Manly Man (2 of 2)

manly-man

Bina Ferina – Kookie08

(Request from : Daraade)

Poster Design :

Baelyrii Art

  • Lu Han & Kim Taeyeon GG
  • Rated M (Not for Children)
  • A/N  : Check the rating, guys^^

Chapter 1

Drrrtt Drrrtt Drrrtt…

Taeyeon mengerling sedikit ke arah ponselnya yang berdering di atas meja riasnya. Dilihatnya nama kontak yang sedang meneleponnya itu dan ia langsung menghela nafas berat seraya melempar buku mata kuliahnya ke atas tempat tidur dengan kasar. Tanpa menoleh kembali untuk melihat ponselnya, Taeyeon berbalik dan ia langsung keluar kamar menuju dapur.

“Taeng?” sapa Mrs. Kim, yang tengah membaca buku resep cake. Ia menutup buku itu dan menatap Taeyeon dengan pandangan dan senyuman yang sangat sulit diartikan, seperti sebuah senyuman menggoda. “Kau sudah mau turun dari kamarmu? Apa ini artinya kau sudah melupakan kesedihanmu?”

Taeyeon membuka kulkas dan mengambil sebuah minuman kaleng bersoda. Ia membuka tutupnya dan langsung menenggak habis isinya, tanpa menghiraukan pertanyaan sang ibu. Mrs. Kim masih menunggu jawaban dari Taeyeon sambil memandangi putri cantiknya itu. Senyum ibunya belum hilang dan sedikit membuat Taeyeon kesal.

“Kalau eomma tetap mengungkit masalah itu, aku tidak akan pernah turun dari kamar kecuali untuk pergi keluar rumah,” ancam Taeyeon. Bibirnya mengerucut lucu, menandakan bahwa ia sedang marah.

Mrs. Kim mendekati Taeyeon dan merangkul putri semata wayangnya itu. “Jika jawaban dan raut wajahmu seperti itu, apa itu artinya kau sudah baik-baik saja, dear? Aku yakin kau sudah kembali menjadi Taeyeon-ku yang ceria dan yang selalu bersemangat,”

“Mianhaeyo, eomma. Aku tahu hal itu tidak penting untuk ditangisi. Masih banyak laki-laki yang lain. Benar, ‘kan eomma? Aku menyesal tidak menuruti ucapanmu dua minggu yang lalu dan lebih memilih mengurung di kamar seperti orang bodoh. Aku merasa aku ini orang idiot, yang meninggalkan semuanya dan menangisi laki-laki seperti itu,” ujar Taeyeon sambil meremas kuat kaleng minuman soda itu, lalu melemparnya ke tempat sampah.

Mrs. Kim tersenyum lebar. “Kau menangisi kebodohanmu sendiri. Aku tahu suatu saat kau akan berakhir dengan Junsu. Aku tidak terlalu terkejut saat kau pulang ke rumah dengan tampang yang sangat berantakan dan Jessica bilang kau putus dengan orang itu. Aku juga tidak terlalu suka dengannya. Menurutku, chemistry antara dia dan dirimu sangat kurang mengena di mataku. Mungkin ini yang dinamakan dengan feeling seorang ibu,”

“Tsk, kalau eomma bilang seperti itu sejak awal, aku tidak akan menerima dia,” ujar Taeyeon.

“Aku hanya ingin kau dapat pengalaman. Pengalaman apapun itu. Agar kedepannya kau bisa belajar dari pengalamanmu, terutama pengalaman pahit. Rasa pahit itu tidak selalu jelek, ia hanya sebuah bibit yang akan tumbuh menjadi sesuatu yang sempurna, jika kau sabar menanti pertumbuhan itu,” jelas Mrs. Kim dengan suaranya yang lembut. Ia menatap wajah Taeyeon dengan pandangan penuh sayang.

“Eomma jjang!” seru Taeyeon. Ia mengacungkan kedua ibu jarinya pada Mrs. Kim. “Mulai sekarang aku akan lebih memerhatikan pilihan eomma,”

“Pilihlah siapa yang kau suka. Dan tidak usah terburu-buru dalam menjalani hubungan,” lanjut Mrs. Kim seraya mengelus ubun-ubun kepala Taeyeon. Setelah itu, ia langsung pergi menuju ruang keluarga untuk kembali membaca buku resep cake-nya.

Taeyeon tersenyum melihat kepedulian ibunya yang sangat besar. Ia juga merasa bersalah sekali pada orang-orang yang peduli padanya, yang awalnya kurang setuju dengan hubungan Junsu dan Taeyeon dulu. Sebut saja orang-orang itu adalah Jessica dan Lu Han. Jessica tahu mengenai kandasnya hubungan mereka, dan ia tidak menyalahkan Taeyeon. Jessica hanya menyarankan dirinya untuk lebih berhati-hati dalam memilih. Dan Taeyeon tentu saja minta maaf. Ia juga ingin minta maaf pada Lu Han dan menumpahkan semua kesedihannya. Namun, mengingat insiden besar di antara mereka berdua, Taeyeon belum berani untuk menghubungi laki-laki itu. Ia minta izin pada kedua orang tua Lu Han untuk libur sementara waktu menjadi guru privatnya.

Selain menangisi berakhirnya hubungan dirinya dan Junsu, Taeyeon juga sedih atas pernyataan yang diungkapkan Lu Han kemarin. Bukannya ia tidak suka. Pernyataan Lu Han terlalu tiba-tiba dan ia belum siap mendengarnya. Apalagi ketika Lu Han menciumnya. Semua terasa begitu asing bagi Taeyeon. Mereka yang selalu bersama hampir tiap hari, Lu Han yang tahu semua seluk-beluk dirinya, dirinya yang juga tahu semua kelebihan dan kekurangan laki-laki itu. Bahkan, Taeyeon jugalah yang sering menjaga dan menggantikan ibu Lu Han ketika ibunya pergi ke China. Ia tidak pernah menduga Lu Han akan memiliki perasaan seperti itu pada dirinya. Perasaan yang sebenarnya tabu untuk Taeyeon rasakan kepada seorang teman.

Namun, melihat sifat dan sikap yang ditunjukkan Lu Han padanya akhir-akhir ini, membuat Taeyeon mau tak mau menyadari bahwa Lu Han memang bukanlah adik kecil yang imut seperti dulu. Ia menunjukkan perubahan yang seolah-olah menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pria. Lu Han berubah, karena perasaannya pada Taeyeon. Dan Taeyeon tidak pernah peka. Hatinya seolah-olah tertutupi akan keberadaan Junsu selama ini.

Tapi tidak juga. Dirinya hanya takut akan satu hal.

Taeyeon menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Lalu ia kembali melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya. Sebelum ia mencapai puncak anak tangga, suara Mrs. Kim memanggil nama Taeyeon.

“Kau tidak pergi ke rumah Lu Han?”

Taeyeon terkesiap. Semenjak kejadian itu, setiap kali orang tuanya menyebut nama Lu Han, Taeyeon selalu gugup. Ia belum siap ditanya apa-apa tentang Lu Han. Seperti sekarang ini. Sudah dua minggu lamanya ia tidak bersama laki-laki itu. Biasanya, kalau Taeyeon tidak keluar bersama Lu Han, Lu Han-lah yang bertamu ke rumah gadis itu. Wajar kalau kedua orang tua Taeyeon merasa aneh. Dan inilah yang paling Taeyeon benci jika seseorang yang sudah sangat dekat dengannya mempunyai perasaan yang lebih dari seorang sahabat. Orang itu akan menjadi sangat jauh dan asing.

“Dia sedang sangat sibuk sekali hari ini, eomma,” jawab Taeyeon pelan. Beberapa detik kemudian, Taeyeon menyadari ucapannya sangat tidak beres dan ia hanya bisa berharap ibunya tidak menyadari itu.

“Oh, jinjjayo?” tanya Mrs. Kim. Ia mengangguk dan ia menatap Taeyeon dengan pandangan heran. “Soalnya orang tuanya juga sudah kembali ke Korea dan mereka heran kenapa tidak melihatmu lagi akhir-akhir ini. Aku fikir Lu Han sedang tidak sibuk,”

“Apa ibu Lu Han menelepon eomma?” tanya Taeyeon. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

“Eung. Setiap hari, ‘kan? Baiklah, kau boleh kembali ke atas,” ujar Mrs. Kim seraya berbalik untuk kembali ke ruang keluarga.

Taeyeon mendecak kesal. Jawabannya tidak tepat. Ia lupa kalau orang tua mereka sangat dekat. Lebih dekat dari Lu Han dan Taeyeon sendiri. Ia lupa kalau Mrs. Kim dan ibu Lu Han punya insting yang sangat kuat. Dan mereka adalah biang gosip. Taeyeon yakin, bahkan ia sangat yakin mereka berdua tahu ada yang tidak beres di antara dia dan Lu Han.

Taeyeon mengangkat kedua bahunya tanda tak peduli dan ia buru-buru masuk ke dalam kamarnya sebelum Mrs. Kim berubah fikiran. Sesampainya di kamar, Taeyeon mengambil ponselnya dan ia melihat sepuluh panggilan tidak terjawab dan satu pesan dari Junsu.

 

From : Junsu

Mianhae. Aku hanya ingin minta maaf yang sebesar-besarnya padamu. Aku tahu aku adalah laki-laki jahat yang tidak akan pantas bersanding denganmu. Aku tahu kau tidak akan pernah mau melihat wajahku atau mengenalku lagi. Aku memang pantas mendapatkan hukuman berat karena sudah menipumu selama ini. Mianhae, jeongmal.

