Love, That One Word (Chapter 5)


NADIA’s PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Angst

Length : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Kang Seulgi as Park Seulgi, Byun Baekhyun

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster ArtFantasy @leesinhyo art


Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2, Chapter 3, Chapter 4

Preview of chapter 4

From : Yul

16:33PM, Korean Time.

Taeyeon-ah, aku benar-benar turut berduka cita. Aku tidak menyangka ini semua akan terjadi. Aku harap kau di sana baik-baik saja, kau jangan terburu-buru untuk kembali ke Seoul. Aku mohon, aku menyayangimu, Tae.

From : BBH oppa

16:30PM, Korean Time.

Hei kenapa handphone-mu tetap belum aktif sampai sekarang? Kau tidak apa-apa? Dari tadi aku terus mencoba menghubungimu, balas pesan ini jika kau membacanya. Everything’s gonna be alright.

From : Jongin oppa

16:25, Korean Time

Taeng? Kau sudah mendengar kabarnya dari Yuri? Maaf, oppa juga baru mengetahuinya. Oppa sekarang berada di rumah sakit melihat keadaannya, dan aku berharap Yuri hanya salah bicara, tapi ternyata, dia benar. Kau yang sabar, Taeng-ah.

From : Yul

16:01, Korean Time

Tae, aku mendapat kabar dari seorang temanku yang berada di rumah sakit. Mereka bilang, ada seorang pasien kecelakaan mobil, pasien itu Seulgi. Aku belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelumnya kakak-mu sempat di operasi, tapi saat dalam proses, kakakmu kehilangan banyak sekali darah. Kakakmu tidak bisa tertolong. Mianhae.

From : BBH oppa

15:49

Para dokter sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan hidup kakakmu, tapi mereka menyerah, mereka tidak bisa menyelamatkan kakakmu. Kakakmu kehilangan banyak sekali darah, maafkan aku, aku tidak bisa menepati janjiku yang kubuat tadi. Maafkan aku yeonie-ah. Maafkan aku.

From : BBH oppa

11:59, Korean Time

Yeonie-ah, apa kau sudah sampai di Jepang? Atau masih berada di dalam pesawat? Seseorang baru saja memberitahuku, bahwa Seulgi mengalami kecelakaan mobil. Kondisinya sangat parah, sekarang aku berada di rumah sakit, menunggu dokter-dokter keluar dari ruangan Seulgi dan mengatakan bagaimana kondisinya sekarang. Yeonie-ah, dengar ini, oppa berjanji, tidak akan ada hal yang buruk terjadi kepada kakakmu. Seulgi akan baik-baik saja.

From : Seulgi eonni

10:09

Baby Tae, maafkan eonni. Maafkan eonni jika selama ini eonni mempunyai banyak salah kepadamu. Maafkan eonni jika selama ini eonni terlalu mengekangmu. Tapi percaya pada eonni, eonni melakukan itu semua karena eonni menyayangimu, eonni sangat menyayangimu tanpa alasan. Apa kau tahu, kenapa orang tuamu meninggal? Kau jangan marah, tapi kenyatannya orang tua-ku lah yang telah membunuh mereka. Mereka kecelakaan karena perbuatan Ibu dan Ayahku. Ibu dan Ayahku jahat, mereka menginginkan harta yang kedua orang tuamu miliki. Kalau kau ingin marah pada mereka, lakukanlah, tapi jangan sampai kau juga marah pada eonni. Eonni tidak mau orang yang paling eonni sayang marah pada eonni. Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengecek CCTV yang eonni ambil dari perusahaan, eonni simpan CCTV itu di kamarmu, di dalam lemari bajumu. Kau serahkan CCTV itu ke kantor polisi setelah kau mendapatkannya, eonni ingin Ibu dan Ayahku masuk penjara. Karena kalau tidak, mereka tidak akan berhenti menyakitimu.

Baekhyun, eonni mempercayakanmu padanya. dia akan menjagamu setelah eonni pergi. Baekhyun orang yang baik, Baby Tae, eonni yakin kau akan menyukainya. Oh ya, apa kau masih ingat kenapa eonni begitu keras ingin kau belajar memasak? Karena eonni yakin, hal seperti ini akan terjadi, eonni akan meninggalkanmu. Eonni ingin setelah eonni pergi, kau menggantikan eonni menikah dengan Baekhyun. Baekhyun menyukai perempuan yang pintar memasak. Kau jangan malas untuk terus belajar memasak ya, sayang.

Eonni rasa pesan dari eonni terlalu panjang? Tangan eonni juga sepertinya tidak kuat memegang handphone terlalu lama lagi, kaki eonni sudah tidak dapat eonni rasakan, begitu juga dengan badan eonni, semuanya mati rasa, semuanya kaku. Belum ada orang yang menolong eonni di sini, tempat ini terlalu sepi, sampai-sampai orang-orang tidak tahu bahwa di sini terjadi kecelakaan. Eonni takut? Tidak, eonni sama sekali tidak takut di sini, kau jangan mengkhawatirkan eonni, justru yang eonni takutkan adalah kau, Baby Tae. Jika eonni benar-benar pergi, jangan pernah membuat eonni sedih di ‘sana’ ya? Kau harus tetap menjadi Taeyeon yang sekarang, Kim Taeyeon yang ceria, Kim Taeyeon yang suka membuat orang lain tertawa jika berada di dekatmu. Eonni harap pesan ini terkirim padamu. Eonni menyayangimu, eonni sayang Kim Taeyeon. Selamat tinggal sayang.

Chapter 5

Flashback

Seulgi berhenti berjalan ketika dia melihat gelagat aneh Tn. Park yang sedang berjalan terburu-buru menuju tangga darurat. Tanpa berpikir panjang, Seulgi mengikutinya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun agar tidak ketahuan. Gadis itu berhenti, dan sembunyi di bawah tangga dekat pintu, dan menajamkan telinganya untuk mendengar apa yang Tn. Park bicarakan dengan seseorang di sebrang telponnya.

“Kau sudah bersiap-siap di apgujeong?.” Tanya Tn. Seulgi kepada seseorang di sebrang telponnya.

“Baiklah, lakukan tugas kalian dengan baik dan bersih. Jika mobil yang ditumpangi Taeyeon sudah melewati daerah Apgujeong, kalian langsung serang dia, habisi dia. Dan jika supirku ikut campur, kau bunuh saja juga dia.”

Mendengar ini, Seulgi terkejut bukan main. Tn. Park benar-benar akan membunuh Taeyeon. Tidak, tidak boleh, Seulgi harus mencegahnya. Dia tidak mau kehilangan Taeyeon.

Dengan cepat, gadis itu pergi meninggalkan tangga darurat itu menuju rumahnya untuk mencegah Taeyeon pergi menggunakan mobil yang sudah diincar para suruhan Tn. Park. Perasaannya tak karuan, dia takut jika Taeyeon sudah pergi bersama paman Jung menuju bandara.

“Kalian harus fokus, jangan sampai kehilangan jejak mereka, araseo?.”

“Meskipun nanti kami kehilangan jejak mereka, tenang saja, karena tadi pagi salah satu dari kami pergi ke rumah Tn. Park, dan membuat rem mobil yang akan digunakan Kim Taeyeon tidak berfungsi. Ketika ditikungan apgujeong, supir pribadi Tn. Park tidak akan bisa mengendalikan mobilnya.”

“Kalian benar-benar telah mempersiapkannya dengan sangat baik. Aku akan menunggu hasilnya.”

Tn. Park memutuskan sambungan telponnya. Laki-laki tua itu menyeringai tajam. “Kim Jongkook, sebentar lagi putri kesayanganmu akan menyusulmu ke neraka.”

Love, That One Word

Seulgi beberapa kali mencoba untuk menghubungi Ayah dan Ibunya, namun nihil, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilannya. Gadis itu memukul stir-nya kasar dan menghela napas. Perjalanan menuju kantor ayah-nya menjadi sangat jauh karena gadis itu harus memutar jalan. Dia tidak mau mengambil resiko, jika dia mengemudi melewati jalan yang biasa dia lewati, dia akan menjadi korban para suruhan Tn. Park. Bukannya mereka sedang bersiap-siap di Apgujeong? Dan perjalanan menuju kantor Ayahnya itu tentu saja melewati Apgujeong.

Seulgi heran, kenapa orang tuanya begitu tergila-gila akan harta? Apakah sudah tidak cukup dengan kekayaan yang mereka punya saat ini?

Gadis itu mengernyit ketika dia menginjak rem. Ada lampu merah, namun ketika gadis itu menginjak rem, mobilnya sama sekali tidak berhenti. Hampir saja gadis itu menabrak sebuah motor yang melintas di depannya, namun Seulgi sigap untuk menghindarinya.

Seulgi mulai panik, dia baru menyadari bahwa mobil yang dikemudikan olehnya remnya tidak berfungsi. Mobil ini tidak bisa dihentikan, sedangkan dirinya mengemudi dalam kecepatan yang tinggi. Gadis itu membulatkan kedua bola matanya panik ketika dia melihat di depan terdapat tikungan yang sangat tajam. Tikungan itu sangat terkenal karena seringnya kecelakaan terjadi di sana. Seulgi memejamkan matanya rapat, dan setelah itu suara tabrakan ‘pun terdengar sangat keras.

Seulgi membuka matanya perlahan, rasa sakit dia rasakan di seluruh tubuhnya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, untuk membiasakan matanya bertemu dengan cahaya matahari yang sangat terik.

