The Couple : Overdose (Chapter 3)

the couple,overdose

Author : RYN

Length : Multichapter

Rate : T

Cast :

Taeyeon SNSD

Baekhyun EXO

Genre : Fluff, Romance, Schoollife

Disclaimer : Ini adalah fanfic selingan yang kubuat karena terinspirasi dari couple favoritku BAEKYEON. Cast bukan milikku melainkan hanya bagian dari imajinasiku. Seluruh plot murni hasil pemikiranku. Jangan mencoba mencopy paste atau menshare tanpa seizinku.

 

Chapter 3

– – –

Senyuman bahagia Baekhyun tak pernah terhapus dari wajahnya. Sesekali ia melirik kesamping kanannya dengan penuh rasa kagum sekaligus kebanggaan. Apalagi yang ia inginkan? Gadis yang ia sukai berjalan bersamanya merupakan saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya, setidaknya seharian, walaupun sebenarnya ia menginginkan momen itu seterusnya, dan ia sangat bersyukur diberi kesempatan menggenggam tangan gadis itu dengan bebas tanpa merasa khawatir ditolak lagi.

Taeyeon sungguh gadis yang cantik, Baekhyun tak dapat melukiskannya dengan kata-kata. Saat menunggu gadis itu keluar dari kamar ganti tadi, ia merasa sangat gugup. Menanti dengan tidak sabar melihat Taeyeon memakai baju yang sama dengannya. Walaupun berulang kali Baekhyun mencoba tetap tenang di tempatnya berdiri, tak kunjung berhasil sampai pertama kali melihat penampilannya. Matanya mengerjap karena terpesona sementara debaran dalam dadanya sulit terkendali. Alhasil ia hanya berdiri diam seperti orang bodoh sampai gadis itu melambaikan tangan di depan wajahnya. Andai mereka benar-benar pasangan, Baekhyun pasti langsung menyambut gadis itu ke dalam pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman saking gemas. Ia hanya tidak bisa menghendalikan pikirannya bila menyangkut tentang gadis itu.

Entah bagaimana awalnya, Baekhyun sudah memandangi bibirnya. Ia sudah mencoba menepis pandangannya tetapi matanya selalu kembali mengarah kesana.

Sial! Sial! Sial! Baekhyun merutuki dirinya sendiri. Jika ia tidak segera menghentikan kegilaannya sekarang, kalau sampai ketahuan, gadis itu pasti akan mengira dirinya adalah seorang maniak.

Akan tetapi penderitaan rupanya masih belum berhenti mengikutinya. Baekhyun mengerjap gugup saat matanya mengikuti nalurinya. Mungkin ini adalah cara yang tidak pantas memperhatikan seseorang, tapi Baekhyun hanya tak bisa berhenti. Leher Taeyeon yang putih seperti porselin dan pastinya sehalus sutra, tiba-tiba menyita seluruh perhatiannya. Tanpa sadar ia menelan salivanya dan membasahi bibirnya. Beberapa kali ia berusaha berpaling, melihat orang yang lalu lalang atau anak-anak kecil yang tengah bercanda bersama orang tua mereka sekedar mengalihkan perhatiannya, namun selalu berakhir dengan memandangi obyek utama itu lagi dan lagi. Dan ketika angin berhembus, helaian rambutnya yang tak terikat, melayang dengan gerakan lambat dan akhirnya memperlihatkan seluruh area itu.

Baekhyun tak sadar menahan nafas. Genggaman tangannya menguat sehingga membuat Taeyeon menoleh. Gadis itu heran melihat tingkah laku anehnya.

“Baekhyun, kau kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Baekhyun tersenyum tapi kelihatan canggung.

Dasar aneh.

Taeyeon sebenarnya tidak ingin mempedulikannya tetapi genggaman di tangannya terasa semakin erat dan muka Baekhyun terlihat memerah. Telinganya juga. Ketika Baekhyun mengetahui dirinya diperhatikan, laki-laki itu nampak gugup dan bersikap tidak seperti biasanya.

“Kau kelihatan frustasi.” Taeyeon akhirnya berhenti. Ia meliriknya curiga. Seorang Baekhyun yang ia kenal, tidak akan memberinya jawaban sesimpel itu. Tidak dengan mimik aneh, seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu. Mungkin karena Baekhyun orang yang selalu terbuka sehingga kelihatan sekali bila jawabannya sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ada dipikirannya. Itu sangat terlihat. “Ada apa?”

Baekhyun memandangnya sejenak, tak lama kemudian mendesah pelan. “Ini salahmu noona.” Ujarnya. Ia sudah siap menanggung akibat dari perkataannya nanti. Taeyeon mengerutkan kening tak mengerti. “Harusnya kau tidak memperlihatkan lehermu itu. Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi.” Gumamnya di akhir kalimatnya.

Sayangnya, Taeyeon mendengarnya. Dan gadis itu sama sekali tidak senang.

Taeyeon melongo shock. Mukanya merah padam seperti kepiting rebus. “K-kau pasti bercanda ‘kan?”

“Kapan aku pernah bercanda, noona?”

Taeyeon sudah tahu Baekhyun adalah orang yang sangat suka berterus terang tapi laki-laki itu tidak bisa mengatakannya begitu saja di depannya! Khususnya jika itu menyangkut salah satu bagian tubuhnya!

“Yah!” Baekhyun tersentak. Taeyeon memelototinya. “Simpan komentarmu itu untuk dirimu sendiri! Kau tidak perlu mengatakannya langsung padaku bodoh!” Serunya meledak-ledak, mengabaikan sekitarnya.

“Noona, kau yang memaksaku.”

Taeyeon mengerang. Mengapa di saat seperti ini, Baekhyun harus memperlihatkan tampang tak berdosanya? Khususnya raut cemberut yang membuatnya tampak sebagai korban sementara dirinya adalah orang yang patut disalahkan dalam hal ini.

Anak ini benar-benar tahu mencari alasan!

“Aku tidak pernah memaksamu mengatakannya!”

“Memang tidak, tapi wajahmu yang mengatakannya. Kau kelihatan sangat ingin tahu.”

Taeyeon kehabisan kata. Ia tak percaya anak itu masih saja memperlihatkan dirinya tidak bersalah. Kejengkelannya terhadapnya semakin bertambah.

“Yah, lepaskan.” Taeyeon melirik tangannya. Ia tersadar bahwa sejak tadi Baekhyun masih menggenggam erat tangannya. Bagaimana mungkin? Jadi selama ia berdebat dengan laki-laki itu, tangannya terus dipegang olehnya?! “Aku bilang lepaskan!” Taeyeon menghentak-hentakkan tangannya dengan kasar tapi genggaman itu tidak bergerak bahkan tidak mengendur sekalipun.

Baekhyun hanya menggeleng melihat usahanya, kemudian berucap tenang. “Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah.”

“Memangnya siapa yang mau menghindar?!” Seru Taeyeon kesal. Baekhyun sungguh melatih kesabarannya.

“Kalau kulepaskan, kau akan pergi dan tidak berbicara denganku selama beberapa saat. Aku tidak mau seperti itu.” Baekhyun lalu mengangkat sebelah tangannya, dalam hitungan detik pengikat rambut terlepas dari rambut Taeyeon.

“Baekhyun!”

“Maaf noona, aku tidak suka melihatnya. Jangan mengikat rambutmu seperti ini lagi.”

“Aku tidak menanyakan pendapatmu.” Taeyeon ingin meneriakinya tetapi ia tahu itu percuma. Ia hanya bisa melihat Baekhyun dengan geram.

“Semua laki-laki nanti akan melihatmu. Aku tidak suka.” Sorot mata Baekhyun berubah serius.

Taeyeon membungkam seketika. Dalam hati bertanya-tanya mengapa Baekhyun sampai bersikap seposesif ini padanya. Ia bukannya membencinya, tidak pula menyukainya, hanya saja perhatiannya yang terlalu berlebihan membuatnya sedikit merasa tidak nyaman. Jika yang semua yang Joyun katakan benar…

*Baekhyun…tidak benar-benar menyukaiku ‘kan?* Jantungnya berdebar-debar. Ia buru-buru memalingkan muka, tidak ingin wajahnya yang merona ketahuan.

“Kau bukan pacarku.” Bisiknya pelan. Taeyeon sudah seringkali mengatakannya tetapi Baekhyun selalu acuh atau pura-pura tidak mendengarnya. Terkadang ia merasa Baekhyun selalu berbuat curang padanya. Setiap kali laki-laki itu menatapnya dengan jenis tatapannya yang sekarang, tenang dan hangat, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerah padanya. Taeyeon sebenarnya tidak suka karena terkesan ia yang selalu tunduk padanya, padahal kalau dipikir-pikir usianya lebih tua darinya tetapi Baekhyun sering memperlakukannya sebaliknya.

“Belum saja, noona.” Baekhyun lantas terkekeh pelan.

Ia mendengarnya!

“Kau—” Taeyeon berhenti. Baekhyun tidak memperhatikannya lagi. Laki-laki itu sibuk melihat kesana kemari. Apa anak ini mempermainkannya lagi? “Sebenarnya kau mendengarkanku atau tidak?”

“Sst noona, semua melihat ke arah kita. Lihatlah.”

Taeyeon mendengus kasar, senyuman lebar di wajah Baekhyun tampak seperti sedang menggodanya. Gadis itu lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan ternyata benar, hampir seluruh orang yang lewat memperhatikan mereka berdua.

“Tsk, sejak kapan kau peduli? Bukannya kau selalu bersikap masa bodoh terhadap apa yang dikatakan orang?” Ejek Taeyeon seraya melipat tangan.

Baekhyun malah tersenyum sumringah.

“Bukan untukku, noona. Aku melakukannya untukmu. Bukankah kau tidak suka mengalami kejadian memalukan di depan umum?” Ujarnya sambil diselingi gurauan tawa. Ia lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan, “Oleh karena itu, aku mengatakannya agar kau berhenti dan mengajakku pergi dari tempat ini.” Wajahnya yang cerah ceria mengetuk debaran dalam dada Taeyeon sekali lagi.

Tanpa basa basi, Taeyeon segera menyeret Baekhyun menjauh.

– – –

“Kau mau makan apa, noona? Aku akan membelikannya untukmu.”

Taeyeon hanya menanggapi dingin saat Baekhyun berbicara padanya. Betapa kesalnya ia melihat laki-laki itu terus tersenyum lebar seakan wajahnya akan robek. Kenyataannya ia tidak sepenuhnya membenci sifat periangnya tetapi, ia memberikan pengecualian jika sifatnya itu digunakan saat suasana hatinya lagi tidak senang. Taeyeon kesal setengah mati. Yang tadi itu masih belum cukup memuaskan. Baekhyun mempermainkannya, begitulah menurutnya.

