Love, That One Word (Chapter 6)


NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Angst

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Byun Baekhyun, Xi Luhan

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4, Chapter 5

Preview of chapter 5

Taeyeon menatap punggung Baekhyun takut. Sejak tadi laki-laki itu hanya diam, dan tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Wajahnya masih menyiratkan marah dan kesal, meskipun Taeyeon tidak yakin apa yang menyebabkan Baekhyun seperti itu. Mungkin dia kecapean? Atau masih memikirkan kejadian tadi di taman belakang kedai kopi milik Jongin?

Taeyeon menggeleng, tidak mungkin Baekhyun seperti ini karena hal tadi. Laki-laki itu tidak mempunyai perasaan padanya, lalu kenapa dia berikap seperti itu? Mungkin Taeyeon terlalu percaya diri menebak.

Mereka sekarang sedang berada di dapur, Baekhyun sedang memasak untuk makan malam mereka. Selama seminggu Taeyeon tinggal bersama Baekhyun, hanya sekali gadis itu mencoba untuk memasak. Yah, kalian juga pasti tahu skill Taeyeon dalam hal memasak, sangat buruk. Dan Baekhyun melarang Taeyeon untuk kembali memasak sebelum dia benar-benar bisa.

“Oppa.” Panggil Taeyeon pelan. Baekhyun membalas dengan sebuah gumaman yang masih Taeyeon bisa dengar.

“Apa tadi oppa ke kamarku?.” Tanyanya hati-hati.

Setelah tadi mereka sampai di apartemen Baekhyun, Taeyeon langsung menuju kamarnya. Berniat untuk mencari rekaman CCTV-nya yang hilang entah dimana. Mungkin Taeyeon lupa menyimpan? Atau rekaman itu jatuh di suatu tempat? Entahlah, tapi dia benar-benar harus menemukannya, dan memberikan rekaman itu kepada polisi.

Setelah percakapannya tadi bersama Jongin, membuat Taeyeon sadar, kalau balas dendam memang bukan jalan yang baik.

“Tidak, memangnya kenapa?. apakah ada barangmu yang hilang?.”

“Tidak, aku hanya bertanya saja.” Jawab Taeyeon pelan.

Harus dia cari dimana rekaman itu?

Chapter 6

The one word that you draw inside of me
The one word that is always hidden inside of me
I’m looking at you, I’m always by your side
But I can’t say the words I love you

Hari ini adalah hari pernikahan Taeyeon dan Baekhyun. Para tamu undangan, mayoritas para pengusaha yang kenal dekat maupun hanya kenal dengan Baekhyun dan keluarganya mendominasi. Sedangkan tamu dari pihak Taeyeon hanya teman-temannya yang datang, Kim Jongin, Kwon Yuri, Xi Luhan, pamannya Lee Kwangsoo, dan pembantu rumahnya dulu, Lee ahjumma. Sooyoung tidak bisa hadir, karena sedang ada UTS di kampusnya.

Saat di telpon kemarin, Sooyoung benar-benar tidak menyangka kalau Taeyeon akan menikah dengan Baekhyun. Lebih tidak menyangka lagi ketika dia diberitahu kalau Taeyeon berhenti dari sekolahnya. Meskipun Sooyoung tahu kalau pernikahan mereka mungkin bisa di sebut sebagai pernikahan yang tanpa dibumbui ‘cinta’, namun gadis itu meyakinkan Taeyeon kalau nanti Baekhyun akan membalas perasaannya, pasti.

“Kau kenapa? Tersenyumlah, kau tidak mau ‘kan orang-orang menganggapmu pengantin terjelek yang pernah ada.”

Taeyeon menoleh dan mendapati Lee ahjumma yang sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu tertawa kecil mendengar ucapan Lee ahjumma.

“Ibu dan Ayah tidak datang.”

Lee ahjumma mengernyit mendengar ucapan Taeyeon. “I bu dan Ayah? Maksudmu Tn dan Ny Park?.”

Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Lee ahjumma.

“Kau tidak tahu Taeyeon-ah? Tn dan Ny Park telah dipenjara dua hari yang lalu. Baekhyun tidak memberitahumu?.”

Taeyeon menggeleng terkejut. Tn dan Ny Park di penjara? Bagaimana bisa? Kenapa mereka bisa dipenjara? Tunggu dulu, Baekhyun, apa jangan-jangan dia berbohong soal rekaman itu? Dia yang menemukan rekaman yang hilang itu?

“Tidak.”

“Ahjumma kira Baekhyun memberitahumu.” Ahjumma tengah memikirkan sesuatu. “Sudahlah lupakan dulu, nanti kau tanyakan saja pada Baekhyun langsung, sekarang tersenyum.”

Tangan ahjumma Lee menyentuh kedua sudut bibir Taeyeon dengan menggunakan tangannya dan mengangkatnya ke atas. “Nah, kan jadi cantik.”

“Hai beautiful bride.” Sebuah suara membuat momment Taeyeon dan ahjumma Lee teralihkan. Mereka berdua sama-sama menoleh ke asal suara dan mendapati Luhan yang tengah tersenyum manis ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah taeyeon, dengan bunga lili kesukaan Taeyeon ditangan kanannya.

“Ambilah, untukmu.” Luhan memberikan bunga lili itu kepada Taeyeon.

Dengan senang hati tangan mungil Taeyeon mengambil bunga itu. “Gomawo oppa. Bunganya sangat cantik.”

“Kau lebih cantik dari pada bunga itu, taeng.” Ucapan Luhan barusan sukses membuat wajah Taeyeon merona. Namun satu detik kemudian wajah merona Taeyeon berubah menjadi kesal. Dia teringat sesuatu.

“Oppa, kau tega sekali membiarkan aku menjadi orang terakhir yang mengetahui tentang berita kembalimu, bahkan Lee ahjumma dia lebih dulu mengetahuinya. Kau menemui Lee ahjumma sebelum kau menemuiku.”

Luhan menggaruk lehernya yang tidak gatal. Memang benar, Taeyeon orang terakhir yang mengetahui bahwa dirinya kembali dari China. Bahkan, Lee ahjumma yang tidak terlalu dekat dengan Luhan telah mengetahuinya tiga hari setelah Luhan kembali. Luhan waktu itu sengaja mengunjungi Lee ahjumma, sekedar hanya ingin tahu dan menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi ketika dirinya pergi ke China.

“Maafkan aku, taeng. Aku melakukan itu karena ada alasan, sudahlah, yang penting kita sudah bertemu ‘kan?.” Luhan memegang kedua bahu Taeyeon dan menatap mata gadis itu dalam. “Jangan marah?.”

“Aku tidak marah, aku hanya kesal.” Jawab Taeyeon. Bibir gadis itu terlihat mencibir lucu. Luhan dan ahjumma Lee tertawa kecil melihat tingkah lucu gadis di depan mereka.

“Maaf jika saya mengganggu, tapi bisakah saya membawa Taeyeon sebentar?.” Tiba-tiba, dari arah belakang Ahjumma Lee, muncul Jessica dengan senyum yang sangat menawan. Mereka bertiga menoleh dan tersenyum. “Tentu saja Jessica-ssi, silahkan bawa Taeyeon.” Jawab Ahjumma Lee.Luhan mengangguk menyetujui pernyataan Ahjumma Lee.

“Kamsahamnida, ayo Taeyeon.”

Jessica membawa Taeyeon mendekat ke arah keluarga Byun dengan langkah kaki yang sangat hati-hati. Gaun pengantin Taeyeon menjuntai panjang, sehingga mereka takut jika gaun itu terinjak dan menyebabkan hal yang tidak-tidak terjadi.

“Ah, Taeyeon-ah, duduklah.” Ucap Tn. byun ketika Taeyeon dan Jessica telah sampai di tempat dimana keluarga Byun duduk. Taeyeon menurut, dan duduk di kursi tepat sebelah Baekhyun. Jessica juga ikut duduk di sampingnya.

“Berhubung kalian berdua adalah pasangan pengantin baru,” Tn. Byun menatap Baekhyun dan Taeyeon secara bergantian. “Dan supaya orang-orang tidak mencurigai tentang pernikahan kalian yang terbilang buru-buru ini, maka Appa dan Eomma, juga Jessica mengusulkan kalau kalian harus pergi berbulan madu.”