 

-Flashback On-

Dua minggu yang lalu…

“Eomma, aku pergi. Junsu oppa sudah menunggu di luar,” pamit Taeyeon pada Mrs. Kim, yang sedang menyiapkan makan malam.

“Kenapa Junsu mengajakmu keluar malam? Tidak biasanya. Kalian mau ke mana?” tanya Mrs. Kim.

“Oppa hanya mengajakku makan malam sebentar,” jawab Taeyeon sekenanya.

“Kenapa dia tidak mau mampir dan makan malam saja di sini? Dia terlalu sering mengajakmu makan di luar. Seharusnya ia lebih mendekatkan diri pada orang tuamu,”ujar Mrs. Kim pelan.

“Aku akan mengajaknya lain kali, eoh? Annyeong,” pamit Taeyeon sekali lagi tanpa mau berdebat dengan ibunya.

Setelah mendapat anggukan dari sang ibu, Taeyeon langsung mencium kedua pipi Mrs. Kim dan melesat keluar rumah menemui Junsu yang tengah menemani Taeyeon di dalam mobilnya. Begitu Taeyeon masuk ke dalam mobil, Junsu memutuskan sambungan teleponnya dan menyimpannya di dalam saku celana. Ia tersenyum sumringah saat Taeyeon sudah ada di hadapannya. Namun, beberapa detik kemudian, senyumannya itu menghilang digantikan dengan kerutan heran di dahinya.

“Wae?” tanya Taeyeon.

“Kau hanya memakai pakaian casual ke club? Kenapa tidak memakai pakaian yang… berbeda?” Junsu balik bertanya.

“Yang berbeda yang bagaimana? Apa aku kelihatan jelek kalau hanya memakai sweater dan celana jeans?”

“Ani, pakaian apapun yang kau pakai, kau tetap sangat cantik. Tapi, Taeyeon-ah. Kau tahu, di club kau akan kuperkenalkan dengan teman-temanku. Apa tidak sebaiknya kau pakai dress atau apapun yang tampak membuatmu berkilau?” tanya Junsu dengan ucapannya yang tampak hati-hati.

Dan Taeyeon bukanlah orang bodoh. Dia tahu maksud Junsu. “Apa harus? Apa pandangan teman-temanmu itu penting sampai-sampai kau menyuruhku mengganti baju? Hanya kau saja yang tahu aku cukup baik untukmu itu sama sekali tidak masalah. Kau tahu, ‘kan kalau aku tidak suka dengan pakaian yang formal kalau tidak ada acara yang sangat penting?”

“Apa bertemu dengan teman-temanku tidak penting?”

“Sewaktu kau bertemu dengan teman-temanku, aku tidak memaksamu untuk berpenampilan bagus. Dan kita juga tidak bertemu di club, tapi bertemu di tempat yang wajar,” sanggah Taeyeon.

“Apa club bukan tempat yang wajar?” tanya Junsu dengan penekanan kata yang menunjukkan kalau ia marah. “Dengar, Taeyeon-ah. Kita meributkan hal yang sepele, seperti biasanya. Dan seperti biasanya juga, kau yang memulai setiap masalah kita. Aku tidak mau berdebat panjang lebar lagi, sekarang ikut saja denganku. Apapun yang kulakukan, jangan bertanya atau menyanggah apa-apa, arraseo? Kulakukan ini karena aku ingin yang terbaik untukmu,”

Taeyeon memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela mobil, membiarkan Junsu membawanya pergi entah ke mana. Sekilas, perkataan Lu Han kemarin terngiang kembali di fikiran Taeyeon. ‘Apa ini yang dinamakan dengan pacaran? Itu namanya perjanjian!’.

“Ada noda di kerah kemejamu, oppa,” ungkap Taeyeon saat ia menangkap ada bercak merah di kerah bagian kanan Junsu. Taeyeon memicingkan kedua matanya dan hendak mendekatkan dirinya ke Junsu untuk lebih memastikan noda apa itu. Tapi Junsu menarik dirinya menjauh dari Taeyeon seraya tersenyum kikuk.

“Bukan apa-apa,” jawab Junsu santai. Ia menekan tombol ‘on’ pada radio mobilnya dan kembali fokus pada jalanan di hadapannya.

Taeyeon hanya memerhatikan Junsu dengan fikirannya yang melayang-layang entah ke mana.

 ~~~

“Yo, Junsu-ah! Kenapa kau lama sekali, eoh?” sapa salah seorang teman Junsu yang bertubuh jangkung dan berambut cokelat pekat. Ia bersalaman dengan Junsu sambil menyerahkan sebotol wine pada Junsu. Junsu menerimanya dengan senang hati dan menenggaknya habis.

“Apa ini pacarmu, Junsu-ah?” tanya temannya yang lain, yang wajahnya terlihat lebih tenang. Matanya menatap tajam pada Taeyeon dan meneliti gadis itu dari atas sampai bawah.

“Ah, ye. Perkenalkan, Kim Taeyeon namanya. Taeng, ini teman-temanku… Ada apa, Taeng?”

Taeyeon yang tidak mendengarkan ucapan Junsu karena derasnya suara musik di club itu, asyik menarik-narik dress hitam mininya ke bawah. Ya, ia merasa tidak nyaman sekali dengan dress yang baru saja Junsu belikan itu. Dress itu terlalu pendek, di atas lutut dan ia belum pernah memakai dress sependek itu. Belum lagi tatapan nakal para laki-laki hidung belang yang ada di club itu. Membuat tangan Taeyeon gatal ingin menghajar mereka. Jujur saja, ia ingin menangis di tempat.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” pamit Taeyeon dan ia melesat pergi ke kamar mandi, temtu saja dengan bantuan dari para pelayan club itu.

Sesampainya di kamar mandi, Taeyeon langsung membanting tas lengannya di atas wastafel dan menatap dirinya lekat-lekat di dalam cermin kamar mandi. Ia sangat kesal dengan Junsu malam itu. Sangat kesal. Beberapa detik kemudian, Taeyeon membuka tasnya dan merogoh-rogoh isinya hendak mengambil ponselnya. Ia ingin minta Jessica menjemputnya. Ia tidak peduli Junsu marah atau apapun itu.

Ketika ia merogoh tasnya, Taeyeon merasakan deringan dari ponselnya. Ia mengambilnya dan ternyata itu bukan miliknya, melainkan milik Junsu. Taeyeon ingat, saat Junsu sibuk memilih dress untuknya, Junsu meninggalkan ponselnya di sebuah bangku tunggu di dalam mall itu. Taeyeon melihatnya dan mengambil serta menyimpannya di dalam tas.

Seseorang menelepon Junsu. Taeyeon membaca nama kontaknya, Hyori.

“Nugunde?” gumam Taeyeon. Beberapa detik kemudian, ponsel itu berhenti berdering. Hyori memutuskan sambungannya. Digantikan dengan sebuah pesan masuk yang langsung dibuka oleh Taeyeon.

 

From : Hyori

Junsu-ah, neo eodiga? Aku sangat menanti teleponmu, apa kau tahu? Kenapa malam ini kau tidak datang? TT.TT

 

DEG!

Jantung Taeyeon mencelos. Ia tidak percaya dengan pesan yang dikirim oleh seseorang bernama Hyori ini. Ia tidak mau percaya.

 

To : Hyori

Aku sedang berada di club Gangnam bersama dengan pacarku.

 

Tidak berapa lama, Hyori membalasnya.

From : Hyori

Ah~ Kim Taeyeon? Aku sudah tahu kau ada di club itu. Bukannya kau melarangku datang agar tidak bertemu dengan pacarmu itu? Kau sudah berjanji akan datang lagi setelah pulang dari club, ‘kan? Urusan kita yang tadi siang benar-benar belum selesai dengan baik^^ aku sangat menantimu. Cepatlah datang♥

 

“Yang tadi siang?” gumam Taeyeon dan ia menyunggingkan senyum sinisnya sambil berfikir. Hari ini seharian ia memang tidak berada di dekat Junsu. Ia di rumah Lu Han. Bahkan sorenya Taeyeon lupa untuk menghubungi Junsu karena insiden yang terjadi di rumah Lu Han. Apakah selama ini berada jauh dari Junsu, Junsu sedang bersama dengan gadis ini?

 

Deringan sebuah pesan masuk kembali dirasakan Taeyeon. Cepat-cepat di bukanya pesan itu dan dibacanya. Sedetik kemudian air mata Taeyeon meleleh dengan indahnya membasahi kedua pipinya yang merona.

 

From : Hyori

Aku ingin kau memilikiku sepenuhnya, Junsu-ah. Aku tidak ingin hanya sekedar bermain-main saja denganmu. Cepat tuntaskanlah tugasmu~ kekeke^^

~~~

Begitu Taeyeon selesai menelepon Jessica untuk menjemputnya di depan club, tanpa memedulikan tatapan-tatapan nakal dan penasaran dari para pengunjung club, Taeyeon berjalan cepat menuju tempat Junsu dan teman-temannya berkumpul. Setibanya di hadapan Junsu, Taeyeon melempar ponsel lelaki itu dan dengan tangkas Junsu menangkapnya. Ia mengerutkan dahinya ketika dilihatnya wajah Taeyeon yang kusut dan penuh emosi.

“Taeyeon-ah, waeyo?” tanya Junsu. Ia mendekati Taeyeon dan hendak menggapai lengan gadis itu. Tapi Taeyeon menghindarinya.

“Hyori. Siapa dia?” tanya Taeyeon dengan suara yang tercekat. Pandangannya tajam menghujam ulu hati Junsu. Dan dapat Taeyeon lihat kekagetan terpancar dari ekspresi Junsu.

“Aku tidak mengerti pertanyaanmu. Hyori yang mana?” Junsu balik bertanya dengan gesture-nya yang berusaha untuk tampak tenang.

