Love, That One Word (Chapter 3)


ATSIT PROUDLY PRESENT:

Title : Love, That One Word

Author     : Nadia S. Pajriati

Ratting : PG-17

Genre    : Romance, Family, Friendship, Marriage Life, Angst

Length    : Multi-Chapter

Main Cast : Kim Taeyeon, Kang Seulgi as Park Seulgi, Byun Baekhyun

Other Cast : Find it by yourself

Disclaimer : I own nothing here except the plot/storyline. If you see any similarities from this story with another/your story, it’s definitely a coincidence. This is purely from my imagination and i never intended to plagiarize any work. Please, DO NOT plagiarizing OR re-publish my story without my permission.

Credit poster
Hyunleea@HAD

…..

Love, That One Word

Preview : Teaser & Introducing Cast, Chapter 1, Chapter 2

Preview of chapter 2

“Kau yang penakut, kau yang pendiam, kau yang tidak suka bersosialisasi. Eonni sangat sedih melihatmu seperti itu dan eonni tidak mau melihatmu seperti itu lagi. Jadi, berjanjilah kalau kau akan terus menjadi kau yang ceria, banyak bicara, mudah bersosialisi seperti saat ini, ok? Jangan suka sedih, jangan banyak memendam masalah sendiri, curahkan apa yang suka mengganggu pikiranmu.”

Taeyeon terharu mendengar tutur kata yang dilontarkan Seulgi, bahkan matanya sekarang berkaca-kaca. ‘Jangan memendam masalah sendiri? Ada satu hal yang tidak kau ketahui tentang diriku, eonni, tentang masa laluku, tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku, tentang semua kebenaran yang dari dulu terkubur dalam kebohongan. Satu hal itu, yang jika aku mengingatnya membuat diriku sakit. Tapi jika aku memberitahu eonni, aku takut disebut sebagai pembohong, dan eonni menjauhiku. Jadi lebih baik aku menyimpan ini sebagai rahasia selamanya, yang hanya aku, Tuhan, dan ‘mereka’ yang tahu’, pikir Taeyeon.

“Nde eonni, aku berjanji. Aku sayang eonni.”

“Eonni juga sayang Baby Tae.”

@Lay’s house

“Dia bermarga Park, dan dia juga mempunyai seorang kakak perempuan. Jadi dia tidak mungkin adalah orang yang kau maksud.”

Lay berbicara dengan seseorang lewat telepon. Pulang dari restoran, Lay langsung menghubungi temannya yang berasal dari China. Entahlah, tapi pikirannya sejak tadi sangat mengganggunya. Pikirannya tentang Park Taeyeon.

“Terus maksudmu menelponku malam-malam begini untuk apa ge? Aku itu butuh kepastian, bukan kemungkinan.”

Lay tertawa masam, benar juga apa yang dikatakan temannya itu. “Tapi ini benar-benar aneh Lu, dia sangat mirip dengan orang yang ada di foto yang pernah kau kirimkan kepadaku. Meskipun foto itu diambil saat Taeyeon-mu masih kecil, tapi Taeyeon yang aku temui tadi ibaratkan Taeyeon-mu yang sekarang, yang sudah beranjak dewasa.”

“Aku tidak mengerti maksudmu, ge. Bahasamu sungguh berbelit-belit, bicaralah dengan kalimat yang efektif dan mudah dipahami.”

Lay mendecak kesal mendengar ucapan sahabatnya itu. Lay bisa menebak kalau sekarang temannya itu menganggapnya gila.

“Sudahlah ge, ini sudah terlalu malam. Aku benar-benar mengantuk, apalagi setelah mendengar dongengmu itu. Selamat malam, ge.”

Lay menyimpan handphonenya di atas meja samping tempat tidurnya. Dia menidurkan tubuhnya di kasur besar itu dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak, temannya memutuskan sambungan telepon secara sepihak. “Xi Luhan gila!!”, gumamnya pelan.

Park Taeyeon, Kim Taeyeon. Memiliki saudara perempuan, anak tunggal. Mereka jelas-jelas dua orang yang berbeda, Lay. Sangat mustahil kalau Park Taeyeon adalah Kim Taeyeon. Tapi kenapa wajah mereka mirip? Tunggu dulu, artis Korea juga banyak yang mempunyai wajah mirip, padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sedikitpun, bukan begitu? Kebetulan Lay, hanya kebetulan.

Chapter 3

@Del Coffee Shop, Seoul, South Korean.


“Waktu liburanmu hanya dua minggu? Yak, sebentar sekali.”

Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Yuri. Sedangkan tangan mungilnya sibuk mengaduk-aduk Hazelnut Latte, kopi kesukaannya.

“Yeah, i know. Padahal waktu satu bulan saja sebentar untukku, sekarang malah jadi dua minggu.”

Gadis itu mendengus kesal. Saat ini Taeyeon dan Yuri berada di Coffee Shop milik Jongin. Pertemuan pertama mereka setelah kurang lebih satu tahun tidak bertemu. Yuri sangat antusias ketika Taeyeon menelpon lewat handphone Jongin, menyuruhnya untuk datang ke Del Coffee.

“Aku sungguh kesepian di sini tanpa-mu, Tae.”

“Kau lebay sekali, yul.” Taeyeon merotasikan kedua bola matanya.

“Aku serius. Aku memang punya teman di kampus, tapi mereka semuanya tidak setia. Hanya baik ketika ada butuhnya, ketika tidak ada butuhnya, mereka lupa seakan terkena amnesia mendadak.”

Taeyeon tertawa kecil melihat Yuri yang sedang mengerucutkan bibirnya kesal. “Kasihan sekali dirimu, untung saja temanku di Jepang tidak seperti itu.”

Gadis dengan warna kulit coklat itu melotot kesal ke arah Taeyeon. Bagaimana gadis itu bercanda ketika dirinya sedang serius berbicara?

“Oww, sorry. I’m just kidding you know.” Taeyeon mengangkat kedua tangannya ke atas. Menurutnya, melihat Yuri yang sedang melotot seperti itu, adalah hal yang paling menyeramkan.

“Bercanda-mu tidak lucu, Tae.” Yuri mendelik kesal, gadis itu lalu menyeruput coffee-nya dengan gerakan cepat. Disisi lain, Taeyeon nyengir dengan wajah polosnya.

“Oh, ya Yul. Kau tahu Baekhyun oppa?.”

“Pacar kakak angkat-mu?.”

“Yak, jangan bilang seperti itu. Bagaimana kalau ada orang yang dengar.”

Yuri merotasikan kedua bola matanya ‘tak peduli. “Itu memang kenyataannya ‘kan? Lagi pula, sebaik-baiknya Seulgi kepadamu, tetap aku tidak suka orang itu. Aku benar-benar gerah dengan sifat over protective-nya terhadapmu. Bahkan kau dekat denganku atau dengan Jongin oppa ‘pun sepertinya dia tidak suka. Cih.”

