My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 12)

my-princess-kim-taeyeon

Bina Ferina’s Present

Main Cast :

KIM TAEYEON

KIM JUNMYEON (SUHO)

XI LUHAN

PARK CHORONG

All of Artists SM. Entertainment

Genre :

ROMANCE, SCHOOL-LIFE, FRIENDSHIP

Rating :

PG 17

Artworker :

Very much thank you, dear^^ –> rosaliaaocha – ExoShidaeFFandGrapchics

A/N :

Chapter ini agak sedikit lebih panjang dari sebelumnya, jadi jangan merasa bosan untuk membacanya, yaaaa^^

~~~

Taeyeon terus memandangi ponselnya tanpa kedip dan ia sama sekali tidak berkeinginan untuk mengalihkan pandangannya, seakan-akan ada sesuatu yang menarik yang tidak bisa ia lewatkan sedetik saja. Sunny dan Tiffany yang sedang duduk di belakangnya tampak heran sekaligus bingung menatap sahabat mereka itu.

“Apa ada telepon atau pesan penting yang kau tunggu, Tae?” tanya Jessica, yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Taeyeon. Jessica menatap ponsel Taeyeon dan Taeyeon langsung tersenyum lebar seraya menyimpan kembali ponselnya di dalam tas.

“Aniyo, aku menunggu telepon dari Ji Woong oppa,” jawab Taeyeon asal. Wajahnya berusaha ia datarkan, sikapnya berusaha ia netralkan, agar Jessica tidak menangkap sinyal kebohongan dari nada bicaranya. Namun, Jessica tetap saja Jessica. Ia tahu Taeyeon berbohong, tapi ia menunggu kejujuran dari mulut gadis itu sendiri.

“Ada apa dengan Ji Woong oppa? Tidak biasanya kau menunggu telepon darinya,” tanya Sunny, yang ikut duduk di dekat Taeyeon.

“Dia akan berhenti dari club, ingat? Dan aku ingin pastikan ia sudah keluar atau belum,” jawab Taeyeon, yang lagi-lagi asal saja menjawabnya.

Sunny dan Tiffany hanya mengangguk. Sedangkan Jessica menampilkan senyuman tipisnya dan ia langsung membuka-buka buku pelajarannya.

“Kudengar kau kemarin malam pergi ke rumah Luhan. Benarkah?” tanya Jessica. Tatapannya masih jatuh pada bukunya.

Mendengar ucapan dadakan Jessica, Taeyeon langsung terbatuk tanpa alasan. Wajahnya sedikit memerah.

“Mwo? Kau ke rumah Luhan? Buat apa?” tanya Tiffany penuh selidik.

“Aku hanya…”

“Hanya ingin memastikan keadaannya apakah dia sudah sembuh atau belum?” tukas Sunny sambil mengeluarkan smirk-nya.

“Aish, bicara apa kau? Luhan tidak benar-benar sakit. Bukankah Tao sudah menceritakan semuanya?” sanggah Tiffany cepat.

“Maksudku bukan seperti itu. Bukannya Luhan kemarin bertengkar dengan… siapa? Choi Minho? Apa mungkin kau cemas dengannya?”

“Kalian sudah dengar semuanya, ya? Mianhae, seharusnya aku cerita,” gumam Taeyeon. Ia merasa sangat bersalah.

“Gwaenchannayo, kami semua tahu kau sedang bingung dan bimbang. Kami tahu kau butuh waktu untuk memikirkannya seorang diri. Kami tahu dari dulu kau itu seperti apa,” ujar Tiffany sembari merangkul pundak Taeyeon.

“Gomawo,” ujar Taeyeon penuh haru. Ia meletakkan kepalanya di atas pundak kiri Tiffany.

“Dan apakah masalahnya sudah selesai? Apakah Luhan tidak salah paham lagi? Kau sudah menjelaskan semuanya?” tanya Chanyeol, yang sedari tadi hanya mendengarkan mereka berempat mengobrol.

“Semuanya sudah terjelaskan. Lagipula aku menjelaskan itu padanya agar dia tidak menganggapku wanita ‘rendahan’,” jelas Taeyeon. Saat mengucapkan kata ‘rendahan’ tersebut, Taeyeon kembali teringat dengan kata-kata pedas Luhan kemarin malam. Kata-kata yang menyakiti hatinya, untuk pertama kalinya. Kata-kata Luhan yang sama sekali tidak benar, tapi mampu membuatnya menangis.

“Dia terlalu mencintaimu, terlalu cemburu sehingga seperti itu. Memukul Minho yang sama sekali tidak kau kenal hanya karena cerita bohongnya. Jelas sekali siapapun tidak boleh menyentuhmu, Taeng. Bahkan menjadi tuli saking marahnya,” lanjut Heechul. Ia tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya, merasa aneh dengan tingkah perdana Luhan.

“Ingin sekali aku memutar kembali saat-saat di mana dia masih menginjak-injakmu, Taeng. Dasar rusa tak tahu diri. Setelah menghina Taeyeon mati-matian, sekarang ia malah mengejar-ngejarnya. Apa dia masih punya harga diri?” tanya Tiffany. Ia mendengus kesal.

Good news-nya, tidak ada lagi yang berusaha menyakiti uri Taeng, ‘kan? Biarkan saja laki-laki itu mengejar Taeyeon. Kita tidak tahu bagaimana ke depannya,” ujar Chanyeol. Ia menaikkan kedua alisnya pada Taeyeon, menggoda gadis itu.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Taeyeon kesal. “Aku sudah bilang aku membencinya dan berhenti untuk bertingkah konyol. Menyukaiku? Apa-apaan? Aku tidak ingin jadi domba bodoh seperti perempuan-perempuannya yang lain,”

“Kita tidak tahu, Tae. Mungkin saja dia serius. Sampai sejauh mana dia bisa membobol hatimu itu adalah hal yang paling kutunggu. Dan mungkin kau juga akan menelan ucapanmu sendiri, sama seperti dia,” ujar Jessica dengan mimik wajah serius.

Fighting!” seru Sunny dan ia tertawa menggoda Taeyeon.

“Ya! Kau mengejekku?!” tanya Taeyeon, yang lagi-lagi merasa kesal. Kemarahannya membuat teman-temannya justru tertawa gembira.

“Aku tidak yakin, tapi mungkin saja tahun ini Ketua Muridnya mencetak sejarah baru, dengan memiliki hubungan yang lebih dari sebatas partner, hubungan yang menyalahgunakan jabatan,” sahut Heechul, dan ia langsung melesat pergi menjauh, sebelum Taeyeon menyimak dan mencerna ucapannya.

“Tae, ada telepon,” kata Jessica, yang melihat cahaya layar ponsel Taeyeon di dalam tasnya tengah berkedip.

Mendengar interupsi dari Jessica, Taeyeon yang hendak melempar sebuah buku tebal ke arah Chanyeol langsung membatalkan niatnya. Dengan tergesa-gesa, ia mengambil ponselnya, takut Jessica melihat layar ponselnya. Kedua mata Taeyeon membulat begitu ia membaca nama seseorang yang meneleponnya.

“Aku akan mengangkatnya di luar,” ujar Taeyeon pelan dan ia melesat pergi ke luar kelas, tidak memberikan Jessica kesempatan untuk bertanya siapa yang meneleponnya.

Di luar kelas, Taeyeon mendekatkan ponselnya ke telinga kanannya dan terdengar suara seorang laki-laki menyapa dari seberang telepon.

Yeoboseo,”

“Ini aku, Kim Taeyeon,” balas Taeyeon cepat dengan suaranya yang amat pelan.

Eoh? Taeyeon-ssi? Annyeonghaseyo, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah? Tidak ada yang terjadi padamu, ‘kan?” tanya laki-laki yang bernama Minho itu. Suaranya lirih, kedengarannya ia sedang kelelahan. Atau mungkin ia masih merasa sakit saat Luhan memukulnya di club. Meskipun begitu, Minho terdengar berusaha tampak baik-baik saja.

“Menurutmu, apa yang akan terjadi padaku?” Taeyeon balik bertanya dengan nada dingin dan sangat ketus. “Kau ingin aku terluka batin sekaligus membuat hidupku sengsara?”

Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Taeyeon-ssi?

“Aku tidak ingin katakan apa-apa di telepon. Aku akan bilang langsung padamu, hari ini. Ani, sore ini. Otte? Di mana aku bisa bertemu denganmu? Di tempat yang kemarin?”

Minho tidak segera menjawab. Sepertinya ia tampak sedang berfikir. Taeyeon menunggu jawaban darinya sekaligus mengecek kalau-kalau ada seseorang yang sedang mendengarkan dirinya. Taeyeon hanya ingin segera menyelesaikan ini semua. Dia tidak ingin berhubungan lebih lanjut dengan Luhan ataupun Minho. Biarkan saja mereka berdua yang bermasalah. Hidupnya juga masih harus dia urus.

“Aku akan menghubungimu nanti, setelah aku tahu tempat mana yang cocok untuk kita bicara,” jawab Minho setelah hampir semenit penuh Taeyeon menunggu.

“Kau tidak akan membawaku ke tempat yang aneh, ‘kan? Kau tidak akan melanjutkan balas dendammu pada Luhan dengan menggunakan aku, ‘kan?” tanya Taeyeon. Suaranya terdengar ketakutan.

“Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, Ms. Kim. Sepertinya hal yang ingin kau sampaikan sangat penting. Aku akan menyuruh adikku untuk menemuimu nanti, memberitahu di mana kita bisa bertemu,” ujar Minho.

“Adikmu?” tanya Taeyeon tidak mengerti. “Kau punya adik di sekolah ini?”

“Ne, dia akan memberitahumu. Kalau begitu, sampai bertemu lagi, Ms. Kim,” tutup Minho. “Senang bisa bekerjasama denganmu,”

Minho memutuskan sambungan telepon mereka. Taeyeon memandang ponselnya dengan tatapan bingung dan penuh selidik. Meskipun perasaannya tidak enak, tapi Taeyeon tetap bersikukuh untuk bertemu dengan Choi Minho, ingin mengklarifikasi semuanya. Ia tetap berusaha untuk positive thinking.

