[FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 1)


Forbidden Love (Chapter 1)

Author: Han Sung Young

Rating: PG 17

Lenght: Multichapter

Genre: Romance, Family, School-life, Friendship, Sad

Main Cast: Oh Sehun, Oh [Kim] Taeyeon, Lu Han, Kim Yura

Other Cast: Find by yourself

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Poster by: Jungleelovely @ Poster Channel

Preview: Teaser

Happy reading^^

Mata indah itu menatap keseluruh penjuru ruangan atau lebih sering disebut kamar. Sang pemilik mata tersebut menatap kamar itu lewat celah kecil sebuah pintu yang terbuka. Itu Taeyeon. Putri bungsu keluarga Oh yang dikenal dengan keceriaan dan keramahannya, juga dikenal dengan gadis yang cerewet. Sangat jauh berbanding terbalik dengan sang kakak yang sangat dingin dan cuek pada sekitarnya. Tetapi, kakanya yang bernama Sehun itu sangat menyayangi dan perduli pada Taeyeon.

Dan saat ini, Taeyeon diberi tugas oleh ibunya untuk membangunkan Sehun. Hanya membangunkan seseorang tetapi menurut Taeyeon ini adalah pekerjaan yang sulit. Ayolah, Sehun jika tidur sudah seperti orang mati, sangat sulit untuk dibangunkan. Tak heran, jika Taeyeon kini sedikit mengerucutkan bibirnya saat matanya menangkap sebuah gundukan pada tengah ranjang king size yang berada dikamar kakaknya.

Dengan langkah cepat, Taeyeon berjalan menuju ranjang tersebut dan mulai mengguncang tubuh Sehun.

“Oppa.. cepat bangun.. kau harus segera mandi jika tak ingin tertinggal upacara kelulusan mu oppa.” Ucap Taeyeon dan semakin mengguncang tubuh Sehun dengan kuat.

“Yakk oppa.. cepat bangun, jangan sampai kau tertinggal. Kau harus menyampaikam pidato mu oppa. Eomma sudah menyiapkan sarapan untuk kita.”

Aish, ini masih pagi, tetapi Taeyeon harus menguras suaranya hanya untuk membangunkan kerbau yang menjadi manusia tampan ini.

“Oppa.. cepat bangun atau aku, eomma dan appa tak akan datang ke upacara kelulusanmu itu.” Ucap Taeyeon lagi sambil membuka selimut tebal yang sedari tadi membungkus tubuh Sehun.

Ahh, selalu seperti ini. Setiap tidur Sehun pasti akan bertelanjang dada dan menggunakan celana pendek diatas lutut. Taeyeon bahkan sudah terlalu hafal dengan kebiasaan kakaknya jika sedang tertidur itu.

Taeyeon masih mengguncang tubuh Sehun, masih tak ada reaksi sementara Taeyeon mulai lelah. Tak ada pilihan. Taeyeon ikut naik keatas ranjang dan menduduki perut polos Sehun.

Sementara Sehun kini mulai menggeliat saat merasakan beban dibagian perutnya. Ahh ini sakit, Sehun merasakan beban itu menghilang dan muncul lagi. Dan setiap muncul Sehun akan merasakan berat beban itu dua kali lebih besar dari yang pertama. Dan saat Sehun membuka matanya, pria itu dapat melihat Taeyeon yang melakukan gerakan naik turun pada perutnya. Dan Sehun bersumpah, itu sangat sakit. Bagaimana bisa Taeyeon yang memiliki tubuh mungil bisa memiliki berat yang seperti ini.

“Hey Princess, apa yang kau lakukan.? Ini sakit.” Ungkap Sehun pada akhirnya.

“Ini cara satu-satunya agar kau bangun oppa. Aku sudah lelah membangunkan mu dengan cara normal yang tak menghasilkan apapun, jadi aku membangunkan mu dengan cara yang tidak normal ini.” Jawab Taeyeon dan mengakhiri gerakan naik turunnya pada perut Sehun.

Sehun mendudukkan dirinya saat Taeyeon sudah turun dari ranjang tersebut. Sehun mengusap wajahnya sesaat dan menatap adik ter’cinta’nya ini.

“Ada apa.? Ini masih cukup pagi.”

“Ada apa bagaimana.? Hari ini adalah upacara kelulusan oppa, dan jangan lupakan oppa yang harus berpidato nanti. Eomma hanya bilang bahwa oppa harus bersiap-siap lebih pagi agar tak ada yang terlupa. Eomma juga sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Dan aku hampir lupa, appa tak bisa ikut datang ke sekolah karena harus ke kantor pagi-pagi sekali. Eomma juga mengatakan jika oppa tak bangun juga, maka eomma dan aku juga tak akan datang kesekolah. Maka dari it… hmmpphh..”

Ucapan Taeyeon yang belum terselesaikan itu harus berhenti saat sesuatu membungkam mulutnya. Aish, itu tangan Sehun.

“Princess, ini masih sangat pagi untukmu berbicara panjang lebar seperti itu. Dan oppa hanya bertanya satu kalimat, mengapa kau menjawab dengan satu paragraf.?” Tanya Sehun sambil menjauhkan telapak tangannya dari bibir Taeyeon.

“Bukankah oppa bertanya.? Jadi aku harus menjawab.” Bantah Taeyeon dengan nada merajuk.

“Tapi tidak harus sepanjang itu chagi~”

“Jangan merayuku.” Ucap Taeyeon dan membalikkan badannya hingga kini memunggungi Sehun yang terkekeh dibelakangnya.

“Aigoo~ Apa Little Princess ku ini tengah merajuk eoh.?”

“Sudahlah, sebaiknya oppa cepat mandi kemudian turun untuk sarapan. Aku dan eomma tunggu di meja makan.” Ucap Taryeon sambil berbalik dan melambai kecil pada Sehun kemudian keluar dari kamar kakaknya itu.

Sehun hanya melongo menatap Taeyeon yang sudah menghilang dibalik pintu kamarnya.

“Bukankah tadi dia merajuk.?”

Upacara kelulusan tahun ini begitu meriah, orang tua dari para siswa begitu antusias menghadiri acara ini. Melihat bagaimana putra dan putri mereka yang berhasil menyelesaikan ujian mereka dengan sukses setelah tiga tahun mengenyam pendidikan.

Seperti saat ini, eomma Sehun begitu semangat merekam bagaimna Sehun menyampaikan pidatonya dengan handycam yang berada dalam genggaman wanita paruh baya itu. Sementara Taeyeon kini tengah menatap kagum pada Sehun. Bagimana Sehun yang menyampaikan pidatonya dengan lancar tanpa tersendat-sendat, wajahnya yang begitu berwibawa semakin menunjang penampilan Sehun saat ini.

