[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 3)


Title: Wanna Be Yours

Author: Unicorn

Cast: Taeyeon – Luhan

Length: Multichapter

Genre: Romance, School life, romance

Disclaimer:

all Characters are belong to god, their family. 100% mine. Plagiator, SILENT READERS and re-publish aren’t allowed!!

A/N

Terima kasih buat Nadia unnie yang sudah mengepost ff ini ^^Hai readers. Maaf jika chapter 3 mengecewakan kalian. Dan maaf jika semakin lama FF ini semakin membosankan. Happy reading and don’t forget to leave a comment.

READ THIS FIRST!

 

Di chapter 2 ada tokoh baru yaitu jung krystal. Untuk chapter 3 dan chapter selanjutnya, tokoh tersebut ganti menjadi BAE IRENE. Maaf karena author labil, tapi author pikir Irene pasti lebih cocok. Sekali lagi mianhae readerdeul…. T_T

Sorry for TYPO(s)

WANNA BE YOURS

“S-sepupu? Tidak masuk akal! Kau pasti berbohong!!” seru Taeyeon. Ia menatap Kris dan Luhan secara bergantian. Tiffany, Suho dan Kyungsoo pun menatap Kris dengan tatapan luar biasa terkejut.

Kris mengangguk dengan ekspresi datarnya. “Kenapa?” tanya pria itu santai. Tiffany menggeleng pelan dengan takjub lalu kembali fokus ke depan kelas. Suho kembali duduk di kursi di depan Taeyeon. Dan Kyungsoo menatap Luhan dan Kris dengan mata besarnya yang membulat sempurna.

Kim Saem menepuk pelan tangannya dua kali. ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas seolah sedang meneliti siapa murid yang tidak masuk hari ini. Ia mengangguk mantap saat mendapati seluruh muridnya hadir.

“Chaaa… sekarang, perkenalkan dirimu murid baru” ujarnya sambil tersenyum, menyebabkan kerutan di hidungnya semakin terlihat.

Luhan hanya memasang wajah datar lalu mulai membuka mulutnya.

“Xi Luhan imnida. Selama ini aku tinggal di Canada, jadi mohon bantuannya” ucap Luhan. Pria itu membungkuk singkat lalu setelah ia berdiri tegap, tatapannya tepat bertemu dengan Taeyeon. Gadis itu tampak kikuk dan langsung mengalihkan matanya ke arah jendela. Luhan yang melihatnya hanya mendengus. Ia masih kesal karena Taeyeon pergi meninggalkannya tadi pagi. Dan ia juga penasaran siapa pria ber eyeline yang dibawa berlari oleh gadis itu. Tunggu, untuk apa dia penasaran dengan seorang pria? Bukankah ia adalah seorang Casanova yang hanya penasaran akan warna apa dalaman seorang wanita?

Luhan menghela nafas pelan. Di pagi hari seperti ini, ia sudah merasa sangat pening. Dan itu membuatnya kesal.

“Apa ada yang ingin bertanya dengan luhan?” tanya Kim Saem. Minah, seorang gadis berparas cantik dan juga manis mengacungkan jarinya.

“Ya. Silahkan bertanya” ujar Kim Saem. Luhan menggerutu di dalam hati. bagaimana guru itu bisa seenaknya meminta orang bertanya tanya denganku, memangnya dia fikir siapa dia. Batin Luhan lesu. Ia menatap Minah dengan tatapan datar dan malas.

“Apa alasan kepindahanmu ke Korea?” tanya gadis itu semangat.

“Apa kau perlu tahu tentang hal itu?” sengit Luhan. Sontak seisi kelas membulatkan mata mereka masing – masing, terkecuali Kris yang sudah terbiasa dengan sifat easy going Luhan yang terkadang terlalu berlebihan seperti sekarang ini. Terlebih Minah, gadis itu tampak terkejut dan seketika menundukkan kepalanya dalam – dalam.

“Hey, Minah hanya bertanya. Kenapa kau balik bertanya seperti itu?” sungut Suho yang sudah berdiri dari tempat duduknya. Wajar, Suho memang menyukai Minah. Luhan menatap Suho dengan tatapan kesal.

“Aku memiliki hak untuk menjaga privasi ku. Bukankah itu pengetahuan umum?” ujar Luhan dengan nada merendahkan.

Suho melipat tangannya geram. Ia kembali duduk dengan wajah yang sangat malu. Luhan pun tersenyum penuh dengan kemenangan.

“Bolehkah aku duduk Kim Seongsaengnim?” tanya Luhan lalu tanpa mendapat izin dari Kim Saem, Luhan lebih dulu berjalan menuju kursi di samping Suho dan duduk di sana dengan nyaman layaknya anak kucing.

Taeyeon yang mendapati Luhan duduk di depannya hanya mendengus kesal. Tidak tahu sopan santun, gumam Taeyeon geram.

WANNA BE YOURS

TENG TENG TENG

Tidak terasa, akhirnya bel membunyikan dirinya untuk memberitahu siapa saja jika seluruh jam pelajaran hari itu telah usai. Beberapa murid sudah meninggalkan kelas, tapi sebagiannya lagi masih memilih untuk membiarkan pantat mereka berciuman dengan kursi kelas. Ralat, tapi juga meja.

Taeyeon menatap Tiffany yang sibuk mengetik pesan dengan jari jari lentiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiffany yang menyadarinya langsung menatap Taeyeon dengan tatapan horror.

“Apa! Jangan bilang jika kau menyukaiku Kim Taeyeon. Aigoo, kau sudah gila karena terus – terusan dengan namja ber eyeliner itu. Kau benar benar menyukaiku? Duh Taengoo, jangan menjadi lesbian. Kau bisa menjadi yeojachingu Kris. Dia masih menyukaimu. Dan aku sudah memiliki Nickhun oppa, jadi maaf, hapus namaku dari hatimu” ujar Tiffany panjang lebar dengan serius.

PLETAK!

“Idiot.” sengit Taeyeon kesal setelah menjitak kepala Tiffany dengan buku Fisika miliknya. Luhan yang mendengar jelas penuturan Tiffany mau tidak mau memutar otaknya untuk berpikir lebih keras. Kata kata Tiffany barusan cukup membuat kupingnya berdenging.

Karena pertama: Ternyata Taeyeon terus terusan dengan namja ber eye liner seperti yang Tiffany katakan. Meskipun belum begitu yakin, sepertinya namja yang dimaksud Tiffany adalah pria yang ditarik dengan Taeyeon tadi pagi. Seperti ada gejolak kecil di dalam dirinya ketika mendapati fakta tersebut. Perasaan yang sulit dideskripsikan. Bisa dibilang perasaan itu errr… perasaan cemburu? Tidak! Tidak! Luhan terlalu mahal untuk mendapati dirinya dilanda perasaan cemburu. Dan kedua: Kris menyukai Taeyeon???? Itu tidak masuk akal.

“Ya! Akan aku adukan kau pada Nickhun oppa!!” protes Tiffany sambil terus mengusap kepalanya yang masih sakit. Taeyeon tersenyum mengejek lalu memberikan mehrong nya pada Tiffany.

“Apa kau lupa jika seminggu yang lalu aku melihat mu chating bersama Donghae di kakao talk? Bagaimana ya jika Nickhun tahu tentang hal itu” ujar Taeyeon sambil tersenyum usil.

“Taeng!!!” pekik Tiffany

Dengan gerakan cepat Tiffany langsung membekap mulut Taeyeon. Tapi terlambat. Suho, Kyungsoo, dan Kris sudah terlebih dahulu mendengarnya. Dan mungkin Luhan juga.

“Ya. Kau berselingkuh?” tanya Suho yang sudah duduk di atas meja Taeyeon dan Tiffany. entah sejak kapan.

“Itu benar Tiffany?” tanya Kyungsoo sambil menyisir rambut Taeyeon. Entah apa yang membuat pria itu begitu menyukai rambut Taeyeon. Jika orang orang menanyakan hal itu, Kyungsoo akan mengatakan ‘Rambut Taeyeon seperti rambut adikku. Aku menyukainya’. Dan Taeyeon juga tidak pernah menolak perlakuan Kyungsoo.

Ia tahu kenangan buruk Kyungsoo dan adiknya. Taeyeon tidak ingin membuat Kungsoo sedih. Tidak ingin sahabatnya itu kembali mengingat kesedihannya. Saat itu, dua tahun yang lalu, Taeyeon melihat sendiri dengan mata kepalanya hari di mana adik Kyungsoo mengalami kecelakaan hingga tewas seketika.

“Aniya! Itu tidak benar! Aku hanya menanyakan jadwal pertandingan basket Nickhun oppa. Aisss, Taeyeon-ah!!” seru Tiffany kesal sambil menghentakkan kakinya dengan kuat ke lantai.

Taeyeon hanya tersenyum miring lalu mengganti posisi duduknya menjadi ke samping sehingga ia bisa leluasa untuk berbicara dengan Kris.

Suho dan Kyungsoo tertawa lucu ketika melihat wajah Tiffany yang memerah lantaran marah. Mereka terus mengolok – olok Tiffany hingga akhirnya gadis itu berjalan dengan kesal keluar kelas setelah berteriak jika dia akan pulang. Pulang bersama ‘Nickhun oppa’ –nya.

Setelah merasa puas menjahili Tiffany, Suho dan Kyungsoo memutuskan untuk pergi ke Kyungin. Melihat jam sudah menunjukkan waktu 15.45 KST.

