My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 13)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Chapter ini agak sedikit lebih panjang dari sebelumnya, jadi jangan merasa bosan untuk membacanya, yaaaa^^

~~~

“Jadi, jadi, jadi… Kau dan Luhan…?” tanya Tiffany terkejut, dengan mulut yang sedikit terbuka, terperangah tidak percaya.

A perfect new couple,” jawab Luhan dengan nada bicaranya yang imut. Senyum indahnya merekah di wajahnya yang tampan. Refleks, ia memeluk tubuh Taeyeon yang duduk di sampingnya. Pelukan singkat, karena setelah itu Taeyeon tersentak dan langsung menatap tajam Luhan.

“Eyyy,” ujar Tiffany begitu ia mendengar dan melihat tingkah laku Luhan yang berubah drastis.

“Oi, apa otakmu berpindah tempat akibat dipukul oleh Minho dan teman-temannya? Kurasa kau harus dipukul lagi supaya bertindak waras,” ujar Xiumin, membuat yang lainnya tertawa.

“Ani, dia seperti ini karena cinta, bukan begitu?” goda Henry.

“Dan sepertinya kau sudah sehat selama dua hari berada di rumah. Mungkin sudah saatnya Taeyeon pulang. Dia tidak perlu berada di sini sampai seminggu lamanya,” tambah Heechul.

“Benar. Besok kau juga bisa sekolah, ‘kan? Banyak tugas Ketua Murid yang seenaknya kau tinggal dan aku tidak bisa bekerja sendirian,” omel Taeyeon. “Kau juga membuatku susah,”

“Aniyo!” tolak Luhan cepat. “Apa kau tidak ingat apa yang dikatakan dokter kemarin padamu, Bi? Aku harus istirahat full selama seminggu agar luka-lukaku sembuh. Dan apa kau bisa melihat aku semakin terpuruk saat aku memikirkan tugas-tugas di sekolah? Ayolah, Bi. Hanya tinggal beberapa hari lagi,”

“Tapi sepertinya kau cukup sehat makan bubur sendiri dan melakukannya semua sendiri,” ujar Taeyeon.

“Sirheo, kau tidak kuizinkan pulang, Bi. Atau aku tidak mau makan obat, bubur atau apapun yang kau berikan padaku. Biar saja,” ancam Luhan dengan wajah merengut. “Kalaupun kau fikir aku bercanda, aku akan membuktikannya. Silakan saja pulang,”

“Arraseo,” sela Taeyeon. Kali ini wajahnya yang merengut. Sedangkan Luhan tersenyum penuh kemenangan.

“Tunggu dulu,” ujar Tao. “Bi? Apa itu?”

“Hwangtaeja-bi,” jawab Luhan santai. “Istri Putra Mahkota. Walaupun aku tidak benar-benar orang Korea, tapi aku paham sekali dengan istilah-istilah kekaisaran jaman Joseon dulu,”

“Hwangtaeja-bi,” ulang Sunny. “Dan kau menggunakan nama itu untuk panggilan ‘sayang’mu pada Kim Taeyeon? Hwangtaeja-bi?”

Luhan mengangguk. Sontak, semua yang ada di ruang keluarga Luhan langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan Tao yang selama ini diam saja, tidak bisa mengendalikan rasa geli di perutnya. Suara tawanya dan Henry-lah yang paling keras. Sunny dan Tiffany juga sampai berkaca-kaca. Jessica dan Heechul tidak bisa menyembunyikan sifat dingin mereka untuk kali ini. Dan Taeyeon hanya bisa menghela nafas panjang melihat reaksi teman-temannya.

Konyol dan kekanak-kanakkan memang. Begitu pertama kali Luhan memanggilnya dengan panggilan itu, Taeyeon juga ingin tertawa dan merasa malu sendiri. Tapi jika dilihat dari sisi yang lain, Luhan melakukan itu karena cinta. Romantis dan memalukan.

“Kurasa tidak ada yang aneh,” kata Luhan sedikit kesal melihat teman-temannya tertawa kencang begitu.

“Memang tidak ada yang aneh. Tapi kewarasanmu yang harusnya diragukan, Lu,” jawab Chanyeol. “Kenapa kau memanggil TaeTae seperti itu? Kalau kau mau memanggilnya dengan panggilan romantis, kenapa tidak yeobo atau chagi saja? Kau suka drama kolosal Korea?”

“Itu panggilan biasa. Aku tidak mau yang biasa-biasa saja. Setidaknya, ada sesuatu yang unik di antara kami, yang bisa diingat dari kami berdua,” jawab Luhan. Jawaban yang sulit membedakan antara bodoh dan polos.

“Aigoo, kyeopta~,” ucap Tiffany, yang masih tersenyum lebar.

“Uri deer kyeopta~,” sambung Suho, yang juga masih terkikik geli.

“Ah, ye. Memang sulit untuk mencari nama panggilan yang tidak umum di jaman sekarang. Dan itu membuatmu harus kembali ke jaman Joseon, benarkan?” tanya Heechul.

Taeyeon membekap mulutnya. Ia ingin tertawa juga. Tapi Luhan akan merasa semakin tersinggung. Dia sudah tertawa puas sekali saat pertama mendengar Luhan memanggilnya seperti itu. Dan Luhan bad mood sepanjang hari. Alhasil, Taeyeon juga harus menghabiskan waktunya untuk membujuk laki-laki itu agar mau makan malam.

“Tapi jika dilihat dari sisi keromantisan, panggilan dari Luhan itu sangat romantis kalau menurutku,” tutur Jessica. “Pertama kali dengar mungkin kita merasa geli atau itu adalah hal yang memalukan. Tapi laki-laki seperti itu tampak sangat sweet. Dia memanggil kekasihnya seperti itu sebagai bentuk ‘kepemilikannya’. Kalau aku, mungkin aku akan suka dipanggil Hwangtaeja-bi. Sangat elegant, dan penuh kehormatan,”

Taeyeon tersenyum simpul mendengar penuturan Jessica yang dewasa. Fikiran mereka sama. Taeyeon melihat itu semua dari sisi keromantisannya. Dan ia juga berfikir, Luhan memanggilnya seperti itu karena ia gadis yang istimewa di matanya.

“Ternyata fikiran kita sama, Sica-ah. Kau tentu mengharap Henry hyung memanggilmu seperti itu, ‘kan? Dia tidak tahu apa-apa masalah cinta,” cibir Luhan.

“Apa aku harus memanggilmu ‘Mama’, Jessie?” tanya Henry dengan wajah terkejut yang dibuat-buat, membuat beberapa dari mereka tertawa lagi.

“Benar juga. Bukankah Suho hyung memanggil Chorong noona dengan panggilan ‘Rongmama’? Kalau begitu apakah Chorong noona memanggilmu ‘Junpapa’?” tanya Tao.

“Itu juga terkesan unik,” ujar Tiffany.

“Ah, benar!” seru Luhan. “Bi, sebaiknya kau tidak menganggap Suho sebagai guardian-mu lagi. Kau sudah menemukan penggantinya,”

“Kau benar, Luhan-ah,” sambung Suho.

“Bagaimana kau bisa menjadi guardian kalau kau masih terbaring sakit dan minum obat di rumah?” cibir Taeyeon dan ia langsung menghilang menuju ke arah dapur rumah Luhan.

“Ya, ya! Aku begini juga karena melindungimu!” seru Luhan. “Aish, jinjja,”

“Cepatlah sembuh agar kau bisa kembali menjaga dan melindungi Taeyeon, Luhan-ah,” ujar Tiffany. Ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi serius. “Aku menyetujui kalian berdua karena aku lihat kau cukup serius. Aku kagum kau bisa memperjuangkannya sampai seperti ini. Tapi, aku juga mohon sekali padamu untuk tidak menyakiti Taeyeon apapun itu alasannya,”

“Berjanjilah, Luhan-ah,” sambung Heechul.

Luhan menatap Tiffany dan teman-teman Taeyeon yang lainnya. Sebuah senyuman kecil terpampang di wajah Luhan. “Aku berjanji. Tidak perlu berjanji pada kalian, aku sudah berjanji pada diriku sendiri,”

Jawaban Luhan membuat Suho tersenyum lega. Sulit dikatakan betapa senangnya dia saat ini. Ia tahu betul bagaimana Luhan dulu. Meskipun sempat berubah menjadi orang lain, setidaknya Luhan mau kembali menjadi seperti Luhan yang dulu.

Sedangkan di dapur, saat Taeyeon sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk teman-temannya bersama dengan para pelayan rumah Luhan, Suho datang menghampirinya. Ia mengambil ddeokboki yang baru saja dituangkan Taeyeon ke dalam mangkuk besar.

“Kenapa kau tidak tunggu dulu di sana?” tanya Taeyeon kesal.

Suho tersenyum lebar melihat kekesalan Taeyeon. “Enak, pantas saja Luhan mau memakan buburnya. Dia paling tidak suka bubur,”

“Aku tidak menambahkan apa-apa pada buburnya,” jawab Taeyeon. “Aku hanya sedikit mengancamnya,”

“Dengan begini aku bisa tenang. Kau sudah memiliki seseorang yang benar-benar akan melindungimu dengan sepenuh hatinya. Kali ini guardian­-mu tanpa dipanggil setiap hari akan ada bersamamu. Jadi, aku harus melepas title-ku ini,” jelas Suho sembari memakan buah semangka yang masih segar, yang baru saja dipotong oleh salah satu pelayan rumah Luhan.

“Eyy, kau masih guardian-ku. Tapi tidak resmi,” canda Taeyeon.

“Mungkin kau sedikit terkejut melihat perubahan sikap dan sifat Luhan, Taeng. Tapi percayalah, apa yang ditunjukkannya pada kita, memang begitulah dia dari lahir. Orang yang menyenangkan, manja, imut, manis, tapi di sisi lain kita juga akan menemukan sosoknya yang manly. Aku sempat berfikir Luhan tidak akan menoleh ke belakang dan kembali menjadi dia yang dulu. Aku dan yang lainnya mengkhawatirkan itu. Dan begitu kami tahu dia mencintaimu, aku berusaha memperjuangkannya. Aku melihat setitik harapan dia akan berubah,” jelas Suho.

“Meskipun begitu, ini akan jauh lebih sulit. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan orang-orang di sekolah nanti,”

“Kenapa kau begitu peduli? Tutup saja kedua telingamu. Biasanya kau melakukan itu, ‘kan? Kenapa harus takut kalau kami selalu mendukungmu? Lagipula, Luhan itu ibaratnya pangeran, apapun yang menjadi keputusannya mau tidak mau semua orang harus menurutinya. Tidak ada yang berani menghinamu di sekolah lagi, ‘kan semenjak berhembus kabar Luhan menyukaimu? Tch, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang harus kau khawatirkan adalah bagaimana tugas Ketua Murid nanti. Kau harus lebih sering mengingatkan dia untuk fokus. Meskipun sifatnya berubah, tapi kemesumannya tidak,”

Taeyeon terkekeh kecil. Ia menatap Suho seraya mengangguk. “Gomawo. Aku tidak tahu kalau kau tidak ada di saat-saat aku butuh penguatan, Suho-ah. Kau sangat berpengaruh besar dalam hidupku, gomawo,”

“Karena kau juga aku bisa menunggu Chorong, Taeyeon-ah. Gomawo, ne?” ucap Suho sambil tersenyum manis pada Taeyeon.

“Katakan pada Rongie untuk cepat pulang. Atau aku batal menjadi kakaknya,” ancam Taeyeon.

“Arra, aku akan mengatakannya nanti,”

