I Need Your Love ( Chapter 8 )

173

Author : Oh Kyuri_76

Title : I Need Your Love

Genre : Romance, Funny, Friendship, Hurts, School of Life, Family

Length : Multichapter

Rating : PG 16 + ( Bisa berubah sewaktu-waktu )

Main Cast : Kim Taeyeon (SNSD), Xi Luhan (EXO), Seo Ji Hyun (SNSD), Oh Sehun (EXO)

Other Cast : Silahkan temukan sendiri

Disclaimer :

          Attention ! This is just a fanfic, don’t think to much ! All of the cast it’s belong to God, their parents, them selves, and fans too ! Remember ! Please, don’t be a plagiator ! No bashing ! And then, give me your comment after read this fanfiction ! Thank you ^^

Author Note’s                             :

Gumawo untuk komentar di chapter sebelumnya, sungguh sangat memuaskan ! Author juga minta maaf untuk keterlambatannya mem-posting chapter ini ^^ || Untuk readers yang sudah memberikan kritik tentang tutur penulisan author, mungkin pada chapter ini bisa dilihat perbedaannya, nde ?

Summary :

“ Kau cemburu, nona Kim ? ”

WARNING !!! TYPO !!!

^ Happy Reading ^

– Author POV –

Taeyeon menggeleng pelan, “ Ada yang aneh dengan sikapmu, Sehun. ”

“ Tidak. Tidak ada. Kaulah yang aneh. ”

“ Sehun ? ”

Pemuda itu menanggalkan posisi duduknya, “ Lima hari. Lima hari lagi, temui aku di Namsan Tower. Karena aku akan menerima apapun jawabanmu mengenai pernyataan cintaku barusan, tepat di tempat itu. Dan jika kau tidak datang, aku pastikan kau dan Luhan tidak dapat bertemu kembali. ”

“ I-itu … sebuah ancaman ? ”

Sehun memberikan senyuman sinis, “ Dengan begitu, kau pasti datang menemuiku. ” lalu berlalu meninggalkan Taeyeon seorang diri. Gadis tersebut kebingungan, ia merasa bersalah sekaligus kesal.

‘ Sebenarnya, ada apa ? ’

~ Chapter 8 ~

Hari ini, Luhan dan Taeyeon memutuskan untuk berkeliling bersama. Mereka berniat mengunjungi toko buku dan membeli beberapa makanan ringan. Keduanya diliputi keheningan berkepanjangan, udara malam pun mulai terasa hingga ke dalam kulit.

“ Apa kau kedinginan ? ” tanya Luhan yang ketika itu melihat Taeyeon tengah mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

“ A-ah, tidak, aku baik-baik saja. ” elaknya sembari memasang senyuman tipis.

Luhan mengangguk singkat, “ Syukurlah. ”

Taeyeon mengerjapkan matanya. Bukan terkejut atau heran dengan respon itu. Dia hanya merasa sedikit canggung, mengingat akhir-akhir ini hubungannya dengan Luhan terlihat semakin dekat dan berjalan seperti dulu. Gadis itu tersenyum senang dalam hati, ya, sangat senang.

“ Selesai membeli buku, kita masih harus pergi ke supermarket, ‘kan ? ”

Taeyeon mengangguk singkat, dia melirik Luhan sekilas, “ Salahkan permintaanmu yang ingin berjalan kaki di malam hari seperti ini. ” desisnya lalu mendorong pintu bookstore. Luhan tidak menjawab, dia tahu jika pilihannya kali ini memang sedikit kelewatan. Memaksa seorang gadis menemaninya berkeliling di malam hari, tidakkah itu kelewatan ?

“ Cepatlah, kau ingin membuatku membeku disini, Luhan-ah ? ” Taeyeon menyela dengan gaya berkacak pinggangnya. Sementara Luhan lagi-lagi tidak fokus membalas sindiran gadis itu. Dia membuntuti Taeyeon dari belakang, mengekorinya ke mana pun Taeyeon pergi.

Hingga rasa lelah telah mencapai pada batasnya, barulah Luhan memutuskan untuk menunggu diluar bookstore. Taeyeon tidak enak hati ketika Luhan berdiri melipat tangannya disamping pintu masuk. Wajahnya juga semakin memucat karena suhu benar-benar berada dibawah 0o celcius.

Alhasil, Taeyeon mengurungkan niatnya untuk membeli buku di bookstore tersebut. Ia segera keluar dan menarik tangan Luhan ke seberang jalan, dimana bangunan bertulis ‘Supermarket’ berada. Luhan tak menegur, sepertinya mood berbicaranya hilang begitu saja.

Taeyeon menggenggam tangan sahabatnya, “ Menyebalkan sekali, kenapa kau tidak mengatakan apapun kepadaku, sementara tanganmu sedingin ini sekarang. ”

“ Jangan khawatir, daya tahan tubuhku lebih kuat darimu. ”

Berdecak, Taeyeon pun menghangatkan tangan Luhan dengan nafasnya, “ Dasar keras kepala. ” umpatnya yang kemudian mendapat death-glare gratis dari pemuda itu. Wajah Luhan memerah sedikit demi sedikit, semua itu disebabkan oleh perlakuan Taeyeon yang seringkali gadis itu lakukan pada Luhan sejak kecil dulu.

“ Sudah hangat, bukan ? ” Taeyeon bertanya.

Luhan yang tiba-tiba bertemu pandang dengan Taeyeon, sontak memalingkan wajahnya dengan gerakan secepat kilat. Jantungnya berdegup kencang kala itu, “ Hn, gumawo. ” balasnya tetap berusaha memasang raut wajah datarnya. Taeyeon tertawa pelan, reaksi Luhan sungguh menggemaskan.

“ Kajja, karena aku tidak membeli buku, maka kau harus membelikanku banyak makanan, ok ? ”

Tak ada jawaban yang bisa Luhan lontarkan selain menyetujuinya. Dia mendorong pintu masuk, dan kemudian mengajak Taeyeon berbelanja sesuka hati disana. Segala macam snack, minuman bersoda, dan makanan instan yang lain langsung Taeyeon sambar dan mengambilnya tanpa mempedulikan orang disampingnya.

Luhan memegang pundak Taeyeon ketika gadis itu hendak memasukkan lebih banyak makanan ringan. Dia menggeleng sebagai isyarat, “ Sudah cukup, kita tidak mukin bisa memakan semuanya, Taeyeon. ”

“ Oh-uh, benar juga. ” Taeyeon tersenyum kikuk, membuat wajah Luhan kembali memerah.

“ Ka-kalau begitu, sebaiknya kita segera pulang. ”

Taeyeon mendahului Luhan, “ Hn, sebelum itu, kau harus membayar semua ini, ok ? ” ia mengedipkan salah satu matanya ke arah Luhan, lalu meninggalkan keranjang belanjaannya di kasir, Taeyeon pun pergi keluar dan menunggu sahabatnya dalam diam.

