Fall in Love with You (Chapter 4)

flwu3

Author : RYN

Length : Multichapter

Rating : M

Cast :

Taeyeon SNSD

Sehun EXO

Genre : Romance, Fluff

This my own idea

Any similarities with other stories is pure coincidence

Please do not plagiarize and claim as your own

I have enough trouble writing chapter and,

I don’t need someone stealing my hardwork.

 

*Untuk tulisan dalam huruf italic adalah flashback.

 

Chapter 4

 

Taeyeon mengingat pernah sangat membenci pria itu. Masalah di antara mereka sudah selesai sejak beberapa tahun yang lalu—setidaknya begitu yang mereka berdua pikirkan—terakhir kali pria itu menawarkan bantuan yang terpaksa diterimanya, dan juga waktu itu ia berharap tidak akan bertemu lagi dengannya, akan tetapi, Seoul rupanya lebih kecil dari kelihatannya.

Joonmyun sudah jauh berubah. Seperti yang ia lihat, pria itu makin matang, terlihat sedikit berbeda dari usia sebenarnya. Meski begitu, ia masih tidak menyukai gaya dan kebiasaannya, angkuh dengan senyuman yang selalu nampak punya arti menggodanya. Ia sempat menolak saat pria itu ingin mengajaknya berbincang-bincang sembari minum kopi di sekitar itu, tetapi akhirnya ia mengikutinya.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Joonmyun sambil mengulas senyum.

“Aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat.” Taeyeon menjawab acuh tak acuh. Jujur saja, ia tidak begitu suka berlama-lama bersama pria itu. Hanya membuat perasaannya tidak enak.

Joonmyun terkekeh pelan dan menggeleng, “Kau tidak berubah. Masih keras kepala seperti dulu.”

Kening Taeyeon langsung mengernyit, mukanya masam. Ia mengangkat kepala sedikit hanya untuk memastikan pria itu mendapat pesannya. Lalu ia melipat tangan. “Kukira kita sudah sepakat untuk tidak bertemu lagi.”

“Apa yang kau harapkan,” Joonmyun menyandarkan punggungnya seraya menyilangkan lututnya. “Ini Seoul. Apapun bisa terjadi disini. Seperti pertemuan kita.” Ia mengakhiri dengan seringaian tipis.

Taeyeon memalingkan muka. Ia mulai tidak suka dengan nada bicaranya.

“Ah,” Joonmyun akhirnya paham. Senyumnya mengembang lebar. “Jadi karena itu kau terlihat sangat panik tadi.” Sorot jahil dalam matanya sempat membuat Taeyeon merasa tidak nyaman.

Gadis itu lantas menyesap kopinya dalam diam. Pembicaraan ini membuatnya gelisah. Joonmyun bisa melihat itu dengan sangat jelas, terlihat dari matanya yang tidak fokus dan cara duduknya yang tidak tenang.

“Tenang saja, aku tidak pernah memberitahu Sehun.” Ujarnya yang hampir membuat Taeyeon menjatuhkan cangkir dari tangannya.

Gadis itu menatap Joonmyun dengan pandangan heran. Pria itu tampaknya bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Sampai saat ini aku masih menepati janjiku, Taeyeon.” Joonmyun menghela nafas dalam-dalam. Sepintas kilau matanya meredup seiring raut wajahnya yang berubah lain.

Taeyeon seharusnya merasa lega, namun kali ini tidak bisa. Gantian dirinya yang tidak bisa membalas tatapan pria itu usai mendengarnya. Mendadak Taeyeon merasa malu terhadap dirinya sendiri. Terlalu banyak yang terjadi karena ketidakpeduliannya dan ia tidak bisa seterusnya melimpahkan kesalahannya pada orang lain.

Taeyeon tersenyum miris.

“Aku senang kau baik-baik saja. Tidak kusangka kita akan bertemu lagi.” Joonmyun berujar setelah beberapa lama. Sengaja mengalihkan pembicaraan karena suasananya mulai terasa canggung.

“Yah, akupun tidak menyangkanya.” Taeyeon mengangguk pelan tanda setuju. Ia mencoba untuk tersenyum meski akhirnya kelihatan kaku, “Kudengar, kau tinggal di London.”

Joonmyun mengerjapkan matanya lalu menyipit, dengan lagak serius ia berujar, “Aku tidak tahu kalau kehidupanku membuatmu tertarik.”

“Jangan bercanda.” Taeyeon langsung membantah dan menjelaskan, “Aku hanya sempat mendengarnya dari Junyong. Kau tahu gadis yang selalu mengecat rambutnya dengan warna pink di kelas kita? Kami bertemu beberapa minggu yang lalu. Dia sudah menikah dengan Mohyuk.”

Pembicaraan mereka teralih dengan cepat. Tiba-tiba saja mereka sudah asyik membicarakan masa lalu.

“Mohyuk? Mohyuk temanmu?” Tatap Joonmyun tak percaya. Taeyeon mengangguk. “Woah, tidak kusangka. Mereka pasangan yang serasi.” Lantas ia terkekeh.

“Apa maksudmu?” Taeyeon menaikkan sebelah alisnya, “Kau tidak sedang mencela orang ‘kan?” Tanyanya dengan pandangan sinis.

Joonmyun berjengit, lalu akhirnya mengusap belakang lehernya sambil tersenyum meminta maaf, “Aku hanya bercanda.”

“Jangan menilai sembarangan. Hanya karena dulu dia anak yang nakal, belum tentu sekarang pun seperti itu.”

“Aku tahu. Aku tahu. Maaf.” Joonmyun mengangkat tangan, mengalah. Selang beberapa saat, senyumannya perlahan memudar berganti dengan raut serius. “Jujur saja, selama beberapa tahun ini aku masih memikirkanmu.”

Taeyeon kaget mendengarnya. Raut wajahnya berubah kelam, jari jemarinya mengepal. Ia memandang pria itu dengan tatapan peringatan agar tak melanjutkan kata-katanya.

“Aku tahu, aku sebaiknya tidak mengungkit hal ini lagi.”

“Lalu kenapa?” Taeyeon menyela tegas.

Joonmyun mengulas senyum maaf, “Aku hanya ingin mengatakan, aku senang kita masih bisa berbincang seperti ini. Awalnya kukira kau sudah tidak membenciku.”

Taeyeon tersadar. Joonmyun nampaknya terluka dengan sikapnya. Taeyeon diam seribu bahasa, pikirannya melayang.

Ada jeda yang panjang. Joonmyun tidak tahu lagi harus membicarakan apa setelah menyinggung hal yang sensitif tadi. Ia seperti kehabisan kata-kata. Kemudian, gadis dihadapannya tiba-tiba bersuara.

“Aku penasaran Joonmyun, mengapa kau tidak memberitahu Sehun?”

Joonmyun sejenak memandanginya, bertanya-tanya mengapa gadis itu ingin tahu. Tapi ia menjawabnya. “Karena kau yang memintaku.”

Itu memang benar. Taeyeon memintanya untuk tidak mengatakannya. Tapi benarkah hanya karena gadis itu yang memintanya? Sampai saat inipun ia sendiri tidak tahu mengapa ia melakukannya.

Taeyeon menggeleng lalu tertunduk menatap cangkir kopi di atas meja. Isinya kini tinggal setengahnya, cukup mengejutkan bagi seseorang yang tidak menyukai kopi sepertinya. Sejak kapan ia terus meminumnya. Taeyeon menepis pikiran itu sementara dan fokus ke dalam pembicaraan mereka.

“Tidak.” Ujarnya pelan, “Ini bukan hanya karena permintaanku.” Taeyeon mengangkat kepalanya lagi dan memandang pria di hadapannya dengan tidak yakin, “Aku mengenalmu Joonmyun, kau bukan orang seperti itu. Orang yang menjadikan sesuatu yang seharusnya rahasia sebagai lelucon tidak akan mungkin bisa menyimpan rahasia seseorang selama itu.”

Taeyeon tak sadar meninggikan suaranya. Ia baru menyadarinya setelah mengetahui pandangan pelanggan lain ke arah meja mereka.

“Lupakan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan semua itu.” Ucapnya kemudian yang di sertai hembusan nafas.

“Kau sendiri yang bilang, ‘hanya karena dulu dia anak yang nakal, belum tentu sekarang pun seperti itu’.”

“Aku terkesan jika kau benar-benar melakukannya.” Taeyeon tersenyum sinis.

Joonmyun menghela nafas dalam-dalam, “Aku sudah mengatakannya ribuan kali padamu, aku sungguh-sungguh menyesal. Ini juga berat bagiku.”

