Habits – Stay High [Oneshot]

HABITS – STAY HIGH by Scarlettkid

1241_f9fe

Rating

PG-15

Main cast

Taeyeon (SNSD)

Supporting Cast

Baekhyun & Chen EXO | Youngji (Kara) | Nana (After School)

Desclaimer

The story is 100% mine. Kalau ngambil tanpa seizin Author, artinya plagiator! Hapus plagiator No silent reader, hargai karya Author dengan comment but no bashing! Cast bukan milik saya melainkan Tuhan Yang Maha Esa dan Orang tua mereka masing-masing serta entertainment mereka. Sorry for bad story, I’m just newbie.

ATTENTION!

Pernah dipost di blog pribadi dan blog sebelah dengan main cast Sunny

———————————————–

Sial.

Bunyi alarm yang keras membangunkanku dari tidur. Aku tidak percaya aku harus segera bangkit dan menjalani hari-hari yang menyedihkan. Aku langsung saja mengambil alarm itu dengan tangan kiriku dan melemparnya ke tembok. Bunyinya langsung berhenti menandakan alarm itu sudah tidak bisa digunakan lagi. Begini lebih baik.

“Haaah.” Gumamku lalu menatap kamarku yang belum aku rapikan. Aku selalu menanamkan pada otakku bahwa aku harus membersihkannya suatu hari tapi entah kenapa aku selalu lupa. Aku bahkan lupa apa saja yang aku lakukan kemarin atau tadi malam.

Berpikir tentang tadi malam, isi pertuku langsung menari dan membuatku segera berlari ke kamar mandi. Aku langsung berlari secepat mungkin sebelum isi perutku sampai ke kerongkongan dan begitu tiba di kamar mandi aku langsung membuka kloset dan memuntahkannya. Cairan abu-abu yang entah kenapa bisa sampai di perutku dan memaksa keluar.

“Jam berapa sekarang?” ucapku pelan lalu keluar dari kamar mandi dan mendapati waktu menunjukkan pukul 8 pagi lewat 5 menit. “Orang sialan. Ia menyuruhku bangun sepagi ini?” Langsung saja aku membersihkan diri, memakai baju santai dan berdandan secantik mungkin. Tapi semakin aku memoleskan kosmetik ke wajahku, aku terlihat semakin mengerikan. Akhirnya aku menghapus beberapa riasan dan membiarkan wajahku dihiasi eyeliner, blush on, dan lipstick.

Dan terakhir, aku mengacak-acak rambutku. Lalu menjempitnya. Tapi aku tidak bisa menjepit rambutku dengan rapi jadi aku memotong semua ujung rambut yang membentuk tidak sesuai dengan keinginanku. Aku hanya bisa berharap aku terlihat segar.

Bel apartmenku berbunyi dan aku langsung berlari untuk mengetahui siapa yang datang sepagi ini. Oh ya, yang datang adalah si sialan. Dia bicara lewat microphone dan menyapaku, “Selamat pagi.”

Aku langsung membukakan pintu dan si sialan memelukku dengan erat. “Baekhyun. Lepaskan.”

“Tidak mau.”

“Aku bilang lepaskan!” seruku lalu mendorongnya jauh. “Bagaimana kalau sampai ada yang lihat?”

Baekhyun si sialan tersenyum. “Tidak akan. Apa aku terlihat seperti ‘orang itu’ bagimu? Atau apa kita terlihat sebagai sepasang kekasih jika kita berpelukan?”

“Bukankah sudah aku bilang jangan pernah menyentuhku?” sahutku sambil mengambil handphone dan beberapa uang lalu memasukannya ke saku celanaku.

“Apa alarmmu berfungsi dengan baik?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Tadinya. Sekarang tidak.” Jawabku cepat lalu menarik tangannya. “Ayo kita pergi.”

Jalanan Seoul di pagi hari tidak bisa dibilang ramai atau sepi. Berbagai orang melaluiku dan Baekhyun tapi orang-orang itu langsung menutup hidung mereka begitu melalui Baekhyun. Sudah berapa hari ia tidak mandi? Menjijikkan. Apa dia menghabiskan sepanjang malam di klub?

“Taeyeon-ah, kau selalu cepat.” Serunya. “Kita harus mengisi perut!”

