Love, That One Word (Chapter 7)



NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Sad

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan, Bae Irene

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5, Chapter 6

Preview of chapter 6

“Ice cream?.” Tanya Baekhyun setelah Taeyeon memasuki mobil.

Gadis itu mengangguk dan menyodorkan tangannya yang memegang ice cream ke hadapan Baekhyun. “Oppa mau? Kalau tidak mau ya sudah, aku sanggup memakan dua ice cream ini.”

Saat hendak Taeyeon menarik kembali tangannya, Baekhyun terlebih dahulu mengambil ice cream itu di tangan Taeyeon. “Gomawo, yeon-ah.” Baekhyun melajukan mobilnya meninggalkan halte.

Taeyeon tersenyum, ternyata hanya dengan ice cream mampu membuat Baekhyun untuk tidak marah padanya.

“Oppa, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Irene-ssi di toko ‘Mixxo’. Dia bilang bahwa tadi siang oppa terburu-buru meninggalkan kantor, tapi bukankah oppa bilang padaku ada urusan mendadak yang harus oppa urus di kantor? Oppa berbohong padaku?.”

Taeyeon menatap Baekhyun bingung, laki-laki itu tersenyum tanpa menatapnya. “Kau ingin tahu, yeon-ah?.”

“Tentu saja, aku tidak suka dibohongi.” Taeyeon cemberut dan menempelkan kedua tangannya di depan dada.

“Kau berucap seperti kau tidak pernah berbohong saja, yeon-ah, ck.”

“Opaa!!.”

“Araseo, aku tidak akan memberitahumu sekarang, yeon-ah. Tapi aku berjanji akan memberitahumu nanti.” Ucap Baekhyun. Tangannya terjulur dan memberikan plastik bungkus ice cream yang sudah kosong kepada Taeyeon. Cepat sekali Baekhyun menghabiskan Ice Cream itu, pikir Taeyeon.

Taeyeon mengambil bungkus kosong itu, lalu menyimpannya di kantong kresek yang tadi dia gunakan untuk membawa ice cream yang dia beli.

Chapter 7

Without anyone knowing, without even me knowing
I don’t know when but you came into my heart
Tears fell yesterday and tears are falling again today
With my head down low, I’m looking at you

Taeyeon terbangun karena mendengar suara yang menganggu gendang telinganya. Gadis itu menggeliat, tangannya direntangkan dalam posisinya yang masih terlentang di atas kasur. Matanya terbuka, lalu tertutup, terbuka, tertutup, dan terbuka lagi. Matanya tertuju kepada jam yang terletak di samping tempat tidurnya. Pukul 06:20. Masih pagi tetapi diluar sudah ribut-ribut.

Ada apa? Suara ini bukan suara biasa yang selalu dia dengar jika Baekyun memasak di dapur. Berfikir seperti itu, Taeyeon merasa tidak enak. Selama ini, selama dia tinggal bersama Baekhyun sampai sekarang sudah menjadi istri resminya, belum pernah sekalipun Taeyeon memasak untuk mereka. Semua yang melakukan pasti Baekhyun.

Seulgi memang mengajarinya, tapi semua yang diajarkan Seulgi terlalu singkat, bahkan selama seminggu saja tidak. Jadi mana mungkin Taeyeon bisa memasak dalam waktu singkat seperti itu.

Taeyeon bangun dari posisinya, dia lalu berjalan mendekat ke arah pintu. Setelah jaraknya dekat dengan pintu kamar yang menghubungkannya dengan ruang tengah apartemen Baekhyun, telinganya bisa mendengar lebih jelas suara apa tadi yang membangunkannya.

Itu suara Baekhyun, Boa, dan Yuri. Mereka terdengar seperti tengah berdebat, namun apa yang mereka debatkan? Taeyeon mengangkat bahunya bingung, lalu dengan gerakan lambat gadis itu membuka pintu kamar.

Sedetik setelah suara pintu kamar terdengar, suara Baekhyun, Boa dan Yuri seketika menghilang tidak lagi terdengar olehnya. Dapat Taeyeon lihat Baekhyun sedang dalam posisi berdiri, tangannya diletakkan di sisi pinggang kanan dan kirinya. Sedangkan Boa dan Yuri dengan santainya mereka duduk di atas sofa. Mereka bertiga mengalihkan pandangan mereka ke arah Taeyeon sehingga berhasil membuat gadis yang baru bangun tidur itu salah tingkah.

“Umm, selamat pagi?.” Ujar Taeyeon kikuk.

“Seharusnya kau bangun lebih pagi Nona Byun.” Boa menggelengkan kepala memperhatikan Taeyeon dengan rambutnya yang masih acak-acakan.

“Eonni ini masih pukul 6, lagi pula aku biasa bangun pukul 7.” Taeyeon dengan malas berjalan mendekat ke arah dimana Boa dan Yuri duduk, melewati Baekhyun yang tengah menatapnya. Dirinya lalu menjatuhkan tubuh kecilnya di atas kursi tepat di samping Yuri. “Dan ini adalah rekor pertamaku bangun di jam yang masih sangat pagi seperti ini, terima kasih kepada kalian semua yang telah menganggu waktu tidurku.”

“Berhenti bermanja-manja tuan putri, ubah semua kebiasaanmu yang kekanak-kanakkan itu.” Yuri menyenggol tangan Taeyeon yang bersandar di kursi.

“Yuri benar. Kau itu sudah menjadi seorang istri. Kau tahu ‘kan hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang ‘istri’.?”

“Lebih tepatnya, ‘kewajiban’ yang seharusnya dilakukan oleh seorang ‘istri’.” Yuri mengoreksi pernyataan Boa.

Taeyeon mengangguk. Dia tahu, sangat tahu. Dulu dia selalu bermimpi jika dirinya kembali bertemu dengan Luhan, mereka akan menikah. Taeyeon ingin menjadi istri yang berbakti kepada Luhan. Dengan melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan. Bangun pagi-pagi, memasak untuk suami, lalu membangunkan suami, menyiapkan baju untuk dipakai suami bekerja, membereskan rumah ketika suami bekerja dan masih banyak lagi. Taeyeon ingin melakukan itu semua, tapi semua itu adalah mimpinya dengan Luhan bukan dengan Baekhyun. Apalagi pernikahannya dengan Baekhyun itu sangat mendadak, tanpa ada persiapan awal.

“Noona, Yuri berhenti menyudutkan Taeyeon.”

Baekhyun yang sejak tadi diam akhirnya membuka mulut. Boa mendelik menatap adiknya itu. “Noona tidak menyudutkan Taeyeon, noona hanya mengingatkannya. Lagipula noona terlalu sayang kepada adik ipar noona ini, jadi mana mungkin noona menjelek-jelekkannya.”

“Taenggo-ah, aku dan Boa eonni sudah menyiapkan barang-barang yang akan kau bawa ke Thailand nanti, jadi kau tidak usah repot-repot untuk bersiap-siap, tugasmu hanya tinggal membawanya dan berangkat.”

“Yup, semuanya sudah lengkap. Baju, make up, pokoknya semua keperluan untukmu di sana sudah eonni dan Yuri siapkan.”

“Gomawo.” Ujar Taeyeon pelan. Dia malu, ya malu. dia benar-benar akan pergi berbulan madu dengan Baekhyun?

“Tapi, kapan kalian menyiapkannya? Dan kapan kalian masuk ke dalam kamarku untuk menyiapkan semua itu?.” Taeyeon menunjuk satu koper berwarna biru tua dekat meja ruang tengah dengan dagunya.

Taeyeon menatap Boa yang terlihat sedikit gugup, alis mata Taeyeon terangkat. “Eonni?.”