Tak ada yang tidak tau siapa itu Oh Sehun. Putra sulung tuan Oh Jonhyung pemilik perusahaan Oh Corp yang termasuk jajaran 10 besar di Korea. Memiliki beberapa cabang diberbagai belahan dunia. Tak hanya itu, Sehun juga memiliki wajah yang luar biasa tampan. Berlebihan, tapi memang itu kenyataannya. Matanya yang sipit namun memiliki tatapan tajam yang begitu mengintimidasi, hidungnya mancung, bibirnya tipis dengan warna merah menggoda, juga rahang yang begitu tirus dengan bagian dagu yang cukup runcing, jangan lupakan kulit putih pucatnya yang hampir menyamai kulit seorang gadis, juga tubuh tinggi proposional. Yah, seperti itulah sosok Oh Sehun, dan semua itu semakin ditunjang dengan nilai akademik nya yang sangat, sangat memuaskan. Tak heran, kini Sehun dipercaya oleh wali kelasnya untuk menyampaikan pidatonya.

“Yang terakhir, keberhasilan ini tentu saja saya dapat karena keluarga saya. Kedua orang tua saya yang begitu mendidik anak mereka dengan sangat baik, mengajarkan saya bertanggung jawab dan bersikap sopan santun pada semua orang, saya sangat bangga pada orang tua saya. Dan juga adik saya, adik yang begitu ceria disetiap keadaan, dan dengan kehadiran adik sayalah saya mampu menjauhkan kata ‘Tertekan’ dalam menghadapi ujian, hingga saya mampu mencapai hasil yang begitu memuaskan seperti sekarang. Sekali lagi, keluarga sangat penting dalam kehidupan saya.” Sehun mengakhiri pidatonya dan disambut tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan.

Sehun mengangguk sekilas kemudian turun dari panggung dengan senyum merekah. Yah, semua yang Sehun sampaikan pada akhir pidatonya tadi memang sebuah fakta. Bagaimana tuan dan nyonya Oh yang sedari kecil sudah mengajarkan pada Sehun untuk bertanggung jawab dengan semua yang telah ia perbuat, dan akan memarahi Sehun jika pria itu tidak bersikap sopan terlebih pada orang yang lebih tua. Dan Taeyeon, adiknya itu selalu membawa keceriaan bagi Sehun. Sehun masih ingat saat satu minggu sebelum ujian, pria itu begitu tertekan dan hampir stres dibuatnya, hingga Taeyeon datang disela-sela belajarnya. Memberi kata-kata penyemangat yang begitu menggemaskan bagi Sehun.

‘Oppa harus berhasil dalam ujian kali ini ne. Jika oppa tak berhasil, pasti oppa akan tinggal kelas, dan jika oppa tinggal kelas, itu berarti Taeng akan satu angkatan dengan oppa. ‘Kan tidak lucu jika adik-kakak berada ditingkat yang sama kecuali jika mereka kembar. Dan jika oppa nanti berhasil dalam ujian tahun ini kemudian lulus dan masuk universitas yang oppa inginkan, maka Taeng akan sangat bangga pada oppa. Jadi oppa harus semangat ne.! Taeng menyayangi oppa.’

Senyum Sehun semakin lebar saat mengingat kata-kata Taeyeon beberapa minggu yang lalu. Benar kata Chanyeol temannya, Taeyeon itu masih kekanakan dan begitu polos. Gadis itu begitu jujur mengungkapkan perasaannya, baik secara ekspresi ataupun pernyataan.

Sehun semakin bangga pada keluarganya.

****

Setelah upacara kelulusan Sehun tadi siang selesai, Sehun dan Taeyeon diminta oleh nyonya Oh berbelanja ke supermarket untuk acara mereka malam ini. Nyonya Oh berniat membuat acara memanggang malam ini, acara ini juga sebenarnya juga sebagai rasa syukur mereka karena Sehun berhasil lulus dan mendapat peringkat 1 secara pararel di angkatannya, sungguh membanggakan. Yeah, walaupun sebentar lagi Sehun juga harus ujian masuk universitas, tetapi setidaknya Sehun dapat mengistirahatkan otaknya dengan membuat acara kecil bersama keluarganya.

Dan disinilah mereka berada, di halaman belakang rumah keluarga Oh yang begitu besar. Alat pemanggang bahkan sudah sedari tadi disiapkan oleh nyonya Oh. Walaupun mereka hanya memanggang beberapa daging dan sosis, tetapi hal itu sama sekali tak menyurutkan antusias mereka semua. Bukankah yang terpenting adalah kebersamaan.?

“Taeng, tolong ambilkan sausnya di dalam ne.?” Ucap nyonya Oh sedikit keras.

“Ne eomma.”

Taeyeon segera berlari memasuki rumahnya, hingga dirinya hampir saja bertubrukan dengan Sehun yang baru saja keluar dengan membawa daging.

“Mianhae oppa.” Ucap Taeyeon sedikit bersalah.

“Pelan-pelan saja, kau mau apa eo.?”

“Aku ingin mengambil saus didalam.”

“Ini.?” Tanya Sehun dengan menunjukkan satu botol besar berisi saus.

“Ahh, ne. Kalau begitu, kajja.” Ucap Taeyeon karena saus yang ingin diambilnya sudah dibawa Sehun.

“Pelan-pelan Princess.” Ingat Sehun sedikit terkekeh.

Namun Taeyeon seolah tuli dan tetap menyeret Sehun mendekati kedua orang tua mereka.

“Kau semangat sekali.” Ucap tuan Oh sambil mengusap puncak kepala Taeyeon yang kini berdiri disamping pemanggang bersama nyonya Oh dan Sehun.

“Hmm.. tentu saja. Jarang-jarang ‘kan kita seperti ini.? Pasti appa selalu sibuk kerja.” Jawab Taeyeon dengan bibir mengerucut diakhir kalimatnya.

“Aigoo Kid, maafkan appa ne, appa terlalu sibuk dikantor.”

“Gwenchana appa. Appa kerja keras juga untukku dan Sehun oppa ‘kan.? Taeng mengerti, hanya saja appa harus menyisakan waktu appa untuk kita semua pada akhir pekan.”

Taeyeon kini memandang pada sang ayah dengan tatapan penuh harap. Sungguh, sebenarnya Taeyeon sedikit kecewa pada ayahnya, ayahnya terlalu sibuk bekerja, tetapi tetap tidak bisa dibilang terobsesi memang. Walau begitu, Taeyeon tetap sedih jika mengingat bagaimana keluarga Oh berkumpul tanpa sang kepala keluarga. Tapi Taeyeon harus berpikir dewasa, ayahnya seperti itu juga untuk dirinya dan Sehun ‘kan.? Jadi sudah seharusnya Taeyeon menyemangti ayahnya saat bekerja, bukan justru berkata seperti tadi. Aish, Taeyeon jadi menyesal dengan ucapannya sendiri.

“Bukankah appa sudah meluangkan waktu untuk kita semua saat ini.?” Jawab tuan Oh dan dibalas senyum oleh Taeyeon.

“Sudahlah, sebaiknya kita segera memanggang, aku sudah lapar.” Ucap Sehun dan mulai meletakkan daging diatas pemanggang.

Nyonya Oh terkekeh sebentar lalu mulai membaur dengan Sehun dan ikut memanggang daging dan sosis, begitupun dengan Taeyeon dan tuan Oh.