“Aku tidak ingin makan. Aku memuntahkan isi perutku tadi pagi.” Jawabku cepat lalu aku bisa mendengar siulan Baekhyun.

“Lalu kita akan ke mana?” tanyanya dengan nada santai.

“Kita akan menjemput Nana.”

Nana adalah adik kelasku di sekolah sekaligus temanku yang menampung semua isi hatiku. Aku menceritakan segalanya pada Nana, begitu juga sebaliknya. Hanya aku dan beberapa orang yang mengetahui rahasia besar Nana.

Nana adalah pemberi saran yang terkadang baik dan terkadang buruk. Baiknya, dia bisa menghibur orang dengan kecantikannya. Buruknya, dia menghibur orang dengan cara yang terlalu realistis.

Saat aku dan Baekhyun tiba di apartmennya, Nana sudah siap dengan pakaian serba hitam yang cukup santai tapi bisa dibilang sexy. “Tebak barusan apa yang aku lakukan.”

“Kau memuntahkan isi perutmu.” Jawabku cepat lalu Nana memberikan isyarat berupa aku hampir menebaknya dengan benar. “Apa?”

“Aku memuntahkan isi perutku ke uang yang semalam aku terima. Aku tidak bisa menggunakan uang itu hari ini karena aku tidak bisa mengeringkan uang dengan cepat.” Jelasnya lalu berdiri di sebelahku dan menutup pintu apartmennya.

“Itu artinya nanti malam kau harus mencari uang lagi.” Jawab Baekhyun santai lalu Nana mengangguk. “Ooh, kita akan melihat sesuatu yang panas malam ini.”

“Diam, Baekhyun oppa.” Jawab Nana lalu merangkulku. “Sekarang kita ke mana? Aku tidak ingin makan apapun hingga nanti malam jadi sebaiknya kita bermain.”

Akhirnya setelah berdebat sedikit, kami bertiga memutuskan untuk bermain billiard di salah satu game centre di Seoul. Nana bisa bermain billiard dengan baik, aku bahkan sempat heran dari mana dia belajar semua itu. Maksudku, dia bisa memposisikan tubuhnya dengan baik serta mengendalikan tenaganya.

Sedangkan Baekhyun, dia sama sekali tidak bisa bermain billiard. Menyusun bola billiard dengan rapi saja ia tidak bisa. Kadang aku merasa semua perempuan di dunia ini benar-benar punya otak karena Baekhyun bukanlah laki-laki yang pantas untuk dijadikan pacar. Kenapa? Karena dia payah.

Aku membuka ponselku dan memastikan apa ada pesan yang masuk atau tidak. Tapi ternyata tidak ada pesan yang masuk. Aku hanya bisa menggeleng dan berpikir, apa yang aku tunggu? Dia tidak akan pernah menghubungiku lagi.

“Taeyeon-ah.” Panggil Nana lalu aku menaikkan salah kedua alisku. “Bisa belikan minum dan rokok di lantai bawah?”

“Untukku juga.” Sahut Baekhyun lalu aku hanya mengangguk.

Aku menuruni tangga dan mendapati mesin minuman di pojok koridor. Aku memasukkan 3 koin dan mendapat 3 lemonade kaleng di tanganku. Saat aku baru saja mau membeli rokok, aku melihat Youngji, dengan rambutnya dikuncir dua, menghampiriku.

“Taeyeon-ah, apa Nana ada di atas?” tanyanya lalu aku mengangguk. Pasti Nana yang menyuruh Yongji untuk datang kemari.

Youngji adalah adik kelas, yang lebih muda dari Nana. Aku mengenal Youngji sebelum Nana karena kakak Youngji adalah teman seangkatanku. Aku yang mengenalkan Youngji ke Nana.

Youngji adalah orang yang tidak pernah sedih, mengeluh, ataupun susah. Baekhyun sering mendeskripsikan Youngji sebagai orang beruntung tapi aku tidak bisa berkata bahwa Youngji beruntung. Kenapa? Karena dia menjalin hubungan dengan Nana. Kau pasti tahu maksudku.

“Ayo naik.” Ujarku lalu Youngji mengangguk dan mengikutiku ke tempat Nana dan Baekhyun sedang bermain billiard. Aku heran mengapa mereka masih bermain jika Nana pasti menang dan Baekhyun pasti jadi pecundang.

