Skellington [Part 4]

SKELLINGTON -Part 4- by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar – EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Part 01 | Part 02 | Part 03

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

.

.

.

“Kim… Taeyeon? Kim… Tae… Yeon…?”

“Iya, itu namaku.” Ujarku pelan.

Reaksi Baekhyun di luar dugaan. Dia tidak ingat sama sekali tentangku. Dia terlihat biasa saja saat aku memasuki ruang inapnya dan datang dengan wajah kesal. Dia membuatku semakin ingin memukul kepalanya.

Baekhyun tersenyum memandangku, membuatku berpikir bahwa ini akan semakin konyol dan bodoh. Sebelum masuk kemari, Jessica sudah memberiku earphone dan mic untuk memberiku arahan tentang apa yang harus kukatakan. Lalu melalui earphone, Jessica berkata, “Sekarang kau tanya apa yang ia inginkan.”

“Baekhyun, apa yang ingin kau inginkan?” tanyaku berusaha sabar.

Baekhyun terdiam cukup lama sampai dia menggeleng. “Aku ada di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?”

Aku berbisik ke mic untuk berkata pada Jessica bahwa, “Dia gila.” Tapi Jessica malah menyuruhku untuk menjawab pertanyaan Baekhyun baik-baik tanpa mengatakan bahwa dia sebuah Skellington dan dia sudah mati. “Kau ada di gedung perawatan. Aku sendiri tidak tahu kenapa kau bisa berada di sini.”

“Kau datang untuk menolongku, bukan?” tanyanya dengan suara yang cukup keras. “Aku tidak kenal siapapun di sini, semua orang menatapku dengan aneh. Kau orang baik, kan? Kalau begitu tolong bawa aku menemui eomma dan appa.”

Aku bukan orang baik seperti yang kau kira, gumamku dalam hati. Akhirnya aku menjawab Baekhyun seperti yang diperintahkan Jessica, “Untuk sementara kau tidak boleh pergi dari tempat ini. Orang tuamu akan menemuimu beberapa hari lagi.”

“Kenapa tidak ada orang yang baik padaku!?” seru Baekhyun lalu mendorong meja yang ada di dekatnya, menyebabkan sepiring makanan dan segelas air jatuh ke lantai. “Aku bukan tahanan! Aku berhak untuk bebas! Kalian orang-orang aneh dan egois yang menculikku, bukan?!”

Seketika itu juga aku melepaskan earphone dan mic yang kabelnya melingkari kepalaku. Aku melemparnya ke lantai dan mendekati Baekhyun cepat. Dan dengan cepat juga aku mengangkat tanganku, mendaratkan tamparan yang cukup keras pada pipinya yang hangat. “Jangan bicara apa-apa lagi karena satu-satunya orang egois yang ada di sini adalah kamu!”

Pintu terbuka dan suara Jessica yang tinggi terdengar menyebutkan namaku, “TAEYEON!”

Karena tidak bisa mengendalikan emosiku sementara aku masih punya banyak hal yang ingin aku katakan padanya, akhirnya aku terus berkata dalam suara keras, “Kau adalah satu-satunya makhluk yang pantas menghilang dari dunia ini. Aku—“

Tiba-tiba kedua pergelangan tanganku dibawa ke belakang tubuhku dan ditahan oleh seseorang. Aku kenal genggamannya yang tak pernah terasa ragu. Ini genggaman Solar. “Eonni, bukankah eonni sudah berjanji akan belajar untuk memaafkan?”

Aku dibawa pergi dari ruang inap Baekhyun dan terpaksa menghadapi Jessica yang sepertinya sudah sangat kesal pada tingkahku. Tangan kanan Jessica menggenggam earphone dan mic yang tadi aku lempar ke lantai. Dia mengayunkan kedua benda itu di depan wajahku. “Taeyeon-ssi, tugasmu sebenarnya sederhana. Kau hanya harus berbicara padanya tanpa membuat dia takut atau terkejut.”

“Dia tidak takut maupun terkejut.” Sahutku cepat. “Dia marah padaku.”