– Taeyeon POV –

Aku melihatnya, aku melihat semuanya. Entah, apakah semua reaksi Luhan itu hanyalah halusinasiku saja, atau malah sebuah fakta. Dia tidak pernah gugup seperti itu, bahkan wajahnya juga tidak pernah memerah saat aku tersenyum, dulu. Persoalannya, kenapa malam ini dia terlihat begitu berbeda ?

Aku memandangi langit, angin berhembus damai menyapu kota. Tersenyum, aku lantas menundukkan kepala, ekspresi dan sikap Luhan terus terngiang dalam memori. Namun, saat wajah seseorang yang sangat dekat bagiku terbayang, nafasku seolah tercekat. Wajah Seohyun, dia, kekasih Luhan.

“ Bodohnya aku. ”

Jelas, hubungan Luhan dan Seohyun masih terjalin dengan erat. Ibarat sebuah drama, merekalah yang berperan sebagai tokoh utama, tapi aku, aku tidak lebih dari seorang cameo. Menyesakkan memang, menyukai seorang lelaki yang telah bersahabat lama denganku, lalu kemudian menekan perasaan itu demi seorang teman yang sudah aku anggap sebagai saudara sendiri.

Tidak berakhir disana, ucapan Sehun siang lalu juga berterbangan dan mengganggu benakku. Aku hanya menganggap Sehun sebagai teman, tidak lebih. Jika dia benar-benar mencintaiku, kenapa Sehun harus menunggu jawabanku di Namsan Tower ? Kenapa tidak hari itu ?

“ Taeyeon, aku sudah selesai. ”

– Taeyeon POV END –

“ Taeyeon, aku sudah selesai. ”

“ A-ah, benarkah ? ” Taeyeon gelagapan menjawab. Ia langsung menghampiri Luhan dan mengambil posisi disampingnya. Setelah itu hening. Seakan-akan keheningan telah menjadi bagian dalam hubungan mereka.

Luhan melirik Taeyeon sekilas, “ Memikirkan sesuatu, hm ? ”

“ Ti-tidak. ”

“ Ada apa dengan wajahmu ? Kenapa berubah ? ” Luhan bertanya.

Taeyeon menggeleng pelan, “ Aku baik-baik saja. ”

“ Tapi tidak untukku. ” sambung Luhan menatap lurus ke depan. Sedetik setelahnya, pemuda itu tertawa pelan, berharap bisa menjadikan ucapannya sebagai lelucon. Disisi yang lain, Taeyeon terus memperhatikannya. Tak berkedip, gadis itu mencoba memahami gerak-gerik Luhan yang mulai membuka obrolan dengan topik baru.

“ Taeyeon, Kai mengundangku ke rumahnya besok, bagaimana menurutmu ? ” Luhan menoleh untuk menunggu jawaban sahabatnya.

“ Me-menurutku ? ” Luhan mengangguk, “ Jika dia mengundangmu, a-aku pikir, kau harus menerima permintaannya. Ya, begitu. ” Taeyeon tersenyum getir, khawatir Luhan bertanya tentang raut wajahnya lagi.

“ Hm, aku tidak berniat pergi. ”

Taeyeon mengerutkan kening, “ Waeyeo ? ”

“ Lelah. ”

“ Ka-kau bilang, Kai mengajakmu ke rumahnya besok, bukan ? ”

“ Hn. ”

“ Kenapa memutuskannya sekarang ? ”

“ Hm ? ” Luhan menaikkan alisnya.

“ I-itu … maksudku, kau tidak berhak berkata seperti itu. Lelah ? Ba-bahkan, kau belum memikirkannya berulang-ulang, ‘kan ? ”

Luhan mengangguk singkat, “ Yah, kau benar. ”

“ Datanglah, paling tidak, kau menghargai dia sebagai temanmu. ”

“ Baiklah, aku akan menuruti keputusanmu. ”

Jantung Taeyeon dibuat berdebar lagi. Kenapa setiap kalimat yang terucap oleh Luhan selalu membuatnya salah tingkah ? Bahkan dengan kalimat sesingkat itu.

‘ Luhan-ah, aku mohon, berhentilah membuatku tersiksa seperti ini ! ’ batinnya cemas, Taeyeon diliputi dilema mengenai perasaannya. Lagi-lagi tentang Luhan, lagi-lagi dia, dan selalu dia.

‘ Kim Taeyeon, kasihan sekali kau ini. ’ ungkapnya dalam hati.

***

Di pagi hari, mereka bersekolah. Di siang hari, mereka pulang ke rumah masing-masing. Di sore hari, mereka tak bertemu karena sibuk dengan kegiatan pribadi. Lalu, di malam hari, mereka berada pada satu atap yang sama, yakni rumah Luhan.

“ Dimana orang tuamu ? ”

“ Mereka pergi, keluar kota. ” Luhan memasang kemejanya.

Taeyeon beralih, “ Kenapa tidak kau pakai yang ini ? ” dia menunjuk kemeja berwarna merah.

“ Menurutmu ? ”

“ Kemeja ini terlihat lebih pantas untukmu. Tapi, bukan berarti kemeja yang kau kenakan itu tidak pantas, maksudku, yang ini lebih mengesankan. ” Taeyeon berpendapat.

Luhan pun membuka kemejanya, “ Baiklah ” ia mengambil dan memakai kemeja pilihan Taeyeon.

“ E-eh ? ”

“ Hm ? ” Luhan menoleh, “ Apa ada yang salah ? ”

“ Bu-bukan, maksudku, tidak, tidak ada. ” Taeyeon tersenyum tipis, wajahnya merona manis.

Luhan balas tersenyum, “ Jangan menungguku jika aku tidak pulang malam ini. ”

“ Hah ? ” Taeyeon siap memberikan pertanyaan, namun Luhan segera memotong ucapannya.

“ Kau tahu Kai orang seperti apa, ‘kan ? Undangannya tidak mungkin sekedar pesta kecil-kecilan, pasti dia merencanakan sesuatu yang lebih. ” Luhan menjelaskan, dia mengaitkan kancing kemejanya yang terakhir.

Bulu kuduk Taeyeon meremang, “ Se-sesuatu bagaimana ? ”

“ Hm ? ”

“ Apa … maksudmu, kalian … akan melakukan hal-hal aneh … se-seperti di te-televisi itu ? ” tanya Taeyeon sambil memainkan jari-jarinya.

Luhan mendekati Taeyeon, mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. Dia mengangguk singkat, lalu dengan tarikan nafas, pemuda itu berujar, “ Sepertinya gadis-gadis disana sudah menungguku. ”

Tubuh Taeyeon spontan menegang. Matanya bertahan dengan posisi terbuka, sementara bibirnya menganga tak percaya. Dia melirik Luhan ragu-ragu, “ A-apa ma- ”

“ Maksudku, yah, seperti yang kau dengar barusan. ” balasnya santai, Luhan pun menyampirkan jumper hitam ke bahu kanannya. Sebelum pergi, Luhan memberikan kedipan matanya pada Taeyeon, “ Malam ini pasti malam yang sangat menyenangkan, bukan ? ”

Tercengang, Taeyeon tak mampu menjawab. Dia baru memasuki fase kesadaran saat Luhan benar-benar tak ada didalam ruangan itu. Pertahanan Taeyeon goyah, dia jatuh terduduk diatas ranjang. Dia tak menyangka, sesosok pemuda macam Luhan bisa dengan mudah membuat perasaannya berkecamuk. Taeyeon menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, lalu berlari keluar dari kamar sahabatnya. Matanya membelalak saat ia membentur dada seorang lelaki berwajah stoic dihadapannya.

