[FREELANCE] Between You and Him (Chapter 2/END)


Between You and Him (Chapter 2 END)

 

Author: Han Sung Young

Rating: PG 15

Lenght: Twoshot

Genre: Romance, School-life, Fluff, Family, Sad

Main Cast: Oh Sehun, Kim Taeyeon, Xi Luhan

Other Cast: Find it by yourself

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Thanks to:  Jungleelovely @ Poster Channel

Happy reading^^

2nd / Twoshot

Chapter 1

Beberapa minggu telah berlalu, kini hubungan antara Luhan dan Taeyeon pun semakin dekat. Ini semua berkat Sehun. Setiap namja itu ingin pergi dengan Taeyeon, Sehun pasti akan mengajak Luhan pula. Atau jika Sehun ingin pergi dengan Luhan dirinya juga pasti akan mengajak Taeyeon. Entah itu hanya jalan-jalan ketaman, atau bersepada, Sehun pasti akan mengajak Luhan dan Taeyeon.

Bisa dibilang Sehun adalah namja terbaik di dunia ini. Ia rela mendekatkan yeoja yang dicintainya demi temannya. Sehun memang cemburu, sangat cemburu. Seperti Taeyeon yang terlihat lebih dekat dengan Luhan daripada dirinya, atau Luhan yang dengan sengaja melakukan skinship dengan Taeyeon, hal itu akan membuat api dalam diri Sehun mulai menyala.

Sehun tak mau egois, bagaimanpun usaha yang dilakukannya, jika Taeyeon tak menyukainya, maka gadis itu akan tetap tak menyukaianya. Walaupun ada kemungkinan Taeyeon bisa menyukainya, tapi sangat kecil kemungkinannya jika mengingat kedekatan antara Luhan dan Taeyeon selama ini.

Jika boleh jujur, Sehun selalu menghindar jika Luhan dan Taeyeon terlihat asik berdua. Sehun sangat tak sanggup jika melihat hal itu. Tapi baik Taeyeon dan Luhan tak bersalah dalam hal ini, sama sekali tak bersalah. Sehun dapat meyakini itu jika dirinya memikirkan hal ini dari sudut pandang Luhan dan Taeyeon.

Luhan tak bersalah karena namja itu tak tau jika Taeyeon adalah cinta pertama Sehun. Dan Taeyeon tak salah karena yeoja itu tak tau jika Sehun masih mencintainya. Yeah, itulah yang Sehun dapatkan setelah memikirkan hal ini dari sudut pandang Luhan dan Taeyeon.

Seperti saat ini, mereka bertiga kini tengah bermain ke lotte world. Berhubung hari ini hari minggu, jadi mereka memilih bermain sekedar refreshing.

Ide ini datang dari Luhan dan mendapat persetujuan dari Sehun dan Taeyeon.

“Ahh, ramai sekali.” Keluh Taeyeon saat memasuki area lotte world tersebut.

“Kalau begitu, kau harus kugandeng agar tak hilang.” Ucap Luhan dan melingkarkan tangannya pada lengan kanan Taeyeon.

“Aku bukan anak kecil.” Tegas Taeyeon dan menatap Luhan.

Sehun yang melihat itu seperti tak mau kalah, namja itu kini menggenggam pergelangan kanan kiri Taeyeon kemudian menyeretnya hingga Luhan ikut terseret.

Kini mereka bertiga mulai memainkan permainan disana. Semua mereka lewati dengan senyum mengembang. Bahkan terlihat seperti tak ada masalah tersembunyi yang terjadi diantara mereka.

Lelah bermain mereka kini memilih beristirahat dibangku taman. Mungkin mereka terlalu bersemangat hingga tak sadar bahwa lelah telah mendera mereka. Bahkan bulir keringat sudah mengaliri kening mereka bertiga. Selain lelah berjalan-jalan, mereka juga lelah karena berteriak-teriak saat menaiki permainan yang ekstrim tadi.

Taeyeon mengibaskan tangannya untuk menghilangkan rasa panas yang serasa mengelilingi tubuhnya. Diwaktu yang bersamaan, Sehun dan Luhan juga mengibaskan tangan mereka kearah Taeyeon. Tentu saja hal ini membuat tawa Taeyeon meledak. Ini hal yang sangat lucu menurut Taeyeon. Sementara Sehun dan Luhan kini menampakkan wajah bodoh mereka.

“Aish sudahlah, perutku bisa sakit jika terus bersama kalian yang seperti ini. Aku akan beli minum sebentar.” Ucap Taeyeon dan berdiri.

“Mau kutemani.?”

Taeyeon kembali tertawa saat Sehun dan Luhan memberi pertanyaan yang sama disaat yang sama pula. Apa mereka bisa telepathy dan melakukan komunikasi lewat fikiran.? Aneh sekali.

“Tidak, kalian disini saja, aku akan segera kembali.” Ucap Taeyeon dan mulai melangkah meninggalkan Sehun dan Luhan.

“Dia semakin manis.” Ucap Luhan setelah Taeyeon sudah tidak terlihat lagi.

“Kau benar.”

“Aku jadi iri padamu. Kau bahkan dekat dengan Taeyeon sedari kecil.” Ucap Luhan lagi dan dibalas senyuman oleh Sehun.

‘Justru aku yang iri padamu, kau bahkan bisa dengan mudah mendapatkan cinta Taeyeon walau kalian baru berkenalan selama beberapa minggu.’ Batin Sehun miris.

Huft~ Sehun benar-benar merasa hatinya tercabik-cabik karena hal ini. Berlebihan memang. Tapi Sehun seperti ini karena namja itu selalu menemukan cinta disetiap Taeyeon menetap Luhan. Apa dirinya benar-benar sudah tak memiliki harapan lagi.?

“Aku sudah tak kuat lagi.” Ucap Luhan dan kini menatap Sehun.

“Apa maksudmu.?” Tanya Sehun bingung.

“Aku akan menyatakan perasaanku pada Taeyeon.”