Taeyeon menatap sahabatnya itu dengan pandangan sedih. Ya, memang baik Yuri ataupun Jongin sedikit tidak suka dengan Seulgi. Menurut mereka, Seulgi itu egois. Terlalu mengatur kehidupan Taeyeon, padahal statusnya hanya sebagai ‘kakak angkat’. Mereka memang tidak pernah meragukan kasih sayang yang diberikan Seulgi kepada Taeyeon, nyatanya, Seulgi memang sangat menyayangi Taeyeon layaknya adik kandung. Tapi, tidak bisakah Seulgi membiarkan Taeyeon ‘bebas’?.

Lihat, bahkan jika Taeyeon dan Yuri sedang membahas tentang Seulgi, tidak pernah sekalipun Yuri menyebutnya dengan embel-embel ‘Eonni’. Dia hanya memanggilnya dengan embel-embel ‘Eonni’ ketika Seulgi sedang berada di hadapannya langsung, itupun terpaksa.

“Eonni over protective karena dia menyayangi-ku, Yul.” Ujar Taeyeon pelan.

Yuri kembali merotasikan kedua matanya kesal. Gadis itu lebih memilih diam tanpa membalas pernyataan Taeyeon. Selalu saja jika mereka berdebat tentang hal ini, Taeyeon pasti lebih membela Seulgi dari pada dirinya. Terkadang dia merasa kesal jika sudah seperti ini.

“Yul, answer me. Kau tau Baekhyun oppa?.” Taeyeon kembali bertanya, kali ini disertai dengan aegyo yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya gemas.

“Tahu sih, tapi tidak kenal. Aku hanya beberapa kali pernah berpapasan dengan Baekhyun dan Seulgi. Waeyo?”

“Menurutmu, bagaimana Baekhyun oppa?.”

Yuri menaikkan satu alisnya aneh. “Maksudmu?”

“Ya maksudku, emm, begini beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Baekhyun oppa, Seulgi eonni mengenalkan kami. Dan kau tahu, Baekhyun oppa sungguh seperti patung, tidak banyak bicara. Huh, sungguh menyebalkan.”

Yuri mengangguk mengerti. “Ah, aku tidak terlalu mengenal Baekhyun, tapi, Jongin oppa memang bilang kalau Baekhyun itu tipe orang yang jarang sekali berbicara.”

“Kenapa kau tidak memanggilnya o-”

“Oppa? Karena dia berhubungan dengan Seulgi, ok? Aku tidak ingin dekat dengan orang yang berhubungan dengannya”

“Sebegitu bencinya kah kau pada eonni-ku?.”

Yuri menatap Taeyeon dengan raut muka yang sulit diartikan. “Aku tidak membencinya, aku hanya tidak menyukai sifatnya yang suka mengatur.”

Taeyeon diam, tidak berani membuka suara lagi. Ah, kenapa pertemuan pertama mereka setelah sekian lama harus seperti ini? Ini memang salah dirinya kenapa juga dia harus membawa-bawa nama Baekhyun tadi? Kau ceroboh Kim Taeyeon, kau benar-benar tidak hati-hati, sudah jelas kalau Yuri itu sangat sensitif.

Taeyeon memandang Yuri yang tengah sibuk dengan handphonenya. Mungkin gadis itu juga merasa canggung seperti dirinya saat ini.

“Kau hari rabu free?.” Tanya Yuri, matanya tidak terlepas dari layar smartphone kesayangannya.

“Yes, why?.”

“Ada festival musik di alun-alun kota. Dan kau tahu, Boyband papan atas Korea turut hadir dalam festival yang bisa disebut konser amal itu. Ada EXO. Wahhhh”

“EXO? Siapa EXO?.” Pertanyaan polos dari Taeyeon itu membuat Yuri yang awalnya tersenyum cerah berubah menjadi menatap Taeyeon dengan pandangan terkejut. “EXO. Kau tidak tahu EXO?.”

Taeyeon kembali menggeleng polos membuat Yuri menggeram kesal. “Astaga, apa hidupmu di Jepang hanya kau habiskan dengan belajar, Tae? Sampai-sampai kau tidak tahu EXO? Bahkan di Jepang EXO juga terkenal, Tae.”

“Aku ke Jepang memang berniat untuk belajar, Yul. Bukan untuk mengetahui EXO.” Bela Taeyeon.

“Aishh, you stupid girl. Aku tidak menerima penolakan, pokoknya hari Rabu nanti kau harus ikut aku ke festival musik itu.”

“Apa kau bilang? Gila? Yak, ak-”

“Oh, Baekhyun-ssi?!”

Ucapan Taeyeon terhenti ketika tiba-tiba indera pendengarannya menangkap suara Jongin yang memanggil nama Baekhyun. Gadis itu menoleh ke asal suara, mendapati Jongin yang memandang heran Baekhyun di depannya. Lalu pandangannya beralih menatap Baekhyun yang berdiri di depan pintu masuk.

“Mau apa dia kesini?.” Didengarnya Yuri bertanya ingin tahu, Taeyeon hanya mengendikan bahu. Matanya sibuk melihat ke arah belakang Baekhyun, mencari sosok sang kakak. Dia yakin, bahwa Baekhyun kesini bersama kakaknya. Namun nihil, tanda-tanda keberadaan kakaknya tidak ada. Bukannya tadi dia bilang akan menjemputnya untuk makan siang lagi di restoran Lay?

Taeyeon tersadar dari lamunannya ketika Baekhyun tepat berada di sampingnya. Sejak kapan laki-laki itu datang menghampirinya? Gadis itu mendongak, menatap Baekhyun dengan raut muka bingung.

“Aku tunggu kau di mobil 5 menit lagi.”

Pergi.

Taeyeon menatap punggung Baekhyun yang pergi menjauh dan akhirnya menghilang setelah berbelok keluar dari pintu.

“Hey, dia siapa menyuruhmu seperti itu? Aishh, dia benar-benar mirip dengan Seulgi, seenaknya.”

Taeyeon mendengar Yuri mengomel di kursi yang dia duduki. Tangannya menggepal tak terima melihat laki-laki itu dengan seenaknya menyuruh Taeyeon.

“Tidak sopan sekali. Astaga, kakak ipar yang menyebalkan.” Rutuk Taeyeon. Kali ini dia setuju dengan pendapat Yuri, Baekhyun kurang ajar, menyuruhnya dengan seenaknya. Dia pikir dia siapa? Bahkan untuk sekedar menyapa saja tidak.

Jongin tertawa kecil melihatnya. Sejak Baekhyun tadi datang dan menghampiri meja Taeyeon, laki-laki itu tidak melanjutkan pekerjaannya. Melainkan memperhatikan gerak-gerik Baekhyun. “Sudahlah, dia hanya memberimu waktu 5 menit. Sana pergi.”

