, kau juga duduklah di samping ayahmu, Woongieh-ah. Duduklah, duduklah,” panggil Mr. Lee dengan ramah.

Luhan memandang Ji Woong, begitu juga dengan Ji Woong. Mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya Ji Woong ikut duduk di samping Mr. Kim.

“Nah, dari mana kita mulai?” tanya Mr. Kim. Air mukanya sedikit demi sedikit mulai menghangat, meskipun tidak seratus persen. Di dalam hatinya dia memang sangat merindukan sahabatnya itu. Dan dia hanyalah manusia biasa, yang belum bisa melupakan masalah yang terjadi di antara mereka.

“Pertama sekali, aku ingin minta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Jae Won-ah. Aku tahu, seribu kata maaf yang keluar dari bibirku tidak akan membuat luka di hati kau dan keluargamu sembuh begitu saja. Seribu kata maaf dariku juga tidak akan membuatmu lupa dengan pengkhianatanku selama ini. Aku sangat tahu diri, duduk berhadapan denganmu saja aku tidak memiliki keberanian. Dan aku tahu, kau tidak menganggapku sahabat, teman, bahkan saudara lagi. Aku memang pantas dihapus dari kehidupanmu.

“Teman macam apa yang tega membuat sahabatnya sendiri jatuh? Pertanyaan itulah yang terus menghantui fikiranku. Jae Won-ah, sebenci apapun kau padaku, sampai detik ini pun kau masih tetap saudaraku,” ungkap Mr. William, dengan ekspresi yang amat sangat tulus. “Seperti yang kukatan tadi. Ribuan maafku takkan membuatmu…”

“Kenapa kau melakukan itu?” sela Mr. Kim. “Kau tahu kau akan mengkhianatiku, keluargaku, dan  merusak hidup kami, tapi kenapa kau tetap melakukannya? Hanya karena uangkah? Kekuasankah?”

“Kau pasti mengerti bagaimana perasaan seorang ayah, Jae. Baozhai brengsek itu menjatuhkanku dan menumbalkanmu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya aku dapat pilihan menjadi gelandangan, aku akan memilihnya daripada aku harus menjerumuskanmu. Tapi aku tidak sendirian, Jae. Aku memiliki Pu Li dan Luhan. Hanya Luhan hartaku yang paling berharga, dan apakah menurutmu aku sanggup melihatnya menderita? Aku tidak punya pilihan apa-apa selain menjatuhkan perusahaanmu, Jae Won-ah. Kau tidak tahu betapa tertekannya aku saat itu. Saat mendengarmu jatuh sakit, kau tidak tahu saat itu aku ingin menanggalkan kepalaku untukmu,”

Luhan menatap ayahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Mendengar penjelasan Mr. William yang sebenarnya membuat hati Luhan bergetar. Sebenarnya ia tidak sanggup untuk mendengarnya sampai selesai, tapi ia harus tetap bertahan di tempatnya.

“Kenapa kau tidak bilang padaku?” tanya Mr. Kim tajam.

“Bilang padamu? Kau fikir bebanku akan berkurang dengan mengatakan semuanya padamu?” Mr. William balik bertanya. “Baozhai Corp. saat itu sangat kuat, hingga aku dengan mudah dijatuhkannya. Dia ingin menginginkan perusahaanmu untuk menambah kekuasaannya. Aku memberikan perusahaan dan semuanya dengan satu rencana jangka panjang dan jangka pendek yang sudah kususun secara rapi. Jae Won-ah, saat perusahaanku sudah bangkit dan menjadi kuat kembali, aku langsung membuat Baozhai Corp. bangkrut sebangkrut-bangkrutnya. Ia shock sampai meninggal. Aku tidak merasa jahat, karena yang sebenarnya dialah yang menjahati kita berdua, terutaman dirimu.

“Dan perusahaan Baozhai, yang jatuh ke tanganku, saat ini sudah kuubah namanya, menjadi Kim Corporation. Dua perusahaan kutangani dengan baik, dan dengan kondisiku yang tidak memungkinkan lagi, aku sudah menyerahkan sebuah nama kepada perusahaan Kim untuk mengangkat nama itu menjadi Presiden Kim Corporation,”

“Jangan katakan padaku, kalau kau menulis nama…”

“Ne, Jae Won-ah. Aku menuliskan nama anakmu, Kim Ji Woong,”

Ji Woong, yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, langsung menengadahkan wajahnya memandang Mr. William. Ia terperanjat. Ekspresi heran dan terkejutnya begitu jelas tergambar di wajahnya.