Seulgi meraih handphone yang terletak tidak jauh dari tempat dia tergeletak, susah payah dia menggapai handphone itu, karena posisi tubuhnya saat ini sangat tidak memungkinkan. Tubuhnya terhimpit oleh kursi dan kemudi. Dengan susah payah dia merentangkan tangannya agar bisa menggapai handphone itu, dia mengeluarkan napas lega setelah tangannya berhasil menggapainya.

Dia mengetik sesuatu di dalam handphone-nya, setelah berhasil terkirim, gadis itu menghapus pesan yang dia kirim tadi lalu menyimpannya sembarang. Matanya kembali terpejam. Sakit.

Apakah ini yang dirasakan kedua orang tua Taeyeon dulu? Kelopak mata Seulgi perlahan mengeluarkan cairan bening membayangkannya. Dia masih berharap, berharap ada orang yang menemukannya. Seulgi tidak ingin meninggalkan Taeyeon, setidaknya sampai dia bisa menitipkan Taeyeon kepada orang yang dapat dia percaya.

Love, That One Word

Taeyeon POV

Aku membulatkan kedua bola mataku terkejut. Ini pasti mimpi ‘kan? Semua pesan dari mereka, pasti mereka hanya bercanda? Seulgi eonni, dia tidak pergi ‘kan? Tanganku bergetar, sehingga dengan tidak sadar handphone yang berada di dalam genggamanku jatuh ke lantai begitu saja.

Sooyoung memandangku heran. “Hey, kau kenapa?.”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku takut, aku takut kalau itu benar-benar kenyataan, aku takut kalau Seulgi eonni meninggalkanku. Air mata turun membasahi pipiku tanpa disadari, membuat Sooyoung yang sejak dari tadi memandangku heran terkejut. Gadis tinggi itu menghampiriku cepat.

“Taeng-ah, kau tidak apa-apa? Kau kenapa menangis?.” Sooyoung mengguncang bahuku lembut. Bibirku kaku, aku ingin menjawab pertanyaan Sooyoung, tapi sulit sekali. Yang kukeluarkan hanya suara tangisan kecil sekarang.

Kulihat Sooyoung mengambil handphone-ku yang tadi terjatuh, beberapa saat kemudian, kulihat gadis itu membulatkan matanya terkejut, persis seperti yang tadi aku lakukan ketika pertama kali membaca pesan itu. Sooyoung memandangku nanar.

“Itu semua bohong ‘kan?.” Akhirnya, aku bisa mengeluarkan suaraku, rasanya sakit, bahkan hanya untuk mengeluarkan napas ‘pun rasanya sakit. “Mereka berbohong ‘kan, soo?.” Lanjutku.

Tangan panjang Sooyoung meraihku ke dalam pelukannya. Dia memelukku erat, tangannya mengelus rambutku lembut. Karena dia jauh lebih tinggi dariku, bisa kurasakan bibirnya bergetar di atas kepalaku. “Taeng-ah, kau harus sabar.”

Tidak. Bukan ini yang ingin aku dengar dari mulutnya. Aku ingin mendengar Sooyoung berkata kalau semua itu hanya bohong, mereka semua yang ada di seoul sedang mengerjaiku. Itu yang ingin aku dengar. Tuhan, aku mohon.

Handphone yang ada di genggaman Sooyoung begetar, handphone-ku bergetar. Sooyoung mengecheck siapa yang memanggil ke nomorku. “Byun Baekhyun.” Ujarnya pelan.

Dengan perlahan aku mengambil handphone-ku yang berada di genggamannya. Aku langsung menempelkannya ke dekat telingaku setelah tadi Sooyoung terlebih dahulu telah memencet tombol hijau.

“Yeonie-ah?.”

Suaranya, entah kenapa membuat panikku sedikit demi sedikit menghilang. Suaranya terdengar sangat lembut dan tenang, tapi aku juga bisa menangkap nada panik di sana.

“Taeyeon-ah?.”

Sekali lagi suara itu memanggilku, bukan dengan nama panggilan yang biasa dia ucapkan, tapi nama asliku. Aku tidak berani menjawab, sungguh, aku takut kalau Baekhyun oppa akan berbicara apa yang saat ini aku tidak ingin dengar.

“Yeonie-ah, jawab aku.” Suaranya terdengar sangat memohon kali ini.

“Oppa.” Aku menjawabnya dengan nada suara pelan, aku menatap Sooyoung yang juga tengah menatapku, tangan gadis itu masih setia merangkul pundakku.

“God, akhirnya kau berbicara juga. Kau tidak apa-apa?.” Tanya Baekhyun oppa lembut. Aku menggeleng menjawabnya, meskipun aku tahu bahwa dia tidak bisa melihatku.

“Apa eonni-ku baik-baik saja?.”

Hening. Baekhyun oppa tidak menjawabku. Di saat itulah air mataku kembali turun. Ini benar-benar nyata.

“Mianhae, yeo-.”

“Aku tidak butuh kata maafmu, aku hanya ingin kau mengatakan kalau eonni-ku baik-baik saja!.” Aku kehilangan kendali, pertama kalinya aku berteriak kepada orang dengan perasaan marah dan kesal seperti sekarang ini. Bahkan secara tidak sadar juga aku berbicara formal kepada Baekhyun oppa.

“Seulgi tidak baik-baik saja. Dia sudah pergi, yeon.”

Aku menggeleng keras, ya tuhan. Seulgi eonni, kau benar-benar pergi meninggalkanku? Meninggalkanku kembali sendiri?.

“Bagaimana mungkin. Oppa, katakan kalau oppa hanya berbohong padaku.” Desakku dengan diiringi tangisan. Tangisanku sudah tidak bisa terkontrol. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Sooyoung.

“Aku tidak berbohong, eonni-mu benar-benar sudah pergi.”

Ucapannya membuatku lemas, handphone-ku kembali terjatuh. Beruntung karena kali ini Sooyoung dengan sigap mengambil handphone yang hampir terjatuh itu. Ku lihat gadis itu berbicara kepada Baekhyun oppa, namun aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Kepalaku terlalu pusing untuk sekedar mencernanya.

Love, That One Word

@Incheon International Airport, Seoul.

Setelah mendapat kabar bahwa eonni-ku meninggal, aku langsung kembali ke Korea keesokan harinya. Sebenarnya malam itu juga aku ingin langsung terbang ke korea, namun tidak ada jadwal penerbangan malam itu, sehingga aku harus menunggu sampai hari ini. Dan untungnya aku mendapatkan jam penerbangan pertama.

Sooyoung menemaniku, dia begitu khawatir padaku. Sejak dalam pesawat tadi, yang aku lakukan hanya menangis di pelukannya. Aku tidak mengindahkan tatapan yang diberikan para penumpang pesawat tadi begitupun juga dengan Sooyoung, seolah hanya ada kami berdua di sana.

Sekarang aku sedang duduk di salah satu kursi tunggu Bandara Incheon. Sooyoung sedang pergi mencari makan dan minum untukku. Aku menolaknya, tapi Sooyoung tetap bersikeras, dia berdalil aku akan sakit jika aku tidak makan. Apalagi sebelum berangkat ke bandara tadi aku belum makan dan minum sedikitpun.

“Yeonie-ah.”

Sebuah suara memanggilku. Suara itu, suara yang entah sejak kapan jika aku mendengarnya membuatku tenang. Aku mendongak, dan mendapati Baekhyun oppa dengan setelan serba hitamnya. Pelipisnya basah oleh keringat, dan napasnya pun terlihat tidak beraturan. Baekhyun oppa lari kesini?

“Oppa~.”

Baekhyun oppa berjongkok di atas lututnya dan membawa tubuhku ke dalam dekapan hangatnya. Tanganku terlalu lemas untuk sekedar terangkat dan membalas pelukannya, sehingga ketika Baekhyun oppa mengeratkan pelukannya aku hanya diam dan menikmatinya.

Wangi maskulin pria yang sangat segar memasuki rongga hidungku. Wangi yang biasanya aku benci jika berada di dekat Jongin oppa, tapi entah kenapa wangi maskulin yang berada di tubuh Baekhyun oppa aku sangat menyukainya. Aku ingin bertanya mengenai eonni-ku, tapi lidah ini terasa kelu.

Setelah beberapa saat, Baekhyun oppa melepaskan pelukannya dari tubuhku. Dia menatapku dalam, tangannya terangkat dan mengusap pipiku lembut. Mataku terpejam menikmati sentuhannya. “Kau tidak apa-apa?.”

Aku menggeleng menjawab pertanyaan Baekhyun oppa. Aku sakit oppa, aku sakit, hatiku sakit. Kenapa ini terjadi padaku? Pada hidupku?

“Jangan menangis, yeonie-ah.” Tangannya menghapus air mata yang entah sejak kapan kembali keluar dari mataku. Mendengarnya berkata seperti itu, bukan membuatku berhenti mengeluarkan air mata, justru air mata itu semakin banyak keluar.

“Orang-orang yang aku cintai, satu persatu pergi meninggalkanku.”

Baekhyun oppa menggelengkan kepalanya mendengar ucapanku. “Jangan berbicara seperti itu, itu semua tidak benar.”

Aku memilih diam tidak membalas kembali ucapannya. Tangan Baekhyun oppa yang membelai pipiku berhenti, lalu tangannya turun dan memegang tanganku erat. Matanya menatapku dalam, aku bisa merasakannya meskipun aku sedang menunduk menyembunyikan tangisku saat ini.