“Youngji!” seru Nana lalu melempar stik billiardnya dan mencium Youngji di bibir. “Kau datang!”

“Tentu saja!” sahutnya.

Selanjutnya Nana menghampiriku, mengambil lemonade dan rokok dari tanganku lalu menciumku di pipi yang nyaris mengenai bibir. “Thanks. Malam ini aku yang akan bayar.”

“Malam ini kau akan ke tempat itu lagi?” tanya Youngji lalu Nana mengangguk. “Bukankah tempat itu berbahaya?”

“Youngji, aku sudah bilang kalau aku melakukan ini demi kita.” Ujar Nana, mengambil sebatang rokok, memasukkan sisanya ke saku lalu menghampiri Youngji dan menciumnya di bibir lagi. “Kita sudah membicarakan ini ratusan kali.”

“Kalau begitu bicarakan denganku sekali lagi.”

Jadi dimulailah Nana menceritakan insiden muntah di atas uang yang tidak mengejutkan Youngji sedetikpun lalu dilanjutkan dengan pembahasan cita-cita mereka. Setelah mereka mempunyai uang yang cukup untuk membeli rumah, mobil, dan beberapa anak anjing, mereka akan menghadap kedua orang tua mereka dan menyatakan pernikahan mereka.

“Aku mengerti. Hanya saja, berhati-hatilah.” Ujar Youngji lalu Nanan mengangguk.

“Sudah hampir sore. Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat.” Ujar Baekhyun.

“Waktu terasa lambat bagiku karena sedari tadi aku memperhatikan kalian berdua bermain.” Sahutku cepat lalu Baekhyun tersenyum.

“Aku akan mentraktir kalian dimsum.” Ujar Youngji lalu tersenyum. “Nah, ayo ikut aku!”

Karena tidak satupun dari kami membawa uang –uangku sudah habis aku pakai untuk membeli rokok, lemonade, dan membayar biaya bermain billiard—sementara Youngji menyimpan uangnya untuk membelikan kami dimsum, akhirnya kami berjalan dari tempat billiard ke China Town yang memakan waktu hampir 40 menit.

Restoran dimsum tidak bisa dibilang ramai atau sepi. Restoran dimsum tidak selalu menjadi favorit para warga Seoul tapi selalu jadi favorit Baekhyun. Bulu kudukku berdiri dan aku langsung berpikir untuk melihat handphoneku. Aku tahu berdirinya buluku dengan melihat handphone tidak ada hubungannya tapi langsung saja aku berkata, “aku akan makan apa saja. Aku keluar sebentar.”

Begitu di luar –dan udaranya cukup dingin—aku melihat handphone dan sebelumnya aku berdoa, berharap ada pesan dari dia tapi nyatanya tidak ada. Aku ingin sekali membanting handphoneku sampai aku melihat sosoknya di seberang jalan. Baru saja aku ingin memanggilnya, ia sudah menyebrang dan jarak kami menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

“Taeyeon?” tanyanya membuatku memejamkan mata. “Kau Taeyeon, bukan?”

“Pacarmu, Chen?” tanya laki-laki di sebelahnya lalu Chen menggeleng pelan. Lebih tepatnya mantan, gumamku dalam hati.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya lalu aku hanya menunjuk restoran dimsum di belakangku. Langsung saja Chen melepas jaketnya dan memakaikannya padaku. “Di luar dingin, bodoh.”

“Ti, tidak usah…” ucapku gugup. “Di dalam hangat kok.”

“Tapi sepanjang perjalanan pulang nanti kau akan kedinginan.” Jawabnya lalu mengancingkan jaketnya perlahan.

“Hei, Chen. Kita bisa terlambat!” seru temannya lalu Chen mundur beberapa langkah.

“Aku pergi dulu. Tidak usah kau kembalikan.” Ujarnya lalu menyusul temannya yang sudah berjalan lebih dahulu. Aku hanya bisa melihat kepergian mereka berdua hingga aku bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.

“Kau kok tahan sama perempuan itu?”

“Kenapa?” tanya suara Chen, benar-benar khas.

“Dia bau alkohol, tahu!”

