Skellington [Part 1]

SKELLINGTON – Part 1- by Scarlettkid

skellington-

Genre Alternative Universe, Romance, Science-Fiction | Rating PG-15

Main cast GG Taeyeon | Supporting Cast Mamamoo Solar – EXO Baekhyun & Kai

Foreword

Poster by Gitahwa @ Home Design

Disclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m developing.

                Pagi hari yang cerah di sudut kota Seoul. Sangat lengkap jika menikmati sarapan di sebuah café bertema vintage yang menyediakan white coffee dan pancake untuk mengisi perut. Di tambah dengan pertemuan yang sudah lama dinantikan, rasanya hari ini bisa menjadi hari yang sempurna bagiku. Sampai adikku berkata…

“Mari kita tinggal bersama!”

Aku langsung menyemburkan kopi hangat dari mulutku. Memang menjijikkan tapi aku tidak bisa menahan keterkejutanku. Apa gadis ini sudah gila? Mungkin dia memang sudah gila. “Apa maksudmu, Solar?”

“Ayolah, eonni.” Ujarnya lalu tersenyum. “Papa dan mama sudah benar-benar melepaskan kita. Itu artinya kita bisa kembali bersama setelah 15 tahun!”

“Tapi aku tidak bisa menjelaskan jika mama bertanya kenapa aku berada di tempatmu.” Jelasku berusaha tenang. “Lalu apa kau mau Kai keluar masuk ke apartmenmu? Kau kan paling tidak suka menemuinya.”

“Memang.” Jawab Solar lalu tersenyum. “Tapi aku akan menahan tanganku agar tidak menampar wajahnya.” Aku tertawa lalu meneguk kopiku sekali lagi.

Namaku Kim Taeyeon. Aku seorang pakar dekorasi. Mungkin kalian pertama kali mendengar pekerjaanku jadi biar kujelaskan. Pakar dekorasi atau yang sering disebut dekorator adalah orang yang mendesain dan merancang tatanan sebuah acara dengan sebuah tema agar kesan suatu perayaan bisa terasa oleh pengunjung.

Saat ini aku berada di Memory Café, salah satu tempat yang paling terkenal di Seoul dan pemiliknya adalah adikku sendiri, Kim Yongsun alias Solar. Aku memanggilnya seperti itu sejak kecil karena senyumannya yang secerah matahari. Dan nama Solar berasal dari nada lagu yaitu sol la dari do re mi fa sol la si do.

Kami sebelumnya tinggal satu rumah hingga kedua orang tua kami memutuskan untuk berpisah. Aku ikut dengan papa sedangkan Solar ikut dengan mama. Selama 15 tahun ini kami tidak pernah lost contact karena kami sadar kami saling memiliki. Tanpa Solar mungkin aku tidak berada di sini. Tanpa Solar aku tidak akan pernah mendapatkan penghargaan berupa dekorator terbaik tahun ini.

“Ngomong-ngomong, eonni,” lanjut Solar, “Pilihan eonni mendesain ulang café ini dengan tema vintage benar-benar tepat. Pengunjung benar-benar menyukai tatanannya dan mereka merasa seperti berada di Paris.”

Aku hanya bisa tersenyum karena kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Solar mengatur seluruh koordinasi dari Memory Café sedangkan aku yang merancang interiornya. Kami berhasil menemukan apa yang bisa kami lakukan dan apa yang kami suka setelah bertahun-tahun keliling dari satu café ke café lain untuk mencari uang dengan bernyanyi. Bukan berarti kedua orang tua kami tidak berpenghasilan cukup. Tapi itu satu-satunya cara agar kami bisa saling bertemu.

“Kembali ke topik tadi.” Sambungku menatap Solar serius. “Kau pikir tinggal bersama saja sudah menyelesaikan masalah? Ingat, kita tidak punya alasan yang bagus untuk bilang pada kedua orang tua kita mengapa kita tinggal bersama.”

“Memang tidak.” Jawab Solar cepat. “Tapi aku sudah punya solusinya. Eonni hanya harus menunggu temanku datang.”

