All My Love is for U (Chapter 4)

allmyloveisfor you 

Author : RYN

Length : chapter

Rating : PG 17

Main cast :

Baekhyun EXO

Taeyeon SNSD

Other cast : find it by yourself

Genre : Drama, Romance, Fluff, Friendship

Chapter 4

– – –

“Baekhyun…Oi!” Chanyeol melambaikan tangannya di depan wajah Baekhyun membuat pria itu tersentak dari lamunan.

Baekhyun mengacuhkannya seraya kemudian melihat kembali pintu yang sudah menyita perhatiannya sejak puluhan menit yang lalu. Tepat saat itu, pintu terbuka. Wajah Baekhyun seketika cerah, akan tetapi dia harus kecewa lagi karena yang keluar dari ruangan itu bukan Taeyeon melainkan siswa lain.

“Yonghwa hyung!” Seru Chanyeol tiba-tiba.

Siswa yang mereka lihat itu rupanya seseorang yang dikenal Chanyeol. Yonghwa menoleh dan tersenyum menghampiri mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanyanya pada Chanyeol. “Apa kau juga ada perlu dengan Shim songsaengnim?” Dia agak heran sebab tidak biasanya melihat Chanyeol di area ini.

Chanyeol buru-buru menggeleng, “Kami mencari Taeyeon nuna. Apa dia ada di dalam?”

“Taeyeon?” Yonghwa mengerutkan kening, “Seharian ini aku tidak melihatnya. Dia tidak ada di dalam.”

Chanyeol melongo heran. “Tidak ada?”

Yonghwa mengangguk dengan pasti.

“Tapi Hyorin nuna memberitahu kami kalau dia berada di klub musik.”

Yonghwa menggeleng pelan.

*Harusnya aku tahu kalau penyihir itu membohongi kami* Gerutunya. Chanyeol merasa sangat kesal. Sekarang, kemana lagi mereka mencari?

Yonghwa tampak berpikir sejenak, dahinya berkerut dalam. Tak lama kemudian, senyumnya mengembang. “Ah! Aku baru ingat. Sepertinya tadi aku melihat Taeyeon. Dia menuju taman belakang gedung—”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun sudah berlari ke arah yang dimaksudkannya tadi meninggalkan mereka berdua begitu saja. Chanyeol dan Yonghwa saling berpandangan.

“Dia temanmu?” Tanya Yonghwa heran.

Chanyeol menganggukkan kepalanya sambil melihat ke arah Baekhyun yang semakin hilang dari pandangan mereka. Mereka lalu berjalan bersama meninggalkan tempat itu.

“Yonghwa oppa!”

Seseorang di belakang mereka memanggil saat keduanya hampir sampai di gedung utama. Yonghwa dan Chanyeol menoleh bersamaan. Tidak jauh dari tempat mereka, seorang gadis dengan ikat rambut gaya apel, melambaikan tangan dengan senyuman ceria. Chanyeol balas melambaikan tangan sementara Yonghwa tersenyum lebar. Sikap pria itu nampak berubah drastis. Bila tidak mengetahui bagaimana perasaan Yonghwa sekarang terhadap gadis itu, Chanyeol pasti akan terkejut karena Yonghwa sungguh tidak berbakat menutupi perasaannya.

“Seo.” Pandangan Yonghwa berubah teduh.

“Hai oppa.” Sapa Seohyun lantas terkekeh.

Chanyeol tersenyum menahan geli. Pria yang dikenalnya selalu tenang, sekarang malah salah tingkah di depan gadis yang dia sukai. Yonghwa memang sangat menyukai Seohyun sejak dulu, hanya saja dia tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung. Alasannya, karena dia tidak ingin merusak persahabatan dengan gadis itu. Yonghwa sudah cukup senang dengan status mereka sekarang.

Ironisnya, berapa kalipun Yonghwa mengirimkan sinyal tentang bagaimana perasaannya, Seohyun selalu tidak peka. Hanya Chanyeol, Taeyeon dan Miyoung yang mengetahuinya. Mungkin anggota tim EXO yang lain pun juga sudah tahu.

“Aku tidak sengaja melihat kalian berjalan dari gedung khusus.” Kata Seohyun.

“Aku baru saja menemui Shim songsaengnim.” Yonghwa menjelaskan.

Seohyun mengangguk paham, lalu mengalihkan pandangannya ke Chanyeol untuk mendengar versinya.

“Oh, aku sedang ada urusan penting. Yah, begitulah.” Chanyeol menjawab seraya mengusap punggung lehernya dengan senyuman lebar.

Seohyun kemudian melirik jam tangannya. “Aku harus pergi oppa, Chanyeol, Miyoung unni menungguku di perpustakaan.” Usai mengatakannya, gadis itupun berlalu.

Yonghwa tidak pernah melepaskan matanya dari Seohyun yang tengah berlari kecil menjauh dari mereka. Dia terus memandang tanpa melepaskan senyum. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepala.

“Hyung, kau tersenyum lagi.” Komentarnya.

Yonghwa tersentak tapi menoleh dan terkekeh pelan. “Kau menyadarinya?”

“Kau benar-benar tidak tertolong, hyung.”

Seperti orang bodoh, Yonghwa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kau benar. Aku memang sudah tak tertolong. Sekeras apapun usahaku dia tidak akan pernah menyadarinya.” Tatapannya nanar ke depan.

Chanyeol menepuk bahunya, “Lebih baik hyung memberitahunya bagaimana perasaanmu yang sebenarnya. Bagaimana dia bisa tahu kalau kau tidak memberitahunya, hm?”

Yonghwa terdiam. Apa yang dikatakan Chanyeol memang benar, hanya saja dia masih takut hal itu akan mempengaruhi hubungan mereka. Tak lama kemudian, suara bel tanda pelajaran dimulai terdengar nyaring. Tampak beberapa siswa tergesa-gesa. Yonghwa dan Chanyeol pun berpisah, masing-masing kembali ke kelas mereka.

– – –

Bel berdering sekali lagi. Para siswa yang masih ada diluar ruangan terlihat buru-buru masuk ke dalam kelas mereka. Koridor seketika menjadi lenggang, setiap sudut gedung akhirnya kosong. Walapun ada satu atau dua kelas yang masih menanti guru pembimbing mereka, tidak ada siswa yang berani keluar ruangan karena itu akan melanggar peraturan. Tak lama setelah bel dibunyikan, suara para guru yang mulai mengajar mendominasi hampir setiap ruangan.

Hanya satu siswa yang tidak begitu peduli dengan panggilan itu. Baekhyun masih belum menyerah sampai bisa menemukannya.

*Apa dia sudah kembali ke kelasnya?* Baekhyun sempat berpikir seperti itu, tetapi sekarang dia sudah berada di taman dan sejauh matanya memandang, Taeyeon masih belum terlihat dimanapun di area itu. Baekhyun terus berjalan ke depan sambil matanya terus mengawasi sekeliling. Langkahnya mendadak terhenti. Baekhyun memandang pohon disana. Dia akhirnya tersenyum lalu melanjutkan langkah menuju ke arah pohon itu. Taeyeon tengah duduk di bawah pohon, membenamkan kepalanya pada kedua lututnya yang menekuk.