Taeyeon menatap Tn. Byun terkejut, berbeda dengan Baekhyun yang terlihat santai-santai saja, mungkin laki-laki itu sedang menjaga image-nya, karena mereka kini masih di acara pernikahan mereka, dan tidak ingin mengundang perhatian orang lain.

“Tapi appa-”

“Taeyeon-ah, jebal, kau jangan menolak. Bulan madu bagi pasangan pengantin baru itu sudah biasa dilakukan, justru orang-orang akan curiga jika sepasang pengantin baru tidak pergi berbulan madu, apalagi kau menantu kami.”

Taeyeon diam. Dia tidak setuju? Tentu saja bukan begitu, sebenarnya gadis itu sangat senang. Bulan madu adalah salah satu impian yang ingin dia lakukan jika dirinya menikah nanti. Tapi yang jadi masalah, dia tidak mau menghabiskan waktu berdua dengan Baekhyun di tempat yang menurutnya asing nanti. Akan sangat canggung, bukan? Terlebih, Taeyeon juga malu.

“Aku tidak menolak, terserah Baekhyun oppa saja.”

Mata Jessica, Tn dan Ny. Byun kini beralih menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. Baekhyun yang menyadarinya, mengangguk setuju. “Baiklah, kita akan pergi.”

“Yes!!.” Jessica mengeluarkan suara senangnya mendengar jawaban Baekhyun. Sebenarnya perempuan itu sangat gemas dengan Baekhyun dan Taeyeon, terlebih kepada adiknya, Baekhyun. Dia tahu kalau adiknya itu sebenarnya mempunyai perasaan kepada Taeyeon, tapi Baekhyun terlalu bodoh untuk menyadarinya.Terlihat sekali dari sikapnya terhadap Taeyeon yang menurut Jessica sangat berlebihan.

“Baiklah, untuk tujuan, appa dan eomma serahkan pada kalian saja. Tapi maaf, nanti kami tidak bisa mengantar kalian ke bandara, setelah acara ini appa dan eomma harus pergi ke Jepang bertemu dengan rekan kerja appa.” Ujar Tn. byun.

“Itulah mengapa kita membicarakan tentang bulan madu kalian di sini, bahkan sebelum acara ini selesai. Tapi dari pada lupa, iya ‘kan?.” Ny. Byun menimpali ucapan Tn. Byun yang disambut anggukan oleh suaminya itu.

“Benar kata eomma-mu, Baekhyun-ah, Taeyeon-ah. Ya sudah, pergilah, sambut kembali para tamu. Dan Jessica, Suho menunggumu di depan, cepat temui dia dan susul segera adikmu yang sudah menikah ini. Kau tidak mau kan jadi perawan tua kan?.”

Semua orang yang ada di meja itu tertawa mendengar ucapan dari Tn. Byun. Jessica mendelik tajam kepada ayahnya. “Ara ara, aku pergi. Berhenti menggodaku, appa.”

Jessica berlalu meninggalkan mereka dengan raut muka kesalnya. “Kau keterlaluan sayang.” Ucap Ny. Byun menahan tawa.

Love, That One Word

“Kau tidak apa-apa?.” Tanya Lay pada Luhan yang sedang memainkan handphone-nya. Chanyeol yang sejak tadi fokus dengan lamunannya, menatap Yuri yang duduk bersama Jongin dan Ahjumma Lee tidak jauh dari tempatnya duduk sekarang, mengalihkan pandangannya menatap Luhan penasaran.

“Apakah aku terlihat seperti tidak apa-apa, hyung?.” Tanya Luhan balik. Matanya terpejam rapat, mulutnya mengeluarkan helaan napas yang masih bisa terdengar oleh Lay dan juga Chanyeol. “Aku bohong jika aku menjawab tidak apa-apa, tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi.” Lanjutnya.

“Hyung, aku mengerti perasaanmu. Meskipun aku baru mengenalmu, tapi percayalah, aku benar-benar tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini.” Timpal Chanyeol.

“Aku yang bodoh, seharusnya aku tidak meninggalkannya dulu.” Ujar Luhan pelan.

Lay dan Chanyeol saling berpandangan, mereka kasihan melihat Luhan seperti ini.

“Menyesali apa yang sudah terjadi tidak ada gunanya, hyung.”

Luhan mengangguk mendengar ucapan Chanyeol. “Aku tahu. Oh, tolong beritahu teman kalian untuk menjaga Taeyeon dengan baik, karena kalau tidak aku sendiri yang akan turun tangan.”

Lay dan Chanyeol menatap Luhan takut. Meskipun mereka tahu bahwa Luhan hanya bercanda dengan perkataannya, tapi mereka tidak bisa menampik kalau mereka sedikit merinding melihat tatapan mata Luhan.

Love, That One Word

Taeyeon mencoba meraih resleting gaun pengantinnya dengan susah payah. Bukankah Jessica memilih gaun terbaik, tapi kenapa gadis itu begitu susah untuk membuka resletingnya? Resletingnya seperti macet, anehnya tadi pas Taeyeon memakainya, resleting itu begitu mudah dinaikkan.

Saat ini Taeyeon sedang berada di kamar mandi, dia begitu lelah dan berniat untuk merilekskan tubuhnya dengan mandi. Namun hampir satu jam gadis itu di kamar mandi, setetespun air yang segar belum membasahi tubuhnya yang lengket karena keringat. Salahkan gaun cantik namun menyebalkan yang tidak mau lepas dari tubuh mungilnya itu.

“Yeon?.”

Taeyeon menghela napas ketika kembali suara Baekhyun memanggil namanya dari luar. Kalau dihitung, ini sudah ke empat kalinya laki-laki itu memanggil nama panggilan yang sangat Taeyeon sukai itu. Dan Taeyeon tahu apa yang akan Baekhyun tanyakan setelahnya.

“Apa kau sudah selesai? Kau terlalu lama di dalam, yeonie-ah.”

Selesai bagaimana? Bahkan melepaskan gaun ini pun sangat susah. Pikir Taeyeon.

“Cepat keluar dan tidurlah, ini sudah malam. Terlalu lama berendam di dalam air bisa membuatmu sakit, yeon.”

Taeyeon menghela napasnya kasar. Bisakah sekali laki-laki itu tidak memperhatikannya? Bukannya Taeyeon tidak suka, hanya saja dia sedikit risih jika Baekhyun memperhatikannya seperti itu, apalagi Taeyeon tahu Baekhyun tidak benar-benar memperhatikannya karena kemauan laki-laki itu sendiri.

Taeyeon membuka pintu kamar mandi, dan begitu terkejutnya gadis itu mendapati Baekhyun dengan muka khawatirnya tepat berada di depannya. Setahu Taeyeon, sebelum dia memasuki kamar mandi tadi, Baekhyun sedang sibuk mengurus beberapa kertas yang Taeyeon tebak adalah beberapa file penting perusahaannya di kamar.

Raut muka Baekhyun berubah, yang tadinya khawatir, sekarang menatap Taeyeon heran. Tentu saja, selama hampir satu jam Taeyeon berada di dalam kamar mandi, dia pikir gadis itu sedang membersihkan tubuhnya. Namun nyatanya? Bahkan gaun pernikahannya pun masih terpakai rapi di tubuhnya.

“Aku pikir kau sedang mandi.” Baekhyun menaikkan sebelah alisnya, mengintimidasi Taeyeon.

Taeyeon berdehem, sebelum akhirnya menjawab dengan ragu. “Resleting gaun ini susah dibuka. Bisa oppa telpon Jessica unni untuk datang kesini sekarang?.”

Baekhyun memiringkan kepalanya bingung dengan permintaan polos yang terlontar dari mulut gadis didepannya. “Kau ini, sudah pukul 11 malam, dan aku yakin Jessica noona sedang tertidur pulas sekarang. Lagi pula untuk apa?.”

Taeyeon menunduk, sungguh, gadis itu tidak bisa lama-lama menatap mata Baekhyun. “Untuk membantuku melepas resleting sialan ini.”

Baekhyun tertawa dalam hati. Meskipun Taeyeon sedang menunduk, namun Baekhyun dapat melihat jelas muka kesal Taeyeon saat ini. Tangan Baekhyun terangkat dan memegang kedua pundak Taeyeon, sebelum akhirnya laki-laki itu memutar tubuh Taeyeon untuk membelakanginya.