Sehun tercekat. Haruskan Luhan mengatakan hal menyakitkan seperti itu sekarang.? Bahkan jika bisa jujur Sehun akan mengakui jika cintanya pada Taeyeon sama sekali tidak berkurang, tetapi justru bertambah besar. Cintanya kini semakin besar pada Taeyeon. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi, tapi Sehun seperti tak bisa merelakan Taeyeon bersama Luhan.

Walau Sehun tau Taeyeon pasti akan bahagia bersama Luhan, tapi Sehun benar-benar tak rela. Sehun egois. Itu benar, Sehun mengakui jika dirinya memang egois. Sehun bahkan terlihat seperti menutup pintu kebahagiaan bagi Taeyeon dan Luhan.

Menutup pintu kebahagiaan Taeyeon dan Luhan.?

Oh tidak! Sehun mengakui jika dirinya memang egois, tapi dirinya tak mau berbuat sejahat itu pada kedua orang yang berpengaruh pada hidupnya. Jika Sehun tetap memaksakan kehendak, nantinya akan banyak pihak yang terluka. Dan Sehun tak mau hal itu terjadi. Dirinya harus berfikir rasional. Biarlah hanya dia seorang yang terluka, Taeyeon dan Luhan tak perlu ikut terluka seperti dirinya. Sehun terlalu baik. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan pada orang yang disayanginya. Sehun menyayangi Taeyeon, itu sudah pasti, Taeyeon selalu menyemangati hidupnya sejak kecil. Taeyeon bahkan selalu memberikan bahunya untuk Sehun menangis saat namja itu sedih. Sementara Luhan, memang baru 3 tahun mereka bersama, tapi Sehun sudah sangat menyayangi Luhan seperti kakaknya sendiri. Sehun anak tunggal dan Luhan yang selalu baik padanya, itulah alasan yang membuat Sehun menganggap bahwa Luhan adalah kakaknya.

Dan Sehun tak ingin berbuat jahat pada dua orang yang disayanginya. Biarkan Sehun terluka, tapi jangan mereka berdua.

“Hun.?” Panggil Luhan karena sedari tadi Sehun terlihat melamun.

“Ahh, ne.?” Tanya Sehun gelagapan.

“Bagaimana menurutmu.? Apa aku harus segera menyatakan perasaanku pada Taeyeon.?” Tanya Luhan semangat.

“Itu terserahmu hyung.” Jawab Sehun dan tertunduk lesu.

“Ada apa denganmu.? Apa kau sakit.?” Tanya Luhan khawatir karena sikap Sehun yang tidak seperti biasanya.

“Jika kau memang benar-benar menyukai Taeyeon, katakan perasanmu yang sesungguhnya. Dapatkan cintanya, jika kau sudah mendapatkan hal itu, jaga dia, jangan membuat dia menyesal karena telah memilihmu. Aku memang tak pernah berkencan dengan satu yeoja pun. Tapi aku tau apa itu cinta. Sebagai namja, aku harus menjaga dan menyayangi yeoja yang kucintai, kurang lebih itu yang ku tau. Jadi, jika kau nantiya mendapatkan Taeyeon, jaga dan sayangi dia seperti kau menjaga dan menyayangi dirimu sendiri hyung. Taeyeon teman terbaikku, san aku mempercayakan kau untuk menjaga dan menyayangi Taeyeon.” Jawab Sehun setelah menunduk cukup lama. Bahkan air muka Sehun terlihat muram dan tatapannya yang semakin sayu.

Luhan terdiam, tak lama setelahnya tawa namja itu meledak. Entah apa yang Luhan tertawakan tetapi sepertinya hal itu merupakan hal yang lucu, bahkan Luhan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terus tertawa.

“Tak kusangka, kau yang terkenal namja yang dingin bisa berkata-kata begitu dewasa, tak kusangka. Haha..” Ucap Luhan masih dengan tawanya yang keras.

Rahang Sehun mengencang. Bagaiman bisa Luhan menganggap hal yang sangat serius bagi Sehun sebagai lelucon. Itu sama sekali tidak lucu.

“Aku serius hyung.” Tegas Sehun dengan penuh penekanan.

Luhan menghentikan tawanya dan memperbaiki sikapnya kemudian sedikit menghela nafas.

“Baiklah, kau bisa memegang janjiku. Aku akan selalu menjaga dan menyayangi Taeyeon seperti aku menjaga dan menyayangi diriku sendiri.”

“Yaksok.” Ucap Sehun dan mengajukan jari kelingkingnya.

“Yaksok.” Jawab Luhan yakin dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sehun.

Tak lama setelah itu, Taeyeon datang dan membawa 3 botol minuman dingin.

****

Taeyeon menggeliat diranjangnya saa mendengar ponselnya berdering pertanda pesan masuk. Sebelum, membaca pesan tersebut, Taeyeon memilih menatap jam yang menunjukkan pukul 8 malam. Memang sepulang sekolah tadi Taeyeon langsung tertidur karena terlalu lelah. Bahkan yeoja itu tak mengganti seragamnya terlebih dulu.

Taeyeon mengambil ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidur tersebut dan mendapati sebuah pesan dari Luhan.

From: DeerLuhan
‘Taeyeon, bisakah kau keluar sebentar.? Aku sedang didepan gerbang rumahmu.’

Taeyeon sempat bingung dengan pesan Luhan, jika namja itu memang kerumahnya, mengapa tidak masuk dan malah memilih tetap didepan gerbang. Tak mau Luhan menunggu lebih lama, Taeyeon segera keluar dan mendapati Luhan tengah berdiri menyandar pada dinding samping gerbang rumahnya.

“Luhan!”

“Tae- eoh, mengapa kau masih menggunakan seragam mu.?” Tanya Luhan heran karena melihat Taeyeon keluar menggunakan seragam dengan lengkap dan rambutnya yang acak-acakan efek dari bangun tidur.

“Tadi aku tertidur saat pulang sekolah dan tak sempat berganti pakaian.” Jawab Taeyeon pelan.

“Lalu, apa aku mengganggu tidurmu.?”

“Tidak, aku tadi juga sedikit lapar. Ada apa kau kerumahku.? Mana Sehun.? Biasanya kalian kemari berdua.” Tanya Taeyeon dan mencari sosok Sehun dibelakang Luhan.