“Oppa kau mengusirku?.” Taeyeon menatap Jongin tak percaya.

“Bukan begitu, tapi, pasti Baekhyun datang ke sini disuruh Seulgi. Kau harus mengerti, Taeng.”

Taeyeon mendengus kesal, dia lalu mengambil tas jinjingnya yang tersampir di kursi. “Araseo, aku pergi. Yul, kau sms saja aku tentang festival nanti ya. Annyeong Yul, Jongin oppa.”

Yuri berdecak kesal setelah Taeyeon pergi. Jongin yang mendengarnya langsung tersenyum lembut. “Sudahlah Yul, kau bisa bertemu lagi dengan Taeyeon nanti.”

“Bukan itu yang aku kesalkan saat ini oppa, aku hanya kesal kepada Seulgi dan kekesalanku bertambah setelah melihat Baekhyun tadi. Astaga.”

“Bagaimanapun Seulgi yang telah membuat Taeyeon menjadi seperti dulu lagi Yuri-ah, mungkin tanpa Seulgi, Taeyeon tidak akan ceria seperti sekarang ini. Cobalah untuk menerima keberadaan Seulgi, meskipun oppa juga sedikit tidak suka dengan sikapnya.”

Yuri menyembunyikan wajahnya ke atas tangannya yang dia lipat di atas meja. “Sangat susah oppa.”

Love, That One Word

Taeyeon memasuki mobil Baekhyun yang terparkir di sisi jalan. Tangannya meraih seatbelt di sampingnya dan memasangnya langsung di tubuhnya. Gadis itu lalu menoleh, menatap Baekhyun yang juga menatapnya. Namun sedetik setelah Taeyeon menatapnya, Baekhyun langsung menatap ke arah jalan. Taeyeon mengangkat bahunya tak peduli.

Beberapa detik kemudian mobil itu berjalan, meninggalkan Coffee Shop milik Jongin dengan kecepatan sedang. Tidak ada satupun yang berbicara, Baekhyun yang sibuk dengan kemudinya, sedangkan Taeyeon? Entahlah, dia merasa canggung sekarang. Biasanya, jika dia bersama Jongin dalam mobil, atau bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya sekalipun dia tidak pernah merasa seperti ini. Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan dirimu Kim Taeyeon? Jangan seperti ini, dia calon kakak iparmu!

“Oppa, Seulgi eonni, kenapa dia tidak datang bersamamu?.” Tidak betah dengan keheningan, Taeyeon akhirnya memberanikan diri mengeluarkan suara. Dia kembali menoleh menatap Baekhyun, wajah Baekhyun yang kalau dilihat dari samping, sungguh membuat Taeyeon takjub. Baekhyun memang tidak setampan Lee Jungsuk (Aktor favoritnya), bahkan garis rahangnya tidak terlalu tegas dibandingkan dengan Kim SooHyun. Tapi Baekhyun, menurutnya memiliki kelebihan tersendiri.

Wajah tegasnya, sungguh berwibawa. Bahkan Taeyeon mengakui kalau Byun Baekhyun itu tampan. Melihatnya dari samping seperti ini, kembali membuat dada Taeyeon bergemuruh. Gadis itu langsung menatap keluar jendela. This is really wrong, Kim Taeyeon! Please wake up!

“Kakakmu sedang ada urusan di kantor. Barusan Seulgi menelponku, dia menyuruhku untuk menjemputmu dan mengajakmu makan siang kembali di restoran Lay hyung.”

Taeyeon terkesiap, wah, Baekhyun berbicara panjang kepadanya. Tidak singkat, dan entah kenapa itu membuatnya senang. “Makan siang tanpa eonni?.”

“Aku pikir kau tidak akan keberatan makan siang tanpa kakakmu, karena ku perhatikan kemarin, kau begitu dekat dengan Chanyeol dan Lay hyung.”

Tunggu dulu. Kemarin Baekhyun memperhatikannya? Tiba-tiba Taeyeon merasa sekujur tubuhnya panas. Wajahnya, bisa dilihat warna pink muncul di sisi kiri dan kanan pipinya. Blush.

“Tentu saja aku tidak keberatan oppa.” Taeyeon tersenyum menatap Baekhyun.

‘Mereka orang yang baik, aku senang bisa berteman dengan mereka.”

Baekhyun tidak menjawab, dia hanya tersenyum manis tanpa Taeyeon sadari.

Love, That One Word

“Ku dengar tidak lama lagi kau akan lulus? Tahun ini semester terakhirmu, Taetae?.”

Baekhyun merotasikan kedua bola matanya mendengar ucapan Chanyeol. Apa itu tadi? Taetae? Laki-laki playboy itu,dasar.

“Taetae?.” Taeyeon menatap Chanyeol bingung, dia sedikit memiringkan kepalanya ke samping, menambah kesan lucu. Chanyeol tersenyum cerah dan mengangguk semangat.

“Taetae, lucu ‘kan? Itu nama panggilanku untukmu, karena kau lucu.” Chanyeol mencubit kedua pipi Taeyeon gemas, membuat gadis itu mengerang pura-pura kesakitan. “Sakitttttt”

Gadis itu merengek manja, bukan melepaskan, Chanyeol sekarang malah semakin gemas mencubit pipi chubby Taeyeon. “Ya ya ya, Park Chanyeol, dia kesakitan, lepaskan tanganmu dari pipinya.”

Sebuah buku yang tidak terlalu besar, mendarat di punggung Chanyeol. Chanyeol meringis sakit, meskipun ukuran buku itu tidak terlalu besar, namun buku itu mendarat dengan ujungnya terlebih dahulu.

“Aish, Byun Baekhyun, kau tidak segan segan melempar buku itu kepadaku. Jinjja!.”

Taeyeon tertawa melihat Chanyeol yang tengah meringis kesakitan, tangan besar Chanyeol mengambil buku yang tergeletak di lantai. Laki-laki itu berniat akan melempar kembali buku itu ke wajah Byun Baekhyun, namun belum sempat dia mengangkat tangannya, tangan mungil milik Taeyon terlebih dulu mencegahnya.

“Jangan lakukan itu, oppa. Buku ini akan melukai Baekhyun oppa jika kau melemparnya.” Ujar Taeyeon lembut, tangannya mengambil buku itu dari tangan Chanyeol, lalu gadis itu memberikannya kepada Baekhyun.

“Gomawo.” Ujar Baekhyun singkat. Taeyeon mengangguk senang, lalu gadis itu duduk di samping Baekhyun.

“Setelah kau lulus kuliah, kau akan bekerja dimana Taeyeon-ah?.” Kali ini Lay yang bersuara. Tunggu dulu, kalau diperhatikan, Lay sejak tadi bertingkah aneh. Laki-laki itu tidak banyak bicara, beda seperti kemarin-kemarin, Lay sering menggodanya seperti Chanyeol.

“Entahlah oppa, aku masih bingung. Hehe.”

