[FREELANCE] Your Lips (Chapter 2)


Your Lips (Chapter 2)

Author: Han Sung Young

Rating: 17+

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Family, University-life, Friendship, Fluff, Mature

Main Cast: Lu Han, Kim Taeyeon, Oh Sehun, Park Chanyeol, Kim Jongin

Other Cast: Find it by yourself

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Poster by: Jungleelovely @ Poster Channel

Happy reading^^

Preview: Prolog, Chapter 1

Taeyeon bersama adiknya kini melangkah memasuki ruangan yang didominasi warna putih dan aroma khas obat-obatan yang begitu menyengat. Yah, setelah kejadian diruang ketua mahasiswa dengan Luhan tadi, Taeyeon mengurungkan niatnya untuk pulang dan tidur, kemudian lebih memilih menjenguk ayahnya bersama Taeyong. Dan kebetulan saat itu adiknya juga baru pulang sekolah.

Keduanya kini mendekati ranjang tempat ayah mereka terbaring sakit. Disana, ranjang yang sudah satu tahun ditempati tuan Kim karena penyakitnya. Seulas senyum terpatri diwajah kesakitan milik pria paruh baya itu saat mendapati kedua buah hatinya. Taeyeon bertindak cepat, gadis itu berjalan setengah berlari mendekati ayahnya. Meletakkan buah yang tadi dibelinya pada nakas samping ranjang dan memberikan sebuah kecuapan dipipi untuk sang ayah.

“Annyeong appa.” Sapa Taeyeon ceria. Topeng untuk menutupi wajah sedihnya saat melihat keadaan ayahnya yang seperti ini.

“Annyeong chagi.” Balas tuan Kim sambil mengusap dengan sayang rambut putrinya.

“Apa hanya noona yang appa usap rambutnya.?” Rajuk Taeyong setengah bercanda.

“Kalau begitu, kemari.” Pinta tuan Kim sambil melambaikan tangannya agar Taeyong mendekat.

Dengan semangat, Taeyong mendekat pada sang ayah untuk mendapat usapan kasih sayang yang sangat dirindukannya.

“Bagaimana kabar kalian dan eomma.?” Tanya tuan Kim setelah mengusap rambut kedua anaknya.

“Kami baik-baik saja, bagaimana dengan appa.?” Tanya Taeyeon kemudia manambahkan, “Ku kupaskan jeruk ne.?”

Tuan Kim tersenyum sambil mengangguk, “Appa baik-baik saja. Terlebih dengan kehadiran kalian seperti ini. Appa tak lagi merasa kesepian.”

Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Taeyong seketika terkesiap, “Selama ini appa kesepian.?” Tanya Taeyong dengan nada bersalah.

Tuan Kim terdiam sejenak menyadari dirinya yang salah bicara. Memang benar, selama satu tahun ini tuan Kim selalu merasa kesepian. Sendirian di rumah sakit membuatnya merasa terisolasi. Namun rasa kesepiannya itu seketika menguap jika istri atau kedua anaknya datang menjenguk. Tapi tentu saja itu tak bisa berlangsung setiap hari bukan.?

“Tidak, appa sama sekali tidak kesepian.” Kilah tuan Kim.

“Appa bohong.” Kini Taeyeon yang membuka suara. Gadis itu menyuapakan jeruk yang baru saja selesai dikupas.

“Appa tidak pernah berbohong. Appa hanya merasa bosan, mungkin.”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ditaman rumah sakit ini, appa menggunakan kursi roda. Eottae.?” Ujar Taeyong mencoba memberi saran, namun langsung mendapat tatapan tajam dari kakak cantiknya itu.

“Appa tidak boleh terkena angin bebas Taeyong, keadaannya bisa semakin memburuk. Kau mau hal itu terjadi.?” Tanya Taeyeon.

“Aku lupa noona.” Jawab Taeyong sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Appa merepotkan kalian ya.?” Tanya tuan Kim tiba-tiba dengan nada lirih.

Mendengan nada suara yang berbeda dari ayahnya membuat kedua KimTae mengalihkan pandangan pada sosok paruh baya yang kini terbaring lemah diranjang rumah sakit.

“Kenapa appa bicara seperti itu.” Suara Taeyeon kini ikut melirih.

“Appa tak boleh bicara seperti itu.” Tambah Taeyong sambil memijat lengan ayahnya setelah duduk diranjang sebelah kanan.

“Tapi itu kenyataan’kan.? Appa hanya merepotkan kalian.” Ujar tuan Kim sambil tersenyum tipis.

“Jangan seperti itu, kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Walau kami sedih karena keadaan appa yang seperti ini, tapi kami sama sekali tak merasa direpotkan. Justru aku dan Taeyong ingin meminta maaf pada appa. Tak bisa menemani appa selama disini. Taeyong sibuk sekolah, aku sibuk kuliah, sementara eomma sibuk membuat roti untuk dijual. Kami sudah sangat jarang mengunjungi appa.” Ungkap Taeyeon sedih.

“Appa merepotkan kalian.”

“Stop appa!! Appa menyakiti hatiku dan noona jika seperti ini. Jangan seperti itu lagi, kumohon.” Ujar Taeyong memohon.

“Baiklah, baiklah. Bagaimana sekolah kalian.?”

“Baik, hanya saja aku semakin malas sekolah.” Jawab Taeyong mengundang raut bingung tuan Kim.

“Kenapa.?”

“Aku ingin membantu noona bekerja, agar noona tak terlalu memaksakan diri.” Jawab Taeyong penuh arti.

Taeyeon mendengus dalam hati. Kenapa Taeyong seolah-olah sangat membenci pekerjaannya.? Yah walau dirinya sendiri juga membenci pekerjaannya, tapi ini semua’kan untuk keluarganya. Tolong garis bawahi, UNTUK KELUARGANYA.