Suasana makan malam keluarga Oh malam ini begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jika biasanya hanya makan malam biasa dengan hanya diiringi dentingan garpu dan sendok, maka malam ini diiringi gelak tawa mereka semua selagi memanggang. Bahkan tuan Oh yang biasanya menjaga wibawa kini ikut tertawa lebar saat Taeyeon dengan sengaja mengoleskan mayonise pada wajah Sehun.

30 menit berlalu, kini semua daging dan sosis sudah matang dan disimpan pada meja yang tadi juga telah disiapkan nyonya Oh didekat pemanggang, tak banyak memang mengingat hanya ada empat orang yang akan menyantap daging dan sosis tersebut.

Sebelum memulai makan malam, tuan Oh memimpin do’a untuk keluarganya. Dan tak lama, mereka mulai menyantap makan malam tersebut.

“Sehun, bagaimana dengan ujian untuk masuk universitas yang kau inginkan itu.? Kau sudah menyiapkannya.?” Tanya tuan Oh disela makan malam mereka.

“Aku sudah kembali belajar appa, tidak terlalu keras memang, aku masih mengingat beberapa materi sekolah.”

“Ahh, seharusnya kita tak perlu meragukan Sehun. Karena Sehun mewarisi otak pintar dariku.” Sahut nyonya Oh dengan membanggakan dirinya.

“Memang eomma pintar seperti Sehun oppa.?” Tanya Taeyeon polos dan disambut kekehan dari tuan Oh.

“Tidak Taeng, sebenarnya oppa mu itu pintar karena appa, bukan eomma.”

“Yakk yeobbo.” Pekik nyonya Oh sedikt tidak terima.

“Oh Taeng, bukankah sebentar lagi kau juga akan ulangan kenaikan kelas.?” Tanya tuan Oh tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari nyonya Oh.

“Ne, sekitar satu minggu lagi. Wae.?”

“Tak apa, appa hanya bertanya.”

“Taeng, apa kau juga bisa seperti Sehun.?”

“Maksud eomma.?” Tanya Taeyeon kurang mengerti dengan pertanyaan ibunya.

“Mendapat peringkat satu.”

Belum juga Taeyeon menjawab, Sehun sudah lebih dulu bersuara.

“Jika kau juga bisa mendapat peringkat 1, oppa akan memberi hadiah padamu.” Ucap Sehun dan menaik turunkan alisnya.

Sontak mata Taeyeon membulat dengan mulut yang juga membentuk ‘O’. Ayolah, sebelumnya Sehun belum pernah memberi penawaran seperti ini. Dan Taeyeon tak ingin menyia-nyiakan.

“Benarkan.?” Tanya Taeyeon antusiaa dan dibalas deheman oleh Sehun karena pria itu kini masih memproses daging yang ada dalam mulutnya.

“Baiklah. Lihat saja, aku pasti akan mendapat peringkat 1 seperti oppa.” Ucap Taeyeon kelewat semangat.

“Baiklah.”

Setelah percakapan antara Sehun dan Taeyeon berakhir, semua memilih diam dan melanjutkan makan malam mereka. Bukan karena kehabisan topik, tetapi tuan dan nyonya Oh lebih menyiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin bisa saja menyakiti hati kedua buah hati mereka.

Beberpa menit telah berlalu, kini mereka terlihat mendorong piring kedepan tanda berakhirnya makan mereka.

Taeyeon baru saja ingin bangkit untuk membersihkan piring-piring kotor, namun pergelangan tangannya ditahan oleh nyonya Oh dan mengisyaratkan Taeyeon untuk kembali duduk ditempatnya.

“Jangan pergi dulu, appa dan eomma ingin membicarakan sesuatu.”

Taeyeon dan sehun saling pandang dengan tatapan seolah mengatakan ‘Apa yang ingin appa dan eomma bicarakan.?’ Mereka hanya mengedikkan bahu masing-masing dan kembali menatap kedua orang tua mereka.

“Apa yang ingin appa dan eomma katakan.?” Tanya Sehun yang juga mewakili Taeyeon.

“Appa dan eomma ingin mebicarakan sesuatu yang penting. Ini tentang-”

Ucapan tuan Oh terhenti saat mendengar dering ponsel Sehun dari celana santai yang digunakan pria itu.

“Maaf appa, tak seharusnya aku membawa ponsel saat kita berkumpul.” Ucap Sehun dan menunjukkan senyum bersalah.

“Tak apa, angkat saja dulu, mungkin penting.”

Sehun mengangguk dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan…

‘Yura is calling..’

Sehun mendengus dan me-reject panggilan tersebut kemudian menatap ayahnya lagi.

“Lanjutkan appa.”

“Kenapa tidak diangkat.?” Tanya tuan Oh heran.

“Tak penting.” Jawab Sehun sinis.

Entahlah, Sehun hanya merasa malas pada apapun yang bersangkutan dengan gadis menyebalkan seperti Yura.

“Baiklah, appa akan me-”

Lagi, ucapan tuan Oh terhenti karena ponsel Sehun kembali berdering dengan kontak yang sama.

“Sebaiknya kau angkat dulu saja, mungkin penting.” Saran nyonya Oh karena tak biasa melihat Sehun yang mengabaikan panggilan seseorang.

“Baiklah.”

Sehun dengan ogah-ogahan menggeser layar tersebut kearah kanan hingga kini sambungan sudah terhubung.

‘Yeobboseyo Sehun-ah.’

“Hn.”

‘Apa kau sedang sibuk.? Apa aku mengganggumu.?’

“Ne, kau sangat mengganggu.”

‘Aigoo, jangan seperti itu, aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu karena mendapat nilai tertinggi, aku tadi tidak bisa datang, walaupun Kang Saem sudah mengingatkanku, tetapi aku tetap tidak bisa datang karena ada pemotretan, andai aku bisa datang, pasti kita bisa berfoto bersama.’

“Hn.”

Ahh, Yura sepertinya sudah terbiaaa dengan sikap Sehun yang luar biasa dingin padanya.

‘Emm Sehun, apa besok kau sibuk.? Jika tidak aku ingin kau menemaniku untuk mencari dress yang akan kugunakan saat fan meeting lusa. Apakah kau bisa.?’

“Tidak. Aku sibuk.”

‘Baiklah, maaf jika mengganggu waktumu. Aku tutup ne, annyeong.’

Tanpa menjawab salam dari Yura, Sehun langsung memutuskan sambungan karena tak ingin semakin lama mendengar suara menyebalkan milik Yura.

“Siapa.?” Tanya Taeyeon penasaran.

“Orang gila.” Jawab Sehun sambil tersenyum dan mengusap puncak kepala Taeyeon.

“Sehun.” Tegur nyonya Oh.

“Baiklah, dia orang yang satu angkatan denganku.” Jawab Sehun malas.

“Temanmu.?” Tanya nyonya Oh lagi.

“Aku tak pernah menganggapnya teman.”

“Apa itu Yura eonni.?”

“Dia tak pantas kau panggi eonni, Princess.”

“Kenapa kau sepertinya sangat membenci gadis itu.?” Kali ini tuan Oh ikut buka suara.