“Kau harus segera memikirkannya dari sekarang,yeon, kau harus segera mengukuhkan pendirianmu.”

Taeyeon menatap Baekhyun yang duduk di sampingnya. Mendengar Baekhyun tadi menyebutnya dengan ‘Yeon’, entah kenapa gadis itu begitu menyukai nama panggilan itu. Gadis itu tersenyum. “Nde oppa. Goamawo sudah mengingatkanku.”

“Hmm.” Baekhyun mengangguk menjawab ucapan Taeyeon, matanya tidak beralih, tetap fokus membaca buku yang dia pegang.

“Hey Chanyeol bodoh.”

“Berhenti memanggilku bodoh, Baekhyun. Aku tidak bodoh.”

“Hari rabu nanti aku tidak bisa menemanimu pergi ke festival musik, ada pertemuan dengan Client ayahku, dan aku tidak bisa membatalkannya.” Baekhyun menghiraukan protes Chanyeol.

Mendengar kata ‘Festival Musik’, membuat Taeyeon yang tadi sedang asyik dengan game di handphonenya, mengalihkan pandangannya menatap Baekhyun dan Chanyeol secara bergantian. “Festival musik? Festival yang diadakan di alun-alun kota?.”

Chanyeol mengangguk. “Iya, kenapa? Apa kau ingin pergi kesana? Ayo pergi bersamaku, Taetae.”

“Kenapa tidak oppa saja yang ikut bersamaku? Aku dan temanku juga akan kesana? Oppa sendiri ‘kan?”

“Wah, hebat. Apa temanmu baik? Kalau begitu, aku ikut bergabung denganmu saja.”

“Okay, nanti aku akan memberitahu temanku.” Chanyeol mengacungkan jempol ke arah Taeyeon, yang tentu saja dibalas dengan senyuman manis oleh Taeyeon.

Love, That One Word

Baekhyun mengantar Taeyeon pulang ke rumahnya dengan selamat sesuai janjinya kepada Seulgi. Suasana di mobil kali ini lebih hangat dari pada tadi yang canggung. Taeyeon sekarang bahkan tidak malu-malunya mengoceh panjang lebar, tak jarang Baekhyun ‘pun tertawa kecil mendengar candaan yang dilontarkan gadis itu.

“Oppa.”

“Hm?.” Baekhyun memandang Taeyeon sekilas, sebelum dia kembali fokus pada kemudinya. “Ada apa, yeon?.”

“Aku ingin meminta satu permintaan padamu. Dan aku mohon, oppa harus mengabulkannya, nde?.”

“Permintaan apa?.”

Taeyeon terdiam sejenak. “Oppa jangan bilang pada Seulgi eonni kalau aku akan pergi ke festival musik nanti bersama temanku dan Chanyeol, ya?.”

“Waeyo?.”

“Eonni tidak akan mengijinkanku kalau aku pergi ke festival musik.”

“Terus kau akan berbohong pada Seulgi, begitu?.”

Taeyeon mengangguk. “Hanya sekali oppa, sebelumnya aku tidak pernah berbohong pada eonni. Oppa mau kan menolongku, ya, ya, ya?.” Taeyeon mengeluarkan jurus andalannya, Aegyo. Berharap Baekhyun akan luluh mendengar dan melihatnya. Namun dugaannya salah, Baekhyun malah terus fokus dengan kemudinya.

“Kalau Seulgi tidak mengijinkanmu, itu berarti dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu nanti.”

“Araseo, aku tahu. Tapi ini hanya sekali, aku sangat merindukan Yuri, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya sebelum aku kembali ke Jepang. Lagi pula Chanyeol oppa juga ikut ‘kan.”

“Kau baru kenal Chanyeol 2 hari, dan kau sudah mempercayainya?.” Baekhyun bertanya tak percaya.

“Aku mempercayai semua orang yang dekat dengan Seulgi eonni, termasuk oppa, Chanyeol oppa dan Lay oppa. Aku tidak peduli baru berapa hari aku kenal kalian, selama kalian dekat dengan eonni-ku, apa ada alasan untukku untuk tidak mempercayai kalian?.”

Baekhyun terdiam mendengar ucapan Taeyeon membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Oppa, jebal~”.

Tidak ada jawaban.

“Kakak ipar~”

Masih tidak ada jawaban.

“Aku mohon kakak ipar-ku yang tampan~”

Baekhyun tersenyum kecil mendengar aegyo Taeyeon. “Baiklah baiklah, aku tidak akan memberi tahu kakakmu soal festival musik nanti.”

“Aigoo, jinjja? Ahhh thank you very much Baekhyun oppa.” Taeyeon tersenyum senang, mau tak mau membuat Baekhyun juga ikut tersenyum melihatnya.

Love, That One Word

@Park Family’s House.

Taeyeon merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sudah hampir malam, namun Seulgi belum juga pulang ke rumah. Taeyeon sedikit khawatir, tapi tadi Seulgi menelpon, kalau dirinya akan pulang sedikit malam karena ada pertemuan dengan salah satu temannya, mungkin Irene?

Karena tidak ada kerjaan, yang dilakukan Taeyeon dari tadi hanya bermain game di handphone-nya. Kalau tahu seperti ini, dia akan meminta Baekhyun tadi untuk mengantarkannya kembali ke Coffee Shop milik Jongin dari pada pulang ke rumah.

Berbicara tentang Baekhyun, menurut Taeyeon hari ini Baekhyun begitu berbeda dari pada kemarin-kemarin. Baekhyun hari ini, tidak mendiamkannya. Bahkan beberapa kali Baekhyun juga mengajaknya bicara *tanpa Taeyeon pertama yang mengajaknya*, dan tak jarang laki-laki itu menyunggingkan senyum manis kepadanya. He’s different.

Taeyeon bingung, jadi sifat asli Baekhyun itu yang mana? Taeyeon tersenyum malu ketika dia kembali mengingat bagaimana Baekhyun memanggilnya dengan panggilan ‘Yeon’, dia merasa . . . . terbang.

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas dada. Dia merasakan jantungnya berdetak tidak normal dari biasanya, bahkan gadis itu sampai merasa sakit saking tidak normalnya jantung itu bekerja. Taeyeon memejamkan mata, ‘Jangan seperti ini, Kim Taeyeon. Jangan, dia pacar kakakmu.’.

Love, That One Word

Seulgi menatap Taeyeon lekat. Sejak dari tadi, adiknya itu sibuk dengan handphonenya. Bukan bermain game seperti yang biasa dia lakukan, dari tadi dia terus bertukar pesan dengan seseorang.

“Kau asik sekali dengan handphone-mu, sampai-sampai eonni kau hiraukan.”

Taeyeon mengalihkan pandangan dari handphone-nya, gadis itu menatap Seulgi dan tersenyum manis ke arahnya. “Yuri mengirim pesan, dia bertanya apakah aku jadi menginap di rumahnya atau tidak.”