“Ahh benar. Taeyeon-ah, sebenarnya kau ini kerja apa eo.? Kenapa penghasilannya besar sekali. Bahkan kau belum lulus kuliah.” Tanya tuan Kim mengalihkan tatapannya dari Taeyong beralih ke Taeyeon.

Taeyeon tersenyum manis, terlalu biasa menghadapi pertanyaan seperti ini. “Bukan apa-apa. Tak perlu dipikirkan.”

“Setiap appa dan eomma bertanya kenapa kau selalu menjawab bukan apa-apa.? Sebenarnya apa pekerjaanmu.?” Desak tuan Kim.

“Sudahlah appa, jangan dipikirkan. Lebih baik sekarang kita memikirkan kesehatan appa.”

“Appa baik-baik saja. Apa pekerjaanmu Taeyeon-ah.?” Tanya tuan Kim masih belum menyerah.

Taeyeon terdiam. Baru kali ini ayahnya bertanya dengan begitu mendesak. Membuat dirinya begitu sulit berkilah.

“Taeyong, apa pekerjaan noona mu.?” Tanya tuan Kim pada Taeyong.

Taeyeon segera memberikan tatapan memperingati pada adiknya tersebut. Tatapan yang menurut Taeyeon tajam dan begitu mengintimidasi namun menurut Taeyong lebih cenderung imut dan menggemaskan. Jika Taeyong tak sadar situasi, mungkin pria itu sudah tertawa sambil mencubit pipi kakaknya dengan gemas.

Taeyong berdeham sebentar kemudian menjawab, “Benar kata noona tadi, sebaiknya appa lebih memikirkan keadaan appa daripada pekerjaan noona.”

“Kenapa kalian berdua begitu mencurigakan.” Ujar tuan Kim sambil menyipitkan matanya.

“Tak ada yang mencurigakan appa.” Jawab Taeyeon sambil tersenyum. Melihat senyum Taeyeon, membuat tuan Kim mau tak mau ikut tersenyum.

Taeyeon melangkahkan kakinya memasuki Club seperti biasa. Tak ada pekerjaan hari ini, tapi gadis itu ingin menceritakan harinya pada Sojin dan Heechul, terutama masalah Luhan tadi. Sebelum pergi ke Club, gadis itu harus berdebat dengan Taeyong. Adiknya itu lagi-lagi bersih keras agar Taeyeon tak perlu pergi ke Club, terutama saat tak ada pekerjaan seperti ini. Namun Taeyeon akhirnya berhasil meyakinkan adiknya agar membiarkan ia pergi ke Club.

Setelah memasuki Club tersebut Taeyeon langsung mendapati Heechul yang tengah melayani pelanggan. Dengan senyun merekah, gadis itu segera melangkah mendekati Heechul.

“Annyeong oppa.”

“Eoh, annyeong Taengoo.” Balas Heechul sedikit terkejut.

“Berikan aku wine.” Pinta Taeyeon setelah menumpu tangannya pada meja bar.

“Wine.?” Tanya Heechul tak yakin. Pasalnya Taeyeon sama sekali tak pernah meminum minuman seperti itu. Taeyeon tak kuat dengan munuman keras.

“Hanya satu gelas.” Jawab Taeyeon meyakinkan Heechul.

Tanpa menjawab, Heechul segera menuangkan wine yang diminta Taeyeon pada gelas berleher panjang. Pria itu memberikan tatapan bertanya saat memberikan wine tersebut.

“Kau tak boleh minum wine Taengoo.”

Gelas yang baru saja ingin Taeyeon ambil dari tangan Heechul kini sudah terlebih dahulu berada ditangan wanita yang baru saja mengeluarkan suaranya dari belakang Taeyeon.

“Sojin eonni.” Panggil Taeyeon senang saat wanita yang mengambil wine-nya sudah duduk disamping dirinya.

“Hmm.” Jawab Sojin sambil meminum wine milik Taeyeon.

“Ahh, itu milikku.” Gumam Taeyeon lirih.

“Kau tak boleh minum wine.” Ungkap Sojin tegas.

“Wae.?”

“Mungkin baru dua tetes kau sudah terkapar tak berdaya.?” Jawab Sojin namun nada bicaranya cenderung seperti bertanya.

“Ouh, itu sungguh hiperbolis.” Jawab Taeyeon sambil memutar bola matanya.

“Kupikir kalian saling merindukan.” Ujar Heechul saat menyaksikan pedebatan kecil antara Sojin dan Taeyeon.

“Memang. Lalu.?” Tanya Sojin.

“Kenapa justru berdebat.?”

“Apakah aku dan Taeyeon harus berpelukan, berbagi ciuman panas, saling meraba, atau remas sana-sini.?” Tanya Sojin dengan kata-kata yang khas dengan dirinya.

“Aku tak berniat untuk remas-meremas denganmu eonni.” Jawab Taeyeon jengah.

“Astaga Sojin!! Kau harus bisa membedakan dengan siapa kau sedang berbicara. Kau sedang berbicara dengan aku dan Taeyeon, bukan dengan pelangganmu.!!” Ujar Heechul mengingatkan.

Sojin memutar bola matanya. Ayolah, bahkan Heechul dan Taeyeon sudah terbiasa mendengar ucapan frontal darinya, lalu kenapa masih dibicarakan.? Sentimentil sekali.

“Baiklah, baiklah.” Ujar Sojin mengalah.

“Jadi, kau tak melayani siapapun malam ini.?” Tanya Heechul pada Sojin.

“Tak ada libur untukku.” Jawab Sojin sekenanya.

“Eonni, apakah kau tak lelah jika setiap malam bermain.?” Tanya Taeyeon polos.