“Sudahlah, kenapa kita justru membicarakan gadis menyebalkan ini.? Jadi, apa yang akan appa dan eomma katakan.?” Tanya Sehun mengalihkan pembicaraan.

“Baiklah, kalian harus dengar ini baik-baik.” Ucap tuan Oh dan diangguki oleh Sehun dan Taeyeon.

“Karena Sehun sudah dewasa dan appa yakin sudah bisa menjaga Taeyeon dengan baik, jadi appa dan eomma memutuskan pindah untuk sementara ke Paris untuk mengurus cabang perusahaan kita yang sedang tidak stabil disana.”

“APA.?” Pekik Taeyeon tak terima.

“Appa dan eomma akan menetap di Paris sayang, hanya sementara.” Ucap nyonya Oh untuk meyakinkan putrinya.

“Tidak, tidak boleh.” Ucap Taeyeon dan mulai terisak.

Sehun yang duduk disamping Taeyeon hanya bisa megelus bahu adiknya agar berhenti menangis.

“Taeyeon dengar, bukankah masih ada Sehun yang akan menajagamu, appa tak ada pilihan sayang, perusahaan benar-benar harus appa sendiri yang turun tangan.” Jelas tuan Oh yang dibalas gelengan keras oleh Taeyeon.

“Tidak, appa dan eomma memang sudah tak menyayangi aku dan Sehun oppa. Aku benci kalian.” Ucap Taeyeon dan langsung berlari menuju kamarnya dan masih menangis.

Nyonya Oh hendak menyusul Taeyeon menuju kamarnya, tetapi pergerakan wanita paruh baya itu ditahan oleh Sehun.

“Taeyeon sedang kecewa dengan appa dan eomma, jadi sebaiknya aku saja yang menyusul Taeyeon.” Ucap Sehun dan diangguki tuan Oh.

Setelah Sehun sudah tak terlihat, nyonya Oh menghela nafas berat.

“Taeyeon sedang sangat sensitif sekarang.” Ungkap nyonya Oh sedih.

“Sudahlah, pasti Sehun dapat memberi pengertian pada Taeyeon.”

Nyonya Oh hanya menganggukan kepalanya saat mendengar ucapan tuan Oh. Yeah, Sehun pasti bisa membicarakannya baik-baik pada Taeyeon mengingat mereka yang sangat dekat.

****

Sehun kini sudah sampai didepan kamar Taeyeon. Pria itu mengetuk pintu dua kali dan berkata, “Taeng, oppa masuk ne.?”

Tak ada jawaban, tentu saja. Sehun yakin bahwa Taeyeon sangat kecewa, dan mungkin saja gadis itu kini tengah menangis.

Sehun memutar kenop pintu tersebut dan memasuki kamar adiknya. Hal pertama yang Sehun lihat adalah ranjang Taeyeon yang mengembung pada bagian tengah. Itu Taeyeon. Gadis itu tengan menangis sambil memunggungi Sehun.

Sehun mendekat, duduk disamping Taeyeon yang masih memilih berbaring dengan tangisnya yang kian terdengar oleh Sehun.

“Princess.?” Panggil Sehun sambil mengusap bahu Taeyeon yang bergetar.

Taeyeon bangkit. Mendudukkan dirinya disamping Sehun dan memandang sang kakak dengan mata yang sedikit bengkak.

“Hey, uljimayo.” Ucap Sehun dan mengusap air mata yang mengalir dipipi Taeyeon.

Sehun menyandarkan tubuhnya pada headbed kemudian menarik Taeyeon dalam pelukannya, menyandarkan kepala sang adik pada dada bidangnya.

“Appa dan eomma sudah tidak menyayangi kita lagi.” Ucap Taeyeon dengan suara yang terlampau parau.

“Bukan seperti itu, eomma dan appa masih menyayangi kita, tapi appa juga harus mengurus perusahaan yang sedang tidak stabil. Dan tak mungkin ‘kan jika appa pergi sendiri, tentu saja appa akan pergi bersama eomma.” Jelas Sehun.

“Tidak, tetap saja appa dan eomma sudah tak menyayangi kita lagi.”

“Hey, dengarkan oppa.! Taeng sudah dewasa, seharusnya kau bisa mengerti keadaan appa. Jika bisa, appa juga tak ingin meninggalkan kita, tetapi tidak bisa. Appa harus mengurus perusahaan di Paris hingga kembali stabil. Apa Taeng mau jika perusahaan yang appa bangun dengan susah payah hancur begitu saja.? Tidak ‘kan”

Taeyeon terdiam. Benar apa yang dikatakan Sehun. Taeyeon masih ingat saat dirinya kecil dulu ayahnya selalu mengatakan bahwa ingin membangun perusahaan diluar negara. Walau dulu Taeyeon masih kecil sekitar 8 tahun, tetapi Taeyeon masih ingat wajah ayahnya yang berseri saat menceritakan keinginannya. Dan sekarang semua telah tercapai. Taeyeon kembali merasa egois, seharusnya Taeyeon mengerti bahwa ayahnya pasti sangat sedih jika perusahaan yang diimpikannya hancur begitu saja. Walau masih ada perusahaan di Seoul, tetapi tetap saja memiliki perusahaan diluar negara sendiri adalah keinginan ayah nya sejak dirinaya masih kecil.

Tapi Taeyeon tetap merasa tak rela. Jika nanti ibu dan ayah nya pindah ke Paris (walau hanya sementara), siapa yang akan memperhatikan dan menyayanginya seperti eomma nya. Jujur saja, Taeyeon mengakui bahwa dirinya masih sangat, sangat manja pada ibu nya. Taeyeon tak bisa atau mungkin tak mau membayangkan jika dirinya benar-benar hidup jauh dari ibunya. Itu pasti sulit.

“Kenapa melamun.?” Tanya Sehun sambil mengusap pipi Taeyeon.

“Apakan appa dan eomma harus tetap ke Paris walau hanya untuk sementara. Tidak bisakah menunggu hingga Taeyeon berusia 20 tahun dan bisa mengurus diri sendiri.?” Tanya Taeyeon masih dengan matanya yang sembab walau sudah tak mengeluarkan air mata.

“Maksudmu 3 tahun lagi.? Astaga Little Princess, bisa-bisa perusahaan appa benar-benar sudah hancur jika harus menunggu hingga 3 tahun lagi. Ayolah, apa kau tak kasihan dengan appa jika perusahaannya benar-benar hancur. Jika nanti, appa dan eomma benar-benar menetap sementara di Paris, oppa yang akan memperhatikan dan menyayangi Taeng seperti eomma. Eotte.?” Jelas Sehun dan memberi sebuah penawaran untuk menghilangkan sikap keras kepala Taeyeon.

“Itu berbeda.” Jawab Taeyeon dengan nada merajuk sambil menusap matanya yang basah pada dada Sehun.

“Apa yang berbeda.?”

“Tentu oppa dan eomma berbeda. Eomma memiliki sikap lebih lembut dari oppa.”

“Itu bukan masalah, oppa akan bersikap sangat lembut jika bersamamu. Jangan khawatir, oppa bisa menggantikan posisi eomma untuk sementara.”