“Dia marah karena kau tidak memberi jawaban yang ingin dia dapatkan, Taeyeon.” Lanjut Jessica lalu menggelengkan kepala. “Bagaimana kau akan mengurus Skellingtonmu jika bicara padanya saja sudah sulit? Ingat, kau masih belum kuberitahu soal makanannya, waktu minimal istirahatnya…”

Aku ingin berkata bahwa seharusnya kau membiarkanku keluar dari proyek ini sejak awal tapi karena takut Jessica akan berubah menjadi monster dan merusak seluruh gedung, aku memendam kalimat itu dalam-dalam. “Baiklah. Aku akan bicara padanya sekali lagi. Tapi kali ini jangan bekali aku dengan earphone dan mic yang membuatku gatal itu.”

“Lalu melihatmu memakinya seperti tadi?” tanya Jessica. “Andwae. Kau tetap akan memakai earphone dan mic yang sudah kusediakan.”

“Aku janji kali ini aku akan menahan emosiku.” Jawabku yakin. “Jika aku berada dalam situasi seperti tadi, masuk saja dan borgol tanganku. Aku siap diceramahi olehmu selama apapun.”

Jessica hanya menghela napas. Dia memerintahkan petugas lain untuk membuka pintu rawat inap. Mereka memberiku jalan untuk masuk. Sebelum pintu ditutup, Jessica berkata padaku, “Waktumu 15 menit.” Lalu aku mengangguk.

Dari tatapan matanya, aku tahu Baekhyun lebih waspada terhadapku. Dia menggenggam sendok makannya seakan-akan itu adalah pisau yang siap menyayatku. Aku mengambil kursi dan duduk tidak jauh dari ranjangnya. Selama beberapa menit kami hanya terdiam sampai aku berkata, “Aku tidak akan menyakitimu seperti tadi.”

“Kau mau aku ngapain?” tanya Baekhyun dan jelas dia takut padaku.

“Taruh sendokmu itu. Itu tidak akan pernah melukaiku dengan permukaannya yang lengkung. Kau seharusnya memungut garpu.” Jelasku lalu dengan tenang Baekhyun meletakkan sendok tersebut di dekat pahanya. Aku menghela napasku lalu berkata, “Maaf aku sudah bersikap kasar padamu. Seharusnya aku menjawab semua rasa penasaranmu.”

“Aku juga minta maaf. Seharusnya aku bertanya baik-baik.” Sahutnya. Sejujurnya aku tidak akan pernah mau memaafkan Baekhyun dan segala kesalahannya di masa lalu tapi jika aku katakan itu, mungkin yang akan mendobrak pintu bukan Jessica lagi tapi adikku sendiri. “Aku punya banyak sekali pertanyaan.”

Aku mengangguk. Waktuku pasti sudah berkurang banyak hanya untuk minta maaf. “Bagaimana kalau kau ceritakan padaku siapa dirimu lalu kau ajukan pertanyaan padaku. Tapi aku tidak akan menjawab selain ‘ya’ atau ‘tidak’ padamu.”

Baekhyun menyandarkan punggungnya ke bagian ranjang yang miring. Ia memandang langit-langit dengan tatapan damai. “Namaku Byun Baekhyun. Aku tidak ingat berapa usiaku. Aku selama ini tinggal bersama appa dan eomma tapi jika aku pulang larut, aku sering menginap di tempat kakakku. Entah kenapa begitu sadar dari tidurku aku berada di tempat ini. Aku tidak kenal siapapun dari orang-orang yang ada saat aku bangun.”

“Apa yang kau rasakan saat kau terbangun?” tanyaku berusaha terdengar lembut.

Baekhyun memandang tangannya. “Aku merasa seperti terlahir kembali. Aku tahu, itu gila… Tapi aku merasa aneh dirawat di tempat seperti rumah sakit ini karena aku jelas-jelas dalam kondisi yang sehat.”

Aku mengangguk dan menunggu Baekhyun untuk kembali bercerita. Tapi nyatanya dia tidak melanjutkan ceritanya jadi aku bertanya, “Apa kau punya pertanyaan untuk aku jawab? Aku hanya akan menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ daripada nanti kau tidak puas dengan jawaban panjangku.”