“Bagaimana kalau kita bermain, noona?” Baekhyun menawarkan lagi.

“Tidak tertarik.” Jawab Taeyeon ketus.

Baekhyun menghela nafas panjang, seketika mukanya berubah suram. Ia tahu Taeyeon masih marah padanya karena masalah tadi, terbukti dengan kediamannya setiap kali ia berceloteh. Laki-laki itu berpikir, mungkin dengan tersenyum padanya dan mencoba mengajaknya berbicara, gadis itu sedikit demi sedikit bisa membuka hati. Ternyata dugaannya salah. Sejak beberapa menit yang lalu ia telah melakukan segalanya agar Taeyeon mau melihatnya atau tersenyum padanya, tetapi tidak satupun caranya yang berhasil. Kalau begini terus, kesempatannya untuk bersama gadis itu lebih lama menjadi gagal total. Ia takut karena dirinya, Taeyeon meminta pulang lebih awal. Apa yang harus ia lakukan?

Baekhyun tidak ingin putus asa. Ini adalah kesempatan awal baginya, mungkin juga terakhirnya. Ia harus mencari cara agar Taeyeon tetap di sisinya. Mungkin terdengar egois, tapi ia tidak memikirkan hal lain. Demi terus bersama gadis itu, ia berusaha keras menemukan caranya.

Sorakan riuh samar-samar terdengar dari salah satu kerumunan di depan sana. Baekhyun dan Taeyeon memperhatikan dengan rasa penasaran. Tanpa aba-aba, Baekhyun langsung menarik Taeyeon agar mendekat. Gadis itu agak kaget tetapi mengikuti tanpa bicara. Sebenarnya ia juga penasaran apa yang terjadi sehingga orang-orang berbondong-bondong mengerumuni area itu.

Taeyeon baru sadar ketika sampai dan menyesalinya detik itu juga, andai ia tahu, mungkin sejak awal ia tak akan mau ikut berdiri bersama yang lainnya. Salah satu stand game yang ternyata banyak menarik minat pengunjung karena dikhususkan bagi pasangan kekasih saja. Disamping stand berdiri sebuah papan dari kertas yang bertuliskan ‘couple only’, pantas saja ia tak melihatnya tadi karena terhalang oleh beberapa pengunjung. Gadis itu melihat ke samping kanan kirinya, mukanya sontak merona merah, rata-rata yang berkumpul adalah para gadis dengan kekasih mereka. Hampir seumuran dengannya dan Baekhyun.

B-Bagaimana ini? Apa yang Baekhyun pikirkan? Apa yang mereka lakukan disini? Taeyeon mendadak panik.

Lamunannya terusik saat mendengar tawa Baekhyun. “Lihat itu noona.”

Bahu Taeyeon mengendur. Ternyata reaksi Baekhyun tidak sama sepertinya. Laki-laki itu kelihatan tenang-tenang saja, malah terkesan sangat menikmatinya bila dilihat dari ekspresinya.

*ada apa denganku? Aku ‘kan sedang marah padanya* Taeyeon langsung merubah ekspresinya, memastikan mukanya tetap datar saat nanti Baekhyun melihatnya. Meski begitu, walaupun sudah menyangkalnya dalam pikirannya, tetap saja ada sebagian dari dirinya yang agak kecewa. Atau mungkin sebenarnya ia sendiri pun malah tak yakin reaksi apa yang ia harapkan dari seorang Baekhyun. Diam-diam ia menghela nafas dalam, hari ini entah mengapa ia merasa seperti bukan dirinya. Gadis itu akhirnya mengembalikan perhatiannya ke depan.

Sepasang kekasih tengah bersiap menerima tantangan permainan. Lebih tepatnya pacar sang gadis sementara si gadis sendiri berdiri di sampingnya. Tidak ada yang bisa dilakukan disana selain memberikan semangat dan menunggu hadiah jika saja si pacar berhasil. Rombongan yang bersorak paling depan sepertinya adalah teman-teman mereka berdua. Sebelum memulai, ada sebuah aturan yang sontak mendapat sambutan meriah dari pengunjung yang lain. Taeyeon tidak bisa fokus mendengarnya karena pengunjung yang berada di belakang mereka tiba-tiba mendorong ke depan sehingga sekitarnya berdesakan.

Ugh! Taeyeon meringis. Baru beberapa menit mereka berada disana, tempat itu sudah sangat ramai. Ia agak kesulitan menyeimbangkan tubuhnya dan karenanya ia hampir tersandung ke depan jika Baekhyun tidak segera memegangnya. Gadis itu sempat mendengar laki-laki itu mengumpat kesal, kelihatan dari mukanya tidak menyukai situasi mereka sekarang.

Sial! Baekhyun melotot tajam ke samping kanannya. Beberapa pasangan kekasih disitu menggeleng sambil menggumamkan kata ‘bukan kami’ yang menandakan mereka tidak bermaksud mendorong. Baekhyun kesal setengah mati. Akhirnya, ia bergerak mundur ke belakang Taeyeon. Hanya itu satu-satunya jalan agar gadis itu tetap nyaman.

Taeyeon menoleh tetapi tidak menemukan Baekhyun, lalu ia merasakan tangan seseorang bersandar pada pinggangnya. Karena kaget, Taeyeon lantas berbalik ingin meneriakinya dan mungkin memukulnya, begitu melihat siapa pemiliknya, ia semakin terkejut. Mengapa Baekhyun berdiri di belakangnya? Taeyeon mengernyitkan kening, merasa sikapnya aneh dan berlebihan. Ia berniat memperingatkannya, tetapi tidak sempat lagi karena tiba-tiba beberapa orang menerobos di sampingnya membuat tubuhnya terayun kesana kemari.

Baekhyun kehabisan akal. Ia sudah mencoba menjadi perisai dengan berdiri di belakang Taeyeon agar bisa menahan serangan dari belakang namun ternyata sia-sia. Keluar dari kerumunan juga bukan pilihan yang tepat. Taeyeon kesal sekali, karena desakan demi desakan itu membuat kakinya terinjak. Gadis itu tidak tahu harus berpegang pada siapa sampai ketika Baekhyun tiba-tiba mendadak memeluknya dari belakang. Jantungnya seketika berdebar dengan kencangnya.

Bukan sebuah pelukan yang romantis memang, Baekhyun hanya melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhnya. Taeyeon bungkam dengan tubuh membeku, kedua tangannya terjatuh ke samping dengan pasrah. Seperti patung kaku yang tinggal menunggu perintah tuannya untuk memainkannya.

Tidak mungkin ‘kan dalam situasi seperti ini laki-laki itu mengambil kesempatan? Taeyeon baru mengerti setelah melihat kenyataan bahwa Baekhyun berjuang menggunakan tubuhnya agar ia tetap berada dalam posisi yang tak terganggu, walaupun mungkin cara itu tidak sepenuhnya berhasil, setidaknya tubuhnya tidak lagi terayun-ayun seperti tadi.

“Tenang saja noona, aku akan menjagamu.” Baekhyun berbisik lembut di telinganya diselingi ‘humm’ menenangkan yang membuat Taeyeon merinding.

Nyaris menahan nafas, Taeyeon mendadak merasa gugup. Suara jantungnya bertalu, entah bagaimana caranya, terdengar begitu jelas di antara gumaman dalam suara. Wajah dan telinganya serasa panas merasakan bagaimana kekuatan otot yang dibangun pada bahu, dada serta kedua lengan Baekhyun saat memeluknya sekarang. Kehangatan Baekhyun terasa menyenangkan. Ketika memeluk pinggang laki-laki itu sewaktu di atas motor tadi, ia juga merasakan bahwa punggungnya sangat lebar, sangat hangat.

Taeyeon gelisah. Ia tidak biasanya seperti ini. Perasaannya campur aduk. Dalam hati ia berdoa agar Baekhyun tidak menyadari tingkah memalukannya.

“Maaf noona, aku harus melakukannya. Maafkan aku jika ini membuatmu tidak nyaman.” Baekhyun berbisik lirih. Jujur saja, ia agak kecewa dengan sikap dingin Taeyeon. Gadis itu bahkan tak berbicara padanya sampai saat ini. Apakah ia memang sudah keterlaluan? Ataukah ia sudah menyinggung perasaan gadis itu? Baekhyun merasa cemas. Ia tidak ingin Taeyeon semakin membencinya karena berani memeluknya tanpa izin. Namun sejujurnya, yang tidak boleh gadis itu ketahui, ia ingin melakukan ini sejak lama.

“Aku…”

“Tidak apa-apa.” Taeyeon memotong. Wajahnya tertunduk. “Aku mengerti. Kau hanya ingin melindungiku.” Ujarnya pelan.

Taeyeon lalu mendengarnya menghela nafas pelan, kemudian mendengarnya berbicara.

“Kau tidak mengerti sama sekali, noona.”

Taeyeon menolehkan kepalanya karena merasa aneh dan mendapati Baekhyun juga menatapnya, tetapi dengan ekspresi yang belum pernah dilihatnya. Baekhyun sudah memikirkan hal ini sejak lama. Ketika mata mereka bertemu untuk yang pertama kalinya, laki-laki itu sudah yakin bahwa ia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Ketika tidak melihatnya sedetik saja, pikirannya menggila. Ketika mereka bersama, ia sulit mengendalikan perasaannya. Dan ketika mereka sudah sedekat ini, bagaimana bisa ia mengendalikan tubuhnya?

Taeyeon buru-buru berpaling. Jantungnya di dalam sana berdebar sangat keras. Mungkin Baekhyun sudah mendengar suaranya, atau merasakan tubuhnya bergetar.

*Apa itu tadi? Apa d-dia ingin menciumku?* Mata Taeyeon membundar lebar. Sepintas ia melirik sisi kanan kirinya, untungnya tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. *Ottokhae? Ottokhae? Ottokhae?* Saking paniknya sehingga tanpa sadar menjauhkan diri dari Baekhyun.

“A-aku baik-baik saja sekarang.” Sayangnya, Taeyeon melakukannya dengan agak kasar. Ketika gadis itu menyadarinya, sudah terlambat menyesalinya.

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan luka di matanya. Saat melihat Taeyeon gelagapan dan berbalik membelakanginya, Laki-laki itu hanya tersenyum tipis menghibur diri. Ia menyalahkan dirinya sendiri, mungkin memang ia yang terlalu terburu-buru sehingga menempatkan gadis itu dalam posisi yang tidak nyaman.

