Heartless

HYUNFAYOUNGIE
PRESENTS

starring by Taeyeon & Luhan genre Thriller, Psycho, Hurt length Ficlet rating PG15

heartless

“Maafkan aku, Luhannie. Sebenarnya aku tak dirasuki apapun—aku hanya… ingin melukis di tubuhmu juga.”

.

.

.

Luhan melangkahkan kakinya di tengah kesunyian malam saat itu. Dia terus berjalan. Sesekali dirinya mengeratkan jaket karena udara dingin yang begitu menusuk. Wajah, bahkan bibirnya pun sudah pucat. Pipi yang sebelumnya chubby kini menjadi tirus. Ah, ini bukan karena dirinya yang sakit, melainkan karena fisiknya tidak cukup kuat untuk melawan dinginnya suhu udara yang terlalu rendah.

Tak bisa dipungkiri, kepulan-kepulan asap kecil kerap keluar dari mulut kecilnya. Dia menggosokkan kedua telapak tangannya guna menciptakan rasa hangat. Berhasil, namun itu tak berlangsung lama karena kehangatan yang dihasilkan oleh gesekan kedua telapak tangannya hanya bersifat sementara.

Entahlah, dalam hati dia terus meraung-raung mengapa dirinya belum juga tiba di rumah. Rasanya seperti sedang berjalan di jalan beraspal yang tak berujung. Sampai akhirnya dia bertemu sesosok gadis yang jalan berlawanan arah dengannya. Sosok itu sangat familiar. Hingga mereka berhadapan, gadis itu melemparkan segaris senyum padanya. Luhan pun membalas dengan senyuman pula.

“Luhannie, bagaimana kabarmu?” Sapaan itu terdengar khawatir. Namun Luhan mencoba untuk bersikap bahwa semuanya baik-baik saja. “Aku baik, Taeyeon-ah. Hanya saja… sedikit demam karena hawa dingin saat ini,” ujarnya seraya mengulas senyum tipis.

Taeyeon mengangguk mengerti. Dia menepuk pelan pundak Luhan lalu mendekatkan mulut mungilnya ke arah telinga Luhan. “Kau mau berkunjung ke rumahku? Aku sudah menyiapkan beberapa makanan.” Luhan tersenyum, dia mengangguk setelahnya. Tidak ada salahnya berkunjung kerumah teman—yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri—malam-malam begini, kan? Lagipula dia sendiri juga belum makan barang sesuap nasi pun.

“Ah, baiklah. Tapi aku harus mengambil sesuatu di rumah dulu. Setelah itu aku akan langsung ke rumahmu.” Tutur Luhan sebelum Taeyeon benar-benar menghilang dari pandangannya. Dia bahkan menyempatkan diri untuk melambaikan tangannya ke arah Taeyeon.

Luhan mengernyitkan dahi, seperti ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Taeyeon? Ah, entahlah. Luhan sendiri juga tidak mau berpikiran negatif. Lagipula, Taeyeon orang yang baik—mereka bahkan sudah dekat sejak kecil.

‹›‹›‹›

Jika saja Luhan tidak benar-benar datang ke rumah Taeyeon, dia tidak akan mengalami ini semua. Dia tidak perlu melihat pemandangan yang sangat mengerikan juga menjijikkan. Darah berceceran dimana-mana, jeritan yang terdengar sana sini, serta sesosok laki-laki—yang dia ketahui adalah ayah Taeyeon—terkulai lemah di atas lantai.

Dia menutup hidungnya, tidak kuat dengan bau anyir yang dihasilkan dari darah itu. Perutnya terasa sangat mual, rasanya dia ingin memuntahkan semua isi yang ada di perutnya, tapi tak bisa. Dia tak menyangka, bahwa Taeyeon yang dikenalnya baik itu menjadi seperti ini. Taeyeon menjadi psycho. Terbukti dari satu tangannya yang menggenggam sebilah pisau. Tak salah lagi, Taeyeon lah pelakunya.

Luhan benar-benar muak. Gadis itu bukan Taeyeon. Pasti ada yang merasuki tubuhnya sehingga Taeyeon menjadi psycho seperti sekarang, yakin Luhan. Namun saat dia ingin berbalik, terdengar suara.

“Hei, Luhannie!” Sapaan itu terdengar ceria namun mampu membuat bulu remang Luhan berdiri. Kakinya terasa dipaku, dan perutnya masih terasa mual—dia bahkan harus membungkam mulutnya untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari perutnya. Jantungnya pun berdenyut dengan cepat. Dan, untuk apa Taeyeon memanggilnya? Dia mulai merasa tidak enak, instingnya berkata demikian. Pikirannya sudah melayang-layang akan dirinya yang akan diperlakukan sama seperti laki-laki yang sedang tergeletak lemas di lantai rumah Taeyeon.

Darah masih terus mengalir dari setiap titik luka laki-laki itu. Jari-jemarinya pun sudah hilang entah kemana, dan terdapat beberapa bekas tusukan pisau di sekitar perut dan punggungnya.

