Hidden Feelings [Part 4 ― Hidden Things]

hiddenfeelings copy

HIDDEN FEELINGS 4TH CHAPTER
[ H I D D E N  T H I N G S ]

Author : Funluobell

Main Cast : Kim Taeyeon (GG) and Byun Baekhyun (EXO)

Other Cast : Troublemaker’s member, Jessica Jung, Kim Taehyung (BTS), Kim Junmyeon (EXO), Chae Yumi (OC), Byun Joohyun (OC), Kim & Byun’s family.

Genre : Romance, School-life, Family

Rating : Teen

Length : Multichapter (maybe?)

Disclaimer : Mauriel ga punya hak apa-apa selain cerita aneh ini, hehe. Kritik saran silakan ditulis di kolom komentar, monggo. Aku akan senang menerimanya!

Previous Chapter : Prolog | #1 – Comeback | #2 – Home, New School and Troublemaker | #3 – Missing | #4 ― Hidden Things

/

“I hate how much i love you boy, but i can’t just let you go. And i hate that i love you so.”

/

/

/

Elysium Boulevard, Incheon, South Korea. 00.01 KST

“Taengoo~”

“Oppa! Oppa!”

“Kau merindukanku, Taeng?”

“Tentu saja, oppa. Kenapa oppa baru datang?”

“Aku sedang memperhatikanmu.”

“Mwo?”

“Aku kecewa padamu, Taeng. Kenapa kau melakukan itu?”

“Oppa berbicara apa, sih? Aku kenapa?

“Tentang Taehyung, kenapa kau begitu membencinya, eo?”

Taeyeon tersentak, “Aku…aku tak membencinya.”

“Kau berbohong padaku, Taeng.”

“Baik, aku memang membencinya. Sejak ia lahir malah! Ia pengacau di keluarga ini, ia menyebalkan, ia…ia…karenanya kita―”

“Dia tidak salah, Taengoo. Taehyung sama sekali tidak bersalah. Bagaimana mungkin kau membenci pada saudara kandungmu sendiri?”

“Karena dia memang menyebalkan.”

“Aku berharap kau menghilangkan rasa bencimu terhadap Taehyung, Taeng.”

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Oppa tidak akan menemuimu lagi kalau kau masih membencinya.

“Mwo?! Jangan bercanda, oppa!”

Apakah oppa kelihatan sedang bercanda?

“Oppa, jebal…”

“Aku harus pergi, Taeng. Ingat-ingat pesanku ya?”

“Oppa!! Jangan pergi!!”

“Bye, Taeng. Sekarang bangunlah dan lakukan. Bukankah Taehyung adalah adik yang lucu?”

“Aniya! Oppa…”

Oppa!!” pekik Taeyeon bersamaan dengan terbangunnya ia dari mimpinya. Ia menatap ke sekelilingnya dan menemukan dirinya masih berada di ranjangnya.

Tiba-tiba saja air matanya turun dengan deras, “Oppa…bogoshippoyo…” katanya sambil sesegukan. “Oppa eoddiseoyo?” tanyanya dengan sedih.

Tok. Tok. Tok.

Noona, ada apa?”

/

00.15 KST

Oppa!!”

Taehyung tersentak dari tidurnya. Sepertinya ia mendengar seseorang berteriak, tapi siapa? Di tengah malam seperti ni, tidak mungkin ada hantu kan?

Oppa…bogoshippoyeo…

Suara itu terdengar lagi.

Noona?” gumamnya. Ia segera bangkit dan berjalan keluar kamarnya.

Rumah bak mansion milik kedua orang tuanya itu masih sepi. Hanya lampu besar di tengah-tengah mansionnya yang menyala. Para pelayan mungkin saja sudah tertidur lelap di kamar masing-masing.

Laki-laki berstatus Tuan Muda itu berjalan ke arah kamar Taeyeon noonanya. Ketika ia berada tepat di hadapan pintu kamar tersebut, ia bisa mendengar suara tangisan dengan jelas dari dalam.

Taeyeon noona menangis?

Tangannya tergerak untuk mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

Noona, ada apa?” tanyanya khawatir.

Tapi tidak ada jawaban, sedangkan suara tangisan itu terus berlanjut.

Noona, kau menangis?”

Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Taeyeon. Akhirnya Taehyung ―dengan tanpa izin― meraih gagang pintu dan membukanya. Ia mengintip lewat celah-celah pintu, dan mendapati noonanya sedang duduk sambil menangis dengan kepala yang tertumpu di tempurung lutut.

Noona, kau kenapa?” ia menutup pintu dan segera menghampiri Taeyeon. Berusaha menebak-nebak kenapa noonanya yang galak itu bisa menangis.

Ini memang kali pertamanya ia melihat Taeyeon menangis.

Oppa…mianhae…” gumam gadis itu.

Taehyung melongo tidak mengerti, “Kau bicara apa, noona? Siapa oppa?”

“Kenapa kau ada di kamarku, bodoh?” Taeyeon menatap wajah Taehyung dengan kesal. Laki-laki itu pengganggu!

“Aku mendengar noona menangis dan aku khawatir. Hanya itu saja.” Jawab Taehyung simpel. Noonanya itu, padahal wajahnya sudah sembab dan penuh dengan air mata, tapi tetap saja sifat galaknya tidak hilang-hilang.

“Ahh..eottokhae?? Aku sedih sekali.” katanya sambil menangis lagi.

Oppa…aku rindu oppa. Sudah lama sekali rasanya.”

Melihat noonanya yang menangis dengan tersedu-sedu, membuat Taehyung merasa kasihan. Ini kali pertamanya melihat Taeyeon sesedih ini. Entah apa alasannya ia juga tidak mengerti.

Ia meraih punggung atas Taeyeon dan segera mengusapnya, berusaha menenangkan noonanya dengan usapan seperti itu.

“Aku sedih sekali, Taehyung. Aku merindukan oppa, tapi tidak bisa menemuinya. Seperti ingin mati saja rasanya.”

“Aish, noona. Kau melantur? Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku akan berada di sini, menemanimu. Uljimayo, noona.”

Taehyung terus mengusap bahu noonanya. Ia tidak mengerti apa yang Taeyeon bicarakan. Oppa? Siapa Oppa yang gadis itu maksud? Setahu Taehyung, sejak lahir sampai sekarang ia hanya memiliki Taeyeon noonanya, ia tidak mempunyai hyung sama sekali.

Noona, tidurlah.” Katanya, ia membenarkan letak posisi bantal Taeyeon agar gadis itu bisa tidur dengan nyenyak. Ia membaringkannya, menyelimutinya dan menyeka jejak-jejak air mata yang terdapat di kedua pipi tirus Taeyeon.

“Aku seperti seorang oppa yang sedang merawat adikku.” Gumamnya. Ia lalu berniat untuk segera pergi dan kembali ke kamarnya, karena noonanya sudah tertidur dengan lelap.

Belum saja ia menggapai gagang pintu, suara Taeyeon menginterupsinya.

“Jangan pergi.”

Taehyung tersentak. Tunggu, tadi noonanya berbicara apa?

“Tetap di sini, Taehyung. Jangan pergi, jebal.” Pinta gadis itu, tanpa membuka kedua kelopak matanya.

Akhirnya, Taehyung membuang segala niatnya untuk kembali ke kamarnya dan tidur, ia memilih untuk tetap tinggal di kamar Taeyeon dan tidur di sana. Satu ranjang dengan gadis itu.

Ia menatap Taeyeon dengan saksama. Wajah gadis itu tidak pernah berubah sejak dulu, sejak ia pergi meninggalkannya ke Jerman sampai sekarang ia kembali ke kota kelahirannya. Tetap saja awet muda, terlihat seperti bayi.

Taehyung juga rindu dengan gadis itu. Sudah lama sekali mereka bermain bersama-sama. Taeyeon kecil sangat berbeda dengan yang sekarang. Gadis itu begitu dingin, bahkan kepada adiknya sendiri. Entah karena alasan apa, Taehyung juga belum mengetahuinya.

Yang ia harus lakukan sekarang ialah memperbaiki keadaan. Membuat noonanya bersikap lebih baik dan terbuka dengannya. Berharap suatu nanti mereka berdua bisa duduk bersama di bawah bintang-bintang dan bercerita sepanjang waktu.

Jaljayo, noona~”

/

/

/

6.02 KST

Pagi ini Taeyeon terbangun dari tidurnya dan mendapati tubuh adiknya berada di sampingnya, dengan mata yang terpejam dan bibir sedikit terbuka. Ia terkejut bukan main, matanya mengerjap beberapa kali dan ia berusaha memastikan hal itu hanya halusinasinya saja. Tapi nihil, Taehyung memang benar-benar tertidur di ranjangnya. Sontak saja ia langsung bangkit berdiri dan menatap laki-laki itu dengan tajam.

Satu yang gadis itu pikirkan, bagaimana bisa Taehyung menyusup ke dalam kamarnya dan bagaimana mungkin laki-laki itu bisa tidur satu ranjang dengannya? Hell no, ini adalah hal tergila yang pernah laki-laki itu lakukan!

Taeyeon segera mengambil bantal tidurnya dan dengan sekuat tenaga, ia memukuli tubuh Taehyung dengan beringas. Berharap dengan pukulannya tersebut, Taehyung bisa segera bangun dan pergi dari kamarnya.

Ya, ireona! Kenapa kau tidur di sini, eo? Kau menyusup?!” teriaknya. Dan benar saja, Taehyung segera tersadar dari tidurnya.

“Aih, noona, kenapa kau memukuliku?!” pekiknya sambil menghalau pukulan Taeyeon di wajahnya.

“Kenapa kau bisa di sini, hah? Dasar gila! Pedofil! Kau ini laki-laki, bodoh!”

“Tentu saja aku laki-laki dan aku bukan pedofil! Lagipula, kita ini bersaudara, noona! tidak ada yang salah kalau kita tidur bersama!” bela Taehyung.

“Kau gila! Cepat keluar dari kamarku!” pekik Taeyeon. Mendorong tubuh adiknya itu untuk turun dari ranjangnya dan mengeluarkan Taehyung dari kamarnya.

