[FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 2)


Forbidden Love (Chapter 2)

Author: Han Sung Young

Rating: PG 17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Family, School-life, Friendship, Sad

Main Cast: Oh Sehun, Oh [Kim] Taeyeon, Lu Han, Kim Yura

Other Cast: Find by yourself

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Poster by: Jungleelovely @ Poster Channel

Preview: Teaser, Chapter 1

Happy reading^^

Taeyeon turun dari motor Sehun saat mereka sudah berada didepan sekolah Taeyeon. Masih dengan kepala menunduk dan wajah merona, Taeyeon melepas helm yang dipakai dan mengembalikan pada pemiliknya. Taeyeon masih ingat kejadian tadi pagi, dimana dirinya yang mendapati hampir seluruh bagian tubuh kakaknya. Ditambah lagi Taeyeon tadi juga mendapati tonjolan dibalik celana dalam Sehun yang lumayan besar, mungkin morning erection. Taeyeon benar-benar malu dan takut Sehun marah padanya karena dengan kurang ajar memasuki kamar Sehun dan membuka selimut yang digunakan kakaknya. Tapi, hey.. bukankah setiap hari Taeyeon melakukan hal itu, dan Sehun sama sekali tak pernah mempermasalahkan hal itu. Jadi, salahkan saja Sehun yang tidurย  hanya mengenakan pakaian dalam.

“Princess.?”

Panggilan Sehun sedikit menyentakkan Taeyeon dari lamunannya. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk menatap Sehun yang masih berada diatas motornya. Sehun sebenarnya masih sangat malu karena kejadian memalukan tadi pagi, tapi melihat wajah Taeyeon yang makin merona ini membuat Sehun jadi gemas sendiri. Mungkin selain malu Taeyeon juga kedinginan.

Sehun turun dari motor dan membuka jaketnya tetapi tidak dilepas. Pria itu kini merentangkan tangannya hingga kemeja yang dikenakan terlihat.

“Peluk oppa.!!” Perintah Sehun.

Taeyeon masih menunduk, tetapi gadis itu segera menuruti perintah kakaknya. Gadis itu mendekati Sehun dan memeluk pria jangkung itu. Sehun kembali merapatkan jaketnya hingga kini jaket itu digunakan oleh mereka berdua.

“Kau kedinginan.”

“Tapi aku harus masuk oppa, dan oppa juga harus ke kampus untuk mengikuti ujian. Bagaimana jika tertinggal.?” Jawab Taeyeon.

“Sebentar saja.” Sehun semakin merapatkan pelukannya sambil sesekali mengendus puncak kepala Taeyeon.

Lama keduanya dalam posisi seperti ini, dan suhu tubuh Taeyeon perlahan juga mulai meningkat akibat pelukan dari Sehun. Setidaknya dengan cara seperti ini suasana diantara mereka mulai mencair kembali.

“Maaf sunbae, bisakah kau melepas Taeyeon sekarang untuk sekolah. Taeyeon disini untuk sekolah, bukan untuk kau peluk.” Suara Luhan terdengar dari belakang Taeyeon.

Sehun menatap wajah menyebalkan milik Luhn yang berada dibelakang Taeyeon. Pria itu selalu datang disaat yang sama sekali tidak tepat.

Taeyeon melepas pelukan Sehun dan menatap Luhan. Wajah Luhan terlihat keras saat ini, dan Taeyeon cukup pintar untuk mengerti apa yang terjadi pada Luhan. Bukankah Luhan sangat posesif pada Taeyeon.? Jadi sudah sangat jelas apa yang menyebabkan Luhan seperti itu. Tapi Taeyeon bingung pada Luhan, pria itu sangat posesif pada Taeyeon, tetapi sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa pria blasteran itu memiliki perasaan lebih padanya. Karena biasanya jika seseorang itu posesif, maka mereka bisa dipastikan memiliki perasaan lebih. Taeyeon meringis dalam hati.

“Apa kau tak punya kerjaan lain selain mengganggu Taeyeon.?” Tanya Sehun ketus.

“Aku bukan mengganggu, Taeyeon adalah tanggung jawabku jika di sekolah, jadi Taeyeon harus terus berada dalam pengawasanku.” Jawab Luhan dingin.

“Cih, atas dasar apa Taeyeon menjadi tanggung jawabmu.? Adikku ini sama sekali tak memiliki hubungan denganmu. Kau berkata seolah kau adalah kekasihnya.” Sehun mendecih mendengar jawaban super menyebalkan dari Luhan.

Luhan sesaat terdiam. Benar apa yang dikatakan Sehun, dirinya tak memiliki hubungan apapun dengan Taeyeon. Tapi entahlah, Luhan merasa dirinya memang memegang tanggung jawab atas Taeyeon.

“Apa itu sangatlah penting untukmu sunbae.? Kurasa tidak. Jika Taeyeon disekolah, maka dia adalah tanggung jawabku. Dan itu sudah dipatenkan.” Bantah Luhan dengan penuh penekanan.

“Bukankah sebaiknya kau segera pergi sebelum kau tertinggal. Bukankah hari ini kau harus ujian sunbae.?” Tambah Luhan dengan kata-kata yang sama sekali tidak sopan.

Taeyeon sendiri dibuat bingung dengan perdebatan dua pria didepannya ini. Jika Sehun yang berbicara, maka Taeyeon akan menatap Sehun. Jika Luhan yang berbicara, maka Taeyeon akan menatap Luhan. Leher Taeyeon jadi pegal sendiri.

“Sudahlah oppa, Luhan. Itu sama sekali tidak penting.” Ucap Taeyeon sebelum Sehun kembali membuka suaranya. “Oppa sebaiknya segera ke kampus sebelum benar-benar tertinggal, 5 menit lagi aku juga akan segera masuk.”

Sehun menghela nafas kasar, saat mendapati Luhan menyeringai licik. Ouh, Sehun merasa dikalahkan jika seperti ini. Sehun menatap tajam pada Luhan kemudian mulai melembut saat menatap Taeyeon.

“Oppa pergi dulu.”

Taeyeon mengangguk. Gadis itu kini memperhatikan Sehun yang tengah membenarkan jaketnya kemudian mulai memakai helm nya. Tak lama, Sehun mulai melesat meninggalkan sekolah Taeyeon.

“Kajja.!!” Ajak Luhan dan menarik tangan Taeyeon.

Ulangan jam pertama baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Kini Taeyeon dan Luhan berjalan bersama menuju kantin dengan lengan Luhan yang merangkul Taeyeon. Pemandangan seperti ini sudah biasa bagi para siswa disana. Mereka berpikir bahwa Luhan dan Taeyeon adalah sepasang kekasih, namun akan dibuat menganga jika mengetahui mereka hanya sebatas sahabat. Hubungan keduanya sangatlah dekat, satu tahun yang lalu Luhan pindah ke sekolah ini, dan pria itu langsung saja berteman dekat dengan Taeyeon hingga sekarang. Namun sayang, Luhan sangat dingin pada siswa lain.

“Tunggu di meja biasa.!!” Perintah Luhan dengan lembut sambil mengusap puncak kepala Taeyeon.