“Kim Corp. yang ada bersamaku ini memang benar-benar milikmu, Jae Won-ah. Mungkin ada sebagian milik Baozhai, tapi miliknya sudah kuberikan kepada keluarganya saat ia meninggal dunia. Apa yang menjadi milikmu seharusnya dikembalikan kepadamu. Aku memang sudah jauh-jauh hari merencanakan kebangkrutan perusahaan Baozhai dan menyerahkan kembali perusahaan itu padamu, sebagai bentuk permintaan maafku,” jelas Mr. William.

Ia membuka tasnya dan menyerahkan sebuah map yang sangat tebal kepada Mr. Kim. Mr. Kim mengambilnya dengan ragu dan ia memandang William dengan pandangan bertanya-tanya.

“Hanya membutuhkan beberapa tanda tangan Ji Woong sebagai pernyataan persetujuan untuk memimpin perusahaan, maka detik itu juga ia sudah menjadi Presiden Kim Corp., Jae Won-ah. Ah, dan sebaiknya Woongie juga membaca beberapa dokumen yang sudah kupersiapkan di dalam map ini,” lanjut Mr. William.

“Kau tidak perlu sejauh ini…”

“Ani, itu milikmu, perusahaanmu, Jae Won-ah. Bagaimanapun kau menolaknya, sekeras apapun dirimu, perusahaan itu adalah milikmu yang sah. Kau akan dihajar oleh ratusan ribu pegawai perusahaan itu kalau tidak mengizinkan putramu memimpin,” jawab Mr. William. “Dan lagipula, dari awal aku tidak ingin menjatuhkan sahabatku sendiri. Aku hanya ‘meminjam’ perusahaanmu dengan cara yang tidak manusiawi. Meskipun begitu, aku sudah cukup banyak menorehkan luka di keluargamu,”

“Ahjussi, aku tidak bisa memimpin perusahaan,” tolak Ji Woong pelan.

“Tentu saja kau bisa,” jawab Mr. William cepat. “Apa hanya Jae Won dan Hwa Young yang menganggap Luhan anaknya? Pu Li dan aku juga sudah menganggap kau dan Taeyeon sebagai anak-anak kami. Dan aku tahu bagaimana prestasimu dalam hal manajemen, Woongie-ah. Kau bahkan sudah setuju sejak lama untuk menggantikan posisi ayahmu di perusahaan. Itu jugalah yang membuatku semakin bersalah. Aku menutup jalan Ji Woong untuk meraih cita-citanya. Aku akan sangat merasa berdosa, merasa bukan manusia lagi kalau kau menolaknya, Woongie-ah,”

“Terimalah, hyung. Kau dan aku bisa bekerja sama nanti,” ujar Luhan. Ia tersenyum manis pada Ji Woong, meyakinkan Ji Woong untuk mengambil perusahaan itu dan memimpinnya.

“Bulan depan kau sudah bisa pindah ke China, Woongie-ah. Semuanya juga akan diurus oleh Sooman ahjussi,” kata Mr. William.

Mr. Kim menatap Mr. William dengan mata berkaca-kaca. Mr. William menganggukkan kepalanya pada Mr. Kim seraya menitikkan air matanya. Meskipun begitu, ia tetap tersenyum dengan sangat tulus.

Mrs. Pu Li menjatuhkan air matanya tanpa sadar, dan ia buru-buru menghapusnya lalu kembali tersenyum. Sangat ajaib, Mrs. Pu Li sudah banyak mengeluarkan air matanya, dan ia masih mampu untuk menangis lagi. Sedangkan Mrs. Kim tidak menghapus air mata yang membanjiri wajahnya. Ia diam mematung. Hanya matanyalah yang berbicara banyak.

“Ya, Youngie-ah! Kau tidak pernah berubah dari dulu. Tetap cengeng dan mudah sekali menangis,” ujar Mrs. Pu Li, memecahkan kesunyian yang menyelimuti ruangan itu.

Luhan terkejut bukan main mendengar ibunya mengatakan hal seperti itu. Ia tidak ingin melihat reaksi dari ibu Taeyeon, yang mungkin saja tetap dingin pada mereka. Bukan hanya Luhan, Mr. William, Mr. Kim, Ji Woong, bahkan Mrs. Kim juga ikut terkejut. Mr. Lee hanya menyunggingkan senyum simpulnya.

“Kau juga dari dulu tidak pernah berubah! Selalu berusaha tampak cool dan tenang. Selalu menyembunyikan ekspresimu. Tapi itu semua tidak ada artinya bagiku. Aku tahu semua tentangmu, semua kejelekanmu,” balas Mrs. Kim.