Akhirnya aku mengangguk pasrah dan memutuskan untuk mengikuti kemauan Solar. Sementara menunggu teman Solar datang, aku memeriksa handphoneku dan membuka e-mail. Apa ada e-mail permintaan pekerjaan lagi? Rupanya tidak. Tapi ada banyak pesan masuk dari Kai. Isinya adalah hal-hal sepele seperti apa aku sudah sarapan, sedang apa, dan tolong kirimkan fotoku sekarang untuk memastikan aku baik-baik saja.

“Apa dari Kai?” tanya Solar lalu aku mengangguk. “Seperti biasa, ya… Kalian mesra sekali. Bagaimana kalau kalian segera menikah?”

“Tidak mungkin.” Jawabku cepat. “Papa belum merestui hubungan kami. Lagipula kami belum seserius itu, kok.”

Solar hanya bisa tersenyum lalu menaruh kedua sikunya di meja. “Kuharap aku juga bisa segera menemukan cinta dan berbahagia dengan orang seseorang…”

Aku hanya bisa mengangkat bahu. Sebenarnya aku ingin berkata bahwa sebaiknya dia fokus dengan perkembangan cafénya. Sudah banyak permintaan untuk membuka cabang di tempat lain tapi sepertinya Solar menanggapi hal tersebut dengan tidak serius. Solar sebenarnya tidak suka sibuk. Tapi agar bisa bekerja bersamaku, Solar mencari kesibukan yang dia suka.

“Ah itu dia datang.” Ujar Solar lalu melambaikan tangan ke arah pintu masuk café. Seorang gadis yang seumuran Solar mendekat ke meja kami dan duduk di sebelahnya. Ia berkulit sangat putih yang kontras dengan rambut hitam panjangnya. Dia sangat cantik dan setahuku semua teman Solar memang cantik.

Annyeonghaseyo…” sapanya lalu tersenyum. “Aku Krystal. Aku teman Solar dari bangku SMA. Aku sering mendengar cerita tentang Taeyeon eonni dari Solar.”

Aku tersenyum dan menjabat tangannya. Memang, orang tua kami seperti berusaha agar kami tidak bertemu. Papa memasukkanku ke sebuah sekolah swasta yang dekat dengan kantornya, sedangkan Solar masuk ke sekolah khusus perempuan atas desakan mama. Aku juga sering mendengar tentang Krystal dari mulut Solar.

“Aku benar-benar lega kau bisa datang.” Ujar Solar dengan senyuman manisnya. “Aku tahu kau sangat sibuk jadi terima kasih sudah sempat datang ke sini.”

“Tidak masalah.” Jawab Krystal lalu mengangkat tangannya untuk memesan minuman. “Asal kau membayar apa yang aku pesan setelah ini.”

Solar hanya tertawa. Aku mengerutkan kening seolah meminta penjelasan dan akhirnya Solar memutuskan untuk lebih serius setelah Krystal memesan frappuchino dengan apple pie. “Kau tahu, Krystal? Mungkin setelah ini aku dan kakakku bisa tinggal bersama lagi.”

Wow, really? Congratulations!” seru Krystal dengan aksen inggrisnya yang nyaris sempurna.

Aku hanya bisa tersenyum sampai Solar berkata lagi, “Tapi masalahnya kami butuh alasan bagus agar bisa menyembunyikan hal ini dari orang tua kami. Orang tua kami akan marah jika tahu bahwa aku dan Taeyeon eonni sering terlihat bersama.”

Krystal mengangguk mengerti tapi aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran Krystal. Kira-kira apa pendapat Krystal tentang dua bersaudara yang selama 15 tahun diam-diam bertemu tanpa sepengetahuan orang tua mereka dan kini mereka ingin melangkah lebih jauh?

“Lalu aku ingat kau pernah menawariku untuk menjadi sukarelawan sebuah proyek. Jadi jika aku dan Taeyeon eonni mendaftarkan diri, kami bisa menggunakan alasan berupa ‘kebetulan tempat kerja yang sama’ pada orang tua kami.” Jelas Solar membuat Krystal terkesiap sampai-sampai dirinya tidak sadar pesanannya sudah tertata di meja.

