[FREELANCE] Don’t Touch Her!! (Twoshot/END)

Don’t Touch Her!! (2nd / Twoshot)

Author: Han Sung Young

Rating: 17+

Lenght: Twoshot

Genre: Romance, Fluff, Family

Main Cast: Xi Luhan, Kim Taeyeon, Jung Daehyun

Other Cast: Find by yourself.

Disclaimer: Semua cast milik orang tua mereka dan Tuhan YME. But this story is mine. Happy reading and sorry about typo’s

Note’s: Makasih buat admin yang mau nge post ff aku dan juga reader yang mau baca ff absurd aku. Jadi buat reader yang udah baca harap komentarnya ya.

Thanks to: cloverqua @ Art Fantasy for amazing poster.

Happy reading^^

Preview: Chapter 1

2nd / Twoshot

Matahari kini dengan malu-malu mulai menunjukkan sinarnya berusaha untuk menerangi sebagian belahan bumi. Dan disaat yang bersamaan, seorang gadis mulai menggeliat dalam dekapan seorang pria yang semalam menemani tidurnya. Eoh salah, bukan hanya tidur, tetapi mereka juga melakukan hubungan suami istri yang tak seharusnya mereka lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, tatapan dan sentuhan sang pria seolah menyihir sang gadis agar mau melakukannya. Hingga malam itu mereka habiskan dengan suara-suara aneh dari keduanya.

Taeyeon mulai beranjak perlahan dari ranjangnya setelah menurunkan lengan Luhan yang tadi memeluknya. Tubuhnya terasa sedikit sakit akibat gerakan liar dari Luhan semalam. Jika boleh jujur, ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hal itu, tetapi Luhan tak pernah lupa untuk menggunakan pengamannya. Jikapun pengaman yang digunakan Luhan tidak aman, maka pria itu akan tetap bertanggung jawab pada Taeyeon.

Kini Taeyeon mulai mengambil pakaiannya dan Luhan yang berserakan karena semalam Luhan yang melemparnya sembarang. Gadis itu kini mulai memakai kemeja besar milik Luhan kemudian melangkah menuju kamar mandi.

Taeyeon memandang pantulan dirinya pada cermin yang berada diatas wastafel tersebut. Penampilannya sungguh berantakan. Rambut yang acak-acakan dan juga bibir yang membengkak, jangan lupakan leher dan dadanya yang terdapat beberapa bercak merah. Sungguh, Luhan benar-benar menghabisinya semalam.

Taeyeon menggulung rambutnya keatas kemudian mulai mencuci muka dan menggosok gigi. Gadis itu sepertinya akan meminta izin untuk tidak bekerja hari ini, tubuhnya benar-benar terasa sakit.

Setelah selesai dengan tubuhnya, Taeyeon kini beranjak menuju dapur dan membuatkan sarapan untuk Luhan. Hanya sebuah sarapan biasa, sebut saja nasi goreng. Gadis itu memang tak begitu pandai memasak, namun akhir-akhir ini dirinya mulai belajar memasak dengan sungguh-sungguh. Entahlah, seperti ada sesuatu yang memotivasi dirinya untuk melakukan hal itu.

Sudah cukup lama Taeyeon bergulat dengan alat dapurnya hingga kini yeoja itu sudah memasuki tahap akhir dalam masakannya. Taeyeon kini hanya perlu mengaduk semua yang ada dipenggorengan hingga matang merata.

Terlalu larut dalam masakannya membuat Taeyeon tak menyadari jika ada seseorang yang kini melangkah mendekatinya dari arah belakang.

Grep

“Kau sedang apa chagi.? Wangi sekali.” Tanya Luhan sambil memeluk Taeyeon dari belakang dan memberikan beberapa kecupan ringan pada leher kanan Taeyeon.

“Apa yang wangi.?”

“Kau!” Jawab Luhan yang kini mulai menjilat dan menggigit leher Taeyeon yang terdapat bercak merah. Mungkin Luhan berniat mempertebal bercak tersebut.

“Mmhhh.. oppa.” Lenguh Taeyeon karena tangan Luhan kini mulai meremas pelan dadanya.

“Yang semalam masih kurang chagi, aku menginginkan beberapa ronde lagi.” Ucap Luhan dan mempercepat gerak tangannya pada dada Taeyeon.

“Innihh.. masih pagihh.” Mohon Taeyeon yang kini mulai menurunkan sedikit tubuhnya berharap tangan Luhan terlepas dari dadanya.

Luhan menyeringai tipis melihat usaha Taeyeon tersebut, kemudian pria itu melepas semua sentuhannya pada Taeyeon. Sementara Taeyeon kini tengah terengah-engah mengatur nafasnya dan mematikan kompor yang tadi masih menyala.

Taeyeon berbalik dan menatap Luhan tajam. Namun apa daya, tatapan Taeyeon yang seperti ini justru membuat Luhan semakin gemas dengan gadisnya itu.

“Ini masih pagi dan oppa sudah melakukan itu. Dasar pervert.” Maki Taeyeon dan dibalas smirk oleh Luhan.

“Tetapi, bukankah kau menikmatinya.?” Tanya Luhan dan memandang tubuh Taeyeon yang kini hanya dibalut kemeja putih miliknya. Tentu saja hal itu menimbulkan kesan sexy karena kemeja Luhan terlihat kebesaran pada tubuh mungil Taeyeon.

“Jika aku menikmatinya, aku tak akan mati-matian meminta dilepaskan olehmu.”

“Bilang saja kau malu.”

“Sudahlah, sebaiknya oppa segera mandi dan berangkat, aku akan menyiapkan pakaian untukmu.”

“Kita tak mandi bersama.?” Goda Luhan dan dibalas gelengan keras dari Taeyeon.

“Aku tak bekerja.”

“Wae.?”

“Tubuhku sakit, dan itu karena oppa.”

“Itu berarti, kau harus kusentuh sekali lagi dan akan sembuh setelahnya.” Ucap Luhan dan menarik pinggang Taeyeon untuk memeluknya.

“Hentikan fikiranmu itu oppa. Cepat mandi.” Perintah Taeyeon dan mendorong dada Luhan yang saat ini terekspos, karena pria itu kini hanya menggunakan celana pendeknya.

“Pakaianku.?”

“Masih ada satu pasang pakaian kerjamu disini.” Ucap Taeyeon dan memindah nasi goreng yang tadinya masih dipenggorengan ke piring.

“Kau memang calon istri yang baik.” Ucap Luhan dan mengecup bibir Taeyeon sebelum menuju kamar mandi.

Setelah Luhan memasuki kamar mandi, Taeyeon kini membawa dua piring berisikan nasi goreng tersebut dan menyimpannya pada meja makan, kini gadis itu kembali kekamar dan mengambil pakaian Luhan dan meletakkannya pada ranjang yang sebelumnya telah dibersihkan.

****

Sambil menunggu Luhan yang belum keluar dari kamar mandi, Taeyeon memilih duduk disofa ruang tengah dan menonton TV.

Gadis itu menghela nafas, hari sudah semakin siang dan Luhan belum selesai dengan urusannya. Taeyeon tadi telah menghubungi temannya agar mengizinkan dirinya pada atasan mereka untuk tidak masuk.

Gadis itu mendengar suara pintu terbuka dan tertutup lagi, dan terlihatlah Luhan yang belum dalam kedaan rapi. Pria itu kini hanya menggunakan celana panjang kantor, sementara tangannya bekerja mengeringkan rambutnya yang masih basah.

“Aigoo oppa, kenapa kau masih seperti itu.?” Heran Taeyeon dan beranjak menghampiri Luhan.