Taeteon mengangguk patuh dan mulai menduduki bangku yang biasa mereka tempati. Sementara kini Luhan melangkah untuk mengambil jatah makannya dengan Taeyeon. Sambil menunggu Luhan, gadis cantik itu menatap penjuru kantin yang sangat ramai seperti biasa. Dengan dagu yang ditopang menggunakan tangannya, gadis itu tersenyum menatap berbagai eksperesi teman-temannya.

“Apa.?” Tanya Luhan yang baru tiba dengan membawa dua piring berisi makanan.

“Aniyo.”

“Eoh. Kau tunggu sebentar ne, aku ke toilet sebentar. Sudah tak tahan.” Pamit Luhan dengan nada berbisik diakhir kalimatnya.

Taeyeon terkekeh sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. Gadis itu menatap makanannya sejenak, sebenarnya dirinya lapar, tetapi bagaimanapun juga dirinya harus menunggu Luhan.

“Mana Luhan.?” Suara ketus terdengar dari belakangnya membuat Taeyeon menoleh menatap siapa pemilik suara tersebut.

Walau tanpa melihatpun Taeyeon tau pasti siapa pemilik suara menyebalkan itu. Dan seketika, raut wajahnya berubah malas saat mendapati wajah Krystal dan Sulli disana. Taeyeon terkadang heran, bagaimna bisa gadis baik seperti Sulli bisa berteman akrab dengan gadis rusuh seperti Krystal.?

“Kutanya mana Luhan.?” Desak Krystal lagi.

Taeyeon berdiri mengahadap Krystal, namun gadis itu sempat membalas senyum manis dari Sulli yang berada di belakang Krystal.

“Selain menyebalkan ternyata kau juga tuli ya.” Ketus Krystal.

“Apa itu menjadi masalah untukmu.?” Tanya Taeyeon dengan berani.

Yeah, Taeyeon memang tak pernah takut untuk menghadapi gadis sejenis Krystal ini, toh gadis plastik ini juga tak lebih baik dari dirinya.

“Kurasa tidak, aku tak peduli kau itu tuli, buta, bisu, lumpuh atau bahkan mati sekalipun aku sama sekali tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya Luhan. Dimana ia sekarang.?”

Taeyeon mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan itu, jika dirinya tak ingat bahwa mereka masih di kantin, mungkin Taeyeon akan melayangkan tamparan keras pada pipi Krystal. Sedangkan Sulli yang berada dibelakang Krystal hanya mendorong pelan bahu temannya bermaksud mengingatkan.

“Apa kau pikir aku adalah baby sitter Luhan hingga selalu tau dimana Luhan berada. Aku tidak tau.!!” Balas Taeyeon kemudian berniat kembali duduk di tempatnya semula. Namun cengkeraman Krystal pada lengannya membuat ia kembali berhadapan dengan gadis tinggi itu lagi.

“Jangan pernah bermain-main denganku Oh Taeyeon. Luhan itu milikku, dan untuk selamanya akan menjadi milikku.” Geram Krystal dan menatap tajam kearah Taeyeon.

“Astaga!! Sejak kapan Luhan menjadi milikmu nona JUNG SOOJUNG.?” Tanya Taeyeon dengan penekanan pada nama asli Krystal. Taeyeon tau bahwa gadis itu tak suka jika seseorang menyebut nama aslinya. Menurut Krystal sendiri nama aslinya itu sangat buruk.

“Call me KRYSTAL JUNG!!” Geram Krystal dengan menekankan nama Amerika nya.

Taeyeon menyeringai tipis menanggapi reaksi Krystal yang sangat memuaskan. “Wae.? Namamu jelek.? Tentu saja. Tapi kurasa nama itu sangat sesuai dengan kepribadianmu sehari-hari. Kau bahkan harus repot-repot menggunakan nama Amerika mu walau sedang di Korea sekalipun. Kau memang tak pernah bersyukur.” Ekspresi Taeyeon berubah dingin dengan menaikkan suaranya hingga kini seluruh siswa menatap kearah Taeyeon dan Krystal. Hanya sesaat, karena mereka semua langsung mengedikkan bahu dan kembali berkutat pada makanan masing-masing.

“Jangan memancing emosiku Oh Taeyeon.” Ingat Krystal dengan wajah memerah, bahkan hingga telinga gadis itu sendiri.

“Aku lebih senang memancing ikan daripada memancing emosimu.” Jawab Taeyeon dan tergelak setelahnya.

Krystal yang sudah kepalang kesal segera mengambil gelas berisi air yang berada dibelakang Taeyeon dan menyiramkannya pada gadis itu. Hingga kini tubuh Taeyeon hampir basah seluruhnya. Semua yang ada disana menatap kaget saat mendapati tubuh basah Taeyeon. Sulli sendiri menutup rapat bibirnya yang ternganga melihat kelakuan Krystal yang sudah kelewatan. Sulli tak menyangka jik-

Plakk!!

Monolog Sulli dalam hati terpotong dan digantikan dengan bibirnya yang kembali ternganga saat mendapati Taeyeon melayangkan tamparan keras pada Krystal hingga kini gadis itu menoleh kekanan.

Wajah Krystal semakin memerah dari sebelumnya, tangan gadis itu terangkat bermaksud membalas tamparan Taeyeon. Namun saat tangan gadis itu tepat berada diatas, tangannya dicengkeram oleh Sulli yang kini menatapnya kejam.

“Cukup Krys, kau keterlaluan.!! Ikut aku.!! Taeyeon-ah, maafkan Krystal ne, aku akan segera mengurusnya.” Ucap Sulli dan membungkuk pada Taeyeon, dan dibalas anggukan kecil dari gadis itu.

Dengan langkah yang ditarik paksa oleh Sulli, Krystal masih menyempatkan diri menatap tajam pada Taeyeon yang juga tengah menatapnya bermaksud memperingati bahwa urusan mereka belum selesai.

Taeyeon menghela nafas saat Krystak sudah tak terlihat lagi. Taeyeon memilih beranjak menuju toilet untuk mengeringkan seragamnya. Gadis itu bahkan melupakan bahwa perutnya tadi meraung kelaparan.

Ditengah perjalanan bibir Taeyeon terus mengumpat untuk Krystal. Taeyeon sangat tak mengerti, Krystal sangat membencinya karena dirinya satu-satunya gadis yang dekat dengan Luhan. Ah salah, tapi satu-satunya orang yang dekat dengan Luhan.

Luhan.?

Aish, Taeyeon jadi mengerucutkan bibirnya mengingat Luhan yang tak kunjung kembali dari toilet.

Dengan langkah malas, Taeyeon memasuki toilet untuk mengeringkan seragamnya. Gadis itu segera menghadap pada kaca yang berada diatas wastafel. Taeyeon mengambil tisu yang berada disisi kanan wastafel dan mulai mengeringkan wajah, rambut, dan kemejanya yang basah. Dengan bibir yang masih mengerucut, Taeyeon mengusap kemeja depannya yang basah kuyup.

Setelah dirasa kemejanya sedikit mengering karena diserap oleh tisu tadi, Taeyeon melangkah keluar. Gadis itu tanpa sengaja mengalihkan tatapannya kearah toilet pria yang berada tepat disamping toilet wanita. Gadis itu berusaha mencari Luhan. Dan yeah, Taeyeon menemukan Luhan disana. Namun kenyataan yang terjadi justru menyakiti hatinya.

Luhan kini sedang menyandarkan tubuhnya pada dinding depan toilet pria dengan lengannya yang melingkari pinggang ramping gadis didepannya yang Taeyeon ketahui bernama Hayoung.