Taeyeon tak ingin mendengarnya lagi. Semakin lama berbicara dengannya, semakin terbuka lebar pula lukanya.

“A-Aku harus pergi sekarang.”

“Kudengar kau sekarang bekerja pada Sehun.”

Taeyeon seketika mengurungkan niatnya beranjak dari tempat duduknya. Pandangan tajam Joonmyun menganggunya. Mendadak ia jadi gugup.

“Tsk, jadi informasi itu tidak salah.” Bibir pria itu tertarik ke atas.

Untuk suatu alasan yang tak ia ketahui, Taeyeon bergidik tidak nyaman. Ia sengaja mengalihkan pandangannya ke tempat lain sekedar menghindari matanya yang seakan mengejeknya. Ia tidak mengira Joonmyun mengetahuinya.

“Bagaimana kau bisa tahu?” Taeyeon mencoba tetap tenang.

“Aku cukup terkejut begitu mengetahuinya. Tidak kukira kau akan melakukannya.”

“Tidak ada alasan lain. Aku membutuhkan pekerjaan ini. Jangan mengira yang macam-macam.” Cetus Taeyeon dingin.

“Takdir itu menggelikan.” Joonmyun tersenyum.

Taeyeon bergidik, ada sesuatu tentang senyuman itu yang membuatnya berdebar.

“Sudahlah Joonmyun. Aku tidak akan membahas ini denganmu.”

Pertemuan mereka cukup sampai disini, Taeyeon tidak berharap akan bertemu lagi dengannya untuk yang kedua kalinya. Kenyataannya Joonmyun mengejarnya hingga keluar.

“Apa lagi yang kau inginkan?!” Sentaknya seraya mengibaskan tangan Joonmyun dari lengannya. Ia tidak ingin pria itu menyentuhnya bahkan mendekatinya. Itu membuatnya lemah oleh trauma.

“Mengapa kau belum bisa memaafkanku, Taeyeon?” Joonmyun bertanya dengan suara lirih. Pandangannya teduh. Taeyeon sungguh tidak ingin melihatnya memelas. Itu akan sia-sia saja.

“Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Tindakanmu dan caramu menatapku seakan masih membenciku.” Pria itu memberi alasan.

“Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak nyaman berada di dekatmu.” Taeyeon diam sejenak, lalu melanjutkan, “Dengar Joonmyun, apa yang kau lakukan tidak ada lagi pengaruhnya bagiku. Aku memang membencimu, belum sepenuhnya memaafkanmu, tapi itu sudah lama sekali. Sudah 5 tahun berlalu dan aku sudah melanjutkan hidupku. Kau pun harus seperti itu. Lupakan kalau kau pernah mengenalku karena aku tidak ingin berhubungan denganmu. Aku terluka, Joonmyun. Sampai saat ini pun rasanya masih terasa sakit. Seperti yang kau katakan, ini juga berat bagiku. Jika kau sungguh menyesal, tolong anggap permintaanku ini sebagai kewajiban.”

Joonmyun tidak mengatakan apa-apa. Taeyeon menganggap pria itu akhirnya mengerti.

“Lalu bagaimana dengan Sehun?”

Taeyeon berhenti. Pertanyaan itu sesaat membuatnya membeku. Ia pun menoleh. Joonmyun menatapnya dengan pandangan serius yang sulit ia artikan.

“Apa kau tahu apa yang sudah ia alami selama beberapa tahun belakangan ini?”

“Apa maksudmu sebenarnya?” Taeyeon berbalik sepenuhnya.

“Kau tidak tahu kondisi Sehun yang sebenarnya, Taeyeon. Hatinya sangat lemah. Yang kumaksud lemah adalah benar-benar lemah.”

Bagaikan tertohok, muka Taeyeon langsung memucat. Mendadak jantungnya berdebar keras seiring kerut-kerut khawatir muncul di wajahnya. *Sehun.* Pikirannya mulai dipenuhi prasangka negatif.

“Joonmyun…a-aku…”

“Pastikan kau tidak akan pernah melukainya lagi, Taeyeon.”

“Joonmyun tunggu!” Taeyeon mengejarnya. “Kau tidak menjelaskan apa-apa padaku! Aku ingin tahu yang sebenarnya.” Desaknya.

Joonmyun menggeleng kecil, pelan-pelan melepaskan tangannya. “Nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Biar sepupuku itu sendiri yang memberitahumu, itu kalau dia memang ingin memberitahumu.”

Bahu Taeyeon langsung mengendur. *Itu tidak mungkin. Saat ini pun ia masih membenciku. Bagaimana mungkin aku menanyakannya langsung padanya*

“Apa yang sebenarnya terjadi, Sehun?” Bisiknya lirih. “Apakah sangat parah selain melupakan ingatanmu?”

“dua tahun lalu, aku mulai mengingatnya. Tidak banyak awalnya, tapi seiring waktu ingatan itu sepenuhnya kembali.”

“kejadian itu masih membekas dalam ingatanku sampai sekarang. Aku tidak mungkin melupakannya begitu saja.

“kejadian itu adalah kesalahanmu.”

“kau mempermainkan perasaanku. Aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja.”

Mengingat semua perkataan Sehun padanya membuat sekujur tubuh Taeyeon melemas hingga Joonmyun harus menopangnya. Dan Taeyeon mulai terisak kembali menyalahkan diri.

– – –

Dalam perjalanan pulang, Taeyeon masih tak bisa melupakan kata-kata Joonmyun. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar kartu nama.

“Jika kau sangat ingin mengetahuinya, temui aku disini. Aku akan memberitahumu sesuatu yang menarik tentang Sehun.”

*Apa maksudnya?*

Saat itu, Joonmyun tersenyum mengatakannya. Entah mengapa, Taeyeon merasa ragu padanya. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan saat menatap matanya dan kata-katanya, daripada terdengar tulus, lebih terkesan seperti memiliki maksud yang tersembunyi.

Hotel Reddish

CEO Kim Joonmyun.

 

Waktu melihat tulisan bertinta warna emas di kartu nama itu, Taeyeon sempat kaget sampai ternganga. Ia menatap kertas kecil itu dengan pandangan tak percaya, lalu beralih melihat Joonmyun. Jadi Joonmyun adalah seorang Ceo sebuah hotel? Kenapa ia tidak pernah mendengarnya? Tetapi kemudian, ia tersadar.

“H-Hotel?! Apa kau bercanda?!”

Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh. “Aku akan memberitahumu di tempat itu. Tenang saja, aku tidak punya pikiran yang lain selain membantumu. Kau bisa memegang kata-kataku.”

Ch, Taeyeon mendengus kasar. Terakhir kali pria itu juga mengatakan kalimat seperti itu. Nyatanya malah membuatnya berada dalam masalah. Taeyeon menggeleng keras. Tidak. Ia tidak akan tertipu lagi.

“Tidak, terima kasih. Aku akan mencari tahu sendiri.”

“Terserahlah. Kau tahu siapa yang kau hubungi nanti jika pencarianmu menemui jalan buntu.” Pria itu lalu menyeringai sinis. “Nomorku ada disitu.”

Taeyeon tercengang, perasaannya langsung tidak enak. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak bisa mempercayai Joonmyun begitu saja, tetapi pria itu adalah sepupu Sehun yang pasti lebih mengetahui segalanya tentang Sehun. Taeyeon berhenti dan mendesah panjang sebelum kembali memasukkan lembaran kertas itu.

“Oh ya, Minggu depan kelas kita akan mengadakan reuni. Kau akan datang? Kita bisa pergi bersama. Maksudku, kau bisa menumpang di mobilku.” Joonmyun meralat cepat saat Taeyeon melayangkan pandangan tajam padanya.

Taeyeon langsung menolaknya mentah-mentah.

Tidak terasa waktu yang ia habiskan diluar cukup panjang, Taeyeon baru sadar setelah melihat jam tangannya. Hampir 3 jam lamanya, mungkin Sehun sekarang sudah bangun. Memikirkan itu saja rasanya perutnya seperti di bolak balik. Apakah pria itu mencarinya? Karena berdasarkan pengalamannya, Sehun paling tidak suka di tinggal kalau sedang sakit. Dulu sekali ia pernah menanyakan alasannya, pria itu menjawab ia tidak ingin kesepian dan memintanya terus berada di sampingnya sampai terbangun.