“Hei. Kami harus ke Kyungin” ucap Suho.

“Iya. Bisa bisa kami terlambat” ujar Kyungsoo menambahkan. Taeyeon yang tengah berbicara dengan Kris menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

“Jangan bawa Taeyeon ke rumahmu, Kris” celetuk Suho sambil terkikik geli bersama Kyungsoo. Mereka berhigh five.

“Kau juga harus berhati – hati Taeyeon-ah. Kris masih menyukaimu” bisik Kyungsoo yang sebetulnya dengan volume yang tidak bisa dibilang kecil. Mereka berdua tertawa lepas sambil berjalan keluar kelas.

Kris melenguh kesal. teman temannya itu memang sangat jahil. Jahil dalam hal apa saja. Semisal hal kecerdasan, kebodohan dan bahkan perasaan.

“Kris. Kris” panggil Taeyeon sambil menarik narik ujung blazer pria itu yang tengah menatap kepergian teman temannya dengan tatapan tak habis pikir.

Pria itu menoleh lalu tersenyum. Itulah Kris Wu, jika di depan orang lain ia menunjukkan wajah menakutkannya tapi jika sudah sudah bersama Taeyeon, hanya berdua dengan Taeyeon, ia akan menunjukkan sifat aslinya. Sifat Kris yang hangat dan humoris.

Tapi, bukankah sekarang di ruangan itu juga ada Luhan? Oh ayolah, Luhan tidak masuk hitungan. Luhan adalah sepupu Kris, pria itu sudah mengenal Kris lebih dari cukup. Kris sendiri merasa jika ia tak perlu menutupi sifatnya yang bisa dibilang labil tersebut dari Luhan.

“Apa Baekhyun berbicara denganmu hari ini?” tanya gadis itu. Kris menatap ke atas kelas seolah mengingat ingat lalu menggeleng. “Tidak sama sekali” jawabnya.

Gadis itu menghela nafas. Ia mengalihkan tatapannya ke arah Luhan sebentar yang sibuk mengisi absen kelas yang sudah sangat lama tidak diisi oleh sekretaris sebelum Luhan menduduki jabatan itu. Taeyeon sendiri bingung dengan wali kelasnya. Bagaimana bisa Luhan yang notabene nya adalah murid baru langsung diminta menjadi sekeretaris kelas.

Tapi Taeyeon harus bersyukur dengan hal itu. Melihat Luhan yang sepertinya tidak menyukai pekerjaan itu membuat Taeyeon tertawa bahagia di dalam hatinya.

Pria bermata rusa itu melirik hp nya dan menulis sesuatu di buku absen. Sesekali ia tampak berpikir sebentar lalu kembali menulis. Wajar saja, sudah hampir satu tahun absen itu tidak diisi. Mengingat sekretaris 1 sebelumnya adalah Tiffany Hwang, gadis yang terkenal dengan kemalasannya, hal itu bisa dimaklumi. Dan malangnya, sebagai sekretaris 2, dirinya tidak digantikan oleh siapapun. Harusnya jika Tiffany digantikan, dirinya yang merupakan sekretaris cadangan juga harus diganti!. Dasar menyebalkan.

“Baekhyun marah padaku” gumam Taeyeon pelan agar Luhan tidak mendengarnya. Tapi percuma, Luhan yang duduk di depannya dan hanya ada 3 orang di ruangan itu sekarang. tentu Luhan dapat mendengar apa yang Kris dan taeyeon bicarakan. Bahkan hanya untuk helaan nafaspun, Luhan bisa mendengarnya.

“Wae?” tanya Kris. Pria itu tidak terlihat penasaran. Tapi di dekat mereka, pria yang duduk di depan Taeyeon, tepatnya di samping kursi Suho, dengan segenap rasa penasarannya pria itu ingin mendengarkan kelanjutan kalimat Taeyeon.

“Entahlah. Baekhyun memang sensitif, aku hanya menariknya untuk berlari bersamaku tadi pagi” ungkap Taeyeon.

“Aku tidak tahu jika hal itu membuatnya sangat marah” sambung gadis itu.

Kris mengangguk mengerti. Kris sendiri tahu dengan perasaan Baekhyun kepada Taeyeon. Kris yang terkenal dengan pria tanpa ekspresi dan hati untuk mencintai lain jenis dan tentunya sesama jenis itu pun mengerti akan perasaan pria ber eyeliner tersebut.

“Sudahlah Taeng, dia masih sangat kekanakan. Kau tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu, bahkan hanya untuk berpikir jika ia marah dengan mu atau tidak. Sekarang kau sedang berada di tingkat 3. Sudah seharusnya kau memikirkan universitas apa yang akan kau ambil, jalan mana yang akan kau pilih untuk ke depannya. Dan bukan sibuk mengurus pria yang masih duduk di bangku kelas 1 itu. Berpikirlah dewasa” ujar Kris panjang lebar.

Luhan yang mendengar penuturan Kris hanya tersenyum tipis. Sudah sepantasnya Kris menjadi seorang psikologi suatu hari nanti. Advice yang diberikannya selalu baik dan terkesan begitu memperdulikan orang lain. Kris memang seperti itu, jika ia menyayangi seseorang, ia akan menumpahkan seluruh pikirannya ke pada orang itu. baik kekesalannya, kemarahannya, kecemburuannya dan kepeduliannya pada orang itu.

Taeyeon menatap Kris dengan tatapan sedih. Ia pikir selama ini Kris mengerti akan perasaan Taeyeon kepada Baekhyun. Perasaan kasih sayang kakak kepada adik yang selama ini Taeyeon berikan kepada Baekhyun ternyata berbeda pengertian ketika orang lain melihatnya.

“Tapi Kris, kau sendiri tahu bagaimana selama ini Baekhyun hidup. Ibunya… ibunya sudah…” Taeyeon tidak melanjutkan kalimatnya. Ia bungkam. Takut dan tidak bisa untuk merangkai kelanjutan kalimatnya.

Kris menarik nafas pelan.

“Itulah kehidupan Taeyeon. Kau tidak bisa selalu menjadi pahlawan untuk pria itu hanya karena kau tahu dan sangat dekat dengan mendiang ibunya. Kau memiliki pilihan. Ini hanya sekedar untuk membantumu, sebagai sehabat dekatmu. Aku tidak ingin jika kau terlalu mengambil posisi ke dalam kehidupan Baekhyun. Dia bisa terluka karena hal itu. Dengan mendapati gadis yang dicintainya sama sekali tidak mencintainya. Sama sekali tidak menganggapnya sebagai pria yang bisa menjadi sandaranmu.

“Dan yang lebih parah, kau juga bisa terluka. Bagiku sendiri, ucapan ini terlalu berlebihan mengingat Baekhyun hanya marah padamu. Tapi untuk selanjutnya, jika kau terus seperti ini… kupastikan jika ucapanku hari ini akan sangat berarti.

“Hentikanlah Taeyeon. Tanpa kau sadari, tanpa kau inginkan, Baekhyun akan sangat tersakiti oleh mu. Dan karena itulah, karena sifatmu yang terlalu terbuka dan bodoh lah yang akhirnya membuat orang orang disekitarmu terluka. Karena orang idiot manapun tahu jika Baekhyun memiliki ‘rasa’ kepadamu. Jadi berhentilah berpura pura menjadi seperti orang yang buta dan tidak memiliki perasaan, Kim Taeyeon”

Taeyeon semakin bungkam, ia menggigir bibir bawahnya. Luhan yang mendengar jelas penuturan Kris menelan ludahnya dengan sulit. Kris memiliki bakat terpendam yang luar biasa untuk menjadi seorang psikolog. Luhan bahkan merinding mendengar ucapan Kris.

Gadis itu menunduk. Ucapan Kris semakin membuatnya sedih dan ingin memberontak untuk mengatakan ‘Kau tidak tahu apa-apa!’. Tapi kenyataannya, di lubuk hati nya yang paling dalam, gadis itu membenarkan ucapan Kris. Meskipun tidak semuanya terdengar betul di telinga Taeyeon, meskipun terdengar seperti mengejeknya dan menuntutnya untuk mengaku seperti halnya orang jahat yang mempermainkan hati orang lain… Tapi dengan itu… setidaknya mulai detik itu…. mulai hari itu… Taeyeon sadar jika ucapan Dad benar, ejekan – ejekan dari Suho dkk benar. dialah yang bodoh dan tidak peka.

Menganggap semuanya baik baik saja jika orang disekelilingnya tersenyum dan tertawa padanya. Ia yang bodoh karena tidak tahu jika dibalik senyuman indah Baekhyun, pria itu menangis di dalam hatinya. Ia yang bodoh dan idiot.

Air mata gadis itu mengalir dengan sangat anggun di pipinya. Menggelitik wajah halus Taeyeon dengan suhu hangatnya. Gadis itu terisak.

“H-habis.. a-aku tidak tahu. aku tidak tahu Kris. Selama ini aku tidak tahu jika aku sudah menyakitinya. Aku fikir, dengan melihatnya tersenyum berarti semuanya baik – baik saja. Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak tahu” ujar gadis itu semakin terisak.

Kris menghela nafas. Ia tidak merasa bersalah dengan kata katanya yang sudah membuat Taeyeon menangis. Karena meskipun hari ini gadis itu mengeluarkan air matanya sebanyak air di sungai Han, Kris yakin jika seluruh kalimatnya adalah untuk kebahagiaan gadis itu. Kebahagian gadis yang pernah bertengger di hatinya. Kebahagiaan gadis yang sampai sekarang Kris tidak bisa hapus namanya dari hatinya. Kebahagiaan gadis yang memisahkan Luhan dengan cinta pertama sepupunya itu. Kebahagiaan gadis bernama Kim Taeyeon.