“Kalau begitu kau baca saja semua pesan masuk dari dia! Setelah difikir-fikir, ternyata semua yang dikatakan teman-temanku sangat benar. Aku salah karena menutup telinga dan menganggapmu sebagai sosok dewa. Aku bodoh karena terlalu percaya,” ungkap Taeyeon sambil menitikkan air matanya. Alunan musik rock langsung terdengar di club itu, membuat Taeyeon harus mengencangkan volume suaranya saat dia ingin mengucapkan satu kalimat terakhir untuk Junsu. “Mian, tapi mulai hari ini kita putus, oppa. Gomawo karena sudah memberi kenangan baik di hidupku,”

“Taeyeon-ah! Taeyeon-ah, chakkaman!” seru Junsu saat Taeyeon sudah melesat pergi keluar club.

Taeyeon memang mendengar Junsu memanggil-manggil namanya. Tapi semuanya sudah berakhir. Taeyeon tidak ingin tertipu dan dibodohi lagi. Tidak perlu Junsu menjelaskan semuanya karena kini semua sudah jelas. Akan ada kemungkinan Junsu menyakitinya lagi jika ia tetap memberikan maafnya, dan itu hanya membuang-buang waktu.

Jessica sudah sampai di club lebih cepat dari yang Taeyeon kira. Ia langsung naik dan meminta Jessica untuk mengantarnya pulang. Selama perjalanan, gadis itu menceritakan semuanya sambil menangis terisak-isak. Jessica bahkan tidak bisa bilang apa-apa saking shock-nya. Ia tidak berani untuk bertanya satu pertanyaan pun ketika melihat keadaan Taeyeon yang mengenaskan.

Sesampainya di rumah, Taeyeon tidak menyapa Mr. dan Mrs. Kim. Ia naik ke kamarnya dan mengunci dirinya. Jessica-lah yang menjelaskan semuanya pada kedua orang tua Taeyeon. Sampai dua minggu lamanya, Taeyeon tidak bicara banyak dan hanya meluangkan waktunya di dalam kamar. Mr. dan Mrs. Kim tidak ingin semakin merusak mood anaknya dan membiarkan Taeyeon sampai ia sadar sendiri. Jessica juga belum berani untuk bertanya lebih lanjut mengenai masalah Junsu. Ia juga menunggu saat yang tepat.

 

-Flashback End-

“Tsk, geu namja. Dia benar-benar tidak tahu, tidak tahu malu, atau bagaimana? Aish, seharusnya dia minta maaf secara pribadi!” seru Taeyeon kesal. Ya, ia masih dendam, marah, dan malu. Dendam dan marah karena selama ini ia sudah sangat percaya akan perubahannya. Malu karena apa yang dikatakan Lu Han dan yang lainnya benar.

“Kalau dia datang ke rumahmu atau menemuimu di kampus, apa kau siap bertemu dengannya? Kau akan memukulnya tanpa henti sebelum dia sempat mengucapkan sepatah katapun padamu,” ujar seorang gadis yang tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar Taeyeon. Ia tersenyum sangat manis dan melempar tubuhnya sendiri di atas tempat tidur empuk milik Taeyeon.

“Sica-ah? Sejak kapan kau ada di rumahku?” tanya Taeyeon heran.

“Kemarin kulihat keadaanmu mulai membaik, jadi aku putuskan untuk kemari. Ibumu juga bilang kau sudah mulai sadar dari kebodohanmu mengurung diri selama dua minggu di dalam kamar,” jawab Jessica tenang. “Tapi aku tahu bagaimana keadaanmu waktu itu. Kau tahu, ‘kan? Aku lebih dari dirimu kemarin. Kalau kau tidak ada untuk menamparku, mungkin aku sudah tidak disini lagi,”

“Itu sebabnya kau membiarkanku untuk sementara waktu? Dan bagaimana kalau aku berbuat jauh seperti dirimu waktu itu?” tanya Taeyeon. Ia mendekati Jessica dan duduk di samping gadis itu.

“Aku tahu kau tidak akan seperti itu. Kau cukup waras daripada aku,” jawab Jessica. Ia menatap Taeyeon dalam-dalam dan tersenyum lebar. “Selama dua minggu aku tidak bicara banyak padamu. Kau tahu betapa besarnya aku merindukanmu, eoh?”

“Omo,” pekik Taeyeon pelan dan ia memeluk tubuh Jessica erat-erat. Jessica hanya tertawa sambil memukul pelan kepala Taeyeon. “Kalau begitu, mari kita makan besar besok siang. Kau yang harus mentraktir aku,”

“Kenapa aku?” tuntut Jessica. “Harusnya kau. Untuk merayakan hari kebebasan dari seorang idiot yang bernama Kim Taeyeon,”

“Arraseo, arraseo. Aku tidak akan keberatan kalau kau kehilangan tubuh idealmu itu,” ujar Taeyeon.

“Ah,” potong Jessica. “Aku lupa. Bukannya besok jadwalmu mengajar Lu Han? Sudah dua minggu kau menelantarkan dia,”

Taeyeon diam. Ia bangkit dan duduk di atas meja riasnya sembari membuka-buka buku mata kuliahnya. “Apa kau lupa juga? Hubungan kami tidak begitu baik, ‘kan? Apa kau sudah lupa dengan ceritaku?”

“Kau lupa juga kalau kau yang meminta Lu Han untuk melupakan apa yang terjadi di antara kalian waktu itu, ‘kan? Kau yang memintanya untuk tidak menganggap kejadian itu ada dan bersikap seperti biasa. Lalu, kenapa kau yang justru tidak bersikap seperti biasanya padanya?” tanya Jessica.

“Sica-ah, bagaimana mungkin aku bisa bersikap biasa padanya? Segala yang diungkapkannya, yang dia lakukan itu bukanlah Lu Han yang kukenal. Aku tidak terbiasa dengan itu,” ungkap Taeyeon.

“Kau tidak akan bisa bersikap seperti biasa lagi padanya? Kalau begitu kenapa kau menyuruhnya untuk menghapus perasaan dan semua pengakuan Lu Han padamu?” tanya Jessica. “Kau melakukan itu agar hubungan kalian tidak renggang, ‘kan? Sekarang lihatlah. Siapa yang tidak terbiasa? Sekarang siapa yang mulai menjauh? Kau terlalu menyakiti Lu Han, Taeng. Menyuruhnya untuk melenyapkan perasaannya bahkan kau membuat tembok pemisah di antara kalian.

“Kalau kau memang benar-benar menganggapnya sahabat sekaligus adik, kau tidak akan seperti ini. Kau akan tetap menjadi Kim Taeyeon yang biasanya dan membuat Lu Han berpaling padamu dengan mencarikan seorang pengganti. Bukannya menjauh seperti ini, seakan-akan kau takut akan suatu hal. Apa yang aku utarakan ini salah menurutmu? Sebagai sahabatmu yang sudah lama mengenalmu, aku tidak akan bisa tertipu oleh semua kebohonganmu, Taeng,”

Taeyeon menutup bukunya dan dengan frustrasi ia menghadapkan tubuhnya ke arah Jessica. Ia menatap Jessica dengan pandangan sendu.

“Apa yang aku takutkan sudah terjadi, Sica-ah. Kau tahu kalau dulu aku begitu dekat dengan Kangta sunbae. Aku menyukainya dan kau tahu itu. Semenjak dia tahu perasaanku, dia mulai menjaga jarak denganku dan mengatakan kalau aku ini sudah seperti adik kandungnya. Dia tidak ingin aku punya perasaan khusus padanya karena dia takut akan menyakitiku. Aku tahu apa maksudnya, karena saat itu dia tengah menyukai orang lain,”

“Apa kau juga menjauh dari Lu Han karena takut menyakitinya?” tanya Jessica cepat.

“Aku menceritakan semuanya padamu, Sica-ah. Kecuali satu hal. Aku menerima Junsu oppa dan memercayainya sepenuh hatiku karena aku tidak ingin kejadian antara aku dan Kangta sunbae terulang lagi. Lu Han sangat berharga bagiku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku sudah terbiasa dengan kehadirannya dan menerimanya apa adanya. Tidak jarang aku memikirkan suatu hubungan yang lebih dari sahabat dengan Lu Han. Tapi aku takut. Bagaimana kalau kami tidak ditakdirkan bersama? Aku hanya akan menyakiti dia dan diriku sendiri. Lebih baik aku menganggapnya adik kecil sampai akhir hayatku, ‘kan? Hingga dia mengungkapkan semua perasaannya hari itu. Perasaanku campur aduk. Tapi ketakutanku, lah yang paling mendominasi. Aku mengatakan hal-hal yang menyakitinya, dan kurasa dia tidak mau melihatku lagi,” jelas Taeyeon. Ia menghadap ke meja riasnya kembali.

“Dia tidak akan membencimu,” gumam Jessica dengan wajah tertunduk. Taeyeon menatap Jessica dari kaca meja riasnya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa…”

“Aku mati-matian melarangnya untuk pergi ke rumahmu saat dia tahu kau dan Junsu sudah putus. Dia begitu mencemaskanmu. Tapi aku tahu bagaimana keadaanmu waktu itu, bagaimana hubunganmu dengan Lu Han yang saat itu kurang baik. Aku bilang pada Lu Han dia butuh waktu untuk sendiri. Lu Han paham dan dia bersedia menunggu. Aku sempat tanya kenapa dia begitu cemas dan dia menjawab, ‘dia sahabat sekaligus kakakku. Tentu saja aku cemas’. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya. Dan kini aku tahu. Beberapa hari yang lalu, aku melewati rumahnya dan…” Jessica menarik nafas dalam-dalam. “Aku lihat ada seorang gadis keluar dari rumahnya sambil mengucapkan terima kasih karena sudah membuatnya senang. Aku tidak ingin berfikiran apa-apa. Tapi hari demi hari ketika aku lewat di rumahnya lagi, aku kembali melihat seorang gadis masuk ke dalam rumahnya. Begitu terus sampai hari ini. Dan… perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang berbeda.