“Kau tidur seperti snow white, Taeng, bahkan ketika kami menjatuhkan buku di kamarmu saja kau tidak terusik sedikitpun.”

Boa menatap Yuri, dan memberikan tatapan seolah ‘berterima kasih’ kepadanya karena telah menolong mengarang alasan kepada Taeyeon.

“Mereka berbohong.” Baekhyun kembali bersuara. “Mereka baru saja datang mana mungkin mer-.”

“Taeyeon-ah, kau cepat mandi, bukankah penerbangan kalian pukul 9? Kudengar di persimpangan jalan menuju bandara macet parah, kalau kau tidak siap-siap dari sekarang, bisa-bisa kalian terlambat. Go go go.”

Taeyeon menuruti perintah Boa, gadis itu berdiri di duduknya dengan malas lalu berjalan kembali ke arah kamarnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti.

“Baekhyun, bisa kita bicara sebentar? Eonni, tidak apa-apa ‘kan kalau aku dan Baekhyun berbicara berdua sebentar?.” Yuri bertanya dengan hati-hati, matanya melihat Baekhyun dan Boa bergantian dengan tatapan memohon.

“Tentu saja.”

Yuri mengangguk dan menatap Baekhyun seolah-olah menyuruh laki-laki itu untuk mengikutinya. Yuri sadar bahwa dia sudah tidak sopan kepada Baekhyun, dia tuan rumah, bahkan saat memanggil nama Baekhyun tadi ‘pun Yuri tidak menggunakan embel-embel ‘oppa’. Padahal sudah jelas jika Yuri itu lebih muda dari pada Baekhyun. Tapi siapa yang peduli? That’s Yuri.

“Ada apa?.” Tanya Baekhyun setelah mereka berada di luar apartemen. Yuri sengaja mengajak Baekhyun keluar agar tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.

“Begini, Baekhyun, kau harus tahu kalau aku ini adalah sahabat Taeyeon sejak dari kecil. Tidak-tidak, bukan cuma aku, Jongin oppa dan Luhan oppa juga sahabat Taeyeon sejak kecil.”

Yuri menarik napas panjang. “Aku tahu Taeyeon seperti apa, sipatnya, bahkan hal yang tidak Taeyeon sendiri tahu-pun aku tahu. Aku sangat menyayangi Taeyeon, bahkan aku sudah menganggap dia sebagai saudaraku sendiri.”

“Aku punya satu permintaan, dan aku harap kau mau melakukannya. Bukan untukku, tapi, untuk kebahagiaan Taeyeon.”

“Permintaan apa?.”

“Aku tahu kalau kau sangat mencintai Seulgi, dan kau menikah bahkan menjaga Taeyeon hanya karena satu alasan. Itu semua atas permintaan Seulgi, benar ‘kan?.”

Baekhyun diam, tidak menjawab. Bahkan kepalanya ‘pun tidak mengangguk untuk meng’iya’kan atau menggeleng untuk men’tidak’an pertanyaan Yuri. Baekhyun bingung harus menjawab apa. Yang menjadi pertanyaannya, kenapa Yuri tahu?

“Taeyeon bilang padaku lewat telpon, kemarin. Jujur, aku sebenarnya marah, sangat marah. Setidaknya jika itu memang benar, kau jangan bilang itu di depannya. Kau tidak tahu betapa sakit hatinya Taeyeon? Dia beranggapan kalau dirinya hanya di kasihani olehmu, meskipun pada kenyataannya memang benar. Tapi, bisakah kau bersikap lebih baik kepadanya?. Dulu, ketika orang tua kandung Taeyeon meninggal dia sangat tertekan, dia sangat terpuruk, dia sangat kehilangan, bahkan aku dan Jongin oppa-pun tidak bisa membuat Taeyeon kembali menjadi Taeyeon yang seperti dulu, Taeyeon yang ceria. Sangat lama dia seperti itu sampai akhirnya dia bertemu dengan Seulgi, ketika orang tua Seulgi mengangkat Taeyeon menjadi anaknya.”

Yuri terdiam beberapa saat, tangannya terangkat dan menghapus air mata yang hampir saja keluar dari pelupuk matanya. Selalu saja begini, jika dia mengingat tentang masa lalu Taeyeon yang menyedihkan, dia pasti ingin menangis.

“Meskipun aku tidak menyukai Seulgi, bahkan mungkin awalnya aku benci dia, karena setelah Taeyeon bertemu dengannya, Seulgi selalu membawa Taeyeon jauh dariku dan Jongin oppa. Seulgi selalu bersikap seolah-olah dia adalah kakak kandung Taeyeon sehingga bisa melakukan apapun untuk tetap membawa Taeyeon terus berada di dekatnya. Tapi melihat Taeyeon tertawa dengannya, bahkan aku dan Jongin oppa-pun tidak bisa membuatnya tertawa semenjak orang tuanya meninggal, aku mulai membuka hatiku untuk tidak membenci Seulgi. Sejak saat itu Taeyeon kembali, dia kembali menjadi Taeyeon yang dulu. Taeyeon yang ceria, Taeyeon yang suka bercanda. Aku sangat ingin berterima kasih kepada Seulgi karena telah membuat Taeyeon kembali seperti itu, tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya. Dan mulai saat itu, meskipun aku selalu memperlihatkan wajah tidak sukaku pada Seulgi, tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku menganggapnya sebagai malaikat bagi Taeyeon.”

Baekhyun menatap Yuri, telinganya dengan seksama mendengar penuturan Yuri tanpa ada sedikitpun yang terlewat.

“Ketika Seulgi meninggal, hanya satu hal yang memenuhi pikiranku. ‘Bagaimana dengan Taeyeon? Seulgi adalah oksigennya, dan sekarang oksigennya telah pergi’. Aku sangat takut, takut kalau Taeyeon akan kembali menjadi patung, tidak bicara, dan yang dilakukannya hanya diam dan melamun. Tapi, semua dugaanku salah, dia tidak kembali seperti itu lagi, dan aku berani jamin kalau itu semua . . .”

Yuri kembali terdiam, tatapannya yang tadi tertuju kepada dinding yang berada di belakang tubuh Baekhyun beralih menatap Baekhyun tulus. “Itu semua karena kau.”

“Awalnya aku berpikiran kalau Taeyeon seperti sekarang ini karena Luhan oppa telah kembali. Tapi tidak, percayalah itu semua karena dirimu Baekhyun. Cara Taeyeon menatap Luhan oppa dengan kau itu sangat berbeda. Aku berbicara seperti ini bukan karena ingin kau melupakan Seulgi dan mulai menyukai Taeyeon, aku berbicara seperti ini karena aku ingin kau menghargai Taeyeon. Kau sangat mencintai Seulgi ‘kan?.”

Baekhyun mengangguk dengan ragu. “Kalau begitu tolong jaga hati Taeyeon, jangan membuatnya sakit. Karena aku yakin, jika kau menyakiti hatinya, bukan hanya dia yang merasa sakit, tapi Seulgi juga. Seulgi sangat menyayangi Taeyeon.”

Yuri meletakkan kedua tangannya di pundak Baekhyun, senyuman terpatri di bibirnya. “Sekali lagi, aku tidak memintamu untuk melupakan Seulgi dan beralih menyukai Taeyeon. Permintaanku, aku hanya ingin kau menjaga Taeyeon, memperlakukannya dengan baik, dan menganggapnya sebagai adikmu sendiri. Kau bisa kan?.”

Love, That One Word

Love has come without you knowing
Without any reason, you’re in my heart
All alone, I repeat these words as I cry
Do you know?

“Oppa, gwaenchana?.”

Taeyeon bertanya dengan suara lembutnya. Dia khawatir, sejak mereka berangkat dari rumah diantar oleh Paman Park dengan menggunakan mobil keluarga Byun, sampai sekarang mereka duduk di bangku pesawat yang akan membawa mereka ke tempat Bulan Madu mereka, Baekhyun belum berbicara kepadanya sedikitpun.