“Kenapa harus menelpon Jessica noona kalau ada aku di sini, huh?.”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya ketika dia merasakan napas Baekhyun berada tepat di leher belakangnya. Ayolah, hanya membuka resleting ‘kan? Tidak perlu sedekat itu Byun Baekhyun!

“Oppa sedang sibuk tadi, aku tidak mau mengganggu oppa.” Ujar Taeyeon pelan. Dalam hati dia berdoa agar Baekhyun cepat menjauh dari tubuhnya.

Baekhyun menahan napas ketika tangannya berhasil membuka resleting gaun milik Taeyeon. Resleting itu turun hampir mencapai pinggang kecil Taeyeon, sehingga mau tak mau Baekhyun melihat punggung Taeyeon yang putih mulus bagaikan bayi.

Baekhyun menggigit bibirnya, ayolah Baekhyun adalah laki-laki dengan usia dewasa. Bohong jika laki-laki itu tidak tergoda dengan pemandangan yang ada di depannya saat ini. Bohong jika Baekhyun tidak ingin menyentuh punggung itu barang sejengkalpun. Bohong jika Baekhyun tidak ingin mencium setiap inci punggung itu.

Baekhyun sangat ingin melakukannya, sangat. Tidak peduli jika nanti Taeyeon marah padanya, tidak peduli jika nanti Taeyeon tidak suka padanya, yang penting saat ini adalah Baekhyun ingin menyentuhnya.

Namun seketika keinginan itu hilang, ketika otaknya berputar ke kejadian tadi siang di pernikahannya. Ketika Baekhyun melihat Taeyeon yang begitu nyamannya berdua dengan Luhan. Bagaimana gadis itu tertawa begitu lepas dengan Luhan, bahkan Baekhyun yakin, daripada dengannya, Taeyeon lebih banyak menghabiskan waktu dengan Luhan tadi. Apakah Luhan begitu spesial di kehidupan Taeyeon?

“Kau jangan terlalu dekat dengan Luhan.” Ujar Baekhyun pelan. Laki-laki itu berbalik, hendak meninggalkan Taeyeon. Namun suara Taeyeon berhasil menghentikannya.

“Wae?.” Taeyeon membalikkan tubuhnya menghadap Baekhyun yang sekarang tengah memunggunginya. “Luhan oppa temanku. Kenapa oppa melarangku dekat dengannya?.” Tanya Taeyeon pelan.

Baekhyun tertawa kecil, ia membalikkan tubuhnya dan kembali menghampiri Taeyeon. Tangannya mencengkram kedua bahu Taeyeon cukup keras. “Dengar Kim Taeyeon, kau istriku. Bagaimana reaksi orang yang melihatmu berdua dengan Luhan? Apa kau tidak tahu sejak di pernikahan tadi banyak teman ayahku yang bertanya kenapa kau terus berduaan dengan Luhan? Bahkan kau mengabaikan suamimu sendiri hanya untuk berduaan dengannya? Apa kau tidak sadar betapa aku malu saat itu, huh? Kau harus sadar Kim Taeyeon, kau tidak mau orang lain mengecapmu sebagai wanita yang ‘gatal’ ‘kan?!”

Taeyeon mengerang sakit ketika tangan Baekhyun mencengkram bahunya keras. Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya saat ini. Perkataan Baekhyun benar-benar tidak terduga, dan Taeyeon begitu kecewa mendengar Baekhyun berkata seperti itu padanya.

“Lalu, bagaimana denganmu?.” Baekhyun mengerjapkan kedua matanya mendengar ucapan Taeyeon. Gadis itu tidak memanggilnya ‘oppa’.

“Kau dengan Irene-ssi. Kau pikir aku tidak bisa melihat, huh? Aku berdua dengan Luhan oppa ditemani oleh Lee ahjumma, Yuri, Jongin oppa dan yang lain. Sedangkan kau? Kau hanya berdua dengan Irene-ssi. Kau tahu aku juga malu ketika orang lain bertanya tentang kau dengan Irene-ssi yang begitu dekat!.”

Taeyeon menggigit bibir bawahnya setelah dia menyadari apa yang barusan dia katakan. Tapi gadis itu menggeleng dalam hati, dia tidak boleh selalu kalah dalam perdebatan dengan Baekhyun. Taeyeon juga harus melawan, bukan?

“Irene itu teman Seulgi, dan dia adalah sekretarisku.”

“Apakah dengan seorang sekretaris harus sedekat itu? Dulu ayahku dengan sekretarisnya hanya dekat saat dalam jam bekerja saja, selebihnya tidak.” Ujar Taeyeon, matanya sedikit berkaca-kaca. “Lagi pula dulu Seulgi eonni pernah bilang, hubungannya dengan Irene-ssi sedikit renggang karena Irene-ssi bilang dia menyukai pacar eonni, dan aku yakin yang dimaksud Seulgi eonni itu dirimu. Dan melihat bagaimana kalian berinteraksi tadi, aku sedikit yakin kalau kau juga menyukai Irene-ssi.”

“Jangan berbicara yang tidak-tidak, kim Taeyeon!. Dengar baik-baik, aku tidak menyukai Irene.” Ujar Baekhyun penuh penekanan.

Taeyeon menggeleng, tangannya terangkat dan mencoba untuk melepaskan kedua tangan Baekhyun yang memegang bahunya. “Lepaskan aku oppa, aku ingin mandi.” Bisik Taeyeon. Ia menunduk, air mata siap turun dari pipinya.

“Berjanji dulu padaku kalau kau tidak akan pernah menemui Luhan lagi.”

Taeyeon mengangkat kepalanya, mata gadis itu menatap Baekhyun tajam. “Kenapa kau begitu memaksa?! Kenapa kau sangat tidak ingin aku dekat dengan Luhan oppa?! Apa kau cemburu melihatku berdua dengan Luhan oppa?!.” Ucapan Taeyeon terhenti, gadis itu tertawa miris. “Tentu saja kau tidak cemburu ‘kan? Kau tidak mencintaiku, lalu kenapa kau begitu tidak suka?!.”

“Karena aku tidak mau orang-orang memandangmu sebagai wanita yang tidak tahu diri! Kau tahu siapa aku? Aku Byun Baekhyun, putra bungsu dari keluarga Byun Taejun yang memiliki salah satu perusahaan besar di Asia. Orang-orang mengenalku, bahkan tidak sedikit orang luar Korea yang juga mengenalku. Aku tidak mau kau mengahancurkan reputasiku di kalangan para pengusaha!.”

Runtuh sudah pertahanan yang Taeyeon bangun. Air mata yang sejak tadi dia tahan untuk tidak keluar akhirnya keluar begitu saja. Satu hal yang ia ketahui lagi tentang Baekhyun, dia arogan. Apakah Baekhyun benar-benar menganggap Taeyeon rendah? Ayolah, hanya karena dia bukan adik kandung Seulgi, orang yang Baekhyun cintai, sampai-sampai membuat Baekhyun memandang Taeyeon seperti ini?

“Terima kasih, sudah membantuku membuka resleting ini.” Ujar Taeyeon dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Tangannya menepis kasar tangan Baekhyun. Taeyeon berbalik dengan tangannya yang berusaha memegang gaun pengantin agar tidak terlepas dari tubuhnya. Gadis itu kembali memasuki kamar mandi, meninggalkan Baekhyun yang menatap lantai di bawah dengan pandangan kosong.

Taeyeon mengangis keras di dalam bath, gadis itu bahkan sengaja menghidupkan shower agar tangisannya tidak terdengar keluar. Taeyeon merutuk dalam hati, kenapa dia harus menangis? Yang lebih dia sesali adalah kenapa dia harus menangis di hadapan baekhyun tadi?

Jujur, perkataan Baekhyun tadi memang begitu menyakitkan baginya. Tapi bukan itu yang Taeyeon pikirkan sepenuhnya saat ini. Justru perkataannya sendiri yang mendominasi pikirannya. Perkataannya yang begitu yakin kalau Baekhyun menyukai Irene. Walaupun Baekhyun menampiknya tadi, tapi tetap saja Taeyeon tidak tenang.

Taeyeon mengenal Irene sejak lama. Seulgi yang memperkenalkan mereka, Irene memang baik, tapi dia hanya berlaku baik jika Seulgi sedang bersama mereka. Dan Irene akan berubah menjadi Irene yang tidak punya hati jika Seulgi tidak ada bersama mereka. Taeyeon masih sangat ingat ketika Irene mengatainya ‘Gadis yang tidak tahu malu’. Bahkan beberapa kali Irene berbicara hal yang tidak-tidak tentang kedua orang tua kandungnya. Taeyeon tidak melaporkannya pada Seulgi, karena dia sadar bahwa dirinya masih ‘baru’ dalam kehidupan Seulgi.