“Taeyeon-ah. Kurasa dia melakukan itu karena ingin melupakanmu, ingin mencari penggantimu. Tapi, apa kau tahu? Aku rasa sampai detik ini, pun dia belum bisa melupakan atau mendapatkan penggantimu. Dia tahu dia tidak akan bisa. Kalau dia bisa, dia akan melakukannya sejak dulu karena dia tahu, kau hanya akan menolaknya,”

“Sica-ah, jeongmalyo? Apa dia benar-benar melakukan hal itu? Membawa perempuan berbeda setiap hari ke rumahnya? Bukankah orang tuanya sedang di rumah?” tanya Taeyeon kaget.

“Silakan kau cek saja ke rumahnya. Kau tidak ingin sesuatu terjadi di rumah Lu Han, ‘kan? Hanya kau yang bisa menghentikannya. Dan kau bisa menemukan jawaban atas perasaanmu di sana,” jawab Jessica pelan. “Kalau begitu, besok kita berbincang lagi di kampus, Taeng. Annyeong,”

Beberapa menit setelah Jessica pergi meninggalkan rumahnya, Taeyeon termenung sejenak memikirkan perkataan sahabatnya itu. Tak berapa lama kemudian, ia mengambil cardigan hitamnya dan langsung melesat pergi menuju rumah Lu Han. Entah apa yang ia fikirkan. Ia hanya tidak ingin Lu Han disentuh oleh perempuan-perempuan yang berbeda setiap harinya. Ia tidak mau orang yang disayanginya menjadi kotor hanya karena dirinya seorang.

Taeyeon mengemudikan mobilnya dengan cepat. Rumahnya dengan rumah Lu Han tidaklah terlalu jauh. Hanya sepuluh menit, ia sudah sampai di tempat kediaman Lu Han. Dapat Taeyeon lihat, pintu rumah Lu Han terbuka dan ada sepatu perempuan di depan pintu rumahnya. Mobil kedua orang tua Lu Han tidak ada. Pantas saja Lu Han dengan bebasnya membawa perempuan-perempuan itu masuk ke dalam.

“Ya, Lu Han-ah!” seru Taeyeon sambil masuk begitu saja ke dalam rumahnya. Di fikiran gadis itu, Lu Han dan seorang perempuan tak di kenal sedang bercengkerama di dalam kamarnya.

Namun, apa yang ada di depan mata Taeyeon, berbeda dengan apa yang difikirkannya. Ia terlonjak kaget, sangat kaget saat teman-teman akrab Lu Han duduk di ruang keluarga Lu Han sambil bercanda tawa, dan tawa mereka terhenti saat melihat Taeyeon mematung di hadapan mereka.

Tentu saja, teman-teman akrab Lu Han adalah orang-orang yang Taeyeon kenal juga. Chanyeol, Jun Myeon, Yi Xing, Min Seok, Joo Hyun, Yoon Ah, dan Sooyoung.

“Eonni!” sapa Joo Hyun, Yoon Ah, dan Sooyoung bersamaan.

“Ah, annyeonghaseyo noona,” sapa yang lainnya sambil berdiri dan membungkukkan tubuh mereka pada Taeyeon.

“Annyeong,” balas Taeyeon. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum seperti orang bodoh. Sica pembohong! Awas saja, rutuk Taeyeon dalam hati.

“Eonni, mau bertemu dengan Lu Han?” tanya Sooyoung. Ia mendekati Taeyeon dan mengajaknya untuk duduk bersama dengan mereka semua.

“Dia sedang ada di kamar, noona,” ujar Chanyeol.

“Lu Han cerita kalau kau sudah jarang sekali ke rumahnya sejak… eung, eonni kau bisa cari yang lebih baik dari Junsu sunbae,” kata Yoon Ah.

“Tentu saja, bukankah uri Lu Han adalah yang terbaik?” tanya Yi Xing, yang saat itu juga langsung disikut oleh Jun Myeon.

“Ada banyak laki-laki di dunia ini yang mencintaiku. Kalian tenang saja, tidak perlu ikut bersedih. Ini semua salahku karena terlalu memercayainya,” ungkap Taeyeon sambil tersenyum lebar.

“Kenapa noona jarang bermain ke sini lagi?” tanya Chanyeol, mengubah topik pembicaraan. “Dan begitu datang, noona langsung meneriakkan nama Lu Han. Apa ada yang terjadi pada Lu Han?”

“Gwaenchannayo. Tidak terjadi apa-apa, jinjja. Hanya saja, Jessica…”

“Sica eonni di mana? Setiap hari dia bermain dan belajar bersama kami di sini saat Taeyeon eonni tidak ada kabar,” potong Joo Hyun.

Taeyeon membulatkan kedua matanya, terkejut. Ia ingin merutuki Jessica dan bertanya lebih dalam pada mereka saat sepasang kaki mendekati mereka. Dan dari parfumnya, Taeyeon tahu siapa yang datang. Mendadak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

“Siapa yang memanggilku tadi?” tanya Lu Han. Ia mengacak-acak rambutnya.

Semua yang ada di ruangan itu menengadah menatap Lu Han, kecuali Taeyeon. Taeyeon memilih menundukkan wajahnya dan terus memandangi rubik kesayangan Lu Han yang terletak di atas meja, seakan-akan ada hal yang menarik perhatiannya di rubik itu. Taeyeon dapat merasakan kedua mata Lu Han sedang memandangi dirinya, dan mendadak suhu tubuhnya naik.

“Taeng noona? Kau datang? Ada apa?” tanya Lu Han. Ia duduk di samping Taeyeon dan menatapnya dalam-dalam.

Hati Taeyeon mencelos. Lelaki ini memang bersikap biasa saja padanya. Jelas kalau Taeyeon-lah yang menjauh. Ia merasa yakin Lu Han sudah memaafkannya dan bersedia mencari orang lain. Omongan Jessica tadi benar-benar omong kosong belaka. Ingin rasanya Taeyeon membunuh Jessica sekarang juga.

“Aniya… Hanya saja aku…”

Taeyeon mengalihkan wajahnya menatap Lu Han. Kedua mata mereka bertemu. Sepasang mata Lu Han menatap tepat di mata Taeyeon. Kedua mata rusa itu berbicara, dan Taeyeon tidak mengerti maknanya. Seperti diguyur oleh air es, kata-kata Taeyeon tercekat begitu saja di tenggorokannya. Ia sadar, ia merindukan laki-laki itu, laki-laki yang kini tengah ada di hadapannya.

“Omo!” seru Yoon Ah tiba-tiba saat ia melihat arloji di pergelangan tangan kanannya, membuat semua yang ada di situ terlonjak kaget. Bahkan Lu Han dan Taeyeon pun saling buang muka. Wajah Taeyeon bersemu merah dan ia berusaha menyembunyikannya.

“Wae geurae?” tanya Lu Han.

“Sepertinya aku harus pulang. Sudah pukul enam sore dan orang tuaku akan mencemaskanku kalau aku tidak pulang,” jawab Yoon Ah. Ia langsung mengambil tasnya dan bangkit berdiri. “Ya, Chanyeol-ah. Kau bisa antar aku pulang, ‘kan?”

“Eoh, tentu saja. Rumah kita searah. Aku juga mau pulang, Lu. Annyeong,” pamit Chanyeol sambil melambai kepada Lu Han dan yang lainnya.

“Ya! Kalian baru sampai. Bagaimana…”

“Aku juga tidak enak kalau pulang terlalu sore. Aku pamit, ya Lu. Jun Myeon-ah, bisa antar aku juga?” tanya Sooyoung.

“Tentu saja,” jawab Jun Myeon langsung. Ia berdiri dan mengangguk pada Lu Han lalu tersenyum lebar pada Taeyeon.

“Eonni, aku ikut pulang juga!” seru Joo Hyun.

“Kau juga, Hyun?” tanya Lu Han. “Dan apa kau mau beralasan mengantar Hyunnie pulang, Yi-ah?”

“Yi Xing oppa tidak akan membiarkanku sendirian, oppa,” ujar Joo Hyun. Ia melambai riang pada Taeyeon, begitu juga Yi Xing, yang memeluk Lu Han sekilas.

“Aku tidak mungkin sendirian di sini, Lu. Aku pamit juga kalau begitu, eoh? Annyeong noona. Sampai bertemu lagi,” pamit Min Seok. Tanpa menunggu jawaban dari Lu Han, Min Seok langsung mengambil barang-barangnya dan pergi dari rumah Lu Han.

“Aish, jinjja. Mereka tidak pernah pulang secepat ini,” gerutu Lu Han.

Baru saja Taeyeon ingin bicara, suara dering dari ponsel Lu Han terdengar dari kamarnya. Seseorang menelepon Lu Han.

“Noona, tunggulah di sini. Aku ke kamar sebentar,” ujar Lu Han.

Taeyeon mengangguk saat Lu Han bangkit berdiri dan melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Taeyeon menghela nafas sambil kembali merutuki dirinya sendiri serta Jessica. Sembari menunggu Lu Han, Taeyeon mengambil ponselnya dan berniat menghubungi sahabatnya itu. Sayang, nomor Jessica sedang sibuk. Ia sedang menelepon orang lain.