“ Lu-luhan ? ” Taeyeon memanggil namanya dengan suara lirih.

“ Seperti dugaanku, kau tidak pandai menyembunyikan perasaanmu, Taeyeon. ”

Taeyeon langsung memalingkan wajahnya, “ Kenapa kau masih ada disini ? Pergilah. ”

“ Jadi, itu yang kau inginkan ? ” Luhan menatap Taeyeon dalam-dalam, “ Kau ingin aku pergi ? Apa kau tidak berniat menahanku ? ”

Gadis itu membalas tatapan Luhan, kali ini dia mendapat keberanian yang jauh lebih besar, “ Aku tidak peduli dengan semua itu, Luhan-ah. ” Taeyeon berjalan menuruni anak tangga, dia pun berhenti saat mencapai anak tangga terakhir, “ Kau pergi atau tidak, lakukanlah sesukamu. ” sambungnya lalu berlalu.

Luhan tersentak, tatapannya menjadi kosong dalam sekejap. Dia menunduk, “ Taeyeon … ”

Nihil. Nama yang dipanggilnya sudah tak ada lagi. Salahkan Luhan yang sejak awal berusaha membuat Taeyeon cemburu dengan candaannya. Beginilah hasil dari semua itu. Luhan menghela nafas kasar, dipandanginya pintu rumah yang sebelumnya Taeyeon lewati itu.

“ Apa aku sudah kelewatan ? Aigoo, aku harus segera minta maaf kepadanya. ”

***

Ternyata benar dugaan Luhan. Kai mengadakan party-garden dan mengundang – tidak hanya lelaki – melainkan gadis-gadis yang berasal dari luar sekolah. Jujur saja, dia menghadiri undangan Kai karena Taeyeon yang menyuruhnya, jika tidak, dengan ringan hati Luhan menolak undangan itu.

“ Ah, Luhan ! Kemarilah ! ” teriak si tuan rumah dari kejauhan, dikelilingi gadis-gadis, Kai menawarkan segelas wine beralkohol rendah.

Luhan menggeleng, “ Tidak, aku tidak bi- ”

“ Hm, kau benar, Kai-ah … ” seorang gadis yang memakai gaun mini tengah bergelayut manja di lengan kanan Luhan, “… dia cukup tampan. ” pujinya bernada menggoda.

Luhan memasang ekspresi datar, “ Nona, kau tahu ? Saat ini, kau sedang mencoba merayu lelaki yang sudah memiliki kekasih, apa kau tidak malu dengan hal itu ? ” sindirnya tersenyum dingin-tak peduli.

Kai menyadari sikap Luhan, dia menarik tangan gadis kenalannya untuk menjauhi teman sekelasnya itu. Luhan mendaratkan tatapan meminta penjelasan, dia mengedikkan dagunya agar Kai mengikutinya dari belakang. Biar bagaimana pun, Kai harus menurutinya karena tidak menginginkan ada permasalahan di pestanya itu.

“ Luhan, dengar- ”

“ Kenapa tidak kau katakan sejak awal ? ” Luhan menyela.

Kai tersenyum pahit, “ A-ah, i-itu, kau tidak akan datang jika aku mengatakan yang sebenarnya, ‘kan ? Jadi, aku sengaja me- ”

“ Merahasiakan konsep pestamu ini dariku ?! ” suara Luhan meninggi, dia tampak kesal.

Kai mengangguk pelan, “ Mianhae, nde ? ”

“ Cih, aku bahkan tidak habis pikir dengan gadis-gadis itu. ” Luhan menoleh ke arah gerombolan gadis disisi pintu, dan lihat bagaimana para gadis itu melambaikan tangan mereka sambil tersenyum genit membalasnya. Luhan memutuskan kontak mata secara sepihak, “ Mereka menjijikkan. ”

“ Oh, ayolah, Xi Luhan. ” Kai menyikut lengan Luhan, “ Lihatlah, mungkin mereka ‘lebih’ baik dari Seohyun dan sahabatmu, Taeyeon. ”

Tepat saat nama terakhir lolos dari bibirnya, Luhan menarik kerah pakaian yang Kai kenakan. Dia menggeretakkan giginya, “ Jangan pernah menyamakan Taeyeon dan Seohyun dengan gadis-gadismu itu, Kai. ” desisnya menghentakkan tangannya, Kai dibuat terhuyung karena tidak kuat menahan dorongan tangan Luhan.

“ Lu-luhan … ” dia menggumam tak percaya bercampur curiga.

“ Maafkan aku, tapi aku tidak berniat berlama-lama disini. ” Luhan langsung melengos pergi, dia menatap dingin para gadis yang mengedipkan mata kepadanya.

‘ Murahan. ’

***

– Seohyun POV –

Aku memperhatikan mobil itu dengan seksama. Tidak sengaja aku melewati rumah Kai dan mendapati Luhan dengan wajah muram memasuki mobilnya. Ingin sekali aku menemui Luhan dan berbicara dengannya, namun segera aku urungkan niat itu.

Drrt … Drrt … Drrt …

Aku melihat ke layar ponsel, “ Sehun ? ” sebelum menjawab panggilan darinya, aku memperhatikan Luhan sekali lagi, hingga barulah Luhan melesat pergi panggilan itu pun terjawab.

“ Seohyun, kemana saja kau ini ? ”

“ A-ah, aku sedang membaca buku di kamar. ” balasku membohongi Sehun.

“ Oh, jeongmal ? Kalau begitu, aku akan membicarakannya besok saja. ”

“ Eh ? Membicarakan apa, Sehun-ah ? ” tanyaku penasaran, sepertinya Sehun ingin menyampaikan sesuatu. Dan aku harap, dia menyampaikan berita yang ingin aku dengar.

“ Luhan. ”

Aku tersenyum tipis, “ Hm, ada apa dengannya ? ”

“ Kai baru saja menghubungiku, dia bilang, Luhan bersikap aneh saat datang ke acaranya. ”

Mendengar penjelasan Sehun, aku mengernyit bingung, “ Lalu ? ” tuntutku yang masih tak lepas pandang dari rumah Kai, teman sekelas Luhan.

“ Dia menanyakan hal-hal aneh kepadaku, kau tahu ? Kai kira Luhan sedang tidak dalam mood yang baik hari ini, mungkin karena bertengkar dengan seseorang. Jadi, pertanyaanku adalah, apa kau dan Luhan bertengkar karena sesuatu ? ”

Aku menggeleng walau Sehun tak melihatnya, “ Tidak. Jangankan bertengkar, aku dan dia sudah lama tidak berkomunikasi satu sama lain. ”

“ Begitu, ya ? Lalu … ”

“ Aku rasa Taeyeon, pasti Luhan dan Taeyeon yang sedang bertengkar. ” entah dari mana aku mendapatkan jawaban itu, tapi sepertinya, firasatku mengatakan bahwa Luhan dan Taeyeon berselisih paham soal pesta yang Kai adakan di rumahnya.