Apa Taeyeon kembali melakukan kesalahan? Tapi apa? Kalau tidak, kenapa Baekhyun hanya diam?

“Aniyo, tidak apa-apa.” Jawab Baekhyun singkat. Taeyeon memperhatikan Baekhyun yang sekarang tengah memejamkan kedua bola matanya dengan kepala bersandar ke kursi. Gadis itu menghela napas, sedikit kecewa dengan respon yang Baekhyun berikan.

“Oppa, apa oppa merasa sangat terpaksa dengan permintaan Appa dan Umma Byun? Oppa tahu, pernikahan kita bahkan—.”

“Yeon, Aku capek. Kau tidak ingat semalam Aku tidur pukul berapa? Bahkan meskipun Aku tidur pukul 1-pun pekerjaan Aku belum sepenuhnya beres.”

Taeyeon terdiam, alisnya terangkat sedikit ke atas, sedikit terkejut dengan kata-kata yang Baekhyun ucapkan.

“Aku ingin tidur, bangunkan jika pesawatnya sudah mendarat nanti.”

Taeyeon mengangguk lemah, dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Setidaknya, dia bisa sedikit terhibur dengan pemandangan udara di luar. Dia bersyukur mendapatkan tempat duduk tepat di samping jendela, tempat favoritnya jika dia bepergian menggunakan pesawat.


Apakah bulan madu ini akan berjalan sesuai dengan keinginannya dulu? Jujur saja, bahkan sejak dia berada di SMA saja dia sudah memimpikkan tentang bulan madunya.

Love, That One Word

Taeyeon mengerucutkan bibirnya lucu ketika Baekhyun sibuk mengomelinya. Gadis itu bahkan tidak malu menunjukkan wajah juteknya di bandara, yang faktanya di sana sangat banyak orang berlalu lalang.


Hanya karena Taeyeon ikut tertidur, sehingga ketika pesawat mendarat mereka ditinggalkan oleh penumpang lain. Hanya mereka berdua, untung saja ada seorang pramugari yang membangunkan mereka tadi. Tapi sungguh, ini adalah hal memalukan yang pernah Baekhyun alami.

“Aku juga mengantuk, aku tidak bisa menahan rasa kantukku. Oppa, mianhae~.”

Baekhyun menggeleng, pipinya masih merah karena malu akibat kejadian di pesawat tadi.


“Oppa.”

Diam.

“Oppa~.”

Diam.

“Oppa, aku ingin muntah!.”

Baekhyun menghentikan langkah kakinya. Laki-laki itu menoleh ke belakang, dimana di sana terlihat Taeyeon dengan muka yang dibasahi oleh keringat dingin. Baekhyun panik, dia berjalan cepat mendekati Taeyeon. Tangannya mengahapus keringat dingin itu menggunakan tangannya lembut. “Waeyo?.”

“Jet lag.” Jawab Taeyeon, mata gadis itu bahkan sedikit berair sehingga membuat Baekhyun lebih panik dari pada sebelumnya. “A-aku sudah tidak kuat.”

Tanpa pikir panjang, Baekhyun menarik tangan kecil Taeyeon untuk mengikuti langkahnya. Menuju toilet. Beruntung letak toilet dengan tempat mereka berdiri lumayan dekat, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Baekhyun membawa Taeyeon ke sana.


Baekhyun yang menyandarkan dirinya di dinding luar toilet, menegakkan tubuhnya ketika terlihat Taeyeon keluar dari dalam toilet. Laki-laki itu mengambil tissu yang sebelumnya dia ambil dari dalam saku dan memberikannya kepada Taeyeon.

“Sudah baikan?.” Tangannya merapikan helai rambut Taeyeon yang acak-acakkan.

“Hanya jet lag, aku hanya tidak mau muntah di depan banyak orang oppa.”

“Kau sering seperti ini?.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya. “Heem, aku sering mengalaminya jika pulang pergi Jepang-Korea.”

“Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Aku yakin supir suruhan appa sudah menunggu lama di tempat parkir.” Ajak Baekhyun. Laki-laki itu kembali menyeret kopernya.

“Kita tinggal dimana, oppa?.”

“Di hotel dekat pantai Samui, aku sudah memesan kamar di sana.”

“Wahh, jinjja? Dekat pantai? Daebak!.”

Baekhyun tersenyum dalam hati melihat ekspresi bahagia Taeyeon. Taeyeon terlihat sangat cantik jika senang seperti itu. Dan Baekhyun menyukainya. ‘Aku berjanji, Seulgi-ah, aku berjanji akan berusaha membuatnya bahagia’.

Love, That One Word

“Oppa aku ingin jalan-jalan.”

Baekhyun yang baru saja memejamkan mata, membuka matanya kembali mendengar ucapan Taeyeon. “Apa kau tidak capek?.”

Taeyeon menggeleng menjawabnya. “Anieyo, ayo kita pergi keluar.”

“Istirahatlah dulu, ini sudah sore, yeon. Sebentar lagi matahari akan terbenam.”

“Bukankah itu bagus? Sekalian kita menikmati matahari yang terbenam.” Ajak Taeyeon. Kali ini lebih antusias, mengingat melihat matahari terbenam apalagi di pantai adalah keinginan Taeyeon sejak kecil.

“Kita di sini satu minggu bukan satu hari. Masih banyak waktu untuk kita melakukan itu. Lebih baik hari pertama ini kita habiskan untuk beristirahat saja.”

“Araseo.”

Taeyeon menghela napas kecil, dengan langkah tidak cepat dia berjalan menuju salah satu kursi yang berada di dalam ruangan hotel mereka.

Dia memandang sekelilingnya, ruangan yang ditata dengan sangat modern. Furniture yang sangat unik, serta hiasan dinding yang sangat menarik. Taeyeon sangat menyukainya. Seketika lamunannya terhenti ketika dia merasakan handphone-nya bergetar di dalam saku. Dia merogoh saku dan mengambil handphone-nya. Sebuah pemberitahuan, Luhan mengirimi sebuah e-mail kepadanya.

Taeyeon membuka e-mail itu dengan semangat.

Hei gadis kecil, kau tahu betapa marahnya oppa saat ini? Tega sekali kau tidak memberitahu jam berangkat pesawatmu. Padahal tadi oppa berniat untuk mengantarmu. Huh, oppa sungguh kecewa. Apakah Baekhyun benar-benar telah membuatmu lupa pada oppa? Oppa sedikit kecewa, tapi oppa tetap berdoa yang terbaik untukmu. Semoga ‘bulan madu’-mu berjalan dengan lancar. Dapatkan hati Baekhyun, tapi jika kau tetap tidak bisa mendapatkannya, oppa masih setia menunggumu. Oppa serius, oppa masih menunggumu.

Taeyeon memandang layar ponselnya dengan pandangan kosong. Apa maksud e-mail dari Luhan ini? Dia masih menunggunya? Itu berarti Luhan masih berharap padanya?

Taeyeon tidak mau Luhan seperti ini, karena dia benar-benar sudah tidak mempunyai perasaan lebih lagi terhadap Luhan. Dia sudah terlanjur mencintai Baekhyun.

“Bahkan meskipun aku tetap tidak mendapatkan hati Baekhyun oppa, aku tidak akan kembali padamu. Aku tidak akan bisa berpaling dari Baekhyun oppa, karena aku benar-benar mencintainya. Mianhae oppa.” Gumam Taeyeon sangat pelan.