Taeyeon kembali menyimpan ponselnya dan menatap pintu kamar Lu Han dengan fikirannya yang melayang entah ke mana. Lu Han sedikit berbeda. Terlihat sekali dari gerak-geriknya kalau Lu Han masih mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Tapi sepertinya laki-laki itu masih punya sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Taeyeon tahu itu. Ia pun seperti itu.

Merasa lama menunggu Lu Han, dan Taeyeon sendiri juga tidak yakin bagaimana mencairkan suasana jika mereka sudah berdua, maka Taeyeon memutuskan untuk segera pulang. Dengan perlahan, gadis itu mengetuk pintu kamar Lu Han dan masuk ke dalamnya.

“Eoh, arraseo noona. Arraseo. Gomawoyo. Ne~. annyeong,” ujar Lu Han sambil memutuskan sambungan teleponnya dengan seorang wanita pastinya, saat Taeyeon berdiri tidak jauh dari Lu Han.

“Mian, apa aku mengganggumu?” tanya Taeyeon.

Lu Han tersenyum kecil. Ia duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap Taeyeon. “Pertanyaanmu aneh, noona. Mengganggu atau tidak, kau tidak akan pernah merasa telah menggangguku. Ini juga pertama kalinya kau minta maaf hanya karena kau merasa telah menggangguku. Apa selama dua minggu berdiam diri di dalam kamar telah mengubah Taeyeon noona-ku?”

Taeyeon tidak berkutik sesentipun dari tempatnya berdiri saat kata-kata itu keluar dengan mulusnya dari mulut Lu Han. Ia merasa bodoh. “Aku hanya…”

“Ada perlu apa kau datang kemari, noona? Dan kenapa kau meneriakkan namaku? Apa yang terjadi?” potong Lu Han cepat.

“Aku ingin minta maaf padamu,” jawab Taeyeon tanpa berbasa-basi lagi. “Aku tahu saat ini kau pasti menganggapku bodoh. Dan aku memang bodoh,”

Lu Han diam mendengar penuturan dari Taeyeon. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap burung-burung yang terbang kembali ke sarangnya setelah seharian pergi mencari makanan.

“Apa kau punya salah padaku sehingga kau perlu minta maaf?” tanya Lu Han, masih tetap memandang ke luar jendela.

Taeyeon menarik nafas dalam-dalam, berusaha sabar menghadapi sikap ketus Lu Han, yang bahkan Taeyeon tidak tahu kenapa. “Mengenai Junsu oppa. Aku salah. Aku terlalu memercayainya. Aku tidak pernah mendengar perkataanmu, perkataan Jessica, dan orang-orang yang dulu pernah mengenalnya. Aku pernah marah padamu karena kau tidak pernah menyukai Junsu oppa, tidak pernah suka jika aku membicarakannya. Kau benci mendengar namanya karena kau khawatir padaku. Mian, aku terlalu egois waktu itu. Aku terlalu memikirkan perasaanku. Aku tidak percaya padamu, Lu Han-ah. Kau begitu sabar tapi aku tidak pernah mendengarmu. Aku melakukan itu karena suatu hal, dan itu tidak bisa dijelaskan secara gamblang. Lain kali, kalau ada seseorang yang mendekatiku, aku akan minta pendapatmu terlebih dulu, Lu,”

Lu Han memandang Taeyeon selama beberapa detik lalu menundukkan wajahnya. Ia diam, tidak menjawab apa-apa atas semua penjelasan Taeyeon.

“Ya, Lu Han-ah. Kau benar-benar kesal padaku? Kau sangat marah?” tanya Taeyeon. “Arraseo. Aku tahu kau seperti ini karena terlalu mengkhawatirkanku. Aku mengerti dan aku sangat berterima kasih sekali padamu yang masih peduli padaku. Aku akan menunggu sampai kau mau kembali bicara denganku. Aku akan tunggu, seperti kau menunggu kabarku selama dua minggu. Aku akan tunggu, dan saat kau sudah mau bicara padaku lagi, aku akan memeluk dan menangis di pundakmu, Lu,”

Lagi, Lu Han hanya diam. Ketika suara Taeyeon bergetar saat ia mengatakan kalimat terakhir, Lu Han tetap bergeming, seakan-akan tidak peduli. Ia lebih memilih menatap layar ponselnya, entah apa yang sedang dikerjakannya.

“Aku lebih suka kau marahi dan caci maki daripada diam seperti ini, Lu. Aku…”

Ucapan Taeyeon terhenti karena ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk. Taeyeon sedikit terkejut. Ia mengambil ponselnya dari saku celananya dan ia semakin terkejut ketika ia membaca nama kontak yang sedang menghubunginya. Junsu oppa.

Taeyeon menggigit bibir bawahnya, bingung dan bimbang. Kenapa harus sekarang ia menelepon? Jika ia tidak mengangkatnya, Lu Han akan curiga, dan jika ia mengangkat serta menyebut namanya, Lu Han pasti lebih marah lagi. Sedangkan Lu Han, ia merasa ada sesuatu yang aneh saat ia memerhatikan Taeyeon yang tak kunjung mengangkat teleponnya.

“Lu,” panggil Taeyeon pelan. “Chakkaman gidaryeo. Aku akan segera kembali,”

Taeyeon berbalik dan hendak keluar dari kamar Lu Han. Sebelum gadis itu benar-benar pergi, Lu Han dengan cepat menarik kasar lengan kanan Taeyeon dan ia mengarahkan bibirnya ke bibir Taeyeon. Lu Han menutup mata dan kedua tangannya ia tangkupkan di wajah Taeyeon, melumat dan mencium bibir Taeyeon dalam-dalam. Beberapa detik kemudian tangan kanan Lu Han menelusuri rambut halus Taeyeon dan tangan kirinya berada di belakang leher gadis itu, memperdalam ciuman mereka.

Taeyeon terlalu terkejut. Ia sangat terkejut. Saking terkejutnya, Taeyeon tidak bisa bergerak. Ia hanya mematung melihat Lu Han yang tengah menciumnya. Kedua matanya membelalak dan ia merasa kepalanya sedikit pusing. Tubuhnya membeku tapi jantungnya berdegup sangat kencang, hingga ia yakin Lu Han pasti bisa mendengarnya.

Lu Han menggigit bibir bawah Taeyeon dan setelah itu bibir mungil Taeyeon ia lepas. Wajah mereka masih berdekatan dan keduanya saling menatap, saling menyelami satu sama lain. Nafas Lu Han yang terengah-engah menerpa wajah Taeyeon. Taeyeon tidak tahu, ia tidak mengerti. Ia tidak tahu kenapa ia bisa terhanyut dan merasa nyaman dalam tatapan Lu Han. Di dalam mata Taeyeon saat ini, Lu Han terlihat manly, dan Taeyeon baru menyadarinya.

Kedua tangan Lu Han perlahan-lahan menyentuh kedua pipi Taeyeon yang merona. Ia mengelusnya dengan penuh sayang menggunakan ibu jarinya. Masih dengan tatapan mereka yang terkontak, jari-jari Lu Han menelusuri seluruh permukaan wajah Taeyeon dengan penuh kelembutan.

“Yeoboseo? Taeyeon-ah? Taeng? Apa kau mendengarku? Kau masih disitu?”

Suara Junsu yang memanggil-manggil nama Taeyeon di dalam ponselnya membuat Taeyeon sadar dari perangkap mata Lu Han. Taeyeon menjauhi tubuh Lu Han dengan canggung, membuat wajahnya bebas dari kedua tangan Lu Han.

“Yeoboseo, oppa. Mian…”

Belum sempat Taeyeon selesai mengucapkan sesuatu pada Junsu, ponselnya direbut secara tiba-tiba oleh Lu Han. Taeyeon menatap laki-laki itu dengan pandangan terkejut dan heran.

“Wae? Ya. Lu Han-ah, kembalikan ponselku,” pinta Taeyeon.

“Kau sudah putus dengannya. Kenapa dia masih saja mengganggumu?” tanya Lu Han dengan nada sarkastik.

“Bukan begitu…”

“Ya, sunbae,” sapa Lu Han pada Junsu lewat ponsel Taeyeon. “Kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Taeyeon. Berhentilah mengganggu hidupnya, arra? Kau tidak perlu setiap hari menelepon atau mengiriminya pesan. Cari saja gadis lain. Jangan ganggu gadisku,”

“Lu Han-ah, hentikan omong kosongmu. Berikan ponselku!” rengek Taeyeon.

Taeyeon melangkah mendekati Lu Han dan berusaha merebut ponselnya. Sedangkan Lu Han terus melangkah mundur menghindari tangan Taeyeon yang berusaha merebut kembali ponselnya sambil berceloteh kalau Taeyeon sudah memiliki kekasih dan tidak ingin diganggu oleh siapapun pada Junsu. Lu Han benar-benar tidak peduli pada Taeyeon yang memelas padanya untuk tidak mengatakan apa-apa pada Junsu.

“Jangan membual, Lu!” seru Taeyeon.

Tanpa sadar Taeyeon mendorong tubuh Lu Han kuat-kuat ke belakang, hingga Lu Han jatuh ke atas tempat tidurnya sendiri. Terkejut karena tindakan Taeyeon yang tiba-tiba, Lu Han menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon dan gadis itupun ikut jatuh di atas tubuh Lu Han. Ponsel Taeyeon lepas dari genggaman Lu Han dan jatuh di atas lantai.

“Tolong jangan bicara yang tidak-tidak pada Junsu oppa, Lu. Aku tidak ingin memperpanjang masalah dengannya,” gerutu Taeyeon pada Lu Han yang berada di bawah tubuhnya. Ia hendak bangkit mengambil ponselnya.