“Tapi berikan sedikit penjelasan juga setelah kau menjawab.” Ujar Baekhyun lalu aku mengangguk. Sifatnya yang menghitung segala keuntungan dan resiko tidak berubah. “Tempat ini penjara?”

“Tidak. Tempat ini adalah tempat penelitian.” Jawabku lalu saat Baekhyun hendak bertanya kenapa aku ada di tempat penelitian, aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu untuk saat ini karena akan memakan banyak sekali waktu.

“Orang-orang tadi adalah orang baik.”

“Ya. Mereka yang selama ini menjagamu saat kau tidak sadar.”

“Kau salah satu dari mereka?” tanya Baekhyun membuatku ragu.

Jujur, posisiku tidak sepenting Jessica dan Solar yang fokus pada perkembangan Skellington. Aku ada karena aku dipilih oleh Baekhyun. “Tidak. Aku bukan salah satu dari mereka tapi aku disuruh oleh mereka untuk berbicara denganmu.”

“Berarti kau orang jahat?” tanya Baekhyun lagi.

“Tidak, aku bukan orang jahat. Aku justru ada di sini karena aku ingin menolongmu.”

“Kau benar-benar ingin menolongku?”

“Ya. Mereka menelponku bahwa kau mengalami kesulitan makan dan kata mereka mungkin aku bisa membantu—“

“Kalau begitu tidak ada yang bisa kau bantu.” Kata Baekhyun memotong pembicaraanku. Seketika wajahnya terlihat bersalah. “Maaf, aku tidak bermaksud menjawab seperti itu. Hanya saja mungkin kau benar-benar tidak bisa menolongku. Aku tidak mengalami kesulitan makan. Aku ingin memakan sesuatu yang sangat aku suka tapi aku lupa apa itu. Jadi aku menolak semua makanan yang mereka berikan padaku.”

“Kau ingat ciri-cirinya?” tanyaku lalu Baekhyun menggeleng. “Apa orang tuamu tahu apa makanan yang kau maksud?”

“Bagaimana mungkin kau akan bertanya pada orang tuaku? Orang tuaku saja belum mendatangiku.” Gumam Baekhyun lalu aku menggeleng. “Tunggu. Jangan bilang kau mengenal orang tuaku?”

“Ya, aku mengenal orang tuamu. Apa kau tahu Apartmen di daerah Gangnam? Lantai 14 kamar nomor 02? Itu tempat kau dan orang tuamu tinggal, bukan?” tanyaku lalu Baekhyun mengangguk. Saat Baekhyun hendak bertanya, aku memotongnya dengan berkata, “Jadi jika aku berhasil bertanya pada orang tuamu apa yang ingin kau makan, kau akan memakan itu, kan?”

“Ya. Aku akan memakannya.” Jawab Baekhyun dan tepat saat itu Jessica membuka pintu, membuat Baekhyun terlihat kaget. “Mereka akan membawamu keluar?”

Aku memberi isyarat pada Jessica untuk menunggu sebentar lagi. “Ya, mereka akan membawaku untuk menemui orang tuamu.”

“Hah?” tanya Jessica lalu aku memberi isyarat untuk diam.

“Aku akan datang lagi.” Jawabku lalu cepat-cepat menuju pintu. Aku tidak tahan melihat tatapan Baekhyun yang seakan-akan berkata jangan pergi karena sebenarnya dari tadi aku menunggu pintu dibuka dan keluar dari ruangan ini.

“Aku… Akan menunggumu!” dan pintu tertutup. Jessica terlihat puas memandangku.

“Kau berhasil! Maksudku, kau berhasil untuk tidak mengamuk!” serunya lalu memelukku. “Ya ampun, apa saja yang dia katakan? Lalu kenapa kau bilang kau ingin menemui orang tuanya?”

Akhirnya aku mulai bercerita pada Jessica tentang alasan mengapa Baekhyun kesulitan makan dan niatku untuk menemui orang tuanya lalu bertanya apa kira-kira makanan yang dimaksud Baekhyun.