Dia mematikan handphone-nya lalu menyimpannya di atas meja dekat dengan kursi yang dia duduki. Gadis itu berdiri dan berjalan menghampiri koper miliknya. Kalau dia mengantuk, bisa saja sekarang dia tidur sama seperti apa yang Baekhyun lakukan sekarang. Tapi tidak, dia tidak mengantuk, dan daripada duduk sendiri melamun di dekat jendela, lebih baik dia membereskan pakaian mereka untuk dimasukkan ke dalam lemari.

Dia istri Byun Baekhyun sekarang, dan dia ingin mendapatkan hati seorang Byun Baekhyun. Dia harus berusaha, dan salah satu caranya adalah membuat Baekhyun kagum, dia akan melakukan apa yang seharusnya seorang istri lakukan.

Taeyeon mulai membuka kopernya dengan hati-hati dan tanpa mengeluarkan suara, takut jika dia mengeluarkan suara, Baekhyun akan terbangun. Namun baru saja dia membukanya, matanya membulat terkejut memperhatikan isi di dalam koper itu.

“Ige mwoya?.”

Taeyeon mengobrak-abrik isi koper itu dengan perasaan yang sangat tidak bisa dijelaskan. Gadis itu terlihat seperti ingin marah, namun pipinya merona seperti menutupi rasa malunya.

“Boa eonni, Yuri, mereka ahh jinjja.” Taeyeon mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak, isi dari koper itu benar-benar diluar dugaan. Kalian ingin tahu? Isinya hanya beberapa macam model bikini, lalu tiga buah baju tidur yang umm transparan. Tidak ada satupun baju yang layak untuk dia pakai! Oh, ayolah Taeyeon, ini pantai. Tapi bikini? Taeyeon tidak pernah berpikir dalam hidupnya untuk memakai bikini.

Taeyeon berdiri dan kembali mengambil handphone-nya, dia berniat akan menghubungi Yuri. Namun dia merutuk sebal, tidak ada jaringan. Tentu saja, kartu yang dia pakai adalah kartu lokal Korea, bukan Thailand. Sinyal Wifi sangat kuat di sini, tapi dengan Wifi dia tidak akan bisa menghubungi Yuri. Uhh, Taeyeon bodoh. Andai saja Yuri mempunyai email.

Taeyeon kembali mendekati koper miliknya lalu menutup koper itu dan menyimpannya di samping lemari. Taeyeon tidak akan membereskan kopernya. Akan sangat malu jika dia menyimpannya semua bikini dan baju tidur yang transparan itu di lemari yang sama dengan Baekhyun ‘kan?

Taeyeon beralih dan membuka koper milik Baekhyun. Setelah terbuka, wangi maskulin yang berada di dalam koper itu mengeruak keluar. Wangi manly yang sangat Taeyeon sukai jika berada di dekat Baekhyun. Taeyeon satu persatu mulai mengeluarkan barang yang ada di sana,mulai dari beberapa benda yang sering Baekhyun gunakan, beberapa baju, celana, dan yang terakhir barang yang berhasil ketika tangannya menyentuh benda itu pipinya langsung merona.

Celana dalam milik Baekhyun, dengan tangan bergetar Taeyeon mengambilnya keluar. Celana dalam yang besar namun untuk ukuran laki-laki itu sudah cukup. Taeyeon memperhatikan celana dalam itu dan berhasil membuat pipinya merona dengan sangat hebat.

‘Byuntae, kau benar-benar byuntae. Kau terlihat seperti orang gila memperhatikan celana dalam suamimu itu.’ Gumamnya pelan. Dengan cepat dia membereskan semua barang milik Baekhyun dan setelah beres, Taeyeon kembali menutup koper Baekhyun dan menyimpannya tepat di samping koper miliknya.

Love, That One Word

“Kau tidak mengganti bajumu, yeon?.”

Taeyeon tersentak kaget ketika dia tengah menyisir rambutnya yang setengah basah. Taeyeon melihat pantulan Baekhyun yang berada di kaca, laki-laki itu hanya memakai sebuah handuk yang menutupi setengah badannya.


Apakah Taeyeon berlebihan jika dia bicara kalau Baekhyun sangat sexy hanya dengan menggunakan handuk? Perutnya yang six pack, dan tangannya yang kekar berotot. Oh membayangkan kalau tangannya menyentuh perut Baekhyun yang six pack itu benar-benar membuat Taeyeon panas seketika. Kenapa setelah melihat celana dalam milik Baekhyun tadi pikirannya berubah menjadi kotor seperti ini?

“Kau melamun.”

Taeyeon tidak sadar jika Baekhyun sekarang berada di belakangnya, handuk Taeyeon yang tadi melingkar di lehernya seketika Baekhyun lepas untuk dipakai mengeringkan rambutnya sendiri yang basah.

“Kau melamunkan apa?.”

Taeyeon menggeleng menjawab pertanyaan Baekhyun. Dia kembali meneruskan aktifitasnya –menyisir rambut-, meskipun pikirannya hanya fokus pada Baekhyun yang sekarang masih mengeringkan rambut di belakangnya. Suhu tubuhnya kembali naik, padahal baru saja dia mandi dengan air dingin. Salahkan Baekhyun yang seenaknya berdiri didekatnya dengan hanya menggunakan handuk.

“Kau tidak akan mengganti bajumu?.”

“Aniyo.”

“Lalu kau akan tidur menggunakan baju itu? Apa kau tidak gerah? Keringatmu menempel sangat banyak di baju itu, apa kau tidak ingat tadi siang cuaca sangat panas?.”

Taeyeon mengangkat bahunya tidak peduli. Lebih baik dia tidur menggunakan baju yang dipakainya sekarang ini dari pada harus tidur menggunakan baju tidur transparan yang disiapkan oleh Boa dan Yuri.

“Gantilah bajumu, yeon. Aku tidak mau tidur disamping orang yang bau keringat.”

“Yak, oppa! Aku tidak bau! Tega sekali kau berbicara seperti itu.”

Taeyeon merengut kesal, tangannya berniat untuk memukul lengan Baekhyun, namun Baekhyun berusaha menghindar dan otomatis tangannya malah menyentuh dada Baekhyun. Taeyeon mematung, matanya membulat. Dia dapat merasakan hangat tangannya ketika bersentuhan dengan permukaan kulit dada Baekhyun.

Dengan canggung Taeyeon menurunkan tangannya, dan sialnya tangan itu terlihat sangat jelas bergetar. Taeyeon merutuki dirinya sendiri karena terlihat bodoh di hadapan Baekhyun saat ini.

“Kenapa tanganmu bergetar?.” Baekhyun mengangkat alis, menggoda Taeyeon. Pipi gadis itu semakin merah menahan malu. Melihatnya, Baekhyun tertawa kecil. Handuk yang tadi dia pakai untuk mengeringkan rambutnya dia lilitkan di leher Taeyeon, lalu menariknya sehingga membuat gadis itu maju beberapa langkah ke arah Baekhyun.

Taeyeon menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Baekhyun. Dan tebak, meskipun gadis itu menunduk menghindari tatapan Baekhyun, matanya tidak menatap benda yang berada di bawahnya, melainkan menatap perut Baekhyun yang six pack. Uh, pikiran kotor Taeyeon kembali bekerja, otot perut itu terlihat sangat jelas di mata Taeyeon. Lipatan-lipatan otot itu membuat Taeyeon kembali membayangkan bagaimana rasanya menyentuh itu. Taeyeon bersyukur memiliki poni rambut yang cukup panjang, sehingga dia yakin bahwa Baekhyun tidak akan menyadari apa yang tengah diperhatikan Taeyeon sekarang.

Tubuh Taeyeon menegang ketika dia merasakan tangan hangat Baekhyun menyentuh pipinya dan mengangkat pipi itu untuk melihat ke arahnya. Taeyeon tidak bisa melawan, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa pasrah ketika dia melihat kedua bola mata Baekhyun yang seolah-olah menghipnotisnya.