“ Taeyeon ? Benar juga, kenapa aku tidak menghubungi Taeyeon untuk menanyakannya, ya ? Jika memang mereka bertengkar, mungkin akan menyusahkan rencana kita diakhir pekan ini. ”

Tatapanku melirih, “ Hn, kau benar. ”

“ Seohyun, boleh aku tanya sekali lagi ? Apa kau rela pergi ke luar negeri demi Luhan ? ”

Hatiku langsung terkoyak mendengar pertanyaan Sehun diseberang sana, sedikit rasa tak rela menguar. Air menggenang di pelupuk mataku, “ A-aku pergi bukan demi Luhan, Sehun-ah. ” aku memberi jeda, “ Aku pergi karena ingin bersekolah di jenjang yang lebih tinggi. ”

“ Itu bukanlah alasanmu. ”

“ Huh ? ”

“ Aku tahu, pasti. Kau tidak melupakan pembicaraan kita di sekolah saat itu, ‘kan ? Kau akhirnya tahu bagaimana perasaan Taeyeon kepada kekasihmu, dan tak akan lama setelahnya, Luhan pasti membalas dengan perasaan yang sama. ”

“ Hn, arrasseoyeo. ”

“ Seohyun-ah, belum terlambat untuk mengubah keputusanmu. ”

Air mataku mengalir, “ Lalu apa ? Memanipulasi hubunganku dengan Luhan didepan Taeyeon ? Aku tidak bisa menyakitinya, baik Luhan, maupun Taeyeon. ”

“ Setidaknya, kau bisa terus berada disamping Luhan, ‘kan ? ”

“ Tidak, Sehun-ah. ” aku memandangi langit, “ Cepat atau lambat, Luhan akan menyadari semuanya, lalu hubungan kita berakhir seperti dugaanku. Dan Taeyeon, ia mendapatkan cintanya. ”

“ Seohyun … ”

“ Luhan itu berbeda denganmu, dia bodoh, dia tidak secepatmu mengungkapkan perasaan pada seseorang. Aku tahu itu, karena kau juga mencintai Taeyeon, bukan begitu ? ”

“ A-apa ? Tidak, ti-tidak. ”

“ Ck, kau tidak pandai berbohong, Sehun-ah. ” aku tersenyum mendengar suara Sehun yang berusaha tetap tenang, namun justru membuatnya mengakui hal tersebut.

“ Yah, su-sudahlah ! Lanjutkan acara membacamu, eoh ? Sampai bertemu besok, annyeong ! ”

Tut … Tut … Tut …

Sambungan kami terputus. Aku sedikit terhibur, berkat Sehun aku bisa bernafas lega lagi. Hanya saja, ketika aku kembali memandangi rumah milik Kai, ada rasa curiga melanda.

“ Kai baru saja menghubungiku, dia bilang, Luhan bersikap aneh saat datang ke acaranya. ”

Aku mengingat perkataan Sehun. Mungkinkah Kai mengajak Luhan untuk melakukan tindakan-tindakan diluar akal sehat seorang pelajar berusia 18 tahun ? Jika benar begitu, maka aku akan bertanya pada Kai besok, mungkin aku bisa mendapatkan penjelasan darinya, walau aku harus pergi ke kelas Luhan untuk sekedar menemui pemuda berkulit tan tersebut.

– Seohyun POV END –

***

Keesokan harinya …

Terlihat beberapa pelajar sedang berbincang-bincang di sepanjang koridor sekolah. Terlihat pula wajah yang begitu familiar di mata Taeyeon, “ Ah, itu Seohyun, ‘kan ? ” bisiknya sembari melangkah menuju gadis itu.

“ Hm, begitu, ya ? Ba-baiklah, terima kasih banyak, Suzy-ssi. ”

“ Seohyun ! ”

“ E-eh ? Ta-taeyeon-ah ? ”

Taeyeon tersenyum lebar, “ Mencari Luhan, eoh ? ”

“ Bu-bukan, aku mencari teman sekelasmu, Kai. ”

“ Kai ? Memangnya, ada perlu apa dengannya, Seohyun-ah ? ” tanya Taeyeon sedikit memiringkan kepalanya. Dia tengah menunggu jawaban dari lawannya yang masih setia mengunci bibirnya rapat-rapat.

Seohyun menggeleng pelan, “ Gwaenchana. ”

“ Huh, kau membuatku penasaran, Seohyun-ah. ” bibir Taeyeon mengerucut, dia menatap Seohyun dengan sorot mata bertanya.

“ Jangan berpikiran aneh dulu, Taeyeon-ah. ” Seohyun memperlihatkan senyuman bulannya, “ Aku kemari memang untuk bertemu dengan Kai, tidak lebih dari itu. ” ia menjelaskan dengan pelan.

Taeyeon mengangguk-anggukkan kepalanya, “ Baiklah, sepertinya Kai belum datang. ” ujarnya sesudah mencari sosok Kai didalam kelas, “ Bagaimana jika kau menunggunya di- ”

“ Ti-tidak perlu ! ” Seohyun menolak, wajahnya mendadak memerah.

Taeyeon menaikkan alisnya, “ Waeyeo ? ”

“ Oh, i-itu karena aku … ” Seohyun menggantungkan kalimatnya sejenak, “ … a-aku harus menyelesaikan tugasku hari ini ! Ya, tu-tugas. ” kemudian gadis itu pun berbalik dan berlari ke arah kelasnya, Taeyeon tentu dibuat keheranan dengan tingkah Seohyun yang mendadak pergi darinya.

“ Kau … ”

Taeyeon memutar kepalanya ke kiri, dia langsung membelalak saat menyadari ada wajah Luhan disana. Taeyeon sontak mendorong dada Luhan sekuat-kuatnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke segala arah, yang terpenting, dia tidak bertatapan langsung dengan kedua bola mata pemuda dihadapannya tersebut.

“ A-apa yang kau lakukan disini, Luhan-ah ? ”

Luhan mendecih, “ Sudah berapa lama kau menjadi sahabatku, huh ? ” sindirnya menatapnya tajam.

“ Itu tidak menjawab pertanyaanku, Xi Luhan. ” Taeyeon berkomentar.

“ Bodoh. ” Luhan melangkah memasuki kelasnya, kini dia menempati bangku di bagian belakang. Dan persis disampingnya adalah bangku yang biasa Taeyeon tempati.

“ Hah, sekarang aku mengerti, Seohyun pergi karena dia tahu ada Luhan yang menuju ke sini. ” Taeyeon menoleh memandangi kelas Seohyun, “ Tapi kenapa ? Kenapa dia menjauhi Luhan ? ”

‘ Apa karena aku ? ’ Taeyeon menggigit bibir bawahnya, dia memejamkan mata guna menghilangkan pikiran-pikiran negative tentang hubungan Seohyun dan Luhan.