“Oke, oke.” Potong Taehyung, ia menahan lengan Taeyeon agar tidak lagi mendorongnya. “Aku akan keluar sendiri.” Katanya.

“Bagus.”

Taehyung memegang gagang pintu dan menariknya, “Lagipula, bukankah tadi malam kau sendiri yang meminta aku untuk menemanimu di sini?” lalu ia segera keluar dan menutup pintu.

Taeyeon tertegun, “Apa katanya?”

Sejak kapan ia meminta bocah itu untuk menemaninya? Tidak mungkin! Bukankah ia membenci Taehyung? Ya, ia membenci Taehyung dan selamanya tidak akan berubah.

Gadis muda itu segera mengambil handuk, bergegas ke kamar mandi dan segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

/

/

/

6.29 KST

Jessica sedang mengoleskan selai cokelat di selembar roti tawarnya ketika Taehyung datang dari lantai atas melewati tangga. Laki-laki itu sudah rapi dengan kemeja putihnya, celana hitam panjangnya serta blazer hitam yang ia sampirkan di bahu.

Untuk beberapa detik, Jessica sempat merasa jatuh hati kepada adik dari sahabatnya itu. Melihat bagaimana tampannya ia dengan balutan seragam sekolah IIHS seperti itu, tentu saja tidak ada gadis yang bisa menolak pesonanya. Andai saja ia tidak lebih muda, sudah dipastikan Jessica akan segera menjadikannya sebagai kekasih barunya. Andai saja.

Noona, kau baik-baik saja?”

Jessica tersentak dari lamunannya. Ia baru menyadari kalau sejak tadi ia sibuk memperhatikan Taehyung, bahkan ketika laki-laki itu sudah berdiri tepat di hadapannya pun ia belum sadar.

“A-ah, ne, nan gwaenchana.” Balasnya, ia segera merapikan cara duduknya dan kembali mengolesi roti tawarnya dengan selai. Begitupula dengan Taehyung, ia dengan santainya duduk di hadapan Jessica dan meminum segelas susu putih dengan cepat.

Jessica lagi-lagi tidak bisa berhenti menatap bocah itu. Cara ia minum, mengambi roti, dan tunggu dulu…..sejak kapan Taehyung bertindik?

bts_1391527892_V2

Kyaaa~ Taeyeon-a, adikmu mempesona sekali ><.” batin Jessica. Ia tidak sadar sama sekali kalau kedua pipinya sudah memerah karena merona.

Bagaimana mungkin keluarga Kim memiliki anggota yang sangat sangat sangat tampan seperti Taehyung? Ini gila, Jessica sadarlah!

Ia terus memperhatikan Taehyung dengan saksama. “Kenapa kau terlihat aneh, Taehyung-a? Kau ada masalah?” tanya Jessica. Biasanya Taehyung akan terlihat ceria, tapi pagi ini ia terus diam tanpa mau bersuara.

“Taeyeon noona, ia memukulku tadi pagi.”

Mwo? Bagaimana bisa?”

“Sejak tadi malam aku tidur di kamar noona. Lalu ketika ia terbangun―”

“Apa?! Kalian tidur bersama?” pekik Jessica.

“Memangnya salah kalau aku dan noonaku tidur satu kamar? Dulu kami juga pernah seperti itu…” gumam Taehyung.

Tap. Tap. Tap

Kini Jessica dan Taehyung sama-sama terkejut dengan suara derap langkah kaki-kaki mungil milik Taeyeon yang sedang turun dari arah tangga. Tidak seperti Taehyung yang berjalan santai, gadis itu berjalan dengan terburu-buru, seakan tidak takut kalau-kalau nanti ia bisa saja terjatuh.

Taeyeon menduduki tempat yang berada di samping Taehyung, mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai stroberi, memakannya dengan beberapa gigitan besar dan tidak peduli dengan tatapan Jessica serta Taehyung yang terus menatapnya.

Ia menghabisi segelas susu rasa cokelatnya, lalu setelah itu ia segera bangkit berdiri dan memanggil tuan Jo, salah satu pelayan di rumah keluarganya.

“Tuan Jo!”

Dan tak lama, seorang pria berbalut seragam pelayan yang rapi datang ke arah sang Nona Muda.

“Ada apa, Nona Muda?” tanya tuan Jo, setelah membungkuk 45 derajat di hadapan Taeyeon.

“Hari ini aku tidak mau diantar oleh supir. Aku akan mengemudi sendiri, tolong berikan kunci mobilku.” Katanya. Membuat tuan Jo, Taehyung serta Jessica menatapnya kaget.

“Tapi nona, nona belum diperbolehkan Tuan untuk mengemudi di sini. Nona belum memiliki surat izin.”

“Tenang saja, tuan Jo. Aku tidak akan ugal-ugalan ataupun menabrak pengemudi lain. Aku sudah sering mengendarai mobil sendiri ketika di Jerman.”

“Tapi nona…”

“Kau jangan nekat, Taeng.” Potong Jessica cepat. Sebenarnya, itu benar kalau Taeyeon sudah membawa mobilnya sendiri di jalanan Ingolstadt, tapi itupun harus berhati-hati agar tidak ditangkap polisi setempat.

“Ayolah, kau hanya perlu memberikanku kuncinya saja, tuan Jo.”

Srek.

“Kau pakai mobilku saja, noona.” ucap Taehyung dengan santainya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan segera mengambil blazernya.

Mwo? Mobilmu? Kau sudah mempunyai mobil sendiri?!” pekik Taeyeon, tidak rela sebenarnya.

“Tentu saja. Kajja.” Balasnya, meninggalkan tuan Jo dan Jessica di ruang makan. Membawa dirinya dan Taeyeon ke parkiran mobil yang berada di  belakang rumah keluarganya.

“Yang mana mobilmu?” tanya Taeyeon ketika ia menemukan ada beberapa mobil mewah terparkir. Maserati, Audi, BMW, dan beberapa jenis lainnya terdapat di sana.

“Well, aku baru saja dibeli Appa sebuah Porsche model sembilan satu delapan.” Kata laki-laki itu sambil menunjuk sebuah mobil berwarna silver di barisan paling kanan.

porsche-918-spyder_100439461_l

Taeyeon membulatkan kedua matanya, “Sial, bukankah ini keluaran baru? Dan setahuku harga mobil ini lebih dari delapan ratus ribu dolar?” pekik Taeyeon, kagum dengan apa yang sedang ia lihat. Sejak kembali dari Jerman, ia memang belum pernah melihat koleksi mobil-mobil keluarganya.

“Umm,” gumam Taehyung membenarkan. “Lebih tepatnya delapan ratus empat puluh lima ribu dolar, noona.” koreksinya.

“Sial, bagaimana bisa kau mendapatkan mobil ini? Kau menyuap Appa?” tuding Taeyeon.

“Aish, tuduhanmu itu noona… well, aku dapat mobil ini karena baru saja memenangkan lomba matematika tingkat nasional.” Jelas Taehyung dengan bangga.

Taeyeon menatap adiknya tersebut dengan tajam, sedikit tidak percaya dengan perkataannya. Memangnya Taehyung se-jenius itu sampai bisa memenangkan lomba nasional plus dihadiahi mobil baru?

“Ah, terserah.” Ujarnya tidak mau memperpanjang. “Sekarang, di mana kunci mobilnya?” tanyanya sambil menjulurkan lengan kanannya.

“Aish, ini.” Taehyung merogoh saku celananya dan memberikan Taeyeon kunci mobil tersebut.

Taeyeon membuka pintu mobil berwarna silver tersebut, menutupnya kembali dan segera menyalakan mesinnya. Sembari menunggu Taehyung masuk ke dalam mobil, ia menatap desain interior mobil Porsche 918 itu dengan saksama.

Sedikit iri, bagaimana mungkin Taehyung mendapatkan yang lebih bagus dari miliknya? Ia hanya memiliki sebuah mobil BMW keluaran lama di Jerman. Itupun kini ia tinggal begitu saja di parkiran aparmentnya.

“Sepertinya kau terlihat begitu menyukai mobilku, noona.”

“Tidak.” Jawab Taeyeon segera. Melihat Taehyung sudah rapi duduk di tempatnya, ia segera menjalankan mobil tersebut keluar halaman rumahnya.

Berhubung jalanan sedang ramai, ia tidak membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lagipula, ia ingin menikmati mengendarai mobil keluaran terbaru seperti ini di jalanan Incheon.

“Kau bisa mengemudi?” tanya Taeyeon memulai pembicaraan.

“Tentu saja. Memangnya hanya noona yang bisa?”

Taeyeon memutar kedua bola matanya dengan jengah, “Lalu, kenapa kau tidak membawanya ketika berangkat sekolah?”

“Untuk apa? Ada supir yang bisa mengantarku dengan senang hati. Aku tak perlu repot-repot, bukan?”

“Kalau begitu, mobil ini lebih baik untukku saja!”

Andwae, noona pakai mobil yang lain saja. Khusus mobil ini, hanya untukku.”

“Dasar pelit.” Sindir Taeyeon.

Mereka berdua saling menikmati udara yang melewati celah-celah rambut mereka, terlebih kini Taeyeon sudah menambah kecepatannya. Tidak peduli kalau nanti rambut mereka akan berantakan, mereka tetap menikmatinya.

10 menit kemudian, mobil silver itu sudah sampai di gerbang IIHS. Membuat beberapa haksaeng harus terdiam di tempatnya masing-masing karena menatap sepasang kakak-beradik yang berada di dalamnya melewati mereka.

Ini adalah kali pertamanya mereka melihat dua orang yang berpengaruh di sekolah tersebut datang ke sekolah bersama. Atau berdua, dalam artian lain tanpa ditemani sang pemilik IIHS ataupun supir. Terlebih dengan atap mobil yang terbuka lebar, tentu setiap pasang mata bisa melihatnya sendiri.

Ketika mobil sudah terparkir, Taeyeon segera menekan tombol untuk menutup atapnya dan mereka segera keluar dari mobil mewah tersebut. Seperti di drama-drama, Taehyung menyampirkan blazer serta tasnya di masing-masing bahu, sedangkan Taeyeon ―yang lagi-lagi tidak membawa blazer dan memakai rok 15 sentimeter di atas lutut― keluar sambil menyampirkan tas sampingnya di bahu kiri.