“Maafkan aku.”

Baekhyun berucap dengan sangat pelan, saking pelannya Taeyeon yang tidak jelas mendengar mengangkat alisnya meminta Baekhyun untuk mengulangi ucapannya. “Nde?.”

“Maafkan aku.”

Kali ini Baekhyun mengucapkannya dengan suara yang jelas, namun Taeyeon masih tetap mengerutkan alisnya. Minta maaf? Untuk apa?.

“Maaf jika selama ini perkataanku sering membuatmu sakit. Kau jangan bertanya perkataan yang mana, karena aku yakin kau tahu perkataan mana saja yang ku maksud. Kau mau ‘kan memaafkanku?.” Tanya Baekhyun. Kedua tangannya mengusap lembut kedua pipi Taeyeon yang merona.

Dengan perlahan Baekhyun memajukan wajahnya dan mengecup mesra dahi Taeyeon. Cukup lama, sampai akhirnya dia kembali memundurkan wajahnya. “Aku sungguh bodoh, aku sungguh brengsek telah berkata sesuatu yang sangat menyakitkan padamu.”

Taeyeon menggeleng pelan, bibirnya sedikit terangkat membuat sebuah senyum kecil. “Jangan berkata seperti itu, oppa tidak bodoh ataupun brengsek.”

“Jinjja-yo?.”

Taeyeon mengangguk, senyuman dibibirnya semakin terlihat. Senyuman yang sangat cantik.

“Jadi, kau mau memaafkan suamimu ini, Byun Taeyeon?.” Tanya Baekhyun lembut, sama seperti Taeyeon yang tersenyum sekarang, bibir pria itu juga ikut terangkat menampilkan senyuman yang sangat tampan. Cara Baekhyun menyebut dirinya sebagai ‘suami’ dan kembali menyebut nama Taeyeon dengan marga Byun, membuat perut Taeyeon tergelitik bahagia.

“Tentu saja.”

Baekhyun mengusap pelan puncak kepala Taeyeon, lalu dengan santainya pria itu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Pelukan hangat, pelukan posesif, dan pelukan yang Baekhyun tidak sadari telah membuat gadis yang dipeluknya itu mematung.

Sungguh, Baekhyun membawa gadis itu kedalam pelukannya sangat erat, Bahkan bibir Taeyeon ‘pun dengan terpaksa bertemu dengan dada Baekhyun yang berotot. Oh ayolah, Byun baekhyun apa kau ingin membunuh Taeyeon?

Taeyeon semakin tidak karuan ketika dia merasakan sesuatu yang hangat berada di lehernya. Bibir Baekhyun, menelusup diantara perpotongan leher dan pundaknya. Bahkan napas yang pria itu keluarkan berhasil membuat Taeyeon menggeliat.

“Yeon-ah.”

“Hmm?.”

“Aku melihatnya.”

“Melihat apa?.”

Baekhyun mengangkat wajahnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Taeyeon. Lalu dengan jail dia berbisik, “Melihat kau memperhatikan celana dalamku, dan pipimu memerah.”

Taeyeon membulatkan matanya, gadis itu hendak melepaskan pelukan Baekhyun, namun pelukan Baekhyun yang cukup kuat menggagalkan niatnya.

“Kau tidak tahu reaksimu tadi? Ahh lucu sekali.”

“Oppa andwae!! Berhenti berbicara tentang itu.”

“Andai saja tadi aku merekamnya. Keke.”

Taeyeon menggeleng di dalam pelukan Baekhyun, tangannya mencubit pinggang Baekhyun yang tidak dilapisi sehelaipun benang membuat Baekhyun tertawa lepas, untuk pertama kali dalam hidupnya pria itu tertawa seperti itu. Sungguh, bahkan saat bersama Seulgi ‘pun Baekhyun tidak pernah bercanda seperti ini. Dia benar-benar berbeda jika bersama dengan Taeyeon.

Baekhyun mengeratkan pelukannya kepada Taeyeon, beberapa kali bibirnya mengecup puncak kepala gadis itu. Dan tangan Taeyeon perlahan terangkat dan membalas pelukannya. Gadis itu tersenyum, dia berharap Baekhyun akan selamanya seperti ini. Selamanya sadar jika selama ini beberapa perkataannya sering membuat Taeyeon sakit, sehingga pria itu sadar dan tidak akan pernah sekali lagi menyakitinya dengan perkataan-perkataan itu.

‘Luhan oppa, sepertinya aku telah mendapatkan hati Baekhyun oppa. Sekali lagi, maafkan aku.’

Love, That One Word


Hari kedua Baekhyun dan Taeyeon berada di Thailand, tepatnya di Koh Samui. Salah satu pulau terbesar kedua di Thailand yang sangat populer karena keanekaragaman sumber daya alamnya, keindah pasirnya yang berwarna putih, di setiap sisi pantai terdapat pohon kelapa yang menjulang tinggi dan terumbu karang yang sangat unik.

Tempat yang sangat indah dan menarik. Apalagi jika didatangi oleh seorang sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.

Taeyeon masih duduk di sebuah kursi yang menghadap tempat tidur, dia bingung. Baekhyun menyuruhnya untuk bersiap-siap karena pria itu akan membawa Taeyeon ke sebuah tempat di sekitar pantai Samui, tempat yang memang sering dikunjungi oleh para wisatawan, Wat Plai Laem.

Wat Plai Laem adalah patung Budha yang terletak di salah satu Restoran di Koh Samui. Menurut Taeyeon, Baekhyun sengaja mengajaknya di hari kedua mereka bulan madu kesana, karena tempat itu sangat indah. Bukan hanya patung Budha-nya saja yang indah, tempat-nya ‘pun tepat di samping pantai sehingga mudah bagi mereka untuk menikmati keindahan sekitar tempat.

Taeyeon sangat antusias setelah mendengar cerita Baekhyun tentang tujuan pertama mereka, bahkan semalam dia sangat tidak sabar, ingin cepat-cepat tenggelam ke alam mimpi dan kembali membuka mata di pagi hari yang sangat cerah.

Namun sekarang, wajah taeyeon bahkan terlihat seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainannya. Dia kebingungan, tidak lucu kalau hari ini dia juga kembali memakai baju yang dipakainya sejak kemarin ‘kan? Ayolah, bahkan tadi Baekhyun kembali mengejeknya karena tidak mengganti baju saat sarapan.

‘Yuri jinjja babo’, rutuknya.

Ini semua gara-gara Yuri, dan tidak lupa Boa juga termasuk dalam masalahnya kali ini. Pantas saja kemarin pagi gerak-gerik mereka berdua sangat aneh, jadi mereka merencanakan semua ini? Tapi untuk apa? Astaga, mereka benar-benar membuatnya kebingungan sekaligus frustasi saat ini.

“Yeon? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masih bersantai seperti itu?.” Taeyeon menoleh ke asal suara, Baekhyun baru saja memasuki kamar hotel mereka. Dia terlihat sangat tampan dengan baju santai seperti itu, meskipun begitu, Baekhyun dengan baju kantoran-pun tidak kalah tampannya, menurut Taeyeon.


“Umm, oppa, umm.”

“Kau tidak mau pergi?.” Tanya Baekhyun, Taeyeon menggeleng keras menampik ucapan Baekhyun.

“Aniyo, bukan begitu. Tapi, oppa . .”

“Tapi kenapa?.” kali ini Baekhyun bertanya dengan tidak sabaran. Dia sedikit kecewa, Baekhyun sengaja meninggalkannya sebentar tadi untuk bertemu dengan salah satu staff hotel dan menanyakan tentang rute-rute di sekitar sini, berharap ketika dia kembali ke kamarnya Taeyeon sudah siap dan mereka tinggal berangkat.