“Tadi kami sudah bertanya padanya seperti apa makanan yang dia ingin makan.” Ujar Jessica lalu menggeleng. “Kami sudah membawa makanan yang persis seperti yang dia deskripsikan. Tapi dia selalu bilang bahwa makanan yang kami bawa bukan yang dia maksud.”

Solar tersenyum bangga melihatku. Apa aku terlihat seperti sudah memaafkan Baekhyun? Karena aku belum bisa mengampuni Baekhyun. Lagipula aku hanya akan melakukan ini selama satu bulan.

“Aku akan pergi menemui orang tua Baekhyun.” Ujarku. “Jangan ada yang mengikutiku.”

“Siapa yang akan mengantar eonni?” tanya Solar cemas. “Apa eonni akan meminta Kai lagi?”

Aku memandang jam tangan. Aku sudah berjanji pada Kai bahwa ini tidak akan memakan waktu sampai 30 menit jadi dia tak perlu cemas untuk terlambat kembali ke tempat latihan. Tapi satu jam sudah berlalu, itu artinya Kai sudah tidak menungguku di parkiran. “Aku akan naik taxi.”

.

.

.

            “Hah? Sudah pindah?” tanyaku lalu sang resepsionis mengangguk. “Sejak kapan?”

Sang resepsionis hanya menggeleng. “Bukankah kau tetangga mereka? Mereka bahkan sudah tinggal di lantai itu sebelum kau dan appamu mulai tinggal di apartmen ini.”

Aku hanya menggeleng dan bingung apa yang harus aku lakukan. “Setidaknya carikan aku tempat mereka tinggal sekarang. Mereka bahkan tidak menulis alamat baru mereka di depan pintu!”

“Sebentar.” Ujarnya lalu mencari data yang ada di komputer. Sejak kapan memangnya Baekhyun dan keluarganya pindah dari ruang itu? Aku benar-benar tidak menyadarinya. Mungkin karena rasa benciku, aku jadi tidak mengurusi ada atau tidaknya tetanggaku. “Aha, ketemu. Mereka sudah pindah ke daerah Incheon. Ini alamatnya.”

Sang resepsionis memberiku kertas yang bertuliskan alamat sebuah rumah di daerah Incheon. Rupanya mereka sudah tidak tinggal di apartmen. Yah, memang berat untuk orang tua tinggal di lantai yang sangat tinggi. Mereka pasti cemas gedung apartmen akan patah. “Kamsahamnida.”

Aku memberhentikan sebuah taxi lagi dan menyerahkan alamat itu pada sang supir. Aku hanya bisa memandang jalanan dengan pikiran bahwa sudah lama aku tidak naik taxi. Selama ini Kai selalu mengantarku kemanapun aku ingin pergi. Bahkan kami liburan bersama dengan mengendarai mobil Kai.

Butuh waktu sekitar 40 menit sampai sang supir menemukan alamat yang aku berikan. Aku berhenti di sebuah rumah berwarna kuning dengan atap merah. Di plat dekat pagar, tertulis marga keluarga “BYUN” yang diukir dengan indah di papan kayu. Aku menekan bel sehingga bunyi yang cukup keras berdentang di rumah tersebut seperti jam big ben.

“Apa tidak ada orang di rumah?” gumamku lalu tepat saat itu seorang wanita separuh baya –mungkin seumuran mama—keluar dari rumah menuju pagar dengan kunci di tangan kanannya. Dia memandangku heran dan seperti mempunyai seribu pertanyaan di pikirannya.

“Apa kita pernah bertemu?” tanyanya sambil membukakan pagar. Aku mengangguk dan saat aku ingin menjawab, dia memberhentikanku dengan berkata, “Taeyeon, ya? Tetangga di lantai 14 apartmen itu?”

Ne…” jawabku lalu tersenyum. Entah kenapa kau merasa aneh saat Eomma Baekhyun masih mengingatku. Beliau memelukku lembut dan mengusap rambutku.

“Ayo, masuk.” Beliau menarik tanganku dan mempersilakanku duduk di ruang tamu. Di ruang tamu itu terpajang foto-foto keluarga. Ada yang lengkap 4 orang, ada yang tanpa kakak Baekhyun, ada yang Baekhyun dengan eommanya saja. Saat aku serius memandangi foto-foto itu, eomma Baekhyun bertanya, “Kopi?”