Brak! Bruk!

Sejak kapan mereka bisa dekat?

Siapa gadis yang di samping Taehyung?

Bukankah gadis itu adalah putri pemilik sekolah ini? Ia baru datang kemarin!

Woah, daebakiya~ mereka keren sekali!

Hwang Shin Ah, gadis yang Taeyeon temui di toilet, berdiri sedikit jauh dari tempat Kim bersaudara itu dan menatap Taeyeon dengan tajam.

Wae?” tanya salah satu gadis yang berdiri di sisi kanannya.

“Kau mengenal noonanya Taehyung?” giliran gadis yang di sisi kirinya bertanya.

Seriously, dia benar-benar saudara kandung Taehyung? Bagaimana mungkin aku tidak tahu kalau ia punya noona?” Shina menghembuskan napasnya kesal.

“Lebih tepatnya bukan kau yang tidak tahu, kita semua pun tidak tahu.”

“Kudengar keluarga Kim memang menutupi keberadaan Kim Taeyeon. Gadis itu menetap di Jerman selama ini, dan baru kemarin itu dia datang.”

“Dan ia langsung populer begitu saja.”

“Benar, bahkan Troublemaker langsung akrab dengannya.”

“Yang lebih menyebalkan adalah ketika ia menjadi bahan rebutan oleh Baekhyun, Chanyeol serta Chen!”

“Apa mereka menyukai Kim Taeyeon?”

“Bisa jad―”

Ya! Hajima! Mereka tidak mungkin menyukai gadis itu!” potong Shina. “Dan jangan membawa nama Baekhyun, ia milikku!” lanjutnya dengan amarah yang menggebu-gebu.

“Mianhae, habis ia mendekati―”

YA!”

/

/

/

Incheon International High School, Incheon, South Korea. 7.05 KST

25 menit sebelum bel masuk berbunyi, Taeyeon yang sedang berjalan menuju kelasnya berpas-pasan dengan Luhan seonsaengnim di dekat kantor guru. Guru muda itu menatap Taeyeon dengan saksama, mulai dari puncak kepala sampai ke ujung sepatunya.

Taeyeon yang terus diperhatikan seperti itu, merasa jengah. “Ya, seonsaeng, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menyukai tubuhku?” tanyanya sarkastik.

Aniya,” jawab Luhan seonsaengnim dengan cepat. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang turun tanpa melepaskan pandangannya terhadap gadis di hadapannya tersebut.

“Hanya saja, kau melanggar peraturan di sekolah ini, Nona Muda.” Lanjutnya.

“Apa? Blazerku? Kaus kakiku? Kemejaku? Rok pendekku?”

“Nilai seratus dari seratus. Lalu, kenapa kau tidak segera pergi ke toilet untuk membenarkan seragammu yang berantakan itu?”

“Tidak mau.” Jawab Taeyeon simpel, tidak peduli kalau namja yang berada di hadapannya ini adalah guru serta wali kelasnya.

“Ya, Kim Taeyeon-ssi. Ingatlah posisimu di sini, kau adalah murid IIHS. Patuhilah peraturan sekolah ini.”

“Aku ingat, Luhan seonsaengnim. Dan kuharap kau juga tidak lupa apa posisiku yang lain di sekolah ini.” Balas Taeyeon sambil meninggalkan guru itu ke kelasnya.

Ia tadi sudah berpisah dengan Taehyung ketika di lobi sekolah, ia beralasan tidak mau dijadikan sorotan dan bahan pembicaraan seluruh murid IIHS hanya karena ia dan Taehyung berjalan beriringan.

Ketika ia sampai di depan kelasnya, sontak saja kelas yang ribut berubah menjadi hening. Dan keheningan itu hanya bertahan sementara karena Byun Baekhyun segera mendekati Taeyeon yang tetap berdiri mematung di depan kelas.

Annyeong, chingu. Akhirnya kau datang juga!” pekik namja itu dengan ceria.

Taeyeon menatap Baekhyun heran, kenapa bocah itu bersikap seakan mereka begitu akrab?

Ia melewati Baekhyun tanpa meninggalkan pesan apapun, bahkan ucapan salam pun tidak. Membuat Baekhyun sedikit gemas dengan tingkah Taeyeon yang begitu dingin.

“Bagaimana tidurmu tadi malam? Kau sudah sarapan? Kau tadi terkena macet tidak?” tanya Baekhyun bertubi-tubi. Lengan namja itu dengan sengaja dikalungkan di sekitar bahu Taeyeon. Membuat jarak mereka berdua menjadi lebih dekat.

Ya, apa yang kau lakukan?” bisik Taeyeon panik. Apalagi beberapa dari siswa di kelasnya terus menatap mereka berdua seakan dirinya dengan laki-laki idiot ini memiliki hubungan spesial.

“Bukan apa-apa.” jawabnya sembari mendudukan Taeyeon di kursinya. Kini Baekhyun duduk dengan santai di kursi di depan Taeyeon sambil menatap gadis itu dengan lekat.

“Apa?” tanya Taeyeon curiga. Ini masih pagi, tapi kenapa sikap bocah idiot ini begitu aneh? Jangan-jangan ia ingin membuat jebakan baginya karena sudah mempermalukan Baekhyun di hadapan teman-temannya?

“Aku hanya ingin memandangmu, memangnya tidak boleh?”

“Tentu saja tidak! Wajahku ini terlalu mahal untuk kau pandangi.”

Baekhyun berdecak, “Aish kau ini… memangnya berapa harga wajahmu? Sini kubeli dengan uangku.”

“Eii…jangan mentang-mentang kau anak dari keluarga berada, tuan Byun. Dasar sombong.” Ucap Taeyeon sinis. Tapi kesinisannya itu malah membuat laki-laki di hadapannya itu malah tersenyum.

“Sekarang apalagi? Kenapa kau tersenyum?”

“Aku sedang jatuh cinta.”

Taeyeon memutarkan kedua bola matanya jengah. Sama sekali tidak merasa tersanjung dengan kata-kata Baekhyun, malah ia ingin sekali muntah di kemeja Baekhyun sekarang juga.

Tap. Tap. Tap

Annyeong yeoreobun!” tiba-tiba saja Chanyeol dan Chen datang sambil membawa beberapa snack dan minuman softdrink di masing-masing tangan mereka.

“Woo…woo…ada apa ini?” tanya Chanyeol ketika mendapati teman satu grupnya sedang berdua dengan Kim Taeyeon di sudut kelas.

“Apa Taeyeon baru saja menerima cintamu, Baek? Kenapa gadis ini terlihat akur denganmu?” giliran Chen yang bertanya.

Mwo? Jangan bi―”

Hyung!!”

Belum selesai Taeyeon berbicara, kini masalah baru datang. Tao, Kai serta Sehun, anggota Troublemaker lainnya yang berasal dari kelas lain datang dan meributkan suasana. Terlebih ketika mereka mendapati hyungdeulnya serta Taeyeon sedang berkumpul.

“Eh, annyeong haseyo, Taeyeon noona.” sapa Sehun (sok) ramah.

“Panggil aku ‘sunbae’, kau bukan adikku.”

’Sunbae’ terdengar begitu kaku di telingaku, noona.” balas Sehun

“Lalu, siapa yang boleh memanggilmu ‘noona’?” tanya Kai. Ia mengambil sekaleng cola yang berada di tangan Chanyeol lalu meneguknya.

“Tentu saja hanya adikku.”

“Kim Taehyung maksudmu?”

“Bocah itu benar-benar adik kandungmu?” Chanyeol bersuara.

“Wajah kalian tidak mirip, malah menurutku Taehyung seperti kembarannya Baekhyun hyung.” Ujar Tao, yang disetujui yang lain.

“Maka dari itu aku juga membencimu, Byun Baekhyun.”

“Atau jangan-jangan, Taehyung itu adik tirimu, eo?” tebak Chen tidak tahu diri.

“Sembarangan saja kau bicara!” pekik Chanyeol sambil memukul wajah Chen dengan sekaleng softdrink yang sudah kosong.

“Setidaknya nama kami hampir sama.” Kata Taeyeon.

“Ah benar juga…” Chen mengangguk-angguk.

Dasar otak udang.

“Jadi kami tidak boleh memanggilmu dengan sebutan ‘noona’?” tanya Kai, sekali lagi.

“Ya dan panggil aku ‘sunbae’.” Jawab Taeyeon berusaha sabar.

“Ok, call. Taeyeon sunbae~” balas Sehun bersikap (sok) imut. Dan Taeyeon hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah.

Chanyeol, Chen, Tao, Kai dan Sehun menyambar beberapa bangku kosong di sekitar mereka, menyeretnya hingga berada di dekat Taeyeon, lalu mendudukinya. Hampir pada waktu yang bersamaan. Tangan mereka tidak berhenti begitu saja, mengambil beberapa bungkus snack serta softdrink lalu membuangnya dengan sembarangan.

Idiot, mesum, homo, dan sekarang…..jorok. Mereka itu spesies jenis apa, sih? Batin Taeyeon.

“Di mana handphonemu?” tanya Baekhyun, memfokuskan dirinya kepada gadis di hadapannya.

Wae?”

“Berikan saja.” Pinta Baekhyun sambil menyodorkan telapak tangannya.

Salah satu alis mata Taeyeon menaik, “Tidak mau.” Tolaknya acuh.

“Ayolah, kau hanya perlu memberikannya padaku.”

“Itu melelahkan.” Elak Taeyeon.

Palli~” pintanya terus, tanpa patah semangat. Ia butuh handphone itu sekarang, dan itu sangat penting!

Akhirnya, dengan berat hati gadis itu merogoh tasnya, mengambil dan mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang itu serta menyerahkannya pada Baekhyun. Ia tidak berniat untuk mengambilnya dariku, kan?

Baekhyun tersenyum sangat-sangat lebar, yang langsung diberikan tatapan aneh dari teman-temannya. Idiot, batin Troublemaker. Tapi Baekhyun tidak peduli, ia segera mengambil handphone Taeyeon dan menyalakannya.

Deg.

Baekhyun menelan salivanya. Terlihat perasaan gugup di wajahnya.