~~~

“Kau belum tidur? Apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon pada Luhan, yang tengah berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi langit malam yang polos tanpa satupun bintang yang biasanya bertengger manis di sana. Taeyeon berdiri di samping Luhan dan ikut memandangi langit.

Luhan menatap Taeyeon dan sedikit menyunggingkan senyuman manisnya. “Kau juga belum tidur?”

“Ck, kalau kau belum tidur, bagaimana bisa aku tidur?” Taeyeon balik bertanya. “Tidak ada bintang di langit. Bukannya kau tidak suka kalau melihat langit tanpa bintang? Kenapa masih berdiri di sini?”

“Awalnya aku kecewa karena tidak ada satupun bintang di sana, dan berencana untuk tidur. Tapi, tiba-tiba saja bintang kejoraku muncul dan tubuhku tidak mau bergerak untuk menjauhinya. Bahkan, mataku tidak bisa teralihkan saat menatap sosoknya. Walaupun sinarnya begitu menyilaukan. Biar setiap malam tidak ada bintang, kau sudah menjadi bintang paling indah di hidupku, Kim Taeyeon,” jelas Luhan dengan mimik serius.

Rona wajah Taeyeon mendadak berubah. Ia mengalihkan tatapannya ke langit, berusaha menyembunyikan rasa malu dan gugupnya. Melihat ekspresi lucu Taeyeon membuat Luhan sedikit terkikik geli.

“Hentikanlah omong kosongmu itu dan cepat tidur!” perintah Taeyeon. “Kau tidak tahu besok aku bekerja sendirian sebagai Ketua Murid?”

“Benarkah? Bukannya Suho menggantikanku untuk sementara ini? Kau tidak bekerja sendirian, Kim Taeyeon. Sejak kapan uri Taenggo berubah menjadi sosok pelupa?” ejek Luhan. Ia menunjukkan smirk-nya.

Taeyeon balas menatap Luhan. Ia ingin membalas ejekan Luhan dengan kalimat-kalimat kesal yang sering ia lontarkan jika Luhan berulah. Namun kali ini, begitu matanya menatap kedua mata rusa Luhan, ia diam tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan wajah gadis ini semakin bersemu merah dan kegugupannya menjadi-jadi. Luhan tersenyum begitu manis dan indah di mata Taeyeon. Senyuman yang menyejukkan relung hatinya.

“Aku mau tidur. Sampai besok,” pamit Taeyeon. Ia melambaikan tangannya singkat dan hendak melangkah menuju pintu kamar Luhan.

Dengan cepat, Luhan langsung memeluk tubuh Taeyeon dari belakang. Taeyeon membulatkan kedua matanya, terkejut dengan kelakuan Luhan yang selalu tiba-tiba. Luhan meletakkan dagunya di atas pundak kiri Taeyeon.

“Aku tidak bisa tidur. Bisakah kau menemaniku nonton film sebentar? Kurasa itu yang bisa membuatku mengantuk dan tertidur,” pinta Luhan dengan nada memohon. Ia menatap wajah Taeyeon, yang sama sekali tidak mau membalas tatapan Luhan.

“Film apa? Kenapa kau selalu bertingkah aneh?” tanya Taeyeon kesal. Ia melepas pelukan Luhan dan mengarahkan kakinya menuju TV di depan tempat tidur milik Luhan. Ia mengacak-acak tempat DVD dan sibuk memilah-milih film apa yang akan mereka tonton. Sedangkan Luhan sudah duduk manis di atas tempat tidur sambil tersenyum penuh makna memandangi Taeyeon.

“Apa itu?” tanya Luhan begitu Taeyeon memasukkan sebuah DVD ke dalam DVD player Luhan.

Love Actually,” jawab Taeyeon sembari tersenyum singkat pada Luhan.

“Aku sudah sering menonton itu,” ujar Luhan.

“Apakah kau bosan? Dengan begitu, kau akan cepat mengantuk,” ‘sela Taeyeon.