Namun, Taeyeon kalah cepat dari Lu Han. Laki-laki itu melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Taeyeon dan memeluknya erat-erat. Tanpa buang-buang waktu, Lu Han langsung mengubah posisi mereka, sehingga Lu Han-lah yang berada di atas tubuh Taeyeon. Taeyeon terperangah menatap Lu Han. Kedua tangannya menahan dada Lu Han agar tidak menimpa tubuh gadis itu secara sempurna. Taeyeon bisa merasakan jantung Lu Han yang berdebar kencang.

“Apa yang…”

“Apa kau tidak bisa memercayaiku?” tanya Lu Han cepat. Suaranya sangat pelan sekali. Karena wajah mereka berdua yang sangat dekat, Taeyeon tidak sulit untuk mendengarnya. “Kau sangat memercayai Junsu yang sudah jelas-jelas adalah seorang pembohong. Tidak bisakah rasa percayamu itu kau berikan padaku?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, Lu,” sanggah Taeyeon. Ia tidak berani menatap manik mata Lu Han. Tapi Lu Han mengangkat dagu Taeyeon dengan paksa, agar gadis itu mau menatapnya.

“Aku mencintaimu, Kim Taeyeon. Jebal, jangan berpura-pura tidak mengerti. Aku sudah mendengar semuanya dari Jessica noona. Aku tahu dia berbohong padamu sehingga kau mau datang ke rumahku. Aku sudah dengar semuanya, Taeyeon-ah. Hanya karena masa lalumu itu, kau jadi tidak yakin pada perasaanku? Kau tidak percaya pada semua yang kurasakan? Kau takut mengalami itu lagi itu sebabnya kau menutup hatimu untukku?”

“Lu, kau orang yang paling aku sayang. Dari kecil aku sudah mengenalmu. Kau orang yang sangat berarti bagiku. Karena perasaanmu, aku hampir kehilangan orang yang paling berharga untukku. Aku tidak bisa melihatmu pergi. Jadi, tolonglah Lu. Bukankah akan lebih menyenangkan kalau hubungan kita seperti ini terus? Aku tidak tahu apakah suatu saat nanti kau benar-benar diciptakan untukku, Lu,” ungkap Taeyeon. “Aku hanya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan nantinya kalau kau tidak berakhir denganku,”

Lu Han terdiam menatap Taeyeon yang terlihat sendu saat itu. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca. Namun, Taeyeon berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. Perlahan, Lu Han menggenggam kedua tangan Taeyeon yang sedang menahan dadanya. Ia membuka telapak tangan kiri Taeyeon dan menyatukannya dengan telapak tangan kanan Lu Han. Lu Han menggenggam telapak tangan Taeyeon erat-erat seraya menatap gadis itu dengan seluruh perasaan yang ia miliki.

“Kita memiliki perasaan yang sama. Kita juga pasti memiliki kesempatan yang besar untuk percaya kalau kedepannya kita akan tetap bersama selamanya. Tidak bisakah kau percaya padaku? Aku tahu semua kepercayaanmu sudah kau berikan pada Junsu. Hanya sedikit, tidak apa-apa. Rasa percaya yang kau berikan padaku hanya setitik tidak apa-apa. Aku akan mengembangkannya dengan segala kemampuanku. Aku akan buktikan padamu, kalau aku bisa menjadi sahabatmu, adikmu, sekaligus cintamu. Kumohon jangan ragu padaku. Aku akan berikan pilihan padamu. Pilihlah sekarang juga. Kau ingin aku menjadi pendampingmu dan kita akan jalani ini bersama-sama sampai akhir atau aku akan melepasmu dan secara perlahan aku akan menjauh dari dirimu. Karena jujur saja, aku tidak bisa berada di dekatmu sebagai seorang teman,” jelas Lu Han.

“Nappeun neo,” bisik Taeyeon.

“Kalau kita memang tidak bisa bersama, Kim Taeyeon, aku berjanji akan menunggumu di kehidupan yang lain. Meskipun terpisah di dunia ini, percayalah, aku akan tetap meminjamkan pundakku dan memelukmu erat saat kau sedang dalam masa-masa sulit. Siapapun nantinya yang akan berakhir denganmu, akan kupastikan dia bisa membuatmu bahagia. Tapi, itu takkan pernah terjadi. Karena hanya akulah yang bisa membuatmu bahagia,”

Lu Han tersenyum lembut dan penuh sayang pada Taeyeon, yang mau tak mau meneteskan air matanya mendengar setiap perkataan Lu Han.

“Saranghae,” bisik Lu Han tepat di telinga kanan Taeyeon. Sedetik kemudia, sebelum Taeyeon sempat mencerna lebih dalam ucapan Lu Han, Lu Han sudah mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum Taeyeon. Tubuh Taeyeon menegang, dan Lu Han dapat merasakannya. Ia membelai rambut Taeyeon dengan lembut, seakan-akan ingin menenangkan gadis itu dan membuatnya rileks.

Beberapa detik kemudian Taeyeon menjadi rileks. Ia merasa nyaman dengan ciuman Lu Han yang lembut. Akhirnya, tubuh Lu Han sudah menindih tubuh Taeyeon dengan sempurna. Mereka berdua sama-sama bisa merasakan debaran jantung satu sama lain. Darah Taeyeon mendadak mendidih di dalam dirinya saat Lu Han mulai memainkan bibirnya di atas bibir Taeyeon yang pasif. Ia melumatnya secara perlahan, kemudian menekan bibir Taeyeon lebih dalam ke bibirnya dengan menarik pelan leher gadis itu. Sekitar lima menit melumat bibir Taeyeon tanpa ada reaksi apapun dari gadis itu, Lu Han menyudahi ciumannya.

Ia memberikan ruang untuk Taeyeon bisa bernafas. Wajah gadis itu sudah merah. Tak lama, Lu Han kembali menyentuh bibir Taeyeon. Kali ini, lidah laki-laki itu langsung menyeruak masuk ke dalam rongga mulut Taeyeon tanpa seizin dari sang empunya. Lu Han memang tidak sabaran ingin menjelajahi dan meneliti isi mulut Taeyeon. Taeyeon membuka kedua matanya, terkejut ketika lidah Lu Han mengajak lidahnya untuk bermain. Taeyeon memberanikan dirinya untuk membalas ajakan lidah Lu Han dan kembali menutup kedua matanya rapat-rapat, takut.

Senang dan kaget karena akhirnya lidah Taeyeon mau bergerak dan menyambut lidahnya, Lu Han semakin bersemangat mencium gadis itu dan mendominasi lidahnya di dalam mulut Taeyeon. Perang lidah yang terjadi selama sepuluh menit penuh, dimenangkan oleh Lu Han tentu saja. Tak tanggung-tanggung, Lu Han menukar salivanya dengan saliva milik Taeyeon sehingga saliva mereka tumpah membasahi dagu Taeyeon.

Merasa panas dan lelah, Taeyeon mencoba menghentikan ciuman mereka dengan menggeram lembut pada Lu Han, yang masih asyik melumat habis bibirnya, menggigiti bibir bawahnya sampai berdarah. Jika seperti ini,  Lu Han bisa saja memakan bibir Taeyeon kapanpun dia mau. Sayangnya, geraman minta berhenti dari Taeyeon seperti sebuah desahan untuk Lu Han. Hasratnya naik dua kali lipat. Ia menyelipkan jari-jarinya di rambut Taeyeon dan meremas-remasnya dengan lembut hingga berantakan. Sedangkan bibir Lu Han tak kunjung memberi ampunan pada bibir Lu Han. Saliva dan darah bercampur menjadi satu, dan Lu Han tidak begitu memedulikannya saat ia menelan campuran itu.

Lu Han melepas ciuman mereka saat kedua tangan Taeyeon mendorong pelan kedua bahu Lu Han. Mereka berdua terengah-engah dan Taeyeon merasakan bibir serta lidahnya menjadi pegal.

Dengan cepat, Lu Han kembali menunduk dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher kanan Taeyeon. Taeyeon tidak tahu apa yang akan di lakukan laki-laki ini. Beberapa detik kemudian, tubuh Taeyeon menggelinjang dan sebuah sensasi menggelitiki bagian bawah perutnya saat Lu Han menyusuri leher Taeyeon dengan bibirnya lalu menghisapnya pelan, tepat di daerah sensitive Taeyeon. Dan mau tak mau desahan lolos begitu saja dari mulut Taeyeon. Tanpa Taeyeon sadari, ia sedikit menggeser kepalanya ke arah kiri agar Lu Han dapat memiliki banyak akses untuk menyusuri semua bagian leher kanan Taeyeon. Dengan senang hati, Lu Han menerima tawaran Taeyeon. Ia menciumi semua bagian kanan leher Taeyeon. Menciuminya, menghisapnya, dan menggigitnya kuat, membuat denyut nadi Taeyeon seketika melambung cepat dalam hisapan Lu Han di tempat sensitive-nya itu.

Taeyeon kembali mengerang meskipun ia sudah susah payah untuk tidak melakukan itu, saat Lu Han perlahan-lahan menurunkan ciumannya dari leher menuju pundak kanan Taeyeon sampai ke bagian atas dadanya. Nafas Taeyeon memburu cepat, jantungnya berdenyut menyakitkan ketika tangan Lu Han dengan lihai melepas semua kancing kemeja Taeyeon, memperlihatkan bra miliknya yang berwarna hitam dan tubuh Taeyeon yang putih mulus.