“Aku sendiri. Aku kesini untuk memberikan ini padamu. Besok kau harus pakai itu, aku akan menjemputmu pukul 7.” Ucap Luhan dan memberikan kotak yang diberi hiasan pita berwarna pink pada Taeyeon.

Taeyeon menerima kotak itu, dengan pandangan bingung. Apa maksud Luhan.

“Ini apa.?”

“Kau akan tau nanti. Jangan lupa besok malam ne. Bye!” Ucap Luhan dan berlari meninggalkan Taeyeon yang masih menatapnya bingung.

****

Jam pelajaran hari in telah berakhir. Sehun, Luhan dan Taeyeon berjalan beriringan seperti biasa. Mereka memang selalu pulang bersama, entah itu menggunakan angkutan umum, atau salah satu dari mereka membawa mobil.

Pertemanan mereka kini sudah sangat familiar bagi para siswa disana. Tak jarang para siswi merasa iri pada Taeyeon karena bisa sangat dekat dengan Sehun dan Luhan. Mereka yang tidak tau selalu merasa bingung bagaimana Taeyeon biaa sangat dekat dengan Sehun. Sehun selam ini selalu terkenal dingin dan acuh pada setiap yeoja yang mendekatinya. Berbeda dengan Luhan, namja itu terkadang masih mau membalas sapaan para yeoja yang bisa dibilang penggemarnya.

“Kalian pulang dulu ne, aku sedang ada urusan.” Ucap Luhan saat sampai digerbang sekolah.

“Urusan apa.?” Tanya Sehun.

“Kalian tak perlu tau. Taeyeon, jangan lupa nanti malam ne.” Ucap Luhan dan segera pergi.

Sehun terdiam, namja itu tau apa yang dimaksud oleh Luhan tadi. Karena Luhan telah membicarakan hal ini dengan Sehun sebelumnya. Ini sudah berakhir, mungkin setelah malam ini berlalu, Sehun akan benar-benar tak memiliki kesempatan mendapatkan Taeyeon. Sehun tak menyesal, toh ini semua atas kehendaknya juga. Sehun tau jika ia jujur pada Luhan tentang masa lalunya dengan Taeyeon mungkin namja itu tak akan menyukai Taeyeon dan membiarkan Taeyeon bersama Sehun. Tapi Sehun memilih diam dan menyimpan apa yang dirasakannya seorang diri. Sakit memang, tapi Sehun harus kuat demi kebahagiaan Taeyeon dan Luhan.

“Sehun.?”

“Ne.?” Jawab Sehun dan menatap Taeyeon.

“Kau.. kenapa.?” Tanya Taeyeon ragu.

“Nan gwenchana. Kau mau ketaman.?” Tawar Sehun semangat.

Mata Taeyeon sontak langsung berbianr mendengar tawaran dari Sehun, dan dengan spontan yeoja itu menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Sehun dengan tidak sabaran menuju taman.

****

Taeyeon menyunggingkan senyumnya saat sampai ditaman. Taeyeon sangat senang, padahal baru beberapa hari yang lalu dirinya, Sehun dan Luhan ketempat ini. Tapi entah mengapa Taeyeon selalu merasa sudah sangat lama tak ketempat ini.

Taeyeon kembali menarik tangan Sehun bermaksud mengajak namja itu berjalan-jalan disekitar taman sambil menikmati udara sore yang menerpa dengan lembut wajah mereka.

Sesekali mereka membeli makanan ringan sebagai teman perjalanan mereka. Namun mereka hanya membeli satu, bukan bermaksud irit, Tetapi mereka lebih memilih saling berbagi satu sama lain. Menurut mereka berbagi adalah sesuatu yang menyenangkan dan mengesankan.

Bahkan tanpa rasa jijik sedikitpun, mereka berbagi satu ice cream bersama. Lagipula untuk apa mereka merasa jijik. Mereka sudah bersama sejak kecil, bahkan sejak kecilpun mereka sering berbagi satu makanan bersama. Bahkan jika bisa dibilang, mereka seperti saudara kembar. Walau secara fisik mereka berbeda jauh, tapi sifat mereka memiliki banyak persamaan. Mereka sama-sama terlihat acuh pada sekeliling mereka, namun mereka akan bersifat sangat perduli jika sedang berdua. Namun saat ini Sehun sedikit kecewa pada Taeyeon, Taeyeon kini tak hanya perduli pada dirinya, tetapi juga perduli pada Luhan. Tapi Sehun bisa apa, itu sudah merupakan hak Taeyeon dan Sehun tak mungkin menentangnya.

Kini keduanya mendapatai ahjussi yang menyewakan beberapa sepeda. Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam otak Taeyeon. Yeoja itu kembali menyeret Sehun dan menyewa sepeda itu pada ahjussi yang menjaga tadi.

“Eottokhae.?” Tanya Taeyeon karena jok sepeda itu hanya ada satu.

“Aku yang mengendarai, kau membonceng didepan.”

Taeyeon mengangguk setuju atas ide Sehun. Taeyeon kemudian mulai memposisikan dirinya didepan Sehun dan berpegangan pada stang depan.

Sehun mengayuh sepeda sewaan tersebut dengan perlahan. Mereka menyewa sepeda tersebut selama satu jam, dan waktu itu bisa dibilang cukup lama.

“Ahh, ini menyenangkan.” Pekik Taeyeon pelan.

“Kau menyukainya.?” Tanya Sehun.

Taeyeon mengangguk semangat. Yeoja itu tak sadar jika Sehun sesekali menatapnya. Jika bisa, Sehun sangat ingin terus menatap wajah cantik Taeyeon dalam jarak sedekat ini. Tapi Sehun juga harus memikirkan keselamatan mereka mengingat dirinya yang kini tengah mengendarai sepeda.

Sehun dengan tiba-tiba tersenyum miris. Namja itu berfikir mungkin saja ini kebersamaan mereka yang terakhir kalinya. Setelah malam ini, Taeyeon bisa saja sudah menjadi milik Luhan, dan Sehun tak akan bisa dengan leluasa berduaan dengan Taeyeon seperti ini lagi.

“Sehun-a.”

“Hmm.”