Taeyeon berusaha menenangkan diri dengan mengalihkan perhatiannya ke depan. Ia tidak bisa membiarkan dirinya larut terlalu lama walaupun sebenarnya dalam hati ia merasa bersalah karena bersikap seperti seorang pengecut. Ia hanya tidak bisa melihat mukanya sekarang, karena dengan melakukannya ia akan semakin merasa bersalah. Baekhyun mungkin sudah menilainya sebagai gadis jahat. Di sisi lain, Taeyeon tak bisa menyingkirkan bayangan Baekhyun dari kepalanya sejak tindakannya tadi. Mengapa kelihatannya laki-laki itu ingin menciumnya? Dan mengapa, sesaat tadi ia juga mendambakan hal itu terjadi? Taeyeon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, berharap bisa menepisnya.

Tidak. Ia tidak boleh terpengaruh seperti ini. Taeyeon membatin mantap.

Mereka berdua kembali menyaksikan permainan. Tidak benar-benar memperhatikan, hanya sekedar menganggapnya sebagai pengalih agar situasi di antara mereka tidak terlalu canggung. Dari ujung matanya, Taeyeon melihat Baekhyun sudah kembali berdiri di sampingnya. Agaknya, Taeyeon beruntung karena sekitarnya tidak sepadat tadi jadi ia tidak perlu lagi bergantung pada Baekhyun.

Permainan yang dimainkan itu memang kelihatannya mudah tetapi sebenarnya sangat sulit. Taeyeon bisa melihat mengapa dari sekian banyak yang sudah mencoba, satupun dari mereka tidak bisa berhasil dengan total. Pada jarak yang telah ditentukan, si pemain harus memasukkan lima bola ukuran berbeda ke dalam keranjang berukuran berbeda pula yang masing-masingnya bergerak memutar. Kecepatannya sudah di atur sedemikian rupa sehingga setiap kali salah satu bola berhasil masuk, gerakan setiap keranjang itu akan bertambah. Jika berhasil memasukkan kelimanya dalam sekali permainan, mereka bisa mendapatkan hadiah utama yaitu paket kencan termasuk makan malam dan menginap gratis di sebuah hotel selama satu hari. Yang istimewa, paketnya memiliki batas waktu setahun. Siapa yang tidak tertarik? Itulah mengapa banyak pasangan yang berusaha keras mendapatkannya karena kesempatan yang diberikan hanya satu kali.

Taeyeon kiranya mengerti mengapa di awal tadi Baekhyun sudah tertawa ketika dirinya sibuk berkutat dengan pikirannya, meskipun awalnya ia tak paham mengapa laki-laki itu harus menertawai mereka di depan sana. Kurang lebih sudah tiga pasangan yang mencoba dan semuanya berakhir dengan kegagalan total. Pasangan yang mereka lihat sekarang pun tidak jauh berbeda. Yang cukup menggelikan, pemain itu kelihatan sangat tegang apalagi dengan ekspresinya yang terlampau serius. Dari awal ia sudah menunjukkan nafsu ingin menghancurkan keranjang yang sekarang sudah ketiga kalinya membuatnya gagal. Teriakan dari pacarnya yang memberikan semangat ditanggapi dengan bentakan sehingga membuat gadis itu terdiam karena takut. Taeyeon tidak habis pikir, mengapa gadis itu mau menjalin hubungan dengan laki-laki kasar sepertinya. Kalau itu dirinya, ia pasti akan meninggalkan laki-laki itu sekarang.

Amarah laki-laki itu berubah menjadi tak terkendali ketika pada lemparan terakhir ia gagal lagi. Laki-laki itu langsung mengobrak abrik seluruh bola yang tersusun rapi di atas meja sehingga berjatuhan ke bawah sambil mengumpat kasar. Suasana tidak bersahabat itu membuatnya harus diseret paksa keluar area. Beberapa menit setelahnya, permainan kembali dibuka bagi mereka yang ingin mencoba keberuntungan.

“Ada yang ingin mencoba lagi?”

“Aku akan mencobanya.”

Taeyeon sontak menoleh dan terkejut melihat Baekhyun serius mengangkat tangan.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan?” Taeyeon berteriak dalam bisikan. Suaranya bagai mendesis, menyatakan ketidaksetujuannya pada keputusan laki-laki itu.

Orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua. Baekhyun memandangnya. “Aku ingin mencoba, noona.”

“Untuk apa?” Sekali lagi Taeyeon berteriak sambil mencengkeram ujung baju Baekhyun saat laki-laki itu mulai melangkah. “Kau tahu sendiri permainan ini hanya untuk pasangan.” Celanya frustasi.

“Bukankah kita sekarang sedang berkencan, noona? Jadi kita masuk dalam kategori pasangan.” Baekhyun berbicara tanpa membiarkannya memotong. “Aku hanya mengincar hadiah utamanya.” Bisiknya sambil lalu.

Taeyeon terpaku di tempat. Ha-hadiah utama katanya? Semburat merah sontak menghiasi kedua pipinya. Matanya semakin membelalak ketika melihat Baekhyun sudah berada di depan stand itu. Ia langsung mengejarnya dan menarik bajunya.

“Yah, kau tidak pernah bilang padaku kalau kita akan mencoba permainan ini.” Taeyeon berusaha menghentikannya. “Baekhyun, kau tidak bersungguh-sungguh ‘kan? Ayo kita pergi saja dari sini. Aku ingin makan sesuatu, bukannya kau ingin membelikannya untukku, hm?” Ia merajuk sambil menarik-nariknya seperti anak kecil.

Melihat Taeyeon yang cemberut dan bertingkah menggemaskan seperti itu, Baekhyun jadi gugup. Ia menatap Taeyeon tak berkedip. Dalam hati mulai bimbang.

“Jah, bolanya sudah siap.” Pemilik permainan itu tersenyum lebar pada mereka berdua.

Baekhyun berdehem dan berpaling padanya. “Bi-bisakah, aku membatalkannya?” Ia tersenyum kaku.

“Lho, kenapa? Kau tidak ingin memberikan hadiah utama untuk gadis yang kau sukai? Ayolah, siapa tahu kau yang beruntung kali ini.”

Mendengar kalimatnya, semangat Baekhyun kembali. “Tentu saja. Aku akan melakukannya.” Ia lalu menoleh pada Taeyeon yang menatapnya kaget sekaligus heran. “Aku ingin memberikan hadiah utama ini untuk gadis yang kusukai. Tolong mengertilah, noona.” Ucapnya dengan pandangan teduh.

Baekhyun? Taeyeon terhenyak. Sebagian dirinya menguar. Hampa. Baekhyun ternyata menyukai seseorang dan seseorang itu bukan dirinya. Entah mengapa, rasanya ia ingin menangis. Tatapan Baekhyun serta perhatiannya terhadap gadis yang disukainya membuatnya cemburu. Gadis itu pasti beruntung memiliki Baekhyun. Taeyeon menundukkan wajahnya. Semangatnya seketika turun.

“Oh.” Suaranya pelan, kemudian mengangguk.

Baekhyun tidak tahu apa yang dipikirkan Taeyeon terhadapnya dan mengapa tiba-tiba sikap gadis itu berubah. Kali ini, ia salah apa lagi?

“Noona, kau tidak marah padaku ‘kan?” Tanyanya hati-hati. Ia sudah mencamkan dalam hati, jika gadis itu sungguh marah padanya, ia akan melupakan permainan itu selamanya.

Taeyeon sontak melihatnya dan menggeleng keras. Baekhyun cukup kaget begitu menyadari mata gadis itu agak memerah.

“Mengapa aku harus marah padamu? Kau tidak salah. Kau hanya menginginkan hadiah utama itu untuk gadis yang kau sukai. Aku tidak berhak marah atas itu.” Semakin Taeyeon memikirkannya, semakin ia tidak bisa mengendalikan kata-katanya. Padahal ia sudah berapa kali menyangkal tentang perasaannya, tetapi mengapa ia masih merasa terluka?

Baekhyun mengerjapkan mata karena terkejut. *Noona, kau…jangan-jangan…*

“Gadis itu pasti merasa sangat beruntung karena pacarnya memberikannya hadiah istimewa. Kau boleh melakukannya. Aku tidak akan menghalangimu, Baekhyun. Aku…aku…” Taeyeon kehabisan kata-kata. Wajahnya menghangat.

“Kau…” Wajah Baekhyun berseri-seri oleh senyum lebar.

“aku tidak cemburu!” Kalimat itu terlontar dengan sendirinya. Taeyeon juga terkejut, betapa cepatnya ia mengaku, lagipula belum tentu Baekhyun ingin mengatakan seperti yang ada dalam pikirannya. Taeyeon tidak berani memandang wajah Baekhyun lagi. Tetapi, mendengar kekehan Baekhyun, ia langsung mengangkat kepala dan melotot pada laki-laki itu hanya untuk menunduk kembali karena malu. “Jangan tertawa. Dasar menyebalkan.”

Baekhyun senyum-senyum sendiri. Taeyeon tidak tahu saja kalau sebenarnya dalam hati ia bersorak girang mengetahui gadis yang ia sukai mulai cemburu karena dirinya.

“Apa..kalian sudah siap?” Ternyata sejak tadi pemilik permainan itu memperhatikan tingkah mereka berdua.

Taeyeon tersipu malu sementara Baekhyun mengangguk tenang. Senyum tidak terhapus dari bibirnya.

“Kalian sudah tahu peraturannya ‘kan?” Tanya Pria itu memastikan.

Taeyeon terheran-heran. Ia menoleh pada Baekhyun yang mendadak tidak berani membalas tatapannya. Ada apa ini? Laki-laki itu terlihat gugup, atau yang boleh ia katakan, panik?

“Peraturan?” Taeyeon lantas bertanya. “Peraturan apa?”

“Oh itu.” Sementara pria itu menjelaskan, Baekhyun masih membungkam tanpa menoleh sedikitpun padanya. “Sebelum memulai permainan ini, kau harus memberikan sebuah ciuman padanya.”

Mulut Taeyeon langsung menganga. Ci-cium???!

“Sebuah ciuman wajib dilakukan sebagai bukti bahwa peserta yang ingin mendapatkan hadiahnya adalah benar-benar sepasang kekasih.” Tambah pria itu.

Itu tidak masuk akal! Taeyeon melirik tajam Baekhyun. Laki-laki itu mengusap tengkuknya sambil tersenyum meminta maaf.

– – –

“Noona, tunggu aku!” Baekhyun mengejar Taeyeon yang berjalan cepat di depan. “Noona, aku sungguh minta maaf.” Serunya.

*Enak saja. Kau pikir akan selesai hanya dengan meminta maaf?! Dasar Baekhyun bodoh! Idiot!* Taeyeon menggerutu seraya mengepalkan tangan karena geram. Panggilan Baekhyun tidak ia hiraukan. Gadis itu tetap tidak berhenti ataupun menoleh ke belakang. Untuk saat ini, ia tidak ingin melihat wajah laki-laki itu. Bila mengingat tentang ciuman tadi, pipinya langsung bersemu merah. Mungkin yang tadi itu tidak bisa dikatakan ciuman tapi kecupan. Tetapi ia yang tidak siap menerimanya, tak bisa melupakannya. Mulai sekarang, kenangan itu juga terpatri dalam ingatan banyak orang.