That’s great. Keputusan yang bagus, Yongsun. Kau dan kakakmu jelas dibutuhkan dalam proyek ini. Oh my God, aku tidak percaya tapi aku harus percaya. Kau benar-benar akan melakukannya? Maksudku kalian akan benar-benar melakukannya?” tanya Krystal lalu Solar mengangguk mantap. “Gomawo!”

“Hei, hei, hei.” Ujarku seperti berusaha memecahkan suasana gembira yang bahkan aku tidak tahu apa penyebabnya. “Proyek apa yang kalian maksud? Solar tidak pernah cerita apapun. Apa itu sukarelawan, kenapa kami harus—“

“Pokoknya!” seru Krystal. “Proyek ini benar-benar rahasia dan hanya orang-orang tertentu yang akan terpilih. Tentu saja setelah ini kalian harus melalui banyak proses sebelum resmi menjadi bagian dari proyek ini.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ucapku mengingatkan. “Proyek apa yang kalian maksud?”

Solar dan Krystal saling berpandangan lalu tersenyum. “Eonni akan segera tahu. Nah sekarang, bisa kah eonni menelpon Kai dan memintanya menjemput kita di Memory Café? Kalau bisa 5 menit lagi aku ingin duduk di Mercedes merah itu.”

.

.

.

10 menit kemudian kami bertiga sudah berada di dalam Mercedes Benz merah dan melintasi jalanan kota Seoul dengan sangat cepat. Yang paling marah karena Kai telat adalah Solar. Tidak terima dengan keterlambatan, Solar bahkan menyuruh Kai untuk berkendara dengan kecepatan tinggi.

“Apa proyeknya bersifat rahasia?” tanya Kai sambil membanting setirnya ke kiri.

“Yup. Hanya beberapa orang yang tahu tentang proyek ini. Pemerintah benar-benar menjaga agar tidak ada kebocoran informasi.” Jelas Krystal. Aku baru ingat bahwa Solar pernah berkata, orang tua Krystal memegang peranan penting di pemerintahan Korea Selatan, meski jabatan mereka tidak setinggi pembantu menteri.

“Kalau begitu apa kau mau menceritakan padaku apa tujuan dari proyek ini?” tanya Kai lagi.

“Itu kalau kau juga bersedia menjadi bagian dari proyek ini.” Jawab Krystal lalu tertawa bersama Solar yang duduk di bangku tengah. “Ya ampun, aku hanya bercanda. Akan kuceritakan. Lagipula sebentar lagi proyek ini akan diumumkan ke masyarakat.”

Saat pertama aku mendengar kata proyek, yang terlintas dalam pikiranku adalah pembangunan gedung atau jembatan. Tapi yang dimaksud Krystal ternyata bukan proyek seperti itu. Proyek ini ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai kota dengan koneksi internet tercepat, rupanya pemerintah Seoul ingin mencetak berbagai prestasi baru di bidang IPTEK.

“Proyek ini dinamakan proyek Skellington. Kenapa dinamakan Skellington juga aku tidak tahu. Yang ku tahu, proyek ini adalah proyek di mana kau bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Jika ada sebuah DNA, melalui berbagai tahapan, DNA tersebut dibangun kembali dan dibentuk sebuah badan yang baru dengan mesin yang canggih.” Jelas Krystal panjang lebar.

Mendengar penjelasan dari Krystal, aku hanya bisa memikirkan satu kata dan langsung saja aku tanyakan, “Robot?”

“Hampir sama.” Jawab Krystal. “Bedanya, robot diciptakan untuk membantu meringankan pekerjaan manusia. Sedangkan Skellington diciptakan untuk menghadirkan kembali orang-orang tercinta tanpa mengubah fisik serta memori yang tersisa.”