Taeyeon menggeleng keras, ia harus segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin Sehun akan mencarinya. Pria itu pasti mengira ia sudah pulang. Lalu bagaimana caranya ia bersikap bila nanti berhadapan lagi dengannya? Taeyeon menengadahkan kepalanya ke atas memandangi gedung apartemen yang berdiri megah di hadapannya. Pandangannya kemudian sedikit bergeser ke kanan.

*Kira-kira, apartemen Sehun berada disana* Tunjuknya dalam hati, lalu ia tersenyum geli, sadar tingkahnya sedikit konyol dengan menduga-duga letak apartemen Sehun. *Sebaiknya aku sekarang* Ia membatin.

“Oi mantan asisten!” Sebuah suara memanggilnya.

Taeyeon mengerutkan keningnya dan menoleh. Sebuah mobil putih parkir di pinggir jalan, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kerutannya semakin dalam, mobil itu terlalu familiar baginya. Taeyeon masih berdiri di tempatnya ketika kaca mobil di turunkan dan seseorang itu memperlihatkan wajahnya. Sontak saja Taeyeon melambaikan tangan sambil tersenyum sumringah. Sudah lama ia tak bertemu dengannya, terakhir kali ia melihatnya saat wawancara di TV.

“Kau tahu oppa, memanggilku dengan mantan asisten itu kedengarannya kurang enak.” Taeyeon berlagak cemberut saat orang itu berdiri di depannya.

“Benarkah?” Woobin sengaja menggodanya, tawa ringan langsung keluar dari mulutnya. Lantas iapun membuka kacamatanya.

Taeyeon terperangah. Baru beberapa minggu tidak bertemu, pria itu menjadi semakin mempesona. Tidak heran banyak gadis mengidolakannya. Taeyeon akhirnya tersenyum.

“Jadi bagaimana kabarmu, oppa? Kau terlihat lebih bersinar sekarang. Juga makin tampan.” Tambahnya di selingi gurauan tawa.

Woobin seketika menangkup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya, lalu mengedip-ngedipkan mata. “Jinjja?” Tanyanya dengan gaya menggemaskan yang dibuat-buat.

Tawa Taeyeon pecah. Ia tidak berharap akan melihat tingkahnya yang satu ini lagi.

“Oppa, kalau fansmu melihatmu, mereka pasti akan berteriak histeris. Aigoo, kyeopta!” Saking gemasnya, Taeyeon sampai mencubit pipinya.

“Yah!” Woobin mengerutkan muka sambil tangannya mengusap-usap bekas cubitan itu. “Sejak kapan kau menjadi begitu kuat? Makanmu pasti banyak.”

Taeyeon mendelik tajam, lalu melayangkan pukulan ringan pada lengannya. Woobin pura-pura meringis.

“Kau masih bekerja pada Sehun ‘kan?” Tanya Woobin kemudian.

Taeyeon mengangguk, tanpa sadar senyumnya mengulas. Woobin sempat melirik kedua tangan Taeyeon yang tidak kosong. Sebuah kantung besar berisi bahan makanan dan sebuah kantung kecil, entah apa isinya. Tidak mungkin jika gadis itu membelinya untuk dirinya sendiri. Woobin membatin. Melihat ekspresi heran Woobin, Taeyeon mengikuti arah pandangannya.

“Semua ini untuk Sehun. Dia sedang sakit jadi aku membeli obat untuknya.” Ujarnya.

“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja?”

“Dia takut ke rumah sakit. Jika aku memaksanya, yang ada dia akan kabur dari sana.”

Woobin semakin heran. Ada yang berbeda dari cara Taeyeon memberitahunya, seolah gadis itu sudah mengetahui segalanya tentang Sehun. Bukan hanya itu, mata gadis itu saat membicarakannya pun berbeda, wajahnya berseri-seri oleh senyuman.

Taeyeon lalu teringat sesuatu. “Kau mau kemana, oppa? Ada perlu di sekitar sini?”

“Kau tidak tahu? Aku tinggal disini.”

Taeyeon mengerjapkan matanya, “Di apartemen ini?!” Nadanya setengah terkejut setengah senang.

Woobin mengangguk dan terkekeh melihat reaksinya. “Aku sudah dengar Sehun juga tinggal disini.”

“Yah, begitulah.” Taeyeon menjawabnya dengan helaan nafas, tetapi begitu Woobin mengerutkan kening padanya, ia segera menggeleng dan memasang senyum.

“Bagaimana pekerjaanmu? Aku juga dengar Sehun sulit untuk di ajak bekerja sama.”

Taeyeon tersenyum simpul. “Itu tidak benar. Pekerjaanku baik-baik saja sejauh ini. Aku menikmatinya.”

“Baguslah. Aku turut senang. Jangan sungkan mengadu padaku kalau anak itu memberimu kesulitan. Aku bisa bilang pada manager agar memindahkanmu ke orang lain.”

*Memindahkanku?* Taeyeon agak terkejut mendengarnya, tidak pernah terpikirkan olehnya kalau yang seperti itu mudah saja dilakukan. Mungkin di awal-awal ia bisa memintanya tetapi sekarang, setelah ia merasa nyaman dan mulai sedikit memahami keinginan Sehun, ia tidak bisa langsung meninggalkannya begitu saja. Sebagian dirinya menahannya. Walaupun Sehun terkadang masih bersikap dingin padanya, ia sudah terbiasa dengan kehadirannya, bersamanya. Lagipula, tidak akan ada bedanya ia pergi atau pun tidak.

Taeyeon hanya mengangguk menyatakan bahwa ia mengerti maksudnya dan berterima kasih atas itu.

“Oh ya, aku lupa mengucapkan selamat padamu, oppa.” Katanya. “Selamat atas debut filmmu.”

Woobin tersipu, sebaris senyum membentuk di bibirnya. “Terima kasih.”

“Kau jadi aktor sekarang. Pasti semakin banyak gadis-gadis yang mengejarmu.” Goda Taeyeon dengan tawa ringan.

Woobin mendesah, “Beban kerjaku bertambah dan aku tidak bisa lagi tidur sesuka hatiku. Gaah…Aku sangat lelah.” Keluhnya.

“Setidaknya kau punya manager yang mengurus segalanya, oppa.”

“Terkadang dia membuatku gerah. Dia pria, tapi sangat cerewet sepertimu.”

Taeyeon memelototinya. Woobin hanya memberinya cengiran lebar lalu melanjutkan, “Sayangnya aku tidak bisa mempekerjakanmu sebagai managerku.” Mukanya berubah masam.

“Walaupun aku yang jadi managermu, aku juga akan bertindak tegas padamu, oppa.”

“Tsk, lebih baik orang yang ku kenal dekat daripada orang lain ‘kan?”

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menahan senyum yang sebentar lagi mengembang karena merasa geli.

“Tidak lama lagi Sehun juga akan sepertiku.” Ujar Woobin seraya memakai kembali kacamatanya.

Seperti di sentakkan sesuatu, Taeyeon seketika terdiam dan memandang pria itu dengan penuh tanya.

“Kau belum tahu ya?”

Taeyeon hanya menggeleng.

“Wah, aneh saja kalau kau tidak tahu. Anak itu sudah banyak mendapat tawaran iklan dan beberapa drama juga film dengan bayaran yang lumayan besar. Tetapi sepertinya ia tidak begitu tertarik. Ia menolak semua tawaran itu.”

“Dia menolak semuanya?!” Taeyeon ternganga.

Woobin mengangguk, lantas berpikir sejenak. “Mungkin juga karena itu.” Gumamnya.

“Eh?” Taeyeon tak mengerti.

Woobin menoleh padanya dan tersenyum memperlihatkan eye smilenya. “Kalau Sehun menerima tawaran itu, dia akan menjadi sibuk sepertiku. Dan yang pasti, perusahaan akan memberinya seorang manager baru menggantikanmu. Kau sudah tahu peraturannya ‘kan?”

Taeyeon ragu-ragu membenarkan dalam hati. Ia pernah mendengarnya. Asisten manager seperti dirinya hanya diberikan tugas mendampingi seorang model, seperti pembantu yang mengurus segala keperluannya, mereka tidak memiliki wewenang terhadap aktor maupun aktris. Akan tetapi, jika memang hanya karena alasan yang seperti Woobin katakan, rasanya tidak mungkin Sehun sampai menolak semuanya.

Woobin pergi beberapa menit setelahnya. Mereka berjanji akan minum bersama dan Woobin bersedia mentraktirnya di kala sudah tidak ada kesibukan. Sepertinya itu akan memakan waktu yang lama dikarenakan peran Woobin sebagai aktor sudah menuai ketenaran.