“ Aish, kenapa hidupku serumit ini ?! ” Taeyeon menggerutu pelan, tak sadar jika dibelakangnya sedang berdiri sosok Kai yang Seohyun cari-cari tadi.

“ Hn, aku setuju. ”

Taeyeon terkejut mendengar suara khas seseorang. Dia yakin suara itu bukanlah suara Luhan, secepat kilat Taeyeon memalingkan wajah serta tubuhnya ke belakang. Seperti halnya bertemu Luhan barusan, kali ini Taeyeon juga membelalak melihat pemuda dihadapannya, “ Ka-kai ? Sudah berapa lama kau berada disana ? ”

“ Hn, tidak lama. ” Kai memamerkan deretan giginya, “ Mungkin. ” imbuhnya kemudian.

Taeyeon sontak mengubah raut wajahnya, “ Jadi begitu. ” dia menghela nafas, “ Kai. ” panggilnya menahan pergelangan tangan kiri Kai yang hendak memasuki kelasnya.

“ Hm ? ” ia sedikit menoleh. Memperjelas ekspresi bertanyanya.

“ Ada yang ingin aku bicarakan. ”

“ Denganku ? ” Kai menunjuk dirinya sendiri, wajahnya yang innocent jelas menutup pribadi – lelaki mesum nan liar – yang sudah menancap padanya sejak awal dilahirkannya pemuda itu.

Taeyeon hanya memutar bola mata dengan malas, “ Hanya lima menit, ok ? ”

“ Hn, baiklah. ” Kai pun memutar haluan dan mengikuti Taeyeon dari belakang. Tak lama setelahnya, mereka kini berada di ujung koridor, berdua dan masih diliputi kesenyapan.

Kai jengah, tentu saja, dia melirik Taeyeon yang terlihat gelisah, “ Jadi ? ”

“ Sebelum itu, kau harus berjanji tidak akan memprotes pertanyaanku. ”

“ Yah, aku berjanji. ” Taeyeon tahu Kai sedang bosan jika dihadapkan oleh situasi seperti ini. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar sekarang.

“ Ini … ” Taeyeon memantapkan matanya untuk menatap sang lawan, “ … tentang tadi malam. ”

Kai yang bersandar santai disisi gedung sontak memalingkan wajahnya, dia terkeluh. Tidak perlu menunggu pertanyaan selanjutnya dari Taeyeon, Kai langsung tahu kemana permbicaraan mereka terarah. Pemuda itu menghembuskan nafas, “ Apa ini ada kaitannya dengan sahabatmu ? ”

“ Nde. ” gadis itu mengangguk pelan, entah kenapa, sorot matanya menjadi redup seketika.

“ Apa Luhan mengadukan tindakanku di pesta semalam ? ” tanya Kai lagi, kini memastikan.

Taeyeon mengangkat alisnya, “ Mengadu ? Maksudmu … – apa kalian bertengkar ? ”

“ Jadi Luhan belum memberitahumu ? ” bukannya menjawab, Kai malah membalas pertanyaan Taeyeon dengan pertanyaan darinya.

“ Kami sempat berselisih paham. ” pengakuan Taeyeon membuat Kai tersenyum, senyuman lega bercampur geli ketika gadis dihadapannya bergumam dengan wajah menekuk.

Kai membusungkan dadanya, lihatlah betapa cepatnya kepercayaan dirinya kembali setelah tahu Luhan tidak bercerita pada Taeyeon mengenai pestanya. Kai tertawa pelan namun menyindir, “ Kami bersenang-senang semalaman, Luhan tertarik dengan banyak gadis di pestaku. ” dia menjeda, lalu dipandanginya Taeyeon seiring seringaian tajamnya, “ Kau cemburu, nona Kim ? ”

Mata Taeyeon membulat, shock. Dia menggeleng ragu, “ Ti-tidak, sama sekali tidak ! ” serunya sebelum memakai senyuman palsu guna menutupi ekspresinya dari si lawan bicara.

Luhan, sekarang aku tahu isi hatimu, Kai membatin. Sekali lagi, dia bisa melihat air muka Taeyeon yang semakin menyusut, mungkinkan ada hubungan tersembunyi diantara sepasang sahabat itu ?

Kai menepuk kedua pundak Taeyeon, mensejajarkan tinggi dan wajah mereka. Matanya lurus menghadap dan menelusuri bola berwarna hitam kecoklatan didepannya, Kai mengangguk mantap, “ Ternyata … ” dia semakin memperpendek jarak antar wajah keduanya, “ … kalian saling menyukai, ya ? ”

Taeyeon drop seketika, bibirnya menganga dalam artian terlalu sulit mencerna pertanyaan – tidak, bukan pertanyaan – melainkan sebuah pernyataan. Ya, apa Kai bisa membaca hati orang lain ?

“ Ka-kai … ”

Dengan kedipan mata, kejahilan Kai pun berakhir, “ Perjuangkan cintamu, Taeyeon. ”

“ Hah ? ”

Kai mendahului gadis itu, berjalan beberapa langkah didepan, “ Luhan tidak sepertiku, kau jelas tahu itu. ” kakinya terhenti demi mengalihkan pandang ke sosok Taeyeon, “ Aku ini lelaki yang tidak terikat dengan apapun, bahkan jika kau mengatakan cinta dihadapanku, itu hanya kesia-siaan belaka. ”

Untuk sejenak, Taeyeon tertegun dengan kalimat yang merupakan spontanitas seorang Kai. Dia rela menunggu kalimat selanjutnya untuk melengkapi ucapan rancu tersebut, dan Kai menuruti. Pemuda itu mengadahkan wajahnya, memandangi langit-langit koridor, “ Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti berpikiran buruk tentangku, ya, aku sungguh tidak bermaksud seperti itu. Tetapi, alasanku mengundang Luhan ke pesta semalam bukan karena dasar bersenang-senang ria. ”

Taeyeon tetap bungkam, terselip perasaan nyeri seakan-akan mengerti posisi Kai sekarang. Diyakininya, Kai pasti me-replay beberapa memori terpendamnya dulu, dan jangan katakan kalau pemuda itu memiliki jalan percintaan yang sama rumitnya seperti Taeyeon.

“ Sejujurnya, aku hanya mengundang Luhan sebagai teman sekelasku untuk dikenalkan kepada Luna, teman gadisku dari luar sekolah. ”

Taeyeon mendadak gugup ketika Kai tersenyum. Pasalnya, selama ia tinggal di kelas yang sama dengan pemuda itu, Taeyeon tak pernah melihat senyuman sepolos dan seringan itu terpancar bebas tanpa beban. Taeyeon memberanikan dirinya mendekati Kai, dia ingin mengamatinya disisi yang berbeda itu.

“ Sayangnya, aku gagal. Bukan karena aku tidak berhasil membujuk Luhan, tapi karena Luhan yang membuatku menyerah dengan sendirinya. ” Kai tertawa kecil, “ Kalian sama sepertiku, dulu. Mulanya mantan kekasihku hanya menganggapku sebagai sahabatnya, dan dia menjalin hubungan dengan orang lain yang merupakan teman satu team-ku di basket. ”

Taeyeon memandang iba ke arahnya.