“Arra. Duduklah di sini,” ajak Luhan. Ia menepuk tempat tidurnya, mengajak Taeyeon untuk duduk di sampingnya.

Taeyeon berfikir selama beberapa detik. Lalu, setelah Luhan memaksanya lagi, akhirnya ia naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping Luhan, dengan sedikit jarak yang memisahkan mereka. Luhan mendecak sebal dan ia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada Taeyeon. Ia bahkan mengalungkan lengan kirinya di leher Taeyeon. Taeyeon melotot ke arah Luhan.

“Ssstt… Filmnya sudah mulai,” bisik Luhan. Ia memandangi TV-nya sambil tersenyum senang. Taeyeon mengerucutkan bibirnya dan memilih diam seraya menonton film itu.

Selama hampir satu jam lamanya mereka menonton film itu dan keduanya tidak banyak berkomentar apa-apa. Mereka sama-sama diam, menikmati film. Sebenarnya Luhan tidak terlalu tertarik menonton film ber-genre romance seperti ini. Dia bukan tipe laki-laki mellow, hanya saja ia ingin punya alasan untuk berdua bersama Taeyeon. Ia ingin ditemani oleh gadisnya itu. Baginya, ditemani oleh seseorang yang ia cintai itu bisa dikatakan romantis.

Taeyeon menguap dalam diam dan ia menutup mulutnya. Luhan langsung menatap Taeyeon dan ia sedikit tersenyum ketika dilihatnya mata gadisnya yang mulai berair, menandakan ia sudah sangat mengantuk. Ditatap dalam waktu yang lama seperti itu membuat Taeyeon tersadar dan ia menolehkan wajahnya ke arah Luhan.

“Kau mengantuk?” tanya Luhan pelan. Dibelainya rambut Taeyeon dengan lembut. Tatapan Luhan penuh cinta ketika matanya sudah bertemu dengan kedua mata Taeyeon.

“Sedikit. Wae? Kau sudah mau tidur?” Taeyeon balik bertanya.

“Bagaimana, ya? Aku tidak ingin kau pergi meninggalkanku di sini. Berat rasanya melepasmu. Aku ingin kau di sampingku terus,” jawab Luhan dengan mimik serius.

“Jangan berlebihan,” ucap Taeyeon malas.

Luhan tidak berkomentar apa-apa. Ia hanya terus memandangi wajah cantik kekasihnya itu dalam-dalam. Walaupun sudah setiap hari wajah itu ia pandangi, entah kenapa dirinya tidak pernah bosan. Menatap wajah itu seakan-akan sudah menjadi kebiasaan baru bagi Luhan yang sulit untuk ditinggalkannya. Sedangkan Taeyeon, seperti biasa gadis ini selalu salah tingkah layaknya orang bodoh saat Luhan mulai memandangi wajahnya tanpa berkata apa-apa. Ia belum terbiasa dengan kebiasaan baru Luhan itu.

Saat keduanya masih saling asyik menatap satu sama lain, Luhan secara perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. Tatapan Luhan jatuh ke bibir lembut Taeyeon. Taeyeon tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan ia langsung mengalihkan wajahnya ke depan begitu hidung Luhan sudah menyentuh hidungnya. Alhasil, bukannya jatuh ke bibir Taeyeon, bibir Luhan malah menyentuh pipi kanan gadis itu.

Merasa kesal dengan ‘penolakan’ dari gadisnya, Luhan tidak hanya sekedar mencium pipi kanan Taeyeon. Ia menurunkan bibirnya pelan-pelan dan mencium setiap inci wajah Taeyeon. Taeyeon sedikit terkejut dan ia hendak berbalik menghadap Luhan. Namun, Luhan menahan tubuh gadis itu dengan tangan kanannya memeluk perut Taeyeon. Ya, ia sudah tidak bisa bergerak lagi. Tangan kiri Luhan berada di belakang leher Taeyeon, merangkulnya, dan tangan kanannya yang melingkar di perut Taeyeon.

Sampai di dagu, Luhan kembali menyusuri pipi Taeyeon sampai ke dahi dengan menggunakan bibirnya. Dikecupnya kedua kelopak mata Taeyeon yang tertutup rapat-rapat, menuju hidung, pipi kiri, kedua sudut bibir, dan dagu. Terus diciumnya seluruh wajah Taeyeon kecuali bibir hingga membuat wajah gadis itu memerah sempurna.

Jantung Taeyeon sudah tidak bisa tenang lagi. Ia berdetak secara tidak normal dan mendadak suhu tubuhnya naik, membuat suasana di sekitarnya terasa panas. Darahnya juga naik ke atas ubun-ubun kepalanya dengan kecepatan maksimum. Dadanya berdesir-desir tak karuan mendapati perlakuan Luhan tersebut.

Setelah mencium semua permukaan wajah Taeyeon beberapa kali, Luhan kemudian mengarahkan ciumannya ke daun telinga kanan Taeyeon. Hembusan nafas segar Luhan menerpa daun telinganya, membuat Taeyeon sedikit merinding. Tangan kanan Taeyeon terangkat dan ia memegang tangan kanan Luhan, hendak melepas pelukan laki-laki itu.

“Jangan banyak bergerak, atau keadaanmu semakin terjepit,” bisik Luhan tepat di telinga Taeyeon.

Taeyeon menggerutu dalam hati. Laki-laki rusa ini mulai kambuh lagi. Seharusnya ia sadar dari awal. Dan jika sudah begini, memang benar-benar susah untuk melepaskan diri. Apa yang Luhan peringati, paling baik bagi Taeyeon adalah menuruti ucapannya. Dan ia hanya bisa menutup matanya, merasakan setiap tindakan Luhan yang membuat dirinya melayang.

Luhan tersenyum menyeringai ketika dilihatnya Taeyeon menuruti apa yang dikatakannya. Ia semakin mendekap gadis itu. Tubuh mungilnya seakan-akan menjadi boneka penghangat untuk Luhan. Ia menyesap rambut lembut Taeyeon yang wangi shampoo strawberry kesukaan Luhan lalu bibirnya kembali turun perlahan menciumi sisi kanan wajah Taeyeon. Hingga akhirnya bibir lembut itu jatuh ke leher jenjang Taeyeon.

Tubuh Taeyeon menegang. Ia membuka matanya dan melihat kepala Luhan sudah sepenuhnya tenggelam di lehernya. Nafas laki-laki itu begitu terasa menerpa leher Taeyeon. Luhan langsung mengecup seluruh bagian depan leher Taeyeon dan tanpa mereka sadari, keduanya yang awalnya duduk bersebalahan kini tubuh mereka saling berhadapan. Taeyeon menahan tubuhnya agar tidak jatuh terbaring di atas tempat tidur. Ia yakin tidak akan selamat dari Luhan malam ini jika hal itu sampai terjadi.

“Luhan-ah, bukankah sebaiknya kita tidur saja? Aku takut terlambat besok pagi, arra?” tanya Taeyeon pelan. Ia mendorong pelan tubuh Luhan. Namun, laki-laki itu menggeram dan kembali memeluk erat Taeyeon. Ia tidak ingin ada spasi di antara tubuh mereka, dan Luhan dapat merasakan jantung Taeyeon memacu dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

Taeyeon begitu terkejut dan tubuhnya langsung menegang saat Luhan menggigit dan mengisap pelan leher yang sebelumnya sudah diciuminya itu. Taeyeon menggigit ujung bibir kanannya, menahan suara erangan yang bisa saja keluar dengan tiba-tiba tanpa ia minta. Saat bagian leher kanan Taeyeon sudah dilahap habis oleh Luhan, ia mengarahkan bibirnya ke leher bagian kiri Taeyeon.