“Bagaimana cara agar tidak mengubah memori padahal yang dibutuhkan hanya sebuah DNA?” tanya Kai dan aku langsung mengangguk setuju. Jika fisik memang memungkinkan tapi kalau dengan memori…

“Untuk itulah dibutuhkan sukarelawan.” Jawab Krystal mantap. “Aku sudah bilang bukan, bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat menjadi bagian dari proyek ini? Jadi nanti saat kalian melalui tahap seleksi, mereka akan mencocokkan sifat kalian dengan salah satu Skellington. Jika ada Skellington yang pas dengan pikiran serta hati kalian, Skellington tersebut akan menjadi milik kalian.”

“Kau mengikutsertakan Taeyeon ke proyek ini untuk mengurus sebuah besi tua?” tanya Kai pada Solar lalu Solar menunjukkan ekspresi masamnya.

“Ini agar aku dan Taeyeon bisa tinggal bersama. Lagipula itu tidak akan mengubah hubungan kalian.” Gumam Solar kesal. “Kalian berdua saling berbincang seperti seorang sahabat, memperlakukan satu sama lain seperti anak-anak, berdebat seperti pasangan suami istri dan melindungi satu sama lain seperti kakak dan adik.”

Aaaaw, so sweet…” gumam Krystal membuat suasana antara aku dan Kai menjadi sedikit canggung. Aku baru tahu bahwa di mata Solar, di mata orang-orang terdekat kami, aku dan Kai terlihat seperti itu. “Aku jelas akan datang ke upacara pernikahan kalian.”

“Sepertinya upacara itu harus ditunda.” Gumam Kai lalu membelokkan mobil ke sebuah gedung yang jarang dimasuki mobil. Krystal sebelumnya sudah memberikan alamat kantor proyek pada Kai. Dan tak terasa kami sudah melalui perjalanan yang sangat panjang. “Karena sepertinya Taeyeon punya sebuah robot untuk dipelihara.”

Krystal keluar dari mobil dengan sedikit kesal. “Tidak ada jaminan 100% bahwa Taeyeon akan terpilih. Taeyeon akan terpilih jika ada Skellington yang cocok dengannya. Jika tidak, langsung saja lamar Taeyeon di depan para Skellington.”

Tentu saja Kai tidak akan pernah melakukan itu, pikirku. Setelah berargumen singkat, Kai memutuskan untuk tinggal di luar dan menunggu sampai tahap seleksi selesai. Dia menolak mentah-mentah tawaran Krystal agar menjadi sukarelawan. Aku memeluk Kai erat lalu baru melepaskan pandangannya dari Kai setelah memasuki gedung.

Pemeriksaan ketat diperlakukan di gedung ini. Aku bahkan harus melepaskan liontin pemberian Kai yang merupakan hadiah peringatan hubungan kami yang berjalan setahun dari leherku. Tapi yang paling menyedihkan adalah Solar. Dia harus meninggalkan cincin, gelang, anting, bahkan sabuk kesayangannya.

“Aku tidak ingin celanaku turun karena aku tidak memakai sabuk.” Seru Solar pada petugas tapi sang petugas menolak mentah-mentah. Butuh waktu sekitar 5 menit sampai Solar menyerah soal sabuknya.

“Ini belum ada apa-apanya, Solar.” Sahut Krystal. “Begitu tiba di lantai 5 tempat seleksi diadakan, pemeriksaan akan lebih ketat lagi.”

Kami menaiki lift sampai lantai 5. Di sana kami bisa melihat banyak ruangan yang hanya tertutupi oleh kaca dan orang-orang yang bekerja di dalam sana. Lantai 5 bisa kau sebut laboratorium daripada tempat seleksi. Lantai 5 bertemakan biru, dengan tembok biru, lantai biru, serta langit-langit yang biru. Di dalam masing-masing ruang kaca, ada sekitar 3 petugas yang bekerja.

“Kalian lihat tubuh yang dibaringkan di sana?” tanya Krystal lalu menujuk ranjang yang ada di tengah-tengah salah satu ruang kaca. “Itu contoh Skellington. Dalam percobaan ini, kalian diberi Skellington secara gratis. Tapi begitu masyarakat umum sudah memesan, harganya akan setinggi langit.”