Jadi ini alasan Luhan tak kunjung kembali.? Pria itu tengah berduaan dengan seorang gadis didepan pintu toilet dengan posisi yang begitu intim. Bahkan Taeyeon yakin jika tubuh Hayoung bersandar pada tubuh Luhan hingga bagian depan keduanya menempel erat. Tanpa sadar Taeyeon berlari meninggalkan area toilet dengan telapak tangannya yang mendekap erat bibirnya untuk meredam suara isakannya.

Kenyataan ini lagi-lagi menyakitinya. Kejadian tadi sudah menjelaskan semuanya. Luhan memiliki hubungan dengan Hayoung jika melihat posisi keduanya tadi. Jadi apa artinya kedekatannya dengan Luhan selama ini.? Apa artinya perhatian Luhan yang begitu tulus pada dirinya.? Dan untuk apa sikap posesif Luhan selama ini pada dirinya.? Taeyeon ingin menampar dirinya sendiri sekarang. Semua terlalu menyakitkan. Dan dirinya dengan bodoh terus menyimpan cintanya pada Luhan tanpa memikirkan bahwa pria itu hanya menganggapnya sebagai teman. Taeyeon benar-benar ingin menghilang saat ini juga.

Tanpa memperdulikan jalannya, Taeyeon terus berlari dengan isakan yang semakin terdengat jelas. Hingga saat dibelokan koridor, dirinya bertabrakan dengan seseorang. Taeyeon hampir saja terjatuh jika orang yang ditabraknya itu tak menangkap tubuhnya.

“Taeyeon.”

Taeyeon mengangkat kepalanya saat mendengar suara familiar itu. Matanya yang sembab dengan padangan sedikit buram karena tertutupi air mata itu dapat melihat tatapan khawatir Tiffany yang merupakan orang yang ditabraknya tadi.

“Hiks.. hiks.. Fany.”

Luhan merapikan seragamnya saat Hayoung sudah kembali kekelasnya sendiri. Ah Luhan lupa. Taeyeon masih di kantin. Dengan langkah lebar Luhan kembali ke kantin untuk menemui Taeyeon. Namun nihil. Gadis mungil itu sudah tak ada di kantin lagi, tapi makanan mereka masih utuh belum tersentuh sama sekali. Kemana Taeyeon.?

“Kau lihat Taeyeon.?” Tanya Luhan saat seoarng pria lewat didepannya.

“Aku tidak tau. Tapi kalau tidak salah setelah bertengkar dengan Krystal tadi Taeyeon seperti menuju kamar mandi.” Jawab pria itu.

Dahi Luhan mengerut. Bertengkar.? Krystal.? Aish, pasti gadis itu cari masalah lagi dengan Taeyeon. Tanpa mengucapkan terimakasih pada pria yang tadi ia tanya, Luhan kembali melangkah lebar menuju toilet wanita. Luhan hanya takut. Krystal itu gadis nekat, hal itu memungkinkan Krystal melakukan hal buruk pada Taeyeon.

Luhan mendobrak pintu toilet tersebut. Beberapa gadis yang berdiri didepan kaca wastafel terpekik. Ada yang karena senang, ada yang karena terkejut. Oh ayolah, seorang Lu Han yang terkenal dingin dan angkuh kini mendatangi toilet wanita.? Bukankah itu sebuah keajaiban.?

“Mana Taeyeon.?” Tanya Luhan dingin pada semua gadis disana.

“Ti-tidak.. ada Taeyeon-sii dis..disini.” Jawab seorang gadis dengan gugup dan wajah merona.

Luhan memilih percaya. Lagi, tanpa mengucapkan terimakasih pria itu melangkah keluar. Mungkin Taeyeon sudah di kelas. Atau jangan-jangan Krystal yang menculiknya. Luhan menggeram dalam hati. Tidak bisakah Krystal lenyap dari dunia sekarang juga.? Selalu seperti ini, jika Luhan lengah sedikit saja, Krystal akan datang dan merecoki Taeyeon. Luhan semakin dibuat kesal saat mengingat bahwa Krystal melakukan hal itu karena terobsesi pada dirinya. Luhan sama sekali tidak tersanjung akan semua itu, Luhan justru merasa jijik. Bukan hanya Krystal, tapi pada semua gadis yang mengejar-ngejar dirinya dengan menghalalkan segala cara. Ternyata dengan bersikap dingin pesona Luhan tetap tidak bisa diabaikan.

Dari arah jauh Luhan bisa melihat Tiffany. Ah ya, bukankah Tiffany juga teman Taeyeon.? Mungkin gadis eyesmile itu tau dimana Taeyeon saat ini berada.

“Ms.Hwang.” Panggil Luhan dan melangkah menuju Tiffany.

Tiffany menatap tajam pada Luhan saat pria itu melangkah cepat kearahnya. Tiffany sungguh kesal dengan pria angkuh yang saat ini sudah ada dihadapannya.

“Kau lihat Taeyeon.?” Tanya Luhan to the point.

“Setelah menyakitinya sekarang kau berniat mencarinya.? Apakah kau masih kurang puas Mr.Lu.?” Tanya Tiffany sinis.

“Apa maksudmu.?” Tanya Luhan geram saat mendengar jawaban tidak mengenakkan dari Tiffany.

Tunggu!! Tadi Tiffany bilang dirinya telah menyakiti Taeyeon.? Yang benar saja, Luhan tidak pernah menyakiti Taeyeon selama ini. Dan semenjak mereka berteman pun Luhan selalu bersikap baik pada gadis itu. Jadi, apa maksud ucapan Tiffany.?

“Kau memberinya harapan, tapi kau justru menyakitinya secara perlahan. Apa maksudmu hah.?” Tanya Tiffany dengan bentakkan diakhir kalimat.

“Tunggu, tunggu!! Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu Ms.Hwang. Tolong jelaskan hingga aku mengerti.!!” Pinta Luhan memaksa.

Tiffany semakin marah saat mendapati wajah Luhan yang seperti tak bersalah itu. Tiffany tentu saja marah. Sebelum kepindahan Luhan satu tahun lalu, hubungan pertemanannya dengan taeyeon dan yang lain baik-baik saja. Hingga saat Luhan datang, pria itu dengan seenaknya meminta Taeyeon untuk meninggalkan teman-temannya. Taeyeon tentu menurutinya karena alasan Luhan adalah anak baru yang belum mengenal sekolah ini dan seisinya. Hingga saat itu Taeyeon mulai menjauh, namun gadis itu tetap bertukar pesan dengan Tiffany hingga persahabatan keduanya tetap terjaga walau tak seperti dulu. Tapi sekarang apa.? Taeyeon sudah merelakan teman-temannya demi menemani Luhan tetapi pria itu justru menyakiti hati Taeyeon. Luhan memang tak tau balas budi, geram Tiffany dalam hati.

“Dengar ya Tuan Lu Han Yang Terhormat. Kau, kau memberi harapan pada Taeyeon dengan terus memberinya perhatian dan kasih sayang berlebih. Bahkan kau tak mengijinkan Taeyeon berteman dengan siswa lain agar Taeyeon selalu ada disisi mu. Asal kau tau saja, selama ini Taeyeon memendam perasaan lebih dari seorang sahabat padamu. Ini juga salahmu, kau terlalu perhatian hingga rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya dalam hati Taeyeon. Gadis bodoh itu terlalu baik hingga memendam perasaannya selama ini pada dirimu. Kupikir kau adalah pria peka yang bisa melihat tatapan cinta Taeyeon saat menatap dirimu. Ternyata aku salah, kau tetap saja bodoh. Kau sama sekali tidak mengerti dengan perasaan Taeyeon.