Awalnya, gigitan dan hisapan yang Luhan berikan sangatlah lembut dan penuh sayang. Seiring berjalannya waktu, ‘ciuman’ itu menjadi panas. Tanpa fikir panjang Luhan melahap leher kiri Taeyeon dengan lapar, membuat gadis itu mau tidak mau melepaskan erangannya.

Mendengar erangan Taeyeon, Luhan melepas bibirnya dari leher merah Taeyeon. Matanya berkilat saat melihat leher itu menjadi sangat merah dan basah.

“Aku tidak akan bisa tenang pergi ke sekolah kalau begini ceritanya,” mohon Taeyeon. Nafasnya masih memburu, sedangkan pelukan Luhan juga tidak merenggang.

“Kau bisa,” jawab Luhan enteng.

Ia mendorong kedua pundak Taeyeon ke arah kepala tempat tidur dan mengunci tubuhnya di sana. Luhan kembali mendekatkan wajahnya ke leher Taeyeon dan kembali memberi kiss mark di sana. Ia menciuminya lapar, menggigit, menghisap, dan meninggalkan tanda kemerahan di seluruh leher Taeyeon, tanda bahwa Kim Taeyeon adalah miliknya seorang.

“Appayo…,” erang Taeyeon. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya seraya masih memejamkan kedua matanya.

Luhan menghentikan gigitan dan hisapannya di leher Taeyeon. Namun, ia masih terus menciuminya, memberikan ruang kepada Taeyeon untuk bernafas dan rileks. Sembari mencium, Luhan juga membelai punggung belakang Taeyeon, membelainya dengan lembut sampai beberapa menit, membuat nafas Taeyeon sedikit terkendali dan perlahan-lahan tubuhnya melemas. Kedua matanya terpejam dan Luhan tahu ia tertidur.

Luhan melepas pelukannya dan tubuhnya menjauhi tubuh Taeyeon. Gadis itu tidur dengan nyenyaknya. Kepalanya terkulai ke bawah dan nafasnya begitu teratur. Luhan dapat melihat dengan jelas tanda-tanda kemerahan hasil karyanya terpampang jelas di leher Taeyeon. Ia tahu, begitu Taeyeon melihat kiss marks itu, ia akan marah besar dan tidak berani untuk menginjakkan kakinya di sekolah. Tapi Luhan tidak peduli. Kiss marks  itu begitu indah. Setidaknya malam ini dia tidak melahap habis gadis itu. Ia tahu Taeyeon masih mementingkan permasalahan keluarga mereka.

Luhan mengangkat tubuh mungil gadisnya dan dengan lembut membaringkannya di atas tempat tidur miliknya. Ia menyelimuti Taeyeon seraya mengecup dalam dahi dan bibir Taeyeon secara bergantian. Luhan bangkit dan dengan senyuman manis yang terpampang di wajahnya, ia memandangi gadis itu selama beberapa detik lalu pergi menuju ruangan khusus tempat ayahnya biasa bekerja.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja sang ayah, Luhan membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Suatu ruangan yang sangat luas dan minimalis, dengan dua rak buku besar di samping kiri dan kanan meja kerja. Begitu Luhan masuk, ia langsung melihat pemandangan kota Seoul di jendela yang sengaja di buat besar. Di depan meja itu, yang menghadap ke arah TV LCD. Ruangan itu masih rapi dan wangi, karena ayahnya memang cinta kepada kebersihan.

Ia melangkahkan kakinya menuju meja kerja itu dan dibukanya laci pertama. Hanya ada satu album foto besar dan sebuah buku tulis. Diambilnya album foto itu dan dibukanya, memperlihatkan isi foto-foto kedua orang tuanya. Di akhir halaman album, dapat Luhan lihat dua foto yang sangat lama, terlihat dari gambarnya yang sedikit usang. Foto kedua orang tuanya bersama dengan sepasang suami istri yang tidak ia ketahui siapa. Keempatnya tampak tersenyum bahagia dan saling merangkul layaknya saudara.

Diambilnya foto itu dan ditelitinya. ‘Kim Jae Won – Hwa Young, William – Pu Li’.

Luhan sedikit tertegun. Ia memeriksa satu foto lagi, satu foto yang lama. Foto dirinya, bersama dengan seorang anak laki-laki yang tubuh serta umurnya lebih besar dari Luhan. Laki-laki yang ia kenal di club biasa tempat dia kumpul bersama teman-temannya, laki-laki yang mirip sekali dengan Taeyeon. Laki-laki itu mencium dahi Luhan yang tengah tertidur di pelukannya.

Dibaliknya foto itu dan jantungnya langsung mencelos. ‘Uri Deer Han – Kim Woongie’.

Dan sekarang Luhan tahu, foto pertama adalah foto kedua orang tuanya bersama dengan orang tua Taeyeon, dan yang kedua adalah foto dirinya bersama dengan Ji Woong, kakak laki-laki Taeyeon.

Ternyata benar, mereka adalah keluarga yang sangat dekat, yang sangat akrab layaknya saudara. Tapi sayangnya, itu dulu. Sebelum suatu masalah memporakporandakan hubungan mereka. Dan tinggal masalah itulah yang harus Luhan cari tahu.

Ia menutup album foto itu dan menyimpannya kembali. Dan sekarang, ia mengambil buku tulis itu, buku tulis yang setahu Luhan adalah buku curahan hati sang ibu, Pu Li. Semua kejadian penting ada di buku ini, begitulah yang ibunya katakan saat ia memaksa ibunya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara keluarganya dengan keluarga Taeyeon.

-Flashback On-

“Bisakah ibu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kita dan Kim?” tanya Luhan pada ibunya lewat telepon. Saat itu ia sedang berada di kamarnya, menunggu kepulangan Taeyeon dari sekolah.

“Kenapa kau ingin tahu, Lu?” ibunya balik bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.

“Aku ingin tahu, karena aku jatuh cinta pada anak perempuannya, pada partner Ketua Muridku yang dulu pernah ibu temui di acara pesta dansa sekolah, Kim Taeyeon. Jelas terlihat kecanggungan di antara kalian, sedangkan aku tidak tahu apa-apa. Aku mencintainya, bu. Tidak akan kulepas dia hanya karena masalah keluarga ini yang tidak kunjung clear. Aku ingin tahu dan aku ingin menyelesaikan semuanya. Bahkan jika kalian yang salah, aku akan rela berlutut di depan orang tuanya, memohon maaf atas tindakan kalian dan keegoisan kalian yang tidak mau minta maaf,” jelas Luhan emosi.

Mrs. Pu Li menghela nafas berat. “Kau cari tahu saja sendiri, Lu. Kau bisa baca buku harian ibu yang ada di laci meja kerja ayahmu. Ibu menuliskannya semua di sana,”

Mrs. Pu Li sedikit terisak, membuat Luhan merasa tidak enak. “Apa ini artinya keluarga kita yang salah?”

“Baca saja, sayang. Jika kau sudah membacanya, ibu akan terbang kembali ke Korea dan menjelaskannya. Dan… kau tidak bisa berlutut di depan orang tua Taeyeon begitu saja. Hanya ayahmu yang bisa membalas semua perbuatannya. Kau hanya bisa menyaksikannya dan melindungi Taeyeon dengan sepenuh hatimu, jika kau benar mencintainya,” jawab Mrs. Pu Li dengan isakan kecilnya.

“Sampai kapan aku harus menunggu, ibu? Aku tidak ingin keluarga Kim terus menganggap kita musuh dan membenci kita terlalu dalam,”

“Sebentar lagi, Lu,” jawab Mrs. Pu Li, kali ini suaranya agak tenang. “Sebentar lagi ayahmu akan membayar kesalahannya selama ini kepada keluarga Kim. Dan tunjukkan kepada mereka, kalau kau bukan laki-laki pengecut seperti ayahmu, arra?”