Ne, kamsahamnida.” Jawabku. Aku hanya bisa membayangkan betapa rumah ini berbeda jauh dengan rumah mereka di apartmen itu. Rumah ini mungil tapi sangat hangat, penuh cinta dan entah kenapa aku bisa membayangkan Baekhyun menjalani kehidupan sehari-harinya di sini.

“Maaf membuatmu lama menunggu.” Ujar eomma Baekhyun meletakkan kopi di depanku lalu aku menggeleng. Aku baru sadar bahwa sebenarnya appa Baekhyun sedang tidak ada di rumah saat eomma Baekhyun bertanya, “Bagaimana kabarmu? Dan Tuan Kim?”

Aku tersenyum lalu menjawab, “Kami masih tinggal di apartmen itu.”

“Kalian tidak punya rencana untuk membeli rumah, ya?” tanyanya lalu aku menggeleng. “Ah, tentu saja akan sepi jika rumah hanya ditinggali dua orang…”

Aku tidak tahu mengapa tapi eomma Baekhyun terlihat sangat sedih saat menjelaskan bagaimana sepi suatu rumah jika hanya ditinggali dua orang. Aku jadi ingat bahwa sebelumnya orang tua Baekhyun sudah diberitahu tentang proyek Skellington ini. Jadi aku berkata, “Sebentar lagi Baekhyun akan tinggal di sini lagi.”

“Aku tahu…” jawabnya lalu tersenyum. “Aku tahu.”

Aku meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi aku genggam lalu berkata, “Maaf… Saya sama sekali tidak tahu bahwa Baekhyun sudah meninggal. Saya bahkan tidak mendapat kabar tentang dia di hari-hari sebelumnya. Apa dia sakit?”

Eomma Baekhyun menggeleng. “Dia mengalami kecelakaan.”

Lalu selanjutnya eomma Baekhyun menceritakanku bagaimana Baekhyun bisa meninggal hingga bagaimana dia bisa menjadi Skellington. “Kalau tidak saat itu dia baru saja lulus SMA. Dia dan teman-temannya mengadakan pesta kelulusan di salah satu rumah temannya. Aku tahu Baekhyun sebenarnya tidak kuat minum tapi dia tetap memaksa. Dia menyetir dalam keadaan mabuk hingga akhirnya mobilnya menabrak truk.”

Aku tidak satu SMA dengan Baekhyun jadi aku tidak tahu bahwa ada kejadian seperti itu. Apalagi saat itu kami berdua sama-sama sudah lulus.

“Polisi berkata bahwa kadar alkohol dalam darahnya sangat tinggi, yaitu 0,20. Aku tahu teman-temannya yang memaksa Baekhyun untuk minum tapi aku tidak menyalahkan mereka.” Eomma Baekhyun menghela napas. “Karena salah dia sendiri yang tidak mengerti apa yang akan terjadi jika dia melakukannya.”

Aku mengangguk karena memang sifat Baekhyun seperti itu. Terkadang saat dia memikirkan suatu resiko dan keuntungan, dia cenderung mengabaikan resiko. Dia hanya akan fokus terhadap apa yang akan dia dapatkan. Aku tahu ada banyak keuntungan dalam minum-minuman keras, apalagi saat itu mungkin dia sedang pesta melepas masa remaja. Tapi tetap saja.

“Beberapa minggu kemudian, orang dari perusahaan Skellington menawarkan pada aku dan suamiku sebuah proyek yang dapat menghidupkan Baekhyun kembali. Bahkan kami dibebaskan dari segala biaya jika kami setuju seluruh bagian tubuh Baekhyun yang tersisa kami serahkan padanya.” Jelas eomma Baekhyun lalu tersenyum bahagia. “Dia berkata bahwa tubuh barunya mungkin baru selesai sekitar 5 tahun. Dan sebulan yang lalu, orang yang sama menelponku dan meminta semua informasi tentang Baekhyun yang kami punya.”