“Rasa lelah itu tergantikan dengan rasa nikmat Taeyeon. Tapi jangan pernah berpikir kau akan mengikuti jejakku, atau akan kupenggal kepalamu. Kau yang seperti ini saja aku sudah ingin mencekikmu, bagaimana jika kau mengikuti aku, bisa ku pastikan kau sudah tak bernyawa lagi.” Ujar Sojin tajam.

Taeyeon meringis mendengar pernyataan Sojin. Gadis itu tau jika wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak hanya bercanda, tapi Sojin itu tak jauh berbeda dengan Taeyong jika menyangkut pekerjaannya.

“Huft~ Baiklah.” Jawab Taeyeon sambil menghela nafas.

“Lalu kenapa kau disini jika kau ada kerjaan.?” Tanya Heechul, masih pada Sojin.

“Dia akan datang setengah jam lagi.”

“Kau.?” Tanya Heechul, kali ini pada Taeyeon.

Taeyeon menunujukkan tatapan polosnya karena tak mengerti dengan maksud Heechul.

“Kau tak ada kerjaan.?” Tanya Heechul memperjelas.

“Eoh. Tidak, aku free.” Jawab Taeyeon dengan senyum lima jarinya.

“Lalu kenapa kau kesini.? Biasanya kau kesini jika hanya ada kerjaan.” Tanya Sojin.

“Aku sedang kesal.” Jawab Taeyeon lesu.

“Kenapa.?” Tanya Sojin dan menghadap adik tersayangnya itu.

“Kau tau eonni, dikampusku ada ketua mahasiswa yang menyebalkan. Kuakui dia memang tampan. Tapi apalah artinya tampan jika dia menyebalkan. Dan lebih buruknya, dia tau saat aku datang kesini. Dia menegurku karena takut aku merusak citra kampus. Bukankah itu menyebalkan.” Ungkap Taeyeon menggebu-gebu.

“Lalu.?” Tanya Heechul setelah kembali dari melayani pelanggannya.

“Lalu, saat aku mengatakan bahwa aku datang untuk menemui temanku dia tak percaya. Dia mengetahui pekerjaanku, bahkan dia menanyakan tarifku. Dan yang paling menyebalkan adalah dia yang menginginkan tubuhku. Dan dia bilang ‘ Sayang sekali kau hanya menjual bibirmu. Padahal aku cukup tertarik dengan tubuhmu ini. Yah walaupun kecil, tapi lumayanlah bisa memuaskanku.’ Bukankah itu menyebalkan.?” Jelas Taeyeon dengan nafas memburu karena kesal saat mengingat kejadiannya dengan Luhan tadi siang.

“Kata-kata itu sangat kasar untuk diucapkan oleh ketua mahasiswa.” Jawab Heechul memberikan pendapat.

Taeyeon mengangguk. Sementara Sojin hanya menatap intens pada Taeyeon seolah mencari jawaban dari pertanyaannya pada wajah Taeyeon. Sementara Taeyeon yang merasa diperhatikan segera mengalihkan tatapannya pada Sojin dan membalas Sojin dengan tatapan aneh.

“Astaga eonni, kau kenapa lagi.? Jangan bilang wajahku ini berubah menjadi seorang namja tampan yang akan kau jadikan mangsa.” Ujar Taeyeon.

“Bukan itu. Tapi, darimana dia tau tentang pekerjaanmu. Jika dia tau tentang pekerjaanmu sudah pasti dia melihatmu di Club ini. Dan jika dia melihatmu di Club ini, bukankah itu berarti dia juga ke Club ini. Benar ‘kan.?” Tanya Sojin sambil mengeluarkan semua pemikirannya.

“Benar kata Sojin. Dia menegurmu karena kau datang ke Club, sementara dia sendiri juga datang ke Club. Berarti dia juga bisa merusak citra kampusmu itu ‘kan.?” Tambah Heechul.

“Benar, kenapa aku tak kepikiran tentang hal ini. Dia itu sangat mesum, jadi dia pasti sudah sering ke Club ini.”

“Siapa namanya.?” Tanya Sojin.

“Apakah jika aku mengatakan siapa namanya eonni akan mengenal dia.?” Tanya Taeyeon tak yakin.

“Sojin mengenal dengan sangat baik semua namja yang pernah datang kesini. Jadi, siapa namanya.?” Kali ini Heechul yang memberikan pertanyaan.

“Lu Han. Apa eonni mengenalnya.?”

“APA.?” Pekik Sojin tak percaya.

“Eonni, salivamu.” Keluh Taeyeon sambil mengusap wajahnya yang terkena saliva milik Sojin.

“Eoh, maafkan aku Taeyeon.” Tangan Sojin terangkat ikut mengusap wajah Taeyeon. “Tapi apa kau yakin namanya Lu Han.?”

“Sangat yakin.”

“Memang kenapa.?” Tanya Heechul dengan nada yang sangat penasaran.

“Astaga Taeyeon, kusarankan jangan dekat-dekat dengan namja itu. Kalian tahu, dia pernah menyewaku. Gerakannya sangat kasar, tapi dia sangat kuat. Aku bahkan dibuat pingsan olehnya. Dan buruknya adalah, yang kudengar dia seorang maniak. Hampir semua jalang disini pernah dicoba olehnya. Dan mereka semua sama sepertiku, dibuat pingsan.” Jelas Sojin dan mengundang tatapan tak percaya dari Heechul dan Taeyeon.

Tatapan Taeyeon mendadak kosong, bahkan mulut gadis itu sedikit terbuka. Benar dugaannya. Luhan itu bukan bayi rusa yang menggemaskan, tapi serigala ganas yang haus akan daging segar. Bahkan setelah mendengar cerita dari Sojin, Taeyeon berpikir bahwa Luhan jauh lebih ganas dari serigala yang paling ganas sekalipun.