“Kau kenapa, Baek?” tanya Chen bingung. Kenapa wajah temannya itu memerah? Terpesona?

“Kau sedang melihat apa, tuan Byun?” tanya Taeyeon curiga. Takut-takut kalau laki-laki itu membuka yang aneh-aneh.

Lockscreenmu.” Jawab Baekhyun.

Apa?

10629874_671597772935646_6714964396454263910_n

“Ah, sial! Aku lupa!” pekik Taeyeon yang seketika itu juga ingin merebut handphonenya dari tangan Baekhyun. Ia lupa mengganti locksreennya terlebih dulu! Ah…memalukan.

“Ada apa, hyung?” serbu Sehun berusaha mengintip handphone tersebut, yang disusul dengan member lain.

“Woah…Kim Taeyeon…kau seksi sekali di situ!” puji Chanyeol.

“Aih, sunbae, kukira kau tidak bisa memakai pakaian yang seksi.” Tao bersuara.

“Di lihat dari sikapmu itu.” Sambung Chen ikut-ikutan.

“Pusarmu kelihatan, sunbae.” Cibir Kai.

Taeyeon pun akhirnya hanya bisa terdiam malu. Malas menanggapi 6 laki-laki mesum itu. Ah sudahlah, anggap saja sebagai bonus. Sudah mendekatinya secara cuma-cuma, sekarang mereka malah mendapat foto Taeyeon secara gratis juga. Mereka menang banyak!

“Kau melakukan photoshoot? Untuk apa?” tanya Baekhyun sambil terus menatap layar handphone Taeyeon.

“Untuk majalah sekolahku. Aku ini model, tahu?”

“Tapi kenapa kau memakai pakaian minim seperti itu? Perut dan dada―”

PLUK

“Jangan bicara yang aneh-aneh!” pekik Taeyeon kesal, yang sebelumnya didahului dengan memukul bibir bebek milik Chen.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya…” gumam Chen.

“Sekolahku berbeda dengan sekolah ini. Laki-laki di sana tidak akan berpikiran mesum kalau seorang gadis memamerkan pusarnya. Tidak seperti kalian.”

“Kami??”

“Kalian kan mesum!”

Ke-6 laki-laki muda itu membelalakkan masing-masing bola mata mereka. Baru kali ini mereka di sebut mesum oleh seorang gadis.

“Kami tidak―”

KRING!

Murid-murid di sekitar mereka mulai ribut berlari ke tempat mereka masing-masing, karena pasti sebentar lagi Luhan seonsaengnim akan masuk kelas. Begitu juga dengan Troublemaker, ralat terkecuali Baekhyun, mereka juga langsung berlarian pergi. Terlebih si Tao, Kai dan Sehun yang bukan murid kelas itu.

“Kau kenapa masih di hadapanku?” tanya Taeyeon.

“Memangnya kenapa? Lagipula pemilik bangku ini tidak masuk.” Jawab Baekhyun enteng.

“Aish, sini kembalikan handphoneku!”

“Tunggu dulu…beritahu aku passwordnya.” Pinta Baekhyun.

Aih, bocah ini… batin Taeyeon sebal. Walaupun pada akhirnya ia tetap memberitahu passwordnya, mengingat sebentar lagi Luhan seonsaengnim masuk kelas. Ia hanya ingin menyelesaikan urusannya dengan Baekhyun. Toh habis ini ia juga bisa mengganti passwordnya.

“Nah,” kata Baekhyun sembari mengembalikan handphone berlogo apel tersebut. Ia juga beranjak menuju bangkunya dan duduk rapi di sana.

“Kau tidak menyatat nomor handphonemu di sini, kan? Aku tidak akan meneleponmu, asal kau tahu.”

“Ah…kau pintar sekali rupanya.” Puji Baekhyun.

“Memang.”

“Tapi kau tidak lebih pintar dariku.” Lanjutnya sambil terkekeh pelan.

“Apa?! Apa yang kau lakukan dengan handphoneku?” tanya Taeyeon terkejut, sedikit was-was dan curiga dengan laki-laki nakal tersebut.

“Kau menelepon nomorku,” jawab Baekhyun sambil memamerkan handphonenya dengan bangga. “Nomormu sudah tersimpan di kontakku, Nona Kim. Aku pintar, kan?”

Kedua bola mata Taeyeon menyipit tajam, sedikit geram dengan tingkah Baekhyun yang sesukanya saja. Dasar!

“Terserah. Kau mau meneleponku seratus kalipun, tak akan kujawab. Arra?” katanya sambil menatap ke arah depan, di mana terdapat Luhan seonsaengnim yang sudah masuk kelas sambil membawa beberapa tumpuk buku.

“Kita lihat saja nanti.”

/

/

/

8.10 KST

Kelas Taeyeon sekarang sudah memasuki jam pelajaran olahraga, bersama Hwang seonsaengnim. Guru muda berwajah tampan dan bertubuh atletis yang membuat semua gadis di IIHS sangat menyukai pelajarannya, ralat, terkecuali Kim Taeyeon.

Sejak dulu Taeyeon memiliki prinsip, yaitu untuk tidak pernah menyukai gurunya sendiri. Tidak mungkin kan, ia menyukai seorang ahjussi dengan jarak umur yang bisa sampai 10 tahun ke atas? Menggelikan!

Ia baru saja keluar dari toilet, sehabis mengganti seragamnya dengan seragam olahraga, ketika Hwang seonsaengnim bilang kalau mereka akan latihan berenang.

Gawat!

Taeyeon kan tidak bisa berenang! Jangankan berenang, melihat kolam air dengan dasar yang tidak sesuai dengan tinggi badannya saja sudah membuatnya pucat pasi. Apalagi menceburkan tubuhnya di dalamnya!

Gawatnya lagi, kali ini setiap siswa harus menunjukan skill masing-masing dalam olahraga jenis satu ini. Dan akan dinilai langsung oleh Hwang seonsaengnim.

“Guru ini cari mati, ya?” batinnya sebal.

Ketika tiba gilirannya, ia akhirnya dengan jujur memberitahu Hwang seonsaengnim kalau ia tidak bisa melakukannya. Guru muda itu terlihat tidak senang, dan akhirnya memberikan si Nona Muda sebuah hukuman. Membersihkan sekitar kolam renang ketika jam pelajarannya sudah selesai.

“Aish, guru ini tidak tahu aku siapa, ya? Akan aku adukan pada appa.” omelnya dalam hati.

Ternyata posisi ayahnya di sekolah ini tidak terlalu berpengaruh bagi guru muda yang satu ini. Rasanya ia benar-benar ingin menjambak rambut Baekhyun saat ini juga!

Eh, kenapa tiba-tiba ia jadi memikirkan Baekhyun? Apa ia mulai terjebak dalam pesona Baekhyun? Aih, konyol sekali! Mana mungkin seorang Kim Taeyeon jatuh cinta pada seorang bocah idiot, mesum, nakal, jorok, dan aneh seperti Byun Baekhyun?

Dari tempatnya, Taeyeon bisa melihat Baekhyun sedang mengeringkan tubuhnya di pinggir kolam bersama Chanyeol dan Chen. Bocah itu sudah lebih dulu menceburkan dirinya ke dalam kolam dan mendapat nilai tertinggi di antara teman-temannya yang lain. Uh, ia juga baru tahu kalau diam-diam Baekhyun juga mempunyai tubuh bagus seperti Hwang seonsaengnim.

Aigho, aku memikirkan apa, sih? Aku tidak mungkin jatuh cinta, arra?”

Hampir 3 jam berlalu, teman-temannya sudah pergi berganti baju ataupun berkeliaran di sekolah, sedangkan dirinya masih berada di tempat itu sambil memegang sebuah gagang pel. Hukuman tetap hukuman, ia harus tetap melaksanakannya.

Tangannya mulai bergerak ke sana ke mari. Mengelap lantai di pinggiran kolam yang basah karena air dari kolam dengan malas. Sebenarnya ia sangat-sangat tidak niat membersihkannya, karena ia memang tidak terbiasa melakukannya.

Selama tinggal di rumah bibinya di Jerman, bibinya tidak pernah menyuruhnya untuk membersihkan rumah, karena ada para maid yang selalu melakukannya. Lalu ketika ia beranjak dewasa, ketika ia tinggal di apartment, ia juga hanya tinggal menyuruh petugas kebersihan maka ruangannya akan segera bersih.

Pekerjaan rumah benar-benar bukan stylenya!

Ia tidak sengaja melihat ke arah kolam dan menemukan sebuah benda di dalam air. Lebih tepatnya, di dasar kolam. Seperti kalung, entah milik siapa.

Taeyeon mendekati kolam, berjongkok di pinggiran kolam dan memperhatikan kalung tersebut. Rasa penasaran menghinggapi dirinya. Akhirnya, dengan sedikit gemetar ia mencoba mengambil kalung tersebut dengan gagang pel.

Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak berhasil. Ia mulai menyerah. Tapi dengan cerobohnya ia malah kehilangan keseimbangan tubuhnya. Lututnya terpeleset dan tubuhnya pun tercebur ke dalam kolam yang dalamnya melebihi tinggi badannya.

Taeyeon mulai panik. Ia tidak bisa berenang! Mencapai dasar kolam saja kakinya tidak sampai. Terlebih, tidak ada seseorang di sekitarnya. Semuanya sudah masuk kelas, karena masih ada 1 jam pelajaran lagi. Sial! Ia bisa mati tenggelam!

“Seseorang!” panggilnya.

Namun, tidak ada yang mendengarnya.

/

/

/

Baekhyun baru saja keluar dari toilet setelah berganti seragam ketika ia melewati tempat kolam renang. Ada beberapa gadis dari kelas lain yang mengerubungi kolam sambil berjerit. Ada apa sebenarnya?

Ia menerobos gadis-gadis itu dan mencoba melihat ke kolam.

Matanya terbelalak, ada yang tenggelam! Seorang gadis dan masih memakai seragam olahraga. Bukankah hanya kelasnya yang baru saja menggunakan tempat ini?

Ia dengan sigap memasuki kolam dan mencoba meraih gadis tersebut. Tidak peduli seragamnya akan basah ―dan tentunya tubuhnya akan basah lagi―, sebagai laki-laki, ia tidak mungkin membiarkan seorang gadis mati tenggelam di dalam kolam, bukan?