Taeyeon tidak tahu kenapa irene begitu tidak menyukainya. Bahkan dia dan Irene baru saja kenal, tapi seolah-olah Irene begitu tidak suka. Yang Taeyeon tahu setelah dia sekolah di Jepang, Seulgi menghubunginya dan bilang kalau dia sudah tidak dekat dengan Irene. Itu dikarenakan Irene yang begitu jujur bilang pada Seulgi kalau dirinya menyukai pacar Seulgi.

Irene sangat cantik, bahkan sipatnya begitu dewasa beda dengannya yang kekanak-kanakkan. Taeyeon takut, bagaimana kalau Baekhyun benar-benar menyukai Irene? Irene adalah sekretaris Baekhyun, dan setiap hari Baekhyun disibukkan dengan pekerjaannya yang otomatis setiap hari pula Baekhyun bertemu dengan Irene. Dan yang lebih mirisnya, dia di kantor dari pagi sampai larut malam.

Taeyeon tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Taeyeon cemburu karena dia mencintai Baekhyun. Sedangkan Baekhyun? Tidak perlu ditanya. Sejujurnya Taeyeon akan menurut jika alasan Baekhyun melarangnya berdekatan dengan Luhan karena dia cemburu. Tapi, siapa dia? Kenapa dia harus cemburu? Dan benar saja, alasan dia tidak mau Taeyeon berdekatan dengan Luhan hanya karena dia tidak mau reputasinya buruk. Lagi-lagi, kenapa Taeyeon suka percaya diri dengan pikirannya sendiri?

Taeyeon tersentak kaget ketika dia ingat bahwa dirinya tidak membawa baju salinan ke kamar mandi. Gadis itu memukul kening kepalanya keras, sehingga membuat kening itu sedikit merah. Sipat pelupanya tidak pernah hilang, dan Taeyeon benci itu.

Sekarang dia harus bagaimana? Bahkan handuk ‘pun dia tidak bawa. Tidak lucu kalau dirinya harus kembali memakai gaun pengantin itu ‘kan?

“Taeyeon bodoh.” Rutuknya.

Taeyeon membersihkan diri dari sabun yang menempel pada tubuhnya. Setelah memastikan tubuhnya bersih dari sabun, gadis itu mengeringkan rambut dengan menggunakan tangannya. Taeyeon lalu berjalan menuju pintu kamar mandi, dia mengambil napas panjang, tidak ada pilihan lain. Dia berharap Baekhyun sudah tidur di kamar mereka, tunggu dulu, mereka? Ya, karena Taeyeon yakin, setelah mereka menikah, Baekhyun akan tidur di ‘kamarnya’, setelah selama ini ketika Taeyeon pindah ke apartemen Baekhyun, laki-laki itu selalu tidur di ruang tengah, sedangkan dirinya tidur di kamar milik Baekhyun.

Perlahan tangan Taeyeon terangkat untuk membuka kunci pintu, setelah berhasil tangannya perlahan membuka pintu itu dan seketika gadis itu menahan napas. Baekhyun, dengan tangan kanan memegang handuk dan tangan kirinya memegang sepasang baju yang Taeyeon yakini itu adalah baju tidurnya berdiri dua langkah di depan pintu. Taeyeon bersyukur karena dia hanya memperlihatkan kepalanya, sedangkan tubuh mungil gadis itu terhalang oleh pintu sehingga Baekhyun tidak dapat melihat tubuh naked Taeyeon.

“Kenapa sipat cerobohmu tidak pernah hilang?.” Baekhyun menggelengkan kepalanya menatap Taeyeon. Taeyeon hanya menunduk, seketika dia lupa dengan argumen mereka tadi. Pipinya bersemu merah.

“Cepat keluar dan keringkan dirimu. Sudah tengah malam dan kau baru selesai mandi, apa kau ingin sakit, yeon?.”

‘Yeon’. Baekhyun kembali memanggil Taeyeon dengan nama panggilan yang begitu Taeyeon suka. Banyak sipat Baekhyun yang Taeyeon ketahui, kebanyakan dia tidak menyukainya, namun jika seperti ini Taeyeon sangat menyukainya. Selama ini, tidak jarang mereka bertengkar. Bukan hanya tentang perbedaan pendapat saja, Taeyeon sering mempermasalahkan sipat Baekhyun yang over-protective seperti seulgi padanya. Dan jika mereka sudah bertengkar, tidak lama setelah itu, Baekhyun lah yang sering mengalah. Laki-laki itu sering bersikap seolah-olah pertengkaran itu tidak pernah terjadi, sehingga membuat Taeyeon sendiri tidak canggung berada di dekat Baekhyun.

“Berjalanlah mendekat, aku tidak bisa menjangkaunya, oppa.”

Baekhyun menaikkan sebelah alis dan mengeluarkan smirknya. Dia lalu menatap Taeyeon menantang. “Siapa yang butuh baju ini? Aku sudah dengan senang hati membawakannya untukmu, maka sekarang tinggal kau yang mengambilnya dari tanganku. Berjalanlah kesini.”

Taeyeon membulatkan matanya. Baekhyun hanya bercanda ‘kan?

“Aku tidak menyuruh oppa. Bukankah oppa sendiri yang berinisiatif membawa baju dan handuk itu ke sini?.”

“Jadi kau berniat keluar dari kamar mandi telanjang? Tahu begitu, lebih baik aku tidak datang dan berpura-pura tidur saja tadi.” Baekhyun tertawa kecil.

“Oppa byuntae!!.” Taeyeon menatap Baekhyun tidak percaya. Sejak kapan dia mempunyai sisi mesum seperti ini? Ayolah Taeyeon sedang tidak ingin bercanda sekarang, dia benar-benar kedinginan.

“Byun Taeyeon, keluar atau kau akan mati kedinginan di sana?.”

Taeyeon lagi-lagi mengerjapkan matanya. ‘Byun Taeyeon’? apa dia tidak salah dengar? Baekhyun memanggilnya Byun Taeyeon? Entah mengapa dia ingin menangis bahagia saat itu juga, bagaimanapun Baekhyun tetap menganggapnya istri meskipun mereka menikah tanpa dilandasi cinta.

“Apa oppa tega membiarkanku keluar tanpa sehelaipun baju?.”

“Wae? Kau malu?.”

“Tentu saja!! Apa oppa tidak malu kalau oppa sendiri yang melakukannya? Keluar dari kamar mandi telanjang tanpa menggunakan apapun?!.” Taeyeon bertanya dengan spontan, dan tebak, jawaban Baekhyun setelahnya benar-benar membuat Taeyeon menganga tidak percaya.

“Kalau hanya ada kau kenapa aku harus malu? Bukankah kita suami istri? Lagipula hal itu akan sering terjadi nantinya.”

Baekhyun berjalan mendekat, handuk yang dia pegang dilemparnya ke kepala Taeyeon, sedangkan baju yang dia bawa dia simpan di meja samping pintu kamar mandi. “Cepat pakai bajumu, dan tidur.”

Setelah mengucapkan itu, Baekhyun berbalik meninggalkan Taeyeon yang tetap mematung di belakang pintu. Baekhyun itu sering tidak terduga, kadang dingin, jahat, baik, dan . . . romantis?

Taeyeon menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar harus berhenti memikirkan Baekhyun atau selamanya dia akan terjebak dalam cinta sepihak.

Love, That One Word

Taeyeon memasuki kamarnya dengan ragu, sepanjang jalan menuju kamar, dia terus berdoa agar Baekhyun telah tertidur lelap. Namun lagi-lagi do’anya tidak dikabulkan, karena setelah dia membuka pintu kamarnya, terlihat Baekhyun duduk di atas kasur dengan matanya yang terfokus terhadap beberapa makalah di tangannya.

Melihat Baekhyun yang begitu fokus mempelajari satu persatu makalah itu, membuat Taeyeon sedikit kasihan. Baekhyun pasti capek. Setiap malam, bahkan meskipun dia pulang larut dari kantor, dia tidak langsung tidur. Dia malah kembali berkutat dengan kertas-kertas yang bahkan Taeyeon sendiri dibuat mual melihatnya.