~~~

Pintu kantor Ketua Murid terbuka dan Taeyeon mendongakkan wajahnya dari beberapa dokumen di atas meja untuk melihat siapa yang datang. Luhan menutup pintu kantor itu dan ia mendatangi Taeyeon sembari menyusupkan kedua pergelangan tangannya di saku celana. Taeyeon menghela nafas pendek. Ia merapikan dokumen-dokumen itu dan menyimpannya di laci meja.

“Sudah berapa sekolah yang menyambut undangan kita?” tanya Taeyeon tanpa menatap Luhan. Ia masih sibuk menyusun dokumennya.

“Lihat aku,” ujar Luhan dengan nada dingin.

“Apa aku harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Murid ini?” tanya Taeyeon pelan pada Luhan. Ia masih tidak melihat wajah Luhan, yang kini tengah diperhatikannya adalah lantai kantor Ketua Murid yang entah sejak kapan mulai menarik perhatiannya.

“Apa maksudmu?” Luhan balik bertanya.

“Kita tidak cocok,” jawab Taeyeon dengan suaranya yang lirih. “Kita tidak mendapatkan sebuah chemistry seperti Ketua Murid yang lain. Kau dan aku saling benci. Kita tidak pernah satu pemikiran. Dan, aku ingin lebih menjaga jarak denganmu, Luhan-ssi. Berada di dekatmu, mengenalmu lebih dalam membuat hidupku semakin bermasalah. Lebih baik dari awal aku tidak usah mengenalmu. Kita akan sulit untuk berdamai,”

Luhan dengan cepat menarik pergelangan tangan kanan Taeyeon, membuat gadis itu bangkit dari kursinya dan kini dirinya berhadapan dengan Luhan.

Luhan memerhatikan wajah dan kedua mata Taeyeon dalam-dalam. Meskipun bukan ahli dalam psikologi, tapi Luhan dapat merasakan aura kesedihan, kebingungan, kebimbangan, dan keputusasaan yang terpancar dari mata gadis itu. Laki-laki itu sedikit terkejut. Biasanya Taeyeon selalu melemparkan tatapan kemarahan dan kebencian pada dirinya. Sekarang, tatapan itu tidak ada.

Hati Luhan terasa keram mendapati tatapan kesedihan di dalam mata gadis itu. Apakah salahnya di masa lalu benar-benar sebuah kesalahan besar sehingga gadis itu tidak bisa memaafkannya dan melihat betapa Luhan serius dengan perasaannya? Bahkan Luhan sudah seringkali ingin menampik hatinya yang terus bergetar setiap dia ingat nama Kim Taeyeon. Kenapa? Apa dia sudah tidak bisa merubah pandangan Taeyeon lagi?

“Apa salahku sebesar itu padamu? Sebesar bencimu kepadaku?” tanya Luhan pelan, yang masih belum melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Taeyeon. “Apa ada masalah lain yang tidak aku ketahui?!”

Taeyeon diam. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia tidak ingin menangis. Luhan akan tahu kalau dia menangis, itu artinya mereka benar-benar ada masalah jauh sebelum mereka bertemu. Taeyeon tidak ingin Luhan tahu yang sebenarnya dari mulutnya. Kalaupun tahu, ia ingin Luhan tahu dari orang tuanya sendiri. Dia tidak akan sanggup jika harus menceritakannya di depan Luhan. Tidak bisa dia bayangkan perasaan Luhan jika tahu masalah ini.

Mata Taeyeon tidak bisa diajak berkompromi. Pasalnya, air matanya mulai semakin menggenang saat memikirkan perasaan dan reaksi Luhan kelak. Kenapa ia harus memikirkan orang ini? Kenapa? Dia berseru kepada dirinya sendiri kalau ia membenci Luhan. Tapi kenapa ia tidak sanggup untuk mengatakan semuanya pada Luhan? Kenapa ia justru bimbang dan memikirkan perasaan laki-laki itu?

Luhan diam termangu menatap Taeyeon, menatap kedua manik mata Taeyeon yang berkaca-kaca. Ia bingung. Apa yang menyebabkan gadis ini mati-matian menolaknya? Apa yang membuatnya menangis? Tergambar dengan sangat jelas sekali, guratan kesedihan sekaligus kesakitan di dalam mata Taeyeon.

“Masalah orang tua kita?” tanya Luhan pelan. “Orang tua kita saling kenal, dan itu dulu. Mereka tidak dekat lagi, bahkan Ji Woong-ssi tidak ingin berlama-lama dekat dengan orang tuaku. Apa itu masalahnya? Apa orang tua kita bertengkar? Apa orang tuaku menyakiti orang tuamu? Apa masalahnya sampai-sampai kau begitu membenciku?”

“Lebih baik kau tanya saja pada mereka!” seru Taeyeon. Ia menghempaskan pergelangan tangannya dari genggaman Luhan. “Tanyakan pada mereka sampai sedetail-detailnya. Aku ingin tahu apa yang akan orang tuamu katakan, aku ingin dengar alasan mereka. Tanyakan pada mereka sendiri. Jangan paksa aku untuk menjelaskannya padamu. Dan setelah kau tahu, kuharap kau benar-benar mau pergi dari kehidupanku,”

“Lalu bagaimana dengan perasaanku? Kalau memang orang tuaku punya kesalahan besar, kenapa kau harus mengorbankan perasaanku? Kenapa aku harus menjauhimu sedangkan aku sama sekali tidak tahu-menahu masalahnya apa! Kalau mereka memang salah, aku akan melakukan apa saja untuk memulihkan semuanya,” ujar Luhan geram.

“Dengan cara apa?” tanya Taeyeon. Suaranya tercekat. “Jangan pernah bicara dengan begitu mudahnya, Luhan-ssi. Kau masih belum tahu apa-apa. Jangan bicara dan bertindak seenaknya dan semaumu. Kuharap kau tidak memukuli ayahmu begitu kau mendengar semua ceritanya, sama seperti kau memukul Minho. Caramu itu seperti orang idiot,”

“Tahukah kau aku memukulnya karena aku mencintaimu? Karena aku tidak ingin dengar namamu disebut oleh laki-laki bajingan seperti dia,” jawab Luhan.

“Berhenti bicara soal perasaan, perasaan, dan perasaan Luhan-ssi,” sela Taeyeon. “Buang saja perasaanmu itu. Perasaanmu hanya membebaniku, hanya membuat diriku semakin terpuruk. Lebih baik kau benci saja padaku seperti dulu. Dengan begini semua akan baik-baik saja. Setelah kau tahu masalah keluarga kita, kau juga tidak akan terlalu merasa bersalah, dan aku bisa bebas terus membencimu tanpa harus memikirkan perasaanmu ini,”

“Wae?” tanya Luhan, ketika Taeyeon melangkahkan kakinya hendak pergi keluar dari kantor. Taeyeon berhenti, menyimak apa lagi yang ingin Luhan permasalahkan lagi. “Kau bilang kau membenciku, tapi kenapa kau memikirkan perasaanku? Kalau kau membenciku sudah dari dulu kau mengatakan semuanya dan menamparku. Seharusnya kau tidak peduli dengan perasaanku. Tapi kenapa itu bisa menjadi bebanmu? Kenapa kau menjaga perasaanku? Kau sedang berusaha menutupi semuanya, ‘kan? Karena kau takut suatu saat nanti perasaanmu yang sesungguhnya akan semakin sulit untuk kau sanggah,”

Taeyeon diam. Ia ingin membuka mulutnya, tapi semua perkataan yang mau ia lontarkan tertelan begitu saja. Sebagai gantinya, Taeyeon hanya menghela nafas pendek dan ia melanjutkan langkahnya pergi dari kantor Ketua Murid.

Luhan diam tidak bergeming begitu ia mendengar suara pintu kantor menutup. Rahangnya mengeras dan ia mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia menatap pintu kantor yang menutup itu dan menghela nafas pendek.

Di luar kantor, ketika perkataan Luhan masih terngiang-ngiang di benak Taeyeon, seorang gadis berambut hitam panjang bergelombang tersenyum melihat keberadaan gadis itu. Ia menghampirinya, membuat lamunan Taeyeon buyar seketika.

“Annyeong, sunbaenim,” sapanya hangat, lebih tepatnya pura-pura hangat. Dengan senyuman lebar yang terlihat sekali dipaksakan.

Taeyeon menatap gadis itu dengan tatapan bingung. Ia ingat siapa gadis ini. Ha Ni, gadis yang pernah ia temui di dalam kantornya bersama dengan Luhan. Gadis yang bisnisnya ia ganggu, gadis yang setahu Taeyeon merupakan fans berat Luhan.

“Eoh, ada apa?” tanya Taeyeon.

“Aku tidak ingin berlama-lama, hanya ingin menyampaikan pesan dari kakakku, Choi Minho,” jawab Ha Ni dengan suaranya yang lembut dan nada bicara yang sengaja ia lambatkan.

“Mwo? Minho itu kakakmu?” tanya Taeyeon lagi, tidak percaya.