Baekhyun mengangkat tubuh itu dari kolam dan meletakannya di pinggir kolam. Hatinya mencelos ketika Taeyeon lah yang ia selamatkan. Kedua mata gadis itu terpejam erat, wajahnya memucat, dan napasnya pendek.

“Taeyeon, Taeyeon-a! Kau kenapa? Kenapa bisa seperti ini?” pekiknya sembari menggoncangkan tubuh gadis itu. Tapi tidak ada respon.

Ya, bangunlah! Jangan membuatku khawatir!”

Ia menepuk pipinya, menggoncangkan tubuhnya, menekan dadanya dan bermacam usaha lainnya tapi gadis itu tetap tidak terbangun. Ia semakin panik melihatnya!

Tunggu…apakah memberikannya napas buatan akan berhasil?

Ini bukan kali pertamanya ia mencium seorang gadis…tapi kali ini ia merasa sangat gugup.

Baiklah…baiklah…daripada gadis ini mati, lebih baik ia melakukannya! Ya, napas buatan!

Ia mencondongkan tubuhnya, mendekati tubuh Taeyeon. Mendekati wajahnya ke wajah Taeyeon, lebih tepatnya bibirnya. Gadis-gadis yang sedaritadi hanya menonton di sekitar mulai memekik tertahan, melihat adegan seperti drama-drama akan terjadi secara nyata di hadapan mereka.

Jari telunjuk dan ibu jarinya sudah menjepit hidung mancung Taeyeon dan bibirnya sudah akan mencapai milik Taeyeon, ketika sebuah suara menginterupsi.

Ya, chakkaman!”

“Kau mau apa, hah?!” bentak laki-laki lain sambil menjauhi tubuh Baekhyun dari Taeyeon.

Baekhyun menatap laki-laki itu dengan sedikit kesal, “Begini, gadis ini kutemukan tenggelam dan aku hanya ingin memberikan kakakmu sebuah pertolongan!” jelas Baekhyun kepada Taehyung, yang sudah memberikannya tatapan tajam.

“Haruskah dengan napas buatan? Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, hah?!”

“Hei, aku hanya ingin menolongnya, tahu!” geram Baekhyun.

Taehyung mengabaikan pembelaan Baekhyun. Ia berjongkok dan mencondongkan tubuhnya ke tubuh Taeyeon. “Ya, noona. ireona~ kau kenapa, noona?” panggil Taehyung sambil menepuk-nepuk wajah Taeyeon pelan, berharap dengan itu Taeyeon akan terbangun.

Baekhyun jadi jengkel melihatnya. Bocah itu bodoh atau apa, sih? Bagaimana dengan tepukan pelan seperti itu bisa membangunkan seorang gadis yang pingsan karena tenggelam?

“Minggir,” ujarnya sambil mendorong tubuh Taehyung. Ia mendekatkan wajahnya dan langsung memberikan gadis itu sebuah napas buatan. Menekan dadanya lalu memberikan napas buatan lagi. Terus berulang-ulang seperti itu.

“Kau jangan kesempatan!” pekik Taehyung. Matanya panas melihat Baekhyun memberikan napas buatan kepada Taeyeon noonanya seperti itu.

“Uhuk! Uhuk!”

Taehyung mengerjap. Noonanya akhirnya mengeluarkan air kolam yang sempat ia telan dan mulai terbatuk-batuk. Tapi gadis itu tetap tidak sadarkan diri juga.

Akhirnya, dengan susah payah ia mengangkat tubuh Taeyeon dan membawanya ke UKS sekolah. Walaupun seragamnya akan basah karena seragam Taeyeon juga basah, ia tidak peduli. Ini menyangkut nyawa noonanya!

Ketika di UKS, ia segera membaringkan Taeyeon di kasur dan mendapati gadis itu sudah sedikit sadar walaupun wajahnya masih pucat. Ia akhirnya memilih keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan seorang uisa dan seorang perawat lainnya menangani Taeyeon.

/

/

/

11.03 KST

Baekhyun mempercepat langkah kakinya ketika matanya sudah menemukan pintu UKS. Ia baru saja mengganti seragamnya yang sudah basah dengan yang baru. Sekarang ia ingin menengok keadaan Taeyeon, memastikan gadis itu sudah baik-baik saja.

Klek.

Tangannya terulur menyentuh gagang pintu, membukanya dan segera masuk ke dalam ruangan penuh obat tersebut. Matanya mendapati ada sepasang manusia di ujung ruangan.

“Oh, ternyata kau.” Ujarnya ketika mengetahui kalau si laki-laki adalah Kim Taehyung.

“Kenapa kau ke sini, sunbae?” tanya Taehyung sedikit tidak suka. Tidak suka kalau ada laki-laki yang berusaha mendekati noonanya.

“Memangnya kenapa?” Baekhyun bertanya balik. “Aku hanya ingin menjenguknya saja.” Lanjutnya santai. Ia menempati sebuah kursi di samping kasur.

“Bagaimana sekarang? Ia sempat sadar, tidak?”

“Tadi. Hanya sebentar.” Jawab Taehyung singkat. Lalu hening untuk beberapa detik.

“Kenapa kau tidak masuk ke kelasmu?” tanya Baekhyun.

“Bagaimana mungkin aku masuk ke kelasku ketika saudaraku sendiri sedang terbaring di ranjang UKS seperti ini, sunbae?”

“Ia baik-baik saja?”

“Kupikir begitu.” Balas Taehyung lagi-lagi singkat. Malas berbicara panjang dan lebar dengan sunbaenya yang satu itu.

Baekhyun menatap Taeyeon dengan saksama. Memperhatikan bagaimana gadis itu bernapas dan tidur dengan damai, berbeda sekali ketika ia sedang terbangun dengan sifat dinginnya kepadanya. Andai saja Taeyeon tidak sedingin itu padanya.

“Kau menyukai noonaku?” tanya Taehyung penasaran.

“Apa?”

“Apa kau menyukai noonaku? Taeyeon noona? Jujur saja.”

Baekhyun menghela napasnya, “Molla~” jawabnya bingung. Jujur saja, ia tidak tahu perasaannya kepada Taeyeon. Mereka baru saja berkenalan, bukan? Ia bahkan sudah memiliki yeojachingu. Tapi ketika ia berada di dekat Taeyeon, ia merasa senang dan ingin terus mengganggunya.

Sifat Taeyeon yang berbeda dengan gadis lain membuatnya penasaran. Dinding pertahanan gadis itu kuat sekali, sehingga ia ingin mencoba untuk menerobosnya. Entahlah, ia benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini.

“Kalau kau hanya ingin menjadikan noonaku sebagai bonekamu yang selanjutnya, lebih baik kau mundur.”

Wae?”

“Jangan pernah berpikiran untuk mempermainkan Taeyeon noona. Jujur saja aku tidak suka melihatmu dekat dengannya.”

Wae? Jangan bilang kau diam-diam menyukai noonamu sendiri?” Tebak Baekhyun.

“Mana mungkin!” seru Taehyung. “Itu karena dia adalah saudaraku, kau paham kan? Tidak ada seorang saudara yang diam saja ketika saudara lainnya berada dalam bahaya.”

“Jadi menurutmu, aku adalah bahaya bagi Taeyeon?”

“Tentu saja.”

“Seenaknya saja kau bicara!”

Taehyung hanya diam tidak membalas perkataan Baekhyun. Ia lebih memilih menatap Taeyeon yang tidak kunjung sadar. Padahal ia dan Baekhyun sudah berbicara dengan nada tinggi sejak tadi.

“Kau benar-benar serius dengan noonaku atau tidak?” tanyanya sekali lagi.

“Memangnya kenapa?”

“Kalau kau hanya main-main, lebih baik jauhi noona dan cari gadis lain, sunbae. Aku memperingatimu.”

“Lalu, kalau aku benar-benar serius dengannya bagaimana? Aku harus menjauhinya juga?” kini giliran Baekhyun yang bertanya. Tapi Taehyung hanya diam tidak menjawab. Cukup terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan sunbaenya. Ia tidak tahu harus menjawab apa kali ini.

Klek.

Laki-laki itu menutup kembali pintu UKS dengan pelan. Berharap agar tidak ada yang menyadari kehadirannya. Ia sejak tadi mendengar percakapan antara Baekhyun dan Taehyung tentang Taeyeon. Ia awalnya berniat untuk menengok kabar Taeyeon yang katanya tenggelam di kolam renang, tapi perbincangan mereka membuatnya memilih untuk diam dan menguping.

Hatinya mulai khawatir. Perasaannya mulai bimbang. Sahabatnya sendiri menyukai seorang gadis yang baru saja ingin ia kejar. Ia mulai bingung dengan pilihannya sendiri, haruskah ia bersaing dengan sahabatnya sendiri? Bagaimana jika hubungan mereka hancur begitu saja hanya karena seorang gadis?

Tapi…ia tidak bisa dengan begitu saja melepaskan gadis itu. Sejak awal ia bertemu dengan Taeyeon, ia sudah memiliki rasa simpati yang begitu besar padanya. Lagi-lagi karena sifat dingin gadis itu yang membuatnya penasaran.

Ia benar-benar frustasi. Siapa yang harus ia pilih? Seorang gadis atau sahabatnya sendiri?

/

/

/

12.35 KST

Bel tanda istirahat kedua sudah berbunyi, tepatnya baru saja. Membuat Baekhyun yang sejak tadi meletakkan kepalanya di atas meja karena bosan dengan pelajaran Kimia, tersentak kaget. Tapi ia juga merasa senang karena itu tandanya ia bisa menengok keadaan Taeyeon.

Ia bergegas keluar kelas, meninggalkan dua sahabatnya Chanyeol dan Chen berdua dan memilih untuk beranjak pergi ke UKS. Ingin cepat-cepat melihat wajah Taeyeon.

Ia ingin tahu keadaan gadis itu sekarang.

Kakinya semakin bergerak lebih cepat ketika gagang pintu UKS sudah hampir dicapainya. Ia masuk ke dalam ruangan itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Taeyeon bersama seorang pria yang merupakan salah satu dari sahabatnya.