Akhirnya aku memasuki restoran dimsum sekali lagi dan berharap tidak ada yang bertanya dari mana aku mendapat jaket ini. Rupanya tidak ada yang terlalu memperhatikan, jadi akhirnya aku kembali duduk di tempat sebelumnya aku duduk dan menyantap dimsum yang ada di depan mataku.

Kami keluar dari restoran dimsum jam 8 malam dan sesuai janjinya, Youngji membayari kami semua. Kini kami berempat benar-benar dalam keadaan tanpa uang. Dan karena tidak satupun dari kami mempunyai uang, akhirnya Nana langsung berkata, “Sepertinya malam ini kita harus ke klub lebih awal. Yah, baguslah karena malam ini aku akan mendapatkan uang lebih banyak daripada biasanya.”

“Aku masih punya pekerjaan.” Jawabku lalu Nana mengangguk.

“Kau boleh menyusul aku, Baekhyun, dan Youngji setelah pekerjaanmu selesai.” Sahut Nana. Akhirnya aku memisahkan diri dari mereka bertiga dan berjalan menuju penampungan lansia di dekat China Town tempat aku bekerja jika aku sedang kehabisan uang.

“Taeyeon-ssi!” seru salah satu perawat menyambutku. “Aku memang berharap kau akan datang malam ini.”

“Ada yang bisa aku bantu?” tanyaku cepat. Aku tahu kali ini aku datang lebih terlambat dari biasanya aku membantu di sini.

“Kau bisa mengantar pulang Mr. Kim yang sedang membaca koran di ruang 04.” Jawab perawat itu lalu aku mengangguk. Aku segera menuju ruang 04 dan mendapati seorang kakek yang memasang tag bertuliskan ‘Mr.Kim umur 78’ di sweaternya.

“Selamat malam, saya Taeyeon. Karena sepertinya anda tidak ada yang menjemput, saya akan mengantar anda pulang. Tolong sebutkan alamat anda.” Ujarku, lancar seperti biasanya.

Aku paham bahasa isyarat jadi aku langsung mengangguk begitu kakek itu memberitahuku alamat rumahnya. Jaraknya tidak jauh, dan bisa dibilang dekat. Rasanya menyedihkan orang ini dilupakan oleh keluarganya. Tidak ada satupun anggota keluarganya yang datang menjemput.

Dan seperti biasa ada ritual sebelum mengantar pulang. Mulai dari kembalikan koran yang sebelumnya ia baca ke tempat semula, menggoyangkan kursinya hingga ia menyuruhku untuk berhenti, dan membantunya mengemas barang-barangnya sebelum meninggalkan penampungan lansia.

Kakek tersebut berjalan menggunakan tongkat sementara aku membawakan barang-barangnya dan melindunginya dari samping. Begitu tiba di rumahnya, aku tidak bisa untuk tidak terkejut karena aku tahu rumah siapa ini.

“Um, kakek… Apa ada orang di dalam rumah?” tanyaku lalu kakek tersebut menggeleng. Aku sebenarnya ingin segera meninggalkan tempat ini tapi sepertinya tidak bisa. Aku harus menunggu salah satu anggota keluarga tiba di rumah ini.

Mobil hitam berhenti di depan rumah sang kakek. Dan yang tiba ternyata adalah cucunya sendiri. “Kakek!” serunya lalu aku menundukkan kepala. “Maaf, kakek sampai harus pulang sendiri. Tempatku kerja sambilan sedang ramai jadi…”

Sang kakek menganggukan kepala membuat Chen bernapas lega. Chen mengalihkan pandangan padaku lalu berkata, “Bisa kau temani beliau sebentar lagi? Aku hanya harus memasukkan mobil ke dalam bagasi.”

Aku mengangguk lalu Chen bergegas menuju mobilnya dan memarikirnya dengan sempurna. Aku hanya bisa terdiam saat Chen membantu kakeknya masuk ke dalam rumah dan mengangkut barang-barang kakeknya dengan cepat. Aku bisa mendengar bunyi penghangat dinyalakan, bunyi kopi dituangkan dan bunyi radio yang cukup keras.

Chen keluar dari rumah setelah semuanya beres lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya padaku. “Tak kusangka kau masih bekerja di sana.”