Tangan gadis itu merebut handuk yang dipegang Luhan dan menggantikan tugas tangan prianya untuk mengeringkan rambut Luhan. Luhan sedikit menekuk lutut agar Taeyeon lebih mudah mengeringkan rambutnya.

Luhan tersenyum, inilah yang ia suka dari seorang Kim Taeyeon. Gadis yang manis, lembut dan sangat perhatian. Luhan sangat menyukai gadis seperti Taeyeon, tetapi pria itu terkadang merasa kasihan pada Taeyeon karena sifatnya yang terkadang posesif itu. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah merupakan sifat mutlak dari seorang Xi Luhan.

“Cepat pakai kemeja dan jas mu oppa.” Ucap Taeyeon setelah selesai mengeringkan rambut Luhan.

“Aku tidak bisa memakainya.”

“Apa maksudmu.?” Tanya Taeyeon tak mengerti dengan ucapan Luhan.

“Pakaikan!!” Perintah Luhan dan memberikan kemeja, jas dan dasinya pada Taeyeon.

“Kenapa hari ini oppa manja sekali.? Seperti ibu-ibu hamil saja.” Ucap Taeyeon dan mulai memakaikan semua yang dibawanya pada tubuh Luhan.

“Aku berharapnya kau yang hamil.” Goda Luhan dan menyeringai.

“Astaga, jaga ucapanmu oppa.?” Ingat Taeyeon sambil mengancing kemeja Luhan.

“Aku hanya berharap Taeng, sebenarnya semalam aku tak ingin memakai pengamanku, tapi karena kau memaksa, jadi mau tak mau aku memakainya.”

“Huh, pakai sendiri.” Dengus Taeyeon sambil memberikan jas dan dasi Luhan yang belum dipakaikannya.

“Jangan seperti itu chagi, pakaikan ne.? Hari ini saja.” Pinta Luhan dan memeluk Taeyeon dari belakang sebelum gadis itu meninggalkannya.

“Kau ini kenapa eo.? Kenapa manja sekali.? Bukankah biasanya kau kasar.?” Tanya Taeyeon dan melepas pelukan Luhan.

“Entahlah, hari ini aku sangat ingin kau manjakan.”

“Baiklah-baiklah, sekarang sebaiknya kita sarapan dulu.”

Luhan mengangguk dan mengikuti langkah Taeyeon menuju meja makan. Kini keduanya mulai menyantap makanan masing-masing dan diiringi dengan obrolan ringan dan canda tawa. Bahkan Luhan sesekali minta disuapi oleh Taeyeon. Mungkin Luhan sudah salah minum obat hingga membuatnya berubah seperti ini. Atau karena semalam mereka bercinta hingga membuat Luhan menjadi sangat manja seperti ini.? Entahlah, hanya Tuhan dan Luhan yang tau.

Kini mereka sudah menyelesaikan sarapannya, dan kini Taeyeon mulai memasangkan dasi pada Luhan. Sungguh, pemandangan ini sangat manis, mereka bahkan terlihat seperti pengantin baru yang masih menikmati awal pernikahan mereka. Kini Taeyeon mulai memasangkan jas untuk Luhan.

“Kau benar-benar tak bekerja.?”

“Bukankah sudah kubilang tubuhku sakit.?” Taeyeon justru berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Luhan.

“Bagaimana dengan izinmu.?”

“Aku sudah meminta Yuri untuk mengizinkan ku pada sajangnim.” Jawab Taeyeon dan kembali menghadap Luhan setelah selesai memakaikan jas untuk prianya.

“Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu ne. Jaga dirimu.”

“Hmm.. oppa berangkatlah.”

Luhan tersenyum dan mempersempit jarak antara dirinya dan Taeyeon, hingga…

Chu~

Luhan mulai menempelkan bibirnya pada Taeyeon. Bukan Luhan jika hanya menempelkan saja. Pria itu kini mulai melumat pelan bibir milik Taeyeon. Pelan saja, Luhan fikir ini masih terlalu pagi untuk melakukan hot kiss.

Taeyeon mendorong pelan dada Luhan untuk menghentikan ciuman mereka.

“Sudah siang.” Ingat Taeyeon lagi.

Luhan menjilat bibirnya dan bibir Taeyeon yang basah akibat saliva keduanya menyatu. Pria itu kini mengangguk dan mengecup sekali lagi bibir Taeyeon.

“Aku pergi, annyeong.”

Senyum Taeyeon mengiringi keberangkatan Luhan. Setelah prianya itu sudah tak terlihat, baru Taeyeon kembali masuk dan menutup pintu apartemennya.

****

Luhan terlihat sedang membereskan tumpukan file nya di meja. Saat ini masih pukul 3, tetapi pekerjaannya sudah selesai semua, dan itu membuat Luhan senang.

Pria itu berniat membuat kejutan kecil untuk gadisnya. Ya, setelah ini Luhan berniat pulang ke apartemen Taeyeon, bisa dibilang pria itu sangat jarang pulang ke apartemennya sendiri dan lebih suka pulang ke apartemen Taeyeon. Tangan Luhan merogoh saku celananya mengeluarkan suatu benda berbentuk persegi panjang dan mulai menghubungi seseorang.

“Yeobboseyo.?”

“…”

“Chagi, hari ini oppa pulang malam ne.? Pekerjaan hari ini menumpuk dan membuatku harus lembur.”

“…”

“Tentu saja, karena hari ini aku akan kembali pulang ke apartemen mu.”

“…”

“Ne, annyeong chagi.”

Luhan tersenyum setelah mengakhiri percakapannya dengan Taeyeon. Luhan memang sangat suka menjahili Taeyeon. Setelah ini dirinya akan pulang dan membuat Taeyeon terkejut karena Luhan mengatakan bahwa dirinya akan lembur namun nyatanya pulang sangat awal dari biasanya.

Namun sebelum pulang, Luhan berniat membelikan sesuatu untuk Taeyeon.

****

Taeyeon menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa setelah tadi Luhan menghubungi nya, dan kini ponselnya kembali berdering tanda ada sebuah panggilan masuk.

“Yeobboseyo.?”

‘Ne, Taeyeon kau kapan mau kemari eo.? Eomma sudah menunggumu sedari tadi.’ Semprot Daehyun dari seberang sana.

“Aigoo oppa, mianhae aku tak bisa kesana, tubuhku sedang sakit semua. Kalau bisa oppa datang ke apartemenku ne.? Aku ingin menitipkan hadiah untuk ahjumma.”

‘Kau sedang sakit.? Baiklah, aku akan segera kesana.’

Taeyeon kembali meletakkan ponselnya pada sofa. Kini kepala gadis itu terasa sangat pusing dan juga ada yang aneh dengan perutnya, seperti ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Taeyeon kini berlari menuju kamar mandi karena merasa sangat mual. Aneh, sama sekali tak ada yang keluar saat Taeyeon berusaha memuntahkannya. Hingga saat dirinya keluar dari kamar mandi, Taeyeon teringat sesuatu dan segera berlari mencari kalender.

Astaga, ini sudah pertengahan bulan tetapi Taeyeon sama sekali belum datang bulan , karena biasanya gadis itu akan datang bulan pada awal bulan.

Taeyeon bergetar dibuatnya, gadis itu kini mengeluarkan sesuatu dari laci nakasnya kemudian kembali ke kamar mandi untuk memeriksa apakah dugaannya benar atau tidak.

****

TING~ TONG~

Taeyeon meletakkan benda yang sedari tadi dipandanginya dengan tatapan sayu dan tak percaya saat mendengar bel apartemennya ditekan seseorang. Gadis itu melangkah cepat menuju pintu tak ingin membuat tamunya menunggu lama.

“Taengoo.” Panggil Daehyun dan menempelkan telapak tangannya pada kening Taeyeon saat gadis itu sudah membuka pintunya.