“Benarkah.?” Tanya Taeyeon dengan mata yang mengerjap lucu.

“Tentu saja, asal kau membiarkan appa dan eomma pergi ke Paris untuk mengurus perusahaan disana.”

Taeyeon semakin menenggelamkan kepalanya pada dada Sehun. Taeyeon benar-benar kekanakan. Bahkan Sehun sendiri hampir kehilangan akal untuk membujuk Taeyeon. Entah apa yang membuat Taeyeon begitu manja dan sensitif Sehun sendiri tak tau. Hanya saja Sehun selalu memberikan yang terbaik pada Taeyeon. Bagaimanapun caranya.

“Bagaimana.?” Tanya Sehun lagi.

“Biarkan aku berfikir oppa.” Ucap Taeyeon dengan suara pelan karena ter-redam dada Sehun.

“Sebaiknya kau tidur saja, oppa akan menemanimu.”

Taeyeon mengangguk patuh. Jangan heran, walau keduanya sudah sama-sama dewasa, tetapi mereka masih sering tidur bersama. Hanya tidur, tanpa melakukan hal lebih, kecuali Sehun yang mengecup kening Taeyeon.

Seperti sekarang, Sehun merebahkan dirinya dan Taeyeon kemudian menarik selimut untuk mereka berdua. Didalam selimut, tangan Sehun melingkar sempurna pada pinggang kecil Taeyeon. Berbagi kehangatan dengan cara berpelukan adalah hal yang sering mereka lakukan. Walau kedua orang tua mereka tahu ‘pun mereka tak akan berbicara apa-apa. Termasuk Sehun yang sering tidur bersama Taeyeon. Menurut tuan dan nyonya Oh, itu adalah bukti kedekatan antara saudara.

Tak lama, terdengan dengkuran halus dari Taeyeon yang berada dalam pelukannya. Sehun terkekeh sebentar. Pria itu begitu suka saat dirinya memanjakan Taeyeon, memberi apapun yang adiknya inginkan. Sehun bahkan sempat memohon pada Tuhan agar Taeyeon tak perlu dewasa hingga Sehun tetap bisa memanjakan Taeyeon seperti ini.

Sehun sangat suka bagaimana Taeyeon merengek dengan anda menggemaskan saat meminta sesuatu dan saat Taeyeon merajuk ketika Sehun mulai menggodanya. Entahlah, itu semua seperti kebahagiaan tersendiri bagi Sehun, hingga tanpa sadar seluruh darahnya mengarlir lebih cepat jika menyangkut Taeyeon.

Sehun tersenyum, mengecup kening Taeyeon dan berkata, “Mimpi indah Love,”

Love.? Ya, Sehun memang sering memanggil Taeyeon dengan sebutan ‘Love’. Jika biasanya Sehun akan memanggil Taeyeon dengan sebutan ‘Little Princess’, maka sebutan ‘Love’ itu hanya Sehun seorang yang tau. Entahlah, Sehun hanya merasa senang jika panggilan itu keluar dari mulutnya dan ditujukan pada Taeyeon. Membuatnya merasa nyaman. Sehun kembali tersenyum dan mulai menyusul Taeyeon untuk tertidur.

****

Taeyeom turun dari tangga untuk sarapan bersama keluarganya. Tuan dan nyonya Oh memandang khawatir pada Taeyeon pagi ini. Gadis itu biasanya akan tersenyum cerah dan meneriakkan ‘Morning All..’ Namun pagi ini, wajahnya terlihat sangat datar dan dingin, begitu jauh dari Taeyeon yang biasanya.

Dimeja makan sudah ada Sehun beserta tuan dan nyonya Oh. Taeyeon duduk dengan wajah yang masih flat, sama seperti Sehun jika bertemu Yura. Tuan Oh menyenggol lengan nyonya Oh, bermaksud agar sang istri itu mulai berbicara pada Taeyeon.

“Taeyeon.” Panggil nyonya Oh lirih, takut anak bungsunya itu masih marah.

Taeyeon menghela nafas sejenak dan menatap kedua orang tuanya kemudian tersenyum cerah seperti biasa.

“Morning all.” Sapa Taeyeon dan mengelurkan eyesmile nya.

Tuan dan nyonya Oh menatap bingung pada Taeyeon. Bukankah tadi wajah Taeyeon bahkan kelewat datar, kenapa dalam sekejap bisa berubah seperti biasa. Sementara Sehun kini hanya tersenyum manis merasa usahanya semalam berhasil.

“Taeyeon, kau-”

“Gwenchana appa, aku bisa mengerti tentang pekerjaan appa.”

“Benarkah.?” Tanya tuan Oh sedikit tidak yakin.

“Tentu saja, ini karena Sehun oppa. Apakah appa dan eomma berangkat hari ini.?” Tanya Taeyeon ketika mendapati dua koper besar yang tadi dilihatnya didepan kamar tuan dan nyonya Oh.

“Ne, jam 10 nanti. Gwenchana.?” Tanya nyonya Oh.

“Gwenchana eomma. Masih ada Sehun oppa, jadi aku tak akan sendiri. Nanti aku dan Sehun oppa juga akan mengantar appa dan eomma ke bandara.” Jawabnya dan mulai mengoleskan selai ke rotinya.

“Benarkah, apa kalian tak ada acara hari ini.?” Tanya tuan Oh.

“Tentu saja tidak, ‘kan oppa.?” Tanya Taeyeon pada Sehun yang sedari tadi diam.

Sehun tersenyum dan membalas dengan anggukan.

“Baiklah, setelah ini kalian segera siap-siap, appa ingin mengajak kalian jalan-jalan terlebih dulu sebelum ke bandara.”

“Woahh.. jinjja.?” Tanya Taeyeon dengan nada berbinar.

“Tentu saja, cepat habiskan sarapan mu.!”

“Ne appa.”

****

Sehun dan Taeyeon baru saja keluar dari area bandara setelah mengantar tuan dan nyonya Oh. Tentu saja dengan perpisahan dramatis antara Taryeon dan ibunya. Bahkan sampai sekarang gadis itu masih saja menekuk wajahnya.

“Hey, kau jelek jika seperti itu.” Ucap Sehun dan mencubit gemas pipi Taeyeon yang mengembung.

“Yakk oppa, apa kau tak kasihan denganku.? Jahat sekali.”

“Tentu saja tidak, bukankah masih ada oppa.”

Taeyeon tak menjawab, Sehun itu terkadang benar-benar menyebalkan.

“Astaga, wajahmu benar-benar buruk Kid.”

Taeyeon masih diam. Memulai mode merajuknya. Setelah ini Taeyeon yakin Sehun pasti akan menawarkan sesuatu agar dirinya tidak merajuk lagi.

Satu

Dua

Ti..

“Bagaiman kalau kita ke bioskop.? Kudengar ada film baru.” Benar ‘kan dugaan Taeyeon.?

“Benarkah.?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, setelah itu oppa juga harus menemaniku membeli tas baru eoh.? Tas ku sudah waktunya pensiun.” Jawab Taeyeon dengan permintaan tambahan.