Taeyeon menekan tombol kecil di samping pintu dan lift mulai bergerak ke atas. Ia menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu menghembuskan nafas pelan. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan. Bukan hanya tubuhnya, pikirannya pun terasa letih. Ia pun melirik ke atas seraya kakinya mengetuk-ngetuk lantai di bawahnya, menunggu dengan tidak sabar nomor lantai tujuannya berwarna kuning.

Ding.

Pintu terbuka, Taeyeon berjalan keluar menuju apartemen Sehun. Ayunan langkah kakinya yang pelan menjadi agak tergesa begitu memikirkan Sehun yang mungkin sudah bangun. Langkah kakinya berubah pelan kembali setelah jarak antara dirinya dengan pintu apartemen Sehun semakin dekat dan akhirnya berhenti. Taeyeon tidak lantas masuk, ia berdiam sejenak disana.

Apa yang akan ia katakan nanti? Mendadak Taeyeon merasa gugup. Bagaimana jika Sehun marah karena meninggalkannya keluar? Sebenarnya Taeyeon tidak ingin memikirkannya karena pertanyaan itu tidak pantas untuk ditanyakan tetapi ia tidak bisa menahan diri dan ingin tahu. Lalu, Taeyeon pun teringat perlakuan manis Sehun tadi padanya. Bagaimana sikap Sehun padanya nanti? Akankah kembali seperti biasanya? Taeyeon tidak berharap Sehun akan bersikap manis lagi padanya, namun, ia menginginkan pria itu setidaknya tidak dingin padanya.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, entah mengapa ia tiba-tiba menjadi bersemangat. Tak bisa ia pungkiri bahwa dirinya senang karena bertemu lagi dengan Sehun. Bukan karena sudah lama tidak bertemu dengannya, tapi melihatnya lagi menciptakan suatu kegembiraan kecil dalam hatinya. Jantungnya sampai berdebar-debar. Sayangnya, setelah membuka pintu di depannya, senyuman yang sengaja ia pasang demi Sehun, secara perlahan memudar dan akhirnya terhapus. Sehun telah berdiri di depan sana. Satu hal yang Taeyeon bisa gambarkan, ekspresi Sehun membuatnya khawatir. Perasaan aneh saat melihat wajahnya, perlahan merebak disertai perutnya yang serasa terbolak-balik oleh rasa tidak nyaman. Hawa dingin tiba-tiba menyapu punggungnya. Taeyeon membeku. Mata itu menatapnya tajam, seolah-olah sinar laser keluar dari sana lalu menembus kepala dan tubuhnya.

“Kau darimana saja?”

Bahkan pertanyaan sederhana pun terdengar menggelegar dalam telinganya. Taeyeon susah payah menelan salivanya di sela-sela tubuhnya yang bergetar. Lidahnya kelu sampai matapun tak sanggup membalas tatapannya. Bergerak saja ia masih berpikir dua kali. Sehun tengah dipenuhi amarah. Taeyeon tahu itu dengan pasti. Sesuatu pasti sudah memancing emosi pria itu. Tapi apa?

“A-aku pergi membelikanmu obat dan beberapa bahan makanan. Aku akan membawanya ke dapur.” Taeyeon mencoba berbicara sebiasa mungkin sambil melewatinya, tetapi Sehun secara tiba-tiba menangkap lengannya.

Saking terkejut, kantung belanja di tangannnya terlepas bebas ke lantai dan berhamburan.

“Siapa yang menyuruhmu? Aku tidak butuh bantuanmu.” Nada suara Sehun begitu dingin di warnai peringatan.

Taeyeon berjengit. Kilas kemarahan di mata Sehun sangat menusuk bersamaan dengan cengkeraman tangannya di lengannya yang semakin menguat.

“Sehun kau menyakitiku.” Taeyeon meringis, hampir menangis. “Lepaskan, Sehun.” Ia memelas.

“Kau,” Sehun menggertakkan giginya, menahan geram. “Mengapa kau tidak pergi saja?! Tinggalkan aku sendiri!” Hardiknya.

*Akh!* Taeyeon tersungkur ke bawah dengan bunyi yang keras. Gadis itu mengangkat wajahnya yang pucat dan terkejut, Sehun memandangnya tanpa iba. Pria itu, walau masih nampak pucat, aura kelam di wajahnya tidak bisa tersamarkan. Taeyeon semakin tidak mengerti dimana letak kesalahannya kali ini, mengapa Sehun menjadi sangat marah padanya bahkan memperlakukannya dengan kasar. Meski begitu, entah mengapa Taeyeon tidak bisa marah padanya sekarang. Mungkin karena ia memikirkan kondisi Sehun. Pria itu belum sepenuhnya pulih, terbukti kilau matanya meredup dan sepintas lalu tubuhnya oleng sesaat setelah mendorongnya. Di samping itu, tidak ada gunanya berdebat dengannya sekarang.

*Dasar keras kepala* Gerutu Taeyeon setelah melihat kenyataan dihadapannya. Pria dihadapannya itu hanya memaksakan diri berdiri. Ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya. Taeyeon mengesampingkan perasaannya dan membiarkannya untuk sementara, walau dampaknya tubuhnya masih terasa nyeri karena benturan dengan lantai tadi.

“Jika kau sangat ingin mengusirku, kau tidak perlu sekasar itu padaku.” Taeyeon akhirnya berbicara setelah berhasil bangun dari tempatnya. Ia mengusap-usap kedua tangannya lalu membersihkan roknya, mungkin saja ada debu yang menempel disana.

“Apa kau pergi bertemu dengannya?”

Taeyeon mengangkat wajahnya dari roknya, pandangannya bingung. Ini pertama kalinya ia melihat ekspresi Sehun seperti ini. Bukan amarah, lebih kepada frustasi. Agak sulit menjelaskannya.

“Apa maksud—” Taeyeon berhenti. Ia mengernyitkan kening. Perasaannya langsung tidak tenang. Tidak mungkin ‘kan Sehun tahu ia bertemu dengan Joonmyun? Tapi bagaimana—

Haruskah ia memberitahunya?

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.”

Secara tidak sengaja Taeyeon menghindari matanya sehingga membuat Sehun sangat kesal. Taeyeon gugup, sekujur tubuhnya bergetar tanpa ia sadari. Suara kaki Sehun yang mendekat perlahan dan berhenti di depannya hampir membuat jantungnya meledak. Ia pikir pria itu akan menyakitinya lagi, kenyataannya, itu tidak pernah terjadi.

“Aku memang bertemu dengannya.” Taeyeon ragu-ragu menjawab. “Jo—” Ia ingin menjelaskan dirinya tapi Sehun sudah memotongnya.

“Jadi benar.” Senyuman dingin pria itu membuatnya tidak nyaman.

Sesuatu tentang sikapnya membuatnya bertanya-tanya. Taeyeon pun mengikuti pandangan Sehun yang tiba-tiba mengalihkan perhatian ke arah bungkusan yang tadi ikut di bawanya. Di dalam kantung tersebut, tulisan khas farmasi tertulis jelas pada sebuah bungkusan kecil. Taeyeon tidak mengerti apa yang Sehun akan lakukan terhadap benda itu, tapi pria itu beranjak dari tempatnya dan dalam hitungan detik ia dibuat terperangah oleh pemandangan di depan matanya. Sehun melempar bungkusan itu dengan sangat keras sehingga seluruh isi di dalamnya berserakan ke lantai.

“Apa yang kau lakukan?” Teriak Taeyeon terkejut. Ia bergegas hendak mengumpulkan semuanya sebelum menjadi sia-sia, tetapi Sehun menghentikannya di saat ia hampir berhasil menyentuhnya.

Sehun menarik lengannya. Tidak keras, tapi cukup membuatnya tersentak karena kaget. “Mengapa kau berusaha sampai seperti ini?” Suaranya berubah tegang. “Bukankah sudah kukatakan aku tidak membutuhkan perhatianmu?”

Taeyeon tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mengibaskan tangan Sehun dengan kasar sebelum memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan pria itu. “Aku sudah membelinya dengan susah payah, setidaknya hargai usaha orang lain yang ingin membantumu!” Sahutnya sengit. Ia kemudian berjongkok mengumpulkan semua obat yang tercecer. Ia sempat meringis saat salah satu pecahan kaca dari botol obat tak sengaja mengiris jarinya, tetapi ia tetap melanjutkan seolah tidak merasakan apa-apa.