Jika mengingat insiden itu, amarah Taeyeon langsung melonjak. Bagaimana tidak, pria yang berjaga di stand itu tadinya menyuruhnya mencium Baekhyun. Kalau itu dirinya, tidak mungkin ia mau melakukannya demi gadis yang disukai Baekhyun. Tsk, Taeyeon langsung menolak mentah-mentah. Awalnya sudah sempurna, Taeyeon sudah berpikir Baekhyun akan menyerah, tetapi tindakan laki-laki itu selanjutnya tak terbaca olehnya. Ia terkejut bukan main. Baekhyun secepat kilat menempelkan bibirnya di atas bibirnya. Hanya itu saja. Waktunya pun terbilang sangat singkat, selang beberapa detik saja sebelum laki-laki itu melepasnya.

“Mian, noona.” Bisik Baekhyun padanya kala itu.

Taeyeon hanya berdiri kaku. Ingatan itu terus melayang-layang dalam kepalanya hingga sekarang. Untung saja Baekhyun memenangkan hadiah utamanya, kalau tidak, ia pasti akan merasa sangat menyesal.

Tunggu. Taeyeon berhenti. Matanya membulat lebar. Sejak kapan ia berubah mendukung Baekhyun? Dan merasa lega dengan itu? *Tidak. Tidak. Tidak* Ia menggeleng keras. Apapun yang telah terjadi, ia harus segera menyingkirkan adegan tadi dalam kepalanya.

Ini karena anak itu! Dengus Taeyeon kasar.

“Kau terlalu cepat, noona. Aku hampir tidak bisa mengejarmu.” Baekhyun akhirnya tiba di belakangnya. Nafasnya terdengar tidak beraturan. “Aku sudah berulang kali meminta ma—Ow. Ow. Ow.” Laki-laki itu sontak meringis sambil menghindari pukulan tas Taeyeon yang bertubi-tubi. Ia tidak sangka saja Taeyeon sengaja menunggunya untuk memberinya pelajaran.

“Kau benar-benar menyebalkan! Siapa yang menyuruhmu melakukan itu, hah?! Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!”

“Aku ‘kan sudah minta maaf. Lagipula, tidak ada gunanya lagi sekarang kalau kau terus marah padaku. Aku sudah memenangkan hadiahnya. Kau seharusnya ikut senang, noona.” Baekhyun setengah merunduk melindungi tubuhnya dari serangan.

“Mwo?” Taeyeon menghentikan pukulannya. Kalimat Baekhyun membuatnya makin tersulut. “Kau bilang apa barusan? Senang?” Ia tertawa sinis. Matanya lalu berkilat jengkel. *Bagaimana bisa aku merasa senang kalau hadiah itu ternyata bukan untukku?!* “Yah! Berhentilah menggunakan banmal padaku. Aku ini lebih tua darimu!”

“Tingkahmu sekarang seperti kanak-kanak, Noona.” Baekhyun tidak terpengaruh. Ia malah sengaja menekan kata itu, sengaja menyindirnya.

Muka Taeyeon merah padam. Ia benar-benar tidak tahan. Hanya Baekhyun yang berdiri saja sudah membuat rasa kesalnya bergolak, apalagi melihat reaksinya yang selalu tenang bahkan terkesan acuh setiap kali ia memarahinya.

“Kau.” Taeyeon sekilas memejamkan mata, hidungnya kembang kempis memperlihatkan emosi yang sengaja di tahan. “Kau.sudah.merampas.ciumanku.” Disela-sela gertakkan giginya ia melayangkan pandangan tajam.

Baekhyun mengulas senyum sinis. “Itu bukan ciuman pertamamu ‘kan?”

“YAAH!!” Teriakan Taeyeon mengundang perhatian, tetapi gadis itu sudah tidak ingin peduli.

Baekhyun buru-buru menariknya pergi. Taeyeon berusaha melepaskan tangannya namun Baekhyun tetap memegangnya dengan kuat. Lambat laun, Taeyeon akhirnya menyerah dan tidak memberontak lagi. Mungkin sadar bahwa itu percuma, mungkin juga ciut kala melirik ekspresi serius laki-laki itu.

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan. Ia sepertinya juga perlu sedikit menjernihkan pikirannya. Yang tadi itu kelihatannya memang sudah diluar batas. Taeyeon merasa seperti bukan dirinya, kehilangan kendali hanya karena Baekhyun.

Gadis itu mendesah untuk yang kesekian kalinya. Langkah-langkah kecil mereka menjadi terasa berat tanpa adanya saling bicara. Baekhyun melirik Taeyeon, sepanjang jalan ia terus memikirkan bagaimana memulai pembicaraan dengannya. Keheningan ini menyesakkan. Baekhyun akhirnya tidak tahan lagi dan berhenti.

Taeyeon ikut berhenti seraya menunggu Baekhyun mengatakan sesuatu padanya. Sejak tadi ia juga memperhatikan, laki-laki itu seperti tidak tenang. Tidak seperti terakhir kali ia melihatnya, Baekhyun yang sekarang menatapnya, nampak sangat merasa bersalah.

“Aku,” Baekhyun memulai dengan meraih tangannya, matanya tak pernah teralih dari gadis itu. “Aku sungguh-sungguh meminta maaf, noona.” Ucapannya pelan, adapula kesan ragu-ragu. Baekhyun hanya khawatir jika tindakan yang diambilnya tidak tepat.

Di tatap seperti itu, Taeyeon salah tingkah dan akhirnya menundukkan pandangannya. Kemarahannya tadi hilang entah kemana. Mungkin sebenarnya ia sudah tidak marah lagi padanya.

“Noona, aku mengakui kesalahanku. Seharusnya aku tidak melakukannya, seharusnya aku tidak menyinggung perasaanmu.” Kediaman Taeyeon membuat Baekhyun salah mengartikannya. Mukanya berubah pucat, ketakutan karena diacuhkan membuatnya tidak tenang. “Tolong jangan marah padaku lagi, noona. Noona…” Ia mengiba, genggaman tangannya mengerat.

Masih tidak ada tanggapan, bahu Baekhyun perlahan merosot, kedua tangannya terjatuh ke samping dengan kepala tertunduk lemah.

“Kau sungguh tidak ingin memaafkanku, noona?” Tanyanya penuh harap. Saat ia mengangkat kepala, wajahnya yang muram berubah terkejut mendapati gadis di depannya sudah berlinang air mata. “Sial. Apa yang sudah kulakukan?” Rutuknya menyalahkan dirinya sendiri.

Taeyeon hanya menggeleng saat Baekhyun menghapus air matanya dengan kata-kata yang menenangkannya. Gadis itu sendiri juga merasa heran terhadap dirinya. Mengapa hanya karena masalah sekecil ini, tiba-tiba muncul perasaan haru yang luar biasa hingga membuatnya sampai menangis. Ini bukan pertama kalinya ia bertingkah seperti ini. Kali ini mungkin karena perhatian Baekhyun, mungkin juga karena kelembutan suaranya, atau mungkin juga karena perlakuannya yang membuatnya terlena akan makna istimewa.

Perlahan tapi pasti, Taeyeon akhirnya mengerti mengapa air matanya tak berhenti keluar. Hatinya sedikit terluka, karena meskipun Baekhyun terus memberikan perhatian itu, ia tidak dapat menerimanya. Laki-laki itu telah menyukai gadis lain. Segala bentuk perhatian itu hanya semata-mata karena Baekhyun menganggapnya sebagai seniornya. Yah, tidak lebih dari itu.

*Sebenarnya apa yang kupikirkan?*

Taeyeon menepis tangan Baekhyun lalu menyeka sendiri air matanya. Baekhyun cukup kaget dengan perubahan sikapnya, tetapi ia hanya tersenyum kecil menutupi kekecewaannya.

“kau tidak perlu berpura-pura baik. Aku tahu laki-laki sepertimu hanya ingin menarik simpati.”

Baekhyun mengernyitkan keningnya.

*Apa yang kau katakan, Taeyeon?* Taeyeon ingin sekali mengunci mulutnya tetapi kalimat-kalimat itu terus terucap mengikuti suasana hatinya.

“Kau bisa ‘kan menjauhiku? Aku tidak tertarik pada laki-laki sepertimu. Disamping itu, kau masih terlalu muda untukku. Aku membutuhkan laki-laki yang dewasa, tidak kekanakan sepertimu. Jadi berhentilah bersikap perhatian padaku.”

Astaga. Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Rasanya malu sekali. Apa yang sebenarnya baru saja ia katakan? Ia terlalu banyak bicara sehingga melenceng dari pembicaraan mereka. Sekarang, tidak mungkin ia mengharapkan Baekhyun tidak tersinggung setelah apa yang ia katakan.

Oke Taeyeon, sekarang kau sudah keterlaluan. Taeyeon meringis dalam hati.

“Jadi begitu.” Jawaban Baekhyun membuatnya menatap laki-laki itu.

Taeyeon heran, setelah apa yang ia katakan padanya, ekspresi Baekhyun tetap tenang.

“Kau…tidak marah padaku?” Seketika ia menyesali pertanyaannya.

“Kenapa harus marah padamu, noona?” Baekhyun lantas terkekeh pelan, “Noona, kau hanya ingin mengujiku ‘kan?”

Laki-laki itu menatapnya dengan kepolosan yang tidak meyakinkan. Ada sesuatu yang berbahaya dalam senyumannya yang tersamar. Taeyeon bergidik, ketika ia menyadarinya, matanya buru-buru menghindari tatapan menusuk Baekhyun. Laki-laki itu seolah sudah tahu isi hatinya.

Dan kalimat Baekhyun selanjutnya membuatnya lebih terkejut.

“Aku tidak bisa menjauhimu, noona. Sederhana saja, aku tidak ingin.” Tandasnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas.

“Sebenarnya apa masalahmu?!”

“Masalahku?” Alis Baekhyun terangkat, sontak sorot matanya serius. “Masalahku adalah kau, noona. Kau tidak jujur pada dirimu sendiri.”

Tersentak, Taeyeon menutupinya dengan menghindari matanya. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” Hatinya mulai gelisah.

“Teruslah seperti itu, maka kau akan terluka.” Baekhyun tersenyum. Entah mengapa, Taeyeon merasa itu adalah senyuman menantangnya.

“Kau mengancamku?”

“Mana mungkin. Bukankah kau lebih tua dariku? Mungkin kau lebih tahu apa yang kubicarakan.”