“Kau tidak berniat untuk tidur? Melamun di malam hari sangat tidak baik, yeon”

Taeyeon mengerjapkan matanya. Berapa lama tadi dia melamun? Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Baekhyun sudah mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu yang berada di setiap sisi ranjang.

“Kita tidur satu ranjang?.”

Pertanyaaan polos Taeyeon membuat Baekhyun berhenti dari aktivitasnya. Posisinya semula yang hampir berbaring, kini dia tegakkan kembali. “Memangnya suami istri suka tidur pisah ranjang? Ckk. Tutuplah pintunya, dan cepat tidur. Besok Jessica noona, Chanyeol dan Lay hyung akan datang. ‘Kita’ harus memasak untuk mereka.”

Taeyeon mengembungkan pipi. Setelah dia berhasil menutup pintu di belakangnya, gadis itu berjalan menuju sisi ranjang. Saat hendak Taeyeon menaiki ranjang itu, dia dikagetkan oleh Baekhyun yang tiba-tiba berdiri dari tidurnya dan mendekat ke arah Taeyeon. Tangan besarnya menangkup wajah Taeyeon, dan matanya memperhatikan wajah itu dalam.

“Kenapa dengan keningmu? Kenapa merah? Apa kau terjatuh di kamar mandi tadi? Bisakah kau menghilangkan sikap cerobohmu itu, yeon? Berhentilah membuat dirimu sendiri celaka.” Tanya Baekhyun tanpa jeda. Wajah laki-laki itu menunjukan kekhawatiran.

Taeyeon tertegun atas perlakuan Baekhyun. Gadis itu balas menatap wajah Baekhyun tak kalah dalamnya.

“Tidak apa-apa, tadi aku tidak sengaja memukulnya, oppa jangan khawatir.” Ujar Taeyeon pelan, tangannya menyingkirkan kedua telapak tangan Baekhyun yang menempel di wajahnya.

Baekhyun kembali ke posisinya semula, berbaring dan memunggungi Taeyeon yang juga ikut berbaring memunggunginya.

“Oppa, gomawo.”

“Untuk apa?.”

“Eomma dan appa Park. Terima kasih karena telah melaporkan mereka ke kantor polisi. Jujur saja, awalnya aku ingin balas dendam kepada mereka, aku ingin membuat mereka hancur seperti apa yang telah mereka lakukan padaku, itulah mengapa aku berbohong pada oppa soal rekaman itu. Tapi aku beruntung mempunyai Jongin oppa, dia telah menyadarkanku, dan aku sadar dengan hanya balas dendam tidak akan pernah menyelesaikan masalah.” Ujar Taeyeon panjang lebar.

Baekhyun berbalik dan menatap Taeyeon yang memunggunginya. Tangannya meronta ingin mengelus rambut hitam itu, namun entah mengapa rasanya sangat berat, bahkan untuk sekedar mengangkat tangannya pun dia tidak berani.

“Aku melakukan ini bukan hanya untukmu, tapi juga untuk Seulgi.”

Taeyeon diam, tidak kembali menyahut ucapan Baekhyun. Sekuat tenaga dia kembali menahan dirinya agar tidak terisak saat itu juga. Kenapa Baekhyun selalu seperti ini? Segala hal yang dia lakukan untuk Taeyeon, ujung-ujungnya pasti berkaitan dengan Seulgi. Dan mungkin bentuk perhatian tadi pun karena dia tidak ingin Seulgi di sana menganggap baekhyun gagal menjaga Taeyeon?

‘You hurted me again.’ Ucapnya dalam hati.

Love, That One Word

Keesokan harinya, sesuai dengan ucapan Baekhyun kepada Taeyeon, bahwa teman-teman mereka bersama Jessica akan datang ke rumahnya. tapi ada satu orang yang membuat Baekhyun tidak suka, sangat tidak suka, yaitu kehadiran Luhan yang menurutnya tidak di undang sama sekali.

Memangnya Luhan siapa? Baekhyun tidak mengundangnya, dan dia datang tanpa malu begitu saja. oh, dia baru ingat, Luhan adalah ‘orang paling penting’ di kehidupan Taeyeon, maka tidak salah jika dia datang. Tapi, yang merencanakan ini semua adalah Baekhyun, yang mengundang teman-teman mereka adalah Baekhyun, dan dia yakin seyakin-yakinnya bahwa Luhan tidak termasuk dalam daftar temannya.

Dari pertama Lay, Chanyeol, Jessica, Yuri, Jongin dan Luhan memasuki apartemen Baekhyun, sejak saat itu juga Baekhyun tidak berbicara bahkan tidak menyapa Lay. Baekhyun sempat berpikir kalau Lay lah yang mengajak Luhan ke sini, karena setahunya Luhan dan Lay itu berteman. Meskipun dia juga tahu bahwa Luhan juga berteman dengan Yuri dan Jongin, tapi tidak mungkin mereka mengajaknya ‘kan?

“Wahh, hebat, masakan kalian tidak kalah enaknya dengan masakan yang ada di restoran Lay hyung.” Ujar Chanyeol sambil menggigit apelnya.

“Apa benar kau juga ikut memasak Taeng? Setahuku kau tidak bisa memasak, apalagi masakan tadi sungguh enak.” Sindir Yuri setengah bercanda. Jongin yang duduk di sebelahnya ikut tertawa bersama Yuri.

“Yul, tidak mungkin selamanya aku tidak bisa memasak ‘kan? Ya meskipun tidak sejago-mu, tapi sekarang aku sudah lumayan dalam hal memasak.”

“Benarkah? Bahkan memasak telur pun gosong, apakah itu yang di sebut lumayan?.” Kali ini Baekhyun sendiri yang menyindirnya. “Taeyeon hanya membantu menyiapkan peralatan, selebihnya aku yang bekerja.” Lanjutnya, bahkan Baekhyun menjulurkan lidahnya ke arah Taeyeon yang sedang memberikannya ‘death glare’.

Melihat ini, Jessica, Lay dan Chanyeol sangat terkejut. Belum pernah selama hidupnya Baekhyun bercanda seperti ini. Selama ini Baekhyun selalu serius, bahkan jika orang lain sedang bercanda, Baekhyun hanya mendengarkan tanpa menaruh perhatian sedikitpun.

Jessica tersenyum puas dalam hati. Bahkan setahunya juga, bersama Seulgi Baekhyun tidak pernah seperti ini, ini merupakan kejadian yang baru menurutnya.

“Ngomong-ngomong, kemana kalian akan berbulan madu? Apakah ke Paris? Maldives? Atau New York? Kemarin aku searching di internet, ketiga kota itu adalah favorit bagi para honeymooners, aku yakin kalian berdua akan sangat menikmatinya.” Ujar Jessica, pikirannya melayang membayangkan bagaimana nanti Taeyeon dan Baekhyun berbulan madu. Jujur saja, meskipun Jessica tahu kalau Baekhyun menikahi Taeyeon karena atas permintaan Seulgi, namun Jessica yakin di balik itu semua Baekhyun menikahi Taeyeon karena dia sendiri mempunyai perasaan khusus terhadapnya. Ayolah, Jessica adalah kakak kandung Byun Baekhyun, dia dari kecil sampai sekarang ini tahu bagaimana Baekhyun, meskipun keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, namun tidak menutup kalau mereka sangat dekat satu sama lain.

Cara Baekhyun perhatian terhadap Taeyeon berbeda dengan caranya perhatian terhadap Seulgi. Cara Baekhyun khawatir terhadap Taeyeon juga berbeda dengan caranya khawatir terhadap Seulgi. Jessica bisa melihatnya dengan jelas, meskipun beberapa kali adiknya itu menampik bahwa dirinya tidak menyukai Taeyeon, namun Jessica tetap yakin bahwa semua yang dikatakan Baekhyun bohong.

“Kalian benar-benar akan pergi berbulan madu?.” Tanya Jongin.

“Bahkan pernikahan kalian tidak dilandasi dengan ‘cinta’, lalu apa yang akan kalian lakukan di sana? Percuma saja hanya membuang-buang uang.” Kali ini Luhan yang berujar dengan nada santai, namun matanya menatap Baekhyun remeh.