Luhan menatap datar buku absen di hadapannya. Ia bungkam seribu kata. Ia tahu sekarang. bagaimana hubungan Taeyeon dengan namja bernama byun Baekhyun itu. Terdengar memilukan tapi juga familiar.

Karena hal itu, cerita itu, hubungan mereka… sama persis dengan apa yang pernah dialaminya. Dirinya dengan cinta pertamanya.

Kris mengusap kepala Taeyeon lembut.

“Sudahlah. Tidak usah menangis”

Taeyeon menepis pelan tangan Kris. Gadis itu memberengut kesal.

“Bagaimana bisa aku tidak menangis jika kau mengucapkan kalimat kalimat menyeramkan seperti itu?” sungut nya sambil menyeka sisa air mata yang masih setia bertengger di pipi dan sudut matanya.

Kris tertawa geli dan dibalas senyuman manis oleh Taeyeon.

Luhan yang merasa sudah selesai dengan pekerjaannya langsung bergegas merapikan buku buku nya dan memasukkannya ke dalam tas. Pria itu menghela nafas lelah lalu memutar tubuhnya untuk bertatapan dengan Kris lalu mulai bercicit.

“Kris, antarkan aku pulang”

Kris mengernyitkan dahinya, begitu pun Taeyeon. Tapi sedikit berbeda mengingat Taeyeon sekarang sudah berdiri dengan tangan yang berada di sisi pinggangnya dan memasang wajah masam.

“Kau ingin Kris mengantarmu? Kau pikir dia supirmu? Bukan berarti jika kalian adalah sepupu , kau bisa seenaknya dengan Kris. Sana pulang sendirian!” sengit Taeyeon.

Luhan menatap Taeyeon dengan tatapan datar. Ia masih marah dengan kejadian tadi pagi dimana gadis itu meninggalkannya dan pergi bersama pria lain. Tunggu, kenapa jadi terdengar seperti drama drama di TV? Seolah olah ia adalah pria yang cemburu karena gadisnya pergi bersama pria lain? menjijikkan.

Ia meletakkan jari telunjuknya di atas dahi Taeyeon dan memberikannya sedikit tenaga sehingga menyebabkan tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke samping.

“Kau memberitahu si shortie ini jika kita adalah sepupu?” tanya Luhan tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Taeyeon karena sudah memberikannya nama panggilan yang bagi Taeyeon sangat mempermainkan harga dirinya. Tapi hey ayolah, ‘shortie’ adalah panggilan yang begitu manis. Tapi mengingat hubungan Lu to the Tae yang seperti sekarang ini, panggilan semanis apapun akan terdengar seperti mengejek.

Kris mengedikkan bahunya. “Tidak juga. Bukan hanya Taeyeon. Tapi Suho, Kyungsoo dan Tiffany juga sudah mengetahuinya” ungkap Kris santai. Pria itu meneyenderkan tubuh nya di kursi.

Luhan meringis. Kesal. lalu tatapannya berpindah ke pada Taeyeon yang sampai sekarang masih setia menatapnya dengan tatapan tajam.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, shortie?” tanya Luhan sambil memasang senyum malaikatnya. Taeyeon mendengus, menunjukkan jika ia sedang mengejek Luhan.

“Shortie? Apa aku tidak salah dengar? Kris, apa aku tidak salah dengar? Kurasa tadi ada seorang pria yang sangat pendek yang dengan sangat percaya diri mengejekku ‘shortie’. Aigoo dia benar benar tidak tahu malu, ‘ya kan Kris? Harusnya dia sadar jika dirinya lah yang harusnya dipanggil ‘shortie’. Menyedihkan sekali pria itu” ujar Taeyeon sambil menatap Kris. Tidak sadar jika Luhan menatapnya dengan tatapan bengis seolah ingin memakannya.

“Apa kau bilang?!!” seru Luhan

“Aku bilang jika kau yang harusnya dipanggil ‘shortie’!! dasar pria kerdil!!” pekik gadis itu kesal

Baik Luhan maupun Kris pun seketika langsung membulatkan kedua mata mereka secara bersamaan ketika mendengar kalimat terakhir Taeyeon. Kris membekap mulutnya menahan tawanya yang hampir pecah. Sedangkan Luhan, pria itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Rahangnya mengatup beberapa kali dan wajahnya terlihat sangat merah menahan amarahnya yang hampir meledak.

“Kau….!!! dasar bodoh!! jelek!! Pendek!!! Dan mulutmu juga tidak bisa dipercaya! Kau sudah berjanji dengan ibuku, tapi lihatlah tadi pagi bagaimana kau meninggalkanku sendirian di depan sekolah. Aku benar benar terlihat seperti orang bodoh. Apa kau tahu semalu apa aku ketika memasuki ruangan yang salah?!” seru Luhan berapi – api. Mungkin jika Taeyeon bukanlah seorang wanita, Luhan pasti sudah memukuli nya.

Taeyeon hanya mendengus lalu tersenyum mengejek.

“Lihatlah, kau memang sangat bodoh. Jika masalah tadi pagi, itu salahmu sendiri karena tidak mengingat apa yang kuucapkan. Selain mesum dan tidak tahu sopan santun, ternyata kau bodoh juga ya” ejek Taeyeon.

Sebelum Luhan ingin meledak kembali dan meluncurkan kalimat kalimat tajamnya, Kris lebih dulu memotong dengan membuka mulutnya.

“Kalian sudah saling mengenal? Bagimana? Di mana?” tanya Kris bertubi – tubi berusaha mengalihkan topik pembicaraan dan menyelesaikan pertengkaran antara Taeyeon dengan Luhan yang sepertinya tidak ada akhirnya.

WANNA BE YOURS

7 Years ago….

Irene menghentak hentakkan kakinya ke rumput halaman depan rumahny. ia mengerucutkan bibirnya sebagaimana ia selalu lakukan ketika kesal. ia melemparkan tatapannya ke arah seorang lelaki mungil yang sedari tadi menidurkan tubuhnya di atas karpet piknik kecil yang digelar di atas rumput basah akibat hujan tadi malam.

“Baby, menurutmu apa Yifan ge juga menyukaiku?” tanya Irene dengan wajah sedih.

Luhan menatap balik Irene dengan tatapan sendu. Entah sejak kapan dan dimulai di mana, ia merasakan sakit yang teramat sangat jika Irene sudah membicarakan sepupunya yang bernama lengkap Wu YiFan tersebut.

Sederhana saja, yang Luhan inginkan hanyalah Irene membicarakannya dan bukan membicarakan YiFan. Ia ingin Irene menatapnya dan bukan menatap YiFan. Ia ingin Irene yang menyukainya dan bukan menyukai YiFan.

Pria kecil itu mendengus. “Aku tidak tahu. Fikirkan saja sendiri” sengit Luhan dingin.

Irene mempoutkan bibirnya. “Kenapa kau jadi dingin seperti ini, baby?”

Luhan mengganti posisinya menjadi duduk lalu menatap Irene dengan tatapan kecewa.

Baru saja Luhan ingin membuka mulutnya, seorang pria yang bertubuh sedikit lebih tinggi darinya lebih dulu membatalkan niat Luhan. Meskipun kesal dengan kedatangan YiFan yang merupakan pujaan hati Irene, Luhan menjadi lebih sedikit tenang karena ia tidak jadi mengeluarkan kalimatnya. Karena ia yakin, setelah ia mengucapkan nya, Irene pasti tidak ingin berada di sisinya lagi. Luhan percaya akan hal itu.

YiFan datang dengan senyum lebar yang tertampang di wajahnya, ia tidak sendiri. Seorang gadis cantik dengan rambut yang diikat dua berjalan di samping YiFan. Tangan mereka bertaut erat. Gadis itu tampak malu dan berusaha bersembunyi dibelakang tubuh YiFan yang lebih tinggi darinya.

Luhan dan Irene yang melihat kedatangan keduanya masih diam dengan perasaan bingung satu sama lain. Luhan menatap YiFan dan gadis itu secara bergantian. Berbeda dengan Luhan, Irene justru lebih menunjukkan ekspresi kesalnya. Gadis itu cemburu. Pasti.

“Hei, dialah gadis yang sering kuceritakan kepada kalian. Kedua orang tuanya sedang berada di Jerman. Jadi dia dititipkan di rumahku untuk sementara” ungkap Yifan sembari menarik gadis itu agar berdiri di sampingnya.

Irene hanya diam dengan tangan yang bertengger di depan dadanya, ia menatap gadis di depannya dengan tatatapan tajam. Rasa cemburu menyelubungi dirinya saat melihat wajah ceria Yifan dan tangan mereka yang saling bertautan. Luhan yang menyadari perubahan suasana hati Irene hanya menghela nafas pelan.

“Perkenalkan dirimu, yeon-ah” ujar Yifan sambil tersenyum.

Gadis itu terus menunduk, ia tidak melepaskan genggaman tangan YiFan. Wajahnya memerah seiring ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Luhan dan Irene.

“K-K-Kim Hayeon…. imnida” ucap gadis itu memperkenalkan dirinya.

Kris membulatkan matanya saat mendengar sahabatnya itu memperkenalkan diri. Ia memberikan tatapan luar biasa terkejut kepada gadis yang mengklaim dirinya bernama ‘Kim Hayeon’ tersebut.