Namun belum sempat Luhan bicara, Taeyeon lebih dulu menyambarnya dengan kata-kata yang manis—namun terdengar mengerikan.

“Lihat, aku sedang melukis. Apa lukisannya bagus? Ah apa kau juga ingin dilukis seperti ini?” Taeyeon tertawa menyeramkan. Dia mengasah sebilah pisau yang dipegangnya serta menjilat ceceran darah di setiap sisinya sampai benar-benar bersih. Luhan menelan salivanya sulit. Matanya benar-benar merah dan sakit melihat pemandangan yang ada dihadapannya sekarang.

Taeyeon beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri Luhan—dengan smirk yang terbentuk di wajah polosnya. Semuanya masih terasa sama, kaki Luhan masih terasa beku dan tak bisa lari. Dia terlalu takut—tidak, melainkan dia tidak kuat dengan aroma darah yang begitu anyir.

“Kenapa kau diam saja, hmm?” tanya Taeyeon seraya satu tangannya mengelus pipi Luhan. Luhan bergidik, darah memompa jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. Apa yang terjadi sebenarnya?

“Kau bukan Taeyeon!” sahut Luhan dan menepis tangan penuh darah itu dari pipinya yang menyisakan bercak merah disana. Taeyeon tertawa, lagi. Luhan mengernyitkan dahi, apa Taeyeon sama sekali tak merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya?

Namun Taeyeon lebih cepat menahan lengan Luhan sehingga pemuda itu tak bisa lari darinya. Bibir mungil yang sebelumnya selalu menampilkan senyum mengerikan, kini melengkung ke bawah. Ada raut kesedihan dalam air mukanya. Melihat itu, Luhan merasa iba. Apa yang sebenarnya terjadi pada Taeyeon? Beliau menjadi psycho dan lemah di waktu yang sama.

“Aku sepertinya memang sedang dirasuki sesuatu, Lu. Apa kau mau mengusir sosok itu dari tubuhku?” Taeyeon menunduk, nada bicaranya menurun dan pelan nyaris berbisik—namun  Luhan masih dapat mendengarnya. Luhan mengangguk. Taeyeon kembali memamerkan senyumnya, kali ini senyum manis yang terukir di wajah kecilnya.

Kiss me, Luhan…”

Luhan terlonjak, tubuhnya terdorong ke belakang—menubruk  dinding di belakangnya—dan suara jeritnya tertahan ditenggorokan. Apa dia gila? Luhan lagi-lagi tak habis pikir. Permintaan gila macam apa itu? Hei, Luhan hanya menganggap Taeyeon sebagai adiknya, tidak lebih! Luhan bahkan tidak menyangka jika selama ini Taeyeon menyukainya. Tunggu, benarkah Taeyeon menyukainya? Atau roh jahat yang sedang merasukinya yang berkata demikian?

“Kau gila, Taeyeon!” Luhan berdecih, namun Taeyeon menambah mimik sedih di wajahnya, membuat Luhan semakin merasa iba padanya. Dengan terpaksa Luhan harus melakukannya. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. Tapi semakin dia mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon, semakin kuat juga bau anyir darah yang terdapat di setiap inci wajah Luhan.

Rasanya mual juga menjijikkan, tapi jika untuk kebaikan—mengusir sosok jahat itu dari tubuh Taeyeon—kenapa tidak?

Semakin tipis jarak diantara mereka sehingga di detik kemudian tahu-tahu saja bibir mereka sudah menempel. Baik Taeyeon maupun Luhan belum melumat satu sama lain. Luhan tampak tulus memberikan ciuman itu. Namun tidak dengan Taeyeon, gadis cantik itu tengah tersenyum remeh di sela ciuman mereka. Pisau yang sedari tadi dipegangnya kini dia arahkan ke perut Luhan. Dan tak butuh lama baginya untuk menancapkan benda tajam itu di perut Luhan.

“Aasshh…” Terdengar desahan panjang dari mulut Luhan dan tahu-tahu saja laki-laki berwajah baby face itu sudah menutup matanya, tubuhnya terjatuh di pangkuan Taeyeon dan ada bercak merah di sekitar perutnya serta sebilah pisau yang masih menancap di sana. Taeyeon tersenyum licik.

“Maafkan aku, Luhannie. Sebenarnya aku tak dirasuki apapun—aku hanya… ingin melukis di tubuhmu juga.”

.

.

.

—Fin

Heihello!~~~ Aku bawa ff baru nih, hehe. Maaf ya ga update ff SIL, lagi aku pikir-pikir dulu untuk masalah publish mempublishnya XD Hmm, cast LuTae lagi nih, maklum aku suka sama couple itu 😀

So, mind to review? Akan ditunggu kritik/saran nya di kolom komentar ya 😉 Enjoy! Happy reading! ♥

kisseu,
hyunfayoungie

Advertisements

52 comments on “Heartless

  1. Pingback: [LIBRARY] DRABBLE | FICLET | ONESHOT 2013-2017 | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s