“Tapi kalau mereka tidak berbulan madu, orang akan berpikiran yang tidak-tidak. Kita tahu ‘kan Baekhyun cukup terkenal, orang lain akan merasa aneh kalau mereka tidak berbulan madu. Bukan begitu, yeol?” Chanyeol mengangguk ragu menjawab pertanyaan Lay. Dia tahu kalau Lay hanya ingin membuat suasana tidak canggung, terlebih juga ingin mengingatkan Lay untuk tidak berbicara yang tidak-tidak. Lay tahu bagaimana perasaan Luhan, ditinggal menikah oleh orang yangat dicintai, bukankah itu sakit?.

“Sepertinya kita akan pergi ke Maldives.” Ujar Baekhyun tanpa membalas pernyataan Luhan. Sungguh dia sangat kesal kepada Luhan. Entah mengapa bahkan dengan hanya melihat wajah Luhan pun Baekhyun merasa sangat marah.

“Wahhh, ide yang bagus. Pulau di sana sangat indah Baekhyun-ah, kalian pasti akan betah di sana. Kapan kalian akan berangkat?.” Tanya Jessica dengan wajah yang berseri-seri.

Baekhyun terlihat menimbang-nimbang. “Mungkin lusa? Aku sudah bilang pada sekretarisku kalau seminggu dimulai dari lusa aku tidak akan masuk kerja, noona.”

“Baiklah, nanti noona akan membantu Taeyeon untuk bersiap-siap, Yuri-ah, kau mau membantu eonni?.”

Yuri tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja eonni.” Jessica sangat berbeda dengan Baekhyun menurut Yuri. Jessica sangat ramah, bahkan baru beberapa kali bertemu dengannya saja sudah akrab seperti ini. Bahkan Yuri tidak canggung terhadap Jessica.

“Kau yakin akan mengajak Taeyeon ke Maldives? Dulu saat kami masih kecil, Taeyeon sering bilang kalau dia sangat ingin pergi ke Paris, dia sangat ingin melihat menara eiffel dengan jarak dekat.”

Lagi-lagi Lay menggeleng, bahkan sekarang bukan hanya Lay yang dibuat geram oleh Luhan, Jongin dan Jessica pun ikut geram. Apalagi sekarang Jessica menatap Luhan sinis. Dia sudah tahu, pasti ada yang tidak beres dengan laki-laki bernama Luhan ini. Sejak pernikahan Baekhyun dan Taeyeon berlangsung kemarin, Jessica sudah tidak suka dengan gerak-gerik Luhan yang so’ dekat dengan Taeyeon.

“Itu ‘kan dulu Luhan-ssi, keinginan seseorang dulu dan sekarang tidak selamanya sama. Hidup ini berputar, ingat itu Luhan-ssi.” Baekhyun berucap dingin.

“Taeyeon bukan tipe orang yang mudah berubah dengan keinginannya, tanya saja sekarang pada Taeyeon, apakah dia ingin pergi ke Paris?.”

Taeyeon merutuk dalam hati, Luhan sungguh keterlaluan. Sebenarnya Taeyeon tidak marah pada Luhan, hanya saja dia takut kalau Baekhyun akan kembali memarahinya nanti. Taeyeon tidak ingin kembali berdebat dengan Baekhyun, apalagi ini tentang Luhan.

“Taeyeon-ah?.” Suara Yuri menyadarkan lamunan Taeyeon. Gadis itu mendongakkan kepalanya dan menatap Luhan dan Baekhyun bergantian.

“Terserah Baekhyun oppa saja, kemanapun aku akan ikut. Aku tahu Baekhyun oppa tidak akan salah memilih tempat, asalkan jangan ke Jepang saja. aku sudah bosan di sana.” Candanya, gadis itu mencoba mencairkan suasana kembali. Semua orang di sana tersenyum mendengar ucapan Taeyeon. Di sisi lain, Luhan menatap taeyeon dan tersenyum penuh arti.

Love, That One Word

Handphone Taeyeon berdering, menandakan ada panggilan masuk. Taeyeon bingung ketika melihat nama Luhan tertera dalam layar handphone itu. Ada apa dia menelpon? Bukankah baru saja mereka bertemu tadi?

Taeyeon melirik ke kanan dan samping kiri, tidak menemukan Baekhyun, gadis itu-pun mengusap tombol berwarna hijau dengan jarinya.

“Nde oppa, ada apa?.” Tanya Taeyeon pelan. Dia tidak tahu sekarang Baekhyun berada di mana, entah di kamar atau masih di dapur. Namun yang pasti, gadis itu harus berhati-hati agar laki-laki itu tidak mendengar bahwa Taeyeon sedang bertelepon.

“Bagaimana aktingku tadi? Bagus kan? Kau seharusnya tidak banyak menunduk tadi, Taeng. Apa kau lihat wajah Baekhyun seperti apa? Haha”

Taeyeon mengernyit. Akting? Tadi? Jangan bilang ketika Luhan memanas-manasi Baekhyun tadi hanya akting? Taeyeon menggelengkaan kepala dan tersenyum geli.

“Aigoo oppa, jadi tadi kau hanya akting? Aku kira sungguhan. Tapi, kenapa oppa melakukan itu?.”

“Harusnya kau sudah bisa mengambil kesimpulan, Taeng. Baekhyun cemburu tadi, kau tidak menyadarinya?.”

Taeyeon kembali mengerutkan kening. Apalagi sekarang, Baekhyun cemburu? Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Untuk apa cemburu kalau pada kenyataannya Baekhyun tidak menyukai Taeyeon?

“Oppa jangan bercanda. Tidak mung-.”

“Percaya padaku, dia juga mempunyai perasaan yang sama terhadapmu. Hanya saja dia terlalu bodoh untuk mengakuinya. Kau juga kurang peka, Taeng. Kalau Baekhyun tidak cemburu, lalu kenapa dia marah jika kau dekat denganku?.”

Ya, Luhan mengetahui kalau taeyeon menyukai Baekhyun. Itu semua terjadi dua hari setelah mereka bertemu di belakang taman kedai kopi milik Jongin. Waktu itu Luhan dan Taeyeon kembali bertemu di sana, tentu saja tanpa sepengetahuan Baekhyun. Dan saat itu juga, Luhan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya terhadap Taeyeon. Luhan mencintai Taeyeon dari dulu, dan sampai sekarang perasaan itu tidak pernah berubah.

Taeyeon sebenarnya tidak tega mengakui bahwa dirinya hanya menganggap Luhan kakak, dan dia menyukai Baekhyun. Dia juga bilang, kalau Luhan terlalu telat kembali ke kehidupan Taeyeon, karena jujur, sebelum Taeyeon bertemu Baekhyun, Taeyeon masih menunggu Luhan dan berharap janji yang mereka buat dulu akan terwujud.

Luhan, dengan sangat sabar menerima keputusan Taeyeon, lagipula ini juga kesalahannya sendiri, pergi tanpa kabar. Lagipula jika Taeyeon bahagia hidup dengan Baekhyun, bukankah itu bagus? Apapun, asal Taeyeon bahagia maka Luhan-pun ikut bahagia.

“Dia hanya . . .”

“Hanya apa, hmm? Berhentilah beranggapan bahwa semua yang Baekhyun lakukan hanya demi Seulgi. kau terlalu percaya dengan pikiranmu, tetapi tidak dengan hatimu.”

“Oppa, tapi saat ini Baekhyun oppa dekat dengan Irene.”

“Irene? Siapa?.”

“Sekretarisnya. Baekhyun oppa memang menampiknya, tapi tetap saja ‘kan, apalagi Irene sangat cantik, tidak menutup kemungkinan kalau Baekhyun oppa memang menyukainya.” Taeyeon berucap sedih.

“Taeng,ikuti kata hatimu. Kau jangan terlalu cepat berspekulasi dengan pikiranmu.”

“Tetap sa-.”

Saat Taeyeon hendak kembali menjawab, terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Tanpa pikir panjang dan tanpa mengucapkan salam Taeyeon memutuskan sambungan secara sepihak. Taeyeon bergumam dalam hati, Luhan pasti mengerti, dan dia akan mengirimi Luhan pesan setelahnya.

“Telpon dari siapa?.” Tanya Baekhyun yang kini duduk di kursi tunggal di depan Taeyeon, dengan berkas-berkas berada ditangannya.

“Umm, Yuri.” Maafkan Taeyeon karena telah berbohong kepada Baekhyun, Tuhan.