Hayeon hanya diam. Ia menatap lurus mata YiFan untuk sementara diam. Seakan mengerti, Yifan mengembalikan ekspresinya seperti semula tapi tetap dengan alisnya yang berkerut.

Luhan hanya diam lalu mengambil duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh di dekat mereka berdiri. Tampak tak peduli.

Hayeon yang melihatnya langsung menunduk kembali dengan wajah masam. Ia berniat menarik tangan Yifan untuk pergi dari sana, tapi Irene lebih dahulu menarik tangan Yifan sehingga genggaman tangan Hayeon dan Yifan terlepas.

“Siapa kau berani menarik Yifan gege? Dasar tidak tahu malu!” sengit Irene dengan tajam.

Hayeon menatap Yifan dan Irene secara bergantian dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Gadis bertubuh mungil itu mundur selangkah.

“Kau dibuang orang tuamu ke negara ini, bukan?. Aku sudah mendengar tentangmu.” Ujar Irene sambil tersenyum menyeringai. Luhan dan Yifan sontak terlihat sangat tekrjeut dengan apa yang dikatakan Irene. Taeyeon yang mendengar penuturan Irene pun langsung menangis.

Seperti kata orang, lebih baik mendengar kebohongan dari pada kenyataan. Karena bagaimana pun juga, kenyataan lebih sulit diterima dari pada apapun. Hayeon merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Kata kata Irene seakan jarum yang berusaha menembus baju bajunya untuk melukai kulitnya.

Gadis itu terisak dan langsung berlari dari tempat itu.

“BAE JU HYUN!!” Seru Yifan berapi – api memekikkan nama asli Irene. Pria itu tidak pernah menyangka Irene akan mengatakan hal itu. Meskipun Irene terkenal dengan sikap keras dan mulut tajamnya, tapi jujur saja, Yifan tidak berpikir sejauh itu jika Irene akan sangat membenci Hayeon.

Luhan masih dengan posisinya, duduk dan menonton pemandangan drama di depannya. Namja itu seketika berdiri ketika mendapati Irene yang merosot ke bawah tanah sambil menangis meraung – raung.

Irene memeluk kaki Yifan dengan terus menangis dramatis. Yifan tampak risih, tapi ia tidak bisa melepaskan pelukan tangan Irene yang begitu kuat. Ah, Yifan bisa. Tapi ia tidak ingin melakukannya karena bisa bisa ia melukai Irene dan membuat gadis itu semakin menangis.

“Luhan! Cepat kejar Hayeon!” seru Yifan sambil menarik ujung lengan baju Luhan dengan kuat.

Luhan membulatkan matanya terkejut.

“Aku?? Tidak mau!” protes Luhan

Kali ini Yifan menarik tangan Luhan dan sedikit mengguncang tubuh Luhan.

“Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa kau mau bertanggung jawab? Cepat kejar dia bodoh!”

Luhan terdiam, untuk sejenak, pria itu menyempatkan dirinya untuk berpikir. Ia menatap Irene lalu Yifan dengan tatapan bingung.

Seperti ada sesuatu yang aneh dengan sepupunya itu. Yifan tidak pernah sampai semarah ini dengannya. Luhan meringis lalu menepis tangan Yifan.

“Tenangkan Irene”

Setelah itu Luhan langsung berlari ke arah di mana Hayeon berlari tadi. Untuk menjawab pertanyaan yang jujur, Luhan bahkan tidak tahu kenapa ia harus mengejar gadis bernama Hayeon tersebut. Ah, katakan saja alasannya adalah agar tidak terjadi sesuatu hal buruk pada gadis itu dan Luhan tidak harus bertanggung jawab jika gadis itu mengalami hal buruk.

Tunggu dulu. Tunggu. Kenapa ia harus peduli dengan gadis itu? Kenapa ia harus bertanggung jawab jika gadis itu terluka atau mengalami hal buruk lainnya?

Luhan mengacak rambutnya gusar. Ia tidak punya pilihan lain selain menyusul gadis bernama Kim Hayeon tersebut.

WANNA BE YOURS

Waktu 25 menit akan terasa sangat lama jika kau bersama dengan orang yang kau benci. Sangat lama. 25 menit yang merupakan hanya satu per empat jam terasa seperti 25 jam. Itulah yang dirasakan Taeyeon sekarang. duduk di bangku penumpang belakang mobil Kris. Ia terus terusan memberengut kesal dan bimbang sejak lampu merah terakhir persimpangan komplek perumahannya.

Ia kesal. sungguh, sangat kesal. Taeyeon melemparkan tatapannya pada seorang pria yang duduk di samping Kris yang tengah mengemudi. Siapa lagi orang itu jika bukan Luhan? ia kembali menghela nafas. Mengingat bagaimana Luhan membocorkan masalah ‘neighborhood’ antara dirinya dan Luhan kepada Kris. Tapi hal itu tidak begitu membuat hatinya tertekan. Yang membuatnya bungkam sekarang adalah kalimat Luhan yang diucapkan pria itu sekitar 15 menit yang lalu.

Bertepatan saat Kris menghentikan laju mobilnya di depan rumah Taeyeon, gadis itu langsung turun dari mobil Kris setelah menyempatkan mencium pipi kiri Kris. Luhan yang duduk di kursi penumpang di samping Kris seketika membulatkan matanya saat melihat apa yang dilakukan Taeyeon barusan.

“Kau tidak turun?” tanya Kris sambil menatap Luhan.

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Kris. Pria itu masih sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Taeyeon pada sepupunya itu. 1001 pertanyaaan bermunculan di kepalanya. Dari ‘kenapa gadis itu mencium Kris?’ hingga ‘apa hubungan gadis itu dengan Kris?’

“Hari ini kau menginap di rumahku saja. Ada yang ingin kuceritakan”

Bukannnya menyanggupi ucapan Luhan, Kris justru mengalihkan topik pembicaraan mereka.”Harusnya kau tidak mengatakan hal sekasar itu pada Taeyeon”

Luhan terdiam. Ia menatap ke arah rumah Taeyeon lalu mendengus. “Kenapa? Itu memang benar ‘kan? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya” sengit Luhan. “Apa kau menyukai gadis itu? Atau kalian sudah menjalin hubungan? Pantas saja kau membelanya” ujar Luhan tanpa menatap Kris. Pria itu sibuk dengan iPhone nya. Tapi sebetulnya ia tidak sungguh – sungguh sibuk dengan gadgetnya itu. Ia justru sangat menantikan jawaban Kris atas pertanyaannya. Entah kenapa tapi jantung Luhan berdebar dengan sangat kuat.

Ia tak bisa menampik jika ia takut untuk mendengar jawaban apa yang akan dilontarkan Kris. “kau memang sangat dangkal” Ujar Kris. Luhan mengerutkan keningnya bingung dan tentunya kesal.

“Apa – apaan kau ini?” tanya Luhan memprotes kritikan pedas Kris. Kris membuang nafasnya kasar. “Turunlah. Aku lelah dan langsung ingin pulang ke rumah. Pikirkan apa yang sudah kau katakan pada Taeyeon, dan jika kau memiliki hati kau pasti akan menyesali apa yang telah kau katakan tadi”

“Dan ingat yang satu ini Xi Luhan. jangan Taeyeon… Jangan jika gadis itu adalah Kim Taeyeon. atau aku akan membunuhmu” lanjut Kris sembari memberikan tatapan tajamnya.

Luhan diam. Ia tampak berpikir lalu lambat laun alis pria itu berkerut menandakan ketidaksukaannya pada kalimat kalimat Kris. Luhan turun dari mobil Kris tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mobil kris pun langsung melaju kencang setelah ia turun.

Pria itu mendengus. Ia rasa ia tidak melakukan satu kesalahan pun pada gadis bernama Kim Taeyeon itu. Tidak-melakukan-kesalahan-apapun hingga Kris harus mengancam nya dengan kalimat horrornya. Luhan menatap lekat rumah Taeyeon. Sebersit perasaan aneh menghampirinya. Perasaan yang tiba tiba mengganjal pikirannya. Perasaan yang membuat Luhan menarik sulit nafasnya.

Luhan memasuki pagar rumahnya dengan tatapan lurus ke bawah. Untuk pertama kalinya Luhan tahu dan tidak bisa menutupi perasaan bersalahnya. Benar. Itu adalah perasaan bersalah.

FLASHBACK

“Aku benar – benar terkejut ternyata kalian adalah tetangga” ujar Kris sambil fokus menyetir.

“Aku juga benar benar terkejut jika dia adalah tetangga baruku” sengit Taeyeon dengan suara cuek sambil menatap jendela di sampingnya. Luhan tertawa hambar.

“Jangan memancingku Kim Taeyeon”

Taeyeon memiringkan kepalanya ke samping untuk menatap Luhan lalu menjulurkan lidahnya. Taeyeon menggumamkan sesuatu, Luhan dapat mengetahuinya dengan gerak bibir Taeyeon. Taeyeon bergumam…. ‘kerdil’

“Ya!! Nappeun!!” seru Luhan tidak terima.

“Nappeun? Apa kau tidak memiliki kaca di rumahmu Mr.Xi? bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau adalah seorang Casanova? ahh, kau memang tidak tahu diri” sengit Taeyeon. Kini gadis menggeser posisi duduknya ke kanan agar bisa menatap Luhan yang duduk di depannya.

Luhan mengepalkan tangannya geram.