Aku langsung bisa membayangkan jika masyarakat umum tahu soal Skellington. Bagaimana tidak, setiap orang pasti ingin menghidupkan orang terkasih yang sudah mati. Pesanan Skellington akan membludak dan dilihat dari tempat dan orang-orang ini, harga Skellington mungkin setara dengan biaya hidupku selama 5 tahun.

Seorang wanita yang sangat mirip Krystal datang menghampiri kami. Ia menjabat tanganku dan Solar lalu tersenyum. “Aku Jessica, kakak Krystal. Aku salah satu dokter yang akan menyeleksi kalian.”

“Hanya kakakku yang diperbolehkan bekerja di sini.” Gumam Krystal. “Berbeda dengan kakakku, aku tidak bisa menjaga rahasia. Karena itu orang tuaku menyuruhku untuk mencari sukarelawan daripada bekerja di sini.”

Aku hanya bisa mengangguk. Jelas Krystal dengan penampilannya yang sekarang tidak cocok berada di laboratorium seperti ini.

Kami bertiga mengikuti Jessica ke sebuah ruangan yang tertutup juga oleh kaca. Di sana sudah ada beberapa ranjang dan berbagai kabel yang tersambung pada sebuah penutup kepala. Baru saja aku berpikir, Solar mengatakan apa yang aku ingin katakan, “Jangan bilang kami harus tidur di ranjang itu dan menjadi Skellington?”

“Tentu saja tidak.” Jawab Jessica lalu membuka pintu ruangan tersebut. “Tugas kalian adalah melakukan komunikasi pada Skellington.”

Aku berbaring di salah satu ranjang dan bertanya, “Bagaimana caranya?”

“Kalian akan disuntik dan memasuki mimpi di mana kalian hidup sebagai salah satu dari sekian banyak Skellington.” Jawab Krystal. “Jika kalian melakukan hal yang sama seperti yang ingin dilakukan oleh Skellington, artinya kalian cocok satu sama lain.”

“Jarang ada perempuan yang berhasil.” Sahut Jessica lalu mengeluarkan sebuah jarum suntik dari saku jas laboratoriumnya. Sebelumnya Jessica memasangkan penutup kepala dan menyuruhku berbaring. “Santai, jangan panik. Jika kau ingin segera terbangun, lakukan dengan cepat.”

Aku mengangguk dan Jessica menyuntikkan cairan berwarna biru muda ke lengan kiriku. Ia juga melakukan hal yang sama pada Solar. Tapi saat aku baru saja melihat Solar akan disuntik, aku sudah terlelap ke dunia mimpi.

Di mimpi itu aku sedang berada di sebuah panggung besar. Di depanku, banyak orang-orang yang datang untuk menontonku. Aku melihat diriku mengenakan gaun merah dan aku tahu aku mengenakan highheels karena jelas pemadangan seperti ini bukan pandanganku yang biasa.

“Nona Kim Taeyeon.” Ujar seseorang memanggilku lalu aku mendapati pembaca acara yang memakai pakaian serba hitam dengan dasi merah. Tatapannya seakan-akan memandang aku sebagai benda yang layak diperebutkan. “Malam ini adalah malammu. Lagu apa yang ingin kau nyanyikan? Wait a minute atau Passion flower?”

Aku mengerutkan kening lalu bertanya, “Mianhae, apa?”

“Lagu apa yang akan kau nyanyikan? Wait a minute atau Passion flower?”

Apa ini semacam pertanyaan jebakan? Keduanya adalah lagu dari zaman di mana aku belum lahir. Keduanya adalah lagu di mana mungkin papaku sedang menikmati masa kuliahnya. Tapi aku tidak tahu satupun dari lagu itu dan papaku jarang menyanyi. Mana yang harus aku pilih? Aku harus cepat.

“Pa, passion flower.” Jawabku gugup lalu seketika lampu panggung mati dan begitu sadar aku sudah berada di sebuah taman bermain.

Aku sedang berada di permainan menembak kaleng. Di depanku ada banyak kaleng minuman dengan warna yang berbeda-beda: merah, hijau, putih, dan biru. Lalu di atasnya tertulis daftar hadiah. Jika berhasil mengenai yang merah, maka hadiahnya adalah sebuket bunga. Sepaket aromaterapi untuk hijau, kupon minuman gratis untuk putih, dan tiket drama untuk biru.