“Aish oppa, masuklah dulu.” Ucap Taeyeon dan menyingkirkan tangan Daehyun dari keningnya.

“Kau sakit apa eo.?” Tanya Daehyun saat sudah didalam apartemen Taeyeon.

“Hanya tubuhku yang sakit.”

“Kenapa bisa sakit.?”

“Mungkin kelelahan.” Jawab Taeyeon mengedikkan bahu nya seolah acuh tak acuh dengan pertanyaan Daehyun.

“Bukankah sudah kuingatkan jangan terlalu keras bekerja.? Dasar keras kepala.” Omel Daehyun dan sedikit memukul kepala Taeyeon pelan.

“Aish appo. Oppa bahkan seolah menasehati diri oppa sendiri, bukankah akhir-akhir ini oppa juga bekerja keras hingga membuat kita jarang bertemu.?” Tanya Taeyeon balik.

“Aish baiklah, kau menang.”

“Huh~ tunggu disini sebentar, akan kuambilkan hadiahnya.”

Daehyun mengangguk dan menatap Taeyeon yang mulai memasuki kamarnya. Kemudian tatapan Daehyun beralih pada foto-foto yang terpajang diapartemen Taeyeon. Selain foto keluarga nya ternyata Taeyeon juga memajang foto hasil jepretannya selama menjadi seorang fotografer. Daehyun senang karena Taeyeon juga masih perduli dengannya.

“Nanti aku juga titip salam untuk ahjumma ne, dan katakan aku minta maaf karena tak bisa mengunjungi ahjumma. Setelah aku sembuh, aku akan mengusahakan untuk mengunjungi ahjumma secepatnya.” Ucap Taeyeon setelah kembali duduk disofa dengan membawa hadiah untuk eomma Daehyun.

“Baiklah,” Jawab Daehyun dan berbalik berniat menghampiri Taeyeon.

Namun sial, kaki Daehyun tersandung sesuatu hingga dirinya terjatuh tepat diatas tubuh Taeyeon yang saat ini masih duduk disofa. Pandangan mereka bertemu, sangat lama mereka berpandangan dengan tatapan mendalam seperti itu, mungkin mereka ingin menggali sesuatu yang terdapat dalam mata seseorang yang sedang ditatapnya tersebut.

Bahkan mereka tak menyadari ada seseorang yang memasuki apartemen Taeyeon dengan aura mematikan.

Luhan, seseorang yang masuk tersebut langsung menarik kerah bagian belakang baju Daehyun agar pria itu menjauh dari tubuh gadisnya. Bahkan Luhan dengan senang hati menghadiahkan sebuah bogem mentah tepat dipipi kiri Daehyun.

Baik Taeyeon dan Daehyun sama-sama terkejut dengan kedatangan Luhan, terutama Taeyeon yang mengira bahwa Luhan akan pulang malam karena prianya tadi mengatakan bahwa akan lembur.

Daehyun meringis saat merasakan nyeri dibagian pipi nya. Belum hilanga rasa sakitnya itu, Luhan kembali memberikan pukulan mautnya pada Daehyun hingga pria itu terjungkal kebelakang. Luhan bahkan sudah menempatkan dirinya diatas Daehyun berniat memukul habis-habisan pria yang sudah mendekati gadisnya itu.

“Yakk oppa hentikan.” Ucap Taeyeon dan menahan tangan Luhan yang mengepal di udara bersiap memukul Daehyun kembali.

“Apa.? Kau mengatakan sedang sakit hingga tak bisa bekerja karena sebenarnya kau ingin berduaan dengan pria brengsek ini ‘kan.?” Bentak Luhan dan mentap tajam Taeyeon.

“Oppa sungguh, aku bisa menjelaskannya.” Bantah Taeyeon dan menggeleng keras.

“Sudahlah, biar kuhabisi dulu pria ini.”

Taeyeon yang menyadari itu segera menarik Luhan hingga pria itu tidak menimpa tubuh Daehyun lagi.

“Oppa sebaiknya kau pulang sekarang, jangan lupakan salam dan hadiah ku untuk ahjumma ne.” Ucap Taeyeon pada Daehyun sambil memeluk Luhan dari belakang agar pria itu tak kembali memukul Daehyun.

Daehyun mengangguk, bukan karena dirinya takut dengan Luhan,tetapi karena dirinya hanya ingin mengikuti apa yang diminta oleh Taeyeon, itu yang terpenting baginya.

Setelah Daehyun keluar dari ruangan tersebut, Luhan membanting cukup keras tubuh Taeyeon pada sofa. Bahkan pria itu sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi tubuh Taeyeon saat ini.

“Akh, appo.”

“Sakit.? Bahkan yang kurasakan jauh lebih sakit dari yang kau rasakan . Sebenarnya maumu apa eo.? Kau berkata sakit tetapi kau justru berduaan dengan pria itu disini.? Aku yakin jika kau tak benar-benar sakit.”

“Sungguh oppa, aku tak berbohong. Memang tadi aku yang meminta Daehyun oppa kemari untuk mengambil hadiah untuk Jung ahjumma karena aku tidak bisa datang kerumahnya. Aku benar-bener tak berbohong oppa.” Ucap Taeyeon berusaha menjelaskan.

“Alasan yang tidak masuk akal, jika memang dia hanya mengambil hadiah itu, bagaimana bisa dia berada diatas tubuhmu.? Apa saja yang sudah kalian lakukan selama aku tak ada eoh.?”

“Aku tak melakukan apapun oppa, tadi Daehyun oppa tersandung sesuatu hingga tubuhnya terjatuh tepat diatas tubuhku.”

“Kau fikir aku percaya begitu saja.? Aku tak bodoh Taeyeon, aku bisa melihat dari tatapan matanya bahwa dia masih menyukaimu.”

Taeyeon bangkit dari duduknya dan memeluk Luhan yang sedari tadi berdiri. Taeyeon berbuat ini berusaha agar api yang ada dalam diri Luhan bisa sedikit mereda.

“Tapi saat ini aku hanya mencintai mu oppa. Sungguh tak ada pria lain selain dirimu.” Ucap Taeyeon dan memeluk Luhan semakin erat.

Namun tanggapan yang Taeyeon dapat tak sesuai harapan. Luhan melepas pelukan mereka dan menatap Taeyeon tajam.

“Sudahlah, untuk saat ini aku tak bisa mempercayai kata-katamu. Sebenarnya aku tadi ingin memberikan sedikit kejutan untukmu, maka dari itu aku mengatakan bahwa aku lembur. Tetapi saat aku mengetahui apa yang terjadi, aku jadi malas untuk melihat wajahmu ini. Mulai hari ini dan seterusnya, jangan pernah menghubungi atau bahkan mencariku sebelum aku yang melakukan itu.” Ucap Luhan panjang dan mulai melangkah menuju pintu keluar.

“Bukankah itu tidak adil.?” Tanya Taeyeon saat Luhan sampai diambang pintu.

Namun seperti tak mendengar suara Taeyeon, Luhan langsung pergi tanpa perduli Taeyeon yang kini sudah mulai mengeluarkan air matanya.

Sungguh, sebenarnya gadis itu merasa kesal dengan kesalah pahaman seperti ini. Namun apa daya.? Jika waktu bisa kembali diputar, maka Taeyeon akan melakukan itu. Namun itu semua mustahil. Kini yang ada bagi Taeyeon adalah kesedihan dan kekecewaan.

Sebenarnya Taeyeon berniat memberitahukan kabar yang sangat penting bagi mereka.

Ya, Taeyeon hamil.

Walau gadis itu belum memeriksakannya ke dokter, tetapi tes yang sudah dilakukannya sendiri tadi sudah membuat nya yakin.