“Jika saja kau bukan wanita, kau pasti sudah kubuat sekarat di rumah sakit” ujar Luhan dengan santai dan tatapan yang sangat tajam.

“Ohh… kalau begitu aku sangat beruntung karena terlahir sebagai seorang wanita” ujar Taeyeon sembari tersenyum sarkastik.

“Memangnya kau itu wanita? Tubuhmu tidak mencerminkannya” sindir Luhan tak mau kalah.

“Jika kalian terus berkelahi, kau akan kuturunkan di jalan Xi Luhan” ancam Kris sambil memijit pelipisnya. Mendengar Luhan dan Taeyeon yang beradu mulut cukup membuat kepalanya pusing.

“Salahkan gadis bodoh ini” protes Luhan.

“Kau yang salah pria bodoh!” sengit Taeyeon

Kris hanya menghela nafas. Ia sendiri bingung. Luhan yang ia kenal sejak kecil tidak pernah banyak bicara seperti ini. Bahkan hingga sekarang, Xi Luhan yang ia kenal hanya akan banyak bicara jika sedang dengan dirinya dan kedua orang tuanya.

Tapi lihatlah sekarang. Luhan berubah drastis menjadi pria yang ribut dan heboh saat bersama Taeyeon. Sifat dinginnya seketika berubah hanya karena keberadaan seorang gadis. Kris tidak berpikir macam macam dengan hal itu. Karena bagaimana pun juga, Taeyeon merupakan tipe seorang wanita yang mampu membuat orang orang disekitarnya bahagia. Tapi yang menjadi masalahnya adalah: apa dengan fakta mereka yang selalu bertengkar seperti itu adalah arti dari ke’bahagia’an?

“Kau benar benar sudah menyampakkan seorang pria? Pasti pria itu sangat bodoh sehingga bisa menyukai gadis menyebalkan seperti mu. Apa selama ini kau mempermainkannya?” ujar Luhan tiba tiba.

Kali ini Taeyeon tidak menjawab. Gadis itu diam. Bungkam. Dengan alasan yang jelas, dengan perlahan, Taeyeon kembali ke posisi duduknya yang awal. Taeyeon menatap nanar pemandangan dibalik kaca mobil Kris.

Kedua pria yang menyadari perubahan Taeyeon tersebut hanya diam. Kris, pria itu langsung melemparkan tatapan tajamnya pada Luhan. Sedangkan Luhan justru mengedikkan bahunya tidak peduli. Yah, ia memang tidak peduli. Untuk apa ia peduli pada gadis itu. Tapi setelah melihat wajah sendu Taeyeon dari pantulan jendela di sampingnya, ia merasa sedikit…. bersalah.

FLASHBACK END

WANNA BE YOURS

Next day at Taeyeon’s House

Taeyeon menuruni tangga rumahnya karena beberapa menit yang lalu ia mendengar Mom memanggilnya dari lantai bawah. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ruang tamu. Ia baru saja bangun dari tidur nya. Taeyeon bersyukur karena hari ini adalah hari sabtu, karena pada hari sabtu SM High School mewajibkan murid murid nya untuk tidak bersekolah.

Tentu saja Taeyeon bersyukur? Karena apa? Karena setidaknya diakhir minggu seperti ini ia tidak perlu melihat batang hidung Xi Luhan. Meskipun Luhan adalah tetangganya. Itu mudah, Taeyeon tinggal tidak keluar dari rumah dan ia pasti tidak akan berjumpa dengan Luhan.

2 langkah lagi menuju ruang tamu, seketika Taeyeon menghentikan langkahnya. Terdengar sebuah suara yang sangat familar baginya. Suara seorang pria. Pria yang begitu familiar keberadaannya bagi Taeyeon. Dengan perasaan cemas, Taeyeon melangkahkan kakinya di persikungan tangga dan yang pertama kali di lakukannya adalah menghela nafas.

Objek yang berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya itu cukup membuat nya berpikir jika tidak ada gunannya ia mengurung diri di rumah hari ini. Objek yang menyebalkan. Terkutuk. Taeyeon membencinya. Objek bernama Xi Luhan.

“Taeyeonnie, kemari sayang” panggil mom sembari mengayunkan tangannya meminta Taeyeon mendekat.

Gadis itu melenguh kesal sambil berjalan mendekat. Sedangakan Luhan, sepasang mata rusa miliknya tidak pernah berpindah dari Taeyeon sejak gadis itu turun dari tangga. Bagaimana tidak? Taeyeon sekarang hanya menggunakan hotpans longgar yang sangat pendek dan kaos kebesaran yang memperlihatkan leher jenjangnya.

Luhan menampilkan smirknya diam diam.

“Kenapa dia ada di sini Dad? Usir dia dari rumah kita”
sungut Taeyeon sambil bergelayut manja di lengan Dad. Mom menghela nafas pelan.

“Jangan seperti itu Taeng, kami sedang meminta tolong pada Luhan” ungkap Mom

Taeyeon mengerutkan keningnya, ia melepaskan pelukannya pada Dad lalu menatap Mom dengan tatapan bingung. “Meminta tolong dengannya? apa maksudnya Mom?” Tanya Taeyeon.

“Mom dan Dad akan berangkat ke Jepang sore ini” ungkap Dad membuat Taeyeon membulatkan sempurna kedua bola matanya. Ia menatap Mom dan Dad secara bergantian, lalu menatap Luhan singkat dan kembali menatap Dad.

“Kenapa sangat tiba – tiba? Untuk apa pergi ke Jepang? Kenapa tidak bilang dari kemarin denganku? Lalu apa hubungannya dengan Luhan?” tanya Taeyeon bertubi – tubi.

“Cabang perusahaan Dad yang berada di Jepang sedang dalam ambang kehancuran. Dad tidak bisa lagi mempercayakan perusahaan itu pada siapapun. Dad harus turun tangan, Taeng” ujar Dad sambil mengusap lembut pucak kepala Taeyeon.

“Tidak mungkin jika Dad sendirian di sana, Mom juga harus ikut ke Jepang. Taeng tentu tahu jika Mom dulu adalah sekretaris Dad, bukan? Jadi Mom juga ingin membantu. Kami akan usahakan pulang secepat mungkin ke Korea” ujar Mom sembari memasang senyum masam.

Taeyeon mengembungkan pipinya kesal. “Lalu aku sendirian di Korea?” tanyanya seolah itu adalah sebuah fakta.

Dad dan Mom menggeleng bersamaan. “Tentu saja tidak. Kau memiliki banyak teman, Taeyeon. Dan Dad juga sudah meminta Luhan untuk menemanimu selama kami pergi” ucap Dad.

Sontak Taeyeon berdiri dari dari duduknya, ia menatap horror Dad dan langsung menunjuk Luhan yang sedari tadi hanya diam.

“Ige mwoya?!! Dad memintanya untuk menemaniku?? Andwae!! Aku bisa meminta Tiffany menginap di rumah. Aku tidak mau jika dia berada di rumah kita!” seru Taeyeon dengan tangan yang terlipat di depan dadanya.

Dad menarik pelan tangan Taeyeon sehingga gadis itu kembali duduk.

“Jangan seperti itu Taeng. Orang tua Luhan juga sangat sibuk, sama seperti kami berdua. Akan sangat tidak etis jika kau mengajak teman teman mu yang kebanyakan adalah pria ke dalam rumah ketika kami tidak ada. Apa lagi semua teman temanmu menggunakan mobil. Hal itu pasti menjadi sorotan para tetangga ketika mereka melihat pria pria keluar masuk rumah kita

“Tapi jika Luhan, tetangga pasti tidak begitu memperhatikannya. Luhan bisa masuk ke rumah kita lewat halaman belakang dan tidak memancing perhatian tetangga.Dad sebetulnya sangat tidak menginginkan keberangkatan ini, tapi dad juga tidak bisa membiarkan perusahaan yang sudah Dad bangun dengan susah payah hancur. Jadi selama Dad berusaha di Jepang, bisakah Taeng tidak membuat masalah di Korea dan menuruti apa yang dikatakan Luhan?” ujar Dad panjang lebar.

Taeyeon diam, berpikir. Sekarang ia sangat bingung. Ia bingung kenapa kedua orang tuanya dengan sangat cepat bisa mempercayai Luhan. Sangat mempercayai Luhan sehingga mereka meminta pria itu untuk menjaganya dan tinggal bersamanya.

Taeyeon ingin menolak pertanyaan Dad, tapi jika ia melakukannya, Dad dan Mom pasti kesulitan. Ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya kesulitan, ia juga tidak ingin perusahaan yang sudah dibangun Dad dari nol di Jepang hancur begitu saja.

Gadis itu menarik nafas dengan berat lalu membuangnya perlahan.

“Baiklah” gumam Taeyeon pelan.

Dad langsung memeluk Taeyeon. Ia mengusap punggung Taeyeon dengan lembut.

“terima kasih Taeyeon. Dengarkan apa yang dikatakan Luhan, mengerti? Anggap saja itu sebagai balasan budi mu kepadanya karena Luhan sudah mau menjagamu selama kami di Jepang” ujar Mom

Taeyeon menatap Luhan sebentar lalu dengan ragu menganggukkan kepalanya. “Iya Mom, aku mengerti. Tapi aku juga ingin mengajak Tiffany. Kenapa kalian sangat percaya dengan Luhan? dia bisa saja melakukan hal buruk padaku. Lebih baik aku mengajak Tiffany saja”

Dad menghela nafas lalu tersenyum. “Dad dan Mom sangat mempercayai Luhan, Taeng. Naluri kami mengatakan jika Luhan akan menjagamu dengan sangat baik. Itu adalah naluri orang tua. Tentu saja kau bisa mengajak Tiffany. Tapi alangkah baiknya jika di rumah ada seorang pria. Hal itu membuat Dad dan Mom tidak begitu cemas” ujar Dad yakin. Taeyeon mempoutkan bibirnya lalu melirik Luhan.