-Flashback End-

Entah mengapa jantung Luhan berdebar kencang saat tangannya hendak membuka buku tulis itu. Semuanya ada di dalam buku itu. Dan beberapa detik setelah memandangi buku itu, Luhan membukanya dan membaca semua yang ada di dalamnya.

~~~

“Ngghh…” erang Taeyeon.

Ia menggeliat ke sana ke mari di atas tempat tidurnya sambil menguap. Kedua matanya ia buka perlahan-lahan dan ia langsung bingung saat menatap langit-langit kamarnya. Sambil mengucek matanya, Taeyeon bangkit dari tidurnya dan menatap ke sekeliling ruangan kamar Luhan. Tidak ada Luhan di kamar itu. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 04.00 dini hari.

“Lu?” panggil Taeyeon. Tidak ada jawaban.

Taeyeon mengangkat kedua pundaknya dan ia turun dari tempat tidur. Sebelum keluar dari kamar Luhan, ia melipat selimut dan membereskan tempat tidur Luhan. Dan saat Taeyeon hendak membuka pintu kamar, pintu itu sudah terbuka dan tampaklah Luhan, dengan wajah dan rambutnya yang kusut. Matanya menunjukkan kalau ia tidak tidur semalaman.

“Selamat pagi, Hwangtaeja-bi!” sapa Luhan. Wajahnya mendadak berubah ceria begitu ia melihat wajah Taeyeon.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau tampak kusut sekali. Kau tidak tidur, ya?” tanya Taeyeon, yang tidak mengindahkan sapaan Luhan.

“Gwaenchanna,” jawab Luhan santai. Ia tersenyum lebar. “Seharusnya yang perlu memerhatikan penampilan hari ini adalah dirimu. Lihatlah lehermu. Saat bersiap nanti, jangan lupa untuk menggeraikan rambutmu, ya?”

Taeyeon sedikit tercengang dengan ucapan Luhan. Luhan berjalan melewati gadis itu dengan wajah tanpa dosa. Mendengar ucapan Luhan barusan, Taeyeon berlari ke arah cermin kamar Luhan dan mengecek lehernya. Penuh bercak merah, tanda Luhan.

“Ige mwoya?!” seru Taeyeon. Ia menutupi lehernya dan memandang Luhan dengan tatapan kesal. “Kalau sampai Tiffany dan yang lainnya melihat ini apa yang akan ku jawab? Aigoo, mereka pasti berfikiran yang tidak-tidak. Padahal kau dan aku juga tidak melakukan apa-apa,”

“Apa kau yakin?” tanya Luhan seraya melepaskan kemeja putihnya, sehingga dada bidangnya terlihat di depan mata Taeyeon. “Kau, ‘kan tertidur,”

Taeyeon membulatkan kedua matanya dan ia terlihat gugup sekali. “Ya! Dasar byuntae!”

Luhan terkikik geli melihat reaksi polos dari kekasihnya. Begitu Taeyeon keluar dari kamarnya, senyum riang Luhan hilang, digantikan dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan dari wajahnya. Ekspresi itu, antara sedih, bingung, bimbang, dan tertekan.

~~~

“Hwangtaeja-bi!” panggil Luhan pada Taeyeon saat dirinya sedang bergegas masuk ke dalam mobil pribadi milik Luhan. Taeyeon mengangkat wajahnya, menatap Luhan yang sedang berada di lantai 2, di kamarnya. “Jangan sampai pulang telat, eoh? Aku menunggumu di rumah pukul 06.00 sore!”

“Kenapa kau menungguku?” tanya Taeyeon heran.

“Aku ingin sedikit olahraga hari ini. Sepertinya tubuhku akan kaku kalau terus bermalas-malasan setiap hari,” jawab Luhan sambil tersenyum lebar.

Taeyeon memutar kedua bola matanya dan langsung naik ke mobil. Seraya melambaikan tangannya pada Luhan, mobil itu pergi menjauhi pekarangan rumah mewah Luhan.

Beberapa detik tepat kepergian Taeyeon, bunyi telepon dari ponsel Luhan terdengar di atas meja belajarnya. Luhan melangkahkan kakinya mengambil ponsel itu dan dilihatnya nama si penelepon.

“Ada apa, bu?” sapa Luhan.

“Kau sudah tahu?” tanya si penelepon, yang tak lain adalah Mrs. Pu Li.

“Ne,” jawab Luhan pendek. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat hati.

“Kau benci pada ayahmu?”

“Tidak, tapi aku akan lebih benci lagi kalau ayah tidak datang ke sini dan menjelaskan semuanya padaku, sekaligus apa yang harus aku lakukan agar semuanya bisa kembali seperti dulu,” jelas Luhan.

“Ibu tahu, dear. Ibu dan ayahmu akan segera berangkat ke Korea besok lusa. Ayahmu juga akan langsung menyelesaikannya detik itu juga. Tunggu kami,” ujar Mrs. Pu Li dengan nada berat. Sepertinya ia akan menangis kembali.