Taeyeon memberenggut kesal. Ia tidak tahu apakah Baekhyun sengaja mengejeknya ataukah bersungguh-sungguh pada maksudnya. Taeyeon sadar tidak akan menang bila berdebat dengan Baekhyun. Laki-laki itu punya caranya sendiri untuk memutarbalik dan melawannya.

Tenang Taeyeon. Kau harus tenang. Menghadapi orang menyebalkan yang sok polos ini, kau harus mengendalikan dirimu.

Bersama Baekhyun terkadang menyenangkan, terkadang pula bisa menjengkelkan. Itu yang Taeyeon pelajari selama mengenalnya. Pada dasarnya Baekhyun memiliki kepribadian yang ceria, kadang-kadang hangat dan baik hati, tetapi sering juga manja dan egois. Sifat yang paling dominan muncul adalah sifat keras kepalanya, ditambah dengan sifatnya yang terbuka dan berterus terang, Taeyeon tidak begitu suka. Seringkali ia dibuat dongkol olehnya jika mulutnya mulai lancang, namun jika sifat perhatiannya muncul, hatinya seketika akan luluh dan berakhir dengan memaafkannya.

“Kita istirahat disana saja noona.” Baekhyun menunjuk salah satu tempat yang tidak jauh di dekat danau. Tempat yang rindang di bawah pohon besar. Beberapa pengunjung lain terlihat sedang beristirahat di area itu.

Taeyeon yang cemberut karena kelelahan, sontak berubah cerah dan ia langsung mengangguk cepat. Baekhyun sejak tadi sudah menyadarinya, itulah sebabnya matanya langsung sibuk mencari tempat begitu mendengar Taeyeon diam-diam menggerutu.

Mereka terpaksa duduk di atas rumput tanpa pengalas. Baekhyun menawarkan akan mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengalasi tempat duduk mereka tetapi Taeyeon melarangnya.

“Eh, Hei apa yang kau lakukan?!” Taeyeon terkejut Baekhyun memegang kakinya. “kau tidak perlu melakukannya.” Ia mencoba menyingkirkan tangan Baekhyun tapi laki-laki itu bersikeras.

“Biarkan aku melakukannya,” Baekhyun mulai memijat kakinya sambil tersenyum, “tidak apa-apa. Lagipula yang mengajakmu seharian ‘kan aku. Ini sudah jadi tanggung jawabku.”

Taeyeon risih dilihat orang-orang. “Kau membuat kita jadi tontonan.” Ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, sesekali mengintip dari sela jarinya.

“Kau malu, noona?” Baekhyun menggodanya.

“Tentu saja! Memangnya kau tidak?!” Mukanya sudah seperti kepiting rebus.

“Jangan pedulikan pandangan orang.”

“Itu kau. Bukan aku.”

Baekhyun mengangkat bahunya acuh, “Mereka tidak ada hubungannya dengan kita. Kau tidak perlu cemas berlebihan.”

*Ch, lagi-lagi berbicara dengan kalimat tidak sopan* Taeyeon mendengus kasar.

“Asal tahu saja, aku bukannya cemas berlebihan.” Taeyeon berhenti. Sejenak ia berpikir, apakah kalimatnya nanti tidak apa-apa jika dikatakan langsung? “Tingkahmu sekarang bisa membuat orang jadi salah paham.”

“Siapa?” Baekhyun bertanya dengan polos. Ia lalu melihat sekelilingnya. “Siapa?” Ulangnya kembali melihat Taeyeon.

Taeyeon merotasikan bola matanya sebelum akhirnya menarik kakinya. “Kau tidak takut kalau nanti gadis yang kau sukai melihatmu memijat kaki gadis lain? Kau tidak takut dia salah paham?” Taeyeon melipat tangan, mata menyipit serius. Jika Baekhyun menjawab tidak, ia sudah bersiap memukulnya. Laki-laki macam apa yang memandang remeh perasaan seorang gadis?

Tetapi dugaannya tidak terjadi. Baekhyun masih terhenyak di tempatnya. Detik berlalu dengan cepat, kebisuannya membuat Taeyeon tidak tenang. Gelombang kemarahan dan perasaan frustasi serempak melanda. Beberapa saat kemudian, Baekhyun tersenyum. Senyumannya lambat laun melebar dan akhirnya berubah menjadi tawa yang keras. Raut Taeyeon berubah masam, Baekhyun tergelak sambil memegangi perutnya.

“Apa selucu itu?” Ia merasa tersinggung.

“Kau lucu sekali, noona. Sungguh.” Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya dan berlagak menghapus air mata. “Aku tidak menyangka kau akan selucu ini.” Tawanya akhirnya mereda.

Tidak terima, Taeyeon langsung meraih tasnya, akan tetapi kali ini Baekhyun berhasil menahan kedua tangannya, membuat tas yang belum sempat mengenainya menggantung di udara.

“Hari ini kau sensitif sekali, noona. Kau seharusnya tahu kalau aku sedang menggodamu.” Ucapannya membuat Taeyeon tersipu. Baekhyun perlahan-lahan menurunkan tangan gadis itu. “Kau mau es krim? Disana sepertinya ada yang menjualnya.”

Taeyeon tidak begitu terkesan dengan cara Baekhyun mengalihkan pembicaraan. Walaupun ada rasa penasaran tentang siapa gadis yang disukai laki-laki itu, ia mencoba untuk tidak terlalu menunjukkannya.

Gadis itu akhirnya mengangguk pelan. “Vanilla.”

“Tunggu disini. Aku akan segera kembali.” Baekhyun beranjak. Sebelum pergi, Laki-laki itu sempat menoleh dan memperingatkannya agar jangan kemana-mana. Ia begitu serius mengatakannya.

Taeyeon hanya tersenyum lalu mengangguk lagi. Memangnya siapa yang akan pergi?

Matahari sore perlahan-lahan mulai hilang di ufuk barat. Bias-bias jingga kehitaman di langit semakin kentara. Belum lama setelah Baekhyun pergi, Taeyeon sudah merasa bosan. Iseng-iseng ia mengecek ponselnya. Setelah menghubungi orang tuanya tadi untuk mengatakan kalau hari ini akan pulang terlambat, ia sengaja mematikan ponselnya. Tidak ada maksud apa-apa. Tiba-tiba saja ia tidak ingin siapapun menghubunginya setelah Joyun.

Taeyeon membulatkan matanya begitu melihat layar ponselnya. Sebuah pesan dari Jin. Dengan dada bergemuruh, ia membaca.

Hari ini sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan tetapi ponselmu tidak aktif dan kata hyung kau sedang tidak ada di rumah. Hubungi aku setelah kau melihat pesanku. Aku merindukanmu.

 

Taeyeon tidak tahu mengapa, mungkin karena kebiasaan, ia langsung saja menghubungi nomor Jin.

Selang beberapa detik, Jin mengangkat telponnya.

“Aku membaca pesanmu.” Taeyeon mencoba tidak gugup. Lagipula, ini pertama kalinya setelah mereka putus, mereka kembali berkomunikasi. “Maaf, aku berada diluar sekarang.”

Untuk alasan apa ia meminta maaf, Taeyeon sendiripun tak tahu. Sewaktu pacaran dulu, mereka berdua memang sudah terbiasa mengucapkan kata itu. Tulus atau tidak, Taeyeon baru menyadarinya sekarang bahwa kata itu hanya sebagai pelengkap kalimat. Tidak benar-benar berarti.

“Kau dimana sekarang? Aku akan menjemputmu.”

Taeyeon terdiam.

– – –

Baekhyun sudah tak sabar menemui Taeyeon. Dengan langkah panjang agar cepat sampai, tetapi kecewa begitu mendapati tempat Taeyeon tadi telah kosong.

“Ia pergi.” Baekhyun bergumam lirih. Harapannya pupus sudah. Tubuhnya lunglai seiring dengan es krim di tangannya berakhir di atas rumput. “Kenapa kau tidak menungguku?” tanyanya yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

Di tempat yang lain, Taeyeon tengah diserang panik. Ia mondar mandir di dalam ruangan sambil memikirkan solusi dari masalahnya, tetapi, semakin memikirkannya, semakin buntu pula otaknya. Ia terlanjur berlari kemari tanpa berpikir dan sekarang ia kebingungan. Tidak mungkin menghubungi Joyun sekarang. Ia tidak ingin merepotkan sahabatnya itu. Menghubungi Jin juga tidak mungkin. Ia sudah menolaknya tadi. Dan Baekhyun… Taeyeon menggeleng keras. Akan sangat memalukan jika laki-laki itu tahu apa yang di alaminya.

*Tapi aku tidak mungkin berada disini terus* Taeyeon menggigit bibir bawahnya seraya menatap ponselnya. Bagaimana ini? Ia kehabisan akal. Satu-satunya pilihan adalah Baekhyun.

Oh tuhan. Taeyeon putus asa. *Apa yang harus kulakukan sekarang?*

Kembali ke tempat Baekhyun, laki-laki itu masih mencari ke seluruh area itu tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Taeyeon. Harapannya bangkit lagi setelah bertanya pada salah seorang yang kebetulan melihat mereka berdua tadi. Bapak itu bersama istri dan anaknya. Kata mereka Taeyeon berlari ke arah yang berlawanan. Baekhyun pun segera mengikuti petunjuknya tanpa ragu.

Sedang sibuk mencari dan Baekhyun hampir putus asa, ponselnya tiba-tiba berdering. Tidak begitu antusias melihat siapa penelponnya, Baekhyun langsung saja mengangkatnya. Ia sangat terkejut mendengar suara Taeyeon. Sekilas melirik layarnya hanya untuk melihat nama gadis itu tertera disana, lalu kembali merapatkan ponsel ke telinganya.

“Noona? Noona, kau dimana? Aku mencarimu kemana-mana.” Baekhyun terdengar panik, Taeyeon menjadi merasa bersalah. “Kukira kau sudah pergi, noona.” Kalimat terakhirnya keluar berupa bisikan lirih.

Baekhyun tidak terpikir untuk menghubungi Taeyeon sampai gadis itu yang lebih dulu menelponnya.

“Baekhyun…” Suara Taeyeon yang pelan membuat perasaan Baekhyun tambah was-was. Ia berhenti mencari dan hanya memandang kosong di depannya.

“A-ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kau dimana sekarang?” Baekhyun sudah tidak peduli pendapat gadis itu nanti tentang ia yang menggunakan bahasa tidak formal padanya. Lagipula, ia memang tidak peduli sejak awal.

“Aku…aku…” Taeyeon ingin sekali menangis. Ia terlalu gugup hingga tidak tahu harus memulai darimana. “Baekhyun…”

“Katakan dimana kau sekarang?! Noona!” Baekhyun frustasi. Membayangkan Taeyeon dalam masalah membuatnya tak bisa berpikir. Ia hampir gila karena mencarinya kesana kemari.