“Kau juga.” Jawabku. “Apa kau mendapat murid yang cukup pandai?”

“Aku harus mengajarnya sampai ia menjadi pandai.” Jawabnya cepat lalu aku mengangguk. “Aku benar-benar bersyukur kau yang mengantar kakek ke rumah. Terima kasih. Selamat malam.”

Saat Chen hendak menutup pintu, aku langsung berseru, “Aku akan kembalikan jaketmu.”

“Tidak perlu.” Jawabnya cepat. “Kembalikan saja jika kita bertemu lagi.” Aku hanya bisa berpikir, tentu saja kita akan bertemu lagi, tapi aku tidak tahu apakah aku akan mengenakan jaket ini pada saat kita bertemu lagi.

Akhirnya aku berjalan kaki menuju klub dengan udara yang cukup dingin. Kedinginan ini membuatku bersyukur aku tidak jadi mengembalikan jaket pada Chen. Aku pasti mati membeku jika tidak mengenakan jaketnya.

Saat aku baru saja mau memasuki klub, ponselku bergetar, membuatku terpaksa merogoh sakuku dan melihat pesan yang masuk. Betapa terkejutnya aku saat mengetahu satu pesan masuk itu berasal dari Chen.

Hanya satu kalimat yang tertulis, singkat dan padat: Selamat ulang tahun.

Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak keluar dan aku terpaksa memasuki ruang klub dengan air mata membanjiri wajahku. Aku bahkan sampai tidak sadar semua yang berada di ruangan itu menyoraki kedatanganku.

“Taeyeon, aku rindu padamu!”

“Taeyeon, aku kira kau tidak akan datang!”

“Taeyeon, buka jaketmu dan biarkan aku melihat pakaian apa yang kau pakai hari ini!”

Dan selanjutnya berjalan tanpa sepengetahuanku. Aku membuka jaket Chen dan meletakannya entah di mana lalu melakukan semua hal yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan. Sebelum berpisah dengannya, aku selalu berpikir bahwa klub adalah tempat yang menjijikkan. Tapi sekarang aku sendiri berada di klub. Dengan semua laki-laki menyentuh bagian tubuhku dan berebutan untuk mencium bibirku, meminumkan alkohol padaku secara paksa dan yang kudapatkan adalah mereka menyelipkan beberapa uang di pakaian dalamku.

“Terima kasih, Taeyeon.” Ujar salah satu laki-laki yang menurutku pelanggan terakhir dan ia menjilat air mata yang ada di wajahku. Aku langsung berlari ke toilet klub dan menangis tidak bisa berhenti.

Tiba-tiba pintu terbuka dan aku melihat sosok Nana dengan pakaian panggungnya, terkesiap, “Taeyeon! Ada apa denganmu?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau jelas tidak baik-baik saja—“

“TIDAK! Aku baik-baik saja. Ini hanya air mata palsu. Kau tahu, agar aku terlihat lemas dan menyedihkan sehingga orang-orang akan lebih ganas dan memberiku uang lebih…”

Nana terlihat lega lalu bertepuk tangan kecil. Ia menciumku di bibir kemudian berkata, “Seperti biasa kau jenius, Taeyeon. Malam ini kita akan panen besar.”

Aku mengangguk dan bisa melihat Nana segera menjauh. Dan yang datang selanjutnya adalah Baekhyun dengan bando telinga kelincinya dan celana hitamnya. Lalu jangan lupakan bagian atas tubuhnya yang tidak tertutupi, menunjukkan otot perutnya dengan sangat jelas.

“Kau jelas berbohong soal air mata palsu.” Sahutnya lalu memelukku.

“Kau jelas berbohong soal kau tidak akan pernah menyentuhku.” Lanjutku tak mau kalah. Baekhyun menarik diri lalu menatapku serius.

“Dengar. Kau tidak perlu mengalami hal seperti ini lagi. Sebagai temanmu dari kecil, aku tahu semua sifatmu. Dan aku ingin memberitahumu bahwa laki-laki di dunia ini tidak hanya Chen!” serunya membuat air mataku mengalir lebih deras lagi.