“Sayang sekali!” seru petugas membuatku sadar dari lamunanku. “Kini kau hanya punya satu peluru. Tembak baik-baik, Nona Kim Taeyeon!”

Aku tidak pernah menyentuh slingshot sebelumnya jadi kau bisa bilang sebenarnya aku sangat panik. Aku bahkan tidak tahu apakah tembakanku akan mengenai salah satu kaleng tersebut atau tidak. Jadi tanpa berpikir panjang, aku langsung menembak asal-asalan dan mengenai kaleng hijau. Aku mendapat satu paket aromaterapi.

Begitu aku menerima hadiah dari sang petugas, tanganku terhisap ke dalam hadiah diikuti oleh tubuhku. Aku terbawa ke sebuah tempat di mana semua orang berpakaian putih dengan topi putih juga. Mereka juga mengenakan celemek berwarna hitam. Dan bukan hanya mereka, aku sendiri juga memakainya.

Saat ini aku berada di dapur sebuah restoran Jerman dan aku sedang berdiri di antara para koki yang sedang bekerja. Bau masakan bercampur menjadi satu dan sebenarnya aku sedikit pusing. Apa yang harus kulakukan? Apa lagi pilihan yang akan diberikan padaku?

“Nona Kim Taeyeon!” seru seseorang dari belakangku dan aku membalikkan badan. Seorang koki berbadan kurus terlihat panik. “Meja nomor 3 dan nomor 7 sama-sama menginginkan baumkuchen mereka diantar sekarang. Masalahnya kami baru membuat satu. Meja mana yang akan kami antar dulu?”

Pilihan konyol, pikirku. Tidak mungkin aku akan menyerahkan pesanan pada meja 3 sementara meja 7 melihatku memberikannya atau sebaliknya. Aku memperhatikan semua yang ada di dapur. Satu-satunya yang tidak bekerja adalah aku dan koki yang sekarang berdiri di depanku. Tidak ada yang bisa aku minta tolong.

“Nona Kim Taeyeon!” seru sang koki kurus lagi. “Meja nomor 3 atau nomor 7?”

Aku tidak bisa menahan emosiku lebih lama jadi akhirnya aku berteriak, “Kita buat satu lagi baumkuchen dan menyerahkan keduanya bersamaan. Kita akan membuatnya bersama. Dua orang akan lebih cepat. Sekarang, ajari aku!”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi!” seruku lalu mendorong sang koki kurus. “Ayo ajarkan aku!”

Akhirnya tanpa memedulikan takaran, aku membuat baumkuchen asal-asalan. Sang koki kurus panik setiap kali aku memasukkan sesuatu dalam adonan tapi aku tidak mendengarnya. Akhirnya setelah 15 menit berlangsung, baumkuchen yang berpenampilan manis sudah selesai aku buat. Sang koki kurus yang sedari tadi bermuka pucat sekarang terlihat gembira.

“Ayo sekarang nona serahkan pada mereka!” sang koki kurus meletakkan kedua piring baumkuchen di tanganku lalu aku mengangguk. Sang koki kurus menuntunku ke pintu yang menghubungkan dapur dengan restoran. Saat pintu terbuka dan aku melangkahkan langkah pertamaku, angin yang sangat kencang mendorongku ke belakang dan membuatku kehilangan kesadaran.

Aku tidak siap untuk pilihan-pilihan lainnya.

.

.

.

“Taeyeon!” seru sebuah suara lalu aku mendapati Jessica yang sedang menatapku cemas. Aku menegakkan tubuhku perlahan-lahan dibantu olehnya dan mendapati Solar yang masih tertidur, berjuang dalam mimpinya. “Kau selesai lebih cepat dari yang aku duga.”

“Berapa lama aku tertidur?” tanyaku lalu Jessica menunjukkan stopwatch yang ada di tangan kirinya. 5 menit. “Kau bercanda. Aku memasak sebuah baumkuchen selama 15 menit!”

“Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di dalam mimpimu. Nyatanya kau tertidur selama 5 menit. Dan kau memegang rekor tercepat untuk tahap seleksi.” Jelas Jessica panjang lebar membuatku ingin membaringkan tubuhku tapi tidak ingin tertidur lagi. “Ada Skellington yang menyukaimu dan memilihmu.”

Aku menghela napas sebelum berkata, “Benarkah?”

Jessica mengangguk serius. “Ada sebuah Skellington yang cocok denganmu. Dan Skellington itu boleh kau bawa mulai hari ini.”

“Tunggu.” Ujarku masih kebingungan. “Jadi aku sudah termasuk dalam bagian proyek ini?”

Jessica mengangguk tapi kali ini tatapannya lebih dalam. “Kau jauh lebih penting daripada yang kau pikirkan. Tidak pernah ada Skellington yang memilih manusia dalam waktu 5 menit. Rekor tercepat sampai saat ini adalah 40 menit.”

“40 menit?!” tanyaku lalu Jessica mengangguk. Kalau saja 5 menit sudah terasa sangat lama bagiku, bagaimana dengan 40 menit? Bagaimana dengan yang lain? Tiba-tiba saja aku langsung teringat Solar. “Bagaimana dengan Solar? Kapan dia akan sadar?”

Jessica menggeleng lalu menatap stopwatch yang ada di tangan kanannya. “Mungkin dia tidak akan secepat kau. Dia bisa saja lebih lama dari 40 menit.”

Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan menatap Solar. Apa yang dialami Solar dalam mimpi itu? Dia berkeringat deras padahal ruangan ini sangat dingin. Dan ruangan semakin dingin karena tatapan Jessica. “Apa?”

“Kau benar-benar penting bagi kami sekarang. Mungkin proyek ini bisa berjalan cepat dan kami bisa segera mengumumkannya pada masyarakat.” Jelas Jessica lalu memanggil salah satu temannya yang juga sedang menjaga Solar. “Aku akan menyerahkan stopwatch ini padamu. Aku akan menuntun Taeyeon ke tempat Skellingtonnya.”

“Kita akan meninggalkan Solar?” tanyaku lalu Jessica mengangguk. Aku tidak berani untuk bertanya lebih jauh jadi akhirnya aku mengikuti Jessica ke luar. Di luar, Krystal sedang tertidur lelap. Dia bahkan jauh lebih terlihat damai daripada Solar.

“Mungkin kau sudah tahu, bahwa memori Skellington tidak sepenuhnya sama seperti saat mereka masih hidup.” Ujar Jessica memulai pembicaraan. “Tugasmu adalah membangkitkan memori Skellington itu perlahan-lahan sampai ia mengingat siapa dirinya saat ia masih hidup.”

Aku tidak bisa membayangkan wajah Skellington yang nantinya akan menyambutku. Mungkin dia akan menatapku dengan tatapan aneh dan bertanya-tanya dalam hati: kenapa aku memilih orang seperti dia?

“Dan mengingat bukan sekedar mengingat nama, tanggal lahir, makanan favorit atau warna favorit.” Lanjut Jessica lalu berbelok ke kanan, melintasi koridor demi koridor. “Tapi juga kapan hari terbaiknya, di mana tempat yang sering dia kunjungi, bagaimana dia menyambut tahun baru, siapa cinta pertamanya, dan sebagainya.”

Aku langsung teringat Kai. Mungkin memang benar Kai bahwa proyek ini sebenarnya hanya menghabiskan waktunya. Tapi seakan-akan bisa membaca pikiranku, Jessica langsung menjawab, “Bayarannya sangat tinggi. Mungkin dengan bayaranmu nanti kau bisa membeli sebuah Rumah Sakit.”

“Tapi kenapa aku? Apa yang membuatku terpilih?” tanyaku lalu Jessica menghentikan langkahnya. Mungkin pertanyaanku kelewatan. Mungkin ia tidak ingin menjawab pertanyaanku karena kasihan padaku, sudah terpilih menjadi bagian dari proyek ini.