“Malam ini Luhan mengajak ku keluar, apa dia mengajak mu juga.?” Tanya Taeyeon dan menoleh kebelakang menatap Sehun.

“Tidak.”

“Benarkah.? Biasanya dia selalu mengajakmu juga.” Ucap Taeyeon dengan nada yang sedikit heran.

“Mungkin ada yang ingin dibicarakan padamu, dan mungkin hal itu sangat penting hingga tak ingin ada satu orang pun yang tau selain kalian.” Jawab Sehun dan membalas menatap Taeyeon.

Taeyeon menghela nafas kemudian kembali menatap lurus kedepan. Hal ini membuat Sehun sedikit mendesah kecewa karena tak bisa melihat wajah Taeyeon lagi.

“Menurutmu, dia akan mengajakku kemana.?”

“Entahlah, aku juga tak tau.” Jawab Sehun acuh.

Taeyeon terdiam, kamudian sedikit menyandarkan punggungnya pada dada Sehun. Sehun menegang, namja itu takut jika Taeyeon bisa merasakan detak jantungnya yang menggila ini. Selalu seperti ini, setiap bersama Taeyeon, namja itu merasa jantungnya ingin meledak. Sehun hanya berharap Taeyeon tak merasakan detak jantungnya.

****

Taeyeon memandang pantulan dirinya pada cermin besar yang ada dikamarnya. Kotak yang kemarim diberikan oleh Luhan ternyata berisi sebuah gaun mini berwarna putih sebatas lutut. Tak hanya itu, Luhan juga memberika sepasang high heels dengan warna senada seperti gaunnya. Tentu yang dipakai Taeyeon saat ini sangat menyatu dengan kulit putih Taeyeon. Rambut Taeyeon yang panjang itu ini disanggul keatas dengan menyisakan beberapa helaiannya berjatuhan.

Taeyeon sendiri dalam hati bingung mengapa Luhan memintanya berpakaian seperti ini, apa yang ingin dibicarakan Luhan sangatlah penting.? Taeyeon tak mau ambil pusing dengan hal ini, bukankah sebentar lagi dirinya akan mengetahui jawabannya.

Taeyeon mengambil ponselnya saat mendengar benda persegi panjang itu berdering.

From: DeerLuhan
‘Apa kau sudah siap.? Aku sudah ada didepan rumahmu.’

Tanpa pikir panjang, Taeyeon segera meraih tasnya dan melangkah ke luar.

“Kau mau kemana Taengoo.?” Tanya nyonya Kim yang saat ini berada diruang tengah.

“Aku mau keluar dengan temanku eomma.”

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Arraseo eomma.” Jawab Taeyeon dan mengecup pipi nyonya Kim singkat.

Saat sampai luar, Taeyeon dapat melihat Luhan yang bersandar pada mobilnya. Luhan sangat tampan malam ini. Dengan balutan tuxedo hitam itu Luhan dapat membuat Taeyeon tidak mengerjabkan matanya beberapa detik.

“Apa kau Luhan.?”

Luhan tertawa keras mendengar pertanyaan konyol dari Taeyeon itu. Apakah dirinya benar-benar berubah hingga Taeyeon hampir tak mengenalinya.

“Tentu saja, kau fikir aku siapa eo.? Bukankah aku lebih tampan dari Kim Hyun Joong saat ini.?” Tanya Luhan dengan percaya diri.

“Aish kau ini, tadinya aku ingin memujimu, tapi karena kau seperti ini, aku tidak jadi memujimu.” Ucap Taeyeon merajuk.

“Astaga, apa kau tengah merajuk.?” Tanya Luhan dan mendekat pada Taeyeon dan berhenti pada jarak 5 cm didepan yeoja itu.

“Menurutmu.?” Tanya Taeyeon sambil mendongak menatap Luhan.

“Maafkan aku eo, aku tak bermaksud seperti itu. Sekarang, aku ingin mendengar pujianmu.”

“Tak mau.” Tolak Taeyeon mentah-mentah.

“Ayolah, kali ini saja.” Pinta Luhan yang kini mulai mencubit pipi Taeyeon dengan gemas.

“Aish, baiklah. Kau tampan.” Ucap Taeyeon cepat pada akhir kalimatnya.

“Bicaralah yang jelas.” Pinta Luhan lagi dengan nada mendesak.

“Xi Luhan, malam ini kau terlihat tampan.” Ulang Taeyeon dengan nada penuh penekanan.

“Kurang.”

“Apa yang kurang.?” Tanya Taeyeon kesal.

“Sekali lagi.” Pinta Luhan dan menaik turunkan alisnya.

“Tidak mau.”

“Kau cantik.” Puji Luhan cepat dan lirih. Bahkan Taeyeon yang berada sangat dekat dengan namja itu hampir tak mendengarnya.

“Ne.?”

“Kita berangkat sekarang.” Ucap Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan.

Dengan gentle, Luhan membuka pintu mobil sebelah kanan untuk Taeyeon. Sedikit tersipu, Taeyeon dengan gerakan yang kaku mulai masuk mobil Luhan. Tak lama Luhan kini juga menuju kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menyusuri gelapnya kita Seoul pada malam hari.

****

Luhan kini membawa Taeyeon.kesebuah restoran ternama di Seoul. Namun yang membuat Taeyeon tercengang adalah Luhan yang membooking tempat tersebut hingga kini hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan pengantar makanan pesanan Luhan. Taeyeon tau jika Luhan adalah anak pengusaha kaya di Seoul, tapi haruskah Luhan melakukan hal seperti ini.

“Kau sengaja melakukan ini.?” Tanya Taeyeon dan menatap Luhan.

Luhan tak menjawab, namja itu menepuk tangannya membuat beberapa pelayan datang dengan membawa beranekan makanan.

“Mengapa banyak sekali.? Kita hanya berdua Lu.” Ucap Taeyeon karena meja besar tersebut kini sudah penuh dengan makanan.

“Tak apa. Kajja makan.” Ucap Luhan dan mulai menyentuh makanannya.