“Baiklah, kajja.” Ucap Sehun dan menarik pergelangan tangan Taeyeon.

“Tunggu oppa.” Tahan Taeyeon saat mendapati namja dengan surai coklat madu berjalan kearahnya.

“Luhan.?” Panggil Taeyeon saat pria tampan itu sudah ada dihadapannya.

Sementara Sehun kini hanya menatap tak suka pada sosok Luhan yang berada dihadapannya dan Taeyeon. Sehun hanya tak suka dengan cara Luhan memperlakukan Taeyeon, begitu posesif seolah Taeyeon hanya miliknya seorang. Dan Sehun masih ingat bahwa Taeyeon kini sudah tak lagi memiliki teman perempuan, tentu saja ini karena Luhan. Hanya tersisa Tiffany saja teman wanitanya.

“Apa yang kau lakukan disini.?” Tanya Luhan.

“Aku baru saja mengantarkan appa dan eomma ku. Kau sendiri.?”

“Aku juga mengantarkan adikku yang akan kembali ke China.” Ah benar, Luhan adalah pria blasteran antara China dan Korea.

“Adikmu di Korea.? Kenapa kau tak cerita.?”

“Maafkan aku Taengoo, aku lupa karena terlalu asik dengan adikku.”

“Dasar.!” Cibir Taeyeon.

“Apa kau ada acara.? Jika tidak aku ingin mengajakmu jalan-jalan, bagaimana.?”

Taeyeon tersenyum senang mendengar ajakan Luhan. Ayolah, Taeyeon itu menyukai Luhan lebih dari sahabat, jadi tak heran jika Taeyeon terlampau senang saat Luhan mengajaknya jalan-jalan.

“Tidak bisa, Taeyeon akan pergi denganku. Kajja.” Jawab Sehun dan menarik pergelangan tangan Taeyeon dan meninggalkan Luhan yang masih terdiam ditempatnya.

“O-oh.. mian Lu, mungkin lain kali kita bisa pergi bersama. Aku duluan ne, annyeong.” Pamit Taeyeon walau dengan dirinya yang masih ditarik oleh Sehun ketempat mobil mereka terparkir.

Luhan hanya tersenyum membalas ucapan Taeyeon. Luhan tau siapa pria yang tengah menarik Taeyeon saat ini, dia adalah Oh Sehun, sunbaenya sekaligus kakak Taeyeon. Namun yang membuat Luhan heran adalah sikap Sehun yang terlampau posesif pada Taeyeon. Bahkan jika ada seseorang yang tidak tau hubungan mereka yang sebenarnya, mungkin orang itu akan berpikir bahwa Sehun dan Taeyeon adalah sepasang kekasih. Dasar aneh.!

****

Taeyeon keluar dari kamarnya dengan membawa buku pelajaran di tangan kanannya, sementara tangan kirinya tengah membawa apel yang sedang dinikmati. Ah ya, besok Taeyeon harus ulangan kenaikan kelas, dan Taeyeon harus belajar ekstra agar mendapat peringkat satu di angkatannya, tentu saja dengan begitu dirinya mendapat hadiah yang dijanjikan oleh Sehun. Tak terasa dua minggu telah berlalu sejak kedua orang tuanya pindah ke Paris, ibunya selalu rajin ber video call dengan kedua buah hatinya, begitu pula dengan ayahnya. Tuan dan nyonya Oh selalu mengingatkan agar keduanya menjaga pola makan dan jangan keluar rumah jika tak ada kepentingan yang mendesak. Juga nyonya Oh yang selalu mengingatkan Sehun agar menjaga Taeyeon dengan benar. Dan benar saja, selama dua minggu ini Sehun jau lebih posesif dan protektif dari biasanya, dengan berdalil tak ingin Taeyeon kenapa-napa selagi kedua orang tua mereka tak ada.

Selama ini yang memasakkan makanan untuk keduanya adalah Kang ahjumma. Kang ahjumma akan datang pada pagi dan sore untuk menyiapkan makan keduanya. Sementara pekerjaan yang lain Taeyeon sendiri yang mengerjakan, karena satu-satunya pekejaan rumah yang Taeyeon tak bisa hanya memasak. Tak jarang pula, Sehun memarahi adiknya itu karena dengan keras kepala ingin membersihkan rumah seorang diri. Ayolah, rumah keluarga Oh itu terlampau besar, Sehun hanya takut Taeyeon kelelahan dan berakhir dengan jatuh sakit. Sehun berulang kali mengingatkan Taeyeon bahwa gadis itu memiliki fisik yang sedikit lemah, dan Taeyeon dengan kekeras kepala’annya tetap berniat membersihkan rumah seorang diri. Tentu hal ini membuat seorang Oh Sehun menarik paksa Taeyeon agar menjauhi alat-alat pembersih dan mengurung Taeyeon dalam kamarnya, dan setelah itu Sehun akan meminta tolong pada Jung ahjumma yang sebelumnya merupakan maid keluarga Oh. Namun dua minggu yang lalu Taeyeon mengizinkan Jung ahjumma pulang kerumahnya, karena menurut gadis itu pekerjaan rumah tidak terlalu banyak jika hanya ada dirinya dan Sehun dirumah, tentu tetap memberi gaji bulanan untuk Jung ahjumma, Taeyeon juga masih punya hati. Dan beruntung rumah Jung ahjumma cukup dekat dari kediaman keluarga Oh, hingga saat Sehun memanggilnya untuk meminta tolong membersihkan rumah, Jung ahjumma bisa datang dalam waktu 15 menit.

Sehun over protective bukan.?

Taeyeon sendiri tak masalah dengan sikap Sehun yang seperti itu, hanya saja gadis itu sedikit risih jika pergi dengan teman wanitanya dan Sehun akan menelfonnya setiap 10 menit sekali. Itu akan membuat Taeyeon merasa tak enak pada Tiffany, teman wanita satu-satunya.

Taeyeon berjalan mendekati Sehun yang kini duduk diruang keluarga juga dengan membawa bukunya. Taeyeon duduk tepat disamping Sehun dengan tatapan yang masih fokus pada bukunya dan mulut yang masih mengunyah apel tadi.

Besok Sehun juga harus ujian masuk universitas. Dan dengan begitu, dua anak dari keluarga Oh itu sibuk dengan buku masing-masing.

Sehun selesai lebih dulu, karena pria itu sudah belajar sejak 2 jam yang lalu, sementara Taeyeon baru 45 menit di kamarnya tadi.

“Perlu bantuan.?” Tanya Sehun setelah meletakkan bukunya pada meja.

“Hmm.. hmm..” Gumam Taeyeon sambil menggelengkan kepalanya dengan mulut yang penuh apel, membuat Sehun gemas ingin mencubit pipi Taeyeon yang tengah mengembung itu.

“Yakk.. appoyo.” Sentak Taeyeon dengan wajah yang sedikit merah dan mengalihkan pandangan dari bukunya pada Sehun.

“Jangan belajar sambil makan Kid.” Ingat Sehun dan mengambil apel dari genggaman Taeyeon kemudian memakannya.

“Cih.. bilang saja oppa ingin.” Cibir Taeyeon dan kembali fokus pada buku pelajarannya.