“Kau yakin eonni.?” Tanya Taeyeon setelah mengontrol ekspresi nya.

“100% yakin.” Jawab Sojin.

“Wow!! Kau wanita profesional disini. Dan dibuat pingsan. Sulit dipercaya.” Ujar Heechul diselingi decakan kagum.

“Tapi kau harus percaya. Seumur-umur, aku belum pernah mendengar dia bermain lembut.”

“Wow!! Wow!! Wow!! Seorang Park Sojin dibuat pingsan oleh anak kuliahan.? Benar-benar hebat.” Ujar Heechul masih dengan decakan kagumnya.

Sojin memutar bola matanya malas atas reaksi Heechul yang menurutnya kelewat berlebihan.

“Kau dengar itu Taeyeon, jauhi Luhan, atau kau dalam bahaya.” Ujar Sojin dengan nada mengancam, bukan memperingati.

“Arrayo.” Jawab Taeyeon sambil mengangguk patuh.

“Baiklah, kutinggal dulu ne.” Pamit Sojin kemudian melenggang menuju lanta dansa. Yah, wanita itu masih punya 15 menit sebelum kedatangan pelanggannya.

Sementara Heechul kini tengah melayani pelanggannya. Sedangkan Taeyeon tengah menopang dagunya sambil memperhatikan Sojin yang tengah meliukkan badannya dengan dikelilingi pria-pria disana.

Pikiran Taeyeon kembali menuju ke Luhan. Entah bagaimana pria itu bisa mengalihkan sebagian besar pikirannya. Taeyeon akui, gadis itu dulu sedikit tertarik pada Luhan. Bagaimana sunbaenya itu terlihat polos dan menggemaskan dengan baby face miliknya. Tapi itu dulu, sebelum Taeyeon sadar bahwa Luhan tak sebaik perkiraannya. Dan sekarang apa.? Luhan berhasil membuat pikirannya jungkir balik dengan seketika. Taeyeon benar-benar gila.

“Kau tak ikut Sojin.?” Tanya Heechul yang sudah kembali.

“Aku malas oppa.”

Keduanya diam. Masih menatap lautan manusia dilanta dansa yang begerak dengan erotis seolah hanya ada mereka seorang dilanta dansa itu.

“Taengoo, ponselmu berdering.”

Taeyeon menegakkan tubuhnya kemudian menjawab ucapan Heechul.

“Itu bukan nada dering ponselku.”

Keduanya kembali terdiam. Hingga tatapan mereka tertuju pada ponsel milik Sojin yang dibiarkan tergeletak dimeja bar. Heechul memberi isyarat pada Taeyeon untuk memeriksa ponsel Sojin. Taeyeon menurutinya. Gadis itu mengambil ponsel milik Sojin dan membaca pesan yang masuk.

From: Kyungsoo

Subject: –

Aku sudah didepan Club. Kutunggu didalam mobil :*:*:*

Taeyeon dan Heechul saling menatap setelah membaca pesan yang masuk.

“Kenapa kalian memandangi ponselku.?” Tanya Sojin setelah kembali dari lantai dansa.

“Siapa Kyungsoo.?” Tanya Taeyeon sambil mengulurkan tangannya untuk mengembalikan ponsel milik Sojin. Membiarkan wanita itu untuk memeriksa pesan yang masuk.

“Pelangganku malam ini. 3 years younger than me.” Jawab Sojin.

“Kau suka sekali dengan yang lebih muda.?” Tanya Heechul dengan kerutan di keningnya.

“Mereka nikmat.” Jawab Sojin sekenanya dan dibalas putaran bola mata oleh Heechul.

“Aku pergi dulu. Bye~” Pamit Sojin kemudian mengecup pipi Taeyeon sebelum melenggang pergi.

“Sojin eonni senang sekali mengecup pipiku.” Keluh Taeyeon namun dengan senyum yang tersungging diwajah cantiknya.

“Dia terlalu terobsesi padamu.”

“Tapi aku ini juga wanita oppa. Dan Sojin eonni masih normal.” Ujar Taeyeon dan menatap Heechul.

“Maksudku terobsesi menjadikanmu adiknya.” Heechul mengedikkan bahunya seolah tak perduli. “Dia terlalu menyayangimu.”

Luhan membanting pintu mobil sportnya saat ia telah sampai di istana megahnya. Pria itu lelah. Sungguh. Tugas kampus yang semakin menumpuk membuat pikirannya kacau balau. Mungkin jika ia menyukai pelajarannya itu tak masalah, tapi nyatanya ia sama sekali tak menyukai pelajarannya ini. Dan itu membuat kepalanya hampir pecah. Ditambah beberapa masalah dan kekacauan lainnya yang membuat pria blasteran ini ingin memendam dirinya hidup-hidup dalam tanah. Sungguh miris dan juga berlebihan.

Pria itu membuka pintu utama rumahnya. Dan percayalah, Luhan benar-benar ingin memendam dirinya hidup-hidup saat mendapati ayahnya yang tengah menatap tajam pada dirinya dengan tangan yang terlipat didepan dada.

‘Apa yang ada dipikiran pak tua ini.?’ Sinis Luhan dalam hati.

“Darimana saja kau jam segini baru pulang.?” Tanya tuan Lu tajam.

“Bukankah kau tau sendiri jika aku baru saja pulang kuliah. Apakah itu masih kurang jelas bagimu tuan Lu.?” Balas Luhan tak kalah tajam.

“Dan pukul 10 baru pulang.? Kau pikir aku tak pernah kuliah.?”

“Sekarang apa lagi hah.?” Tanya Luhan mulai emosi karena ucapan ayahnya.

“Jaga bicaramu Han.!!” Ketus tuan Lu.