Luhan menatap Taeyeon sambil tersenyum, atau lebih tepat jika dibilang menyeringai. Taeyeon membalas tatapan Luhan dengan tatapan bingung, ia tidak mengerti dengan arti tatapan yang diberikan Luhan.

Dad melirik jam tangannya sebentar lalu menoleh ke arah jendela.

“Ah, itu dia sudah datang” ujarnya

Mom dan Dad langsung berdiri dan mengambil koper mereka yang berada di samping sofa sehingga sedari tadi Taeyeon tidak melihatnya. “Siapa itu, Dad?” tanya Taeyeon sembarik memperhatikan sebuah mobil hitam bermerek Audi terparkir di depan rumahnya.

“Karyawan di perusahaan Dad” jawab Mom lalu langsung memeluk Taeyeon singkat dan memberikannya sebuah ciuman singkat di pipi kiri dan kanan Taeyeon.

“Jaga dirimu baik – baik Taeng. Mom akan selalu meneleponmu setiap harinya. Jadi anak yang baik, ok?” tanya Mom. Taeyeon mengangguk sambil tersenyum.

“Tenang saja Mom, Dad. Aku akan jadi anak yang baik di sini” jawab Taeyeon

Setelah memeluk Taeyeon dan mengecup kening Taeyeon, Dad langsung menepuk pundak Luhan.

“Jaga anak ku baik – baik. Dia adalah anakku satu satunya. Aku benar benar meminta tolong padamu Luhan” mohon Dad serius sambil menatap lurus mata Luhan.

Luhan mengangguk mengerti. “Aku akan menjaga Taeyeon, ahjussi” ungkap Luhan sambil tersenyum mantap. Taeyeon hanya diam memperhatikan Luhan dan Dad. Ia sendiri sejujurnya masih tidak begitu yakin dengan Luhan.

“Baiklah. Kalau begitu kami akan berangkat Taeng” ujar Mom.

Setelah itu, Dad dan Mom pun langsung berangkat ke bandara dengan mobil yang menjemput mereka. Taeyeon dan Luhan memperhatikan mobil tersebut hingga tidak terlihat lagi. Taeyeon mendudukkan tubuhnya di sofa lalu menghela nafas. Luhan membalik tubuhnya dan langsung memperhatikan Taeyeon. “Kenapa?” tanya Taeyeon risih saat menyadari Luhan memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah.

Luhan tersenyum menyeringai lalu mengambil tempat duduk di samping Taeyeon. Gadis itu pun langsung mengambil jarak dari Luhan. “Apa yang ingin kau lakukan? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Taeyeon yang mulai ketakutan.

Bagaimana tidak? Luhan sekarang berada sangat dekat. Tangan pria itu diletakkannya di sisi kiri dan kanan tubuh Taeyeon sehingga Taeyeon tidak dapat kemana mana. Pergerakannya terkunci. Ralat, tapi dikunci.

“Kim Taeyeon…” ujar Luhan dengan nada seductive tepat di depan telinga Taeyeon. gadis itu sangat gugup. Luhan yang sangat dekat dengannya membuat dirinya yakin jika wajahnya terlihat sangat konyol sekarang.

Dengan segenap kekuatan, Taeyeon mendorong dada bidang Luhan sehingga mereka memiliki jarak aman. Luhan mengalah. Tentu saja. Jika ia mau, ia bisa menahan dorongan Taeyeon dan melakukan hal gila pada gadis itu sekarang juga. Walaupun melihat tingkah gadis itu di gugup membuat Luhan semakin bernafsu. Tapi mungkin niat Luhan terlalu cepat jika dilakukannya sekarang. ia juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ia melakukannya.

    “APA YANG INGIN KAU LAKUKAN MESUM?!!” Pekik Taeyeon

    “Menurutmu apa pendek?” jawab Luhan seadanya dengan wajah santai

Taeyeon mendengus. “Jangan berani berani menyentuhku atau kuadukan kau pada Kris!! Kau mengerti? Dan hanya menunggu di sini selama aku menelpon Tiffany! Jangan beranjak sedikit pun dari sana dan jangan sentuh apapun!!!!” sengit Taeyeon. Luhan berpura pura tidak mendengar dan dengan lagaknya menidurkan tubuhnya di sofa empuk rumah Taeyeon sambil bermain game di hp nya.

WANNA BE YOURS

“Yeoboseyo?” tanya Tiffany dari seberang telepon.

“Fany-ah, bisakah kau menginap di rumahku hari ini? Kumohon” ujar Taeyeon. gelisah. Gadis itu menggigiti kukunya sambil menunggu jawaban dari Tiffany.

Gadis bermarga Hwang itu tampak menimbang nimbang sebelum menjawab.

“Arraseo. Tapi kenapa? Di mana orang tuamu? Apa mereka pergi? Jadi kau hanya sendirian?” tanya Tiffany bertubi – tubi.

Taeyeon menghela nafas berusaha sabar menghadapi sifat Tiffany yang selalu berlebihan dalam menyikapi suatu hal.

“Orang tuaku pergi ke Jepang. Selanjutnya akan kuceritakan ketika kau di rumahku. Dan aku berpesan, jangan kaget ketika kau sampai di rumahku nanti. Bye Fany”

“Memangnya ada apa? Kau berniat membuat surprise untukku? Lupakan saja Kim, ulang tahunku sudah lama lewat” ungkap Tiffany percaya diri.

“Aiss, jangan banyak bertanya Fany. Cepatlah datang ke sini. Annyeong” ujar Taeyeon buru buru lalu segera mematikan sambungan telepon mereka. Berniat agar Tiffany tidak sempat menjawab nya. Taeyeon menghela nafas panjang sembari mendudukkan pantatnya diujung ranjangnya.

Ia gelisah. Tentu saja. Mungkin hari ini Tiffany bisa menginap dirumahnya, tapi untuk besok dan kedepannya? Ia yakin Tiffany tidak mungkin bisa. Karena Tiffany mengikuti ekstrakulikuler cheerleader yang sangat sibuk akhir akhir ini. Taeyeon meletakkan iPhone nya ketika benda berbentuk panjang dan berwarna silver itu berbunyi meminta dilayani.

Taeyeon segera mengambilnya dan senyumnya seketika merekah ketika itu adalah pesan dari Baekhyun. Namun Taeyeon merasa sedikit bingung. Sejak kapan Baekhyun mengiriminya sms di siang hari seperti ini? Biasanya Baekhyun hanya mengiriminya sms di kala malam hari untuk sekedar mengucapkan ‘selamat malam’ dan jika pun pada siang hari pria itu melakukannyajika ada sesuatu yang sangat penting, sisanya ia selalu langsung berbicara melalui telepon. Aneh batin Taeyeon.

Taeyeon ingin mengunci hp nya ketika jari kecilnya salah menekan pilihan dan justru membuka website berita harian MSC yang pernah didownloadnya untuk tugas kelompok sekitar 2 minggu yang lalu.

Taeyeon melebarkan matanya saat melihat artikel berita sebuah kecelakaan yang baru saja terjadi pada jam 8.15 KST. Bukankah sekarang jam menunjukkan pukul 8.45KST? berarti kejadian tersebut baru terjadi sekitar setengah jam yang lalu? Taeyeon berdesis kagum, media berita Korea selatan memang sangat gesit dan aktual dalam menyampaikan berita. Bahkan identitas, segala macam tentang korban sudah tertulis lengkap di dalamnya.

“Seorang siswi X Senior High School bernama lengkap Kim Ha Yeon telah mengalami insiden memilukan…. blabblablabla… diduga korban kehilangan keseimbangan dan menabrak bahu jalan, tim forensik telah memberikan bukti bahwa korban tersebut positif pengguna narkoba jenis…” Taeyeon membekap mulutnya shock. Gadis itu memberhentikan kegiatan membacanya.

Narkoba bukanlah hal yang sederhana bagi Taeyeon. ia bergidik ngeri mengingat korban tersebut masih remaja. Dan terlebih, nama itu.. nama lengkap korban yaitu ‘Kim Hayeon’…. Taeyeon merasa tidak nyaman mendengarnya, ia merasa sedikit… Ah lupakan, untuk apa ia repot – repot memikirkannya? Sedetik kemudian, Taeyeon tersentak mengingat isi pesan Baekhyun beberapa menit yang lalu.

Gadis itu buru – buru mengambil jaket nya yang tergantung di pintu lemari bajunya yang terbuka dan segera bergegas keluar kamar.

WANNA BE YOURS

“Aku akan pergi sebentar” pamit Taeyeon sembari menggunakan sepatunya. Ia memasukkan iPhone nya yang sedari tadi ditentengnya ke dalam tas selempang mungil berwarna putih yang tergantung di bahu kanannya.

Luhan menatap Taeyeon dengan penuh kebingungan dan ketidaksukaan. Pria itu mengerutkan keningnya lalu ketika Taeyeon hendak membuka pintu, Luhan lebih dulu membatalkan niat gadis itu dengan mencengkeram tangannya dengan kuat sehingga membuat Taeyeon meringis kesakitan.

“Ya! Lepaskan! Apa – apaan kau ini?!”