“Aku berpikir, akhirnya… Aku bisa melihatnya tersenyum lagi. Aku bisa memeluknya lagi dan aku bisa melindunginya, menceramahinya dan membekalinya banyak pengetahuan lagi.” Eomma Baekhyun terlihat berseri-seri saat bercerita padaku. “Kami bahkan sudah menyiapkan kamarnya dan menyambutnya saat dia datang ke rumah ini. Aku tahu dia akan merindukan apartmen itu, tapi… Membayangkan kami bisa hidup bersama lagi saja aku sudah sangat senang.”

Seketika itu aku langsung merasa iri pada Baekhyun. Keluarganya benar-benar memperhatikannya. Tidak seperti aku di mana mama tidak mau menemuiku karena aku sangat mirip dengan papa. Atau papa yang tidak mengakui Solar sebagai anaknya karena papa tahu Solar persis seperti mama waktu muda dulu.

“Saya… Sudah bertemu dengan Baekhyun.” Ujarku hati-hati. Eomma Baekhyun melebarkan matanya, menggenggam tanganku. “Dia sangat bingung mengapa dia berada di situ. Tapi dia tidak berhenti bertanya tentang anda. Tentang orang tuanya.”

Jinjjayo?” tanyanya lalu aku mengangguk. “Ya Tuhan. Lalu? Apalagi yang dia katakan?”

“Dia belum banyak bicara. Tapi dia ingin makan sesuatu dan dia tidak ingin memakan makanan lain jika dia belum memakan apa yang ia inginkan itu.” Jelasku. “Jadi saya datang kemari untuk bertanya mungkin anda tahu apa makanan yang diinginkan Baekhyun?”

Sebelumnya Jessica sudah mengirimiku daftar makanan yang sudah ia tawarkan pada Baekhyun kemudian ditolak. Juga ciri-ciri makanan yang dia maksud. Lalu selanjutnya aku dan eomma Baekhyun saling menebak kira-kira apa makanan yang Baekhyun maksud.

“Tunggu. Aku tidak ingin sebagai eommanya tidak tahu apa makanan yang ia ingin makan.” Ujarnya setelah 30 menit dan kami belum mengetahui makanan yang Baekhyun maksud. Tiba-tiba eomma Baekhyun terlihat gembira. “Pudding!”

“Pudding?” gumamku lalu memeriksa daftar yang diberikan Jessica. Pudding tidak tertulis di sana. “Ah, mungkin pudding bisa. Tapi ciri-cirinya kan berwarna hitam dan putih…”

“Bagus!” seru eomma Baekhyun. “Dia suka pudding oreo. Itu makanan favoritnya sejak kecil, ya ampun kenapa aku bisa lupa?”

Aku hanya bisa berharap itu jawabannya. Baekhyun memang suka pudding oreo. Setiap pulang sekolah, dia pasti akan membeli satu cup pudding oreo. Aku langsung mengirim e-mail pada Jessica dengan pesan coba beri Baekhyun pudding oreo. Aku baru saja bertanya pada eommanya. Oh ya, pudding oreo tidak ada di daftar yang kau berikan, kok.

“Taeyeon!” seru eomma Baekhyun membuatku terkejut. “Aku akan membuat pudding oreo sekarang juga. Tolong berikan pada Baekhyun. Tunggu sebentar saja, ini tidak akan lama.”

Aku hanya bisa mengangguk dan memperhatikan eomma Baekhyun segera berlari ke dapur. Aku tidak berani bilang bahwa mungkin saja Jessica sekarang sedang membeli pudding oreo dan bermaksud untuk memberikannya pada Baekhyun. Tapi mungkin dengan pudding buatan eommanya, keadaan Baekhyun bisa jauh lebih baik lagi.

Sekitar 30 menit kemudian, eomma Baekhyun sudah memberikanku dua buah pudding oreo. Beliau menelpon taxi untukku dan berjanji akan membayar biayanya. Beliau juga memberikanku sebuah kerdus besar yang membuatku bertanya, “Apa isinya?” tanyaku lalu eomma Baekhyun hanya tersenyum.

“Baekhyun menyimpan semua hartanya di dalam situ. Aku juga memasukkan barang-barang yang selama ini ingin aku berikan padanya.” Jawabnya. “Ayo cepat, taximu sudah menunggu.”