“Heh, kau memintaku menjaga ucapanku tetapi kau sendiri tak bisa menjaga perilakumu. Itukah sikap seorang ayah yang sesungguhnya.?” Tanya Luhan sinis. Dan percayalah, mereka membicarakan hal ini masih dengan posisi didepan pintu utama.

“Aku tak suka nada bicaramu itu.”

“Jika kau memang tak suka, tak perlu berbicara denganku.” Jawab Luhan datar.

“Jika tak ada hal penting yang ingin kubicarakan, aku tak akan mau berbicara dengan anak kurang ajar sepertimu.” Ujar tuan Lu.

“Kalau begitu, cepat katakan.!!”

“Apa yang selama ini kau lakukan hingga menghabiskan uang yang begitu banyak hanya dalam waktu satu bulan.?” Tanya tuan Lu to the point.

“Apa itu suatu masalah yang besar untukmu.?”

“Kau menghabiskan begitu banyak uang. Dan tak jelas uang itu kau gunakan untuk apa. Jadi menurutku itu adalah suatu masalah yang besar.”

“Bahkah uang yang kugunakan hanya sebagian kecil dari harta yang kau miliki. Yeah, anggap saja itu merupakan imbal balik karena aku menuruti keingunanmu untuk memasuki jurusan hukum. See.? Kita impas.” Jelas Luhan.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikirmu, kau masih saja mempermasalahkan sesuatu yang sudah lama berlalu.”

“Dan sesuatu itu membuatku menyesal hingga sekarang.” Balas Luhan cepat.

“Kau benar-benar membuatku sakit kepala Lu Han. Mulai besok aku akan mencabut semua fasilitasmu. SEMUA!!” Ujar tuan Lu dengan suara keras.

“Dan aku tak akan berangkat kuliah. Dengan begitu tak akan ada yang meneruskanmu menjadi pengacara. Ingat, aku anakmu satu-satunya.” Balas Luhan.

“ASTAGA!! Kau bisa membunuhku.”

‘Itu yang kuinginkan.’ Jawab Luhan dalam hati.

“Baiklah, sekarang kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi jangan pernah melupakan kuliahmu.” Ujar tuan Lu dengan suara yang melembut. Percuma berbicara dengan Luhan menggunakan emosi, tak akan menghasilkan apapun.

Luhan menyeringai. Keberuntungan memang selalu berada ditangannya, kecuali untuk urusan pendidikannya.

Mengetahui Luhan yang tak berniat menjawab ucapannya, tuan Lu memilih meninggalkan Luhan yang masih terdiam. Sementara Luhan yang merasa moodnya yang semakin buruk menutuskan untuk pergi ke Club.

Pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Yeobboseyo. Kris.? Kutunggu di Midnight Club. Sekarang.”

Setelah mematikan sambungan singkatnya, Luhan segera berjalan menuju mobilnya dan melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.

Suara hentakkan musik yang keras langsung menyapa pendengaran Luhan saat pria itu baru saja memasuki Club. Tak hanya itu, disetiap langkahnya, Luhan juga diiringi tatapan menggoda dan lapar dari para wanita di Club tersebut. Luhan hanya acuh menanggapinya, tak berniat ‘bermain’ untuk malam ini. Pria itu menatap seluruh penjuru Club, berusaha menemukan sosok jangkung diantara puluhan atau mungkin ratusan orang yang ada di Club besar tersebut. Hingga mata rusanya mendapati sosok yang dicarinya tengah duduk disofa sudut ruangan dengan dua wanita disisi kanan dan kirinya.

Langkah kakinya membawa Luhan mendekati sosok itu, yeah siapa lagi jika bukan Kris, teman sesama brengseknya. Luhan memberikan tatapan mengusir pada para wanita yang bersama Kris saat sudah didekat pria jangkung itu.

“Nanti aku akan menyusulmu Honey~” Ujar Kris pada salah satu wanitanya sambil meraba paha terbuka wanita tersebut.

“Jangan lupa janjimu Honey~” Ingat wanita yang satunya sambil mengecup bibir tebal Kris.

Kris menyeringai sambil melambaikan tangan pada kedua wanitanya yang telah berlalu.

Luhan menatap interaksi antara Kris dan wanitanya dengan tatapan malas. Sambil berdecih, pria bermarga Lu itu duduk disamping Kris dan menyandarkan kepalanya pada kepala sofa.

“Kau tak boleh menyusul wanitamu, malam ini aku akan memonopoli waktumu untuk menemaniku.” Ujar Luhan tak terbantahkan.

“Hey!! Ada apa denganmu dude.?” Tanya Kris heran.

Pria berdarah Chines-Canadian itu menatap sahabatnya yang terlihat tak berdaya. Sangan jarang Luhan bersikap seperti ini, tapi sekalinya bersikap seperti itu, Kris yakin jika Luhan benar-benar membutuhkan tempat sandaran. Tentu saja tempat sandarannya itu adalah dirinya sendiri, memang siapa lagi yang bisa Luhan percaya selain dirinya.? Tak ada. Terlebih Luhan itu cenderung tertutup. Sejauh ini hanya Kris yang benar-benar berteman baik dengan Luhan.

“Pak tua itu membuatku hampir meledak.” Jawab Luhan sambil memijat pangkal hidungnya.

“Ahjussi Lu maksudmu.?”

“Kau pikir siapa lagi.” Jawab Luhan sambil memanggil salah satu pelayan yang lewat untuk memesan wine.

Kris menyeringai. Tentu saja masalah dengan orang tuanya. Sudah dijelaskan sejak awal bahwa Luhan adalah orang yang tertutup, jadi sangat kecil kemungkinannya jika pria itu memiliki masalah selain dengan orang tuanya.

“Sekarang apa lagi.?” Tanya Kris lagi.

“Dia hampir saja mencabut semua fasilitasku.”