“Kau tahu semua tentang kejelekanku dan tidak melupakannya sama sekali? Kenapa? Kita bahkan tidak pernah bertatap muka selama beberapa tahun. Apa ini artinya kau masih tetap menganggapku temanmu?” tanya Mrs. Pu Li. Suaranya tercekat, dan air matanya kembali jatuh.

“Sampai kapanpun,” jawab Mrs. Kim dengan sangat yakin. “Aku tidak pernah membencimu. Aku hanya tidak percaya kau melakukan hal yang diluar dugaanku seperti ini,”

Mrs. Pu Li tersenyum sedih. Ia mendekati Mrs. Kim dan memeluknya dengan begitu erat sambil mengucapkan kata maaf sebanyak-banyaknya. Mrs. Kim mengangguk dan ia membalas pelukan Mrs. Pu Li seraya membelai punggung belakangnya.

Luhan tersentuh. Ia memandangi pemandangan itu dengan senyuman lega luar biasa.

“Apa aku juga boleh memelukmu seperti itu, Will?” tanya Mr. Kim.

“Aku tidak akan segan-segan meninju wajahmu itu, Jae,” jawab Mr. William langsung, membuat Mr. Lee tertawa. Mau tak mau, Ji Woong juga ikut tertawa kecil.

Mrs. Pu Li dan Mrs. Kim melepaskan pelukan mereka lalu sama-sama menghapus air mata mereka. Mrs. Pu Li menghela nafas pendek dan ia menatap wajah suaminya.

“Yeobo, masih ada lanjutannya, ‘kan?” tanya Mrs. Pu Li.

“Ah, ne. Aku masih punya satu hal lagi yang harus aku sampaikan kepada kalian semua sebagai tebusan permintaan maafku,” sambung Mr. William.

“Apa lagi itu?” tanya Mr. Kim heran.

“Seperti yang dijanjikan Luhan tadi, aku tidak akan menampakkan wajahku kepada kalian berdua untuk selama-lamanya,”

“Jangan bercanda, Will,” potong Mr. Kim cepat.

“Aku tidak bercanda, Kim Jae Won. Aku ingin mendonorkan jantungku padamu,”

“Jangan pernah mengucapkan hal seperti itu atau aku tidak akan pernah memaafkanmu, William,” ancam Mr. Kim geram.

“Hidupku tidak akan lama lagi. Aku saja sudah susah untuk berdiri, berjalan, bahkan mengingat karena penyakit kanker otak ini. Stadium 4. Dokter memvonis hidupku tidak akan lama lagi. Aku buru-buru melaksanakan rencanaku bahkan membuat hidup Luhan menjadi suram. Kau mungkin pernah dengar kalau aku sekarang bertempat tinggal di Canada. Bukan untuk sebuah pekerjaan, tapi untuk menjalani pengobatan. Kalau aku tidak minta maaf dan memberi penjelasan sekarang, aku takut aku tidak mempunyai kesempatan untuk bernafas lagi,”

“Dokter tidak bisa menentukan hidupmu, Will! Jangan bertindak sejauh ini, jebal. Aku benar-benar sudah memaafkanmu,” tolak Mr. Kim dengan nada memelas.

“Aku sudah merasa kematian sudah menungguku, Jae Won-ah. Dia menungguku sampai aku mendonorkan jantung ini padamu. Sakit jantungmu sudah sangat parah dan kau tidak mau melakukan terapi apapun karena aku. Aku yang sudah merampas semua milikmu ini sudah sepantasnya menyerahkan jantungku ini padamu. Dengar, kalau kau meninggal, kau akan membuat hidup keluargamu sengsara. Ji Woong dan Taeyeon masih membutuhkan sosok ayah di hidup mereka, Jae. Kau tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja untuk saat ini. Mereka masih perlu bimbinganmu. Saat nyawa dan hidupku terancam, aku menyeret namamu. Kini saatnya kita bergantian,” jelas Mr. William dengan raut wajah sungguh-sungguh.

“Pu Li dan Luhan masih membutuhkanmu juga, Will,” lirih Mr. Kim.