Melihatnya berusaha sedemikian rupa meski dengan luka di tangannya, Sehun semakin tidak suka. Ia menyambar pergelangan tangan gadis itu dan menariknya paksa hingga berdiri.

“Lepas!” Taeyeon meronta.

Sikapnya yang keras kepala membuat amarah Sehun meledak. “Aku tidak membutuhkannya!” Cukup sekali ia melihat gadis itu terluka karena perbuatannya dan sampai saat inipun ia masih belum bisa memaafkan dirinya, namun, apa yang baru saja ia lakukan membuatnya sadar bahwa ia kembali menyakitinya.

Rahang Sehun mengencang. Ia hanya tidak bisa membiarkan Taeyeon terus memberinya perhatian. Itu membuatnya lemah sementara ia sendiri tidak berencana mengalah karena hal itu. Taeyeon yang melihatnya seperti itu menjadi takut. Gadis itu ingin mundur ke belakang menghindari murkanya, namun Sehun seperti tidak membiarkannya.

Taeyeon tidak pernah membayangkan dirinya akan setakut ini pada Sehun. Ia akhirnya memutuskan untuk diam. Taeyeon menarik kesimpulan sendiri, mungkin saja kemarahan Sehun makin tersulut bila ia bersuara, jadi ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatapnya. Taeyeon menyerah, secara perlahan tubuhnya mengendur.

“Maaf.”

Taeyeon terkejut mendengar pengakuannya. Ia mengangkat kepalanya dan mendapati Sehun memalingkan muka darinya. Taeyeon tak mengira Sehun akan meminta maaf apalagi setelah kebencian untuknya. Tiba-tiba, Sehun mengangkat tangannya. Taeyeon meringis, luka di jari tangannya, ia baru merasakan perihnya sekarang. Taeyeon tidak tahu apa yang tengah dipikirkan Sehun tentangnya karena pria itu menatapnya cukup lama yang mana sempat membuatnya salah tingkah, kemudian tanpa sepatah kata darinya, Sehun memasukkan jarinya ke dalam mulutnya. Taeyeon tercengang dengan mata membulat lebar, rahangnya nyaris jatuh jika saja ia tidak buru-buru membungkam mulutnya.

Rasa dingin mendadak menjalari sistem geraknya. Taeyeon bergidik oleh perasaan ganjil yang melimpah di dalam dadanya. Ia kehabisan kata menggambarkan perasaannya saat ini. Cara Sehun menatapnya, bagaimana pria itu menangani jarinya yang terluka dengan cara yang tak biasa, seperti dejavu, Taeyeon tidak mengira ia akan merasakan perasaan seperti ini lagi. Jantungnya berdentam-dentam hebat, mukanya seketika menghangat. Seringkali Taeyeon merasa, sorot tajam yang Sehun selalu perlihatkan padanya bukanlah sepenuhnya amarah, melainkan lebih seperti mengintip ke dalam isi hatinya yang terdalam.

Ini tidak benar! Taeyeon buru-buru menarik tangannya lalu dengan cepat memperbaiki sikapnya. Ia bisa merasakan Sehun masih menatapnya, tetapi ia tidak memiliki keberanian untuk membalasnya. Ia tidak ingin Sehun membaca hatinya. Bila memikirkan kemana dulu adegan itu berakhir, lututnya melemas dan ia tidak sanggup melihat seringaian Sehun yang seolah mengetahui isi pikirannya.

“K-Kau sudah makan?” Taeyeon bertanya gugup. Bukan sekedar mengalihkan pembicaraan, namun sungguh-sungguh ingin tahu apakah Sehun memakan makanan yang ia siapkan tadi atau tidak. “Astaga, apa yang akan kulakukan dengan ini?” Gumamnya melihat telur yang dibelinya tadi telah pecah.

*Sudah tidak bisa digunakan lagi* Taeyeon mendengus pelan. Ia menyatukan telur-telur pecah itu kemudian memasukkannya ke dalam kantung. Ia akan membuangnya sebentar setelah merapikan semuanya.

Sehun hanya berdiri sambil memperhatikan setiap gerak geriknya. Ia ingin melarang Taeyeon melakukan semuanya tapi menahan diri untuk itu. Diam-diam Sehun menghela nafas. Ia sangat yakin membenci Taeyeon, tetapi entah bagaimana, terkadang kebencian yang ia tunjukkan menjadi tidak benar-benar bermakna bila sudah di depan gadis itu. Sejak bertemu dengannya, ia jadi kesulitan memahami dirinya sendiri.

“Pulanglah.” Kata Sehun lirih. Suaranya terdengar seperti bisikan yang halus, Taeyeon tidak mendengarnya. Gadis itu sibuk mondar mandir di depannya, menyusun setiap bahan makanan itu ke dalam kulkas lalu memeriksa makanan di atas meja. Sehun sekilas menangkap perubahan ekspresinya dari cerah ke masam saat membuka tudung saji. Sehun mengakui, sejak awal bangun tadi sedikitpun ia tidak merasa lapar karena amarah mengendalikan pikirannya. Ia bahkan belum sempat menengok apa yang tertutup di atas meja itu.

“Aku sudah membuatkanmu makanan, seharusnya kau menghabiskannya. Kau bahkan belum menyentuhnya sama sekali.” Suara Taeyeon mengecil pada kalimat terakhir. Ia terdengar kecewa. “Kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh dan bubur ini bisa sedikit membantumu. Di samping itu tubuhmu masih lemah, sebaiknya kau beristrahat.” Tambahnya.

“Pulanglah, nona Kim.” Datar dan singkat.

Taeyeon hanya berhenti sejenak dari apa yang ia kerjakan, kemudian tersenyum dengan ceria. “Jangan lupa juga minum obatnya. Kau masih saja sama seperti dulu, malas minum obat. Sayang sekali kau merusak botol ob—”

“Keluar!” Sehun berseru lantang.

Taeyeon terlonjak kaget. Tetapi kemudian, mengabaikan hatinya yang perih karena pria itu meninggikan suaranya sekali lagi padanya, ia mulai berujar dengan halus, “Ini juga merupakan tanggung jawabku. Aku berada disini karena pekerjaanku. Memastikan kau baik-baik saja adalah prioritasku, Sehun.”

“Aku. Tidak. Membutuhkanmu.” Tandas Sehun. Matanya berkilat jengkel.

Taeyeon tidak habis pikir, mengapa Sehun bersikeras menolaknya yang ingin membantunya. Gadis itu tidak tahu bahwa sebenarnya Sehun sangat membenci penggunaan kalimatnya yang membuatnya terdengar seperti beban. Tanggung jawab? Pekerjaan? Prioritas? Sehun menyeringai sinis, dalam hati menahan pahit. Ia sangat tidak menyukai kata-kata itu.

Taeyeon sudah ingin menyerah, bahkan berniat mengambil tasnya lalu pergi dari apartemen itu, akan tetapi, ia mengurungkan niatnya. Hati kecilnya tidak setuju, seakan menahannya agar tidak meninggalkannya.

Kemudian Taeyeon tersenyum seraya berujar dengan lembut, “Aku hanya ingin membantumu.”

“Membantuku, katamu?” Namun Sehun tersenyum dingin.

Taeyeon menyembunyikan ketidaknyamanan itu dalam hatinya. Ia merasa terusik terhadap caranya berbicara dan ekspresinya, raut wajah yang selalu membuatnya tidak tenang setiap kali pria itu memasangnya. Seakan-akan hanya dengan menatap saja sudah membuat tubuh membeku. Taeyeon tidak yakin bisa mengatasinya kali ini.

“Sehun, jangan seperti ini…” Taeyeon tidak jadi melanjutkan kalimatnya, pandangan menusuk Sehun sontak saja menghentikannya.

“Aku sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun menunggumu. Jangan lupa, kau mengabaikanku selama itu.” Ujar Sehun. Kedua tangannya yang tak gagal disadari Taeyeon telah mengepal sampai memutih.

Sehun membiarkan dirinya dikendalikan oleh amarah dan rasa frustasi. Ia sudah terlalu lama memendamnya hingga ia tidak mampu lagi.

“Sekarang kau kembali dan memasang tampang tidak berdosa itu dihadapanku seakan semua baik-baik saja. Aku cukup terkesan dengan betapa mudahnya kau melupakan semuanya, Taeyeon.”

Taeyeon tersentak karena Sehun memanggilnya hanya dengan nama saja. Sehun terluka, Taeyeon bisa melihat itu di matanya. Taeyeon hanya bisa memandang pria itu tanpa kata. Mukanya memucat dan secara perlahan kepalanya tertunduk pasrah.