Kai. Kenapa ia ada di sini?

“Oh, hai.” Sapa Kai canggung.

“Kau untuk apa ke sini? Kau sakit?” tanya Baekhyun penuh selidik.

“Ah, ani~” jawab laki-laki dengan kulit gelap itu. “Aku hanya ingin memeriksa kondisinya.” Lanjutnya.

Kini Baekhyun menatap Kai dengan curiga, “Memangnya kau siapa? Uisa?” tanyanya dengan tidak suka.

“Ah, sepertinya aku harus segera pergi. Kau lekaslah sembuh.” Ujar Kai mengabaikan pertanyaan Baekhyun. Ia bangkit berdiri dan berjalan melewati Baekhyun. Bahunya bahkan sempat menabrak bahu sahabatnya itu, entah disengaja atau tidak.

Baekhyun tetap berada di posisinya sampai tubuh Kai menghilang di balik pintu. Ia lalu berjalan mendekati Taeyeon dan duduk di sisi ranjang UKS. Taeyeon yang sedang duduk bersandar hanya bisa menatapnya dalam diam.

“Untuk apa Kai datang ke sini?” tanyanya, masih tetap penasaran.

“Tidak untuk apa-apa.” jawab Taeyeon.

Ya, aku bertanya padamu!” geram Baekhyun. Jujur saja, ia tidak suka ketika mendapati Kai sedang bersama dengan Taeyeon hanya berdua di UKS.

“Hei, kau kenapa, tuan Byun? Ia datang ke sini pun bukan urusanmu, kan?”

Baekhyun terdiam. Sial, benar juga! Ia lupa kalau ia memang bukan siapa-siapanya Taeyeon. Ia tidak berhak bertanya seperti itu. Dan kali ini ia memilih diam tanpa membalas perkataan Taeyeon.

“Kau sudah merasa baikan?”

“Hmm…sedikit lebih baik.”

“Oh,” balasnya kehabisan kata. Posisinya cukup canggung saat ini, sehingga ia bingung untuk membicarakan apalagi.

“Baekhyun,” panggil Taeyeon pelan. Membuat Baekhyun menatap wajah itu dengan tatapan ‘ada apa?’.

“Itu… terima kasih telah menolongku saat di kolam renang.” Ucapnya pelan.

“Ah, tidak apa-apa. Aku senang bisa menolongmu. Untung saja kau masih bisa diselamatkan.” Balasnya.

Tapi keheningan malah menyelimuti mereka lagi. Sungguh, situasi yang aneh. Biasanya Baekhyun akan bicara panjang lebar ketika berada di dekat Taeyeon. Tapi kali ini tidak.

“Taeyeon-a.” Panggil Baekhyun. “Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tolong jangan marah padaku.” Katanya yang malah membuat Taeyeon curiga.

“Apa?”

“Maaf, aku memberikanmu sebuah nafas buatan. Ani, bukan sebuah melainkan beberapa. Aku bingung harus melakukan apalagi untuk membuatmu sadar, hanya―”

“APA?!” pekik Taeyeon terkejut. Hatinya mencelos. Nafas buatan katanya?!!

Mian.”

“Kenapa kau menciumku?!”

“Siapa yang menciummu? Aku tidak menciummu, aku memberikanmu nafas buatan!” elak Baekhyun.

“Ish, sama saja, bodoh! Kalau kau memberikanku nafas buatan, berarti bibirmu menyentuh bibirku, kan?! Katakan! Dasar mesum! Pedofil!”

“Apa katamu? Mesum? Pedofil? Enak saja! Aku ini penyelamatmu, tahu!”

“Tapi bukan berarti kau harus mencium bibirku, Byun Baekhyun!”

Benar, kan. Kini mereka malah ribut. Padahal baru saja mereka saling berdiam diri dengan canggung. Tapi sekarang, sudah seperti Tom dan Jerry!

“Kau mau pulang sekarang?” tanya Baekhyun berusaha melunak.

Mwo?”

“Kau mau pulang sekarang tidak? Kau pasti bosan kan berada di tempat bau ini sampai jam pulang nanti? Aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu.” tawarnya dengan baik hati. Tumben sekali.

“Tidak, tidak per―”

Klek.

Noona, kajja. Kita pulang sekarang.” Tiba-tiba saja Taehyung sudah masuk ke dalam ruangan tersebut sambil membawa dua buah tas sekolah di kedua bahunya. Wajahnya terlihat datar sekali karena melihat ada Baekhyun di tempat itu juga.

“A-apa?”

Kajja pulang. Aku sudah bilang ke appa dan kita diizinkan untuk pulang lebih awal. Kau mau pulang, tidak?”

Baekhyun menatap Taehyung sebal. Laki-laki itu berbakat sebagai perusak suasana juga, ya. Baru saja ia menawari tumpangan untuk Taeyeon, tapi Taehyung malah datang ikut-ikutan. Mengganggu saja!

Melihat Taeyeon yang tidak memberikan respon dan malah saling tatap-tatapan dengan Baekhyun, membuatnya jengah. Ia kan sudah menyuruh sunbaenya satu itu untuk menjauhi noonanya, tapi apa sekarang?

Taehyung mendekati Taeyeon dan menarik lengan gadis itu untuk berdiri. Lalu ia segera membantu Taeyeon untuk berjalan karena tubuh gadis itu masih lemas, ia menaruh lengan Taeyeon di pundaknya dan memapahnya.

Ya, kau mau membawanya ke mana?” tanya Baekhyun.

“Pulang, kau tidak dengar tadi? Terima kasih sudah menolong noonaku, sunbae. Aku harap sampai sini saja.” Katanya sambil membawa Taeyeon pergi dari hadapan Baekhyun.

Dan Baekhyun sendiri hanya bisa menatap punggung Taeyeon yang menghilang di balik pintu. Ia juga tidak suka melihat Taehyung berada di dekat Taeyeon, walaupun pada kenyataannya mereka adalah saudara.

Kenapa hari ini aneh sekali, sih?!

Selain Taehyung yang menganggu, si Kai sahabatnya juga kelihatan aneh. Sikapnya berbeda. Apalagi ketika menemukan laki-laki itu bersama dengan Taeyeon tadi. Hatinya jadi panas begini.

Benarkah ia jatuh cinta pada Taeyeon? Si gadis es batu yang menyebalkan itu? Atau ini hanya rasa penasarannya saja seperti ketika ia mendekati gadis lain di luar sana?

“Ah, molla!”

/

/

/

Elysium Boulevard, Incheon, South Korea. 12.59 KST

Kini Taeyeon baru saja sampai di kamarnya sambil dipapah oleh Taehyung. Tubuhnya masih terlalu lemas karena menelan banyak air kolam dan rasa terkejutnya belum hilang. Suhu tubuhnya pun tiba-tiba menurun dan kepalanya mulai berkunang-kunang.

“Kau baik-baik saja, noona?” tanya Taehyung sambil membantunya untuk berbaring di ranjangnya.

“Kepalaku pusing.” Keluhnya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

Chakkaman, aku akan ke bawah untuk mencari obat untukmu. Berbaringlah sebentar.” Katanya. Ia menyelimuti Taeyeon lalu beranjak pergi dengan tergesa-gesa.

Ah, ia benar-benar lemas saat ini. Tubuhnya susah digerakkan saking lelahnya. Kejadian hari ini benar-benar sial, bagaimana bisa ia tenggelam di kolam renang dan hampir mati hanya karena sebuah kalung?

Eh, tunggu…kalung!

Taeyeon merogoh saku rok pendeknya dan mendapati kalung tersebut masih ada di sana. Ya, sebelum ia tidak sadarkan diri, ia sempat mengambil kalung tersebut dari dasar kolam.

Ia penasaran, sebenarnya kalung ini punya siapa?

“BY?” gumamnya ketika melihat liontin kalung tersebut. Tunggu, setahunya di kelasnya tidak ada yang berisial nama BY. Atau jangan-jangan kalung ini milik siswa kelas lain?

“Tapi kan…hanya kelasku saja yang baru saja menggunakan tempat itu.”

“Baekhyun?” gumamnya.

Tidak mungkin. Ini bukan inisial nama Baekhyun.

Kring!

Wajahnya menengok. Terdengar suara notifikasi handphonenya dari dalam tas. Ia segera mengambil benda tersebut dan membukanya. Ada pesan baru.

From: xxx
Kau sudah pulang?

“Siapa?” batinnya bingung. Ia rasa ia tidak pernah menyebarkan nomornya secara gratis. Kenapa kini ada seseorang yang mengirimnya pesan seperti ini?

To: xxx
Kau siapa? Kenapa kau tahu nomorku?

Taeyeon butuh beberapa saat sampai akhirnya ada balasan pesan.

From: xxx
Aku Kai. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja.

Ups! Taeyeon baru ingat kalau tadi saat Kai datang ke UKS, ia sempat menanyakan nomor handphonenya dan ia memberikannya secara cuma-cuma. Tidak perlu heran lagi kenapa namja itu bisa tahu nomornya.

To: xxx
Oh, ternyata kau. Aku tidak apa-apa.

From: xxx
Aku dengar kau pulang lebih dulu tadi. Kukira terjadi apa-apa. Aku khawatir.

To: xxx
Tidak usah khawatir. Besok aku akan segera sembuh.

From: xxx
Begitu, ya?

Taeyeon menatap layar handphonenya bingung. Kenapa gaya bahasa Kai saat bertemu dengannya dan saat mengirim pesan padanya sangat berbeda? Kenapa laki-laki ini begitu perhatian padanya?

Tok. Tok. Tok.

“Taeng~ aku boleh masuk ke dalam?”

Taeyeon mendongak ketika suara Jessica terdengar. Sepertinya gadis itulah yang mengetuk pintu kamarnya.

“Masuk saja.” Jawabnya pelan. Lagi-lagi karena tenaganya masih belum pulih sepenuhnya.

Klek.

Pintu kamarnya terbuka dan terlihat Jessica dengan piyamanya masuk ke dalam ruangannya. Gadis dengan sendal rumah bermotif gambar kelinci itu segera menghampiri Taeyeon dengan wajah sedihnya.