“Kau jelas menjadi kacau dan gila setelah ia memutuskanmu. Aku tak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua tapi kau terlalu kacau sehingga berpikir tempat ini akan menghiburmu. Kau salah.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanyaku putus asa. “Kau tahu, aku tidak bisa dan tidak ingin pulang sendirian tiap malam sementara kalian mencari uang. Aku perlu seseorang untuk menampung rasa sedihku, aku—“

“Tapi kau tidak harus melakukannya dengan cara seperti ini!” seru Baekhyun lebih keras lagi lalu menggenggam tanganku. “Pacaranlah denganku. Dengan begitu kau tidak perlu melakukan pekerjaan semacam ini lagi. Aku janji akan membuatmu bahagia dan membuatmu melupakan Kim Jong Dae itu. Mengerti?”

“Entahlah, aku takut menjalin hubungan dengan laki-laki—“

“Kau tidak boleh berakhir seperti Nana.” Baekhyun mengingatkanku pada saat Nana mendatangi apartmenku dan bercerita tentang laki-laki yang sudah jadi pacarnya selama satu tahun lebih memutuskannya karena menganggap Nana terlalu easy-going. Nana akhirnya benar-benar marah dan sifatnya berubah. Sifatnya yang berubah itu membuat dirinya tidak mendapatkan pacar idamannya dengan mudah sampai ia bertemu dengan Youngji dan memutuskan untuk memacarinya dan anehnya Youngji menerimanya dengan senang hati. Dan mereka berdua sangat bahagia saat ini tapi aku tahu bahwa mereka sekaligus menjijikkan.

Aku terisak-isak dan hanya bisa berkata, “Jadi?”

“Jadi lupakan laki-laki bernama Chen. Anggap saja ia tidak pernah hadir dalam hidupmu. Dan terima aku apa adanya, jawab pernyataan cintaku.”

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”

“Kau boleh menjawabnya besok.” Tidak mungkin, pikirku dalam hati. Besok pagi aku akan bangun dalam keadaan lupa apa yang terjadi hari ini ataupun malam ini. Baekhyun menyelipkan alarm di sakuku. “Aku sudah membelikanmu jam weker dan menyetelnya. Besok pagi aku akan menjemputmu.”

Dan membuat hari seperti ini terulang lagi, pikirku. Baekhyun membantuku berdiri karena aku tidak bisa bangkit, apalagi berdiri tegak. “Pulanglah.” Baekhyun menciumku di bibir, rutinitas yang sepertinya ia lakukan setiap malam lalu berkata, “Aku mencintaimu.”

Jalanan terlihat sebagai satu warna di mataku. Aku hanya bisa mengeluh dalam hati bahwa aku ingin pulang secepat mungkin. Tapi rasanya menyedihkan jika berpikir aku menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk menempuh jarak sekitar satu kilometer.

Aku tiba di apartmenku saat waktu menunjukkan pukul 5 pagi. Aku tidak membersihkan riasanku –sebagian luntur karena ulah para penjilat—dan membaringkan tubuh di kasur. Aku bisa merasakan sesuatu yang keras di sakuku dan begitu menyadari ada jam weker, aku langsung meletakkannya sedekat mungkin dengan telingaku. Aku juga teringat akan puluhan lembar uang yang terselip di pakaian dalamku dan akhirnya mengeluarkan semua itu dan melemparnya sembarangan. Lalu aku masuk dalam dunia mimpi.

Aku bisa mendapati diriku sedang berada depan sebuah kue tart dengan lilin menyala sedangkan dihadapanku ada Kim Jong Dae seorang. Aku meniup lilin itu pelan lalu kami berdua bertepuk tangan seirama.

“Apa kau tahu selama kita pacaran, kita sudah merayakan ulang tahunmu berapa kali?” tanya Chen sambil tersenyum.

“Tiga!” jawabku cepat lalu memotong kue perlahan.

“Apa kau tahu arti angka tiga dalam sebuah hubungan?” tanya Chen kembali tapi kali ini aku menggeleng. “Dalam sebuah hubungan, ada beberapa tingkat kemajuan. Satu, bergandengan tangan. Dua, memeluk atau merangkul. Apa kau tahu yang ketiga?”

“Tidak.” Jawabku cepat lalu dengan cepat juga, Chen menciumku di bibir, sangat lama sampai aku merasa ingin menghentikan waktu sekarang juga.