“ Cukup lama mereka bersama, hingga kekasihku itu dinyatakan terkena kanker otak stadium akhir seminggu sebelum hubungan mereka mencapai lima bulan. ” bukan ilusi optik rupanya, Taeyeon sungguh dapat merasakan kesedihan dalam kisah cintanya, bahkan ia juga melihat jelas bagaimana Kai menahan air di pelupuk matanya itu, “ Dia menghubungiku untuk datang menemuinya di taman kota, tempat yang sering kami kunjungi ketika musim berganti, tentu saja sebelum Naeun menjalin hubungan dengan Choi Minho, temanku. ”

“ Kai-ah … ” sekedar bergumam, Taeyeon memfokuskan kembali pendengarannya.

“ Aku yang tidak tahu-menahu tentang kanker itu hanya menuruti permintaan Naeun, bagaimana pun juga dia merupakan sahabatku, sekaligus cinta pertamaku. Kami bercanda dan mengobrol bersama ketika itu, sampai pada akhirnya dia mengungkapkan alasan sebenarnya menyuruhku ke taman tersebut. ”

“ Naeun bilang, dia tidak bisa menemaniku dan hidup lebih lama disampingku. ” suara Kai berubah menjadi lirih, seperti menahan sesuatu yang ingin keluar, “ Aku memang bodoh, aku tidak dapat menebaknya dan hanya menganggap ucapannya sebagai candaan biasa. Tapi, saat dia mulai menatapku dengan serius, disitulah aku langsung drop dan menyadari kesedihannya. ”

Taeyeon turut menunduk, dia memang benci mendengarkan kisah cinta yang berujung pada sad-ending. Namun kali ini, dia menghapus syarat itu, setidaknya Taeyeon bisa menangkap makna dibalik cerita panjang yang Kai jelaskan padanya.

“ Kau pasti sudah menebaknya, ‘kan ? ” Kai bertanya tanpa melihat Taeyeon.

“ Hn, dia mengatakan tentang penyakitnya kepadamu. Apa benar begitu, Kai-ah ? ”

“ Tepat. Sehari setelahnya, dia dikabarkan akan menjalani operasi. Aku terkejut saat orang tuanya memintaku untuk mendampinginya nanti, aku pun datang ke rumah sakit demi Naeun. Dan bukan hanya aku, disana juga ada Minho dan teman-teman kami yang lain, anehnya, mereka semua hanya menunggu didepan kamar Naeun, tidak ada yang memasuki kamarnya, bahkan menyentuh knop pintu pun tidak. ”

“ La-lalu ? ” Taeyeon tergagap, bersiap mengeluarkan air mata saat Kai menceritakan kejadian selanjutnya. Sudah pasti, sudah pasti Naeun gagal menjalani operasinya.

“ Tidak, kau salah, Taeyeon-ah. ” seolah membaca pikiran, Kai menggeleng lemah, “ Tidak ada yang gagal. Kau tahu kenapa ? ” Kai meneteskan liquid itu, “ Karena dia tidak menjalani operasinya. Dia tahu, kanker yang dideritanya sudah tidak bisa disembuhkan. ”

“ Kai … ” Taeyeon kembali memanggil nama itu.

“ Naeun … di-dia … dia menyatakan cintanya kepadaku, tepat saat orang tuanya meninggalkan kami didalam kamar pasien. Aku bahagia, Taeyeon. ” Kai tersenyum lagi, “ Sangat. Karena itulah, aku memintanya untuk bertahan dan menjalani operasi seperti rencana awal. Tapi lagi-lagi dia menolak, dia menggenggam tanganku dengan erat, seakan-akan kami ditarik untuk saling menjauh. ”

Taeyeon menangkup wajahnya dengan tangan, dia menangis. Sedih.

“ Benar saja. Belum semenit aku membalas pernyataan cintanya, dia sudah tidak ada. Pergi. Dia pergi ke dunia lain dimana aku tidak bisa menemuinya sampai sekarang. ” Kai menggunakan punggung tangannya untuk menghapus jejak-jejak air mata di pipinya, “ Hanya bayangannya saja yang samar-samar bisa aku lihat. ” tambahnya diakhiri senyuman pahit.

“ Hidupmu … sangat berat, Kai-ah. ” Taeyeon berucap setengah berbisik.

“ Tidak juga. Memang butuh waktu yang lama untuk melupakan Naeun, tapi semua itu akan terasa mudah saat kau menemukan orang lain. ”

Taeyeon menyipitkan matanya, “ Karena itulah kau bergaul dengan banyak gadis, huh ? ”

Kai mengedikkan bahu, “ Memang begitu faktanya, ‘kan ? Tidak ada yang salah dengan itu, Taeyeon-ah. Asalkan, kau dapat mengatur waktu sesuai kebutuhanmu. ”

“ Kau ini benar-benar … ”

“ Jadi, kau bisa mengerti inti dari ceritaku itu, bukan ? ” Kai memotong, sedikit ekspresi merendahkan terlihat di wajahnya. Apa dia kembali menjelma sebagai pemuda menyebalkan kalangan elit lagi ?

“ Sepertinya, aku mengerti. ”

Kai menyilangkan tangan didepan dada, berlagak angkuh, “ Belum, nona. Kau belum memahaminya, aku tahu itu dari sorot matamu. ” menghela nafas, Kai mengganti posisi tangannya di belakang kepala, “ Yah, apapun persepsimu mengenai ceritaku, aku hanya dapat memberimu satu hal yang menarik. ”

“ Heh ? Kau tidak berniat menjadikanku kekasihmu, ‘kan ? ” Taeyeon bertanya dengan nada bercanda. Ada rasa lega ketika Kai tertawa mendengarnya.

“ Jangan salah paham dulu, nona Kim. Aku hanya ingin bilang, ketika seseorang mencintai orang lain, maka jangan berhenti mencintainya, karena mungkin, disaat kita berhenti dan berusaha menghindari perasaan itu, orang yang kita cintai malah merasakan hal yang sama, walau terkesan lambat. ”

Taeyeon mengernyit, “ Kai- ”

“ Jangan sampai itu terjadi diantara kalian, ok ? Maksudku, kau dan Luhan. ”

Wajah Taeyeon sontak memerah, warnanya semakin terlihat saat Kai terkikik keras menanggapi. Dia pun menunduk menyembunyikan wajahnya, “ Bicaralah dengan maksud yang jelas, Kai ! ”

“ Cih, terlihat sekali, ya ? ” meski tahu perasaan Taeyeon, Kai tetap menggodanya.

“ He-hentikan ! ”

“ Jika kau dan Luhan memang tidak berhasil menjalin hubungan, dengan senang hati aku akan membuka kesempatan untuk dijadikan pelampiasanmu, nona Kim Taeyeon. ”

“ KAI !!! ”

***

Matanya terus mengikuti kemana gadis itu berjalan. Tak ada kedipan, hanya tatapan sinis yang siap membunuh insan disebelah Taeyeon – Kim Jong In. Memang tak ada salahnya jika Taeyeon berdekatan dengan orang lain, tapi yang menjadi masalahnya adalah keakraban mereka yang diluar batas – menurut Luhan.