Kini Taeyeon harus bagaimana.? Dirinya ingin dan yakin jika Luhan akan memepertanggung jawabkan semuanya. Namun itu semua akan sulit karena pria itu yang kini seperti akan menjauhinya. Taeyeon sepertinya harus berfikir keras agar Luhan tidak benar-benar menjauhinya.

****

Beberapa botol wine dengan kadar alkohol yang tinggi itu kini terlihat kosong dimeja yang berada disudut ruangan bar terkenal di Seoul tersebut.

Luhan kembali meneguk sisa wine yang ada digelas kaca tersebut hingga habis. Luhan kini dalam keadaan sadar dan tidak sadar karena dirinya yang memang sudah mabuk berat. Tetapi Luhan tak perduli, bahkan pria itu kini tengah memanggil pelayan untuk membawakannya sebotol wine lagi.

Luhan memang seperti itu, jika ada masalah yang tengah menimpanya, pria itu akan menghabiskan waktunya untuk meminun minuman keras tersebut. Bahkan Luhan sering kali memuntahkan darah akibat terlalu banyak minum.

Sebenarnya Luhan masih sangat merasa kecewa dengan Taeyeon, dirinya tadi berniat kembali bermanja-manja dengan Taeyeon seolah melupakan kesan cool dan manly yang sudah lama melekat dengan dirinya. Dan jujur saja, Luhan sama sekali tak berniat untuk menjauhi Taeyeon, dirinya hanya berusaha bersikap tegas pada gadisnya agar Taeyeon tak berbuat semaunya seperti itu lagi.

Luhan bangkit dari duduknya saat melihat seorang gadis dengan balutan dress diatas lutut tanpa lengan yang berwarna biru laut itu. Rambut panjang dengan sentuhan gelombanh besar itu dibiarkan tergerai begitu saja.

Luhan mendekati gadis yang sepertinya tengah menunggu seseorang itu. Walau dengan langkah yang terhuyung-huyung, nekat Luhan tetap besar untuk menghampiri gadis itu.

Namun tak ada yang tau jika dalam pandangan Luhan gadis itu adalah Taeyeon. Ya, dalam tatapan Luhan gadis itu adalah Kim Taeyeon yang merupakan gadisnya. Bahkan kini lengan Luhan sudah melingkar pada pinggang kecil gadis itu dan menyandarkan dagunya pada bahu gadis itu. Tentu saja hal itu membuat sang gadis tersentak kaget.

“Aghasi.?” Panggil gadis itu pelan. Gadis itu kini berusaha melepaskan pelukan Luhan pada pinggangnya. Namun apa daya, Luhan justru mempererat pelukannya pada gadis itu dan mulai mengecupi bagian leher dan bahu gadis itu.

“Chagii~ Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku rela memberikan apapun yang kau inginkan, bahkan jika kau menginginkan jantungku pun aku akan memberikannya. Tapi ku mohon, jauhi Daehyun, jangan bersikap berlebihan pada pria itu, hal itu membuatku sangat cemburu.” Ucap Luhan masih dalam keadaan sadar tidak sadar.

“Mian aghasi, kurasa anda salah orang.” Ucap gadis tadi masih berusaha melepaskan pelukan Luhan.

“Jangan berusaha melepaskan diri dariku, maaf jika aku berlaku kasar padamu, tapi itu kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Biarkan hanya tanganku ini yang menyentuh tubuh indahmu ini, jangan biarkan tangan kotor pria itu menyentuh tubuhmu Taeng.”

Tiba-tiba Luhan merasa seseorang menarik lengannya hingga pelukannya pada gadis yang dikiranya Taeyeon itu terlepas.

“Maaf tuan, tolong jauhkan diri anda dari gadisku ini.” Ucap seorang pria  bertubuh jangkung yang merupakan kekasih dari gadis yang dipeluk Luhan tadi.

“Gadismu apanya.? Dia itu gadisku, Kim Taeyeon-ku.” Jawab Luhan ketus dan memandang dengan tatapan menantang pada pria yang kini tengah menarik kerah kemeja nya itu.

“Kau ini sudah gila eo.? Namanya Han Yoonji, bukan Kim Taeyeon. Dan Han Yoonji itu adalah gadisku.”

“Jangan mengaku-ngaku, jelas sekali bahwa dia adalah Kim Ta- uhukk~ uhukk~” Ucapan Luhan terputus karena dirinya yang terbatuk sambil mengeluarkan darah. Dan darah itu tanpa sengaja mengenai kemeja milik pria yang kini masih menarik kerah kemejanya tersebut.

“Dasar pria tak berguna, berani sekali kau mengotori pakaianku.” Ucap pria tadi dengan emosi yang meluap-luap.

Luhan tak menanggapi, mata pria itu sedikit terpejam karena kepalanya yang berdenyut keras dan mengakibatkan sakit yang luar biasa. Luhan bahkan tak perduli saat pria itu mengangkat tangannya bermaksud memukul Luhan.

Namun sebelum kepalan tangan pria itu mengenai permukaan wajah Luhan, Daehyun datang dan menangkap kepalan tangan pria itu.

“Maafkan saudara saya aghasi, dia sedang ada masalah dan sepertinya sedang mabuk berat. Jadi saya benar-benar minta maaf.” Ucap Daehyun dan membungkukkan tubuhnya.

Bagaiman Daehyun bisa ada ditempat ini adalah karena Taeyeon,gadis itu sudah sangat hafal dengan sikap Luhan jika sedang ada masalah. Sebenarnya Daehyun sudah menolak permintaanTaeyeon, namun saat mendengar gadis yang sudah dianggapnya adik itu menangis membuat hati Daehyun serasa ikut tersakiti, seperti Daehyun-lah yang sedang menghadapi masalah tersebut. Dan semua itu berakhir dengan Daehyun yang harus keluar masuk bar untuk mencari Luhan. Dan dirinya mendapati Luhan di bar tersebut yang tengah membuat masalah.

“Aish, cepat bawa pergi sampah ini sebelum kuhabisi sekarang juga.” Ucap pria itu dan melepas genggamannya pada kerah kemeja Luhan.

Daehyun segera memapah tubuh lemah Luhan sebelum pria itu benar-benar terjatuh. Bukankah Daehyun bisa dibilang pria yang baik.? Walau Luhan tadi sudah memukuli dirinya, tetapi Daehyun masih mau menolong Luhan. Baiklah, ini semua karena Taeyeon.

“Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan saudara saya ini aghasi.” Ucap Daehyun sekali lagi sebelum membawa Luhan ke apartemen pria itu. Beruntung tadi Taeyeon sudah memberikan alamat dan password apartemen Luhan hingga memudahkan Daehyun untuk mengantar Luhan pulang.

****

Lima hari telah berlalu sejak kejadian hari itu, dan sejak saat itu pula Taeyeon tak pernah bertemu dengan Luhan. Sudah lima hari ini pria itu tak masuk kantor. Taeyeon bahkan sudah bertanya pada beberapa pegawai disana, namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Luhan.

Jujur, Taeyeon merindukan prianya itu. Setiap hari bersama Luhan ternayata mampu membuat dirinya begitu merindukan Luhan jika sehari saja tak bertemu. Tapi Taeyeon tak yakin apakah Luhan juga merindukan dirinya atau tidak. Bahkan dua hari yang lalu Taeyeon harus pergi kerumah sakit sendiri untuk memeriksa keadaannya.

Dan hasilnya memang positif. Dokter yang memeriksa keadaan Taeyeon mengatakan bahwa kandungan gadis itu sudah menginjak minggu kedua. Taeyeon benar-benar tak habis fikir, setiap mereka melakukan hal itu Taeyeon sangat yakin jika Luhan telah menggunakan pengamannya, tapi bagaimana ini bisa terjadi.