“Aku di toilet wanita.”

Baekhyun berhenti tiba-tiba. Ekspresi kagetnya kelihatan konyol. “Toilet?” Tanyanya sangsi. Sejak tadi mencarinya ternyata Taeyeon selama ini berada di toilet? Baekhyun hanya tidak menyangka saja. Lalu mengapa suara gadis itu terdengar aneh? Seperti terisak?

“Tunggu disitu. Aku akan segera kesana.” Tanpa banyak tanya lagi, Baekhyun berlari mencari toilet yang dimaksud. Tidak sulit menemukannya karena orang-orang disekitarnya dengan senang hati memberitahunya.

“Aku di depan toilet sekarang. Keluarlah.” Kata Baekhyun masih lewat telpon. Tidak mungkin ia menerobos masuk ‘kan?

Taeyeon menggeleng. “Aku tidak bisa.”

“Kenapa? Sudah berapa lama kau di dalam?”

“Beberapa menit setelah kau pergi.”

“Lalu? Kenapa kau tidak keluar saja sekarang?” Baekhyun menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya. Ia baru merasakan rasa lelah itu sekarang. Matanya memperhatikan orang yang lalu lalang. “Aku tidak bisa masuk ke dalam menjemputmu.”

Taeyeon tersenyum mendengarnya. Di saat seperti ini, candaan Baekhyun sedikit mengurangi kegelisahannya. Merasakan Baekhyun berdiri di balik pintu itu membuatnya lega.

“Aku tidak bisa keluar sekarang, apalagi dengan keadaan seperti ini.”

Baekhyun menegakkan badan dan berbalik memandangi pintu tempat Taeyeon berada. Keningnya mengernyit, “Noona, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?” Ulangnya. Jujur saja, ia sekarang cemas.

“fkhsdhajdajngjhkgftdhgdrdftddrd.”

Baekhyun mengerjapkan mata, nyaris ternganga. “Err…noona, kau terlalu cepat.”

Taeyeon menghela nafas dalam-dalam. Baekhyun bertanya-tanya dalam hatinya. Maka dengan wajah merah padam, Taeyeon menjelaskan alasannya yang detik itu juga membuat muka dan telinga Baekhyun memerah.

“N-noona…i-itu…” Baekhyun susah payah menelan salivanya. Ia ingin sekali menampar pipinya sendiri karena ketahuan gugup.

“Aku tahu ini memalukan! Itulah sebabnya aku tidak bisa keluar sekarang!” Seru Taeyeon. Gadis itu sangat malu sekaligus menyesalinya.

Mengapa ia membicarakan masalah seperti ini dengan Baekhyun?! Mengapa hal-hal memalukan tentang dirinya harus diketahui oleh Baekhyun?! Ugh!

Baekhyun akhirnya berdehem, kemudian bertanya, “Kau ingin aku membelikanmu ‘itu’?” Suaranya dibuat setenang mungkin.

Meski begitu, Taeyeon sudah tidak bisa lagi menutupi apa yang mengganjal dalam hatinya. Ia langsung mengeluarkan seluruh uneg-unegnya. “Seharusnya aku tidak memberitahumu. Kejadiannya jadi begini. Ini sangat memalukan!” Taeyeon tidak tahan dan mulai menangis, “Harusnya aku tidak ikut denganmu. Seharusnya aku tidak menelponmu. Ini semua salahmu!” Ia bahkan menyalahkan yang tidak sepatutnya.

“Tenanglah. Hei, jangan menangis.” Baekhyun berusaha menenangkannya, “Bagiku kau tidak memalukan. Justru aku senang karena kau memberitahuku. Itu berarti kau percaya padaku.”

Dengan suaranya yang lembut, Taeyeon berhasil ditenangkan. Gadis itu menghapus air matanya walau suaranya masih terdengar sesegukan.

“Dengar, aku akan membantumu. Bertahanlah sebentar. Aku akan segera kembali membawanya.”

Taeyeon mengangguk lemah. Tapi langsung sadar kalau Baekhyun tak bisa melihatnya. “Iya. Kau tidak akan meninggalkanku, ‘kan?”

“Bodoh.” Baekhyun lalu terkekeh pelan.

“Kau menertawaiku, Baekhyun. Kau juga mengataiku bodoh.” Taeyeon merajuk.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sekali lagi bertanya pada dirinya, sejak kapan Taeyeon yang lebih tua darinya ini menjadi sangat menggemaskan? Terlalu menggemaskan untuk ia abaikan.

“Aku akan menutup telponnya sekarang.”

“Tunggu, Baekhyun!”

Baekhyun menempelkan ponsel ke telinganya kembali.

“Apa kau tahu apa yang akan kau beli?”

“Tentu.” Baekhyun terdengar tidak yakin. Ini pertama kalinya, bagaimana bisa ia mengetahuinya?

“Baekhyun?”

“Aku akan bertanya pada penjaga toko. Sudah ya. Aku pergi.”

Sambungan telepon terputus. Taeyeon menghembuskan nafas pelan. Ini pasti akan sulit.

– – –

Baekhyun tiba di sebuah mini market. Ia mengedarkan pandangannya, bingung mau mencari apa. Setahunya, ia pernah sekali melihat iklannya di TV. Setelah melihat-lihat, benda itu tidak terlihat dimanapun. Karena gerakannya mencurigakan, seorang pria yang rupanya penjaga toko, menghampiri Baekhyun.

“Ada yang bisa kubantu, anak muda?”

Baekhyun terkejut dan berbalik. Ia sontak mengusap punggung lehernya dengan senyuman malu. “Itu…aku ingin menanyakan sesuatu.”

Penjaga toko itu lantas terkekeh. “Hm, kau tidak membeli tapi ingin menanyakan sesuatu?”

“Ah, tidak. Maksudku bukan itu.” Baekhyun membantah dengan melambaikan kedua tangannya. “Aku ingin membeli sesuatu tapi tidak tahu namanya.”

“Lho?” Penjaga toko itu mengernyit heran.

“Begini,” Baekhyun memperbaiki sikapnya. “kau tahu benda sekecil ini?” Dengan mimik serius, ia mencontohkan dengan menggunakan tangannya. “fungsinya untuk wanita.” Tambahnya.

Penjaga toko menyadari semburat merah di pipinya, tapi tidak mengerti apa yang ia bicarakan. “aku tidak tahu apa yang coba kau beritahu, anak muda. Kalau untuk wanita, disini banyak. Kau bisa memilihnya.”

Apa aku harus menelponnya? Baekhyun terpikir untuk menghubungi Taeyeon lagi. Jujur saja, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tetapi, secara tak sengaja ia melihat TV yang sedang menyala.

“Ah! Itu dia pak. Aku mau yang seperti itu!” Seru Baekhyun senang sambil menunjuk-nunjuk iklan yang sedang tayang di TV tersebut.

Pria penjaga toko itu cukup kaget melihat iklan yang dimaksud. Ia melihat anak laki-laki di depannya dengan pandangan heran. “Maksudmu pembalut?”

“Ah, jadi namanya pembalut.” Gumam Baekhyun, tersenyum pada dirinya sendiri. “Pacarku membutuhkannya.” Ia buru-buru memberi alasan ketika sadar penjaga toko masih memperhatikannya. Pandangan pria itu seolah sedang menilainya.

Penjaga toko seketika tersenyum sumringah dan terkekeh. “Jadi kau membelikannya untuk pacarmu?”

Baekhyun tersipu malu tapi mengangguk. Kalimat tentang pacar ini terdengar menyenangkan di telinganya. Ia sangat menyukainya.

“Kau baik sekali. Kau pasti sangat menyukai gadis itu hingga kau mau repot-repot kemari membelikannya pembalut.”

“Aku sangat menyukainya.” Baekhyun dengan cepat mengakuinya. Ia merasa lega karena tidak perlu lagi menjelaskan panjang lebar.

“Jarang-jarang ada anak laki-laki yang berani sepertimu. Biasanya mereka malu jika harus membeli benda seperti itu.”

“Ahahaha, terima kasih. Tapi maaf, dimana aku bisa menemukannya?”

“Aku akan mengambilkannya untukmu. Kau tunggu saja disini.”

Pandangan Baekhyun pun mengikuti kemana pria itu pergi.

*Jadi disitu tempatnya* Baekhyun mengangguk paham. Pantas saja tadi dia tidak bisa langsung melihatnya. Rupanya tersembunyi di antara beberapa barang lain.

“Hei anak muda!” Baekhyun menoleh, pria itu memanggilnya. “Kau mau ambil yang bersayap atau yang biasa?”

Eh? Baekhyun mengerjapkan mata. Memangnya ada yang seperti itu? “Maaf, aku tidak begitu mengerti.” Akunya jujur.

“Oh.” Pria itu lalu mengangkat dua buah benda yang berbentuk persegi panjang. “Kalau yang bersayap memiliki penahan tambahan di pinggirnya. Itu lebih mencegah para wanita agar tidak tembus.” Jelasnya.

Dia bilang tadi roknya tembus. Baekhyun sejenak menimbang-nimbang. Mukanya yang serius sempat membuat penjaga toko itu terkekeh. Akhirnya ia mencapai kesimpulan. “aku ambil dua-duanya saja.”

Baekhyun tidak lupa membeli beberapa camilan dan minuman. Ia juga membeli vitamin untuk Taeyeon. Gadis itu pasti sangat lelah. Setelah mengambil semuanya, ia pun membayar di kasir.

“Apa kau kemari ingin melihat kembang api?”

“Iya.” Baekhyun tersenyum menjawab.

“Sebaiknya kau bergegas. Kembang api tinggal 30 menit lagi.”

Baekhyun melihat jam tangannya. Gawat. Setelah mengucapkan terima kasih, ia berlari menuju tempat Taeyeon.

– – –

Baekhyun menunggu dengan sabar diluar sementara Taeyeon menyelesaikan urusannya di dalam. Setelah selesai, gadis itu pun keluar.

“Terima kasih. Tapi kau membelinya terlalu banyak.” Ujarnya malu-malu. Ia masih belum berani menatap langsung mata Baekhyun. Mengingat Baekhyun harus membelikannya sebuah pembalut, mukanya langsung memerah.

“Maaf, aku tidak tahu mana yang cocok untukmu. Penjaga toko itu mengatakan, yang bersayap itu memi—”

“Oke aku mengerti.” Taeyeon buru-buru memotong. Padahal yang sebenarnya, ia ingin sekali menyembunyikan mukanya. Akan semakin memalukan jika ia juga harus mendengarkan penjelasan canggung Baekhyun mengenai perbedaan keduanya.

“Oh.” Kini giliran Baekhyun yang menghindari tatapannya.