Baekhyun diam tidak bertanya kembali. Laki-laki itu kembali sibuk dengan berkas-berkas yang ada di tangannya. Berkas itu berisi proyek baru, dimana Baekhyun bekerjasama dengan salah satu perusahaan dari Canada untuk membuat gedung hotel di pulau Jeju.

Taeyeon memperhatikannya, entah mengapa percakapannya dengan Luhan barusan terngiang kembali di otaknya. Perkataan Luhan yang menjelaskan bahwa Baekhyun cemburu terhadapnya, membuat sesuatu yang berada di tubuh Taeyeon bergetar.

“Apa kau ingin pergi ke Paris, yeon-ah?.”

Taeyeon mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak sadar bahwa dirinya tengah melamun sambil menatap Baekhyun. “Nde? Paris?.”

Baekhyun mengangguk. “Iya, Paris. Bukankah kau sangat ingin pergi ke Paris?.”

“Bukankah kita akan ke Maldives?.”

Baekhyun berhenti dari kegiatannya, dia mendongak dan menatap Taeyeon lembut. “Kenapa kau malah balik bertanya? Ck.”

Melihat Baekhyun yang tertawa kecil, Taeyeon pun ikut tertawa. Hati gadis itu kembali berbunga, ini yang Taeyeon suka dari Baekhyun, ketika laki-laki itu tertawa.

“Sudahlah oppa, kita ke Maldives saja. lagi pula perkataan oppa tadi benar, dunia itu berputar, dulu aku memang sangat ingin ke Paris, nyatanya sekarang keinginan itu terganti. Aku tidak ingin ke Paris, aku ingin ke Koh Samui.”

“Thailand?.” Tanya Baekhyun.

Taeyeon mengangguk. “Iya.”

“Kenapa kau ingin kesana?.”

Taeyeon mengangkat bahunya tidak tahu. “Entahlah, hanya saja melihat Koh Samui di dalam foto benar-benar membuatku terpesona, pemandangan di sana sangat indah.”

“Baiklah kalau begitu Maldives di cancel, dan kita akan pergi ke Koh Samui.” Baekhyun tersenyum menatap Taeyeon.

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya mendengar ucapan Baekhyun. “Jinjja? Oppa Jinjja? Huaaaa.” Gadis itu sangat senang, bahkan tidak sadar dia melompat kegirangan di hadapan Baekhyun. Baekhyun menggelengkan kepalanya gemas, ingin rasanya laki-laki itu menarik Taeyeon ke dalam pelukannya saat itu juga. Melihat Taeyeon seperti ini sungguh bisa membuat hati Baekhyun tenang. Dan laki-laki itu berharap bahwa Taeyeon akan selalu senang jika bersamanya.

Love, That One Word

“Jadi kau berangkat besok?.”

Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Ahjuma Lee. Saat ini dia berada di rumah ahjuma Lee, lebih tepatnya rumah keluarga Kim. Setelah Taeyeon di adopsi oleh keluarga Park, gadis itu melarang Ahjuma Lee pulang kampung dan harus tinggal di rumahnya. ahjumma Lee di Busan tidak mempunyai siapa-siapa, suaminya sudah meninggal, sedangkan anakpun dia tidak punya. Alasan Taeyeon melarangnya pulang kampung bukan hanya itu, dengan Ahjumma Lee berada di Seoul-pun lebih memudahkan Taeyeon jika gadis itu ingin mencurahkan isi hatinya.

Dan Taeyeon senang, meskipun selama kurang lebih tiga tahun ini Taeyeon berada di Jepang, Ahjumma Lee tetap setia tinggal di rumahnya dan menjaga rumah itu dengan sangat baik.

“Iya.” Jawab Taeyeon tersenyum indah.

Melihat ini Ahjumma Lee ikut tersenyum, tangannya terangkat dan mengusap lembut rambut gadis yang sedang memandangi foto keluarganya. “Kau sangat senang?.”

Taeyeon mengangguk. “Kenapa ahjumma tahu? Kelihatan sekali ‘ya?.”

“Sangat jelas.” Ujar ahjumma Lee. “Setelah Tn. dan Ny. Kim meninggal, kau hanya bisa tersenyum senang seperti ini jika bersama Nona Seulgi, bahkan dengan Tuan Jongin dan Nona Yuri-pun kau tidak pernah seperti sekarang ini. Apakah Tuan Baekhyun mempunyai kekuatan seperti Nona Seulgi, mampu mencairkan es yang berada di dalam tubuhmu.?” Lanjutnya.

Taeyeon tertawa mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan ahjumma Lee. Gadis itu menyimpan kembali foto keluarganya ke atas lemari di samping vas bunga. Taeyeon berjalan menuju salah satu kursi yang ada di ruang keluarga lalu duduk di sana. Ahjumma Lee membuntutinya.

“Kekuatan apa maksud ahjumma? Memangnya Baekhyun oppa ‘hero’?.”

“Menurut ahjumma iya. Tuan Baekhyun adalah ‘hero’-mu, sepertinya kau sangat bahagia tinggal bersama Tuan Baekhyun.”

“Aku memang bahagia, tapi terkadang aku juga dibuat sedih olehnya, lalu bahagia lagi, sedih lagi. Baekhyun oppa tidak terduga orangnya.” Taeyeon cemberut.

“Kalian belum kenal lama ‘kan? Ahjumma yakin seiring berjalannya waktu, Tuan Baekhyun akan memahamimu. Dia seperti itu karena belum sepenuhnya memahamimu, belum kenal lebih dalam tentangmu, maka dari itu, kau jangan dulu menyerah karena ahjumma yakin bahwa Tuan Baekhyun adalah kebahagianmu.”

Taeyeon terseyum manis kepada ahjumma Lee. Gadis itu selalu tenang jika curhat kepada ahjumma Lee, menurutnya ahjumma Lee seperti ibu kedua baginya. Bagaimana tidak, sejak Taeyeon bayi sampai besar dia diurus oleh ahjumma Lee.

Love, That One Word

Taeyeon berjalan-jalan sendiri di sekitar jalanan kota Seoul. Gadis itu merasa bebas setelah hampir selama delapan hari dia ‘terkurung’ di apartemen Baekhyun. Telah dua jam dia berjalan-jalan, hanya sekedar melihat-lihat tidak belanja. Taeyeon tidak membawa uang banyak untuk berbelanja, dia pikir dia tidak akan mempunyai waktu untuk berjalan-jalan seperti ini.

Seharusnya dua jam yang lalu Baekhyun menjemputnya di rumah ahjumma Lee, namun laki-laki itu menelpon bahwa ada sesuatu yang sangat mendadak yang harus dia urusi di kantor, sehingga mau tidak mau Taeyeon menunggu di rumah ahjumma Lee. Tapi karena gadis itu merasa bosan, akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan tanpa memberi tahu Baekhyun, karena jika dia memberitahu Baekhyun, laki-laki itu tidak akan memberikannya ijin. Dia berniat akan memberitahu Baekhyun pukul 4 sore, berhubung tadi Baekhyun bilang kalau dirinya akan menjemput Taeyeon pukul 4 lebih.

“Oh, Taeyeon-ah?.”

Seseorang memanggil namanya dari arah belakang. Taeyeon yang sejak dari tadi sibuk sedang melihat-lihat aksesoris di salah satu toko perhiasan, mau tidak mau menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Karena jujur saja Taeyeon tidak mengenal suara yang memanggilnya barusan.

“Irene-ssi? Annyeonghaseyo.” Taeyeon membungkuk melihat Irene berdiri di depannya dengan tangan menjinjing tas brand terkenal.

“Kau ini kenapa, ‘Irene-ssi’? kenapa jadi formal begini, biasanya kau memanggilku ‘eonni’.”

Taeyeon tersenyum kikuk dan menggaruk lehernya yang tidak gatal. Harus menjawab apa dia sekarang? Jujur saja Taeyeon dengan Irene tidak memiliki sejarah hubungan yang harmonis, apalagi dulu Irene selalu menghinanya. Taeyeon tidak menyukai Irene, dan dia lebih tidak menyukai Irene setelah Seulgi bilang padanya Irene menyukai Baekhyun.

Di depannya sekarang Irene tersenyum, dan senyuman itu sama seperti senyumannya dulu, senyum sinis. Aigoo.