Alhasil, pemuda itu pun beranjak dari kursinya, mendekati Taeyeon dan Kai, menoleh sedikit untuk memperlihatkan aura gelapnya pada Kai, kemudian menarik Taeyeon keluar kelas – lagi. Taeyeon memalingkan wajahnya untuk sekedar menengok ke arah Kai, memberikan ekspresi maaf atas sikap sahabatnya. Namun siapa yang tak mengenal Kai, dia itu langsung mengerti arti dibalik tindakan seseorang, terlebih Luhan.

Kai hanya mengangguk-angguk tidak jelas, tak lupa ia juga mengibaskan tangannya seolah tak keberatan dengan sikap Luhan yang semena-mena, atau mungkin secara spontan. Taeyeon tersenyum usai melihat gerak tubuh si pemuda exotis tersebut, begitu ia kembali pada Luhan, senyumannya langsung memudar.

Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan ?, tanyanya dalam hati. Genggaman Luhan baru merenggang saat keduanya berada dibalik tangga yang menuju ke atas atap, Taeyeon masih heran dan hendak bertanya. Hanya saja, niatnya terurung kala Luhan men-death-glare-nya terlebih dahulu.

“ Sebelumnya Sehun, dan sekarang Kai. ” Luhan berujar sinis.

Taeyeon berjengit tak paham, “ Hah ? ”

“ Ck, kau ini suka sekali membuatku marah, ya ? ” bisik Luhan yang enggan membuang nada sinisnya. Dia melepaskan genggamannya dari tangan Taeyeon, lalu berbalik membelakangi gadis itu, “ Ini aneh. ” tukasnya sebagai tambahan. Luhan menghela nafas kasar, sangat kasar hingga bahkan membuat Taeyeon khawatir.

“ Luhan-ah, kau baik-baik saja, ‘kan ? Aku tidak mengerti, kenapa kau bertindak seperti itu dihadapan Kai ? Kau akan membuatnya salah paham nanti. ”

“ Jangankan kau, Taeyeon, aku pun sama tak mengertinya sepertimu. ”

Taeyeon menyentuh punggung Luhan, memutarnya perlahan-lahan supaya dia dapat memandangi wajah seorang yang dicintainya itu. Taeyeon mengelus pelan pipi kanan Luhan, “ Beristirahatlah jika kau memang merasa kurang sehat. Aku akan memberitahu sosaengnim nanti. ”

Luhan terdiam, bungkam merupakan pilihan terbaiknya kini. Dia dan Taeyeon lama bertukar pandang, dengan telapak tangan gadis itu yang masih bertengger di pipinya, menimbulkan sengatan hangat yang tak ingin terlepas. Semuanya jadi kacau, pikiran, tatapan, dan hati, seakan-akan Luhan mengidam-idamkan sosok sahabatnya sendiri. Lalu dimana dia menempatkan Seohyun sebagai kekasihnya ?

“ Luhan-ah ? ”

“ Ah ! Hn. ” dua kata yang masing-masing mewakili karakternya. Kata ‘Ah’ sebagai bukti bahwa Taeyeon membuatnya terkejut, dan kata ‘Hn’ berguna untuk menyetujui tawaran gadis itu agar beristirahat di ruang kesehatan sekolah, tak ayal, Luhan benar-benar tersiksa dengan perasaannya sendiri.

Taeyeon berjalan terlebih dahulu, disusul Luhan kemudian. Beberapa detik terlewat, dan tibalah mereka didepan pintu ruang kesehatan. Taeyeon memberi nasehat seperti biasa, menyuruh Luhan agar beristirahat dengan tenang didalam sana, memintanya untuk tidak perlu memikirkan banyak hal, dan terakhir …

“ Cepatlah pulih, rasanya ada yang kurang jika kau tidak berada disampingku. ” senyuman menyelingi ucapan itu sejenak, “ Jadi, aku masih membutuhkanmu, Luhan-ah. ”

Deg !

***

Seohyun dan Sehun duduk bersama, berdampingan. Kebetulan sekali, pengajar jam pertama sedang absen, seluruh siswa-siswi mulai mengambil posisi demi tujuan mereka masing-masing. Ada yang sibuk dengan penampilan, ada beberapa siswa yang menggoda teman-teman gadisnya, ada juga yang diam membaca buku.

Sementara Sehun dan Seohyun sendiri, mereka memilih untuk bercakap-cakap seputar masalah pribadi, sekolah, maupun keluarga. Lama waktu berselang, hingga suatu kalimat dari Sehun memaksa Seohyun untuk bercerita lebih jelas mengenai kekasihnya. Masalah Luhan lagi, eh ?

“ I-itu … ”

Sehun memangku dagunya, “ Hm ? Semalam, bukankah kau belum memberitahuku lebih detail tentang Luhan yang pergi ke rumah Kai ? ”

“ O-oh, masalah itu … tidak usah kau pikirkan, Sehun. ”

Sehun mengangkat alis, selanjutnya memindah pangkuan tangannya ke belakang kepala, “ Yah, aku memang tidak mempermasalahkan Luhan, tapi aku khawatir melihatmu yang terus-menerus memperhatikannya dari jauh, kalian tak terlihat seperti sepasang kekasih. ”

Seohyun terperangah, benarkah seperti itu ? Dia menundukkan kepala, “ Kami memang bukan sepasang kekasih, setidaknya sebentar lagi. ”

“ Kau ini benar-benar … ” Sehun mengacak asal rambutnya, kesalkah dia ?

Seohyun tersenyum tipis, “ Tenanglah, aku akan menegur Kai saat istirahat nanti. ”

“ Jinjja, aku harap perkataanmu membuahkan hasil, Seohyun. ” tukas Sehun sebelum meletakkan kepalanya diatas meja, memejamkan mata, dan menikmati sisa-sisa jam menuju waktu istirahat.

.

.

.

Sewaktu istirahat …

Seperti biasa, keluar dari kelas, Taeyeon berkumpul dengan teman-temannya karena Luhan sedang di ruang kesehatan. Lain dari pada itu, Kai berjalan dengan gaya santai dan tampang memukau bagi setiap siswi yang dilewatinya. Pada dasarnya, Kai pun tak mempedulikan teriakan sekaligus tatapan kagum gadis-gadis itu.

“ Ka-kai !!! ”

Ia menoleh. Menaikkan sebelah alisnya.

“ Bisa bicara sebentar ? ”

Kai tertegun ketika gadis yang merupakan teman Taeyeon dan kekasih Luhan tersebut meminta waktu luangnya, sebenarnya sayang jika Kai tidak mengisi jam istirahat dengan berkumpul didalam kantin. Namun pengecualian untuk Seohyun, bukan apa, dia hanya ingin menurutinya mengingat gadis itu merupakan kekasih teman sekelasnya. Kai mengangguk mengiyakan, “ Dimana ? ”

Seohyun yang menyadari Kai sudah berada disampingnya hanya mengedikkan dagu, “ Didepan sana, karena ini masalah pribadi. Mungkin. ” kata tambahan diakhir kalimat cukup menyulitkan Kai dalam mengira-ngira, entah topik apa yang gadis itu ingin sampaikan.