Kiss.” Jawab Chen membuat senyumanku mengembang lebih lebar dari biasanya. Saat itu aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Chen. Mungkin aku akan merana dan menjadi orang yang benar-benar berbeda.

Dan dalam keadaan seperti itu aku hanya bisa berkata, “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.” Jawabnya dan tidak ada keraguan sedikitpun terdengar dari nada bicaranya. Ia benar-benar sempurna untukku dan untuk dirinya sendiri.

Sial.

Bunyi alarm yang keras membangunkanku dari tidur. Aku tidak percaya aku harus segera bangkit dan menjalani hari-hari yang menyedihkan.

Lagi.

HABITS (STAY HIGH)

Song and story inspired from Tove Lo’s single with the same title

Lagu dan cerita terinspirasi dari singel Tove Lo dengan judul yang sama

THE END

———————————————–

Annyeonghaseyo, scarlettkid di sini. Ya ampun aku bingung mau ngomong apaaa… Pertama-tama aku ucapkan terima kasih untuk Admin Nadia yang sudah menerimaku sebagai author tetap di sini. Aku berjanji mulai sekarang akan membuat FF yang bagus untuk para penggemar Taeyeon~

                Lalu yang kedua, aku minta maaf karena baru post FF sekarang padahal pengumuman author baru sudah ada dari tanggal 22 Juni kemarin. Dan maaf kalau aku post FF seperti ini di saat kalian sedang puasa… Aku non-muslim sih 😦 Oh ya apa FF ini kepanjangan -_-?

 Terakhir, jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar ya… Setelah ini aku masih mau post oneshot dulu soalnya aku belum pede untuk melakukan serialisasi. Terima kasih atas perhatiannya, annyeong~

Scarlettkid

Advertisements

31 comments on “Habits – Stay High [Oneshot]

  1. Thor, jujur aku masih agak bingung dgn ff ini. Awalnya aku kira semuanya jd jelas kalo aku baca sampai akhir tapi menurutku di akhirpun beberapa hal belum terlalu jelas bagaimana awalnya bisa terjadi. Seperti bagaimana Chen dan Taeyeon bisa berpacaran lalu putus, dan yang dimaksud adik kelas itu apa? Mereka kuliah ato masih sekolah aku bingung thor. Tp ff ini bagus bgt kata2nya jg bagus bgt. Aku tetep suka kok. Next ff d tunggu ya thor. Fighting!

  2. Annyeong^^ salam kenal
    Masih agak bingung sama ceritanya -,-
    Tapi bagus kok 🙂
    Tingkatkan lagi ff nya biar tambah bagus 😀
    Karya karya selanjutnya ditunggu 😉
    Fighting!

  3. sebenarnya aku masih bingung bingung sma ceritanya..
    mungkin ini perlu penjelasan..
    tapi semuanya aku suka aku suka..
    dtunggu ya next fanficnya, FIGHTING!!!

  4. anyeong thor!! salam kenal y??
    cerita’nya bagus sih, tpi ending’nya gantung bnget. klw soal jalan cerita’nya sih aku udh ngerti. ya cuman itu aja, ending’nya gantung bnget. hehe #sorry
    yaudah thor, FIGHTING y?? cpet update ff lagi. aku tunggu..

  5. Hello salam kenal. Wah ceritanya unik bgt. Tapi kasian yah kalau kebiasaan hidup seseorang bener2 seperti itu.
    Di tunggu cerita unik dan menarik lainnya. 😀😀😀

  6. Thor aku sihh secara garis besar paham mksd dari ceritanya dan ff ini udah baguss bangett… Yaaa tapi klo secara mendetail aku masih bingung… Soalnya terlalu banyak yg harus ditebakk di ff ini.. Penyusunan kalimatnya juga aku bingungg… Untuk karya selanjutnya ditunggu thor.. Keep writingg fightingg!!! Maaf ne thorr klo terlalu banyak ngasih komen 😀

  7. Bingung thor…. Tpi keren kok…
    Gak bisa bayangin perasaan org yg idup.y kek gini…
    Ff.y yg lain di tunggu ya thor
    fighting
    n salam kenal thor…
    You can call me apa saja

  8. ini endingnya rada ngegantung dan masih rada bingung juga kurang mudeng hihihi tapi over all keren sih ff nya 😀 next ff di tunggu 🙂

  9. ini black ff ini thor.. kren jrang nih ff beginian..
    jadi terinspirasi sma tove lo’ ya thor..
    emnglgunya kren” gua personal suka yg tove lo’ talking body..
    keep writing ya thor! fighting !