“Kau pasti sangat terkejut,” ujar Ha Ni sembari tertawa hambar. “Aku juga sangat terkejut ketika Lu ge merampas kehormatan Krystal eonni,”

“Apakah kau orang yang selama ini memberitahu Minho semua tentangku?” tanya Taeyeon. Nada suaranya yang lembut berubah menjadi sarkastik.

“Ia hanya ingin tahu siapa gadis yang sekarang ini diincar Luhan gege. Awalnya aku tidak percaya, kenapa orang itu bisa dirimu. Apa yang dilihat oleh Luhan gege dari seorang Kim Taeyeon? Dan setelah kufikir-fikir, kau juga hanya dijadikannya kelinci percobaan. Kau memang menolak, tapi siapa yang tahan dengan pesona Luhan gege? Kau tahu Luhan gege tidak suka ditolak dan kau menggunakan cara itu agar mendapatkan simpatinya. Cara yang rendahan, tapi berhasil juga,” jelas Ha Ni. Ia mengeluarkan smirk-nya dan menatap tajam Taeyeon. “Dan itu tidak akan lama. Seperti yang dikatakan Minho oppa, kau akan jatuh ke dalam perangkapnya dan ia akan membuangmu, seperti ia membuang pelacurnya layaknya sampah,”

“Dengar, ya. Katakan kepada Minho oppa yang baik hati itu untuk menjaga baik-baik ucapannya. Katakan kepadanya untuk tidak melihatku seperti para perempuan yang biasa dia lihat di club, dan katakan kepadanya untuk mengajari adiknya bagaimana cara bersikap sopan santun dan tidak berperilaku yang jauh lebih rendah dari pelacur Luhan,” ujar Taeyeon. Tatapannya yang tajam jatuh tepat di kedua mata Ha Ni, memercikkan amarahnya yang membara.

Ha Ni tersenyum. “Arraseo. Kau bisa bilang padanya sendiri nanti sore. Seseorang akan menjemputmu di belakang gedung sekolah tempat kau dan Minho oppa pertama kali bertemu,”

“Aku tidak ingin dibawa ke mana-mana. Kenapa tidak di tempat kemarin saja?” tolak Taeyeon.

“Kurasa obrolan kalian tidak ingin di dengar satu sekolah, ‘kan? Hari ini jadwalnya anak kesenian mengadakan kompetisi melukis di taman belakang sekolah, Ketua Murid. Kau lupa?” tanya Ha Ni dengan pandangan meremehkan.

Otak Taeyeon mulai bekerja. Ia baru ingat dan ia merutuki dirinya sendiri. Kemudian, Ha Ni langsung pergi melewati Taeyeon menuju kantor Ketua Murid.

“Gege!” seru Ha Ni gembira, saat ia melihat Luhan keluar dari kantor.