“Taeng-ah, kau makan dulu ya.”

Suara Sooyoung terdengar, gadis itu ikut berjongkok di samping Baekhyun oppa dan menatapku yang duduk di atas kursi. “Aku makan di mobil saja.” Ujarku pelan. Aku tidak mau berlama-lama lagi berada di sini, aku ingin segera bertemu dengan eonni-ku.

Sooyoung mengangguk mengerti. Dia lalu membantuku berdiri, begitu juga dengan Baekhyun oppa. Mereka menggandengku keluar bandara menuju mobil Baekhyun. Lagi-lagi, orang-orang memandangi kami, lebih tepatnya diriku mungkin.

Love, That One Word

Setelah dari bandara, kami langsung pulang menuju rumahku. Aku menolak ketika Baekhyun oppa mengajakku untuk pergi ke pemakaman. Aku bukan tidak mau, aku hanya belum siap, dan aku juga tidak terbiasa pergi ke pemakaman dengan banyak orang. Jika aku mengunjungi pemakaman Ibu dan Ayah ‘pun, aku selalu sendiri tanpa ditemani oleh siapa-siapa.

Kami memasuki rumah, di ruang keluarga, aku dapat melihat Yuri, Jongin oppa, Chanyeol oppa, Lay oppa, dan seorang laki-laki yang familiar tapi aku tidak mengenalnya, mungkin.

Yuri berlari menghampiriku dengan wajah yang sangat khawatir, tangannya meraihku ke dalam pelukannya membuat tangan Baekhyun oppa yang sedari tadi ketika aku turun dalam mobil berada di pundakku, kini terlepas. Tanganku terangkat, dan memeluk tubuh Yuri lebih erat. Dia sahabat kecilku, dia yang paling mengerti aku selain Seulgi eonni. “Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Taeyeon-ah.”

Aku mengangguk dan kembali menangis. Aku merasakan tangan mengelus puncak rambutku pelan, aku mendongak dan dapat ku lihat Jongin oppa tersenyum kepadaku.

“Biarkan Taeyeon duduk dulu, dia pasti lelah.” Suara Baekhyun oppa membuat pelukanku dan Yuri terlepas. Yuri mengangguk menuruti perintah Baekhyun oppa, dan kini gadis itu membawaku duduk di salah satu kursi kosong di dekat laki-laki yang tidak kuketahui namanya itu. Dia siapa? Apakah teman Seulgi eonni?

“Jelaskan padaku.” Ucapku pada mereka pelan. Mereka pasti mengerti apa yang ku maksud. Ya, aku ingin tahu kenapa kecelakaan yang menimpa Seulgi eonni terjadi. Yang aku tahu, eonni-ku sangat baik dalam hal mengemudi, bahkan serusuh apapun eonni, dia tidak pernah mengebut menjalankan mobilnya.

“Mobil yang Seulgi kemudikan, rem-nya tidak berfungsi.” Ujar Lay oppa. Aku menatapnya dengan kening berkerut.

“Tidak, tadi eonni sudah berangkat. Namun baru saja sampai di perempatan, ban mobil eonni bocor, eonni harus menambalnya. Kalau eonni memakai taksi untuk pergi ke kantor, akan sangat telat. Makanya eonni kembali kesini, mumpung jaraknya masih sangat dekat. Kau tidak apa-apa kan pergi ke bandara memakai taksi? Eonni akan memakai mobil ini dulu untuk sementara.”

Aku memutar kembali otakku ke waktu di mana aku dan paman Jung hampir pergi ke bandara dengan menggunakan mobil itu. Saat itu eonni datang dan kembali bersikap aneh, bahkan dia menangis. Apa eonni sudah tahu kalau mobil itu rem-nya rusak? Kalau eonni tahu, eonni tidak mungkin memakainya ‘kan?

“Mobil yang dikemudikan Seulgi hilang kendali saat berada di tikungan Mapo, dan menabrak jembatan jalan.”

Aku memejamkan mataku, kepalaku kembali pusing mendengarnya. Eonni, kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau meninggalkanku?

“Yul, soo, antarkan aku ke kamarku. Aku lelah.”

“Ayo.”

Aku berjalan mendahului mereka, aku tidak ingin dipapah, aku tidak selemah itu. Aku hanya ingin di antar.

Sesampainya di depan kamarku aku berbalik dan menghadap Yuri. “Eomma dan Appa-ku dimana Yul?.”

Aku bertanya padanya. jangan bilang kalau mereka masih di kantor? Ayolah, Seulgi eonni meninggal tapi mereka bersikap seolah tidak memperdulikannya, terbukti karena mereka tidak ada di rumah.

“Sebelum kau datang, mereka keluar, mereka bilang ingin bertemu seseorang. Mereka akan kembali nanti sore.” Aku mengangguk mendengarnya.

“Aku ingin istirahat, dan aku tidak ingin diganggu. Kalian bisa ‘kan meninggalkanku?.”

Mereka terdiam mendengar permintaanku. Aku mengerti, mereka pasti mengkhawatirkanku. Terlebih dulu, ketika orang tua-ku meninggal, aku hampir saja bunuh diri. “Aku tidak akan melakukan hal yang bodoh, aku janji.” Ucapku pada mereka.

Yuri dan Sooyoung akhirnya mengangguk. Sooyoung mengusap puncak rambutku lembut. “Pegang janjimu itu.”

Aku mengangguk dan tersenyum ke arah mereka. “Sooyoung-ah, kau bisa menaruh barangmu di kamar bawah, di sana kosong.”

“Araseo.”

Setelah memastikan mereka pergi meninggalkanku, akupun memasuki kamar. Berjalan masih dengan pandangan kosong.

CCTV

Aku tiba-tiba teringat dengan pesan yang eonni kirimkan padaku. Dia berbicara soal CCTV, dan didalamnya ada rekaman tentang kejahatan Tn. Park dan Ny. Park.

Author POV

Taeyeon berjalan mendekati lemari pakaian, lalu mencari rekaman CCTV itu di setiap lipatan baju miliknya. Beberapa saat kemudian, rekaman CCTV itu ditemukan, tersimpan di salah satu kantong saku baju kemejanya. Taeyeon memandang CCTV itu lekat. ‘Kenapa eonni malah menyuruhku untuk memberikan CCTV ini? Kenapa bukan eonni sendiri yang memberikannya?.’

Banyak pertanyaan di dalam otaknya yang tidak bisa terjawab. Apakah Seulgi telah mengetahui tentang ini sejak lama? Karena kalau iya, Taeyeon sekali lagi menyesali telah berbohong kepada Seulgi. Sebenarnya Taeyeon telah mengetahui tentang kejahatan Tn. Dan Ny. Park satu bulan setelah mereka mengangkat Taeyeon menjadi anaknya. Namun Taeyeon hanya diam, dan tidak berani bicara tentang hal ini kepada siapapun, dia tidak punya bukti, dan dia takut dituduh pembohong. Apalagi saat itu adalah masa-masa dia sangat dekat dengan Seulgi, Taeyeon takut kalau Taeyeon jujur, justru hubungan mereka jadi jauh.

Taeyeon mengeratkan genggamannya pada rekaman CCTV itu. Apakah dia harus menyerahkan rekaman itu kepada kantor polisi?

Taeyeon terbangun dari tidurnya. Gadis itu melirik jam yang menggantung di dinding bercat-kan warna pink. Pukul 16:29. Bukankah ini sudah sore? Tn. Dan Ny. Park pasti sudah berada di rumah saat ini.

Taeyeon mengusap matanya yang terasa berat. Sebelum Taeyeon tertidur tadi, gadis itu sempat menangis kembali. Sehingga sekarang matanya sembab.

Taeyeon berdiri dari kasur dan berjalan keluar dari kamarnya. Gadis itu menuruni anak tangga satu persatu, dan tiba di ruang tengah, gadis itu dapat melihat ketegangan diantara Baekhyun, Tn. Dan Ny. Park.

Taeyeon mengernyit. Ada apa dengan mereka? Kenapa ekspresi Baekhyun begitu keras? Taeyeon menggelengkan kepalanya mencoba untuk tidak peduli.

“Eomma, appa.”

Ketiga orang itu menoleh ke asal suara mendapati Taeyeon yang tengah menatap mereka dengan pandangan bingung. “Taeyeon-ah, kesini sayang.”

Taeyeon menatap Ny. Park lurus, sebelum akhirnya gadis itu tersenyum kecil dan berjalan mendekatinya. Taeyeon memeluk Ny. Park erat. Membuat Baekhyun yang melihat adegan itu terkejut. ‘Apakah Taeyeon belum tahu yang sebenarnya? Tapi, bagaimana bisa?.’ Ucap Baekhyun dalam hati.

“Eomma, Seulgi eonni pergi~.” Taeyeon menangis di dalam pelukan Ny. Park. Kalau boleh jujur, bukan hanya Baekhyun yang terkejut di sini. Ny. Dan Tn. Park ‘pun sama terkejutnya. Mereka berdua berfikir kalau Seulgi telah memberitahu tentang kejahatan mereka kepada Taeyeon, tapi melihat reaksi Taeyeon seperti ini, mereka secara diam-diam menghela nafas. Seulgi tidak memberitahu Taeyeon, pikir mereka.

“Sudahlah sayang, ini sudah takdir. Jangan menangis.” Tn. Park bersuara, tangannya mengusap puncak kepala Taeyeon lembut. Taeyeon mengangguk pelan, gadis itu perlahan melepaskan pelukan mereka.