Semakin dekat, Baekhyun semakin yakin bahwa penglihatannya tidak salah. Rambut dan perawakan Taeyeon yang kecil sudah dihafalnya diluar kepala. Rupanya gadis itu belum menyadari Baekhyun yang sudah berdiri disampingnya. Baekhyun terkejut begitu mendengar suara isakannya. Pandangannya melembut, dia lalu mengeluarkan sapu tangannya dan setengah membungkuk menyodorkannya.

“Ini.”

Taeyeon yang tersentak kaget sontak mengangkat kepalanya hanya untuk mendapati Baekhyun tersenyum padanya. Gadis itu buru-buru mengambilnya kemudian berbalik cepat. Dia tidak ingin Baekhyun melihat matanya yang sudah pasti sembab habis menangis. Saat menghapus air matanya, Baekhyun sudah duduk di belakangnya. Taeyeon tidak mau berbalik ataupun berhadapan dengannya, tetapi dia juga tidak ingin pergi dari tempatnya. Bel terakhir telah berbunyi beberapa menit yang lalu tapi keduanya masih belum bergeming dari tempat mereka.

Keheningan menyelimuti keduanya.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, diam-diam melirik Baekhyun yang tampaknya menikmati pemandangan tenang di depannya. Suasana canggung dirasakan sangat oleh Taeyeon sebab mereka berdua hanya diam dan Baekhyun nampaknya tidak ingin mengajaknya bicara.

*Mau apa dia kemari?* Taeyeon menduga-duga. Berdua saja dengan Baekhyun membuatnya tidak nyaman.

Tanpa Taeyeon ketahui, Baekhyun sebenarnya sering melirik ke arahnya. Bagaimana bisa gadis itu tahu sementara ia masih membelakanginya. Raut wajah Baekhyun menunjukkan bahwa ia sangat mengkhawatirkannya. Disamping itu, Baekhyun juga ingin tahu alasan gadis itu menangis sendirian disini.

Taeyeon menghembuskan nafas pelan. Dia sudah tidak tahan.

“K-Kenapa kau ada disini? Bukankah kau seharusnya masuk ke kelasmu sekarang?” Tanyanya tanpa menoleh, meski begitu ia sedikit menggeser tubuhnya hingga tidak perlu lagi membelakangi Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, dalam hati bersyukur akhirnya gadis itu mau berbicara juga. Beberapa menit diam dan hanya menunggu hampir meruntuhkan kesabarannya. “Aku mencarimu.”

“Kau mencariku?” Taeyeon refleks berbalik. Ekspresi bingung nampak jelas. “Kenapa?”

Baekhyun menatapnya lama, lalu bersamaan pula dengan itu senyumannya memudar. “Kenapa kau menangis?”

Mata Taeyeon mengerjap kaget. Dia cepat-cepat menutupi mukanya, “J-jangan dilihat!” Pekiknya.

*Bodoh. Aku sudah pernah melihatmu menangis jadi kau tidak perlu menutupinya dariku* Baekhyun yang hanya tertawa kecil membuat Taeyeon sempat cemberut.

“Yaa! Kau—”

Diluar dugaan, Baekhyun tiba-tiba langsung menyentuh wajahnya membuatnya terdiam membeku. Matanya perlahan membesar. Sesaat pikirannya mendadak kosong, Taeyeon tidak dapat berpikir apapun, bahkan menepis tangan Baekhyun pun tidak bisa ia lakukan. Baekhyun mengusap lembut pipinya, caranya memperlakukannya sangat lembut seakan-akan dia adalah benda yang sangat berharga yang gampang pecah. Taeyeon tidak mampu menatapnya tetapi tidak bisa pula menghindarinya.

“Jangan menangis. Aku tidak ingin melihatmu menangis.” Ucapan Baekhyun yang lembut terdengar seperti melodi di telinga.

Jantung berdebar dengan sangat kencang. Sorot mata Baekhyun begitu teduh dengan senyuman yang hangat. Taeyeon tanpa sadar menahan nafas. Seolah telah terhipnotis, lidahnya menjadi kelu. Taeyeon sempat merasa heran sekaligus bingung, mengapa tiba-tiba Baekhyun bersikap seperti ini padanya padahal mereka baru saja bertemu dalam waktu yang singkat. Taeyeon merasakan perasaan ganjil ini di dalam hatinya setiap kali pria itu menatapnya.

Akhirnya, Taeyeon mendapati dirinya mengangguk pelan. Taeyeon merasakan mukanya menghangat, mungkin sekarang sudah seperti warna tomat. Perlakuan Baekhyun dan suaranya yang menenangkan membuatnya perasaannya kacau balau. Senyuman dari wajah yang tampan itu membuat dirinya salah tingkah. Taeyeon menggigit bibirnya lagi, berusaha meredam rasa gugup yang melandanya. Dia mengerutkan muka saat mendengar Baekhyun tertawa. Mungkinkah pria itu sedang menertawai tingkah bodohnya?

Taeyeon tidak sadar kalau tingkahnya seperti itu telah membuat Baekhyun hampir kehilangan akal. Jika saja Baekhyun tidak dapat menahan diri, dia mungkin saja sudah memeluk Taeyeon lalu mencium bibirnya saking gemas. Karena Baekhyun menyadari bahwa dia menyukai gadis itu bahkan mencintainya, karena dia sangat merindukan gadis itu, karena dia tidak ingin melihat gadis itu sedih ataupun mengeluarkan air mata. Ketiga alasan itu cukup untuk membuatnya sulit mengendalikan diri.

Baekhyun menurunkan tangannya, kembali memandang lurus ke depan. Dia menghela nafas panjang mencoba mengendalikan gejolaknya sendiri. Jantungnya ikut berdebar sangat kencang. Taeyeon melihat perubahannya. Gadis itu heran sampai mengerutkan keningnya tetapi teringat adegan tadi, dia langsung menangkup kedua pipinya yang kini telah bersemu merah lalu melempar pandangannya ke tempat lain.

Ada jeda yang panjang.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” Baekhyun menoleh, kali ini dia sudah cukup tenang. Taeyeon menundukkan pandangannya, “Untuk apa kau mencariku?”

“Kau juga belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau menangis?”

“Jika aku menjawab ‘itu bukan urusanmu’ apa kau juga akan menjawab hal yang sama?” Tanya Taeyeon ketus.

Baekhyun tertawa ringan. “Tentu saja tidak.” Dia tersenyum menatapnya. Taeyeon lagi-lagi tersipu. “Aku mencarimu karena kau sudah berjanji padaku untuk mengajakku melihat-lihat sekolah ini.” Ujarnya tenang.

“Mwo? T-Tapi aku tidak pernah merasa berjanji begitu padamu.”

Seringaian perlahan membentuk di bibir Baekhyun, “Kau sudah menyetujuinya kemarin.”

Taeyeon tertegun. Pria yang selalu tersenyum padanya, sesaat tadi menjadi pribadi yang berbeda. “Apa aku benar-benar menyetujuinya kemarin?” Tanyanya setengah berbisik pada dirinya sendiri. Meski begitu, Baekhyun dapat mendengarnya dengan jelas. “Seingatku, aku tidak mengatakan apapun.” Dia sendiri bingung, anehnya, dia tidak begitu mengingat jelas percakapan mereka kemarin.