Sehun hanya tersenyum manis menanggapi ucapan Taeyeon. Sangat jarang senyum seperti itu Sehun tunjukkan pada orang luar, bahkan pada kedua orang tuanya pun jarang, hanya pada Taeyeon pria jangkung itu menampakkan senyum semanis tadi. Biasanya Sehun akan menunjukkan wajah datar dan tatapan dingin pada orang lain, terutama pada orang yang dibencinya seperti Yura, Krystal dan.. Luhan. Ah, Krystal adalah gadis yang suka merecoki Taeyeon karena Luhan. Gadis bermarga Jung itu seringkali mengganggu Taeyeon untuk menanyakan tentang Luhan, dan tak jarang pula gadis itu menjelek-jelekkan Taeyeon, mungkin cemburu karena Luhan hanya mau berdekatan dan berteman dengan Taeyeon. Dan semua hal itu membuat Sehun membeci Krystal.

Sehun menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon dan sesekali ikut membaca buku pelajaran adiknya. Terkadang Sehun juga menyalurkan nafas hangatnya pada leher Taeyeon membuat adiknya itu menggeliat geli dan dibalas kekehan kecil oleh Sehun.

30 menit berlalu dan Taeyeon memilih mengakhiri acara belajarnya. Taeyeon meletakkan bukunya pada meja. Keadaan kini berbalik, jika tadi Sehun yang menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon, maka kini berganti Taeyeon yang merebahkan dirinya pada sofa panjang yang tengah didudukinya oleh Sehun dan menggunakan paha sang kakak sebagai bantalan.

“Lelah hm.?” Tanya Sehun sambil membelai anak rambut Taeyeon.

“Tidak juga, hanya saja bahuku terasa pegal.” Jawab Taeyeon dengan nada menyindir Sehun, tentu saja bercanda.

“Aigoo, belum ada satu jam saja kau sudah mengeluh seperti ini, tak ingat jika kau tertidur berjam-jam dengan bantalan lengan oppa eoh.?” Balas Sehun.

Taeyeon terkekeh sebentar kemudian menjawab, “Aku hanya bercandan oppa, mengapa sensitif sekali. Apa oppa sedang datang bulan.?” Tangan Taeyeon terangkat untuk menyentuh jakun Sehun. Entah mengapa Taeyeon sangat suka membelai jakun Sehun, Taeyeon berpendapat bahwa jakun milik Sehun itu sangat seksi dan manly. Sementara Sehun sendiri tak pernah mempermasalahkan apapun yang Taeyeon lakukan pada dirinya.

“Apa kau pernah mendapati seorang namja datang bulan.?” Tanya Sehun dan mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak sih, tapi kufikir mungkin saja oppa adalah namja istimewa yang bisa datang bulan seperti yeoja pada umumnya.” Jawab Taeyeon semakin ngelantur dan diakhiri dengan senyum diakhir kalimatnya. Mungkin salah satu hobi Taeyeon adalah tersenyum.

“Apa itu namja istimewa.? Aneh sekali.?” Tanya Sehun masih memainkan anak rambut Taeyeon.

“Hihihi~ Aku sebenarnya juga asal bicara oppa. Mungkin saja namja istimewa itu benar-benar ada.” Jawab Taeyeon dan semakin memperlebar senyumnya.

“Aigoo~ Sejak kapan pikiranmu menjadi aneh seperti ini eo.?”

“Sejak bertemu oppa.?”

“17 tahun yang lalu.?”

“17 tahun 9 bulan 10 hari yang lalu.” Ralat Taeyeon.

“Sejak kau masih dalam kandungan.?”

“Hmm..” Jawab Taeyeon menganggukkan kepalanya. Jangan lupakan tangannya yang sedari tadi masih membelai jakun Sehun.

“Berarti pikiranmu memang sudah tidak beres dan aneh sejak dulu ne.” Ucap Sehun sambil berpura-pura menganggukkan kepalanya.

Taeyeon yang merasa terjebak dengan ucapannya sendiri akhirnya menurunkan tangannya dari jakun Sehun dan beralih mencubit perut Sehun yang berada dihadapnnya.

“Aww.. Yakk.. Sakit Princess.”

“Oppa menyebalkan.” Rajuk Taeyeon sambil bangkit dari acara tidurnya dan beralih duduk disamping Sehun.

“Hey, bukankah kau sendiri yang mengatakannya.”

“Aish, oppa menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan.” Ucap Taeyeon sambil memukul lengan Sehun secara bertubi-tubi.

“Hey, hey, hentikan.!”

Sehun menangkap tangan Taeyeon yang sedari tadi menyiksa lengannya itu. Dengan cekatan, Sehun melingkarkan tangan Taeyeon pada pinggangnya, sementara Sehun sendiri melingkarkan tangannya pada bahu Taeyeon. Sehun dapat merasakan nafas Taeyeon yang memburu karena memukul Sehun sambil sedikit berteriak tadi.

“Lelah hm.?”

Sehun dapat merasakan Taeyeon mengangguk didadanya. Pria itu juga dapat merasakan nafas Taeyeon yang berangsur stabil.

“Jha, masuk kamar dan tidur, besok kau harus ulangan.”

“Nanti dulu oppa, aku masih malas.”

“Ini sudah malam adikku sayang, cepat tidur atau kau akan bangun terlambat dan tertinggal ulanganmu.” Ingat Sehun pada adiknya yang cukup keras kepala ini.

“Nanti du- YAKK OPPA.. TURUNKAN AKU!!”

Ucapan Taeyeon terhenti dan digantikan dengan pekikan terkejut saat Sehun dengan tiba-tiba menggendong dirinya ala koala. Taeyeon dengan refleks mengalungkan lengannya pada leher jenjang Sehun karena takut terjatuh. Sementara kedua kakinya yang berada disamping kanan dan kiri pinggang Sehun tengah menendang-nendang bermaksud agar Sehun menurunkannya. Bukan apa-apa, Taeyeon hanya takut terjatuh dari dekapan Sehun, Taeyeon sepertinya meremehkan kekuatan Sehun. Ayolah, Sehun itu pria yang kuat dan tangguh, jadi jika hanya mengangkat tubuh kecil Taeyeon seperti ini adalah hal kecil baginya.

Taeyeon masih meronta agar Sehun menurunkannya. Sementara sang kakak yang seolah tuli sama sekali tak menghiraukan permintaan Taeyeon dan meneruskan langkahnya menuju kamar Taeyeon untuk menidurkan adiknya yang keras kepala ini.

Pagi telah menjelang, dan Taeyeon terbangun dari tidur manisnya saat mendengar alarm dari ponselnya. Pukul 5, nyonya Oh memang membiasakan Taeyeon bangun pagi. Dan hal pertama yang Taeyeon lakukan adalah membersihkan ranjangnya dan beranjak menuju kamar mandi yang berada dikamarnya untuk menggosok gigi dan cuci muka. Dan satu lagi, pekerjaan yang wajib Taeyeon lakukan. Membangunkan Sehun. Hah, Taeyeon benar-benar benci jika harus membangunkan kerbau tampan itu.