“Oppa, tidak pulang?.” Kali ini Taeyeon menatap Baekhyun yang sejak tadi terdiam memperhatikan mereka. Baekhyun menggeleng. “Aku akan menginap satu hari di sini, bukankah Tn dan Ny Park akan kembali ke kantor? Aku sudah berjanji pada Seulgi untuk tidak meninggalkanmu sendiri.”

“Tapi ada Sooyoung di sini, dia akan menemaniku.” Sebenarnya mendengar Baekhyun akan menginap dan tidak akan meninggalkannya sendiri, itu membuat Taeyeon senang. Apakah laki-laki itu melakukan semuanya karena peduli? Atau karena atas permintaan Seulgi seperti apa yang dia dengar barusan?

“Dia perempuan, bagaimana mungkin aku meninggalkan kau berdua bersama seorang wanita. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Bahaya sedang mengincarmu, yeon.”

Dapat Taeyeon lihat Baekhyun melirik Tn dan Ny Park dengan ujung matanya. Taeyeon menatap Baekhyun dalam. ‘Baekhyun oppa juga mengetahuinya.’

“Eomma, appa, kalian mengijinkan Baekhyun oppa untuk menginap?.” Taeyeon menatap Ny dan Tn Park secara begantian. Memohon agar mereka menyetujuinya.

Baekhyun benar, keselamatannya terancam. Apalagi kalau hanya ada dirinya dan Sooyoung di sini. Bukankah mereka akan dengan sangat mudah melakukan sesuatu yang buruk pada Taeyeon?

Ini tidak boleh terjadi.

‘Angel’ tidak selamanya ‘Angel’ ‘kan?. Begitupun dengan Taeyeon, berkali-kali dia disakiti oleh orang yang sama. Taeyeon tidak akan tinggal diam, dia akan balas dendam. Ya, balas dendam kepada mereka. Dan Baekhyun di sini sangat berperan penting menurutnya, bukankah laki-laki itu akan melindungi Taeyeon agar sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya? taeyeon akan berpegang pada Baekhyun selama dia mencari jalan keluar untuk balas dendam.

“Tapi kau harus pulang, baekhyun. Kau itu anak pengusaha, pasti banyak kerjaan yang harus kau kerjakan.”

“Tidak Tn. Park, aku bisa menyerahkan semua itu pada sekretarisku.” Bela Baekhyun.

“Tapi tidak baik bagi seorang laki-laki menginap di rumah perempuan. Orang lain akan berfikiran buruk.”

Baekhyun menggeram kesal dalam hati. Tn dan Ny. Park benar-benar menguji kesabarannya. Berfikir Baek, berfikir. Kau jangan kalah dengan orang tua ini.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam pikirannya. Sebuah ide yang sangat bodoh tapi entah kenapa laki-laki itu harus melakukannya.

“Tenang saja, bukannya aku akan segera menikahi putri anda?.”

tn. Park mengernyit dan tertawa kecil. “Oh ayolah anak muda, kau akan menikahi siapa? Seulgi sudah meninggal.”

Taeyeon menatap Tn. Park terkejut. Bagaimana laki-laki tua ini bisa dengan santainya berucap seulgi meninggal? Seperti tidak ada beban sedikitpun. ‘Eonni, kau benar-benar mempunyai orang tua yang jahat.’

“Perusahaanku dan perusahaan anda telah bekerja sama dalam waktu yang cukup lama. Bukankah anda ingin lebih mempererat perusahaan kita? Dan aku sudah bilang, cara lebih mempererat perusahaan kita adalah dengan aku menikahi putri anda. Apa anda lupa?.”

Baekhyun memandang remeh Tn. Park. Benar, sudah sangat lama perusahaan mereka bekerja sama, dan perusahaan Baekhyun yang memiliki kekuasaan paling besar. Bukankah jika kerja sama mereka terputus, kerugian bagi Tn dan Ny Park akan sangat banyak? Baekhyun menyeringai dalam hati.

“Baekhyun, Seulgi sudah meninggal. Bagaimana mungkin kau akan menikahi putriku.”

Baekhyun berdecak sebal. Pemikiran mereka lambat sekali. “Aku tidak akan menikahi Seulgi, yang akan aku nikahi adalah Taeyeon. Bukankah Taeyeon juga putri kalian? Kalian bersikap seolah putri kalian hanya Seulgi.”

Taeyeon membulatkan kedua bola matanya terkejut. Gadis itu menatap Baekhyun yang juga tengah menatap matanya dalam. Oh ayolah, ini bukan mimpi ‘kan? Baekhyun oppa, kau jangan bunuh aku, apa kau tidak tahu ucapanmu barusan membuat jantungku berdetak tidak normal di dalam sana?

“Tentu saja Taeyeon juga putri kami, tapi maaf, kami tidak akan mengijinkanmu untuk menikahi Taeyeon.”

Baekhyun menatap Tn. Park dengan kening berkerut. Cukup berani juga mereka mempertahankan Taeyeon.

“Baiklah, kalau kalian tidak mengijinkannya, mohon maaf jika besok perusahaan kalian tidak lagi menjadi salah satu perusahaan yang aktif di Seoul. Saya akan mencabut semua investasi yang telah saya berikan.”

Baekhyun bersiap-siap untuk pergi meninggalkan rumah itu, namun suara Ny. Park menghentikannya.

“Baekhyun-ah, kau harus mengerti, kita tidak menyetujuinya karena Taeyeon masih harus menyelesaikan sekolahnya di Jepang. Di sana ada peraturan bahwa seorang mahasiswa tidak boleh menikah sebelum mahasiswa itu benar-benar lulus.”

“Jika Taeyeon menikah denganku, dia tidak perlu menyelesaikan kuliahnya. Dia akan hidup baik-baik saja denganku, dia tidak perlu bekerja, karena hanya aku yang akan bekerja mencari uang untuk masa depan kami. Tugas seorang istri bukan bekerja, bekerja adalah tugas seorang suami.” Ujar Baekhyun serius.

Tn dan Ny. Park saling pandang satu sama lain. Tidak ada cara lain, karena kalau mereka menolak, perusahaan mereka akan benar-benar hancur.

“Baiklah, kami menyetujuinya.”

Love, That One Word

“Jadi Taeyeon bukan anak kandung keluarga Park?.” Chanyeol bertanya kepada Lay. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sangat jelas.

Lay mengangguk, tangannya masih sibuk membolak-balikan majalah kuliner yang baru saja dibelinya minggu lalu. “Awalnya aku juga tidak percaya.”

“Lalu kenapa tadi Luhan hyung tidak berbicara pada Taeyeon? Bukankah kalian sudah kenal sejak lama?.” Kali ini Chanyeol bertanya kepada Luhan yang sejak tadi pergi dari rumah Taeyeon hanya diam. Ini cukup membuat Lay aneh, karena biasanya Luhan jarang diam seperti ini, kecuali kalau sesuatu sedang mengganggu pikirannya.

“Dia sedang berduka, aku jadi segan untuk sekedar mengucapkan ‘hai’ kepadanya.”

Luhan menghela napas. Mata rusanya menatap Lay ingin tahu. “Laki-laki yang tadi menjemput Taeyeon di bandara, siapa dia hyung?.”

Lay memalingkan muka dari majalah yang dia baca, lalu menatap Luhan. Oh, jadi ini yang sedang mengganggu pikirannya? Luhan mungkin cemburu melihat Taeyeon bersama Baekhyun tadi.

“Byun Baekhyun, dia tunangan Seulgi dan dia juga sahabatku dan Chanyeol. Kau tenang saja, dia hanya memperlakukan Taeyeon sebagai adiknya.”

Luhan mengangguk mendengarnya. Untung saja, padahal tadi Luhan mengira Baekhyun itu adalah pacarnya Taengoo.

“Tunggu dulu, Byun apa?.”

“Byun Baekhyun. Wae?

“Dia direktur perusahaan Byun yang berjalan di bidang elektronik itu bukan?.” Tanya Luhan kepada Chanyeol dan Lay.

“Iya. Hebatkan dia, masih muda sudah menjadi pemegang tertinggi saham perusahaan Byun. Tidak seperti kau, yang masih duduk di bawah pimpinan ayahmu.”

Luhan menatap Lay kejam. Ucapan sarkastik Lay cukup membuat Luhan tersinggung. “Terserah kau hyung. Lagi pula aku tidak tertarik dengan jabatan yang sekarang ayahku pegang.”

Lay tertawa mendengar ucapan Lay. “Sekarang tidak, tapi nanti, lihatlah. Oh, malam ini kau benar-benar tidak akan tidur dirumahku?.”

“Tidak, aku akan tidur di rumah Jongin hyung. Sekalian aku ingin tahu kenapa bisa Taeyeon diangkat menjadi anak keluarga Park.” Luhan berujar mantap. Dia menyesal telah meninggalkan Taeyeon dulu, bahkan meninggalnya orang tua Taeyeon ‘pun Luhan baru mengetahuinya tadi dari Yuri.

Love, That One Word

“Kau dari tadi diam saja, kenapa?.”

Baekhyun memecahkan keheningan yang sejak tadi melanda dirinya dan Taeyeon. Setelah Tn dan Ny. Park pergi, mereka hanya duduk di luar rumah menunggu kedatangan Sooyoung dan Yuri yang pergi membeli bahan makanan.