Taeyeon sempat menangkap semburat merah di pipinya yang samar-samar terlihat. Gadis itu hampir tidak bisa menahan senyum, Baekhyun yang tersipu malu ternyata menggemaskan sekali.

Baekhyun kemudian teringat sesuatu, ia lalu mengambil sweater dari dalam tasnya dan memberikannya pada Taeyeon.

“Lilitkan di pinggangmu.” Katanya saat Taeyeon memandangnya heran.

Gadis itu menggumamkan terima kasih sebelum melakukannya. Dan ia kembali terkejut saat Baekhyun memberinya satu benda lagi.

“Ini juga untukmu.” Sebuah boneka mungil yang berbulu halus.

Taeyeon memandang boneka itu sesaat, lalu ragu-ragu menerimanya.

“Aku tidak tahu apa yang harus kuberikan padamu.” Baekhyun mengusap punggung tengkuknya sambil tersenyum. “Saat membeli es krim tadi, aku melihat boneka itu.”

“Terima kasih.” Ini terima kasih yang ketiga kalinya. Taeyeon terharu. Baekhyun sudah melakukan banyak untuknya.

“Ayo, aku sudah memilih tempat yang bagus.” Baekhyun tiba-tiba mengenggam tangannya. Taeyeon agak kaget tapi tidak menolak. “Waktu kita tidak banyak. Kembang apinya sudah akan dimulai.”

Taeyeon hanya tertawa kecil. Tanpa protes, ia mengikuti kemanapun Baekhyun mengajaknya. Bersama-sama berlari menuju tempat dimana mereka bisa menyaksikan kembang api dengan leluasa. Di pinggir danau dan sekitarnya terlihat sudah dipenuhi orang yang berkumpul, tapi mereka melewatinya. Diam-diam Taeyeon melirik Baekhyun, laki-laki itu tersenyum sumringah, nampak gembira sekali.

Bunyi letusan berentetan membuat Baekhyun dan Taeyeon serentak menoleh. Satu persatu kembang api mulai dilepaskan ke atas. Warna warni percikannya sangat indah. Keduanya lantas berhenti untuk mengagumi keindahan langit.

*Indah sekali* Taeyeon bergumam. Baekhyun benar, tempat yang dipilih laki-laki itu letaknya strategis. Mereka berada di garis perbukitan. Melihat kembang api dari sini terasa begitu dekat dan nyata. Ketika Taeyeon memandang sekelilingnya, tampak beberapa orang terlihat ikut menyaksikan dari tempat ini. Tidak banyak dan tersebar di beberapa sudut.

Taeyeon merasa seseorang sedang mengamatinya. Ia menoleh dan mendapati orang itu adalah Baekhyun. Mereka saling bertatapan cukup lama, ketika sadar, Baekhyun sudah meminimkan jarak di antara mereka. Taeyeon mengerjapkan mata karena gugup, cara Baekhyun menatapnya membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Kerlap kerlip cahaya dari kembang api di atas sana membias menerangi wajah Baekhyun. Rambut coklat keemasannya tampak berkilau. Taeyeon tak sadar terpesona. Laki-laki di depannya ini sungguh sangat tampan.

Sesuatu menggerakkan Baekhyun untuk mendekat. Taeyeon mundur ke belakang tapi tidak bisa lebih jauh lagi karena batang pohon menghalanginya. Mata mereka masih saling mengunci. Taeyeon membisu, takjub dan terpukau di saat bersamaan. Tatapan Baekhyun seolah menyelami seluruh dasar hatinya. Kemudian, Baekhyun mengucapkan kalimat yang menambahkan kegugupannya.

“Jika aku menciummu sekarang, apakah kau akan menolakku seperti tadi?” Suaranya rendah, terkesan berbahaya.

Taeyeon serasa akan meleleh. Perasaannya kian berkecamuk. Di dalam sana sepertinya akan meledak. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia akan menolak? Sebelum ia sempat memikirkannya, bibir Baekhyun telah menyentuhnya. Taeyeon membulatkan mata, sontak mendorong pelan dada Baekhyun, tapi, laki-laki itu malah menarik pinggangnya lalu menghimpitnya setengah paksa ke belakang. Taeyeon serasa berada di ambang tidak sadar. Matanya menutup rapat, tubuhnya bergejolak. Ciuman ini bukan sekedar ciuman manis yang biasa ia lakukan dengan Jin. Ini berbeda. Terlalu berbeda dan menggairahkan.

Bulu kuduk Taeyeon meremang, perasaan aneh yang hangat mengalir dalam tubuhnya. Bibir Baekhyun kian menekan, semakin dalam menuntutnya, hingga akhirnya ia tak bisa menghalanginya lagi. Taeyeon terlena dan mulai membalas ciumannya. Kedua tangannya mengikuti nalurinya, bergerak ke atas dan melingkar di leher Baekhyun.

Mereka saling berpagut, saling mencurahkan perasaan melalui sentuhan, tidak peduli sekitarnya, seolah dunia hanya milik berdua. Lutut Taeyeon melemas, persediaan udaranya makin menipis. Ciuman Baekhyun sungguh membuatnya melayang. Laki-laki itu berhasil membuatnya tidak berdaya. Saat Taeyeon sadar apa yang mereka lakukan, tepatnya apa yang ia lakukan, ia mendorong keras dada Baekhyun. Bukannya berhenti, Baekhyun malah kembali menyambar bibirnya. Taeyeon sayangnya tidak bisa menolak kali ini, karena sisi lain dalam dirinya masih menginginkannya. Taeyeon tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia telah terbuai dengan perlakuannya.

Baekhyun perlahan-lahan melepaskan bibirnya. Meski masih menginginkannya, ia tahu kapan harus berhenti. Ada batasan dalam dirinya yang sengaja menahannya. Baekhyun meraih wajah Taeyeon dengan kedua tangannya, mengelus pipinya dengan lembut sembari menyandarkan kening mereka. Nafas keduanya masih tak beraturan. Baekhyun menyadari Taeyeon masih kesulitan beradaptasi, ia mengecup kening gadis itu, berharap bisa membantunya tenang.

“Aku sungguh menyukaimu.” Bisiknya menatapnya.

Terkejut, Taeyeon membuka mata. Pandangan teduh itu, senyuman lembut itu, setiap sikap kepadanya membuat darahnya berdesir.

“Aku selalu menyukaimu. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah menyukaimu.” Ungkap Baekhyun. Sejenak ia terdiam sambil memejamkan mata, entah apa yang ia pikirkan, lalu membukanya lagi. “Kita berkencan saja, noona.”

Sontak Taeyeon menjauhkan diri. Baekhyun sangat terluka dengan tindakannya, tetapi Taeyeon tidak begitu memperhatikannya. Gadis itu membungkam. Ia masih sulit menerima apa yang barusan di dengarnya. Terlebih lagi, ia belum tahu harus bagaimana menyikapi perasaannya sendiri.

Baekhyun memang selalu menyatakan suka padanya, tetapi tidak seperti ini. Keseriusannya membuatnya takut. Selama ini ia mengira anak itu hanya menggodanya. Tapi kini…berhadapan seperti ini, Taeyeon mendadak merasa belum siap. Berkencan? Sungguhan? Taeyeon tidak bisa membayangkannya. Itu terlampau jauh. Memang, Joyun seringkali memasukkan ide mengenai dirinya dan Baekhyun, tetapi ia sendiri tidak benar-benar memikirkannya secara serius hari itu akan terjadi.

Lalu mengapa ia berani membalas ciuman Baekhyun tadi? Taeyeon mencemooh dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan diri.

Melihat Taeyeon yang masih tak mengatakan apa-apa, membuat Baekhyun tidak sabar. Ia mencoba meraih kembali tangannya, tampak ragu-ragu awalnya karena gadis itu sempat menjauhinya tadi. Taeyeon mengangkat wajahnya, berusaha keras membalas tatapannya. Ia sadar, ia sudah cukup menyakiti Baekhyun.

“Aku mungkin terlalu muda bagimu, noona. Aku bukan laki-laki yang dewasa seperti harapanmu, tetapi, kau tidak bisa langsung menilaiku dari usiaku.”

“Baekhyun…” Taeyeon tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

“aku akan menunggumu sampai kau memberiku kesempatan itu. Tolong, jangan menolakku sebelum kau mengenalku. Aku akan berusaha lebih keras lagi menunjukkan perasaanku.”

“Baekhyun, bukan seperti itu!” Taeyeon melepaskan tangannya. Ini menjadi semakin sulit baginya.

“Lalu apa?” Baekhyun bertanya dengan suara tegang. “Apa yang membuatmu tidak bisa memutuskan?”

Taeyeon memalingkan muka.

Bukankah ia berdebar-debar bila di dekat Baekhyun? Bukankah Baekhyun membuatnya nyaman? Dan ia juga mengakui kalau pernah cemburu terhadap gadis lain karena Baekhyun. Lalu mengapa ia tidak bisa langsung menerimanya? Apa arti ciuman itu baginya?

“Noona…” Panggil Baekhyun pelan. Taeyeon kembali memandangnya. “Katakan padaku dengan jujur, apa kau tidak menyukaiku?”

Taeyeon membisu lagi. Baekhyun tidak bisa menyembunyikan kepedihannya. Gadis itu sengaja tidak membalas matanya.

“Taeyeon-ah.” Ia memanggilnya, nyaris putus asa.

Taeyeon tersentak kaget mendengar namanya. Ia tidak menduga Baekhyun berniat sampai sejauh ini.

Ia akhirnya mendesah pelan dan mengakui, “Baekhyun, aku juga menyukaimu.” Tidak ada alasan untuk menutupinya. Wajah Baekhyun seketika berubah cerah, tapi tidak setelah mendengar kelanjutannya, “Hanya sebatas suka biasa. Masih terlalu dini bagiku untuk memastikan jenis rasa suka itu. Kupikir, ini terlalu cepat.” Kenyataannya, Taeyeon masih meragukan perasaannya sendiri. Ia sebenarnya tidak yakin pada dirinya. Hatinya dipenuhi kebimbangan. Disamping itu, ia butuh waktu.

Hening.

Perasaan Taeyeon was-was, Baekhyun belum mengatakan apa-apa sejak tadi.

“Baekhyun, aku—”

“Aku mengerti.” Akhirnya Baekhyun bersuara.

“Kau mengerti?” Taeyeon tak habis pikir, mengapa laki-laki itu kemudian tersenyum dengan tenangnya.

Baekhyun hanya mengangguk singkat. Taeyeon makin tidak memahami sikapnya.

“Aku menganggap itu bukanlah sebuah penolakan.”

“Baekhyun..”