“Lalu.? Aku yakin jika ahjussi tak jadi melakukannya. Apa yang kau katakan pada ayahmu.?” Tanya Kris dengan rasa penasaran yang tinggi.

“Aku mengancam tak akan pergi ke Kampus, kau tau kelemahannya Kris.” Jawab Luhan sambil menyeringai.

“Kupikir kau sudah gila.” Komentar Kris sambil menuangkan wine yang tadi dibawakan oleh pelayan.

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku gila.?”

“Begini.” Kris membenarkan letak duduknya menyamping untuk menatap Luhan kemudian melanjutkan, “Kau selalu mengancam tak akan pergi ke Kampus jika ayahmu melakukan sesuatu yang tak kau sukai, mungkin untuk sekarang ayahmu masih mengalah, tapi bagaimana jika suatu saat nanti ayahmu tak menghiraukan ancamanmu itu.? Bagaimana jika ayahmu tetap mengambil fasilitasmu.? Kau tentu tau jika ayahmu mampu membayar orang-orang untuk menyeretmu ke Kampus untuk tetap ke Kuliah. Apa kau tak pernah berpikir tentang hal itu.?”

Luhan terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Kris, dirinya sama sekali tak pernah berpikiran tentang hal itu. Luhan tak pernah berpikir panjang jika melakukan sesuatu. Dan jika apa yang dikatakan Kris tadi benar-benar terjadi, maka Luhan lebih memilih mati daripada harus menjalani hidup seperti itu. Tapi Luhan kembali berpikir, sepertinya apa yang dikatakan Kris mungkin saja tak akan terjadi, ayahnya itu selalu menunjukkan raut ketakutan saat dirinya menyerukan ancaman tersebut.

“Itu tak akan terjadi.” Jawab Luhan pada akhirnya.

Kris menaikkan alisnya bingung, “Apa yang membuatmu begitu yakin.?”

“Entahlah, aku hanya yakin jika pak tua itu tak akan melakukannya, dia sangat takut dengan ancamanku.” Jawab Luhan sambil menyesap winenya.

Kris mengangkat bahunya tak perduli, tapi sedetik kemudian, pria itu merubah ekspresinya menjadi raut penasaran lagi.

“Kenapa ayahmu ingin menarik fasilitasmu.?” Tanya Kris.

“Karena aku menghabiskan banyak uang dalam waktu satu bulan.”

“Apa yang kau lakukan dengan uang-uang itu.?” Tanya Kris penasaran.

“Tentu saja untuk kebutuhanku.”

“Tapi aku yakin jika itu bukan urusan wanita. Kebanyakan wanita yang kau tiduri itu melemparkan dirinya secara gratis padamu. Jadi, untuk apa uang itu.?” Tanya Kris masih kuekeh.

“Untuk main.”

“APA.?” Pekik Kris dengan suara beratnya yang mengerikan.

“Suaramu mengerikan Kris.” Tegur Luhan dan mengusap-usap telinganya.

Sementara Kris hanya menggelengkan kepalanya tak percaya. Luhan semakin rusak. Mungkin jika bermain wanita Kris masih bisa mentorerir, karena dirinya juga seperti itu, terlebih hal bermain wanita itu sangat wajar bagi mereka yang sering berkunjung ke Club seperti dirinya dan Luhan. Tapi bermain.? Luhan gila. Benar-bebar gila. Apa pria itu tak sadar bahwa yang dilakukannya itu bisa merusak dirinya semakin jauh. Bahkan perbuatannya tak beda jauh dengan pada gangster diluaran sana. Kris benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya ini.

“Kau gila, apa yang sebenarnya kau pikirkan hah.?” Tanya Kris sambil memijat pelipisnya. Pening memikirkan Luhan dan segala kelakuannya.

“Apa yang salah.? Aku jarang kalah. Dan itu menyenangkan. Walau akhirnya aku akan mencampakan uang-uang itu.” Jawab Luhan cuek sambil mengedikkan bahunya.

“Apa kau sadar apa yang kau lakukan.? Itu bisa merusak dirimu sendiri Lu, kau akan menjadi bagian dari para gangster jika kau tetap meneruskan kebiasaan burukmu itu.” Ujar Kris berusaha mengingatkan.

“Itu tak akan terjadi Kris. Kau tau, aku tak mudah terpengaruh. Aku hanya datang ke markas mereka untuk bermain, setelah bosan aku akan pergi. Simple bukan.?”

“Yeah, akan lebih simple lagi jika aku membuang tubuhmu ke sungai Han.” Ungkap Kris frustasi.

“Ouh, kau terlalu berlebihan Kris. Tak ada yang perlu di khawatirkan dengan gaya hidupku. Aku senang dengan semua ini, dan itu sudah cukup bagiku.” Ujar Luhan sambil menepuk bahu Kris.

Sementara Kris kembali menggelengkan kepalanya tak percaya. Sangat jelas jika Luhan membutuhkan seseorng yang bisa merubah kehidupanya menjadi lebih baik.

“Tak bisakah kau berhenti bermain.? Apa dengan bermain para wanita masih kurang bagimu.? Kau tak seharusnya berjudi Lu.” Pinta Kris semakin frustasi.

Luhan menyeringai. Menghadap pada Kris sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban ‘tidak’.

Kris mendesah kasar. Menyandarkan kepalanya pada kepala sofa. Suasana seketika hening, hanya ada hentakkan musik yang keras dengan desahan dibeberapa sudut. Keduanya nampak sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Luhan kembali membuka suaranya.

“Kris.?”

“Hmm..”

“Sepertinya aku sedang jatuh cinta.”

Taeyeon dan Yuri baru saja keluar dari kelas terakhir mereka hari ini. Raut wajah keduanya terlihat sangat kelelahan. Bagaimana tidak.? Hari ini jadwal kuliah keduanya sangat gila-gilaan, ditambah lagi tugas yang semakin hari semakin menumpuk, beruntung besok mereka libur.