Mereka hanya diam, tidak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu. Taeyeon terlalu fokus menetralkan kerja jantungnya yang semakin lama semakin tidak normal karena ucapan Baekhyun yang sangat tidak masuk akal tadi.

“Oppa juga dari tadi hanya diam, kenapa?.”

“Ya, kenapa kau balik bertanya?.” Baekhyun tertawa kecil, tangannya mengacak poni Taeyeon lembut. “Kau tidak seperti biasanya, Taeyeon yang berisik.” Lanjutnya.

Taeyeon mendengus meniup poni yang baru saja Baekhyun sentuh. “Oppa juga tidak seperti biasanya, Baekhyun pendiam dan dingin.”

Lagi-lagi Baekhyun tertawa kecil mendengar jawaban Taeyeon. Tidak tahu kenapa, melihat Taeyeon seperti ini membuatnya sangat sedih. “Kau masih memikirkan Seulgi?.” Tanya Baekhyun hati-hati.

Taeyeon menoleh dan menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit di artikan. “Tentu saja, apa oppa tidak memikirkannya? Seulgi eonni pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Apa oppa tidak sedih?.”

Baekhyun menatap Taeyeon dalam, dia yakin, beberapa detik lagi pasti air mata turun dari kelopak mata indah milik Taeyeon. “Mau ku peluk? Kau butuh sandaran untuk menangis, yeon.”

Baekhyun membuka kedua tangannya lebar, menunggu Taeyeon untuk mendekat dan memeluknya. Dia ingin menenggelamkan kepala gadis itu di dada bidangnya, membiarkannya menangis dan membasahi kemeja yang digunakannya saat ini.

Namun laki-laki itu mendesah kecil melihat Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Tidak mau.”

“Aku tidak mau berjalan kesana dan memeluk oppa, aku ingin oppa yang berjalan kesini dan memelukku.” Dengan polos Taeyeon berujar. Matanya memohon lucu.

Melihat ini, Baekhyun tertawa kecil. Ternyata dia tidak sepenuhnya di tolak. Taeyeon benar-benar berbeda dengan Seulgi. Taeyeon kekanak-kanakan, sedangkan Seulgi dewasa.

“Oppa~.” Taeyeon merajuk dan menunggu Baekhyun untuk segera mendekat. Laki-laki itu tersenyum, berjalan mendekati Taeyeon yang duduk di atas lantai bersih, lalu membawanya ke dalam pelukan hangat.

Sesuai keinginannya, Baekhyun menenggelamkan kepala Taeyeon ke dada bidangnya. Tangannya mengelus lembut puncak kepala Taeyeon. Baekhyun tersenyum senang ketika dia merasakan tangan Taeyeon perlahan memeluk pingggangnya erat, seolah gadis itu tidak ingin melepaskan pelukan itu.

“Aku juga sedih, yeon. Kau salah jika mengira aku tidak memikirkan Seulgi. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Seulgi tidak akan tenang di sana kalau kita terus menangisinya. Dia tidak akan senang jika kita terus terlarut dalam kesedihan.”

Baekhyun menengadahkan kepalanya ke atas, melihat langit yang perlahan-lahan berubah warna menjadi jingga.

Flashback

“Seulgi sudah sadar, tapi aku tidak yakin hidupnya akan lama lagi. Kondisinya setiap menit menurun.” Seorang Dokter dengan nametag ‘Song Jihyo’ berujar kepada Baekhyun. Keringat membasahi dokter cantik itu, menandakan kalau dia benar-benar berjuang keras di dalam tadi.

“Bolehkah aku melihatnya?.”

Dokter itu mengangguk. “Tentu saja.”

“Terima kasih.” Baekhyun membungkuk kepada Dokter itu dan berjalan memasuki ruangan yang di huni Seulgi.

Matanya seketika memanas melihat kondisinya, selang infus dan alat-alat rumah sakit lainnya menempel ditubuhnya. “B-ba-ek?.”

Baekhyun berjalan mendekati Seulgi yang terbaring di atas kasur. Tangannya memegang tangan Seulgi.

“Orang tuaku yang melakukan ini semua. Orang tuaku ingin membunuh Taeyeon.” Ujar Seulgi dengan terbata-bata. Sakit baginya untuk mengeluarkan suara, tapi dia benar-benar harus bicara pada Baekhyun sebelum terlambat.

Mulut Baekhyun terbuka, dan bersiap-siap mengeluarkan suaranya. Namun Seulgi menggeleng. “Aku mohon untuk saat ini, biarkan hanya aku yang bicara.” Ucap seulgi.

Baekhyun mengangguk dan mengeratkan genggaman tangannya di tangan Seulgi. Laki-laki itu kembali menunggu Seulgi berbicara.

“Tolong jaga Taeyeon untukku. Tolong lupakan perkataanmu dulu yang kau ucapkan padaku, perkataan yang ‘hanya aku satu-satunya orang yang ada di hatimu, dan posisi itu tidak akan pernah tergantikan’. Aku mohon, lupakan, dan jadikan Taeyeon satu-satunya orang yang ada di hatimu itu. Gantikan aku untuk menjaganya, bahagiakan dia, jangan buat dia bersedih. Aku mohon, ini adalah permintaan terakhirku, kau mencintaiku ‘kan?.”

Meskipun Seulgi berbicara dengan terbata-bata, namun Baekhyun bersyukur masih bisa mendengarnya dengan jelas. Baekhyun mengangguk. “Aku berjanji akan membuatnya bahagia, aku berjanji.”

Flashback End

“Yeon-ah?.” Baekhyun memanggil nama Taeyeon pelan.

“Hmm?”

“Aku ingin memberitahumu sesuatu, tapi kau harus janji suatu hal.”

“Janji apa?.” Taeyeon mengangkat kepalanya, dan bertemu tatap dengan Baekhyun yang sedang menunduk kearahnya.

“Janji jangan marah dan jangan menganggapku pembohong.” Taeyeon menangguk dan kembali menenggelamkan kepalanya di pelukan Baekhyun. “Aku janji.”

Hening sejenak, Baekhyun masih bingung bagaimana cara mengungkapkannya pada Taeyeon.

Melihat interaksi Taeyeon dengan Tn dan Ny. Park tadi membuat Baekhyun sedikit bingung. Baekhyun mengira kalau Taeyeon sudah mengetahui semuanya, semua tentang kejahatan mereka. Baekhyun mengira Seulgi telah memberitahu Taeyeon, tapi dengan melihat adegan tadi, Baekhyun yakin kalau Taeyeon memang tidak tahu apa-apa.

“Seulgi kecelakaan, itu semua adalah rencana Tn dan Ny. Park.”

Tiba-tiba Taeyeon melepaskan pelukan mereka. Gadis itu menatap Baekhyun tidak percaya. “Bagaimana mungkin, Seulgi eonni anak eomma dan appa! Kau jangan bergurau, oppa!”

‘Ya, aku tahu oppa. Mereka yang telah membuat eonni meninggal’, ujar Taeyeon dalam hati.

“Kau harus percaya, aku tidak punya bukti memang, tapi aku tidak bohong, Seulgi sudah menceritakan semuanya padaku.” Baekhyun menggenggam tangan Taeyeon.

“Aku tahu kau bukan anak kandung keluarga Park, kau Kim Taeyeon. Anak dari almarhum Kim Jongkook dan Lee Shinhyo. Orang tua kandungmu meninggal karena sebuah kecelakaan. Dan asal kau tahu, kecelakaan itu juga terjadi karena perbuatan Tn dan Ny. Park. Mereka melakukannya karena mereka mengincar harta keluarga kalian. Bahkan, mereka sekarang juga mengincarmu, yeon-ah, mereka juga ingin membunuhmu.” Lanjutnya.

‘Cukup, jangan bicara tentang masa laluku, aku mohon. Jangan membuka luka lama yang sudah ku kubur dalam-dalam ini oppa.’

“Oppa aku tahu kau tidak menyukai eomma dan appa-ku, aku bisa melihatnya dari tatapan yang kau berikan tadi pada mereka. Tapi aku mohon, kau jangan mengarang cerita seperti ini. Mereka orang yang baik-baik, mereka bukan orang jahat yang akan melakukan hal gila seperti itu.”

“Mereka bukan orang tua kandungmu, yeon-ah.”

“Oke, aku mengaku. Aku memang bukan anak kandung mereka, aku hanya anak angkat mereka. Dan asal oppa tahu, kedua orang tua kandungku meninggal karena kecelakaan murni bukan karena mereka!.”

Baekhyun mengerang frustasi, memang susah meyakinkan seseorang tanpa ada barang bukti. Lihatlah sekarang, Taeyeon pasti mengiranya pembohong.

“Terserah kau mau percaya atau tidak, aku akan mencari bukti bahwa mereka memang jahat, dan aku akan memberikan bukti itu padamu, yeon.”

‘Kau tidak akan menemukan bukti itu, karena semua bukti itu ada di tanganku sekarang.’

“Terserah kau oppa!.” Taeyeon berdiri hendak memasuki rumah, namun tangan Baekhyun mencegahnya.

“Kau mau kemana? Apa kau marah?.”

Taeyeon menghempaskan tangan Baekhyun cukup kasar. “Aku mau ke dalam, di luar dingin. Tenang saja, aku orang yang suka memegang janji, aku tidak marah padamu oppa.”

Taeyeon berlalu meninggalkan Baekhyun sendiri di luar.