Taeyeon menggeleng, wajahnya merah padam. “Bukankah ini kesalahan? Aku…”

“Taeyeon-ah,” panggil Lu Han pelan. “Biarkan kali ini aku bertindak lebih. Percayalah padaku,”

Taeyeon terdiam mendengar pinta Lu Han. Mata mereka bertemu dan Taeyeon dapat melihat ketulusan di dalamnya, membuat Taeyeon mau tak mau mempercayai lelaki itu.

Beberapa detik kemudian, wajah Lu Han kembali mendekati wajah Taeyeon. Gadis itu langsung menutup kedua matanya rapat-rapat sembari merasakan nafas segar Lu Han yang menerpa wajahnya. Lu Han kembali melumat bibir gadis itu sedikit kasar, mendesak, dan lapar. Lidah Lu Han kembali meliku di dalam mulut Taeyeon dan Taeyeon menaikkan sedikit dagunya, memberi akses kepada laki-laki itu meskipun ia tidak membalas ciuman Lu Han. Taeyeon hanya ingin merasakan. Sentuhan Lu Han yang lembut, yang menandakan ia benar-benar menyayangi gadis itu dan tak ingin menyakitinya. Taeyeon hanya ingin merasakannya.

Taeyeon bisa mendengar suara rintihan baik dari bibirnya maupun dari Lu Han yang tengah asyik mencumbunya. Sentuhan Lu Han membuatnya sulit berhenti mendesah dan membawanya terbang ke angan-angan. Hingga ia tak sadar bahwa kemeja yang ia gunakan tadi sudah tidak melekat di tubuhnya. Kini tangan Lu Han bergerak lihai menyentuh punggung belakang gadis itu dan membuka pengait bra hitamnya dengan mudah.

Taeyeon melepas ciuman mereka dengan paksa dan Lu Han menggeram protes.

“Wae?” bisik Lu Han.

“Kenapa kau bisa membuka pengaitnya?” Taeyeon balik tanya dengan wajah penuh curiga.

“Yah, aku…” perkataan Lu Han terhenti karena ia sibuk berfikir, membuat Taeyeon semakin curiga.

“Aish, kau sudah pernah melakukannya,” tuduh Taeyeon kesal.

“Ani!” sanggah Lu Han cepat. Taeyeon ingin bangkit tapi laki-laki itu dengan tangkas menahan kedua pundak Taeyeon dan meremasnya kuat. “Aku hanya ingin melakukannya denganmu. Bahkan aku sering memikirkannya. Hanya denganmu,”

Pervert!” maki Taeyeon pelan. “Tapi Junsu oppa-lah yang mendapatkan first kiss-ku, Lu,”

Lu Han tertawa mengejek. “Apa kau fikir begitu? Ternyata kau memang tidak berubah, tidur terlalu lelap seperti beruang di tengah musim dingin. Kalau saja kau tahu, saat aku menciummu di atas sofa, kau mendesah dan ingin lebih, my noona. Aku lebih cepat daripada Junsu. Akulah yang pertama. Dan jangan pernah mengklaim kalau dia orang yang pertama menciummu, Taeng,”

Wajah Taeyeon merah padam. Jadi itu sebabnya ia bermimpi yang bukan-bukan? Karena laki-laki ini? Taeyeon memukul kepala Lu Han dengan geram.

“Aww,” ringis Lu Han. Wajahnya cemberut. Mereka sudah sampai tahap sejauh ini. Tapi kenapa Taeyeon sama sekali tidak bisa romantis dan lembut padanya?

Saat Taeyeon hendak membuka mulutnya untuk kembali memarahi Lu Han, Lu Han segera menghentikannya dengan segera membuang bra hitam milik Taeyeon asal dan menghisap kuat dada kanan gadis itu. Sangat kuat, seperti seorang bayi yang tengah kehausan. Taeyeon melenguh panjang tanpa sadar. Kedua jemarinya meremas kerah belakang kemeja Lu Han. Sensasi aneh dan gila kembali menerpa tubuhnya yang berkeringat dingin saat tangan Lu Han meremas pelan dada kiri Taeyeon. Reaksi yang diberikan Taeyeon membuat Lu Han hilang akal sehat. Tanpa fikir panjang, hisapan dan remasannya di kedua dada Taeyeon semakin gila. Ia bahkan menggigit dan melumat seluruh permukaan dada Taeyeon sampai merah.

Nafas Taeyeon memburu cepat. Ia memejamkan kedua matanya dan lehernya kembali dihujam oleh bibir Lu Han. Sentuhan dan gigitannya tak kunjung berhenti dari leher, pundak, dada, sampai perut Taeyeon yang rata. Terlalu menikmati sentuhan Lu Han, Taeyeon tidak sengaja sedikit mengangkat lutut kirinya dan menyenggol pelan daerah intim Lu Han yang terlihat menonjol besar di balik celana sekolahnya, terlihat sangat menyesakkan.

Lu Han mendesah dan mengerang. Ia menghentikan ciumannya di tubuh Taeyeon dan melepas seragam sekolahnya dengan buru-buru, memperlihatkan tubuhnya yang memiliki abs itu dan membuatnya terlihat sexy. Tak henti-hentinya wajah Taeyeon mengeluarkan rona merah di kedua pipinya. Taeyeon hanya tidak menyangka, ia dan Lu Han bisa bertindak sangat jauh seperti ini. Padahal beberapa tahun yang lalu ia masih menganggap Lu Han adalah adik kecilnya.

Lu Han segera melepas ikat pinggangnya dengan sekali tarik dan ia membuka celana sekolahnya lalu melemparnya ke lantai. Tanpa banyak bicara ataupun protes dari bibir Taeyeon, Taeyeon mempersilahkan laki-laki itu untuk membuka semua pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Ia hanya bisa menerima permainan laki-laki itu. Semuanya sudah ia pasrahkan pada Lu Han. Dan kini keduanya sudah full naked.

Lu Han kembali menindih tubuh indah Taeyeon. Taeyeon dapat merasakan Mr. P Lu Han menekan perutnya. Seulas senyuman manis dan tatapan mata Lu Han yang terlihat pervert menyapa Taeyeon. Keduanya saling menatap dan beberapa detik kemudian Lu Han mencium lembut bibir Taeyeon. Tangan Lu Han kembali menelusuri tubuh Taeyeon dari wajah, leher, kedua belah dadanya, perut, pinggul, dan paha. Satu lagi desahan panjang lolos dari bibir Taeyeon yang sedang dikunci oleh Lu Han. Lu Han tersenyum kecil. Ia melumat kasar bibir itu dan dengan hati-hati mengelus daerah kewanitaan Taeyeon yang sudah sangat basah.

Lu Han melepas ciumannya dan matanya menatap kedua mata Taeyeon dengan teduh. “Aku akan pelan-pelan, Tae. Kalau kau ingin menjerit, menjerit saja,”

Belum sempat Taeyeon mencerna ucapan Lu Han, jari telunjuk Lu Han sudah melesat masuk ke dalam rongga Ms. V milik Taeyeon dan menjelajahi isinya.

“Arrrgghh… Ngghhh!!!!” jerit Taeyeon, yang langsung diredam oleh Lu Han dengan mencium kembali bibir gadis itu. Taeyeon melampiaskan kesakitannya dengan menggigit kasar bibir Lu Han, menyebabkan Lu Han mengerang kesakitan sekaligus senang.

Jari kedua dan ketiga juga dibawa ke dalam oleh Lu Han. Tubuh Taeyeon semakin bergetar hebat. Cairan kental keluar cukup banyak dari Ms. V milik Taeyeon dan membanjiri ketiga jari Lu Han. Lima menit kemudian, setelah Lu Han selesai bermain-main di dalam organ intim Taeyeon dengan jemarinya, ia mengeluarkan ketiganya dan langsung merasakan cairan liquid dari dalam diri Taeyeon.

“Manis, Taeng,” puji Lu Han dengan suaranya yang sexy.

Taeyeon menatap Lu Han dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ia merasa kesakitan. Dan Taeyeon terus-menerus berusaha mengatur nafasnya yang memburu kencang saat Lu Han menggoda Ms. V-nya dengan ketiga jarinya itu.

“Geumanhae, Lu. Kita lanjutkan saja nanti,” bisik Taeyeon dengan nafasnya yang tersengal-sengal.

Lu Han diam. Ia tidak mau menghentikan ini semua. Selangkah lagi. Tinggal sedikit lagi dirinya akan benar-benar bisa mendapatkan seorang Kim Taeyeon yang dicintainya. “Sirheo,”

“Mwo?” tanya Taeyeon. Ia tak sanggup mengeraskan suaranya karena sedetik kemudian Lu Han kembali menggoda dirinya dengan mengarahkan Mr. P-nya ke daerah Ms. V Taeyeon. Lu Han memasukkan Mr. P-nya ke organ intim Taeyeon namun tidak terlalu dalam. Setelah itu, Lu Han mengeluarkannya kembali dan mengulanginya sampai Taeyeon merasa aneh. Ya, ia ingin Lu Han benar-benar memasukkan miliknya itu dalam-dalam ke Ms. V Taeyeon. Gelora panas menyerbu diri Taeyeon. Ia mendesah terus tanpa henti, seperti merasa tersiksa karena Lu Han hanya menggodanya. Melihat itu, Lu Han tersenyum menang.

“Noona ingin berhenti?” goda Lu Han.

“And… wae,” jawab Taeyeon dengan nafas tersengal-sengal. “Lu, jebal,”

“Aku mendengar permintaanmu, Taeng,” ujar Lu Han. “Mian, tahanlah untuk beberapa saat. Ini akan sedikit sakit,”

Lu Han menekan kuat bibir Taeyeon dengan bibirnya dan Mr. P-nya langsung masuk ke dalam organ intim Taeyeon dengan cepat dan sekali hentakan. Taeyeon menjerit dalam ciumannya dengan Lu Han. Lu Han mengelus rambut Taeyeon dengan sayang sambil tetap mencium gadis itu. Air mata Taeyeon keluar membasahi ciuman mereka, berbaur dengan darah Lu Han yang keluar dari bibirnya. Kedua tangan Taeyeon terkepal lalu ia meremas seprai tempat tidur Lu Han, melampiaskan kesakitannya. Seperti ada peregangan di dalam dirinya, sangat menyakitkan.