Taeyeon pun kini mulai menyentuh makanannya. Makan malam kali ini diiringi sebuah musik playback yang terdengar sangat lembut. Luhan memang sengaja tak meminta pemain biola profesional untuk mengiringi makan malam mereka, Luhan hanya meminta musik playback agar diruang tersebut hanya ada dirinya dan Taeyeon. Bahkan Luhan juga meminta pelayan tadi langsung pergi setelah mengantar makanan mereka. Benar-benar rencana yang matang.

Mereka terlarut larut dalam makan malam tersebut. Tak semua makanan bisa mereka sentuh mengingat terlalu banyak makanan itu. Dan sesekali mereka membicarakan sesuatu agar suasana tak terlalu hening.

“Kau suka makan malam ini.?” Tanya Luhan saat tengah menyantap desertnya.

“Tentu saja, aku hanya tak suka suasana yang terlalu hening ini.” Ucap Taeyeon dan menyudahi makannya diikuti Luhan.

Kemudian Luhan kembali menepuk tangannya membuat beberapa pelayan kembali datang dan membereskan piring-piring sisa makan keduanya.

“Salah sendiri kau sedari tadi hanya diam.”

“Aku sedang makan, mana mungkin aku berbicara banyak saat sedang makan. Eoh, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan.? Jangan bilang jika kau hanya ingin makan malam biasa denganku.”

“Tentu saja tidak, ada sesuatu penting yang ingin aku bicarakan denganmu.” Jawab Luhan yakin.

“Apa itu.?”

Luhan menghela nafas singkat kemudian menatap kedalam mata Taeyeon dan menggenggam tangan Taeyeon yang berada diatas meja.

“Wanna be mine.?” Ucap Luhan cepat.

“Ne.?”

“Aku tau ini terlalu cepat, mengingat kita bertemu baru beberapa minggu, tapi aku benar-benar mencintaimu. Jantungku berdebar sangat cepat jika bersamamu, darah ku akan mendesir cepat jika melihat senyummu, dan aku juga merasa wajahku memanas saat tanganku menyentuh kulitmu. Maka dari itu, maukah kau menjadi milikku.?” Ucap Luhan mantap.

Taeyeon terdiam, kata-kata Luhan sangat sama dengan kata-kata Sehun 3 tahun lalu. Taeyeon bahkan berfikir jika Luhan telah mencopy paste ucapan Sehun 3 tahun lalu. Tapi itu tak mungkin, Luhan bahkan sama sekali tak tau masalah ini.

Dan kini Taeyeon merasa bingung dengan ungkapan Luhan. Bayangan Sehun seakan selalu melintas dalam fikirannya. Teyeon tau jika Sehun masih memiliki perasaan padanya, ia baru menyadari tadi saat mereka ditaman. Jujur, perasaan Taeyeon pada Sehun kini mulai berubah. Mungkin bisa dibilang Taeyeon mulai menyukai Sehun. Tapi Taeyeon tak bisa menampik bahwa ia juga memiliki perasaan khusus pada Luhan. Taeyeon selalu merasa nyaman jika bersama Luhan, sama seperti saat dirinya bersama Sehun.

Apa Taeyeon egois dan serakah karena menyukai dua namja sekaligus.? Tentu tidak, ini semua bukan kesalahan Taeyeon. Yeoja itu sendiri tak bisa menahan agar rasa itu tak datang. Taeyeon sendiri bingung, ia seperti termakan ucapannya sendiri. Dulu ia benar-benar melarang adanya cinta pada sahahatnya dalam hatinya. Tapi sekarang, Taeyeon bahkan menyukai Sehun dan Luhan yang merupakan sahabatnya sendiri. Taeyeon juga tak bisa disalahkan karena hal ini,dirinya juga menjadi korban atas perasaan yang seharusnya tak ada ini.

“Sehun sudah mempercayakan mu padaku. Dia bahkan memintaku untuk menjaga dan menyayangi mu. Sepertinya dia benar-benar mempercayakan ku untuk mencintai dan memiliki mu seutuhnya.” Ucap Luhan berhasil menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

Taeyeon semakin terdiam, mulutnya bahkan terkatup begitu rapat. Jika Sehun sudah mempercayakan Luhan untuk menjaga dan menyayangi nya, itu berarti Sehun sudah tak memiliki perasaan apapun padanya. Ternyata dugaan nya salah. Dan sekarang Taeyeon sudah tau harus memilih siapa. Tadinya yeoja itu bingung memilih antara dua namja yang disukainya, tapi sekarang Taeyeon tau jawabnnya.

Taeyeon menghela nafas dan menatap Luhan dengan begitu lembut.

“Bisa kau ulangi.? Aku ingin kau mengatakannya lebih dari satu kali.” Ucap Taeyeon dan menggenggam tangan Luhan yang sedari tadi sudah menggenggam tangannya.

“Aku mencintaimu, walau ini terlalu cepat, tapi aku benar-benar mencintaimu. Dan aku ingin kau menjadi milikku. Apa kau bersedia.?”

Dengan seulas senyum tipis, Taeyeon menganggukan kepalanya dengan yakin membuat Luhan beranjak dan memeluk dirinya dengan begitu erat.

“Saranghaeyo Taeyeon-ah.”

****

Luhan membuka pintu mobil untuk Taeyeon. Luhan terlampau senang malam ini hingga senyum sama sekali tak pernah luntur dari wajah tampannya. Namja itu mengulurkan tangannya dan diterima baik oleh Taeyeon.

“Setelah ini, cepat tidur ne.” Pinta Luhan dan memeluk pinggang Taeyeon saat keduanya berada didepan gerbang rumah Taeyeon.

Taeyeon mengangguk dengan semangat. Sepertinya tak salah jika ia memilih Luhan, walau jika ia memilih Sehun pun ia akan bahagia.

“Aku menyayangi mu.” Ucap Luhan dan mengecup kening Taeyeon.

“Ini terlalu cepat Lu,” Ingat Taeyeon saat merasakan bibir halus milik Luhan menyentuh keningnya.

“Tak apa. Itu karena aku benar-benar menyayangimu. Aku sangat senang saat kau menerima ku tadi.”

“Kau ini.” Ucap Taeyeon dan memukul pelan dada Luhan.