Tapi, setelah dia membuka pintu kamar tadi, dia malah masih mendapati Taeyeon yang tengah bersantai –menurutnya-, belum ada persiapan sedikitpun. Baekhyun akan sangat kecewa jika semisalnya Taeyeon tidak jadi keluar dengannya, tapi kalau tidak jadi, kenapa? Bukankah kemarin ketika mereka baru saja sampai di hotel Taeyeon sangat antusias ingin jalan-jalan keluar? Bahkan gadis itu juga memaksanya.

“Tapi kenapa, yeon?.” Baekhyun berjalan mendekati Taeyeon yang tengah menunduk. Dia memegang wajah kecil gadis itu dengan menggunakan kedua tangannya dan mengangkat wajah itu agar memandang ke arahnya.

“Boa unni dan Yuri, mereka mengerjaiku, oppa.”

Baekhyun mengernyitkan kedua alisnya bingung. “Mengerjaimu? Maksudnya.”

“Ahhh, aku bingung bagaimana menjelaskannya padamu oppa, aku, mereka, ahh oppa, aku . . .”

“Hey, hey, hey, kenapa kau jadi panik begini? Aigoo, bicaralah yang jelas, yeon, oppa akan mendengarkanmu.” Pria itu menyunggingkan senyumnya yang sangat tampan, membuat kepanikan yang ada pada diri Taeyeon perlahan menghilang.

“Oppa tahu ‘kan kalau mereka telah menyiapkan semuanya, mulai dari baju sampai hal-hal kecil sekalipun untukku.” Baekhyun mengangguk dan kembali mendengarkan penjelasan gadis yang berada di depannya itu.

“Tapi, mereka berbohong oppa.”

“Berbohong bagaimana, yeon?.”

“Mereka memang menyiapkannya, tapi untuk pakaian, mereka, umm mereka tidak menyiapkannya satupun.”

Baekhyun mengerutkan alisnya dan menatap Taeyeon tidak percaya. “Tidak mungkin, yeon.” Baekhyun hendak berdiri, namun tangannya ditarik oleh     Taeyeon sehingga pria itu kembali terduduk di bawahnya.

“Oppa mau kemana?.”

“Aku ingin memastikan perkataanmu, yeon. Tidak mungkin Yuri dan noona-ku sekejam itu sampai tidak menyiapkan baju untukmu ‘kan?.” Ujar Baekhyun lembut. Pria itu kembali berdiri, saat dia merasakan tangan mungil Taeyeon kembali memegangnya, pria itu memberikan senyuman seolah berkata tidak apa-apa.

“Oppa andwae.” Pekik Taeyeon tertahan, dia memegang kedua pipinya sendiri menggunakan tangannya, mencoba menutupi pipinya yang sebentar lagi pasti akan berubah warna menjadi merah.

Dan ya, bahkan sekarang gadis itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya ketika terdengar Baekhyun membuka resleting koper miliknya.

Hening.

Tidak ada yang bersuara. Taeyeon bahkan tidak berani mengangkat wajahnya dari lututnya, terlalu malu jika harus bertatapan dengan Baekhyun. Sampai pada akhirnya keheningan itu terpecah ketika Baekhyun bersuara dengan suara cukup kecil, namun masih bisa terdengar oleh Taeyeon.

“Sudah kuduga, pantas saja tingkah mereka kemarin aneh sekali, mereka kemarin datang bahkan sebelum aku bangun.”

“Kenapa oppa tidak memberitahuku kalau begitu?” Taeyeon bersuara diantara kedua lututnya, gadis itu sedikit kesal.

“Kemarin aku hampir ingin memberitahumu, tapi Boa noona memotong ucapanku. Lagi pula kau juga salah, yeon, kenapa kemarin kau tidak memeriksanya terlebih dahulu sebelum berangkat?.”

“Kenapa oppa malah menyalahkanku?! Aku tidak salah, lagi pula aku tidak tahu jika Boa unni dan Yuri akan mengerjaiku seperti ini!.” Taeyeon mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun kesal, dia paling tidak suka jika disalahkan seperti ini, padahal posisinya sama sekali tidak salah, benar ‘kan? Atau hanya perasaan Taeyeon saja? Sepertinya hanya perasaan Taeyeon saja, karena memang seharusnya gadis itu memeriksa barang bawaannya dulu sebelum berangkat. Dasar ceroboh.

“Aigoo, oppa tidak menyalahkanmu. Kau itu ya, dasar anak kecil.” Baekhyun tertawa kecil dan kembali berjalan mendekati Taeyeon. Tangannya meraih pundak gadis itu dan membawa gadis itu untuk berdiri.

“Aku buka anak kecil oppa!.’

“Araseo, oppa hanya bercanda, lagi pula tidak mungkin jika oppa menikahi anak kecil ‘kan?.” Pria itu menyentil hidung Taeyeon gemas. “Kau mau jalan-jalan ‘kan?.”

Taeyeon mengangguk, tentu saja. “Mau.”

“Kalau begitu, cepat ganti bajumu.”

“Baju apa? Aku tidak punya baju sekarang selain baju yang kupakai ini.” Gadis itu merengek manja, membuat Baekhyun terpesona melihatnya. Selama ini, dia paling tidak suka dengan sipat kekanak-kanakkan perempuan, dia bahkan sering memarahi perempuan yang berlagak so’ lucu didepannya. Intinya, Baekhyun tidak menyukai ‘aegyeo’. Dia menyukai perempuan yang dewasa seperti Seulgi. namun sepertinya tipe perempuan Baekhyun sekarang berubah.

Terbukti, bahkan sekarang pria itu tidak memarahi gadis didepannya yang sedang merengek. Gadis itu, yang notabene adalah istrinya bahkan tidak bisa memasak, Baekhyun merasa tidak apa-apa dan Baekhyun menerimanya. Kim taeyeon, ah bukan, Byun Taeyeon telah merubah seoarang Byun Baekhyun.

“Pakai bikini yang disiapkan Yuri dan Noona-ku saja.”

Taeyeon membulatkan matanya tidak percaya, tangannya terangkat dan memukul lengan Baekhyun keras. “Oppa gila!!.”

“Aww ya, yeon-ah, kau memukul suamimu sendiri? Astaga,jinjja.” Pria itu mengusap bagian lengannya yang di pukul keras oleh Taeyeon. Serius, gadis itu memukulnya dengan keras.

“Mianhae, tapi salah oppa sendiri. Bagaimana mungkin oppa dengan santainya menyuruhku memakai bikini itu, bagaimana jika orang-orang memperhatikanku nanti? Meskipun tubuhku ini pendek, tapi asal oppa tahu, aku mempunyai ABS yang bisa membuat orang-orang tidak bisa mengalihkan pandangannya dariku.”

“Cih, kau pede sekali, pendek.”

“Oppa mengejekku?.” Taeyeon bertanya dengan alis berkerut. Baekhyun mengangguk dan menunjukkan smirk-nya. “Memang kau pendek ‘kan?.”

“Terserah oppa saja, yang penting aku tidak berbohong.”

“Kau pernah memakai bikini sebelumnya?.”

“Iya, wae?.”

Baekhyun menggelengkan kepalanya geram, Taeyeon pernah memakai bikini, huh? Entahlah, tapi kenyataan ini sedikit membuat pria itu tidak terima.

“Kalau kau pernah memakainya, kenapa sekarang justru kau tidak mau memakainya?.”

“Dulu aku memakainya karena terpaksa, oppa. Kampusku sedang mengadakan lomba renang, dan di kelasku hanya aku yang bisa berenang.”

“Aissh, sekarang kau juga tidak punya baju ‘kan? Kalau begitu kau juga terpaksa harus memakainya, yeon.”