Selama dua puluh detik Lu Han membiarkan Mr. P miliknya diam di dalam Ms. V Taeyeon agar Taeyeon terbiasa dengan sakitnya. Lalu, Lu Han mulai menggerakkannya secara perlahan, perlahan, perlahan. Dan lama-kelamaan, gerakan laki-laki itu mendorong miliknya semakin cepat ke dalam diri Taeyeon hingga dua puluh menit lamanya, sampai ia menyenggol G-Spot gadis itu. Lu Han sudah memenuhi dirinya. Ia merasakan sengatan tajam di antara kedua pahanya dan gerakan Lu Han yang cepat dan mendesak membuat Taeyeon sedikit takut kalau milik Lu Han akan merobek dirinya lebih dalam lagi.

Lu Han mengerang pelan saat ia menggeliat kencang di dalam diri Taeyeon. Taeyeon tak henti-hentinya menjerit kesakitan dan mendesah hebat. Lu Han bergerak semakin cepat, semakin terdesak, kontrolnya lenyap seketika. Ia tidak bisa menahannya lagi. Taeyeon merasa dalam beberapa menit saja ia sudah mengeluarkan orgasmenya yang entah keberapa kalinya. Erangan Lu Han menjadi tak terkendali saat ia terus bergerak di dalam diri Taeyeon dengan sangat cepat dan kasar, hingga ia akhirnya ia mendapatkan klimaksnya.

Lu Han dan Taeyeon mengerang dan mendesah kuat bersamaan. Darah mengalir dari daerah kewanitaannya dan merembes membasahi seprai tempat tidur Lu Han. Nafas Taeyeon tersengal-sengal dengan hebatnya, begitu juga dengan Lu Han. Laki-laki itu menghentikan gerakannya dan ia menenggalamkan wajahnya di leher kanan Taeyeon sambil sesekali menciuminya. Lu Han belum menarik keluar Mr. P-nya yang sudah berdenyut kuat di dalam Ms. V Taeyeon.

Keduanya diam untuk mengatur nafas mereka kembali normal. Taeyeon menutup kedua matanya, keringat mengucur dari ubun-ubun kepalanya, membasahi dahinya. Lu Han mengangkat wajahnya dan ia mengecup lembut dahi, kedua pipi, hidung, dagu, dan bibir Taeyeon. Diusapnya keringat dan air mata Taeyeon.

“Gomawo,” ungkap Lu Han. Matanya berbinar-binar melihat Taeyeon. “Aku memilikimu sepenuhnya. Kau tidak bisa berpaling lagi ke yang lain, Taeng. Kau hanya milikku. Gomawo, sudah mempercayaiku. Aku akan menjaga kepercayaanmu ini. Jinjjayo. Kau yang pertama bagiku, dan kuharap kau jugalah yang terakhir. Aku begitu mencintaimu,”

“Appoyo,” rintih Taeyeon. Ia menggigit bibir bawahnya, membuat dirinya tampak menggoda di kedua mata Lu Han.

Lu Han mengeluarkan smirk-nya dan ia kembali menggerakkan Mr. P-nya kuat-kuat di dalam Ms. V Taeyeon. Taeyeon kembali mendesah hebat dan ia memukul dada Lu Han, menyuruhnya untuk berhenti.

“Pabo, ini masih sakit. Lain kali jangan terburu-buru dan lakukanlah pelan-pelan!” protes Taeyeon. Suaranya masih tersengal-sengal.

“Mian,” ujar Lu Han. Ia menampilkan senyum manisnya dan sama sekali tidak ada rasa bersalah. Peluh Lu Han memang cukup banyak di wajahnya, tapi itu tidak membuatnya jera mengerjai Taeyeon. Ia kembali mengecup seluruh permukaan dada Taeyeon, meremasnya hingga kissmark di dada Taeyeon semakin merah dan banyak. Tak lupa, ia kembali menggerakkan pinggulnya, membuat Ms. V Taeyeon berkedut lagi karena dorongan kuat Mr. P milik Lu Han.

Taeyeon mendesah, lagi. Lalu, ia menggigit lengan Lu Han kuat-kuat, sampai memerah.

“Wae, Tae?” tanya Lu Han kaget. Ia meringis kesakitan.

“Keluarkan milikmu itu dari dalam diriku, Lu. Aku lelah,” pinta Taeyeon.

Lu Han menyerah dan ia menganggukkan kepalanya. “Sayang sekali, padahal aku masih ingin terus berlanjut. Kau tidak sedang dalam masa subur soalnya,”

“Bukan itu masalahnya. Aku tidak akan bisa pulang kalau begini ceritanya,” protes Taeyeon.

“Menginap semalaman saja di sini,” bisik Lu Han enteng. Ia menciumi wajah Taeyeon yang sudah sangat merah karena sedari tadi Lu Han terus menciumi wajahnya.

“Lalu, bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Taeyeon pelan. Sedikit mengerang karena tangan Lu Han masih saja membelai tubuhnya.

Mendadak, tubuh Lu Han membeku. Ia membelalakkan kedua matanya menatap Taeyeon, membuat Taeyeon penasaran setengah mati.

“Taeng, aku lupa kedua orang tuaku ada di rumah. Dan mereka pergi beberapa jam yang lalu. Kurasa mereka akan segera pulang,” ungkap Lu Han.

“Mwo?” sentak Taeyeon.

Tidak berapa lama kemudian, mereka berdua mendengar suara pintu rumah Lu Han yang terbuka dan langkah-langkah kaki orang yang ada di bawah. Orang tua Lu Han baru saja kembali. Tubuh Lu Han dan Taeyeon menegang. Mereka tidak bisa bergerak seincipun karena takut ketahuan. Taeyeon memberikan tatapan khawatir pada Lu Han. Dan Lu Han berusaha tampil tenang. Ia berusaha menenangkan Taeyeon.

“Lu Han?” panggil ibu Lu Han dari lantai satu. Jantung Taeyeon mencelos. “Apa Yeonnie ada di sini? Ibu melihat mobilnya di depan, deer,”

Dan Taeyeon dapat mendengar ayah Lu Han menimpali, “Mungkin mereka sedang belajar di dalam kamar, honey,”

Dan beberapa detik kemudian, baik Lu Han maupun Taeyeon dapat mendengar suara derap langkah kaki seseorang yang mendekati kamar Lu Han. Ibu Lu Han. Taeyeon menahan nafasnya dengan berat. Dan sejurus kemudian, ia menarik selimut kamar Lu Han dan menutupi seluruh tubuhnya. Lu Han tertawa geli melihat sikap Taeyeon.

“Kenapa kau tertawa?!” seru Taeyeon di dalam selimut.

“Gwaenchanna, Taengie-ah~. Mereka merestui kita. Jangan khawatir. Mereka akan segera menikahi kita,” jawab Lu Han. Ia ikut masuk ke dalam selimut bersama dengan Taeyeon, memeluknya dengan sangat erat, dan tak peduli kalau ibunya sesaat lagi akan masuk ke dalam kamarnya dan melihat apa yang telah terjadi.

-The End-

 

 

 

 

Oke, jangan tanya kenapa FF ini bisa begitu absurd dan… authornya juga ngga bisa berkata apa-apa lagiiiii :”””””””””””

Maaf kalau mengecewakan, because it’s my first rated M fanfiction kekekekeke^^ TT.TT

Bye~siyusun chu♥

Advertisements

120 comments on “Manly Man (2 of 2)

  1. yeeeeee bagus bgt .. baca’a ampek greget 😀 d tunggu ne ff yg lain’a 😉 tapi aku mau sequel’a thor 😀 masih penasaran sma kelanjutan’a :p

  2. Daebak !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Akhirnya LuTae bersatu !!! Hahahha …. Junsu di sini nyebelin bngt -_- .. Wkwkkwk .. Btw , ditunggu AS nya ! 😀

  3. Daebak bnget thor!! ^^
    Aku suka!! ^^

    Luhannya errr!?? Taeyeon nyadar juga wlau msih ad prasaan… :’g
    Pngen bnget liat reaksi ortunya pas liat Taeyeon sma Luhan!? :’v

    Dtnggu karya ff lainnya thor!! Klau ad sequelnya!? Dtnggu!! Fighting!! ^^

  4. nanggung banget thor .kenapa tiba2 end sih pngn liat reaksi emanya luhan -,-
    bkin sequel gitu thor sampe mreka punya anak gitu.

  5. Hot Hot Hot..
    Ff nya bagus banget, NC nya full lagi 😄😄
    Bikin sequel iya saeng,
    Pengen tahu reaksi orang tua luhan..
    Keep writing & fighting. .😘💜

  6. Thooor~sequel. Butuh sequel.
    Nggantung banget bacanya. Kenapa tidak sekalian sampai selesai nikah baru end ?
    Hot banget tuh pas NC.
    Ff nya keren thor tp nggantung. T.T
    Sequelnya di tunggu ya thor.
    Semangat!

  7. Thooor~sequel. Butuh sequel.
    Nggantung banget bacanya. Kenapa tidak sekalian sampai selesai nikah baru end ?
    Hot banget tuh pas NC.
    Ff nya keren thor tp nggantung. T.T
    Sequelnya di tunggu ya thor.
    Semangat!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s