‘Maafkan aku oppa, tapi kalau aku mengakui semuanya, rencanaku untuk balas dendan tidak akan berhasil’

“Tunggu dulu, yeon-ah.” Baekhyun berdiri dan berjalan mendekati Taeyeon. Tatapan matanya berubah menjadi serius.

“Mulai besok kau tinggal di rumahku, kemasi semua barang-barangmu. Kita akan meninggalkan rumah ini sama-sama.”

“Apa hak oppa menyuruhku seperti itu? Aku tidak mau, aku ingin tinggal di sini.”

“Sudah kubilang Tn dan Ny. Park mempunyai rencana jahat padamu. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa.”

Hati Taeyeon tenang mendengarnya, Baekhyun mengkhawatirkannya?

“Apa oppa melakukan ini atas kemauan oppa sendiri? Atau oppa terpaksa melakukannya karena Seulgi eonni?.”

Taeyeon berdoa dalam hati. ‘aku mohon, jangan menjawab dengan jawaban yang tidak ingin aku dengar.’

“Tentu saja aku melakukan ini atas permintaan Seulgi, aku menikahimu atas permintaan Seulgi. Menurutmu apalagi kalau bukan itu alasannya, yeon? Aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja yang dia inginkan, termasuk untuk menjagamu.”

Cukup. Taeyeon sungguh menyesal menanyakan hal itu pada Baekhyun tadi. Harusnya tanpa bertanya ‘pun dia sudah tahu jawabannya. Tentu saja Baekhyun melakukannya karena Seulgi.

Taeyeon merutuk dalam hati. Dia ingin menangis sekarang juga, perkataan Baekhyun tadi membuat hatinya sakit. Taeyeon bodoh, dengan mudahnya dia menganggap semua perlakuan manis yang Baekhyun berikan sebagai perasaan kasih sayang. Taeyeon terlalu berharap, dan harapan Taeyeon jatuh seketika saat itu juga.

Taeyeon menatap Baekhyun kecewa. ‘Terima kasih telah menyakitiku’

Gadis itupun berbalik, memasuki rumahnya tanpa mengucapkan satu katapun pada Baekhyun. Tanpa diperintah, air mata kembali jatuh dari pelupuk mata indah Taeyeon. Dia bersyukur, karena air mata itu jatuh ketika dia sudah pergi meninggalkan Baekhyun.

Love, That One Word

Taeyeon menghela napas, sudah lima hari gadis itu tinggal bersama Baekhyun di apartemennya. Awalnya Taeyeon sangat menolak ide ini, tapi karena paksaan seorang Byun Baekhyun, gadis itu mau tak mau menyerah dan menurutinya.

Sebenarnya Taeyeon akan sangat mudah menyetujui ide ini, tanpa ada paksaan ‘pun, gadis itu akan dengan mudah menyetujuinya. Namun akibat percakapannya malam itu bersama Baekhyun, Taeyeon mengubah pikirannya.

Taeyeon mengakui dirinya menyukai Baekhyun,dan ucapannya waktu itu sungguh melukai perasaan Taeyeon. Baekhyun mencintai kakaknya, hanya kakaknya seorang. Harusnya dia sudah tahu itu, Baekhyun bersikap baik padanya hanya karena perintah Seulgi.

“Taeyeon-ah, bagaimana dengan gaun pengantin yang dipilihkan Jessica?.”

Taeyeon tersadar dari lamunannya, gadis itu menatap Ny. Byun yang sedang mengelupas kulit apel.

Ny. Byun orang yang baik. Dia sering mengunjungi Taeyeon di sini, hampir setiap hari dalam kurun waktu lima hari ini Ny. Byun sering membicarakan tentang Baekhyun kepada Taeyeon. Itu semua Mrs. Byun lakukan agar Taeyeon bisa lebih mengenal Baekhyun lebih jauh, karena Ny. Byun tahu bahwa anaknya dan Taeyeon belum lama saling mengenal.

“Aku menyukainya eomma, simpel tapi elegan.”

Ya, eomma. Sejak pertama kali Baekhyun mengenalkan Taeyeon kepada keluarganya, gadis itu langsung disambut hangat. Bahkan Ny dan Tn. byun memaksa Taeyeon untuk memanggilnya eomma dan appa. Mereka tidak pernah membicarakan tentang Seulgi di hadapan Taeyeon, karena mereka tahu, pasti jauh dalam lubuk hati Taeyeon gadis itu masih berduka.

“Eomma, boleh nanti siang aku jalan-jalan keluar?.”

Ny. Byun menggeleng. “Tidak boleh, eomma tidak mau Baekhyun memarahi eomma gara-gara kau keluar.”

“Eomma tahu kau pasti bosan terus-terusan berada di rumah, tapi percayalah, Baekhyun melakukan ini karena dia tidak ingin hal buruk terjadi padamu.” Lanjutnya.

Setiap kata-kata itu terlontar, tidak lagi membuat hati Taeyeon tersentuh. Tidak seperti waktu laki-laki itu mengkhawatirkannya yang sedang sakit ketika festival musik. Karena sekarang dia mulai tahu, bahwa semua perhatian yang Baekhyun berikan padanya buakan karena kemauan laki-laki itu sendiri, tetapi karena kemauan kakaknya.

“Apa Baekhyun terlalu mengekangmu?.”

“Bahkan Seulgi eonni tidak seperti ini padaku. Dia masih mengijinkan teman-temanku untuk datang mengunjungiku.”

Ny. Byun tertawa kecil melihat Taeyeon merengut. Taeyeon gadis yang berbeda, dia tidak menjaga image-nya ketika bersama dengan Ny. Byun. Itu membuat Ny. Byun nyaman berada bersama Taeyeon.

“Sudahlah sayang, nanti saat pernikahan kalian, teman-temanmu ‘kan akan datang.”

Ny. Byun meyimpan pisau yang tadi digunakannya di atas meja lalu bersiap-siap untuk pergi. “Eomma harus bertemu dengan teman eomma. Ingat, kau jangan kemana-mana, Baekhyun akan pulang lebih awal hari ini.” Ny. Byun memberikan tatapan memperingati kepada Taeyeon yang dijawab dengan anggukan kecil.

“Araseo, eomma.”

Taeyeon menatap Ny. Byun yang pergi keluar dari apartemennya. Gadis itu lalu menutup pintu dan menguncinya rapat.

Seperti inilah setiap hari, sendiri di apartemen yang cukup besar milik Baekhyun, membuat Taeyeon sangat jenuh. Laki-laki itu melarang Taeyeon keluar dari rumah ini, dengan alasan keselamatannya terancam.

Dia ingin bertemu Yuri dan Jongin, dia merindukan mereka, dan dia yakin mereka juga sangat ingin bertemu dengan Taeyeon. Lebih tepatnya ingin bertanya tentang mengapa bisa dirinya akan menikah dengan Baekhyun.

Taeyeon belum memiliki waktu untuk menjelaskannya pada mereka, yang mereka tahu hanya Baekhyun berusaha untuk melindungi Taeyeon dari Ny dan Tn. park. Baekhyun membicarakan semua tentang kejahatan mereka, namun sekali lagi, Taeyeon membela mereka, berbicara seolah-olah Baekhyun hanya bergurau.

Suara bel terdengar. Taeyeon mengernyit, siapa yang bertamu ke sini? Yang tahu tentang apartemen ini hanya keluarga Byun. Tidak mungkin kalau Ny. Byun kembali lagi ‘kan?

Taeyeon berjalan mendekati pintu, dan dengan pelan gadis itu membukanya.

“Haiiii Taeyeon!!.”

Taeyeon menghela napas, ternyata Jessica. Tumben dia kesini? Jessica itu seorang designer yang cukup terkenal, dia kakak perempuan Baekhyun dan dia orang yang sangat sibuk. Beda dengan Ny. Byun yang selalu mengunjunginya setiap hari, Jessica hanya tiga kali pernah kesini.

“Kudengar ada yang ingin jalan-jalan mencari udara segar keluar?.” Jessica bertanya dengan senyum mengembang di bibirnya. “Mau ku antar?.”

Taeyeon membulatkan matanya senang, Jessica mengajaknya keluar?

“Eomma bilang Baekhyun oppa pulang lebih awal hari ini. Bagaimana kalau dia marah?.” Tanya Taeyeon, raut mukanya terlihat kembali sedih.

Jessica merangkulkan tangannya di bahu Taeyeon. “Tenang saja, akan kupastikan kau aman bersama eonni. Baekhyun tidak akan marah.”

Taeyeon mengangguk. “Baiklah, aku akan mengganti bajuku terlebih dahulu. Tunggu akau eonni.”

Love, That One Word

Seperti apa yang tadi Taeyeon katakan, Jessica adalah seorang designer yang super sibuk. Bahkan belum satu jam mereka menghabiskan waktu bersama, seseorang menghubungi Jessica dan dengan sangat sedih Jessica harus mengantar kembali Taeyeon pulang.

Namun Taeyeon menolak, dia lebih ingin pergi ke kedai kopi milik Jongin, dan bertemu dengan teman-temannya di sana. Meski awalnya Jessica menolak, namun dengan aegyo andalan akhirnya perempuan itu pun mengalah.

Saat Taeyeon memasuki kedai kopi, aroma pekat kopi menghampiri indera penciumannya. Gadis itu menengok ke arah kanan dan kiri, berharap dia bisa menemukan sosok Jongin.

“Luna-ssi, apakah Jongin oppa sedang ada di sini?.” Taeyeon bertanya kepada salah satu pegawai Jongin ketika dia tidak berhasil menemukan sosok orang yang di cari.