Baiklah, mungkin Taeyeon harus berpikir panjang tentang hal ini. Bisa saja pengaman yang digunakan Luhan  bermasalah dan berakhir seperti ini.

Taeyeon merasa senang sekaligus sedih disaat yang bersamaan.

Senang karena dirinya adalah gadis beruntung yang mengandung darah daging Luhan. Dan entah mengapa itu membuat Taeyeon merasa senang.

Sementara sedih karena keadaan sekarang ini. Disaat ada berita yang sebenarnya membahagiakan bagi mereka, tetapi disaat itu pula terjadi kesalah pahaman diantara mereka.

Sebenarnya Taeyeon ingin mengubungi Luhan, namun mengingat ucapan Luhan brberapa hari yang lalu, gadis itu mengurungkan niatnya dan memilih diam menunggu Luhan menghubungi dan mendatangi nya lebih dulu.

Tapi tidak bisa, Taeyeon harus segera memberi tahu Luhan tentang kehamilannya saat ini, dan Luhan harus tanggung jawab. Taeyeon tak mau Luhan mengelak tidak ingin tanggung jawab karena masalah yang terjadi diantara mereka.

Ya, Luhan harus tau. Taeyeon bangkit dari kursi kerja yang sedari tadi didudukinya dan mulai beranjak menuju apartemen Luhan.

****

Luhan kini terlihat mengusap wajahnya gusar dan sesekali menghela nafas kasar. Entah sudah berapa kali pria itu menghela nafas kasar dalam sehari ini. Oh salah, dalam lima hari ini. Luhan merasa sudah tak memiliki semangat hidup lagi, Taeyeon benar-benar gadis hebat. Tadinya Luhan ingin mendiamkan Taeyeon selama satu minggu, tetapi baru saja lima hari Luhan merasa sudah tidak tahan.

Tapi Luhan harus tetap bertahan, jika dirinya tak bersikap tegas, maka Taeyeon akan kembali melakukan kesalahan yang sama.

TING~ TONG~

Bunyi bel tersebut benar-benar membuat Luhan semakin kesal. Luhan akan memastikan setelah ini dirinya akan memarahi orang yang datang tersebut, tak perduli siapapaun itu.

Luhan menyeret kakinya dengan malas menuju pintu. Namun sebelum membuka pintunya, Luhan ingin memastikan terlebih dahulu siapa yang datang melalui layar kecil yang berada disisi kanan pintu tersebut.

Astaga!! Itu Taeyeon

Luhan mengerjabkan matanya beberapa kali merasa bahwa dirinya tengah salah lihat. Tapi tidak, itu benar Taeyeon.

Hati Luhan serasa mendesir saat melihat sosok Taeyeon. Walau hanya lewat sebuah layar kecil, tetapi mampu membuat keinginan Luhan untuk bertemu dengan gadisnya semakin besar.

Taeyeon dengan wajah polosnya yang terlihat oleh Luhan kini sangat menggemaskan. Luhan sangat ini ingin sekali keluar dan segera menemui Taeyeon. Merasakan kehangatan pelukan gadis itu, merasakan sentuhan lembut gadis itu, dan ingin mendengar suara menenangkan milik gadis itu. Ya, Luhan sangat menginginkan hal itu, membayangkannya saja sudah membuat Luhan gila. Tapi sekali lagi Luhan memaksa dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu. Walaupun hatinya berteriak ingin bertemu dengan Taeyeon, tetapi otak Luhan menolaknya. Sangat menolak hal itu terjadi

Mungkin ego Luhan kini lebih besar dari hati nurani nya, bahkan Taeyeon yang sedari tadi masih memencet bel sama sekali tak dihiraukan oleh Luhan. Mata rusa milik pria itu masih setia menatap visualisasi Taeyeon lewat layar kecil tersebut. Yeah, setidaknya dengan memandangi wajah Taeyeon dapat membuat rasa rindunya sedikit berkurang, hanya sedikit.

Luhan mengerutkan keningnya saat Taeyeon merendahkan tubuhnya kemudian mengeluarkan ponselnya seperti sedang mengetik pesan. Dan kini gadis itu memilih pergi karena Luhan sama sekali tak berniat menemuinya. Padahal Taeyeon yakin bahwa Luahn sedang didalam. Tapi mau bagaimana lagi, Luhan memang tak mau menemuinya.

Setelah Taeyeon tak terlihat lagi dari layar, Luhan mendengar ponselnya berdering dan mendapati sebuah pesan dari Taeyeon. Luhan dengan secepat kilat membuka pesan tersebut, walau dirinya juga bingung mengapa Taeyeon berani menghubunginya walau sudah diperingati.

‘Oppa, aku tau kau sedang didalam, dan kau tak mau membuka pintu karena kau tau bahwa aku yang datang. Tak apa, ini adalah balasan karena apa yang kuperbuat, walau itu hanya salah paham, tapi aku tau bahwa kau tetap menganggap itu adalah salahku. Aku kemari karena sebenarnya ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting padamu dan ini menyangkut masa depan kita, tapi karena kau tak mau menemuiku maka aku meninggalkannya didepan pintu. Jangan lupa keluar dan mengambilnya ne. Aku pulang dulu, annyeong’

Luhan menatap bingung pada layar ponselnya, apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Taeyeon. Tak ingin ambil pusing, Luhan segera keluar dan mendapat sebuah amplop yang berada didepan pintunya.

Setelah mengambil amplop tersebut, Luhan kembali masuk dan mendudukkan dirinya disofa. Jari-jari kurus dan putih bersih milik Luhan mulai bekerja untuk membuka amplop tersebut. Dan dirinya mendapati sebuah kertas didalamnya.

Hasil lab.? Taeyeon hamil.?

Itulah yang pertama kali terbesit dalam hati Luhan saat pertama kali membaca kertas tersebut. Luhan sudah berkali-kali membaca kertas tersebut dan hasilnya tetap sama. Taeyeon hamil.

Luhan POV

Tunggu, benarkah ini.? Taeyeon hamil.? Taeyeon-ku.? Aku berkali-kali merutuki kebodohan ku. Taeyeon sedang hamil tetapi aku justru menjahui gadis itu.

Aku tau bahwa itu anakku, walau sebelumnya aku berfikir bahwa bisa saja janin yang dikandung Taeyeon adalah anak Daehyun. Tapi tidak, walau aku pernah melihat mereka berdua dalam keadaan tubuh yang saling berdekatan, tetapi aku yakin bahwa Taeyeon tak mungkin melakukan hal seperti itu. Dan bisa dipastikan bahwa yang dikandung Taeyeon saat ini hasil dari cinta kami.

Tapi aku sedikit bingung, aku selalu menggunakan pengamanku tetapi bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi. Okay, untuk saat ini aku tak ingin memikirkan hal itu, yang terpenting saat ini apa yang harus kulakukan.

Xi Luhan bodoh. Tentu yang harus kulakukan saat ini adalah mendatangi Taeyeon. Dengan gerakan cepat, aku menyambar jaket beserta kunci mobilku dan segera melesat menemui Taeyeon.

****

Author POV

BRAKK

Luhan membuka secara kasar dan tidak sabaran pintu apartemen Taeyeon. Awalnya Luhan ragu apakah Taeyeon sudah mengganti password nya atau belum, namun Luhan tetap mencoba dan hal itu berhasil.

Mata Luhan kini menatap keseluruh penjuru apartemen Taeyeon. Dan Taeyeon tak ada disana. Dengan langkah besar, Luhan segera menuju kamar Taeyeon dan membuka pintu yang sebelumnya tengah tertutup rapat.