Taeyeon yakin jika Sehun masih bergelung dengan selimutnya dan akan sangat susah untuk membangunkan pria itu. Dan benar saja, saat Taeyeon memasuki kamar kakaknya, Taeyeon mendapati gundukan ditengah ranjang yang sudah pasti adalah Sehun. Dengan langkah malas, Taeyeon mendekati Sehun yang masih diranjang.

“Oppa.. bangun..”

Tak ada jawaban, tentu saja, Sehun sangat menyebalkan saat tidur seperti ini.

“Cepat bangun oppa.” Ucap Taeyeon lagi, dengan masih mengguncang tubuh Sehun.

5 menit berlalu dan Sehun masih belum bangun, sementara Taeyeon sudah mulai lelah. Tak ada pilihan lain, Taeyeon mengambil air digelas yang berada dinakas samping ranjang Sehun. Taeyeon berniat menyiramkan air yang dibawanya pada Sehun setelah menyingkap selimut yang membungkus tubuh Sehun. Namun baru saja selimut tersebut terlepas dari tubuh Sehun, yang terjadi adalah gelas yang ada digenggaman Taeyeon terjatuh dan pecah diiringi teriakan Taeyeon.

“AAAAA…”

Taeyeon berbalik memunggungi Sehun sambil menangkup wajahnya yang memerahย  dengan kedua telapak tangannnya kemudian berjongkok disisi ranjang Sehun. Astaga, ini memalukan. Oke, memang Taeyeon tau jika Sehun selalu tidur dengan hanya menggunakan celana pendeknya saja, tetapi yang membuat Taeyeon malu saat ini adalah tubuh Sehun yang benar-benar polos dan hanya dibalut celana dalam berwarna hitam miliknya yang sangat kontras dengan kulit putih Sehun.

Sementara Sehun yang mendengar sebuah benda yang pecah dan juga teriakan Taeyeon mulai mengerjabkan matanya. Pandangannya masih kabur karena efek dari bangun tidur. Namun tak lama karena Sehun menyadari Taeyeon tengah berjongkok membelakanginya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sehun juga dapat mendengar Taeyeon beberapa kali bergumam kata ‘Memalukan.’

Sehun mengernyit bingung, apa yang memalukan.? Namun tak lama, Sehun sadar dengan keadaannya yang hanya berbalut celana dalam. Dengan cekatan, Sehun menarik selimut hingga kini kembali menutupi tubuh proposionalnya.

“T-Taeyeon.” Panggil Sehun sedikit terbata.

“A-aku kel-luar dulu.” Jawab Taeyeon kemudian bangkit dan keluar dari kamar Sehun dengan wajah yang masih memerah malu.

Sehun hanya menatap kikuk pada punggung Taeyeon yang menghilang dibalik pintu kamarnya.

Kau memalukan Oh Sehun.

TBC

Annyeong readers^^
Chap 1 udah keluar, maaf ya kalo ngaret banget, waktunya harus dibagi-bagi.

Mungkin ada readers yang sadar kalo ff ini udah ganti haluan. Yang tadinya Chaptered berubah jadi Multichapter. Soalnya aku berniat mengeluarkan beberapa konflik dari yang ringan sampai yang sedang. Kenapa gak dari yang ringan sampai yang berat.? Karena aku gak yakin salah satu dari konflik yang udah aku pikirin itu ada yang berat. Tergantung readers yang nilai juga sih sebenarnya.

Cast nya yang terpilih Sehun ya. Dari vote kemarin suara paling banyak itu untuk Sehun dan Chanyeol. Tapi Sehun masih unggul sekitar 2 suara dari Chanyeol. Dan akhirnya yang terpilih adalah Sehun.

Kemarin di into nya ada typo readers, sebenarnya usia Taeyeon itu 17 bukan 16. Hehe, mian ne~

Oh ya, bagaimana chapter 1 nya.? Apakah panjang.? Apakah memuaskan.? Semoga bisa memuaskan readers yang udah lama nunggu ff ini ya, (kalo ada)

Next ditunggu aja ya, lagi sibuk akhir-akhir ini. Jangan lupa comment juga. Comment dari readers penting banget lho buat aku.

See you^^

Advertisements

143 comments on “[FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 1)

  1. thor kenalan yuk gua ngefans banget nih sama elu, AUTHOR FAVORITE GUE BANGET IH IH, awalnya mager baca soalnya gue liat last chap /read: chap 3/ udah lama, gue pikir nih ff gabakal dilanjut, pas chap 4 update gue iseng baca, pas tau konfliknya sehun taeyeon sodara ah cuss langsung baca chapter 1, gabaca teaser, ini greget rasanya pen gigit authornya, mana tulisannya panjang, ih gue suka deh demen sama author, tunggu diriku di chapter 2 thornim

  2. Pingback: [FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  3. Pingback: [FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 6 Teaser) | All The Stories Is Taeyeon's

  4. aigooo Taeyeon cute banget disini, padahal aslinya beda banget haha…. Sehun so sweetttt terlalu memanjakan dan sayang banget sama Taeyeon… makin suka lah sama couple ini… keren thor!!!

  5. jujur aku dulu nge vote cast namjanya chanyeol….tapi hmmm nggak pa2lah kalau sehun.sama2 cocok kok..yg penting jalan cerita.ya bagus kok…semangat!!!!

  6. Pingback: [FREELANCE] Forbodden Love (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

  7. wahhhh tebakanku salah /.\ aku pikir yg jd kakaknya itu kris, ehhh ternyata sehun. huuwwaaa pairing favorite aku huntae โค duhhh jd pingin punya kk kayak sehun xD wkwk
    njuttt thor

  8. mianhae thor baru sempet baca….huaaaa ff nya kerennnnnnn akhirnya sehun jadi castnya hehe…
    Taeng manja bgt, suka ama karakter taeng di ff ini. kata2 taeng lucu bgt…wehhhh yg terakhir sehun hanya pake cd?? bhaksss kebiasaan sehun ya thor tidur hanya pake gitu??? sehun soswet bgt ama taeng, wahhhh kedekatan mereka terlalu berlebihan seperti sepasang kekasih…ff daebak…aku lanjut thor
    Luhan??? semoga d next berikut bnyk moment LuTae…okehh sekian aku next ke part 2 ๐Ÿ™‚

  9. Keren thor ๐Ÿ‘,smoga endingya sama sehun ๐Ÿ˜„ dan semoga aja taeyon itu anak angkat ๐Ÿ˜Š keep writing ya thor

  10. Keren thor ๐Ÿ‘,smoga endingya sama sehun ๐Ÿ˜„ dan semoga aja taeyon itu anak angkat ๐Ÿ˜Š keep writing ya thor๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

  11. Pingback: [FREELANCE] Forbidden Love (Chapter 7) | All The Stories Is Taeyeon's

  12. Chapter 1 bagus banget ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘
    Taeyeon lucu, imut, manja, & menggemaskan ๐Ÿ˜˜๐Ÿ’œ
    sehun sebagai oppanya juga perhatian , & sayang banget ma taeyeon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s