Dan apa yang terjadi.? Kau justru menjalin hubungan dengan Hayoung dan berduaan didepan toilet. Kau pikir Taeyeon tak melihatnya.? Taeyeon melihat semua itu. Bagaiman Hayoung yang menyandarkan tubuhnya pada tubuhmu, dan bagaimana kau yang memeluk pinggang Hayoung, Taeyeon melihat semua itu. Dan kau tau bagaimana hancurnya hati Taeyeon saat ini.? Tidak. Kurasa kau sama sekali tidak tau atau memang tidak pernah ingin tau tentang seberapa sakitnya hati Taeyeon saat ini. Kau tau.? Hatiku sakit saat melihat Taeyeon menangis sambil berlari tadi. Dia bahkan tidak memperhatikan jalannya hanya karena sibuk menangis. Dan hatiku semakin sakit saat Taeyeon menarikku ke atap. Disana, Taeyeon menceritakan semuanya sambil menangis. Aku bahkan tak pernah melihat Taeyeon se-frustasi saat ini. Taeyeon bahkan berteriak dan meraung tak jelas saking frustasinya. Aku bahkan hampir gila saat tak menemukan cara untuk menenangkannya dan justru berakhir dirinya yang memintaku untuk meninggalkan atap karena ia ingin menenagkan dirinya seorang diri.

Dan kau!! Kau itu sebenarnya bodoh atau idiot hah.? Aku tau bahwa sebenarnya kau juga mencintai Taeyeon. Tapi karena kau yang kelewat bodoh hingga kau tak menyadari perasaanmu sendiri. Aku bisa melihat semuanya, tatapanmu pada Taeyeon itu terlalu dalam hingga membuatku ragu bahwa kau menganggap Taeyeon hanya sahabat. Aku tak bisa membiarkan Taeyeon terus mencintaimu seperti ini. Mencintaimu sama saja dengan menyiksa dirinya sendiri. Secepatnya, aku akan mengalihkan perasaan Taeyeon darimu.”

Tiffany menjelaskan dengan suara keras mengingat jaraknya dengan Luhan terpaut 3 meter. Hingga tanpa sadar air mata juga turun dari kedua matanya mengingat tangis Taeyeon tadi. Semua yang dikatakan Tiffany benar adanya. Taeyeon terlalu terhanyut dalam kesedihannya.

“Taeyeon.. mencintaiku.?” Lirih Luhan dengan tatapan lurus kedepan karena terlalu terkejut dengan penjelasan panjang Tiffany tadi.

Tiffany yang sudah terlalu kesal dengan Luhan melepas salah satu sepatunya dan melempar pada Luhan dan tepat mengenai kening pria itu.

Bukk .

“Akh!!” Ringis Luhan sambil mengusap keninganya.

Tiffany kejam.? Biar saja.!! Luhan jauh lebih kejam dari Tiffany.

“Bodoh, kau memang tak pantas untuk Taeyeon. Semua penjelasanku sudah benar-benar jelas tetapi kau masih tidak mengerti. Aku bersumpah akan benar-benar menjauhkan Taeyeon darimu.” Ungkap Tiffany marah kemudian mengambil sepatu yang digunakan untuk melempar Luhan tadi dan meninggalkan pria itu di koridor sepi seorang diri.

Sementara Luhan.? Pria itu masih terdiam dengan tangan kanan yang berada di keningnya yang terkena korban sepatu Tiffany tadi.

Benarkah yang dikatakan Tiffany tadi.? Taeyeon mencintainya dan dirinya yang sebenarnya juga mencintai Taeyeon.?

Luhan akui, selama ini dirinya merasa nyaman dan tenang jika berada disamping Taeyeon. Pria itu juga mengakui bahwa dirinya merasa tak suka jika Taeyeon terlalu dekat dengan Sehun. Walau faktanya Sehun adalah kakak kandung Taeyeon, Luhan tetap tak suka hal itu. Jantung Luhan juga sering berdebar saat Taeyeon tersenyum manis padannya. Apakah itu cinta.? Sungguh, Luhan masih belum bisa mendeskripsikan apa itu cinta yang sebenarnya. Dan ini sangat membingungkan.

Terpaan angin musim semi sama sekali tak mengusik Taeyeon yang saat ini tengah meringkuk. Gadis itu kini tengah berjongkok merapat pada dinding sambil meremas kemeja bagian dadanya dan juga tangis yang belum mereda semenjak kepergian Tiffany tadi.

Taeyeon merasa sangat sedih, kecewa dan terkhianati. Luhan seolah memberi harapan palsu pada dirinya. Andai saja Luhan tak memberi kasih sayang lebih pada dirinya mungkin Taeyeon tak akan terjebak dalam perasaannya sendiri. Taeyeon merasa bodoh, sebagai seorang gadis seharusnya dia dicintai, bukan mencintai. Tapi apa boleh buat, Luhan sudah menyakiti hatinya dua kali. Pertama, memberi harapan yang seolah nyata dengan perhatian-perhatiannya selama ini. Dan yang kedua, membuatnya patah hati dengan berhubungan dengan gadis lain.

Tapi ini semua juga karena kebodohan Taeyeon sendiri. Seharusnya dia bertanya dulu perasaan Luhan pada dirinya. Tapi Taeyeon sebagai seorang gadis merasa gengsi jika harus bertanya perasaan pada Luhan ataupun menyatakan perasaan pada Luhan. Dan sekarang, Taeyeon harus menanggung pahitnya seorang diri. Luhan sudah bersama Hayoung. Sebagai ‘Sahabat’ yang baik Taeyeon tak akan tega untuk menyakiti hati Luhan dengan memisahkan pria itu dengan Hayoung. Ini resiko cinta bertepuk sebelah tangan.

Tanpa sadar, seorang pria yang berdiri diambang pintu menatapnya dengan tatapan sedih dan menyesal.

Itu Luhan.

Sehun saat ini tengah berada di Cafe samping kampus barunya. Setelah selesai ujian tadi, Chanyeol mengajak dirinya datang ke Cafe milik paman dari pria bermarga Park itu. Tetapi saat ini Chanyeol tengah menemui pamannya dan meninggalkan Sehun seorang diri.

Sehun menatap tajam pada gelas tak berdosa yang saat ini berada didepannya. Sehun masih teringat tingkah menyebalkan Luhan tadi pagi. Pria itu terlalu kesal dengan sikap Luhan yang sangat berlebihan terhadap Taeyeon-nya. Luhan memperlakukan Taeyeon seolah gadis itu adalah kekasihnya. Dan Sehun bertambah kesal saat buku pelajaran milik adiknya itu dipenuhi oleh nama Luhan. Apakah itu berarti Taeyeon menyukai Luhan.?

Pendapat ini entah mengapa membangkitkan kecemburuannya. Memang ini tak seharusnya terjadi. Tapi apa boleh buat, hatinya sendiri yang mengatakan bahwa ia cemburu dengan ini semua. Taeyeon tak boleh menyukai Luhan atau pria manapun. Taeyeon hanya miliknya, dan Taeyeon hanya boleh menyukainya.