Seulgi menghela nafas pelan. “Kau serius akan menginap di rumah Yuri malam ini, Baby Tae?.”

“Kalau eonni mengijinkan, aku akan sangat senang.”

“Apakah ada alasan untuk eonni menolakmu, hm? Maaf, selama ini eonni terlalu mengekangmu, pergilah, kau pasti sangat merindukan Yuri.” Ujar Seulgi lembut.

Taeyeon meletakkan handphone-nya di atas meja hias. Gadis itu lalu berjalan mendekat ke arah Seulgi, duduk di sampingnya. Tangannya memeluk Seulgi erat, seakan tidak mau kehilangan barang yang paling berharga dalam hidupnya.

“Jangan meminta maaf, jebal. Aku tidak apa-apa kalau eonni mengekangku, aku sangat senang, karena itu berarti eonni sangat menyayangiku, dan tidak mau hal-hal buruk terjadi padaku. Aku sungguh tidak merasa keberatan.”

“Benarkah begitu?.” Tanya Seulgi. Tangan kanannya mengusap lembut kepala Taeyeon yang menyandar di pundaknya.

Taeyeon mengangguk dengan cepat. “Benar eonni.”

Love, That One Word

“Sungguh tidak bisa dipercaya, kakakmu mengijinkanmu menonton festival musik. Daebak” Ujar Yuri bersemangat.

“Tentu saja, karena aku berbohong padanya, Yul. Eonni tidak akan memberiku ijin jika aku memberi tahu yang sebenarnya.”

Yuri mengangguk mendengar ucapan Taeyeon. “Tapi tetap saja, ini adalah kesempatan yang sangat langka.”

“Tapi kakakku bersikap aneh, Yul. Seperti, ada sesuatu yang dia sembunyikan.”

“Sudahlah, jangan memikirkan itu dulu sekarang. Sekarang saatnya bersenang-senang ok? Ngomong-ngomong, temanmu itu mana? Lama sekali dia datang.”

“Dia baru saja selesai parkir, sebentar lagi dia akan kesini, Yul” Yuri mengangguk mengerti.

Benar saja, karena 3 menit setelahnya Chanyeol datang bersama . . .

“Oh, Baekhyun oppa?” Taeyeon menatap Baekhyun tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki itu datang ke sini? Bukannya kemarin dia menolak ajakan Chanyeol karena dia harus bertemu dengan Client ayahnya?.

“Park Chanyeol?! Yak, sedang apa kau di sini?!.” Ujar Yuri kaget. Matanya membulat sempurna saking kagetnya.

“Tentu saja menonton festival, menurutmu apa lagi. Taetae-ah, jadi teman kau ini Yuri. Ahh, tahu begini aku lebih baik pergi sendiri saja.”

Yuri terkejut mendengar Chanyeol memanggil Taeyeon dengan sebutan Taetae, sedekat inikah mereka? Lalu sejak kapan mereka dekat?

“Yak, Taeyeon-ah, Chanyeol ini temanmu? Astaga, bagaimana bisa kau berteman dengan playboy kampungan ini? Aku sarankan kau agar tidak dekat-dekat dengan Chanyeol, dia sangat berbahaya, Tae.”

“Hey nona Kwon, apa kau bilang? Playboy kampungan? Berbahaya? Kalau aku berbahaya, mana mungkin para gadis mendekatiku. Jaga bicaramu”

Taeyeon memandang Chanyeol dan Yuri yang sedang beradu mulut dengan pandangan takjub. Oh, jadi Chanyeol dan Yuri sudah saling mengenal sebelumnya? Kenapa dia tidak tahu? Ahh, terlalu lama tinggal di Jepang, membuatnya kehilangan banyak berita di Korea.

“Baekhyun oopa, bukannya kau tidak akan ke sini?. Taeyeon menatap Baekhyun bingung.

“Chanyeol memaksaku, dia mengancamku kalau aku tidak datang.”

Taeyeon mengangguk mengerti, dalam hatinya, dia tidak senang jika Baekhyun berada di sini. Kalau Taeyeon terus-terusan berdekatan dengan Baekhyun, dia yakin pasti dia akan mati di tempat. Jantungnya itu benar-benar tidak bisa di ajak kompromi.

“Yuri-ah, Chanyeol oppa, sudahlah, nanti lagi berdebatnya. Ayo kita masuk, jangan sampai pembukaannya kita lewatkan.”

Yuri mendelik kesal ke arah Chanyeol, sebelum akhirnya dia menggandeng lengan Taeyeon dan membawanya masuk ke aula festival. “Kenapa juga ada Baekhyun?.” Bisik Yuri pelan.

“Oppa bilang dia dipaksa Chanyeol oppa.”

Taeyeon dengar Yuri kembali mendengus kesal. Gadis itu tidak menghiraukannya, dia dengan santai masuk ke dalam aula festival.

“Berdiri? Tidak ada tempat duduk?.” Tanya Taeyeon tidak percaya. Setelah sampai di tempat tujuan, Taeyeon bisa melihat banyaknya orang di dalam aula itu. Mereka semua berdiri, tidak ada satupun kursi di aula itu.


“Yes, tidak ada tempat duduk. Ayolah, berdiri lebih menyenangkan, Tae.” Ujar Yuri dengan suara yang keras. Maklum, di aula itu banyak orang, dan mereka semua tidak diam, sehingga kalau ingin berbicara harus dengan suara yang keras.

Taeyeon merutuk dalam hati, tahu seperti ini, dia tidak akan datang. Selama 2 jam kedepan, apakah dia sanggup berdiri terus? Dia rasa tidak. Waktu di Jepang saja, ketika kampusnya sedang mengadakan pentas seni, saking banyaknya yang menyaksikan, kursi penonton pun penuh ditempati. Sehingga membuat Sooyoung, Kris dan dirinya mau tidak mau berdiri di belakang untuk menyaksikan. Dan apa yang terjadi? Baru saja setengah jam pertunjukan berlangsung, Taeyeon sudah di bawa ke ruang kesehatan oleh Kris dan Sooyoung, ya, dia pingsan.

Dan sekarang Taeyeon tidak mau kejadian seperti itu terulang kembali di sini. Dia tidak mau membuat Yuri cemas, apalagi jika benar-benar terjadi, dan kakaknya tahu.


Taeyeon memandang sekelilingnya, orang-orang sangat berdesakan. Bahkan gadis itu-pun bisa merasakan tubuh seseorang di belakangnya. Untung tubuh itu tubuh ber-gender perempuan, sehingga dia tidak begitu keberatan.

Taeyeon ingin kembali keluar, tapi bagaimana bisa? Saat ini dia berada di jajaran paling depan. Akan membutuhkan banyak waktu untuknya menerobos orang-orang yang ada di aula ini. Dia hanya bisa berdo’a, semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadap dirinya.