“Aku justru tidak ingin merepotkan Pu Li. Selama aku sakit, Pu Li yang selalu kerepotan mengurusi diriku,” jawab Mr. William setengah bercanda. “Tolong terimalah pendonoran ini, Jae. Ji Woong butuh dirimu untuk mengajarinya banyak hal mengenai perusahaan. Dan… Jangan khawatir masalah Luhan. Kau bisa menggantikanku dengan sangat baik, Jae Won-ah,”

“Kami sudah menghubungi pihak rumah sakit. Mereka setuju dan hari minggu nanti akan langsung dilaksanakan pencangkokkannya. Asalkan ada persetujuan darimu, Jae. Kami sudah menerima surat dari dokternya,” lanjut Mr. Lee. “Fikirkan Hwa Young, Ji Woong, dan Taeyeon juga, Jae Won-ah. Mereka ingin bersamamu lebih lama karena kau menghabiskan sebagian waktumu untuk bekerja di New Zealand,”

“Aku sudah banyak mengalami kesenangan selama aku mengambil hartamu, Jae Won-ah. Dan sekarang, giliranmu untuk bersenang-senang selama sisa hidupmu dengan mengambil jantungku ini,” lanjut Mr. William. “Ya, aku minta tolong sebagai seorang teman padamu, Jae. Terimalah,”

~~~

“Pasti berat, ya?” tanya Ji Woong pada Luhan.

Mereka berdua sedang duduk di sebuah bangku panjang berwarna cokelat yang berada di dalam taman bermain yang tidak jauh dari rumah Taeyeon.

Setelah Mr. Kim menyetujui adanya pendonoran jantung, baik dari keluarga Luhan maupun keluarga Taeyeon asyik bercengkerama, mengenang masa lalu mereka dan tertawa begitu bahagianya, seakan-akan ingin mengenang detik-detik terakhir kebersamaan mereka bersama Mr. William. Luhan awalnya hanya duduk manis mendengarkan obrolan mereka. Namun, matanya tak sengaja menangkap Mr. Kim yang mengusap air matanya diam-diam saat ia yakin tak ada yang melihat.

Luhan tahu kenapa Mr. Kim menangis. Ia sangat tahu. Bahkan dirinya sendiri pun ingin menangis ketika dirinya melihat ayahnya tertawa begitu senangnya untuk pertaman kali. Itu sebabnya Luhan permisi pergi keluar. Dan ternyata Ji Woong mengikutinya.

“Apa kita ini memang ditakdirkan untuk bersama, hyung?” Luhan balik bertanya.

Ji Woong menatap Luhan dengan pandangan bertanya-tanya.

“Kita sudah seperti kakak adik saat umurku masih belia. Kita terpisah dan aku melupakanmu. Kita bertemu kembali saat kau bekerja sebagai bartender dan kau masih mengenalku dengan baik, sedangkan aku tidak. Tapi aku merasa kau mengenalku. Dari caramu memandangku, dari gerak-gerikmu. Pandanganmu tidak memancarkan aura kebencian saat itu, justru aku menafsirkannya kalau cara pandangan hyung waktu itu adalah cara pandang kakak ke adiknya. Sekarang, aku mencintai adikmu, menyayanginya, dan keluarga kita damai kembali. Kedepannya juga kau dan aku akan bekerja sama dalam membangun kedua perusahaan kita, hyung,” jelas Luhan panjang lebar.

Ji Woong tersenyum dalam diam saat ia mendengar ocehan Luhan. Ia menatap langit dan sedang membayangkan sesuatu. “Kau benar. Kita seperti punya ikatan takdir. Ani, kita memang punya ikatan itu. Aku tidak pernah sekalipun berfikir untuk membencimu waktu itu, Lu. Kau adikku, bagaimana bisa aku membencimu? Hanya saja, aku bingung harus mulai dari mana,” ujar Ji Woong.

“Ikatan takdir,” gumam Luhan. “Hyung juga mencintai sahabatku. Irene. Atau… biasa kau panggil dengan Hyunnie?”

Ji Woong mengalihkan wajahnya ke Luhan, sedikit terkejut. “Kau tahu?”

“Irene sejatinya adalah monster cantik yang mengerikan di sekolah, sebelum dia berencana pindah. Tapi setelah bertemu dengan hyung, dia berubah. Berubah menjadi dirinya yang dulu. Imut, menggemaskan, dan polos,” jawab Luhan.

“Dia akan bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Tinggal bersama dengan orang tuanya, dia pasti tidak akan kesepian lagi,” ucap Ji Woong dengan yakin. “Jadi… Sepertinya berat, ya harus mengikhlaskan kepergian Will ahjussi. Aku tahu kau belum terima,”

Boo, kau salah hyung. Aku sudah bisa menerima kepergian ayahku. Memang menyakitkan begitu tahu penyakit yang selama ini dideritanya, alasannya memperlakukanku lebih keras dari anak lain. Tanpa sadar ada banyak hal yang bisa kupelajari dari semua perlakuannya kepadaku. Meskipun aku sangat menyesal karena pernah membencinya. Tapi, aku tidak ingin mengecewakannya. Dia sudah menganggapku dewasa,”