Taeyeon menolehkan wajahnya menatap Luhan, yang juga tengah menatap dirinya. Beberapa detik kemudian, gadis itu mengalihkan pandangannya dan langsung pergi.

~~~

“Kau ingin menemui siapa? Kenapa cepat sekali kabur dari kelas?” tanya Tiffany dengan suaranya yang melengking memenuhi ruang kantor Ketua Murid tempat dia sekarang berada. Kekasihnya, Huang Zitao, duduk dengan manis di sampingnya sambil memerhatikan wajah cantik Tiffany yang tertekuk.

Henry, Jessica, Xiumin, Sunny, dan Suho memandang serta mendengarkan obrolan Tiffany di telepon dengan seseorang yang sudah tidak asing lagi di hidup mereka, Kim Taeyeon. Sedangkan Luhan tampak sedang sibuk menandatangani beberapa dokumen di mejanya. Ia seperti tidak peduli, tapi kedua telinganya dapat menangkap dengan baik perbincangan Tiffany di telepon.

“Aah, jinjjayo? Arraseo, jaga dirimu baik-baik,” tutup Tiffany setelah beberapa saat ia terdiam mendengarkan penjelasan Taeyeon di telepon.

Begitu bel sekolah terakhir berbunyi, Taeyeon langsung membereskan buku-bukunya dengan cepat dan pamit kepada teman-temannya tanpa meminta persetujuan dari mereka. Taeyeon begitu buru-buru, bahkan ia tidak menjalankan tugas Ketua Muridnya. Ia juga tidak membawa beberapa siswa yang telah melakukan kesalahan kepada Mrs. Oh. Ia langsung melesat pergi, seakan-akan takut ketinggalan sesuatu.

Tiffany memutuskan sambungan teleponnya dan menatap kelima orang yang juga tengah memandangnya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Molla,” ujar Tiffany. “Taeyeon bilang dia sedang sibuk mengurusi festival olahraga itu. Ada beberapa sekolah katanya yang mengajaknya bertemu untuk membicarakannya secara face-to-face,”

Dear, kenapa kau tampak curiga sekali dengan Taeyeon? Mungkin memang benar dia sedang sibuk dengan kegiatannya, ‘kan? Ketua kita juga sedang sibuk saat ini,” ucap Henry pada Jessica sambil menunjuk Luhan dengan dagunya.

“Dia tampak gelisah dari pagi hingga pulang sekolah ini,” jawab Jessica. Wajahnya memang tampak tenang. Tapi siapa yang tahu di balik itu semua ada gemuruh kecemasan luar biasa di dalam hatinya. “Dia juga terus mengecek ponselnya. Dan tadi pagi ada yang menghubunginya. Selesai mengangkat telepon, wajahnya terlihat bingung dan bimbang. Ia juga tidak bisa berkonsentrasi penuh selama pelajaran berlangsung. Apa kau menemukan sesuatu yang aneh pagi ini, Suho-ssi?”

Mendengar namanya disebut, Suho langsung tersentak kaget dari lamunannya. Ia menatap Jessica dengan penuh keraguan, hingga akhirnya dia menjawab, “Sebenarnya, tadi pagi Taeyeon meminta nomor Minho padaku. Aku tidak tahu untuk apa. Tapi tidak mungkin dia mau menghubungi laki-laki itu, ‘kan? Taeyeon dan Minho tidak ada masalah apa-apa,”

“Kecuali pertemuan pertama mereka di belakang gedung sekolah itu mengharuskan Taeyeon menemui Minho untuk yang kedua kalinya,” celetuk Xiumin.

“Tapi untuk apa dia ingin menemui Minho lagi? Dan kenapa dia berbohong?” tanya Sunny.

“Karena seseorang sudah menyeretnya ke dalam lingkar masalah ini. Kalau semua bukan karena Luhan, Taeyeon tidak akan kena batunya. Apapun itu urusannya, Taeyeon pasti ingin meminta Minho untuk tidak membawa-bawa namanya kembali,” ujar Tiffany sembari memberi tatapan tajam ke arah Luhan.

“Tapi aku tidak suka Taeyeon bertemu dengan laki-laki itu,” ujar Suho.

“Jika memang Taeyeon bertemu dengannya hanya untuk itu, aku rasa itu bukan masalah besar. Maksudku, Taeyeon tidak punya salah apa-apa. Kalau dia ingin balas dendam dengan Luhan, kenapa dia tidak datang sendiri pada Luhan dan memukulnya sampai sekarat?” ujar Henry. “Kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Minho tidak akan macam-macam dengan Taeyeon. Dia sudah berhasil memisahkan Taeyeon dan Luhan lebih jauh. Selebihnya adalah urusan Luhan dan Minho,”

“Aku rasa benar apa yang dikatakan Henry hyung. Kau tidak perlu cemas secara berlebihan begitu, Ppany-ah. Katakan saja padaku kalau Taeyeon butuh bantuan, aku akan melindunginya demi dirimu,” ujar Tao dengan penuh keyakinan.

“Aigoo, my baby panda,” ujar Tiffany sambil memeluk erat lengan kanan Tao. Tao mengelus puncak kepala Tiffany dengan sayang. Sedangkan Henry hanya menatap Tao dengan tatapan jijik. Ia sedikit iri dengan kemesraan mereka berdua.

Luhan, Jessica, dan Suho saling berpandangan. Ketiga dari mereka sama-sama tahu, kalau mereka tidak sependapat dengan Henry. Mereka sama-sama punya perasaan yang tidak mengenakkan. Jessica mengalihkan tatapannya dan sedikit menundukkan wajahnya. Wajahnya terlihat tenang dan dingin, padahal otak dan hatinya sedang bekerja. Logikanya berkata Taeyeon akan baik-baik saja. Namun, hatinya justru berkata sebaliknya. Ia menggigit ujung kanan bibir bawahnya, menandakan kalau ia sedang gelisah.

Hampir sama dengan Jessica, Luhan juga tidak sepenuhnya konsentrasi dengan pekerjaannya. Fikirannya melayang-layang pada sosok gadis yang kini tengah bertemu dengan rival-nya. Ia sibuk memikirkan bagaimana kondisi Taeyeon dan apa yang Minho dan Taeyeon bicarakan. Di mana mereka bertemu dan apakah Minho menyentuh gadis itu membuat Luhan gila sendiri. Hingga akhirnya, ia menutup dan menyimpan semua file-nya seraya keluar dari kantor.

“Mau ke mana kau?” tanya Xiumin.

“Pulang,” jawab Luhan singkat.

“Dia pasti khawatir,” ujar Suho pelan saat Luhan sudah menghilang dari pandangan mereka.

“Dia bukan satu-satunya,” tambah Jessica.

Di sisi lain, Taeyeon, gadis itu tengah duduk di dalam mobil mewah Minho, tepatnya duduk di samping laki-laki itu, menuju suatu tempat. Keduanya diam dan tidak ada mengeluarkan sepatah katapun. Suasana di dalam mobil itu hening sekali. Taeyeon hanya menatap lurus ke depan, sedangkan Minho sedikit mencuri pandang ke arah Taeyeon, sedikit penasaran dengan apa yang ingin dikatakan gadis itu.

“Tidak bisakah kita berhenti di sini saja? Aku hanya ingin memberitahumu satu hal saja. Tidak lama, hanya butuh tiga puluh menit,” ujar Taeyeon, memecahkan keheningan yang melanda mereka berdua. “Aku tidak suka kau membawaku jauh-jauh dari lingkungan sekolah. Ingat, kita tidak saling mengenal,”

“Kau dan aku sudah saling kenal,” sela Minho. “Aku hanya membawamu ke taman Anyang High School, sekolahku. Aku masih ada kesibukan lagi, dan ingin izin sebentar. Karena tidak mau membuatmu menunggu lama, aku menjemputmu setelah izin. Tidak apa-apa, ‘kan? Lagipula, ini adalah terakhir kali kita bertemu,”

Taeyeon diam dan ia memandang Minho, yang sedikit menampilkan senyuman manisnya. Meskipun alasan Minho itu kurang logis, ia tetap menuruti kata-kata laki-laki ini. Dan benar juga apa kata Minho. Lagipula ini adalah pertemuan terakhir mereka, jadi setidaknya Taeyeon diam dan menurut saja.

Sepuluh menit kemudian, Minho memutar kemudi mobilnya ke kiri, menuju sebuah gedung sekolah Anyang Foreign Language High School, yang halamannya masih ada beberapa mobil yang bertengger manis di sana. Namun, dapat Taeyeon lihat sekolah itu sudah lengang, tidak ada siapa-siapa.

“Apa semua siswanya ada di dalam gedung?” tanya Taeyeon penasaran.

“Ne, acara kami di dalam gedung,” jawab Minho tenang. Ia membawa mobilnya menuju sebuah gudang tua yang gelap di belakang gedung sekolah.

“Bukankah kau bilang kita di taman?” tanya Taeyeon heran. Ekspresinya begitu terkejut, dan ia tidak bisa menyembunyikannya. Jantungnya sedikit berdebar.

“Aku bisa jelaskan, keluarlah,” jawab Minho cepat. Ia turun dari dalam mobil dan membanting pintunya kuat.

Taeyeon diam tidak berkutik. Ia menggenggam erat seatbelt-nya dan tampak sedang berfikir keras. Dilihatnya Minho tengah berbicara di telepon dan sedetik kemudian lima motor besar-besar datang dari luar gudang mendekati Minho. Masing-masing motor itu ada dua orang, dan semuanya berjenis kelamin laki-laki. Tubuh mereka hampir sama dengan Minho, tubuh atletis, tubuh yang sering berolahraga. Dan betapa takutnya Taeyeon, ada beberapa dari mereka yang membawa pemukul golf.

Untuk apa? Fikiran Taeyeon mulai ke mana-mana. Ia membayangkan dirinya akan dipukul habis-habisan oleh Minho dan teman-temannya. Tapi dia salah apa? Tebersit dalam benak Taeyeon untuk menghubungi siapa saja yang ada di ponselnya. Tapi niatnya itu segera ia urungkan begitu Minho membukakan pintu mobil untuknya.

“Kenapa kau tidak turun?” tanya Minho santai, seolah-olah ia tidak punya salah apa-apa.

“Aku mau pulang saja,” jawab Taeyeon dengan nafasnya yang berat. Ia berusaha keras untuk menyembunyikan rasa takutnya. Dan sialnya, Minho dapat menangkap dengan jelas sinyal ketakutan dari Taeyeon.

“Gwaenchanna, kau akan baik-baik saja asalkan kau ikuti mauku,” ujar Minho. Ia tersenyum, senyum licik lebih tepatnya.

“Apa maumu?!” tanya Taeyeon geram.

Minho langsung melepas seatbelt Taeyeon dan menariknya turun dari mobil. Karena Minho memaksa tubuhnya untuk turun dengan tenaga yang besar, tubuh Taeyeon agak sempoyongan dan hampir jatuh, kalau Minho tidak menggenggam tangannya kuat-kuat. Ia lalu membawa Taeyeon ke tengah-tengah gudang, menghadap para laki-laki yang masih memakai seragam sekolah yang sama dengan Minho.

“Tutup gerbangnya!” seru Minho pada teman-temannya.

Beberapa dari mereka menutup gerbang gudang itu. Awalnya gudang itu menjadi gelap gulita. Namun, Minho dan yang lainnya menghidupkan senter mereka untuk penerangan.

“Kuperkenalkan pada kalian, True Love-nya uri King Luhan,” kata Minho pada teman-temannya. Ia melepas genggamannya dari Taeyeon dan bergabung dengan teman-temannya.

Mendengar itu, teman-teman Minho langsung bersorak kencang dan tertawa. Taeyeon menatap Minho dengan tatapan tidak suka, bingung, dan takut.

Minho melangkahkan kakinya mendekat ke arah Taeyeon. “Apa yang ingin kau sampaikan padaku?”

“Aku hanya ingin bilang untuk tidak membawaku ke dalam masalah kau dan Luhan! Apa maksudmu menjadikanku umpan hanya untuk membuat Luhan marah? Kau tahu, ‘kan kalau Luhan akan marah besar dan kau juga tahu itu akan berdampak buruk untukku! Rencanamu memang berhasil, aku sudah meminta Luhan untuk menjauhiku dan membuatnya merana. Itu sebabnya aku mohon padamu untuk tidak menarikku lagi ataupun menggunakan namaku. Aku tidak ingin disangkutpautkan dengan Luhan. Selesaikan urusanmu dengan Luhan secara gentle, arraseo?” ungkap Taeyeon dengan tatapan memohonnya.

“Arraseo, aku juga berencana begitu. Dia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar sebanyak dua kali, dan membawa dirimu ke dalam masalah ini juga tidak membuatku bernafas lega. Dan karena dia harus membayar semua perbuatannya, maka aku harus melakukan apa yang selama ini dia lakukan,” ujar Minho seraya lebih mendekat ke Taeyeon.

Taeyeon terkesiap ketika Minho mendekatinya, apalagi saat beberapa temannya itu juga ikut melangkah maju bersama Minho. Naluri Taeyeon berkata untuk segera lari. Sayangnya, ia sedikit terlambat merespon apa kata hatinya. Beberapa orang laki-laki itu langsung berdiri di belakangnya seraya memegang kedua lengannya kuat-kuat.

“Ya! Apa yang kalian lakukan?! Minho-ssi…”

“Jangan banyak bergerak ataupun melawan Kim Taeyeon,” sela Minho dengan suaranya yang setengah berbisik. Ia mengeluarkan smirk-nya yang semakin melebar begitu ia melihat ketakutan di kedua mata Taeyeon. “Aku berjanji kau akan aman kalau kau diam dan tidak macam-macam. Mereka hanya menjagamu, jadi jangan terlalu khawatir,”

“Apa yang ingin kau rencanakan?” bisik Taeyeon. Tubuhnya berusaha diam mengikuti perkataan Minho, tapi jantungnya tidak bisa tenang. Darahnya terus mengalir ke atas, memompa lebih cepat.

Minho diam tidak menjawab. Ia mengambil ponselnya dan tampak sedang mengetikkan sesuatu. Kemudian, ia meletakkan ponselnya di telinga kirinya. Ia menelepon seseorang dan firasat Taeyeon amat sangat tidak bagus untuk hal ini.

“Yeoboseo, Mr. Xi Luhan,” sapa Minho dengan suara yang dipaksakannya ceria. Mendengar nama yang disebut Minho, jantung Taeyeon semakin jumpalitan di dalam rongganya. Lututnya lemas dan ia semakin pucat.

Minho tersenyum kecut dan ia menjauhkan ponselnya dari telinga. Terdengar suara Luhan dari ponsel itu. Ternyata Minho membuat loudspeaker.

Apa lagi?” tanya Luhan.

“Apa kabarmu?” tanya Minho. Wajahnya penuh kemenangan sambil menatap wajah ketakutan Taeyeon. “Kuharap kau baik-baik saja di dalam rumahmu,”

Ada apa? Jangan bertele-tele. Cepat katakan apa yang kau inginkan, Minho-ssi. Aku tidak suka dengan candaanmu,” balas Luhan.

“Aigoo, kenapa kau tidak bisa diajak berbasa-basi sebentar, eoh? Aku tidak menginginkan apa-apa. Hanya saja, aku ingin kau tahu Luhan-ssi, kalau karma itu ada,” ujar Minho.

Apa maksudmu?

“Apa yang selama ini kau lakukan padaku, aku akan membalas semua perbuatanmu cepat atau lambat, Luhan-ssi. Dan itu sudah kutanamkan saat kau merusak kekasihku. Yang aku ingin kau tahu juga, kalau akhirnya aku bisa mewujudkan itu. Aku tidak menyangka bisa secepat ini dan lebih mudah dari yang kubayangkan. Untuk sementara ini, coba kau dengarkan baik-baik suara gadis ini, Luhan-ssi,”

Minho menyodorkan ponselnya di hadapan Taeyeon, yang masih shock dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya menatap Minho dengan pandangan memohon. Memohon agar laki-laki itu tidak melakukan sesuatu yang amat sangat ditakuti Taeyeon.

“Bicaralah, Kim Taeyeon. Bicaralah padanya,”

~~~

Jantung Luhan serasa berhenti berdetak detik itu juga ketika Choi Minho menyebut nama seseorang yang sangat ia kenal. Hatinya mencelos, perutnya seperti jatuh, dan Luhan sangat berharap sekali kalau yang ia alami saat ini hanyalah mimpi belaka.