“Jadi kuanggap kau tidak ingin membantuku?”

“Bukan begitu. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, mengajak siswa baru berkeliling sekolah adalah tugas presiden siswa.”

*Aku tidak bisa membayangkan jika Hyorin sampai tahu tentang ini. Dia pasti akan sangat marah* Taeyeon membatin cemas.

“Aku tidak peduli. Aku juga pernah mengatakannya padamu, peraturan seperti itu tidak berlaku padaku. Aku tidak akan mengubah keputusanku.” Baekhyun lalu berdiri kemudian mengulurkan tangannya. Taeyeon makin bingung. Dia hanya melihat ke arah telapak tangan Baekhyun lalu kembali menatapnya. “Ayo kita pergi. Kau bisa memulainya dari taman ini.” Ucapnya seraya tersenyum.

Taeyeon tidak bergerak atau langsung menerimanya. Di tidak tahu apakah dia bisa menerimanya atau tidak. Tetapi kemudian, melihat tangan Baekhyun masih menggantung dan senyuman itu lagi, entah bagaimana akhirnya ia tidak bisa menolak. *Aku akan menjelaskan pada Hyorin nanti* Taeyeon beranjak, lalu tanpa menyambut uluran tangan Baekhyun, dia langsung membersihkan roknya yang sedikit kotor karena rumput yang tadi didudukinya. Seperti biasanya, pria di depannya itu hanya tersenyum menurunkan tangannya.

“Aku akan membantumu.” Kata Taeyeon. *Aku tidak punya pilihan lain* Baekhyun kelihatan sangat senang tapi dia buru-buru mengangkat jari telunjuknya dengan sebelah tangan bersandar di pinggang. “Tidak sekarang! Aku tidak ingin guru melihatku karena membolos hari ini.”

“Aku mengerti. Sekarang, apa yang ingin kau lakukan?”

Taeyeon menatap tak mengerti. Baekhyun tersenyum sumringah, “Bukankah kita berdua saat ini sedang membolos? Jadi apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?”

Muka Taeyeon merah padam. Dia baru sadar kalau sekarang ini mereka berdua memang membolos. Taeyeon pun berdehem memperbaiki sikapnya.

“Aku akan ke perpustakaan. Baiklah, kurasa kita berpisah disini saja.” Ucapnya sebelum berbalik pergi. Ternyata Baekhyun masih mengikutinya. “Kenapa kau mengikutiku?” Tanyanya merasa terganggu.

Baekhyun mengusap punggung lehernya sembari tersenyum kelihatan malu. “Sebenarnya, aku juga tidak tahu mau kemana. Jadi…bolehkah aku ikut bersamamu?”

Taeyeon nampak berpikir sejenak, tetapi kemudian menjawab dengan helaan nafas pelan, “Baiklah. Kau boleh ikut denganku.”

Baekhyun sekali lagi tersenyum dan mengikutinya dari belakang.

Mereka berada di perpustakaan sekolah. Karena jam pelajaran telah dimulai sejak tadi, perpustakaan itu menjadi sepi. Taeyeon mengambil tempat duduk yang berseberangan dengan Baekhyun, beberapa buku tergeletak di atas mejanya, hasil pencariannya tadi yang tentu saja sedikit menggunakan bantuan Baekhyun karena ada beberapa buku yang tidak dapat diraihnya sendiri.

Sementara Taeyeon asyik membaca bukunya, Baekhyun sibuk pula memandang gadis itu dengan sebelah tangan menopang wajahnya. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah Taeyeon sambil mengaguminya. Baekhyun lalu senyum-senyum sendiri, menurutnya Taeyeon masih tetap sama seperti dulu. Wajah yang sama, mata yang berwarna coklat terang, hidungnya, pipinya yang masih sama lembutnya dengan rona merah natural. Perlahan matanya bergeser ke bawah, Baekhyun terpaku pada bibirnya yang sedikit mengerucut saking serius membaca, warna pink alami yang meski tanpa sapuan lipgloss tetap mengobarkan hatinya tiap kali memandanginya. Mungkin yang berbeda sekarang dengan dahulu adalah perubahan bentuk tubuhnya. Taeyeon bukan anak kecil lagi, begitupun dirinya.

Awalnya Taeyeon mencoba tidak peduli saat sadar Baekhyun selalu memandanginya, akan tetapi, lama kelamaan hal itu membuatnya tidak nyaman dan dia merasa agak terganggu. Berkali-kali Taeyeon mencoba memusatkan mata dan pikirannya pada buku yang di pegangnya namun kemudian nalurinya mengatakan kalau Baekhyun masih melihat ke arahnya dan pria itu sepertinya belum berniat menghentikannya. Tingkah Baekhyun yang dirasa mulai menakutkan baginya itu pun akhirnya melenyapkan konsentrasinya. Taeyeon tidak tahan ditatap terus menerus. Dia tidak pernah dipandangi seperti itu sebelumnya. Itu membuatnya salah tingkah.

Taeyeon memutuskan menghentikan bacaannya lalu mendelik kesal ke arah Baekhyun. Yang mengesalkan, Baekhyun tetap tersenyum seolah apa yang baru saja dilakukannya adalah hal yang biasa. Taeyeon ingin meneriakinya tetapi jika dipandangi terus seperti itu, dia jadi tidak bisa mengatakan apa-apa.

*Taeyeon, akankah kau mengenaliku?* Baekhyun bertanya-tanya dalam hatinya. Dia sangat berharap Taeyeon bisa mengingatnya karena dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan memberitahu gadis itu tentang masa lalu mereka, tentang pertemuan pertama dan juga tentang ciuman itu.

Taeyeon buru-buru memutuskan kontak mata di antara mereka dan mengalihkan perhatiannya kembali ke buku di depannya. Taeyeon mendadak merasa gugup. Sorot mata Baekhyun membuatnya merasakan sesuatu yang aneh telah terjadi pada dirinya, dan lagi, mata itu…tatapan itu mengapa terlihat familiar?

“Kenapa…kenapa kau selalu memandangiku?” Taeyeon ragu-ragu bertanya. Suaranya berbisik karena dia sadar mereka sedang berada di perpustakaan.

“Kau tidak menyukainya?”

Taeyeon melotot padanya, “Tentu saja! Kau sangat aneh!”

“Aku menyukaimu.” Baekhyun memperlihatkan eye smile-nya.

Nafas Taeyeon seperti di hela paksa. Gadis itu menatap dengan mata melebar. “K-Kau..APA?!”

“Sst!” Penjaga perpustakaan mengingatkan mereka.

Taeyeon menekan bibirnya rapat-rapat dengan pandangan tak percaya. “Apa yang baru saja kau katakan?” Teriaknya dalam bisikan.

“Kau mendengarnya Taeyeon. Aku tidak perlu mengulang kalimat itu.” Meskipun dengan nada yang tenang, raut wajah Baekhyun tampak serius.