“Sakit.” Rajuk Luhan.

“Benarkah.?”

Luhan mengangguk pelan masih dengan bibirnya yang mengerucut.

“Tenang saja, besok akan sembuh. Sekarang kau pulanglah. Sudah semakin malam.” Ucap Taeyeon dan melepas lengan Luhan yang melingkari pinggangnya.

“Kau mengusirku.?” Tanya Luhan semakin merajuk.

“Bukankah kau menyuruhku untuk segera tidur. Jadi sekarang kau harus pulang.” Jelas Taeyeon dan menangkup wajah Luhan.

Yeoja itu sedikit bingung mengapa Luhan berubah menjadi begitu manja setelah memiliki hubungan khusus dengannya.

“Ahh, kau benar. Aku pulang ne.” Pamit Luhan dan dingguki Taeyeon.

Namja itu melambaikan tangannya sambil berjalan kearah mobilnya.

“Jalja baby.” Ucap Luhan sebelum memasuki mobilnya.

Taeyeon menganggukkan kepalanya dan membalas lambaian tangan Luhan. Saat mobil mamja itu sudah tak terlihat lagi, Taeyeon mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk seseorang.

To: Swehunie
‘Bisakah kau menemuiku ditaman dekat rumahku.? Akan kutunggu disana.’

Taeyeon menghela nafas dan berjalan menuju taman untuk menemui Sehun.

****

Hembusan angin sedari tadi masih setia mengusap lembut wajah Taeyeon. Yeoja itu masih setia menunggu namja itu setelah Sehun tadi mengatakan akan menemuinya.

Taeyeon harus mengatakan hubungnnya saat ini pada Sehun. Taeyeon tak ingin Sehun mendengarnya dari orang lain. Lebih baik Sehun mengetahui nya dari dirinya sendiri.

“Kau menunggu lama.?” Tanya Sehun yang kini sudah duduk disamping Taeyeon.

Taeyeon tersenyum sambil menatap Sehun dan menggeleng.

“Kau sepertinya baru pergi.? Ahh aku ingat, kau baru pergi dengan Luhan.” Ucap Sehun dan tersenyum miris.

Taeyeon diam dan menatap Sehun dalam hingga namja itu kini juga membalas menatap dirinya.

“Ada apa.?” Tanya Sehun dengan nada lirih karena merasa ada sesuatu yang mengganggu fikiran Taeyeon.

“Luhan, mencintaiku.” Ucap Taeyeon pelan dan menundukkan kepalanya.

“Benarkah.? Selamat ne, kalian pasti akan bahagia bersama.” Ucap Sehun datar.

Tersimpan rasa sakit dalam hati Sehun. Benar-benar hilang harapannya. Tapi ini juga atas kehendaknya.

Semantara kini Taeyeon tersenyum miris. Sehun mamang sudah tak mencintainya. Bodohnya Taeyeon karena merasa termakan ucapannya sendiri.

“Kau benar.” Ucap Taeyeon pelan.

“Bolehkah aku memelukmu sebagai sahabat.?” Tanya Sehun dan membuat Taeyeon kembali mengagkat wajahnya.

“Aku akan sangat sungkan jika memelukmu didepan Luhan.” Tambah Sehun.

Tanpa menjawab permintaan Sehun, Taeyeon langsung mendekat dan menenggelamkan wajahnya pada dada Sehun. Sehun membalas dan memeluk Taeyeon begitu erat. Pelukan hangat yang selalu membuat keduanya terlarut. Sehun sangat menikmati saat-saat seperti ini. Sedikit melupakan rasa sakit yang mendera hatinya, Sehun tentu harus kuat.

Sementara Taeyeon kini merasa bingung karena Sehun meminta memeluknya. Jika namja itu tak menyukainya lagi, untuk apa Sehun ingin berpelukan dengannya. Baiklah, ini pelukan persahabatan, Taeyeon mulai mengerti itu. Namun sekarang Taeyeon bertambah bingung saat Sehun menurunkan wajahnya dan menempelkan bibir mereka berdua.

Sehun berniat mengembalikan first kiss Taeyeon 3 tahun lalu. Namun saat Sehun ingin melepas tautan mereka, Taeyeon menahan gerakannya hingga bibir mereka tetap menyatu. Sehun bingung mengapa Taeyeon seolah meminta agar dirinya tetap mencium Taeyeon. Tak mau ambil pusing, Sehun mulai melumat bibir taeyeon dengan lembut seolah tak ingin menyakiti bibir yeoja yang dicintainya.

Sehun merasakan bibir Taeyeon masih sama seperti 3 tahun lalu. Masih hangat dan manis, namun dengan catatan bibir Taeyeon yang saat ini semakin manis dan memabukkan. Sehun fikir, Luhan natinya akan tergiur untuk terus menikmati bibir Taeyeon jika sudah merasakannya.

Sehun saat ini mengerti Taeyeon sudah membutuhkan oksigen untuk bernafas. Sudah cukup lama mereka berciuman. Sehun melepas ciuman lenbut tadi hingga terlihat benang saliva yang menghubungkan bibir keduanya. Mereka meraup oksigen dengan terburu-buru.

Nafas mereka kini sudah mulai teratur, dan saling pandang satu sama lain masih dengan posisi saling berpelukan.

“Wae.?”

‘Wae’ yang dimaksud Taeyeon ini adalah mengapa Sehun sudah tak mencintainya lagi. Namun bagi Sehun, ‘Wae’ yang dimaksud Taeyeon adalah mengapa dirinya mencium Taeyeon. Dua kali kesalah pahaman terjadi diantara keduanya.

“Aku hanya ingin mengembalikan first kiss mu 3 tahun lalu.” Jawab Sehun dan mengeratkan pekukannya pada Taeyeon.

“Tetaplah jadi sahabat terbaikku.” Ucap Taeyeon dengan suara lirih.

****

Hari ini Luhan dan Taeyeon berangkat bersama. Biasanya mereka bertiga bersama Sehun berangkat sendiri-sendiri dan nantinya akan bertemu di sekolah. Namun hari ini berbeda. Tadi pagi Luhan menjemput Taeyeon dan mengajak yeoja itu berangkat bersama. Lihatlah, bahkan Luhan terus saja menggenggam tangan Taeyeon dan terus tersenyum, dan hal itu tentu membuat Taeyeon ikut tersenyum.