Ayolah, Kim Taeyeon. Jangan membuatnya menunggu lama. Tunjukkan padanya kalau kau benar-benar berada di sini. Bersamaku,

“Apa yang kau katakan, Minho-ssi?! Jangan bercanda!” bentak Luhan. “Tidak mungkin dia ada bersamamu,”

Kau tahu, ‘kan kalau dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan suatu hal? Kami sudah bertemu dan rasanya aku sulit melepasnya. Aku sulit membiarkannya pergi saat aku teringat bagaimana kau memperlakukan Krystal,” jawab Minho. Terdengar suara tawanya yang sedikit mencemooh.

Mata Luhan terbelalak. Ia mengepalkan kedua tangannya dan ia harus menahan dirinya untuk tidak melemparkan ponselnya ke lantai atau barang-barang yang ada di sekitarnya.

“Jangan pernah sentuh dia sedikitpun,” desis Luhan.

Minho tertawa. “Jinjjayo? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan? Menggertakku? Apa kau fikir aku takut denganmu? kalau kau memang mencintainya, datang ke sini dan bawa dia pulang, Luhan-ssi. Sebelum aku melakukan apa yang ingin aku lakukan padanya, suatu hal yang sangat jauh,”

“Di mana kau sekarang?” tanya Luhan. Rahangnya mengeras.

Ya, paboya. Cobalah untuk melacak ponselku ini, Mr. Tampan. Apa kau belum paham teknologi?” ejek Minho.

Setelah mengatakan seperti itu, Minho langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tanpa melewatkan waktu satu detik saja, Luhan segera menghubungi Suho.

“Kenapa kau lama sekali mengangkatnya?!” tanya Luhan penuh emosi. Padahal ia sendiri juga tahu, Suho menjawab telepon Luhan pada dering ketiga, dan bagi Luhan itu sudah sangat lama.

Calm, Lu. Ada apa denganmu?” tanya Suho heran.

“Apa Taeyeon ada bersamamu?” Luhan balik bertanya dengan nada cepat.

Ani. Bukankah dia menemui Minho? Kurasa saat ini mungkin dia sedang di jalan atau sudah berada di rumahnya. Kenapa kau tanya aku? Tanya saja pada orang tuanya,” jawab Suho kesal.

“Bukannya kemarin kau dengan bangganya mengatakan kalau kau adalah guardian-nya? Dan sekarang kenapa kau tidak rahu keberadaannya?” tanya Luhan kesal.

Tanpa banyak berkata apa-apa lagi pada Suho, Luhan mematikan ponselnya dan secepat kilat ia mengambil kunci motornya, kendaraan yang paling cepat di saat-saat genting seperti ini. Fikirannya sudah dipenuhi oleh Taeyeon sekarang, sampai-sampai pertanyaan para pelayan rumahnya pun tidak ia gubris.

Sembari memakai helm-nya, Luhan berfikir kencang. Ia memang pernah ditipu oleh Minho. Kemungkinan besar laki-laki itu tidak akan menipunya untuk yang kedua kali. Ia juga merasakan firasat tidak enak sejak pertama kali mendengar Taeyeon pergi menemui Minho. Tidak akan pernah ia biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Taeyeon. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau gadis itu terluka. Karena semua ini adalah salahnya.

Ponsel Luhan berdering menandakan ada telepon masuk di dalam saku celananya. Namun, ia tidak mendengar deringan itu karena suara deru mesin motor Luhan yang berat. Ya, Luhan sudah melaju kencang menuju ke sekolah Minho, tempat yang sudah ia lacak dengan GPS-nya sebelum berangkat.

~~~

“Kenapa kau bisa bertindak sejauh ini? Apa kau benar-benar tipe yang sulit untuk tidak balas dendam? Kejam,” lirih Taeyeon. Matanya berkaca-kaca, entah kapan.

Minho menatap Taeyeon dengan tatapan dinginnya. “Wae? Kau mencemaskannya? Kau cemas karena kau tahu betul apa yang akan aku lakukan padanya. Merusak kekasihku sekaligus wajah dan tubuhku adalah dosa terbesar baginya. Semuanya harus dibalas sampai aku merasa puas, sampai aku merasa tidak berurusan lagi dengannya,”

Minho membalikkan tubuhnya dan ia berjalan ke arah teman-temannya. Mereka membicarakan sesuatu. Saat Minho sedang sibuk sendiri, perlahan Taeyeon melepaskan genggaman tangan kanannya dari cengkeraman salah satu teman Minho yang sedikit longgar. Beberapa dari mereka juga tengah asyik mengobrol.

Begitu tangannya lepas, Taeyeon merogoh saku blazer­-nya dan dengan penuh kehati-hatian ia mengirim pesan singkat untuk Suho.

To : Jumong

Cepat datang ke gudang belakang gedung sekolah Anyang Foreign Language High School, Luhan dijebak.

 

Setelah selesai mengirimi pesan itu, Taeyeon kembali memasukkan ponselnya dan berdiri diam seperti tadi. Di dalam hatinya ia terus-menerus berharap kalau Luhan akan datang lebih lama lagi. Setidaknya datang bersama-sama dengan Suho dan yang lainnya.

Harapannya pupus seketika saat ia dan yang lainnya yang berada di gudang itu mendengar suara derum motor besar dari luar gedung. Minho menatap Taeyeon dengan pandangan berbinar-binar.

“Itu dia,” lirih Minho. “Cepat bawa gadis itu ke sudut dan buka gerbangnya! Dan cukup dua orang saja yang menjaganya,”

Tiga dari mereka menjauh dari Taeyeon, yang sudah diseret ke sudut gudang dan yang lain membuka pintu gudang itu dengan segera, karena Luhan sudah membunyikan klakson motornya dengan kencang dan berkali-kali, seperti tidak sabaran untuk dibuka.

Begitu gerbang dibuka, tampak sosok Luhan yang tenang dan tidak membawa apa-apa. Dengan langkahnya yang cepat dan gesit, ia berjalan menghampiri Minho, yang sudah menunggunya di tengah gudang dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya. Luhan berhenti tepat di hadapan Minho dengan aura kebencian yang menguar memenuhi gudang itu.

Bahkan Taeyeon takut menatap Luhan yang marah seperti ini. Keadaan tidak akan bertambah baik.

“Di mana dia?” tanya Luhan tenang. Ia berusaha tenang lebih tepatnya agar tinjunya tidak langsung melayang mengenai wajah Minho yang masih terlihat luka-luka akibat pukulan Luhan di club.

“Kim Taeyeon masih aman di gudang ini, dengan orang-orang yang menjaganya,” jawab Minho tak kalah santai. “Tapi tidak semudah itu kau membawanya pulang, Tuan Yang Terhormat. Setidaknya kau harus rasakan dulu rasa sakit yang kurasakan karena dirimu yang brengsek ini!”

Minho langsung memukul wajah mulus Luhan tanpa aba-aba. Taeyeon sedikit teriak dan mulutnya langsung dibekap oleh tangan salah seorang teman Minho. Ia menutup kedua matanya saat Minho memukul Luhan lagi, lagi, lagi, dan lagi tanpa henti, tanpa rasa iba. Sampai tubuh Luhan terduduk lemas di lantai gudang yang dingin itu. Minho menatap tajam Luhan yang terlihat kesakitan.

Darah bercucuran dari kedua sudut bibir Luhan. Laki-laki itu tidak menyerah. Ia bangkit dan berusaha membalas pukulan Minho. Minho menghindar dan ia menendang dada Luhan kuat-kuat. Luhan menjerit kesakitan. Dada kirinya sakit luar biasa. Ia sudah tidak bisa terima dengan perlakuan Minho. Matanya menyala emosi. Dengan kuat ia menendang wajah Minho dua kali. Tepat mengenai hidungnya, yang Luhan yakin hidungnya itu bisa patah.

Minho mengerang kesakitan. Ia memberi sinyal pada teman-temannya untuk langsung menghajar Luhan. Enam orang langsung mendekat dan menghajarnya dengan pukulan-pukulan mereka. Luhan mengelak dan ia balas memukul, menendang. Dua dari mereka bisa ia tangani dengan kondisinya yang lemah. Namun, begitu ia menghadap ke arah kiri, dua orang memukulnya dengan pukulan golf. Pukulan yang sangat kuat, mengenai wajah dan tubuhnya.

“Luhan!!” seru Taeyeon. Air matanya sudah tidak bisa ia bendung. Bahkan ia terus memberontak ingin lepas dari cengkeraman kedua teman Minho.

Luhan yang terkapar di lantai gudang langsung bangkit duduk saat mendengar teriakan Taeyeon. Matanya sudah tidak fokus lagi, tapi ia masih berjuang keras mencari dan melindungi gadis itu.

“Pergilah, jebal!” seru Taeyeon lagi.

Luhan tidak mengindahkan permohonan Taeyeon. Beberapa teman Minho menghadangnya. Salah satu dari mereka menendang dada kiri Luhan lagi hingga laki-laki itu terjengkang. Luhan batuk, dan sedikit darah keluar dari mulutnya.

“Menyerah dan minta ampunlah padaku, Luhan-ssi,” ujar Minho.

Luhan bergumam tak jelas. Tepat saat itu, terdengar suara gaduh di luar gudang. Seperti suara gerbang yang dipukuli oleh sebatang kayu.

Semua yang ada di situ terkejut bukan main. Minho menyuruh kedua temannya untuk membuka gerbang itu, dan begitu gerbang itu dibuka, sosok Tao, Suho, Xiumin, Henry, Chanyeol, dan Heechul muncul dengan wajah layaknya kumpulan gangster.

Tao dan Xiumin dengan cepat langsung memukul kedua teman Minho itu dengan kayu yang mereka bawa tanpa ampun, sampai kedua orang itu pingsan. Suho, Henry, Chanyeol, dan Heechul memberesi yang lain. Melihat teman-temannya datang menolong, seketika semangat Luhan kembali bangkit. Ia bangun dan langsung mencari keberadaan Taeyeon.

Ia menemukannya. Berdiri di sudut dengan dua orang teman Minho yang menahan tubuhnya. Dengan lemas, Luhan menghampiri mereka bertiga.

“Seharusnya kau tidak datang. Pabo, kau hanya dijebak,” ujar Taeyeon dengan sedikit terisak.

Luhan tersenyum simpul. Ia menarik kerah salah satu teman Minho dan memukulinya. Mereka berdua saling baku hantam. Meskipun sudah terluka cukup parah, Luhan masih bisa mengeluarkan tenaganya untuk menghabisi teman Minho itu. Yang satu lagi datang menghampiri, tapi pundaknya langsung dihentikan oleh Heechul.

“Oppa!” seru Taeyeon. Ia kaget dan senang melihat Heechul, walaupun wajahnya sedikit lebam di kedua sisi.

Tanpa menjawab panggilan Taeyeon, Heechul memukul wajah orang itu dengan kuat sekali. Ia juga menendang tubuhnya sampai tak sadarkan diri.

“Neo gwaenchanna?” tanya Heechul pada Taeyeon dengan nafas sedikit terengah-engah.

Taeyeon mengangguk senang. Ia juga menatap Luhan yang sudah ada di depannya. Wajah Luhan penuh luka. Tubuhnya juga banyak bercak darah. Taeyeon ingin menghampiri laki-laki itu saat seseorang memukul kepala Luhan kuat-kuat dengan pemukul golf.

“Andwae!!!” jerit Taeyeon.

Luhan jatuh ke depan dan Taeyeon segera menangkap tubuhnya. Darah mengalir deras dari bibir Luhan saat laki-laki itu terbatuk-batuk. Pelipis kanan dan kirinya sobek. Taeyeon menangis seraya membersihkan wajah Luhan dari darah-darah segarnya.

“Kajja!” seru Minho kepada teman-temannya yang masih bergulat dengan teman-teman Luhan.

Mendengar komando dari Minho, mereka semua langsung lari dari gudang dengan motor besar mereka. Minho meludah di lantai gudang sambil menyeringai puas. Puas karena ia berhasil memukul Luhan sampai sekarat.

Tao dan Henry mencaci maki Minho dan teman-temannya dengan frustrasi. Wajah mereka juga luka-luka. Kemudian, mereka semua datang mengerumuni Taeyeon dan Luhan.

“Ireona, ppali ireona,” isak Taeyeon. Air matanya yang bercucuran jatuh mengenai wajah Luhan, bercampur dengan darahnya. “Mian, jeongmal mianhae. Mianhaeyo, aku memang bodoh, semuanya salahku. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin ada di dalam masalah kalian. Aku egois. Aku sangat bodoh, mianhaeyo,”

Mendengar isakan dan merasakan air mata Taeyeon yang terus jatuh membasahi wajahnya, membuat Luhan membuka kedua kelopak matanya perlahan-lahan. Ia menatap wajah Taeyeon, wajah yang didambakannya. Pelan, Luhan mengulurkan tangan kanannya dan mengusap air mata Taeyeon dengan tangannya yang berlumuran darah, membuat kedua pipi gadis itu ikut ternoda oleh darah Luhan.

“Kau mengkhawatirkan aku?” tanya Luhan dengan suara seraknya. “Gomawo,”

Dapat mereka lihat senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah laki-laki itu. Sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, Luhan menutup kedua matanya erat-erat. Ia jatuh pingsan.