Beberapa menit kemudian Festival musik amal itu dimulai. EXO menjadi grup pembuka malam itu. Taeyeon bisa dengar teriakan yang sangat histeris memanggil-manggil nama member EXO. Sebegitu banyak kah penggemar EXO?

Taeyeon melihat Yuri di sampingnya yang sedang melompat-lompat mengikuti aliran musik, tak jarang gadis berkulit coklat itu juga menyerukan nama ‘EXO’. Di samping sebelah kanannya, dia bisa lihat Chanyeol yang juga tak kalah histerisnya dengan Yuri. Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sedangkan Baekhyun? Taeyeon lihat laki-laki itu hanya memasang muka masamnya. Bisa Taeyeon duga kalau laki-laki itu tidak terlalu menikmati acara ini.

Merasa diperhatikan, Baekhyun memalingkan muka ke sebelah kiri, mendapati Taeyeon yang sedang memandangnya. Laki-laki itu tersenyum lembut, yang tentu saja di balas kembali oleh Taeyeon.

Taeyeon kembali menikmati festival itu, lebih tepatnya belajar menikmati. Karena pada kenyataannya gadis itu sama sekali tidak betah berada di sini. Dia kira menonton festival musik akan sangat menyenangkan, tapi nyatanya tidak.

Sesak. Taeyeon merasakan sesak, dia sampai lupa kalau dirinya menderita asma. Dan sekarang, asmanya kambuh. Wajah Taeyeon mendadak pucat, keringat basah muncul di wajah cantiknya.

“Yul.” Taeyeon memanggil nama Yuri pelan. Tapi Yuri tidak bisa mendengarrnya, karena suara musik yang sangat keras.

“Yul!.” Dengan sekuat tenaga, gadis itu kembali memanggilnya. Tangan mungilnya bahkan sekarang mencengkram kuat lengan Yuri. “Aww sakit, ada ap-, ya ampun, mukamu pucat sekali. Kau tidak apa-apa?.” Suara Yuri yang sangat besar, berhasil mengalihkan pandangan Baekhyun dan Chanyeol. Mereka menatap Yuri dan Taeyeon.

“Sesak, Yul. Bawa aku keluar.”

“Ya ampun, ya ampun, baiklah. Kau tahan ya, Tae.”

Ketika Yuri hendak memapah Taeyeon, lengan kekar Baekhyun terlebih dahulu membawa Taeyeon ke dalam dekapannya. Baekhyun mengangkat Taeyeon ala bridal style, lalu membawa Taeyeon menuju pintu keluar.

Baekhyun tidak menghiraukan Yuri dan Chanyeol yang memanggil namanya dari belakang. Dia terlalu fokus menerobos ratusan orang yang ada di depannya. Laki-laki itu sedikit frustasi karena orang-orang yang ada di sekitarnya tidak peka, sudah tahu ada orang yang hampir pingsan, namun mereka malah tetap asik dengan berjoged. “Sh*t, bisa kalian memberi kami jalan.”

Baekhyun menubruk orang-orang itu, tidak ada pilihan lain.

Love, That One Word

“Kita harus ke rumah sakit, Tae.”

“Tidak apa-apa, sesakku sudah hilang.” Taeyeon menggeleng lemas. Gadis itu sedang berbaring di atas kursi sekarang, kepalanya dia tidurkan di paha Yuri. Dia tidak bohong, sesaknya memang sudah hilang, tapi rasa pusingnya belum hilang sedikitpun.

Yuri membenarkan jaket Baekhyun yang menutupi setengah badan Taeyeon yang kedinginan. “Aku benar-benar khawatir melihatmu seperti ini, Tae. Maafkan aku.”

Taeyeon tertawa kecil. “Kenapa kau meminta maaf padaku? Ini salahku, kenapa juga aku mempunyai penyakit menyebalkan ini.”

“Kau tidak apa-apa? Ini aku belikan air putih dan teh hangat untukmu. Minumlah air putu\ih terlebih dahulu.”

Baekhyun dan Chanyeol datang menghampiri Yuri dan Taeyeon. Baekhyun menyodorkan air putih dan teh hangat itu kepada Chanyeol, sebelum akhirnya Baekhyun membantu Taeyeon untuk duduk di kursi. “Aish oppa, aku tidak selemah itu. Aku bisa duduk sendiri.”

Baekhyun tidak menghiraukan protes yang Taeyeon berikan, laki-laki itu malah menyampirkan jaketnya yang terjatuh ke bahu Taeyeon.

“Ini minumlah.” Taeyeon mengambil air putih yang Chanyeol sodorkan kepadanya, lalu meneguknya dengan pelan.

“Terima kasih. Maaf, gara-gara aku, kalian jadi tidak bisa menonton festival itu sampai beres.”

“Tidak apa-apa Tae, kesehatanmu jauh lebih penting.”

Chanyeol mengangguk mendengar ucapan Yuri. “Iya, kesehatanmu jauh lebih penting. Untung tadi kau bilang pada Yuri kalau kau sesak, coba kalau tidak, bisa-bisa kau pingsan di dalam.”

“Ini teh nya, kau kedinginan. Chanyeol-ah, lepaskan jaketmu. Palli”

Chanyeol melakukan apa yang Baekhyun perintahkan. Laki-laki itu melepaskan jaketnya yang besar, lalu memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun memakaikan jaket itu di tubuh Taeyeon.

“Jangan katakan soal ini pada Seulgi eonni, jebal.” Ujar Taeyeon dengan suara yang lemah.

Yuri, Baekhyun dan Chanyeol mengangguk mendengar permintaan Taeyeon.

“Lebih baik kita pulang, Yeon. Aku akan mengantarmu dan temanmu pulang. Kajja.”

Taeyeon mengangguk lemah. Gadis itu merapatkan kepalanya ke dada Baekhyun ketika laki-laki itu mengangkatnya kembali, bridal style.

Love, That One Word

“Kau aneh hari ini, Baek.”

“Aneh kenapa?.” Baekhyun menatap Chanyeol bingung.

Mereka baru saja mengantar Taeyeon dan Yuri pulang ke rumah Yuri. Selesai menidurkan Taeyeon di tempat tidur Yuri, Baekhyun dan Chanyeol langsung pamit pulang kepada Yuri. Tak lupa Yuri mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua, terutama Baekhyun.

“Kau banyak bicara. Tunggu dulu, kau hanya banyak bicara pada Taetae, selebihnya tidak. Dan apa itu tadi, sebegitu khawatirnya kah kau pada Taetae?.”

Baekhyun terdiam sesaat. “Tentu saja aku khawatir, dia calon adik iparku, yeol.”

“Dan, behenti menyebutnya ‘Taetae’, aku geli sendiri mendengarnya.” Tambahnya.

Chanyeol berdecak sebal. “Taeyeon sendiri tidak protes kupanggil ‘Taetae’, kenapa kau repot-repot melarangku. Bahkan aku lebih geli mendengarmu memanggilnya ‘Yeon’.”