Luhan mengangguk dan mereka berdua bicara secara normal sampai beberapa menit, sebelum akhirnya Luhan memutuskan sambungan telepon mereka.

~~~

“Kau tampak buru-buru, ada apa?” tanya Suho, yang melihat Taeyeon sedikit tergesa-gesa menyimpan berkas-berkas program kerja Ketua Murid ke dalam laci meja yang biasa digunakan oleh Luhan.

“Ne? Ahh, Luhan memintaku untuk cepat pulang karena ia ingin olahraga. Aku tidak tahu tapi dia bilang ingin meregangkan persendiannya yang sudah beberapa hari ini jarang digerakkan,” jawab Taeyeon.

“Olahraga?” tanya Suho lagi. “Selama ini kalau laki-laki itu banyak fikiran dan sedang stress, ia selalu ingin olahraga. Apapun itu. Bahkan waktu itu dia rela main basket tengah malam. Aku dan Henry hyung terpaksa jadi korbannya,”

“Banyak fikiran?” ulang Taeyeon. Ia memutar otaknya, mengingat kejadian tadi pagi. “Aku rasa memang ada sesuatu yang difikirkannya. Dia tidak tidur semalaman dan wajahnya tampak kusut. Dia tidak berada di kamarnya malam itu. Aku tanya kenapa, dia tidak menjawab,”

Suho dan Taeyeon saling pandang, sibuk berfikir dan berusaha untuk menemukan jawabannya. Taeyeon mulai sedikit khawatir. Apa lagi yang difikirkan laki-laki itu? Apa lagi yang membuat bebannya bertambah? Seharusnya Taeyeon-lah yang merasakan beban hidupnya bertambah. Sekarang ia telah resmi menjadi kekasih Luhan. Murid Whimoon Senior High School memang belum ada yang tahu. Tapi begitu Luhan kembali ke sekolah? Laki-laki yang sedikit bodoh itu tentu akan menyebarluaskannya.

Dan belum lagi masalah keluarga mereka. Luhan belum tahu dan Taeyeon belum siap untuk memberitahukannya. Ia juga masih ragu untuk jujur pada Ji Woong, orang yang paling tahu seluk-beluk kehidupan Taeyeon di luar rumah. Ia takut, takut sesuatu yang buruk akan terjadi saat orang tuanya tahu dia dan Luhan berpacaran. Dan ia juga takut mendapati reaksi Luhan jika ia tahu masalah ini.

“Taeyeon-ah?” panggil Suho, membuat lamunan Taeyeon buyar seketika.

“Ah, ne?” sahut Taeyeon.

“Kajja, aku antar kau pulang. Setelah itu, bisakah kau cari tahu apa yang terjadi pada Luhan? Kemungkinan ini masalah orang tuanya lagi,” ujar Suho.

Taeyeon mengangguk dan mereka berdua pergi dari ruang kantor Ketua Murid, jalan beriringan menuju parkiran mobil.

Sesampainya di depan rumah Luhan, Taeyeon langsung turun dari mobil Suho. Ia melambaikan tangannya pada Suho, yang membunyikan klaksonnya dan segera pergi dari rumah Luhan. Begitu mobil Suho menghilang dari pandangan, tiba-tiba sebuah lengan merangkul erat tubuh Taeyeon, membuat Taeyeon tersentak dan menatap si pemilik lengan itu.

Luhan.

Ia tersenyum lebar menatap Taeyeon. Melihat senyuman itu dan mengingat ucapan Suho tadi, membuat Taeyeon membalas senyum Luhan dengan senyuman yang dipaksakan ceria.

“Cepatlah ganti pakaian. Pakaian gantimu sudah aku letak di atas tempat tidurku. Aku akan menunggu di bawah, eoh?” ucap Luhan. Ia melepas rangkulannya begitu Taeyeon mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.

Tidak lebih dari dua puluh menit, Taeyeon sudah keluar dari rumah Luhan. Sambil membawa jaket, ia melangkahkan kakinya menuju Luhan. Luhan tersenyum ke arah Taeyeon.

“Kajja, kita lari keliling perumahan ini,” ajak Luhan.

“Eoh, kau lari saja dulu,” ujar Taeyeon, yang merasa malas untuk berlari saat ini.

“Aigoo, aku tahu kaki kecilmu itu sedang malas untuk digerakkan. Kajja, kau harus banyak mengeluarkan keringat, my little Tae. Jangan sampai kau mengeluarkan keringatmu itu di tempat tidurku,” ancam Luhan dengan smirk di wajahnya.

“Arraseo, arraseo,” sela Taeyeon cepat.

Luhan tersenyum semakin lebar. Ia mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Taeyeon. Taeyeon menerima uluran tangan Luhan dan bersama-sama mereka lari kecil mengitari perumahan elit milik Luhan itu. Sepanjang mereka berlari bersama, angin sore yang sejuk tidak henti-hentinya menerpa wajah mereka berdua, terasa segar sekali. Lama-kelamaan, Taeyeon mulai sedikit menikmati olahraga mereka ini. Sesekali Luhan menceritakan hal-hal lucu yang mampu membuat Taeyeon tersenyum atau tertawa. Genggaman mereka tentu saja tidak lepas, dan itu tidak membuat Taeyeon  merasa gerah. Di tengah jalan, untuk mengurangi rasa lelah, Luhan mengeluarkan headset dan ponselnya. Diberikannya kepada Taeyeon satu, yang bagian kiri.

“Tidak usah, ketika kita berlari, headset ini akan lepas. Kalau mau pakai, pakai saja,” tolak Taeyeon halus.

“Kalau begitu, piggyback!” seru Luhan. Ia langsung memunggungi Taeyeon dan menggendong tubuh kecilnya.

Taeyeon terkejut dan ia mengalungkan kedua lengannya di leher Luhan, takut jatuh. Luhan tersenyum menatap Taeyeon yang kini berada di punggungnya.

“Ambil satu, dan putar musik apapun yang kau suka,” kata Luhan. Ia mulai berlari-lari kecil.

Taeyeon memasangkan satu headset bagian kiri di telinganya dan memutar sebuah lagu beat, yang mungkin cocok untuk menemani mereka olahraga.

“Tidak berat?” tanya Taeyeon cemas. Keringat sudah mengucur dari dahi Luhan.

“Tentu saja kau berat,” jawab Luhan sambil terengah-engah.

“Kalau begitu, lepaskan aku!” seru Taeyeon pura-pura kesal.

Luhan tertawa. “Nan gwaenchanna. Tapi, setelah aku, giliranmu yang harus menggendongku, arra?”

“Itu tidak adil!” tolak Taeyeon.

“Tentu saja adil!” bantah Luhan.

Mereka terus berdebat hingga akhirnya Luhan memilih untuk diam. Beberapa anak-anak sekolah menengah yang baru pulang sekolah, menatap dan berbisik sambil menunjuk ke arah mereka berdua. Bahkan ada yang terkikik, da nada juga yang menggoda mereka dengan mengatakan mereka berdua adalah pasangan yang manis, membuat wajah Taeyeon bersemu merah.

Taeyeon menatap wajah Luhan yang ada di dekatnya. Wajah itu penuh peluh, penuh keringat. Ia begitu berjuang berlari sambil menggendong tubuh Taeyeon. Taeyeon memang tidak terlalu berat, tapi membawa beban sambil berlari adalah hal yang tidak mudah. Tindakan Luhan menunjukkan bahwa laki-laki ini ingin mengeluarkan beban fikirannya.

“Kau lelah? Baiklah, gantian denganku,” ujar Taeyeon. Ia melepas headset Luhan dan menyimpan ponselnya di dalam saku celananya.

“Jinjja?” tanya Luhan. Ia berhenti dan menurunkan tubuh Taeyeon dari punggungnya. “Kau berat juga,”

“Jangan bercanda,” ancam Taeyeon. Dengan berani ia membungkuk di depan Luhan. “Kajja, kita harus menyelesaikan olahraga ini dengan cepat. Naiklah ke punggungku, tidak perlu takut. Tulangku tidak akan mudah rontok,”

Luhan tertawa. “Siapa yang takut?”

Tanpa diduga Taeyeon sebelumnya, bukannya naik ke punggungnya, Luhan malah mengangkat tubuh Taeyeon ala bridal style. Taeyeon terkejut bukan main. Dikalungkannya lengannya di leher Luhan dan ia menatap laki-laki itu dengan pandangan sangat bingung.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Taeyeon.

“Mana mungkin aku bisa sampai hati melihatmu menggendong tubuhku? Tulangmu memang tidak akan rontok, tapi aku akan melihatmu terbaring di rumah sakit, dan itu lebih menyakitkan dari apapun,” jawab Luhan.

Taeyeon tersenyum simpul mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Luhan mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat dahi Taeyeon. Kemudian, ia kembali berlari mengitari perumahan itu sambil bercanda tawa dengan Taeyeon.

~~~

“Kau curang! Kau bisa melompat tinggi seperti itu sedangkan aku tidak bisa!” seru Taeyeon kesal saat Luhan melompat tinggi dan melakukan slam dunk, membuat bola basket yang ada di tangan Luhan masuk dengan sukses ke dalam ring.

Ya, setelah lari mengelilingi perumahan selama dua jam lamanya, Luhan mengajak Taeyeon untuk main basket bersama. Taeyeon awalnya menolak karena ia memikirkan kondisi Luhan yang mungkin saja lelah. Tapi, laki-laki itu seperti memiliki banyak tenaga di dalam dirinya.

Luhan melayangkan pukulannya ke atas dan tertawa melihat kekesalan di wajah Taeyeon. Ia melemparkan bola basket itu ke Taeyeon. “Ayo, aku berikan kau kesempatan untuk memasukkan bola ke ring,”

Taeyeon mendecak sebal. Ia men-dribble bola basket itu di hadapan Luhan yang kini tengah menghadangnya. Beberapa detik kemudian, Taeyeon lari ke depan sambil membawa bolanya dan hendak melompat untuk memasukkan bola itu. Sayang, Luhan dengan cepat menangkap tubuh Taeyeon dan ia memeluknya dari belakang, menyebabkan bola basket itu jatuh menggelinding entah ke mana.

Sedangkan Luhan dan Taeyeon, keduanya terjatuh di lapangan, dengan tubuh Taeyeon yang menimpa tubuh Luhan. Taeyeon menumpu tubuhnya dengan kedua lengannya, memeriksa keadaan Luhan, yang kini tengah terengah-engah mengatur nafasnya.