“Selama ini, seperti orang bodoh, aku selalu bertanya pada diriku, apa kesalahanku? Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik, aku berusaha keras menunjukkan kemampuanku agar bisa sepadan denganmu, tapi kenyataannya seluruh pengorbanan yang kulakukan tetap sia-sia. Kau berhasil menghancurkan segalanya.”

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak ingin mendengar kelanjutannya. Semua kalimat yang terucap datar itu mengiris hatinya.

“Aku adalah pria bodoh yang menyukaimu seperti orang gila, sementara kau sendiri hanya ingin mempermainkanku.”

“Itu tidak benar!” Bantah Taeyeon cepat. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Ya, itu memang benar!” Tapi Sehun lebih keras darinya. “Cih,” Pria itu menatapnya dingin, “Kau masih berpikir aku sungguh tidak tahu? Yang terlihat olehku, kau malah menikmatinya.”

Taeyeon menggeleng keras, “Sehun, semua itu tidak seperti yang kau pikirkan!”

“Sudah terlambat menjelaskan dirimu sekarang. Aku tidak ingin mendengar alasan mengapa kau berselingkuh dengan sepupuku. Aku tidak akan tertipu lagi olehmu.” Usai memberinya pandangan sekali lagi, Sehun membalikkan badan. “Keluarlah, nona Kim. Aku ingin istrahat.”

*Kau salah, Sehun. Semua yang terjadi hanya salah paham. Kenapa kau tidak pernah mau mendengarkanku?* Taeyeon meringis dalam hati. Sekeras apapun ia mencoba, air mata tetap saja jatuh membasahi pipinya.

Taeyeon langsung menyambar tasnya. Saat berbalik hendak menuju pintu, ujung matanya tak sengaja menangkap bagian familiar dari benda yang berserakan di lantai sudut sana. Taeyeon mengikuti dan matanya terbelalak begitu tahu benda itu adalah ponsel miliknya yang kini hancur. Tanpa berpikir dua kali, Taeyeon menyerbu ke area itu. Mulutnya membuka.

“K-Kenapa…kenapa tiba-tiba…ponselku bisa seperti ini?” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri. Taeyeon mengusap air matanya lalu berpaling dan melotot. “Apa kau yang melakukannya?”

Sehun tidak menjawab. Pria itu seperti sengaja menghindari matanya. Sikapnya yang seperti itu tentu saja membuktikan bahwa tuduhannya benar. Taeyeon memandangnya tak percaya.

“Kenapa kau melakukannya?” Ia berdiri. Tidak peduli seperti apa penampilannya sekarang yang pasti berantakan dan matanya yang sembab karena habis menangis, Taeyeon berpikir harus secepatnya menginterogasi Sehun. Pria itu sudah keterlaluan! “Kau tahu berapa banyak uang yang kuhabiskan untuk membeli ponsel ini?! Kau sengaja ‘kan? Kau ingin membalasku. Kalau kau berniat membalasku, bukan dengan cara rendah seperti ini!”

Hidung Taeyeon kembang kempis, bahkan sempat menarik nafas yang dalam usai mengeluarkan kalimat tuduhan itu. Taeyeon tidak sadar, mungkin juga tidak peduli jika ucapannya itu telah membuat raut wajah Sehun kembali berubah kelam. Taeyeon membungkam, sadar akan kekeliruannya. Ia mendengus kasar sebelum memungut seluruh bagian ponselnya sambil menggerutu kemudian bergerak keluar tanpa pamit. Ia terlanjur kesal.

– – –

Sepulangnya dari apartemen Sehun, Taeyeon mampir sebentar di mini market. Ia sebenarnya tidak begitu menyukai makanan ringan, tetapi karena kebetulan melihatnya dan mendadak timbul keinginan untuk memakannya, jadi ia membeli beberapa. Tak lupa ia juga membeli ponsel baru sebagai pengganti ponselnya yang rusak. Taeyeon sempat menggerutu sewaktu menarik uang untuk keperluan itu. Bagaimana tidak, harga ponsel terbilang cukup mahal sementara selama ini ia berusaha keras tidak mengurangi tabungannya untuk sesuatu yang berlebihan. Tetapi ia kemudian tersadar, ia tidak bisa bekerja tanpa alat komunikasi itu. Setelah yang terjadi, Taeyeon memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Malam ini ia tidak ingin diganggu siapapun. Lagipula, Sehun tidak mungkin menelponnya.

Taeyeon pulang dengan menaiki bus, setelahnya jalan kaki. Ia ingin cepat sampai dan berdiam diri di kamar. Ingatan tentang yang terjadi antara dirinya dan Sehun tadi kembali membuat perasaannya berkecamuk. Semua menjadi lebih jelas sekarang mengapa Sehun begitu membencinya. Karena pria itu terluka dan karena ia tidak bisa meredamkan luka itu dalam hatinya. Apa yang dikatakan Sehun benar, ia telah menghancurkan semuanya. Untuk alasan apapun ia tak bisa memungkirinya.

Pandangan Taeyeon mulai mengabur oleh airmata, tetapi buru-buru ia singkirkan. Tidak mungkin ia menangis disini. 5 menit kemudian, ia sudah bisa melihat gedung apartemennya. Langkah kakinya terayun santai tetapi setelah memasuki halaman gedung, Taeyeon tiba-tiba berhenti. Matanya sontak mengerjap tak percaya. Di depan matanya, seorang pria yang dikenalnya tengah berdiri membelakanginya. Taeyeon tidak perlu menebak siapa pria itu, setahun lalu meninggalkannya tanpa memberi kabar sedikitpun membuatnya tidak bisa melupakannya. Hongbin namanya. Pria yang sedikit lebih muda dan karena sosoknya yang mengingatkannya pada seseorang yang istimewa di hatinya, ia menerimanya sebagai kekasih setelah cukup lama memutuskan.

Hongbin memasukkan tangannya pada saku mantelnya, lalu menyandarkan punggungnya pada pilar di belakangnya dengan sebelah kaki setengah menekuk, seraya kemudian ujung sepatunya mengetuk-ngetuk pijakannya. Pria itu terlihat gelisah karena beberapa kali melihat ke atas, salah satu jendela yang entah sudah ribuan kali di pandangnya masih gelap. Gerak geriknya jelas ia sudah menunggu sangat lama. Helaan nafas panjang yang terdengar keluar dari mulutnya menandakan bahwa kesabaran telah sampai pada batasnya.

Sekali lagi melirik ke atas, Hongbin lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menatap ponsel itu lama, lalu menghubungi seseorang. Masih mendengar suara dari penjawab serupa sejak beberapa jam yang lalu, Hongbin dengan tampang kecewa langsung mematikan ponselnya sebelum nada ‘bip’ terdengar. Hongbin mendesah pelan sebelum kembali memandang ke atas dengan pandangan sendu. Ia akhirnya berbalik, memutuskan pergi tetapi terhenti karena gadis yang membuatnya rela menunggu lama sudah berdiri dihadapannya, walaupun pandangan yang diterimanya kini menunjukkan ketidaksenangan terhadap kehadirannya.

Senyum Hongbin seketika mengembang dan ia setengah berlari menghampiri Taeyeon. Ia ingin memeluk gadis itu. Gadisnya yang sekian lama ia rindukan. Dan ia berhasil melakukannya.

Taeyeon masih berdiri kaku. Semuanya berlangsung dengan cepat membuatnya tidak bisa menghindar. Pelukan erat Hongbin langsung saja memunculkan kenangan mereka yang hampir sirna dalam pikirannya. Taeyeon mengakuinya dalam hati bahwa ia juga merindukan pria ini. Tidak sebanyak dulu sebab perbuatan Hongbin yang meninggalkannya begitu saja, tetapi mungkin itu tidak penting lagi sekarang, saat ini Taeyeon membutuhkannya. Adanya Hongbin disini, sejenak ia berharap bayangan Sehun yang akhir-akhir ini selalu menghantui pikirannya menghilang. Ia sangat tersiksa, entah untuk alasan yang mana.

Taeyeon memejamkan mata, menghargai momen ini, tetapi tersadar ia tidak bisa lagi melakukannya. Ia akan terdengar licik jika menjadikan Hongbin sebagai sandarannya, lagipula ini tidak adil pula bagi pria itu.

Taeyeon mendorong Hongbin pelan. Saat pria itu menatapnya heran, Taeyeon berharap Hongbin tidak akan menyadari kalau ia habis menangis. Tetapi Hongbin sudah mengenalnya lama. Ia tidak bisa menyembunyikannya saat pria itu menangkup wajahnya dan ekspresi terkejutnya terekspos setelah mengamatinya.