“Oh, Taeyeon-ssi, Jongin ada di belakang. Kau ada perlu dengannya?.”

Taeyeon mengangguk. “Iya, bisa panggilkan Jongin oppa untukku?.”

“Tentu saja, silahkan kau duduk dulu di sana.” Luna menunjuk salah satu meja kosong.

“Baiklah, terima kasih sebelumnya, Luna-ssi.” Taeyeon tersenyum dan membungkuk hormat.

Gadis itu pun duduk di kursi yang tadi Luna tunjuk. Tidak lama kemudian, sosok yang dia cari akhirnya datang. Dengan ekspresi wajah yang menurut Taeyeon cukup menyeramkan.

Jongin datang dengan dua gelas cangkir kopi. Jongin menyimpan kedua kopi itu di atas meja.

“Sekarang jelaskan semuanya padaku, detail.” Perintah Jongin.

Taeyeon menghela napas, apa yang harus dia katakan sekarang? Haruskah dia berbohong? Atau mengatakan yang sebenarnya?

Jongin adalah teman sekaligus seorang kakak baginya, dan Taeyeon tepat dengan pilihannya, dia akan mengatakan yang sebenarnya.

Love, That One Word

Baekhyun memasuki apartemennya dengan raut muka lelah. Padahal pekerjaan hari ini tidak sebanding dengan kemarin-kemarin yang selesai hampir tengah malam, namun tetap saja laki-laki itu merasakan lelah yang sangat. Hari ini masih sore, Baekhyun sengaja pulang lebih awal dan memberikan semua tugas kantor kepada sekretaris pribadinya agar dia bisa sejenak istirahat.

Sebenarnya tadi Baekhyun akan pergi ke restoran Lay, namun dia tidak mau kembali di teror oleh pertanyaan-pertanyaan Lay dan Chanyeol. Mereka juga sudah mengetahui kalau Baekhyun dan Taeyeon akan menikah minggu depan, dan mereka berdua terutama Lay sangat tidak menyetujui pernikahan ini.

Apalagi setelah mereka tahu bahwa Baekhyun menikahi Taeyeon hanya karena permintaan Seulgi. Mereka sempat memanggil Baekhyun bodoh, namun Baekhyun tidak menghiraukannya.

Baekhyun mengerutkan kening setelah dirasakan tidak ada tanda-tanda Taeyeon di apartemennya. Biasanya TV yang ada di ruang tengah juga menyala, meskipun Taeyeon sedang berada di kamar ataupun di dapur. Gadis itu jika sedang berada di rumah tidak pernah mematikan TV, menurutnya tanpa TV menyala, rumahnya terasa sangat sepi.

Baekhyun berjalan menuju kamar Taeyeon, berharap menemukan gadis itu di sana. Namun nihil, kamarnya rapi dan bersih tanpa ada pemiliknya.

“Sial.” Baekhyun menggeram. Tangannya mengambil handphone di saku, lalu menekan nomor Taeyeon. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya ketika mendengar suara operator yang menjawab. Handphone Taeyeon mati.

“Kau pergi kemana? Bukankah sudah kubilang jangan pergi kemana-mana.” Ujarnya pada diri sendiri.

Matanya membesar melihat sesuatu kecil yang berada di atas ranjang Taeyeon. Baekhyun mendekat, dan mengambil sesuatu itu. Sebuah rekaman CCTV yang sama persis dengan milik Seulgi waktu itu.

Flashback

“Kenapa kau tidak langsung memberikan rekaman itu pada polisi? Bukankah kau tidak mau sesuatu buruk terjadi pada Taeyeon?.” Baekhyun bertanya, tangannya dengan sibuk meneliti rekaman yang sedang dia pegang.

“Aku tidak ingin memasukkan kedua orang tua-ku sendiri ke dalam penjara, aku tidak tega.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan dengan rekaman ini?.”

Seulgi menghela napas. “Aku akan membujuk eomma dan appa untuk membatalkan semua rencananya, jika berhasil aku tidak akan menyerahkan CCTV ini pada Taeyeon. Aku tahu aku egois, tapi bagaimanapun mereka orang tua-ku, aku tidak mau mereka masuk penjara.”

“Bagaimana kalau mereka tetap akan melanjutkan rencananya?.”

Seulgi menggeleng. “Tidak mungkin, kemarin mereka sudah berjanji akan menghentikan rencana mereka.”

“Dan kau percaya?.”

Seulgi menatap Baekhyun ragu. “Aku tidak tahu.”

Baekhyun menatap Seulgi tidak percaya. “Lalu kau akan menyimpan rekaman ini dimana? Kau tahu, ayah dan ibu-mu pasti mencari rekaman ini.”

“Aku akan menyimpannya di tempat yang tidak mungkin mereka akan mencarinya di sana.”

Flashback End

“Kau bohong, yeon. Kau menyembunyikan ini dariku.” Ucap Baekhyun pelan. Tangannya terus mengamati rekaman yang dia pegang.

Ketika hendak Baekhyun keluar apartemen mencari Taeyeon, handphonenya berbunyi, tanda ada pesan masuk.

Taeyeon berada di kedai kopi milik temannya, aku lupa siapa nama temannya. Maafkan noona karena telah mengajaknya keluar lalu dengan tiba-tiba juga meninggalkannya, noona ada urusan penting.

Jessica

Baekhyun kembali menggeram, bagaimana bisa Jessica mengajak Taeyeon keluar tanpa persetujuannya? Bagaimana kalau dia dalam bahaya? Tanpa pikir panjang, Baekhyun keluar untuk mencari Taeyeon ke kedai kopi milik Jongin.

Love, That One Word

“Kau bodoh Taeyeon. Benar-benar bodoh! Dimana Taeyeon yang ku kenal dulu?! Aku bertanya dimana KIM Taeyeon yang ku kenal dulu? Persetan dengan PARK Taeyeon. Yang aku inginkan sekarang adalah KIM Taeyeon, KIM FREAKING TAEYEON!.”

Taeyeon meringis mendengar perkataan tajam dari Jongin. Tangannya mulai bergetar, air mata di pelupuk matanya siap untuk keluar.

“Balas dendam bukan hal yang harus kau lakukan. Kau bisa menyerahkan semuanya kepada pihak yang berwajib. Kenapa kau jadi seperti ini, Taeng?.”

“Aku tidak punya bukti, hanya dengan sebuah sms dari Seulgi eonni belum tentu membuat polisi percaya.”

Bohong, Taeyeon kembali berbohong. Dia tidak menceritakan tentang rekaman CCTV itu pada Jongin.

“Setidaknya, kau tetap jangan melakukan balas dendam. Kau jangan berubah seperti ini, taeng.” Jongin menatap Taeyeon dengan pandangan sedih. Gadis itu menunduk dalam.

“Baiklah, aku tidak akan melakukannya.”

“Lalu bagaimana dengan ‘pernikahan’ itu, kau tetap akan melanjutkannya?.”

“Aku menyukai Baekhyun oppa.”

Jongin membulatkan matanya tidak percaya mendengar perkataan jujur Taeyeon. “Apa?.”

“Aku menyukai Baekhyun oppa, aku tidak berbohong.”

“Tapi Baekhyun mengajakmu menikah atas permintaan Seulgi, bukan keinginannya. Kalau kau melanjutkannya, nanti kau akan sakit, taeng.”

“Aku akan membuatnya untuk menyukaiku, oppa.”

“Tae-.”

“Oppa jebal, ini keinginanku. Aku berjanji kalau Baekhyun oppa menyakitiku, aku akan memberitahumu.” Taeyeon menatap Jongin dengan memelas.

“Oppa ingin memberitahumu sesuatu, dan oppa harap jika oppa memberitahumu, kau akan mengubah pikiranmu untuk menolak menikah dengan Baekhyun.”

Raut muka Taeyeon berubah menunjukkan penasaran. “Apa?.”

“Luhan telah kembali.”

Love, That One Word

Suasana canggung meliputi pertemuan pertama Taeyeon dan Luhan. Mereka sekarang berada di taman belakang kedai kopi Jongin. Mendengar Jongin berbicara bahwa Luhan telah kembali tadi, membuat Taeyeon senang, dan alhasil, gadis itu menyuruh Jongin untuk segera mempertemukan mereka.

“Lama tidak bertemu?.” Ujar Luhan memecah keheningan. Taeyeon diam tidak menjawab, gadis itu masih bingung untuk bicara apa kepada Luhan.

Taeyeon marah, kesal, senang, semuanya bercampur menjadi satu. Marah karena dulu Luhan meninggalkannya tanpa kabar, kesal karena ternyata Luhan telah kembali ke korea satu minggu yang lalu, dan senang karena akhirnya dia kembali bisa melihat Luhan.

“Taeyeon-ah, maafkan aku. Aku dulu pergi tanpa memberimu kabar terlebih dahulu. Waktu itu kepergianku sangat mendadak, sehingga aku tidak punya waktu untuk berpamitan.”

“Oppa jahat.” Ujar Taeyeon pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh Luhan. Luhan memegang tangan Taeyeon erat.

“Maafkan aku, aku sudah kembali. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi.” Luhan berbicara dengan lembut, tangannya menarik pelan tubuh Taeyeon dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Taeyeon tidak menolak, dia balas memeluk Luhan.

“Pernikahan itu, pernikahan kau dengan seorang laki-laki bernama Baekhyun, apa itu benar?.” Luhan mendesah merasakan Taeyeon mengangguk dalam pelukannya.