Taeyeon melongo kaget. Seketika mukanya bersemu merah mendengar pengakuan kilat tersebut. Taeyeon tidak tahu harus bagaimana bersikap, bukan hanya gugup, jantungnya pun hampir meloncat keluar. Mungkin yang dikatakan Baekhyun hanya sebuah candaan, Taeyeon mempercayainya seperti itu, akan tetapi, perasaan yang berdebar-debar ini mengusiknya. Maka tanpa pikir panjang Taeyeon segera berdiri dan secepatnya keluar dari perpustakaan meninggalkan Baekhyun yang masih duduk di tempatnya dengan senyuman cerah di wajahnya.

*Aku mengakuinya Taeyeon. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu* Baekhyun semakin yakin akan alasannya yang membuatnya ke negara ini.

 

***

Keesokan harinya Taeyeon menepati janji. Walaupun masih merasa canggung karena pengakuan Baekhyun kemarin, dia tidak bisa menghindarinya. Baekhyun di sisi lain, setelah bel berdering nyaring, dia langsung menuju ke kelas Taeyeon. Kedatangannya nyaris mengundang keributan karena para siswi di dalam kelas itu histeris melihatnya. Terdengar teriakan yang memuji ketampanannya, belum lagi sapaan manis yang sudah ramai semenjak berada di depan pintu. Gayanya yang dingin dan terkesan acuh itu menurut mereka sangat keren.

Taeyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pemandangan memalukan dari tingkah teman-teman sekelasnya.

*Tsk, padahal dia adalah junior tapi mereka bertingkah seolah merekalah yang junior* Taeyeon kemudian berpaling, dilihatnya Baekhyun sama sekali tidak tertarik atau sekedar memberi perhatian pada salah satu di antara mereka. Menyapa pun tidak. Pria itu diam bersandar pada dinding samping pintu kelasnya sambil melipat tangan. Taeyeon agak kasihan pada teman sekelasnya tetapi dia juga tidak ingin kelasnya menjadi acara jumpa fans hanya karena kehadiran seorang siswa baru yang berdiri disana dengan wajah angkuh.

“Sebaiknya kita pergi dari sini.” Taeyeon kemudian berjalan pergi di susul Baekhyun.

Taeyeon bisa merasakan tatapan iri dari para siswi itu tetapi dia memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Lagipula ini bukan pertama kalinya karena setiap bersama Chanyeol atau anggota tim EXO yang lain menyapanya dan berbicara dengannya, hampir semua siswi di sekolah pasti akan langsung melotot ke arahnya.

Taeyeon mulai menjelaskan tentang keadaan sekolah mereka pada Baekhyun, poin-poin penting yang harus diketahui serta peraturan-peraturan yang berlaku selama menjadi siswa di sekolah itu. Sekolah memiliki tiga gedung untuk ruangan belajar dan kantor, sebuah gedung khusus untuk beberapa klub yang ada, lapangan basket, lapangan sepak bola, gedung olahraga khusus, kolam renang, sebuah cafetaria dan masih banyak lainnya. Tak lupa, Taeyeon juga menambahkan penjelasannya mengenai beberapa klub yang masih membutuhkan anggota. Ada dua klub yang terkenal di sekolah yaitu klub basket dan klub musik dan tari. Hanya siswa yang bertalenta yang bisa diterima, tentunya setelah melalui audisi yang cukup ketat. Bisa dibilang kedua klub itu adalah klub elit.

Selama penjelasan Taeyeon, Baekhyun tak henti-hentinya memperhatikan gadis itu. Taeyeon bukannya tidak menyadari hanya saja dia berusaha untuk mengabaikannya saja. Tetapi ada saat dimana Taeyeon menyerah karena setiap dia berbicara, Baekhyun selalu menatapnya dengan wajah serius dan antusias tanpa melepaskan senyum. Jujur saja, sikapnya itu membuatnya tidak fokus karena gugup.

“Ehm,” Taeyeon berdehem, “Jadi Baekhyun, kau ingin masuk ke klub yang mana?” Tanyanya memulai topik pembicaraan tanpa menatap matanya.

“Aku tidak tertarik.” Baekhyun menjawab sekenanya.

Taeyeon mengerutkan kening, “Kenapa tidak? Apa tidak ada salah satu klub yang membuatmu tertarik?” Masih tak menatap matanya.

Baekhyun tidak menjawab. Taeyeon selalu tidak menatapnya saat sedang berbicara dengannya. Hal itu membuatnya tidak suka.

“Err, Baekhyun…aku bertanya padamu.”

“Kenapa kau tidak mencoba melihatku saat berbicara denganku?” Baekhyun menaikkan alis, menatap dengan pandangan tajam. “Apa wajahku membuatmu takut?”

“Bukan begitu!” Taeyeon spontan menjawab. Sadar apa yang baru saja diucapkannya, Taeyeon tersipu malu dan rona merah samar-samar di kedua pipinya. Gadis itu memalingkan muka sambil merutuki diri sendiri karena sudah bertingkah memalukan dihadapan Baekhyun. Tidak sepantasnya jika hanya dengan kata itu saja sudah membuat wajahnya menghangat.

Baekhyun menyeringai tipis, “Lalu kenapa kau tidak menatap mataku sekarang?”

Taeyeon semakin tertunduk seraya menggigit-gigit bibir bawahnya dengan gugup. Telinga terasa panas bersamaan dengan mukanya. Tanpa sadar tangannya kini sudah meremas ujung seragam sekolahnya. *Bodoh. Aku sudah membuat diriku semakin tampak bodoh* Rutuknya.

Ketika Taeyeon mencoba mengangkat kepalanya, matanya kembali tidak fokus, tidak jadi membalas tatapannya karena seringaian Baekhyun seperti menggodanya.

*Ada apa sebenarnya denganku?!* Taeyeon hampir menangis karena tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya dia segugup ini.

“K-Kurasa…tugasku sudah selesai. Aku harus pergi sekarang.”

Baekhyun secepatnya menangkap lengannya sebelum dia sempat berbalik.

“Apa yang kau lakukan?!” Taeyeon memekik, sontak menarik tangannya. Mukanya merah padam.

Baekhyun agak kaget dengan reaksinya. Dia tidak lagi mencoba meraih tangan itu meskipun dalam hati menginginkannya. Satu sisi Baekhyun tak ingin membuat Taeyeon terkejut dan membuatnya membencinya, di sisi yang lain karena dia tidak ingin mengalami penolakan yang seperti itu lagi untuk yang kedua kalinya.

“J-Jangan pernah menyentuhku lagi.” Taeyeon memberinya peringatan.

Baekhyun tersenyum agak kaku. Taeyeon bisa melihat rasa bersalah dari sorot matanya namun saat ini dia tidak bisa memikirkan apa-apa. Dia bukan tidak suka Baekhyun tiba-tiba menyentuh tangannya, hanya saja dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaannya di depan pria itu. Rasanya membingungkan. Langkah yang terpikirkan hanyalah menjaga jarak.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu terkejut.” Baekhyun meminta maaf.

Kini giliran Taeyeon yang merasa bersalah, tetapi saat dia ingin berbicara kembali padanya, dari jauh Miyoung dan Seohyun terlihat melambaikan tangan ke arahnya. Taeyeon membalas seraya menghampiri mereka.