~~~

“Obati luka-lukanya dengan obat merah dan beberapa pil ini. Pil-pil ini sebaiknya dikonsumsi dua jam sebelum makan dan pastikan ia makan teratur dan perbanyak istirahat. Jika kau rajin mengolesi obat merah ini, luka-lukanya akan segera hilang dalam waktu seminggu,” jelas dr. Park sambil menyerahkan beberapa obat yang tadi disebutkannya pada Taeyeon.

Taeyeon menerima obat itu sambil membungkuk terima kasih kepada sang dokter. Lalu, dokter itu membalas bungkukan Taeyeon dan pergi dari kamar Luhan, yang diarahkan oleh pelayan rumah Luhan.

Setelah dokter dan para pelayan itu sudah keluar kamar, Taeyeon duduk di kursi kecil samping tempat tidur Luhan, di mana Luhan tengah berbaring, tertidur lelap.

“Kalian juga sebaiknya pakai obat merah ini,” tawar Taeyeon pelan pada Suho, Xiumin, Henry, Tao, Chanyeol, dan Heechul, yang saat ini tengah memandangi tubuh lemah Luhan di sofa kamarnya.

“Obat merah itu hanya untuk satu orang. Lagipula, luka ini juga cepat disembuhkan,” tolak Heechul, yang diangguki oleh lainnya.

Taeyeon mengangguk paham dan ia kembali menatap sosok Luhan di hadapannya. Kedua matanya terpejam rapat dan nafasnya naik turun secara teratur. Luka-luka di wajahnya yang sudah diolesi obat merah itu membuat Taeyeon semakin merana. Mengingat betapa kerasnya Luhan bertahan tadi membuat hati Taeyeon teriris.

“Kami pulang, ya?” pinta Suho lembut selang beberapa menit mereka terdiam cukup lama, hanya memandangi Luhan.

“Dan kau tetap di sini, Taeng. Luhan pasti ingin kaulah orang pertama yang dilihatnya ketika bangun besok hari,” sambung Chanyeol.

“Aku sudah menghubungi Ji Woong hyung bahwa kau menginap di rumahku sampai beberapa hari kedepan. Aku akan membawa pakaian gantimu besok bersama dengan yang lainnya, Tae. Jaga dirimu dan urus Luhan hingga ia pulih. Kurasa kau sudah bisa menetapkan hatimu,” ujar Heechul. Ia menepuk pelan pundak kanan Taeyeon.

“Oppa, gomawo. Gomawo,” isak Taeyeon. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Heechul tersenyum sedih dan ia memeluk erat Taeyeon. Dielusnya dengan sayang kepala gadis itu, menenangkannya.

“Kau bisa, aku yakin. Kau tidak sendiri, chingu-ah. Aku ada, kami semua ada. Kau hanya perlu memanggil kami. Kami mencintaimu,” ungkap Heechul tulus.