Dan disanalah gadis itu berada. Luhan menemukan gadisnya yang tengah melipat pakaian dan memasukannya kedalam sebuah tas besar.

Tunggu, untuk apa Taeyeon menyimpan pakaiannya kedalam tas.? Luhan harap ini bukanlah hal buruk. Sebut saja Taeyeon ingin meninggalkan Seoul.

“Oppa.?” Panggil Taeyeon pada Luhan yang masih mematung diambang pintu.

Tanpa menjawab panggilan Taeyeon, Luhan segera melangkah dan memeluk tubuh Taeyeon dengan begitu erat.

“Maafkan oppa ne.?” Ucap Luhan setelah mereka terdiam cukup lama.

Taeyeon tersenyum. Ternyata kabar yang ia bawa berdampak baik pada hubungan mereka. Setidaknya kini Luhan sudah menyadari kesalahannya dengan mengucapkan maaf. Taeyeon tersenyum hangat dan tangannya kini terangkat untuk membalas pelukan Luhan.

Luhan melepas pelukan mereka dan mendudukkan Taeyeon pada sisi ranjang, sementara dirinya sendiri memilih untuk berlutut dihadapan Taeyeon. Tangan Luhan menggenggam erat tangan milik Taeyeon.

“Aku… Aku minta maaf. Aku bersikap tidak dewasa beberapa hari ini. Aku bahkan menjauhimu. Aku terlalu tergesa-gesa untuk menyimpulkan sesuatu, dan akhirnya aku sendiri yang menyesal. Aku tau penyesalan selalu datang belakangan, tetapi mulai sekarang aku akan mencoba untuk berfikir secara dewasa, aku tak ingin hal ini terjadi lagi, akibat pemikiran bodohku, aku jadi tidak bisa bersamamu. Asal kau tau saja, beberapa hari ini aku serasa ingin gila karena tak bertemu denganmu. Aku berkali-kali menekan hatiku agar aku bisa bertahan untuk tidak menemui mu. Tadinya aku tidak ingin bertemu dengan mu selama satu minggu, namun baru menginjak hari kelima aku sedah seperti mayat hidup. Aku sama sekali tak memiliki semangat, aku tak ingin melakukan apapun selain mengerang dan bergumam tak jelas. Aku memang benar-benar sudah gila. Maka dari itu, maafkan aku, buat aku hidup lagi seperti sebelumnya. Kumohon maafkan aku.” Ucap Luhan panjang dan menatap lurus pada Taeyeon.

“Oppa.?” Panggil Taeyeon yang sedari tadi juga membalas tatapan Luhan.

Entahlah, dirinya tak tau harus bagaimana. Harus diam seperti patung.? Meloncat-loncat seperti orang gila.? Atau berteriak seperti orang sedang stres Taeyeon benar-benar tak tau.

“Aku akan menjamin jika kau mau memaafkanku aku akan berubah, aku akan berusaha percaya dengan yang kau katakan. Aku sadar sikap ku selama ini sangat posesif dan over protective padamu, tapi itu adalah salah satu cara yang kugunakan agar membuatmu tau bahwa aku sangat menyayangimu dan tak ingin kehilanganmu. Ak-”

Ucapan Luhan terpotong saat Taeyeon meletakkan jari telunjukknya dipermukaan bibir Luhan memaksa Luhan menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya.

Tangan Taeyeon terangkat dan mengusap lembut pipi tirus milik Luhan. Mata Luhan terpejam menikmati sentuhan Taeyeon yang sangat dirindukannya ini.

“Gwenchana oppa, aku memaafkan mu. Tapi kumohon jangan lagi bersikap seperti itu, aku akan sangat senang jika kau menurutinya.”

“Ne, aku janji tak akan melakukan ini lagi, kau bisa percaya padaku.” Jawab Luhan semangat.

“Kau mau pergi kemana.?” Tanya Luhan lagi.

“Aku tak ingin pergi kemanapun, wae.?”

“Lalu, untuk apa kau mengemas pakaianmu.?” Tanya Luhan dan memandang tas besar yang berada dibelakang Taeyeon.

Taeyeon mengikuti arah pandangan Luhan dan tersenyum setelahnya.

“Aku tidak ingin kemana pun oppa, aku hanya tengah membersihkan pakaian yang sudah tidak kupakai, almari ku semakin penuh.” Jelas Taeyeon dan tersenyum.

“Hufftt, kukira kau ingin meninggalkanku.” Ucap Luhan yang mampu membuat Taeyeon tersenyum.

Tatapan keduanya kembali bertemu. Keduanya sama-sama sibuk mendalami tatapan masing-masing. Hingga Luhan menyadari sesuatu hal yang membuatnya menemui Taeyeon.

“Dan ini, apakah ini benar.” Tanya Luhan dan menujukkan kertas yang sedari tadi disimpannya dalam saku jaket.

“Oppa sudah tau.?”

“Jadi ini benar.? Mengapa kau tak mengatakannya lebih awal.? Aku merasa menjadi pria yang bodoh jika seperti ini.” Omel Luhan dengan nada suara yang sedikit lebih tinggi.

Oh astaga! Apakah Luhan tak bisa mengontrol emosinya sedikit saja.? Baru saja berbicara dengan nada suara yang lembut tadi, kini nada suara nya sudah kembali seperti biasa. Kasar dan tidak sabaran.

“Bagaimana aku memberitahu oppa jika oppa menghindariku, menghubungimu saja aku benar-benar tidak berani mengingat ucapanmu beberapa hari yang lalu. Bahkan aku berani mengirim pesan padamu hanya tadi saat kau tak mau membuka pintu untukku.” Balas Taeyeon dan sedikit mengerucutkan bibirnya.

Ah benar! Luhan merasa semakin bodoh jika seperti ini. Mendengar penjelasan Taeyeon membuat Luhan menyesal dan menundukkan kepalanya hingga kini hidungnya hampir mengenai lutut Taeyeon.

“Gwenchana oppa.” Ucap Taeyeon dan mengangkat wajah Luhan agar pria itu kembali menatapnya.

“Apa kata dokter.?” Tanya Luhan dengan nada penasaran.

“Tidak ada apa-apa. Dokter hanya mengatakan bahwa kandungan ku sudah dua minggu.” Jawab Taeyeon dan tersenyum.

“Maafkan aku. Disaat kau sedang membutuhkan ku, justru disaat itu aku menjauhimu, aku benar-benar menyesal.”

“Sudahlah oppa, bukankah sudah kukatakan tidak apa-apa.”

“Gomawo. Bolehkah aku menyapanya.?” Tanya Luhan.

Taeyeon mengerti apa yang dimaksud Luhan, Taeyeon mengangguk dan mengundang senyum Luhan.

Pria itu kini menempatkan telinganya pada perut Taeyeon yang masih rata, Luhan fikir dirinya bisa mendengar apa yang mungkin akan diucapkan calon anaknya itu.

“Annyeong Luhan junior. Ini appa, ah salah, call me daddy. Daddy tak tau kau adalah seorang namja atau yeoja, tapi daddy harap jika kau namja, saat kau dewasa nanti kau akan menjadi hero yang kuat dan akan membantu daddy menjaga mommy mu. Tapi, kau namja ataupun yeoja akan tetap menjadi harta terindah yang daddy miliki setelah mommy mu.” Ucap Luhan pada janin yang berada dalam perut Taeyeon yang tidak mungkin bisa menjawab.

“Dia tidak bisa membalas ucapan mu oppa.”

Luhan kembali menatap Taeyeon setelah gadis itu membuka suaranya. Luhan tersenyum menatap wajah teduh milik Taeyeon.