“Unni, apa yang kau lakukan di depan ruangan klub musik?” Tanya Seohyun setelah mereka berhadapan.

Taeyeon membuka mulut ingin menjelaskan tetapi Miyoung lebih dulu memotongnya.

“Dia siapa?” Miyoung melirik ke arah Baekhyun dengan pandangan tanya. “Aku baru kali ini melihatnya. Apa dia siswa baru?”

*Ups. Aku lupa memberitahu mereka* Taeyeon meringis.

“Miyoung, Seo, perkenalkan dia adalah Lee Baekhyun, siswa baru di sekolah kita. Dia teman sekelas Channie.” Taeyeon kemudian menoleh pada Baekhyun dan tersenyum, “Baekhyun, ini Miyoung dan Seohyun. Mereka saudaraku.”

Miyoung hanya merespon dengan anggukan sementara Seohyun menyapa dengan senyuman ramah, “Hai Baekhyun.”

Baekhyun memperhatikan mereka sejenak. Tidak salah lagi, keduanya adalah gadis yang dilihatnya bersama-sama Taeyeon waktu itu.

“Unni, apa yang kau lakukan bersamanya disini?” Seohyun penasaran karena Taeyeon belum menjawab pertanyaannya tadi.

“Oh, aku mengajaknya berkeliling. Dia belum tahu area sekolah kita jadi aku menjadi pemandunya untuk sementara.”

Mendengar jawabannya, Miyoung tampak tidak senang. Gadis itu langsung menarik Taeyeon menjauh.

“Apa yang sudah kau lakukan? Kau tahu Hyorin tak akan suka dengan ini.” Desisnya.

“Aku tahu,” Ada getir dalam nada ucapannya. “Aku tak bisa menolaknya. Dia memintaku untuk mengajaknya dan aku sudah mengatakan setuju.”

“Kau bisa mencari alasan yang lain. Kalau Hyorin tahu tentang ini, kau pasti akan kena masalah. Kau tahu sendiri seperti apa gadis penyihir itu. Lagipula kenapa kau setuju?!” Miyoung sangat kesal.

Taeyeon hanya bisa diam. Miyoung bereaksi seperti itu juga demi kebaikannya. Dia memang tidak seharusnya menyetujui permintaan Baekhyun. Sejak kapan dia lemah terhadap pria itu? Tetapi, bukankah dia telah berjanji? Taeyeon menggeleng. Tidak ada gunanya lagi berpikir yang bukan-bukan. Sekarang dia harus mengkhawatirkan dirinya sendiri.

“Kau tunggu disini. Aku akan bicara pada anak itu.”

Taeyeon dengan sigap menahan tangan Miyoung, “Apa yang ingin kau katakan?!”

“Apa lagi?!” Miyoung mendelik tajam, “Aku tidak mau karena dia kau jadi mendapat masalah!”

Kening Baekhyun berkerut, tampaknya gadis bernama Miyoung itu sedang berdebat dengan Taeyeon. Dia ingin tahu mengapa ekspresi mereka berdua seperti sedang mengalami kesulitan dan dia juga curiga pembicaraan apa yang membuat mereka sampai harus mengecilkan suara sambil beberapa kali melirik ke arahnya?

“Kau tidak usah khawatir, mereka memang selalu seperti itu.” Seseorang yang masih disampingnya pun berbicara.

Baekhyun hanya meliriknya sekilas. Seohyun tersenyum. Baekhyun sebenarnya lupa kalau gadis itu ternyata masih ada di dekatnya. Mungkin karena matanya terus terpaku pada Taeyeon hingga tidak menyadari kalau sebenarnya dari tadi gadis itu memperhatikannya.

“Apa kau sekelas dengan Chanyeol?”

Baekhyun menoleh. Gadis yang selangkah berada di depannya ini mempunyai postur tubuh yang cukup tinggi, lebih tinggi dari Taeyeon dan Miyoung. Dari wajah dan cara bicaranya, Baekhyun bisa menebak kalau dia adalah gadis yang lemah lembut, sangat berbeda dengan Miyoung.

Baekhyun menjawabnya dengan anggukan.

“Wah, berarti kita seumuran! Aku beda kelas dengan kalian.” Ujar Seohyun dengan wajah berseri-seri.

“Gadis yang bernama Miyoung itu kelihatannya tidak menyukaiku.”

“Huh?” Seohyun berpaling ke arah kedua saudaranya yang masih berbincang, lebih tepatnya Miyoung tengah memarahi Taeyeon. “Oh, dia hanya tidak suka jika Taeyeon unni mendapat masalah karena presiden siswa.” Jelasnya panjang lebar. Seohyun sebenarnya sudah menduganya mengapa Miyoung sampai bersikap seperti itu tadi.

“Masalah?” Baekhyun masih tidak mengerti.

“Yup!” Seohyun menepukkan kedua tangannya, “Karena kau siswa baru, presiden siswa lah yang harus mengajakmu bukan Taeyeon unni. Jika sampai ketahuan, Taeyeon unni bisa dapat masalah karenanya.”

“Siapa yang membuat peraturan bodoh seperti itu?”

Seohyun agak terkejut mendengarnya, tetapi menjelaskan, “Presiden siswa kami hanya tidak ingin siapapun melangkahi areanya. Dia menginginkan semuanya berada dalam pengawasannya meskipun itu hal-hal yang kecil. Aku yakin sekali, jika sampai dia tahu Taeyeon unni mengambil alih pekerjaannya, dia pasti akan mengamuk.” Bisiknya di akhir kalimat lalu tertawa kecil.

Baekhyun paham sekarang. Jadi peraturan itu dibuat hanya untuk kesenangan gadis bernama Hyorin itu. Tidak heran mengapa gadis itu sangat angkuh.

Tidak lama kemudian Miyoung dan Taeyeon terlihat menuju tempat mereka.

“Ingat Miyoung, Kau sudah berjanji tidak akan mengungkit masalah ini.” Kata Taeyeon mengingatkan sebelum mereka berhadapan dengan Seohyun dan Baekhyun. Miyoung hanya memutar bola matanya.

Taeyeon tersenyum kaku pada Baekhyun, “Kurasa tugasku sudah selesai. Aku akan pergi bersama Miyoung dan Seohyun jadi kita berpisah disini saja.” Ucapnya sambil menggandeng lengan Miyoung dan Seohyun, kemudian menyeret mereka bersamanya.

Baekhyun memandang kepergian mereka. Setelah Taeyeon tidak terlihat lagi, dia pun berbalik kembali ke kelas.

– – –

“Unni, kau tidak mengajaknya ikut bersama kita?”

“Untuk apa?”

“Siapa tahu saja dia belum makan siang. Dia ‘kan bisa ikut makan bersama kita.”

Taeyeon memutar bola matanya, “Aku tidak peduli dia sudah makan atau tidak. Dia sudah tahu letak cafetarianya jadi dia bisa pergi sendiri tanpa kita harus mengajaknya.”

Miyoung menaikkan alis, ada yang berbeda dari sikap Taeyeon sekarang. “Kau kelihatannya tidak menyukai anak itu.”