Taeyeon melepas pelukan Heechul dan ia menyeka air matanya. Ia mengangguk dan membiarkan mereka pulang. Ia mengamati mereka pulang dari jendela kamar Luhan. Dan setelah semuanya pulang, Taeyeon kembali duduk di samping tempat tidur Luhan. Ia menatap laki-laki itu, menjaga tidurnya. Hingga kedua mata Taeyeon tertutup dan ia tertidur sembari menggenggam tangan kanan Luhan.

~~~

Sinar matahari pagi yang menyilaukan menusuk kedua mata Luhan yang tertutup dan memaksanya untuk terbuka. Luhan sedikit mengerang karena pancaran sinarnya. Ia membuka kedua kelopak matanya dan membiasakan dirinya dengan sinar matahari pagi. Begitu ia bangun, rasa sakit di wajah dan tubuhnya langsung menjalar ke mana-mana, membuatnya tidak sanggup untuk sekedar bangkit duduk di tempat tidur. Kepalanya juga sedikit pusing.

Luhan menolehkan wajahnya ke sisi kanan dan hatinya mencelos. Ia mimpi. Mimpi yang sangat indah. Kemarin malam, tepat pukul 12 malam, ia bangun dan menemukan Taeyeon di sisinya, tidur nyenyak. Ia ingin mengangkat tubuh gadis itu di sampingnya tapi tubuhnya sendiri tidak bisa ia gerakkan. Itu sebabnya ia hanya memandangi wajah cantiknya tanpa berniat mau membangunkan. Nyatanya, pagi ini gadis itu tidak ada lagi.

Luhan menggeram perlahan. Jika itu memang mimpi, rasanya ia ingin tidur lagi. Tidur sepanjang hari dengan mimpi yang sama.

Luhan menghela nafas panjang dan ia hendak memejamkan matanya, berusaha menabaikan rasa sakit di tubuhnya yang semakin menjadi-jadi. Namun, belum sempat ia memejamkan kedua matanya, terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Luhan bangkit perlahan untuk duduk di atas tempat tidurnya dan melihat siapa yang datang.

Betapa terkejut dirinya ketika ia melihat seorang gadis yang tadi ia cari-cari, seorang gadis yang kemarin malam dilihatnya tidur di sisinya dengan keadaan duduk di kursi. Kim Taeyeon, rambutnya yang digelung rapi sambil membawa sebuah tas cukup besar itu dengan santainya duduk kembali di kursi di sisi tempat tidur Luhan. Kursi yang sama di mana ia tidur semalam.

“Sebelum sarapan, ada baiknya kau minum segelas air mineral dan minum obat untuk menyembuhkan lukamu. Selama seminggu ini kau harus minum obat dan lukamu di oles obat merah. Mungkin sakit, tapi kau harus bersabar supaya cepat sembuh. Setelah itu, kau bersihkan dirimu sembari menunggu sarapan. Untuk sarapan, kau harus makan bubur. Pencernaanmu sedang tidak terlalu bagus akibat… pertengkaran kemarin. Kalau kau tidak suka bubur ataupun obatnya, aku tidak mau tahu, kau harus makan,” jelas Taeyeon panjang lebar.

Ia menjelaskan semua itu dengan santai, seperti seorang dokter pada pasiennya. Ia tidak memandang Luhan. Wajahnya terus tertunduk, sibuk mengeluarkan obat untuk luka-lukanya.

“Rasanya aku bahagia, apa kau tahu?” tanya Luhan pelan.

Taeyeon menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Luhan dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

“Aku fikir aku bermimpi kau ada di sini semalaman. Aku fikir aku mengkhayal dirimu tidur di sisiku sambil menggenggam tanganku. Ternyata ini nyata. Kau ada di hadapanku. Sesaat, aku lupa dengan rasa sakitku,” ungkap Luhan sambil tertawa pelan.

“Aku harus memastikan dirimu bangun, karena ini semua salahku,” jawab Taeyeon singkat.

“Kau bilang selama seminggu aku harus rajin mengobati diriku, ‘kan? Apa aku bisa minta tolong? Karena kau yang membuatku seperti ini, maukah kau yang mengobati dan mengurusiku? Aku berjanji aku akan diam seperti bayi yang baik ketika kau menyuruhku untuk makan bubur ataupun obat,” pinta Luhan dengan tatapan memohon yang lucu.

Taeyeon diam. Ia tampak berfikir sebelum akhirnya ia mengangguk. Luhan tersenyum sangat lebar. Laki-laki ini tampak begitu polos. Ia bahagia, seakan-akan baru dibelikan mainan baru.

Luhan mengambil segelas air mineral yang ada di meja di samping tempat tidur dengan beberapa tegukan. Lalu, sesuai perkataan Taeyeon, ia meminum pil itu dan kembali meneguk dua gelas air.

“Aku mau mandi, tapi tubuhku terlalu sakit kalau aku yang menggerakkannya. Aku minta tolong, apa kau mau menuntun sekaligus memandikanku?” tanya Luhan dengan wajah polosnya.

“Ya! Aku memang mau membantumu karena ini salahku. Tapi kau juga tidak bisa memaksaku untuk membantumu mandi, ‘kan?” tolak Taeyeon cepat. Wajahnya bersemu merah.

“Aku tidak akan membuka semua pakaianku,” sela Luhan. “Kau hanya perlu membasahi tubuhku dengan kain. Untuk bagian private, aku akan melakukannya sendiri, walaupun aku beharapnya kau yang melakukan semuanya,”

“Neo!” seru Taeyeon. Laki-laki ini, meski ia sedang sakit, tetap saja fikirannya mesum seperti biasa.

Namun akhirnya, Taeyeon mau membantu Luhan masuk ke dalam kamar mandi. Ia memapah laki-laki itu dan menyuruhnya duduk di atas kursi kecil lalu ia membuka baju tidur Luhan. Ia mengalihkan pandangannya ketika tubuh Luhan yang kekar, sexy, dan sedikit lebam sana-sini terekspos. Luhan hanya tersenyum kecil memandang wajah merona Taeyeon. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik gadis itu, membuat Taeyeon semakin salah tingkah.

Taeyeon mengambil sebuah handuk kecil dan tebal dan merendamnya di sebuah baskom berisi air hangat. Lalu, ia membasuh tubuh Luhan menggunakan handuk itu. Ia membasuh bagian belakang tubuh Luhan terlebih dahulu. Sesekali Luhan meringis kesakitan saat handuk itu mengenai bagian lebam di tubuhnya.

Lagi-lagi Taeyeon merasa canggung saat ia membasuh bagian depan tubuh Luhan. Kebanyakan Taeyeon hanya menunduk, tidak berani menatap Luhan yang sejak tadi terus menatapnya.

“Aw,” ringis Luhan.

“Ah, mian. Aku akan pelan-pelan,” ujar Taeyeon dan matanya bertemu dengan kedua mata rusa milik Luhan.

Luhan menatap mata gadis itu dalam-dalam dan penuh cinta. Penuh cinta dan ketulusan, membuat Taeyeon sedikit terhipnotis. Ia lupa sejenak apa yang ia lakukan sekarang. Dan saat handuk kecil itu jatuh dari tangannya, Taeyeon sadar. Wajahnya semakin memerah, membuat Luhan gemas. Ia ingin memeluk dan mencium gadis itu. Tapi semua harus ditahannya agar gadis itu tidak marah-marah dan batal mengurusi dirinya.

“Keluarlah,” ujar Luhan tiba-tiba.

“Wae?” tanya Taeyeon kikuk.

“Aku mau mandi,” jawab Luhan. “Meskipun sakit, aku tidak mau tubuhku ini kotor. Lagipula, kalau kau ada di sini, fikiranku semakin kacau. Aku takut tidak bisa mengontrolnya. Tubuhku akan semakin sakit saja nantinya,”

Jantung Taeyeon berdebar tak karuan. Ia meletakkan handuk kecil itu dan buru-buru keluar dari kamar mandi.

Sekitar satu jam lebih Luhan berada di dalam kamar mandi. Taeyeon menunggunya dengan perasaan resah. Ia terlalu gugup menunggu laki-laki itu. Fikirannya sudah melayang ke mana-mana, membayangkan Luhan yang keluar dari dalam kamar mandi. Taeyeon menggelengkan kepalanya, mengusir fikiran kotor dari kepalanya dan mengutuki dirinya dengan ungkapan ‘pabo’.

Beberapa detik kemudian, Luhan keluar dari dalam kamar mandi. Taeyeon menarik nafas lega ketika dilihatnya Luhan memakai pakaian lengkap, meskipun kemeja putihnya tidak ia kancing, menampilkan sedikit bagian tubuhnya yang sexy. Ia mengacak-acak rambutnya yang basah dan menghampiri Taeyeon.

“Bisa kau keringkan?” tanya Luhan, menunjuk rambutnya.

Taeyeon mengangguk. Ia mengambil sebuah handuk kecil yang baru dan mengeringkan rambut Luhan yang sangat basah. Taeyeon mendongakkan wajahnya untuk mengeringkan rambut Luhan dan wajah mereka, tanpa Taeyeon sadari, sangat dekat. Saat Taeyeon sibuk dengan rambut Luhan, Luhan dengan bebas menikmati pemandangan indah di hadapannya. Tekstur wajah Taeyeon yang sempurnya. Yang paling menarik perhatiannya adalah bibir tipis Taeyeon yang softpink tentu saja.

“Kalau saja waktu itu aku terlambat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu. Kurasa aku tidak akan memaafkan diriku sampai kapanpu,” desis Luhan.

Taeyeon tersentak. Ia baru sadar betapa dekatnya dia dengan Luhan saat ini. Ia menurunkan kedua tangannya dan berniat mundur menjauh, tapi Luhan menahan punggung Taeyeon, sehingga gadis itu tidak bisa bergerak.

“A… Aku… Sebenarnya tidak apa-apa. Bahkan kalau kau tidak datang, pun aku tidak akan apa-apa. Dia hanya menjebakmu. Jebakannya berhasil dan kau terluka sampai seperti ini. Bukan hanya dirimu, tapi semuanya,” jawab Taeyeon. Ia memandangi lantai kamar Luhan. Ia tidak berani menatap mata Luhan, yang hanya berjarak beberapa senti di hadapannya. Wangi mint dari mulut Luhan menguar dan menerpa wajah Taeyeon yang memerah.

“Biar saja sakit,” bisik Luhan, wajahnya semakin dekat. “Aku tidak apa-apa terluka seperti ini. Ini tidak ada apa-apanya daripada sakit yang selama ini kau rasakan karena aku. Aku ingin mengobati rasa sakitmu dengan menyakiti diriku sendiri, dengan melindungimu. Kau pernah bilang kalau aku tidak pernah hidup untuk seseorang yang kita cintai. Aku memang tidak mau, karena aku akan mati untukmu. Aku sangat mencintaimu,”