Kini keduanya tengah berjalan dikoridor sekolah. Baru saja mereka berbelok, kini sudah terdapat Sehun yang tengah berjalan kearah mereka. Namun ada yang berbeda dengan Sehun hari ini, namja itu kini tak mengenakan seragam sekolah seperti biasanya, namun mengenakan pakaian kasual. Ada apa dengan Sehun sebenarnya.?

“Selamat atas hubungan kalian berdua.” Ucap Sehun saat sampai didepan Luhan dan Taeyeon.

“Gomawo Hun. Emm.. kau tak sekolah.? Mengapa memakai pakaian seperti itu.?” Tanya Luhan penasaran.

“Aku kemari hanya untuk mengurus kepindahan ku saja.” Ucap Sehun dengan nada sedih.

“Kepindahan.? Apa maksudmu.?” Tanya Taeyeon menuntut.

“Aku akan pidah ke Kanada.”

“Untuk apa.?” Tanya Taeyeon sedikit membentak.

Oh sungguh, Taeyeon tidak terima jika Sehun akan benar-benar pindah. Bukan egois, tapi jujur, Taeyeon ingin selalu bersama Sehun. Memang Taeyeon jahat, yeoja itu mengakui bahwa dirinya sendiri pun jahat. Saat ia sudah memiliki Luhan, tetapi ia masih menginginkan Sehun terus berada didekatnya. Taeyeon tak mengerti ini. Semua murni dan tulus dari dalam hatinya.

“Eomma memintaku untuk pindah ke Kanada, bukan hanya aku saja,tapi semua keluarga ku juga akan menetap di Kanada.” Jawab Sehun bohong.

Tentu saja, karena pada faktanya, setelah pulang menemui Taeyeon semalam, Sehun-lah yang memohon pada eomma nya untuk pindah ke Kanada. Sudah jelas maksud Sehun adalah untuk menghindari Luhan dan Taeyeon. Sehun tak mau terus menyakiti hatinya seperti ini. Karena jujur saja, hanya melihat Luhan dan Taeyeon berangkat bersama saja  sudah mampu membuat hatinya terasa sakit. Dan jalan keluar terbaik adalah dirinya harus pindah. Pindah sejauh mungkin dari tempat Luhan dan Taeyeon berada. Dengan begitu, Sehun bisa sedikit mengurangi rasa sakit dihatinya.

“Lalu, kapan kau akan kembali.?” Tanya Luhan menatap Sehun.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku dan keluargaku akan menetap di Kanada.?” Jawab Sehun namun lebih seperti memberi pertanyaan.

“Jadi kau tak akan kembali.?” Tanya Luhan tak percaya.

Sehun mengangguk sekilas dan mulai memeluk Luhan.

“Ini pertemuan terakhir kita. Aku sangat menyesal karena saat kalian sedang bahagia, justru aku merusak kebahagian itu karena kepergianku.” Ucap Sehun dan menepuk punggung Luhan.

“Apa kau tak bisa merubah keputusan eomma mu.?” Tanya Luhan masih tidak terima.

“Eomma ku sangat keras kepala.” Jawab Sehun dan melepas pelukannya dengan Luhan.

Sehun mengalihkan tatapannya pada Taeyeon yang saat ini tengah menatapnya dingin. Tersirat kekecewaan didalam matanya. Sehun mendekat pada Taeyeon dan memeluk yeoja itu.

“Mian Lu, walau Taeyeon sekarang adalah kekasihmu, tetapi dia juga sahabatku ‘kan.? Jadi aku boleh memeluknya.” Ucap Sehun dan mengeratkan pelukannya pada Taeyeon.

“Kau bicara apa eo.?” Tanya Luhan karena merasa ganjil dengan ucapan Sehun.

Taeyeon terdiam, yeoja itu berusaha menikmati pelukan hangatnya dengan Sehun untuk yang terakhir kalinya.

“Aku hanya bercanda.” Ucap Sehun dan melepas pelukannya dengan Taeyeon.

“Aku harus pergi sekarang, pesawatku akan berangkat 2 jam lagi.” Ucap Sehun yang lagi-lagi berbohong.

Karena pada faktanya, pesawat yang ditumpangi Sehun akan take off nanti sore. Sehun tak mau terlalu lama bersama Luhan dan Taeyeon, terlalu menyakitkan.

“Mengapa kau tak mengatakan hal ini sebelumnya eo.?” Protes Taeyeon dan meneteskan air matanya.

Sehun yang melihat itu cukup tercengang dibuatnya. Sehun kini kembali memeluk Taeyeon berusaha menenangkan yeoja itu. Sehun bahkan seolah lupa jika masih ada Luhan disana. Tapi Luhan bersikap biasa saja akan hal itu, bukankah Sehun dan Taeyeon sudah berteman sejak kecil.? Jadi tak ada alasan untuk Luhan cemburu akan hal ini.

“Aku benar-benar minta maaf. Aku harus meninggalkan kalian berdua. Satu pesanku, kalian harus terus bersama. Dan jangan lupakan aku ne.? Walau kemungkinan besar kita tak akan bertemu lagi, tapi kumohon jangan lupakan aku. Aku juga tak akan melupakan kalian.” Ucap Sehun setelah melepas pelukannya dengan Taeyeon.

“Jaga dirimu.” Ucap Taeyeon dan menghapus sisa air mata yang berada dipipinya.

“Kami tak akan melupakanmu.?” Tambah Luhan dan menepuk bahu Sehun.

Sehun mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan Taeyeon dan Luhan. Sebelum benar-benar tak terlihat dibelokan koridor, Sehun menyempatkan diri berbalik dan melambaikan tangannya pada Luhan dan Taeyeon. Setelah mereka berdua membalas lambaiannya, Sehun segera berlalu sambil berlari. Tanpa sadar, air matanya kini mulai menghiasi pipi putihnya.