“Bukan begitu!” Taeyeon spontan membantah membuat kedua gadis itu tersentak kaget. “M-Maksudku, aku memang sedikit tidak menyukainya tapi juga tidak ada alasan bagiku untuk menyukainya.” Ujarnya buru-buru mengoreksi.

Taeyeon berharap Miyoung dan Seohyun tidak menaruh perhatian khusus pada alasannya atau mungkin melupakannya saja. Namun, baik Seohyun maupun Miyoung, keduanya sekarang memiliki sorot curiga dalam tatapan mereka kepadanya. Agaknya penolakannya tadi dilihat agak terlalu berlebihan sehingga mereka semakin penasaran. Taeyeon menahan nafas. Senyum penuh arti dari kedua saudaranya membuatnya gugup.

“Unni, banyak alasan untuk menyukai anak baru itu. Salah satunya wajahnya yang tampan.”

Miyoung dan Seohyun saling pandang lalu tersenyum penuh arti. Taeyeon salah tingkah.

“Dan kelihatannya dia menyukaimu.” Seohyun menambahkan.

Mata Taeyeon langsung melebar mendengarnya. Mendadak Taeyeon gelisah, darimana Seohyun tahu kalau Baekhyun memiliki perasaan terhadapnya?

“Apa kalian tidak menyadarinya? Miyoung unni, tadi kau tidak lihat Baekhyun itu selalu memandangi Taeyeon unni waktu kalian bicara? Kalau kau melihatnya, kau pasti akan memikirkan hal yang sama denganku. Tatapannya jelas kalau dia sangat mengagumi Taeyeon unni.” Jelasnya panjang lebar.

Taeyeon dan Miyoung diam-diam memutar bola mata mereka dan menghela nafas.

*Kau dengan mudah bisa melihat bagaimana tatapan orang yang sedang menyukai seseorang tapi kau sendiri tidak bisa melihat seseorang yang menyukaimu padahal dia berada jelas di depan matamu* Pikir keduanya.

Muka Seohyun cemberut, “Unni!” Dia baru sadar kalau Taeyeon dan Miyoung tidak menganggap serius penjelasannya. “Kalian tidak percaya padaku!” Rajuknya.

*Aigoo Seo, bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kau sendiri tidak bisa melihat Yonghwa menyukaimu?* Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia lalu teringat kembali saat Baekhyun mengatakan padanya kalau pria itu menyukainya.

“Taeyeon, apa pipimu baru saja bersemu merah?” Miyoung melihatnya.

“Huh? A-Aku? Ah, tidak. Kau mungkin salah lihat.” Taeyeon buru-buru menampik sambil mempercepat jalannya. Dia tidak siap menjawab jika Miyoung maupun Seohyun bertanya-tanya lagi soal itu.

Dari belakang terdengar tawa ringan Miyoung dan Seohyun yang menyusulnya. Kedua gadis itu sudah curiga bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan Taeyeon, tapi yang membuat mereka merasa geli adalah usaha gadis itu menutupinya. Mereka bertiga kini telah sampai di cafetaria sekolah. Cafetaria sudah ramai karena bel istrahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.

Tepat saat ketiganya memasuki area cafetaria, semua yang berada di dalam mulai saling berbisik sembari melihat ke arah mereka dengan pandangan tidak menyenangkan. Taeyeon ataupun Miyoung dan Seohyun sudah tidak terpengaruh lagi dengan hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan suasana tak ramah di lingkungan sekolah. Perlakuan tidak adil sudah bukan hal baru bagi ketiganya. Taeyeon di ikuti Miyoung dan Seohyun mengambil nampan dan mulai mengambil makanan. Gerak gerik ketiganya tidak lepas dari pengamatan. Sepertinya ruangan cafetaria itu mendadak menjadi sunyi, hanya gerakan mereka saja yang terdengar.

Taeyeon mendesah, Seohyun sejak tadi menempel disampingnya sementara Miyoung mendelik tajam ke arah mereka yang ada di ruangan itu. Dulu sekali, Miyoung selalu meneriaki mereka dan meladeni kalimat-kalimat kasar yang menghina, tetapi sejak Taeyeon memintanya untuk membiarkannya saja, Miyoung terpaksa menurutinya meskipun dia sendiri tidak tahan. Taeyeon melihat salah satu meja kosong yang letaknya berada di sudut. Meja itu tampak sangat kotor sehingga mereka harus membersihkannya terlebih dahulu sebelum meletakkan nampan mereka di atas meja. Segera setelah mereka menduduki kursi tersebut, tidak ada lagi siswa yang memperhatikan atau lebih tepatnya mengabaikan mereka sepenuhnya.

Helaan nafas panjang terdengar, Taeyeon tersenyum kecil pada Miyoung dan Seohyun kemudian mulai memakan makanannya. Miyoung dan Seohyun melahap makanan mereka dalam diam. Namun tidak lama setelah itu, Seohyun secara tiba-tiba menghentikan makannya. Matanya terpaku pada pintu masuk cafetaria. Taeyeon melihatnya dan gadis itu ikut berhenti sebelum kemudian mengikuti kemana arah penglihatan Seohyun. Keningnya lantas berkerut. Taeyeon sontak menendang kaki Miyoung yang hampir membuat gadis itu tersedak.

‘Apa?!’ Miyoung menggerakkan bibirnya dengan wajah kesal. Taeyeon memberi isyarat dengan matanya dan Miyoung pun mengikuti. Seohyun ternyata masih tak melepaskan matanya dari orang itu. Walaupun Seohyun kembali melanjutkan makannya, setiap menit matanya selalu kembali memandangi orang itu.

Miyoung menghela nafas. “Seo.” Panggilnya pelan.

Gadis itu tersentak kaget dan berpaling. “N-Ne unni?”

Miyoung meletakkan sumpitnya lalu memperhatikannya dengan teliti. Di tatap seperti itu oleh kedua saudaranya membuat Seohyun tambah gugup.

“Kau belum melupakannya?”

“A-Aku…aku…” Seohyun tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak ingin membuat mereka kecewa karena dia pernah berjanji akan melupakannya. Tapi lihatlah sekarang, dia malah masih saja tak bisa mengalihkan pandangannya dari orang itu jika orang itu berada di sekitarnya. “Maafkan aku, Miyoung unni…Taeyeon unni.” Jawabnya menundukkan kepala.

Miyoung dan Taeyeon menggelengkan kepala menatap Seohyun. Mereka kasihan padanya tetapi mereka juga tidak mengingkan Seohyun terus menerus seperti ini. Keduanya menggeser pandangan mereka ke arah dua orang disana. Nickhun dan Victoria. Nickhun adalah seseorang yang disukai Seohyun, sedangkan Victoria adalah kekasih Nickhun. Dilihat dari sisi manapun, pasangan itu sangat serasi. Nickhun sangat tampan dan Victoria sangat cantik, dua-duanya adalah model dan merupakan idola pula di sekolah. Satu hal lagi, keduanya berasal dari keluarga kaya. Banyak siswa yang ingin seperti mereka.