“Gwencaha, setidaknya dia harus terbiasa dengan suara ku.”

“Tapi dia masih terlalu kecil.”

Luhan tersenyum mendengar ucapan Taeyeon. Sungguh, hal ini membuatnya sangat bahagia. Dua harta yang akan selalu Luhan jaga untuk selamanya. Tangan pria itu terangkat untuk mengusap rambut Taeyeon walau dengan posisi dirinya yang masih berlutut dihadapan gadisnya.

“Aku akan bertanggung jawab.” Ucap Luhan setelah keduanya terdiam cukup lama. Bahkan gerakan tangan Luhan pada Taeyeon sudah berhenti dan digantikan dengan genggaman tangannya pada tangan Taeyeon.

“Huh.?”

“Selain karena aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku juga ingin membuat pria diluar sana menjadi sungkan untuk mendekatimu. Minggu ini kita menikah.”

“Apa.?” Ucap Taeyeon setengah berteriak.

“Kenapa.? Kau tak ingin aku menikahi mu.?”

“Bukan begitu, bukankah itu terlalu cepat.?” Tanya Taeyeon yang masih terkejut dengan keputusan Luhan.

“Bukankah lebih cepat lebih baik.?” Luhan balik bertanya dan kini beralih duduk disamping Taeyeon.

“Tapi, bagaimana dengan semua persiapannya.?”

“Kau tak usah khawatir, aku akan mengatur semua. Kau hanya perlu menghubungi keluarga mu dan yakinkan tentang pernikahan ini.”

“Hmm..”

“Walau ini sangat mendadak, tapi aku akan memberikan semua yang terbaik padamu.” Ucap Luhan dan menyentuh bahu Taeyeon.

“Aku percaya padamu.” Ucap Taeyeon dan menghambur dalam pelukan Luhan.

Luhan menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Taeyeon sekilas.

“Kau tau.? Aku sangat merindukan bibirmu ini. Sudah lima hari ini aku tak merasakan rasa manis bibirmu, bahkan sebelumnya aku menciumi mu setiap hari.” Goda Luhan dan mengusap sudut bibir Taeyeon.

“Benarkah.? Jika memang begitu, mengapa oppa tak menciumku lebih lama.?” Tanya Taeyeon dan mengerling nakal kearah Luhan.

Tunggu, apa yang terjadi dengan Taeyeon.? Bukankah biasanya Luhan yang memulai skinship mereka.? Tetapi mengapa kini Taeyeon yang memancing. Mungkin Taeyeon mulai tertular sifat pervert dari Luhan.

“Kau menggoda ku nona.? Baiklah, aku terima.”

Tanpa babibu, Luhan segera mendekatkan wajahnya dan segera mendaratkan bibirnya pada pemukaan milik Taeyeon.

Sungguh, Luhan sangat merindukan rasa manis dari bibir Taeyeon ini. Luhan melumat pelan bibir Taeyeon dari sudut kanan kesudut kiri secara merata. Bahkan lumatan Luhan kini mulai berubah menjadi hisapan yang mulai liar. Luhan terbawa suasana. Melihat Taeyeon yang memeluk pinggang nya dan dengan kepala yang sedikit mendongak untuk mengimbangi ciuman mereka itu benar-benar membuat Luhan bergairah. Namun dorongan didadanya ini membuat Luhan harus menghentikan ciumannya. Ciuman yang cukup lama namun menurut Luhan sangat singkat.

“Bukankah oppa bilang ingin menyiapakan semuanya.?” Tanya Taeyeon sekedar mengingatkan.

“Arraseo, aku akan mulai menyiapkan semua sekarang.” Ucap Luhan dan mulai bangkit diikuti Taeyeon.

Taeyeon kini mulai melangkah mengantar Luhan sampai pintu apartemennya.

“Jangan lupa hubungi keluarga mu ne. Aku pergi dulu.” Pamit Luhan dan mengecup singkat kening Taeyeon.

“Ne, hati-hati dijalan ne.” Ucap Taeyeon dan dibalas anggukan oleh Luhan.

****

Alunan musik dengan tempo slow itu seakan memanjakan telinga para pendengarnya. Bahkan mereka semua kini tengah menyunggingkan senyum mereka. Bukan, bukan. Bukan karena musik yang mengalun itu, tetapi karena kedatangan seorang gadis yang didampingi ayah nya. Semua tamu undangan lantas berdiri melihat kedatangan gadis itu.

Ya, hari ini adalah hari pernikahan Taeyeon dan Luhan. Taeyeon yang dalam kehidupan sehari-hari nya terkenal sebagai gadis yang lucu dan manis, kini berubah menjadi Taeyeon yang cantik dan anggun. Gadis yang kini berbalut gaun dengan ekor yang cukup panjang itu mengundang decakan kagum dari para tamu undangan. Sementara di ujung altar sana tengah berdiri dengan gagahnya seorang pria tampan yang berbalut tuxedo putih tersebut. Pria itu semakin mengembangkan senyum nya saat menyadari sang pujaan hati semakin dekat dengannya.

“Kuserahkan putri keluarga Kim padamu Lu, jaga dan sayangi dia.” Pesan tuan Kim seraya memberikan tangan Taeyeon pada Luhan.

“Ne appa.” Jawab Luhan dan menerima tangan Taeyeon dengan senang.

Luhan kini merangkul pinggang Taeyeon berusaha membantu gadisnya yang terlihat sedikit kesulitan berjalan karena gaunnya yang lumayan panjang.

Kini keduanya sudah membelakangi para tamu undangan untuk menghadap sang pastur. Tamu yang datang hari ini bisa dibilang sangat banyak. Mulai dari keluarga, teman dan rekan kerja Taeyeon beserta Luhan pun datang. Bahkan Daehyun juga datang. Walau awalnya Luhan menolak, tetapi Taeyeon terus memohon hingga akhirnya Luhan menizinkan.

Setelah sang mempelai mengucapkan janji sehidup semati mereka, sang pastur mempersilahkan mereka untuk bertukar cincin dan berciuman. Tamu undangan sontak bertepuk tangan saat Luhan sudah mulai mengecup bibir Taeyeon.

Ciuman mereka cukup lama, bahkan sepertinya Luhan lupa dimana mereka berada hingga pria itu kini mulai melumat dan menghisap bibir Taeyeon. Namun Taeyeon segera menyadari hal itu dan mendorong pelan dada Luhan untuk melepas ciuman mereka. Para tamu undangan bertepuk tangan dan terkekeh geli melihat manisnya kedua mempelai tersebut.

Setelah bersalaman, kini keduanya mulai mendatangi para tamu undangan yang mulai menikmati berbagai makanan dan minuman disana.

“Chukkaeyo Taengoo.” Ucap Daehyun dan memeluk Taeyeon singkat, tentu saja didiringi tatapan tajam dari Luhan. Memang saat yang lain tadi menyalami sang mempelai, Daehyun tengah berada di toilet.

Luhan menarik lengan Taeyeon agar menjauh dari Luhan. Bahkan mereka sudah menikah pun Luhan masih begitu posesif terhadap Taeyeon.

“Oppa~” Tegur Taeyeon dengan suara pelan.

“Sudahlah, kita kesana saja.” Ucap Luhan dan menarik tangan Taeyeon menuju tamu undangan yang lain, sementara Daehyun hanya menggelengkan kepalanya karena sifat Luhan yang tidak berubah.

****

“Hahh, apa kau tak lelah oppa.?” Tanya Taeyeon dan duduk disofa yang berada disalah satu kamar hotel berbintang tersebut.