“Apa kau lupa jika perjanjiannya kau harus mematuhi ucapanku? Ingin pergi ke mana kau? Berapa lama? Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu karena jika iya aku yang akan disalahkan” ungkap Luhan mantap lalu menghempaskan tangan Taeyeon ke bawah.

Taeyeon hanya bisa menghela nafas geram. Sikap Luhan yang semena mena dan sombong membuat darah Taeyeon mendidih dan hampir menimbulkan asap keluar dari kedua kupingnya. Tentu saja. karena Luhan memiliki hak atas ‘perjanjian konyol’ yang dibuat Dad. Tapi hal itu sangat merugikan Taeyeon. Melindungi apanya? Luhan lebih cocok disebut memaksa dari pada melindungi.

“Aku akan ke taman di komplek ini. Hanya sebentar. Tidak perlu mencemaskanku” sengit Taeyeon lalu setelah itu langsung beranjak keluar rumah. Luhan yang mendapati dirinya kembali ‘ditolak’ hanya bisa mengeram kesal. Sebetulnya Luhan sangat percaya diri akan kekuasaan daya tariknya. Tapi semenjak bertemu dengan Taeyeon, ia menjadi sedikit meragukan hal itu.

WANNA BE YOURS

“Baek!!!” pekik Taeyeon girang ketika melihat sosok Baekhyun yang duduk di kursi taman di bawah pohon. Baekhyun yang mendapati Taeyeon berlari ke arahnya hanya memasang ekspresi datar nan dingin.

“Baekhyun-ah… kenapa… kau.. tidak ke.. rumahku.. saja??” tanya Taeyeon sambil berusaha menetralkan nafasnya yang memburu. Baekhyun menatap lurus mata Taeyeon dengan pandangan kosong. “Ayahku menyuruh ku memberikan ini untuk mu” ungkap Baekhyun sembari menyodorkan sebuah plastik yang entah apa isinya, berbentuk kotak menunjukkan isinya berbentuk sama.

“Apa ini?” tanya Taeyeon menerima bungkusan tersebut.

“Kimchi dan Jajangmyeon” jawab Baekhyun, kini tanpa menatap Taeyeon.

Taeyeon langsung ber ‘Oh’ ria lalu tersenyum lebar. “Terima kasih banyak!! Sampaikan salam ku kepada Ahjussi, ok?” ucap Taeyeon riang sambil menepuk nepuk pundak Baekhyun dengan pelan.

Baekhyun mengangguk pelan lalu dengan ekspresi yang masih sama yaitu dingin, pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan pergi tanpa berbicara atau pamit terlebih dahulu. Taeyeon melongo bingung melihat sikap hoobaenya itu yang bisa dibilang tidak pernah terjadi sebelumnya. Taeyeon mempoutkan bibirnya sedih, mungkin Baekhyun masih marah dengannya pasal karena ia menariknya kemarin. Tapi apa itu tidak terlalu berlebihan? Bahkan tempo hari Taeyeon pernah tidak sengaja membuat Baekhyun terjatuh ke dalam kolam ikan di taman sekolah dan Taeyeon juga pernah membuat Baekhyun menunggu selama 5 jam lebih di sekolah ketika ia lupa memiliki janji pergi dengan pria itu, tapi Baekhyun tidak marah dan justru hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepalanya lalu mengatakan ‘tidak apa – apa’

Lalu, hanya karena ia menarik pria itu berlari bersamanya ia marah dan bersikap dingin pada nya? sangat aneh. Taeyeon tidak suka Baekhyun yang dingin dan pendiam. Ia mengenal dan menyukai Baekhyun yang hangat dan cerewet. ia tidak ingin terus terusan seperti ini. Ia ingin pengakuan langsung dari bibir Baekhyun.

Setelah ribut dengan pemikirannya dan akhirnya menemukan keputusan, Taeyeon langsung berlari menyusul Baekhyun yang sudah berdiri di samping motor besarnya untuk pulang. Gadis itu menarik tangan Baekhyun untuk meminta agar Baekhyun tidak pulang dan langsung memeluknya dengan erat.

“Maafkan aku Baek. Maaf jika noona sudah membuat mu marah. Noona tahu jika kau memiliki masalah. Ceritakan saja semuanya pada noona. Aku tidak ingin melihat adikku menjadi dingin seperti ini” ujar Taeyeon memelas.

Baekhyun hanya diam. Lalu lambat laun tatapan pria itu berubah menjadi nanar. Terlihat rasa kekecewaan dan kesedihan yang sangat mendalam di sepasang mata sipitnya. Baekhyun membuka mulutnya dengan perlahan.

“Kaulah masalahku”

Taeyeon melebarkan matanya terkejut. “A-aku? Apa salahku? Katakan saja Baek” pinta Taeyeon memohon. Baekhyun menggeleng pelan lalu melepas paksa pelukan sepihak mereka. “Pulanglah” ucap Baekhyun singkat. Merasa tidak puas, Taeyeon beranjak dan memeluk Baekhyun dengan sangat erat dari belakang. Gadis itu menggigit bibirnya. Bingung dan kesal disaat yang bersamaan. Bingung kenapa Baekhyun menjadi seperti ini dan kesal kenapa Baekhyun tidak ingin membuka mulutnya untuk menceritakannya. Taeyeon yakin 100% jika Baekhyun menjadi seperti ini bukan hanya semata – mata karena kejadian kemarin pagi.

“Kumohon jangan seperti ini Baekhyun. Noona mencemaskanmu” ungkap Taeyeon

Kali ini Baekhyun mendengus. Ia melepas kasar pelukan Taeyeon dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Taeyeon. Taeyeon masih sangat terkejut lantaran aksi Baekhyun ketika pria itu meletakkan sepasang tangannya di bahu kiri dan kanan Taeyeon. Baekhyun menatap intens iris hazel menawan Taeyeon yang selalu berhasil membuatnya tahluk dan luluh di bawah kekuasan gadis mungil itu.

“Jika tidak ada harapan… maka hentikan saja. Kumohon hentikan saja” ujar Baekhyun parau.

Taeyeon tak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar apa yang dikatakan Baekhyun. Apa maksudnya? Apa yang harus dihentikan? Harapan apa maksudnya? Ia tidak mengerti. Bisakah seorang saja memberi tahu Taeyeon tafsiran kalimat Baekhyun?

Taeyeon memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu Baekhyun?” tanya Taeyeon

Pria itu mendesah berat. Ia menurunkan tangannya dari pundak Taeyeon. ia mengambil nafas sebanyak mungkin, menahannya sekitar 3 atau 5 detik dan menghembuskannya dengan pelan.

“Aku mencintaimu”

Taeyeon sedikit memajukan kepalanya ke depan ketika mendengar dua kata yang terlontar dari bibir Baekhyun tersebut. Ia tidak begitu yakin dengan kemampuan indra pendengarannya sekarang. Baekhyun? Byun Baekhyun? Adik kelasnya itu baru saja menyampaikan perasaannya? Ayolah, jangan konyol. Baekhyun adalah adiknya, meskipun dalam rangka ‘menganggap-adik-kelas-sebagai-adik-kandung’ .

“Aku mencintaimu noona” ulang Baekhyun

Sekarang 3 kata kembali terdengar di telinga Taeyeon. dan ia semakin yakin jika telinganya betul betul sudah rusak. Keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuhnya.

“Jangan bercanda Byun Baekhyun” ucap Taeyeon pelan, nyaris tak terdengar

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda Kim Taeyeon?” balas Baekhyun dengan mimik serius. Taeyeon semakin dilanda kegelisahan. Fikirannya melayang ke mana-mana. Gadis itu memberengut kesal mendapati dirinya yang semakin mendongkol.

“Baekhyun. Kumohon. Jangan putuskan tali kekeluargaan kita”

Baekhyun – pria itu tersenyum miring.

“Siapa yang ingin memutuskan tali kekeluargaan kita noona? Aku? Tidak. Dari pada pusing memikirkan itu, lebih baik noona bersiap siap karena mulai dari hari ini aku akan berusaha membuat noona menjadi milikku. Membuat noona berhenti menganggapku sebagai adik kecilmu. Membuat noona jatuh cinta padaku seperi apa yang telah noona lakukan padaku. Anggap saja ini sebagai balas dendamku padamu. Aku pulang. Bye noona” Ujar Baekhyun.

Taeyeon hanya diam. Diam sambil melongo. Bahkan hingga Baekhyun menyalakan motor besarnya dan hilang di persikungan jalan, Taeyeon masih dalam posisi yang sama dengan mulut yang sedikit terbuka.

WANNA BE YOURS

Taeyeon’s House

Taeyeon baru saja pulang dari taman setelah menemui Baekhyun dan ia mendapati Luhan yang tampak yang sulit diartikan di kursi ruang makan rumahnya. Luhan terus memandangi layar hp-nya. Entah apa yang sedang dilihatnya, tapi Taeyeon dapat melihat ekspresi sedih dan muram dari sudut mata rusa milik pria itu. Sebersit rasa bersalah menghampiri Taeyeon.

Taeyeon’s POV

Harusnya Mom dan Dad tidak usah meminta tolong dengannya. Begitu kentara jika Luhan terpaksa menerima permintaan Mom dan Dad untuk menjagaku. Seorang Casanova seperti Luhan pasti merasa sangat kesal karena tidak bisa berkeluyuran dengan wanita wanitanya di waktu weekend seperti ini. Ia pasti merasa sangat tersiksa berada di rumahku.