Baekhyun menggeleng menghentikannya, “Aku akan menunggumu. Sampai kau menerimaku, aku tidak akan berpaling.” Tegasnya. Taeyeon yang membalas ciumannya tadi, sudah memberinya jawaban mengenai perasaan gadis itu. Dia hanya tinggal menunggu saja.

Pipi Taeyeon kembali merona merah. Ia menghindari tatapan Baekhyun yang sengaja menggodanya.

“Tapi,” Taeyeon melihatnya, “aku bisa ‘kan meminta sebuah ciuman lagi darimu, noona?” Baekhyun menyeringai.

“YAH!” Taeyeon merah padam. Ia mendaratkan pukulan ringan di lengan Baekhyun. Laki-laki itu meringis. “Sebaiknya kita pulang sekarang.” Taeyeon lebih dulu berbalik, tetapi Baekhyun menahan lengannya.

Saat ia menoleh, Baekhyun tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya.

Malam itu adalah malam yang panjang sekaligus malam yang melelahkan.

 

To be continued…

© RYN

Advertisements

88 comments on “The Couple : Overdose (Chapter 3)

  1. whatttt yak taeng ah kau benar benar padahal kan kau sudah cinta kpd baek kenapa masih ragu sihhh kan baek baik …
    hufffftt semoga next chap tae udh nerima baek deh(tpi gk tau juga terserah author dh)
    lanjut thorr…
    fighting

  2. Aku senyum, Aku ketawa, Aku senyum, Aku ketawa. Author tegaaaaa!! aku bahkan udah kaya orang gila, senyum sama ketawa sendiri sambil natap layar hp. MEREKAAA IMUT BANGETT!!! KYAAAAA~ aku cuman nunggu kapan mereka ngelaksanain hadiah dari game yang baekhyun mainin. sayangnya, baekhyun bukan yang first karna.. ada Jin 😦

    full banget dan aku suka, aku pikir ini moment manisnya baekyeon, seengganya puas-puasin moment dulu sebelum konflik datang, haha. Aku tau, dan semua tau, author gaakan bikin ff yang hanya full moment bahagia. Pasti.. ada konfliknya kan? ya kan? ya kan? ah aku tebak, apa rival baekhyun itu Jin?

    INI KERENNN! RYN JJANG!!! Sampai disini komennya. Bye. FIGHTING!!! AKU SUKA DAN AKU PENGEN CHAP SELANJUTNYA FAST POST^^

  3. Feel nya dapet sumpahh 😆😆😆 gila dibuat deg-deg’an sam kelakuannya baekhyun 😄😄😄😄 apalagi pas bagian ‘itu’ 😳 aduh taeyeon benar mereka kan masih baru, masa iya langsung jadi pacar 😮 next chap jangan lama2 kak 😆😆 gak sabar di buat deg-deg’an sama baekhyun 😳😳

  4. Aku snyum, ktawa, snyum, ktawa… kyak orang gila bneran liat mreka berdua lucu thor ! ><

    Aplgi pas bagian yg Taeyeon kgak bsa kluar toilet karna itu…?? ._.
    Smoga mreka jadian ya thor !!? Tpi kan ntar ini bkalan ad Jin ??

    Daebak bnget thor ! ^^
    Next chapnya dtnggu !!
    Fighting!!

  5. Ahh author aku bener2 speechless bingung mau komen apa, pokoknya suka bgt sama moment mereka berdua sweet bgt dan moment mreka bikin aku senyum2 sndiri 🙂 ❤
    D chap selnjutnya banykin moment baekyeon lg ya, cpet post chap slanjtnya ya thor 🙂
    Fighting..

  6. Huh, ceritanya seru :D.. Hahaha ngakak waktu ngebaca Baekhyun pas beli sesuatu buat Taeyeon. Next thor ditunggu lho.. 😀 😀

  7. yaampun sampe senyum senyum sendiri bacanya. hahahaha baekyeon fells hihi ahh baekhyun sweet banget lah bikin melting hihi udah terima aja kali taeng ntar keburu berpaling loh kan nyesel haha. next chap di tunggu 🙂

  8. Lahaulaaaa. Aku baca ini tuh gaberenti senyum. Gemes banget sama Baekhyunnya ㅠㅠ minta disayang banget huhuhu sebel Ryn unnie jago bgt bikin readers kaya aku baper ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    Salah banget baca ini sebelum tidur. Aduh baper bgt ㅠㅠ
    Ku tunggu update-an beautiful creature, all my love is for u dan overdose nya ya kak! Semangat!!!

  9. aaaaaaaa ff ini bikin meleleh seketika ditempat
    . so sweetnya gausah ditanya bikin envy pake bgt…. speechless pokoknya… agal sebel sama taeyeon sbnrnya soalnya dia tu terlalu tinggi gengsinya buat ngakuin kalo dia tu udah jatuh cinta sama baekhyun haiiishh… lanjut ya thoor…

  10. envy akut liat bebek ame taeng keak gtu 😀

    jentelmen binggo si bebek nekat”an belikan taeng bgtuan. yg sbr ya bek. ntr lg taeng psti jd milik mu. next chap di tunggu ^,~

  11. late comment unnie hahaha. aku kira awalnya ini ff yg all my love is for you hehe. ternyata bukan wkwk. suka sama karakter baekhyun disini. dohh tpi sayang taeyeon masih ngeraguin cintanya dia haha next chapter ditunggu unnie fighting!

  12. Daebaaaakkkkkkk taeng knp masih ragu siii baek cocweet banggeetttt taeng kamu harus sadar kalo kamu cinta sama baek hahaha 😊ditunggu next chapternya thor hwaiting😘💕

  13. taeng.. taeng.. udahlah terima aja baek >< hihi ,, ngakak bgt pas baek beli begituan hahaha XD Updatesoon!!Hwaiting

  14. sweet bgt ini pasangan muda
    sabar ya baek .. nun mu itu emang jutek judes gimana gitu
    bener bener aku ngebayangin lo si baekyun ini kalo pas awal awal jadian dulu manggilnya nuna..lambat laun jd taenggu…ahh so sweet
    jadi kangen moment” kalian……………..

  15. Kok gue ikutan malu yahh,waktu si baek beliin sesuatu buat teyon.. wkwkwk
    Dpet banget thor feel nya
    Next chap secepatnya yahh
    FIGHTING

  16. akhirnya Taeng eonni ngaku juga kalau suka Baekhyunn.. tapi kenapa hanua sekedar suka? Astagaa, hatimu terbuat dari apa sih eonni? Kasihan Baekhyun.. next chap ditunggu 🙂

  17. YA RABBI BIL MUSTAFAA #iniapa
    RYN EONNI~ INI UDAH KEBERAPA KALINYA EONNI BUAT AKU KETAWA, SENYUM2 SENDIRI, NGEFLY SENDIRI, PIPINYA MERONA, HELEH EMBOH. UDAH BANYAK EON, UDAH BANYAK. DAN TADAAA EONNI BUAT AKU KAYAK GITU LAGI.
    SUMPEH INI PART KESUKAANKU♥♥ ULALALA BAEKYEON MOMENTNYA NGGA NGUATIN, PLEASE
    YA RABB, HAMBA GA CUAT… SANGAT GA CUAAAAT #iniapa
    APALAGI BAGIAN WAKTU TAEYEON NGGA BISA KELUAR DARI TOILET SAMA ADEGAN KISSING NYA BAEKYEON HUWAAAAAAAA ITU TAMBAH NGGA CUATIN….
    EONNI! MASUKAN! HARUS DITERIMA DAN DITERAPKAN YA EON :v #pembacagataudiri
    PART SELANJUTNYA ADEGAN KISSING NYA DIBANYAKIN! TERUS-TERUS!!! SKINSHIPNYA DIBANYAKIN LAGI :v :v #mendadakpervert
    AHHHH POKOKNYA DITUNGGU PART SELANJUTNYA, EONIIIIH!!! TERUTAMA PART DIMANA BAEKYEON NGERAYAIN HADIAHNYA #eh SAMA PART DIMANA NANTI KALO MISALNYA MEREKA JADIAN WOHOHOHOOOOO NGGA SABAR LALALALALA #iniapa
    DITUNGGU LOH YA EONNN~ BYEEEE!!! KEEP WRITING AND HWAITING!!!!

  18. mereka lucu bgt so sweatt lagi ahh aku suka bgt chap ini memuaskan , Pokokny keep writing and Fighting!!!

  19. HUWAAAA MELELEH LEH LEH LEH~~~ EONNI! FF MU BAGUS SEKALIH ❤ gaaakuat bacanyaaa. bahasanya mantep banget.. Pokoknya perfectfectfect! ♥ Yaampunn pas baca ini ff aku ketawaaaa senyum senyum kaya orang ga punya jiwa. BAEKYEON FEELNYA DAPET BANGET! KEREN PARAH DEH AH POKOKNYA. SUMPAH!!!!! Satu satunyaaaa FF baekyeon yang feelnya paling dapet. momentnyaa romantisss banget. apalagi pas taeyeon di toilet wkwkwk. GA SABAR NEXT CHAPTER♥ Gimanaaa yaa pas mereka ngerayain hadiahnya, paket kencan? WUAAHH♥ Ah falling in love sama ini FF. Next chapterr bikin lebih banyaaak moment skinship yak hihii. Fighting eonnn!

  20. mereka so sweet doh, bikin gereget aja 😀 haha lucu pas baekhyun nyari pembalut 😀 puas sama chap ini full baekyeon moment nyaa 😀
    Next chap di tunggu thor, banyakin moment nya jga 😀 hwaiting!!

  21. IIHHH SEBEL DEH.
    BBH KTY MANIS BANGET. UNYU BANGET MEREKA BERDUA.

    kak RYN selalu membuatku tersenyum sama ffnya. sumpah aku senyum senyum ketawa sendiri dikira aku digodain pacar padahal . hahaha.

    gamau tau pokonya lanjut yaa 🙂 terserah kapan pokonya lanjuttt

  22. Oh my god!!! So sweeettt bgt!! Baeknya terlalu jujur. Itu msalah baek yg membelikan ‘itu’ sumpah ngakak bgt. Bagaimana dgn polosnya baek bertanya. Hahaha.. 😀
    dtnggu nextnya unnie!!
    FIGHTAENG!!

  23. Astaga, aku kirain taeyeon kenapat tadi. Ternyata eh ternyata taeyeon …
    Lucu aja pas bagian itu. Di tunggu next chapternya 🙂

  24. thoorrr lanjut dong thorrr… suka banget sama sifat baekhyun nyaaa…. plisssss buat overdosenya… aku bacanya sampe overdosis nih…. aku baca terus menerus ff ini ampe overdosis!!!1 *apaan sih lebay banget?!!! -_-
    saking sukanya thorrrr!!!!!
    plisss lanjut secepatnya ya thorrrrr
    thanks…. critanya bagus banget!!!!!!!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s