Memang Luhan telah membooking kamar hotel tersebut sebagai salah satu dari persiapan pernikahan mereka. Luhan mempersiapkan semua dengan begitu matang walau hanya dalam waktu beberapa hari. Tentu saja, Luhan sudah berjanji akan memberikan semua yang terbaik pada Taeyeon dan Luhan tak ingin mengecewakan gadisnya. Banyak tenaga dan biaya yang Luhan keluarkan untuk pernikahan ini, tetapi tak apa, yang terpenting bagi Luhan adalah kebahagiaan Taeyeon.

Luhan yang baru melepas tuxedo nya itu kini ikut duduk disamping samping Taeyeon dengan memeluk pinggang gadisnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Taeyeon yang terekspos, Luhan bahkan beberap kali mengecup permukaan leher Taeyeon.

“Tidak, kau membuatku kembali semangat.” Jawab Luhan dan masih terus mengecup leher Taeyeon.

“Benarkah.? Bukankah beberapa hari ini oppa sangat sibuk untuk mempersiapkan pernikahan kita.?” Tanya Taeyeon lagi dan membalas memeluk kepala Luhan.

“Aku tidak lelah untuk sekarang, mungkin sebentar lagi kita berdua yang akan lelah.” Jawab Luhan dengan seriangainnya. Pria itu kini bahkan sudan melepas pelukannya.

“A..apa maksud oppa.?” Tanya Taeyeon dan bergidik ngeri karena ucapan Luhan yang tadi, ditambah lagi pria itu tak berhenti mengecup leher dan bahunya.

“Karena saat ini kau sedang mengandung, maka kita akan melakukannya setiap malam.” Ucap Luhan masih dengan seringaiannya dan menarik pinggang Taeyeon agar semakin dekat dengannya.

“Bagaimana bisa begitu.? Aku sedang mengandung oppa, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan little baby ini.?”

“Maka dari itu, selagi kandungan mu masih kecil kita akan melakukannya setiap hari, karena saat kandungan mu besar nanti aku tak akan melakukannya.”

“Aku tidak mau. Jika oppa melakukannya setiap hari, bisa dipastikan esoknya aku tak akan bisa berjalan dan tak akan bisa bekerja.” Rengek Taeyeon yang masih berusaha menolak permintaan Luhan.

“Tidak, tidak, setelah menjadi nyonya Xi, kau hanya perlu dirumah. Kau hanya perlu menjaga little baby dan memuaskan nampyeon mu ini.” Ungkap Luhan masih dengan seringaiannya.

“Tapi opp-”

Protesan Taeyeon ini harus terhenti karena Luhan yang sudah menciumnya. Baru pertama menempelkan saja Luhan sudah sangat ganas, pria itu bahkan tak segan-segan menggigit bibir Taeyeon. Taeyeon tak bisa apa-apa jika Luhan sudah seperti ini. Taeyeon hanya bisa mengalungkan tangannya pada leher Luhan dan menikamati pergerakan lidah Luhan yang saat ini sudah berada dalam mulutnya.

Tangan Luhan tak tinggal diam, tangan pria itu kini mulai menurunkan resleting belakang gaun Taeyeon hingga kini tubuh Taeyeon bagian atas benar-benar terekspos. Bahkan tangan Luhan kini sudah bermain didada Taeyeon. Luhan meremasnya pelan dan penuh perasaan, sangat menyiratkan bahwa Luhan menginginkan benda tersebut seutuhnya tetapi tak ingin melukainya. Ciuman Luhan kini juga mulai turun ke leher Taeyeon. Dan tangan Luhan pun semakin liar meremas dada Taeyeon.

“Sshhh.. ahhh..”

Taeyeon mendesah nikmat merasakan tangan Luhan yang bermain lincah didadanya. Walau menikamati sentuhan suaminya ini, Taeyeon juga tak melupakan tugasnya. Tangan gadis itu bergerak membuka kancing kemeja Luhan. Tangan Taeyeon meraba dada bidang Luhan dan juga abs yang tidak begitu membentuk tersebut. Taeyeon membulatkan matanya saat merasakan tangan Luhan kini mulai bermain didaerah intim milik Taeyeon.

“Aannhh.. mmhhh..” Desah Taeyeon karena Luhan semakin dalam memainkan miliknya tersebut.

Taeyeon mendorong dada Luhan hingga semua sentuhan mereka terlepas. Taeyeon terengah-engah mengatur nafas, hingga kini nafasnya sudah mulai teratur.

“Kumohon, jangan disini oppa.” Ucap Taeyeon sekedar mengingatkan bahwa mereka melakukan hal tersebut disofa.

Luhan mengangguk memahami permintaan Taeyeon. Sedikit meredam nafsunya yang sudah memuncak. Luhan dengan gerakan pelan mengangkat tubuh Taeyeon dan memindahkannya menuju ranjang.

Hingga kini Luhan sudah menidurkan Taeyeon pada ranjang dan Luhan memposisikan tubuhnya diatas Taeyeon. Luhan juga sudah melepas kemeja nya hingga dirinya dan Taeyeon sama-sama half naked. Pria dengan segera menciumi Taeyeon dengan ganas. Suara decakan lidah yang beradu begitu memenuhi ruangan tersebut. Bahkan kini Luhan juga sepertinya tak puas jika hanya mengulum bibir atas dan bawah Taeyeon secara bergantian, hingga pria itu memutuskan melumat bibir atas dan bawah Taeyeon bersamaan dengan sangat rakus. Tangan Luhan kini juga mulai menggerayangi tubuh Taeyeon. Hingga…

Malam itu berakhir dengan gerakan liar dari Luhan dan desahan nikmat dari keduanya. Mungkin hal ini akan terjadi setiap hari sebelum kandungan Taeyeon membesar.

-END-

Oke, siapa yang nunggu kelanjutan ff ini.? Aku minta maaf karena lama banget nerusin ff ini. Alasannya aku akhir-akhir ini sangat sibuk, giliran ada waktu kosong, malah males banget buat ngetik.

Tapi aku harap readers puas ya sama ff ini. Walau aku tau kalau konflik nya sama sekali gak ngena, tapi aku udah berusaha untuk menciptakan konflik disini. Ditambah lagi endingnya yang sangat aneh. Salahkan otak saya yang sedikit kurang beres akhir-akhir ini.

Yaudah itu aja. Jangan lupa comment oke. Biar aku semangat untuk nerusin ff aku yang lain yang sama sekali belum aku kerjakan.

See you^^

Advertisements

63 comments on “[FREELANCE] Don’t Touch Her!! (Twoshot/END)

  1. oo..daeeebakk.. Luhan pervert yahh.. ketularan Kai? Akhirnya happy ending.. Kirain Taeng eonni juga mau kabur dari Luhan..ternyata cuma mau beresin baju..haha

  2. hahaha untung luhan mau tanggung jawab hihi rada panas waktu baca NC hahaha keren keren. next ff di tunggu 🙂

  3. omaigatt Lutae mereka pada…
    suka bgt ame konflikny salah pahan gimana gitu , Luhan cemburuan orangny .Daebakk deh thor aku suka ff Lutae yg happy ending .Ditunggu next project entar Luhan egen atau Sehun atau Chanyeol dong ^^ keep writing and Fighting!!!

  4. Yeayy happy ending
    Chukkae yg udh nikah :v
    Jan lupa bikin anak yg banyak/?
    Di tunggu thor karya yg lainnya

  5. Setiap hari ? Knp ga setiap saat #plak
    omo luhannya pervert bingits #alay
    itu, itu NC nya kurang #plak
    dtnggu fic lainnya ya!
    FIGHTAENG!!

  6. waktu baca si luhan ninggalin Taeyeon kasihan banget, tapi itu mungkin karena bayi yang ada di kandungan Taeyeon. jadi apanya sensitif banget. efek cemburu atau ngidam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s