“Neo gwaenchanna?” tanya Taeyeon khawatir.

“Gwaenchanna,” jawab Luhan pelan. “Tapi sepertinya tubuhku yang habis di tending oleh Minho ini sedikit sakit,”

“Sudah kukatakan untuk tidak memaksakan dirimu, dasar keras kepala!” seru Taeyeon kesal.

Luhan hanya menyeringai mendengar ocehan Taeyeon. Dan gadis itu bangkit dari tubuh Luhan lalu berbaring di sampingnya, menatap langit malam yang kali ini dipenuhi oleh bintang.

“Banyak bintang,” ujar Taeyeon.

“Tapi yang paling bersinar tentu saja ada di depanku,” sambung Luhan. Ia menggenggam telapak tangan Taeyeon kuat-kuat dan meremasnya dengan lembut. Dibawanya telapak tangan Taeyeon ke bibirnya dan diciumnya dengan khidmat.

Taeyeon menatap Luhan dengan wajahnya yang merona. Selama dirinya bersama dengan laki-laki itu, wajah Taeyeon terus-menerus merona merah. Jantungnya tidak pernah berhenti berdetak dan desiran aneh di dadanya juga tidak kunjung pergi. Semua itu sudah menjadi kebiasaannya semenjak Luhan ada di hidupnya.

“Wae? Kenapa kau tiba-tiba saja mengajakku olahraga? Apa ada hal yang membuatmu terbebani?” tanya Taeyeon pelan. Genggaman tangan mereka belum juga lepas, dan Luhan pun tidak berniat untuk melepasnya.

“Besok aku sudah bisa pergi ke sekolah seperti biasa. Tidak terlalu sakit lagi, dan lagipula aku juga sudah rindu pada kantor Ketua Murid kita, tempat pertama aku dan kau dipertemukan,” jawab Luhan sambil tersenyum sangat manis. “Aku juga akan mengantarmu pulang. Kau tidak bisa tinggal di rumahku terus sebelum orang tuamu mengenalku sebagai kekasihmu,”

Jawaban Luhan membuat Taeyeon sedikit tertohok. Ia menundukkan wajahnya dan terlihat guratan kesenduan di sana. Dengan cepat Luhan mengangkat wajah gadisnya itu dan mata mereka bertemu lagi.

“Jangan seperti itu. Ini bukan salahmu, ini salahku. Aku akan membuat semuanya baik-baik saja, seperti dulu lagi. Jangan pernah berhenti berharap, arra? Kekuatanku ada padamu, Kim Taeyeon. Aku bisa kuat karena kau yang terus ada di sisiku. Tolong jangan pergi sebelum semuanya selesai, ne? Percayakan padaku, aku bisa. Kita bisa. Karena aku mencintaimu,” ungkap Luhan lembut sambil mengusap sayang wajah Taeyeon.

Taeyeon tersenyum simpul dan ia menganggukkan wajahnya. Genggaman tangan keduanya semakin erat, semakin terasa hangat.

“Kau juga harus cepat pulang karena kau pasti mengkhawatirkan kondisi ayahmu, ‘kan? Aku tahu dan aku tidak ingin kau berada di sini sedangkan fikiranmu melayang ke rumah. Aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” sambung Luhan.

“Kau tahu?” tanya Taeyeon, terkejut.

“Arra,” jawab Luhan. “Aku tahu kalau kemarin malam penyakit jantung ayahmu kambuh lagi. Ingin sekali aku menjenguknya, tapi kurasa sekarang bukan waktunya, benar?”

“Appa… memang sering kambuh. Tidak apa-apa, bukan apa-apa,” jawab Taeyeon. “Ia akan baik-baik saja. Ia hanya butuh istirahat saja. Kenapa kau bisa tahu? Apa kau mengecek ponselku kemarin malam saat aku tidur di kamarmu? Appa akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,”

Luhan menatap sendu kedua mata Taeyeon yang sedikit berair. Memang benar, setelah ia selesai membaca apa yang ditulis oleh ibunya dalam buku itu, ia memeriksa isi ponsel Taeyeon dan mendapati pesan dari sang kakak yang memintanya untuk segera pulang karena kondisi ayahnya yang kambuh. Ia merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia. Semua harta kekayaannya sebenarnya adalah milik keluarga Taeyeon. Betapa jahatnya sang ayah yang rela menusuk temannya sendiri demi perusahaannya, dan inilah yang membuat Luhan kembali membenci ayahnya sendiri. Walaupun itu untuk kepentingannya, tapi mengambil harta orang lain, bahkan sahabat sendiri, jauh lebih buruk dari sampah.

Luhan mendekatkan dirinya dengan Taeyeon seraya memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang. Dielusnya rambut lembut milik Taeyeon dan diciuminya ubun-ubun kepala Taeyeon. Perlahan, air mata Taeyeon jatuh begitu saja membasahi kedua pipinya. Luhan tidak melihat tangisannya, tapi ia tahu gadisnya kini benar-benar merasa terpuruk. Karena dirinya. Semua karena dirinya.

Dan Taeyeon, ia tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut. Ia takut Luhan akan bertanya-tanya mengenai permasalahan keluarga mereka. Ia hanya takut Luhan tahu dari bibirnya. Ia terlalu takut dengan reaksi yang kemungkinan akan diberikan Luhan. Ia takut kalau laki-laki itu bisa saja meninggalkannya.

Namun, Luhan diam saja. Ia diam sambil terus membelai lembut rambut Taeyeon, memberikannya sedikit kenyamanan dan ketenangan. Ia ingin membuktikan pada Taeyeon bahwa ia akan terus melindungi gadis itu apapun yang terjadi. Ia akan menjadi pundak bagi seorang Kim Taeyeon, kapanpun gadis itu membutuhkannya.

-To Be Continued-

Haloo^^ ngga lama, ‘kan nge-post FF ini? Kekeekeke~ ini aku sengaja, loh buatnya ngebut, karena aku berencana mau hiatus selama bulan Ramadhan ini, and you know what’s the reason, my deer *eh dear I mean-_-.
dan untuk chap ini, aku buat special full of Lutae moments, walaupun moments-nya juga absurd-_-, aneh, dan gajelasss karena aku buatnya juga ngebuutt. Aku buat special karena setelah chap 13 ini, ngga akan ada lagi romance moments di antara Luhan-Taeyeon^^, mohon maaf semaaf-maafnya kalau readers-ku yang selalu aktif di FF ini, agak kecewa dengan episode ini#kekekeke. Mungkin makin lama makin aneh, dan itulah alasannya, sebentar lagi FF ini akan selesaaaiii hoyeeeeee (selesai Ramadhan pastinya^^) dan di mohon untuk tunggu aku kambek dari dunia hiatus, yaa beibeehhh #chu
siyusuuunnnn~

Advertisements

143 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 13)

  1. Luhan bener2 manly, dih seneng bgt Taeyeon punya pacar mcm Luhan yg rela melakukan pengorbanan apapun demi cewek dia kan bikin envy huhu
    sweet, romance, lucu jg..
    ditunggu kelanjutannya ya thor

  2. woahhh akhirnya akhirnyaaaa 😀 Luhan ohh luhan makin semakin aja ihhh, chap ini ga lama nunggunya suka suka suka. Next Chapnya jgn lama lama thor. Author fighthing!!!

  3. Duh chapter ini serius bikin nge fly banget..
    what? Gaada lagi momen lutae? jangan dong thorㅠㅠ
    Momen lutarnya jangan dihilangin…
    aku berharap ff ini happy ending.
    aku suka banget
    lutae moments 💕💕💕💕

  4. Cowok kayak luhan pliis..
    luhan sayang banget sama taeng, ciee udh jadian nih ye..
    semoga masalah keluarganya cepat terselesaikan ya..
    Keep writing

  5. Aaa…
    Gomawo thor udah mau ngelanjutin *bow
    Sweet banget LuTae nya..
    Kapan sih mereka bener bener bisa bersatu?
    Penasaran sumpah..