Aku terus melambaikan tangan hingga rumah Baekhyun tidak terlihat lagi. Aku hanya bisa berharap semoga Baekhyun bisa segera kembali ke tempat orang tuanya. Mungkin semua itu tergantung padaku. Aku harus memperlihatkan hasil maksimal selama sebulan ini lalu mengantar Baekhyun ke tempat orang tuanya. Meski aku membencinya.

.

.

.

            “Baekhyun masih tidak mau makan?” tanyaku begitu bertemu dengan Jessica yang dari tadi sudah menungguku di depan ruang inap Baekhyun.

“Kami sudah membeli semua pudding oreo dari berbagai merk tapi dia bilang bukan itu yang dia cari. Rasanya hampir mirip tapi ada yang kurang.” Jelas Jessica lalu memperhatikan barang yang aku bawa. “Apa itu?”

“Barang-barang Baekhyun yang dititipkan eommanya.” Jawabku. “Eomma Baekhyun menitipkan pudding oreo buatannya sendiri kepadaku. Boleh aku masuk dan memberikannya pada Baekhyun?”

Jessica tersenyum lalu membukakan pintu untukku. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi?”

Baekhyun sedang membaca sebuah novel yang berjudul The Course of True Love (and First Dates) saat aku masuk. Yang membuatku terkejut adalah dia tersenyum padaku. Dia terlihat sangat kelelahan dengan kantung di bawah matanya. Rupanya Baekhyun masih hobi membaca novel super tebal.

“Hei.” Sapaku lalu duduk di kursi putar yang ada di dekat ranjangnya. “Aku baru saja menemui eommamu. Beliau menitipkanku—“

Jinjjayo?” tanyanya lalu aku mengangguk. “Eomma sehat? Ngomong-ngomong barang apa yang kau bawa itu?”

“Beliau sehat dan sangat ingin bertemu denganmu. Ini… Barang-barang berhargamu yang selama ini disimpan eommamu.” Aku memberikan kerdus itu pada Baekhyun. Dia terlihat sangat senang saat melihat apa yang ada di isi kerdus itu. Aku langsung teringat akan pudding yang beliau titipkan padaku. “Aku membawa pudding oreo buatan eommamu. Kau mau coba makan?”

Tanpa melihatku, Baekhyun mengangguk. Aku mengambil piring dan sendok dari meja di dekatnya dan memberikan pudding tersebut pada Baekhyun. Dengan senang hati, Baekhyun mencicipinya dan tanpa kuharapkan, dia menghabiskannya.

“Ya Tuhan. Akhirnya kau makan juga!” seruku lega lalu teringat bahwa masih ada satu lagi pudding oreo. “Kau mau makan lagi?”

Baekhyun menggeleng. “Seperti yang kuharapkan, eomma memang hebat. Kemampuan masaknya tidak berubah. Kurasa aku memang ingin makan pudding oreo tapi bukan yang ini. Maafkan aku tapi aku tidak akan memakannya lagi sebelum makan pudding oreo yang aku cari.”

“Hah?”

“Kuharap kau tidak keberatan, tapi aku ingin tidur sekarang.” Baekhyun menyerahkan piring dan sendok padaku lalu dia memintaku meletakkan kerdus di bawah ranjangnya. Dia tertidur sangat cepat dan seketika komputer di atas kepalanya –yang menghubungkan bagian tubuhnya—menunjukkan kalimat Skellington Baekhyun butuh istirahat panjang.

Aku menghela napas. Sebenarnya pudding oreo di dunia ini ada berapa macam dan di mana, kapan, lalu bagaimana Baekhyun memakannya? Aku perlu tahu itu. Dan di saat itu aku menyadari sebuah buku kecil yang jatuh di dekat ranjang Baekhyun. Aku meraihnya dan membaca kata-kata yang ada di depan buku tersebut, “Diary Byun Baekhyun, dilarang membuka tanpa izin.”