Baekhyun merotasikan kedua bola matanya tak peduli. “Kau kenal dengan temannya Taeyeon? Kwon Yuri?.”

“Dia mantanku, Baek.”

Baekhyun membulatkan matanya terkejut. “Jinjja? Sejak kapan? Dan bisa kuduga kau putus dengannya karena kau ketahuan menduakannya. Benar ‘kan?.”

“Aku lupa tepatnya kapan. Dan ya, kau pintar Byun Baekhyun, bukan hanya menduakannya, saat itu aku berpacaran dengan 3 perempuan sekaligus.”

“Dasar playboy.” Baekhyun menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bagaimana bisa dia berteman dengan Chanyeol yang playboy ini? Laki-laki yang selalu menyakiti perasaan wanita.

“Diamlah, Baek, dan fokus pada kemudimu. Aku tidak mau mati muda.”

Baekhyun tersenyum evil. “Justru aku senang jika kau mati muda.”

“Yakk!!”

Love, That One Word

Taeyeon membuka matanya ketika dia merasakan kilauan matahari memasuki retina matanya. Gadis itu memegang kepalanya yang sangat berat, pusing lebih tepatnya. Erangan kecil keluar dari mulutnya.

“Eoh, kau sudah bangun Tae?.” Yuri berlari kecil menghampiri Taeyeon. Gadis itu lalu menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Taeyeon, mengecek apakah suhu badannya masih panas seperti tadi malam atau tidak. Yuri menghela nafas lega.

“Syukurlah panasnya sudah menurun. Ayo kita makan, aku sudah masak untuk kita sarapan.”

“Gendong aku.” Taeyeon mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Astaga, aku tidak akan kuat menggendongmu. Meskipun tubuhmu kecil, tapi berat badanmu berat, Tae.”

“Semalam bukannya kau menggendongku ke sini?.”

“Semalam kakak iparmu yang menggendongmu kesini.”

Taeyeon membulatkan mata tidak percaya. “Jinjayo?.”

“Jinjja, kau tidak ingat?.” Yuri menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Aniyo.”

Yuri mendudukan dirinya di sebelah Taeyeon. Matanya menatap mata Taeyeon lekat. “Semalam itu, kakak iparmu sungguh aneh. Anehhhh sekali.

Taeyeon memiringkan kepalanya menatap Yuri. “Aneh? Maksudmu?.”

“Aku tidak terlalu mengenal Baekhyun, tapi Jongin oppa pernah sesekali berbicara mengenai Baekhyun. Menurutnya, Baekhyun itu tidak jauh bedanya seperti patung, dia orang yang dingin. Kau masih ingat ‘kan ketika Baekhyun datang ke Coffee Shop milik Jongin oppa dan menyuruhmu dengan seenaknya?.”

Taeyeon mengangguk menjawab pertanyaan Yuri.

“Tapi kemarin, dia begitu baik. Bahkan aku terkagum-kagum ketika dia membawamu keluar dari area festival, dan membelikanmu minuman. Ahh, dia benar-benar perhatian padamu.” Lanjutnya.

“Tentu saja Yul, dia ‘kan calon kakak iparku. Dia bersikap baik padaku mungkin karena dia ingin menunjukan kalau dia itu cocok untuk menjadi pendamping eonni-ku.” Taeyeon mencoba membalas pernyataan Yuri setenang mungkin. Padahal, jauh dari dalam lubuk hatinya, jantungnya bekerja sangat tidak normal mendengarkan Yuri.

“Hmm, kau betul juga. Oh ya, kemarin kau pulang dengan memakai jaket milik Baekhyun. Jaketnya aku cuci, nanti kau berikan pada Baekhyun, ok.”

“Baiklah.”

Love, That One Word

Seulgi terbangun dengan keringat yang membasahi seluruh wajah bahkan tubuhnya. Perkiraannya benar, tidur siang malah membuatnya semakin tidak tenang, apalagi dengan mimpi buruknya barusan. Perempuan itu mengusap wajahnya frustasi, apa yang dia dengar beberapa hari yang lalu di kantor ayahnya kembali dia ingat.

Dia tidak menyangka, dia terkejut, bahkan dia rasa saat itu dia hanya bermimpi. Tapi tidak, ketika Ibunya melihat kearahnya dengan tatapan yang juga sama terkejutnya saat itu, dan ketika kedua orang tuanya memohon kepadanya untuk merahasiakan apa saja yang telah Seulgi dengar di kantor, perempuan itu kembali meyakinkan dirinya bahwa saat itu bukanlah mimpi. Tapi kenapa mereka ingin melakukan itu? Kenapa mereka?

Seulgi kembali memejamkan matanya, sebentar, hanya sebentar, berharap semuanya akan hilang dari pikirannya. Gadis itu menggeram marah. “Eomma, Appa, wae?.” Lirihnya pelan.

“Eonni?.”

Sebuah suara lembut terdengar olehnya. Gadis itu membuka kedua bola matanya, dan terlihat, Taeyeon, adiknya, yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah teduh itu, yang selalu membuatnya tenang jika melihatnya, entahlah, tapi kali ini, melihat wajah teduh itu malah ingin membuatnya menangis.

“Eonni sudah bangun?.”

Seulgi mengangguk, gadis itu bangun dari posisi tidurnya dan duduk di atas ranjangnya.

“Eonni kenapa? Eonni sakit?.” Tanya Taeyeon khawatir. Gadis itu berjalan mendekati Seulgi, tangannya dia simpan di dahi Seulgi, mengecek suhu tubuhnya. “Tidak panas, tapi wajah eonni begitu kusut.” Ujar Taeyeon pelan, gadis itu lalu duduk di samping kakaknya.

“Kalau eonni sakit, eonni akan langsung bilang padamu. Eonni tidak akan pernah merahasiakannya darimu, Baby Tae.”

Taeyeon meringis dalam hati mendengar pernyataan kakaknya itu. Taeyeon tahu kalau Seulgi sedang menyindirnya, menyindirnya karena sebelumnya dia berbohong kepadanya.

Ya, Seulgi sudah tahu semuanya. Tentang Festival itu, tentang Asma-nya yang kambuh, bahkan tentang Baekhyun dan Chanyeol yang juga pergi menonton Festival itu. Taeyeon memberi tahu semuanya, dia tidak ingin berbohong kepada kakaknya.

“Mianhae.” Ucap Taeyeon pelan, gadis itu menunduk merasa bersalah. “Aku tidak akan pernah berbohong lagi pada eonni. Janji.”

Seulgi tertawa kecil melihat reaksi Taeyeon, sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyindirnya, tapi dia hanya tidak suka jika Taeyeon sakit, dan dirinya tidak tahu. Dia merasa menjadi kakak yang gagal jika seperti itu.