“Apa kau sudah baik-baik saja?” tanyanya. Ia menduduki tempat di samping Taeyeon dan menatap wajah itu khawatir.

Taeyeon tersenyum, “Sakitku sudah sedikit berkurang. Kau tak perlu khawatir.” Jawabnya.

“Bagaimana bisa kau sampai se-ceroboh itu, eo?!” tanya Jessica dengan raut wajah marah. Tampang sedih dan khawatirnya hilang begitu saja dan malah berganti dengan tampang seram.

“Aish, itu hanya sebuah kecelakaan.”

“Kecelakaan yang hampir saja merebut nyawamu, Taeng! Untung saja ada orang yang membantumu, kalau tidak― eh tunggu dulu… siapa yang menolongmu saat itu?”

“Seseorang.” Katanya singkat. “Lebih tepatnya, teman sekelasku.”

“Whoaa, apa dia seorang laki-laki? Bagaimana rupanya?”

Taeyeon menatap Jessica jengah. “Bersyukurlah karena yang menolongku adalah seorang laki-laki. Ia tidak tampan, hanya saja wajahnya cukup imut bagi orang seumurannya.” Jelasnya dengan tidak niat.

“Eii, kenapa kau terlihat lemas seperti itu? Pasti ada sesuatu, kan?” tebak Jessica sambil menunjuk wajah Taeyeon dengan jari telunjuknya.

Aniya~”

“Ahh…” resah Jessica. Ia menarik tangan Taeyeon dan menggoyangkannya ke kanan serta ke kiri. Merengek seperti anak kecil yang meminta permen gula. “Ayolah~ ceritakan padaku~” pintanya.

“Tidak ada yang spesial darinya, Jess.” Tolaknya.

“Kau bohong!”

Taeyeon terdiam sebentar. Berusaha untuk merancang kata-kata yang bagus untuk mendeskripsikan seorang Byun Baekhyun pada Jessica, si penggila pria-pria tampan.

“Jadi??” tanya Jessica masih penasaran. Siapa sih namja keren yang menyelamatkan Taeyeon dari kecelakaan konyol itu? Apakah ia tampan seperti Kim Woobin? Atau Kim Soohyun? Yook Sungjae? Ah, Lee Jongsuk!

“Sebenarnya…”

Taeyeon mulai membuka suara. Menceritakan Jessica seorang Byun Baekhyun yang merupakan teman sekelasnya, lebih tepatnya seseorang yang posisi duduknya di sebelahnya. Seorang Byun Baekhyun yang merupakan playboy dari geng aneh bernama Troublemaker.

Si idiot, mesum, jorok, dan aneh tentu saja. Laki-laki gila yang malah mendekatinya terus menerus ketika ia sudah memiliki banyak yeojachingu di luar sana. Tapi pada faktanya dia lah yang siang tadi menyelamatkannya, menolongnya ketika maut sudah hampir merenggut nyawanya. Si pahlawan kesiangan, menurutnya.

“Ahh…keren sekali!” puji Jessica.

“Keren dari mana??”

“Apa kau tidak sadar, kalau laki-laki itu menyukaimu?”

Taeyeon menatap Jessica dengan wajah terkejut, “Jangan bercanda! Mana mungkin ia menyukaiku.” Elaknya.

“Tentu saja, Taeng. Lihatlah, katamu ia idiot, mesum, jorok, aneh dan playboy. Tapi bukankah ia selalu berada di dekatmu, Taeng? Bahkan dia menyelamatkan nyawamu. Kau berhutang padanya, tahu?”

“Dia mendekatiku karena dia ingin membawaku ke dalam jebakannya. Kau tahu sendiri playboy itu seperti apa.”

“Tapi kurasa, laki-laki ini berbeda.”

“Berhenti meramalkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, Jess.” Potong Taeyeon cepat. Menolak fakta kalau bisa jadi Baekhyun memang menyukainya. Tidak mungkin!

“Tapi―”

Klek.

Noona!” panggil Taehyung sambil membawa sebuah nampan dengan segelas air mineral serta sebuah kapsul obat. Ia terlihat kesusahan ketika membuka dan menutup pintu karena kedua tangannya sudah penuh dengan barang bawaannya.

“Apa panasmu sudah turun?” tanyanya sambil meletakan nampan tersebut di atas nakas. Ia mendekati Taeyeon dan menempelkan telapak tangannya di dahi Taeyeon.

“Ish, aku tidak apa-apa!” tolak Taeyeon sambil menjauhi tangan Taehyung dari dahinya.

“Nah, cepat-cepatlah minum obat ini.” Katanya sambil menyodorkan kapsul obat tersebut. Taeyeon menerimanya dan segera menelan obat tersebut dengan terpaksa. Ketika obat itu sudah mencapai kerongkongannya, ia segera meneguk air mineral tersebut sampai habis.

“Jessica noona kenapa ada di sini?” tanya Taehyung.

“Memastikan kalau noonamu masih hidup atau tidak.” Jawab Jessica enteng. Taeyeon dibuat melotot karenanya.

“Ah, noona.” panggil Taehyung kepada Taeyeon. Membuat sang empunya nama menengok ke arahnya. “Igeo, aku hanya ingin kau jangan terlalu dekat dengan Baekhyun sunbae.” Ujarnya.

Wae?” tanya Taeyeon heran.

“Aku tidak suka.”

“Kenapa kau tidak suka?” selidik Taeyeon. Tidak biasanya kan Taehyung seperti ini? Aneh sekali.

“Aku hanya tidak mau kau dijadikan boneka oleh Baekhyun sunbae. Kau tahu kan maksudku apa? Dia sudah memiliki banyak kekasih.” Jelasnya.

“Aku tahu.” Balas Taeyeon pelan. Benarkan, Baekhyun hanya ingin mempermainkannya saja. Tidak ada maksud lain selain itu.

“Lebih baik kau jauhi dia saja, noona. jangan mau berada di dekatnya. Kau tidak boleh sampai jatuh cinta padanya.” Pesan Taehyung.

Taeyeon menatap Taehyung dalam. Sebenarnya, apa yang dikatakan Taehyung ada benarnya juga. Baekhyun itu susah ditebak, Taeyeon tidak tahu namja itu benar-benar serius padanya atau hanya main-main saja. Tapi perlakuan namja itu padanya sepanjang hari ini meninggalkan sebuah kesan di hatinya.

Apa ia sedang jatuh hati pada seorang Byun Baekhyun?

/

/

/

00.05 KST

Taeyeon terbangun di tengah malam ketika sebuah mimpi buruk menghampirinya. Keringatnya bercucuran, tubuhnya kembali panas dan wajahnya memucat.

Mimpi buruk itu lagi.

Nafasnya terengah-engah seperti habis lari marathon. Ini udah kesekian kalinya terjadi, tapi itu pun sudah lama sekali. kepalanya terasa pusing dan nyeri, matanya perih dan ia benar-benar ketakutan.

Kecelakaan itu. Bayang-bayang akan peristiwa itu menghantui pikirannya. Kejadian yang terjadi sudah lama sekali, tapi tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya.

Ia menangis. Ia rapuh. Sosok tersayangnya sudah pergi jauh dari sisinya. Seseorang yang dulu selalu menemaninya sudah hilang karena peristiwa itu. Membuatnya terus dihantui oleh mimpi buruknya.

Karena si Tuan Muda.

Laki-laki itulah penyebab dari semua masalah ini. Dalang dari semua kesakitannya yang selama ini dibebankan di bahunya. Taeyeon meringis, kepalanya berkunang-kunang karena hal itu.

“Berpeganglah dengan erat.” Titah seorang pemuda kepada gadis kecil di belakang punggungnya.

“Jangan terburu-buru, oppa.”

“Tenang saja, kita harus cepat sampai di rumah.”

Kala itu, 7 tahun yang lalu di Incheon. Lebih tepatnya tanggal 30 Desember 2008, beberapa hari setelah perayaan Natal, Kim Taehyung berulang tahun. Saat itu Taeyeon sedang berada di rumah bibinya di Daegu bersama Kim Hanseong. Anak tertua keluarga Kim yang sudah memasuki masa SMAnya.

Untuk merayakan ulang tahun Taehyung, mereka diminta untuk datang ke rumah keluarga Kim di Incheon. Dan akhirnya mereka pun berangkat dari Daegu ke Incheon di tengah-tengah hujan.

“Oppa, hati-hati.” Pesan Taeyeon kecil sambil berpegangan pada jaket yang digunakan Hanseong.

“Iya, sayang. Jangan khawatir.” Balas Hanseong sambil tersenyum. Ia menyalakan mesin motornya dan mulai menjalankannya. Setelah berpamitan pada bibi dan pamannya, motornya mulai melesat jauh dari perumahan mewah tersebut.

Karena hujan yang cukup besar, kondisi jalan jadi lebih licin dari biasanya. Pengemudi motor lainnya memilih untuk menepi dan menunggu sampai hujan reda. Berbeda dengan Hanseong yang terus melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.

Taeyeon terus merapatkan pelukannya pada Hanseong, karena jujur saja ia takut ketika menaiki motor bersama Hanseong. Laki-laki itu selalu mengemudi dengan gila. Kecepatan tinggi selalu ia terobos walaupun hujan seperti saat ini.

Motor Hanseong baru saja ingin berbelok ke arah kiri ketika sebuah mobil van datang dari arah tersebut. Naasnya, karena hujan yang menghalangi penglihatan Hanseong, ia tidak sempat menghindar dan akhirnya motornya menabrak mobil tersebut.

Motornya terseret ke pinggir trotoar, sedangkan tubuhnya terpelanting jauh dari motornya. Taeyeon sendiri juga ikut terseret cukup jauh. Karena keadaan yang sepi, pengendara mobil tersebut memilih untuk pergi meninggalkan mereka di tengah hujan.

Taeyeon berusaha bangkit dari jatuhnya. Ia menghampiri Hanseong dengan langkah terseok karena masih syok dengan kecelakaan tersebut. Ia memekik ketika melihat Hanseong berlumuran darah dan napasnya pendek. Ia juga berlumuran darah, hanya saja tidak separah Hanseong.

Oppa! Oppa! Bangun~ jangan tertidur, oppa. Ayo pulang~” panggilnya sambil mengguncangkan tubuh Hanseong. Berusaha untuk membangunkan Hanseong.