Mungkin aku bisa mencari petunjuk lewat diarynya. Karena Baekhyun tidak akan bangun untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk membukanya. Tulisan Baekhyun cukup berantakan dan isi dari halaman pertama adalah: Tanggal 20 Juli. Dohoon Seosangnim memberi tugas untuk menulis diary sepanjang liburan musim panas. Karena Liburan musim panas 40 hari jadi aku akan menulis sepanjang 40 halaman. Gila. Memangnya aku anak berumur 6 tahun? Aku sudah 12 tahun! Aish… Jinjja. Bagaimana kalau aku mulai dengan kejadian hari ini? Hari ini aku pergi ke rumah Chanyeol dan bermain game bersamanya…

Aku baru ingat bahwa dulu guru kami pernah memberi tugas ini. Sebenarnya ini bukan tugas yang berat tapi anak laki-laki pasti akan menganggap ini tugas yang membosankan. Tanggal 31 Juli, aku datang ke festival buah bersama appa dan eomma. Appa memenangi lomba memukul semangka dan mendapat hadiah berupa menginap satu malam di hotel bintang lima.

            Tanggal 8 Agustus, Taeyeon datang ke rumahku. Aku dan dia sudah berjanji akan membuat PR karangan bersama-sama tapi yang kulakukan hanya menonton TV. Taeyeon marah sekali padaku dan bersumpah akan mengabaikanku selama satu semester. Aku hanya bisa tertawa karena Taeyeon tidak akan mungkin bisa melakukan itu.

Tanggal 19 Agustus, aku diam-diam mengikuti Taeyeon pergi dari apartmen untuk mengisi tugas karanganku. Ternyata dia menemui adiknya. Aku baru tahu bahwa Taeyeon punya adik. Dan aku baru tahu betapa Taeyeon menyayangi adiknya. Pantas saja dia tidak begitu tertarik padaku. Ternyata adiknya yang paling istimewa baginya.

Tanggal 27 Agustus, liburan hampir selesai dan aku terpaksa ke tempat Taeyeon untuk menyalin PR matematikanya. Dia benar-benar marah padaku dan tidak mengizinkanku untuk menyalin PRnya. Jadi aku mengerjakan semua soal di rumahnya dan tertidur. Begitu terbangun, aku mendapati pudding oreo di depan wajahku serta surat di sampingnya.

Aku berusaha mengingat apa yang aku tulis waktu itu sampai di balik halaman itu ada surat yang aku tulis untuknya. Untuk Byun Baekhyun. Tuh kan, kalau kamu serius kamu pasti bisa menyelesaikannya. Kau pasti capek jadi aku membuatkan pudding oreo untukmu. Ini favoritmu, kan? Aku membuatnya sendiri tapi maaf kalau rasanya aneh karena aku menyesuaikan seleraku. Oh ya kalau kau ingin membuatnya, kau bisa melihat resep yang aku tulis di balik surat ini. Aku harus pergi jadi pasang kunci otomatis jika kau keluar dari sini. Dari Taeyeon.

Aku membawa diary itu keluar dari ruangan dan mendapati Jessica yang sudah menungguku dari tadi. Aku langsung menghampirinya lalu bertanya, “Jessica, apa ada dapur di gedung ini? Dan bahan-bahan untuk membuat kue?”

“Ada sih, di lantai 3. Memangnya ada apa?” tanya Jessica kemudian aku tersenyum sambil memperlihatkan resep pudding oreo yang aku temukan.

“Aku akan memasak ini setelah aku tidak melakukannya untuk sekian lama.” Dan aku berlari menuju lantai 3.

BERSAMBUNG

Annyeonghaeyo, scarlettkid di sini. Sebelumnya aku mau minta maaf karena perkembangan cerita di part 04 sangaaat lambat. Aku ingin membuatnya semulus mungkin tapi sepertinya aku gagal… Tolong berikan aku kritik jika kalian menemukan keanehan lain di part ini.

Aku janji part berikutnya akan lebih baik jadi tolong ikuti terus cerita ini. Cerita ini akan masih sangat panjang tapi aku tidak akan membiarkan kalian merasa bosan. Terima kasih para reader setia!

Part 5 will be published on August 22nd 2015

Advertisements

116 comments on “Skellington [Part 4]

  1. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s