Taeyeon merasa prihatin melihat Seohyun terluka. Nickhun mencium pipi Victoria sementara sebelah tangannya melingkar erat di pinggang gadis itu. Keduanya tidak peduli dengan sekitar mereka dan siswa yang lain pun kelihatannya juga tidak keberatan. Miyoung memandang mereka dengan jijik, hampir muntah melihatnya. Nickhun memberikan kecupan-kecupan di leher Victoria dan gadis itu hanya terkikih kecentilan tanpa menolak. Miyoung heran, mengapa mereka harus mengumbar kemesraan dihadapan orang banyak? Berciuman dengan penuh gairah seperti itu di tempat seperti ini, ugh, itu sangat tidak punya sopan santun. Mereka bisa melakukannya di tempat lain, di sebuah kamar mungkin? Setidaknya bukan di tempat yang memiliki banyak pasang mata yang melihat mereka dengan iri.

*Dasar cari perhatian* Dengus Miyoung

“Kau masih menyukainya, Seo?” Tanya Taeyeon.

Seohyun gelagapan, tidak bisa menjawab. Bahasa tubuhnya sudah menjelaskan semuanya. Akhirnya gadis itu mengangguk, tidak bisa menatap mata keduanya.

Taeyeon menatapnya lembut, “Seo, ini sudah dua tahun dan kau masih belum bisa melupakannya.”

Seohyun tertunduk lemah, “Aku tahu unni. Maafkan aku.” Ujarnya lirih.

“Tidak. Kau sama sekali tidak salah.” Taeyeon menggeleng, “Aku tahu perasaanmu padanya tapi ini tidak benar Seo jika kau masih mengharapkannya. Kau menyakiti dirimu sendiri, kami tidak ingin melihatmu terluka karena pria itu. Kau lihat,” Dia mengangguk ke arah dua orang disana, “Mereka saling menyukai.”

Seohyun mendengarkan semua ucapan Taeyeon dan memahami maksudnya. Dia tahu perasaannya salah karena Nickhun sudah memiliki Victoria, tetapi dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak menyukai pria itu. Harus dia apakan hatinya kini? Dia belum bisa melupakan cinta pertamanya. Perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. Taeyeon dan Miyoung memandangnya penuh simpati. Dibandingkan mereka, Seohyun memiliki perasaan yang lebih sensitif.

Taeyeon menggenggam tangannya, memberinya kekuatan, “Semua akan baik-baik saja. Ingatlah, kami akan selalu bersamamu.”

Seohyun mengangkat kepalanya dan tersenyum mengangguk. Air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Aigoo, kau seperti anak kecil.” Taeyeon terkekeh sembari mengusap air matanya.

Miyoung melihat mereka berdua kemudian memutar bola matanya. “Apa kita sudah selesai sekarang? Aish, ada apa dengan kalian berdua? Yah Taeyeon! Seharusnya kau juga masuk klub drama sepertinya. Ugh, Kuharap drama yang kalian tampilkan tadi berakhir sad ending.” Sindirnya tajam.

Taeyeon langsung memelototinya sementara Seohyun hanya terkikih kecil. Tidak jauh dari tempat mereka, Nickhun diam-diam memperhatikan Seohyun. Pria itu ikut tersenyum melihat gadis itu tertawa bersama kedua gadis lainnya. Nickhun tidak bisa lama-lama memandanginya karena Victoria memanggilnya yang kemudian langsung mengalihkan perhatiannya.

“Waw. Waw. Waw. Coba lihat siapa yang ada disini.” Hyorin menepuk-nepukkan tangannya sambil tersenyum dengan sinis.

Ketiga gadis itu sontak meletakkan sumpit mereka. Sudah tidak ada selera untuk menikmati makanan kembali karena Hyorin tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka bersama kedua temannya. Gayoon dan Eunjung. Keduanya melipat tangan dengan wajah yang angkuh sedangkan Hyorin berdiri sambil berkacak pinggang.

“Ada apa Hyorin?” Taeyeon bertanya padanya. “Bisakah kali ini kau tidak mengganggu kami? Kami sedang menikmati makan siang.” Nadanya tetap tenang.

“Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!” Hyorin menjadi sangat marah. Dia tidak suka siapapun berbicara seperti itu padanya apalagi memintanya untuk tidak mengganggu. Cih, yang benar saja.

“Drama dimulai lagi.” Miyoung menggerutu. Bibir Taeyeon tertarik ke atas.

BRAK!

Ketiganya terlonjak kaget. Hyorin baru saja menggebrak meja mereka. Cafetaria yang tadinya tenang, seketika sunyi. Dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian. Seohyun sempat melirik ke arah Nickhun dan Victoria yang ternyata juga tengah memandang ke tempat mereka. Saat dia dan Nickhyun tidak sengaja bertemu pandang, Seohyun buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia tersipu.

Miyoung geram, hampir berdiri dari tempat duduknya untuk menghajar Hyorin karena telah mempermalukan mereka tetapi Taeyeon menggelengkan kepala, memberinya isyarat agar dia tetap duduk dan tenang. Taeyeon merasakan kalau sekarang Hyorin benar-benar sangat marah padanya. Tatapan gadis itu penuh kebencian padanya, seolah ingin menerkamnya.

“Katakan padaku Taeyeon, kau ingin menjadi presiden siswa, bukan?” Hyorin bertanya dengan suara tegang.

“Apa maksudmu?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu!”

Taeyeon tersentak kaget, mendadak gugup. Dia tahu kemana Hyorin mau membawa pembicaraan ini. Miyoung menatap tajam Hyorin seraya menggertakkan giginya karena geram. Tangannya sudah gatal ingin meninju gadis itu.

“A-Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau bicarakan Hyorin.”

Hyorin mendengus kasar, “Kau tidak perlu berpura-pura. Aku tahu kau menginginkan posisi presiden siswa. Tapi,” Dia menundukkan wajahnya mendekati Taeyeon dan tersenyum dingin, “Kau tidak akan pernah bisa Taeyeon. Tidak. Akan. Pernah. Bisa.” Tatapannya sinis saat kembali menarik wajahnya. “Karena apa? Karena kau hanyalah anak yatim piatu yang tidak mampu. Tidak ada yang akan memilihmu, bahkan tidak ada yang peduli padamu!”

Taeyeon terkejut, kepalanya tertunduk. Sudah sering dia mendengar kalimat-kalimat hinaan Hyorin, tetapi entah mengapa kali ini semua itu sangat tajam dan menyakitkan. Taeyeon mengerti kesalahannya, tetapi Hyorin menghinanya sampai seperti itu, dia tidak bisa menerimanya begitu saja.

“Apa tujuanmu mengatakan semua itu padaku? Apa yang kau inginkan dariku? Apa tidak cukup selama ini?” Taeyeon mengepal tangannya. Dia harus tenang meski dalam hati menangis.

Miyoung marah sekali. Seohyun menggigit bibir bawahnya dengan gugup sambil berusaha menahan air mata. Dia tidak suka mendengar orang menghina Taeyeon atau Miyoung, apalagi saat ada Nickhun disana melihatnya.

Hyorin menyeringai, “Kau marah padaku? Oh, jadi sekarang kau ingin melawanku?”

Kedua temannya di belakangnya tersenyum mengejek mereka.