“Kenapa oppa memaksa sekali?!.” Ujar Taeyeon geram, sedikit tidak terima karena Baekhyun tidak berhenti menyuruhnya untuk memakai bikini.

Baekhyun mengangkat bahu dan memilih untuk berjalan kembali mendekati koper milik Taeyeon yang terletak di pinggir lemari. Taeyeon memperhatikannya, dan dia cukup terkesiap memperhatikan bagaimana Baekhyun begitu santainya melihat-lihat isi koper itu. Setelah merasa mendapatkan apa yang dicarinya, pria itu berdiri dan berjalan kembali ke arah Taeyeon.

“Pakaian ini tidak terlalu terbuka, pakailah.”

“Tetap saja itu tidak akan nyaman untuk dipakai, oppa.”

Baekhyun menghela napas pelan, mencoba sabar untuk menghadapi sifat keras kepala istrinya itu. “Lihat, ini bahkan tidak terlihat seperti bikini. Kainnya memang pendek, tapi ini di pantai, yeonnie-ah. Kalau kau masih tidak nyaman, kau bisa memakai kemeja milik oppa sebagai atasan atau sebagai penutup atasannya?.”

“Ayolah, sekalian nanti kita membeli baju untukmu juga.”

Taeyeon menatap Baekhyun, sebelum akhirnya gadis itu mengangguk ragu. “Araseo oppa, tunggulah diluar, aku akan mengganti bajunya dulu.”

Baekhyun tersenyum, di memajukan badannya mendekati Taeyeon dan mengecup dahinya singkat. “Araseo, kemejanya kau pilih saja mana yang kau suka.”

Taeyeon memperhatikan Baekhyun yang berjalan menjauh darinya, sampai tubuh pria itu tidak terlihat lagi gadis itu masih tidak bergeming sedikitpun. “Seulgi eonni, inikah sifat Baekhyun oppa yang sebenarnya? Aku semakin menyukai oppa, eonni.” Gumam Taeyeon dengan senyum yang sangat mengembang.

Love, That One Word


“Wahh, jinjja daebak!.” Pekik Taeyeon senang. Tangannya dia rentangkan, tubuh mungilnya dia putar, menikmati semilir angin siang di pinggir pantai yang sejuk menerpa wajahnya. Baekhyun yang berada di belakangnya berjalan mendekat lalu dengan gemas tangan kanannya merangkul pundak gadis itu. Sedangkan tangan kirinya dia lingkarkan di tubuh Taeyeon, mengunci pergerakannya, membuat gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa.

“Ige mwoya?.”

“Orang-orang melihatmu, apa kau tidak malu?.”

Ya, orang-orang memang melihatnya. Lebih tepatnya memperhatikan Taeyeon dan alasan Baekhyun menghentikan gadis itu bukan karena dia malu, hanya saja dia tidak suka bagaimana cara orang-orang (kebanyakan laki-laki) melihat gadisnya itu. Apakah mereka tidak tahu kalau gadis yang mereka amati itu telah mempunyai suami?

Baekhyun cemburu? Ya! Pria itu mengakuinya. Bagaimanapun Taeyeon saat ini memang sangat mempesona, dia bagaikan seorang putri cantik. Rambut hitam lurusnya dia biarkan tergerai, dengan poninya yang disampirkan memakai pengikat rambut. Dia memakai baju yang terbuka, yang awalnya sangat Baekhyun inginkan, namun setelah tahu bahwa pakaian yang dipakai gadis itu mengundang perhatian laki-laki lain membuatnya menyesal memaksa Taeyeon memakai baju itu.Bahkan kemeja yang dia gunakan mampu menutupi celana pendek yang dia pakai, itu sangat terlihat jika gadis itu tidak memakai bawahan.

“Mereka melihatku?.” Tanya Taeyeon, matanya melirik ke kanan dan kirinya. Dan ya, banyak orang yang mencuri-curi pandang ke arahnya, seketika pipinya merona menahan malu.

“Kau jelek, tentu saja mereka melihatmu.” Canda Baekhyun. Gadis yang berada dirangkulannya itu mendelik tajam. Tangannya bersiap mencubit perut pria itu, namun seolah tahu apa yang akan dilakukan Taeyeon, Baekhyun berhasil menghentikannya.

“Aku hanya bercanda, yeon, jangan marah.” Baekhyun mengecup puncak kepala gadis itu, membuat gadis itu menggerutu namun tertawa di saat yang bersamaan.

“Oppa, lihat, di sana ada toko pakaian.” Tangan mungil Taeyeon terangkat dan menunjuk salah satu toko pakaian kecil di sebrang jalan. “Ayo kita ke sana.” Ajak Taeyeon.

Sampai di sana, mereka langsung di sambut hangat oleh dua orang yang menurut mereka adalah penjaga toko itu. “Selamat datang.” Ucap petugas itu dengan menggunakan bahasa Thailand. Baekhyun membalasnya, namun Taeyeon hanya tersenyum karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Oppa, kau bisa berbahasa Thailand? Dari tadi kau membalas sapaan orang-orang.”

“Tidak terlalu, hanya beberapa kata yang aku tahu. Yeonnie-ah, sepertinya baju ini akan pas dipakai olehmu.”

Baekhyun mengambil satu buah baju yang sangat simpel namun unik dan menyodorkannya kepada Taeyeon. Gadis itu menggeleng dan lebih memilih menunjuk satu pasang baju ‘couple’ berwarna pink. “Bagaimana kalau kita beli baju itu saja, oppa?.”

“Baju couple? Pink?.”

Taeyeon mengangguk dan tersenyum lebar. “Iya. Akan bagus jika kita memakainya bersama-sama.”

“Kita? Memakainya? Kau bercanda, yeon? Seriously, warna pink?.”

“Waeyo? Itu sangat lucu.” Biasanya, jika Taeyeon menginginkan sesuatu, dan orang itu tidak mau memberikan apa yang dia mau, Taeyeon akan mengeluarkan jurus aegyo-nya. Dan seketika orang yang melihatnya akan luluh.

“Oppa jebal~~.” Dan Taeyeon sekarang melakukannya. Mengeluarkan jurus aegyo di depan Baekhyun. Yang mau tak mau akhirnya membuat pria itu luluh. Baekhyun menggelengkan kepala dan menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya berjalan melewati Taeyeon. Berjalan menuju tempat dimana baju couple yang Taeyeon inginkan terpajang.

“Araseo, jangan melakukan itu lagi, Yeon.”

Taeyeon tersenyum puas, aegyo-nya tidak akan pernah bisa gagal untuk membuat orang lain luluh. Keke.

Love, That One Word

Sudah tepat tujuh hari mereka berada di Thailand. Mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan sangat menyenangkan. Tiada hari tanpa berjalan-jalan. Dan tiada hari tanpa membuat kenangan yang sangat indah bagi mereka berdua.

Besok, tepat pukul 10 pagi adalah jadwal kepulangan mereka. Waktu bagi mereka kembali ke aktifitas rutin mereka. Dimana Baekhyun yang akan kembali disibukkan dengan pekerjaannya sebagai Direktur di perusahaannya sendiri, dan Taeyeon yang telah berjanji pada dirinya sendiri kalau mulai besok dia akan belajar memasak dengan Yuri. Meskipun ketika dirinya menghubungi Yuri memintanya untuk mengajarinya memasak, gadis itu mati-matian menolak karena sudah tahu kemampuan Taeyeon di dapur itu sangat buruk. Namun akhirnya dengan bujukan-bujukan andalannya, sahabatnya itu mau membantunya.