“Kau sedang apa? Sendiri? Aku kira bersama baekhyun, karena tadi siang dia meninggalkan kantor dengan sangat buru-buru.” Ujar Irene.

Taeyeon memandang Irene bingung. Tadi siang? Bukankah Bilang padanya bahwa ada urusan mendadak di kantor? Apakah Baekhyun berbohong? Tapi untuk apa?

“Baekhyun oppa sedang ada urusan di luar kantor, umm, eonni.” Jawab Taeyeon berbohong.

Irene mengangguk, dia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Kim Taeyeon, to the point yah. Sebenarnya kau mempunyai ilmu apa sampai-sampai kau merebut orang-orang yang aku cintai?.” Mata Irene memicing menatap Taeyeon.

“Ma-maksud eonni? Aku tid-.”

“Dengar, dulu, kau datang ke kehidupan Seulgi, dan kau membuat Seulgi menghabiskan seluruh waktunya hanya denganmu. Bahkan dia melupankanku waktu itu yang notabene-nya adalah sahabat Seulgi. dan sekarang, kau tahu aku sangat bahagia mendengar berita bahwa Seulgi meninggal? Tapi, lagi-lagi kau datang dan menghapus kebahagianku, kau merebut Baekhyun dariku.”

Taeyeon menatapa Irene terkejut. Bagaimana dengan santainya dia bilang bahwa dia bahagia Seulgi meninggal, Taeyeon sungguh tidak terima. Meskipun Seulgi dan Irene sudah tidak dekat, tapi bagaimanapun dulu mereka pernah bersahabat ‘kan? Tapi kenapa Irene malah seperti ini?

“Selama ini aku berjuang mati-matian untuk mendapatkan perhatian dari Baekhyun, tapi baru saja kita dekat, kau datang. Kim Taeyeon kau itu benar-benar gadis pembawa kesialan untukku. Aku sangat membencimu, sungguh tidak tahu malu.” ujar Seulgi dengan penuh penekanan. “Ingat ini gadis kecil, aku tahu kalian menikah tanpa dibumbui cinta, dan aku yakin pernikahan kalian tidak akan bertahan lama. Aku akan membuat Baekhyun berpaling padaku.”

Setelah mengucapkan itu, Irene pergi meninggalkan Taeyeon yang sedang menatap dinding di depannya kosong. Irene tidak berubah, dia tetap Irene yang dulu, Irene yang terkenal dengan perkataan tajamnya.

Ingin rasanya Taeyeon menangis saat itu juga, dia kembali dihina oleh Irene. Tapi Taeyeon masih sadar, dirinya sedang berada di tempat umum, kan tidak lucu kalau dia mengangis.

Drrttt

Handphone-nya berdering menandakan ada panggilan masuk, dan begitu kagetnya dia begitu melihat nama Baekhyun tertera di layar handphone-nya. Sekarang sudah pukul empat lebih, dan Taeyeon lupa memberi tahu Baekhyun bahwa dirinya tidak berada di rumah ahjumma Lee. Baekhyun pasti marah Taeyeon jalan-jalan tanpa memberitahunya.

“Hal-.”

“Byun Taeyeon kau dimana?! Kau sudah berani pergi tanpa memberitahuku, huh? Kau itu suka sekali membuatku panik yah?!.”

Perut Taeyeon bergetar begitu mendengar Baekhyun memanggilnya dengan marga ‘Byun’. Seketika keinginannya menangis gara-gara perkataan Irene tadi hilang, bahkan semua perkataan Irene tadi yang berada di dalam otaknya hilang begitu saja.

“Maafkan aku, oppa.” Ujar Taeyeon. Suara gadis itu sangat tenang, tidak seperti biasanya jika dia berbuat sesuatu yang menurut Baekhyun salah, dia akan merasa takut.

“Cepat katakan, kau berada di mana sekarang? Aku akan menjemputmu.”

“Hmm, aku berada di dekat toko perhiasan ‘Mixxo’ sekarang, aku akan menunggu oppa di halte belokan ‘Mixxo’.”

“Araseo, tunggu aku, jangan kemana-mana.”

“Okey.”

Taeyeon memasukkan handphone-nya ke dalam tas yang dia jinjing. Dia lalu keluar dari toko perhiasan dan berjalan menuju halte.

Love, That One Word

“Ice cream?.” Tanya Baekhyun setelah Taeyeon memasuki mobil.

Gadis itu mengangguk dan menyodorkan tangannya yang memegang ice cream ke hadapan Baekhyun. “Oppa mau? Kalau tidak mau ya sudah, aku sanggup memakan dua ice cream ini.”

Saat hendak Taeyeon menarik kembali tangannya, Baekhyun terlebih dahulu mengambil ice cream itu di tangan Taeyeon. “Gomawo, yeon-ah.” Baekhyun melajukan mobilnya meninggalkan halte.

Taeyeon tersenyum, ternyata hanya dengan ice cream mampu membuat Baekhyun untuk tidak marah padanya.

“Oppa, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Irene-ssi di toko ‘Mixxo’. Dia bilang bahwa tadi siang oppa terburu-buru meninggalkan kantor, tapi bukankah oppa bilang padaku ada urusan mendadak yang harus oppa urus di kantor? Oppa berbohong padaku?.”

Taeyeon menatap Baekhyun bingung, laki-laki itu tersenyum tanpa menatapnya. “Kau ingin tahu, yeon-ah?.”

“Tentu saja, aku tidak suka dibohongi.” Taeyeon cemberut dan menempelkan kedua tangannya di depan dada.

“Kau berucap seperti kau tidak pernah berbohong saja, yeon-ah, ck.”

“Opaa!!.”

“Araseo, aku tidak akan memberitahumu sekarang, yeon-ah. Tapi aku berjanji akan memberitahumu nanti.” Ucap Baekhyun. Tangannya terjulur dan memberikan plastik bungkus ice cream yang sudah kosong kepada Taeyeon. Cepat sekali Baekhyun menghabiskan Ice Cream itu, pikir Taeyeon.

Taeyeon mengambil bungkus kosong itu, lalu menyimpannya di kantong kresek yang tadi dia gunakan untuk membawa ice cream yang dia beli.

To Be Continued

Hai hai~

Kemarin ada yang nanya, kenapa Luhan juga deket sama Jongin? Emang mereka saling kenal? Jawabannya, iya :3 kan di teasernya juga udah dijelasin, kalau Luhan, Yuri dan Jongin itu teman kecilnya Taeyeon ^^ nah sedangkan Lay sama Luhan, mereka berteman ketika masih di China.

Chapter ini agak lama dan pendek juga, maaf yahh ^_^

Oh ya, berhubung bentar lagi mau memasuki bulan Ramadhan aku mau minta maaf jika semisalnya punya salah sama kalian *bow

Dan mungkin selama bulan Ramadhan, berhubung aku muslim, aku mau hiatus, gak bakal post dulu FF, soalnya takut berkurang nanti pahala puasanya kalau nulis FF romance :v mohon dimengerti ya ^_^

Kalau bisa dan keburu, yang MWW sebelum Ramadhan bakalan di update (kalau bisa :v, don’t hope too much)

Ok guys, see u ^_^

Advertisements

190 comments on “Love, That One Word (Chapter 6)

  1. Eonniii aku beneran selalu nungguin ni ff, ketagihan bangettt beneran dehh dan aku sedih bgt pas check ternyata semua comment aku disetiap part ilang ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ *masinyesek

  2. Hallo kakak! ๐Ÿ™‚
    Sebelumnya aku minta maaf banget karna dari chap 1 sampai chap ini aku baru komen di chap ini. Hehe maaf ya kak
    Aku suka sama ff nya, yaampun BaekYeon momennya bikin senyum2 sendiri. ๐Ÿ˜€
    kasihan Luhan udah telat datang lagi ke kehidupannya Taeng, dia harus merelakan Taeng. Tapi sepertinya Luhan udah mulai bisa menerimanya.
    Izin lanjut baca ya kak.
    Semangat untuk ngelanjutin ff nya!^^

  3. โ€œKalau hanya ada kau kenapa aku harus malu? Bukankah kita suami istri? Lagipula hal itu akan sering terjadi nantinya. ” sumpah bagian ini pipi saya ikutan merah thor kkkk

  4. Gregetan ama mas Baek, Gengsi amat ya, ngaku aja deh kalo cinta ama mbak Yeon, , and Devil Irene is coming, makin seru!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s