****

Sore ini angin berhembus dengan begitu menyenangkan di sungai Han. Dan disini pula Taeyeon dan Luhan berada. Sepulang sekolah tadi, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum Luhan mengantar Taeyeon pulang. Walaupun jalan-jalan sore ini adalah ide dari Taeyeon dan Luhan, tetapi keduanya sama-sama tak menikmati kencan ini. Meraka sangat merasa kehilangan sosok Sehun.

Keduanya kini duduk disebuah kursi panjang dengan pandangan yang lurus kedepan, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Mereka bahkan beberapa kali menghela nafas.

Taeyeon tau jika Sehun berbohong tentang eomma-nya yang memaksa Sehun pindah ke Kanada, Taeyeon sangat pandai dalam menyadari Sehun tengah berbohong atau tidak. Tetapi yang membuat yeoja itu bingung adalah mengapa Sehun berbohong.? Dan apa alasan Sehun sebenarnya.? Taeyeon berfikir, mungkin saja Sehun pergi karena dirinya sudah menjadi milik Luhan. Tapi tidak, bukankah Sehun sudah tak menyukainya lagi, jadi untuk apa namja itu pergi hanya karena dirinya yang sudah bersama Luhan. Setidaknya, itulah yang Taeyeon fikirkan.

“Jika pergi hanya berdua sangat tak nyaman ne, andai kita pergi bertiga bersama Sehun, pasti akan jauh lebih menyenangkan.” Ucap Luhan pada akhirnya.

Taeyeon membenarkan apa yang diucapkan namjanya, terbukti dengan kepala yeoja itu yang bergerak keatas dan kebawah beberapa kali. Taeyeon tak menampik bahwa dirinya juga merasa kurang nyaman jika pergi hanya berdua dengan Luhan, karena mereka terbiasa kemanapun bertiga. Tapi apapun keadaannya, Taeyeon harus terbiasa dengan hal ini karena dirinya yang kini hanya bersama Luhan.

“Apa Sehun pernah membicaran masa laluku dengannya padamu.?” Tanya Taeyeon penasaran.

Taeyeon berharap jika Sehun menceritakan bahwa Sehun pernah mencintainya dulu. Dengan begitu, Taeyeon bisa mengetahui bagaimana perasaan Sehun sebelum dirinya kembali dari San Fransisco.

“Dia hanya mengatakan bahwa kalian sudah bersahabat sejak kecil.” Jawab Luhan.

Taeyeon tak merasakan sedih ataupun kecewa dengan jawaban Luhan. Taeyeon seperti mati rasa saat ini.

“Sehun sejak dulu memang terkenal sebagai namja yang baik. Bahakan dia rela melakukan apapun untuk orang yang disayanginya. Aku sangat kagum dengan namja itu.” Ucap Taeyeon dan menyandarkan kepalanya pada bahu Luhan. Setidaknya sekarang Taeyeon mempunyai Luhan yang bisa menemaninya.

“Kau benar. 3 tahun bersamanya membuatku sudah sangat faham dengan sifatnya. Dia akan sangat posesif pada orang yang disayanginya.” Jawab Luhan dan menyandarkan kepalanya pada kepala Taeyeon yang berada dibahunya.

“Kita pasti akan sangat merindukannya.” Ucap Taeyeon lagi.

“Kau benar.” Jawab Luhan dan menggenggam tangan Taeyeon erat.

Sementara itu, kini Sehun tengah memandang kosong pada pemandangan luar yang terlihat dari jendela pesawat. Sejak pesawat take off 30 menit lalu, Sehun terus saja memandang kosong arah luar.

Ini adalah keputusan terbaik. Dirinya membiarkan Luhan dan Taeyeon bahagia, kemudian dirinya pergi jauh dari kedua orang tersebut. Sehun tak akan kecewa, karena dari awal ini semua memang terjadi karena kehendaknya.

Sehun rela seumur hidupnya merasakan kesedihan yang seperti tak berujung ini, asalkan Luhan dan Taeyeon bahagia. Melihat mereka bahagia sudah mampu memulihkan sedikit demi sedikit rasa sakit hatinya. Walau Sehun tak akan dapat melihat kebersamaan mereka lagi, tapi Sehun dapat melihat bagaimana bahagianya Taeyeon dan Luhan tadi pagi. Sehun tak salah mempercayakan Taeyeon pada Luhan. Luhan nantinya akan menjalankan tugas untuk menjaga Taeyeon. Tadinya Sehun berfikir bahwa yang akan mendapat tugas menjaga Taeyeon untuk selamanya adalah dirinya. Tapi takdir berkata lain, mungkin Tuhan tau bahwa Luhan akan mampu menjaga Taeyeon jauh lebih baik dari dirinya. Dan Sehun tak menyesali semua yang terjadi.

“Semoga kalian bahagia.”

-END-

Apa ada yang kecewa sama endingnya.? Apa ada yang gak puas sama pairingnya.? Apa momentnya kurang.? Apa alurnya kecepetan.? Apa ini sad ending.? Atau sad ending untuk Sehun dan happy end untuk LuTae.?

Aku bener-bener minta maaf kalo endingnya kurang memuaskan, feel nya gak dapet, dan pairing yang tidak sesuai keinginan readers. Tadinya aku gak mau kasih pairing, tapi takutnya readers malah ngamuk kalo gak ada pairingnya.

Dan maafkan aku baby Sehunie, aku membuatmu tersakiti di ff ini. /Abaikan

Oke, walau ff ini mengecewakan, tetap tinggalkan comment kalian ne. Buat vitamin aja biar makin semangat nulis ff dan nerusin ff yang masih terbengkalai.

See you^^

Advertisements

56 comments on “[FREELANCE] Between You and Him (Chapter 2/END)

  1. mianhae..br baca^^
    ff nya keren & klu blh jujur,kisahnya mirip ky kisah aku..jd pas bc ini feel nya dpt bgt (cry T_T)
    Thank’s thor udh buat ff ini & klu bs ada sequelnya..

  2. knp sad ending????
    nyesek banget nih….
    hiks kacian sehunnie….
    sequel dong kak, kalau bisa sehun dan taeyeon bahagia.
    kuharap mereka bisa bersama setelah beberapa tahun kemudian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s