“BAA!!”

Sehun tersentak dari lamunannya saat teman idiotnya ini kembali. Pria jangkung itu hanya menunjukkan cengirannya saat ditatap tajam oleh Sehun. Dengan tak memperdulikan tatapan Sehun yang masih tajam, Chanyeol segera duduk dikursi depan Sehun yang kosong.

“Kau hampir menghentikan kerja jantungku.” Desis Sehun tajam.

“Hanya hampir.” Balas Chanyeol cuek.

“Sialan.!!” Geram Sehun sambil melempar sedontannya kearah Chanyeol.

“Aish, kau menjijikkan tuan Oh.”

Sehun memutar bola matanya sebagai tanggapan. Pria itu kembali memandang lurus dan tajam pada gelasnya. Mungkin Sehun tak berperasaan karena menatap tajam pada gelas tak berdosa itu, tapi apa boleh buat, Sehun terlalu bingung cara apa yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalannya.

“Ow.. ow.. Kurasa ada yang sedang merana.”

Sehun mengalihkan tatapan tajamnya pada Chanyeol saat pria itu bersuara dengan kata-kata menyebalkan. Tapi tanggapan yang ia terima sama sekali tidak sesuai keinginannya. Chanyeol kini justru menunjukkan cengiran idiotnya lagi dengan tatapan penuh keingintahuan.

“Ada apa.?” Tanya Chanyeol dan menaik-turunkan alisnya.

Sehun mengibaskan kedua tangannya bermaksud tak ingin menceritakan apapun pada Chanyeol. Tapi Chanyeol yang pada dasarnya adalah pria menyebalkan, terus mendesak Sehun dengan pertanyaan yang sama.

“Kau bisa menceritakannya padaku, aku bisa jaga rahasia. Jadi, apa yang terjadi.?”

Sehun menghembuskan nafas kemudian menegakkan duduknya yang tadi bersandar pada kepala kursi.

“Kau tau Luhan.?” Tanya Sehun.

“Maksudmu hobbae pindahan satu tahun lalu.?”

“Tepat!!”

“Lalu.?”

“Taeyeon.” Jawab Sehun super singkat.

Chanyeol terdiam sejenak berusaha mengartikan jawaban putus-putus dari Sehun. Jika Chanyeol tidak segera mengartikan jawaban Sehun, bisa saja pria berkulit putih itu kehilangan moodnya untuk bercerita.

“Luhan.? Taeyeon.? Apa maksudmu Luhan menyukai Taeyeon.? Karena setahuku Luhan memang hanya dekat dengan Taeyeon sejak kepindahannya tahun lalu.” Chanyeol mengutarakan kesimpulannya.

“Hampir tepat.”

“Hampir tepat.? Apa maksudmu Taeyeon yang menyukai Luhan.?” Tanya Chanyeol lagi.

Sehun menghela nafas lelah kemudian meminum minumannya yang sedari tadi ia diamkan. Setelah itu, Sehun mengangguk dan menatap kearah mata bulat Chanyeol.

“Lalu, apa masalahnya.? Bukankah itu malah bagus.? Itu berarti Taryeon sudah beranjak dewasa karena mulai memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Yang harus dipikirkan saat ini adalah Luhan yang juga menyukai Taeyeon atau tidak. Oh, Wait!! Wait!! Jangan bilang kau cemburu karena Taeyeon mulai menyukai pria lain.” Tebak Chanyeol lagi.

Sehun mendesah pelan. Yeah, setidaknya walau Chanyeol idiot, tetapi pria itu memiliki otak yang cukup pintar hingga mampu mengartikan jawaban putus-putusnya. Sehun menatap Chanyeol yang masih menunggu jawabannya, kemudian hanya mengangkat kedua bahunya.

“Apa kau gila.? Dia adikmu sendiri, bagaimana bisa kau menyukainya.? Kuarsa otak pintarmu itu sama sekali tak bekerja untuk saat ini.” Ungkap Chanyeol frustasi.

“Kau ini berisik sekali, dia bukan adikku.” Jawab Sehun dengan nada geraman.

“Mwo.? Apa maksudmu.?” Tanya Chanyeol dengan membulatkan matanya. “Apa maksudmu dengan Taeyeon bukan adikmu.? Bukankah Taeyeon itu adik kandungmu.? Apa maksudmu Taeyeon itu anak angkat keluarga Oh.?”

Sehun memijat pelipisnya pusing karena menyesal dengan jawaban bohongnya sendiri. Tadinya Sehun pikir Chanyeol akan diam karena jawabannya, tapi kenyataannya justru berbanding terbalik dengan yang ia harapkan.

“Hey, jawab aku Oh.!!”

“Huftt, kau ini benar-benar idiot ya. Tentu saja Taeyeon itu adik kandungku, appa dan eomma ku masih produktif untuk mengangkat seorang anak. Aku berkata seperti itu agar kau diam dan tak bersuara lagi karena tercengang dengan ucapanku, tapi ternyata aku melupakan mulutmu yang seperti seorang gadis itu.” Akhirnya, Sehun berucap panjang pada Chanyeol untuk hari ini.

Chanyeol masih terdiam dengan mulut yang sedikit terbuka berusaha mencerna penjelasan Sehun tadi.

“Sudahlah, aku ingin pulang.” Pamit Sehun dan beranjak dari duduknya.

Chanyeol tersadar dan mendongak menatap Sehun yang saat ini sudah berdiri.

“Aku ikut.!!”

“Aku tak ada waktu untuk mengantarmu pulang Chan.”

“Aku ingin bermain kerumahmu. Untuk pulangnya kau tak usah khawatir, aku bisa meminta Jang ahjussi untuk menjemputku.” Terang Chanyeol dengan cengiran lebar dan ikut beranjak dari duduknya.

Sehun menghela nafas pelan dan mengangguk. “Kajja.!!”

Kaki jenjang berbalut high heels 12 cm itu baru saja menginjak tanah disusul tubuh tinggi semampai khas seorang model. Ekspresi angkuh itu menatap pada rumah mewah dihadapannya. Itu Kim Yura. Gadis itu kini mendatangi rumah Sehun untuk menemui pria itu. Entah apa yang membuat gadis itu sangat ingin menemui Sehun. Yura seperti sudah dibutakan oleh cintanya. Yura juga seolah tak terpengaruh sikap buruk Sehun pada dirinya. Menurut Yura, Sehun bersikap seperti itu karena pria itu juga mencintainya, hanya saja Sehun terlalu gengsi untuk mengakuinya. Yeah, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Yura.

Setelah memberi aba-aba pada supir pribadinya untuk pergi, Yura melangkah dengan anggun sekaligus angkuh memasuki halaman depan rumah keluarga Oh. Gadis itu melepas kaca mata hitam yang sedari tadi bertengger dihidungnya sebelum menekan bel rumah tersebut. Terdengar jawaban dari dalam.

“Nugu- Eoh, Yura eonni.? Annyeonghaseyo.” Sapa Taeyeon setelah membuka pintu rumahnya.

Yura hanya menatap datar kearah Taeyeon. Entah apa yang membuat Yura begitu tak menyukai Taeyeon. Padahal jika Yura menyukai Sehun, seharusnya gadis itu bersikap baik dan ramah pada seluruh keluarga Sehun, termasuk Taeyeon.