“Kau lebih baik menepati janjimu, Baby Tae. Atau nanti eonni benar-benar marah padamu. Mengerti?.”

Taeyeon mengangguk mendengar ucapan Seulgi. “Mengerti eonni.”

“Ahh, untung saja waktu itu ada Baekhyun di sana. Jadi rasa marah eonni sedikit berkurang. Ceritakan pada eonni, apakah malam itu Baekhyun menjagamu, hmm?.” Seulgi menarik Taeyeon ke dalam dekapannya. Perempuan itu memeluk Taeyeon erat, seakan tidak ingin kehilangan barang yang paling berharga dalam hidupnya. Taeyeon tidak menolak, jujur saja, hal yang paling Taeyeon sukai adalah saat dirinya berada dalam pelukan Seulgi, dia merasa aman.

“Iya. Dia begitu perhatian padaku, eonni. Bahkan oppa membelikanku minuman dan makanan. Eonni sungguh beruntung mempunyai Baekhyun oppa. Tapi, apa eonni tidak marah?.” Pipi Taeyeon bersemu merah ketika dia kembali memutar adegan dimana saat itu Baekhyun begitu perhatian dan khawatir padanya. Beruntung baginya karena sekarang gadis itu berada di dalam pelukan Seulgi, sehingga Seulgi tidak menyadari perubahan ekspresi Taeyeon.

“Ya, kenapa eonni harus marah? Jelaskan pada eonni di bagian mana eonni harus marah padamu, hmm? Justru eonni senang karena Baekhyun bisa menjagamu saat itu.” Seulgi mencubit pipi chubby Taeyeon dengan gemas.

“Dan eonni berharap Baekhyun bisa menjagamu untuk selamanya.” Lanjutnya pelan, sangat pelan, sampai-sampai Taeyeon yang ada di pelukannya menaikkan alisnya penasaran. “Apa?.”

“Tidak apa-apa. Oh kau sudah makan siang?.” Tanya Seulgi berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Taeyeon menggeleng pelan, “Belum, apa kita akan makan siang di Restoran Lay oppa lagi.”

Seulgi melepaskan pelukannya, dia lalu berdiri membantu Taeyeon untuk juga berdiri. “Tidak, hari ini kita makan di rumah. Hmm, mari kita hitung, berapa lama lagi kau berada di Korea?.”

“Delapan hari lagi. Kenapa?”

“Okay, selama delapan hari itu kita akan makan di rumah tanpa ada alasan. Dan selama delapan hari itu juga eonni yang akan memasak untukmu, bukan bibi Choi. Oh, tunggu dulu bukan hanya eonni yang memasak, kau juga akan memasak, Baby Tae.”

Taeyeon membulatkan kedua matanya tidak percaya. Apa dia tidak salah dengar? Dia memasak? Bagaimana mungkin. “Tapi, eonni tahu betapa buruknya aku jika dihadapkan dengan urusan memasak? Bahkan untuk memegang pisau saja aku sudah tidak bisa, bagaimana kalau nanti aku terluka?.”

Seulgi tertawa mendengar suara rengekan Taeyeon. “Justru karena itu, kau sudah berusia 22 tahun, dan belum bisa masak sedikitpun. Bahkan untuk menghidupkan kompornya saja kau tidak bisa. Kau harus belajar memasak Baby Tae, bagaimana nanti dengan calon suamimu kalau kau tidak bisa memasak?.”

“Calon suami? Astaga, itu masih sangat lama, eonni. Bahkan aku belum menyelesaikan kuliahku, kerja juga belum. Aku bisa belajar memasak nanti, ya?.” Taeyeon memohon dengan puppy eyes andalannya. Tapi gadis itu menghela napasnya pelan, ketika dia merasakan tangan hangat Seulgi memegang kedua pundaknya lembut.

“Siapa bilang itu masih sangat lama? Siapa yang tahu jika besok kau akan menikah, atau minggu depan, atau bulan depan. Kau harus tahu ‘takdir’, Baby Tae, dan kau harus percaya takdir.”

“Bicaramu aneh sekali eonni, aku menikah dengan siapa? Bahkan pacar ‘pun aku tidak punya. Apa mungkin eonni ingin menjodohkanku dengan Lee Jongsuk? Atau Kim Soohyun? Atau Ahn Jaehyun? Sehingga dalam waktu dekat ini aku akan menikah? Haha.” Taeyeon tertawa keras. Melihat ini, Seulgi sedikit kesal, perempuan itu mencubit kedua pipi Taeyeon pelan membuat yang dicubit meringis sakit.

“Lee Jongsuk, Kim Soohyun dan Ahn Jaehyun. Eonni tidak kenal mereka, untuk apa eonni menjodohkanmu dengan salah satu di antara mereka jika eonni sudah mempunyai pilihan.”

“Mereka aktor terkenal eonni. Eonni tidak tahu?.”

“Aktor terkenal atau apapun itu pokok-.” Sebelum Seulgi menyelesaikan ucapannya, Taeyeon dengan sangat cepat memotong.

“Tunggu dulu, tadi eonni bilang ‘sudah mempunyai pilihan’ ? Maksud eonni? Jangan bilang kalau eonni benar-benar ingin menjodohkanku?.” Tanya Taeyeon tidak percaya, matanya membulat sempurna.

Seulgi menaikkan alisnya jahil. “Tidak tahu.”

“Eonni!!!~.”

Tawa keras terdengar di kamar Seulgi. Perempuan itu tertawa keras melihat wajah Taeyeon yang cemberut lucu itu. ‘Eomma, appa, jebal, hentikan rencana kalian. Aku sungguh sangat menyayangi Taeyeon. Bahkan aku menyayangi Taeyeon melebihi rasa sayangku pada kalian, bahkan pada diriku sendiri.’

To Be Continued




Hai hai~ Chapter 3 is updated ^^

Update-nya di tanggal dan bulan yang paling aku suka, 29 April =))

Aku harap kalian masih suka sama FF ancur ini huhu

Konfliknya udah mau muncul nih, so stay for chapter 4 yah ^^

Leave a coment, please. Don’t Be Silent Reader ^_^

#AlwaysWithTaeyeon

#TYSone

#StayStrongTaeyeon

#CatchGG

Advertisements

165 comments on “Love, That One Word (Chapter 3)

  1. makin sweet aja ni couple favorit, aku suka setiap kata yang author tulisin, bahasanya bagus gak ngebingungin, good job author-nim^^

  2. kenapa seulgi jd aneh yah…??? … dan ky nya baekhyun punya perasaan aneh nih…!!!??.. wah jd makin seru

  3. Duuuh ko deg-degan yaa antara takut seulgi kenapa-kenapa sama takut kalau taeyeon dijodohin sama baekhyun trus baekhyun jahat ke taeyeon huaaaaa

  4. Hidup taeyeon emang gonjang ganjing..
    Tapi banyak orang yg menyayanginya..
    Chu chuup baby tae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s