“Kau…habis menangis?” Tanyanya.

Suara lembut yang membuat Taeyeon jatuh cinta padanya, kali inipun terasa sama. Taeyeon menggeleng dan menghindari matanya. Perlahan menurunkan kedua tangan pria itu. Mungkin situasinya sudah berbeda sekarang. Hubungan mereka sudah berakhir.

“Apa yang kau lakukan disini?” Taeyeon berusaha untuk tidak terdengar ketus, tapi itu diluar batasannya. “Kau tidak seharusnya berada disini.”

Menyadari keadaan mereka, Hongbin tersenyum kaku dan agak menjaga jarak. Bukan karena perasaannya telah berkurang, tetapi karena keinginan gadis itu yang selalu ia hargai.

“Aku menghubungimu—”

“Sejak kapan kau memiliki nomor ponselku?” Taeyeon menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak bisa menahan dirinya. Bagaimana bisa pria itu mengetahui nomornya.

“Aku tahu kau masih marah padaku—”

“Ya, aku memang marah padamu. Jadi kau tidak perlu lagi muncul dihadapanku.” Taeyeon mengakhirinya dengan keras. Ia menghempaskan tangan Hongbin saat menahannya pergi.

“Kau harus mendengarkan penjelasanku!”

Plak.

Tamparan keras mengenai pipi Hongbin. Taeyeon langsung mengepal telapak tangannya yang bergetar.

“Pergi. Aku tidak ingin melihatmu.” Taeyeon memalingkan muka.

“Setidaknya, berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya. Kumohon.” Pria itu akhirnya mengiba.

Taeyeon mendelik tajam. Hongbin seperti yang ia kenal adalah pria pantang menyerah. Taeyeon berbalik menghadapinya. “Aku lelah. Semua ini membuatku lelah. Aku tidak ingin bicara denganmu atau siapapun. Pulanglah.” Ia menurunkan tangan Hongbin dari lengannya dan menggeleng.

“Aku tidak akan menyerah, Taeyeon! Aku akan terus muncul dihadapanmu sampai kau mendengarkan penjelasanku!” Seru Hongbin putus asa.

Taeyeon telah menjauh. Suara Hongbin menjadi samar-sama terdengar, ia mendengar semuanya namun tidak berminat menoleh lagi. Yang ia butuhkan adalah kasurnya. Tempat ia nanti menumpahkan segala kegundahan hatinya. Taeyeon bertanya-tanya, siapa yang memberikan nomor ponselnya pada pria itu. Apakah Jessica? Tapi kenapa? Jessica tahu bagaimana hubungan mereka, mengapa sahabatnya itu mau memberikan nomornya pada Hongbin?

Taeyeon tidak ingin berpikir apa-apa lagi. Hari ini sudah cukup baginya.

– – –

Sehun masih berdiri memaku sambil memandangi pintu itu. Gadis itu akhirnya pergi. Setelah beberapa kali berdebat dengannya, ia akhirnya berhasil mengusirnya. Sehun mengusap mukanya. Seharusnya ia senang, tetapi hatinya sepertinya tidak berpikir demikian. Mendadak ia merasa sangat kesepian. Entah semarah apapun atau sebenci apapun ia kepada gadis itu, ia tetap tidak bisa mengendalikan pikirannya untuk tidak memikirkannya. Lalu mengapa ia melakukan hal yang seharusnya bertentangan dengan keinginannya? Ia sendiri pun tak tahu.

Mengapa hanya karena Taeyeon, perasaannya menjadi tidak menentu seperti ini. Dalam sehari saja gadis itu bersamanya sudah membuatnya goyah. Sehun tidak ingin mengakui bahwa ia merindukannya. Ia sudah putus asa. Masalah utamanya adalah Taeyeon, tetapi ia tidak tahu bagaimana cara menghadapinya sekarang. Membencinya menurutnya hanya satu-satunya jalan agar perasaannya terkubur, mengapa sekarang ia bimbang? Sehun merasa akan depresi bila terus seperti ini.

Sehun memandangi pintu itu sekali lagi. Sudah terlambat memanggil gadis itu kembali. Ia akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan menjauh. Ia menggeser pandangannya dimana tempat Taeyeon berdiri tadi saat berbicara dengannya. Sehun sempat terkejut mendapati seluruh obat untuk dirinya telah berada di atas meja. Rupanya Taeyeon masih peduli padanya dengan menyusunnya disana. Ia bahkan tidak sempat menyadarinya. Sehun berjalan mendekat, namun matanya tiba-tiba terpaku pada sesuatu yang lain yang juga berada di atas meja. Makanan yang dibuat oleh Taeyeon.

Perlahan, Sehun menarik kursi dan duduk menghadapi meja. Sebaris senyum tanpa sadar sudah menghiasi bibirnya sebelum ia membuka satu persatu plastik bening yang menutupi makanan itu. Sesal timbul saat mencicipinya. Sehun menatap hidangan di depannya dengan raut muram. Gadis itu pasti sudah berusaha keras membuatkan semua ini untuknya, tetapi ia malah membentaknya bahkan bertindak kasar padanya.

Sehun memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam. Genggamannya pada sumpit menjadi semakin erat hingga menimbulkan bekas. Ketika membuka mata, pandangannya berubah tajam, tampak kilau pemberontakan dan amarah. Sehun tiba-tiba berdiri, ia melihat hidangan di atas meja dengan pandangan muak. Kemudian, kedua tangannya dengan kasar menyingkirkan apapun yang tertangkap oleh matanya. Untuk beberapa saat bunyi piring dan mangkuk yang pecah mengenai lantai memenuhi ruangan. Sehun lantas meninggalkan ruang yang sudah berantakan itu menuju kamar.

 

Apa kabar? Kuharap kau tidak melupakanku. Ayo bertemu di tempat biasa. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Aku akan menunggumu.

Hongbin.

 

Sehun menatap layar ponsel itu dengan kening berkerut, lalu memandang sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaan pemilik ponsel itu dimanapun. Mungkin gadis itu melupakan ponselnya, Sehun membatin. Awalnya ia tidak ingin mempedulikannya, pada akhirnya ia tergerak membaca sebuah pesan yang baru saja masuk. Untuk alasan yang tak diketahui, isi pesan itu mengusik pikirannya. Ia juga penasaran terhadap nama pengirim pesan dengan nomor tanpa nama itu.

Selang beberapa lama, ponsel itu berdering nyaring. Tertera nomor yang sama dengan si pengirim pesan. Raut wajah Sehun berubah serius. Ia sama sekali tak menyukai si pengganggu ini. Apa yang ingin orang ini lakukan dengan menghubungi Taeyeon? Sehun tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Oleh karena itu, tanpa pikir panjang ia langsung saja menggeser poin hijau pada layarnya.

“Halo?”

Suara pria. Sehun mendengus, melihat sinis ponsel itu sekali lagi sebelum menempatkannya kembali di telinganya. Tak tertarik menjawab.

“Taeyeon, kaukah itu?”

Wajah Sehun berubah suram. Ia meletakkan ponsel itu di atas pantry sesudah mengaktifkan loudspeakernya.

“Mm…kau sudah baca pesanku? Aku…aku ingin bertemu denganmu sekarang. Apa kau punya waktu? Aku menunggumu di tempat biasa kita berkenc—

Sambungan mendadak terputus. Ponsel yang tadinya di atas pantry telah berubah menjadi beberapa bagian kecil di lantai setelah mengenai dinding dengan keras. Sehun menggertakkan giginya seraya kedua tangannya meremas ujung pantry itu dengan dengan kuat.

Jadi dia pergi menemui pria itu?

 

Sehun memandangi cermin yang memantulkan dirinya. Seluruh badan dan rambutnya basah. Ia baru saja selesai mandi. Walaupun suhunya masih hangat, ia memaksakan dirinya. Sehun merasa perlu mendinginkan kepalanya. Akan tetapi, emosinya belum sepenuhnya surut. Ia masih bisa mengingat dengan jelas suara pria itu dan gambaran Taeyeon yang menemui pria itu juga tidak membantu keadaannya. Sebagai bentuk luapan kemarahannya, ia meninju cermin itu dengan keras dan melukai tangannya. Pecahan kaca berjatuhan ke lantai kamar mandi. Sayangnya, itu belum semuanya. Kepalanya mendadak terasa pening dan secara perlahan pandangannya mulai mengabur sebelum kemudian kegelapan menyelimuti sekitarnya.