“Setelah ini kau mau kemana.?” Tanya Yuri saat hampir mendekati gerbang kampus.

“Aku tak tahu.” Jawab Taeyeon singkat. Gadis itu memang belum tahu jadwal selanjutnya, apakah salah satu pelanggannya membutuhkan dirinya atau tidak.

“Mau main ke rumahku.?” Tawar Yuri.

Taeyeon berpikir sejenak, hingga otaknya berhenti berpikir saat ponselnya berdering. Gadis itu segera mambaca pesan yang masuk.

From: Chanyeol

Subject: –

Noona~ Aku merindukanmu…
Malam ini ya~

Taeyeon sedikit tersenyum membaca pesan kekanakan dari Chanyeol. Setelah membalas pesan dari pria itu, Taeyeon memasukkan ponselnya kedalam saku jeans yang dikenakan kemudian beralih menatap Yuri.

“Mian Yul, sepertinya tidak bisa. Aku ada kerjaan.” Tolak Taeyeon halus.

“Yasudah, aku pulang dulu ne. Bye Kim.” Pamit Yuri sambil melambaikan tangannya.

“Bye Kwon.”

Taeyeon masih duduk di meja bar sejak beberapa menit yang lalu. Ditemani segelas jus jeruk yang tadi didisiapkan Donghae, karena hari ini bukan shift Heechul. Gadis itu tentu saja tengah menunggu Chanyeol. Chanyeol tadi mengirimnya pesan bahwa mungkin akan sedikit terlambat. Dan yeah, sekarang sudah lewat 10 menit dari waktu yang ditentukan.

Grepp

Taeyeon terkesiap saat ada yang memeluknya dari belakang. Namun tak lama mulai melemaskan kembali tubuhnya saat mengetahui siapa yang memeluknya. Siapa lagi jika bukan Chanyeol.

“Noona~” Panggil Chanyeol dengan manja.

“Ada apa.?”

“Aku merindukanmu.” Jawab Chanyeol dan duduk disamping Taeyeon.

Taeyeon mengangkat satu alisnya bingung. Biasanya Chanyeol akan datang padanya dengan tubuh penuh luka, tapi sekarang tidak, apa itu berarti Chanyeol memang merindukan dirinya.? Tapi tidak, dibalik ekspresi Chanyeol, Taeyeon melihat ada masalah didalamnya.

“Kau ada masalah.?” Tanya Taeyeon to the point.

“Tak ada masalah, aku hanya merindukanmu noona.”

“Benarkah.?”

“Taeyeon.!!” Panggil Sojin dari arah belakang.

“Eonni, eoh nugu.?” Tanya Taeyeon saat melihat seorang pria yang digandeng oleh Sojin.

“Kenalkan, ini Kyungsoo. Dan Kyungsoo, ini Taeyeon dan itu Chanyeol.” Ucap Sojin memperkenalkan

“Annyeong Kyungsoo-ssi.” Sapa Chanyeol dan Taeyeon.

“Annyeong Chanyeol-ssi, Taeyeon-ssi.” Balas Kyungsoo.

“Eonni, dia yang kemarin.?” Tanya Taeyeon pelan berharap Kyungsoo tak mendengarnya.

“Yap!!”

“Lagi.?”

Sojin jelas mengerti dengan maksud pertanyaan ‘lagi?’ dari Taeyeon itu. Tentu maksudnya ‘Apakah dirinya bermain lagi dengan Kyungsoo.?’

“Dia yang meminta.” Jawab Sojin.

“Kau terlihat senang eonni. Aku tau kau juga menginginkannya.”

“Tentu saja, jika aku tak menginginkannya, maka aku tak akan menerima tawarannya.”

Taeyeon hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Kalau begitu, kutinggal dulu ne.” Pamit Sojin sambil melambaikan tangannya dan meninggalkan Chanyeol dan Taeyeon.

Sementara Chanyeol dan Taeyeon hanya balas melambaikan tangan mereka.

“Noona, kajja.” Ajak Chanyeol dan bangkit dari duduknya.

Taeyeon mengangguk, kemudian Chanyeol menggenggam tangannya dan membawa kesalah satu kamar.

To be continued..

Annyeong readers^^
Chap 2 yo~

Untuk ChanTae kiss, Luae moment sama Kai nya disimpen buat chap depan ok

Mungkin readers bertanya-tanya kenapa aku pake Sojin disini. Kenapa bukan member SNSD atau Krystal, Seulgi, Sulli atau Chorong yang lebih sering dipake.

Cerita sedikit nih yaa. Aku mikirnya gini, kalo pake member Soshi ‘kan udah sering banget sama author lainnya, jadi aku pengennya member girl group lain, walau masih ada Yuri disini, tapi Yuri gak ambil banyak bagian kok disini.

Sementara untuk member Apink, F(x) atau RV. Aku gak suka aja ama 3 girl group itu. Maaf nih ya kalo ada fans dari girl group yang aku sebutin itu. Aku cuma ngungkapin yang aku rasain kok. Kenapa aku gak suka sama mereka itu karena menurut aku mereka tingkahnya suka dibuat-buat, alias gak natural gitu. Dan menurut itu nggak banget ya. Mungkin ada yang setuju sama aku tentang pendapat terhadap 3 girl group itu.?

Dan kenapa pilih Sojin, karena Sojin member Girls Day. Sekedar informasi nih ya, Girls Day itu bias kedua aku, setelah Soshi pastinya. Menurut aku member Girls Day itu punya daya tarik sendiri. Mereka itu tubuhnya seksi, tapi mukanya imut-imut, dan yang paling penting mereka itu keliatan apa adanya banget, walau sering pakai kostum kurang bahan, dan gak kaya 3 girl group yang aku sebut diatas. Dan itu yang buat aku suka sama Girls Day. Dan terpilihlah Sojin, dia cocok untuk karakter yang aku pake di ff ini. Seperti halnya Yura yang aku pake di Forbidden Love.