Kaki mereka sama-sama berhenti di tempat yang cukup jauh dari kerumunan pelajar, Seohyun tidak mengenal Kai sebaik Luhan dan Taeyeon. Alhasil, dia menjaga jaraknya dengan pemuda itu untuk menghindari prasangka-prasangka buruk bagi orang yang melewati mereka sewaktu-waktu.

“ Kai. ”

“ Hn. ”

“ Aku Seohyun. ”

“ Aku tahu, pasti. Kau kekasih Luhan, ‘kan ? ”

Mengangguk, Seohyun melanjutkan, “ Begini, ada yang ingin aku tanyakan. Bi-bisa ? ”

“ Luhan. Apa ada hubungannya dengan dia ? ”

“ Be-benar. ”

Kai terdiam, apa lagi hal yang pasti Seohyun tanyakan selain kejadian semalam ? Pikirannya sontak tertuju pada Taeyeon, urat perempatan muncul disudut keningnya, ‘ Apa Seohyun tahu acaraku dari Taeyeon ? ’ dia bertanya meneliti ekspresi Seohyun, mengintimidasinya sesaat.

“ Jadi, ba-bagaimana, Kai-ah ? ”

“ Hn. ”

“ Hn ? Ma-maksudmu ? ”

Kai berdecak malas, “ Taeyeon yang memberitahumu tentang Luhan itu, ‘kan ? Apa dia bercerita banyak mengenai pestaku semalam ? ”

“ Eh ? Taeyeon ? I-ini tidak ada hubungannya dengan Taeyeon, Kai-ah. ”

“ Bagaimana dengan Luhan ? Apa dia yang memberitahumu ? ”

Seohyun menggeleng pelan, “ Kami sudah lama tidak berkomunikasi. ” ungkapnya jujur.

Kai terdiam lagi. Jika Taeyeon dan Luhan tidak memberitahunya, lalu siapa ? Tak ingin ambil pusing dengan masalah itu, Kai akhirnya menyerah dan menyuruh Seohyun untuk mengajukan pertanyaan, apapun itu, selama ia bisa menjawab, maka Kai pasti memberikan argumennya pada si Seohyun.

“ Semalam, kau menghubungi Sehun, ‘kan ? ”

Jadi dia, ya ? Sehun sialan., Kai mendesis dalam hati. Sungguh, dengan susah payah dia merahasiakan pestanya dari seluruh pelajar, tapi Sehun malah membagi berita pada Seohyun. Kai sendiri tidak keberatan, yang membuatnya kesal adalah kebodohannya yang semalam memilih menghubungi Sehun untuk menanyakan sikap ‘aneh’ Luhan. Nyatanya ? Bukan sekedar Sehun yang tahu, bahkan Seohyun pun sudah tahu.

“ Kai-ah, maafkan aku jika pertanyaan ini terkesan mengusik atau memberatkanmu. ” ujar pihak gadis sambil memandangi Kai takut-takut.

“ Tidak, tenang saja. ”

“ Aku khawatir dengan keadaan Luhan. ”

Kai mengangguk paham, “ Aku mengerti. ”

“ Maka dari itu … aku ingin tahu, apa saja yang kalian lakukan di pestamu se-semalam ? ”

Kai mengernyit bingung, “ Luhan pergi sebelum pestanya dimulai. ”

“ Hah ? ” Seohyun menelan salivanya sejenak, “ Ha-hanya itu ? Tapi, Sehun bilang kalau kau menanyakan sikap Luhan, apa yang terjadi, Kai-ah ? ”

“ Ah, itu … ” Kai membiarkan kalimatnya menggantung. Dia memutar kejadian semalam, tentang Luhan yang tiba-tiba marah karena ucapannya mengenai Taeyeon dan gadis dihadapannya.

‘ Apa aku jujur saja pada Seohyun, ya ? ’

– To Be Continued –

Author Note’s :

Aigoooo ~! Akhirnya, tuntas juga chapter ini, rasanya lega sekali. Author juga ingin mengucapkan permintaan maaf untuk readers sekalian, mungkin chapter ini adalah chapter terlama yang belum author posting semenjak jaman purba kala (?), dan seberapa banyak-kah readers yang sudah jamuran (?) menunggu ff ini ???!!!

Yoshhh, chapter selanjutnya author tidak janji akan menge-post dalam jangka waktu mingguan. Oleh sebab itu, sebagai penghilang rasa penasaran, author akan memberikan hadiah dengan ‘ff oneshot bersambung’, dimana ff tersebut tetap saling berhubungan walau dimasukkan dalam kategori ‘oneshot’.

Sekian dulu teks proklamasi (?) dari author, harap menunggu for next chapter ! Fighting, yesss ! Annyeong ~

Advertisements

78 comments on “I Need Your Love ( Chapter 8 )

  1. Greget sama luhan yang ga pernah peka sama perasaannya… Pokoknya penasaran deh sama kelanjutannya. Fighting

  2. Jadi luhan masih bingung sama perasaannya sendiri???cieelahh wk makin penasaran nih thor,next deh jgn lama” yaa😁😁 FIGHTING!!

  3. seru seruuu.. suka sukaaa.. chap ini sangatt sangattt memuaskan thorr 🙂 suka permasalahan yg semakin rumit, aaaa pokoknya big jempoll dehh.. keep writing & fighting

  4. O.o luhan udh mulai suka kan tuh ma taeng ? Hhahha ! Kasian juga ya Sehun ma Seohyun nya .. Masih penasaran sih rencana apa yang disusun ma SehunSeohyun .. Next ditunggu !

  5. Duhh LuTae paling suka kalo liat Luhan cemburu ahh Daebakk .Pokoknya keep writing and Fighting!!! ditunggu sangat

  6. Aduh thor, kpn lutaeng bersatu ? Pusing pala barbie #plak
    dtnggu lho permintaan sehun yg dinamsan. Dtnggu next chap thor!
    FIGHTAENG!!

  7. knp luge belum peka terhadap perasaannya sendiri
    bikin greget aja deh
    trus nasib sehun dan seohyun gmn thor ?
    ditunggu next chapternya

  8. njir, penasaran dh apa rencana Sehun? gmn kelanjutan hub. Luhan Seohyun? akankah Taeyeon Luhan bersatu? wkw
    suka nih sm karakter Kai, wlw badboy tp pemikiran dia keren kata2nya mcm s’org filsuf haha
    update soon okay

  9. cieeeeeeeeee..
    Luhan cemburu liat Taeng dket” sm Kkamjong hha

    serrrrrrruuu..
    Next di tunggu, sekalian ff oneshoot nya ya 😀
    FIGHTING !!!

  10. Luhan sudah tau taeng suka ama dia??sedih ceritanya kai..akhir ending nya sad atau happy??aku mau happy ending ya thor fighting!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s