Ungkapan terakhir dari Luhan mampu membuat Taeyeon mendongakkan wajahnya, menatap laki-laki itu. Mata Taeyeon berkaca-kaca. Runtuh sudah. Pertahanan yang selama ini dibangunnya, benteng yang selama ini ia jaga baik-baik agar perasaannya tidak meledak hancur sudah. Taeyeon tidak bisa terus-menerus membohongi perasaannya lagi. Jika ia tetap mempertahankan kekeraskepalaannya, ia akan semakin dan semakin sakit.

Luhan dan Taeyeon saling memandang. Sedikit demi sedikit Luhan menghapus jarak di antara wajah mereka. Hidung keduanya, pun sudah saling sentuh. Luhan membuka bibirnya, nafasnya terasa berat. Namun, Taeyeon langsung menahan dada Luhan dengan kedua tangannya. Luhan terhenti, tapi ia tidak menjauh.

“Kau harus sarapan. Aku akan mengambil buburmu di bawah,” ujar Taeyeon. Ia menelan ludahnya dengan susah payah.

“Sshh,” desis Luhan.

Taeyeon terdiam dan ia melihat Luhan memejamkan kedua matanya dan dengan lembut bibirnya menyentuh bibir Taeyeon. Taeyeon terkejut dan ia menutup kedua matanya rapat-rapat. Ia bingung bagaimana harus meresponnya. Luhan merapatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu seraya menggenggam tangan kanan Taeyeon yang berada di dadanya, sedangkan tangan kanan Luhan masih setia di punggung Taeyeon.

Dapat Taeyeon rasakan jantung Luhan yang juga berdebar kencang, sama seperti dirinya. Kehangatan yang disalurkan Luhan dari bibirnya membuat Taeyeon sedikit rileks. Ciuman yang berbeda dari biasanya. Kecupan yang penuh dengan kelembutan, cinta, dan lebih mengutamakan kasih sayang.

Sambil mengelus ubun-ubun kepala Taeyeon, Luhan melepas kecupannya dan sebagai gantinya ia memeluk tubuh mungil Taeyeon dengan erat. Sangat erat, sampai Taeyeon merasa sesak di dadanya. Jantung Luhan masih berdentum, menyatu dengan debaran yang juga dirasakan Taeyeon.

“Aku tidak tahu kenapa diriku bisa jatuh terlalu dalam padamu, Taeyeon-ah,” bisik Luhan, membuat hati Taeyeon berdesir halus saat Luhan menggunakan sapaan informal pada namanya. “Yang aku tahu, kau membuat makna cinta di hidupku yang belum pernah aku terima dari siapapun. Kau juga perempuan tangguh dan keras kepala, yang membuat aku semakin geram,”

Luhan tertawa kecil. Ia melonggarkan pelukannya dan memandangi wajah Taeyeon, yang masih diam membeku dan menanti kelanjutan perkataan Luhan.

“Aku memang bukan orang yang selama ini kau cari, yang dewasa, bijaksana, dan layaknya seorang pria. Tapi aku bisa, aku yakin bisa menjadi pangeran untukmu, secara perlahan dan seiring kebersamaan kita, karena aku merasa aku harus bisa melindungimu. Suho, yang kau anggap sebagai guardian­-mu membuatku semakin termotivasi agar kau menggantikan posisi guardian itu menjadi milikku. Aku iri pada Suho, jujur saja. Aku menganggap Chorong itu seperti adikku sendiri tapi yang lebih mampu menjaganya adalah Suho. Dan sekarang, ia tidak boleh serakah. Kau pernah bilang kalau ia harus menjaga satu orang saja. Ne, dia hanya boleh menjaga Chorong, dan kini saatnya aku yang menjagamu,”

Air mata Taeyeon perlahan mengalir dari pelupuk matanya dan membasahi kedua pipi meronanya. “Kau tahu ini akan sulit,”

“Kau menang melawanku. Kau bisa menghadapi ribuan anak Whimoon Senior High School. Kenapa menghadapi kedua orang tua kita kau tidak bisa? Aku akan cari tahu apa masalahnya dan dengan cepat memikirkan solusinya, eotte?”

“Kenapa kau selalu bicara sesukamu saja? Apa kau tahu masalahnya bukanlah masalah yang mudah? Ini masalah kepercayaan,” bantah Taeyeon.

“Kalau begitu percayalah padaku,” paksa Luhan. “Percayalah. Apa kau ingin kembali menutupi perasaanmu? Apa kau ingin mencoba menguburnya dalam-dalam? Kau diakui pintar tapi tidak sepintar yang aku kira. Secara psikologi kau tidak akan bisa memaksa otakmu untuk melupakan seseorang,”

Taeyeon membelalakkan kedua matanya menatap Luhan. “Apa maksudmu? Kenapa kau begitu percaya diri sekali? Kau fikir aku menyukaimu?!”

Taeyeon mendecak sebal dan ia membalikkan tubuhnya, hendak pergi keluar dari kamar Luhan. Namun, dengan sigap laki-laki itu menangkap tubuh mungil Taeyeon dan mendekapnya hangat.

“Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan membuatmu berpaling padaku? Akan kubuktikan. Untuk itu, tetaplah di sampingku. Jangan pergi jauh-jauh, agar aku bisa membuktikannya. Kalau kau pergi jauh, akan sulit menemukanmu. Kau pendek. Itu sebabnya, tetaplah berdiri di tempat aku bisa melihatmu, yaitu di depanku,” bisik Luhan dengan senyuman manisnya yang mengembang.

Taeyeon mendengus. Namun, di sisi lain ia tersenyum kecil juga. Laki-laki arogan yang keras kepala dan brengsek ini punya sisi yang manis juga. Sisi manis yang sempat menghilang beberapa tahun silam. Sisi polos dan baik hatinya. Taeyeon merasa senang, ia dapat mengembalikan sosok Luhan yang dulu, sebelum dirinya mengenal kekuasaan.

Meskipun begitu, mau tak mau Taeyeon harus siap dengan semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Tentu saja hadirnya Luhan akan berdampak besar bagi kehidupan Taeyeon, entah itu positif ataupun negatif.

-To Be Continued-

 

Annyeong^^
mian, yaa lama posting karena lagi ‘mong’ selama beberapa hari-_-
dan mian juga kalo ada beberapa yang kurang ‘sreg’
silakan di beri kritik dan saran yang membangun hihi^^
sorry for typo, dan sorry kalo gambarnya agak maksaa kekee~

#seeusoon

Advertisements

179 comments on “My Princess, Kim Taeyeon (Chapter 12)

  1. Seruu” !!!! Akhirnya taeng open jugaa kyaa !!!!!!!!!!! Sukak banget ma moment LuTae nyaa ❤ ❤ !! Hihhi .. Moga di next taeng lebih bisa nerima Luhan , LuTae fighting !!

  2. Finally LuTaee… LuTae Jjang! dipikir-pikir Taeng juga keras kepala yah, atau hatinya yang sangat sangat mirip es batu? O itu tidak mungkin.. dannnn… dari chap 1 sampai 12, akhirnya LuTae bersama.. lama juga yah dari chap 1 sampai sekarang.. pokoknya daeebak thorr.. Keep writing & fighting 🙂

  3. aduuuuh tambah seru aj .. maaf ya thor d chap sebelum’a aku enggk komen .. lg enggk ada kuota .. ini juga ngebet bgt baca’a .. 😀 🙂

  4. akir.a bisa buka bLoq ini jga, ternyata udh apdet, besok-besok jangan mong Lagi ya thor, biar FF cepet keapdet 😉

  5. ha~~~
    bnarkah??
    akhirnya ada moment Lu Tae yang romantis, gk brtengkar melulu.
    Taeyeon nya keras kpala bgt cee…
    next thorr ditunggu chapter 13, tambah kepo niiii….
    hwaiting 😉

  6. AAAA SUKAAK BANGET CHAP INI♥♥ Lutae momentnyaaa unyu sweet parah ㅠ.ㅠ Kereen banget si eonn masyaampun. Makin gregett bacaanyaaa.. gasabar buat next chap>< Fighting eonn!

  7. vvaduhh seru banget baca di chap ini:3 moment lutaenya so sweet bangett>< min ditunggu ya chap 13 nya. jangan lama- lama lagi ngepostnya T.T

  8. ah entah apa yang kurasa ketika membaca ff ini partnya ngena banget thor
    moga lutae dapat bersatu, boleh request nggak thor pengen liat luhan cemburu nih entah sama siapa aja boleh deh
    ditunggu next chapternya
    oh ya thor aku minta password chapter 6 di email tapi kayaknya belum author respon deh, ditunggu ya thor

  9. Ohh my god, aaaaaaaaaaa rasanya mau meledak baca ini ff>< akhirnya muncul juga, lama banget nunggu lanjutannya dan akhirnya sekarang aku puas bangt karna ffnya panjang binggow wkwkwk. asik lutae udaah bersatuuu😄😄😄😄

  10. MPKT since Dec 15th, 2014. Dari tanggal itulah aku ga pernah bosen ngikutin ff ini. Bina unnie, buat ff baru kan? True Love, Baby and Me^^ ditunggu ya hehe aku yakin ff unnie selalu keren. Fighting!💪

  11. Penasaran gmna reaksi ortu lutaeng. Omo itu luhan sweet bgt, terharu bcanya.
    Itu yg minho ngajak taeng, sumpah thor udh deg2an bcanya.
    Dtnggu next chap thor!
    FIGHTAENG!!

  12. aaaaaaaaaaa..
    luhan sweet binggo 😀
    jd envy guaaaaaaa..
    chap ini ssuatu binggo hha. keren thor ^^ (girang.gaje)

  13. WoOw, keren . .
    Ceritanya panjang banget jd suka banget, hihii XD
    Apalagi diakhir mau cerita ada moment Lutae bikin senyum2 gaje sendiri XD
    Semoga aja taeyeon bisa menerima cinta dari si rusa nakal itu . .

    Sungguh puas banget bacanya, gomawo ya thor
    Semua readers disini yg bacanya pasti senang banget..

    Keren banget !!! (y)
    b^^d

  14. Mereka udah mau nyatu, tapi kayaknya kehalang masalah ortu-,- ayoolahh semoga LuTae makin nyatu hihihi. Wlwlupun Bnyk bagian yang sweet tapi entah kenapa kurang suka•~• mungkin lebih suka mereka debat dlu baru romantis”an wkwkwk
    파이팅, authorr!! 💪😉

  15. Chapter ini bener2 kerenn
    nggak nyangka minho sekejam itu
    untung itu heechul dll. Pada dateng
    berharap happy ending

  16. benci sama minho. -_- menyebalkan. huuh. luhan sweeeet bangeet. bagaimana dengan kedua orang tua mereka ? deg deg-an ni. panasaran dengan jalan ceritanya ^^

  17. Udah mau nangis aja pas baca adegan romantis lutae. Hiks. Penasaran sama hbngan keluarga lutae. Gimana caranya mereka baikan ya? Sumpah penasarannn
    Pngin cepet2 baca kelanjutannya 😀
    Perfect author!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s