“Ada apa.? Tumben sekali eonni kemari.” Tanya Taeyeon.

“Aku ingin bertemu Sehun.”

“Tapi Sehun oppa belum pulang dari kampusnya. Mungkin eonni ingin masuk dan menunggu didalam.?” Tawar Taeyeon lengkap dengan mata berbinar dan senyum lebarnya.

Taeyeon memang cepat berubah emosi. Jika tadi di sekolah ia begitu sedih dan tersakiti, maka Taeyeon tak ingin membawa kesedihannya itu ke rumah. Hanya keceriaan yang boleh Taeyeon bawa dimanapun ia berada.

“Tidak usah, aku bisa kembali lain waktu.” Jawab Yura dan kembali menggunakan kacamatanya.

“Ahh, sayang sekali. Sehun oppa mungkin sebentar lagi akan pulang. Apa eonni benar-benar tak mau menunggu.?” Taeyeon masih tak mau menyerah rupanya.

“Aku sudah mengatakan aku akan kembali lain waktu.” Jawab Yura tajam.

Taeyeonย  tersenyum kikuk mendapati reaksi Yura. Taeyeon tau jika Yura tak nyaman dengan dirinya. Taeyeon tadinya hanya ingin bersikap ramah pada Yura, tapi sepertinya model cantik itu tak sependapat dengan Taeyeon. Yura fikir Taeyeon hanya sok akrab dan cari muka pada dirinya. Tapi, hey Yura.. untuk apa Taeyeon cari muka pada dirimu.?

Yura berbalik besiap meninggalkan Taeyeon yang masih setia menatap dirinya dari ambang pintu. Namun baru dua langkah, Yura berhenti dan berbalik menghadap Taeyeon.

Taeyeon menaikkan kedua alisnya bingung. “Ada apa eonni.?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Yura melangkah mendekati Taeyeon hingga kini jarak antara kedua gadis itu hanya 2 langkah.

“Apa.?” Taeyeon memiringkan kepalanya bingung.

“Jangan terlalu dekat dengan kakakmu itu.” Ucap Yura to the point.

“Wae eonni.? Mengapa aku tak boleh terlalu dekat dengan oppa.? Bukankah Sehun oppa kakak kandungku sendiri.?” Balas Taeyeon bingung.

“Karena aku menyukai kakakmu. Dan aku tak suka dengan kedekatan kalian.”

“Lalu apa hubungannya dengan aku.? Aku tak mengerti apapun eonni.”

“Aku cemburu. Apa itu masih kurang jelas untukmu.? Jika kau tak bersikap manja pada Sehun, maka perhatian Sehun akan sepenuhnya untukku, tapi karena ada kau, perhatian Sehun jadi terbagi-bagi hingga ia tak sadar hampir melupakanku.” Jelas Yura seolah dirinya adalah kekasih sah dari Sehun

“Tapi dia itu oppa kandungku sendiri eonni. Seharusnya eonni tidak mempermasalahkan kedekatanku dengan Sehun oppa. Dan aku tak pernah berniat untuk bersikap manja,tetapi Sehun oppa sendiri yang memanjakanku.”

Taeyeon benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud Yura. Dan yang dikatakannya tadi memang benar. Taeyeon sebenarnya sama sekali tak ingin bersikap manja, namun kedua orang tuanya dan Sehun, bahkan maid dirumah ini yang begitu memanjakannya sejak kecil. Dan hal itu membuat Taeyeon terbiasa dimanjakan hingga dirinya sekarang beranjak dewasa. Entahlah, semua orang dirumah ini memperlakukannya dengan begitu halus dan baik. Seolah Taeyeon adalah kaca yang akan pecah jika diperlakukan kasar sedikit saja.

“Kau pintar menjawab ne.? Kau fikir aku buta.? Aku melihatnya, bagaimana kau yang berlari dan bergelayut manja dilengan Sehun, itu membuatku kesal dan jijik diwaktu bersamaan. Kau itu sudah dewasa, dan sudah saatnya kau berhenti bermanja-manja dengan orang disekelilingmu.” Ungkap Yura dengan emosi yang meluap-luap.

“Eonni..”

“Kuharap kau mengerti dengan apa yang kukatakan.” Yura berbalik dan benar-benar meninggalkan Taeyeon yang masih mematung di ambang pintu mencoba mencerna apa yang diucapkannya.

‘Apa benar yang dikatakan Yura eonni.?’

Deru motor Sehun terdengar saat kedua pria tampan dan tinggi itu sudah memasuki halaman rumah Sehun. Chanyeol dengan tergesa turun dari jok belakang motor Sehun dan mengelus dadanya beberapa kali. Sungguh, berboncengan dengan Sehun sama saja seperti kau menyerahkan nyawamu pada malaikat pencabut nyawa. Ingatan tentang Sehun yang mengendarai motornya dengan brutal tak akan pernah Chanyeol lupakan.

“Kau ingin membunuhku eo.?” Tanya Chanyeol geram.

Sehun hanya mengangkat dua bahunya dengab cuek dan mulai memasuki rumahnya. Tak dikunci, berarti Taeyeon sudah pulang.

“OPPA PULANG!!” Teriak Sehun setelah benar-benar memasuki rumahnya.

Sehun dapat melihat Taeyeon berlari menuruni tangga untuk menghampiri dirinya. Seketika rasa kesal Sehun karena kejadian tadi pagi menguap begitu saja setelah mendapati wajah cantik adiknya saat menyambut kepulangannya.

“YEAY, akhirnya oppa pulang.” Balas Taeyeon senang. Kemudian gadis itu mendapati sosok lain dibelakang Sehun yang sudah tak asing lagi bagi dirinya.

“Wahh, ada ChanIdiot oppa juga. Annyeong oppa.” Sapa Taeyeon dengan ceria.

Sementara Chanyeol kini tengah meringis seolah tengah tersakiti. “Panggilan itu masih berlaku ne.?”

Taeyeon hanya tersenyum lebar untuk membalas pertanyaan Chanyeol. Tak lama, gadis itu mendapati sesuatu yang berbeda didiri teman kakaknya.

“Oppa, kau mengganti warna rambutmu.? Aigoo, itu indah sekali.” Pekik Taeyeon kepalang senang saat mendapati rambut baru Chanyeol.

“Kau menyukainya.?” Tanya Chanyeol sombong sembari memainkan rambutnya yang sekarang berwarna abu-abu.

“Hmm..” Taeyeon mengangguk antusias. “Oppa, aku juga ingin mewarnai rambutku seperti milik ChanIdiot oppa. Boleh ne.?” Perhatian Taeyeon kini teralihkan pada Sehun.

Sehun menggeleng tegas dan mengusap puncak kepala Taeyeon. “Nanti saja ne saat kau sudah dewasa. Lagipula oppa juga lebih suka rambutmu yang berwarna hitam seperti ini.”

“Oppa~ kenapa harus menunggu aku dewasa, sekarang pun aku sudah dewasa.” Taeyeon menyerukan ketidaksetujuannya.

“Membantah eoh.?”

Taeyeon menggeleng lucu dengan sudut bibir yang tertarik kebawah. Kemudian tatapannya beralih pada Chanyeol yang juga tengah menatapnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya seolah tengah menahan sesuatu.