“Kalau begitu, berarti aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, huh?.”

Taeyeon mengangkat kepalanya dan menatap Luhan dengan pandangan menyesal.

“Kau ingat janji yang kita buat dulu? Aku ingin menepati janji itu sekarang, dan aku harap kau tidak lupa.” Luhan menatap dalam mata Taeyeon. Tangannya menyingkirkan helai rambut yang menutupi dahi Taeyeon.

“Oppa, maafkan aku.”

“Kau benar-benar tidak bisa menepati janjimu?.”

“Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa.”

Luhan mengangguk mendengar jawaban Taeyeon. Laki-laki itu kembali menenggelamkan kepala Taeyeon di dadanya. Jauh dari lubuk hatinya, Luhan merasa sangat sakit.

Alasan Luhan kembali ke korea adalah untuk menagih janji yang mereka buat ketika mereka masih kecil. Tapi kalau sudah begini?

“Aku harap kau akan bahagia menikah dengannya nanti. Kalau dia menyakitimu, beritahu aku karena aku akan membunuhnya jika dia sampai menyakiti orang yang paling aku sayang, mengerti?.”

Taeyeon tertawa kecil mendengar ucapan Luhan.

“Aku serius, taeyeon. Aku tahu kalian menikah hanya karena permintaan kakak angkatmu, kalian tidak saling mencintai, aku mengkhawatirkanmu.”

“Bagaimana kau tahu? Bahkan Jongin oppa baru kuberitahu tadi.”

Tangan Luhan mengelus sayang rambut Taeyeon. “Kau tahu dunia itu sempit? Lay, dia temannya Baekhyun, dan Lay juga sepupuku.”

Taeyeon kembali mendongak dan menatap Luhan dengan terkejut. “Jinnjayo?.”

“Heem, jinjja.” Luhan mengangguk dan mengecup singkat dahi Taeyeon, membuat gadis itu merona. “I miss you, taeyeon-ah.”

“I miss you too, oppa.”

Mereka kembali berpelukan, tidak sadar bahwa seseorang sedang menatap ke arah mereka dengan tatapan tidak suka.

Seseorang itu, Baekhyun, berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah yang terbilang cepat. Tangannya menarik lembut pergelangan tangan Taeyeon yang melingkar di pinggang Luhan, membuat gadis itu melepaskan pelukannya.

“Oppa.” Taeyeon menatap Baekhyun terkejut. Ekspresi laki-laki itu sungguh menyeramkan, sangat dingin dengan sorot mata menatap Luhan tajam. Siapa laki-laki ini? Pikir Baekhyun.

“Kau siapa?.” Tanya Baekhyun dingin kepada Luhan.

Luhan menatap Baekhyun tidak suka, dia kira Baekhyun sosok orang yang tahu sopan santun. Tapi pikirannya salah, setelah melihat Baekhyun merusak momentnya dengan Taeyeon, membuat Luhan iritasi sendiri.

“Perkenalkan, saya Luhan, Xi Luhan. Salah satu orang yang paling penting dalam hidup Taeyeon.” Luhan menjulurkan tangan kanannya, bermaksud mengajak Baekhyun untuk berjabat tangan.

Baekhyun memandang tangan itu sejenak, lalu dengan yakin Baekhyun membalas jabat tangan Luhan. “Aku Byun Baekhyun, calon suami Kim Taeyeon. Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda secara langsung Luhan-ssi, selama dua pertemuan kemarin dengan perusahaan anda, hanya sekretaris anda yang datang.”

Luhan tertawa dan melepaskan jabat tangan itu. Tangannya sedikit merapikan blazer yang dia kenakan saat ini. “Maafkan saya tuan Byun, saya terlalu sibuk sehingga tidak dapat langsung datang ke acara pertemuan itu.”

“Dan, anda jangan terlalu percaya diri memperkenalkan diri anda sebagai calon suami dari Taeyeon, karena saya tahu semuanya, anda menikahi Taeyeon hanya karena terpaksa.”

Baekhyun mengerutkan dahinya, tangan kirinya yang tidak dia gunakan untuk menggenggam tangan Taeyeon menggepal kuat.

Taeyeon yang menyadari situasi menjadi lebih canggung karena kedatangan Baekhyun, mencoba untuk melerai. “Oppa, lebih baik kita masuk ke dalam, udara di luar semakin dingin.”

“Aniyo, kita langsung pulang saja, yeon.” Sergah Baekhyun.

“Baekhyun-ssi benar, kau lebih baik pulang saja. Kita bisa bertemu lagi besok ‘kan?.”

Taeyeon mengangguk mendengar saran Luhan. “Baiklah.”

“Ayo.”

Saat Baekhyun ingin menarik Taeyeon pergi, Luhan lebih dulu mencegahnya. Tangannya mengusap rambut Taeyeon lembut sebelum laki-laki itu mendaratkan kecupan di dahi Taeyeon. Taeyeon terkejut dengan perlakuan Luhan. Gadis itu menunduk, takut kalau Baekhyun marah melihat itu.

Tapi, kenapa dia harus marah? Bukan ‘kah Baekhyun tidak menyukainya?

“Jaga sikapmu, Luhan-ssi. Kau mencium perempuan yang sebentar lagi akan menikah tepat di hadapan calon suaminya.” Baekhyun menggeram marah, matanya kembali menunjukkan kilat amarah.

“Astaga, hanya di dahi, ok? Lagi pula itu hanya kecupan, bukan ciuman. Ayolah, kami sudah lama tidak bertemu, bahkan dulu kami sering melakukannya, dan Taeyeon tidak menolaknya, bukan ‘kah begitu, taeng?.”

Taeyeon diam tidak menjawab. Ya, dulu Luhan dan Taeyeon memang suka memberikan kecupan. Hanya kecupan di pipi atau dahi, bukan bibir.

“Dia tidak menjawab karena malu, mungkin? Sudahlah, jangan mempermasalahkan ini, cepat bawa Taeyeon pulang, udara semakin dingin. Taeyeon tidak suka berada di tempat yang suhunya dingin.”

Baekhyun menatap Luhan tidak suka, menurut Baekhyun, Luhan bersikap seolah-olah dia tahu segala tentang Taeyeon. Mungkinkah Luhan memanas-manasinya?

“Kajja yeon, kita pergi.”

Taeyeon mengangguk dan menatap Luhan sekejap. “Annyeong oppa.”

Love, That One Word

Taeyeon menatap punggung Baekhyun takut. Sejak tadi laki-laki itu hanya diam, dan tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Wajahnya masih menyiratkan marah dan kesal, meskipun Taeyeon tidak yakin apa yang menyebabkan Baekhyun seperti itu. Mungkin dia kecapean? Atau masih memikirkan kejadian tadi di taman belakang kedai kopi milik Jongin?

Taeyeon menggeleng, tidak mungkin Baekhyun seperti ini karena hal tadi. Laki-laki itu tidak mempunyai perasaan padanya, lalu kenapa dia berikap seperti itu? Mungkin Taeyeon terlalu percaya diri menebak.

Mereka sekarang sedang berada di dapur, Baekhyun sedang memasak untuk makan malam mereka. Selama seminggu Taeyeon tinggal bersama Baekhyun, hanya sekali gadis itu mencoba untuk memasak. Yah, kalian juga pasti tahu skill Taeyeon dalam hal memasak, sangat buruk. Dan Baekhyun melarang Taeyeon untuk kembali memasak sebelum dia benar-benar bisa.

“Oppa.” Panggil Taeyeon pelan. Baekhyun membalas dengan sebuah gumaman yang masih Taeyeon bisa dengar.

“Apa tadi oppa ke kamarku?.” Tanyanya hati-hati.

Setelah tadi mereka sampai di apartemen Baekhyun, Taeyeon langsung menuju kamarnya. Berniat untuk mencari rekaman CCTV-nya yang hilang entah dimana. Mungkin Taeyeon lupa menyimpan? Atau rekaman itu jatuh di suatu tempat? Entahlah, tapi dia benar-benar harus menemukannya, dan memberikan rekaman itu kepada polisi.

Setelah percakapannya tadi bersama Jongin, membuat Taeyeon sadar, kalau balas dendam memang bukan jalan yang baik.

“Tidak, memangnya kenapa?. apakah ada barangmu yang hilang?.”

“Tidak, aku hanya bertanya saja.” Jawab Taeyeon pelan.

Harus dia cari dimana rekaman itu?

To Be Continued

Hai hai~ chapter 5 is updated.

Sebagian pertanyaannya terjawab ‘kan? Seulgi tidak tahu kalau mobil yang dia gunakan rem-nya tidak berfungsi.

Dan kenapa Seulgi tidak menyerahkan rekaman CCTV langsung ke polisi juga sudah terjawab di atas 😀

AYO AYO, sekarang kalian berikan komentar yah, biar aku lebih semangat ngelanjutinnya ^_^

See you in the next chapter :*

Advertisements

169 comments on “Love, That One Word (Chapter 5)

  1. Balas dendam gak baik, ketemu cinta pertama yg gk bisa dilupain saat ada calon suami gak baik, balas dendam juga gak baik lo Baek ㅇ.ㅇ
    Wkwkwk keren ffnya aku suka ☺

  2. Seingatku kakak nya baekhyun itu boa kok jdi jessica..
    Auk ah yg penting baekyeon teruss..
    Baekhyun pasti cemburu tuhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s