Taeyeon berjalan menghampiri Baekhyun yang tengah duduk di dekat jendela, memandangi pemandangan malam luar pantai Samui yang sangat indah. Gadis itu awalnya berniat ingin tidur, namun ketika dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Baekhyun terduduk sambil memandang keluar jendela membuatnya penasaran apa yang sedang laki-laki itu fikirkan.

“Oppa?.”

Baekhyun seketika menoleh mendengar suara lembut yang memasuki gendang telinganya. Pria itu tersenyum, mendapati Taeyeon, yang kembali memakai nightgown. Kemarin-kemarin, ketika Baekhyun menyuruh gadis itu memakai nightgown untuk tidur, dia selalu menolak. Sebenarnya bukan tidak mau, Taeyeon hanya malu jika berpakaian seperti itu di depan Baekhyun. Namun perlahan-lahan rasa malunya pergi, bahkan tanpa disuruhpun sekarang Taeyeon sudah dengan sendirinya memakai baju tidur seperti itu.


Baekhyun menarik Taeyeon untuk duduk di sampingnya, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Pria itu menghirup wangi shampoo yang mengeruak dari rambut Taeyeon yang mulai kering.

“Oppa, ayo kita tidur.” Ujar Taeyeon dengan mata yang tertutup di pelukan Baekhyun. Pria itu menggeleng, tidak menghiraukan permintaan sang istri dan lebih sibuk kembali menghirup wangi tubuhnya. Dari rambut, turun ke pundak. Bahkan sekarang pria itu bukan hanya menghirup wangi tubuh Taeyeon, namun bibirnya juga bekerja mengecup seluruh permukaan kulit leher Taeyeon sehingga membuat gadis itu sedikit menggeliat karena geli. Baekhyun tertawa kecil melihat reaksinya.

Pria itu mengangkat kepalanya menatap bola mata Taeyeon dalam, tangannya menangkup wajah cantik itu dan mengusapnya lembut. “Besok kita pulang ke Korea?.” Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Baekhyun. Kenapa pria itu bertanya seperti itu? Bukankah tadi siang justru dia yang mengingatkan Taeyeon kalau hari ini adalah hari terakhir mereka dan besok adalah hari kepulangan mereka?.

“Kita sudah tujuh hari di sini, dalam waktu satu minggu itu, jujur, sangat banyak kesenangan yang sebelumnya belum pernah aku rasakan dan akhirnya aku rasakan sekarang, bersamamu.”

Baekhyun memajukan kepalanya dan mengecup dahi Taeyeon mesra.

“Hanya bersamamu, dan aku sangat bersyukur bisa melakukannya denganmu.”

Dari dahi, beralih ke hidung gadis itu yang tidak terlalu mancung. Baekhyun mengecupnya juga mesra.

“Ini adalah malam terakhir kita di sini, dan aku tidak ingin membiarkan malam ini berlalu begitu saja tanpa ada hal berkesan yang nantinya tidak akan kita ingat.”

Sekarang kedua pipi Taeyeon yang chubby menjadi target selanjutnya yang Baekhyun cium. Pipi yang entah sejak kapan berubah warna dari putih pucat menjadi warna pink merona yang sangat menggemaskan.

“Byun Taeyeon, buka matamu.”

Taeyeon menurut, matanya yang sejak berada di pelukan Baekhyun sampai Baekhyun menangkup wajahnya tertutup, sekarang perlahan terbuka. Membalas tatapan dalam yang Baekhyun berikan padanya.

“Kau miliku, dan hanya miliku. Araseo?.” Gadis itu mengangguk, ragu namun pasti. Dan dalam hitungan detik pria itu telah menghapus jarak antara mereka berdua. Bibir mereka menyatu. Ciuman kedua mereka, setelah yang pertama ketika mereka selesai mengucapkan janji sehidup semati mereka di depan altar.

Dengan gerakan lembut dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi Baekhyun mulai menggerakan bibirnya. Pria itu mengulum bibir atas dan bawah gadis itu di saat yang bersamaan. Tangannya menekan leher gadis itu untuk semakin merapatkan jarak wajah mereka.

Taeyeon melenguh tertahan ketika dirasakannya tangan Baekhyun yang lainnya mulai turun dan mengusap punggungnya. Lenguhan Taeyeon ini dijadikan kesempatan bagi Baekhyun karena sesegera mungkin pria itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Taeyeon. Lidahnya bergerak lincah, mengeksploitasi isi mulut gadis itu. Tidak mau kalah, Taeyeon pun ikut ‘perang’ menggunakan lidahnya. Meskipun gadis itu tidak mengerti bagaimana caranya, karena kenyataannya ini adalah yang pertama baginya.

Merasa pegal karena Taeyeon duduk di sebelahnya, Baekhyun menggunakan kedua tangannya mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukan tubuh itu di atasnya. Kaki Taeyeon berada di setiap sisi pinggang Baekhyun. Tangan gadis itu mulai bertengger nyaman di leher Baekhyun, dan menariknya mendekat.

Taeyeon kembali melenguh tertahan ketika ciuman Baekhyun mulai turun menuju lehernya. Sampai bibir hangat Baekhyun berhenti di satu titik, dan Taeyeon merasakan sensasi yang sangat aneh ketika dia merasakan gigi Baekhyun menggigit lembut kulit lehernya.

Desahan tidak tertahankan keluar dari bibir gadis itu ketika Baekhyun meremas payudara miliknya. Meremasnya dengan lembut sehingga lagi-lagi membuat Taeyeon gila karena merasakan sensasi yang aneh. Dan desahannya semakin menjadi ketika sesuatu yang berada dalam celana boxer milik Baekhyun berdiri. ‘Junior’nya berdiri dan menyentuh langsung milik Taeyeon karena posisinya yang duduk di atas pria itu.

Malam itu, mereka menghabiskan waktunya dengan sangat indah. Seperti ucapan Baekhyun sebelumnya, dia tidak akan membiarkan malam ini terlewat begitu saja. Dan mereka bersumpah kepada diri mereka sendiri, kalau malam ini adalah malam terindah yang pernah terjadi dalam hidup mereka.

To Be Continued

Teaser of 8th Chapter

“Kalian melakukan ‘itu’ di malam terakhir kalian? Astaga astaga, you’re not kid anymore Tae~.” Mereka tidak sadar bahwa percakapan mereka berdua itu di dengar oleh orang lain, di balik pintu itu, dimana saat ini orang itu memegang dadanya yang seperti ditusuk oleh pisau yang sangat tajam. Sangat sakit.


“Apa yang kau lakukan yeon? Dia itu tamu, kenapa kau memperlakukan tamu seperti itu?!!.” Taeyeon menatap Baekhyun tidak percaya. Pria itu membentaknya. Dan itu semua dilakukan karena dia membela perempuan itu, sekretarisnya, orang yang mulai saat ini sangat Taeyeon benci.


“Aku benar-benar tidak bermain dengan ucapanku, aku akan membuat Baekhyun berpaling padaku, Kim Taeyeon!.”


“Eonni, apa yang harus aku lakukan?.” Gadis itu, dengan mata yang berlinang terduduk di samping makam kakaknya yang sangat dia sayang.

Please, be patiently wait for the next chapter ^^

Sorry i making you wait for so long and here i am, came with the most worst chapter ever >.<

I understand, you must be disappoint with me. I’m sorry okay :*

I’ll try my best for the upcoming chapter XOXO

Update-nya selang seling yah, habis ini MWW, terus LTOW chap 8, MWW dan seterusnya ❤

Oh ya, mau ngasih tahu, peran Jessica Jung yang sebagai kakak Byun Baekhyun di ganti jadi sama Boa ya ^^ so, don’t ask me why there was Boa or where was Jessica.

Kiss&Hug from me for all my lovely ATSIT fam ^_^

Advertisements

170 comments on “Love, That One Word (Chapter 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s