 

To be continued

Semua ff yang pernah kupublish di ATSIT ada disini

© RYN

Advertisements

100 comments on “Fall in Love with You (Chapter 4)

  1. penasaran ama masa lalu sehun-taeyeon-joonmyun.
    sehun koq kyak punya kepribadiaan ganda yaaaa, bntar romantis, eh gak lama itu kasar lagi.
    keliatannya karakter disini pada misterius semua, apalagi sehun. itu joonmyun seperti ada yang direncanain nya, apa mungkin dia mw buat sehun semakin benci ama tae??
    terus hongbin, kenapa lagi ni orang muncul, setelah ninggalin taeyeon terus muncul seenak nya.
    terlalu banyak misteri di ff ni. semakin penasaran dibuat nya.
    next chap semoga update nya cepat ya,,,,
    fighting!!!!!

  2. Belum terungkap detailnya masa lalu seyeon dn hubungan sma suho. nexttttt update soon penasarannnnnn
    Banyakin seyeon moment donk authornim. Fighting

  3. lagi asik asik eh TBC muncul hihi sehun salah paham nih kasian taeyeon di sentak sentak mele hahaha masih penasaran sama masa lalu seyeon. next chap ditunggu 🙂

  4. Bingung kak baca part ini, itu joonmyeun nongol sama hongbin?? Aduh makin rumit bikin nyess aja baca nya 😭 sehun sebenarnya kenapa sii?? Dia kayak depresi banget, apa sehun punya penyakit kelainan jiwa? Gk mungkin deh kak masa model gila sii 😀😀 sehun enak aja banting banting hp orang -_- kesel sama sehun di part ini gk menghargai kebaikan orang 😔 sebenarnya udh lupa sama jalan cerita ff ini krna updet nya kelamaan banget kak, beneran deh kenapa kk updetnyaa lama banget padahal ff buatan kakak bagus” semua kan sayang kelamaan di updet 😭😭 di part ini benar benar membingungkan kak dari sifat sehun sama masalah sehun-taeyeon-joonmyeun bener bener penasaran kakkk 😭😭😭😭😭

  5. akhirnya ya ampun update. aaah penasaran kenapa taeng nggak suruh suho menjelaskan aaaa ditunggu aja nextnya cepat ya thooor

  6. Ff Nya bikin kepoooo bgt kok sehun bisa sebenci itu sama taeng Kan kasian,,, Woobin suka taeng? Sehun suka, nah Ini muncul lagi si hongbin maen muncul Aja ni bocah….belom lagi so suhp misterius bgt…Kaya Ada yg disembunyiin sama di rencana in buat taeyeon,,,kasian bgt si taeng,,, semoga konfliknya Ada pencerahan *apaseh biar sedikit jelas permasalahannya apa #akungomongapaya hahahhaha tapi Makin keren nih ceritanya makin penasaran lanjutannya cepet ya thooooor

  7. Sbenarnya suho-taeng-sehun dlu itu kenapa sih ?? Penasaran banget .. Aigoo ! Trnyata Taeng dan Sehun sama” salah paham tentang menemui ‘ dia ‘ ? O.o . Sehun ngeri kalo ngamuk , kayak 2 kepribadian ._. Trs disini critanya suho bad boy gitu ya ? Keren ! Ditunggu next nya

  8. oo, jd Sehun salapaham.. mgkn dikiranya Taeyeon nemuin Hongbin, padahal Taeyeon nemuin Suho. Terus Hongbin itu mantan Taeyeon ya thor? soalnya rada-rada lupa juga.. #hehe Fighting thor & Keep writing 🙂

  9. Daebak thor!! ^^

    Sehun itu prnah pcran sma nnggu Taeyeon,, tpi slah pham sma Taeyeon dan Suho yg spupunya Sehun… Jdi benci bnget sma Taeyeon!?
    Tpi Sehun msih cinta sma Taeyeon… jga Sehun kgak bsa sma skali ngendalikan amarahnya… :’g
    Slanjutnya apa?? Penasaran thor!?

    Dtnggu bnget chap slanjutnya!! Fighting!! ^^

  10. jadi sehun benci taeng eonni karna taeng eonni selingkuh dgn sepupunya ? ah author makin penasaran aja
    pengen liat moment seyeon.nya lagi thor
    oke ditunggu next chapternya

  11. Itu itu Sehun pingsan? Ohh jadi Sehun taunya taeng jln sma hongbin,untungnya ga tau kalo jln sma suho
    Mulai ngerti sma masa lalu Sehun taeng. Jadi taeng sma Sehun sepasang kekasih dan Sehun ngira taeng selingkuh sma suho #soktaubgt 😀
    Ditunggu next chapnya authoor!!
    FIGHTAENG!!!

  12. Kasar amat bang. Ksian mbak ku di gituin. Kalok sehun masi gitu mending teteh ama kang hongbin aja atuh. next di tunggu 🙂

  13. ih sehun kasar bgt sma taeyeon 😦 nihh ff udh lama nunggu’a 🙂 sampek lupa cerita’a :p jgn lama2 update’a ne 😀

  14. chapter ini bener2 seru^^
    Sehun kok kasar bgt sih…:(
    Aku jadi ngerasa jadi taeyeon…kebawa feel..hehe..
    Anywayyy…aku suka bgt sama nih epep…next chapter buruan ya thor~ aku dah curious banget nnninih^
    #Fighting”
    #LoveY~:*
    #UpdateASAP~

  15. Complicated love….
    Sehun dia membingungkan, taeyeon terlalu diam…. sehun nggak mau denger, taeyeon gak ngomong juga….semakin suka sama ff inii, masih menanti adegan yg menguras air mata sampai mata bengkak….

  16. wahh… sebenernya hubungan Suho-Taeyeon apa ya???penasaran ikhhhh… sampe Sehun benci Taeyeon grgr punya hubungan special dengan Suho.
    wahh…. tapi kan Suho sepupunya Sehun kok bisa ya???

    itu Sehun kesel ke Taeyeon karna cemburu saat Hongbin sms+tlp Taeyeon?? berarti Sehun masih cinta Taeyeon dong??? wahh.. makin penasaran sama masalah apa yg terjadi antara Taeyeon-Sehun sehingga bikin Sehun sangat benci Taeyeon

    lanjut ya eonni aku suka bgt sm karya RYN eonnni :*

  17. Setelah baca chapter yg sebelumnya baru keingetan lg..
    Penasaran sbnrnya yg pertama kali buat taeng itu siapa, sehun atau junmyeon..
    tapi kalau diliat2 sii sepertinya sehun..
    Jadi penasaran bgt sbnrnya apa yg dilakuin suho sampe taeng benci gtu..
    Pasti ada puengaruhnya jg yg bikin sehun sama taeng jd pisah..
    Penasarann bgt nii authorr.. kalau bisa next chapter cepet diupdate yaa hhe gomawoo

  18. entah aku udh comment/belum di chap ini & chap yg dlu-dlu tapii jujur aja aku suka sama ff ini :3 maaf yaaa thorrr kalau ternyata emang benar aku baru comment di chap ini eehe :3

    aku bingung thorrr sama sikap sehun disini (?), diaa kadang baik tapii kadang juga cuek sama taeyeonnn 😦 sebenarnya apaa sihh masa lalu dari SeTaeMyeon ituuuu? ditambah hongbin ituuu? siapaa diaa? kenapa kayanya banyak bangettt misteri-misteriii di ff iniiii 😦 aku harap bisa terungkap semuanyaaa & tolonggg thorr, perbaikin image sehunnnn, dia kayanya nista banget disiniiii, gasukaa akuuu (?):(

    for the lasttt, semangattt thorrrr ;3

  19. aku tumpahkan disini aja komennya. yang terjadi sama Sehun Taeyeon adalah kesalah pahaman. ya ampun mereka harus bener” nyelesain permasalahan mereka dengan salah satu yang mengalah. Mereka sama” keras kepala. aku yakin deh yang pertama buat Taeyeon itu Sehun habisnya ada kata “melupakan?” si Taeyeon jawab “ingat semuanya”. yakin banget itu adalah kenangan terindah mereka selama menjadi sepasang kekasih. kasihan sama hubungannya Taeyeon Sehun berliku liku banget.
    ff ini bener” buat aku emosi atas hubungan mereka. semoga kesalah pahaman antara mereka cepet berakhir.
    semangat author Ryn buat lanjut ini ff

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s