Tapi Hanseong tidak menjawab dan tetap tertidur.

Oppa! Kita mau merayakan ulang tahun Taehyung, kan? Ayo, eomma dan appa juga sudah menunggu. Bangunlah, oppa!” teriaknya.

Berbagai usaha ia lakukan, tapi Hanseong tidak terbangun. Sampai akhirnya ada mobil polisi datang membantu mereka. Membawa tubuh Hanseong dan dirinya pergi ke rumah sakit terdekat.

Ia menatap nanar Hanseong yang terbaring dengan darah di sekujur tubuhnya.

Oppa, kenapa kita ke rumah sakit?

/

/

/

Tuan Kim, Nyonya Kim dan Taehyung baru saja sampai di sebuah rumah sakit di Daegu tempat Hanseong dan Taeyeon berada ketika seorang polisi melaporkan kalau anak mereka terlibat kecelakaan. Mereka langsung pergi ke Daegu menggunakan mobil, saking paniknya.

Tapi ketika sampai, mereka malah menemukan Taeyeon sedang terbaring dengan infus di tangannya. Sedangkan Hanseong…

“Maaf.” Ucap dokter tersebut dengan peluh di sekitar dahinya. Wajahnya menunjukan raut wajah menyesal yang sangat mendalam.

Tangis nyonya Kim pecah malam itu. Taeyeon koma ketika baru saja sampai di rumah sakit, sedangkan Hanseong tewas di perjalanan tadi karena lukanya yang serius. Hatinya mencelos melihat kondisi mereka saat ini.

Terlebih, hari ini Taehyung anaknya berulang tahun. Inikah kado yang pantas Taehyung terima? Kematian Hanseong?

Dan ia lebih sedih lagi ketika Taeyeon terbangun setelah beberapa hari koma dan mendapati kalau Hanseong telah terkubur di dalam tanah. Gadis kecilnya menangis seharian, tidak mau makan, menolak untuk berbicara dengan mereka dan menyalahkan semuanya akan peristiwa yang terjadi pada dirinya dan Hanseong. Terlebih kepada adiknya.

Taeyeon memejamkan kedua matanya dengan rapat. Hatinya sakit ketika mengingat hal itu kembali. Seperti ada ribuan ton beban menimpa dadanya.

Ia bahkan sudah berusaha untuk melupakan peristiwa itu dan mencoba bangkit. Tapi apadaya, nyatanya setelah 7 tahun ia tetap tidak bisa melupakannya. Bayangan itu mengikutinya selalu. Mimpi buruknya.

Hanseong…Hanseong…sekarang dia di mana? Ia hanya bisa bertemu dengan laki-laki itu di mimpi, itupun hanya beberapa kali. Kehilangan seorang yang berarti bagimu, bukankah sakit?

Kring.

Taeyeon membuka kelopak matanya. Ada pesan masuk.

From: xxx
Apa kau masih terjaga? Aku Baekhyun.

Baekhyun? Untuk apa ia mengirim pesan di tengah malam seperti ini?

To: xxx
Aku masih terbangun. Ada apa?

From: xxx
Tidak ada. Hanya ingin mengobrol denganmu saja.

To: xxx
Kenapa kau belum tertidur?

From: xxx
Aku memikirkanmu.

To: xxx
Berhenti menggombaliku. Aku sudah kebal.

From: xxx
Aku serius. Aku ingin segera menemuimu. Aku merindukanmu.

To: xxx
Jangan bercanda.

From: xxx
Aku tidak bercanda, Taeyeon. Bagaimana kalau nanti pagi aku jemput kau di rumahmu? Alamat rumahmu di mana?

To: xxx
Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri.

From: xxx
Ayolah, sekali saja. Anggap saja dengan memberikanku alamat rumahmu, hutangmu padaku sudah lunas.

To: xxx
Apa maksudmu? Hutang apa?

From: xxx
Hutang karena aku sudah menyelamatkan nyawamu, ingat?

To: xxx
Dasar tuan Byun licik. Bedebah. Kau tidak ikhlas menolongku, ya?!

From: xxx
Aish, memangnya susah sekali ya menyebutkan alamat rumahmu? Atau aku harus menanyakan pada ayahmu?

To: xxx
Baiklah. Perumahan Elysium di jalan Exra nomor sepuluh. Puas?

From: xxx
Puas sekali! baiklah, aku akan sampai di rumahmu jam setengah tujuh. Berdandanlah yang cantik dan sekarang tidurlah!

Kali ini Taeyeon memilih untuk mengabaikan pesan dari Baekhyun. Malas menghadapi namja licik seperti Baekhyun. Aigho, lelah sekali punya teman sepertinya. Dan kini pikirannya kembali dirasuki oleh sosok Byun Baekhyun.

Merindukanku? Jangan bercanda!

Taeyeon berusaha menepis perasaan gembiranya ketika mengetahui Baekhyun merindukannya, karena ia tahu kalau ia hanya akan dipermainkan bocah itu. Bagaimana juga, Baekhyun adalah seorang playboy kelas kakap yang setiap saat bisa menjebaknya, bukan?

Aku tidak jatuh cinta padamu kan, tuan Byun? Tanyanya dalam hati.

Dan sepertinya Taeyeon harus bersyukur karena Baekhyun mengiriminya pesan di tengah malam seperti ini dan membuatnya terus membalas pesannya. Setidaknya, ia bisa melupakan mimpi buruknya untuk sesaat. Oh, tapi mimpi buruknya yang lain malah datang mengacau. Byun Baekhyun!

Ia berada di dalam masalah saat ini.

/

/

/

/

/

TBC

A/N :

Mian for everything.
Ga bermaksud menelantarkan ff ini begitu aja, bikin kalian nunggu berbulan-bulan tapi aku nulis ff ini cuma buat hobi doang, selingan pas ada waktu.
dan sayangnya aku gaada waktu buat ff ini. I got a long hiatus dari nulis ff juga buat poster di sini. Like seriously, ga nyangka semester 2 itu mati-matian gilanya apalagi abis megang jabatan Ketos ini >< /bukan sombong/
Ini pun baru selesai ngeMOS-in anak-anak baru yang bikin aku emosi mulu selama 3 hari. Capek banget ah.
Sorry not sorry tapi kalau disuruh milih, tentu aja aku lebih baik ninggalin ff ini daripada ninggalin tugas aku di dunia nyata kan? Huah, beban aku ga Cuma belajar dll doang sekarang, nambah lagi satu hehe.
terlebih, aku sekarang udah kelas 9 :’) ada yang seperjuangan? Baru masuk kemarin tapi hari ini udah ulangan, haduh mantap. Belum lagi nanti September ada lomba besar-besaran dan pas November ada Karya Ilmiah lagi :’ hmm…terus ntar katanya Februari angkatan sekarang langsung UN ya? (Cuma bisa hela napas) (senyum aja) (elus dada taehyung) (lalu bunuh diri)

Udahlah ya:’ kalian mah gausah tau semuanya:’ cukup aku aja yang menghadapi semuanya(?) semoga chapter ini mengobati kerinduan kalian pada akyu(?) /muntah berjamaah/

Dan well, sepertinya aku gaikut BTS fanmeet di Indo:’ ada yang nonton ga? Bisa di gampar bolak-balik lah aku September udah UTS :’ (elus dada taehyung lagi). Sebenernya kurang percaya juga sih sama acaranya (ralat, promotornya). Tapi yah kalo itupun beneran, cukup bersabar. Kalo ada mukjizat ya paling dapet lah foto bareng mereka (?) yang nonton jangan lupa banyakin foto jungkook yak! >< /much kisses/

Please, aku udah ngebongkar satu rahasia keluarga Kim tuh. Seneng ga?:’ itu baek sama taeng ada rasa ga sih? Aku bingung (?) terus, kenapa itu taeng gabisa berenang ya? Ada yang bisa nebak? (kasih kode) (nyehehehe). Semoga semuanya pada mumet karna mikirin ff ini ya wkwk ❤

Need some chit-chat? i have IG (mauriel.s) and Line, Skype, Snapchat, and Askfm with a same id @maurieljung. (promosi :p)

Ok, lets ended. Ilysm guyzz ❤ thanks for waiting for a long long long time (give hugs) YOU DA REAL MVP! ><

―mauriel jung, sehun’s ex-gf (?)

Advertisements

64 comments on “Hidden Feelings [Part 4 ― Hidden Things]

  1. Uwaaaaaa…. telat komen/?
    wkwk…
    Wehhh Tae unn ma Troublemaker makin deket aja yhaaaa….

    itu ngakak waktu baekk minjam hp Tae unn,trus liat lockscreennya :’v
    cieee Sica unn suka ma Taehyung…
    oh ternyata yang suka ma Tae unn itu Kai/?
    vvaduh ntar apa yang terjadi dund sama persahabatan Baekk ma Kai?
    hancur gitu? wkwk

    itu Baekk bawel banget dah/?
    maksa Tae unn mulu…
    Thor chap 5nya di tunggu yhaaa 😀
    FIGHTAENG!! ❤

  2. Aiihhhh untung aja baek nyelametin taenggg, waa taeng mulai suka nihhh sama baek yaaa, baek jugaa mulai suka taeng? Huaaaahhhhh, ya kai kau bersamaku saja laahhh~ kekekek . semangat buat nulis ff nya ya thor semangat un feb juga wkwkwk /untung dl ga gt banget/ k13 emang kejem&_- . hwaitinggggg😘💕💕💕💕💕

  3. Kai saingan Baekhyun??? iya kan, hahaha gatau kenapa aku seneng greget aja tau mereka rebutin Taeyeon
    ah iya, Taehyung benar2 adik yg imut!!
    trouble maker lucu ya, bener kata Taeyeon mereka sekumpulan orang2 bodoh wkw

  4. Pingback: Hidden Feelings [Part. 5 – Get Closer] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Aaaa udh BaekYeon akui perasaan kalian/?
    Ternyata oppa yg sering Taeng eon sebut itu namanya Hanseong
    Jadi karena itu Taeng eon benci bgt sama Taehyung oppa
    Kai oppa kah yg cinta juga sama Taeng eon?
    Next thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s