“Kau memang sudah dewasa,” tutur Ji Woong. “Tapi bukan berarti orang dewasa tidak menangis, ‘kan?”

“Aku sudah lelah menangis. Air mataku tidak ada lagi,” jawab Luhan sambil tertawa.

Ji Woong ikut tertawa dan sejenak kemudian mereka terdiam. “Kau akan pergi ke Canada hari senin, benar?”

“Ne, saat pendonoran itu terjadi, aku terbang ke Canada untuk mengabulkan permintaan terakhir ayahku,”

“Hari senin? Bukankah itu festival olahraga? Bagaimana dengan Taeyeon? Dia sudah tahu?” tanya Ji Woong.

“Aku akan datang sebentar ke festival itu, melihat wajahnya sebentar, dan langsung pergi. Aku tidak berencana untuk mengatakan kepergianku hari senin itu. Dia akan menuntut penjelasanku. Biarlah hyung dan yang lainnya yang menjelaskan. Aku akan memberitahunya lewat telepon. Lagipula aku tidak selamanya tinggal di Canada, hyung. Aku masih harus menyelesaikan studiku,”

Ji Woong mengangguk pelan. “Jadi, aku tidak perlu bilang di mana dirimu pada Taeyeon nantinya?”

“Tidak perlu, hyung. Jangan beritahukan keadaanku. Dia akan pusing kalau mendengar dua kabar besar sekaligus. Setidaknya dia harus dengar dulu kabar ayahnya sudah tidak akan merasakan sakit lagi,” jawab Luhan.

“Ne~ Kalau begitu kau harus cepat pulang sebelum adikku terlalu mencemaskanmu. Dia akan gembira kalau ayahnya sudah sembuh. Di sisi lain, dia juga akan tahu siapa pendonornya, dan berjumpa dengan ibumu. Dia tidak akan merasa gembira lagi setelah itu. Dia akan mencari dan bertanya-tanya di mana keberadaanmu. Yang ada hanyalah, kau membuatnya menderita,” kata Ji Woong.

“Secepat mungkin aku akan pulang,” jawab Luhan. Wajahnya menunjukkan keyakinan yang mendalam, dan Ji Woong hanya bisa tersenyum simpul memandang Luhan, berharap apa yang dikatakannya benar.

-To Be Continued-

Mianhae kalau ceritanya rada cepet, kurang jelas, kurang ngena, dan semacamnya. Aku ngejar deadline dan sebelum feeling ini ngilang, aku pengen cepet-cepet nyelesaiin ff iniii, ngga mau buat para readers menunggu hahah padahal emang sering buat nunggu yaaa hikss
okeee siyusun buat another part-nyaa. Diusahain cepet kalo readers masih minat^^

Sorry typo^^

Advertisements

178 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 14)

  1. Appanya luhan,mendonorkan jantung k appanya taeyeon demi kebahagiaan dua keluarga
    Luhan meninggalkan taeyeon untuk berapa lama…
    Thor,chapter selanjutnya kapan d publish…
    Semoga tidak lama lagi chapter selnjutnya
    klo bisa sekalian untuk chapter my flower boss d piblish barengan dengan my princess lim taeyeon
    semangat thor…
    pertimbangan apa yang membuat author menunda publish chapter selanjutnya…
    Berbagi keluh kesahlah dengan kami para readers

  2. Eonni, chapter selanjutx kapan keluar?
    D tunggu dengan sepenuh hati dari penggemar ceritamu untuk semua kelanjutan cerita yg masih menggantung endingx…….
    fighting….
    happy new year

  3. Hiks, gila. Aku nangis dua kali 😢
    Gak nyangka banget. Ternyata gutu masalahnya. Terlalu banyak rahasia yg malah bikin orang2 salah paham.
    Ini cerita terkeren yg pernah aku baca. Castnya taeyeon lagi, sumpah seneng banget!!
    Cepet lanjutin ya thor. Gak sabar nunggu kelanjutannya. Aku baca ff ini sambil eengerin lagunya luhan yg author rekomendasiin. Dan sukses buat aku nangis 2 kali 😢😢
    Fighting thor!!

  4. ahhhhh Kangen banget sama ff ini..sampesampe aku baca dari part 1 lagi hehehehe
    Pokonya kangen banget…pengen cepetcepet ada kelanjutannya…
    Heheheh pasti author lagi sibuk ya?..
    FIGHTING buat chap selanjutnya thor :* 🙂

  5. huuuuuuuu saking kangenya sama ff ini aku sampe baca berkalikali thor kereennn banget … selalu nangis setiap kali baca chapter ini hiks 😥
    Author aku selalu menunggu kelanjutannya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s