  10. Salam kenal thor!! ^^
    Ffnya daebak!! Aku suka!! ;;)
    Ffnya bkan kepanjangan kok tpi kurang pnjang!? :’v
    Dtnggu karya karya ff author lainnya ne??! Fighting!! ^^

  11. Welcome thor, ff nya bagus thor, tapi aku kurang ngerti sama ceritanya, tapi tetep bagus kok thor… 😀
    Next ff ditunggu thornim… 🙂
    Fighting… 😉

  12. Baca comment2 reader lain yg kebanyakan masih bingung sama cerita ff ini, aku juga ngerasain hal yg sama. Baca sampai akhirpun aku masih nggak ngerti. Atau mungkin akunya yg gk bisa nangkep isi cerita ff ini? :3
    .
    Tapi secara keseluruhan aku suka kok. Oh ya, ditunggu karya ff selanjutnya ya,

  13. Annyeong,, hiii
    ff’y bener2 beda jdi sii taeng perempuan malam gtu atao penari dikub aighoo kasian my unni,,, dia kegtu gara2 putus ama chen kah??? Baekh juga sma kaya taeng pekerjaanya yahh aigho aighoo…
    Jujur aja akgirannya ngegantung,, huuu
    dtunggu karya2 lainnya

  14. bagus bgt thor cerita’a 😉 tapi masih bingung 😦 apakah ada sequel’a thor soal’a masih bingung sma cerita’a 😀 #semogaada

  15. jadi pekerjaan Taeng itu ga bener? Terus Nana sama Youngji pacaran? masi bingung de.. terus Baekhyun suka Taeng.. tapi Taeng masi kepikiran Chen? Next chap aja deh ditunggu.. siapatau lebih paham 🙂 Fighting thorr

  16. kurang ‘sreg’ yg jadi cast cowonya Jongdae -,- hihi
    tapi bagus ko. bahasanya mudah di mengerti engga ribet. ough nana-youngji? err kalo banyangin mereka gitu jijik jg
    BBH juga itu kerja apaan dah?
    tp d ending nya masih gantung. taeng nya nerima dia kan? hihi
    ditunggu yah ff yg lainnya. semangat ^^ pertahanin nulis ff nya

  17. suka sih tapi aku ga terlalu ngerti sama jalan ceritanya,dari awal sampai akhir penjelasanya ga ada jadi ga terlalu ngerti alur ceritanya gimana..
    athor ttp semangat ya karya ff yg lainnya tetep ditunggu ko..

  18. kenapa agk gmtung thor….
    krg pham ma akhr critanya #mian….
    tp tetep keren kok ide critanya..
    keep writing…fighteang!!!
    selmtbud jg author tetapnya ATSIT

  19. hai scarlettkid akhirnya aku bisa baca tulisan kamu. aku suka sama ceritanyaa cuman rada kurang paham hehe ya tapi gpp hehe kutunggu tulisan lainnya;)

  20. huwee… keren banget thor. jarang-jarang ada ffnya taeyeon yang kyk gini. sering-sering buat dengan alur kyk gini ya .
    fighting!!

  21. agak kagak ngarti sih tapi wow bagus!
    ‘Baekhyun, aku mencintaimu!’ harusnya Taeyeon juga ngomong kek gitu sebelum kata END mengakhiri, kan? iya kan

  22. Keren thooooooooorrr
    Keren kerennnnn
    Feelnya dapetttt, kesian taengnya tapi;;
    Baekhyun juga kasian._.
    Greatttt
    Ff lain ditunggu yaaaa

  23. Rada bingung sebenernya
    Gk nyangka Nana sama Youngji😂😂
    Ngebayangin Baek oppa pakai bando kelinci itu sesuatu bgt/? hahaha
    Taeng eon kasihan :’
    Baek oppa juga
    Ditunggu ff yg lainnya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s