“Kau tidak bisa Taeyeon. Kau tidak berhak marah padaku karena kau tidak akan sanggup melawanku.”

Bibir Taeyeon terkatup rapat. Dia semakin geram. “Sebenarnya. Apa. Yang. Ingin. Kau. Katakan. Padaku?”

“Kau tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?”

“A-Aku tidak ingin tahu.” Taeyeon memalingkan muka tapi Hyorin menarik wajahnya, memaksa untuk tetap melihatnya.

“Apa yang kau lakukan padanya?!” Miyoung sudah tidak bisa tinggal diam. Dia berdiri hendak menghajar Hyorin tapi Gayoon dan Eunjung menahannya. “Lepaskan aku, jalang!” Serunya mencoba melawan.

“Unni.” Seohyun menangis disampingnya. Dia tidak berdaya.

“Dengarkan aku baik-baik, Gayoon melihatmu waktu itu. Kau pikir aku tidak mengawasimu, hah? Kau mengajak siswa baru itu berkeliling yang seharusnya itu adalah tugasku tapi kau malah mengambilnya!”

Taeyeon berusaha melepaskan tangan Hyorin dari wajahnya tapi gadis itu semakin kasar menekan pipinya.

“Kau tahu itu wewenangku, kau malah dengan sengaja mengambil alih semuanya. Apa kau sengaja? Kau ingin menggantikanku, Taeyeon?! Ayo jawab aku!”

*Cukup sudah* Taeyeon berhasil menepisnya. Dia berdiri berhadapan dengan Hyorin. Mereka saling menatap tajam.

“Aku tidak pernah berniat menggantikanmu, Hyorin. Kau tidak bisa berkata seenaknya begitu padaku karena aku tidak seperti yang kau katakan!”

“Cih,” Hyorin menyeringai mengejek, “Sungguh Taeyeon? Setelah tim EXO, sekarang siswa baru itu? Kau sungguh gadis murah—”

“Cukup Hyorin!”

 

To be continued…

FF Beautiful Creature chap 7 publish besok! Passwordnya berubah jadi yang mau minta passnya kirim permintaan ke emailku ya^^

yang tidak punya email bisa lewat twitter

Yg mau baca seluruh ff yang pernah kupublish disini kesini

© RYN

Advertisements

85 comments on “All My Love is for U (Chapter 4)

  1. Baru nemu ff ini dan ternyata keren banget, meskipun nggak terlalu paham sama alurnya karna belum baca chapter 1-3. Ditunggu kelanjutannya 😀

  2. Aaaa akhir.y dipost jga
    Ff.y mkin keren thor
    Trus hyorin.y pgen digigit deh kayak.y
    Aplagi momen.t baekyeon.y yg bkin senyum2 endiri

    Fw beautiful creatur.y bisa diminta pake nomor hp gak thor ???
    Soal.y aq gak punya email ato twitter hehehehe

  3. author ryn comeback yeay!
    gasabar sm moment baekyeon udh pacaran hihi
    hyorin mnta di tabok nih seenaknya. mnta pw lewat twitter unamenya apa unni?

  4. Ryn unnie comeback lagi yeayyy!!makin greget aja ya .-. Wkwk kpn taeyeon inget sma baekhyun klo mereka per nah ketemu??si hyorin juga bikin jengkel Aja -_- and btw beautiful creature akhirnya mau di post ya >< boleh dong minta passwordnya hehe,sma the days I meet you nya dong unn,keep writing & imagine ^^ Fighting!🙆🏻

  5. Woooowww baekhyun afgresif sekali ma taeyeon,haiiiz gara2 baekhyun skrng taeyeon mendpatkan masalah😧hyorin angkuh sekali mentang president siswa,siapapun tolong taeyeon bertiga donk kan kasihan dipermalukan didepan banyak orng,lanjut ya thor karyanya slalu kutunggu

  6. akhirnya update juga
    baek keliatan bgt sih kalo suka ama tae
    itu miyoung emosinya tinggi bgt yaa
    hyorin juga nyebelin sih.
    yang terakhir itu baek kan.?
    next ditunggu thor. fighting!!

  7. ahh daebak daebak. itu yg bilang cukup hyorin siapa? baekhyun kah or miyoung? sumpah penasaran padahal dulu sempet baca waktu exoshide masih ada cuma rada lupa hihi pokonya next chap ditunggu 🙂

  8. Omo Omo siapa itu? Baek kah? Hyorin kejam amat yaa, taeng lawan dong #plak
    Seo suka nickhyun? Tiffany ga cemburu tuh #abaikan
    Next ya thoor! Jangan lama lama yaaaaa!!
    FIGHTAENG!!!

  9. itu baekhyun? genk exo? ato miyoung yg blang?????
    hyorin pengin gua jitak.. ARGHHHH ><
    next next.. fighting !!

  10. Waaaaahhh taeyeon mulai berani.. harusnya gitu dr dulu… baekhyun kemaana kau.. ini gara2 baek nih… hyorin tu sok bgt jd org belagu dah ah..kezeeell… lanjut thor

  11. huaah annyeong eon lama tak share ff
    pdahal selalu dtggu2…
    sneng dpart ni byk moment baekyeon…
    si hyorin rese bgt sh mudah2n si baekh nlongin dtggu next chap eon…

  12. wah akhirnya taeyeon ud mulai melawan hyorin \•/
    benci bgd ma hyorin…
    kasian seo masih baper ma nickun..
    dmn baek??? kq g bela taeyeon…
    next dtggu…
    eonni fightaeng!!!!

  13. uda lewat 2 hari baru komen.. miannn thorr 😦
    sukses deh bikin kesal sama Hyorin.. sikapnya itu lohh.. yah walopun cuma fanfic jd ga kebawa ke real aja.. awalnya si agak gak ngeh, soalnya uda lupa-lupa ceritanya.. jd mesti baca chap sblmnya buat ngerti chap ini.. oke no bacot.. Keep writing thorr.. Fighting.. beautiful creaturenya juga uda update.. Thanks yahh thorr… yah walopun sudah lumutan nunggunya.. 😀

  14. Yeay!! Author favorit comeback juga… ><
    Daebak thor!! Wlaupun smpat lupa sma ceritanya…

    Sukses hyorin bkin kesal!?? Wlau bias juga… :g
    Nickhun?? Dia sbenarnya suka sma seohyun?? Kok ocaran sma Victoria?? :g
    Penasaran sma chap slanjutnya thor!!

    Next!!
    Chap slanjutnya dtnggu!! Fighting!! ^^

  15. Baekyeon moment lagi :D, Seohyun kasihan banget, tapi Nickhun kayaknya perhatian juga ke Seohyun. Hyorin Hyorin ngapain sih kek gak ada kerjaan aja :v. Next thor

  16. Yeay nemu lagi ni ff baekyeon..
    Ga sabar nunggu baekyeon moment selanjutnya.
    Keep writing and fighting thor,!!
    Daebakk..

  17. Yonghwa oppa sabar ya,berdo’a saja agar Seo eon cepat peka😂😂
    Semoga Taeng eon cepet sadar klo dia itu pernah ketemu sama Baek oppa waktu kecil

    #latecomment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s