Aku berdiri di samping Luhan yang sedang duduk dan menidurkan kepalanya di meja makan. “Kau ingin makan apa? Aku tidak bisa memasak, tapi aku akan mencoba yang terbaik” ujarku mencoba bersikap baik. Aih, memang menjijikkan.

Luhan mengangkat kepalanya dengan lesu lalu menatapku dengan tatapan dinginnya. Jujur saja, atau anggap saja jika kalian memaksaku untuk jujur. Tapi aku sangat menyukai tatapan dingin Luhan. tatapan dingin yang memancarkan aura mature seorang pria. Aku menyukainya. Tapi lain hal jika ia sudah membuka mulutnya, image seorang PRIA dalam dirinya seketika hilang dari fikiranku.

“Terserah. Yang kau bisa saja” jawabnya

Normal POV

“Terserah. Yang kau bisa saja” jawab Luhan lesu. Nada suara pria itu sangat pelan, bahkan terlalu pelan hingga terdengar seperti melodi ballad yang indah. Taeyeon sendiri merasa aneh dengan perubahan sikap Luhan yang sangat drastis.

“Baiklah” ucap Taeyeon. baru saja gadis itu ingin bergegas ke dapur, Luhan lebih dulu mengenggam tangan gadis itu sehingga pergerakannya terhenti. Taeyeon langsung memberikan tatapan tajamnya pada Luhan. Tapi seketika tatapan tajam Taeyeon luntur ketika melihat raut wajah Luhan. wajah pria itu… berbeda, jauh berbeda dari yang sebelum – sebelumnya. Wajah yang memancarkan rasa sedih yang sangat mendalam. Begitu memilukan. Iris hazel milik pria itu serasa berubah warna menjadi sangat pekat sehingga membuat sepasang mata rusanya tampak sayu.

“W-Waeyo?” tanya Taeyeon dengan nada pelan.

Luhan membalas tatapan Taeyeon dengan tatapan yang sangat memilukan. Pria itu membuka sedikit bibir tipisnya untuk sekedar mengeluarkan jawaban.

“Aku ingin bertemu dengannya” jawab Luhan. suaranya yang bergetar. Taeyeon semakin dibuat bingung olehnya. “Apa maksudmu?” tanya Taeyeon kebingungan. Luhan menarik nafasnya dengan sangat sulit. Pria itu tidak menjawab dan justru memejamkan kedua matanya. Dan di saat bersamaan, di saat Luhan menutup kedua kelopak matanya. Sebuah air mengalir dengan sangat lembut dari pelupuk mata hingga pipi Luhan.

Taeyeon membulatkan matanya. Bingung dan sangat bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa. ‘crying Luhan’ di matanya terlihat sangat aneh. Ia tidak tahu Luhan yang seperti ini. Ia tidak tahu jika bahkan iblis seperti Luhan memiliki air mata seindah itu. dengan sangat perlahan, Taeyeon meletakkan tangan lembutnya di atas permukaan kepala Luhan yang masih memejamkan mata.

Sesaat Taeyeon mulai memainkan tangannya dengan membelai lembut surai indah Luhan, tangis pria itu pun pecah. Luhan langsung memeluk pinggang Taeyeon dengan erat. Menenggelamkan kepalanya di pinggang ramping gadis itu. Taeyeon tersentak kaget atas perlakuan Luhan. ingin rasanya untuk mendorong Luhan dan menampar nya dengan segenap kekuatan karena sudah berani memeluknya, terlebih dengan posisi seperti ini.

Tapi Taeyeon masih memiliki ruang di hati malaikatnya untuk menempatkan si iblis Luhan yang terlihat sangat memilukan. Meskipun tidak tahu alasan mengapa Luhan menangis layaknya bayi sekarang ini, Taeyeon tetap membiarkan pria itu menguras air matanya sembari memeluknya. Dengan sangat lembut, Taeyeon mengusap kepala Luhan yang bersender di perutnya.

“Aku ingin bertemu dengannya. Kenapa dia meninggalkanku? Aku ingin meminta maaf” Isak Luhan.

Taeyeon menundukkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa maksudmu dan apa masalahmu. Tapi menangislah. Menangis saja jika itu bisa mengurangi sedikit dari rasa sedihmu.” Ujar Taeyeon gugup.

ingin kembali membelai rambut Luhan, gerakannya terlebih dulu batal karena dengan sangat cepat Luhan melepaskan pelukan sepihak mereka. berdiri dengan tegap berhadapan dengan Taeyeon yang masih tampak bingung dan malu karena sudah mengucapkan kalimat seperti itu kepada Luhan. Lalu dengan secepat kilat, tangan Luhan menarik pinggang ramping Taeyeon. menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya dan dengan sangat lembut menempelkan bibir nya pada bibir ranum Taeyeon.

Taeyeon membulatkan matanya. Sangat. Sangat. Sangat terkejut. Ia ingin melepaskan pelukan Luhan terhadapnya. Tapi entah mengapa Taeyeon merasa sangat lemah sekarang. bibir Luhan yang mencium lembut bibirnya membuat seluruh kerja otak Taeyeon seakan mati, otot – ototnya terasa kaku, lututnya terasa lemas, dan ia tidak bisa bernafas. Oksigen di sekitarnya terasa semakin sedikit. Taeyeon menatap Luhan yang masih setia menempelkan bibir nya. Ralat, bukan hanya menempelkannya tapi juga melumatnya. Melumat dengan sangat perlahan seolah ia tak ingin tertinggal 1 mm pun bagian bibir Taeyeon.

Taeyeon tahu hal itu salah. Berciuman adalah hal yang salah. Ralat, berciuman saat kedua orang tuanya tidak ada di rumah dan dengan orang yang tidak memiliki status dengannya adalah suatu yang sangat salah. Tapi bahkan untuk menampik hal itu Taeyeon merasa sangat tidak mampu. Rengkuhan lembut luhan membuat nya tak berdaya. Ia memang sudah sangat terbuai dengan ciuman yang diberikan pria itu.

Lambat laun ciuman mereka semakin memanas. Taeyeon pun tak dapat menahan hasratnya lagi dan mulai mengeluarkan suara suara aneh. Tidak cukup sampai disitu, Luhan mulai menurunkan ciumannya ke bawah menuju rahang tajam Taeyeon. mengecupnya beberapakali dan sesekali menjilatinya sementara Taeyeon berusaha menetralkan nafas sembari terus mengeluarkan rintihan rintihannya. Seolah merasa bosan menempelkan bibirnya di sana, Luhan kembali kepada bibir Taeyeon yang sudah terlihat membengkak. Melumat dan sesekali menggigitnya. Sesaat Luhan merasa Taeyeon sudah sangat tidak berdaya, Luhan berinisiatif menggendong Taeyeon ala bridal style menuju kamar.

To Be Continued….

PREVIEW NEXT CHAPTER

“Lu- Luhan.. ku.. kumohon berhenti….”

“Kau berhutang cerita denganku Miss Kim Taeyeon”

“Kau tidak apa – apa?”

“Kris… peluk aku sekarang juga”

“Sepertinya aku masih menyukaimu”

“Kim Ha Yeon sudah mati, hiduplah dengan terus menyesalinya”

A/N

CAN I REACH 100 COMMENT?? Kalo sampe 100, author janji chapter 4 lebih banyak lutae moment 17+ nya ^^ #dipelukluhanditaboktaeyeon. Btw, chapter ini puanjang banget lho -_- 8500+ words. Author buat panjang karena reader udah lama nunguu ^^

Contact twitter: @sonecodes

Follow my fanbase, help me to reach 1,5k followers my readers, twitter : @309codes

©UNICORN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Advertisements

131 comments on “[FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 3)

  1. Daebak, Baekhyun blak blakan jga. Terus Luhan nangis karena apa? Kim Hayeon? Ntar Taeyeon sama sapa? Bagus thor 😀

  2. ini pasti luhan salah paham soal kim haeyeon, pasti dia pikir yang meninggal itu taeyeon. duh lulu

  3. Taeyeon kagak peka banget nih haha. Byun Baekhyun raising up/? bangkit memperjuangkan cinta dia sebagai seorang namja, semangat yaa. Banyakin Kristae sweet moment dong, hot moment nya sama Luhan aja, terus biarkan Baekhyun jadi milikku seorang haha

  4. baekyeon vs lutae vs kristae ?berharap lutae yang menang 😀
    oke di tunggy next chapternya thor

  5. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 4 {Part B/B}) | All The Stories Is Taeyeon's

  6. daebak..next thor penasaran sama kelanjutan ny..😁😁
    oiya mian ya thor baru komen di chapter ini…
    #FightingThor
    #Mian

  7. wahhh Baekhyun mulai blak2an nih??
    bikin Taeyeon bingung dah sama perasaan nya

    Kim Hayeon?? itu siapa??
    penasaran dah sama kelanjutannya

    banyakin ya moment LuTaenya

    eh itu ngapain Luhan ke kamar Taeyeon ?? wahh wahh jangan….jangann…

  8. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 5) | All The Stories Is Taeyeon's

  9. Entah kenapa setiap baca ff yg pairingnya lutae, pasti bagusnya bener2 bagus. Gak abal2. Mending semua author pake pairing lutae aja deh. Menantang tuh 😂
    Bagus thor! Suka banget! Aku umur 15, tpi suka bgt ama ff 17+ gini 😂

  10. Pingback: [FREELANCE] Wanna Be Yours (Chapter 6) | All The Stories Is Taeyeon's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s