    Next chapter ditunggu
    Hwaiting author 😘😄😂

  6. UDAH INI SUMPAH PUASS SAMA LUTAE MOMENT NYAA KYAAA~~ o((*^▽^*))o ciee yg baru jadiaan pejenyaa boleh keleuss wkwk… Umm Bina unnie mau hiatus?? Agak sedih sih u,u yaa tapi gpp deh yg penting selalu puas sama karya unnie. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA nyaa.. Hiatus 1 bulan harus diganti oleh Chapt14 yg puanjaaang dari yg ini #ditimpukauthor, hehehe. Full moment LuTae nya gak pernah gagal deh feel nya. Tapii kok Chap14 gak ada LuTae moment? Yaah ga seruu dong u,u. Ya tapi itu semua tergantung unnie deh gmn bagusnya cuma unnie yg tau^^ setelah cuap-cuapnya, I want to scream very loudly : “BINA UNNIE, 520❤”

  7. Huwaaaa. Daebaaak athor nim. Keren kereeeeeen kereeeeeeeeeen.
    Comebacknya authornim pasti di tunggu kok, hehe.
    Fighting ne thor!!!

  8. thorr bagusss aa,daebak lutae^^ pairing lutae cocok bet^^. konfliknya beratkah nanti? ditunggu thorr

  9. Best chapter 😍😍😍😍 seneng banget akhirnya taeyeon sama luhan bisa jadi couple /terharu/ 😭😭
    Paling suka sama moment mereka yg waktu lari” bareng ituu, aduh soo sweet bangettt 😍😭
    Please update soon yaa authornimm ☺☺☺☺☺

  10. hey author, wah keren bgt ni full lutae sukaaaa banget.. hehe
    tapi aku agak bingung author, kirain mereka kmrn belum jadian eh ternyata udah pacaran ya..
    apakah ff ini akan segera berakhir? masih mau lutae author, bikin ff lagi hehehe
    ditunggu kelanjutannya nih author walaupun masih abis lebaran ntar semoga langsung ngepost ff yg banyak fighting!! ^^

  11. ” Aku berjanji. Tidak perlu berjanji pada kalian, aku sudah berjanji pada diriku sendiri,” <<<< demi apa ini sweet bangettttt, bisa kena diabetes nih lama lama sama perlakuannya deerHan wkwk😍. Aku dengan setia nunggu chap14 abis puasa hihi #readersyangbaik. Tapiii Chap14 harus spesial pake telor #dikiranasigoreng wkwk. Fighting terus menulisnya Bina unnie, jgn pernah bosan utk terus menulis!^^

  12. Akhirnyaaaa jadi jugaa luhan sama taeyeoonnn. Seneeeng sumpaaahhh tapi gimana kejadian kedepan nya yaa? Penasarannn. Next thor

  13. Akhirnya mereka jadian juga😍😍
    Luhan sweet banget😆 tapi sifat pervertnya…
    Chapter ini bikin greget bangeeeet. Full dengan LuTae moment😝

    Penasaran banget sama next chapternya,menegangkan sepertinya😏

  14. Waaaah akhirnya dipublish juga 😀
    gapapa thor panjang yang penting Lutae momentnya banyak hehe ..
    next nextnya setelah selesai ramadhan ya agar yg menjalankan tidak dosa hihihi
    gomawo

  15. Cie yg udh jadian..pj ya pj wkwkwkwk…sedih juga sih hidup taeng..luhan keren banget..coba ada cowo kek gitu ya di dunia nyata..kayanya cuma ada di dunia ff lol..heol~tbc lagi-,-
    Update soon thor^ ^

  16. sempat shock saat tau LuTae jd couple, jiah taeng udah bls perasaannya my deer
    gk nyangka, tp sempat kecewa karena moment LuTae nya cmn di chap ini aja. Oke thor^^ gwaenchana jk hiatus dlu. Aku slalu menunggu ff mu yg slalu membuatku gilaaaa and gk bs tidur 😉
    hwaiting thor^^

  17. oh my god
    baru buka ATSIT ternyata ff favoritku udah update
    ya ampun ini kerenn banget
    bikin orang sampek senyum” sendiri bacanya
    pokoknya good job unnie

  18. jaha, greget Sama lutae … ㅠㅠ next chap ngga ada romance, yang penting di endingnya ada romance .. NC juga kalo bisa thorr… hihi

  19. Mian baru bisa komen thor ㅠ.ㅠ unik panggilan sayangnya luhan ke taeyeon kkkkkk dan gif nya suho itu nambahin greget thor, ganteng banget suhonya ♥.♥ bisa2 ngebiasin suho gara2 ff ini kkkkkkk nextnya tetep ditunggi meski lama. Fighting!

  20. Seneng bgt LuTae jadian
    Kurang so sweet thor,tapi gpp deh aku bacanya aja udh senyum2 kaya apaan tau/?
    Semoga masalah keluarga LuTae cepat terselesaikan

  21. kok sosweet???
    sumpah gak nyangka banget bisa jd begono…..
    seneng wehh ama LuTae momentnya,, di tunggu kelanjutannya

  22. This chap full of lutae moment..so sweet the lutae !!couple..ergh next chap nothing lutae moments..ahhh so sad..err..whatever this chap so sweet..sorry because im too late read this chap..i’ll be waiting forr next chap!!fighting thor!!

  23. ini ff yg paling ku tunggu akhirnya update juga hehehe #PadahalAkuYgMolor
    huaa ff mu makin daebak thornim … suka banget
    momentnya lutae sweet banget WOW !!! akhirnya mereka jadian juga ini loh yg pling ditunggu2 ….
    tapi kok chap depan gk ada moment romantisnya hembtt #sedih
    semoga masalah keluarganya cepet selesai ya thor !
    ntar reader sedih kalo taey dan luhan nya pisah2an huaa jgn smpek

    habis lebaran cepet comeback ya thor #mohon maaf lahir dan batin
    Fighting Ya lanjutin ffnya ku tunggu loh ide-idemu thornim hehehe see you

  24. ini ff yg paling ku tunggu akhirnya update juga hehehe #PadahalAkuYgMolor
    huaa ff mu makin daebak thornim … suka banget
    momentnya lutae sweet banget WOW !!! akhirnya mereka jadian juga ini loh yg pling ditunggu2 ….
    tapi kok chap depan gk ada moment romantisnya hembtt #sedih
    semoga masalah keluarganya cepet selesai ya thor !
    ntar reader sedih kalo taey dan luhan nya pisah2an huaa jgn smpek

    habis lebaran cepet comeback ya thor #mohon maaf lahir dan batin
    Fighting Ya lanjutin ffnya ku tunggu loh ide-idemu thornim hehehe see you

  25. Thor, kpn muncul chap selanjutnya? Udah lwt lebaran thor
    Penasaran ma chap selanjutnya thor
    Mangatt yy thorr …

  26. Hwangtaeja-bi?
    Suka banget sama sweet moment merekaa
    apa yang akan mereka lakukan terkait maslah orang tua merekaa?? Penasarannn

  27. luhan romantis ^^ ‘Bi’ panggilan yang cukup bagus. apa selepas ini moment lutae gak ada ? 😦 ini kerana masalahnya keluarga mereka ?

  28. Kalo semuanya pada ngumpul pasti ada aja yg bikin ketawa ngakak. Suka banget.. bener dah.
    Ini masih lama gak sih ffnya? Lgi brp chapter thor?
    Fighting thor! Ceritanya bagus. Penasaran pas luhan udh mau sekolah lagi >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s