Semoga Sojin bisa diterima ya di ff ini.

Banyak omong ya.? Hehe~ Yaudah, jangan lupa comment ok^^ ditunggu comment sebanyak-banyaknya…

See you^^

Advertisements

143 comments on “[FREELANCE] Your Lips (Chapter 2)

  1. tbc tbc T.T padahal pengin tau chanyeol taeyeon kissing.
    luhan jantuh cinta cie cie, moga2 sama taeyeon wkwk
    sojin keren bahasanya blak2an wkwk xD
    semangat thor, ditunggu next chapnya. ^^

  2. huaaa, lanjut lah. aku ga comment apa-apa. aku comment-nya kalau ada sesuatu yang bisa aku saranin atau kritik aja ya, kkkk~ abis bingung mau ngomong apa. dadah~

  3. spertinya yg dimksd luhan tu taenggo deh
    kris..
    Hmm?
    Sepertinya aku sedang jatuh cinta

    Gua? Ya tebar” bunga sambil nyanyi ala sarini 😀
    cieeeee..

  4. Jangan jangan yang luhan udah suka ama Taeng. Huaa LuTae, Sojin kayak seneng banget ama Kyungsoo kekeke. Kasihan appa nya Taeng ama Taeyong. Next thor 😀 🙂 😉

  5. Baru baca nih,pas liat email ada ini. Aku nungguin cast lutae lama banget keluarnya,duh gak sabar nih lutae nya thor. Aku suka cast lutae banget,nect nya harus banyak lutae. Maklum habis lebaran aura yadongnya keluar nih. Ha..ha..next chap.

  6. Gwenchana thor !! Wohooo ChanTae kiss ? Omg! Kamar ? What? My otp !! Hahhahaa .. Ngak kesabaran menungguin LuTae , chantae dan KAITAe ? Hahaahaa .. FIGHTING! Thor , mianie baru tinggalkan jejak di chap 2 .. sibuk banget ~ btw FIGHTING!!

  7. aduh thor kenapa tbc? Kkkk ayo dong moment lutaenya diperbanyak biar greget kkkk next chap thor semangat!!!

  8. wait wait.. Lu jatuh cinta? sama Taeng? ditungguu sangat nexy chapnya.. soalnya disini belum ada konflik kecil.. Keep writing thorr.. Fighting 🙂

  9. Omoo !!! Luhan …. ?? Speechless … Wkwkkwkwk .. Jatuh cinta ama siapa tuh Luhan ?? Penasaran bngt ! xDD … Ditunggu next nya

  10. Yaampun akhirnya update juga ni ff ^^v disini lutae moment nya gaada:(( tror pliss chapter depan harusss gregett ok fighting’-‘)9

  11. Akhirnyaaaa author kambekkk… omaygaddd T_T
    DAEBBAK,FF MU SANGAT DAEBBAK,FEEL NYA DPT BNGT..
    next chap secepatnya yaahh.. plisss
    FIGHTING

  12. Entah kenapa setuju banget sama author. Aku juga ga terlalu suka sama gb yg author sebut tadi, aku gb cuma suka soshi dan agak tertarik sama lovelyz gatau kenapa kkkkk lanjutannya ditunggu banget thor. Btw luhan yang polos jadi gini banget kkkkk

  13. hmm..lutae moment nya nggak ada hmm..luhan jatuh cinta!! aku mohon ama taeng ya hihi!!next chap ditunggu ya!! Fighting!! Good Luck!!

  14. hmm..lutae moment nya nggak ada hmm..luhan jatuh cinta!! aku mohon ama taeng ya hihi!!next chap ditunggu!!Good Luck!!

  15. keren thor, cpt d post y chap slnjtnya udh pnsaran hehee..
    wah luhan parah trnyata di sini..
    oya, buat aku si soojin atau siapapun gk mslh si author, aku mlh seneng ada nama2 baru yg jarang digunakan.. hehe
    fighting!! ^^

  16. Luhan jatuh cinta? ama siapa? pasti ama Kim Taeyeon.bener kan bener kan?
    next chap nya jan lama2 ya eonni,suka bgt alur ceritanya simple,mudah dimengerti,menarik,keren,pokoknya wow dechhh
    next

  17. Kurang panjang lagi thooor hehehhe tapi seru kooo..
    Eh aku sih suka2 aja kalo kamu mau pake cast siapapun, asalkan nyambung aja. Aku enjoy baca ff ini . next chap nya ditunggu ya thoor . hwaiting!!!!

  18. ya,ya,ya!! fucking TBC -_- disaat pen baca ChanTae momen, trus napa Luhan muncul dikit doang??? oh my, kgk puas sumpah dah wk
    ohya soal main character kapan2 bikin Taeyeon-Jiyong ya? itu kopel daebak bgt *jiwa G-Tae shipper haha
    nice story, just update soon authirnim

  19. Semoga aja orangtuanya Taeng eon gk tau pekerjaannya Taeng eon,klo misalkan ketauan gimana ya?
    Luhan oppa jatuh cinta sama siapa hayoo?
    Kya kya Chanyeol oppa lucu bgt sumpah :’3
    Next thor

  20. Pingback: [FREELANCE] Your Lips (Chapter 3) | All The Stories Is Taeyeon's

  21. kasian ya Taeyeon harus rela jual bibirnya demi sesuap nasi.wht

    hmm… Luhan semaniak apa?
    sampe bikin semua cewek pingsan gitu hahahahhaa

    bagus bgt nunggu ChanTae kissing nyaaaa
    ga sabardeh !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s