“Oppa, beolehkah aku menyentuh rambutmu.?” Tanya Taeyeon takut-takut.

Chanyeol tertawa sebentar kemudian menganggukkan kepalanya. Taeyeon melambaikan tangannya bermaksud agar Chanyeol menunduk mengingat tinggi pria itu yang begitu menjulang hingga Taeyeon tak sanggup menggapainya. Dan Chanyeol menurutinya, pria itu membungkuk hingga sejajar dengan Taeyeon. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Taeyein yang meremas rambut abu-abu Chanyeol dengan gemas. Memang menurut Taeyeon dia hanya gemas, namun bagi Chanyeol itu sangat menyiksa karena Taeyeon tidak sadar bahwa telah menarik rambutnya dengan sedikit kasar. Sementara Sehun yang melihat raut kesakitan Chanyeol walau pria itu tengah menunduk hanya menyeringai setan karena adiknya yang terlampau polos hingga tak sadar telah menyakiti Chanyeol.

“Aigoo oppa, aku benar-benar gemas dengan warna rambutmu. Jika Sehun oppa sudah mengijinkannya, aku akan benar-benar mewarnai rambutku seperti ini.”

Sehun tersenyum saat mendengar pernyataan Taeyeon tadi. Dari kata-katanya, seolah Taeyeon tak akan melakukan sesuatu tanpa ijin dari Sehun. Dan itu menyenangkan.

“A-ah… ne.” Jawab Chanyeol susah payah.

Taeyeon melepas rambut Chanyeol dan membiarkan pria itu kembali berdiri dengan tegap.

“Sehun oppa dan ChanIdiot oppa tunggu di ruang tengah saja ne. Aku akan mengambilkan minum dulu.” Ucap Taeyeon sambil mengambi tas dan jaket Sehun yang tadi disampirkan di bahu kanan pria itu.

Taeyeon tersenyum lebar sebelum meninggalkan dua pria itu dengan membawa tas dan jaket Sehun.

Sehun memandang sekilas pada Chanyeol dan mulai melangkah. “Kajja!!”

Chanyeol masih terdiam ditempatnya saat memandangi interaksi antara Sehun dan Taeyeon. Bagaimana Taeyeon tadi yang menyambut Sehun dan mengambil alih tas serta jaketnya membuat Chanyeol sedikit bingung. Mungkin akan masuk akal jika Sehun yang meminta tolong pada Taeyeon agar membawakan jaket dan tasnya, namun tadi Taeyeon dengan inisiatifnya sendiri membawa jaket dan tas Sehun. Chanyeol rasa interaksi keduanya benar-benar melampaui batas hubungan saudara. Chanyeol sebelumnya memang sudah pernah melihat interaksi antara Sehun dan Taeyeon, tetapi saat itu belum sejauh ini. Tetapi sekarang.?..

“Kenapa tingkah mereka justru seperti sepasang suami istri.?”

Taeyeon keluar dari dapur sembari membawa dua gelas minuman untuk Sehun dan Chanyeol. Gadis itu segera meletakkan minuman tadi pada meja yang ada dihadapan dua pria itu. Setelahnya, Taeyeon menempatkan diri duduk diantara Sehun dan Chanyeol.

“Silahkan diminum oppa.” Ramah Taeyeon dan tersenyum kearah Chanyeol.

“Gomawo Taeyeon-ah.” Balas Chanyeol dan mulai meminum minuman yang dibawa Taeyeon.

Taeyeon tersenyum dan mengalihkan tatapannya kepada Sehun.

“Oppa, bagaimana tadi ujiannya.?”

“Lumayan, tak sesulit yang oppa bayangkan. Kau sendiri.?”

“Ada beberapa yang kurang kumengerti.” Ungkap Taeyeon sedih.

“Lain kali, kau harus belajar lebih giat lagi.” Sehun menyemangati Taeyeon dan mengusap puncak kepala Taeyeon.

“Ahh, apa Chan oppa juga masuk di universitas yang sama dengan Sehun oppa.?” Tanya Taeyeon dan menatap Chanyeol.

Chanyeol hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana ujiannya.?”

“Sulit.” Jawab Chanyeol cepat.

“Itu akibatnya jika tak belajar.” Sambar Sehun tiba-tiba.

“Aku belajar Oh.”

Sehun memutar bola matanya malas dengan jawaban Chanyeol.

“Ulanganmu sampai kapan.?” Tanya Sehun masih dengan memainkan rambut Taeyeon.

“Dua minggu.” Jawab Taeyeon dan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa.

“Oppa, tumben sekali kau kesini, ada apa.?” Tanya Taeyeon dan menarik-narik lengan kemeja Chanyeol.

“Hanya ingin bermain.”

Jawaban Chanyeol hanya dibalas anggukan oleh Taeyeon. Gadis itu kini terlihat menguap dengan mata memerah dan berkaca-kaca.

“Yasudah, aku tinggal dulu ne. Aku ngantuk.” Pamit Taeyeon.

Sehun dan Chanyeol mengangguk bersamaan. Taeyeon segera beranjak menuju kamarnya untuk tidur siang. Sebenarnya tidak setiap hari Taeyeon tidur siang, gadis itu hanya akan tidur siang jika sedang kelelahan atau sedang banyak pikiran.

“Aku bisa melihatnya.” Ucap Chanyeol tiba-tiba.

“Apa.?” Tanya Sehun dan menatap Chanyeol.

“Kau, kau terlihat seperti orang yang tengah jatuh cinta. Dan kabar buruknya adalah orang yang kau cintai adalah adikmu sendiri. Oh my God, semoga Tuhan segera menyadarkanmu.” Ucap Chanyeol sambil mendongak seperti seorang yang tengah berdo’a.

Sehun menyeringai, “Apakah terlihat jelas jika aku mencintainya.?”

“Sangat.” Jawab Chanyeol tanpa pikir panjang.

“Bagus, dengan begitu Taeyeon akan segera mengetahui perasaanku, dan tak akan ada lagi namja yang akan mendekati Taeyeon.” Seringai Sehun semakin lebar.

Chanyeol melongo mendengarnya. Pria itu mendesah frustasi dan berkata, “Astaga, aku bisa gila.”

Taeyeon keluar dari kamarnya setelah menyelesaikan acara belajarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan seharusnya Taeyeon sudah tidur, tetapi gadis itu mendengar televisi diruang keluarga masih menyela, dan itu berarti Sehun belum tidur. Dan benar saja, Sehun saat ini tengah duduk dibawah dengan menyandar pada sofa dan pandangan lurus kearah televisi.

Taeyeon ikut duduk dibawah disamping Sehun. Sehun yang menyadari kehadiran Taeyeon segera menolehkan kepalanya dan menatap adiknya.

“Kenapa belum tidur.?” Tanya Sehun dan menatap intens pada Taeyeon.

“Oppa juga belum tidur.”

Sehun merentangka kedua tangannya bermaksud memeluk Taeyeon, tetapi gadis itu justru beringsut mendur agar Sehun tak bisa memeluknya. Taeyeon ingat dengan perkataan Yura tadi siang yang mengatakan bahwa dirinya terlalu manja. Maka dari itu, Taeyeon ingin menanyakannya pada Sehun.

“Kenapa.? Apa kau sakit.?” Tanya Sehun sarat akan kekhawatiran.