Jessica membalikkan badannya lalu bertanya dengan serius, “Apa kau punya seseorang yang berharga untukmu dan ia sudah meninggal?” Aku berusaha mengingat-ingat. Setahuku aku tidak punya orang dekat yang meninggal dan aku rindukan. Seakan-akan bisa melihat keraguanku, Jessica tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa. Ayo ikut aku lagi.”

Mianhae.”

“Kau tidak salah.” Sahut Jessica cepat. “Aku sebenarnya ingin memberitahumu dari awal. Ada kemungkinan kau terpilih adalah mungkin Skellington ini adalah temanmu dulu atau orang yang berharga bagimu dan sudah meninggal. Mungkin ia sekarang dalam wujud Skellington memilihmu dan itu membuatmu terpilih.”

“Aku tidak punya.” Jawabku ragu-ragu. Entah kenapa aku merasa ragu akan hal ini.

Jessica berhenti di depan sebuah ruangan kaca lalu membuka pintunya. “Mungkin kau lupa. Tapi jangan khawatir, setelah melihat sosoknya, mungkin kau akan ingat.”

Aku mengikuti Jessica memasuki ruangan kaca dan mendekati tubuh Skellington yang berbaring di atas ranjang. Aku sama sekali tidak bisa melihat kecacatan dalam tubuhnya. Tidak ada yang membedakan Skellington dengan manusia. Kecuali mungkin organ tubuhnya yang tersusun dari banyak kabel dan mesin yang seperti robot.

“Ini Skellingtonmu.” Ujar Jessica lalu membuka kain yang menutupi wajah Skellington tersebut.

Aku langsung merinding dan mengeluarkan keringat dingin. Berbagai pertanyaan terlintas dalam pikiranku. Mengapa dia ada di sini? Bukankah kalau dia ada di sini itu artinya dia sudah meninggal? Kapan dia meninggal? Mengapa dia meninggal? Tapi jauh dari semua pertanyaan itu semua, ada satu pertanyaan besar yang tidak bisa untuk tidak dipikirkan: Mengapa harus dia?

“Namanya Byun Baekhyun. Dan dia akan sadar beberapa menit lagi.”

BERSAMBUNG

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Aku senang banget akhirnya bisa memulai serial ini. Maaf membuat kalian lama menunggu, tapi memang sebenarnya aku ingin part pertama dirilis tiba-tiba alias kejutan!

Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk para pembaca karena mau membaca sampai akhir. Aku akan sangat senang jika kalian memberi komentar dan kritikan karena jujur, menurutku rasanya ada yang kurang dari fanfiction ini. Sampai jumpa di part berikutnya! 🙂

Advertisements

139 comments on “Skellington [Part 1]

  1. Pingback: Skellington [Part 22] | All The Stories Is Taeyeon's

  2. Pingback: Skellington [Part 23] | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Ehm, ini keren thor! Bisa mikirin teknologi buat masa depan. Wahh…😱
    Ga sabar pengen baca yang selanjutnya. Biar ngerti ceritanya. Hehe..😂

  4. Pingback: Skellington [Part 24] | All The Stories Is Taeyeon's

  5. Annyeonghaseyo..
    Namaku althafi, author-ni bisa manggilny thafi
    Sebnrny q sdh lm bc ff ini..tp br buat akun wp baru u/ ngoment ff ini…itu krn syarat bc ff skelington hrs ngoment tiap chap..krn kepo dg chap akhirnya, jd buat akun wp eh..#malahcurhat..
    Mohon bantuannya..#hehe😅

  6. waahh.. ffnya bagus thor..
    prtama kurang minat sama castnya tapi pas baca ffnya ternyata bagus banget.. temanya mysteri gitu..
    ijin lanjut author..

  7. Pingback: Skellington [Part 25] | All The Stories Is Taeyeon's

  8. Pingback: Skellington – Goodbye | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Kenapa orang tua taeyeon dan solar melarang mereka bertemu. Pasti ada alasannya kan?
    Punya masa lalu apa taeyeon dan baekyun lalu gimana dengan kai hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s