“Tadi siang Yura eonni kesini.” Jawab Taeyeon pelan.

Tatapan Sehun berubah dingin, pria itu mematikan televisi dan kembali menatap Taeyeon.

“Untuk apa.?”

“Yara eonni bilang dia ingin bertemu oppa, tetapi saat itu oppa belum pulang.”

“Lalu.?”

“Lalu.. emm.. Yura eonni mengatakan aku terlalu manja pada oppa. Yura eonni juga mengatakan perhatian oppa kepada Yura eonni terbagi karena aku yang terlalu manja pada oppa. Apa itu benar.?” Tanya Taeyeon dengan suara yang benar-benar lirih.

Sehun mengencangkan rahangnya. Selalu, Yura selalu saja membuat masalah dan mengarang-ngarang cerita. Sehun sendiri heran kenapa Yura selalu membuat masalah. Masalah yang tidak ada menjadi ada karena Yura. Gadis itu terlalu terobsesi pada dirinya. Dan Sehun tak menyukai hal itu.

“Kemari.!” Pinta Sehun dan merentangkan dua tangannya agar Taeyeon memeluknya.

Taeyeon menggeleng sambil menunduk. Gadis itu bisa mendengar Sehun menggeram marah. Taeyeon tau, Sehun akan marah jika dirinya membicarakan Yura, tetapi bagaimanapun Taeyeon harus membicarakan hal ini dengan Sehun. Jika Sehun menjawab bahwa dirinya memang terlalu manja, maka Taeyeon akan berusaha bersikap dewasa. Walau itu akan sulit nantinya karena Taeyeon sudah biasa dimanjakan.

“Dengar Taeyeon!! Kau memang manja, tetapi itu masih dikadar normal karena aku sendiri yang memanjakanmu, bukan kau yang merengek minta dimanjakan. Lagipula aku senang dengan semua itu, aku senang jika kau bersikap manja padaku, itu berarti kau percaya dan bergantung padaku. Dan satu lagi, jangan pernah mendengar apapun yang dikatakan Yura, dia bukan kekasihku yang berhak bicara seperti itu, dan jika perlu jangan sampai kau bertemu lagi dengannya.” Ucap Sehun tegas.

Taeyeon tertegun. Sehun menyebut namanya, itu berarti pria itu benar-bebar marah, dan fakta ini membuat Taeyeon ketakutan. Sehun sangat jarang marah pada dirinya, atau bahkan hampir tak pernah marah, tetapi jika sekali marah, pria itu akan sangat menyeramkan dan tak akan bermain-main dengan ucapannya.

Taeyeon mengangkat wajahnya perlahan dan menatap takut pada Sehun.

“Oppa..” Panggilnya lirih.

Sehun menghela nafas dan menarik Taeyeon dalan pelukannya.

“Maafkan oppa Princess. Oppa kelepasan, oppa hanya tak suka jika kau membicarakan tentang Yura, apalagi jika kau mulai terpengaruh dengan ucapan yeoja itu. Dan jangan pernah berpikir untuk berubah, oppa akan sangat kecewa jika kau berubah karena ucapan Yura. Apapun yang diucapkan Yura, itu sama sekali tak mempengaruhi oppa.”

Sehun mengusap punggung Taeyeon dengan sayang. Taeyeon sangat berharga untuk dirinya, dan Sehun sangat menyesal telah berbicara dengan nada tajam pada Taeyeon tadi. Dan percayalah, ini semua berawal dari Yura, setelah ini Sehun bisa dipastikan semakin membenci Yura.

“Maafkan aku oppa.” Lirih Taeyeon dalam dekapan Sehun.

“Gwenchana. Sekarang tidur ne.”

Taeyeon mendongak dan menatap Sehun dengan manja.

“Dengan oppa ne~”

Sehun terkekeh dan mengusap puncak kepala Taeyeon.

“Apa kau sedang menggoda oppa.?” Tanya Sehun dengan seringaian tipis yang tidak kentara.

“Tidak, aku hanya ingin tidur dengan oppa, bukan menggoda oppa.” Jawab Taeyeon dan menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, baiklah. Kajja tidur.” Ucap Sehun sambil melepas pelukannya dengan Taeyeon dan beranjak.

Sehun menatap Taeyeon dengan heran. Pasalnya gadis itu masih duduk ditempat yang sama. Sehun memberikan tatapan seolah bertanya.

“Gendong~” Manja Taeyeon dan merentangkan kedua tangannya.

“Oh astaga, oppa seret saja mau.?”

“Oppa~”

Tawa Sehun menggelegar dimalam yang sepi itu. Setelah bisa mengontrol tawanya, Sehun kembali menatap Taeyeon yang juga tengah menatapnya dengan kesal.

“Baiklah, oppa gendong.”

Sehun segera mengangkat Taeyeon ala bridal dan membawanya kekamar diiringi pekikan senang dari Taeyeon.

To be continued…

Annyeong readers^^
Chap 2 is up….
How.? How.?

Okay, disini Taeyeon emang aku buat super manja ya, terlebih pada Sehun. Jadi jangan heran kalo sikap Taeyeon kaya gitu.

Dan mungkin akan ada chapter yang mau aku protect. Trus pw nya cuma aku kasih ke readers yang rajin komen dari teaser sampe chap akhir nanti. Jadi komen trus ya…

See you ^^

Advertisements

183 comments on “[FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 2)

  1. Taeyeon polos banget ya … Taeyeon suka sama Luhan tapi Luhan masihh gak tahu sama perasaannya … kasian Taeyeon.. udah sama Sehun aja Tae… ihh sebel sama Yura dan Krystal, ngapain coba… cewek-cewek ini haha… next thor

  2. Pingback: [FREELANCE] Forbodden Love (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. okefix awalnya aku dukung pairing lutae di ff ini dan skrg aku lebih condong ke huntae -.-
    luhan jahatttt kasian kan taeyeon :’
    aduduhhh ngebayangin taeyeon digendong sehun jd mimisan sendiri *Q* lanjutttt

  4. โ€œMaaf sunbae, bisakah kau melepas Taeyeon
    sekarang untuk sekolah. Taeyeon disini untuk
    sekolah, bukan untuk kau peluk.โ€ Suara Luhan
    terdengar dari belakang Taeyeon. dr nada bicara luhan sihh keliatan kalo luhan cinta ama taeng tpi belom menyadari….wahhhh HunTae soswett bgt kayak suami istriiii….krystal n yura menyebalkan. wahhhh suka dehhh ama karakter taeyeon yg polos,manja..ketawa guahh waktu afegan dimana taeng menarik rambut chan oppa…dapet bgt feel dr ff ini….thor aku lanjutin bacanya nde??? ehh sebentar, luhan ama si yeoja ngapain d toilet??? jangan2………ahhh syudahlahhh…aku next k part 3

  5. Pingback: [FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. Kasihan taeyeon sakit hati karena lihat luhat bersama hayoung, ๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜—
    Kasihan juga luhan terlambat mengetahui bahwa taeyeon menyukainya..๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”
    Ciee ciee sehun ,, Cinta sama adiknya sendiri ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„
    Chapter 2 makin seru aja,, & konfliknya bikin gemes ..
    Fightaeng saeng โœŠ

  7. Keren thor!
    tingkah mereka justru seperti sepasang suami istri.? Setuju banget sama ni Chanyeol
    Next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s